Definisi Salaf (السَّلَفُ)
Menurut bahasa (etimologi), Salaf ( اَلسَّلَفُ ) artinya yang terdahulu
(nenek moyang), yang lebih tua dan lebih utama. Salaf berarti para
pendahulu. Jika dikatakan (سَلَفُ الرَّجُلِ) salaf seseorang, maksudnya
kedua orang tua yang telah mendahuluinya.
Menurut istilah (terminologi), kata Salaf berarti generasi pertama dan
terbaik dari ummat (Islam) ini, yang terdiri dari para Sahabat, Tabi’in,
Tabi’ut Tabi’in dan para Imam pembawa petunjuk pada tiga kurun
(generasi/masa) pertama yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,
sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ.
“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Sahabat),
kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa
Tabi’ut Tabi’in)."
Pemimpin Salafush Shalih Adalah Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan
dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang
sesama mereka: kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah
dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas
sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat
mereka dalam Injil.” (Al-Fat-h: 29).
Allah Ta’ala telah memadukan antara ketaatan kepada-Nya dan ketaatan
kepada Rasul-Nya SAW, dengan berfirman-Nya, “Dan barangsiapa mentaati
Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang
yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi, para shiddiqiin,
orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah
teman yang sebaik-baiknya” (An-Nisaa’: 69).
Allah menjadikan ketaatan kepada Rasul shalallahu'alaihi wassalam
merupakan konsekuensi dari ketaatan kepada Allah Ta’ala. Firman-Nya,
“Barangsiapa mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.
Dan barangsiapa berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak
mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.”( An-Nissa’: 80).
Allah Ta’ala mengabarkan bahwa ketidaktaatan kepada Rasul dapat
menggugurkan dan membatalkan amal perbuatan seseorang. Firman-Nya, ““Hai
orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul
dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.” (Muhammad: 33).
Dan Dia melarang kita melanggar perintah Rasul shalallahu'alaihi
wassalam. Firman-Nya, “Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul_nya
dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke
dalam api Neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang
menghinakan.” (An-Nisaa’: 14)
Allah Ta’ala menyuruh kita agar menerima apa yang diperintahkan oleh
Rasulshalallahu'alaihi wassalam dan meninggalkan apa yang dilarangnya.
Allah Ta’ala befirman: “.....Apa yang diberkan Rasul kepadamu maka
terimalah dia! Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah! Dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”
(Al-Hasyr: 7).
Allah Ta’ala memerintahkan kita agar mengangkat beliau shalallahu'alaihi
wassalamsebagai hakim (penengah) dalam segala aspek kehidupan kita dan
mengembalikan semua hukum kepada hukum dan peraturan beliau. Allah
shalallahu'alaihi wassalamberfirman :
“Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka
menjadikan kamu hakim dalam perakara yang mereka perselisihkan,
kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap
putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
(An-Nisaa’: 65).
Allah Ta’ala sudah menyampaikan kepada kita bahwa Nabi-Nya
shalallahu'alaihi wassalam adalah sosok suri teladan dan contoh terbaik;
dimana konsekuensinya adalah beliau harus diikuti dan diteladani. Allah
Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu
suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiaman dan dia banyak menyebut
Allah.” (Al-Ahzaab: 21)
Allah menyertakan keridhaan-Nya bersamaan dengan keridhaan Rasul-Nyashalallahu'alaihi wassalam, sebagaimana firman-Nya:
“....Allah dan Rasul-Nya itulah yang lebih patut mereka cari
keridhaannya, jika mereka adalah orang-orang yang mukmin.” (At-taubah:
62).
Allah pun menjadikan tindakan mengikuti Rasul-Nya shalallahu'alaihi wassalam sebagai tanda kecintaan kepada-Nya. Firman-Nya:
“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran: 31).
Oleh karena itu, rujukan Salafush Shalih ketika terjadi perselisihan
adalah al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya SAW, sebagaimana yang difirmankan
Allah Ta’ala :“.....Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur-an) dan Rasul (Sunnahnya), jika
kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian
itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisaa’ : 59).
Sebaik-baik Salaf setelah Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam adalah
para Sahabat, yaitu mereka yang telah mengambil agamanya dari beliau
shalallahu'alaihi wassalamsecara benar dan penuh keikhlasan,
seabagaimana Allah Ta’ala telah menjelaskan sifat mereka dalam Kitab-Nya
yang mulia, dengan firman-Nya, “Diantara orang-orang mukmin itu ada
orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah;
maka diantara mereka yang gugur. Dan diantara mereka ada (pula) yang
menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya).”
(Al-Ahzaab: 23).
Kemudian orang-orang yang datang setelah mereka, dari tiga generasi
pertama yang dimuliakan, seperti yang disabdakan Rasulullah SAW tentang
mereka, “Sebaik-baik manusia adalah (orang yang hidup) pada masaku ini
(yaitu generasi para Sahabat), kemudian yang sesudahnya (generasi
Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (generasi Tabi’ut Tabi’in).” (HR.
Al-Bukhari dan Muslim). (HR. Al-Bukhari no. 2652 dan Muslim no. 2533
(212), dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud r.a).
Oleh karena itu, para Sahabat dan Tabi’in itulah yang lebih berhak untuk
diikuti daripada lainnya, dikarenakan kejujuran mereka dalam keimanan,
dan keikhlasan mereka dalam beribadah merekalah penjaga (kemurnian)
‘aqidah, penlindung syari’at dan pelaksanaannya baik secara perkataan
maupun perbuatan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memilih mereka untuk
menyebarkan agama-Nya dan menyampaikan Sunnah Rasul-Nya
shalallahu'alaihi wassalam.
Nabi shalallahu'alaihi wassalam bersabda, “.... Ummatku akan terpecah
menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di dalam Neraka kecuali satu
golongan.” Lalu para Sahabat bertaanya: ‘Wahai Rasulullah, siapa dia?
Beliau menjawab: ‘Yaitu mereka berada apa yang telah ditempuh olehku
dan Sahabatku.’” (Shahih Sunan at Tirmidzi oleh Imam al-Albani). (HR.
At-Tirmidzi no. 2641 dan al-Hakim (I/129) dari Sahabat ‘Abdullah bin
‘Amr, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’ no.
5343).
Bagi siapapun yang mendikuti jejak Salafush Shalih dan berjalan di atas
manhaj mereka di semua zaman dinamakan: “Salafi” dinisbahkan kepada
mereka, dan sebagai pembeda antara dia dengan orang-orang yang
menyelisihi manhaj Salaf dan mengikuti selain jalan mereka.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan barang siapa menentang Rasul sesudah jelas
kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang
mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya
itu dan kami masukkan ia ke adalam Jahannam dan Jahannam itu
seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisaa’: 115).
Oleh karena itu, seorang Muslim sudah seharusnya untuk merasa bangga dengan penisbatan dirinya kepada mereka (Salafush Shalih).
Lafazh “Salafiyyah” menjadi sebutan pada penerapan metode Salafush
Shalih dalam mengambil (ajaran) Islam, memahami dan Mengamalkannya.
Dengan demikian, maka pengertian “Salafiyyah” itu ditunjukkan kepada
orang-orang yang berpegang teguh sepenuhnya terhadap al-Qur-an dan
Sunnah Rasulullah shalallahu'alaihi wassalamdengan pemahaman Salaf.
Menurut al-Qalsyani: “Salafush Shalih adalah generasi pertama dari ummat
ini yang pemahaman ilmunya sangat dalam, yang mengikuti petunjuk Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjaga Sunnahnya. Allah memilih
mereka untuk menemani Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallamdan
menegak-kan agama-Nya...”
Syaikh Mahmud Ahmad Khafaji berkata di dalam kitabnya, al-‘Aqiidatul
Islamiyyah bainas Salafiyyah wal Mu’tazilah: “Penetapan istilah Salaf
tidak cukup dengan hanya dibatasi waktu saja, bahkan harus sesuai dengan
Al-Qur-an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih (tentang
‘aqidah, manhaj, akhlaq dan suluk-pent.). Barangsiapa yang pendapatnya
sesuai dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah mengenai ‘aqidah, hukum dan
suluknya menurut pemahaman Salaf, maka ia disebut Salafi meskipun
tempatnya jauh dan berbeda masanya. Sebaliknya, barangsiapa pendapatnya
menyalahi Al-Qur-an dan As-Sunnah, maka ia bukan seorang Salafi meskipun
ia hidup pada zaman Sahabat, Ta-bi’in dan Tabi’ut Tabi’in.
Penisbatan kata Salaf atau as-Salafiyyuun bukanlah termasuk perkara
bid’ah, akan tetapi penisbatan ini adalah penisbatan yang syar’i karena
menisbatkan diri kepada generasi pertama dari ummat ini, yaitu para
Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in.
Ahlus Sunnah wal Jama’ah dikatakan juga as-Salafiyyuun karena mereka
mengikuti manhaj Salafush Shalih dari Sahabat dan Tabi’ut Tabi’in.
Kemudian setiap orang yang mengikuti jejak mereka serta berjalan
berdasarkan manhaj mereka -di sepanjang masa-, mereka ini disebut
Salafi, karena dinisbatkan kepada Salaf. Salaf bukan kelompok atau
golongan seperti yang difahami oleh sebagian orang, tetapi merupakan
manhaj (sistem hidup dalam ber-‘aqidah, beribadah, berhukum, berakhlak
dan yang lainnya) yang wajib diikuti oleh setiap Muslim. Jadi,
pengertian Salaf dinisbatkan kepada orang yang menjaga keselamatan
‘aqidah dan manhaj menurut apa yang dilaksanakan Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam dan para Sahabat Radhiyallahu anhum sebelum terjadinya
perselisihan dan perpecahan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat th. 728 H) berkata:
“Bukanlah merupakan aib bagi orang yang menampakkan manhaj Salaf dan
menisbatkan dirinya kepada Salaf, bahkan wajib menerima yang demikian
itu karena manhaj Salaf tidak lain kecuali kebenaran.”
Definisi Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah:
Mereka yang menempuh seperti apa yang pernah ditempuh oleh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya Radhiyallahu anhum.
Disebut Ahlus Sunnah, karena kuatnya (mereka) berpegang dan berittiba’
(mengikuti) Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para
Sahabatnya Radhiyallahu anhum.
As-Sunnah menurut bahasa (etimologi) adalah jalan/cara, apakah jalan itu baik atau buruk.
Sedangkan menurut ulama ‘aqidah (terminologi), As-Sunnah adalah petunjuk
yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
para Sahabatnya, baik tentang ilmu, i’tiqad (keyakinan), perkataan
maupun perbuatan. Dan ini adalah As-Sunnah yang wajib diikuti, orang
yang mengikutinya akan dipuji dan orang yang menyalahinya akan dicela.
Pengertian As-Sunnah menurut Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah (wafat
795 H): “As-Sunnah ialah jalan yang ditempuh, mencakup di dalamnya
berpegang teguh kepada apa yang dilaksanakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam dan para khalifahnya yang terpimpin dan lurus berupa i’tiqad
(keyakinan), perkataan dan perbuatan. Itulah As-Sunnah yang sempurna.
Oleh karena itu generasi Salaf terdahulu tidak menamakan As-Sunnah
kecuali kepada apa saja yang mencakup ketiga aspek tersebut. Hal ini
diriwayatkan dari Imam Hasan al-Bashri (wafat th. 110 H), Imam al-Auza’i
(wafat th. 157 H) dan Imam Fudhail bin ‘Iyadh (wafat th. 187 H).”
Disebut al-Jama’ah, karena mereka bersatu di atas kebenaran, tidak mau
berpecah-belah dalam urusan agama, berkumpul di bawah kepemimpinan para
Imam (yang berpegang kepada) al-haqq (kebenaran), tidak mau keluar dari
jama’ah mereka dan mengikuti apa yang telah menjadi kesepakatan Salaful
Ummah.
Jama’ah menurut ulama ‘aqidah (terminologi) adalah generasi pertama dari
ummat ini, yaitu kalangan Sahabat, Tabi’ut Tabi’in serta orang-orang
yang mengikuti dalam kebaikan hingga hari Kiamat, karena berkumpul di
atas kebenaran.
Imam Abu Syammah asy-Syafi’i rahimahullah (wafat th. 665 H) berkata:
“Perintah untuk berpegang kepada jama’ah, maksudnya adalah berpegang
kepada kebenaran dan mengikutinya. Meskipun yang melaksanakan Sunnah itu
sedikit dan yang menyalahinya banyak. Karena kebenaran itu apa yang
dilaksanakan oleh jama’ah yang pertama, yaitu yang dilaksanakan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya tanpa
melihat kepada orang-orang yang menyimpang (melakukan kebathilan)
sesudah mereka.”
Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu:
اَلْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ.
“Al-Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian."
Jadi, Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang yang mempunyai sifat dan
karakter mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
menjauhi perkara-perkara yang baru dan bid’ah dalam agama.
Karena mereka adalah orang-orang yang ittiba’ (mengikuti) kepada Sunnah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti Atsar (jejak
Salaful Ummah), maka mereka juga disebut Ahlul Hadits, Ahlul Atsar dan
Ahlul Ittiba’. Di samping itu, mereka juga dikatakan sebagai
ath-Thaa-ifatul Manshuurah (golongan yang mendapatkan per-tolongan
Allah), al-Firqatun Naajiyah (golongan yang selamat), Ghurabaa' (orang
asing).
Tentang ath-Thaa-ifatul Manshuurah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ber-sabda:
لاَتَزَالُ مِنْ أُمَّتِيْ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللهِ لاَ
يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ
أَمْرُ اللهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ.
“Senantiasa ada segolongan dari ummatku yang selalu menegakkan perintah
Allah, tidak akan mencelakai mereka orang yang tidak menolong mereka dan
orang yang menyelisihi mereka sampai datang perintah Allah dan mereka
tetap di atas yang demikian itu.”
Tentang al-Ghurabaa’, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بَدَأَ اْلإِسْلاَمُ غَرِيْباً، وَسَيَعُوْدُ كَمَا بَدَأَ غَرِيْباً، فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ.
“Islam awalnya asing, dan kelak akan kembali asing sebagaimana awalnya,
maka beruntunglah bagi al-Ghurabaa' (orang-orang asing).”
Sedangkan makna al-Ghurabaa' adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh
‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu ketika suatu hari
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan tentang makna dari
al-Ghurabaa', beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أُنَاسٌ صَالِحُوْنَ فِيْ أُنَاسِ سُوْءٍ كَثِيْرٍ مَنْ يَعْصِيْهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيْعُهُمْ.
“Orang-orang yang shalih yang berada di tengah banyaknya orang-orang
yang jelek, orang yang mendurhakai mereka lebih banyak daripada yang
mentaati mereka.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda mengenai makna al-Ghurabaa':
اَلَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ.
“Yaitu, orang-orang yang senantiasa memperbaiki (ummat) di tengah-tengah rusaknya manusia."
Dalam riwayat yang lain disebutkan:
...الَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِي مِنْ سُنَّتِي.
“Yaitu orang-orang yang memperbaiki Sunnahku (Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) sesudah dirusak oleh manusia.”
Ahlus Sunnah, ath-Tha-ifah al-Manshurah dan al-Firqatun Najiyah semuanya
disebut juga Ahlul Hadits. Penyebutan Ahlus Sunnah, ath-Thaifah
al-Manshurah dan al-Firqatun Najiyah dengan Ahlul Hadits suatu hal yang
masyhur dan dikenal sejak generasi Salaf, karena penyebutan itu
merupakan tuntutan nash dan sesuai dengan kondisi dan realitas yang ada.
Hal ini diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari para Imam seperti:
‘Abdullah Ibnul Mubarak: ‘Ali Ibnul Madini, Ahmad bin Hanbal,
al-Bukhari, Ahmad bin Sinan dan yang lainnya,
Imam asy-Syafi’i (wafat th. 204 H) rahimahullah berkata: “Apabila aku
melihat seorang ahli hadits, seolah-olah aku melihat seorang dari
Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mudah-mudahan Allah
memberikan ganjaran yang terbaik kepada mereka. Mereka telah menjaga
pokok-pokok agama untuk kita dan wajib atas kita berterima kasih atas
usaha mereka.”
Imam Ibnu Hazm azh-Zhahiri (wafat th. 456 H) rahimahullah menjelaskan
mengenai Ahlus Sunnah: “Ahlus Sunnah yang kami sebutkan itu adalah ahlul
haqq, sedangkan selain mereka adalah Ahlul Bid’ah. Karena sesungguhnya
Ahlus Sunnah itu adalah para Sahabat Radhiyallahu anhum dan setiap orang
yang mengikuti manhaj mereka dari para Tabi’in yang terpilih, kemudian
ashhaabul hadits dan yang mengikuti mereka dari ahli fiqih dari setiap
generasi sampai pada masa kita ini serta orang-orang awam yang mengikuti
mereka baik di timur maupun di barat."
Sejarah Munculnya Istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Penamaan istilah Ahlus Sunnah ini sudah ada sejak generasi pertama Islam
pada kurun yang dimuliakan Allah, yaitu generasi Sahabat, Tabi’in dan
Tabiut Tabi’in.
‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu anhuma berkata ketika menafsirkan firman Allah Azza wa Jalla:
يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ
اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا
الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ
“Pada hari yang di waktu itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula
wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya
(kepada mereka dikatakan): ‘Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman?
Karena itu rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu.’” [Ali ‘Imran:
106]
“Adapun orang yang putih wajahnya mereka adalah Ahlus Sunnah wal
Jama’ah, adapun orang yang hitam wajahnya mereka adalah Ahlul Bid’ah dan
sesat.”
Kemudian istilah Ahlus Sunnah ini diikuti oleh kebanyakan ulama Salaf رحمهم الله, di antaranya:
1. Ayyub as-Sikhtiyani rahimahullah (wafat th. 131 H), ia berkata:
“Apabila aku dikabarkan tentang meninggalnya seorang dari Ahlus Sunnah
seolah-olah hilang salah satu anggota tubuhku.”
2. Sufyan ats-Tsaury rahimahullah (wafat th. 161 H) berkata: “Aku
wasiatkan kalian untuk tetap berpegang kepada Ahlus Sunnah dengan baik,
karena mereka adalah al-ghurabaa’. Alangkah sedikitnya Ahlus Sunnah wal
Jama’ah.”
3. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah (wafat th. 187 H) berkata:
“...Berkata Ahlus Sunnah: Iman itu keyakinan, perkataan dan perbuatan.”
4. Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam rahimahullah (hidup th. 157-224 H)
berkata dalam muqaddimah kitabnya, al-Iimaan : “...Maka sesungguhnya
apabila engkau bertanya kepadaku tentang iman, perselisihan umat tentang
kesempurnaan iman, bertambah dan berkurangnya iman dan engkau
menyebutkan seolah-olah engkau berkeinginan sekali untuk mengetahui
tentang iman menurut Ahlus Sunnah dari yang demikian...”
5. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (hidup th. 164-241 H), beliau
berkata dalam muqaddimah kitabnya, As-Sunnah: “Inilah madzhab ahlul
‘ilmi, ash-haabul atsar dan Ahlus Sunnah, yang mereka dikenal sebagai
pengikut Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya,
dari semenjak zaman para Sahabat Radhiyallahu anhum hingga pada masa
sekarang ini...”
6. Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah (wafat th. 310 H) berkata:
“...Adapun yang benar dari perkataan tentang keyakinan bahwa kaum
Mukminin akan melihat Allah pada hari Kiamat, maka itu merupakan agama
yang kami beragama dengannya, dan kami mengetahui bahwa Ahlus Sunnah wal
Jama’ah berpendapat bahwa penghuni Surga akan melihat Allah sesuai
dengan berita yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam.”
7. Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad ath-Thahawi rahimahullah (hidup
th. 239-321 H). Beliau berkata dalam muqaddimah kitab ‘aqidahnya yang
masyhur (al-‘Aqiidatuth Thahaawiyyah): “...Ini adalah penjelasan tentang
‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”
Dengan penukilan tersebut, maka jelaslah bagi kita bahwa lafazh Ahlus
Sunnah sudah dikenal di kalangan Salaf (generasi awal ummat ini) dan
para ulama sesudahnya. Istilah Ahlus Sunnah merupakan istilah yang
mutlak sebagai lawan kata Ahlul Bid’ah. Para ulama Ahlus Sunnah menulis
penjelasan tentang ‘aqidah Ahlus Sunnah agar ummat faham tentang ‘aqidah
yang benar dan untuk membedakan antara mereka dengan Ahlul Bid’ah.
Sebagaimana telah dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam
al-Barbahari, Imam ath-Thahawi serta yang lainnya.
Dan ini juga sebagai bantahan kepada orang yang berpendapat bahwa
istilah Ahlus Sunnah pertama kali dipakai oleh golongan Asy’ariyyah,
padahal Asy’ariyyah timbul pada abad ke-3 dan ke-4 Hijriyyah.
Pada hakikatnya, Asy’ariyyah tidak dapat dinisbatkan kepada Ahlus
Sunnah, karena beberapa perbedaan prinsip yang mendasar, di antaranya:
1. Golongan Asy’ariyyah menta’wil sifat-sifat Allah Ta’ala, sedangkan
Ahlus Sunnah menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana yang telah
ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, seperti sifat istiwa’ , wajah,
tangan, Al-Qur-an Kalamullah, dan lainnya.
2. Golongan Asy’ariyyah menyibukkan diri mereka dengan ilmu kalam,
sedangkan ulama Ahlus Sunnah justru mencela ilmu kalam, sebagaimana
penjelasan Imam asy-Syafi’i rahimahullah ketika mencela ilmu kalam.
3. Golongan Asy’ariyyah menolak kabar-kabar yang shahih tentang
sifat-sifat Allah, mereka menolaknya dengan akal dan qiyas (analogi)
mereka.
Saat ini marak orang belajar Al Qur’an dan Hadits. Hafal Al Qur’an 30 Juz dsb.
Cuma yang jadi masalah adalah adakah mereka belajar memahami Al Qur’an
dan Hadits sebagaimana para Ulama Salaf dulu? Ini penting agar Al Qur’an
dan Hadits tidak cuma di kerongkongan. Jangan sampai karena
pemahamannya keliru, akhirnya keluar dari Islam laksana anak panah lepas
dari busurnya.
Pembunuh Khalifah Ali, Abdurrahman bin Muljam itu adalah seorang Hafiz
Al Qur’an. Namun karena pemahamannya sempit, dia bunuh salah satu
sahabat dan juga sepupu dan juga menantu Nabi: Ali bin Abi Thalib.
Oleh karena itu pemahaman Al Qur’an dan Hadits sebagaimana ulama2
terdahulu itu penting. Jangan cuma Al Qur’an dan Hadits tok. Oleh karena
itu Kitab Fiqih para Imam Mazhab, Kitab Sifat 20, Kitab Tafsir Al
Qur’an seperti Tafsir Ibnu Katsir, Jalalain, dan kitab kuning mu’tabar
lainnya harus dipelajari. Sebab dari situlah kita bisa memahami Al
Qur’an dan Hadits sebagaimana para ulama Salaf memahaminya.
Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Di akhir zaman akan muncul kaum
yang muda usia dan lemah akal. Mereka berbicara dengan pembicaraan yang
seolah-olah berasal dari manusia yang terbaik. Mereka membaca Alquran,
tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama,
secepat anak panah meluncur dari busur. Apabila kalian bertemu dengan
mereka, maka bunuhlah mereka, karena membunuh mereka berpahala di sisi
Allah pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.1771)
سيخرج في آخر الزمان قوم أحدث الأسنان سفهاء الأحلام
“Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang usia mereka masih muda, dan
bodoh, mereka mengatakan sebaik‑baiknya perkataan manusia, membaca Al
Qur’an tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka. Mereka keluar dari
din (agama Islam) sebagaimana anak panah keluar dan busurnya.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
يخرج قوم من أمتي يقرئون القرآن يحسبون لهم وهو عليهم لاتجاوز صلاتهم تراقيهم
“Suatu kaum dari umatku akan keluar membaca Al Qur’an, mereka mengira
bacaan Al-Qur’an itu menolong dirinya padahal justru membahayakan
dirinya. Shalat mereka tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka.”
(HR. Muslim)
Dalil-dalil Yang Menunjukkan Wajibnya Mengikuti Salafush Shalih
a. Dalil Dari Al Qur’anul Karim
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى
وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى
وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Artinya, “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran
bainya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami
biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan
Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk
tempat kembali.” [An-Nisa : 115]
Dalam ayat yang lain, Allah Ta’alaberfirman,
وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ
وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا
عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ
فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk
Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang
mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun
ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang
mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya
selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” [QS. At-Taubah : 100]
Allah mengancam dengan siksaaan neraka jahannam bagi siapa yang
mengikuti jalan selain jalan Salafush Shalih, dan Allah berjanji dengan
surga dan keridhaan-Nya bagi siapa yang mengikuti jalan mereka.
b. Dalil Dari As-Sunnah
1. Hadits Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,
خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ
يَلُونَهُمْ، ثُمَّ إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَشْهَدُونَ وَلاَ
يُسْتَشْهَدُونَ ، وَيَخُونُونَ وَلاَ يُؤْتَمَنُونَ، وَيَنْذُرُونَ وَلاَ
يَفُونَ، وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ
“Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku, kemudian manusia
yang hidup pada masa berikutnya, kemudian manusia yang hidup pada masa
berikutnya, kemudian akan datang suatu kaum persaksian salah seorang
dari mereka mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului
persaksiannya.” (HR Bukhari (3650), Muslim (2533))
2. Kemudian dalam hadits yang lain, ketika Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam menyebutkan tentang haditsiftiraq (akan terpecahnya
umat ini menjadi 73 golongan), beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda,
ألا إن من قبلكم من أهل الكتاب افترقوا على ثنتين وسبعين ملة، وإن هذه
الملة ستفترق على ثلاث وسبعين، ثنتان وسبعون في النار، وواحدة في الجنة،
وهي الجماعة
Artinya, “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahlul
Kitab telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan.
Sesungguhnya (ummat) agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi tujuh
puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan tempatnya di dalam Neraka
dan hanya satu golongan di dalam Surga, yaitu al-Jama’ah.”
[Shahih, HR. Abu Dawud (no. 4597), Ahmad (IV/102), al-Hakim (I/128),
ad-Darimi (II/241), al-Ajurri dalam asy-Syarii’ah, al-Lalikai dalam
as-Sunnah(I/113 no. 150). Dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh
Imam adz-Dzahabi dari Mu’a-wiyah bin Abi Sufyan. Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah mengatakan hadits ini shahih masyhur. Dishahihkan oleh Syaikh
al-Albani. LihatSilsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 203-204)]
Dalam riwayat lain disebutkan:
ما أنا عليه وأصحابي
Artinya, “Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu
(yaitu) yang aku dan para Sahabatku berjalan di atasnya.” [Hasan, HR.
At-Tirmidzi (no. 2641) dan al-Hakim (I/129) dari Sahabat ‘Abdullah bin
‘Amr, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’ (no.
5343)]
Hadits iftiraq tersebut juga menunjukkan bahwa umat Islam akan terpecah
menjadi 73 golongan, semua binasa kecuali satu golongan, yaitu yang
mengikuti apa yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam dan para SahabatnyaRadhiyallahu anhum. Jadi, jalan
selamat itu hanya satu, yaitu mengikuti Al-Qur-an dan As-Sunnah menurut
pemahaman Salafush Shalih (para Sahabat).
3. Hadits panjang dari Irbad bin SariyahRadhiyallahu ‘anhu, RasulullahShallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا،
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ
الْمَهْدِيِّينَ عُضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ
وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
Artinya:
“Barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku maka ia akan
melihat perselisihan yang banyak, oleh sebab itu wajib bagi kalian
berpegang dengan sunnahku dan Sunnah Khulafaaur Rasyidin (para khalifah)
yang mendapat petunjuk sepeninggalku, pegang teguh Sunnah itu, dan
gigitlah dia dengan geraham-geraham, dan hendaklah kalian hati-hati dari
perkara-perkara baru (dalam agama) karena sesungguhnya setiap perkara
baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat” [Shahih, HR. Abu Daud
(4607), Tirmidzi (2676), dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam
Shahihul Jami’ (1184, 2549)]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallammengabarkan kepada ummat agarmengikuti
sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dan sunnah para Khualafaur
Rasyidin yang hidup sepeninggal beliau disaat terjadi perpecahan dan
perselisihan.
c. Dari perkataan Salafush Shalih
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu, ia berkata,
“اِتَّبِعُوا وَلَا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ”
Artinya, “Ikutilah dan janganlah berbuat bid’ah, sungguh kalian telah dicukupi.”(Al-Bida’ Wan Nahyu Anha (hal. 13))
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu, juga pernah berkata,
مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُسْتَنًّا فَلْيَسْتَنَّ بِمَنْ قَدْ مَاتَ، فَإِنَّ
الْحَيَّ لَا تُؤْمَنُ عَلَيْهِ الْفِتْنَةُ، أُولَئِكَ أَصْحَابُ
مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانُوا أَفْضَلَ هَذِهِ
الْأُمَّةِ، أَبَرَّهَا قُلُوبًا، وَأَعْمَقَهَا عِلْمًا وَأَقَلَّهَا
تَكَلُّفًا، قَوْمٌ اخْتَارَهُمُ اللَّهُ لِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ وَإِقَامَةِ
دِينِهِ، فَاعْرَفُوا لَهُمْ فَضْلَهُمْ، وَاتَّبِعُوهُمْ فِي آثَارِهِمْ،
وَتَمَسَّكُوا بِمَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ أَخْلَاقِهِمْ وَدِينِهِمْ،
فَإِنَّهُمْ كَانُوا عَلَى الْهَدْيِ الْمُسْتَقِيمِ.
Artinya, “Barang siapa di antara kalian ingin mncontoh, maka hendaklah
mencontoh orang yang telah wafat, yaitu para Shahabat Rasulullah, karena
orang yang masih hidup tidak akan aman dari fitnah, Adapun mereka yang
telah wafat, merekalah para Sahabat Rasulullah, mereka adalah ummat yang
terbaik saat itu, mereka paling baik hatinya, paling dalam ilmunya,
paling baik keadaannya. Mereka adalah kaum yang dipilih Allah untuk
menemani NabiNya, dan menegakkan agamaNya, maka kenalilah keutamaan
mereka, dan ikutilah jejak mereka, karena sesungguhnya mereka berada di
atas jalan yang lurus.” (Jami’ul Bayan Al-ilmi Wa Fadhlihi (2/97))
Imam Al Auza’i rahimahullah berkata,
“العلم ما جاء عن أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم، فما كان غير ذلك فليس بعلم”
Artinya, “Sebarkan dirimu di atas sunnah, dan berhentilah engkau dimana
kaum itu berhenti (yaitu para Shahabat Nabi), dan katakanlah dengan apa
yang dikatakan mereka, dan tahanlah (dirimu) dari apa yang mereka
menahan diri darinya, dan tempuhlah jalan Salafush Shalihmu (para
pendahulumu yang shalih), karena sesungguhnya apa yang engkau leluasa
(melakukannya) leluasa pula bagi mereka.” (Jami’ul Bayan Al-ilmi Wa
Fadhlihi (2/29))
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’alasenantiasa membimbing kita untuk
mengikuti manhaj salaf di dalam memahami dienul Islam ini,
mengamalkannya dan berteguh diri di atasnya, sehingga bertemu dengan-Nya
dalam keadaan husnul khatimah. Amin yaa Rabbal ‘Alamin.