Sayidina Sa'ad bin Abi Waqqosh
Saad bin Abi Waqqash adalah salah seorang sahabat yang paling pertama
memeluk Islam. Hanya beberapa orang sahabat saja yang mendahuluinya. Abu
Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, dan Zaid bin Haritsah
radhiallahu ‘anhu ajma’inmerekala orangnya. Laki-laki Quraisy ini
mengucapkan dua kalimat syahadat ketika berusia 27 tahun. Di masa
kemudian, ia menjadi tokoh utama di kalangan sahabat. Dan termasuk 10
orang yang diberi kabar gembira sebagai penghuni surga.
Nasab Saad bin Abi Waqqash
Merupakan bagian penting dalam rekam jejak seseorang adalah nasab
keluarga. Keluarga memiliki peran penting dalam pembentukan karakter
seseorang. Ayah Saad adalah anak dari seorang pembesar bani Zuhrah.
Namanya Malik bin Wuhaib bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murah
bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah
bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Amir bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin
Ma’d bin Adnan.
Adnan adalah keturunan dari Nabi Ismail bin Ibrahim ‘alaihimassalam.
Malik, ayah Saad, adalah anak paman Aminah binti Wahab, ibu Rasulullah
ﷺ. Malik juga merupakan paman dari Hamzah bin Abdul Muthalib dan
Shafiyyah binti Abdul Muthalib. Sehingga nasab Saad termasuk nasab yang
terhormat dan mulia. Dan memiliki hubungan kekerabatan dengan Nabi ﷺ.
Ibunya adalah Hamnah binti Sufyan bin Umayyah al-Akbar bin Abdu
asy-Syams bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murah bin Ka’ab bin
Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah
bin Mudrikah bin Amir bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’d bin Adnan.
Ketika Rasulullah ﷺ sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya, beliau memuji dan mencandai Saad dengan mengatakan,
هَذَا خَالِي فَلْيُرِنِي امْرُؤٌ خَالَهُ
“Ini pamanku, maka hendaklah seseorang memperlihatkan pamannya
kepadaku.” (HR. al-Hakim 6113 dan at-Tirmidzi 3752. At-Tirmidzi
mengatakan hadist ini hasan).
Masa Pertumbuhan
Saad dilahirkan di Mekah, 23 tahun sebelum hijrah. Ia tumbuh dan
terdidik di lingkungan Quraisy. Bergaul bersama para pemuda Quraisy dan
pemimpin-pemimpin Arab. Sejak kecil, Saad gemar memanah dan membuat
busur panah sendiri. Kedatangan jamaah haji ke Mekah menambah khazanah
pengetahuannya tentang dunia luar. Dari mereka ia mengenal bahwa dunia
itu tidak sama dan seragam. Sebagaimana samanya warna pasir gurun dan
gunung-gunung batu. Banyak kepentingan dan tujuan yang mengisi kehidupan
manusia.
Memeluk Islam
Mengenal Islam sejak lahir adalah sebuah karunia yang besar. Karena
hidayah yang mahal harganya itu, Allah beri tanpa kita minta. Berbeda
bagi mereka yang mengenal Islam di tengah jalannya usia. Keadaan ini
tentu lebih sulit. Banyak batu sandungan dan pemikiran yang
membingungkan.
Saad bin Waqqash memeluk Islam saat berusia 17 tahun. Ia menyaksikan
masa jahiliyah. Abu Bakar ash-Shiddiq berperan besar mengenalkannya
kepada agama tauhid ini. Ia menyatakan keislamannya bersama orang yang
didakwahi Abu Bakar: Utsman bin Affan, Zubair bin al-Awwam, Abdurrahman
bin Auf, dan Thalhah bin Ubaidillah. Hanya tiga orang yang mendahului
keislaman mereka.
Dipaksa Meninggalkan Islam
Ketika Saad bin Abi Waqqash memeluk Islam, menerima risalah kerasulan
Muhammad ﷺ, dan meninggalkan agama nenek moyangnya, ibunya sangat
menentangnya. Sang ibu ingin agar putranya kembali satu keyakinan
bersamanya. Menyembah berhala dan melestarikan ajaran leluhur.
Ibunya mulai mogok makan dan minum untuk menarik simpati putranya yang
sangat menyayanginya. Ia baru akan makan dan minum kalau Saad
meninggalkan agama baru tersebut.
Setelah beberapa lama, kondisi ibu Saad terlihat mengkhawatirkan.
Keluarganya pun memanggil Saad dan memperlihatkan keadaan ibunya yang
sekarat. Pertemuan ini seolah-olah hari perpisahan jelang kematian.
Keluarganya berharap Saad iba kepada ibunda.
Saad menyaksikan kondisi ibunya yang begitu menderita. Namun keimanannya
kepada Allah dan Rasul-Nya berada di atas segalanya. Ia berkata, “Ibu…
demi Allah, seandainya ibu mempunyai 100 nyawa. Lalu satu per satu nyawa
itu binasa. Aku tidak akan meninggalkan agama ini sedikit pun. Makanlah
wahai ibu.. jika ibu menginginkannya. Jika tidak, itu juga pilihan
ibu”.
Ibunya pun menghentikan mogok makan dan minum. Ia sadar, kecintaan
anaknya terhadap agamanya tidak akan berubah dengan aksi mogok yang ia
lakukan. Berkaitan dengan persitiwa ini, Allah pun menurunkan sebuah
ayat yang membenarkan sikap Saad bin Abi Waqqash.
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ
سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ
بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu
yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti
keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah
jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah
kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS:
Luqman | Ayat: 15).
Doanya Tidak Tertolak
Saad bin Abi Waqqash adalah seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki
doa yang manjur dan mustajab. Rasulullah ﷺ meminta kepada Allah ﷻ agar
doa Saad menjadi doa yang mustajab tidak tertolak. Beliau ﷺ bersabda,
اللَّهُمَّ سَدِّدْ رَمَيْتَهُ، وَأَجِبْ دَعْوَتَهُ
“Ya Allah, tepatkan lemparan panahnya dan kabulkanlah doanya.” (HR. al-Hakim, 3/ 500).
Doa Rasulullah ﷺ ini menjadikan Saad seorang prajurit pemanah yang hebat dan ahli ibadah yang terkabul doanya.
Seorang Mujahid
Saad bin Abi Waqqash adalah orang pertama dalam Islam yang melemparkan
anak panah di jalan Allah. Ia juga satu-satunya orang yang Rasulullah
pernah menyebutkan kata “tebusan” untuknya. Seperti dalam sabda beliau ﷺ
dalam Perang Uhud:
اِرْمِ سَعْدُ … فِدَاكَ أَبِيْ وَأُمِّيْ
“Panahlah, wahai Saad… Tebusanmu adalah ayah dan ibuku.”( HR. at-Tirmidzi, no. 3755).
Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhumengatakan, “Aku tidak pernah
mendengar Rasulullah ﷺ menebus seseorang dengan ayah dan ibunya kecuali
Saad. Sungguh dalam Perang Uhud aku mendengar Rasulullah mengatakan,
اِرْمِ سَعْدُ … فِدَاكَ أَبِيْ وَأُمِّيْ
“Panahlah, wahai Saad… Tebusanmu adalah ayah dan ibuku.”( HR. at-Tirmidzi, no. 3755).
Dan Saad sangat merasa terhormat dengan motivasi Rasulullah ﷺ ini.
Di antara keistimewaan lain, yang ada pada diri Saad bin Abi Waqqash
termasuk seorang penunggang kuda yang paling berani di kalangan bangsa
Arab dan di antara kaum muslimin. Ia memiliki dua senjata yang luar
biasa; panah dan doa.
Peperangan besar yang pernah ia pimpin adalah Perang Qadisiyah. Sebuah
perang legendaris antara bangsa Arab Islam melawan Majusi Persia. 3000
pasukan kaum muslimin beradapan dengan 100.000 lebih pasukan negara
adidaya Persia bersenjata lengkap. Prajurit Persia dipimpin oleh
palingma mereka yang bernama Rustum. Melaui Saad lah, Allah memberi
kemanangan kepada kaum muslimin atas negara adidaya Persia.
Umar Mengakui Amanahnya Dalam Memimpin
Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhupernah mengamanahi Saad jabatan
gubernur Irak. Sebuah wilayah besar dan penuh gejolak. Suatu ketika
rakyat Irak mengadukannya kepada Umar. Mereka menuduh Saad bukanlah
orang yang bagus dalam shalatnya. Permasalahan shalat bukanlah
permsalahan yang ringan bagi orang-orang yang mengetahui kedudukannya.
Sehingga Umar pun merespon laporan tersebut dengan memanggil Saad ke
Madinah.
Mendengar laporan tersebut, Saad tertawa. Kemudian ia menanggapi tuduhan
tersebut dengan mengatakan, “Demi Allah, sungguh aku shalat bersama
mereka seperti shalatnya Rasulullah. Kupanjangkan dua rakaat awal dan
mempersingkat dua rakaat terakhir”.
Mendengar klarifikasi dari Saad, Umar memintanya kembali ke Irak. Akan
tetapi Saad menanggapinya dengan mengatakan, “Apakah engkau
memerintahkanku kembali kepada kaum yang menuduhku tidak beres dalam
shalat?” Saad lebih senang tinggal di Madinah dan Umar mengizinkannya.
Ketika Umar ditikam, sebelum wafat ia memerintahkan enam orang sahabat
yang diridhai oleh Nabi ﷺ -salah satunya Saad- untuk bermusyawarah
memilih khalifah penggantinya. Umar berkata, “Jika yang terpilih adalah
Saad, maka dialah orangnya. Jika selainnya, hendaklah meminta tolong
(dalam pemerintahannya) kepada Saad”.
Sikap Saad Saat Terjadi Perselisihan Antara Ali dan Muawiyah
Saad bin Abi Waqqash menjumpai perselisihan besar yang terjadi pada kaum
muslimin. Antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan,
radhiallahu ‘anhum ajma’in. Sikap Saad pada saat itu adalah tidak
memihak kelompok manapun. Ia juga memerintahkan keluarga adan
anak-anaknya untuk tidak mengabarkan berita apapun kepadanya.
Keponakannya, Hisyam bin Utbah bin Abi Waqqash, berkata kepadanya,
“Wahai paman, ini adalah 100.000 pedang (pasukan) yang menganggap
Andalah yang berhak menjadi khalifah”. Saad menjawab, “Aku ingin dari
100.000 pedang tersebut satu pedang saja. Jika aku memukul seorang
mukmin dengan pedang itu, maka ia tidak membahayakan. Jika dipakai untuk
memukul orang kafir (berjihad), maka ia mematikan”. Mendengar jawaban
pamannya, Hisyam paham bahwa pamannya, Saad bin Abi Waqqash sama sekali
tidak ingin ambil bagian dalam permasalahan ini. Ia pun pergi.
Wafat
Saad bin Abi Waqqash termasuk sahabat yang berumur panjang. Ia juga
dianugerahi Allah ﷻ harta yang banyak. Namun ketika akhir hayatnya, ia
mengenakan pakaian dari wol. Jenis kain yang dikenal murah kala itu. Ia
berkata, “Kafani aku dengan kain ini, karena pakaian inilah yang aku
pakai saat memerangi orang-orang musyrik di Perang Badar”.
Saad wafat pada tahun 55 H. Ia adalah kaum muhajirin yang paling akhir wafatnya. Semoga Allah meridhainya
Sayidina 'Amr bin 'Ash RA
Namanya adalah Amr bin Ash bin Wail bin Hisyam bin Said bin Sahm
al-Qurasyi as-Sahmi. Di antara jasa besarnya adalah ketika Umar bin
Khattab mengamanatinya untuk menaklukkan Mesir, dan dia berhasil
menunaikan amanat tersebut. Amr merupakan salah seorang pahlawan bangsa
Arab yang sangat terkenal, sekaligus seorang politisi yang cemerlang.
Terkenal dengan kecerdasan dan kepintarannya mengatur siasat.
Sebelum Memeluk Islam
Kuniah Amr bin al-Ash adalah Abu Abdullah atau Abu Muhammad. Ia adalah
seorang pedagang yang biasa bersafar ke Syam, Yaman, Mesir, dan
Habasyah. Amr bin al-Ash memiliki bakat alamiah yang komplit, seorang
penunggang kuda yang mahir, termasuk di antara kesatrinya kaum Quraisy,
negosiator ulung, dan ia juga seorang penyair yang puitis dan fasih
bahasanya. Tidak heran, mengapa orang-orang Quraisy mengirimnya untuk
melobi an-Najasyi agar mengembalikan orang-orang Mekah yang hijrah ke
Habasyah.
Keislaman Amr bin al-Ash
Amr bin al-Ash masuk Islam pada tahun 8 H setelah kegagalan Quraisy
dalam perang Ahzab dan enam bulan sebelum penaklukkan Kota Mekah. Saat
itu ia datang bersama Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah ke Kota
Madinah. Ketika tiga orang ini menemui Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa
sallam, Rasulullah menatap ketiganya, lalu bersabda, “Mekah telah
memberikan putra terbaiknya untuk kalian (umat Islam).”
Amr bin al-Ash mengatakan, “Pada saat Allah menganugerahkan hidayah
Islam di hatiku, aku mendatangi Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam.
Aku mengatakan, ‘Julurkanlah tangan Anda, aku akan membaiat Anda’.
Rasulullah pun menjulurkan tangan kanannya kepadaku. Lalu kutahan
tanganku –sebentar-.
Rasulullah bertanya, ‘Ada apa wahai Amr?’
Kujawab, ‘Aku ingin Anda memberikan syarat kepadaku’.
Rasulullah mengatakan, ‘Apa syarat yang kau inginkan?’
Aku menjawab, ‘Agar dosa-dosaku diampuni.’
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidakkah
engkau ketauhi, bahwa keislaman menghapuskan dosa-dosa sebelumnya?
Demikian juga hijrah menafikan kesalahan-kesalahan yang telah lalu? Dan
juga haji menyucikan hilaf dan dosa terdahulu?’ (HR. Muslim).”
Di masa keislamannya, Rasulullah dekat kepadanya dan mendidiknya dengan
pendidikan tauhid yang murni. Rasulullah tahu, Amr adalah orang yang
istimewa, terkenal dengan keberanian dan bakat-bakat lainnya. Rasulullah
mengutus kepadanya seorang utusan yang membawa pesan, “Bawalah pakaian
dan senjatamu, lalu temuilah aku.”
Amr mengatakan, “Lalu aku menemui beliau yang saat itu sedang berwudhu.
Beliau menatapku lalu menganguk-anggukkan kepalanya. Setelah itu beliau
bersabda,
إِنِّى أُرِيدُ أَنْ أَبْعَثَكَ عَلَى جَيْشٍ فَيُسَلِّمَكَ اللَّهُ وَيُغْنِمَكَ وَأَرْغَبُ لَكَ مِنَ الْمَالِ رَغْبَةً صَالِحَةً
“Sesungguhnya aku hendak mengutusmu berperang bersama pasukan. Semoga
Allah menyelamatkanmu, memberikan ghanimah, dan aku berharap engkau
mendapat harta yang baik.”
Amr menanggapi, “Wahai Rasulullah, aku masuk Islam bukan untuk mencari
harta, akan tetapi aku berislam karena aku mencintai agama ini. Dan
menjadi salah seorang yang bersama Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa
sallam (sahabatmu).
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَا عَمْرُو؛ نِعْمَ المَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ
“Wahai Amr, sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki orang yang
shaleh.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya no.17798 dan Hakim no.2926).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
إِنَّ عَمْرَو بْنَ العَاصِ مِنْ صَالحِي قُرَيْشٍ
“Sesungguhnya Amr bin al-Ash adalah di antara orang-orang yang baik dari
kalangan Quraisy.” (HR. Tirmidzi dalam Sunan-nya no.3845).
Dalam riwayat Hakim dalam MustadrakRasulullah mempersaksikan bahwa Amr
bin al-Ash adalah orang yang beriman bukan seorang laki-laki yang
munafik.
ابْنَا الْعَاصِ مُؤْمِنَانِ هِشَامٌ وَعَمْرٌو
“Dua orang anak laki-laki al-Ash adalah orang yang beriman, yaitu Hisyam
dan Amr.” (HR. Hakim no.5053 dan Ahmad dalam Musnad-nya no. 8029)
Ini adalah persaksian dari manusia yang paling mulia, yang perkataannya
adalah wahyu yang tidak didustakan, atas keimanan Amr bin al-Ash.
Rasulullah sangat mencintai dan mengagumi kemampuan Amr bin al-Ash,
terbukti dengan beliau mengangkatnya sebagai pimpinan pasukan perang
Dzatu Salasil dan mengangkatnya sebagai amir wilayah Oman sampai beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.
Penaklukkan oleh Amr bin al-Ash
Pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq, Amr bin al-Ash turut serta dalam
memerangi orang-orang murtad. Setelah itu Abu Bakar mengangkatnya
sebagai panglima salah satu pasukan yang diberangkatkan menuju wilayah
Syam. Lalu ia bergabung dengan Khalid bin Walid dalam Perang Yarmuk.
Kemudian ia merampungkan penaklukkan wilayah Syam. Melalui pemimpin
ulung ini, wilayah Gaza, Yafa, Rafah, Nabulus, dll. berhasil dikuasai
kaum muslimin.
Pada masa Umar bin Khattab, ia dipercaya memimpin wilayah Palestina.
Kemudian Umar memerintahkannya berangkat menuju Mesir untuk menghadapi
pasukan Romawi. Umar sangat mengagumi kecerdasan yang dimiliki Amr bin
al-Ash, sampai-samapi ia memujinya dengan mengatakan, “Tidak pantas,
bagi Abu Abdullah (Amr bin al-Ash) berjalan di muka bumi ini kecuali
sebagai seorang pemimpin.” (Riwayat Ibnu Asakir dalamTarikh Dimasyq,
46:155).
Tibalah waktu dimana Umar bin Khattab memerintahkan Amr untuk berangkat
ke Mesir memerangi orang-orang Romawi. Menyerang negara adidaya ini, Amr
hanya diberi bekal 4000 orang pasukan yang berangkat bersamanya. Tanpa
perasaan gentar dan takut, pasukan pun bertolak menuju ke tanah para
Firaun itu.
Amirul mukminin, Umar bin Khattab tetap memantau pasukan ini, ia
senantiasa meneliti kabar-kabar tentang Romawi di Mesir dan juga
senantiasa berdiskusi dengan pembesar sahabat. Setelah beberapa diskusi
dan mendengar kabar-kabar tentang Romawi, Umar khawatir dengan pasukan
Amr, khawatir mereka tidak mampu menghadapi pasukan Romawi yang begitu
kuat dan banyak jumlahnya. Akhirnya amirul mukminin menulis surat kepada
Amr,
إذا بلغتكَ رسالتي قبل دخولك مصر فارجع، وإلَّا فسِرْ على بركة الله
Apabila suratku sampai kepadamu sebelum engkau memasuki Mesir, maka
kembalilah! Tetapi jika engkau sudah memasukinya, lanjutkanlah dengan
keberkahan dari Allah.
Akhirnya surat tersebut sampai ke tangan Amr yang kala itu sudah
memasuki wilayah Arisy (pinggiran Mesir pen.). Amr bertanya kepada
pasukannya, “Apakah kita sudah memasuki Mesir atau masih berada di
wilayah Palestina?” Pasukannya menjawab, “Sekarang kita sudah di Mesir.”
Lalu Amr mengatakan, “Jika demikian kita lanjutkan perjalanan
sebagaimana yang diperintahkan amirul mukminin.”
Pemimpin yang cerdik dan pemberani ini membawa pasukannya menaklukkan
kota demi kota di wilayah Mesir. Dimulai dari Kota Farma, kemudian
Belbis, dan Ummu Danain. Setelah itu sampailah Amr di kota besar
Iskandariyah. Di kota ini terdapat 50.000 orang pasukan Romawi.
4000 pasukan yang tenaganya telah tercurah dalam beberapa peperangan
sebelumnya, dengan gagah berani mengepung Kota Iskandariyah yang
memiliki pasukan yang besar. Di tengah pengepungan, tersiar kabar bahwa
Raja Romawi di Konstantinopel wafat dan digantikan dengan adiknya. Sang
adik yang tidak banyak mengetauhi tentang konflik di Mesir ini,
memandang tidak ada celah untuk mengalahkan umat Islam. Ia memerintahkan
perwakilannya di Mesir, Raja Muqauqis, agar mengikat perjanjian damai
dengan umat Islam.
Dalam perjanjian damai itu, tersebutlah beberapa poin berikut ini: (1)
Setiap orang menyerahkan dua dinar, kecuali orang tua dan anak-anak, (2)
Orang-orang Romawi pergi dengan harta dan barang-barang mereka dari
Kota Iskandariyah, (3) Umat Islam menghormati gereja-gereja Kristiani
saat memasuki kota, dan syarat lainnya. Setelah itu, Amr mengirimkan
kabar gembira ke Madinah bahwa Mesir sudah jatuh ke tangan umat Islam.
Menjadi Gubernur Mesir
Orang-orang Mesir menyambut gembira kedatangan umat Islam, hal itu
dikarenakan mereka mengetahui keadilan umat Islam dan mereka bebas dari
kezaliman dan sifat kasar orang-orang Romawi. Amr bin al-Ash berkata
kepada penduduk Mesir, “Wahai penduduk Mesir, sesungguhnya Nabi kami
telah mengabarkan bahwa Allah akan menaklukkan Mesir untuk umat Islam,
dan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mewasiatkan kami agar berbuat
baik kepada kalian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا افْتَتَحْتُمْ مِصْرَ فَاسْتَوْصُوا بِالْقِبْطِ خَيْرًا؛ فَإِنَّ لهُمْ ذِمَّةً وَرَحِمًا
‘Jika kalian menaklukkan Mesir, maka aku wasiatkan agar kalian berbuat
baik kepada orang-orang Qibthi ini. Mereka berhak atas perlindungan dan
kasih sayang’.” (HR. Muslim no.2543).
Selama masa-masa memimpin Mesir, Amr sangat mencintai dan dicintai
rakyatnya. Ia memperlakukan mereka dengan adil dan penuh hikmah. Pada
masanya juga Mesir mengalami kemajuan pembangunan, di antaranya
perencanaan pembangunan Kota Fustat (sekarang disebut Kairo).
Wafatnya Amr bin al-Ash
Amr bin al-Ash wafat pada tahun 43 H atau 663 M, saat itu umurnya lebih
dari 90 tahun. Ia telah meriwayatkan 39 hadis dari Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Ketika ia sedang sakit yang mengantarkannya kepada wafat, anaknya
Abdullah bin Amr datang menemuianya. Abdullah melihat ayahanda tercinta
sedang menangis, lalu ia mengatakan, “Wahai ayahanda, bukankah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kabar gembira
kepadamu, bukankah Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam telah
memberikan kabar gembira kepadamu.”
Kemudian Amr menghadapkan wajahnya dan mengatakan, “Aku mengalami tiga
fase perjalanan hidup; dahulu aku adalah orang yang sangat membenci
Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku sangat senang apabila aku
berhasil menangkapnya lalu membunuhnya dengan tanganku. Seandainya aku
wafat dalam fase ini, pastilah aku menjadi penduduk neraka.
Ketika Allah menghadirkan kecintaan terhadap Islam di dalam hatiku, aku
mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kukatakana kepada beliau,
‘Julurkanlah tangan Anda, aku akan membaiat Anda’. Rasulullah pun
menjulurkan tangan kanannya kepadaku. Lalu kutahan tanganku –sebentar-.
Beliau bertanya, ‘Ada apa wahai Amr?’
Kujawab, ‘Aku ingin Anda memberikan syarat kepadaku’.
Rasulullah mengatakan, ‘Apa syarat yang kau inginkan?’
Aku menjawab, ‘Agar dosa-dosaku diampuni.’
Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidakkah engkau
ketauhi, bahwa keislaman menghapuskan dosa-dosa sebelumnya? Demikian
juga hijrah menafikan kesalahan-kesalahan yang telah lalu? Dan juga haji
menyucikan hilaf dan dosa terdahulu?’
Tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai daripada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, mataku senantiasa membayangkan dirinya.
Aku segan menahan pandanganku –menatap matanya saat matanya menatap
mataku- yang demikian, karena aku sangat menghormatinya. Kalau sekiranya
aku dipinta untuk menjelaskan fisik beliau, -mungkin- aku tidak mampu,
karena aku tidak pernah menyorotkan mataku kepadanya karena rasa
hormatku untuknya. Jika aku wafat dalam keadaan demikian, aku berharap
aku termasuk penduduk surga.
Kemudian terjadilah suatu perkara, yang aku tidak tahu bagaimana
keadaanku kala itu. Tidak bersamaku angin yang berhembus demikian juga
api. Saat kalian menguburkanku dan kalian lempari aku dengan tanah
pekuburan, kemudian kalian berdiri sesaat di pemakamanku, dan aku
menunggu apa yang aku akan jawab dari pertanyaan utusan (malaikat)
Rab-ku.” (Riwayat Muslim dalam kitab al-iman, no.121)
Demikianlah Amr bin al-Ash, seorang sahabat yang mulia, seseorang yang
memiliki jasa besar terhadap penyebaran dan kekuatan Islam juga terhadap
umat Islam. Seorang yang dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam dan para khalifah setelahnya. Semoga Allah meridhai beliau.