Jumat, 20 November 2020

Sejarah Syaikh Nawawi Banten Sang Mahaguru Sejati


Nama lengkapnya adalah Abu Abdul Mu’ti Muhammad bin Umar bin Arbi bin Ali Al-Tanara Al-Jawi Al-Bantani. Ia lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi Al-Jawi Al-Bantani. 1‎230-1314 H / 1815- 1897 M 

Lahir dengan nama  Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi. Ulama besar ini hidup dalam tradisi keagamaan yang sangat kuat. Ulama yang lahir di Kampung Tanara, sebuah desa kecil di kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Propinsi Banten (Sekarang di Kampung Pesisir, desa Pedaleman Kecamatan Tanara depan Mesjid Jami’ Syaikh Nawawi Bantani) pada tahun 1230 H atau 1815 M ini bernasab kepada keturunan Maulana Hasanuddin Putra Sunan Gunung Jati, Cirebon. Keturunan ke-12 dari Sultan Banten. Nasab dia melalui jalur ini sampai kepada Baginda Nabi Muhammad saw. Melalui keturunan Maulana Hasanuddin yakni Pangeran Suniararas, yang makamnya hanya berjarak 500 meter dari bekas kediaman dia di Tanara, nasab Ahlul Bait sampai ke Syaikh Nawawi. Ayah dia seorang Ulama Banten, ‘Umar bin ‘Arabi, ibunya bernama Zubaedah.

Pendidikan Syaikh

Pada usia lima tahun Syekh Nawawi belajar langsung dibawah asuhan ayahandanya. Di usia yang masih kanak-kanak ini, beliau pernah bermimpi ber-main dengan anak-anak sebayanya di sungai, karena merasakan haus ia meminum air sungai tersebut sampai habis. Namun, rasa dahaganya tak kunjung surut. Maka Nawawi bersama teman-temannya beramai-ramai pergi ke laut dan air lautpun diminumnya seorang diri hingga mengering.

Ketika usianya memasuki delapan tahun, anak pertama dari tujuh bersaudara itu memulai peng-gembaraannya mencari ilmu. Tempat pertama yang dituju adalah Jawa Timur. Namun sebelum berangkat, Nawawi kecil harus menyanggupi syarat yang diajukan oleh ibunya, “Kudo’akan dan kurestui kepergianmu mengaji dengan syarat jangan pulang sebelum kelapa yang sengaja kutanam ini berbuah.” Demikian restu dan syarat sang ibu. Dan Nawawi kecilpun menyanggupi-nya.

Maka berangkatlah Nawawi kecil menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu menuntut ilmu. Setelah tiga tahun di Jawa Timur, beliau pindah ke salah satu pondok di daerah Cikampek (Jawa Barat) khusus belajar lughat (bahasa) beserta dengan dua orang sahabatnya dari Jawa Timur. Namun, sebelum diterima di pondok baru tersebut, mereka harus mengikuti tes terlebih dahulu. Ternyata mereka ber-tiga dinyatakan lulus. Tetapi menurut kyai barunya ini, pemuda yang bernama Nawawi tidak perlu mengu-langi mondok. “Nawawi kamu harus segera pulang karena ibumu sudah menunggu dan pohon kelapa yang beliau tanam sudah berbuah.” Terang sang kyai tanpa memberitahu dari mana beliau tahu masalah itu.

Tidak lama setelah kepulangannya, Nawawi muda dipercaya yang mengasuh pondok yang telah dirintis ayahnya. Di usianya yang masih relatif muda, beliau sudah tampak kealimannya sehingga namanya mulai terkenal di mana-mana. Mengingat semakin banyaknya santri baru yang berdatangan dan asrama yang tersedia tidak lagi mampu menampung, maka kyai Nawawi berinisiatif pindah ke daerah Tanara Pesisir.

Pada usia 15 tahun, ia mendapat kesempatan un-tuk pergi ke Makkah menunaikan ibadah haji. Disana ia memanfaatkan waktunya untuk mempelajari bebe-rapa cabang ilmu, diantaranya adalah: ilmu kalam, bahasa dan sastra Arab, ilmu hadits, tafsir dan ilmu fiqh. Setelah tiga tahun belajar di Makkah ia kembali ke daerahnya tahun 1833 M dengan khazanah ilmu keagamaan yang relatif cukup lengkap untuk mem-bantu ayahnya mengajar para santri.

Syaikh Nawawi telah mengajar banyak orang. Sampai kemudian karena karamahnya yang telah mengkilap sebelia itu, dia mencari tempat di pinggir pantai agar lebih leluasa mengajar murid-muridnya yang kian hari bertambah banyak. Pada usia 15 tahun dia menunaikan haji dan berguru kepada sejumlah ulama terkenal di Mekah, sepertiSyaikh Khâtib al-Sambasi, Abdul Ghani Bima, Yusuf Sumbulaweni, Abdul Hamîd Daghestani, Syaikh Sayyid Ahmad Nahrawi, Syaikh Ahmad Dimyati, Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, Syaikh Muhammad Khatib Hambali, dan Syaikh Junaid Al-Betawi. Tapi guru yang paling berpengaruh adalah Syaikh Sayyid Ahmad Nahrawi,Syaikh Junaid Al-Betawi dan Syaikh Ahmad Dimyati, ulama terkemuka diMekah. Lewat ketiga Syaikh inilah karakter dia terbentuk. Selain itu juga ada dua ulama lain yang berperan besar mengubah alam pikirannya, yaitu Syaikh Muhammad Khatib dan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, ulama besar di Medinah.

Perjuangan dan nasionalisme Syaikh 

Tiga tahun bermukim di Mekah, dia pulang ke Banten. Sampai di tanah air dia menyaksikan praktik-praktik ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan penindasan dari Pemerintah Hindia Belanda. Ia melihat itu semua lantaran kebodohan yang masih menyelimuti umat. Tak ayal, gelora jihadpun berkobar. Dia keliling Bantenmengobarkan perlawanan terhadap penjajah. Tentu saja Pemerintah Belanda membatasi gara-geriknya. Dia dilarang berkhutbah di masjid-masjid. Bahkan belakangan dia dituduh sebagai pengikutPangeran Diponegoro yang ketika itu memang sedang mengobarkan perlawanan terhadap penjajahan Belanda (1825- 1830 M).

Sebagai intelektual yang memiliki komitmen tinggi terhadap prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran, apa boleh buat Syaikh Nawawi terpaksa menyingkir ke Negeri Mekah, tepat ketika perlawanan Pangeran Diponegoro padam pada tahun 1830 M. Ulama Besar ini di masa mudanya juga menularkan semangat Nasionalisme dan Patriotisme di kalangan RakyatIndonesia. Begitulah pengakuan Snouck Hourgronje. Begitu sampai di Mekah dia segera kembali memperdalam ilmu agama kepada guru-gurunya. Dia tekun belajar selama 30 tahun, sejak tahun 1830 hingga 1860 M. Ketika itu memang dia berketepatan hati untuk mukim di tanah suci, satu dan lain hal untuk menghindari tekanan kaum penjajah Belanda. Nama dia mulai masyhur ketika menetap di Syi'ib ‘Ali, Mekah. Dia mengajar di halaman rumahnya. Mula-mula muridnya cuma puluhan, tapi makin lama makin jumlahnya kian banyak. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia. Maka jadilah Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi sebagai ulama yang dikenal piawai dalam ilmu agama, terutama tentang tauhid, fiqih, tafsir, dan tasawwuf.

Nama dia semakin melejit ketika dia ditunjuk sebagai pengganti Imam Masjidil Haram, Syaikh Khâtib al-Minagkabawi. Sejak itulah dia dikenal dengan nama resmi Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi.’ Artinya Nawawi dari Banten, Jawa. Piawai dalam ilmu agama, masyhur sebagai ulama. Tidak hanya di kota Mekah dan Medinah saja dia dikenal, bahkan di negeri Mesir nama dia masyhur di sana. Itulah sebabnya ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Mesir negara yang pertama-tama mendukung atas kemerdekaan Indonesia.

Syekh Nawawi Banten Sebagai Mahaguru Sejati

Syaikh Nawawi masih tetap mengobarkan nasionalisme dan patriotisme di kalangan para muridnya yang biasa berkumpul di perkampungan Jawa di Mekah. Di sanalah dia menyampaikan perlawanannya lewat pemikiran-pemikirannya. Kegiatan ini tentu saja membuat pemerintah Hindia Belanda berang. Tak ayal, Belandapun mengutus Snouck Hourgronje ke Mekah untuk menemui dia.

Ketika Snouck–yang kala itu menyamar sebagai orang Arab dengan nama ‘Abdul Ghafûr-bertanya:

“Mengapa dia tidak mengajar di Masjidil Haram tapi di perkampungan Jawa?”.

Dengan lembut Syaikh Nawawi menjawab:

“Pakaianku yang jelek dan kepribadianku tidak cocok dan tidak pantas dengan keilmuan seorang professor berbangsa Arab”.

Lalu kata Snouck lagi:

”Bukankah banyak orang yang tidak sepakar seperti anda akan tetapi juga mengajar di sana?”.

Syaikh Nawawi menjawab :

“Kalau mereka diizinkan mengajar di sana, pastilah mereka cukup berjasa".

Dari beberapa pertemuan dengan Syaikh Nawawi, Orientalis Belanda itu mengambil beberapa kesimpulan. Menurutnya, Syaikh Nawawi adalah Ulama yang ilmunya dalam, rendah hati, tidak congkak, bersedia berkorban demi kepentingan agama dan bangsa. Banyak murid-muridnya yang di belakang hari menjadi ulama, misalnya K.H. Hasyim Asyari (Pendiri Nahdhatul Ulama), K.H. Ahmad Dahlan (PendiriMuhammadiyah), K.H. Khalil Bangkalan, K.H. Asnawi Kudus, K.H. Tb. Bakrie Purwakarta, K.H. Arsyad Thawil, dan lain-lainnya.

Konon, K.H. Hasyim Asyari saat mengajar santri-santrinya di Pesantren Tebu Ireng sering menangis jika membaca kitab fiqih Fath al-Qarîb yang dikarang oleh Syaikh Nawawi. Kenangan terhadap gurunya itu amat mendalam di hati K.H. Hasyim Asyarihingga haru tak kuasa ditahannya setiap kali baris Fath al-Qarib ia ajarkan pada santri-santrinya.

Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi menikah dengan Nyai Nasimah, gadis asal Tanara, Banten dan dikaruniai 3 anak: Nafisah, Maryam, Rubi’ah. Sang istri wafat mendahului beliau

Nama Syekh Nawawi Banten sudah tidak asing lagi bagi umat Islam Indonesia. Bahkan kebanyakan orang menjulukinya sebagai Imam Nawawi kedua. Imam Nawawi pertama adalah yang membuat Syarah Shahih Muslim, Majmu’ Syarhul Muhadzab, Riyadhus Sholihin dan lain-lain. Melalui karya-karyanya yang tersebar di Pesantren-pesantren tradisional yang sampai sekarang masih banyak dikaji, nama kyai asal Banten ini seakan masih hidup dan terus menyertai umat memberikan wejangan ajaran Islam yang menyejuk-kan. Di setiap majelis ta’lim karyanya selalu dijadikan rujukan utama dalam berbagai ilmu, dari ilmu tauhid, fiqh, tasawuf sampai tafsir. Karya-karyanya sangat terkenal.

Di kalangan komunitas pesantren Syekh Nawawi tidak hanya dikenal sebagai ulama penulis kitab, tapi juga mahaguru sejati (the great scholar). Nawawi telah banyak berjasa meletakkan landasan teologis dan batasan-batasan etis tradisi keilmuan di lembaga pendidikan pesantren. Ia turut banyak membentuk keintelektualan tokoh-tokoh para pendiri pesantren yang sekaligus juga banyak menjadi tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Apabila KH. Hasyim Asy’ari sering disebut sebagai tokoh yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya NU, maka Syekh Nawawi adalah guru utamanya. Di sela-sela pengajian kitab-kitab karya gurunya ini, seringkali KH. Hasyim Asy’ari bernostalgia bercerita tentang kehidupan Syekh Nawawi, kadang mengenangnya sampai meneteskan air mata karena besarnya kecintaan beliau terhadap Syekh Nawawi.

 Goresan Tinta Syekh Nawawi

Di samping digunakan untuk mengajar kepada para muridnya, seluruh kehidupan beliau banyak dicurahkan untuk mengarang beberapa kitab besar sehingga tak terhitung jumlahnya. Konon saat ini masih terdapat ratusan judul naskah asli tulisan tangan Syekh Nawawi yang belum sempat diterbitkan.

Kitab-kitab karangan beliau banyak yang di-terbitkan di Mesir, seringkali beliau hanya mengirim-kan manuskripnya dan setelah itu tidak memperduli-kan lagi bagaimana penerbit menyebarkan hasil karyanya, termasuk hak cipta dan royaltinya, selanjutnya kitab-kitab beliau itu menjadi bagian dari kurikulum pendidikan agama di seluruh pesantren di Indonesia, bahkan Malaysia, Filipina, Thailand dan juga negara-negara di Timur Tengah. Menurut Ray Salam T. Mangondana, peneliti di Institut Studi Islam, Universitas of Philippines, ada sekitar 40 sekolah agama tradisional di Filipina yang menggunakan karya Nawawi sebagai kurikulum belajarnya. Selain itu Sulaiman Yasin, dosen di Fakultas Studi Islam Universitas Kebangsaan di Malaysia juga menggunakan karya beliau untuk mengajar di kuliahnya. Pada tahun 1870 para ulama universitas Al-Azhar Mesir pernah mengundang beliau untuk memberikan kuliah singkat di suatu forum diskusi ilmiah. Mereka tertarik untuk mengundang beliau, karena sudah dikenal di seantero dunia.

Kepakaran dia tidak diragukan lagi. Ulama asal Mesir, Syaikh 'Umar 'Abdul Jabbâr dalam kitabnya "al-Durûs min Mâdhi al-Ta’lîm wa Hadlirih bi al-Masjidil al-Harâm”(beberapa kajian masa lalu dan masa kini tentang Pendidikan Masa kini di Masjidil Haram) menulis bahwa Syaikh Nawawi sangat produktif menulis hingga karyanya mencapai seratus judul lebih, meliputi berbagai disiplin ilmu. Banyak pula karyanya yang berupa syarah atau komentar terhadap kitab-kitab klasik. Sebagian dari karya-karya Syaikh Nawawi di antaranya adalah sebagai berikut:

al-Tsamâr al-Yâni’ah syarah al-Riyâdl al-Badî’ah
al-‘Aqd al-Tsamîn syarah Fath al-Mubîn
Sullam al-Munâjah syarah Safînah al-Shalâh
Baĥjah al-Wasâil syarah al-Risâlah al-Jâmi’ah bayn al-Usûl wa al-Fiqh wa al-Tasawwuf
al-Tausyîh/ Quwt al-Habîb al-Gharîb syarah Fath al-Qarîb al-Mujîb
Niĥâyah al-Zayyin syarah Qurrah al-‘Ain bi Muĥimmâh al-Dîn
Marâqi al-‘Ubûdiyyah syarah Matan Bidâyah al-Ĥidâyah
Nashâih al-‘Ibâd syarah al-Manbaĥâtu ‘ala al-Isti’dâd li yaum al-Mi’âd
Salâlim al-Fadhlâ΄ syarah Mandhûmah Ĥidâyah al-Azkiyâ΄
Qâmi’u al-Thugyân syarah Mandhûmah Syu’bu al-Imân
al-Tafsir al-Munîr li al-Mu’âlim al-Tanzîl al-Mufassir ‘an wujûĥ mahâsin al-Ta΄wil musammâ Murâh Labîd li Kasyafi Ma’nâ Qur΄an Majîd
Kasyf al-Marûthiyyah syarah Matan al-Jurumiyyah
Fath al-Ghâfir al-Khathiyyah syarah Nadham al-Jurumiyyah musammâ al-Kawâkib al-Jaliyyah
Nur al-Dhalâm ‘ala Mandhûmah al-Musammâh bi ‘Aqîdah al-‘Awwâm
Tanqîh al-Qaul al-Hatsîts syarah Lubâb al-Hadîts
Madârij al-Shu’ûd syarah Maulid al-Barzanji
Targhîb al-Mustâqîn syarah Mandhûmah Maulid al-Barzanjî
Fath al-Shamad al ‘Âlam syarah Maulid Syarif al-‘Anâm
Fath al-Majîd syarah al-Durr al-Farîd
Tîjân al-Darâry syarah Matan al-Baijûry
Fath al-Mujîb syarah Mukhtashar al-Khathîb
Murâqah Shu’ûd al-Tashdîq syarah Sulam al-Taufîq
Kâsyifah al-Sajâ syarah Safînah al-Najâ
al-Futûhâh al-Madaniyyah syarah al-Syu’b al-Îmâniyyah
‘Uqûd al-Lujain fi Bayân Huqûq al-Zaujain
Qathr al-Ghais syarah Masâil Abî al-Laits
Naqâwah al-‘Aqîdah Mandhûmah fi Tauhîd
al-Naĥjah al-Jayyidah syarah Naqâwah al-‘Aqîdah
Sulûk al-Jâdah syarah Lam’ah al-Mafâdah fi bayân al-Jumu’ah wa almu’âdah
Hilyah al-Shibyân syarah Fath al-Rahman
al-Fushûsh al-Yâqutiyyah ‘ala al-Raudlah al-Baĥîyyah fi Abwâb al-Tashrîfiyyah
al-Riyâdl al-Fauliyyah
Mishbâh al-Dhalâm’ala Minĥaj al-Atamma fi Tabwîb al-Hukm
Dzariyy’ah al-Yaqîn ‘ala Umm al-Barâĥîn fi al-Tauhîd
al-Ibrîz al-Dâniy fi Maulid Sayyidina Muhammad al-Sayyid al-Adnâny
Baghyah al-‘Awwâm fi Syarah Maulid Sayyid al-Anâm
al-Durrur al-Baĥiyyah fi syarah al-Khashâish al-Nabawiyyah
Lubâb al-bayyân fi ‘Ilmi Bayyân.

Karya tafsirnya, al-Munîr, sangat monumental, bahkan ada yang mengatakan lebih baik dari Tafsîr Jalâlain, karya Imâm Jalâluddîn al-Suyûthi dan Imâm Jalâluddîn al-Mahâlli yang sangat terkenal itu. 
Sementara Kâsyifah al-Sajâ syarah merupakan syarah atau komentar terhadap kitab fiqih Safînah al-Najâ, karya Syaikh Sâlim bin Sumeir al-Hadhramy. Para pakar menyebut karya dia lebih praktis ketimbang matan yang dikomentarinya. 

Karya-karya dia di bidang Ilmu Akidah misalnya Tîjân al-Darâry, Nûr al-Dhalam, Fath al-Majîd. 
Sementara dalam bidang Ilmu Hadits misalnya Tanqih al-Qaul. Karya-karya dia di bidang Ilmu Fiqih yakni Sullam al-Munâjah, Niĥâyah al-Zain, Kâsyifah al-Sajâ. Adapun Qâmi’u al-Thugyân, Nashâih al-‘Ibâd dan Minhâj al-Raghibi merupakan karya tasawwuf. 
Ada lagi sebuah kitab fiqih karya dia yang sangat terkenal di kalangan para santri pesantren di Jawa, yaitu Syarah ’Uqûd al-Lujain fi Bayân Huqûq al-Zaujain. Hampir semua pesantren memasukkan kitab ini dalam daftar paket bacaan wajib, terutama di Bulan Ramadhan. Isinya tentang segala persoalan keluarga yang ditulis secara detail. Hubungan antara suami dan istri dijelaskan secara rinci. 
Kitab yang sangat terkenal ini menjadi rujukan selama hampir seabad. Tapi kini, seabad kemudian kitab tersebut dikritik dan digugat, terutama oleh kalangan muslimah. Mereka menilai kandungan kitab tersebut sudah tidak cocok lagi dengan perkembangan masa kini. Tradisi syarah atau komentar bahkan kritik mengkritik terhadap karya dia, tentulah tidak mengurangi kualitas kepakaran dan intelektual dia.

Karomah-Karomah Syekh Nawawi Al-Bantani

Pada suatu malam Syekh Nawawi sedang dalam perjalanan dari Makkah ke Madinah. Beliau duduk di atas ‘sekedup’ onta atau tempat duduk yang berada di punggung onta. Dalam perjalanan di malam hari yang gelap gulita ini, beliau mendapat inspirasi untuk menulis dan jika insipirasinya tidak segera diwujudkan maka akan segera hilang dari ingatan, maka berdo’alah ulama ‘alim allamah ini, “Ya Allah, jika insipirasi yang Engkau berikan malam ini akan bermanfaat bagi umat dan Engkau ridhai, maka ciptakanlah telunjuk jariku ini menjadi lampu yang dapat menerangi tempatku dalam sekedup ini, sehingga oleh kekuasaan-Mu akan dapat menulis inspirasiku.” Ajaib! Dengan kekuasaan-Nya, seketika itu pula telunjuk Syekh Nawawi menyala, menerangi ‘sekedup’nya. Mulailah beliau menulis hingga selesai dan telunjuk jarinya itu kembali padam setelah beliau menjelaskan semua penulisan hingga titik akhir. Konon, kitab tersebut adalah kitabMaroqil Ubudiyah, komentar kitab Bidayatul Hidayah karangan Imam Al-Ghazali.

Konon, pada suatu waktu pernah dia mengarang kitab dengan menggunakan telunjuk dia sebagai lampu, saat itu dalam sebuah perjalanan. Karena tidak ada cahaya dalam syuqduf yakni rumah-rumahan di punggung unta, yang dia diami, sementara aspirasi tengah kencang mengisi kepalanya. Syaikh Nawawi kemudian berdoa memohon kepada Allah Ta’ala agar telunjuk kirinya dapat menjadi lampu menerangi jari kanannya yang untuk menulis. Kitab yang kemudian lahir dengan nama Marâqi al-‘Ubudiyyah syarah Matan Bidâyah al-Hidayah itu harus dibayar dia dengan cacat pada jari telunjuk kirinya. Cahaya yang diberikan Allah pada jari telunjuk kiri dia itu membawa bekas yang tidak hilang. 

Karamah dia yang lain juga diperlihatkannya di saat mengunjungi salah satu masjid di Jakarta yakni Masjid Pekojan. Masjid yang dibangun oleh salah seorang keturunan cucu Rasulullah saw Sayyid Utsmân bin ‘Agîl bin Yahya al-‘Alawi, Ulama dan Mufti Betawi (sekarang ibukota Jakarta), itu ternyata memiliki kiblat yang salah. Padahal yang menentukan kiblat bagi mesjid itu adalah Sayyid Utsmân sendiri.

Tak ayal , saat seorang anak remaja yang tak dikenalnya menyalahkan penentuan kiblat, kagetlah Sayyid Utsmân. Diskusipun terjadi dengan seru antara mereka berdua. Sayyid Utsmân tetap berpendirian kiblat Mesjid Pekojan sudah benar. Sementara Syaikh Nawawi remaja berpendapat arah kiblat mesti dibetulkan. Saat kesepakatan tak bisa diraih karena masing-masing mempertahankan pendapatnya dengan keras, Syaikh Nawawi remaja menarik lengan baju lengan Sayyid Utsmân. Dirapatkan tubuhnya agar bisa saling mendekat.

“Lihatlah Sayyid!, itulah Ka΄bah tempat Kiblat kita. Lihat dan perhatikanlah! Tidakkah Ka΄bah itu terlihat amat jelas? Sementara Kiblat masjid ini agak kekiri. Maka perlulah kiblatnya digeser ke kanan agar tepat menghadap ke Ka΄bah". Ujar Syaikh Nawawi remaja.

Sayyid Utsmân termangu. Ka΄bah yang ia lihat dengan mengikuti telunjuk Syaikh Nawawi remaja memang terlihat jelas. Sayyid Utsmân merasa takjub dan menyadari , remaja yang bertubuh kecil di hadapannya ini telah dikaruniai kemuliaan, yakni terbukanya nur basyariyyah. Dengan karamah itu, di manapun dia berada Ka΄bah tetap terlihat. Dengan penuh hormat, Sayyid Utsmân langsung memeluk tubuh kecil dia. Sampai saat ini, jika kita mengunjungi Masjid Pekojan akan terlihat kiblat digeser, tidak sesuai aslinya.

Telah menjadi kebijakan Pemerintah Arab Saudi bahwa orang yang telah dikubur selama setahun kuburannya harus digali. Tulang belulang si mayat kemudian diambil dan disatukan dengan tulang belulang mayat lainnya. Selanjutnya semua tulang itu dikuburkan di tempat lain di luar kota. Lubang kubur yang dibongkar dibiarkan tetap terbuka hingga datang jenazah berikutnya terus silih berganti. Kebijakan ini dijalankan tanpa pandang bulu. Siapapun dia, pejabat atau orang biasa, saudagar kaya atau orang miskin, sama terkena kebijakan tersebut. Inilah yang juga menimpa makam Syaikh Nawawi. 
Setelah kuburnya genap berusia satu tahun, datanglah petugas dari pemerintah kota untuk menggali kuburnya. Tetapi yang terjadi adalah hal yang tak lazim. Para petugas kuburan itu tak menemukan tulang belulang seperti biasanya. Yang mereka temukan adalah satu jasad yang masih utuh. Tidak kurang satu apapun, tidak lecet atau tanda-tanda pembusukan seperti lazimnya jenazah yang telah lama dikubur. Bahkan kain putih kafan penutup jasad dia tidak sobek dan tidak lapuk sedikitpun.

Terang saja kejadian ini mengejutkan para petugas. Mereka lari berhamburan mendatangi atasannya dan menceritakan apa yang telah terjadi. Setelah diteliti, sang atasan kemudian menyadari bahwa makam yang digali itu bukan makam orang sembarangan. Langkah strategis lalu diambil. Pemerintah melarang membongkar makam tersebut. Jasad dia lalu dikuburkan kembali seperti sediakala. Hingga sekarang makam dia tetap berada di Ma΄la, Mekah.

Demikianlah karamah Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi. Tanah organisme yang hidup di dalamnya sedikitpun tidak merusak jasad dia. Kasih sayang Allah Ta’ala berlimpah pada dia. Karamah Syaikh Nawawi yang paling tinggi akan kita rasakan saat kita membuka lembar demi lembar Tafsîr Munîr yang dia karang. Kitab Tafsir fenomenal ini menerangi jalan siapa saja yang ingin memahami Firman Allah swt. Begitu juga dari kalimat-kalimat lugas kitab fiqih, Kâsyifah al-Sajâ, yang menerangkan syariat. Begitu pula ratusan hikmah di dalam kitab Nashâih al-‘Ibâd. Serta ratusan kitab lainnya yang akan terus menyirami umat dengan cahaya abadi dari buah tangan dia.

Wafatnya Imam

Masa selama 69 tahun mengabdikan dirinya sebagai guru Umat Islam telah memberikan pandangan-pandangan cemerlang atas berbagai masalah umatIslam. Syaikh Nawawi wafat di Mekah pada tanggal 25 syawal 1314 H/ 1897 M. Tapi ada pula yang mencatat tahun wafatnya pada tahun 1316 H/ 1899 M. Makamnya terletak di pekuburan Ma'la di Mekah. Makam dia bersebelahan dengan makam anak perempuan dari Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, Asma΄ binti Abû Bakar al-Siddîq.

Pembantaian Keluarga Syeikh Nawawi oleh Kaum Wahabi

Kisah ini diceritakan oleh keturunan dari keluarga Syaikh Nawawi al-Bantani yang berhasil lolos dari kejaran Wahabi. Beliau adalah KH. Thabari Syadzily. Berikut adalah sedikit kisah pembataian tersebut.

Pada zaman dahulu di kota Mekkah keluarga Syeikh Nawawi bin Umar Al-Bantani (Muallif Kitab) pun tidak luput dari sasaran pembantaian Wahabi. Ketika salah seorang keluarga beliau sedang duduk memangku cucunya, kemudian gerombolan Wahabi datang memasuki rumahnya tanpa diundang dan langsung membunuh dan membantainya hingga tewas. Darahnya mengalir membasahi tubuh cucunya yang masih kecil yang sedang dipangku oleh beliau.

Sedangkan keluarganya yang lain terutama golongan yang laki-laki dikejar-kejar oleh gerombolan Wahabi untuk dibunuh. Alhamdulillah, mereka selamat sampai ke Indonesia dengan cara menyamar sebagai perempuan.

Posisi Strategis Syeikh Nawawi bagi Dunia dan Indonesia

1. Syekh Nawawi Al-Bantani adalah satu dari tiga ulama Indonesia yang mengajar di Masjid Al-Haram di Makkah Al-Mukarramah pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dua yang lain ialah muridnya, Ahmad Khatib Minangkabau dan Kiai Mahfudz Termas. Ini menunjukkan bahwa keilmuannya sangat diakui tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di semenanjung Arab. Syekh Nawawi sendiri menjadi pengajar di Masjid al-Haram sampai akhir hayatnya yaitu sampai 1898, lalu dilanjutkan oleh kedua muridnya itu. Wajar, jika ia dimakamkan berdekatan dengan makam istri Nabi Khadijah di Ma’la.

2. Syekh Nawawi Al-Bantani mendapatkan gelar “Sayyidu Ulama’ al-Hijaz” yang berarti “Sesepuh Ulama Hijaz” atau “Guru dari Ulama Hijaz” atau “Akar dari Ulama Hijaz”. Yang menarik dari gelar di atas adalah \beliau tidak hanya mendapatkan gelar “Sayyidu ‘Ulama al-Indonesi” sehingga bermakna, bahwa kealiman beliau diakui di semenanjung Arabia, apalagi di tanah airnya sendiri. Selain itu, beliau juga mendapat gelar “al-imam wa al-fahm al-mudaqqig” yang berarti “Tokoh dan pakar dengan pemahaman yang sangat mendalam”. Snouck Hourgronje member gelar “Doktor Teologi”.

3. Pada tahun 1870, Syekh Nawawi diundang para ulama Universitas Al-Azhar dalam sebuah seminar dan diskusi, sebagai apresiasi terhadap penyebaran buku-buku Syekh Nawawi di Mesir. Ini membuktikan bahwa ulama al-Azhar mengakui kepakaran Syekh Nawawi al-Bantani.

4. Paling tidak terdapat 34 karya Syekh Nawawi yang tercatat dalam Dictionary of Arabic Printed Books. Namun beberapa kalangan lainnya malah menyebut karya-karyanya mencapai lebih dari 100 judul, meliputi berbagai disiplin ilmu, seperti tauhid, ilmu kalam, sejarah, syari’ah, tafsir, dan lainnya. Sebagian karyanya tersebut juga diterbitkan di Timur Tengah. Dengan kiprah dan karya-karyanya ini, menempatkan dirinya sebagai alim terpandang di Timur Tengah, lebih-lebih di Indonesia.

5. Kelebihan dari Syekh Nawawi al-Bantani adalah menjelaskan makna terdalam dari bahasa Arab, termasuk sastera Arab yang susah dipahami, melalui syarah-syarahnya. Bahasa yang digunakan Syekh Nawawi memudahkan pembaca untuk memahami isi sebuah kitab. Wajar jika syarah Syekh Nawawi menjadi rujukan, karena dianggap paling otentik dan paling sesuai maksud penulis awal. Bahkan, di Indonesia dan beberapa segara lain, syarah Syekh Nawawi paling banyak dicetak yang berarti paling banyak digunakan dibandingkan dengan buku yang terbit tanpa syarahnya.
6. Syekh Nawawi hidup di zaman di mana pemikiran Islam penuh perdebatan ekstrim antara pemikiran yang berorientasi pada syari’at dan mengabaikan hal yang bersifat sufistik di satu sisi (seperti Wahabi) serta sebaliknya pemikiran yang menekankan sufisme lalu mengabaikan syari’at di sisi lain (Seperti tarekat aliran Ibn Arabi). Kelebihan dari Syekh Nawawi adalah mengambil jalan tengah di antara keduanya. Menurutnya, syari’at memberikan panduan dasar bagi manusia untuk mencapai kesucian rohani. 
Karena itu, seseorang dianggap gagal jika setelah melaksanakan panduan syari’at dengan baik, namun rohaninya masih kotor. Hal sama juga berlaku bagi seorang sufi. Mustahil ia akan mencapai kesucian rohani yang hakiki, bukan kesucian rohani yang semu, jika ia melanggar atau malah menabrak aturan syari’at. Selain itu, di masa itu juga muncul pemikiran yang secara ekstrem mengutamakan aqli dan mengabaikan naqli atau sebaliknya mengutamakan naqli dan mengabaikan aqli. Namun Syekh Nawawi berhasil mempertemukan di antara keduanya, bahwa dalil naqli dan aqli harus digunakan secara bersamaan. Namun jika ada pertentangan di antara kedunya, maka dalil naqli harus diutamakan.
7. Dalam konteks Indonesia, Syekh Nawawi merupakan tokoh penting yang memperkenalkan dan menancapkan pengaruh Teologi ‘Asy’ariyah. Teologi ini merupakan teologi jalan tengah antara Teologi Qadariyah bahwa manusia mempunyai kebebasan mutlak dengan teologi Jabariyah yang menganggap manusia tidak mempunyai kebebasan untuk berbuat baik atau berbuat jahat.
8. Cara berpikir jalan tengah ini kemudian diadopsi dengan baik oleh Nahdlatul Ulama (NU). Karena itu, banyak kalangan yang berpandangan bahwa NU merupakan institusionalisasi dari cara berpikir yang dianut oleh Syekh Nawawi al-Bantani. Apalagi pendiri NU, KH. Hasyim ‘Asy’ari merupakan salah satu murid dari Syekh Nawawi al-Bantani.
9. Dalam konteks penjajahan, Syekh Nawawi al-Bantani berpendapat bahwa bekerja sama dengan penjajah Belanda adalah haram hukumnya. Karena itu, murid-murid Syekh Nawawi al-Bantani merupakan bagian terpenting dari sejarah perjuangan memperebutkan kemerdekaan Indonesia. Pemberontakan Petani Banten di abad 18 yang sangat merugikan Belanda, misalnya, merupakan salah satu contoh dari karya murid Syek Nawawi. Karena itu, wajar jika Syekh Nawawi menjadi salah satu objek “mata-mata” Snouck Hourgronje.
10. Berdasarkan penelitian Martin Van Bruinesen (Indonesianis dari Belanda) setelah mengadakan penelitian di 46 pesantren terkemuka di Indonesia ia berkesimpulan bahwa 42 dari 46 pesantren itu menggunakan kitab-kitab yang ditulis Syekh Nawawi al-Bantani. Menurut Martin, sekurang-kurangnya 22 karangan Nawawi yang menjadi rujukan di berbagai Pesantren. ‎

 

Sejarah Untung Suropati (Wiro Negoro)


Untung Surapati merupakan salah seorang pahlawan nasional Indonesia berdasarkan penetapan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975.

Silsilah Untung Suropati

Tersebutlah seorang pemuda bernama Untung, salah seorang narapidana yang menghuni penjara di Batavia. Sebelumnya dia seorang budak yang dipelihara keluarga Belanda sejak masih berumur tujuh tahun. Konon Untung  dipenjara  karena berani melawan majikannya. 

Sebenarnya Untung berasal dari keluarga bangsawan Bali yang menjadi tawanan perang serdadu Belanda dan dibawa ke Makassar. Setelah Untung berada di Makassar, Kapten Van Beber membawanya ke Batavia kemudian dijual sebagai budak kepada seorang saudagar Belanda. Karena sejak kecil sudah berpisah dengan keluarganya, maka tidak ada orang yang mengetahui riwayat asal-usulnya. Nama Untung itu sendiri adalah nama paraban (alias) yang diberikan oleh majikannya, nama garbhopati (nama sejak lahir) yang diberikan orang tuanya adalah Surawiroaji.

Menurut silsilah keluarganya Surawiroaji alias Untung adalah anak dari Jatiwiyasa, seorang keluarga bangsawan di Bali. Kakeknya bernama Tirtawijaya Sukma anak dari Karma Pujanggabuana anak dariResi Mertadharma anak dari Sarataleksi anak dariBharata Darwa Muksa anak dari Satya Putralaksanaanak dari Kuwu Wika Kertaloka anak dari Prahma Putra Reksa anak dari Resi Wuluh Sedyaloka. Orang Jawa menyebut Resi Wuluh Sedyaloka dengan nama Begawan Sidolaku, sastrawan terkenal dari Tabanan Bali. Ketika masih muda Raden Ronggowarsito (Pujangga kraton Surakarta) pernah belajar ke Tabanan untuk mempelajari kitab kasusastraan peninggalan Resi Wuluh Sedyaloka.

Resi Wuluh Sedyaloka adalah keturunan Prabu Kertajaya, raja terakhir Panjalu (Kediri) yang dikalahkan oleh Ken Arok pada tahun 1222. Ketika pasukan Ken Arok menyerbu istana Kediri, Prabu Kertajaya berhasil melarikan diri dengan diiringkan ketiga istri dan beberapa abdi saja. Raja yang malang ini bersembunyi di lereng Gunung Semeru dan akhirnya menjadi seorang pertapa. Tidak lama berselang Ken Arok mencium keberadaan Prabu Kertajaya, maka ditugaskan bala tentaranya untuk menangkap lawan politiknya tersebut. Prabu Kertajaya berhasil lolos dalam pengejaran hingga akhirnya menemukan tempat yang aman di Pulau Bali. Prabu Kertajaya mendapat perlindungan dari penguasa di pulau dewata sebab antara raja Jawa dan Raja Bali masih memiliki hubungan darah.

Jadi apabila dirunut ke atas, leluhur Untung adalah gabungan dari wangsa Dharmodayana (Prabu Udayana) yang berkuasa di Bali dan wangsa Isana (Empu Sindok) yang berkuasa di tanah Jawa. Wangsa Isana adalah kelanjutan dari wangsa Syailendra yang mendirikan kerajaan Mataram (Medang Kamulan) di lereng barat daya gunung Merapi.

Untung seorang pemuda berwajah tampan dan halus tutur katanya. Dia sangat pemberani namun berhati mulia, sehingga selama di dalam penjara sangat disegani kawan-kawannya. Pada suatu kesempatan Untung memimpin para narapidana melakukan perlawanan kepada penjaga penjara. Penjara berhasil dijebol, berbagai senjata dirampas dan dibawa kabur. Kompeni mengirimkan serdadu untuk menangkap mereka, tetapi upaya itu tidak membuahkan hasil. Untung dan pengikutnya justru membunuh beberapa serdadu yang mengejarnya. Kompeni semakin marah kepada Untung dan terus-menerus melakukan pengejaran.

Mendapat nama Surapati
Pada tahun 1683 Sultan Ageng Tirtayasaraja Banten dikalahkan VOC. Putranya yang bernama Pangeran Purbayamelarikan diri ke Gunung Gede. Ia memutuskan menyerah tetapi hanya mau dijemput perwira VOC pribumi.

Kapten Ruys (pemimpin benteng Tanjungpura) berhasil menemukan kelompok Untung. Mereka ditawari pekerjaan sebagai tentara VOC daripada hidup sebagai buronan. Untung pun dilatih ketentaraan, diberi pangkat letnan, dan ditugasi menjemput Pangeran Purbaya.

Untung menemui Pangeran Purbaya untuk dibawa ke Tanjungpura. Datang pula pasukan Vaandrig Kuffeler yang memperlakukan Pangeran Purbaya dengan kasar. Untung tidak terima dan menghancurkan pasukan Kuffeler diSungai Cikalong, 28 Januari 1684.

Pangeran Purbaya tetap menyerah keTanjungpura, tapi istrinya yang bernama Gusik Kusuma meminta Untung mengantarnya pulang ke Kartasura. Untung kini kembali menjadi buronan VOC. Antara lain ia pernah menghancurkan pasukan Jacob Couper yang mengejarnya di desa Rajapalah.

Ketika melewati Kesultanan Cirebon, Untung berkelahi dengan Raden Surapati, anak angkat sultan. Setelah diadili, terbukti yang bersalah adalah Surapati. Surapati pun dihukum mati.

Sultan Cirebon sangat gembira menerima kedatangan Gusik Kusumo dan seluruh teman-temannya. Wanita itu menceritakan semua peristiwa yang dialami, mulai dari kepergiannya meninggalkan suami sampai pertemuannya dengan Untung. Kanjeng Sultan sangat prihatin akan nasib keponakannya, tetapi beliau juga bangga. Meskipun seorang wanita, Gusik Kusumo tidak gentar melawan kompeni. Sebagai ungkapan terima kasih kepada Untung yang sudah mengawal keponakannya, Untung dianugerahi nama Suropati oleh Sultan Cirebon, sehingga namanya menjadi Untung Suropati. Dalam ajaran Jawa-Hindu nama Suropati adalah sebutan lain dari Bathara Endra, yakni rajanya para dewa.

Beberapa saat lamanya Untung tinggal di Cirebon, hingga pada suatu hari Kanjeng Sultan menyarankan agar Untung meneruskan perjalanan ke Kartasura. Sultan khawatir kompeni akan menyerang Cirebon, sementara kondisi kesultanan tidak memungkinkan melakukan perlawanan. Cirebon adalah kerajaan yang hanya memiliki prajurit dalam jumlah terbatas. Di Kartasura Untung akan mendapat pengayoman karena Kartasura memiliki prajurit yang sangat besar. Ayah RA Gusik Kusumo adalah Patih Nerangkusumo Untung Suropati memahami hal itu, sebenarnya dia bersama kawan-kawannya juga sudah berencana meninggalkan Kesultanan Cirebon. Mereka terpaksa bertahan di Cirebon karena menunggu keputusan Gusik Kusumo.

Pada waktu yang hampir bersamaan Gusik Kusumo mengutarakan niatnya untuk pulang ke Kartasura. Sang Putri sudah sangat rindu kepada keluarganya di Mataram dan harus secepatnya diberitahu kalau dirinya sudah bercerai dengan Pangeran Purbaya. Pernikahannya dengan Purbaya dulu adalah atas kehendak Sunan Amangkurat, jadi apapun yang terjadi harus dilaporkan ke Mataram. Kanjeng Sultan memberikan perbekalan yang cukup untuk keberangkatan mereka. Beliau juga mengijinkan orang-orang Bali, Madura dan Makassar yang hidup bergelandangan di Cirebon bergabung dengan Untung Suropati. Setelah berpamitan kepada Kanjeng Sultan, rombongan Untung dan Gusik Kusumo meninggalkan Cirebon dengan perasaan sangat terharu.

Perjuangan Untung Suropati

Untung alias Surapati tiba di Kartasura ‎engantarkan Raden Ayu Gusik Kusuma pada ayahnya, yaitu Patih Nerangkusuma. Nerangkusuma adalah tokoh anti VOCyang gencar mendesak Amangkurat II agar membatalkan perjanjiannya dengan bangsa Belanda tersebut. Patih Nerangkusuma juga menikahkan Gusik Kusuma dengan Surapati.

Kapten François Tack (perwira VOC senior yang ikut berperan dalam penumpasan ‎Trunajaya dan Sultan Ageng Tirtayasa) tiba di Kartasura bulan Februari 1686 untuk menangkap Surapati. Amangkurat II yang telah dipengaruhi Nerangkusuma, pura-pura membantu VOC.

Pertempuran pun meletus di halaman keraton. Pasukan VOC hancur. Sebanyak 75 orang Belanda tewas. Kapten Tack sendiri tewas di tangan Untung dengan tombak Kyai Plered. Tentara Belanda yang masih hidup menyelamatkan diri ke benteng mereka.
Amangkurat II takut pengkhianatannya terbongkar. Ia merestui Surapati dan Nerangkusuma merebut Pasuruan. Di kota itu, Surapati mengalahkan bupatinya, yaitu Anggajaya, yang kemudian melarikan diri ke Surabaya. Bupati Surabaya bernama Adipati Jangrana tidak melakukan pembalasan karena ia sendiri sudah kenal dengan Surapati di Kartasura.

Untung Surapati pun mengangkat diri menjadi bupati Pasuruan dan bergelar ‎Tumenggung Wiranegara.

Pada tahun 1690 Amangkurat II pura-pura mengirim pasukan untuk merebut Pasuruan. Tentu saja pasukan ini mengalami kegagalan karena pertempurannya hanya bersifat sandiwara sebagai usaha mengelabui VOC.‎

Sepeninggal Amangkurat II tahun 1703, terjadi perebutan takhta Kartasura antara Amangkurat III melawan Pangeran Puger. Pada tahun 1704 Pangeran Puger mengangkat diri menjadi Pakubuwana I dengan dukungan VOC. Tahun 1705 Amangkurat III diusir dari Kartasura dan berlindung ke Pasuruan.

Pada bulan September 1706 gabungan pasukan VOC, Kartasura, Madura, dan Surabaya dipimpin Mayor Goovert Knole menyerbu Pasuruan. Pertempuran di benteng Bangil akhirnya menewaskan Untung Surapati alias Wiranegara tanggal17 Oktober 1706. Namun ia berwasiat agar kematiannya dirahasiakan. Makam Surapati pun dibuat rata dengan tanah. Perjuangan dilanjutkan putra-putranya dengan membawa tandu berisi Surapati palsu.

Putra-putra Untung Surapati, antara lain Raden Pengantin, Raden Surapati, dan Raden Suradilaga memimpin pengikut ayah mereka (campuran orang Jawa danBali). Sebagian dari mereka ada yang tertangkap bersama Amangkurat III tahun 1708 dan ikut dibuang ke Srilangka.

Sebagian pengikut Untung Surapati bergabung dalam pemberontakan Arya Jayapuspita di Surabaya tahun 1717. Pemberontakan ini sebagai usaha balas dendam atas dihukum matinya Adipati Jangrana yang terbukti diam-diam memihak Surapati dalam perang tahun 1706.

Setelah Jayapuspita kalah tahun 1718 dan mundur ke Mojokerto, pengikut Surapati masih setia mengikuti. Mereka semua kemudian bergabung dalam pemberontakan Pangeran Blitar menentang Amangkurat IV yang didukung VOC tahun 1719. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan tahun 1723. Putra-putra Untung Surapati dan para pengikutnya dibuang VOC ke Srilangka.

Simpang siur makam Sang Pahlawan 
Berdasarkan informasi yang berkembang ada beberapa versi tentang keberadaan makam Untung Suropati. Di Pasuruan lokasi yang diklaim sebagai makam untung Suropati berada di di Dukuh Mancilan dan Dukuh Belik, keduanya di Kelurahan Pohjentrek Kecamatan Purworejo. Makam tersebut telah diresmikan pada masa pemerintahan Drg. H.M Sihabudin. Selain itu beberapa sumber lain mengatakan makamnya juga ada di Bangil dan bahkan juga ada di Mojokerto. Ada juga sumber yang menyatakan bahwa makam Untung Suropati sudah dibongkar oleh Herman de Wilde dan jenazahnya dibakar kemudian dibuang ke laut.

Tidak hanya makamnya saja yang simpang siur. Juga beredar banyak versi mengenai sebab kematian Untung Suropati. Sebagian masyarakat meyakini bahwa Untung Suropati meninggal karena terjatuh dari kudanya dalam perjalanan setelah melawan VOC. Sebagian masyarakat lain bahkan meyakini bahwa Untung Suropati masih ada dan sedang bertapa di suatu tempat. Sedangkan yang dianggap sebagai makam Untung Suropati hanya berisi barang pusaka milik Untung Suropati.

Terlepas dari simpang siurnya cerita tentang kematian dan makamnya, makam Untung Suropati di Pohjentrek pun sering dikunjungi peziarah dari berbagai daerah, seperti Surabaya, Malang, Bondowoso dan Banyuwangi. Di makam tersebut juga sering diadakan kegiatan khol dan tumpengan untuk mendoakan beliau.

Area makam Untung Suropati juga memberi keberkahan tersendiri bagi masyarakat sekitar. Penduduk bisa memanfaatkan Bunga Kamboja yang sudah berjatuhan di sekitar makam untuk dipungut kemudian dijual kepada pengepul bunga. Sebagaimana diketahui, Bunga Kamboja dapat dijadikan campuran pembuatan sabun, minyak wangi, dan teh. Setiap kilogram Bunga Kamboja kering dihargai 112 ribu rupiah. Selain dapat menunjang pendapatan rumah tangga, aktivitas masyarakat untuk mengumpulkan Bunga Kamboja tersebut menyebabkan kompleks makam selalu bersih.

Ketokohan dan kepahlawanan Untung Suropati sangat diakui oleh semua kalangan, utamanya di Pasuruan. Tanggal diserahkannya Pataka Pasuruan kepada Untung Suropati dijadikan sebagai hari jadi Kota pasuruan. Selain itu, nama Untung Suropati banyak digunakan sebagai nama jalan, sekolah, bahkan organisasi masyarakat.

Oleh karena itu, sebagai generasi muda, kita harus menghargai sejarah. Sebagai bentuk penghormatan terhadap para pahlawan, hal yang bisa dilakukan adalah dengan menjaga, melestarikan petilasan atau makam pahlawan serta mendokumentasikan peristiwa-peristiwa bersejarah yang pernah terjadi. Perhatian pemerintah juga sangat dibutuhkan, semisal dalam bentuk pendirian museum sebagai tempat untuk penyimpanan, perawatan dan pemanfaatan benda-benda materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa. Museum itu nanti juga berguna sebagai media edukatif kultural dan penyajian rekreatif yang mempunyai nilai budaya dan ilmiah bagi generasi Pasuruan selanjutnya.‎

 

Perjuangan Syaikh Muhammad Al Jawad


MUSLIM MUHAMMAD KHOLIFAH
 
Alias : Kyai Mojo 
Lahir : Mojo, Pajang, Jawa Tengah
Orangtua : Iman Abdul Ngarip
Menggantikan: Sultan Ageng Tirtayasa
Daerah da’wah: Pulau Jawa dan Sulawesi Utara 
Wafat : 1848 M 
Makam : Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara

Kyai Modjo lahir sekitar tahun 1764 dan kemudian menjadi guru agama (ulama) yang sangat berpengaruh daerah Pajang dekat Delanggu, Surakarta. Nama sebenarnya adalah Muslim Mochammad Khalifah.

Masa Kecil

Ayah Kyai Modjo bernama Iman Abdul Arif, yang merupakan seorang ulama terkenal pada masa itu di dusun Baderan dan Modjo, kedua dusun tersebut berada dekat Pajang dan merupakan tanah pemberian (perdikan / swatantra) Raja Surakarta kepada beliau. Belum diketahui latar belakang keluarga beliau,  Iman Abdul Ngarip memiliki alur keturunan dari kerajaan Pajang. Sedangkan ibu Kyai Modjo adalah saudara perempuan HB III, dan dengan demikian ditinjau dari hubungan kekerabatan Kyai Modjo adalah kemenakan Pangeran Diponegoro karena ibu Kyai Modjo (R.A Mursilah bersepupu dengan Pangeran Diponegoro).

Meskipun ibunya seorang ningrat kraton, Kyai Modjo dibesarkan di luar kraton. Setelah menunaikan ibadah haji ke Mekah dan menetap di sana selama beberapa waktu  Kyai Modjo kemudian memimpin satu pesantren di negeri Modjo .

Pernikahan
Kyai modjo menikah dengan R.A Mangkubumi janda cerai dari Pangeran Mangkubumi - paman Pangeran Diponegoro dan karena perkawinan ini Pangeran Diponegoro memanggil Kyai Modjo dengan sebutan “paman”, meskipun dari garis ayah Kyai modjo adalah “kemenakan” Pangeran Diponegoro (ibu Kyai modjo (R.A Mursilah) adalah sepupu Pangeran Diponegoro).

Karier
Kyai Mojo mempelajari agama Islam dengan berguru kepada Kyai Syarifudin di Gading Santren Klaten. Setelah dewasa, ia berguru kepada kyai di Ponorogo. Disinilah Kyai Mojo mendapatkan pengajaran tentang ilmu kanuragan. Sejak saat itulah beliau terkenal akan kesaktiannya, di samping terkenal akan pendidikan agama dan pesantrennya. Ia termasuk salah seorang kepercayaan Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwono VI (PB VI).

Sepeninggal ayahnya, Kyai Modjo melanjutkan tugas ayahnya sebagai guru agama di (pesantren) Modjo di mana banyak putra dan putri dari Kraton Solo belajar di pesantrennya di Modjo. Kelak nama Muslim Mochammad Khalifah menjadi terkenal sebagai Kyai Modjo. Keulamaannya dan ada pertalian darah dengan Kraton Yogyakarta (baca Pangeran Diponegoro) kemungkinan membuat Pangeran Diponegoro memilih Kyai Modjo sebagai penasehat agamanya sekaligus panglima perangnya.

Dekadensi moral yang terjadi di kraton kemudian berimbas pada kehidupan masyarakat luas semakin menderita, telah menjadi sebab keluarga Iman Abdul Ngarip, khususnya Muhammad Muslim (Kyai Modjo) beserta saudara-saudaranya (Kyai Khasan Mochammad, Kyai Khasan Besari, dan Kyai Baderan) dan masyarakat luas mengangkat senjata menentang Belanda.


Wasiat Jihad Kyai Mojo Muhammad Al Jawad dalam mengobarkan semangat Jihad Laskar Mataram

Den sira para satria nagari mentaram, nagari jawi heng dodotira sumimpen, watak wantune sayyidina ngali, sumimpen kawacaksane sayyidina ngali, sumimpen kawacaksane sayyidina kasan, sumimpen kakendale sayyidina kusen, den seksana hing wanci suro landa bakal den sira sirnaake saka tanah jawa, krana sinurung pangribawaning para satrianing muhammad yaitu ngali, kasan, kusen. Sira padha lumaksananna yudha kairing takbir lan shalawat, yen sira gugur hing bantala, cinandra, guguring sakabate sayyidina kusen hing Nainawa,sira kang wicaksana hing yudha,pinates tampa sesilih ali basya 

Terjemahan sbb: Wahai kalian satria mataram, negara jawa tersimpan dalam pemahaman kalian. Pada kalian tersimpan Watak prilaku, kebijaksanaan sayyidina ali dan sayyidina hasan. Tersimpan keberanian al husain, perhatikanlah pada waktu suro belanda akan kalian hilangkan dr tanah jawa, krn terdorong kekuatan para satria muhammad yaitu ali,hasan dan husain. Berperanglah teriring takbir dan shalawat, jika kalian syahid maka akan tercatat spt syahid nya para sahabat al husain di 
Nainawa
Engkau yang bijaksana dalam peperangan, pantas mendapat julukan Ali Basya

Hingga akhirnya terjadi "penangkapan" oleh Belanda pada tanggal 17 November 1828 di dusun Kembang Arum, Jawa Tengah. Kyai Modjo dibawa ke Batavia dan selanjutnya diasingkan ke Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara. Beliau wafat di tempat pengasingan itu, pada tanggal 20 Desember 1849M  

Satu putranya (Gazaly), 5 orang kerabat dekat (Tumenggung Reksonegoro Kyai Pulukadang, Tumenggung Zess Pajang, Ilyas Zess, Wiso/Ngiso Pulukadang, dan Kyai Baderan/Kyai Sepuh) serta lebih dari 50 orang pengikut lainnya yang semuanya laki-laki ikut dalam pengasingan tersebut. 

Baru setahun kemudian, istri beliau menyusul ke Tondano. Kyai Modjo merupakan pendiri Kampung Jawa Tondano di Minahasa dan menjadi cikal bakal masuknya Agama Islam di Minahasa. Di Tondano beliau menyalurkan ilmu kesaktiannya yaitu ilmu kanugaran yang dipelajarinya di Ponorogo, kepada pengikutnya dalam bentuk ilmu bela diri. Dari situlah, yang kemudian menjadi cikal bakal pencak silat.

Kampung Jawa disebut juga Kampung Jawa Tondano, merupakan salah satukelurahan yang berada di kecamatanTondano Utara, Kabupaten Minahasa, provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Tempat ini berada di sebelah utara Danau Tondanodan berjarak sekitar 40 km arah selatan dari kota Manado sekitar 60 menit perjalanan menggunakan mobil, atau berjarak 2 km dari kota Tondano. dengan populasi yang semuanya Muslim

Kyai Mojo merupakan salah seorang pahlawan penentang kolonial, pengikut setia Pangeran Diponegoro bahkan salah satu pilar utama penyokong perjuangan Sang Pangeran. Mengenai Kyai Mojo ini tercatat dalam sejarah sebagai beikut :

Tertangkap sekitar Nopember 1928. VOC merencanakan bahwa jalur pengamanan yang akan dipakai adalah Semarang – Batavia – Ambon – Manado. Proses evakuasi menggunakan kapal perang De Belona kemudian dipindahkan ke kapal Mercury. Rombongan ini terbagi menjadi dua. Kyai Mojo sangat dihormati oleh VOC sehingga dibuatkan sebuah rumah tahanan baru yang terpisah. Tinggal di Batavia.

Pemberangkatan ke Ambon dibagi menjadi dua tahap, menggunakan kapal Thalia. Rombongan pertama berjumlah sekitar 48 orang, rombongan kedua 25 orang: Kyai Mojo disertakan dalam rombongan kedua.  Rombongan Kyai Mojo dikirim ke Ambon sekitar awal Februari 1830. Jumlah pengikut yang ikut dikirim ke Ambon hanya 25 orang, sisanya tinggal di Batavia. Rombongan ini akhirnya tiba di Manado sekitar bulan Mei 1830. Selanjutnya beliau diasingkan di Tondano.

Istri Kyai Mojo ditangkap setelah perang usai ( Februari 1831 ?) dan dikirim ke Manado. Istri Kyai Mojo adalah mantan istri Pangeran Mangkubumi (?). Di Tondano beliau dikenal sebagai “mbah wedok”.

Di Tondano, Kyai Mojo dan 63 orang pengikutnya membangun mesjid yang  dikenal sebagai Masjid Al-Falah, di tengah pemukiman yang kini disebutKampung Jawa Tondano.

Komplek makam Kyai Mojo berada di desa Wulauan, Kecamatan Tolimambot, Minahasa. Kompleks makam dibagi menjadi dua bagian yaitu makam tanpa cungkup dan makam bercungkup.

Bangunan bercungkup pertama, berada di bagian tengah yaitu bagian tertinggi di areal kompleks, ada sebelas makam. Bangunan cungkup kedua, terletak di sebelah timur area cungkup pertama, begitu juga bangunan cungkup ketiga. 

Sisanya di areal kompleks makam tersebut adalah makam tanpa cungkup.
Makam-makam tersebut dapat dibedakan dari undaknya yaitu :
Makam berundak sembilan, hanya ada satu yaitu makam Kyai Mojo.
Makam berundak tiga berjumlah 47 buah, tanpa cungkup, tercatat nama-nama Mbah Rivai, Usman Wonggo, Ratep Suratinoyo, Mbah Rumbayan, dll.
Makam berundak dua berjumlah 60 buah, beberapa diantaranya bercungkup, tercatat nama Kyai Sepoh Baderan.
Makam berundak satu berjumlah 58 buah.
Makam tanpa undakan mencatatkan nama-nama Mbah Ranges, Usman Wonggo, Tumenggung Wayang, Ahmad Nurhamiddin, anak keturunan Kyai Pajang, jumlah tidak tercatat.

Cukup sulit untuk membuat kategori tentang kompleks makam ini. Apa bedanya yang bercungkup dan tidak? Apa maksudnya undak-undakan dibedakan menjadi dua, tiga dan seterusnya? Hanya ada satu yang istimewa yaitu makam Kyai Mojo (bercungkup dan berundak sembilan!).

Mengingat jumlah pengikut Kyai Mojo yang ikut dibuang ‘hanya’ 63 orang dan jumlah makam di kompleks tersebut lebih dari 100, maka ada kemungkinan terdapat pejuang yang lain yang turut dibuang di wilayah ini yang tidak tercatat oleh administrasi VOC (?).

Adakah kemungkinan lain? Bisa jadi telah terjadi perkawinan antara para pengikut Kyai Mojo dengan masyarakat asli Tondano yang membuat masyarakat berkembang dan bertambah populasinya, sehingga tidak hanya Kyai Mojo dan pengikutnya saja yang dimakamkan di kompleks ini, melainkan juga anak keturunannya.

Satu hal yang pasti adalah, seluruh makam menunjukkan ciri makam Jawa – Islam.

Catatan Tambahan :

Komplek Pemakaman Kyai Mojo tetap terjaga hingga kini oleh anak keturunan para pengikut Kyai Mojo. Sungguh amat kontras dengan junjungan Kyai Mojo sendiri… Pangeran Diponegoro.

Selain Kampung Jawa Tondano Sendiri, Terjadi Penyebaran penduduk keluar daerah Tondano, dan mendirikan Kampung Jawa juga. Paling Banyak berada di Gorontalo, diantaranya :

Yosonegoro, berada di Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo,Provinsi Gorontalo
Reksonegoro, berada di Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo
Kaliyoso, berada di Kecamatan Bongomeme, Kabupaten Gorontalo,Provinsi Gorontalo
Mulyonegoro, berada di Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo
Rejonegoro, berada di , Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo
Salilama, berada di Kecamatan Mananggu , Kabupaten Boalemo,Provinsi Gorontalo
Bandungredjo, berada di Kecamatan Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo,Provinsi Gorontalo
Bojonegoro, berada di Kecamatan maesaan, Kabupaten Minahasa Selatan,Provinsi Sulawesi Utara
Ikhwan, berada di Kecamatan Dumoga barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara. ‎

 

Sejarah Nyai Ageng Serang


Salah satu ikon yang terkenal di Kabupaten Kulon Progo adalah pahlawan wanita yang bernama Nyi Ageng Serang. Nyi Ageng Serang adalah pejuang wanita yang gigih berperang melawan penjajah didaerah Kulon Progo. Untuk menghormatinya perjuangan beliau di buatlah monumen patung Nyi Ageng Serang yang bertengger di pusat perlimaan jalan utama Kulon Progo. Patung Nyi Ageng Serang sedang menaiki kuda dengan membawa tombak ber bendera di tangannya.

Mungkin banyak yang belum tahu tentang sejarah hidup perjuangan Nyi Ageng Serang. Tidak banyak referensi yang menceritakan tentang hidup dan perjuangan Nyi Ageng Serang. Nyi Ageng Serang memang kalah tenar di banding dengan pahlawan nasional wanita lainnya seperti Tjut Nya’ Dien dan Raden Ajeng Kartini.Kisah perjuangan Tjut Nya’ Dien sudah di filmkan dengan sutradara Eros Jarot dengan judul yang sama. Bahkan film ini berhasil beberapa penghargaan termasuk sebagai Film Terbaik di ajang ‎FFI.

NYI AGENG SERANG merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Bahkan di Wates sosok Nyi Ageng Serang ini dipatungkan dengan posisi menunggang kuda dan membawa tombak. Wajahnya yang cantik-manis tidak saja menonjolkan keunggulan sisi kewanitaannya, namun juga menonjolkan sosok ketegasan dan sifat pemberaninya.

Nyi Ageng Serang memiliki nama lengkap Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi. Tokoh ini dilahirkan di Serang, sebuah wilayah di di Kabupaten Sragen yang merupakan batas wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Wilayah ini berjarak sekitar 40 kilometer dari Surakarta. Ia dilahirkan pada tahun 1762. Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi lebih terkenal dengan sebutan Nyi Ageng Serang karena ia lahir di wilayah tersebut.

Desa atau wilayah Serang pada kisaran abad 17-18 menjadi terkenal karena wilayah ini dijadikan markas besar perjuangan Pangeran Natapraja atau dikenal juga sebagai Panembahan Natapraja. Pangeran Natapraja adalah teman seperjuangan Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwana I) dalam Perang Giyanti. Bahkan disebut-sebut bahwa ia adalah salah satu panglima dari pasukan Pangeran Mangkubumi. Disebutkan pula bahwa Pangeran Natapraja ini kemudian juga menjadi bupati untuk wilayah Serang yang nota bene merupakan sebuah wilayah yang sekarang termasuk kecil. Sekalipun demikian, pada masanya Serang di bawah Panembahan Natapraja dulu membawahi wilayah-wilayah mulai Grobogan, Purwodadi, sampai Semarang bagian selatan.

Nyi Ageng Serang inilah yang merupakan salah satu putri bungsu dari Pangeran Natapraja. Sesungguhnya pulalah Panembahan Natapraja ini memiliki gelar Kanjeng Pangeran Adipati, namun ia lebih senang menggunakan gelar panembahan karena baginya hal itu lebih bisa mendekatkan dirinya dengan rakyat. Jika ditarik garis silsilah ke atas, maka Nyi Ageng Serang merupakan trah atau keturunan Sunan Kalijaga. Panembahan Natapraja sendiri merupakan keturunan ke delapan dari Sunan Kalijaga.

Sejak usia kecilnya, beliau juga sempat mendapatkan didikan ilmu siasat dan  keprajuritan. Dan beliau juga di kenal cerdas.

Meski merupakan putra bangsawan, namun sejak kecil Nyi Ageng Serang dikenal dekat dengan rakyat. Setelah dewasa dia juga tampil sebagai salah satu panglima perang melawan penjajah. Semangatnya untuk bangkit selain untuk membela rakyat, juga dipicu kematian kakaknya saat membela Pangeran Mangkubumi melawan Paku Buwana I yang dibantu Belanda.

Nyi Ageng Serang bersama ayah (Panembahan Serang) dan kakaknya (Kyai Ageng Serang) termasuk pemberontak-pemberontak yang merobek-robek Perjanjian Gianti (13-02-1755) dan meneruskan perlawanan bersenjata terhadap Belanda. Belanda menyergap pasukannya di Semarang. Ayah dan saudaranya gugur dalam pertempuran. 

Setelah Perjanjian Giyanti, Nyi Ageng Serang pindah ke Jogja bersama Pangeran Mangkubumi. Namun perjuangan melawan pasukan penjajah terus dia lanjutkan. Saat itu Nyi Ageng Serang memimpin pasukan yang bernama Pasukan Siluman dengan keahlian Serang yang cepat hingga membuat pasukan musuh kerap kocar-kacir. Pasukan ini juga menjadi salah satu pasukan yang sangat diperhitungan Belanda waktu itu.

Perkembangan pesat yang dialami oleh R.A Kustiah Wulangningsih Retno Edi membuat Sultan Hamengku Buwono tertarik untuk menjadikan mantu R.A Kustiah Wulangningsih Retno Edi tidak menolak maupun mengiyakan. Sultan Hamengku Buwono tidak marah mengetahui ‎hal tersebut.

Melihat kemampuan R.A Kustiah Wulangningsih Retno Edi, Sultan Hamengku Buwono mengutus R.A Kustiah Wulangningsih Retno Edi berrtempat tinggal di Kademangan, agar bisa mengetahui situasi dan kondisi diluar kraton, sehingga nantinya akan menjadi masukan yang baik bagi Sultan Hamengku Buwono  dalam menentukan sikap.

Setelah lama tinggal di Kademangan, atas permintaan Sultan Hamengku Buwono, R.A Kustiah Wulangningsih Retno Edi kembali ke kraton. Selama di dalam keraton R.A Kustiah Wulangningsih Retno Edi selalu didesak untuk menjadi istri Sultan Hamengku Buwono II.

Setelah lama selalu di desak, akhirnya R.A Kustiah Wulangningsih Retno Edi menerima Sultan Hamengku Buwono II dengan syarat setelah menikah tidak hidup satu atap. Ini dikarenakan beliau masih memikirkan tentang perjuangan membebaskan rakyat dari penjajah Belanda. Atas perkawinan tersebut ‎beliau mendapat nama Bendoro Raden Ayu Kustiah Wulangningsih Retno Edi.

Beberapa hari berselang akhirnya mereka berpisah dan BRA. R.A Kustiah Wulangningsih Retno Edi memilih tinggal di bumi Serang. Setelah tinggal disana, masyarakat memanggil beliau dengan nama Bendoro Ayu Nyi Ageng Serang. Di bumi Serang itulah beliau selalu menyebarkan bibit-bibit nasionalisme dengan selalu membakar semangat melawan penjajah.

Bendoro Nyi Ageng Serang akhirnya menikah lagi dengan Pangeran Mutia Kusumawijaya dan atas persetujuan kraton beliau diangkat sebagai Panembahan Kusumo Wijoyo (Panembahan Serang)  dan mempunyai puteri bernama R.A Kustinah.

R.A Kustinah diambil menantu oleh Sultan HB II, dijodohkan dengan B.R.M. Mangkudiningrat dan dikaruniai seorang putera bernama Raden Papak dan bergelar G.P.A. A. Notoprojo .

‎Pada masa itu di kraton Mataram sedang terjadi konflik antara Pangeran Diponegoro dengan Belanda karena kesewenangan pihak Belanda terhadap rakyat. Pada tanggal 20 Juli 1825, pihak Belanda mengirimkan serdadu –serdadu dari Yogyakarta untuk menangkap Pangeran Diponegoro. Ini di picu ketegangan antara kedua belah pihak dengan akan di bangunnya jalan raya di dekat Tegal rejo. Segera meletus pertempuran terbuka. Tegalrejo direbut dan dibakar, tetapi Pangeran Diponegoro berhasil meloloskan diri. Pangeran Diponegoro lalu mencanangkan panji pemberontakan. Perang Jawa / Diponegoro (1825 – 1830 ) pun dimulai.

Pernyataan perang terhadap Belanda tersebut tentu saja mendapat dukungan sepenuhnya dari Nyi Ageng Serang dengan Laskar Semut Irengnya. Nyi Ageng Serang dengan laskarnya ikut berperang melawan penjajah Belanda.

Selama perang tersebut Nyi Ageng Serang menggunakan ‎taktik kamuflase daun keladi atau daun lumbu. Daun lumbu wajib di bawa oleh setiap prajurit dan rakyat yang ikut berperang yang nantinya di gunakan sebagai payung ataupun bersembunyi. Dengan daun itu Nyi Ageng Serang memerintahkan pasukannya melindungi kepalanya untuk penyamaran sehingga tampak seperti kebun tanaman keladi jika di lihat dari kejauhan. Musuh akan di serang dan di hancurkan bila sudah dekat dan dalam jarak sasaran.

Nyi Ageng Serang berjuang di daerah Grobogan, Purwodadi, Gundih, Kudus, Demak, Pati, Semarang, Magelang. Dalam perang gerilyanya akhirnya beliau sampai di pinggiran sungai Progo di daerah Dekso dan bermarkas di bukit Traju Mas. Sebuah bukit yang sekarang di namakan dengan bukit Menoreh. Akhirnya tempat tersebut ‎dijadikan markas komando Nyi Ageng Serang

Pasukannya semakin besar karena dibantu oleh kalangan bawah, khususnya petani yang banyak bergabung dengan pasukannya. Nyi Ageng Serang juga dikenal sebagai ahli siasat dan negosiasi. 


Ketika pecah perang Diponegoro pada tahun 1825, Nyi Ageng Serang kehilangan suaminya yang tewas dalam pertempuran. Nyi Ageng Serang kemudian meneruskan perjuangan, dan meskipun sudah lanjut usianya, ketika itu berumur 73 tahun, mendapat kepercayaan memimpin pasukan. Pasukannya membawa Panji "Gula Kelapa" (warna Merah Putih) di daerah Jawa Tengah bagian timur-laut. 

Nyi Ageng Serang dalam pertempuran itu memprakarsai penggunaan daun Talas sebagai taktik penyamaran. 

Nyi Ageng Serang, Pangeran Adi Suryo dan Pangeran Somo Negoro memimpin perlawanan di darah pegunungan Menoreh, Kadipaten Adi Karto serta daerah Kadipaten Kulon Progo. Pangeran Joyo Kusumo memimpin perlawanan di daerah Kokap pegunungan Menoreh bersama Raden Mas Leksono Dewo (Ki Sodewo) salah satu Putra Pangeran Diponegoro  di daerah mata air Sendang Clereng dan sekitar wilayah Serang Pengasih yang merupakan wilayah Kadipaten Adi Karto. 

Sementara setelah terjadi geger di Gua Selarong, Pangeran Diponegoro dan Tumenggung Danu Kusumo serta para Kenthol Bagelen selanjutnya bergerak ke arah barat dan memimpin perlawanan di daerah Bagelen dan Alas Abang Somongari, wilayah purworejo  kini. 

Pangeran Adi Winoto dan Tumenggung Mangundipuro memimpin perlawanan di daerah Kedu. Pangeran Sayid Abu Bakar (Putra Pangeran Diponegoro) dan Tumenggung Joyo Mustopo memimpin perlawanan di daerah Lowano. Pangeran Joyo Kusumo memimpin perlawanan di daerah Ngayogyakarto bagian utara. Pangeran Suryo Negoro, Tumenggung Somodiningrat dan Tumenggung Suro Negoro memimpin perlawanan di daerah kuta negara Mataram dan wilayah timur Kraton Ngayogyakarto. 

Pangeran Singosari dan Tumenggung Warso Kusumo memimpin perlawanan di daerah Gunung Kidul hingga daerah Wonogiri. Tumenggung Karto Pengalasan bersama Raden Mas Wirono Rejo dengan Laskar Prambanan memimpin perlawanan di daerah Plered. Dan Tumenggung Mertoloyo memimpin perlawanan di daerah Pajang, serta Tumenggung Kartodirjo memimpin perlawanan di daerah Sukowati hingga daerah Sragen dan Sukoharjo kini.

Nyi Ageng Serang oleh Pangeran Diponegoro dianggap sesepuh dan ahli/penasehat strategi perang. Nyi Ageng Serang bersama Pangeran Diponegoro selain meningkatkan taktik daun keladi/lumbu juga membentuk pasukan khusus berani mati yang dinamakan pasukan Sesabet.

Pada saat mesanggrah di Prambanan, Nyi Ageng Serang juga mengamati perkembangan yang terjadi di Kraton Yogyakarta. Pada waktu di tempat itulah beliau mengetahui bahwa Sultan Sepuh (Sultan Hamengku Buwono II ) sudah kembali dari pengasingan atas usaha Belanda dan diangkat menjadi Wali Raja di Yogyakarta. Oleh sebab itu Jendral Van de Cock menggunakan Sultan Sepuh sebagai umpan agar Pangeran Diponegoro dan Nyi Ageng Serang berkunjung ke kraton dan mau mengadakan perjanjian damai antara Sultan Sepuh, Pangeran Diponegoro, Nyi Ageng Serang dan Jenderal Van de Cock. Tetapi niat tersebut tidak tercapai.

Perjuangan Nyi Ageng Serang di wilayah Kulon Progo tidak hanya melawan Belanda saja, tetapi yang membuat Nyi Ageng Serang sangat sedih adalah bahwa dia harus melawan antek-antek Belanda yang merupakan bangsanya sendiri. Salah satu antek Belanda yang paling dibenci adalah Ki Simbar Jaya, karena dia adalah antek Belanda yang sangat kejam terhadap bangsanya sendiri. Dia tega merampas harta rakyat, adu domba, menyiksa sampai memperkosa.

Pertempuran demi pertempuran di menangkan oleh Nyi Ageng Serang. Tetapi sekali lagi,yang membuat sangat sedih adalah membunuh bangsanya sendiri, sedangkan pasukan Belanda berada di belakang mereka.

Ki Simbar Jaya berhasil ditaklukkannya dengan senjata Cundrik dan Selendang yang selalu menyertai Nyi Ageng Serang. Karena kesaktiannya oleh masyarakat Serang, Nyi Ageng Serang dijuluki juga Djayeng Sekar. Antek-antek Belanda lain yang berhasil di bunuhnya adalah Kyai Aras Langu dan Kyai Penther.

Pada akhir tahun 1827, Nyi Ageng Serang sudah berusia lanjut. Atas permintaan kraton serta bujuk rayu abdi terdekatnya akhirnya Nyi Ageng Serang bersedia untuk kembali ke kota. Beliau lalu bertempat di Notoprajan. Tidak banyak kegiatan yang dilakukan Nyi Ageng Serang disana. Nyi Ageng Serang bertemu dengan Pangeran Papak cucunya. Pangeran Papak bercerita dan meminta maaf karena dirinya sampai tertangkap oleh musuh. Pangeran Papak menceritakan semua pengalamannya ketika di tawan di Magelang, Salatiga, Ungaran dan Semarang. Setelah itu Nyai Ageng bersama Pangeran Papak maju kembali ke medan Pertempuran di wilayah Adikarto.

Dua tahun sebelum Perang Diponegoro berakhir Nyi Ageng Serang wafat karena jatuh sakit, kemungkinan serangan wabah penyakit malaria sebagaimana penyakit yang banyak merenggut nyawa para prajuritnya, juga para prajurit opas Belanda di sepanjang pegunungan Menoreh. 

Selanjutnya, perjuangan Nyi Ageng Serang dipimpin oleh cucunya yang bernama Raden Mas Papak yang bergabung dengan laskar Menoreh yang dipimpin oleh Raden Mas Singlon, salah satu putra Pangeran Diponegoro yang bergelar Pangeran Menoreh.

Beliau dimakamkan di bukit Tajumas dusun Beku, desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, Kulon Progo (sekarang ).

Makam ini dipugar pada tahun 1983 dengan bangunan berbentuk joglo dan telah dimakamkan disini Nyi Ageng Serang beserta abdi dalemnya. Garwo ibu dan wayah dalem yang telah dimakamkan didesa Nglorong, kabupaten Sragen pada waktu pemugaran makam dipindahkan ke makam ini. 

Makam ini terletak di atas bukit di desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, kurang lebih 6 kilometer dari jalan Dekso Muntilan. Jarak dari Yogyakarta kurang lebih 32 kilometer, dari kota Wates kurang lebih 30 kilometer.


Petilasan Nyi Ageng Serang

Sendang Suruh Giri Tengah Magelang

Pada masa perang, Pangeran Diponegoro bergerilya dan singgah di Kalitengah selama 7 bulan di rumah Nyi Ageng Serang. Pangeran Diponegoro adalah seorang yang taat beragama. Saat beliau mencari sumber air untuk bersuci, akhirnya menemukan Sendang Suruh dan beliau beribadah disitu. Dahulu ada sebuah surau didekat sendang tersebut. 

Hingga saat ini sendang tersebut masih ada, airnya tak pernah habis meskipun musim kemarau. Di dekat sendang terdapat peninggalan berupa batu yang konon ada cap kakinya. Kini batu tersebut sudah dibalik dan dikelilingi oleh tembok setinggi 1 meter. Di sekeliling sendang terdapat hutan kecil bernama Hutan Suruh. Banyak tumbuh pepohonan rindang, serta beberapa pohon yang sudah sangat tua berumur ratusan tahun seperti pohon Kecik, Wadang, dan Bendo, terletak di sebelah sendang.

Pos Mati merupakan nama sebuah puncak bukit yang terletak di sisi barat laut Desa Giritengah, berbatasan dengan Desa Ngadiharjo. Menurut sejarah, pada jaman perang digunakan oleh Pangeran Dipinegoro sebagai tempat pengintaian musuh serta tempat penyimpanan benda-benda pusaka seperti pedang, keris, tombak, dll. Di atas puncaknya terdapat 2 pohon pinus yang hidup sampai sekarang. Dari tempat ini kita bisa melihat sunrise di atas Candi Borobudur dan Gunung Merbabu. 

Bukit Limasan

Bukit Limasan merupakan bagian dari perbukitan Menoreh yang menonjol keluar. Bukit ini juga erat kaitannya dengan sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro. Di salah satu bagian bukit Limasan terdapat sebuah batu yang dipercaya sebagai batu keramat. Batu tersebut bentuknya menyerupai babi/celeng sehingga disebut Watu Celeng.

Bale Kambang/Bale Gedhe

Bale Kambang adalah sebuah bangunan kecil yang dulu digunakan sebagai pos istirahat oleh Nyi Ageng Serang pada zaman Perang Diponegoro. Dulunya bangunan ini berupa pondok bambu, kemudian dibuat permanen pada masa kepemimpinan Bapak Lurah Sochib. Bale Kambang sampai saat ini masih dianggap keramat oleh masyarakat sekitar.

Wasiat Nyi Ageng Serang :

" Untuk keamanan dan kesentausaan jiwa, 
kita harus mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, 
Orang yang mendekatkan diri kepada Tuhan, 
Tidak akan terperosok hidupnya, 
Dan tidak akan takut menghadapi cobaan hidup, 
Karena Tuhan akan selalu menuntun 
Dan melimpahkan anugrahNya 
yang tiada ternilai harganya"

Rumongso melu handerbeni (merasa ikut memiliki), 
Wajib melu hangrungkebi (wajib ikut mempertahankan), dan 
Mulat Sario hangroso wani (mawas diri dan berani bertanggung jawab). 
Wasiat tersebut disampaikan Nyi Ageng Serang pada saat beliau mendengarkan keluhan keprihatinan para pengikutnya dan rakyat, akibat perlakuan kejam kaum penjajah, yakni Belanda. 

Nyi Ageng Serang memang telah lama wafat, namun semangatnya masih dapat terlihat pada bagaimana semangat serta prestasi para pewaris semangat cita-cita perjuangan Nyi Ageng Serang di Kota Wates, Kulon Progo. 

Warga Kulon Progo mengabadikan monumen beliau di proliman jalan raya Wates-Jogja berupa patung beliau yang sedang menaiki kuda dengan gagah berani serta memegang tombak ber bendera. ‎

 

Sejarah Purwokerto


Luas wilayah Kota Purwokerto adalah 3.585,34 ha, terdiri dari tanah sawah kering, perkebunan negara/ swasta/ perorangan dan lain-lain termasuk sungai, jalan dan kuburan. 
Wilayah kota Purwokerto saat ini terdiri atas 28 kelurahan yang terbagi dalam 4 wilayah kecamatan. Kecamatan Purwokerto Utara terdiri atas 7 kelurahan, kecamatan Purwokerto Selatan ada 7 kelurahan, kecamatan Purwokerto Barat ada 7 kelurahan juga dan kecamatan Purwokerto Timar juga ada 7 kelurahan. 
Sedangkan batas wilayah kota Purwokerto yaitu; sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Karang Lewas, sebelah utara dengan Kecamatan Sumbang dan Kecamatan Baturraden, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Sumbang dan Kecamatan Sokaraja dan sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Patikraja dan Kecamatan Sokaraja.      

Wilayah kota Purwokerto terletak di bagian selatan Propinsi Jawa Tengah, terdiri atas 4 kecamatan dan 28 kelurahan berpenduduk sekitar 208.160 jiwa. Adanya jalur regional yang menghubungkan kota-kota di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur yang melalui Kota Purwokerto yang menyebabkan kota ini menjadi pusat simpul jalur transportasi dan distribusi. Sedangkan menurut sistem perkotaan di Jawa Tengah, peranan dan fungsi kota Purwokerto adalah sebagai pusat utama wilayah pembangunan poros Cilacap. 

Berdasarkan letak geografis, wilayah kota Purwokerto dibagi dalam tiga kawasan, yaitu :
Lingkungan rural (daerah pedesaan atau pinggiran) yang meliputi sebagian Kecamatan Purwokerto Utara dan Purwokerto Selatan.
Lingkungan urban (perkotaan) yaitu sebagian Purwokerto Utara dan Purwokerto Timur.
Lingkungan transisi, yaitu kecamatan Purwokerto Barat.

Fasilitas perekonomian yang ada meliputi perusahaan, bengkel, pasar, hotel supermarket/ pertokoan dan home industri. Di bidang pendidikan, sosial dan budaya terdapat sarana pendidikan mulai dari TK sampai perguruan Tinggi dan beberapa lembaga pendidikan lain. Pemeliharaan keamanan dan ketertiban di wilayah Purwokerto menggunakan sistem keamanan lingkungan secara terpadu. 

Secara umum Purwokerto sesuai dengan fungsinya terdapat 4 jenis lingkungan kota, yaitu  :
Lingkungan perdagangan dan perkantoran, berlokasi di daerah pusat kota, sepanjang jalan regional dan berkembang lancar sepanjang beberapa jalan arteri.
Pada bagian tengah kota, penggunaan lahannya untuk perumahan, berkembang konsentris terhadap pusat kota.
Fasilitas pendidikan dasar dan menengah menyebar di beberapa bagian kota dan masih berlokasi di sekitar wilayah pusat kota.
fasilitas sosial yang paling menonjol adalah fasilitas kesehatan berlokasi di beberapa pusat kota, ada yang di wilayah bagian barat, timur dan utara.
Kota Purwokerto dalam menyelenggarakan pemerintahan, menggerakan pembangunan dan dalam membina masyarakat selalu bertolak dari kondisi, potensi dan kemungkinan pengembangannya di masa yang akan datang. Adapun potensi yang dimiliki Kota Purwokerto dapat dikelompokkan dalam 2 aspek yaitu sumber daya manusia dan sumber daya alam. Sumber daya manusia merupakan motor penggerak lajunya pembangunan, sehingga selalu diupayakan pembinaanya, baik dalam segi kualitas maupun kuantitas. Potensi sumber daya alam secara geografis di samping memiliki letak strategis sebagai kota sentral terhadap kota-kota lain dalam wilayah kabupaten Banyumas, dilaluinya jalur regional yang menghubungkan kota-kota di Jawa Tengah    juga memiliki peran sebagai jasa koleksi dan distribusi hasil-hasil pertanian dan industri kecil.

Dengan Surat Keputusan Bupati Kepala daerah Tingkat II nomor 130/1207/1988, pada waktu itu Bupati Djoko Sudantoko, telah ditetapkan motto Kota Purwokerto/ Kabupaten Banyumas. Motto diperlukan sebagai motivasi memacu jalannya pembangunan. Karena itu, dipilih motto kota ‘SATRIA’ yang dirasa tepat untuk Kabupaten Banyumas yang beribu kota di Purwokerto. Satria di sini mengandung dua pengertian. Pertama, Satria adalah singkatan atau akronim dari Sejahtera, Adil, Tertib, Rapi, Indah dan Aman. Motto yang terkandung dalam ungkapan Satria ini sejalan dengan usaha-usaha pembangunan yang sedang dan terus dilaksanakan pemerintah daerah. Peran Satria sebagai motto, etos kerja bagi aparat dan masyarakat juga sebagai sasaran atau arah pembangunan. Kedua, Satria mempunyai pengertian sifat masyarakat Banyumas yang “cablaka”. Artinya Jujur, terbuka (terus terang), tulus ikhlas, mempunyai loyalitas, dedikasi yang tinggi dan berani sebagai watak seorang ksatria. Sosok Bawor sebagai tokoh wayang khas Banyumas menjadi trade mark.
Dari segi historis, Banyumas memang banyak melahirkan satria, baik dari zaman perjuangan maupun zaman pembangunan dewasa ini. ‎Di barisan militer , Banyumas memang gudangnya, seperti Panglima Besar Jenderal Sudirman, Jendral gatot Subroto, dan Letjen Suprapto. Di bidang kesehatan, tercatat Prof. Dr. Margono Sukaryo sebagai ahli bedah pertama di Indonesia. Kini nama nya diabadikan sebagai nama rumah sakit umum Purwokerto. Di bidang koperasi, perintisnya adalah R A. Wiria Atmaja, patih Banyumas  saat itu. K.H. Abu Dardiri perintis berdirinya Departemen agama. Dunia Perbangkan yang kini tumbuh menjamur, ternyata perintis pertamanya juga putra Banyumas yaitu Margono Joyohadikusumo (ayah Prof. Sumitro Djojohadikusumo).  
Arah yang ingin dicapai dari slogan atau motto Purwokerto kota Satria adalah :
1.   Sejahtera               :   Kondisi masyarakat yang sejahtera lahir dan batin.
2.   Adil                       :   Kesejahteraan yang merata dalam arti seluruh wilayahnya.
3.   Tertib                     :   Situasi masyarakat yang serba tertib dalam kehidupannya.
4.   Rapi                       :   Keadaan tertata sebagai dampak lanjut dari ketertiban.
5.   Indah                     :   Dalam arti enak dilihat dan nyaman
6.   Aman                    :   Suasana tentram dan tenang sehingga pembangunan lancar.

Pertumbuhan ekonomi nasional dewasa ini telah berlangsung cukup significan dan dampaknya berpengaruh langsung terhadap perkembangan daerah perkotaan, yang biasanya diiringi pula dengan laju pertumbuhan penduduk yang lebih cepat dari lajunya secara alamiah. Didukung oleh pesatnya industrialisasi dan perdagangan, maka daerah perkotaan, dalam hal ini Purwokerto mempunyai peranan yang semakin besar dalam kegiatan ekonomi nasional. Dengan demikian cita-cita Kota Satria akan segera terwujud yaitu masyarakat Banyumas atau Purwokerto yang didam-idamkan yaitu masyarakat yang Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Tentrem Kerta Raharja.
‎‎
Purwokerto adalah kota kecil yang cukup berkembang dan berkualitas. Banyak tokoh yang jadi pahlawan serta jadi pengharum nama Bangsa yang lahir dari kota ini. 
Pada awalnya Purwokerto adalah sebuah hutan dan mulai ada perkampungan sejak pertengahan abad 18M. Purwokerto awalnya didirikan di sebelah utara pasar Wage. Makam Kyai Purwo sebagai bukti sejarah awal berdirinya Purwokerto.

Asal usul kota Purwokerto 

Ketika terjadi pemberontakan Cina yang sering disebut geger Pacinan pada tahun 1742M, banyak pembesar Kraton Kartasura lari meninggalkan kraton. Sebagian lari ke arah timur. Konon Sunan Pakubuwono termasuk yang lari ke arah timur. 

Sesampai di sebuah desa beliau beristirahat di bawah pohon mangga sambil makan buah mangga, Ketika beristirahat Sang Sunan bersabda kepada para pengikutnya : Saksikanlah, suatu ketika tempat ini diberi nama Pelem Wulung. Pelem artinya mangga dan Wulung adalah jenis suatu mangga. Sampai kini desa itu bernama Premulung yang asalnya Pelemwulung.

Sebagian lagi lari ke arah barat, mencari keselamatan masing-masing. Untuk mencari tempat yang aman, para pengungsi sebagian lari terus ke arah barat. Sekitar dua puluh lima orang telah sampai di daerah Kadipaten Banyumas. Dan terus menuju utara ke arah Gunung Slamet. Dan sampai lah rombongan yang di pimpin oleh Kyai Kartisara sampai di sebuah tempat yang cukup datar.

Keadaannya waktu itu masih hutan rimba. Merasa sudah sampai daerah yang dianggap aman mereka mulai membabat hutan. Tempat itu dijadikan pekarangan dan ladang serta perkebunan. Rumah-rumah pun dibuat secara gotong royong untuk tempat tinggal mereka. 

Daerah yang tadinya hutan, banyak dihuni binatang liar dan mahluk-mahluk halus serta menyeramkan, kini menjadi suatu desa yang aman dan makmur. disamping pertanian, sebagian juga ada yang memiliki keahlian lain dagang, pertukangan dan ada yang pandai dalam ilmu kekebalan ataupun ilmu gaib

Di antara mereka yang dianggap mempunyai ngelmu bernama Kyai Kartisara. Kyai Kartisara sangat disegani dan dihormati orang-orang di tempat itu. Karena itu dia dianggap sebagai "sesepuh"nya. Lama-kelamaan daerah pinggiran gunung Slamet bagian selatan yang tadinya hutan itu menjadi suatu desa yang aman. Namun desa itu belum mempunyai nama. 

Karena itu Kyai Kartisara mengusulkan agar desa itu diberi nama Purwakerta. Purwa artinya awal mula; Kerta artinya aman atau damai. Jadi Purwakerta artinya awal mula yang damai. 
Nama itu disepakati oleh semua penduduknya. Dan Kyai Kartisara pun di panggil dengan sebutan Kyai Purwo (Mbah Purwo)  
Rumah-rumah bertambah, hutan-hutan pun banyak berubah, banyak ladang dan sawah. Banyak orang-orang dari kampung lain yang singgah, ada juga yang pindah. Sehingga desa itu semakin ramai dan indah. 

Kyai Kartisara mempunyai seorang putera bernama Kendang Gumulung. Kendang Gumulung juga menuruni bakat ayahnya. Sehingga, setelah Kyai Kartisara meninggal dia menggantikan kedudukan sang ayah. Kemudian Kendang Gumulung yang memiliki ilmu kesaktian seperti ayahnya berpindah tempat. Di tempat ini pun banyak orang yang berguru padanya. Orang-orang yang mau belajar atau berguru ke tempat tinggal Kendang Gumulung menyebutnya kepeguron. Peguron artinya tempat berguru. 

Dari kata Peguron lama kelamaan menjadi Peguwon. Di kemudian hari tempat ini disebut orang desa Peguwon. Setelah meninggal Kendang Gemulung dimakamkan di desa peguwon. Hingga kini orang menyebutnya makam kyai Kendang Gemulung.
Demikianlah riwayat  asal mula kota purwokerto. Orang Banyumas sendiri menyebut purwokerto dalam dialek Banyumas Purwakerta atau puraketa. ‎

Kepeloporan Kyai Patih Wirjaatmadja

Selama ini kita hanya mengenal BRI sebagai lembaga perkeriditan rakyat yang ada Di negri ini dan sedikit yang tau siapa sebenarnya pencetus Perkeriditan tersebut. Akan saya tulis sejarah sang Maestro Perkeriditan yang dari Purwokerto tersebut.
Suatu hari, dalam tahun 1894, seorang guru  penduduk Banyumas mengadakan pesta tayuban secara besar-besaran dalam rangka menghitankan anaknya.

Seorang patih banyumas, Raden Bei Aria Wirjaatmadja (selanjutnya disebut patih Wiraatmadja) yang menghadiri hajatan tersebut merasa heran, mengapa seorang guru bisa mengadakan pesta begitu besar dan meriah. Menurutnya tidak mungkin gaji guru (saat itu) cukup untuk membiayai pesta tersebut.

Setelah pesta khitanan selesai Patih Wiraatmadja mendekati guru itu dan secara halus menanyakan sumber biaya pestanya.

Ternyata guru tersebut berhutang kepada seorang Tionghoa untuk membiayai pestanya dengan bunga yang sangat tinggi. Bahkan, kemudian diketahui bahwa beban bunga pelunasan hutang tersebut benar-benar di luar kemampuan guru itu. Patih Wirjaatmadja lantas menawaarkan bantuannya. 

Dia menawarkan untuk memberikan pinjaman dengan bunga rendah guna melunasi hutang guru tersebut. Jangka waktu pelunasannya pun cukup panjang, yakni 20 bulan, sehingga cicilan bulanannya sangat ringan dan terjangkau oleh kemampuan sang guru. Dengan senang hati guru  itu menyutujui tawaran Patih Wirjaatmadja. Patih Wirjaatmadja pun menggunakan uang pribadinya untuk melunasi hutang guru tersebut, sehingga hutangnya beralih kepada sang Patih. Dengan uluran tangan ini, sang guru terbebas dari jeratan pelepas utang.
  
Patih Wirjaatmaadja menduga tidak hanya guru tersebut yang terjerat hutang kepada pelepas uang dan ia tidak ingin hanya menolong guru itu saja. Setelah melakukan penelitian secara seksama, terlihat kenyataan yang memprihatinkan. Banyak di antara pejabat pangreh praja atau pegawai negeri bamgsa Indonesia yang terlibat hutang dengan bunga tinggi dan menghadapi kesulitan dalam pengangsurannya. 

Karena dikenal sebagai pegawai dan ahli keuangan yang baik, maka Patih Wirjaatmadja mendapat kepercayaan untuk mengelola uang kas masjid yang jumlahnya pada bulan April 1894 mencapai F,4000.,-(empat ribu gulden/nilai uang Belanda).
Dengan seizin atasannya, E.Sieburg,Patih Wirjaatmadja memperluas penggunaan kas masjid itu untuk pinjaman kepada para pegawai negeri, para petani, dan tukang yang terjerat hutang.

Untuk menampung angsuran dari para peminjam uang kas masjid itu, Patih Wirjaatmadja membentuk lembaga semacam bank yang diberi nama " DE POERWOKERTOSCHE HULPEN SPAARBANK DER INLANDSCHE HOOFDEN " (Bank Bantuan dan Simpanan Milik Pribumi Purwokerto). Dengan demikian uluran tangan Patih Wirjaatmadja berupa pemberian pinjaman pribadi dan kas masjid dengan angsuran ringan tersebut mulai menampakkan bentuknya sebagai kegiatan perbankan dan menjadi awal kegiatan "Bank Perkreditan Rakyat" di Indonesia.

Atasan E.Siburgh belakangan mengetahui penggunaan uang kas masjid tersebut. Dengan alasan uang kas masjid hanya boleh digunakan untuk kepentingan masjid, turunlah surat perintah bertanggal 21 April 1894 agar uang kas masjid tersebut segera dikembalikan. Sieburgh yang mengetahui maksud baik dan kejujuran. Patih Wirjaatmadja, segera turun tangan. Dia menyebarkan surat edaran untuk mengumpulkan "dana penolong" dan dalam waktu yang tidak begitu lama terkumpullah dana lebih dari F.400,-.
  
Selain untuk mengembalikan uang kas masjid, dana yang terkumpul dari masyarakat Purwokerto (termasuk orang-orang Eropa) tersebut, juga dimanfaatkan untuk meneruskan "kegiatan bank" yang telah dirintis oleh Patih Wirjaatmadja. Dengan modal dana ini, ditambah uang hasil angsuran para peminjam uang kas masjid, maka pada tanggal 16 Desember 1895, didirikanlah secara resmi bank perkreditan rakyat pertma di Indonesia dengan nama " HULP EN SPAARBANK DER INLANDSCHE BESTUURS AMBTENAREN " (Bank Bantuan dan Simpinan Milik Pegawai Pangreh Praja Berkebangsaan Pribumi). Bank tersebut kemudian kemudian manjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan tanggal 16 Desember 1895 dijadikan sebagai hari kelahiran BRI. Atas jasa-jasanya tersebut di atas, maka patih Wirjaatmadja dikenal sebagai "Bapak Perkreditan Rakyat".
Patih Wirjaatdja pensiun setelah selama lebih dari 40 tahun menyumbangkan tenaga dan pikiran kepada pemerintah secara patuh dan jujur. Pada usia enam puluh tahun dianugrahi sebutan "Rangga" dan kemudian "aria". Sedangkan di kalangan masyarakat luas ia dikenal dengan sebutan "Kyai Patih".
  
Dalam perkembangan selanjutnya, berkat jasa-jasa Patih Wirjaatdadja di bidang perkoperasian, pada tanggal 12-08-1989 ia mendapat penghargaan "HATTA NUGRAHA" dari DEKOPIN besama-sama dengan tokoh koperasi lainnya yaitu Margono Djojokoesoemo almarhum. Yang mendirikan BNI yang sama sama Putra Banyumas. ‎

 

Doa Nabi Sulaiman Menundukkan Hewan dan Jin

  Nabiyullah Sulaiman  'alaihissalam  (AS) merupakan Nabi dan Rasul pilihan Allah Ta'ala yang dikaruniai kerajaan yang tidak dimilik...