Senin, 23 November 2020

Kisah Sayidina Sa'ad bin Mu'adz RA Sahabat Rusululloh SAW


Sahabat-sahabat Rasulullah adalah manusia-manusia terbaik setelah para nabi. Mereka memberikan teladan dalam mengimani, mengamalkan, dan mendakwahkan Islam. Abdullah bin Mas’ud pernah menuturkan perihal sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ucapan beliau yang terkenal,

إِنَّ اللهَ نَظَرَ فِي قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ، فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوْبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ، فَوَجَدَ قُلُوْبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُوْنَ عَلَى دِيْنِهِ، فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ، وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ

Sesungguhnya Allah memperhatikan hati para hamba-Nya. Allah mendapati hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamadalah hati yang paling baik, sehingga Allah memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya sebagai pembawa risalah-Nya. Kemudian Allah melihat hati para hamba-Nya setelah hati Muhammad. Allah mendapati hati para sahabat beliau adalah hati yang paling baik. Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka sebagai para pendukung Nabi-Nya yang berperang demi membela agama-Nya. Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin (para sahabat), pasti baik di sisi Allah. Apa yang dipandang buruk oleh mereka, pasti buruk di sisi Allah.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad).

Salah satu sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang patut kita teladani dan kita ceritakan kisah hidupnya ke anak-anak kita adalah kisah sahabat Saad bin Muadz radhillahu ‘anhu. Dialah seorang yang Rasulullah bersabda ketika memakamkan jenazahnya, ““Sungguh, ‘Arasy Ar-Rahman bergetar dengan berpulangnya Saad bin Muadz.”

Berikut ini kisah singkat tentang Saad bin Muadz

Nasab Saad bin Muadz

Di antara tradisi Arab adalah sangat perhatian dengan nasab mereka, karena itu tidak lengkap rasanya menceritakan salah seorang tokoh-tokoh Arab tanpa mengenalkan nasab mereka.

Nasab Saad bin Muadz adalah Saad bin Muadz bin Salman bin Imril Qois al-Anshari al-Asyhali dan ibunya adalah Kabsyah bin Rafi’ bin Ubaidah bin Tsa’labah. Adapun kun-yahnya adalah Abu Amr. Dari keterangan di atas, jelaslah bagi kita bahwa Saad bin Muadz merupakan salah seorang sahabat anshar, yang berasal dari Madinah.

Saad adalah seorang pemuda yang berpostur tinggi-besar dan tampan, bahkan termasuk salah seorang sahabat yang paling tinggi dan besar badannya. Kulitnya putih dan janggutnya rapi.

Memeluk Islam

Saad merupakan tokoh dari Bani Asyhal dan ia memiliki pengaruh yang sangat besar untuk kaumnya. Ia memeluk Islam 1 tahun sebelum kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Kota Yatsrib, Madinah an-Nabawiyah. Saat itu, Saad berusia 31 tahun.

Cerita keislaman Saad bermula ketika serombongan orang-orang Madinah datang menuju Mekah di musim haji, mereka menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat itulah Rasulullah membacakan Alquran kepada penduduk Yatsrib dan memberitahukan bahwa beliau adalah utusan Allah. Mendengar penjelasan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka pun teringat dengan kabar yang disebutkan oleh orang-orang ahli kitab bahwasanya akan diutus seorang rasul di tanah Arab dengan ciri demikian dan demikian, rasul tersebut adalah penutup para nabi dan rasul. Pendatang Yatsrib ini pun beriman dan membenarkan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setibanya di kampung mereka, di Yatsrib, Madinah al-Munawwarah, para sahabat nabi ini mendakwahkan Islam kepada penduduk kampung mereka secara sembunyi-sembunyi. Dakwah mereka pun kian diterima oleh penduduk. Dengan pertambahan penduduk yang memeluk Islam, mereka meminta kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengirim seorang sahabat senior, mendakwahkan Islam di kota mereka. Rasulullah menanggapi permintaan sahabatnya tersebut dengan mengirim Mush’ab bin Umair radhiallahu ‘anhu untuk mendakwahi penduduk Kota Yatsrib. Dengan diutusnya Mush’ab bin Umair radhiallahu ‘anhu inilah cerita keislaman Saad bin Muadz dimulai.

Datang ke Madinah, Mush’ab menetap di Bani Ghanam di rumah As’ad bin Zurarah. Beliau radhiallahu ‘anhu memulai mentarbiyah penduduk dengan ajaran Islam, membacakan mereka Alquran, dan menyeru kepada tauhid. Kedatangan Mush’ab ini akhirnya terdengar oleh seorang tokoh Yatsrib, Saad bin Muadz.

Saad bin Muadz berkata kepada Usaid bin Hudhair temuilah dua orang laki-laki itu (As’ad bin Zurarah dan Mush’ab bin Umair), mereka datang ke pemukiman kita untuk membodohi orang-orang lemah dari kalangan kita, larang dan ancam mereka, aku tidak mau melakukannya karena As’ad bin Zurarah adalah anak bibiku (sepupuku), seandainya bukan karena hal itu, maka aku (sendiri yang akan melakukannya dan) tidak menyuruh.

Segera Usaid bin Hudhair mengambil tombaknya dan pergi menemui Mush’ab dan As’ad yang saat itu sedang duduk di kebun. Ketika As’ad bin Zararah radhiallahu ‘anhu melihat (kedatangan) Usaid bin Hudair maka ia berkata kepada Mush’ab bin Umair, “Itu (Usaid bin Umair) adalah pemimpin kaumnya, berkata benarlah tentang Allah kepadanya.”

Mush’ab bin Umair menjawab, “Jika ia mau duduk mendengarkan, aku akan bicara kepadanya”.

Maka datanglah Usaid bin Hudair dan berdiri di hadapan keduanya dan mecaci-maki keduanya, kemudian berkata, “Apa tujuan kalian datang kepada kami untuk membodohi orang-orang lemah dari kami?!, jika kalian mempunyai suatu kepentingan, sekarang pergilah kalian dari kami”.

Amarah Usaid itu diladeni dengan tenang oleh Mush’ab, “Maukah engkau duduk dan mendengarkanku, jika engkau menerima apa yang aku katakan maka tentunya engkau bisa menerimanya, dan jika engkau membencinya maka hentikanlah”.

Usaid menjawab, “Engkau benar”. Usaid pun menancapkan tombaknya dan duduk bersama keduanya, maka Mush’ab radhiallahu ‘anhu berbicara kepadanya tentang Islam dan ia membacakan kepadanya Alquran. Usaid pun sangat berkesan dengan pembawaan Mush’ab bin Umair, ia mengatakan, “Demi Allah, sungguh kami telah mengetahui kemuliaan Islam sebelum ia berbicara tentang Islam dalam kemuliaan dan kemudahannya”. Kemudian ia berkata lagi, “Sungguh tidak ada yang lebih bagus dari perkataan ini (Alquran), apa yang harus aku lakukan jika aku ingin masuk agama ini?” tanyanya. maka mereka menjelaskan kepadanya: “Engkau harus mandi mensucikan diri, mensucikan pakaianmu, kemudian bersyahadat dengan benar dan melaksanakan shalat.” Usaid pun mandi, menyucikan pakaiannya, bersyahadat, kemudian shalat dua rakaat.

Setelah menunaikan hal itu Usaid mengatakan suatu perkataan yang menjelaskan bagaimana kedudukan seorang Saad bin Muadz. Usaid berkata, “Sesungguhnya ada seseorang di belakangku, jika dia mengikuti kalian berdua, niscaya tidak ada seorang pun dari kaumnya kecuali akan ikut memeluk Islam. Aku akan bawa kalian kepadanya.”

Berangkatlah Usaid bersama As’ad dan Mush’ab radhiallahu ‘anhum menuju Saad bin Muadz yang tengah berkumpul bersama kaumnya. Melihat kedatangan Usaid, Saad berkata kepada orang di sekelilingnya, “Aku bersumpah atas nama Allah, dia datang dengan wajah yang berbeda saat dia berangkat meninggalkan kita.” Setelah Saad menanyakan hasil pertemuannya dengan As’ad dan Mush’ab, Mush’ab pun memulai pembicaraan dengan Saad.

Mush’ab berkata, “Bagaimana kiranya kalau Anda duduk dan mendengar (apa yang hendak aku sampaikan)? Jika engkau ridha dengan apa yang aku ucapkan, maka terimalah. Seandainya engkau membencinya, maka aku akan pergi”. Saad menjawab, “Ya, yang demikian itu lebih bijak”. Mush’ab pun menjelaskan kepada Saad apa itu Islam, lalu membacakannya Alquran.

Saad memiliki kesan yang sama dengan Usaid ketika menggambarkan perawakan Mush’ab bin Umair radhiallahu ‘anhu. Kata Saad, “Demi Allah, dari wajahnya, sungguh kami telah mengetahui kemuliaan Islam sebelum ia berbicara tentang Islam, tentang kemuliaan dan kemudahannya”. Kemudian Saad berkata, “Apa yang harus kami perbuat jika kami hendak memeluk Islam?” “Mandilah, bersihkan pakaianmu, ucapkan dua kalimat syahadat, kemudian shalatlah dua rakaat”. Jawab Mush’ab. Saad pun melakukan apa yang diperintahkan Mush’ab.

Setelah itu, Saad berdiri dan berkata kepada kaumnya, “Wahai Bani Abdu Asyhal, apa yang kalian ketahui tentang kedudukan di sisi kalian?” Mereka menjawab, “Engkau adalah pemuka kami, orang yang paling bagus pandangannya, dan paling lurus tabiatnya”.

Lalu Saad mengucapkan kalimat yang luar biasa, yang menunjukkan begitu besarnya wibawanya di sisi kaumnya dan begitu kuatnya pengaruhnya bagi mereka, Saad berkata, “Haram bagi laki-laki dan perempuan di antara kalian berbicara kepadaku sampai ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!”

Tidak sampai sore hari seluruh kaumnya pun beriman kecuali Ushairim, ia beriman saat tiba Perang Uhud, belum pernah sujud namun ia syahid di jalan Allah dalam perang tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Ushairim, “Dia beramal sedikit, namun mendapat ganjaran yang sangat banyak”.

Kedudukan Saad bin Muadz

– Kesetiaan Saad Kepada Rasulullah

Dari Muhammad bin Amr dan al-Laits dari kakeknya berkata, “Rasulullah berangkat menuju Badar sampai tiba di suatu tempat Rasulullah berkhutbah di hadapan sahabatnya, lalu bertanya, ‘Bagaimana pendapat kalian?’ Abu Bakar menjawab, ‘Wahai Rasulullah, telah sampai berita kepadaku bahwa mereka (Quraisy) demikian dan demikian’. Kemudian Rasulullah kembali berkhutbah, lalu bertanya lagi, ‘Bagaimana pendapat kalian?’ Umar menjawab sebagaimana jawaban Abu Bakar. Kemudian beliau berkhutbah dan kembali bertanya, ‘Bagaimana pendapat kalian?’ Saad bin Muadz menjawab, ‘Wahai Rasulullah, jawaban kamikah (Anshar) yang Anda inginkan? Demi Dzat yang telah memuliakan Anda dan menurunkan kitab kepada Anda, jika Anda menempuh suatu tempat yang kami belum mengetahuinya hingga Anda menuju Barku al-Ghumad di arah Yaman, pasti kami akan menempuhnya bersamamu. Kami tidak akan menjadi sebagian dari orang-orang Bani Israil yang berkata kepada Musa,

فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ

“Pergilah engkau bersama Rabmu, berperanglah, sesungguhnya kami di sini duduk-duduk saja.” (QS. Al-Maidah: 24)

Kami akan mengatakan pergilah Anda bersama Rab Anda, dan berperanglah, sesungguhnya kami mengikuti.

– Saad Dijamin Masuk Surga

Saad bin Muadz adalah di antara sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau kabarkan menjadi penghuni surga. Hal itu tersirat dalam sabda beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau diberi sebuah jubah dari sutra yang halus, beliau menolaknya dengan berkata,

والذي نفس محمد بيده، لمناديل سعد بن معاذ في الجنة أحسن من هذا

“Demi Dzat Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh sapu tangan Saad bin Muadz di surga, lebih baik dari ini.”

Wafatnya

Dalam peristiwa Perang Khandaq atau Perang Ahzab, Kota Madinah dikepung oleh sekutu-sekutu kafir Quraisy. Saad bin Muadz pun turut serta dalam perang yang sangat sulit ini. Dalam perang itu, urat nadi Saad disambar oleh sebuah anak panah, darah pun deras mengalir dari tangannya. Ia dirawat secara darurat untuk menghentikan keluamya darah. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar Saad dibawa ke masjid, dan didirikan kemah untuknya agar ia berada di dekat beliau selama perawatan.

Dalam keadaan demikian Saad berdoa kepada Allah, “Ya Allah, jika dari peperangan dengan Quuaisy ini masih Engkau sisakan, maka panjangkanlah umurku untuk menghadapinya, karena tak ada golongan yang kuinginkan untuk dihadapi lebih daripada kaum yang telah menganiaya Rasul-Mu,  mendustakannya, dan mengusirnya. Dan seandainya Engkau telah mengakhiri perang antara kami dengan mereka, jadikanlah kiranya musibah yang telah menimpaku ini sebagai jalan untuk menemui syahid”.

Kian hari luka yang diderita Saad pun semakin parah. Di saat-saat terakhir kehidupan Saad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjunginya, lalu beliau meletakkan kepala Saad di pangkuan beliau sambil bersabda, “Ya Allah, Saad telah berjihad di jalan-Mu, membenarkan Rasul-Mu, dan telah memenuhi kewajibannya. Maka terimalah ruhnya dengan sebaik-baiknya cara Engkau menerima ruh”.

Doa yang dipanjatkan Nabi pun mendatangkan kesejukan kepada ruh Saad yang hendak pergi. Saat itu Saad mencoba dengan susah payah mengangkat kelopak matanya dan mengarahkan pandangannya ke wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat ia cintai, kiranya inilah perjumpaan terakhirnya dengan beliau di dunia ini. Saad mengatakan, “Salam atasmu wahai Rasulullah, ketahuilah bahwa aku beriman bahwa Anda adalah utusan Allah”.

Rasulullah menjawab, “Kebahagiaan atasmu wahai Abu Amr”.

Saad bin Muadz radhiallahu ‘anhu pun menghebuskan nafas terakhirnya, ia wafat di pangkuan manusia yang paling ia cintai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia wafat pada tahun 5 H, ketika itu usia beliau 37 tahun, dan dimakamkan di pemakaman Baqi di Madinah.

Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Aku adalah salah seorang yang menggali makam untuk Saad, dan setiap kami menggali satu lapisan tanah, tercium oleh kami wangi kesturi”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

اهتز عرش الرحمن لموت سعد بن معاذ

“Arsy Allah Ar-Rahman bergetar karena wafatnya Saad bin Muadz.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah Saad bin Muadz, tokoh sahabat Anshar memeluk Islam saat beliau berusia 31 tahun dan wafat saat berusia 37 tahun. Dalam 6 tahun masa keislamannya, wafatnya membuat Arsy Allah Ta’alabergetar. Semoga Allah meridhai Saad bin Muadz.

 

Sejarah Maharaja Asoka


Asoka yang Agung (juga Ashoka, Aśoka, dilafazkan sebagai Asyoka) adalah penguasa Kekaisaran Gupta dari 273 SM sampai 232 SM. Seorang penganut agama Buddha, Asoka menguasai sebagian besar anak benua India, dari apa yang sekarang disebut Afganistan sampai Bangladesh dan di selatan sampai sejauh Mysore.

Nama "Asoka" berarti 'tanpa duka' dalam bahasa Sanskerta (a – tanpa, soka – duka). Asoka adalah pemimpin pertama Bharata (India) Kuno, setelah para pemimpin Mahabharata yang termasyhur, yang menyatukan wilayah yang sangat luas ini di bawah kekaisarannya, yang bahkan melampaui batas-batas wilayah kedaulatan negara India dewasa ini.

Sang penulis Britania H. G. Wells menulis tentang Asoka: "Dalam sejarah dunia, ada ribuan raja dan kaisar yang menyebut diri mereka sendiri ‘Yang Agung’, ‘Yang Mulia’ dan ‘Yang Sangat Mulia’ dan sebagainya. Mereka bersinar selama suatu waktu singkat, dan kemudian cepat menghilang. Tetapi Asoka tetap bersinar dan bersinar cemerlang seperti sebuah bintang cemerlang bahkan sampai hari ini" (Aslinya dalam bahasa Inggris: "In the history of the world there have been thousands of kings and emperors who called themselves 'Their Highnesses', 'Their Majesties' and 'Their Exalted Majesties' and so on. They shone for a brief moment, and as quickly disappeared. But Ashoka shines and shines brightly like a bright star, even unto this day").

MASA MUDA RAJA ASOKA

Sejarah Kerajaan Magadha

Pada zaman dahulu di lembah sungai Gangga terdapatlah sebuah kerajaan yang berpengaruh bernama Magadha. Saat itu penguasa kerajaan Magadha adalah Raja Bimbisara yang bertahta di Rajagaha. Kemudian putra Raja Bimbisara, Pangeran Ajatasattu, karena hasutan dari Bhikkhu Devadatta, seorang murid Buddha Gotama yang jahat, membunuh ayahnya dan merebut tahta kerajaan.

Menjelang wafatnya Sang Buddha pernah berkunjung ke sebuah desa di pertemuan sungai Gangga dan sungai Sona bernama Pataligama. Saat itu perdana menteri kerajaan Magadha, Sunidha dan Vassakara, sedang membangun benteng di sana sebagai pertahanan terhadap suku Vajji. Saat melihat pembangunan benteng tersebut, Sang Buddha berkata kepada Ananda, salah satu murid sekaligus pelayan pribadi-Nya:

“Ananda, selama bangsa Ariya berkembang dan lalu lintas perdagangan menjadi lebih ramai, daerah ini akan menjadi kota yang terkemuka dan pusat perdagangan, Pataliputta. Tetapi Pataliputta, Ananda, dapat terkena tiga jenis bencana, yaitu api, air dan perselisihan.”

Putra Raja Ajatasattu, Udayabhaddaka, membunuh ayahnya dan menjadi raja Magadha. Raja Udayabhaddaka memindahkan ibukota kerajaan ke Pataligama. Putra Raja Udayabhaddaka, Mahamundika, membunuh ayahnya dan kemudian menjadi raja; Pangeran Anuruddha, putra Raja Mahamundika, menjadi raja setelah membunuh ayahnya; Pangeran Nagadasa, putra Raja Anuruddha, menjadi raja setelah membunuh ayahnya.

Para penduduk Magadha menjadi gusar atas pergantian raja mereka yang selalu dinodai dengan pembunuhan orang tua oleh anaknya. Mereka menurunkan Raja Nagadasa dari tahtanya dan mengangkat Sisunaga, seorang menteri yang dianggap layak, menjadi raja mereka. Raja Sisunaga memindahkan istananya ke Girivraja kemudian ke Vesali.

Kemudian Raja Kalasoka menggantikan ayahnya, Raja Sisunaga. Ia memindahkan kembali ibukota kerajaan ke Pataliputta. Pada akhir tahun kesepuluh pemerintahan Raja Kalasoka, seratus tahun telah berlalu sejak Parinibbana Sang Buddha.

Dinasti Sisunaga berakhir ketika Mahapadma Nanda merebut tahta kerajaan Magadha dan mendirikan Dinasti Nanda. Pada periode yang sama Alexander Agung dari Macedonia menguasai kerajaan Persia dan ingin memperluas kekuasaannya ke daerah lembah sungai Indus di India bagian barat laut. Ia menyeberangi sungai Indus dan menyerang Punjab sampai dengan sungai Hyphasis, namun para pasukannya memberontak dan menolak untuk melakukan penyerangan lebih jauh. Ia pun terpaksa kembali ke Persia.

Berdirinya Dinasti Moriya

Seorang pemuda bernama Candagutta (Chandragupta) dari suku Moriya (Maurya) berhasil menghimpun kekuatan dan mengusir garnisun Macedonia dari lembah sungai Indus. Kemudian ia berhasil mengalahkan Dhanananda, raja terakhir dari Dinasti Nanda, dan menguasai kerajaan Magadha dari ibukotanya, Pataliputta. Dengan bantuan Brahmana Canakka (Chanakya atau Kautilya) yang pandai mengatur ketatanegaraan, Candagutta menjadi raja pertama yang berhasil menguasai daerah India bagian utara yang terbentang dari Teluk Benggala sampai dengan Laut Arab. Penerus Alexander, Seleukos I dari Siria, berusaha merebut kembali Punjab dari orang-orang India, namun menderita kekalahan dalam melawan pasukan Raja Candagutta.

Akhirnya, Seleukos I dengan senang hati mengadakan perjanjian damai dengan Raja Candagutta dan memberikan putrinya untuk dinikahi serta memberikan semua daerah di sebelah utara Hindu Kush, termasuk Baluchistan dan Afghanistan, sebagai alat tukar untuk lima ratus gajah perang. Seleukos juga mengirimkan duta besarnya, Magasthenes, ke Pataliputta. Berdasarkan catatan yang dibuat Magasthenes, kerajaan Magadha saat itu memiliki kekuatan armada perang yang sangat besar.
Raja Candagutta digantikan oleh putranya, Pangeran Bindusara. Raja Bindusara memperluas kekuasaannya hingga meliputi seluruh India bagian selatan di mana ia berbagi kekuasaan dengan penguasa Tamil yang bersahabat dengannya.

Kelahiran Asoka

Seorang brahmana dari Campa memiliki seorang putri yang sangat cantik bernama Dhamma atau Subhadrangi. Diramalkan bahwa ia akan menikah dengan seorang raja dan memiliki seorang putra yang akan menjadi penguasa seluruh India. Setelah putrinya dewasa, sang brahmana mempercantik Dhamma dengan berbagai perhiasan dan memberikannya untuk dinikahi oleh Raja Bindusara. Raja menerimanya ke dalam istananya.

Kecantikan Dhamma menimbulkan kecemburuan para permaisuri lainnya. Takut jika raja akan lebih menyukai sang gadis, para permaisuri mengajarkan keterampilan mencukur dan mengirimkannya untuk merawat rambut dan janggut raja. Ia sangat terampil dalam pekerjaannya sehingga raja dapat bersantai dan tertidur pulas selama rambut dan janggutnya dirawat oleh Dhamma.

Sangat puas dengan pekerjaannya, Raja Bindusara suatu hari menanyakan kepada Dhamma apa yang ia inginkan. Dhamma meminta anak dari sang raja. Raja terkejut dan berseru, “Tetapi bagaimana mungkin aku, seorang penguasa dari kasta ksatria, menikahi seorang gadis tukang cukur!”
“Yang Mulia,” sang gadis menjawab, “Saya bukan gadis tukang cukur, tetapi putri seorang brahmana. Ayah saya telah memberikan saya kepada Yang Mulia sebagai istri.”

Mengetahui bahwa ia telah diajarkan keterampilan mencukur, raja memerintahkan agar ia tidak melakukan hal tersebut lagi. Raja juga mengangkat Dhamma sebagai permaisuri utama.
Kemudian Ratu Dhamma melahirkan seorang putra. Ketika ditanyakan apa nama yang diberikan kepada putranya, ia berkata, “Ketika anak ini dilahirkan, aku tidak mengalami penderitaan apa pun.” Demikianlah, sang anak diberi nama Asoka yang berarti “tanpa penderitaan”.

Sebagai putra raja, Pangeran Asoka tumbuh tidak hanya menjadi anak yang gesit, tetapi juga nakal. Ia juga seorang pemburu yang cekatan. Sejak masa Raja Candagutta berburu merupakan kebiasaan dan hobi para anggota keluarga kerajaan.

Tidak ada pangeran lain yang melebihi Pangeran Asoka dalam hal keberanian, harga diri, kecintaan akan petualangan, dan kemampuan dalam administrasi. Oleh sebab itu, walaupun hanya sebagai pangeran, ia disukai dan dihormati oleh pengikutnya dan para menteri.

Perebutan Tahta

Raja Bindusara memiliki seratus satu orang putra yang lahir dari enam belas istrinya. Diantara semuanya, Pangeran Sumana (Susima) adalah putra yang tertua dan diharapkan dapat mewarisi tahta kerajaan. Ia dipercaya untuk menjadi raja muda di Takkasila, sedangkan Pangeran Asoka diangkat sebagai raja muda di Avanti dengan ibukotanya di Ujjeni.

Ketika Pangeran Asoka dalam perjalanan menuju Ujjeni untuk memerintah di sana, ia berhenti di kota Vedisa di mana ia bertemu dengan seorang gadis bernama Devi, putri seorang pedagang. Ia jatuh cinta kepadanya dan menikahinya; dari pernikahan ini lahirlah seorang putra bernama Mahinda dan, berselang dua tahun kemudian, seorang putri bernama Sanghamitta. Walaupun telah menikah dengan seorang anggota keluarga kerajaan, Devi tidak mengikuti suaminya untuk tinggal di istana. Ia tetap tinggal di Vedisa.

Dengan menangani administrasi pemerintahan Avanti, Pangeran Asoka menjadi seorang negarawan yang ulung. Hal ini menyebabkan Pangeran Asoka menjadi orang yang berpengaruh dalam pemerintahan dan popularitasnya semakin menanjak. Pangeran Sumana dan para pangeran lainnya menjadi khawatir apabila Pangeran Asoka disukai oleh raja untuk menjadi pewaris tahta.

Tak lama berselang penduduk Takkasila mengadakan pemberontakan terhadap pemerintah. Pangeran Sumana tidak dapat menangani pemberontakan tersebut dan mendesak raja untuk mengirimkan Pangeran Asoka untuk mengatasinya. Raja mengutus Pangeran Asoka disertai dengan armada pasukan yang terdiri atas pasukan berkuda, pasukan penunggang gajah, kereta perang, dan pasukan pejalan kaki, tetapi raja tidak membekali mereka dengan persenjataan.

Para pelayan berlari mendatangi Pangeran Asoka dan memberitahukannya, “Tuanku, kami tidak memiliki persenjataan untuk berperang. Bagaimana kami dapat bertempur?”

Pangeran Asoka menjawab, “Jika jasa kebajikanku sedemikian rupa sehingga aku dapat menjadi raja, semoga persenjataan perang muncul di hadapanku!” Seraya sang pangeran berkata demikian, bumi terbelah dua dan para dewa muncul dari dalam bumi membawakan persenjataan untuk pasukan Pangeran Asoka.

Ketika penduduk Takkasila mendengar pasukan Pangeran Asoka mendekat, mereka menghias jalan sepanjang beberapa mil dan pergi menyambutnya dengan pot-pot yang penuh dengan persembahan. “O Pangeran,” mereka berseru, “Kami tidak berniat untuk memberontak terhadap Tuanku ataupun Baginda Raja. Namun para menteri yang jahat menindas kami dan kisah penderitaan kami tidak pernah sampai ke Pataliputta. Oleh karena itu, kami harus mengangkat senjata dan menyingkirkan wakil raja yang jahat tersebut.”

Pangeran Asoka memahami situasi yang sebenarnya dan menghukum mereka yang menyebabkan pemberontakan tersebut. Ia tinggal di sana selama beberapa hari dan memberikan nasehat kepada orang-orang dalam kata-kata yang sederhana dan indah. Ketika kedamaian telah ditegakkan di kota Takkasila, Pangeran Asoka kembali ke kota Ujjeni.

Maka sementara ia berkembang menjadi seorang prajurit ulung yang sempurna dan seorang negarawan lihai, Asoka memimpin beberapa regimen tentara Maurya. Popularitasnya yang naik di seluruh wilayah kekaisaran membuat kakak-kakaknya menjadi cemburu karena mereka cemas ia bisa dipilih Bindusara menjadi maharaja selanjutnya. Kakaknya yang tertua, pangeran Susima, putra mahkota pertama, membujuk Bindusara untuk mengirim Asoka mengatasi sebuah pemberontakan di kota Taxila, di provinsi barat laut Sindhu, di mana pangeran Susima adalah gubernurnya. Taxila adalah sebuah daerah yang bergejolak karena penduduknya adalah sukubangsa Yunani-India yang suka berperang dan juga karena pemerintahan kakaknya, pangeran Susima kacau. Oleh karena itu dalam daerah ini banyak terbentuk milisi-milisi yang mengacau keamanan. Asoka setuju dan bertolak ke daerah yang sedang dilanda huru-hara. Maka ketika berita bahwa Asoka akan datang menjenguk mereka dengan pasukannya, ia disambut dengan hormat oleh para milisi yang memberontak dan pemberontakan bisa diakhiri tanpa pertumpahan darah. (Provinsi ini di kemudian hari memberontak lagi ketika Asoka memerintah, namun kemudian ditumpas dengan tangan besi).

Keberhasilan Asoka membuat kakak-kakaknya semakin cemas akan maksudnya menjadi maharaja penerus, maka hasutan-hasutan Susima kepada Bindusara membuatnya membuang Asoka. Asoka kemudian pergi ke Kalinga dan menyembunyikan jatidirinya. Di sana ia bertemu dengan seorang nelayan wanita bernama Karubaki, dan ia jatuh cinta. Prasasti-prasasti yang baru ditemukan menunjukkan bahwa ia kelak menjadi permaisuri selirnya yang kedua atau ketiga.

Sementara itu, ada sebuah pemberontakan lagi, kali ini di Ujjayani (Ujjain). Maharaja Bindusara mengundang Asoka kembali setelah dibuang selama dua tahun. Asoka pergi ke Ujjayani dan pada pertempuran di sana terluka, tetapi para hulubalangnya berhasil menumpas pemberontakan. Asoka kemudian diobati secara diam-diam sehingga para pengikut setia pangeran Susima tidak bisa melukainya. Ia diurusi oleh para bhiksu dan bhiksuni beragamaBuddha. Di sinilah ia pertama kalinya berkenalan dengan ajaran Buddha, dan di sini pula ia berjumpa dengan Dewi, yang merupakan perawat pribadinya dan putri seorang saudagar bernama Widisha. Maka setelah pulih, ia menikahinya. Hal ini tidak bisa diterima oleh Bindusara bahwa salah seorang putranya menikah dengan seorang penganut Buddha, maka dia tidak memperbolehkannya tinggal di Pataliputra, tetapi mengirimnya kembali ke Ujjayani dan membuat menjadi seorang gubernur.

Tahun selanjutnya berjalan cukup tenang untuknya dan Dewi akan melahirkan putranya yang pertama. Sementara itu maharaja Bindusara mangkat. Sementara berita putra mahkota yang belum lahir menyebar, Pangeran Susima berniat untuk membunuhnya; namun si pembunuh justru membunuh ibunya. Menurut legenda, dalam keadaan murka, pangeran Asoka menyerang Pataliputra (sekarang Patna), dan memenggal kepala kakak-kakaknya semua termasuk Susima, dan membuangnya di sebuah sumur di Pataliputra. Pada saat tersebut banyak orang yang menyebutnya Canda Asoka yang artinya adalah Asoka si pembunuh dan tak kenal kasih.

Sementara Asoka naik takhta, ia memperluas wilayah kekaisarannya dalam kurun waktu delapan tahun kemudian dari perbatasan daerah yang sekarang disebutBangladesh dan Assam di India di timur sampai daerah-daerah di Iran danAfganistan di barat; dari Palmir Knots sampai hampir di ujung jazirah India di sebelah selatan India.

Tahun demi tahun telah berlalu. Raja Bindusara semakin tua dan kesehatannya mulai memburuk. Raja dan para menterinya mulai berpikir tentang masa depan kerajaan. Sesuai dengan kebiasaan, yang paling berhak menjadi raja berikutnya adalah Pangeran Sumana. Namun pemberontakan Takkasila menyiratkan kelemahan sang pangeran.

Selain itu, ia mulai bertindak dengan kesombongan. Suatu ketika Pangeran Sumana sepulang dari berkuda bertemu dengan perdana menteri. Bersenda gurau ia menempeleng kepala sang perdana menteri yang botak dan berlalu begitu saja. Tetapi sang perdana menteri berpikir, “Hari ini ia menempelengku dengan tangannya. Ketika menjadi raja, ia akan menjatuhkan pedangnya kepadaku. Aku harus memastikan ia tidak mewarisi kerajaan ini.”

Kemudian perdana menteri memanggil para menteri dan berkata kepada mereka, “Telah diramalkan oleh pertapa suci bahwa Pangeran Asoka akan menjadi raja yang menguasai salah satu dari empat benua. Ketika waktunya tiba, marilah kita menempatkannya pada tahta kerajaan.” Para menteri menyetujui hal ini.

(Menurut geografi India kuno, bumi terdiri atas empat benua besar, yaitu Jambudipa di sebelah selatan, Aparayojana di sebelah barat, Uttarakuru di sebelah utara, dan Pubbavideha di sebelah timur. Jambudipa juga merupakan nama kuno untuk India).

Ketika penyakit yang diderita raja semakin parah dan kelihatan tidak ada harapan lagi, para menteri mengirimkan pesan kepada Pangeran Asoka bahwa ayahnya jatuh sakit dan ia harus segera kembali ke istana kerajaan. Sang pangeran pun segera kembali ke Pataliputta untuk menjenguk ayahnya.

Terbaring lemah di ranjangnya, Raja Bindusara bermaksud untuk mengangkat putra tertuanya sebagai penerus kerajaan dan memerintahkan Pangeran Asoka untuk berangkat ke Takkasila. Namun para menteri menghalangi rencana ini. Mereka melumuri tubuh Pangeran Asoka dengan kunyit, mendidihkan lak merah dalam wadah tembaga, dan mengatakan kepada raja bahwa sang pangeran sedang sakit sehingga ia tidak dapat bangkit dari tempat tidur.

Ketika kondisi raja memburuk, para menteri membawa Pangeran Asoka ke hadapan raja dalam pakaian dan perhiasan yang mewah dan mendesak raja, “Nobatkan Pangeran Asoka untuk saat ini dan kami akan melantik Pangeran Sumana sebagai raja ketika ia kembali.”

Raja Bindusara menggelengkan kepala dengan lemah menandakan ia tidak menyetujuinya. Maka Pangeran Asoka berkata, “Jika tahta kerajaan menjadi hakku berdasarkan ketetapan takdir, semoga para dewa memahkotai aku dengan mahkota kerajaan!” Seketika para dewa muncul dan menaruh mahkota kerajaan pada kepala Pangeran Asoka.

Ketika Raja Bindusara menyaksikan kejadian ini, ia muntah darah dan meninggal dunia. Ketika Pangeran Asoka mendapatkan mahkota kerajaan, dua ratus delapan belas tahun telah berlalu sejak wafatnya Sang Buddha.

Berita wafatnya Raja Bindusara dan naiknya Pangeran Asoka menjadi raja sampai ke telinga Pangeran Sumana. Merasa bahwa mahkota kerajaan seharusnya miliknya, Pangeran Sumana mempersiapkan armada pasukannya untuk bertempur melawan Pangeran Asoka guna memperebutkan tahta. Perang saudara yang berlangsung hingga empat tahun tersebut berakhir dengan kematian Pangeran Sumana di tangan Radhagupta, putra perdana menteri pada masa Raja Bindusara.

Dikisahkan juga bahwa untuk mencapai tujuannya Pangeran Asoka membunuh semua saudara tirinya. Karena kekejamannya ini, ia kemudian dikenal dengan nama Candasoka (Asoka yang kejam).
(Sulit untuk mengetahui kebenaran kisah ini karena menurut prasasti yang ditinggalkan Raja Asoka, ia memiliki banyak saudara laki-laki dan perempuan yang masih hidup ketika prasasti tersebut ditulis).

Penobatan Raja Asoka

Pada hari di mana akan diadakan penobatan raja baru, kota Pataliputta dihiasi dengan mewah dan meriah. Ketika waktu penobatan hampir tiba, alunan musik yang merdu bergema di lingkungan istana. Raja Asoka dengan wajah yang berseri-seri memasuki ruangan dengan dikelilingi oleh para pengawal. Sang pewaris tahta membungkukkan badannya di hadapan tahta kerajaan lalu menaikinya. Seraya para brahmana melantunkan mantra-mantra, Raja Asoka dipakaikan simbol-simbol seorang raja dan mahkota kerajaan Magadha diletakan di atas kepalanya.

Setelah resmi dinobatkan sebagai raja ketiga Dinasti Moriya, Raja Asoka menggunakan nama Devanampiya Piyadassi (Devanampiya = “Dicintai oleh para dewa”, Piyadassi = “Ia yang melihat dengan penuh kasih sayang”). Ia juga mengangkat Radhagupta sebagai perdana menteri dan Pangeran Tissa, adiknya yang lahir dari ibu yang sama, sebagai penasehat kerajaan.

Seketika setelah penobatannya, titah Raja Asoka membentang sejauh satu yojana (16 km) ke atas angkasa dan satu yojana ke bawah bumi. Setiap hari para dewa membawakan air sebanyak muatan delapan orang manusia dari danau Anotatta dan raja membagikan air ini kepada semua rakyatnya. Dari Himalaya para dewa juga membawakan ranting dari tumbuhan tertentu untuk membersihkan gigi, buah-buahan yang menyehatkan, myrobalan, terminalia, serta buah mangga yang sempurna dalam warna, bau, dan rasanya. Para makhluk halus (yakkha) dari angkasa membawakan pakaian dalam lima warna, bahan tertentu yang berwarna kuning sebagai serbet, dan minuman dewata dari danau Chaddanta. 

Para naga membawakan pakaian yang berwarna seperti bunga melati dan tanpa garis jahitan, bunga teratai surgawi, collyrium, dan obat luka. Burung-burung nuri setiap hari membawakan padi sebanyak sembilan puluh ribu kereta dari danau Chaddanta. Tikus-tikus tanpa henti mengubah padi-padi ini menjadi butiran beras tanpa sekam ataupun bubuk padi dan ini menjadi makanan bagi keluarga kerajaan. Lebah-lebah madu tanpa henti menyediakan madu untuk raja. Di tempat penempaan besi para beruang mengayunkan palu. Burung-burung karavika yang bersuara lembut dan merdu berdatangan dan mengalunkan nyanyian untuk raja.

Penaklukan  Kalingga

Sementara tahap-tahap awal kepemimpinan Asoka terbukti cukup haus darah, ia kemudian menjadi pengikut ajaran Buddha setelah menaklukkan Kalingga, daerah yang sekarang adalah negeri bagian India Orissa. Kalingga adalah sebuah negeri yang bangga akan kemerdekaan dan demokrasinya; dengan demokrasi monarki dan parlementernya, negeri ini bisa dikatakan sebuah pengecualian di Bharata Kuna, karena di sana ada konsep Rajadharma, yang berarti kewajiban para pemimpin, yang secara dasar bersatu-padu dengan konsep keberanian dan Ksatriyadharma.

Asal mula Perang Kalingga (265 SM atau263 SM) tidak jelas. Salah satu saudara Susima kemungkinan melarikan diri ke Kalingga dan mendapat suaka secara resmi di sana. Hal ini sangat membuat murka Asoka. Ia diberi saran oleh para menterinya menyerang Kalingga untuk tindakan pengkhianatan ini. Asoka kemudian meminta Kalingga untuk tunduk kepada kekuasaannya. Ketika mereka menolak diktatnya, Asoka mengirimkan salah seorang panglima perangnya supaya mereka tunduk.

Sang panglima perang dan pasukannya kalah dan melarikan diri berkat kepandaian panglima perang Kalingga. Asoka yang tercengang akan kekalahan ini, menyerang dengan sebuah pasukan terbesar yang belum pernah ada dalam sejarah India sampai saat itu. Kalingga melawan dengan sengit tetapi mereka bukan padanan pasukan perang Asoka yang sangat kuat. Seluruh wilayah Kalingga dijarah dan dihancurkan: piagam-piagam Asoka di kemudian hari menyebutkan bahwa di sisi Kalingga kurang lebih 100.000 jiwa tewas sedangkan jumlah prajurit Asoka yang tewas kurang lebih 10.000. Ribuan pria dan wanita dibuang pula.

RAJA ASOKA MENGENAL AGAMA BUDDHA

Raja Bindusara semasa hidupnya merupakan pengikut ajaran para brahmana. Setiap hari ia memberikan dana kepada enam puluh ribu brahmana. Pada mulanya Raja Asoka juga mengikuti kebiasaan ayahnya ini selama tiga tahun masa pemerintahannya.

Namun ketika melihat pengendalian diri yang buruk dari para brahmana tersebut saat pembagian dana makanan, Raja Asoka memerintahkan para menterinya untuk memanggil para pertapa dari ajaran-ajaran lain yang ada saat itu. Para pun menteri memanggil para pertapa Ajivaka, Nigantha (Jain), dan Paribbajaka (Parivrajaka). Raja menguji tingkah laku mereka, memberi mereka dana makanan, dan mempersilahkan mereka meninggalkan istana setelah ia mengadakan perjamuan makan dengan mereka.

Suatu hari ketika sedang berdiri di dekat jendela, ia melihat seorang pertapa muda berjubah kuning yang tenang penampilannya melewati jalan. Pertapa tersebut tak lain adalah Samanera Nigrodha, putra Pangeran Sumana. Tidak mengetahui jati diri samanera tersebut yang sebenarnya, Raja Asoka seketika itu merasa tertarik pada sang pertapa dan menyukainya.

Saat Pangeran Sumana terbunuh, istrinya yang juga bernama Sumana sedang mengandung. Ia menyelamatkan diri melewati gerbang timur ke sebuah desa candala dan di sana seorang dewa penunggu pohon nigrodha membuatkan sebuah gubuk untuknya. Pada waktunya ia melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan dan diberi nama Nigrodha untuk menghargai perlindungan dari dewa pohon tersebut. Kemudian kepala desa candala yang merasa kasihan atas nasib sang ibu merawat keduanya sebagaimana istri dan anaknya sendiri selama tujuh tahun. Suatu hari seorang bhikkhu bernama Mahavaruna melihat bahwa Nigrodha dapat mencapai tingkat kesucian Arahat pada kehidupan sekarang. Sang bhikkhu lalu menahbiskan Nigrodha yang berusia tujuh tahun tersebut sebagai samanera setelah mendapatkan izin dari ibunya. Dalam ruangan di mana para bhikkhu mencukur rambutnya, Samanera Nigrodha langsung mencapai tingkat Arahat.

Saat itu sang samanera sedang dalam perjalanan untuk mengunjungi ibunya. Ia memasuki kota dari gerbang selatan dan ketika melalui jalan yang menuju desanya, ia melewati istana raja. Raja tertarik pada sang samanera karena pembawaannya yang tenang saat berjalan dan berdiri, tetapi perasaan menyukai timbul karena pada kehidupan lampau mereka pernah berhubungan sebagai saudara.

Raja memanggil sang samanera ke hadapannya; sang samanera berjalan dengan tenang ke hadapan raja. Raja mempersilahkan samanera itu untuk duduk pada singgasana kerajaan. Ketika sang samanera melangkah menuju singgasana, raja berpikir, “Hari ini samanera ini akan menjadi tuan di rumahku.” Bersandar pada tangan raja, Samanera Nigrodha menaiki singgasana dan mengambil tempat duduk pada singgasana di bawah payung putih.

Setelah memberikan makanan keras maupun lembut, Raja Asoka menanyakan sang samanera tentang ajaran Sang Buddha. Maka sang samanera membabarkan Appamadavagga kepada raja. Raja sangat bergembira atas pembabaran Dhamma ini dan berkata, “Yang Mulia, saya mendanakan kepada anda delapan jenis persediaan makanan.”
Samanera Nigrodha menjawab, “Ini akan saya berikan kepada guru saya.”

Ketika delapan jenis persediaan makanan lagi didanakan kepadanya, ia memberikannya kepada gurunya; ketika delapan lagi didanakan, ia memberikannya kepada Sangha; akhirnya, ketika delapan lagi didanakan kepadanya, ia menerimanya untuk dirinya sendiri.

Pada hari berikutnya ia datang bersama dengan tiga puluh dua orang bhikkhu. Setelah dilayani oleh raja dengan tangannya sendiri dan membabarkan Dhamma kepada raja, ia memperkuat keyakinan raja dengan memberikan Tisarana dan pelatihan Pancasila.

Setiap hari Raja Asoka mendanakan lima ratus ribu dari kekayaannya dengan rincian sebagai berikut: seratus ribu didanakan untuk Samanera Nigrodha untuk digunakan sesukanya, seratus ribu untuk persembahan wewangian dan bunga pada stupa-stupa Sang Buddha, seratus ribu untuk pembabaran Dhamma, seratus ribu untuk empat kebutuhan para anggota Sangha, dan sisanya untuk pengobatan orang sakit. Sebagai tambahan, raja juga mendanakan sejumlah jubah yang ditempatkan di atas punggung gajah dan dihiasi dengan rangkaian bunga tiga kali sehari kepada Samanera Nigrodha. Sang samanera memberikan jubah-jubah ini kepada para bhikkhu lainnya.

Perbuatan Lampau Raja Asoka

Jauh sebelum kemunculan Buddha Gotama hiduplah tiga orang bersaudara yang merupakan pedagang madu; salah seorang menjual madu, sedangkan yang lainnya mengambil madu. Seorang Pacceka Buddha tertentu menderita luka dan seorang Pacceka Buddha lainnya datang ke kota guna mencarikan madu untuk menyembuhkan luka temannya tersebut. Ia melalui jalan yang biasa ia lalui saat berpindapatta.

Seorang gadis sedang berjalan mengambil air ke tepi sungai. Ketika ia mengetahui tujuan sang Pacceka Buddha, gadis itu menunjuk ke arah tertentu dengan mengulurkan tangannya dan berkata, “Di sebelah sana ada toko madu, Yang Mulia. Pergilah ke sana.”

Sang pedagang madu dengan hati yang yakin mendanakan semangkuk penuh madu kepada Pacceka Buddha yang datang meminta madu. Ketika melihat madu yang mengisi mangkuk dan mengalir keluar dari tepi kemudian tumpah ke tanah, ia berharap, “Semoga saya, karena dana ini, memperoleh kekuasaan tertinggi yang tidak terbagi atas Jambudipa dan semoga titahku menjangkau satu yojana ke atas angkasa dan satu yojana ke bawah bumi.”

Kepada saudara-saudaranya ketika mereka datang, ia berkata, “Kepada orang tersebut telah kuberikan madu; setujuilah dana ini karena madu itu juga milik kalian.”

Sang kakak tertua berkata dengan tidak rela, “Ia pasti seorang candala karena candala biasanya memakai pakaian kuning.” Orang kedua berkata, “Menjauhlah dengan Pacceka Buddha-mu ke seberang lautan.” Tetapi ketika mereka mendengar janji saudara mereka untuk berbagi manfaat dari dana tersebut, mereka pun menyetujuinya.

Kemudian sang gadis yang menunjukkan toko madu tersebut berharap ia dapat menjadi istri sang pedagang dan memiliki tubuh yang menarik dengan bentuk anggota tubuh yang sempurna.

Pedagang madu yang memberikan madu tak lain adalah Raja Asoka yang menguasai seluruh India (Jambudipa); gadis yang menunjukkan toko madu adalah Ratu Asandhimitta, permaisuri utama Raja Asoka. Orang mengucapkan kata “candala” adalah Nigrodha yang tinggal di desa candala, tetapi karena mengharapkan pembebasan, ia dapat menjadi Arahat bahkan saat masih berusia tujuh tahun. Orang terakhir yang menginginkan sang pedagang menjauh ke seberang lautan adalah Denampiya Tissa, raja Sri Lanka yang bersahabat dengan Raja Asoka.

Setelah sang pedagang madu meninggal dunia, ia terlahir kembali di alam surga. Setelah beberapa lama di surga, ia terlahir kembali di alam manusia sebagai seorang anak bernama Jaya di kota Rajagaha pada masa Buddha Gotama.

Pada saat itu Sang Buddha sedang berdiam di Kalandakanivapa di Veluvana dekat Rajagaha. Suatu pagi Beliau memakai jubah-Nya, membawa mangkuk-Nya, dan disertai oleh para bhikkhu berjalan menuju Rajagaha untuk berpindapatta. Setelah memasuki gerbang kota, Sang Buddha melewati jalan utama dan melihat dua orang anak laki-laki sedang bermain membangun rumah-rumahan dari tanah lumpur. Salah seorang anak yang berasal dari keluarga yang makmur bernama Jaya dan yang lain dari keluarga yang kurang mampu bernama Vijaya.

Kedua anak ini melihat Sang Buddha dan sangat terkesan dengan penampilan-Nya yang mulia dan gemilang, tubuh-Nya yang dihiasi dengan tiga puluh dua ciri manusia agung. Jaya berpikir, “Aku akan memberikan Ia makanan dari tanah” dan memasukkan segenggam tanah ke dalam mangkuk Sang Buddha. Vijaya beranjali dengan melipat kedua tangannya.

Setelah memberikan persembahan ini, Jaya membuat tekad: “Dengan kebajikan dari pemberian ini, semoga aku menjadi seorang raja dan setelah menempatkan Jambudipa dalam satu payung kekuasaan, aku akan memberikan penghormatan kepada Sang Buddha.”

Sang Buddha, yang memahami sifat pembawaan Jaya dan tekadnya serta mengetahui ketulusan hatinya, menerima pemberian segenggam tanah tersebut dan tersenyum. Senyum Sang Buddha kemudian diikuti oleh cahaya biru, kuning, merah, putih, jingga, kristal, dan perak yang mengelilingi-nya tiga kali dan memasuki telapak tangan kiri-nya.

Ananda yang melihat pemandangan ini berkata, “Tidak pernah para Tathagata tersenyum tanpa alasan. Hilangkanlah keraguan kami, O Yang teragung di antara manusia yang ucapan-nya bagaikan halilintar, dan ungkapkanlah apakah yang akan menjadi buah dari pemberian tanah ini.”

Sang Buddha menjawab, “Dua ratus delapan belas tahun setelah kematian-Ku akan muncul seorang raja bernama Asoka di Pataliputta. Ia akan menguasai salah satu dari empat benua dan menghiasi Jambudipa dengan relik-relik tubuh-Ku dengan membangun delapan puluh empat ribu stupa untuk kemakmuran orang banyak. Ia akan membuat stupa-stupa ini dihormati oleh para dewa dan manusia. Nama besarnya akan tersebar luas. Persembahan berjasanya hanyalah segenggam tanah yang dimasukkan Jaya ke dalam mangkuk Sang Tathagata.”
Jaya kemudian terlahir kembali sebagai Raja Asoka, sedangkan Vijaya terlahir kembali sebagai Perdana Menteri Radhagupta.

Kematian dan Warisannya 

Maharaja Asoka memerintah selama 41 tahun, dan setelah mangkatnya, dinasti Maurya masih bertahan selama lebih dari 50 tahun. Asoka memiliki banyak selir dan anak, namun nama-nama mereka tidaklah diketahui. Mahinda dan Sanghamittaadalah anak kembar yang dilahirkan istri pertamanya, Dewi di kota Ujjayini. Ia mempercayai mereka untuk menyebarkan agama Buddha di dunia yang dikenal dan tak dikenal. Mahinda dan Sanghamittapergi ke Sri Lanka dan memasukkan Raja, Ratu dan rakyatnya agama Buddha. Mereka lalu berkeliling dunia sampai keMesir dunia Helenistik (Yunani). Sehingga mereka tidak bisa melaksanakan kewajiban pemerintahan. Beberapa arsip langka membicarakan penerus Asoka bernama Kunal, yang merupakan putra Asoka dari istri terakhirnya.

Masa kepemimpinan maharaja Asoka bisa saja mudah menghilang dalam sejarah, dengan berselangnya abad, jika ia tidak meninggalkan arsip sejarah apa-apa. Kesaksian maharaja ini ditemukan dalam bentuk pilar-pilar dan batu-batu karang besar yang dipahati secara megah menjadi prasasti. Isinya adalah ajaran-ajaran dan tindakan-tindakan yang ingin ia sebar luaskan. Selain itu Asoka juga mewariskan kita bahasa tertulis pertama di India setelah kota kuna Harrapa. Namun berbeda dengan di Harrapa, teks-teks Asoka bisa kita pahami. Bahasa yang dipakai Asoka dalam menuliskan teks-teks prasastinya adalah sebuah bentuk bahasa rakyat ataubahasa Prakerta/Prakrit dan bukan bahasa Sanskerta.

Pada tahun 185 SM, kurang lebih 50 tahun setelah mangkatnya Asoka, penguasa Maurya terakhir, Brhadrata, dibunuh secara keji oleh panglima perang Maurya,Pusyamitra Sunga, saat ia sedang menginspeksi pasukannya. Pusyamitra Sunga lalu mendirikan dinasti Sunga (185 SM-78 SM) dan hanya memerintah sebagian wilayah Kekaisaran Maurya yang telah runtuh.

Baru hampir 2.000 tahun kemudian di bawah kepemimpinan Akbar yang Agungdan cicitnya (buyutnya) Aurangzeb, sebuah bagian besar anak benua India yang pernah diperintah Asoka, dipersatukan lagi di bawah satu kepemimpinan. Tetapi akhirnya, orang Inggris di bawah Kekaisaran Britania Indialah yang menyatukan anak benua yang terpecah-belah ini menjadi sebuah satuan politik dan merintis jalan menuju munculnya kembali negara Bharata modern yang sembari memakai lambang Asoka, diilhami oleh ajarannya yang penuh dengan rasa kepemimpinan kuat dan saling mengasihi sesama.‎

 

Sejarah Awal Peradaban India (Asia Selatan)


Asia Selatan (dulu India), merupakan suatu Jazirah dari benua Asia yang memiliki keunikan tersendiri bagi perkembangan kebudayaan di wilayah Asia tersebut. Salah satu keunikan dari wilayah ini adalah beragamnya bangsa-bangsa yang datang dari luar India yang kemudian membentuk agama baru, serta kebudayaan baru.

Keunikan lain yang perlu diketahui juga adalah adanya kebudayaan yang sudah tinggi di miliki oleh India pada tahun-tahun jauh sebelum masehi, serta corak kerajaan-kerajaan besar yang pernah menguasai wilayah ini, sehingga menunjukkan kemajuan yang signifikan baik dalam bidang perdagangan, politik, sosial, agama maupun ilmu pengetahuan.

Dalam sejarahnya India secara umum di pengaruhi oleh tiga invasi besar. Pertama, invasi oleh bangsa Arya, kedua, invasi agama Islam, dan ketiga adalah invasi oleh bangsa Barat ( Inggris ). Melihat proses invasi tersebut tentunya menarik apabila pengkajian Islam di Asia Selatan ini di mulai dari perkembangan awal pembentukan masyarakat India sampai sekarang, tetapi dalam makalah ini tidak membahas secara keseluruhan hanya akan membahas kondisi Asia Selatan (dulu India ) sebelum Islam masuk ke wilayah tersebut dengan berbagai kondisi yang meliputi perkembangannya.‎

Asal Usul India

India, negeri yang penuh pertentangan. Punya kesatuan geografis yang fundamental, tetapi tak pernah mengenal kesatuan politik yang riil, kecuali yang baru-baru ini dipaksakan oleh Inggris. Penuh dengan berbagai golongan, menyebabkan tidak mampu menolak serangan-serangan. Penuh oleh beragam ras yang terpisah dan bermusuhan dengan berbagai perbedaaan kepercayaan, bahasa dan kebudayaan.

Nama India itu merupakan nama baru yang disebut dalam ejaan orang Barat. Aslinya adalah Hind, terambil dari nama sungai Shindu, salah satu sungai besar yang ada di India, dari kata tersebut kemudian menjadi Hindustan. Nama India juga berasal dari kata Shind, diambil dari nama penguasa dahulu di India yaitu anak dari Nabi Nuh, yang menguasai lebih besar dibanding dengan saudaranya yang lain yaitu Hind dan Bang. Kata Shind sama artinya dengan Bharata. Beratus tahun sebelum Nabi Isa lahir, India telah menempati kedudukan yang tinggi dalam tamaddun dunia, terutama dalam soal-soal keagamaan dan metafisika. Dari sanalah timbulnya agama Brahmana yang terkenal. Dari sana pula timbul Budha Gautama. Bahkan telah diselidiki bekas tamaddun dari 5000 tahun yang lalu dengan penggalian sisa-sisa negeri yang bernama Mohendo-Daro dan Harrapa. Dari bekas-bekas runtuhan kota lama itu telah didapati orang dengan kepandaian penduduknya dalam seni bangunan, sudah mengenal tulisan, serta sudah mengenal mata uang.

Kemudian, jika dilihat hubungannya dengan Arab, kemungkinan besar dengan kemajuan yang sedemikian rupa tinggi di India, niscaya telah lama hubungannya dengan bangsa Arab, walaupun sebelum Islam. Dengan bukti adanya semacam pedang yang terpuji buatanya di tanah Arab di zaman dahulu yaitu ” Saif Muhannad”, artinya pedang yang ditempa secara Hind. Malahan disangka orang bahwa perkataan ”Handasah” artinya ilmu ukur terambil dari kata-kata ”Hindu” juga.

Kondisi Umum India Sebelum Masuknya Islam.

Sekitar tahun 6000-5000 SM. bangsa Dravida datang ke India dari Asia Barat dengan kepercayaan terhadap adanya Tuhan secara abstrak. Mereka ini yang di anggap sebagai penduduk pribumi asli India, yang ditunjukkan dengan adanya kebudayaan Mahendo-Daro tersebut sebagai milik dari bangsa Dravida ( jauh sebelum bangsa ini datang sebenarnya sudah ada suku bangsa Negrito dan Astronosoid ). Kemudian pada abad VI SM. bangsa Arya dari Persia datang menguasai punjab dan Benaras ( India Utara ) dengan membawa kepercayaan adanya Tuhan secara nyata. Dasar kepercayaan bangsa Arya adalah Syirik. Akhirnya bangsa Arya yang lebih kuat memaksa bangsa Dravida untuk menganut kepercayaannya. Kemudian kepercayaannya itu berkembang menjadi agama Brahmana ( Hindu ) yang melahirkan kasta-kasta.

Pada tahun 599 SM. lahir Mahawir yang mempelopori lahirnya agama Jain. Dasar agama ini adalah pertapaan dan meninggalkan kemewahan. Mereka tidak memiliki kitab suci. Satu-satunya sumber keagamaan adalah Mahawir. Ajaran pokok agama Jain ini adalah Ahimsa ( tidak hasad ), agama sejati berlaku bagi semua makhluk dan lama-kelamaan ajaran ini melebur dalam agama Hindu. Kemudian pada tahun 557 SM. lahir Gautama Budha di Kapilabastu, kaki gunung Himalaya yang menjadi pelopor lahirnya agama Budha.

Perkembangan sejarah Asia Selatan terutama India sudah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi. Tetapi baru ketika setelah kedatangan bangsa Arya, pengkajian sejarah Asia Selatan kelihatan lebih nyata. India salah satu pusat peradaban dunia pada masa lampau, selain Cina dan Timur Tengah dan juga Eropa. Letak peradaban terbesar bangsa India adalah teletak di Mohenjodaro dan Harapa. Suku asli India adalah bangsa Dravida, yang kemudian eksistensinya sedikit demi sedikit tergusur loleh kedatangan bangsa Arya dari Asia Barat. ‎Peradaban India sering disebut dengan peradaban sungai Indus yang dialiri oleh lima anak sungai yaitu; Yellum, Chenab, Ravi, Beas, Suttly yang kemudian terkenal dengan sebutan Punjab (Daerah lima Aliran Sungai). Peradaban lembah sungai Indus sebanding dengan peradaban Mesopotamia, lembah sungai Huangho, dan Mesir, dengan penduduk asli adalah orang-orang Dravida, mempunyai cirri-ciri berkulit hitam dan pada saat itu mereka belum mempunyai kepercayaan atau agama yang tetap.

Seperti yang telah disinggung diatas hasil peradaban terbesar lembah sungai Indus adalah keberadaan kota Mohenjodaro dan Harapa. Kota Mohenjodaro merupakan gambaran kota pada masa India lama. Disana telah ditemukan bangunan perumahan, balai besar dan juga pemandian. Bahan pokok dari bangunan-bangunan tersebut adalah sebuah batu bata merah dengan ukuran kira-kira 25 X 50 X 3,5 inchi. Rumah-rumah pada kota Mohenjodaro mempunyai halaman-halaman yang luas.

Pasca kedatangan bangsa Arya inilah proses asimilasi budaya di India berkembang, terutama adalah munculnya agama Hindu di India. Sebelum secara resmi agama Hindu berkembang, telah terjadicontact antara bangsa Dravida dan Arya, tetapi pada akhirnya bangsa Dravida memilih tiga opsi yaitu; kelompok pertama adalah mereka yang menolak kedatangan bangsa arya dan melawannya sampai kalah. Kelompok kedua adalah yang kemudian menyingkir ke wilayah lain yaitu deccan dan Bihar, sedangkan kelompok ke tiga adalah mereka yang kemudian melakukan percampuran dengan ras pendatang, ras Arya, dan untuk selanjutnya melahirkan kebudayaan baru di India.

Lebih detailnya, lemhab Hindus memang di bahas pada permasalahan lain, tetapi penuli mencoba melihat sedikit kebelakang sebelum kedatangan Bangsa Arya. Letak kota lembah sungai Indus sendiri tepatnya di daerah perbukitan Baluchistan yang kemudian menghasilkan kebudayaan Nal. Daerah-daerah yang terletak di sepanjang sungai Indus kemudian sering disebut dengan kebudayaan Harappa dan Mohenjodaro. Letak Mohenjodaro dan Harappa sendiri kurang lebih 800 km. ‎Dalam penggalian terbaru telah banyak ditemukan kota-kota baru di Mohenjodaro dan Harappa. Pada masa Mphenjodaro dan Harapp telah ditemukan benda-benda yang pada saat itu sudah merupakan benda yang sangat mengagumkan dengan keunikan dan keelokan tersendiri.

Dengan sumber-sumber yang telah ada membuktikan bahwa sungai Indus, tepatnya peradaban lembah sungi Indus telah menjadi salah satu sumber perdaban di dunia. Padahal pada waktu Indonesia belum berkembang seperti halnya India, ataupun Mesopotamia, Mesir dan bahkan Eropa.

Memang masih sangat terbatas sumber yang menjelaskan secara detail bentuk peradaban tersebut, tetapi itu sudah cukup membuktikan bahwa India adalah pusar peradaban dunia. Oleh sebab itu pada tulisan ini penulis akan mencoba menerangkan dan menjelaskan beberapa fakta sejarah yang terjadi pada masa kedatangan dan perkembangan bangsa Arya. Perkembangan-perkembangan itu meliputi banyaknya kerajaan-kerajaan yang bercorak peradaban Arya, Agama Hindu dan pastinya peradaban-peradaban yang dihasilkan oleh bangsa Arya. Tulisan ini mencoba membatasi pembahannya hanya pada perkembangan sejarah India pada masa kebesaran bangsa Arya dan masa kejayaannya.

Untuk merinci pembahasan, penulis memberi pokok permasalahan yang tujuannya memudahkan pembaca memahami tulisan ini, yang meliputi:

Awal kedatangan bangsa Arya di India
Pengaruh yang di hasilkan oleh bangsa Arya yang mungkin meliputi peradaban, agama, budaya, seni dan lain sebagainya.
Peradaban dan budaya Arya di India (Indo-arya) tidak akan perbah lepas dari pembahasan agama Hindu dan perkembangannya. Agama Hindu muncul ditengah-tengah perkembangan kebudayaan Arya.
KEDATANGAN BANGSA ARYA

Nama arya berarti bangsawan atau tuan, yang terdapat dalam bahasa persia dan india. Perpindahan Bangsa Arya di India terjadi bertahap-tahap, dan tidak terjadi langsung dengan gelombang besar. Waktu yang dibutuhkan juga membutuhkan waktu yang berabad-abad, itupun sambil membawa keluarga mereka.

Pada masa tertentu, ada sekelompok yang nampaknya begitu kuat yang memasuki India. Hal ini dibuktikan pada penggalian di Harappa yang menyatakan bahwa kota Harappa takluk dengan kekerasan, karena banyak ditemukan tumpukan mayat di Harappa. Selain itu kerusakan di dinding kota, yang semuanya disinyalir Harappa di hancurkan oleh Bangsa yang gagah berani. Pendirian ini juga diperkuat dengan pernyataan buku Weda yang mengatakan bahwa bangsa Hariyupuja yang dikalahkan oleh orang-orang Arya dengan bantuan, dan tentu haruyupura itu dapat kita anggap sama dengan budaya Harappa.

Perpindahan bangsa Arya ke India berlangsung pada satu masa yang berabad-abad lamanya dapat juga dibuktikan kalau dibandingkan syair-syair Weda yang tertua dengan yang terkemudian. Penyelidikan ini menyatakan bahwa mula-mulanya sungai Indus dianggap oleh orang Arya sebagai sungai yang keramat dan menjadi sumber dari sekalian kebaikan bagi orang Arya.

Tetapi pada masa Doab Gangga-Jumna menjadi pusat kebudayaan brahma, maka ternyata bahwa seluruh daerah Indus dan Punjab sudah dilupakan oleh orang-orang Arya, dan bhakan buku-buku seperti Weda dan Upanisad seakan-akan melupakan kesucian  sungai Indus. Orang-orang Arya merupakan bangsa yang suka yang berpetualang pada saat itu.

Nampaknya kedatangan bangsa Arya berbarengan dengan lansung berkembangnya kerajaan-kerajaan bangsa Arya. Dalam beberapa berita-berita peperangan raja Persia menaklukan Punjab dan Sindh tahun 516 SM, dan raja tersebut mempunyai beberapa prajurit dari kalangan orang-orang India. Sedangkan kita tahu bahwa bangsa Arya adalah bangsa yang berasal dari Asia Barat.

PENGARUH BANGSA ARYA

Kedatangan bangsa Arya di India telah memberi pengaruh besar dalam sejarah perkembangan Bangsa India sendiri. Bangsa Dravida yang sebelumnya telah menempati India telah memberi tiga reaksi pasca serangan bangsa Arya. Kelompok pertama adalah mereka yang menolak kedatangan bangsa Arya dengan memberi perlawanan sampai mati. Kelompok kedua yaitu mereka yang akhirnya menyingkir ke daerah selatan, Deccan dan Bihar. Kelompok ketiga adalah yang kemudian melakukan asimilasi dengan bangsa Arya, yang kemudian melahirkan budaya baru.

Fokus peneitian para ilmuan sejarah masih masih berkisar pada budaya yang telah dihasilkan oleh percampuran bangsa Arya dan Dravida tersebut, atau yang kemudian sering dengan kebudyaan Indo-arya. Alasan utamanya adalah bahwa percampuran tersebut selanjutnya melahirkan sistem budaya dan poitik yang lebih mudah untuk dirunut pada sejarawan. Pengaruh selanjutnya dari budaya Indo-arya adalah munculnya perbagai budaya seperti Bahasa Sansekerta, Upacara Keagamaan, dan hal-hal sacral lainnya. Selain itu adalah kemunculan dan berkembangnya Agama Hindu yang menjadi agama terbersar di India sampai sekarang.

Untuk saat ini orang-orang dari bangsa Arya mendiami daerah-daerah sekitar di sebelag utara garis perbatasan yang terletak antara Goa dan Orissa selatan. Ada juga sebagian terletak di sebelah selatan garis tersebut, seperti Hiderabad.

Sebagai bangsa pendatang, Arya memandang orang-orang Dravida adalah sebagai penduduk yang lebih rendah dari bangsa Arya. Namun hal itu tidak menutup kemungkinan Bangsa Arya mengakui bahwa Bangsa Dravida merupakan Bangsa yang kaya yang telah mengembangkan peradaban dan kebudayaan yang cukup tinggi. Jika dilihat kembali, sistem kepercayaan telah menjadi dasar utama dalam kultur masyarakat India dalam sistem sosial. Eksistensi kasta sebagai pembagian kelas masyarakat India merupakan bentuk nyata yang tidak terhapus begitu saja hingga saat ini. Brahmana sebagai kasta tertinggi di India tetap dipegang oleh bangsa Arya sendiri, sementara Ksatria, Waisya, dan S0udra adalah kelompok sosial yang mesti mengikuti hukum yang telah dibuat oleh para Brahmana.

Pengaruh yang signifikan dari bangsa Arya yang selama ini banyak dikaji adalah munculny abanyak kerajaan bercorak Arya. Proses kultural yang berlangsung hingga abad ke-7 sebelum masehi kemudian melahirkan sejarah politk bangsa India yang sangat panjang. Pada periode ini suber sejarah India semakin terang dengan perlbagai iniformasi tertulis dari dalam India maupun dari catatan asing. Beberapa kerajaan penting pada masa awal perkembagnan Arya adalah Gandhara, Kosala, Kasi dan Maghada. Tetapi sampai sekarang hanya kerajaan-kerajaan yang mempunyai pengaruh besar saja yang dapat diakses dan dikaji. Hal karena terbatasnya sumber sejarah yang menerangkan perihal tersebut. Selain itu kita tahu India mempunyai wilayah yang cukup luas, dan tidak memungkinkan dikaji kerajaan-kerajaan yang terseban seantero India. Dari sekian banyak kerajaan, mungkin yang dapat diakses dan dikaji karena mempunyai peranan penting dalam perkembangan peradaban di India. Salah satunya adalah Maghada.‎

Secara umum gambaran kondisi India pada saat Islam sebelum masuk adalah sebagai berikut:

Kerajaan-kerajaan yang ada di India sebelum Islam masuk.‎

Kerajaan Maurya

Pada tahun 327 SM. datanglah Iskandar Zulkarnaen dari Persia ke India melalui Sela Kaibair dan menguasai India di daerah Punjab, tetapi kekuasaannya itu tidak tahan lama. Kemudian, pada tahun 324 SM. pecah pemberontakan dibawah pimpinan Candragupta dan berhasil menghalahkan Iskandar Zulkarnaen, serta berhasil mengusir penduduk asing tersebut dari India ( sedudah sepeninggalnya Iskandar Zulkarnaen w. 323 SM. )

Berdirilah sekarang kerajaan Maurya, dengan Candragupta Maurya sebagai raja pertamanya. Dalam waktu singkat kekuasaan Maurya sudah membentang dari Khasmir di barat hingga daerah lembah sungai Gangga di timur. Ibukota kerajaan ini adalah di Pattaliputra. Pada perkembangan selanjutnya, kerajaan ini dipimpin oleh Asoka ( 268-232 SM ) cucu Candragupta Maurya. Di bawah Raja Asoka, kerajaan Maurya mengalami zaman gemilang. Kalingga dan Dekkan ditundukkannya. Akan tetapi menyaksikan korban dan bencana perang yang dasyat di Kalingga, ia menjadi terharu dan menyesal. Sejak saat itu tidak lagi, ia melakukan peperangan dan lebih mencita-citakan perdamaian serta kebahagiaan bagi umat manusia.

Pada awalnya Asoka beragama Hindu tetapi kemudian menjadi pengikut agama Budha dan agama tersebut menjadi dasar pemerintahannya. Banyak kemajuan yang dicapai oleh Asoka antara lain adalah didirikannya tiang-tiang batu bertahtahkan ajaran Budha di segala penjuru kerajaannya. Setelah Asoka meninggal, kerajaan lalu terpecah-pecah dalam bagian-bagian kecil, namun akhirnya beberapa abad kemudian muncullah seorang raja yang gagah perkasa, bernama Candragupta I, pembangun kerajaan Gupta.

Kerajaan Gupta
Candragupta I ( 320-330 ) membangun kerajaan ini berpusat di sungai Gangga. Berlainan dengan Asoka, Candragupta I ini beragama Hindu, tetapi agama Budha tetap berkembang dengan suburnya. Zaman Gupta dalam sejarah India di pandang sebagai zaman yang paling gemilang atau disebut juga dengan zaman keemasan. Puncak kemegahann kerajaan Gupta dicapai pada masa pemerintahan Raja Samudragupta anak Candragupta I.

Perkembangan selanjutnya, kerajaan Gupta dipimpin oleh Samudragupta (330-373 ), seluruh lembah Gangga dan Sindu di taklukkannya serta India Selatan juga dikuasainya. Ia memilih kota Ayodya sebagai ibu kota kerajaannya. Kemudian setelah Samudragupta mati kerajaan ini di pimpin oleh Candragupta II ( 375-415 ), pada masa ini kerajaan makmur dan sejahtera, banyak gedung indah didirikan, perdagangan dan pelayaran makin maju, kesenian, ilmu pengetahuan, kesusastraan juga maju dengan pesat.

Sepeninggal Candragupta II, kerajaan Gupta mulai mundur, berbagai suku bangsa di Asia Tengah datang menyerbu. Hampir dua abad masa gelap ini menimpa India. Akhirnya pada abad ke 7, tampilah kembali seorang raja yang kuat bernama Harshavardhana, dengan membangun kembali kerajaan tersebut. Disisi lain Islam lahir yang dibawa oleh Nabi Muhammad di Mekkah pada abad ke 7 M.

Kondisi Politik

Kondisi politik di India sejak dahulu mengalami berbagai gejolak dengan adanya beberapa kerajaan-kerajaan yang saling berperang satu sama lain pada masa awal invasi Arab. Seperti yang telah diungkapkan pada pembahasan diatas, bahwa setelah sepeninggalnya Candragupta II, keadaan mulai kacau sampai tampilnya Raja Harshavardhana di Qanauj, mengembalikan kestabilan politiknya, tetapi kemudian sepeninggalnya raja tersebut, kerajaan jatuh berkeping-keping di ikuti dengan kerusuhan diantara putra mahkota demi merebutkan kekuasaan. Kekacauan politik terburuk sering terjadi di tanah ini ( India ) selama lebih dari 50 tahun. Bagian tersisa dari negeri ini dibagi-bagikan diantara banyak penguasa independen dengan beragam tingkat kekuasaan dan kehormatan.

Sistem pemerintahan pada masa kerajaan ini adalah terdiri dari Raja, Menteri, Kepala Propinsi ( Uparika ), Kepala Distrik dan Kepa Desa. Raja sebagai kepala administrasi yang juga menggabungkan semua kekuatan legislatif, eksekutif, yudikatif dam militer dalam dirinya. Jabatan ini bersifat turun-temurun tetapi kadang raja juga dipilih. Para Menteri bertugas membantu dan memberi saran kepada raja. Dalam sistem kerajaan ini juga ada propinsi-propinsi bagian dari kerajaan yang di kepalai oleh Uaparika. Kemudian propinsi juga di bagi kedalam beberapa distrik yang disebut Vaisaya ( petugas distrik disebut Vaisayapati ). Sedangkan desa merupakan unit terkecil administrasi yang dikepalai oleh Panchayat.

Kondisi Ekonomi

Secara keseluruhan rakyat di India dapat dikatakan sudah makmur. Rakyat berada dalam kondisi sejahtera, pertanian merupakan pekerjaan utama rakyat setempat. Bagla dan Gujarat terkenal sebagai tempat produsen serta pengekspor barang-barang tekstil kapas. Kondisi ekonomi semacam ini setidaknya dapat dirasakan rakyat pada saat kegemilangan kerajaan-kerajaan yang ada di India seperti masa Raja Asoka dari kerajaan Maurya.

Kondisi Agama

Di India terdapat tiga agama besar yaitu Budha, Jain dan Hindu pada awal penaklukan Arab. Agama Jain tidak populer dan agama Budha sedang menurun,. Agama Hindu adalah agama yang paling penting bagi India. Hampir seluruh raja menganut agama Hindu dan mengambil langkah-langkah untuk kepentingan agamanya. Tekanan dari Brahmana terhadap penganut agama Budha menyebabkan mereka mengharapkan datangnya kekuatan lain untuk menghindari penguasaan Hindu.

Dengan melihat kondisi seperti ini setidaknya ada dua faktor yang perlu dicermati, yang pertama, bahwa bangsa India sulit di tembus oleh kekuasaan ataupun kepercayaan lain, hal ini karena sudah mengakar kuat sistem pemerintahan Monarkhi India yang pernah mengalami kegemilangan sebelum Islam datang dengan kemajuan dalam berbagai bidang, serta salah satu agama menjadi agama negara dan diperjuangkan secara sungguh-sungguh sehingga sulit untuk menembus kesana, seperti masa Asoka agama Budha menjadi agama kerajaan atau masa Candragupta I, agama Hindu mengakar kuat pada kerajaannya. Kedua, bahwa adanya ketidaksenangan agama Budha sebagai agama besar di India merasa tersaingi dan tersingkir oleh kekuasaan Hindu maka menginginkan adanya kekuatan luar untuk masuk ke India sebagai tandingan terhadap Hindu, sehingga menjadikan Islam masuk kesana dapat perhatian lebih dari agama tersebut.

Kondisi Sosial

Kondisi sosial pada anak benua India ini, jelas terlihat bahwa kondisi masyarakatnya yang terdiri beberapa suku bangsa akan mengalami perbedaan-perbedaan kultur yang membentuknya. Kondisi sosial yang semcam ini juga tidak bisa terlepas dari sitem agama Hindu yang mempengaruhinya dengan membagi masyarakat dalam empat kasta ( Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra ). Bangsa Arya termasuk 3 kasta yang tertinggi, sedangkan orang Dravida di masukkan dalam kasta Sudra. Di luar ke empat kasta tersebut masih terdapat lagi satu golongan besar yang nasibnya sangat menyedihkan yaitu golongan Paria, mereka tidak masuk apa-apa.

Secara umum rakyat menikah diantara kastanya masing-masing dan perkawinan antar kasta sangat jarang terjadi. Poligami banyak diterapkan dalam masyarakat, tetapi kaum wanita tidak di bolehkan menikah untuk kedua kalinya .
 
Kerajaan Andhra (Benggala)

Kerajaan Andhra didiami oleh bangsa dravida, letaknya di pantai teluk Benggala di antara muara sungai Godavari dan Khrisna. Diwaktu pemerintahan raja Asoka kerajaan itu ditaklukkan dan diharuskan membayar upeti. Tetapi kerajaan itu kemudian hari bertambah kuat, sehingga seorang dari antara raja-rajanya dapat menduduki kerajaan Maurya.

Selama raja-raja Andhra memerintah, agama Brahma dan Budha keduanya mendapat penghargaan yang sama. Walaupun raja-raja sendiri memeluk agama Brahma, tetapi agama Budha tetap mendapat perlindungan dan bantuan juga dari pihak mereka. Untuk para biksu disediakan wihara, terutama dalam gua-gua di pegunungan Deccan.
Kerajaan Andhra makmur dan terkenal sebab mempunyai perhubungan laut juga dengan luar negeri. Akan tetapi di abad ke 3 sejarah kerajaan itu makin kabur. Dalam keadaan gelap gulita kerajaan itu lenyap dan tidak pernah lagi terdengar dalam sejarah India.

Kerajaan Parthi (India Barat)

Sebagai telah diuraikan tadi sisa kerajaan Iskandar Zulkarnain masih terdapat di Persia pada waktu itu, yaitu kerajaan Baktria. Penduduknya kebanyakan orang pengembara yang suka berpindah-pindah tempat untuk mengembalakan ternaknya. Bangsa itu selalu hendak memasuki India. Lebih-lebih setelah mereka itudidesak oleh bangsa lainyang datang dari sebelah utara. Krajaan Baktria pada akirnya ditaklukkan oleh bangsa Parthi yang kemudian terus merebut daerah sungai Indus di India barat. Dizaman ini terjadilah perpindahan bangsa-bangsa Asia Tengah ke India (bangsa-bangsa Parthi dan Saka) dengan cara besar-besaran.

Raja yang terkenal dari bangsa Parthi itu ialah Gondophares. Menurut berita raja inilah yang membawa agama Kristen ke tanah India.

Kerajaan Kushan (India Utara)

India Uatara menderita kerusakan juga disebabkan oleh masuknya bangsa Yue-Chi dari Tiongkok Tengah. Bangsa ini amat perkasa, sehingga mereka menaklukkan daerah-daerah turkestan sekarang dan mengusir bangsa-bangsa seka dari tempat diamnya disekitar laut Kaspia. Mereka itu mendirikan suatu kerajaan yang kuat disebelah utara India.

Sesudah mengetahi kelemahan-kelemahan raja-raja Andhra, bangsa Yue-Chi berikhtiar untuk merebut India. Mula-mula mereka menaklukkan daerah Gandhara dan Punjab. Kerajaan yang mereka dirikan disana adalah kerajaan Kushan.

Rajanya yang pertama ialah Kadhpises I (tahun 40 sesudah Masehi), sedangkan raja Kushan yang termasyhur bernama Kaniskha (tahun 120). Namanya tersebut dalam kitab-kitab Budha di India, Tibet dan Mongolia, karena ia terkenal sebagai pembela agama Budha.

Pada waktu itu kerajaan Kushan melingkupi India Utara, Lembah Gangga dan Indua, jadi belum seluruh kerajan Asoka ibu negeri kerajaan Andhra, Pataliputra jatuh ke tangannya. Akan tetapi Kaniskha berdiam di Purushpura atau Pashawar yang sekarang. Dibelakang hari raja itu memeluk agama Budha. Perhubungan dengan Tiongkok diperkuatnya dengan mengirim pendeta-pendeta Buddha kesana.

Dalam sejarah agama Budha terberita juga permusyawaratan besar yang diadakan diantara pemimpin-pemimpin agama Budha atas perintah Kaniskha untuk menyelsaikan bermacam-macam perselisihan yang timbul dalam agama itu dan menyelidiki kitab-kitab yang mengenai ilmu agama dan filsafat supaya dipersatukan Sesudah rapat itu, yang dihadiri oleh 500 orang ulama-ulama agama Budha menghabiskan pekerjaannya, semua putusan yang diambil, ditulis dalam tembaga dalam bahasa sansekerta dan disimpan dalam suatu stupa dekat kota Srinagar.

Diantara raja-raja keturunannya kita sebut seorang saja, yaitu Vasudeva (182-220). Ialah raja penghabisan yang masih dapat memegang persatuan dalam kerajaannya. Setelah Vasudeva wafat, kerajaan Kushan pecah belah seperti nasib kerajaan Andhra di India Tengah, kerajaan Kushan lenyap juga dari sejarah. Zaman yang mulai dengan keruntuhan kerajaan Kushan dan Andhra sampai zaman Gupta, yang meliputi lebih kurang 100 tahun adalah zaman yang sulit sekali dalam sejarah India.

Yang tetap berdiri pada masa itu ialah kerajaan Saka di India Barat, di daerah sungai Indus dan Rajputana. Bangsa Rajput yang menduduki daerah Rajputana sekarang disebelah utara Bombay masuk keturunan bangsa Saka itu.

Kerajaan Maghada

Pada masa kerajaan Maghada terdapat beberapa dinasti yang bergiliran memegang tampuk kepemimpinan di India/Maghada.

Dinasti Sisunaga

Dinasti Sisunaga merupakan dinasti pertama yang memegang tampuk kepemimpinan di kerajaan Maghada. Dinasti ini setidaknya pernah dipimpin oleh sembilan raja yaitu: Saisunaga, Kakavarna,  Kshemadarman, Kshemajit, Bimbisara, Ayatasatru, Darsuka, Udaya, Nandivadana.

Dinasti Nanda

Dinasti Nanda juga pernah berkuasa atas kerajaan Maghada, tepatnya pada 413-322 SM. Raja-raja yang pernah berkuasa pada dinasti Nanda juga berjumlah sembilan orang, seperti halnya dinasti Sisunaga. Pada masa dinasti ini banyak sekali ketidakstabilan pada pemerintahan, hal ini dibuktikan dengan banyaknya raja pada kurun waktu yang kurang dari satu abad. Sehingga pada akhirnya dinasti ini berhasil dikudeta oleh Chandragupta dari Maurya, yang kemudian mendirikan dinasti baru yaitu dinasti Maurya.

Dinasti Maurya

Pada masa dinasti Maurya merupakan dinasti yang mampu membawa India pada masa kejayaannya. Pada 322 SM Chandrgupta naik tahta dari hasil kudeta yang dia pimpin dari kekuasaan dinasti Nanda. Hal penting yang patut dicatat pada masa Chandragupta adalah perisnggungan India dengan bangsa asing, tepatnya kekaisran Macedonia yang dipimpin oleh pemimpin agung Alexander the great (iskandar zulkarnain). Peristiwa ini berlangsung dua tahun sebelum Chandragupta naik tahta. Kedatangan Macedonia tidak hanya mempunyai maksud politis saja tetapi juga misi penyebaran budaya barat ke daerah timur. Beberapa sumber mengatakan bahwa ekspansi Alexander the great tidak mempunyai motif politik sama sekali, karena pasukan Macedonia hanya lewat saja dan tidak meneruskan penyerangan kea rah timur, dan bahkan mereka kembali lagi ke barat (Eropa).

Seperti halnya daerah-daerah timur yang lain, pasca ekspansi bangsa barat adalah kemunculan budaya hellenisme. Yaitu perpaduan budaya timur dengan budaya barat. Sejak masa tersebut semakin terbuka hubungan barat dengan dunia timur. Hal inilah yang kemudian mendorong India semakin menjelma menjadi pusat peradaban penting dunia. Banyak ilmuan yang kemudian datang dan pergi di India. Hal yang juga patut dicermati adalah pada masa itu sejarah India telah ditulis oleh salah satu kaki tangan Alexander the great yang selalu mengirinya kemanapun dan kapanpun ia pergi.

Kondisi Asia Selatan (dulu India) pada masa sebelum masuknya Islam telah mengalami perkembangangan yang sudah cukup lama dari beberapa tahun sebelum masehi. Dalam perkembangan tersebut, India sudah mempunyai kebudayaan tinggi yaitu Mohendo-Daro dan Harrapa yang kemungkinan besar milik bangsa Dravida.

Asal usul India aslinya adalah Hind yang diambil dari nama Sungai Shindu. Daerah ini di datangi oleh dua suku bangsa yang besar yaitu Dravida dari Asia Barat yang mempercayai adanya tuhan secara abstrak dan suku bangsa Arya yang datang dari Persia dengan membawa kepercayaan adanya tuhan secara nyata. Kemudian dari sinilah di India melahirkan agama Brahmana ( Hindu ) dab Budha. Selain dua agama tersebut juga ada agama Jain tetapi tidak populer di India dan bahkan melebur dengan Hindu.

Secara general kondisi india sebelum Islam datang kesana sudah relatif tertata masyarakatnya dengan kehidupan ekonomi yang makmur, meskipun adanya polemik politik karena perebutan kekuasaan di antara putra-putra mahkota, namun kondisi keagamaan di India cukup terjaga tidak mengalami kemunduran.‎

 

Doa Nabi Sulaiman Menundukkan Hewan dan Jin

  Nabiyullah Sulaiman  'alaihissalam  (AS) merupakan Nabi dan Rasul pilihan Allah Ta'ala yang dikaruniai kerajaan yang tidak dimilik...