Jumat, 20 November 2020

Panembahan Bodho


GELAR PANEMBAHAN BODHO ORA ATEGES BODHO TANPA NGELMU, ANANGING PINTER 
RUMONGSO KANTHI ANDAP ASOR, TANPA PAMRIH BONDHO  LAN PANGUWOSO

Panembahan Bodo oleh masyarakat dianggap sebagai cikal bakal mereka sehingga sangat dihormati. Panembahan Bodo menurut cerita yang beredar di masyarakat merupakan tokoh keturunan bangsawan Majapahit , beliau merupakan cicit Prabu Brawijaya V .Raden Trenggono merupakan putra Raden Kusen , seorang adipati Terung . Raden Kusen putra Raden Aryo Damar dengan Dorowati seorang putri cina yang cantik jelita , sedang Raden Aryo Damar merupakan putra Prabu Brawijaya V , Raja Majapahit.

Diceritakan pada suatu hari Raden Trenggono mendapat sindiran dari kerabatnya agar ia segera mempersiapkan diri untuk menggayuh kemuliaan dan keluhuran untuk mencapai kaswargan . Ada pula yang memberikan nasehat seperti diatas secara terang - terangan .

Pada suatu hari Raden Trenggono berjalan menelusuri sungai hingga sampailah pada sebuah hutan wijen dan bertemu dengan seorang yang gagah dan tampan. Melihat sosok orang tersebut Raden Trenggono timbullah keinginannya agar dapat menatap dan berbicara dengannya , namun karena begitu saktinya orang tersebut menyelinap dan menghilang dari pandangan Raden Trenggono ,orang tersebut tidak lain adalah Sunan Qadle atau Sunan Kalijaga. 

Karena Raden Trenggono berkeinginan mempunyai kesaktian dan ilmu seperti Sunan Kalijaga , maka ia mengabdi kepada Ki Ageng Gribig di Temanggung . Di Temanggung Raden Trenggono semakin tinggi tekadnya untuk mempelajari dan mendalami ilmu agama Islam. Akhirnya ia diambil menantu oleh Ki Ageng Gribig dan mendapat tugas untuk menyiarkan agama Islam .

Asal mula sebutan KI Bodho, pada awal perjuangan syiar agama, pada waktu itu di pulau jawa baru mengalami ancaman penjajahan portugis, sehingga beredar kabar akan ada penyerangan lewat pantai selatan. Bagi Raden Trenggono penyerangan diawali dengan suara  gemuruh (jlegur-jlegur) dari sura meriam, dimana sebenarnya suara utu adalah suara ombak laut di pantai selatan. 

Keadaan  tersebut memaksa Raden trenggono untuk bersiap-siap menghadapi serangan portugis sehingga kemudian membangun pos penjagaan di wilayah pantai selatan.
Pada saat itu, Sunan kalijaga datang di nanggulan, sehingga mengetahui apa yang dikerjakan Raden Trenggono. Sunan Kalijaga memahami bahwa ternyata Raden Trenggono masih Bodho dan kurang berpengalaman. Oleh karena kebodohannya itu  Raden Trenggono mempunyai sebutan KI BODHO

Pada awal kekuasaan panembahan senopati, Kerajaan mataram masih bersengketa dengan sultan pajang. Sultan Pajang berkeinginan untuk menarik kembali apa yang telah di tetapkan sebelumnya dengan ki ageng pamanahan tentang tanah untuk mataram. 
Dari keinginannya itu  Sultan pajang berupaya untuk senantiasa meningkatkan kemampuan dan kesaktiannya untuk merebut kembali tanah Pajang yang telah dikuasai mataram.

Sultan Pajang mengetahui sejarah eyang Raden Trenggono (Adipati Terung I) dimana mempunyai kesaktian yang luar biasa dan Sultan pajang berpikir kesaktian itu telah diwarisi oleh cucunya yaitu raden Trenggono. 
Berangkat dari pemikiran itu maka sultan pajang ingin berguru  dan mewarisi kesaktian Raden Trenggono tersebut dengan menjajikan hadiah yang menarik , namun Raden trenggono ingat dan menjunjung tinggi wasiat “ Tobat Turun pitu” dari eyangnya yaitu menghindari dan tidak ikut campur dalam perebutan kekuasaan atau urusan politik dengan sikap “tumbak waru ora melu-melu”, maka permohonan sultan pajang tidak dapat dipenuhi. 

Dengan sangat kecewa Sultan pajang pulang tanpa membawa hasil dari keinginannya. Kepulangann sultan pajang yang kecewa tersebut senantiasa sambil bergumam bahwa raden trenggono itu  KYAI Bodho.

 Di masa akhir hayat KI BODHO terjadi peralihan kekuasaan dari Terung dan Pajang ke mataram. Panembahan senopati yang mulai berkuasa pada saat itu baru saja menyelesaikan permasalahan dengan ki ageng mangir dimana wilayahnya dekat dengan pijenan. 
Panembahan Senopati tidak menginginkan adanya pengaruh ki Ageng mangir terhadap Ki Bodho. Dalam usaha panembahan senopati menjaga agar tidak ada pengaruh dari bekas hulubalang ki ageng mangir, serta rasa hormat dan segan beliau terhadap pewaris dan keturunan adipati Terung tersebut,maka Ki Bodho diberi rumah pemukiman di sebelah barat keraton Mataram dan diberi nama kampung BODHON. 

Disamping itu, akhirnya panembahan senopati memberi penghargaan lain yang lebih tinggi pada KI  Bodho yakni diberi ganti wilayah Terung yang telah di kuasai Mataram, sebuah tanah perdikan  dengan wilayah bekas kekuasan mangir yang letaknya disebelah timur sungai PROGO ke utara sampai kaki gunung merapi. KI BODHO diberi kedudukan sebagai penguasa Tanah perdikan tersebut dan diberi gelar PANEMBAHAN, sehingga lebih dikenal dengan sebutan PANEMBAHAN BODHO

 Akhirnya beliau meninggal dunia dan dimakamkan di Pasarean Sewu atau Makam Sewu  yang letaknya di desa WIJIREJO,PANDAK BANTUL YOGYAKARTA. 

Di pesarean Makam Sewu, setiap tahun diadakan acara yang telah turun temurun sebagai warisan budaya adiluhung para pendahulu yakni acara “ nyadran Makam sewu” acara ini diadakan para ahli waris dan anak keturunan, sebagai wujud rasa hormat dan baktinya pada Panembahan Bodho.

Maksud dan tujuan nyadran

Kegiatan upacara ini dimaksudkan untuk mendapat menghormati para leluhur yang sudah meninggal dan mendoakan agar dosa – dosanya diampuni Tuhan sehingga tempat disisinya , disamping itu agar yang ditinggalkan selalu mendapat keselamatan , murah rejeki dan sandang pangan.

Pelaksanaan Nyadran

Waktu pelaksanaan kegiatan ini dilaksanakan di makam Sewu setelah tanggal 20 ruwah . Bertepatan dengan tanggal Wafatnya Panembahan Bodo. Upacara Sadranan dilaksanakan sebanyak tiga kali , upacara pertama dilaksanakan pada hari minggu dimulai pukul 20.30 WIB di Los makam Sewu , upacara kedua pada hari senin pukul 08.00 Wib di dalam cungkup Panembahan Bodo , upacara ketiga pada hari senin siang pukul 14.00 WIB yang merupakan puncak acara Sadranan . Kegiatan ini dilaksanakan di Pendopo / Bangsal Panembahan Bodo.

Perlengkapan Upacara ‎ 

Pada upacara pertama dan kedua hidangan yang disediakan hanya konsumsi biasa sedangkan pada upacara ketiga berupa tumpeng , nasi wuduk dan nasi ambeng yang masing – masing beserta rangkaiannya . 

Adapun rangkaian perlengkapan sebagai berikut          
                                                          :
a.            Tumpeng : Nasi putih berbentuk kerucut ( gunung ) tanpa lauk pauk , 
melambangkan sebuah pengharapan kepada Tuhan supaya permohonannya terkabul.

b.            Nasi Gurih / Wuduk : Nasi putih diberi santan , garam dan daun salam sehingga rasanya gurih , nasi ini juga disebut nasi rasul karena nasi ini merupakan simbol permohonan keselamatan dan kesejahteraan  Nabi Muhammad SAW , para sahabat dan bagi penyelenggara dan peserta upacara

c.            Nasi Ambeng : Nasi ambeng ini disertai lauk pauk , dan dibungkus dengan daun pisang . Nasi ini disediakan oleh warga masyarakat.

d.            Ingkung : Ayam yang dimasak secara utuh diberi mumbu tidak pedas dan 
santan . Ingkung melambangkan manusia ketika masih bayi belum mempunyai kesalahan atau masih suci . Ingkung juga melambangkan kepasrahan kepada Tuhan.

e.            Bunga : Bunga terdiri dari bunga mawar , melati dan kenanga . Bunga ini 
melambangkan keharuman doa yang keluar dari hati yang tulus , kecuali itu bau harum mempunyai makna kemuliaan.

f.             Pisang Raja : Melambangkan suatu harapan agar kelak kemudian hari warga masyarakat desa Wijirejo hidupnya selalu bahagia seperti raja.

g.            Jajan Pasar : Sesaji yang terdiri dari bermacam – macam makanan yang dibeli  dari pasar , bermakna suatu harapan agar warga masyarakat desa  Wijirejo selalu memperoleh berkah dari Tuhan sehingga hidupnya selalu mendapatkan kelimpahan dalam mengerjakan sawahnya

h.            Ketan : Berasal dari kata Khotan yang artinya kesalahan

i.             Kolak : Berasal dari Qala yang artinya mengucapkan

j.             Apem : Berasal dari kata Aquwam yang berarti ampun . Ketan , kolak 
dan apem ini merupakan satu rangkaian yang bila diartikan secara keseluruhan berarti jika merasa salah cepat – cepatlah ‎mengucapkan mohon ampun

Makam Istri Panembahan Bodho 

Makam Nyai Brintik secara administratif terletak di Dusun Karang, Kalurahan Wijirejo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, Propinsi DIY. Letak makam Nyai Brintik ini tepatnya berada di sisi barat Pasar Pijenan pada jarak sekitar 1,5 kilometer.

Kondisi Fisik pemakaman 

Makam Nyai Brintik berada di sisi utara dari kompleks makam Dusun Karang. Makam ini telah dilengkapi cungkup. Cungkup terbuat dari bangunan tembok. Ukuran cungkup sekitar 4 m x 6 m. 

Cungkup memiliki satu pintu menghadap ke selatan. Nisan makam Nyai Brintik terbuat dari batu putih (tufa) dengan ukuran panjang sekitar 125 Cm, lebar 40 Cm, dan tinggi hingga kepala jirat 50 Cm.Cungkup makam Nyai Brintik juga dilengkapi dengan teras. Di teras ini diletakkan beberapa nisan dari sesepuh dusun setempat. Sementara di sisi nisan dari Nyai Brintik juga terdapat nisan lain yakni nisan dari Nyai Brintik yang bernama Joko Lelono. Nisan dari Joko Lelono berukuran panjang sekitar 100 Cm, lebar 40 Cm, dan tinggi 40 Cm. Nisan Joko Lelono juga terbuat dari batu putih.

Pada bagian tengah agak ke selatan dari kompleks makam di Dusun Karang ini juga terdapat nisan lain, yakni nisan dari putra Nyai Brintik, yakni nisan dari Kyai Gading Condrokusumo. Di sebelah nisan Gading Condrokusumo juga terdapat nisan lain yakni nisan dari Nyai Gading Condrokusumo yang tidak lain merupakan istri dari Kyai Gading Condro Kusumo. Nisan keduanya diletakkan dalam sebuah cungkup dengan dinding terbuka. Artinya, nisan tersebut hanya diberi atap yang terbuat dari seng yang disangga tiang dari cor beton di keempat sudutnya. Nisan dari Kyai dan Nyai Gading Condro Kusumo terbuat dari keramik warna merah. Panjang Nisan keduanya adalah 125 Cm dan lebarnya 50 Cm. Sedangkan tingginya 40 Cm.

Latar Belakang

Nyai Brintik merupakan istri dari Panembahan Bodo atau sering dikenal juga dengan nama Raden Trenggono atau Syeh Sewu. Makam dari Panembahan Bodo ini berada di Dusun Pijenan, Wijirejo, Pandak, Bantul, yakni di sisi utara dari kompleks makam Dusun Karang pada jarak sekitar 2 kilometer.

Sumber setempat menyebutkan bahwa Nyai Brintik adalah salah satu putri dari Sunan Kalijaga. Namun versi lain menyatakan bahwa Nyai Brintik adalah putra dari Kyai Santri dari Muntilan. Versi ketiga menyatakan bahwa Nyai Brintik adalah salah satu anak didik (santriwati) dari Sunan Kalijaga.

Nyai Brintik dulunya tinggal di Dusun Kauman bersama suaminya yang bernama Panembahan Bodo. Dusun Kauman ini terletak di timur Dusun Karang. 

Disebutkan bahwa Nyai Brintik ini pernah membuat bedug yang kemudian digunakan di sebuah masjid peninggalan Sunan Kalijogo di Kalibawang, Kulon Progo yang terkenal dengan nama Masjid Kedondong. Cara membawa bedug teresebut menurut cerita tutur setempat dilakukan dengan cara digendong oleh Nyai Brintik. Cerita tutur setempat juga menyebutkan bahwa Nyai Brintik juga memiliki ilmu kanuragan berlebih dibandingkan orang awam.

Ketika meninggal Nyai Brintik hendak dimakamkan di Makam Sewu di Pijenan. Rencananya akan dimakamkan di sisi makam suaminya, Panembahan Bodo. Akan tetapi ketika rombongan pembawa jenazah akan menyeberang Sungai Bedog sungai tersebut sedang banjir besar. Sungai Bedog ini menjadi pemisah antara Dusun Pijenan dengan Dusun Kauman dan Dusun Karang. 

Rombongan pembawa jenazah ini tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju Makam Sewu karena waktu itu belum ada jembatan yang menghubungkan kedua wilayah tersebut. Pemakaman jenazah pun ditunda. Penundaan berlangsung beberapa hari karena banjir Sungai Bedog tidak segera surut. Oleh karena banjir tidak segera surut, maka jenazah Nyai Brintik pun akhirnya dimakamkan di Dusun Karang. ‎

 

Sejarah Perjalanan Kyai Ageng Pandan Aran dan Makna Makam Tembayat


Sekitar tahun 1512 Ki Ageng Pandan Aran menyerahkan kekuasaan kepada adiknya, atas bimbingan sang Guru Kanjeng Sunan Kalijogo beliau uzlah, 
Perjalanan Ke Jabalkat
            
Singkat cerita Ki Ageng Pandan Aran akan pergi ke Jabalkat untuk mencari Sunan Kalijaga. Beliau berpamitan pada kedua istrinya. Baru melangkah beberapa meter, Ki Ageng  menoleh kebelakang. Dan ternyata kedua istrinya sudah mengikutinya dengan membawa tongkat. Tongkat itu diisi dengan emas dan berlian. Ki Ageng sudah tahu kalau istrinya membawa harta, namun Ki Ageng tidak menegurnya.
            
Dalam perjalanan ke Jabalkat Ki Ageng Pandan Aran selalu berjalan di depan istrinya. Istrinya Nyai Ageng Kaliwungu jauh di belakang. Di tengah perjalanan, tepatnya di selatan Semarang Ki Ageng Padang Aran dicegat 2 orang perampok. Kedua perampok itu menyuruh Kyai Ageng untuk menyerahkan hartanya. Namun Kyai Ageng  tidak membawa apa-apa dan menyuruh perampok-perampok itu jika ingin harta untuk mengambil tongkat yang di bawa wanita dibelakang. Di dalamnya terdapat emas dan berlian tapi jangan sekali-kali kalian mencelakainya karena dia istriku. Ambil saja tongkatnya dan segeralah pergi.
            
Tak lama kemudian lewatlah Nyai Ageng dengan membawa tongkat. Dan perampok-perampok itu langsung merebut tongkat tersebut. Nyai Ageng menangis sambil berlari menyusul Ki Ageng. Sedangkan istri yang satunya kembali pulang. Karena sifat perampok itu serakah mereka merasa belum puas dengan hasil rampasannya. Perampok itu meminta bekal yang di bawa Ki Ageng bahkan mengancam kalau tidak di beri akan membunuhnya. Kemudian Ki Ageng Pandan Aran berkata “Wong salah kok iseh tega temen (Bahasa Indonesia: orang sudah salah kok masih tega). Kata-kata salah tega itu kemudian sampai sekarang menjadi nama kota Salatiga.

Kemudian Ki Ageng Pandan Aran berujar “keterlaluan kau ini, tindakanmu mengendus seperti domba saja”. Dan seketika itu kepala dari Sambang Dalan (nama seorang perampok) berubah menjadi kepala domba. Mengetahui kepalanya berubah menjadi domba, Sambang Dalan menangis dan menyesal atas perbuatannya. Dan berjanji akan mengabdi pada Ki Ageng Sejak saat itu Sambang Dalan di juluki Syeh Domba.
            
Sedangkan perampok yang satunya lagi rebah ketakutan (dalam bahasa jawa: ngewel) dan kepalanya berubah menjadi kepala ular. Sejak saat itu dia di juluki Syeh Kewel. Kedua perampok tadi menjadi santri setia Ki Ageng. Dan mengikuti Ki Ageng untuk pergi ke Jabalkat
            
Hari demi hari berlalu, Ki Ageng  terus berjalan ke Selatan untuk menuju Ke Jabalkat. Mereka sudah jauh meninggalkan kota Semarang, namun Ki Ageng Pandan Aran tetap tegap berjalan sedangkan Nyai Ageng sudah lelah dan di ikuti oleh muridnya. Pada suatu hari Ki Ageng Pandan Aran berjalan terus tanpa henti, tanpa menghiraukan istrinya. Nyai Ageng tertinggal jauh di belakang. Lalu Nyai Ageng berkata “Ojo lali ingsun, aku ojo ditinggal terus” (bahasa Indonesia: jangan lupa kamu, istrimu jangan ditinggal terus). Sampai saat ini untuk mengingat hal itu tempat tersebut diberi nama Boyolali.
            
Perjalan mereka telah sampai di sebuah desa yang tidak jauh dari tujuannya. Rombongan Ki Ageng  melihat seorang perempuan tua yang membawa beras. Kemudian Ki Ageng Pandan Aran berkata “Tunggu sebentar Nyai, kami hanya ingin bertanya dimanakah Jabalkat itu?”. Perempuan itu menjawab “Kurang lebih sepuluh kilometer lagi ke Timur”. Kemudian Ki Ageng  bertanya lagi “Apakah yang Nyai bawa itu?”. Karena takut di rampok perempuan itu berbohong dan menjawab bahwa yang dibawanya adalah wedi (bahasa Indonesia: pasir).
            
Setelah rombongan Ki Ageng  berlalu, perempuan tadi merasa beras yang di gendongnya semakin berat. Ternyata setelah di lihat, beras yang dibawanya tadi berubah menjadi wedi (pasir). Perempuan itu menyesal karena sudah berbohong. Dalam hatinya ia bertanya siapakah rombongan tadi dan perempuan itu bertekat tidak akan berbohong lagi. Kemudian desa tempat membuang wedi (pasir) tadi sampai sekarang terkenal dengan nama Wedi, salah satu nama  kecamatan di wilayah Kabupaten Klaten.
            
Singkat cerita, pada suatu hari Ki Ageng  bermalam di salah satu rumah penduduk desa. Orang ini berjualan srabi, namanya Nyai Tasik orangnya galak dan kikir. Disini Ki Ageng ikut berjualan srabi dan mengaku bernama Slamet. Dengan kehadiran Slamet inilah srabi Nyai Tasik laris sekali. Sampai-sampai banyak orang rela berjam-jam antri untuk membeli srabi buatan Nyai Tasik.
            
Suatu hari Nyai Tasik menyuruh Slamet untuk mencari kayu bakar di hutan karena persediaan kayu bakar sudah habis. Namun anehnya Slamet tidak mencari kayu bakar tetapi srabi tetap matang. Ternyata tangan Slamet di masukkan ke dalam tungku untuk memasak srabi. Alangkah terkejutnya Nyai Tasik mengetahui hal itu.
            
Dengan kejadian itu Nyai Tasik takut dan tahu bahwa Slamet bukanlah orang sembarangan. Dengan kejadian itu Ki Ageng Pandan Aran memberi tahu Nyai  Tasik siapa dirinya. Nyai Tasik Pun Bertaubat dan mengikuti ajaran Kyai Ageng. Dan setelah itu Ki Ageng Pandan Aran melanjutkan perjalanan Ke Jabalkat. Beliau melanjutkan perjalanan ke arah timur. Baru melangkah beberapa meter sudah terlihat dari kejauhan Gunung Jabalkat.
            
Tibalah Ki Ageng Pandan Aran di sebuah desa. Di desa ini Ki Ageng  merasa haus sekali. Ki Ageng meminta ketimun pada seorang petani. Namun petani itu berkata bahwa ketimunnya belum berbuah. Tetapi Ki Ageng tahu bahwa ketimunnya sudah berbuah satu. Lalu Ki Ageng Pandan Aran berkata “Iki wes jiwoh” (jiwoh=siji awoh). Maka sampai sekarang desa itu terkenal dengan nama desa Jiwo, terletak di sebelah barat Gunung Jabalkat.
           
Setelah Ki Ageng Pandan Aran meninggalkan desa Jiwo, baru beberapa meter berjalan sudah sampai di kaki Gunung Jabalkat. Kemudian dengan segera Ki Ageng  menaiki gunung tersebut. Setelah sampai di puncak Gunung Jabalkat, Ki Ageng Pandan Aran terdiam lama menunggu Sunan Kalijogo  Kemudian Ki Ageng Pandan Aran meminta petunjuk Alloh dan sesaat kemudian terlihat sosok tubuh yang tak lain adalah Sunan Kalijogo Sang Guru yang sangat dinantikan.
            
Mulai saat itu Kyai Ageng Pandan Aran tinggal di Jabalkat dan merasa mendapat perintah untuk menyiarkan agam islam. Lalu Ki Ageng mendirikan masjid di puncak Gunung Jabalkat. Dan setiap hari Jumat Legi ada sarasehan. Dengan adanya pengajian ini, rakyat di sekitar mengenalnya dengan sebutan Kyai Ageng Pandan Aran yang berarti orang yang memberi pepadang atau penerangan. Dan tempat untuk berkumpul diberi nama Paseban. Sampai sekarang nama Paseban menjadi nama dukuh atau desa.
            
Syeh Domba dan Syeh Kewel diberi tugas oleh Kyai Ageng Pandan Aran untuk mengisi padasan (tempat wudhu) dengan kranjang. Walau tugas itu berat namun tetap mereka jalani. Mereka harus naik turun gunung untuk membawa air tesebut. Mereka tetap tabah dan tawakal. Hingga pada suatu hari Sunan Kalijaga melihat keduanya, kemudian menanyakan kepada Kyai Ageng “Kedua muridmu itu apakah memang domba dan ular?”. Sunan Pandan Aran menjawab sebenarnya juga manusia. Dan seketika itu kepala Syeh Domba dan Syeh Kewel berubah lagi menjadi kepala manusia.
           
Syeh Domba dan Syeh Kewel semakin mantap beguru kepada Sunan Pandan Aran, hingga meninggalnya mereka. Syeh Domba meninggal lebih dahulu. Kyai Ageng Pandan Aran memberi pusaka dan Syeh Domba meninggal karena menabrak pusaka itu. Konon Syeh domba adalah patih Majapahit karena patih Majapahit hanya bisa mati dengan pusaka itu. Syeh Domba di makamkan di Gunung Cakaran. Sedangkan Syeh Kewel di makamkan di Sentana (di desa Penengahan, sebelah tenggara desa Paseban).

Dalam perjalanan uzlahnya dari urusan duniawi beliau mengajarkan ilmu-ilmu agama dengan metode patembayatan yang mempunyai makna kurang lebih musyawaroh. Karena sistim mengajinya dengan metode tersebut beliau oleh Sang Guru (Sunan Kalijaga) mendapat sebutan Sunan Bayat. Dan daerah padhepokannya terkenal dengan daerah Bayat yang terletak kurang lebih 12 km. dari ibukota kabupaten Klaten.

Ki Ageng Sunan Pandan Aran wafat pada tahun 1537 dengan meninggalkan murid-murid yang sangat terkenal antara lain : Syeikh Dombo, Ki Ageng Gribig, Nyai Ageng Tasik, Kyai Sabuk Janur, Kyai Sekar Dlimo, Ki Ageng Semilir, Ki Ageng Majasto, Kyai Kali Datuk, Ki Ageng Konang serta masih banyak yang lainnya.

Ki Ageng Sunan Pandan Aran merupakan wali penutup atau terakhir dalam kumpulan wali sanga. 
Sebagai penghormatan Sultan Hadiwijaya pada tahun 1566 membangun makam beliau 
Dan pada tahun 1633 diperluas oleh Sultan Agung dan diberikan ajaran-ajaran yang tersirat dari tata cara dalam melaksanakan ritual ziarah dan bentuk bangunan yang ada di makam Ki Ageng Sunan Pandan Aran, 
insyaalloh sebagian akan diuraikan dibawah ini.

Sebelum menguraikan ajaran yang tersirat dari ritual dan bentuk bangunan makam alangkah baiknya apabila kita mengenang salah satu ajaran Ki Ageng Sunan Pandanaran sebelum meninggal yaitu :

Syare’at Golo.

Golo terdiri dari dua huruf Jawa Go dan Lo, huruf Go adalah angka 1 dalam angka Jawa dan Lo adalah angka 7, yen sliramu pingin dadi manungsa kang sampurno nyuwuno pituduh, pitutur, pitulungan marang Dzat kang Tunggal kanthi nindakno 17 dawuh-E(Terjemahan bebasnya kalau kamu kepingin menjadi manusia yang sempurna mintalah petunjuk, nasehat dan pertolongan kepada Dzat yang Maha Esa dengan melaksanakan 17 perintah-Nya(Sholat 17 rokaat).

Dan syareat tersebut diabadikan menjadi nama masjid Golo.

Adapun puncak ajaran dari syareat golo ini terlukis dari penamaan puncak Jabalkat. Jabalkat dari kata Jabal Uhud yang merupakan kata dari bahasa Arab dimana Jabal berarti gunung, uhud merupakan kata ganti dari Ahad yang berarti Esa. Artinya Gunung Keesaan (puncak dari tauhid), apabila kita bisa benar-benar melaksanakan sholat wajib 17 rokaat sehari.

Sejarah Masjid Golo
            
Ki Ageng Pandan Aran mendirikan masjid di puncak Gunung Jabalkat. Pada zaman dahulu, sewaktu Ki Ageng Pandan Aran akan sholat Subuh, raja Demak (Raden Fatah) merasa tergangggu dengan suara azdan karena mengganggu tidurnya. Sehingga Raden Fatah menyuruh prajuritnya untuk memperingatkan adzan Ki Ageng Pandan Aran terlalu malam dan menyuruh untuk menurunkan masjid. Namun sebelum utusan dari demak itu sampai di Jabalkat, Ki Ageng Pandan  Aran sudah mengetahuinya. Dalam semalam masjid itu sudah berada di lereng gunung Jabalkat. Sehingga masjid ini disebut juga dengan Masjid Tiban.
            
Sampai sekarang masjid itu diberi nama masjid Golo, yang artinya Go=1 Lo=7 (angka jawa). Artinya 17 rekaat sholat sehari semalam. Maksud Sunan Tembayat yaitu agar manusia melaksankan sholat sehari semalam berjumlah 17 rakaat. Yaitu Isak 4 rakaat, Shubuh 2 rakaat, Dhuhur 4 rakaat, Ashar 4 rakaat, dan Magrib 3 rakaat. Alasan lain penyebab di turunkannya masjid Golo adalah agar masyarakat lebih mudah jika ingin ke masjid untuk melaksanakan sholat.
            
Luas masjid Golo adalah 12x12 m. masjid Golo termasuk masjid purbakala dan berdirinya tahun berapa tidak diketahui. Secara fisik arsitektur masjid Golo bercorak Hindu. Terlihat dari pintu masuk masjid. Masjid Golo terdiri dari empat pilar utama yang berupa stupa (Budha). Tempat imam pun berbeda dengan masjid kebanyakan. Tempat imam diberi pintu dan karpet yang digunakan imam, yang terletak paling depan adalah kloso (tikar) (artinya kloso = ngen nelongso).

Di sebelah utara masjid terdapat sebuah pintu yang namanya adalah pintu Rosul. Di pintu itu yang boleh lewat adalah Rosul. Namun bukan berarti harus Rosul tetapi Habib juga boleh lewat. Di dalam masjid terdapat 2 khutbah dan ada payung juga. Alasannya karena sharo’ (perintah ghaib). Di depan masjid terdapat sebuah gentong. Gentong itulah yang dulu diisi oleh Syeh Domba dan Syeh Kewel.

Sampai sekarang masjid Golo ini masih berdiri kokoh. Yang letaknya sebelum kita memasuki kompleks makam Sunan Pandan Aran. Dari jalan masjid Golo ini sudah kelihatan. Jika kita berziarah kesana kurang lengkap jika tidak ke masjid Golo ini.
          
Jika kita berziarah ke makam Sunan Pandan Aran kurang lengkap kalau tidak membawa pulang oleh-oleh. Oleh-oleh berupa kerajinan maupun makanan dari orang-orang desa. Kerajinan dan makanan ini mempunyai sejarah. Misalnya kendi, maksud dari kendi ini adalah jika kita setelah berziarah pulang dengan membawa air suci dari Sunan Pandan Aran. Karena kendi ini terbuat dari tanah liat dan mudah pecah, maka sebagai lambang kendi ini dibuat untuk kenang-kenangan.
            
Di masa Sunan Pandan Aran Bayat bersama santri-santrinya di masjid Golo ada santri namanya Syeh Bela-belu (Raden Djoko Dhandhun) . Syeh Bela-belu ini selalu berdoa agar keinginannya di kabulkan dengan cara beliau tidak pernah tidur. Jika mengantuk ia makan dan makanan yang di makannya adalah intip (kerak nasi). Dengan hal ini maka intip (kerak nasi ) sangat terkenal di daerah sekitar makam.
            
Setelah berziarah kita wajib menyebarluaskan ajaran dan petuah Sunan Pandan Aran. Maka tak heran jika banyak peziarah yang pulang dengan membawa kenang-kenangan kipas. Kipas itu merupakan simbol dari perlambang penyebarluasan ajaran Sunan Pandan Aran kepada saudara-saudara kita.
            
Gunung Cokro Kembang tempat makam Sunan  Pandan Arang di semayamkan terletak di sebelah timur Gunung Jabalkat. Banyak bangunan yang merupakan petilasan atau peninggalan beliau. Peninggalan-peninggalan itu antara lain :

1.      Gapura Segara Muncar
Gapura Segara Muncar merupakan gapura pertama yang menjadi pintu masuk halaman atau komplek makam Sunan Pandan Aran.

2.      Gapura Dhuha
Gapura Dhuha ini adalah gapura yang di lewati ketika para peziarah menaiki tangga menuju makam Sunan Pandan Aran. ± 250 anak tangga yang harus kita naiki untuk sampai di gerbang masuk bangsal peristirahatan.

3.      Gapura Pangrantungan
Di dalam kompleks makam ini terdapat halaman yang memiliki 2 bangsal yaitu bangsal Nglebet, sebagai tempat peristirahatan dan untuk menerima tamu wanita. Yang satunya bangsal Jawi yaitu sebagai tempat peristirahatan dan untuk menerima tamu pria. Dan diantara tempat itu terdapat tempat untuk menerima tamu yang berziarah di makam Sunan Pandan Aran.

Jika kita memasuki kompleks makam maka kita akan melihat sebuah masjid. Gapura Pangrantungan terdapat di sebelah masjid ini. Setelah melewati Gapura Pangrantungan maka kita akan memasuki gerbang masuk kompleks makam para sahabat Sunan Pandan Aran

 4.      Gapura Panemut
Gapura ini tertera tulisan atau prasasti yang bunyinya “Wisaya Hanata Wisking Ratu”. Sangkala itu menunjukkan tahun pembuatan, artinya Wisaya = 5, Hanata = 5, Wisik = 5, Ratu = 1. Ini berarti gapura ini didirikan tahun 1555 Saka.

5.      Gapura Pamuncar

6.      Gapura Balekencur

7.      Gapura Prabayeksa
Gapura ini merupakan gapura terakhir sebelum ke makam Sunan Pandan Aran. Di dalam kompleks ini terdapat gentong. Gentong ini bernama Gentong Sinaga yang dulu gentong inilah yang di isi oleh murid Sunan Pandan Aran. Air di Gentong Sinaga ini dulu digunakan oleh Sunan Pandan Aran dan para sahabatnya untuk wudhu.

8.      Regol Sinaga
Setelah melewati Regol Sinaga inilah kita sudah berada di makam Sunan Pandan Aran. Makam beliau terketak diantara makam istri dan kerabatnya. Menurut cerita makam-makm itu ialah makam Nyi Ageng Madalem, Pangeran  Winang, Kyai Kali Datuk, Kyai Sabuk Janur, Kyai Banyubiru, Kyai Mlanggati, Kyai Panembahan Sumingit Wetan, Kyai Panembahan Masjid Wetan dan Panembahan Kabul. 
Makam Sunan Pandan Aran tertutup oleh bilik sehingga kita hanya bisa melihat bilik tersebut.

RITUAL DAN BANGUNAN MAKAM YANG PENUH DENGAN AJARAN (YANG MEMBANGUN SULTAN AGUNG ):

Makam Ki Ageng Sunan Pandan Aran terletak diperbukitan, masuk dalam wilayah kalurahan Paseban kecamatan Bayat Kabupaten Klaten. Persisnya 12 km. sebelah selatan ibukota kabupaten Klaten, dan dapat ditempuh melalui kota Klaten dengan menggunakan kendaraan umum (omprengan) maupun Bus antar kecamatan jurusan Klaten-Semin dengan ongkos yang terjangkau.

Dari atas perbukitan tempat makam Ki Ageng Pandan Aran kita dapat melihat pemandangan yang sangat menarik hati. Bukit-bukit disekitarnya sangat indah dipandang.

Memasuki areal pemakaman kita akan melihat bangunan yang sangat artistik modifikasi dari bangunan candi lengkap dengan gapura yang penuh dengan ukiran. Apa yang akan kita lihat ketika ziarah ke makam Sunan Pandan Aran sebetulnya penuh dengan pendidikan ketauhidan yang sangat dalam. Namun karena kita masyarakat awam menganggap bahwa ritual dan bangunan yang ada di makam tersebut penuh dengan tradisi Hindu/Kejawen/Kesepuhan.

Tata cara yang penulis ketahui dan banyak diyakini kebenaranya oleh peziarah antara lain: 
Supaya terkabulnya permintaan peziarah diharapakan membawa bunga, mengitung jumlah tangga naik-turun harus sama, ziarah ke makam kijing wilangan, ketika pulang dianjurkan untuk membawa bunga Kanthil, intip(kerak nasi) dan pisang kepok. Dari bentuk bangunan : Tangga yang dibikin berkelok-kelok , gapura dengan jumlah 11, balai paseban, genthong Sinaga, gedhong inten (Puncak Makam dimana Sunan Pandan Aran dimakamkan). 
Dan masih banyak lagi ritual ataupun bangunan yang lepas dari pengamatan penulis.

Ritual ziarah Makam Sunan Bayat

Filsafat Membawa Bunga

Tujuan dari ziarah kubur pada hakekatnya adalah salah satu sarana belajar untuk mengingat-ingat bahwa kitapun akan dikubur/meninggal. Setelah meninggal apa yang harus kita bawa ?

Marilah kita lihat lagi surat Al-Kahfi ayat : 45-46 yang terjemahan bebasnya kurang lebih :”Dan berilah perumpamaan kepada mereka(manusia), kehidupan dunia adalah seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka tumbuh-tumbuhan menjadi subur karenanya di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu, serta lebih baik untuk menjadi harapan.”

Dari ayat di atas sangatlah jelas apa yang mesti kita bawa ketika menghadap kepada Dzat yang telah menciptakan dan yang akan menanyakan pertanggung jawaban kita takala hidup di dunia ini. Bahkan harta dan anak-anakpun wajib kita pertanggung jawabkan kepada Allah SWT, besok pada hari pembalasan.
Saat kita melakukan ziarah kubur seolah-olah kita wajib membawa bunga. 

Dimakam Ki Ageng Sunan Pandan Aran pun ketika akan naik ke makam kita dianjurkan untuk membawa bunga Mawar, Kenanga, Kanthil, Melati, layaknya orang yang akan melakukan sesajen. Tujuan dari membawakan bunga menurut orang-orang yang mempercayai bahwa arwah setelah meninggal masih berhubungan dengan keluarga yang masih hidup oleh sebab itu merekapun membawakan kiriman berupa bunga. 

Kitapun masyarakat muslim yang menganut faham ahlussunnah juga mempunyai kepercayaan bahwa orang yang telah meninggal masih bisa menerima kiriman do’a, amal perbuatan baik berupa shodaqoh, haji dan amal-amal lainnya. Sedangkan bunga dari kiriman itu bila kita maknai akan berbunyi : Mawarno-warno kaindahaning tindak-tanduke mayit kenengno lan kanthilno ing ati lan tindakno sakbisa-bisamu supoyo ora malati(Berbagai macam kebaikan /jasa almarhum masukan dalam hatimu agar menghujam sampai dalam, kenang dan catat dalam hatimu lan laksanakan sekuat-kuatmu agar kamu tidak mendapat bilahi/tuah).

Dari sini kita bisa memetik pelajaran bahwa bekal kita untuk menghadapi kematian adalah bunga kehidupan/amal perbuatan kita semasa hidup. Bunga kehidupan haruslah berdasarkan tuntunan syari’at yang dibawa oleh Junjungan kita Nabi Muhammad SAW, ke bawah sampai dengan ulama-ulama sekarang karena kita sudah tidak bertemu langsung dengan junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

Apabila kita ingat bahwa apa yang akan menjadi bekal ketika kita naik/meninggal tentu kita akan banyak mendekat pada para ulama untuk mendapatkan petunjuk menghadapi kematian dan agar kita tidak salah membawa bekal menghadap kepada Sang Khaliq.

Filsafat Menghitung tangga

Ziarah ke makam Sunan Pandan Aran kita harus menaiki tangga, konon menurut kepercayaan barang siapa yang bisa mengitung jumlah tangga naik turunnya sama maka orang tersebut akan bahagaia atau bakal tercapai apa yang diidamkan.

Tangga adalah salah satu alat untuk memanjat bangunan yang tinggi, sedangkan arwah ketika dicabut diistilahkan dengan diangkatnya roh.
Orang yang telah meninggal tentu akan mengahadapi hari perhitungan. Pada hari itu banyak orang yang sangat menyesal karena, lalai dengan peringatan yang telah didengarnya. Untuk itu sebelum datang hari perhitungan alangkah baiknya apabila kita mau menghitung apa yang telah kita perbuat. Jika hari ini kita melakukan kesalahan cepat-cepat melakukan tobat, mohon ampun kepada Dzat Yang Maha Pengapun dan Maha Penghitung. Ini akan sangat sesuai dengan hadits nabi yang artinya kurang lebih : “Hitung-hitunglah kesalahan dirimu sebelum kalian dihitung dan timbanglah kesalahan dirimu sebelum ditimbang nanti di akhirat.”

Hisab seorang hamba (manusia) terhadap dirinya sendiri adalah dengan bertaubat, menyesali perbuatannya, dan melepaskan seluruh kemaksiatan sebelum meninggal dunia. Disamping itu ia juga menambal kekurangan yang disebabkan oleh sikap sembrono dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban Allah, mengembalikan hak-hak orang lain yang diambil secara dzalim, meminta halal kepada orang-orang yang didzalimi dengan lidah atau tangannya. Sehingga orang tersebut meninggal dunia dengan tanpa membawa dosa kedzaliman kepada orang lain.

Adapun orang yang mati, sedangkan ia membawa dosa-dosa kedzalimannya, maka besok (di akhirat) ia akan dikerumuni oleh mereka yang pernah didzaliminya. Di antara mereka lalu mengatakan: “Inilah dulu orang yang pernah mendzalimiku (di dunia) pada hari ini dan itu.” Yang lain lagi mengatakan:”Inilah orang yang pernah mencaci maki aku.” Yang lain mengatakan: “Inilah orang yang pernah menggunjing kejelekanku, sehingga aku merasa sakit hati.” Yang lain lagi juga mengatakan: “Inilah dia, orang yang pernah menjadi tetanggaku, tetapi dia suka menyakiti hatiku dan tidak pernah memenuhi hak bertetangga.” Masih ada lagi yang mengatakan: “Inilah dulu orang yang aku membeli sesuatu darinya, akan tetapi ia menipuku.”

Inilah kondisi di hari kiamat nanti. Para pelaku kedzaliman akan dipertemukan dengan orang yang pernah didzaliminya. Perbuatuan batil mereka akan dibalas langsung oleh orang-orang yang pernah didzalimi. Ada yang membalas dengan tangannya langsung, ada yang meminta ganti rugi, ada pula yang membalas dengan menyeret kepalanya dan lain sebagainya.

Dalam hal ini Rasululloh SAW pernah bersabda, mendiskripsikan fenomena tersebut dalam sabdanya: “Apakah kalian tahu siapakah orang yang bangkrut itu?” Kami (para sahabat) menjawab: “Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak mempunyai dirham, dinar dan kekayaan sama sekali.” Beliau SAW lalu mengatakan: “Orang yang bangkrut dari golongan umatku adalah orang yang di hari kiamat kelak datang dengan membawa pahala amal shalat, puasa dan zakat, akan tetapi ia telah melakukan dosa mencaci maki orang ini, menuduh orang ini, memakan harta orang ini, mengalirkan darah orang ini, memukul orang ini. 

Maka akhirnya, orang-orang tersebut diberikan pahala dari orang yang pernah berbuat dzalim itu. Apabila amal kebaikannya telah habis sebelum diputuskan apa yang akan menimpa padanya, maka dosa-dosa mereka yang pernah didzalimi akan ditimpakan kepadanya. Akhirnya iapun dilempar ke neraka.”
Sangat beruntunglah orang yang bisa menghisap/menghitung apa yang telah diterima dan apa yang telah diberikan-Nya, syukur-syukur bisa sama antara pemberian dan yang telah diterimanya. Dan lebih beruntung lagi orang yang tidak tahu apa yang telah diterima dan yang telah diberikan.

Filsa Kijing wilangan / Mengitung batu-bata dan mengukur makam (ndepani makam* Jawa)

Di sebelah barat makam induk (Gedong inten) terdapat beberapa makam salah satunya makam penderek Ki Ageng Sunan Pandan Aran yang beranama ki Sebata. Makam ini menjadi satu komplek dengan makam Ki Ageng Dampo Awang, kedua makam ini dipercaya oleh masyarakat umum bahwa masing masing mempunyai kekeramatan sendiri-sendiri.

Makam Ki Ageng Sebata dipercaya bahwa apabila kita bisa menghitung jumlah batu bata yang menjadi kijingnya, berulang-ulang dan jumlahnya selalu sama. Maka maksud kita bakal tercapai.

Perlu kita cermati dan perhatikan benar-benar bahwa kata Sebata sepadan (istilah sekarang plesetan) dengan kata sepata dalam bahasa Indonesia berarti Sumpah. 

Sebagai umat Islam kita tentu ingat dalam al-Qur’an surat Al A’raaf ayat 172-174 Allah SWT. telah berfirman yang artinya: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikan itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesusngguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan), atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?”. Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran).

Juga dalam surat ar-Ra’du: 16 yang artinya :

“Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah” Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi mereka sendiri?” Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha perkasa”

Setelah kita lahir dan memasuki usia baligh kita wajib mengucapkan lagi sumpah itu, dan menjadi salah satu rukun dari rukun Islam yang pertama. Sumpah kita kepada Dzat yang Maha Esa yang disebut dengan Syahadat. Kita benar-benar dianggap orang Islam jika telah bersumpah dengan lisan dan membenarkan dengan hati, dimanisfestasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. 

Sudah selayaknya apabila Sultan Agung memberikan ajaran agar orang bisa mengitung sumpahnya itu sudah selaraskah dengan hati dan perbuatannya. Jika lisan, hati dan perbuatan selalu selaras maka akan beruntunglah kita sebagai manusia.
Makam ki Ageng Dampo Awang dipercaya apabila kita akan menjadi mulia apabila kita bisa depani (mengembangkan lengan tangan selebar-lebarnya) dan bisa sampai antara maesan di kepala dan kaki, maka akan cepat terkabul apa yang menjadi cita-cita kita.
Sebelumnya perlu kita ketahui bahwa ki Dampo Awang adalah salah satu orang kepercayaan Ki Ageng Sunan Pandan Aran yang berasal dari negeri seberang (Cina). Kita sebagai orang ajam (Jawa) tentu sangat asing dengan ajaran Islam yang menggunakan bahasa Arab. Namun apabila kita mau berusaha untuk menghembangkan dada dan mau depani mengukur dengan cara belajar yang sungguh-sungguh maka akan tercapailah apa yang kita idamkan hidup bahagia dunia dan akhirat.
Filsafat Bunga kanthil, Intip/Kerak nasi dan Pisang Kepok
Setelah berdo’a dan menabur bunga di dalam makam induk kita dianjurkan untuk mencari bunga yang telah kita sebar di atas makam dan bunga yang kita cari adalah bunga kanthil.
Maksud dari ritual tersebut, setelah kita mempunyai bekal/bunga kehidupan yang kita tebar di atas dunia ini seyogyanya kita mempunyai satu amalan yang perlu kita istiqomahkan.
Mencari bunga kanthil di makam Ki Ageng Pandan Aran mempunyai pengertian hendaklah kita pelajari apa yang telah ditinggalkan oleh almarhum, dan kita masukan dalam lubuk hati sedalam-dalamnya agar benar-benar kemanthil-manthil. Dan menjadi salah satu amalan kita.
Contoh yang paling mudah adalah pelajaran Syare’at golo yang telah disebutkan diatas. Apabila kita mau renungi ajaran dari syareat golo kita akan benar-benar menjadi seorang muslim. Karena tiang dari agama kita adalah Sholat seperti tersebut dalam hadits nabi Muhammad SAW. Yang artinya kurang lebih : “Sholat adalah tiang agama …….. “
Setelah kita ziarah ketika keluar dari areal makam tersedia buah tangan yang menjadi ciri khas makam Ki Ageng Sunan Pandan Aran berupa intip (kerak nasi) dengan rasa asin maupun manis serta pisang kepok (gedang kepok).
Intip atau kerak nasi adalah nasi yang paling bawah dan paling matang sendiri bahkan sampai hangus mempunyai rasa yang khas apalagi bila dijemur sampai kering kemudian digoreng dengan diberi rasa asin atau manis.
Maksud dari oleh-oleh intip ini adalah belajarlah/membacalah kamu sampai benar-benar paham (mengerak/ngintip) baru kamu boleh pulang dengan membawa ilmu yang benar-benar matang jangan hanya setengah-setengah.
Pisang kepok/gedang kepok mempunyai arti gek ndang kapok. 
Maksudnya setelah kita mengetahui dosa-dosa dan kesalahan-kesalhan kita cepat-cepatlah bertobat, dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama pada kesempatan yang lain.
Dalam surat Ali Imron ayat 133-135 Allah SWT telah berfirman yang artinya kurang lebih :”Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang mau menafkahkan (hartanya) diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang mau menahan amarahnya. Dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan juga orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji(fahisyah) atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah lalu mmemohon ampun atas dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”
Dan dari sahabat Anas bin Malik r.a, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Allah berfirman: “Wahai ibnu Adam (manusia), sesungguhnya (meskipun) kamu tidak memohon dan mengharap kepada-Ku atas apa yang ada padamu, Aku tidak peduli. Wahai ibnu Adam (manusia), seandainya dosa-dosamu telah memenuhi kolong langit, kemudian kamu mau mohon ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni. Sesungguhnya jika kamu telah berbuat dosa kepada-Ku seluas bumi, kemudian kamu mendatangi-Ku dengan tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Ku, niscaya kamu akan Aku dekati dengan ampunan.
Sesungguhnya pintu-pintu surga tertutup semuanya sampai hari kebangkitan dan penggiringan manusia, kecuali pintu taubat. Ia akan selalu terbuka siang dan malam untuk orang-orang yang mau bertaubat. Kapan saja mereka bertobat, mau kembali dan menghentikan dari sesuatu yang dilarang. Bahkan Tuhan kita yang mempunyai Keagungan dan Kemuliaan akan turun tiap malam pada sepertiga malam yang terakhir seraya memanggil-manggil hamba-Nya: “Apakah ada diantara hamba-Ku yang mau bertaubat, apakah ada diantara hamba-Ku yang mau memohon ampun ‘beristighfar’.
Orang-orang yang mau bertaubat sesungguhnya cukup mendapatkan kemulian dan derajat dari Allah, sebab secacra khusus Allah menegaskan akan kecintaan-Nya kepada mereka, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an al-Karim:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang mau bertaubat dan mencintai orang-orang yang mau mensucikan diri” (QS. Al-Baqoroh: 222)
Allah SWT juga berfirman kepada orang-orang yang bermaksiat:
“Mengapa mereka tidak mau bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya ? Padahal Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang” (QS. Al-Maidah: 74)
Ada suatu riwayat ketika iblis la’natullah dikeluarkan dari surga dan diberi batas tempo, ia berkata: “Ya Tuhanku, demi keluhuran-Mu dan keagungan-Mu, saya tidak akan pernah berhenti untuk membujuk dan menggoda manusia, selagi di dalamnya masih ada ruhya”. Allah pun lalu menjawab: “Demi keluhuran dan keagungan-Ku, Aku tidak akan menghalangi taubatnya selagi ruh masih ada di dalam tubuhnya.
Oleh karena itu kami memohon rahmat-Mu, wahai Tuhan dan Pencipta kami. Dan kami memohon dengan rahmat-Mu, wahai Dzat yang Maha Pengasih diantara yang pengasih, agar kami dijaga dari berbagai musibah cobaan (fitnah) ‎

 

Jejak Keislaman dan Kewalian Pangeran Pamanah Rasa (Siliwangi)

 

‎SILSILAH PRABU SILIWANGI

Prabu Siliwangi seorang raja besar dari Pakuan Pajajaran seorang Muslim juga seorang Wali Allah . Putra dari Prabu Anggalarang kerajaan Gajah dari dinasti Galuh yang berkuasa di Surawisesa atau Kraton Galuh. Pada masa mudanya dikenal dengan nama Raden Pamanah Rasa. Diasuh oleh Ki Gedeng Sindangkasih, seorang juru pelabuhan Muara Jati.
Silsilah Prabu Siliwangi sebagai ke turunan ke-12 dari Maharaja Adimulia.

MAHA RAJA ADI MULYA / RATU GALUH AJAR SUKARESI nikah ka Dewi Naganingrum / Nyai Ujung Sekarjingga a Puputra :
PRABU CIUNG WANARA a Puputra :
SRI RATU PURBA SARI a Puputra :
PRABU LINGGA HIANG a Puputra :
PRABU LINGGA WESI a Puputra :
PRABU SUSUK TUNGGAL a Puputra :
PRABU BANYAK LARANG a Puputra :
PRABU BANYAK WANGI a Puputra :
PRABU MUNDING KAWATI / PRABU LINGGA BUANA a Puputra :
PRABU WASTU KENCANA ( PRABU NISKALA WASTU KANCANA ) a Puputra :
PRABU ANGGALARANG ( PRABU DEWATA NISKALA ) nikah ka Dewi Siti Samboja / Dewi Rengganis a Puputra :
SRI BADUGA MAHA RAJA ( WALIYULLOH JAYA DEWATA RADEN PAMANAH RASA ) (1459-1521M)
 ( GELAR : PRABU SILIWANGI )

 GADUH ASISTEN MAUNG BODAS TI BANGSA JIN NGARANA SI TABLO / PRABU GILING WESI SAKTI DI CURUG SAWER TALAGA MAJALENGKA MAQOM PRABU SILIWANGI DI RANCAMAYA – BOGOR ngaosna ka Syekh Quro Karawang ( Syekh Hasanuddin bin Yusuf Al-Husainy madzhab Hambaliy,

GURU PRABU SILIWANGI

1.   Syekh Quro Karawang ( Syekh Hasanuddin bin Yusuf  bani Al-Husain cucu Nabi Saw. ) dan
2.   Syekh Datuk Kahfi Cirebon yang juga dari bani Al-Husain cucu Nabi Saw.
SEKILAS SIROH / RIWAYAT HIDUP PANGERAN PAMANAH RASA ( PRABU SILIWANGI ) :

Pangeran Pamanah Rasa Menjadi Raja Di Kerajaan Gajah

Semenjak abad empat belas setelah Pangeran Anggalarang mengajarkan kembali keilmuanya untuk mejadi seorang raja, agar bisa memimpin kerajaan dan rakyat-rakyatnya, dari situ Pangeran Pamanah Rasa di angkat oleh ayahnya pangeran Anggalarang menjadi raja ke dua dari kerajaan Gajah, yang disebut-sebut kerajaan Gajah itu simbol atau tanda lambang kerajaan yang di bawa dari adat atau budaya, karena jika punya kerajaan harus tahu nama kerajaannya.

Pangeran Pamanah Rasa berkelana, dan mempunyai  Macan Putih ( dari bangsa Jin )

Pangeran Pamanah Rasa ingin mencoba keluar meninggalkan saudara-saudaranya ( yakni Prabu Rangga Pupukan dan Prabu Jaya Pupukan ) dan rakyat gajah, untuk keluar dari kerajaan gajah  guna mencari ilmu dan mengunjungi kerajaan-kerajaan yang lain sambil beliau memperkenalkan diri bahwa beliau yang memegang kerajaan Gajah, Beliau pergi sendiri tidak di kawal oleh satu orang pun padahal prajurit-prajuritnya banyak yang menawarkan diri agar di kawal, tetapi beliau tetap pergi sendiri.

Setelah beliau keluar dari hutan, beliau merasa haus lalu mencari air untuk minum. Akhirnya Pangeran Pamanah Rasa menemukan air terjun yang besar (air terjun ini bernama curug sawer di Majalengka). Setelah beliau mendatangi air terjun tersebut Pangeran Pamanah Rasa kaget karena di sekelilingnya banyak harimau putih nan besar.
Harimau Putih tersebut menghampiri Pangeran Pamanah Rasa, sudah hampir sampai tinggal beberapa langkah lagi Harimau Putih itu mau menerkam Pangeran Pamanah Rasa.

Pangeran Pamanah Rasa memakai keilmuannya membuat gulungan angin besar, dan angin tersebut di bentuk dan dipadukan dengan air terjun yang mengalir menggunakan tenaga dalam ilmu kanuragan, di bentuklah menjadi gulungan angin dan air yang dijadikan senjata untuk melawan Harimau Putih itu ternyata tak ada pengaruhnya bagi harimau putih itu , karena harimau putih itu jelmaan dari jin ifrit, sehingga harimau putih itu menerkam Pangeran Pamanah Rasa dan Pangeran Pamanah Rasa pun menakisnya dengan gelang timah yang ada di tangannya, sehingga Harimau putih itu pun menjerit kesakitan, dari situlah  Pangeran Pamanah Rasa mengetahui kelemahan Harimau putih itu yakni dengan gelang yang terbuat dari Timah , maka dibukalah 2 gelang timah itu dari kedua tangannya, ketika harimau putih itu mau menerkam dengan gesitnya Pangeran Pamanah Rasa memasukan gelang dari timah itu ke kedua tangan Harimau putih itu dan satu gelang lagi ke kedua kaki Harimau putih itu sehingga dari situlah Harimau Putih pun kalah tak berdaya , menjerit meminta ampun kepada Pangeran Pamanah Rasa. 

Dari kejadian itulah Pangeran Pamanah Rasa mengetahuinya bahwa harimau putih itu bukan harimau biasa karena harimau itu bisa berbicara seperti manusia, maka Harimau Putih jadijadian yang mau mencelakakan Pangeran Pamanah Rasa itu bertobat, dan ia akan mempertanggung jawabkan semua perbuatannya yang sudah di lakukan padanya, Sebelum Pangeran Pamanah Rasa berangkat Harimau Putih jadijadian itu memberi pakaian, Karena pakaian pangeran sobek bekas pertarungan tadi. Pangeran Pamanah Rasa di kasih pakaian dari kulit harimau oleh Harimau Putih jelmaan dari Jin itu. Harimau Putih jelmaan dari jin itu merasa kurang cukup apabila hanya memberi pakaian saja, jadi dia memutuskan untuk mengabdi kepada Pangeran Pamanah Rasa dengan mendampingi beliau.


Pangeran Pamanah Rasa kembali ke kerajaan Dengan Mongol Pati

Pangeran Pamanah Rasa perasaannya tidak tenang, beliau takut ada apa-apa sesuatu yang buruk menimpa pada kerajaannya.Pangeran Pamanah Rasa menempuh perjalanan dalam waktu tiga hari untuk sampai ke kerajaan.
Eyang Jaya Perkasa yang disuruh dan yang dititipi memegang kerajaan mendapatkan surat dari kerajaan Mongol Pati untuk masalah wilayah, surat dari kerajaan Mongol Pati, yang isi suratnya mengajak berperang. Eyang Jaya Perkasa menggantikan Pangeran Pamanah Rasa dikarenakan tiga hari lagi dari kerajaan Mongol Pati mau nyerang ke kerajaan Gajah. Secara terus menerus berlangsung dengan hebatnya, saling hantam senjata tajam dan sebagainya. Tidak lama kemudian Harimau Putih jelmaan dari jin itu mendadak keluar berhamburan entah dari mana datangnya, ada beberapa Harimau Putih muncul , menyerang prajurit Mongol Pati, tak lama kemudian prajurit kerajaan Mongol Pati mundur kocar kacir di amuk Harimau Putih, sebagian lagi mati oleh Harimau Putih.

Siang itu juga perang selesai, Harimau Putih berjejer menghadap Panglima Eyang Jaya Perkasa dan prajuritnya. Tak lama kemudian dihadapan Harimau Putih yang berbaris, Pangeran Pamanah Rasa mendadak ada disamping Harimau Putih yang lebih besar, dari sana prajurit-prajurit tertunduk nyembah kepada beliau, seketika Harimau Putih yang berbaris lenyap menghilang, tinggal satu lagi yang disamping Pangeran Pamanah Rasa.

Mengganti Nama Kerajaaan Gajah menjadi PAKUAN PEJAJARAN

Dan Membuat Simbol Senjata Kujang Yang Pertama
Pangeran Pamanah Rasa sudah menghitung nama apa yang baik untuk mengganti nama kerajaan yang sekarang. Terus beliau mempertimbangkan bersama panglimanya, kata Pangeran Pamanah Rasa

Negara kita Negara sunda, maka kita bisa disebut orang sunda, kemudian sekarang jamannya sudah agak beda bukan jaman purba lagi, memang sejak dulu kerajaan Gajah terkenal, berkat Ramahanda saya, yang masih termasuk jaman purba, dengan simbol Gajah, disatukan jadi simbol kerajaan, datang dari petunjuk yang jadi kekuatan berdirinya kerajaan Gajah. juga sama, Negara ini juga ada nama, yaitu Negara yang kita diami adalah tataran sunda yang termasuk dari simbolnya yaitu binatang yang paling buas yaitu Harimau sunda tersebut harus benar-benar dipegang oleh saya, jadi harus dipercepat membuat barang-barang yang membentuk pisau untuk ciri dari kerajaan sunda sebagai simbol yang bisa menyimpan kekuatan, buatkan pisau berbentuk Harimau sebanyak tiga buah..

Pada waktu itu juga Pangeran Pamanah Rasa menyuruh ke Eyang Jaya Perkasa untuk membuat senjata, yaitu harus menyimbolkan tataran sunda, senjata sunda yaitu pisau yang berbentuk Harimau, sebagai awal mula sejarah dibuatnya tiga senjata yang berbentuk Harimau tiga warna, yaitu kuning, hitam, putih senjata-senjata tersebut diminta untuk langsung dibuatkan.

Senjata pertama yang berwarna hitam, dibuat dari batu yang jatuh dari langit yang sering disebut meteor, yang dibakar oleh Pangeran Pamanah Rasa sendiri, dibentuk besi yang diperuntukkan untuk membuat senjata tersebut.

Senjata Kedua dibuat dari air api yang dingin, yang warnanya kuning dibekukan menjadi besi kuning.

Senjata ketiga dari besi biasa yang direndam dalam air hujan menjadi putih berkilau. 

Barang sudah jadi tinggal namanya, semalam penuh Pangeran Pamanah Rasa memikirkan nama untuk barang itu, tepat ayam berkokok tepat ditemukan nama untuk ketiga barang tersebut, yaitu dengan bahasa sandi, bahasa itu sangat tepat untuk barang senjata yang sudah jadi, yaitu namanya KUJANG, dikarenakan barangnya ada tiga, beda beda warna tapi bentuknya sama disebut jadi KUJANG TIGA SERANGKAI, YANG ARTINYA BEDA-BEDA TAPI TETAP SAMA atau nama yang beda warna tapi berkaitan, dikarenakan bentuknya sama, Pangeran Pamanah Rasa bicara lagi,

Nah saya ini ada petunjuk yaitu jika dari barang sudah selesai sekarang masalah nama kerajaan, dikarenakan saya ada yang membantu yaitu bangsa jin atau Harimau Harimau ghaib, jadi saya membawa nama kerajaan dari Negara Gajah dengan kerajaan Harimau, bila disatukan maka namanya disebut PAKUAN PAJAJARAN disatukan lagi oleh barang yang tiga itu yang namanya KUJANG jadi tepat sudah, nah ditatar sunda ini lahir Kerajaan Pajajaran. 
Eyang saat mengganti kerajaan ini namanya bukan untuk saya sendiri tapi untuk rakyat semua supaya ada perubahan untuk semuanya, oleh karena itu kita semua harus mengikuti jaman, sekarang sudah agak maju jamannya dikarenakan harus di iringi oleh ilmu ekonomi, hal itu dari melihat kerajaan yang lain, hal itu juga untuk merebut kerajaaan Galuh yang membayar Mongol Pati untuk menyerang kerajaan kita, jadi kita juga sama kita serang kerajaan Galuh dengan tenaga baru, prajurit Gajah dan prajurit Harimau kita satukan memakai Bahasa sandi, jadi nama ini Pajajaran. Nah begitu barangkali rencana saya,
Pangeran Pamanah Rasa bicara begitu ke panglimanya dikarenakan ingin didukung oleh panglimanya, jawab Eyang Jaya Perkasa;
Iya Pangeran, saya mengikuti, dikarenakan itu petunjuknya, laksanakan saja jangan takut dibantu oleh saya Insya Allah, nah itu jawaban Eyang Jaya Perkasa dengan menyebut Insya Allah dikarenakan Eyangnya seorang yang beragama islam beda dengan Pangerannya.

Pangeran Pamanah Sari Masuk Islam Oleh Syekh Quro

Pangeran Pamanah Rasa berganti nama menjadi Pangeran Pamanah Sari untuk menaklukan Syekh Quro ( yakni Syekh Hasanuddin bin Yusuf  dari bani Husain cucu Nabi Saw. ) atas perintah ayahandanya Prabu Anggalarang , namun waktu mau menyerang ke pesantren Quro yang berada di karawang milik Syekh Quro,  Pangeran Pamanah Sari mendengar Alunan Bacaan Al-Qur`an yang merdu sekali , sehingga penyeranganpun dibatalkan akhirnya Pangeran Pamanah Sari menyelidiki siapakah gerangan yang telah membaca Al-qur`an itu ? ternyata setelah diselidiki yang membaca Al-Qur`an itu seorang Gadis yang Cantik Jelita , sehingga Pangeran Pamanah Sari terpikat oleh kecantikannya , kemudian Pangeran Pamanah Sari mendatangi Syekh Quro untuk melamar Gadis Cantik Jelita itu, yang tadinya bertujuan menyerang jadi berbalik haluan menjadi bentuk pelamaran, namun Syekh Quro menyarankan agar mendatangi ayah aslinya yang bernama ki Gedeng Tapa,beberapa hari kemudian Pangeran Pamanah Sari meminta kepada ki Gendeng Tapa membawa putrinya untuk dinikahi oleh Pangeran Pamanah Sari, penawaran itu sudah diserahkan semuanya kepada Syekh Quro sebab Nyi Subang Larang sudah menjadi putri angkatnya Syekh Quro.

Pangeran Pamanah Sari datang lagi ke Syekh Quro. Setelah sampai ditempatnya Syekh Quro, Pangeran Pamanah Sari berbicara hanya pokok masalah penting saja, yaitu tentang mau menikahi Nyimas Subang Larang, Syekh Quro menerima lamaran Pangeran Pamanah Sari namun dalam masalah itu Syekh Quro meminta syarat yang harus di penuhi dan dilakukan yaitu ada 3 syarat :
Yang pertama harus masuk islam, 
yang kedua harus belajar ngaji, 
yang ketiga harus berangkat dulu ke haji, 
itulah 3 syarat yang diberikan oleh Syekh Quro kepada Pangeran Pamanah Rasa.

Pangeran Pamanah Sari Kebingungan dengan persyaratan tersebut karena terlalu berat buat beliau karena beliau dari agama Hindu, tetapi karena ada yang ingin dicapai oleh Pangeran Pamanah Sari maka Pangeran Pamanah Sari memutuskan untuk menerima 3 syarat tersebut dan Syekh Quro berjanji menentukan waktu untuk mengislamkan Pangeran Pamanah Sari yaitu satu hari setelah Pangeran Pamanah Sari menyanggupinya, tidak terlalu lama waktu yang ditunggu telah tiba. Pangeran Pamanah Sari siap untuk di Islamkan, beliau datang kepada Syekh Quro untuk di Islamkan ketika sampai ke tempatnya Syekh Quro. Semua orang dikumpulkan ke dalam ruangan, ki Gendeng Tapa menyaksikan Pangeran Pamanah Sari di Islamkan, tidak terlalu lama Pengeran Pamanah Sari diberikan janji oleh Syekh Quro sambil memegang tangannya dengan mengucapkan dua kalimah Syahadat ( Syahadatain ) setelah selesai membaca Syahadat kemudian dicukur Rambut kekufurannya dan mandi masuk Islam kemudian disunat dan Pangeran Pamanah Sari dianggap sah menjadi muslim, seminggu kemudian  Pangeran Pamanah Sari langsung menjalankan syarat yang kedua yaitu belajar ngaji.

Syekh Quro langsung mengajarkan, siang malam Pangeran Pamanah Sari belajar ngaji dengan Syekh Quro, karena ingin bisa serta ingin cepat mengejar pada syarat yang ketiga, tidak lama kemudian setelah 5 bulan Pangeran Pamanah Sari bisa ngaji seperti membaca huruf arab, sholat, dan pemikiran Islam seperti apa artinya Islam, semua ilmu agama islam telah diserapnya.
Syekh Quro bingung dan heran Pangeran Pamanah Sari bisa belajar dengan cepat, padalah sampai tingkatan semua itu, bisa butuh waktu sekitar dua atau tiga tahun. Pangeran Pamanah Sari langsung meminta syarat yang ketiga yaitu naik haji, Syekh Quro langsung menyiapkan Pangeran Pamanah Sari sebab Pangeran Pamanah Sari mau dibawa ke Arab yaitu ke Mekah tampat orang naik Haji, beliau dikasih tahu dulu oleh Syekh Quro harus itikaf, berdiam diri di Mekah selama empat puluh hari.

Pangeran Pamanah Rasa Berangkat ke Haji

Setelah Syekh Quro menjelaskan, Pangeran Pamanah Sari mengerti dan menyanggupi, pada malam itu juga Syekh Quro membawa Pangeran Pamanah Sari ke Mekah. Pangeran Pamanah Sari berangkat ke Mekah di bawa terbang oleh Syekh Quro sampai ke Mekah membutuhkan waktu satu malam, berangkat malam sampai subuh tiba di Mekah langsung sholat shubuh, setelah sholat subuh Syekh Quro dengan Pangeran Pamanah Sari istirahat dulu, setelah istirahat langsung melaksanakan ibadah haji sejak pertama melaksanakan sholat berjamaah sampai amalan-amalan yang diajarkan oleh Syekh Quro diamalkan, sehari penuh berkeliling Ka'bah.

Pangeran Pamanah Sari kebingungan kenapa dirinya jadi begini, sudah beberapa hari Pangeran Pamanah Sari ada perubahan dalam dirinya sedikit-sedikit dosa dan kajadian-kajadian oleh beliau yang dialami seperti nyata kelihatan nampak seperti mimpi buruk atau jelek, Pangeran Pamanah Sari sampai menangis habis-habisan di depan Kabah. Semenjak itu Pangeran Pamanah Sari percaya Islam dan percaya adanya Allah, empat puluh hari tidak terasa sudah berlalu Pangeran Pamanah Sari dibawa pulang oleh Syekh Quro setelah sampai kembali ke tempat, banyak yang berkumpul menunggu yang pulang dari haji.
Malam itu juga Syekh Quro dengan Pangeran Pamanah Sari sudah sampai ditempat, pulang dari haji. Karena malam itu sudah pada lelah tidak terlalu lama setelah mengobrol lalu istirahat.

Ayam sudah bekokok yang artinya waktu sholat subuh, Pangeran Pamanah Sari yang biasanya bangun pagi setelah mata hari bersinar, tetapi sekarang masih gelap juga sudah bangun untuk sholat subuh dengan Syekh Quro, setelah sholat subuh Pangeran Pamanah Sari melanjutkan Wirid dan dzikir sampai matahari terbit.

Setelah selesai wirid dan Dzikir , Pangeran Pamanah Sari ditanya oleh Syekh Quro dalam masalah pernikahannya dengan Nyai Subang Larang, dari situ Pangeran Pamanah Sari ingin bicara dulu kepada semuanya, karena sebelumnya beliau ada niat hati yang jelek, setelah belajar dengan Syekh Quro, Pangeran Pamanah Sari mengalami banyak perubahan dalam dirinya dan tahu mana ajaran yang benar dan mana ajaran yang salah, oleh karena itu Pangeran Pamanah Sari menjelaskan yang sebenarnya bahwa dia yang sebenarnya adalah Raja di Kerajaan Pajajaran, setelah di jelaskan ada yang terkejut, ada yang langsung menyembah dan sebagainya, tetapi Syekh Quro biasa saja karena sudah tahu dari awalnya juga, tidak ada yang membuat marah satupun malahan senang Pangeran Pamanah Sari berterus terang.

Pamanah Sari Menikah dengan Nyimas Subang Larang

Dikarenakan Syekh Quro sudah berjanji kepada Pangeran Pamanah Sari dalam syarat yang ketiga yaitu menikahkan Nyimas Subang Larang dengan Pangeran Pamanah Sari. Pangeran Pamanah Sari langsung gembira mendengar perkataan Syekh Quro, semua yang ada disitu terus memastikan atau menentukan hari-harinya untuk pernikahan yang baik, Itu semua diserahkan kepada Syekh Quro yang lebih mengetahui waktu yang baik. Tidak lama waktu sudah ditentukan oleh Syekh Quro, ada waktu tiga hari untuk mempersiapkannya. Waktu tiga hari terasa cepat tidak disangka-sangka Pangeran Pamanah Sari menikah juga dengan Nyimas Subang Larang, pada hari itu pesta besar dilaksanakan, namun hanya dipenuhi oleh para santri Syekh Quro saja dari pertama sampai akhir ( yakni tanpa memberitahukan ayahandanya dan  rakyat pajajaran ).

Pangeran Pamanah Rasa/  Pamanah Sari Menjadi Penguasa di Cirebon dan Bergelar Prabu Siliwangi

Kemudian Pangeran Pamanah Sari Menikah dengan Nyimas  Ambet Kasih putri kandung Raja Sindang kasih ( Majalengka ) yakni putri Ki Gedeng Sindangkasih
Pangeran Pamanah Sari dengan Nyimas Ambet Kasih sudah resmi menjadi suami istri. Pangeran Pamanah Sari berkumpul dengan istri-istrinya menjadi hidup bersama-sama. Tidak lama kemudian Ki Gedeng Sindangkasih menyerahkan sebagian tanah Cirebon karena yang sebagian lagi kepunyaan Ki Gendeng Tapa Raja singapura, lantas Pangeran Pamanah Sari menerima pemberian mertuanya itu, tidak lama kemudian Ki Gendeng Tapa sudah tua dan berusia lanjut akhirnya yang sebagiannya lagi di berikan juga kepada Pangeran Pamanah Sari, jadi tanah Cirebon di pegang oleh Pangeran Pamanah Sari semuanya, tidak lama kemudian para sesepuh berkumpul dengan Pangeran Pamanah Sari, Ki Gedeng Tapa, Ki Gedeng Sindangkasih, Ki Dampu Awang dan Prabu  Susuk tunggal, beserta istri-istrinya Pangeran Pamanah Sari yakni ada 4 : Nyimas  Ambet Kasih putri kandung Ki Gedeng Sindangkasih, Nyimas Subang Larang, Nyimas  Aciputih Putri dan Nyimas Ratna Mayang Sunda/ Nyimas Kentring Manik 

Istri yang pertama Nyimas Aciputih Putri dari Ki Dampu Awang, 
istri yang kedua yaitu Nyimas Subang Larang putri Ki Gedeng Tapa 
Istri yang ketiga yaitu Nyimas  Ambet Kasih putri kandung Ki Gedeng Sindangkasih 
Istri yang ke empat yaitu Nyimas Ratna Mayang Sunda / Nyimas Kentring Manik putri Prabu Susuk Tunggal. 

Semuanya pada kumpul sebab Pangeran Pamanah Sari sakti mandra guna dan pintar, terkenal dimana-mana yang menguasai kerajaan Pajajaran, Pangeran Pamanah Sari oleh sesepuh di beri julukan SANG PRABU SILIWANGI yang artinya raja kerajaan Pajajaran yang harum dimana-mana terkenal dimana-mana, Pangeran Pamanah Rasa atau Pangeran Pamanah Sari menjadi terkenal dengan gelar Sang Prabu Siliwangi.

Prabu Siliwangi hidup jaya sampai dengan beliau mempunyai putra dari istri yang pertama
Yakni dari Nyimas  Aciputih Putri dari Ki Dampu Awang  berputra :
1.      Mundingsari Ageung  / Raden Arya Seta
2.      Munding Kelemu Wilamantri / Mantri Kasurudan Tapa / Mantri Kasurutapa
3.      Munding Dalem
4.      Dalem Manggu Larang
5.      Balik Layaran alias Sunan Kebo Warna

Dan dari istri yang kedua,
Yakni dari Nyimas Subang Larang mempunyai 2 orang putra dan 1 orang putri :
1.      Pangeran Cakrabuana / Walangsungsang ( H. Abdullah Iman bergelar  Sunan Caruban),
2.      Syarifah Muda`im  Nyimas Lara Santang dan
3.      Raja Sangara / prabu kiansantang ( H.Mansur bergelar Sunan Rohmat Suci Godog garut ). 
Ketiga-tiganya masuk Islam.seperti kata pepatah orang sunda “uyahmah tara tees ka luhur “ artinya Sifat orang tua turun ke anak, mana mungkin ayahnya hindu anaknya Islam, karena keumuman orang sunda menganut Islam tabi`i yakni islam turunan , karena ayahnya Islam maka anaknya juga Islam.
Dan dari istri yang ketiga,
Yakni dari Nyimas  Ambet Kasih mempunyai 2 putra yakni :
1.   Prabu Liman Sanjaya, dan
2.   Raden Sake alias Prabu Wastu Dewata/ prabu basudewa
Dan dari istri yang keempat,
1.   Yakni dari Nyimas Ratna Mayang Sunda / Nyimas Kentring Manik berputra:
Prabu  Surawisesa / Raden Jaka mangundra Prabu Guru Gantangan / Munding Laya Dikusuma/ Jaka Puspa / Raden  Gantangan Wangi Mangkurat Mangkunagara Raden Gantang Nagara Raden Gantang Pakuan / Raden Ne-Eukeun Raden Meumeut raden Ameut / Raden Ceumeut
Prabu Siliwangi Menghilangkan Kerajaan Pajajaran Pindah ke Alam Jin ( Alam Ghaib )
Prabu Siliwangi dari keempat istrinya beliau mempunyai keturunan sampai beliau lupa terlalu lama tinggal di Cirebon. Tidak lama kemudian datanglah perajurit Pajajaran yang di utus oleh panglimanya untuk menjemput Prabu Siliwangi kembali pulang ke kerajaan, karena Kerajaan Pajajaran membutuhkan seorang Raja.
Prabu Siliwangi bingung karena sudah berbeda agama. Prabu Siliwangi sudah muslim sedangkan di kerjaan Pajajaran masih beragama Hindu. Akhirnya prabu Siliwangi Mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalah itu.
Sebelum Pergi Prabu Siliwangi berpesan kepada seluruh istrinya agar tanah Cirebon dan ajarannya harus turun-temurun sampai pada anak cucu mereka. Lalu Prabu Siliwangi berangkat kembali ke karajaan Pajajaran bersama para prajurit dan ditemani oleh macan putih dari bangsa jin yang telah diangkat menjadi panglima oleh Prabu Siliwangi.
Waktu Yang dibutuhkan untuk kembali ke kerajaaan pajajaran sekitar 3 hari, tetapi karena Prabu Siliwangi telah mempunyai Ilmu Saefi Angin maka tak disangka-sangka mereka bisa sampai tujuan hanya dalam waktu setengah hari.
Seluruh rakyat Kerajaan dan segenap keluarga Menyambut kedatangan Prabu Siliwangi,mereka menyembah Prabu sepanjang jalan menuju Kerajaan, lalu Prabu di sambut dengan suka cita oleh kakeknya Panglima Eyang Jaya Karsa, Prabu Siliwangi masuk ke dalam kerajaan tak ada yang berubah satu pun di kerajaan masih seperti waktu di tinggalkan dulu.
Beberapa hari terakhir Prabu Siliwangi memikirkan bagaimana Fitnah dari rakyat-rakyatnya apabila mereka tahu bahwa dirinya Sudah di Islamkan oleh Syekh Quro. 

Sebenarnya Beliau Telah memikirkan hal ini semenjak berada di tanah Cirebon bagaimana caranya supaya menghilangkan Fitnah atau perkataan-perkataan dari rakyatnya yang tidak tahu tentang agama, tidak lama kemudian Prabu Siliwangi mendatangi Macan Putih panglimanya Supaya Membantu Negara Pajajaran Di Pindahkan Ke alam Jin ( alam Ghaib ). 

Prabu Siliwangi Menunggu datangnya Bulan Purnama untuk menjalankan Rencananya itu Ketika Pintu GHAIB terbuka, kebetulan datangnnya Bulan purnama hanya 2 Hari lagi, sambil menunggu Prabu Siliwangi bersama macan putih malam-malam pergi ke batas Kerajaan Pajajaran untuk menanam pohon jeruk, dari batas kerajaan supaya ketika Menghilang tidak meninggalkan jejak sedikitpun dan tidak ada bukti apapun.
Akhirnya Malam kedua di bulan Purnama waktu yang telah ditentukan oleh Prabu Siliwangi Datang Juga, Beliau Bersama Macan Putih menyireup agar semua rakyatnya tidak ada yang mengetahui satu juga pindahnya karajaan Pajajaran dari alam dzohir ke alam ghaib. Prabu Siliwangi langsung memindahkan kerajaan tersebut dengan orang-orangnya, memakai ilmu dengan dibantu oleh Macan Putih menghilang. Nah semua negara kerajaan Pajajaran pindah dari alam dzohir ke alam Ghoib. ‎

Doa Nabi Sulaiman Menundukkan Hewan dan Jin

  Nabiyullah Sulaiman  'alaihissalam  (AS) merupakan Nabi dan Rasul pilihan Allah Ta'ala yang dikaruniai kerajaan yang tidak dimilik...