Jumat, 20 November 2020

Sejarah Syaikh Imam Rozi Sokaraja


Sokaraja adalah Nama salah satu kecamatan di Kabupaten Banyumas. Sebuah kota kecil yang menyimpan banyak sejarah perkembangan dan perjuangan Islam.. mulai dari Kanjeng Adipati Jebu Kusuma di era Demak hingga saat ini.
Banyak tokoh yang dilahirkan di kota kecil ini. Diantaranya KH Saifuddin Zuhri Jendral Gatot Subroto dan lain-lain.

Dan disini saya akan menulis sekelumit sejarah tentang salah satu tokoh pejuang Islam pelarian keluarga Kanjeng Pangeran Diponegoro paska Kanjeng Pangeran ditangkap dan diasingkan di makassar. 
Beliau adalah Syaikh Imam Rozi bin Abdul 'Aziz menantu Sang Pangeran. 

Nasab Syaikh Imam Rozi 

Dari jalur Ayah 
Syaikh Imam Rozi.      Bin 
Syaikh Abdul Aziz.       Bin 
Syaikh Achmad.             Bin 
Raden Bagus Muhammad.    Bin 
 Syaikh  Abdul Muhyi Pamijahan.   Bin 
Syaikh Abdul Jalil (Sembah Dalem Lebe Warta Kusumah). Bin 
Entol Panengah. Bin 
Munding Cikawung Ading.   Bin 
Kudo Lalian


Dari Jalur Ibu 
Raden Ayu Djuwok (Salamah).    Binti 
Raden Ronggo Kusumo (Berbek) bin 
Kyai Adipati Purbo Kusumo.     Bin 
Raden Suryo Handoko.          Bin 
Raden Suryo Negoro.    Bin 
Pangeran Surya ningrat.     Bin 
Sunan Mas .    Bin 
Amangkurat Jawa . Bin 
Amangkurat Amral. Bin 
Amangkurat Agung. Bin 
Sultan Agung Mataram. Bin 
Panembahan Hanyokrowati. Bin 
Panembahan Senopati.   Bin 
Kyai Ageng Pemanahan 


Kelahiran dan Masa Kecil 

Syaikh Imam Rozi dilahirkan di wilayah Kadipaten Berbek (Nganjuk sekarang) akhir Abad 18 (1796M) di lingkungan Pesantren Ayahandanya yang berada di wilayah Wilangan Nganjuk. Di masa kecil Imam Rozi Dibimbing dalam ilmu Keagamaan (Qur'an. Fiqh. Dan berbagai disiplin ilmu pesantren)   oleh Ayahandanya serta Ibundanya di lingkungan Pesantren serta di latih ilmu kanuragan guno kasantikan oleh Ayahandanya dan oleh Senopati Sudiroyido yang masih pamannya sendiri. 

Imam Rozi kecil tumbuh menjadi anak yang tampan berakhlaq mulia dan menjadi Santri Bangsawan yang mempuni serta rupawan. Ketika Imam Rozi umur belasan Tahun Ayahandanya mengirimkan dia ke Pesantren Tegalsari Ponorogo untuk menambah ilmu pengetahuan tentang Agama dan Sastra serta ilmu Kanuragan. Hari demi hari berganti dan Imam Rozi Muda tumbuh Menjadi Seorang pemuda yang Mempunyai beberapa keistimewaan dlm hal ilmu serta akhlak dan adab. 


Pernikahan dan perjuangan 

Disaat Imam Rozi umur 25th Pesantren Tegalsari kedatangan tamu Ulama Priyagung Dari Mataram Ngayogjokarto yang dipimpin oleh Kanjeng Pangeran Purbo Negoro dan Kanjeng Pangeran Diponegoro.
Kyai Ageng Besari menjamu Tamu dengan sukacita dan berdiskusi tentang perkembangan Santri serta Islam wilayah Mataram Wetan. Setelah sekian lama saling Menceritakan keadaan... tibalah saat Kanjeng Pangeran Diponegoro ingin Melihat keadaan Pesantren. Dan Kyai Ageng pun berkenan untuk mengantar Kanjeng Pangeran. 

Malam semakin larut dan suasana pesantren hening tenang dan damai.
Kanjeng Pangeran disertai beberapa pengawal dan Kyai serta Kyai Ageng berjalan dilingkup Pesantren... dan tiba-tiba terlihat cahaya yang bersinar dari salah satu sudut Pesantren dan semua yang melihat terperanjat... Kyai Ageng dan Kanjeng Pangeran pun segera mendekati sumber Cahaya Tersebut. 

Kaget bercampur takjub setelah beliau Berdua melihat sesosok pemuda santri yang sedang duduk Bersila berdzikir dan di tangannya sebuah tasbih yang di pegang. Tubuh tersebut bercahaya dan mengeluarkan bau harum. 
Kanjeng Pangeran segera mengajak Kyai Ageng Kembali ke tempat para Pengawal. Tak lama kemudian semua kembali ke Pendopo. Dan Kanjeng Pangeran pun tidak lupa bertanya pada Kyai Ageng Siapa sosok Pemuda itu Sebenarnya
Kyai Ageng pun menjawab klo pemuda itu bernama Imam Rozi keponakan dari Adipati Berbek dan putra Kyai Aziz.
Kanjeng Pangeran pun senang mendengar nya. Dan dawuh pada Kyai Ageng agar esok hari Imam Rozi ikut di penghadapan pendopo Tegalsari. 
Kyai ageng pun menyanggupi permintaan Kanjeng Pangeran. 

Keesokan harinya Di penghadapan Pendopo para Santri dan warga sekitar pun berkumpul... tidak terkecuali Imam Rozi pun ikut menghadap di Pagelaran pendopo Tegalsari. 
Di dalam pendopo nampak Kanjeng Pangeran Diponegoro Kanjeng Pangeran Purbo Negoro Kyai Ageng Besari dan para tokoh lain duduk penuh wibawa.
Sesaat semua terdiam dan tidak berapa lama kemudian Sang Pangeran mulai pembicaraan.

Diawali dengan hamdalah dan sholawat lalu Sang Pangeran mengucapkan beribu terima kasih pada Kyai Ageng Yang telah Mendidik para Bangsawan dan semua santri dengan baik. 
Beberapa hal telah disampaikan oleh Kanjeng Pangeran dgn baik dan semua mendengar kan dengan seksama. 
Dan setelah semua selesai Kanjeng Pangeran nimbali Imam Rozi dan di perintahkan untuk menghadap pada Kyai Ageng.

Setelah tiba saat nya Imam Rozi menghadap dan diterima oleh Kyai Ageng beserta Para Priyagung dari Mataram. Dan Kyai Ageng Pun segera memulai Pembicaraan 
Raden Bagus Imam... ngertenono Yen ing dino iki wus dadi pepesthening uripmu lan ing waktu kang arep teko jeneng siro bakal daup kelawan Raden Ayu Retno Wulan Putri Dalem Kanjeng Pangeran Diponegoro. Lan jeneng siro kudu siap siaganing dhohir kelawan batin kanggo ngadepi bebrayan agung... Ramamu lan ugo ibumu uwis uningo ing babagan iku. Mulo digawe tentreming atimu..
Imam Rozi pun hny duduk terdiam dan hny tertunduk hingga akhirnya Kanjeng Pangeran meminta nya untuk mendekat. Dan Kanjeng Pangeran berkenan memberikan Salah satu pusaka beliau Keris Kyai Jangkung pada Bagus Imam dan tak lama dari itu Pisowanan dibubarkan
Kanjeng Pangeran pun segera Berpamitan dan beserta rombongan segera pulang menuju Negri Mataram.

Dan pada waktu yang telah ditentukan Imam Rozi pun menikah untuk yang pertama kali. Dan oleh Ayahandanya di minta untuk mukim di Pesantren membantu ngajar para santri. 
Kehidupan Imam Rozi seperti umumnya para Santri. Hidup sederhana dan mengajarkan apapun yang dibutuhkan oleh umat tentang ilmu agama dan keprajuritan dikarenakan saat itu masih suasana penjajahan. 

Beberapa bulan kemudian di Negri Mataram Ngayogjokarto terjadi huru hara dan Kanjeng Pangeran Diponegoro mempersiapkan diri untuk melawan kaum penjajah. 
Dan kabar yang di terima oleh Syaikh Abdul Aziz (Ayahandanya Imam Rozi) bahwa Kanjeng Pangeran Mempersiapkan diri untuk berperang dan para Kyai Santri serta kaum pendekar sudah banyak yang bergabung serta pos utama ada di goa selarong.
Syaikh Abdul Aziz pun segera memerintahkan Imam Rozi untuk segera menunjukkan darma bakti pada orang tua.. di perintahkan nya Imam Rozi untuk mengumpulkan Para tokoh persilatan serta santri untuk ikut berjihad fi sabilillah bergabung dengan laskar lain di wilayah Menoreh. 

Tak lama dari itu Bagus Imam Rozi pun berangkat menuju pos di selarong beserta istri dan jg para laskar yang ada.

Dan perang pun terjadi korban pun banyak berjatuhan dari kedua pihak 
Hiruk pikuk peperangan selama 5 telah banyak menghabiskan segalanya.. pengkhianatan demi pengkhianatan silih berganti. Dalam pertengahan peperangan Raden Ayu Retno Wulan melahirkan seorang bayi laki2 dan diberi Nama Abu Syuruj. Dan suatu ketika Kanjeng Pangeran pun Ditangkap.
Para laskar pun berlarian menyebar untuk meneruskan perjuangan. Tak terkecuali Bagus Imam Beserta keluarga dan laskar.

Perjalanan Bagus Imam ke arah Barat melewati wilayah Bagelen dan akhirnya Sampai di daerah Buntu... Bagus Imam pun segera membabat hutan dan mendirikan pesantren serta pemukiman... Namun baru beberapa bulan kemudian tempat tersebut diketahui oleh pihak Belanda hingga dibumihanguskan.
Tempat tersebut hingga kini masih ada puing2 pondasi.

Bagus Imam pun lari bersama keluarga dan para pengikut nya ke arah utara sampai di sebuah tempat yang banyak ditumbuhi pohon kepel (kapol) dan Bagus Imam serta para pengikut nya membuka tempat tersebut untuk bermukim. Tempat yang baru itu beliau beri Nama Kebon Kapol. Dan membuat pesantren yang diberi Nama Assuniyah.... Hingga saat ini pesantren tersebut masih berdiri dan masih Eksis dan dipimpin oleh keturunan Syaikh Imam Rozi secara turun Temurun.

Syaikh Imam Rozi terus berjuang dalam keagamaan serta mendidik murid murid nya dgn ilmu kanuragan untuk menghadapi kaum penjajah. Putra Beliau Abu Syuruj pun tumbuh menjadi seorang pemuda yang perkasa alim dan bersahaja.
Syaikh Imam Rozi selalu berkoordinasi dengan para pejabat sekitar dalam perjuangan. Diantaranya beliau bersama dengan Kanjeng Adipati Martodirejo membuat  benteng pertahanan dengan menempatkan para santri digaris depan dan meprakasai pembangunan masjid agung purwokerto bersama Kyai Faqih yang jaga sesama laskar Diponegoro. 

Dan pada suatu ketika Syaikh Imam Rozi menunaikan Ibadah Haji ke Tanah Suci dan sempat Mukim di Tanah Harom sampai 4 th. Sepulang dari tanah Suci beliau kembali berjuang di wilayah Sokaraja dan sekitarnya. Dan pada suatu ketika Syaikh diminta untuk menikah lagi oleh Dewi Retno Wulan dengan seorang wanita yang masih keturunan dari Adipati Jebu Kusumo... Dari pernikahan tersebut lahirlah seorang putra yang diberi Nama Nasrowi.

Syaikh Imam wafat sekitar tahun 1865 dan pesantrennya diteruskan oleh Syaikh Nasrowi.dan di makamkan di pasarean Kebutuh. 

Sementara Syaikh Abu Syuruj menjadi Imam Masjid Agung Purwokerto Mengganti kan Kyai Faqih dan memimpin pesantren di komplek Kadipaten pada masa itu.

Penerus perjuangan Syaikh 

Putra Beliau meneruskan perjuangan Syaikh dalam keagamaan dan perlawanan terhadap kaum penjajah.
Syaikh Abu Syuruj terus berjuang di kadipaten dalam keagamaan dan keprajuritan.
Syaikh Abu Syuruj mempunyai beberapa putra putri diantaranya Syaikh Achmad Masruri Ridho dan Syaikh Marwazy yang berjuang di Desa Kebumen Kec Baturaden dan Beliau berdua yang meletakkan dasar2 ideologi NU di wilayah Banyumas 
Syaikh Masruri Ridho adalah Ulama Agung salah satu pendiri NU dan sebagai Qodhi di Jam'iyah Nahdhotul Ulama atas permintaan Hadrotussyaikh Hasyim Asy'ari yang sebagai teman akrab di Makkah saat belajar bersama di Makkah. Serta Syaikh Bunyamin yang berjuang di wilayah perkotaan di Purwokerto sebagai benteng Pertahanan dari kaum Penjajah.

Hingga Saat ini para keturunan Syaikh Abu Syuruj masih mempertahankan perjuangan para pendahulu nya dalam Islam dan kemasyarakatan.

Syaikh Nasrowi meneruskan perjuangan di pesantren Assuniyah dan hingga saat ini pun masih berjalan dengan baik.
Perkembangan Islam Di sokaraja tidak bisa di kesampingkan dengan perjuangan dari para keturunan Bangsawan Mataram diantaranya dari Trah Pangeran Diponegoro dan Syaikh Imam Rozi.

Walaupun singkat semoga ada manfaatnya dan sebagai pengetahuan bagi masyarakat bahwa para pejuang Islam itu masih punya darah Ulama Agung di Zaman masing masing.

 

Sepenggal Kisah Wali Banyumas (Syaikh Abdus Somad)


Tulisan ini barangkali akan menjadi rintisan penggalian sejarah penyebar Islam di Banyumas, yang selama ini sangat dibutuhkan dalam mengelola berbagai informasi kekayaan sejarah lokal khususnya di wilayah Banyumas dan keterterkaitan dengan wilayah luar banyumas.

Dengan dikelolanya cagar budaya yang berkaitan dengan peristiwa masa lalu sejarah tempat dan para pelaku sejarah yang menghiasi peradaban, tentu akan sangat berguna bagi generasi yang akan datang dalam menerima berbagai warisan informasi. Perjalanan para pembawa agama khususnya di Banyumas, juga akan menjadi catatan sejarah yang berharga, bahwa agama-agama yang ada di wilayah Banyumas diperkenalkan dan di dakwahkan melalui waktu yang panjang dan kesabaran yang luar biasa dari para pelaku sejarah.

Jombor merupakan nama Grumbul di Desa Cipete Kecamatan Cilongok di Kabupaten Banyumas. Nama Desa ini selalu dikaitkan dengan keberadaan Syaikh Abdus Shomad yang merupakan ulama abad ke-16 dalam melakukan penyebaran Islam di Banyumas pada umumnya dan peranannya dalam meng-Islamkan masyarakat wilayah Cipete dan sekitarnya pada khususnya.

Terdapat beberapa versi tentang asal usul nama “JOMBOR” sebagai grumbul di mana Syaik Abdus Shomad berdakwah dan mengajarkan agama Islam khususnya di wilayah Cipete dan di Kabupaten Banyumas pada umumnya. Adapun versi-versi ini berdasar dari informasi baik keturunan / trah maupun masyarakat setempat antara lain :

1.
Lokasi yang sekarang didirikan Masjid  Baitus Shomad di RT. 02 RW. 03 Desa Cipete, adalah merupakan tilas yang konon pernah tumbuh sebuah pohon yang sangat lebat, rimbun dan besar. Tidak jauh dari pohon tersebut terdapat sungai yang mengalir dengan kejernihan air yang masih bersifat alami.

Kehadirannya di wilayah ini disambut warga dengan sikap positif. Sebelum mendirikan Padepokan ia harus  menginap dan istirahat di rumah warga. Meski penduduk setempat juga menyediakan tempat tinggal untuk beliau, namun ada hal yang dianggap masih kurang dimana dalam setiap rumah dan tidak ada tempat yang tersedia untuk beribadah menjalankan ibadah shalat, karena pada saat itu warga masih memiliki beragam kepercayaan.

Usaha lahir terus dilakukan oleh beliau melalui sillaturrahim (ngendong bahasa Jawa) dari rumah ke rumah ibarat sebagai orang pendatang, berbaur dengan warga dalam kerukunan bermasyarakat. Sedangkan usaha batin beliau melakukan mujahadah, berkhalwat atau menyepi mendekatkan diri terhadap Allah SWT, memohon pertolongan dan diberi kemudahan dalam melakukan dakwah dan penyebaran agama Islam terhadap warga setempat.

Mujahadah ini tentu membutuhkan ketenangan bathin, sehingga beliau memanfaatkan pohon besar yang rimbun sebagai tempat untuk menyepi, tanpa ada yang mengganggu ketenangannya. Konon di atas pohon sebagaimana yang disebutkan di atas, terdapat cabang yang datar yang memudahkan beliau duduk bersila melakukan dzikir. Cabang – cabang pohon yang masih rendah memudahkan beliau naik turun tanpa harus menggunakan tangga untuk naik ke atas.

Jalan antara pohon terdapat lokasi mata air berupa sumur yang dibuat beliau, yang setiap saat digunakan untuk berwudlu. Kegiatan naik turun pohon menuju ke lokasi air ini menyebabkan jalan setapak ini menjadi becek atau dalam bahasa Banyumas disebut Jember. Orang kemudian menyebutnya Jombor, sehingga terjadilah Jombor sebagai nama grumbul.

2.
Hampir di setiap wilayah, sebelum Islam diperkenalkan kepada masyarakat khususnya di Banyumas dan umumnya di luar wilayah, kebudayaan, adat istiadat serta kepercayaan masyarakat beragam dan bermacam-macam. Budaya membuat sesaji, (nyajeni bahasa Jawa) di tempat-tempat keramat, mengkultuskan batu besar, pohon, berjudi, main, minum serta perbuatan tercela lainnya masih sangat subur. Sebagai seorang musafir Syaikh Abdus Shomad tentu tidak serta merta melarang, membenci, atau pun mencemooh bagi pelakunya mengingat Sebagai seorang pendakwah Syaikh Abdus Shomad harus tetap istiqomah menunjukkan akhlak yang mulia terhadap mereka, mengingat mereka belum mengerti.

Jombor pada versi terbentuknya asal mula tempat adalah merupakan sebagian isi dari dakwah beliau, yang berupa ajakan yang di dalamnya terkandung keselamatan bagi manusia bagi yang menuruti nasehat-nasehatnya.

Beberapa orang menafsirkan bahwa asal-usul nama Jomboryang selalu dikaitkan dengan Nama Syaikh Abdus Shomad adalah merupakan isi misi dakwah beliau yang mengandung larangan. Misalnya kata Jo dalam kalimat Jawa “Ojo” (Jangan atau tidak boleh dalam bahasa Indonesia), diartikan sebagai larangan dan dikaitkan dengan sebuah ajakan.

JO
Ojo / Jo
M
Musyrik / munafik/ .............................dst
BOR
jo Boros

Jo musyrik, Jo Munafik, Jo Mungkar, Jo Maca Qur’an Lan nyenggol nek ra suci, Jo main, Jo medok Jo mabuk-mabukan, madat, Jo metani alane wong liyo, Jo mateni / mepet dalan pangane wong liyo, Jo meneih sesaji kanggo syetan, Jo merek-merek barang haram, Jo muwur , Jo mangan riba, Jo maling dunyo wong liyo, Jo mikir kumed sodaqoh, Jo mbelani perkoro salah, Jo Mbalelo, Jo mriksani barang kang haram, Jo mburu maksiyat, Jo mekso kekarepan ala, Jo mikir ninggal shalat wajib, Jo mikir ninggal puoso wajib, Jo mulang barang kang ala, Jo mituruti bisikan syetan, Jo moni padudon karo tetonggo, Jo mentelantarkan cah yatim, Jo masang sesrangkah dalan tetonggo, Jo mungkir, Jo mutus tali paseduluran, Jo mati ra nggowo iman, Jo melak-melik dunyo wong liyo, Jo mempeng golet dunyo nanging lali gusti Allah, Jo mbetitil, merem ngamal kanggo akherat, Jo mbanggel karo nasehate kyai, Jo mblenjani janji, Jo moni nyupatani karo sepada-pada, Jo minteri sepada-pada, Jo mbebani tanggungjawab marang wong kang ora mampu, Jo mbeler nggolet pangupa jiwo (kasab/pahal), Jo mangas ketipu nikmate dunyo, Jo mbeber alaning manungsa, Jo mlanggar toto aturaning masyarakat, Jo milih urip sesrawung, Jo Mubadzir. Dan dakwah-dakwah yang lain, karena hal tersebut hanya sekedar pendapat.

BOR dalam kalimat jomBORdiartikan sebagai ajakan oJo Boros. Pemborosan waktu yang berkaitan dengan umur manusia, jika dikonsentrasikan hanya untuk kepentingan dunia tanpa dibarengi dengan ibadah adalah kerugian yang besar. Bila manusia telah diperbudak harta maka hubungan dengan Tuhan menjadi jauh. Kehidupan manusia di dunia hanyalah sebentar karena umur manusia juga telah ditentukan Tuhan. Penghaburan harta untuk kesenangan duniawi menyebabkan seorang terjebak dalam israf. Apabila manusia telah jatuh pada kebangkrutan atau pailit maka ia lebih dekat kepada kefakiran dan kefakiran mendekatkan pada kekufuran.

Batas wilayah Jombor dari arah barat ditandai dengan sungai Kuyuk dan bagian timur dibatasi dengan sungai lembarang, bagian selatan berbatasan dengan grumbul Pejaten dan di bagian utara berbatasan dengan Desa Cirangkok.

Lokasi yang dulu digunakan untuk mujahadah sekarang didirikan Masjid dan Pondok Pesantren. Bangunan Masjid dan Pesantren yang dibangun oleh Syaikh Abdus Shomad, berupa panggung dengan bahan dasar kayu dan bambu, tepat di sebelah utara


NAMA CIPETE

Cipete merupakan nama Desa dimana Syaikh Abdus Shomad tinggal memiliki sejarah nama yang menarik. Ada dua versi untuk mengetahui asal-usul nama desa ini, antara lain :

1.
Wilayah Cipete pernah menjadi perebutan antara Kawedanan Karanglewas dengan (Pasir Luhur) dengan Kawedanan Ajibarang. Tarik menarik antara siapa yang berhak menguasai. Dengan berbagai kesepakatan dan perundingan diantara dua Kawedanan tersebut diambil kesepakatan bahwa wilayah yang sempit “Cupet” menjadi wilayah tersendiri, bukan bagian dari wilayah Kawedanan Ajibarang maupun Karanglewas (Pasir Luhur). Tokoh pendiri Desa saat itu hanya memberikan jawaban tentang tidak adanya keterpihakan dan ketidakkesiapannya untuk tunduk kepada kedua Kawedanan, dengan mengatakan, “ Panggonan KayaKiye Cupete Kok Degawe Rageg” ( Wilayah yang segini sempitnya kenapa menjadi keributan). Berawal dari kata Cupete berubahlah ungkapan menjadi Cipete.

2.
Bahwa kata Cipete berasal dari kata dalam bahasa Sunda. Hal ini beralasan mengingat Syaikh Abdus Shomad berasal dari Cirebon dan Sunda Kelapa, menantu-menantu beliau juga berasal dari Cirebon Sunda, sehingga terpengaruh budaya dan tradisi Sunda. Berdasarkan penelitian bahwa terdapatnya Kali Mengaji dan Kali Logawa, (di wilayah Ketapang Karanglewas) menjadi batas wilayah barat banyak dipengaruhi budaya Sunda atau Kerajaan Galuh Pakuwan atau Padjajaran. Bukti-bukti itu dapat di lihat dari nama-nama desa yang berawalan ci, seperti Cilongok, Cikawung, Cipete, Citamo, Ciberung dan lainnya.

Tercatat di dalam catatan silsilah Jombor sebagai berikut :

Dari Ayahnya :

1.      Prabu Munding Sari
2.      Ratu Galuh
3.      Siung Winara
4.      Prabu Lingga Wastu
5.      Prabu Lingga Hayang
6.      Prabu Lingga Wastu
7.      Prabu Lingga Larang
8.      Prabu Munding Kawati
9.      Prabu Silihwangi
10.  Banyak Cathra
11.  Banyak Roma
12.  Banyak Wiratha
13.  Banyak Kesumba
14.  Pangeran Senopati Mangkubumi
15.  Panembahan kertalangu
16.  Nyai Ageng Kembangan
17.  Kyai Singawedhana
18.  Asy-Syaikh Abdush Shomad Jombor

Dari Ibunya :

1.     Rasulullah Muhammad Saw
2.     Fatimah Az-Zahrah
3.     Sayidina Husain
4.     ‘Ali Zainal Abidin
5.     Muhammad Al-Baqir
6.     Ja’far As-Shadiq
7.     ‘Ali Al’ridhi
8.     Muhammad
9.     Isya Albasyari
10.  Ahmad Al Muhazir
11.  ‘Ubaidilah
12. ‘Uluwi
13.  ‘Abdul Malik
14.  ‘Abdullah
15.  Imam Ahmad Syah
16.  Jamaludin Akbar
17.  Najmudin
18.  ‘Abdullah
19.  Syarif Hidayatullah  (Sunan Gunung Jati Cirebon)
20.  Maulana Hasanudin
21.  Pangeran Sakethi
22.  Panembahan Kertalangu
23.  Nyai Ageng Kembangan
24.  Kyai Singawedhana
25.  Asy-Syaikh Abdush Shomad Jombor

Ada nama yang sama dikarenakan Kanjeng Senopati Mangkubumi berbesanan dengan Pangeran Saketi.

Syaikh Abdus Shomad lahir di Jawa Barat. Tanggal dan tahun kelahiran belum ditemukan. Beliau diperkirakan lahir pada abad ke-16 M. Data yang mendukung terdapat pada bekas prasasti kayu dengan huruf Jawa yang tertulis “Gebyog Iki Dibangun Ing Tahun 1817 Masehi. Gebyog adalah Cungkup makam Syaikh Abdus Shomad. Sedangkan bangunan makam tersebut dibangun oleh Mbah Kyai Muhammad Noer Zaman, yang dalam catatan silsilah keluarga Jombor merupakan keturunan ketujuh dari Syaikh Abdus Shomad.

Petunjuk lain yaitu antara Syaikh Abdus Shomad dengan Adipati Joko Kaiman terdapat hubungan besan. Hasanudin putra Syaikh Abdus Shomad dinikahkan dengan putri dari Adipati Joko Kaiman. Hubungan ini mengindikasikan adanya rentang masa kehidupan mereka dalam kurun waktu yang sama.

Beberapa tahun kenudian bangunan makam yang semula terbuat dari ijuk diganti dengan seng atas prakarsa Syaikh Abdul Malik (Kedung Paruk Purwokerto), seorang ulama Kharismatik dan Guru Besar Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah dan Asy-Syadziliyah Indonesia, putra dari Syaikh Muhammad Ilyas Sokaraja, keturunan ke-empat Pangeran Diponegoro, bangswan dari Kesultanan Yogyakarta. Syaikh Abdul Malik Dari pihak ayah   yaitu Syaikh Muhammad Ilyas keturunan Kasultanan Yogyakarta, sedang dari pihak ibu keturunan Syaikh Abdus Shomad keturunan Padjajaran.

Setelah dari Makkah Syaikh Muhammad Ilyas dinikahkan dengan adik dari Syaikh Abdullah Kepatihan Tegal akan tetapi tidak dikaruniai keturunan, kemudian dinikahkan kembali dengan cucu Syaikh Andus Shomad yaitu Nyai Zainab, dan dikaruniai empat orang anak. Anak pertama laki-laki yang diberi nama Muhammad Asy’ad yang kemudian dikenal

MASA PENDIDIKAN

Masa muda Syaikh Abdus Shomad dihabiskan di Pondok Pesantren di Gunung Jati Cirebon Jawa Barat. Peluang karir untuk menjadi pejabat di lingkungan keraton seperti halnya suadara-saudaranya, tidak menarik perhatian bagi Syaikh Abdus Shomad muda.

Orangtuanya menyebutnya dengan filsafat tabuh beduk. Syaikh Abdus Shomad tidak tertarik menerima tongkat estafet pemimpin namun lebih tertuju kepada cita-citanmya menjadi seorang santri yang kelak mampu memberi manfaat kepada ummat dalam penyebar agama Islam dengan memilih tongkat tabuh / pemukul beduk yang adanya di longkungan pesantren / masjid.

Kehidupan keraton yang penuh dengan berbagai kesenangan dan berada di dalamnya adalah tingkat strata kehidupan yang tinggi, tentu tidak sama dengan kehidupan komunitas di Pondok Pesantren. Kehidupan serta kebutuhan diri memperpanjang kehidupan di Pondok dengan seluruh suka dan duka tidak merubah pendirian untuk terus “ngalap berkah ilmu sang kyai” hingga pada akhirnya sang kyai menganggap sebagai santri terbaik dengan menguasai ilmu-ilmu agama sebagai bekal pengembaraan melakukan dakwah Islam.

PERJALANAN DAN PERJUANGAN DAKWAH ISLAM

Setelah Syaikh Abdus Shomad dinyatakan lulus dengan prestasi terbaik, beliau pamit pulang dan oleh gurunya diberi petunjuk untuk berjalan ke timur ke arah selatan, setelah sebelumnya ia menetap beberapa tahun di Sunda Kelapa dan Cirebon, untuk melakukan dakwah di sana.

Kebiasaan Syaikh Abdus Shomad untuk bermujahadah seperti yang dilakukan di pesantren terus dilakukan, hingga satu waktu ketika beliau sedang menyepi bermujahadah di bawah pohon kelapa dalam suasana malam yang gelap serta rimbunnya tumbuhan disekitar hutan, telah merubah konsentrasi beliau ketika seekor ular besar mendekat. Dalam menghadapi ancaman tentu Syaikh Abdus Shomad tidak menyandarkan pada takdirnya sendiri. Bagaimana pun ia harus berusaha menghindar dari berbagai kemungkinan ancaman yang dihadapi dengan naik ke atas pohon kelapa agar konsentrasi mujahadah terus dapat dilakukan. Hingga menjelang pagi ular bukan malah pergi tetapi malah melilit pohon kelapa dimana beliau berada di atas.

Perjalanan selanjutnya menuju Pantai Selatan, yaitu Cilacap, menuju Kampung laut Kelapa Kerep. Kelapa Kerep konon adalah kelapa yang dirapatkan yang digunakan sebagai rakit.

SINGGAH DI JINGKANG-SAWANGAN

Sebelum Syaikh Abdus Shomad sampai di Jingkang Sawangan yang saat ini masuk wilayah Ajibarang, telah terjadi penyebaran Islam yang dilakukan oleh Mbah Munhasir, yang diyakini merupakan pendatang dari Sriwijaya-Palembang dan menetap di wilayah ini.

Mbah Munhasir dengan demikian adalah tokoh yang berperan dalam membuka hutan menjadi wilayah desa dibantu beberapa orang lokal, hingga kemudian Mbah Munhasir mendapat jodoh putri Redja Wikrama tokoh lokal yang telah memberikan fasilitas selama melakukan dakwah.

Pembukaan hutan menjadi areal desa telah menarik perhatian penduduk di luar wilayah Jingkang-sawangan sekitar berdatangan menuju kepada kehidupan baru di tempat ini.

Keadaan tersebut berlangsung dalam waktu yang lama, sehingga Mbah Munhasir merasa perlu untuk mendirikan Padepokan di wilayah Jingkang-Kalisari sebagai tempat berbagi ilmu-ilmu agama Islam dan ilmu-ilmu kanuragan. Setelah Mbah Munhasir wafat kepemimpinan padepokan diserahkan kepada putranya Mbah Sahidin. Setelah dua tokoh tersebut wafat tidak ada generasi berikutnya yang menyiarkan Islam di Ajibarang, sampai hadirnya Syaikh Abdus Shomad.

Syaikh Abdus Shomad sendiri sebenarnya hanya berniat singgah karena statusnya adalah sebagai musafir. Namun ketika keberadaan di tempat ini banyak diminta penduduk lokal akhirnya beliau bertahan beberapa tahun melanjutkan dakwah dari para pendahulu tokoh agama di wilayah ini.

Bersama dua pengikutnya yang merupakan santri Syaikh Abdus Shomad, yakni Mbah Bagus santri dan Mbah Bujang Santri, terus menerus melakukan dakwah sambil terus membuka lokasi hutan menjadi areal perkampungan. Ketika perjalanan masih terus berlanjut kedua santrinya wafat dan dimakamkan di Sawangan-Jingkang.

SINGGAH DI PEJATEN

Pejaten sekarang adalah grumbul di wilayah Desa Cipete Kecamatan Cilongok Banyumas. Grumbul Pejaten merupakan alas hutan jati, sebelum dibuka menjadi areal tempat tinggal.

Setibanya di Pejaten beliau melakukan laku ritual mujahadah di atas batu cadas Sungai Tenggulun. Bersamaan dengan itu, Nyai Sakheti putri tunggal Mbah Kroya atau Mbah Sukma Sejati, seorang tokoh yang tinggal di Bantuanten (2 km dari wilayah Pejaten) tengah mengalami sakit keras dan belum mendapatkan obat yang mampu menyembuhkan penyakit yang diderita putrinya.

Satu hari Mbah Kroya mendengar suara seperti gemuruh ombak, mirip suara kawanan lebah. Untuk memastikan bahwa sumber suara bukan ombak atau suara lebah namun berasal dari suara manusia, maka Mbah Kroya mengutus para pembantunya untuk mencari. Para pembantunya merasa tertegun setelah menemukan sumber suara itu adalah lafadz dzikir yang dilakukan oleh Syaikh Abdus Shomad yang duduk melakukan mujahadah di atas batu cadas sungai Tenggulun.

Percakapan para pembantunya di hadapan Syaikh Abdus Shomad telah mengundang naluri kemanusiaan Syaikh Abdus Shomad untuk bersilaturrahmi bertemu dengan Mbah Kroya dengan membawa air menggunakan daun talas dari sungai Tenggulun.

Pertemuan antara Mbah Kroya dengan Syaikh Abdus Shomad menumbuhkan rasa bangga diantara keduanya, karena mereka sama-sama bersasal dari wilayah Jawa Barat. Sampai beberapa hari kemudian Nyai Sakheti binti binti Mbah Kroya / Mbah Sukma Sejati dinikahkan dengan beliau Mbah Abdus Shomad.

Bantuanten berasal dari kata Bantuan atau Pertolongan dan Banten. Menilik dari sejarah terbentuknya desa Bantuanten tidak terlepas dari sosok Mbah Kroya sendiri. Mbah Kroya beserta beberapa pengikutnya pernah turut memberikan bantuan dalam sebuah peperangan yang melibatkan Kesultanan Banten. “Mbantu Banten”. Julukan  Mbah Kroya atau Mbah Sukma Sejati tidak lain karena Kroya merupakan grumbul tempat dimana beliau dimakamkan di pinggiran Sungai Tenggulun. Sedangkan adik laki-lakinya yang bernama Mbah Jati Kusuma dimakamkan di Kedung Makam Desa Bantuanten.

BERMUKIM DI JOMBOR

Setelah tinggal beberapa lama di Tempat Mbah Kroya bersama istri, maka Syaikh Abdus Shomad melanjutkan perjalanan ke wilayah Desa Cipete tepatnya di grumbul Jombor.

Perjalanan dari Bantuanten ke wilayah Cipete, harus melalui jalan setapak penghubung antara grumbul Pejaten, Jombor Selatan dan Jombor Kauman. Dengan menyusuri jalan yang jarang dilalui, Syaikh Abdus Shomad sesekali harus memastikan bahwa jalan yang sedang dilalui bukan jalan yang dilalui hewan-hewan buas.

Dalam perjalanan tersebut secara tidak sengaja beliau melihat anak harimau yang jatuh ke jurang sempit dan tidak mampu melompat ke atas karena tubuhnya terbelit akar. Terlihat sudah berhari-hari anak harimau itu tidak mampu melompat dan induknya tidak mampu menolongnya. Melihat ketidakberdayaan anak harimau tersebut Syaikh Abdus Shomad segera menurunkan barang bawaan sementara sang istri menunggu sambil berharap penuh kecemasan, karena berada di tengah hutan yang gelap oleh rimbunnya pohon-pohon besar.

Anak harimau yang terus bergerak agaknya cukup menyulitkan beliau untuk mengangkat ke atas. Pada saat tubuhnya hampir sampai di ujung jurang, anak harimau terus meronta hingga menimbulkan suara yang mengundang perhatian induk semangnya. Istrinya yang melihat kehadiran induknya yang bertubuh besar datang dan langsung hendak menerkam Syaikh Abdus Shomad. Namun beberapa saat harimau yang besar itu dapat ditaklukkan.

Di Jombor inilah menjadi tempat mukim Syaikh Abdus Shomad hingga akhir hayatnya. Konon Syaikh Abdus Shomad sempat menikah lagi dengan Nyai Saketi binti Mbah Abdul Salam, kakak seperguruan yang pernah bersama nyantri di Pesantren Cirebon.

Syaikh Abdus Shomad pada saat masih bersama di Pesantren pernah membuat perjanjian pada saat akan meninggalkan Pesantren, bahwa bila pada saat nanti Mbah Abdul Salam memiliki anak perempuan, maka akan dinikahkan dengan  Syaikh Abdus Shomad. Barangkali perjanjian itu hanya obrolan biasa sebagai seorang santri. Waktu telah berlalu dan Syaikh Abdus Shomad hampir sudah melupakan perjanjian yang tidak resmi tersebut. Namun perjanjian tersebut barangkali terdengar oleh Allah, sehinga merupakan do’a bagi Syaikh Abdus Salam. Rupanya perjanjian tersebut terus dipegang oleh Mbah Abdul salam, sehingga beliau mencari Syaikh Abdus Shomad untuk menepati perjanjiannya menuju Jombor bersama puterinya Nyai Sakheti ( nama sakheti adalah gelar bagi wanita bangsawan yang memiliki strata sosial tinggi). Setelah Mbah Abdul salam berada di Jombor, oleh Syaikh Abdus Shomad diminta untuk tetap tinggal di Jombor.

Penggalian informasi tentang istri dan keturunan yang di tinggal di Cirebon, sebelum mukim di Jombor juga belum tergali, dan lacak informasi keterangan tentang pernikahan Syaikh Abdus Shomad dengan Nyai Sakethi binti Mbah Abdus Salam, terutama pada anak keturunan dan sejarah Mbah Abdus Salam. Apakah silsilah keturunan syaikh Abdus Shomad hingga sekarang adalah pernikahan dengan Nyai Saketi binti Mbah Kroya /  Mbah Sukma Sejati ataukah keturunan pernikahannya dengan Nyai Saketi binti Abdus Salam, namun besar kemungkinan adalah pernikahan dengan Nyai Sakheti binti Mbah Kroya / Mbah Sukma Sejati, yang telah menerunkan ulama-ulama besar di Banyumas dan sekitarnya.

Mbah Abdus Salam sendiri disamping sebagai seorang ulama beliau juga seorang yang ahli dalam urusan tata pemerintahan . Dan seorang yang pandai berpidato atau ketib. Gagasan tentang tata aturan pemerintahan saat itu menjadi Inspirasi para pengelola wilayah baik Kesultanan maupun tingkat pemerintahan kawedanan.

Peran agama dan pemerintahan dijalani oleh Mbah Abdus Salam di wilayah Gununglurah saat itu. Kehebatannya dalam mendidik calon-calon pemipin, telah menerbitkan nama harum Gununglurah-Cilongok sebagai basis kampung para pemimpin, sehingga dinamakan Gunung Lurah.

Selama tinggal di Gununglurah ini, Mbah Abdus Abdul Salam banyak menerima tamu yang sengaja tukar kawruh tentang ilmu-ilmu pemerintahan. Beliau wafat dimakamkan di pekuburan umum Desa Gununglurah. Makamnya tidak pernah sepi dari para peziarah, terutama mereka yang memiliki hajat ingin mencalonkan diri mengabdi kepada negara atau pun Kepala Desa

Setelah Abdus Shomad merasa bahwa Jombor adalah pilihan terakhir untuk mengemban amanat sang guru dalam menyebarkan Islam di wilayah Kabupaten Banyumas, maka dengan bantuan warga sekitar diberi tanah sesuai dengan kebutuhan untuk mendirikan bangunan berupa Padepokan sebagai rumah berbagi ilmu agama Islam dan ilmu-ilmu yang lain yang diperlukan masyarakat saat itu.

Sebelum Syaikh Abdus Shomad menetap di Jombor dan mendirikan Padepokan telah ada seseorang yang dianggap tokoh / Kamitua / Sesepuh yang cukup disegani, meski dia sendiri bukan seorang kyai dan hanya seorang kamitua yang ahli dalam ilmu-ilmu kejawen. Agaknya sang kamitua ini merasa tersaingi dengan kehadiran beliau Syaikh Abdus Shomad. Dengan berbagai keilmuan “Kejawen” kamitua ini terus menanam permusuhan meski sebenarnya Syaikh Abdus Shomad tidak pernah berfikir untuk mengalahkan, namun karena kesombongan sang kamitua ini akhirnya kalah pamor.

Latar belakang keilmuan Kejawen yang diperoleh Kamitua / Sesepuh tersebut juga tidak jelas, bahkan berseberangan dengan ilmu-ilmu yang diajarkan Syaikh Abdus Shomad. Apakah keilmuan yang diajarkan diperoleh melalui guru atau pun dipelajari dari nenek moyangnya. Dalam bidang ilmu agama Islam yang dimiliki agaknya masih dangkal, karena tidak mampu mengangkat dirinya dalam status julukan kyai saat itu. Namun dari segi pamor agaknya luar biasa. Rumahnya tidak pernah sepi dari kehadiran warga sekitar untuk memohon petunjuk atau pepadang.

Kehebatan dalam menguasai ilmu klenik / Kejawen ini cukup untuk menarik perhatian sampai di luar Jombor. Pamor yang dimiliki kamitua ini juga menyebabkan kedudukan keluarga dan dirinya semakin kuat bertahan puluhan tahun di grumbul Jombor.

Dengan mukimnya Syaikh Abdus Shomad, Sang Kamitua menganggap bahwa kehadiran Syaikh Abdus Shomad di Jombor dianggap sebagai tandingan pamor bagi dirinya. Melalui propaganda yang dihembuskan kepada warga dan orang-orang yang datang di kediamannya, Kamitua ini terus memperkuat keadaan dirinya.  Dengan berbagai alasan Syaikh Abdus Shomad dianggap telah merubah adat tradisi dan tatanan yang telah berlaku dari generasi ke generasi, dan itu merupakan sebuah ancaman yang bersifat pribadi di mata masyarakat. Namun demikian dakwah tetap dilakukan dengan kesabaran hingga masyarakat setempat benar-benar meninggalkan tradisi-tradisi musyrik serta mengembangkan tradisi yang disentuh dengan ruh Islami, sebagai upaya media dakwah saat itu.

SYAIKH ABDUS SHOMAD DAN PENGELOLAAN PADEPOKAN

Ketika Syaikh Abdus Shomad menetap di Jombor usianya memang mendekati usia-usia 60 tahun. Usia tersebut tergolong usia senja menuju usia masa tua.

Kegiatan dakwah dilakukan di lingkungan Padepokan, karena secara fisik Syaikh Abdus Shomad tidak lagi sekuat dan memiliki energi yang penuh untuk melakukan keliling di wilayah Jombor dan sekitarnya.

Namun demikian Syaikh Abdus Shomad mendapat perhatian masyarakat di lingkungan di luar Desa Cipete sangat luar biasa, karena berita dari mulut ke mulut tentang kehadiran seorang ulama pembawa agama Islam semakin banyak yang singgah dan menetap di Kabupaten Banyumas saat itu. Para penuntut ilmu pun datang silih berganti hingga Syaikh Abdus Shomad wafat.

PENERUS PERJUANGAN

Dari sumber silsilah keluarga Jombor, disebutkan bahwa Syaikh Abdus Shomad memiliki tiga orang keturunan, dua laki-laki dan satu perempuan, masing-masing bernama, Nyai ‘Ali, Nadzmudidin dan Hasanudin (Mbah Lambak).

Nyai ‘Ali nikah dengan Kyai Zainal Ali dari Cirebon. Keturunan dari Nyai ‘Ali dengan Kyai Zaenal inilah yang kemudian meneruskan perjuangan Islam di Jombor dan turun temurun menjadi perawat (kuncen) makam Syaikh Abdus Shomad, sampai sekarang.

Anak keturunan Nyai ‘Ali dengan Kyai Zaenal Ali tersebar di beberapa wilayah, seperti di Ajibarang, Pasiraman, Cikawung, Kali Benda, Citomo, Kroya, Sumpiuh, Sokaraja, Sawangan-Purwokerto, Wangon, Purbalingga, Bajarnegara, Blitar (Jawa Timur) sampai ke Lampung (Sumatera). Sedangkan Hasanudin atau yang dikenal dengan Julukan Mbah Lambak tinggal menetap di Banyumas dan dimakamkan di Dawuhan Banyumas.

Mbah Ketib Arum (Ketib Arum adalah putera dari Kyai Ali Muhammad dan Kyai Ali Muhammad adalah putera dari Kyai Muhammad dan Kyai Muhammad adalah putera tunggal dari Nyai ‘Ali sedang Nyai ‘Ali adalah puteri dari Syaikh Abdus Shomad). Dikenal sebagai tokoh ulama sekaligus orang yang pandai dalam berpidato (ketib). Pernah menjadi penghulu, sebuah lembaga pemerintahan bentukan Kolonial Belanda serta giat menekuni olah kanoragan.

Setelah semua keturunan Mbah Ketib Arum ini wafat, Padepokan dipindahkan ke Jombor Tengah atau kauman, karena pertimbangan keluarga / kerabat sebagian menetap di tempat ini, dan awal Syaikh Abdus Shomad pertama kali sering melakukan mujahadah juga di tempat ini. Selanjutnya Padepokan di asuh oleh Mbah Kyai Muhammad Sulaiman, yang merupakan menantu sebelumnya. Mbah Kyai Sulaiman ini adalah keturunan dari Adipati Mruyung Ajibarang.

Berikut adalah generasi penerus yang mengembangkan Pondok Pesantren di Jombor :

1.
Mbah Kyai Zainal ‘Ali
2.
Mbah Kyai Achmad Muhammad
3.
Mbah Kyai ‘Usman ‘Ali
4.
Mbah Kyai ‘Ali Muhammad
5.
Mbah Kyai Ketib Arum
6.
Mbah Kyai Zainal ‘Ali
7.
Mbah Kyai Munadha
8.
Mbah Kyai Marhani
9.
Mbah Kyai Muhammad Ikhsan
10.
Mbah Kyai Muhammad Sulaiman
11.
Mbah Kyai Muhammad Noer Zaman
12.
Kyai Abdurrahman

Sekitar tahun 1960 an keberadaan Pondok Pesantren, mengalami masa-masa fakum. Pengelolaan peninggalan Syaikh Abdus Shomad berkisar pada perawatan makam Syaikh Abdus Shomad, pengelolaan masjid, pengembangan lembaga pendidikan seperti Madin, Majlis Taklim, dan Madrasah Ibtidaiyah. Dari kepemimpinan Kyai Abdurrahman menurun pada  generasi berikutnya seperti :

1.
Kyai Muhiddin - Menantu
2.
Kyai Mas’ud (puetra pertama Kyai Abdurrahman)
3.
Kyai Humam Mas’udi (putera Kyai Mas’ud)
4.
Kyai Abdullah Sajad (keturunan kesembilan  Syaikh Abdus Shomad) Koordinator pengurus makam, yang merupakan putera dari Kyai Muhammad Hasan Tayyib (kuncen terdahulu) dengan puteri ketiga dari Kyai Muhammad Noer Zaman yaitu Nyai Kusrinah.

Setelah waktu berlalu lama akhirnya Pondok Pesantren kembali dibangun di wilayah Jombor oleh Kyai Muhdi bin Kyai Muhidin. Kyai Muhdi adalah keturunan kesepuluh dari Syaikh Abdus Shomad Jombor. Sementara di Jombor Kauman menjadi pusat pengelolaan lembaga pendidikan seperti, Madin, Madrasah, Majlis taklim.

KAROMAH SYAIKH ABDUS SHOMAD

1.
Menimba Emas

Dikisahkan setiap kali beliau berhadast, beliau turun untuk mengambil air wudlu. Ketika Syaikh Abdus Shomad menggunakan periuk atau kendi sebagai timba untuk mengambil air, kemudian secara perlahan diangkat ke atas terdapat keanehan, sebab periuk atau kendi yang sedang diangkat ke atas terasa berat dan harus mengeluarkan tenaga yang lebih. Alangkah terkejutnya ketika periuk yang telah menyentuh bibir sumur, terlihat bukan hanya berisi air tetapi sebagian dari badan periuk berisi bongkahan emas yang lebih besar dari periuk yang digunakan untuk timba.

Sadar bahwa beliau sedang diuji oleh Allah, SWT segera ia beristighfar dan berdo’a, mengadu bahwa bukan harta duniawi yang beliau pinta, namun pertolongan, kekuatan, kesabaran serta ridlo Allah SWT dalam memperjuangkan Agama Islam, di tempat yang baru, budaya masyarakat yang bermacam-macam serta kepercayaan yang beragam, hingga kemudian beliau melemparkan kembali emas tersebut ke dalam sumur.

2.
Membungkam Gong

Konon tradisi kesenian seperti wayang, kuda lumping dan kesenian yang mempergunakan gong, kenong atau benda lain sebagai alat musiknya, tidak akan berfungsi atau berbunyi apabila di bunyikan di wilayah Jombor. Dalam sejarahnya sampai hari ini, belum pernah di jombor ada pagelaran wayang, ronggeng, tayub ataupun kuda lumping.

Keadaan ini mengisyaratkan sejarah tersendiri bagi warga setempat. Bagi kebanyakan orang hal tersebut mungkin sudah mafhum, bahwa itu merupakan Karomah yang dimiliki Syaikh Abdus Shomad, mengingat jasad beliau dimakamkan di tanah ini. Karomah tersebut pada dasarnya tidak bisa dinalar sebab itu kekuasaan Allah. Namun bagi kebanyakan orang tentu hal ini menjadi sesuatu yang menarik untuk dikaji akar peristiwa yang melatar belakangi.

3.
MEMBUAT “KEDER” SERDADU BELANDA

Karomah ini tidak saja terjadi ketika Syaikh Abdus Shomad masih hidup, bahkan setelah beliu wafat pun masih dapat dirasakan di lingkungan sekitar Jombor. Diantara karomah yang terjadi setelah beliau meninggal antara lain membuat bingung atau Keder. Keder yang sering terjadi pada kita terkadang seputar arah dan tempat serta menjadi linglung meskipun kita sebenarnya sadar


Pada masa penjajahan Belanda, para serdadu Belanda bukan hanya berusaha merebut dan menguasai pusat-pusat kota di sekitar Banyumas, namun seluruh pelosok di wilayah Banyumas ini tidak lepas dari kegiatan operasi, untuk memburu para tentara Indonesia yang bersembunyi di wilayah pedesaan.

Para serdadu Belanda ini konon mengalami hal aneh dan tidak mampu membuat keputusan operasi penyergapan atau pun penyerangan terhadap markas tentara Republik, ketika akan masuk ke Desa Cipete.

Semua jalan yang menuju Desa Cipete, dianggap sebagai jalan buntu, yang tidak memungkinkan untuk dilalui mobil-mobil perang serta terhamparnya jurang dan bukit yang tidak memungkinkan serdadu yang berjalan kaki untuk turun dan mendaki. Dengan keaneha-keanehan tersebut para serdadu Belanda kemudian mengalihkan dan berbalik mencari jalan yang lain.

Meski telah menemukan jalan lain menuju Desa Cipete, namun para Serdadu Belanda ini mengalami keanehan lain yang sama pada peristiwa kejadian pertama. Akhirnya para tentara Belanda ini hanya bisa berhenti di perbatasan desa, bingung karena jalan yang dilalui terlihat seperti jalan yang pertama kali dilalui.

Hal itu berlaku bagi seluruh Serdadu Belanda, meskipun kompi / pasukan yang berbeda-beda pasti akan mengalami hal yang sama, baik mereka yang datang dari arah barat (Ajibarang) maupun mereka yang datang dari arah timur (Purwokerto).

PENINGGALAN-PENINGGALAN SYAIKH ABDUS SHOMAD

1.
Masjid Baitus Shomad Jombor, yang merupakan petilasan beliau melakukan kegiatan mujahadah.

2.
Pohon Kayu Nagasari yang berada di lokasi makam Syaikh Abdus Shomad, yang telah berusia ratusan tahun yang di tanam di kompleks makam dan digunakan sebagai tanda di tempat tersebut dimakamkan pula keturunan Syaikh Abdus Shomad. Hal yang sama juga ditemukan pada komplek makam Mbah Lambak (Mbah Hasanudin) di sebelah selatan makam Joko Kaiman.

3.
Sebuah Bedug yang terbuat dari kayu sidagurih. Terdapat tiga bedug yang dibuat, satu bedug di bawa ke ke Demak, satu di bawa ke Purwokerto dan satu ada di Jombor.

-------------+++----------------+----------------------------------------------------------------------

Demikian sejarah singkat perjalanan Syaikh Abdus Shomad Jombor, ulama yang memiliki karomah yang tinggi yang telah berperan dalam menyebarkan Agama Islam di Banyumas.

Penampilannya yang bersahaja, akhlaknya tinggi, kedalaman ilmu dalam bidang Tasawuf / Tarekat, Aqidah, Fiqih / mu’amalah, telah menempatkan beliau sebagai ulama yang disegani pada zamannya. Sedangkan karya-karya beliau yang bersifat tertulis dan sebagainya juga belum tergali.

Karomah dan do’a-do’anya telah memberi pencerahan bagi penduduk setempat baik ketika masih hidup maupun setelah beliau wafat. Maqamnya yang berada di Jombor tidak pernah sepi dari para pengunjung yang sengaja datang untuk berziarah, mendo’akan dan berdo’a di dekat maqam seorang wali yang memiliki karomah. 

Mudah-mudahan tulisan rintisan ini akan menjadi berkembang menuju pada penggalian Koreksi dan informasi yang lebih lengkap dan sangat berguna bagi Masyarakat Banyumas dan sekitarnya.‎

 

Sejarah Situs Rogoselo


Doro adalah sebuah kota kecamatan kecil yang berada di arah timur kota Kabupaten Pekalongan yang berpusat di Kajen. Sebagai kota kecil yang berada di bawah kaki gunung Rogojembangan, Doro memiliki suhu relatif sejuk.

Selain tanaman industri seperti karet, pinus dan teh, Doro juga dikenal sebagai penghasil buah durian dan rambutan, bersanding dengan kecamatan Karanganyar di sebelah barat, serta kecamatan Talun di sebelah timur. Secara umum wilayah Doro lebih didominasi area perkebunan daripada area pertanian.

Di tengah area perkebunan karet, di desa Rogoselo, terdapat sebuah situs (areal temuan benda purbakala), yang dikenal oleh masyarakat sebagai patung Baron Sceber.

Keberadaan patung Baron Sceber, telah melahirkan cerita rakyat yang kental dengan hal-hal irrasional. Misalnya cerita tentang pertarungan antara Baron Sceber dengan Ki Ageng Atas Angin atau Ki Ageng Penatas Angin, biasa juga disebut Ki Penatas Angin.

Sekilas Legenda  “Baron  Sceber” 

Baron van Sceber, begitu nama lengkapnya, adalah seorang prajurit dari Spanyol.  Baron Sceber merasa iri kepada kakaknya yang menjadi raja, sementara dari tahun ke tahun ia hanya menjadi prajurit biasa. Karena ambisinya menjadi raja, iamemutuskan mengembara mencari daerah baru, menaklukkan rajanya, kemudianmenjadi penguasa di daerah baru tersebut.

Dalam pengembaraannya, untuk memenuhi ambisinya, Baron Scebermengabdi pada Belanda yang memiliki daerah jajahan sangat luas di nusantara.

Pengabdiannya pada Belanda membawanya ke tanah Jawa. Ambisinya menjadi raja yang meledak-ledak, membawanya ke depan Pendopo Agung kerajaan Mataram

Di depan Pendopo Agung, Baron Sceber menantang Panembahan Senapati dengan taruhan yang menang akan menjadi penguasa di Jawa. Dalam pertarungan sengit, Baron Sceber kalah dan melarikan diri ke Pati.

Di Pati, Baron berulah kembali dan menantang Adipati Jaya Kusuma. Pertarungan tidak dapat dielakkan. Kembali Baron kalah, lantas melarikan diri ke Pekalongan disusul oleh istrinya yang datang sambil menggendong bayi.

Sampai di tepi sungai Nggoromanik, di Pekalongan, Baron bertemu dengan Ki Ageng Atas Angin. Ambisi Baron menjadi penguasa tak pernah padam, karena itu terhadap Ki Ageng Atas Angin pun dia melayangkan tantangan.

Tantangan pertama berupa pertarungan udara. Dalam pertarungan udara ini Baron menggunakan pesawat yang cukup canggih di masa itu. Baron merasa unggul berada di udara, karena dia pikir Ki Ageng Atas Angin tak mungkin bisa mengimbanginya.

Tetapi yang terjadi sungguh di luar dugaan, karena tiba-tiba saja tubuh Ki Ageng Atas Angin melesat ke udara, dan pertarungan di atas udara pun tak terelakkan.

Dalam pertarungan udara yang berlangsung seru, Ki Penatas Angin berhasil memaksa Baron Sceber turun ke darat. Belum puas atas kekalahannya dalam pertarungan udara, Baron melanjutkan dengan pertarungan darat. Dalam pertarungan darat pun Baron menelan kekalahan. Akhirnya sebagai pertarungan pungkasan atau terakhir, diputuskan untuk diadakan adu kesaktian dengan cara menyelam di dasar sungai. Pertarungan jenis ini pun dimenangi oleh Ki Ageng Penatas Angin.

Baron Sceber benar-benar orang yang keras kepala, ia tetap tidak mau menyerah dan merencanakan jenis pertarungan baru. Tapi sebelum ia melaksanakan niatnya, Ki Ageng Penatas Angin sudah hilang kesabaran dan mengutuknya menjadi batu.

Istrinya yang terkejut melihat perubahan tubuh suaminya menjadi batu, ia menjerit histeris seraya berlari memeluk tubuh suaminya. Karena perbuatannya itu, akhirnya ia juga ikut menjadi batu.

Sampai sekarang ada dua patung (arca) batu di situ. Satu patung diyakini sebagai patung Baron Van Sceber, patung satunya lagi diyakini sebagai patung Nyi Baron Sceber.

Penamaan Tempat

Keberadaan patung berupa tubuh (Bhs. Jawa: raga/rogo) yang terbuat dari batu (Bhs. Jawa: selo), telah melahirkan nama tempat tersebut menjadi Rogoselo, yang berarti tubuh dari batu.

Secara fisik patung Baron Sceber ini hanya berupa patung setengah badan, dibuat kasar dengan bentuk kepala besar dan sepasang mata yang dipahat melototlebar (menyerupai raksasa dalam dongeng-dongeng).

Gambaran patung yang demikian juga mirip dengan deskripsi wajah tokoh butodalam dunia pewayangan. Karena itu orangjuga menyebut nama situs tersebut dengan nama situs Watu Buto.‎

Kearifan Lokal

Kajian dari versi cerita rakyat (juga dalam Babad Baron Scender di Cirebon) akan menisbikan fakta: Bagaimana halnya dengan keberadaan batu lumpang, menhir, dan lingga-yoni serta umpak-umpak yang terdapat dalam area situs?

Temuan barang-barang lain di area situs menunjukkan bahwa ada korelasi tak terpisahkan antara patung dengan barang-barang lain tersebut.

Korelasi antara cerita rakyat dengan keberadaan situs merupakan kearifan lokal yang berfungsi menjaga keselarasan budaya lokal dalam persinggungannya dengan budaya dari luar.

Kajian secara ilmiah dengan mendasarkan pada fisik patung dan benda-benda lain dalam area situs akan memberikan pencerahan bagi peran serta wilayah Pekalongan dalam catatan sejarah awal hubungan Indonesia–India dan masuknya pengaruh Hindu/Budha di Indonesia.‎

Akulturasi Budaya

Interaksi yang kemudian menjelma menjadi akulturasi budaya antara Indonesia–India (salah satunya) dapat dilihat dari situs Rogoselo. Fakta ini dapat dipahami mengingat pantai utara Jawa merupakan jalur perdagangan kuno antara India–Cina–Indonesia. Meskipun jarang diungkap dalam pembahasan sejarah, tetapi bukti-bukti tertua anasir-anasir Hindu/Budha telah berkembang seiring dengan perkembangan budaya lokal.

Mustahil, jika pengaruh Hindu/Budha dari India mengarah pada daerah dataran Tinggi Dieng dan Kedu tanpa melalui perantara daerah-daerah pesisir. Dengan beranalogi pada cerita rakyat Aji Saka sesungguhnya dapat ditelisik bahwa Aji Saka meninggalkan Sembada di sebuah daerah (pesisir?) untuk selanjutnya berjalan ke arah selatan bersama Dora. Makna yang tersirat dari cerita rakyat ini memberikan gambaran awal-mula persentuhan budaya/agama Hindu/Budha di daerah-daerah pesisir yang menjadi jalur perdagangan.

Jika prasasti Sojomerto di kecamatan Reban dianggap sebagai “sabda Aji Saka” (yang kemudian dikenal sebagaihuruf Jawa), dikaitkan dengan situs Ganesha di Wonotunggal, prasasti di Blado, Yoni di Talun, situs Gedong dan Nagapertala, dan situs Rogoselo, maka pengkajian sejarah lokal masuknya pengaruh Hindu/Budha di daerah Pekalongan akan dapat memberikan kontribusi bagi penulisan sejarah ulang sejarah Indonesia Masa Hindu/Budha. 
Legalitas Situs
Situs ”Baron Sceber” atau situs Watu Buto terletak di dukuh Kaum desa Rogoselo, terletak kurang lebih 14 km ke arah Barat Daya kecamatan Doro. Berada di hutan karet milik PTP IX Blimbing.

Situs ”Baron Sceber” berupa: batu lumpang, dua buah patung dwarapala,  lingga-yoni, umpak-umpak dan menhir. Nama situs ”Baron Sceber” diambil dari  legenda yang berkembang di masyarakat yang menyebutkan patung ini  merupakan penjelmaan dari seorang prajurit Belanda yang bernama Baron Van Sceber dan istrinya yang dikutuk Ki Ageng Atas Angin akibat kalah perang. 

Pelestarian dan Pemanfaatan Situs

Mengingat begitu penting artinya keberadaan situs sebagai cagar budaya, maka perlu adanya upaya penyelamatan terhadap benda-benda peninggalan budaya agar dapat menjadi kebanggan bangsa dan sekaligus menjadi sumber pembelajaran dan penelitian bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Upaya penyelamatan yang dimaksud berupa: 
Pertama, perawatan. Perawatan intensif diperlukan mengingat bahwa benda-benda peninggalan budaya dapat hancur di alam terbuka. Kerusakan benda-benda peninggalan budaya yang disebabkan oleh faktor alam, kondisi iklim yang selalu berubah-ubah selama berabad-abad, perlu mendapat perhatian serius.

Perawatan yang minim, menyebabkan situs “Baron Sceber” ditumbuhi lumut yang akan mempercepat proses kerusakan. Lebih memprihatinkan lagi adalah batu lumpang dan lingga-yoni yang berada di luar pagar. Keduanya tertutup semak sehingga tidak semua orang dapat mengenalinya sebagai situs sejarah.

Kedua, keamanan. Keamanan diperlukan sebagai upaya penyelamatan benda-benda budaya dari tangan-tangan jahil manusia yang tidak bertanggungjawab.Akibat kurangnya keamanan, banyak peninggalan budaya yang raib dicuri orang.Pencurian terjadi karena benda-benda tersebut memiliki nilai sejarah yang tidak tergantikan dengan benda serupa yang dibuat pada masa sekarang. Akibatnya banyak orang yang tergiur karena nilai ekonomisnya yang kadang tidak masuk akal.

Mengenalkan kepada masyarakat tentang benda peninggalan sejarah bukan berarti memberi peluang bagi orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk sekehendak hati mencuri benda-bendatersebut. Mengenalkan yang dimaksud adalah menyosialisasikan pemanfaatan benda-benda bersejarah kepada siswa dan guru serta masyarakat sebagai sumber pembelajaran dan penelitian, yang akhirnya dengan belajar dari sejarah, akar kebudayaan bangsa Indonesia akan tetap terjaga sebagai jati diri bangsa.

Situs  “Baron  Sceber” 

Situs “Baron  Sceber” terletak 14  kilometer  dari kecamatan Doro atau  sekitar 35 kilometer dari pusat Kota Pekalongan ke arah Selatan, tepatnya  berada di kawasan perkebunan PTP IX Blimbing di dukuh Kaum, desa  Rogoselo.

Secara geografis daerah ini diapit oleh dua sungai besar yaitu sungai  Sengkarang di bagian Barat dan sungai Welo di bagian Selatan. Kedua sungai  ini  berhulu di pegunungan Kendeng.

Memasuki areal situs, terbentang sungai Nggoromanik (anak cabang sungai Welo), yang dalam legenda diceritakan sebagai tempat  berlangsungnya  pertarungan antara Baron Sceber dengan Ki Ageng Atas Angin. Benda-benda  peninggalan budaya yang terdapat pada situs ”Baron Sceber”, antara  lain:
1.             Batu Lumpang
Bentuknya bulat, dengan diameter 84 cm, tinggi 49 cm, pada bagian  tengah terdapat lubang dengan kedalaman 20 cm. Oleh masyarakat  disebut sebagai Batu Lumpang karena bentuknya yang menyerupai  lumpang atau alat penumbuk padi. Fungsi sesungguhnya dari benda ini  belum diketahui secara pasti.
2.             Patung ”Baron  Sceber” dan istrinya
Terdapat dua buah patung batu, yang satu menghadap ke arah sungai,  tinggi 146 cm, lingkar kepala 189 cm, lingkar badan 305 cm.
Sementara  yang sebuah lagi terletak 3 meter dari patung pertama, arah kiri,  tinggi 87 cm, lingkar kepala 175 cm, lingkar badan 237 cm. Kedua patung ini (seperti) dalam keadaan setengah jongkok. Hiasan atau ornamen pada kedua patung tampak kasar dan sudah aus  termakan usia. Bagian kepala bergelung, kedua mata melotot, tangan kanan membawa gada (oleh masyarakat dikatakan sedang menggendong bayi) dan tangan kiri agak ditekuk ke belakang. Hal yang  agak aneh, di antara kedua patung terdapat batu mirip menhir (jaman  Megalithikum), bergaris melingkar sejajar pada ujungnya.
3.         Umpak–umpak atau batu pondasi.
Dari situs patung, ke arah Timur pada tanah yang  agak  tinggi,  berjarak  20 sampai 30 meter. Di tempat ini terdapat tiga buah umpak–umpak,  satu dalam keadaan utuh dengan sisi 61 cm, tinggi 27 cm, pada bagian  tengah terdapat lubang. Dimungkinkan lubang ini untuk menyangga  kayu sebagai bagian daritubuh candi. Satu umpak–umpak dalam  keadaan rusak dan satu lagi hanya sebagian yang terlihat di bawah akar  pohon.
4.         Lingga-yoni
Pada  tepi  tanah  agak  tinggi  ke arah Timur, terdapat lingga yoni yang  tersembunyi di bawah rumpun bambu dengan kondisi semakin aus.  Secara fisik tinggi yoni 71 cm, sisi bagian bawah 24 cm, dan sisi bagian  atas 30 cm. Sedang lingga bergaris tengah 68 cm, dan tinggi 72 cm  dipahat secara kasar.
Dalam mitologi Hindu, lingga yoni diumpamakan sebagai alat kelamin  laki-laki dan perempuan menggantikan keberadaan Dewa Syiwa dalam  sebuah candi utama untuk melambangkan kesuburan. 
5.         Menhir
Kurang lebih 1 km dari  lingga yoni ke arah timur, terdapat tugu–tugu  monolith seperti tugu batu peringatan pada jaman Megalitikum.  Sayangnya,  sekarang sudah dibangun cungkup besar yang tidak boleh  dibuka untuk umum. 

Pertanyaannya, mengapa keberadaan lingga yoni  (kebudayaan masa Hindu) dapat bersebelahan dengan hasil  kebudayaan Megalithikum, yang merupakan hasil budaya zaman prasejarah?    Dimungkinkan telah terjadi akulturasi kebudayaan antara Hindu dan kebudayaan zaman Megalithikum. Untuk memastikan adanya korelasi antara keduanya, tentunya diperlukan penelitian lanjutan yang lebih intensif oleh ahli terkait.
Kesimpulan

Dari uraian di muka dapatlah disimpulkan, bahwa: 
1) Situs ”Baron Sceber” terletak di Dukuh Kaum Desa Rogoselo Kecamatan Doro Kabupaten Pekalongan, di perkebunan karet milik PTP IX Blimbing, 
2)Dalam Situs ”Baron Sceber” terdapat benda-benda bersejarah seperti  batu  lumpang, lingga yoni, dua patung dwarapala, dan umpak-umpak membuktikan persinggungan budaya asli dengan anasir-anasir Hindu secara damai, 
3) Untuk menjaga kelestarian situs dibutuhkan perawatan intensif sehingga benda purbakala yang ada di dalamnya terhindar dari kerusakan karena faktor alam dan juga terhindar dari jarahan tangan-tangan jahil, 
4) Pemanfaatan benda purbakala di area situs sebagai sumber belajar sejarah dan sumber penanaman nilai-nilai kebangsaan bagi siswa, guru dan masyarakat, 

5) Memelihara kearifan lokal yang ada untuk menjaga keselarasan antara alam, manusia, Tuhan beserta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. ‎

 

Doa Nabi Sulaiman Menundukkan Hewan dan Jin

  Nabiyullah Sulaiman  'alaihissalam  (AS) merupakan Nabi dan Rasul pilihan Allah Ta'ala yang dikaruniai kerajaan yang tidak dimilik...