Sabtu, 21 November 2020

Puncak Songolikur Gunung Muria


Gunung Muria adalah sebuah gunung di wilayah utara Jawa Tengah bagian timur, yang termasuk ke dalam wilayahKabupaten Kudus di sisi selatan, di sisi barat laut berbatasan dengan Kabupaten Jepara, dan di sisi timur berbatasan dengan Kabupaten Pati. Di kawasan ini terdapat tempat yang sangat legendaris peninggalan Wali Songo, yaitu pesanggrahan di kawasan puncak Gunung Muria yang dalam sejarah negeri ini merupakan basis pesanggrahan di manaKanjeng Sunan Muria menyebarkan agamaIslam di tanah Jawa. Di sini pulalah Sunan Muria dimakamkan. Nama Gunung Muria dan daerah Kudus dinamakan berdasarkan nama Bukit Moria dan kota Al-Qudus/Baitul Maqdis/Yerusalem. Demikian pula nama Masjid Al Aqsa Menara Kudus berdasarkan nama Masjid di Yerusalem..

Puncak Muria
Gunung Muria mempunyai ketinggian1.601 meter dari permukaan laut. Puncak-puncaknya yang tertinggi antara lain:

Puncak Songolikur; merupakan puncak tertinggi di Gunung Muria. Sering juga disebut sebagai puncak Saptorenggo.
Puncak Candi Angin; tapi sampai saat ini belum ada yang tau berapa ketinggian puncak Candi Angin
Puncak Argowiloso; tapi sampai saat ini belum ada yang tau berapa ketinggian puncak Argowiloso.‎
Puncak Argojembangan
Puncak Abiyoso

Puncak Saptorenggo atau disebut juga Puncak Songolikur adalah puncak tertinggi di Gunung Muria Jawa Tengah dengan ketinggian 1602 meter dpl. Puncak ini termasuk dalam wilayah administratif desa Rahtawu, Gebog Kabupaten Kudus Jawa Tengah.
Selain menjadi puncak yang menarik perhatian setiap Pecinta Alam untuk mendakinya, juga menjadi tempat tujuan bagi para pencari berkah dan pelaku spiritual utamanya pada setiap bulan sura atau bulan muharam.

Dahulu kala Konon katanya di Puncak Rahtawu – yaitu Puncak Songolikur ( Puncak 29 ) adalah pusat pertapaan para dewa yang selalu memberikan kedamaian dan rahmat di Bumi.
Wisata pegunungan Rahtawu merupakan suatu tempat yang terletak di kaki Gunung Muria sekitar 20 km dari Kota Kudus yang terletak di desa Rahtawu Kecamatan Gebog. Rahtawu ini memiliki pemandangan yang indah karena letaknya yang dikelilingi deretan pegunungan dan sungai-sungai yang masih jernih. Mata air sungai Kali Gelis berasal dari Rahtawu ini. Kawasan ini sangat cocok bagi para pelajar, remaja serta muda-mudi yang berhobi mendaki gunung dapat menyusuri jalan setapak menjelajahi medan pegunungan Rahtawu untuk menaklukkan Puncak “SONGOLIKUR”.

Selain memiliki wisata alam, Rahtawu mempunyai wisata budaya karena di rahtawu ini terdapat tempat-tempat pertapaan / petilasan dimana nama petilasan tersebut diambil dari beberapa cerita pewayangan, yaitu: Hyang Semar, Petilasan Abiyoso, Begawan Sakri, Lokojoyo, Dewi Kunthi, Makam Mbah Bunton, Hyang Pandan, Argojambangan, Jonggring Saloko dan Sendang Bunton

Rahtawu yang berhawa dingin dan jauh dari keramaian merupakan daya tarik bagi yang suka laku prihatin.
Kata orang desa rahtawu nama Rahtawu mempunyai arti getih yang bercecer (bahasa jawa) kalo indonesianya (darah yang bercecer )

Tabu/Pantangan tertentu. Di Rahtawu juga ada pantangan, yakni warga dilarang nanggap wayang kulit. Meski di sana banyak nama petilasan bernama leluhur Pandawa.
“Bila dilanggar, yang bersangkutan terkena bencana,”
Jadi kalau ada warga punya hajat, paling nanggap tayub, ( Jogetan tradisional di daerah pantura Jawa tenggah)

Prosesi ritual itu dikatakan sebagai tradisi warga Rahtawu yang berjalan turun-temurun. “Maksudnya untuk memanjatkan doa kepada Tuhan dan minta keselamatan agar hasil bumi lebih banyak dari tahun lalu.
Rahtawu memang menyimpan banyak misteri. Dan seharusnya, baik ilmuwan Islam maupun juru dakwah tertarik dan mencari tahu bagaimana praktik Islam di sana. Apalagi, dinamika kehidupan warga di Rahtawu yang juga masih tradisional

MITOS, Wukir Rahtawu merupakan tempat pertapaan Resi Manumayasa sampai kepada Begawan Abiyasa yang merupakan leluhur Pandawa dan Korawa.
Menurut cerita babad dan Purwa, konon leluhur raja-raja Jawa merupakan keturunan dinasti Bharata.

Di Rahtawu terdapat banyak “petilasan pertapaan” yang diyakini dahulu kala memang benar-benar merupakan tempat bertapanya “para suci” yang oleh penduduk setempat disebut “Eyang”.
Diantaranya :

Eyang Sakri (Bathara Sakri), di Desa Rahtawu.
Eyang Pikulun Narada dan Bathara Guru, di Joggring Saloka, dukuh Semliro, desa Rahtawu.
Eyang Abiyasa dan Eyang Palasara, di puncak gunung “Abiyasa”, ada yang menyebut “Sapta Arga”.
Eyang Manik Manumayasa, Eyang Puntadewa, Eyang Nakula Sadewa di lereng gunung “Sangalikur”,
di puncaknya tempat pertapaan Eyang Sang Hyang Wenang (Wening) dan sedikit ke bawah pertapaan Eyang Ismaya.
Eyang Sakutrem (Satrukem) di sendang di kaki gunung “Sangalikur” sebelah timur.
Eyang Lokajaya (Guru Spirituil Kejawen Sunan Kalijaga, menurut dongeng Lokajaya nama samaran Sunan Kalijaga sebelum bertaubat), di Rahtawu.
Eyang Mada (Gajah Mada) dan Eyang (Romo) Suprapto, berupa makam di dusun Semliro.

Semua “petilasan” (kecuali makam Eyang Mada) merupakan “batu datar” yang diperkirakan sebagai tempat duduk ketika bertapa (meditasi, semadi). Sayangnya, semua petilasan tersebut telah dibuatkan bangunan dan dibuat sedemikian rupa “sakral” dengan diberi bilik yang tertutup dan dikunci.
Pembukaan tutup dilakukan setiap bulan Suro (Muharam) tanggal 1 s/d 10.

Di setiap petilasan dibuatkan suatu bilik khusus untuk melakukan “ritual sesaji” dengan bunga dan pembakaran dupa. Juga disediakan suatu ruangan cukup luas untuk para pengunjung beristirahat dan menunggu giliran untuk melakukan “ritual sesaji” maupun “ngalap berkah”
Di Rahtawu pengaruh peradaban Hindu, Buddha dan Islam tidak nampak jelas. Tidak ada jejak berupa bangunan peribadatan (candi) Hindu dan Buddha. Bahkan tidak ada arca maupun ornamen bangunan yang terbuat dari batu berukir sebagaimana ditemukan di Dieng, Trowulan, Lawu, dan tempat-tempat lainnya di Jawa.

Bangunan peribadatan berupa masjid ataupun langgar (mushalla) merupakan bangunan baru buatan jaman ini. Maka sesungguhnya mengundang suatu pemikiran, situs peradaban apakah di Rahtawu tersebut ?
ini berkaitan dengan ajaran budhi (Sabdo Palon) ajaran tentang kautaman urip.

Meskipun semua “petilasan pertapaan” berkaitan dengan nama-nama tokoh pewayangan (Mahabharata-Hindu), namun di Rahtawu ditabukan untuk mengadakan pagelaran wayang. Konon cerita para penduduk setempat, pernah ada yang melanggar larangan tersebut, maka datang bencana angin ribut yang menghancurkan rumah dan dukuh yang mengadakan pagelaran wayang tersebut.

ketegaran Jawa dalam berinteraksi dengan berbagai peradaban pendatang di Rahtawu, sebagai berikut :

Di puncak tertinggi (gunung “Sangalikur”) adalah “petilasan pertapaan Sang Hyang Wenang”. Tempatnya sepi kering tidak ada apa-apa alias suwung (tan kena kinayangapa).
Dibawahnya ada “petilasan pertapaan” Resi Manik Manumayasa, Puntadewa (Darmakusuma), Nakula Sadewa, dan Bathara Ismaya (Semar).

Tokoh-tokoh tersebut merupakan simbul personifikasi manusia titisan dewa yang berwatak selalu menjalankan “laku darma” pengabdian kepada Hyang Maha Agung. Atau mengajarkan “laku-urip” yang religius.

Sang Hyang Wenang merupakan salah satu nama dari sesembahan (realitas tertinggi) Jawa.
Bathara Ismaya merupakan derivate (tajalli, emanasi) awal dari Sang Hyang Wenang, menggambarkan cangkok atau emban (plasma kalau diibaratkan pada sel hidup).
Eyang Manik Manuyasa kiranya merupakan nama lain dari Bathara Manikmaya, yang juga merupakan derivate (tajalli,emanasi) awal Sang Hyang Wenang, menggambarkan kembang, permata atau wiji/benih (inti kalau diibaratkan sel hidup). Sel hidup selalu terdiri dari Inti dan Plasma yang tidak bisa dipisahkan.

Demikian pula kiranya konsep Jawa tentang “Urip” selalu terdiri dari “Manikmaya” dan “Ismaya” yang juga tidak bisa dipisahkan.

Puntadewa dan Nakula-Sadewa adalah tiga satria Pandawa yang tidak pernah berperang.
1. Puntadewa simbul kesabaran,
2. Nakula kecerdasan, dan
3. Sadewa kebijaksanaan.

Bahkan kemudian dalam mitologi Jawa, Sadewa adalah satria yang mampu meruwat Bethari Durga yang serba jahat menjadi Bethari Uma yang welas-asih. yang sekarang berdiam di Alas krendo wahana
Petilasan ketiga satria Pandawa tersebut ditempatkan di gunung “Sangalikur” dibawah Sang Hyang Wenang,

Bethara Manikmaya dan Bethara Ismaya, melambangkan bahwa kesempurnaan manusia di hadapan Tuhan (sesembahan) adalah kesadaran akan “sejatining urip”, yaitu yang merupakan gabungan Puntadewa (sabar),Nakula (cerdik-pandai) dan Sadewa (arif bijaksana).

Puncak kedua di “gunung Abiyasa” merupakan “petilasan pertapaan” Eyang Abiyasa dan Eyang Palasara. Keduanya merupakan maharesi yang tertinggi “kawruhnya”.
Tempatnya juga sepi kering tidak ada apa-apa. Bahkan jalan menuju tempat itu hanya ada satu. Untuk naik dan turun melalui jalan yang sama.
Sepertinya menyiratkan bahwa jalan menuju puncak ketinggian “harkat spirituil manusia” yang bisa dicapai adalah sebagai Resi Abiyasa dan Resi Palasara yang hidup sunyi sepi namun tidak meninggalkan keramaian dunia.
Palasara dan Abiyasa konon merupakan leluhur Pandawa. Meskipun hidup sebagai resi (pendeta), namun keduanya terlibat langsung dengan realitas hiup manusia di dunia.

Diantaranya terlibat perkara seks dalam arti untuk regenerasi (berketurunan) manusia. Menurut ceritanya pula, keduanya tidak menempati “etika agama” dalam hal bercinta-asmara. Dan lebih kepada naluri alamiah yang terekayasa oleh kebutuhan.
Palasara bercinta-asmara dengan Dewi Lara Amis (Durgandini) di dalam perahu oleh akibat dorongan nafsu birahi keduanya, hingga lahir Abiyasa (baik) dan saudara-saudaranya (jahat).
Abiyasa pun melakukan cinta-asmara dengan janda adiknya oleh kebutuhan Hastinapura akan generasi penerus. Maka petilasan Palasara dan Abiyasa tidak dalam satu gunung dengan Sang Hyang Wenang mengandung maksud, bahwa sesungguhnya untuk mencapai “kesempurnaan harkat kemanusiaan” bisa dicapai juga dengan memenuhi darma sebagai manusia secara alamiah, meskipun darma tersebut mungkin kurang sejalan dengan “norma kesusilaan” dan “etika keagamaan”.

Petilasan Eyang Sakri, Eyang Sakutrem berada di kaki gunung yang rendah. Keduanya juga maharesi leluhur Pandawa. Petilasan pertapaannya berada dekat dengan mata air (sendang), artinya lebih dekat berderajat manusia katimbang dewa.

Petilasan Bathara Narada dan Bathara Guru di Joggring Salaka (kahyangan para dewa) yang juga berada di kaki gunung seolah menyiratkan pandangan Jawa, bahwa sesungguhnya dewa-dewa juga titah dari Yang Maha Kuasa sama dengan manusia. Dewa juga mempunyai kewajiban ikut terlibat dalam mengatur keharmonisan semesta (memayu hayuning bawana). Artinya, di Jawa, Bathara Guru dan Bathara Narada bukan wajib disembah tetapi disetarakan dengan manusia.

Begitulah Penafsiran tentang hakekat adanya petilasan pertapaan para Eyang (Hyang) di Rahtawu.
Untuk petilasan Eyang Lokajaya dan Makam Eyang Mada, adalah suatu “punden” baru yang tidak ada hubungannya dengan “petilasan pertapaan” paya Hyang dan Resi.

Adapun bagaimana sejarah Rahtawu masih merupakan misteri. Siapa pula yang menetapkan daerah itu Menjadi petilasan pertapaan, juga masih sulit untuk didapatkan keterangan. Yang jelas sudah sejak jaman kuno Rahtawu dianggap sebagai tempat petilasan pertapaan “para suci”. Mungkin dulunya mirip “Sungai Gangga” di India.

Atau semua itu adalah rekayasa para leluhur Jawa untuk lebih meyakinkan bahwa yang menciptakan Mahabharata, Resi Wiyasa, adalah Abiyasa yang tinggalnya di Rahtawu, Jepara.
Kenyataan yang ada sekarang ini, Rahtawu menjadi tempat untuk kepentingan “ngalap berkah” yang bermacam-macam.
Caranya juga bermacam-macam pula. Nuansa spirituil religius Jawa sudah berbaur dengan laku-budaya adat yang oleh berbagai pihak dianggap klenik, tahayul dan syirik.
Perbukitan Muria memerlukan kajian mendalam. Ilmiah maupun spirituil untuk menguak misterinya. Di tempat itu juga ada makam Sunan Muria (salah satu Wali Sanga) yang dikeramatkan pula oleh banyak orang Jawa yang muslim. 
Maka dengan demikian di Muria ada dua tempat wisata spirituil, Makam Sunan Muria (Islam) dan Petilasan Pertapaan Rahtawu (Kejawen).
Menurut yang “muslim saleh”, menyatakan bahwa Rahtawu tempat berkumpulnya jin dan syaiton. Sebaliknya, kalangan “kejawen” menyatakan kalau makam Eyang Mada dan makam keramat lainnya (sesakti apapun yang dimakamkan) cuma kuburan manusia biasa.

Begitulah kenyataan pergulatan antar peradaban di Jawa baru mencapai tahap saling menganggap klenik, tahayul dan syirik bagi pihak yang tidak sealiran.

Jamaah Manganthi sekitar 20 orang berjalan beriringan menuju puncak songolikur untuk “terjun langsung” di alam bebas dan bukan hanya melakukan zikir di rumah saja, karena kita akan merasakan perbedaan batin dan merasakan aura alam pegunungan pada tengah malam.‎

Setelah sampai di  puncak Songolikur , Mbah Doel beserta jamaah Manganthi melaksanakan sholat hajat dan berzikir di areal tersebut. Tiba-tiba datang sinar biru meluncur dari arah atas ke bawah. Dengan karomah wali yang dianugerahkan Mbah Doel sinar itu ditangkap . Ternyata setelah ditangkap berubah wujud menjadi pusaka. Mbah Doel menganggap itu oleh-oleh dari Puncak Songolikur dan tanda perkenalan dengan penghuni ghaib di sana. Oleh karena itu jangan sampai kita mengimani pusaka dan sejenisnya namun berimanlah pada Allah swt yang menciptakan alam dunia seisinya.

Populitas
Gunung Muria terdapat berbagai habitat flora, diantaranya:

Aren (Arenga pinata)
Bendo (Artocarpus elasticus)
Cengkeh (Eugenia aromatica)
Dadap (Erythrina sp)
Eukaliptus (Eucalyptus alba)
Gintungan (Bischoffia javanica)
Ingas (Gluta renghas)
Jati (Tektona grandis)
Kaliandra (Callyandra calotirsus)
Lamtorogung (Leucaena glauca)
Manggis (Garcinia mangostana)
Nangka (Artocarpus heterophyllus)
Pinus (Pinus merkusii)
Randu (Ceiba pentandra)
Salam (Eugenia polyantha)
Tejo (Cinnamomum sp)
Wuni (Antidesma bunius)
Berbagai macam anggrek
Pohon Pepaya
Pohon Jambu Monyet
Gunung Muria terdapat berbagai habitat fauna, diantaranya:

Kijang
Macan Tutul
Monyet Ekor Panjang
Wisata Religi
Makam Syeh Sadzli
Makam Sunan Muria‎
Makam Sunan Muria terletak di Desa Colo Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus. Berlokasikan di atas sebuah bukit. Sehingga para peziarah yang hendak berziarah harus menapaki anak tangga sejauh + 500 meter. Di kiri kanan anak tangga berderet kios para penjual makanan dan souvenir.

Bagi yang tidak kuat mendaki anak tangga bisa memilih jasa tukang ojek. Dengan jasa ini selain bisa menghemat energi, selama perjalanan kita akan disuguhi pemandangan yang menarik.

Wisata Alam
Air Terjun Songgo Langit, di Desa Bucu
Air Terjun Jurang Nganten, di DesaTanjung
Air Terjun Suroloyo, di Desa Bungu
Air Terjun Banyu Anjlok, di DesaSomosari
Air Terjun Undak Manuk, di Desa Blingoh
Air Terjun Nglamer, di Desa Dudakawu
Air Terjun Kedung Ombo, di Papasan
Air Terjun Nggembong, di Srikandang
Air Terjun Nglumprit, di Desa Dudakawu
Air Terjun Grinjingan Dowo, di DesaDudakawu
Air Terjun Monthel, di Desa Colo
Air Terjun Gonggomino, di Desa Rahtawu
Air Tiga Rasa Rejenu, di Desa Japan
Air Terjun Widodaren, di DesaLumbungmas
Air Terjun Santi, di Desa Gunungsari
Air Terjun Grenjengan Sewu, di DesaJrahi
Air Terjun Tadah Hujan, di Desa Sukolilo
Wisata Sejarah
Museum Gong Perdamaian Dunia, di Desa Plajan
Situs Pusat Bumi, di Desa Plajan
Candi Angin, di Desa Tempur
Candi Bubrah, di Desa Tempur
‎‎
Gunung Muria terdapat beberapa bumi perkemahan, di antaranya:

Bumi Perkemahan Sreni Indah
Terletak di Desa Bate Gede, KecamatanNalumsari, Kabupaten Jepara. Bumi Perkemahan ini pernah digunakan untuk menggelar Jambore Nasional Gerakan Pramuka.

Bumi Perkemahan Pakis Adhi
Terletak di Suwawal Timur, KecamatanPakis Aji, Kabupaten Jepara. Bumi Perkemahan ini pernah digunakan untuk menggelar Jambore Daerah Gerakan Pramuka Kwarda Jawa Tengah. Bumi Perkemahan ini juga pernah digunakan untuk menggelar Jambore Nasional OI yang di hadiri Iwan Fals.

Bumi Perkemahan Tempur
Terletak di Desa Tempur, KecamatanKeling, Kabupaten Jepara. Bumi Perkemahan ini mempunyai keunikan karena tempatnya di salah satu puncak Gunung Muria tepatnya di Puncak Tempur, Bumi Perkemahan ini pun dekat dengan tempat-tempat peninggalan bersejarah seperti Candi ANgin, Candi Bubrah, Kolam Nawangwulan, dll.

Bumi Perkemahan Abiyoso
Terletak di kaki Gunung Abiyoso di DesaMenawan Kecamatan Gebog Kabupaten Kudus. Bumi Perkemahan ini pernah digunakan untuk menggelar Jambore Daerah Gerakan Pramuka Kwarda Jawa Tengah pada tahun 1996.

Bumi Perkemahan Kajar
Terletak di Desa Kajar, Kecamatan DaweKabupaten Kudus sekitar 2 km arah selatan Makam Sunan Muria.

Bumi Perkemahan Jolong
Terletak di Desa Jolong, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. Dari sini merupakan salah satu jalur pendakian menuju puncak Argo Jembangan.

Perencanaan
Kereta Gantung
Membuat Kereta gantung dari bawah sampai ke masjid Makam Sunan Muria, Kereta Gantung tersebut diperuntukkan bagi orang lemah atau sakit, bagi untuk orang yang sehat tapi ingin menaiki maka dikenakan tarif 2 kali lipat tarif untuk orang sakit/cacat. Agar tidak merugikan bagi Tukang Ojek dan Penjual Aneka Sovenir di Tangga menuju Masjid Makam Sunan Muria.

Visit Muria Mount
Agar warga luar kota mengetahui keindahan Gunung Muria, dari semua tempat wisata yang terletak di Kaki Gunung Muria hingga puncak Gunung Muria yang terdapat di Jepara Kudus hingga Pati‎

Jumat, 20 November 2020

Sekedar Syair Sang Pemabok Kerinduan


“Persahabatan suci, menjadikanmu seorang dari mereka. Sekalipun engkau batu atau pualam, kau akan menjadi permata bila kau menjadi tingkat manusia perasa”

“Dulu dia mengusirku, sebelum belas kasih pun urun ke hatinya dan memanggil. Cinta telah memandangku dengan ramah pula”

“Cinta bagai perantara yang menaruh kasihan, datang memberi perlindungan pada kedua jiwa yang sesat ini”

“Menangislah seperti kincir angin, rumput-rumput hijau mungkin memancar dari taman istana jiwamu. Jika engkau ingin menangis, kasihanilah orang yang bercucuran air mata, jika engkau mengharapkan kasih, perlihatkanlah kasihmu pada si lemah”

“Ketika aku jatuh cinta, aku merasa malu terhadap semua. Itulah yang dapat aku katakan tentang cinta”

“Dalam cinta segalanya berubah rupa. Orang Amerika berubah menjadi orang Turki”

“Berbicara dalam bahasa yang sama adalah kekeluargaan dan persamaan bila kita bersama mereka bila kita percayai, kita seperti orang tawanan dalam rantai. Banyak orang India dan Turki berbiacra dalam bahasa yang sama, namun banyak pasangan orang Turki ternyata orang – orang asing. Bahasa yang sama – sama dipahami memang khusus, kebersamaan hati lebih baik dari pada kebersamaan bahasa”

“Sejak kudengar tentang dunia Cinta, kumanfaatkan hidupku, hatiku dan mataku di jalan ini. Aku pernah berpikir bahwa cinta dan yang dicintai itu berbeda. Kini aku mengerti bahwa keduanya sama”

“Kami bersyukur atas cinta ini, ya Tuhan, cinta yang melaksanakan kemurahan tak terbatas. Terhadap kekurangan-kekurangan apapun dalam syukur kami yang mungkin membuat kami berdosa, cinta mencukupkan hingga pulih kembali”

“Jika kita menggali lubang untuk menjerumuskan orang ke dalamnya, kita sendiri yang akan terjerumus ke dalamnya. Jangan menganyam sendiri kepompong ulat sutera dan jangan menggali lubang itu terlalu dalam. Janganlah mengira si lemah tak punya pelindung dan ucapkan kata-kata dari Quran, “kapankah pertolongan dari Allah akan datang”

“Orang yang menghormati akan dihormati, orang yang membawa gula akan makan kue badam. Buat siapa perempuan yang baik-baik. Laki-laki baik-baik. Hormatilah temanmu atau lihat apa yang terjadi jika tidak kauhormati”

“Barangsiapa melihat sesuatu pada sebab-sebab, maka dia akan menjadi pemuja bentuk. Namun orang yang mampu menatap pada “Sebab Pertama”, maka dia akan menemukan cahaya yang memancarkan makna”

“Dunia manusia adalah batin yang memiliki kemegahan. Karena itu duhai sahabat, mungkinkah engkau menjadi bijak, sementara yang relatif terus saja kau jadikan pujaan?”

“Jadilah kekasih bagi dirimu sendiri! Lampaui dua dunia. Dan tinggalah di kediaman sendiri! Pergi, jangan mabuk dengan anggur dan kecongkakan – kecongkakan itu! Lihatlah kilauan wajah itu dan sadarlah akan dirimu sendiri”

“Perhatikanlah setiap binatang, dari serangga kecil sampai gajah, semua mereka keluarga Tuhan dan rezeki mereka tergantung kepada-Nya. Sungguh Tuhan Maha Pemberi rezeki! Semua kesedihan dalam hati kita lahir dari asap dan debu keberadaan kita dan segala nafsu yang sia-sia”

“Orang yang bijaksana melihat ucapan bagaikan orang tua. Ia turun dari langkit, karena itu ia bukanlah sesuatu yang tak berharga. Ketika kau bicara dengan kata-kata kotor maka sekian banyak kata hanya bernilai satu. Namun bila kau bicara dengan baik maka satu kata akan memiliki nilai berlipat. Ucapan akan terkuak bagi engkau yang mampu membuka dinding pembatas (hijab). Sehingga kau tahu bahwa sesungguhnya ia adalah sifat – sifat Tuhan Yang Maha Pencipta”

“Kembalilah kepada sejatimu, wahai hati! Karena jauh di dalam dirimu wahai hati, engkau akan menemukan jalan menuju Tuhan Yang Tercinta”

“Mencintai perempuan dibuat menarik bagi laki-laki. Tuhan sudah mengaturnya, betapa mereka dapat menghindari apa yang sudah diatur oleh Tuhan? Karena Tuhan menciptakan perempuan supaya Adam mendapat kesenangan dengan dia. Bagaimana Adam dapat dipisahkan dari Hawa?”

“Dunia hanyalah seperti cermin yang memantulkan kesempurnaan Cinta Tuhan. Wahai kawan! Mungkinkah ada sesuatu yang lebih besar dari keseluruhan?”

“Perempuan adalah cahaya Tuhan, Dia bukan dicintai secara duniawi, dia berdaya kreatif, bukan hasil kreasi”

“Cinta adalah lukisan orang yang getir menjadi manis, sebab dasar semua cinta adalah kebajikan moral”

“Seperti Adam dan Hawa yang melahirkan sekian banyak jenis, Cinta lahir dalam sekian banyak bentuk. Lihat, dunia penuh dengan lukisan, namun ia tidak memiliki bentuk”

“Tataplah wajah cinta supaya kau mampu meraih sifat kemanusiaan. Karena itu jangan hanya duduk menggigil. Sebab jika demikian,mereka kan membuatmu menggigil”

“Datang dengan tangan kosong ke rumah teman-teman, bagai pergi ke kilang tepung tanpa membawa gandum”

“Kalau hati pulih menjadi sehat, dan bersihkan dari segala hawa nafsu, kemudian Tuhan Yang Maha Pengasih bersemayam di Singgasana. Di samping itu, Dia langsung membimbing hati, selama hati bersama Dia”

“Pilihlah Cinta. Ya, Cinta! Tanpa manisnya Cinta, hidup ini adalah beban. Tentu engkau telah merasakannya”

“Kecaman yang datang dari sahabat – sahabat dekat memang diperlukan sehingga, tanpa bantuan pemantul apapun, kau menjadi pengucur air dari laut. Ketahuilah bahwa pada mulanya kecaman adalah peniruan, tapi bila ia terus menerus terulang, akan langsung berubah menjadi wujud kebenaran. Supaya itu terwujud, janganlah berpisah dari kerang jika tetesan air hujan belum lagi menjadi mutiara”

“Yang menjadi sasaran cinta bukanlah bentuk-apakah itu cinta untuk kepentingan dunia ini atau untuk akhirat”

“Ada orang asing tergesa-gesa mencari tempat tinggal, seorang teman membawanya ke sebuah rumah rusak,, “Jika rumah ini beratap” katanya, “kau dapat tinggal di sebelah tempatku. Keluargamu juga akan kerasan di sini, jika di situ ada sebuah kamar lagi” .”Ya”, katanya, “enak sekali tinggal di sebelah teman-teman, tapi kawanku sayang, orang tak dapat tinggal di dalam ‘jika’

“”Iri hati membuat aku berkata,”Aku masih rendah untuk menghadapi si polan dan si polan, dan nasibnya yang baik menambah diriku yang serba kurang” Memang iri hati adalah suatu cacat, lebih dari apapun”

“Jika hati tidak ada, bagaimana badan dapat bicara? Jika hati tidak mencari, bagaimana dapat mencari”
“Tidak perlu membakar selimut baru hanya karena seekor kutu, juga aku tidak membuang muka dari kau hanya karena kesalahan yang tak berarti”

“Siapapun yang melihat kesalahannya sendiri sebelum melihat kesalahan orang lain, mengapa mereka tidak mengoreksi diri sendiri? Manusia di dunia tidak melihat diri mereka sendiri dan yang demikian mereka akan saling menyalahkan”
“Kemurahan hati datang dari mata -bukan dari tangan- dialah yang melihat benda-benda itu, hanya seorang yang melihat terpelihara”

“Persis seperti hati yang menjadi bahagia di tempat yang hijau dengan tanaman yang sedang tumbuh, keakraban dan keramahan lahir bila jiwa kita jadi gembira”

“Adakalanya lebih baik bersama dengan orang yang kurang terhormat daripada tinggal seorang diri. Kendati gagangnya sudah rusak, setidaknya ia masih melekat di pintu”

“Dengan cinta, yang pahit menjadi manis, dengan cinta, tembaga menjadi emas, dengan cinta sampah menjadi jernih, dengan cinta yang mati menjadi hidup, dengan cinta yang raja menjadi budak. Dari ilmu cinta dapat tumbuh. Pernahkah kebodohan menempatkan rang di atas tahta begini?”

“Sejauh yang dapat kaulakukan janganlah menjejakkan kaki pada perceraian. Allah berkata, “Dari segala yang dihalalkan, dan yang sangat Ku-benci adalah perceraian”

“Ya Allah, jadikanlah hati kami yang membatu ini seperti lilin, jadikanlah ratapan kami begitu sedap dan menjadi sasaran kasih-Mu”

“Jika dua orang sampai bersentuhan satu sama lain, tak dapat diragukan, mereka mempunyai persamaan. Bagaimana burung akan terbang kalau tidak dengan sempurna?”

“Lewat jendela antara hati dengan hati pancaran sinar yang mencerminkan kebenaran dan kebohongan”

“Bila sakit karena cinta menambah keinginanmu, bunga-bunga mawar dan lili mengisi taman jiwamu”
“Persaudaraan adalah seperti seonggok buah anggur, kalau kuperas akan menjadi satu sari buah. Yang mentah dan yang matang adanya berlawanan, tapi bila yang mentah juga menjadi amtang, menjadi sahabat yang baik”

“Kekasih adalah segalanya, pecinta hanya sebuah tabir. Kekasih hidup abadi, pecinta hanyalah benda mati. Jika cinta meninggalkan perlindungan yang kuat, pecinta akan ditinggalkan seperti burung yang tanpa sayap. Bagaimana aku akan terjaga dan sadar jika tak disertai cahaya Kekasih. Cinta menghendaki firman ini disampaikan. Jika kita menemukan cermi hati yang kusam karat ini tidak terhapus dari wajahnya”

“Penyakit pecinta tidak seperti yang lain, Cinta adalah Astrolab segala misteri Tuhan. Baik cinta dari langit atau dari bumi sama-sama menunjuk kepada Tuhan. (ket: astrolab adalah alat astronomi primitif)

“Jika hatimu menjadi kuburan rahasia, hasrat hatimu akan diperoleh lebih cepat. Nabi berkata, bahwa barang siapa dapat menjaga rahasia dalam lubuk hatinya dia akan segera mencapai hasrat yang ditujunya. Jika benih-benih ditanam di dalam tanah, segala rahasia batin akan menjadi taman yang subur”

“Cinta orang yang sudah mati tidak selamanya, sebab yang sudah mati tak akan kembali. Tapi cinta orang yang masih hidup lebih segar daripada kuncup yang baru bersemi, bai bagi mata batin atau mata lahir. Pilihlah cinta Yang Hidup Abadi yang tak akan pernah berakhir, yang memberikan kita anggur yang menambah kehidupan. Jangan berkata, “Kami punya jalan masuk kepada Raja itu” Berhubungan dengan dermawan tidaklah sulit”

“Jalan kehidupan rohani membuat badan remuk dan kemudian memulihkannya menjadi sehat. Dia menghancurkan harta berharga dab dengan harta itu dapat membangun lebih baik dari sebelumnya”

“Orang makin memperhatikan dunia materi, dia akan makin terlena terhadap dunia rohani. Apabila jiwa kita sudah terlena di depan Tuhan, yang lain, yang tak terlena mendekati pintu rahmat Ilahi”

“Dalam perjalanan itu tak ada lorong sempit yang lebih sulit dari ini, beruntunglah orang yang tak membawa kedengkian sebagai teman”

“Jika sepuluh lampu ada di satu tempat berbeda bentuk satu sama lain, namun kita tak dapat membedakan itu dari sinar yang mana bila memusatkan pada satu cahaya. Dalam dunia rohani tak ada perbedaan, tak ada pribadi-pribadi yang muncul. Yang terindah adalah keserasian Sahabat dengan sahabat-Nya. Berpeganglah kuat-kuat pada rohani. Tolonglah si keras kepala ini yang terpecah-belah sendiri, yang mungkin terdapat persatuan di bawahnya, seperti harta terpendam”

“Janganlah gunakan pedang kayu dalam perang. Pergilah, cari yang dari baja, kemudian majulah dengan gembira. Pedang hakikat adalah pelindung seorang wali Tuhan, saatmu bersama dia sungguh berguna seperti piala kehidupan itu sendiri. Semua orang arif berkata sama, orang yang mengenal Tuhan adalah rahmat Tuhan kepada hamba -hamba Nya”

“Tanamkanlah kecintaan para kekasih Tuhan dalam semangatmu, jangan serahkan hatimu kepada apa pun tapi cinta mereka yang berhati gembira. Janganlah mengunjungi tetangga yang berputus asa, harapan masih ada. Jangan pergi ke arah yang gelap, karena matahari masih ada”



لَقَدْ صَارَ قَلْبي قاَبِلاً كُلَّ صُوْرَة… فَمَرْعَى لِغِزْلاَنٍ وَدِيْرٌ لِرُهْباَنِ

وَبَيْتٌ لِأَوْثاَنٍ وَكَعْبَةَ طاَئِف … وَأََلْوَاحُ تَوْرَاةٍ وَمُصْحَفُ قُرْﺁنِ

أََدِيْنُ بِدِيْنِ الْحُبِّ أََنَّي تَوَجَّهَت … رَكَائِبُهُ فاَلدِِّينُ دِيْنِى وَﺇِيْمَانِ

Hatiku telah mampu menerima aneka bentuk
Ia merupakan padang rumput bagi menjangan, biara bagi para rahib,..
Buil anjungan berhala, ka‘bah tempat orang bertawaf
Batu tulis untuk Taurat dan mushaf bagi al-Qur’an. ..
Agamaku adalah agama cinta, yang senantiasa kuikuti
Kemanapun langkahnya, itulah agama dan keimananku



فيحمدنى وأحمـــده … ويعبـدنى وأعبـده

ففى حال أقربـــه … وفى الآعيان أجحده

فيعرفنى وأنكـــره … وأعرفـه فـأشهده

فأنى بالغنى وأنـــا … أساعده فأسعـده

لذلك الحق أوجدني … فأعلمه فأوجــده

بذا جاء الحديث لنا … وحقق فى مقصـده

Maka Ia memujiku aku memuji-Nya
Dan Ia menyembahku akupun menyembah-Nya
Dalam hal (lahir) aku mengakui-nya
Dan dalam hal lain (hakiki) aku menolaknya
Maka Ia mengenalku aku tak mengenal-Nya
Lalu aku mengenal-Nya akupun menyaksikannya
Maka bagaimana mungkin Ia bisa cukup
Padahal aku menolong dan membahagiakan-Nya
Untuk itulah al-Haqq mewujudkan aku
Maka akupun mengetahui dan mewujudkan-Nya
Demikianlah, sebuah perisiwa datang pada kita
Dan di dalam diriku terealisasi tujuan-Nya

أحباب قلبى أينهم … بالله قــولوا أينـهم

كما رأيت طيفهم … فهـل ترينى عينـهم

فكم وكم أطلبهم … وكـم سـأت بينهم

حتى أمنت بينهم … ومـا أمنت بينـهم

لعل سعدى حايل … بين النـوى وبينـهم

لتـن العين بهم … فلا أقـول أينـهم

Kekasih hati, katakan di mana mereka
Kau tahu pengembaraannya
Mengapa tak kau tunjukkan kebaraberadaannya
Betapa aku telah mencari-cari
Dan meminta selalu bersama mereka
Hingga karena takut berpisah
Kini aku gelisah di tengah mereka
Tapi mungkin kebahagiaanku memang terpendam
Di tengah jagad raya dan kekasih itu
Maka kini diri ini merasa bahagia
Dan tak lagi bertanya di mana mereka ‎

 

Mitos Wonosobo sebagai Kota Terlarang


‎Peran sebuah wilayah pemerintahan tak akan lepas dari pusat kendali pemerintahan tersebut. Pada era kerajaan dahulu pusat pemerintahan ini sering disebut dengan Istana, 
Kedhaton yang ditempati oleh Raja dan keluarganya, sedangkan Kadipaten, Katemenggungan merupakan pusat pemerintahan di bawah kekuasaan para raja. Kawasan pusat pemerintahan dimasa silam sering dianggap sebagai pusat kosmos kekuasaan yang sakral dan penuh dengan perlambang. 
Sebagai kawasan yang sakral dan sensitive di masa silam kawasan ini menjadi daerah terlarang;forbidden city. 

Kabupaten Wonosobo yang terletak di tengah Pulau Jawa ,pada tahun 1830 terjadi boyong kori pusat pemerintahan dari Plobangan Selomerto menuju Kota Wonosobo yang diperintahkan oleh Bupati I Wonosobo versi Leiden Belanda yaitu Tumenggung Setjonegoro. Sebagai pusat kosmos kekuasaan di Wonosobo, aturan peninggalan Kerajaan Mataram masih diberlakukan sehingga kawasan ini menjadi kawasan steril, hanya yang mempunyai ijin dan kewenangan yang boleh memasuki kawasan Pendopo Kabupaten. 

Lingkungan pendopo dan sekitarnya diatur dan di tata oleh para pendiri Wonosobo yaitu Kyai Walik, Kyai Karim, dan Kyai Kolodete. Kyai walik dianggap paling dominan dalam menata tata kota dan pemerintahan. Menurut versi lain sebenarnya kawasan Alun-alun sekarang pada abad 18 masih berupa tanah pertanian yang hanya terdapat bangunan pemerintahan kecil. Kyai Kolodente menurut versi ini berjasa besar mengalirkan aliran air Sungai Serayu memasuki Kota Wonosobo guna mengairi sawah pertanian di sekitarnya. 

Pusat pemerintahan Wonosobo sendiri mempunyai beberapa titik tempat antara lain Alun-alun dengan Ringin Kurungnya ,Paseban Barat dan Paseban Timur, Pendopo, Pringgitan, dan Dalem Katemenggungan (sekarang Rumah Dinas Bupati). Masing-masing memiliki fungsi dan perlambang sendiri-sendiri. 

Di era sebelum kemerdekaan, rakyat yang akan sowan kepada Bupati Wonosobo harus menunggu di Paseban sampai memperoleh ijin menghadap. Jika sudah mendapatkan ijin baru boleh diperkenankan masuk konon dengan ‘mlaku ndodok” atau jalan dengan jongkok sampai ke Pendopo Kabupaten. Jarak antara Paseban ke Pendopo sekitar 100 Meter. 

Posisi titik tempat yang ada di sekitar Pusat Kekuasaan Kabupaten Wonosobo dapat dikatakan berbentuk trisula yaitu tiga mata trisula dilambangkan dengan Paseban Timur, Ringin Kurung dan Paseban Barat. Kemudian muara trisula dilambangkan dengan Pendopo Kabupaten, sedangkan “bonggol” atau pegangan trisula dilambangkan dengan Pringgitan, Dalem Katemenggungan, Pendopo Belakang (sekarang), dan gerbang belakang dimana semua tempat itu mempunyai pintu yang sejajar lurus sejak mula Pintu masuk Pendopo, pintu keluar pendopo menuju Pringgitan, Pintu masuk Pringgitan, Pintu masuk Dalem Katemenggungan, Pendopo Belakang, sampai dengan pintu gerbang belakang. 

Dimasa silam posisi Alun-alun menjadi sangat strategis dan merupakan salah satu tolok ukur keberlangsungan suatu wilayah pemerintahan. Apabila Alun-alun sudah dimasuki musuh maka Dalem Katemenggungan akan segera berkemas untuk meloloskan diri karena dalam beberapa saat wilayah ini akan jatuh ketangan musuh. Oleh karena itu dibanyak kalangan terutama yang masih teguh melaksanakan hukum dan budaya Jawa, Alun-alun masih menjadi lambang kewibawaan sebuahpemerintahan sampai era modern sekarang ini. ‎

Sekitar Tahun 1860-an Pendopo Kabupaten Wonosobo pernah rusak parah karena terkena gempa bumi dan di era perang kemerdekaan pernah pula hancur karena di bom oleh Pesawat Udara Bala Tentara Jepang. Pada Tahun 70-an Presiden Republik Indonesia waktu itu Soeharto mangadakan pertemuan denganPerdana Meneteri Australia Welheim di Rumah Dinas Bupati Wonosobo. Ruang pertemuan ini kemudian disebut dengan Ruang Welheim yang saat ini menjadi tempat untuk menemui tamu-tamu penting. 

Disebelah Ruang Welheim terdapat beberapa kamar yang dimana salah satunya dulu disebut Kamar Kepresidenan dimana Presiden Republik Indonesia era 70-an Soeharto pernah menginap di kamar tersebut. Kamar Kepresidenan ini saat ini disebut Kamar VIP 1 dimana Mantan Presiden Repiblik IndonesiaAbdulrahman Wahid sering singgah dan menginap di kamar itu. Di ruang ini sebenarnya terdapar lorong bawah tanah yang tembus ke luar lingkungan pendopo dengan tujuan untuk jalan melarikan diri jika terjadi bahaya. Saat ini lorong tersebut ditutup oleh pasir di bawah lantai di ruang Welheim. Yang terlihat tinggal lubang udara di dekat pintu masuk pringgitan. 

Menurut cerita di jaman Perang Kemerdekaan , di Rumah Dinas Bupati dibangun shelter atau lubang perlindungan (bunker) untuk berlindung dari serangan udara, namun bekasnya saat ini sudah tidak terlihat lagi. 
Setelah reformasi. Wilayah Pendopo Kabupaten menjadi lebih terbuka untuk masyarakat. Sekarang ini menjadi Kantor dan Rumah Dinas Bupati Wonosobo. Walaupun sudah memasuki era modern Pendopo Kabupaten Wonosobo sebagaimana situs sejarah lain mempunyai banyak legenda maupun mitos. Banyak kalangan yang menganggap wilayah ini masih wingit sehingga tidak boleh sembarangan jika berada di lingkungan ini. Konon para Bupati Wonosobo yang tinggal disana harus mempunyai visi yang benar dan lurus sehingga mampu memerintah dengan baik serta kuat. 

Pilar-pilar yang ada di Pringgitan berdiameter kurang lebih 1 meter yang dalamnya berisi pasir. Beberapa mitos yang menarik adalah adanya ”soko” pilar-pilar di Pringgitan yang sedemikian besar konon didalamnya terdapat mayat manusia. Mitos ini diceritakan oleh orang-orang yang telah lama berdinas di Pendopo Kabupaten. Berpuluh tahun yang lalu ketika diadakan pemugaran dua pilar di depan pringgitan diketemukan sisa jasad manusia di kedua pilar dengan baju pakaian Jawa yang masih lumayan utuh. Kemudian jazad itu dimakamkan disekitar Pendopo Kabupaten. Keberadaan jazad tentunya sulit dibuktikan karena harus membongkar pilar yang lain untuk membuktikan, namun inilah mitos yang menjadi bumbu rasa sebuah peninggalan bersejarah. 

Perlu adanya usaha dari pihak-pihak yang berkopenten untuk mengumpulkan data sejarah dan data pendukung lainnya yang lebih valid sehingga peninggalan bersejarah ini tetap langgeng dan mempunyai nilai historis kebangsaan yang bisa dikenang dan dibanggakan.

Songsong Agung dan replika Tombak Kolowelang pusaka Kabupaten Wonosobo. Dalam setiap memperingati Hari Jadi Kabupaten Wonosobo yang ditasbihkan pada tiap Tanggal 24 Juli, kedua benda ini dijamas dan menjadi bagian dari acara prosesi hari jadi Kabupaten Wonosobo. Tombak Kolowelang sendiri tinggal replika sedangkan yang asli konon dipercaya telak moksa dan tidak mau dipegang oleh manusia lagi.

Malam hari sebelum esok Songsong Agung dan replika Tombak Kolowelang di kirab ke Alun-alun , diadakan acara ritual khusus dengan tujuan antara lain membersihkan dan melihat kondisi keduanya sebelum dikirab. Prosesi ini biasanya dilakukan setelah prosesi ritual di Alun-alun selesai dilakukan. Keesokan harinya kedua benda pusaka ini dikirab dalam rangkaian hari jadi di Alun-alun (Birat Sengkolo)
Songsong Agung ini apabila diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia ialah Payung Kebesaran. Payung ini melambangkan kekuasaan para Penguasa di jaman dulu. Apabila jika ada serangan musuh hingga Payung Kebesaran dapat direbut musuh maka pertanda kekuasaan Penguasa tersebut akan tumbang.

Secara makna sebenarnya Songsong Agung merupakan simbol dari harapan dan doa. Fungsi sebuah payung adalah mengayomi sehingga diharapkan penguasa wilayah tersebut mampu mengayomi seluruh rakyat yang berada di bawah pemerintahannya. Menjadi perlambang doa yaitu agar rakyat dan wilayah tersebut selalu terlindungi dan terayomi sehingga aman, makmur,sejahtera.

Beberapa kalangan tertentu mempercayai mitos bahwa Songsong Agung mempunyai ”power” yang tidak dapat dianggap remeh karena sesuai fungsi pemaknaannya adalah melindungi ”nagari”. Jika dalam penyimpanannya tidak benar atau sembarangan maka ”power” nya akan meredup sehingga penguasa yang sedang bertahta saat itu juga akan kehilangan wibawa dan dijauhi rakyat hingga akhirnya lengser keprabon.‎

 

Tragedi Padepokan Ngerang


Agama Islam telah menyebar ke seluruh daerah Jawa. Meski penyebarannya ada yang langsung bisa diterima Masyarakat, ada yang mengalami perlawanan dari masyarakat setempat. Demikian juga peran para wali dalam bersyiar di pelosok-pelosok Desa. Sunan Bonang di Tuban, Bonang dan Sekitarnya, Sunan Kali Jaga, Sunan Cirebon, Sunan Kudus, Sunan Muria. Ada di berbagai tempat, mereka menyebarkan agama dengan mencoba menggabungkan unsur-unsur budaya yang berkembang di daerah setempat. Nama Sunan biasanya disesuaikan dengan tempat ketika ia mengajarkan agama. selain sebagai kepala agama juga sebagai kepala pemerintahan. Sehingga penggantinya tetap menggunakan nama Sunan ataupun Ki Ageng‎

Demikian juga dengan Sunan Muria yang mengadakan syiar agama Islam. Disekitar Muria yaitu pantai utara daerah Jepara, Tayu, Pati, Juana, Kudus dan lereng-lereng Gunung Muria. Dalam menyebarkan agama Islam seringkali bersinggungan dengan penguasa2 setempat. Penyebaran Islam telah memasuki sekitar wilayah Pati, Juana, Tayu.

Pada suatu hari diadakan Syukuran di rumah Ki Ageng Ngerang untuk mensyukuri kenikmatan yang telah diberikan oleh Tuhan kepada hambanya yang ada di muka bumi terutama wilayah lereng Muria. Perhelatan dimulai dengan khidmatnya. Tamu dari jauh dan dekat telah lengkap datang. 

Ki Ageng Ngerang sebagai orang yang paling dituakan karena kearifan, kepandaiannya, sehingga banyak yang hadir dalam perjamuan tersebut. Terutama para muridnya Sunan Ngerang, antara lain termasuk Sunan Kudus, Sunan Muria, Adipati Pathak Warak dari Pulau Mandalika Jepara, Kapa dan adiknya Gentiri dan lain-lainnya.

Ketika anak Ki Ageng Ngerang, Roroyono bersama adiknya, Roro Pujiwati ke luar untuk menghidangkan minuman dan makanan, banyak tamu yang hadir terpesona dan memuji keduanya, tak disangka bahwa Ki Ageng Ngerang memiliki dua putri yang sangat cantik-cantik. Adipati Pathak Warak matanya tak berkedip memandanginya. Detak Jantungnya berdebar seperti beduk, badannya menggigil, panas dingin, kedua bibirnya berdeming, melihat keanggunan Roroyono. Terasa ada sinar bulan terang yang menerangi kenduri malam itu. Roroyono menjadi menjadi pusat perhatian, sebagai Gadis yang paling cantik di malam itu

Adipati Pathak Warak tak bisa menahan nafsu, melihat gadis jelita. Matanya tak berkedip, jangkunnya naik turun menelan ludah, kata-katanya sudah tak terkontrol lagi.

“Mau tidak jadi istriku, rayi!” sambil mencolek pantatnya. prilakunya, sudah tidak mengindahkan lagi adat ketimuran maupun tatananan agama.

“Jangan begitu kakang, banyak orang jaga kehormatan kakang”

Tentu saja Roroyono merasa terhinadiperlakukan kelewat batas. Alangkah malunya dia tercolak-colek dihadapan banyak tamu-tamu Ki Ageng. Minuman yang dibawa Roroyono itu tumpah mengguyur baju Pathak Warak. Sehingga Wajah sangar itu merah padam, merasa dibuat malu oleh Roroyono.

“Jangan gitu Kakang Pathak Warak, Roroyono gak mau orang yang kasar, maunya yang halus budinya” ejek Kapa

Para tamu yang hadir menertawakan Pathak Warak. Dalam hati Adipati berkata, seandainya bukan puterinya Kanjeng sunan Ngerang, Gurunya, tentulah telah ditampar mukanya. Seperti yang pernah dilakukanpada musuh-musuhnya. Patak Warak merupakan salah satu jawara yang lalu lalang di Lereng Muria, karena kesaktiannya ia memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi.

Malam semakin larut, semua tamu yang hadir berangsur-angsur pulang meninggalkan kediaman Ki Ageng Ngerang. Sementara para tamu jauh termasuk Adipati Pathak warak, masih berada di rumah Ki Ageng, mereka bermalam di ruang tamu. Pada tengah malam yang dingin, dan hanya suara jangkrik, suara kodok berpadu dengan semilir angin yang dihembuskan pucuk-pucuk bambu. Semua telah tertidur pulas. Kecuali Adipati Pathak warak yang masih terngiang-ngiang kata-kata Roroyono, dan malunya ketika segelas air mengguyur bajunya. Ia memikirkan bagaimana caranya agar bisa membuat malu Roroyono, sekaligus bisa segera melampiaskan nafsu birahinya. Ia mengidam-idamkan agar dapat memperistri Roroyono.

Adipati Pathak Warak mondar-mandir didepan pintu sambil tangannya menggaruk-garuk kepalanya. Timbul niat jahat dibenaknya, ia mau menculik Roroyono. mulutnya komat-kamit membaca mantra, keluarkan mendung tebal untuk menyirep seluruh penghuni rumah Ki Ageng Ngerang. Ia mengendap-ngendap masuk kamar Roroyono, membekap mulut Roroyono kemudian digendong dibawa lari menuju hutan belantara. dibawa lari ke Pulau Mandalika, Keling.

Keesokan harinya gemparlah rumah Ki Ageng, semua sibuk mencari keberadaan Dewi Roroyono, Ki Ageng Ngerang mengumpulkan semua orang ke teras rumah, satu persatu ditanyai namun semuanya tidak tahu keberadaan Dewi Roroyono, para murid padepokan yang dibantu masyarakat setempat mencari di sekitar rumah sampai ke seluruh kampung, namun hasilnya nihil. Mereka pulang dengan kekecewaan.

Para murid-murid Ki Ageng kumpul untuk membicarakan tentang raibnya Dewi Roroyono, mereka satu persatu memberikan analisa dan dugaan tentang sebab-musabab hilangnya putri Ki Ageng. Semua ikut urun rembuk kecuali salah satu murid yang tidak kelihatan batang hidungnya. mereka tidak menjumpai Patahak warak

“Kalau begitu yang membawa lari Roroyono adalah Patahak Warak!” Ki Ageng Ngerang berkesimpulan bahwa Patahak Warak mau membalas sakit hatinya karena dipermalukan Dewi Roroyono di depan umum. Ia termenung lesu diteras rumahnya, memikirkan nasib anaknya. Demikian langit membawa mendung hitam seakan paham hati Ki Ageng yang sedang gundah gulana.

“Akan dibawa kemana Anakku Roroyono?” rintik hujan senja hari semakin membuat perasaan Ki Ageng teriris-iris. Murid-muridnya juga was-was bila nanti sampai gurunya sakit memikirkannya. Ki Ageng Ngerang kemudian memanggil Sunan Muria untuk meminta pendapatnya, sebab Ia yang akan dijodohkan dengan Dewi Roroyono, selain itu Sunan muria merupakan murid kesayangannya

“Bagaimana Nak mas Sunan Muria, tindakan apa yang harus aku ambil?” sorot mata lelaki tua yang tengah bersedih menatap iba Sunan Muria. Mereka berdua berdiskusi bagaimana langkah baiknya menghadapi persoalan ini.

Ki Ageng mengumumkan sayembara, barang siapa yang dapat merebut kembali puterinya dari tangan Patak Warak, dan membawa kembali Dewi Roroyono ke Ngerang, bila lelaki akan nikahkan dengan Roroyono, bila perempuan akan dijadikan saudara

Setelah sayembara diumumkan, semua muridnya Sunan Ngerang terdiam tidak ada yang berani tunjuk jari, mengajukan diri. Mereka tidak berani melawan Adipati Patak Warak. Di samping karena ia sakti juga Patak warak dikenal sebagai Raja tega. Siapapun yang menghalang-halangi maksudnya akan dibabad habis. Hanya Sunan Murialah yang mengacungkan tangannya, ia sanggup mengejar Adipati Pathakwarak dan merebut kembali Roroyono. Ia pamit langsung menuju ke arah utara, ia diikuti oleh beberapa murid Sunan Muria, selang beberapa saat Kapa dan Gentiri juga mohon diri mau menyusul Sunan Muria.

Sunan Muria keluar masuk Hutan belukar yang belum pernah dijamah manusia pun ia melewati perjalanan demi membuktikan rasa hormatnya kepada Gurunya Ki Ageng Ngerang. Namun dalam perjalanan ke Mandoliko, ditengah jalan ia bertemu dengan kappa dan gentiri. mereka bertiga saling berangkulan, Dalam pembicaran tersebut terjadilah kesepakatan, bahwa Kapa dan Gentirilah yang akan menunaikan tugas, menjalani sayembara merebut Roroyono ke Mandaliko. Adapun bila nanti berhasil dalam tugas yang berhak memiliki Dewi Roroyono adalah kanjeng Sunan Muria. Kesepakatan tersebut disepakati ketiga murid Ki Ageng Ngerang. Hal ini disepakati karena Kapa dan Gentiri adalah muritnya Sunan Ngerang yang termuda. Dan keduanya bersedia berbuat demikian karena menghormati Sunan Muria, sebagai murid yang senior, berwibawa dan terhormat dimata masyarakat seantero jagat..

Berangkatlah Kapa dan Gentiri menyeberang Ke Pulau Mandaliko. Sementara Sunan Muria kembali ke padepokan Muria Ia Pasrah dan mempercayakan penuh nasib Dewi Roroyono kepada keduanya. Dari kejauhan Kapa dan Gentiri diawasi oleh Anak buah Patak Warak, mereka melaporkan bahwa dua orang yang mencurigakan memasuki kawasan Pulau Mandaliko. Patak warak menyuruh anak buahnya membiarkan kedua orang itu. Patak Warak tahu bahwa yang datang adalah adik seperguannya.

“Suruh mereka kesini, dia adalah adik seperguan saya” pinta Patak warak. Mereka masuk pintu gerbang padepokan Mandaliko dan dipersilahkan duduk di teras rumah, kemudian keluarlah Patak Warak.

“ada apa di, Kok janur gunung (tumben) mau singgah ke Padepokanku?”

“Iya, kami kesini mau menikmati keindahan Pulau Mondoliko” Kilah Kapa dan Gentiri. Namun Patak Warak mencium bau tidak beres pada kedua adik perguruannya. Ia mempersilahkan keduanya untuk masuk ke dalam rumah. Kapa dan Gentiri melihat-lihat seisi rumah ternyata tidak diketemukan keberadaan Dewi Roroyono. Mereka terus menyelidiki Padepokan Mondoliko. Karena kelehan dan setengah putus asa, ia menunda penyelidikannya. Ia beristirahat di bawah pohon Setigi (Dewa ndaru).

Ditengah ia tertidur, Kapa mendengar suara merintih dari rumah Patak warak bagian belakang. Ia membangunkan adiknya untuk segera menyelidiki arah suara tersebut. Dari celah-celah tembok bambu mereka melihat Roroyono yang sedang disekap di kamar belakang. Patak Warak mencoba merayu Roroyono agar mau dijadikan istri, ia memberontak melepaskan tangan kekar Patak warak. Jeritan minta tolong itulah yang membuat Gentiri tergerak hatinya untuk mendobrak pintu dan menyambar tubuh Roroyono dibawa kabur. Sementara Kapa menghadapi Patak Warak.

“kakang sudah kelewat batas, tidak mengenal belas kasihan sama sekali, beraninya sama wanita”

“kamu jangan ikut campur urusan ini, kembalikan Roroyono padaku!” bentak Patak Warak memecah keheningan malam. Mereka berdua bertempur di belakang rumah, sementara Gentiri yang menggendong Roroyono berlari masuk hutan.

Kapa kalah dalam kanuragan, posisinya terdesak, anak buah Patak warak juga ikut mengepung. Dalam keadaan tersudut ia berjongkok mengambil segengam Pasir kemudian ditaburkan di mata Patak Warak dan anak buahnya. Kapa lari mengejar Gentiri, di pinggir laut, akhirnya ketemu di pelabuhan penyebrangan. mereka melihat perahu yang ditumpangi saudagar bernama Lodhang Datuk. Ia meminta bantuan agar boleh ikut naik parahu menuju ke Pulau Jawa.

“Kenapa kamu tergesa-gesa Ki sanak” Lodang Datuk menarik tangan Roroyono ke atas perahu.

“Saya di kejar-kejar Patak warak yang mau merampok dan memperkosa saya” rengek Roroyono meminta pertolongan.

Lodang Datuk seorang saudagar yang tidak senang bila ada kesewenang-wenangan menindas rakyat kecil.

Dalam memperebutkan Roroyono dari tangan Adipati Pathak warak itu Kapa dan Gentiri mendapat bantuan dari seorang Wiku Lodang datuk di pulau seprapat, Juana. Ia menyuruh anak buahnya membawa mereka bertiga ke Pulau Jawa, sementara ia menghadapi Patak warak dengan perahu kecil. Berlangsunglah pertempuran ditengah laut antara Lodang datuk ditengah lautan. Sampai menuju daratan Jawa. Akhirnya Patak Warak tewas. Kemudiaan Lodak Datuk menyusul menuju Pulau Sprapat.‎

Maka berhasilah Kapa dan Gentiri membawa kembali sang Dewi Roroyono ke Ngerang. Untuk menghargai jasa dari Maling Kapa dan Maling Gentiri, mereka mendapat hadiah dari Ki Ageng Ngerang, berupa wilayah di Buntar, yang mana keduanya orang itu menjadi penguasa tanah tersebut. sedangkan Dewi Roroyono jadi diambil istri Sunan Muria.

Hidup manusia selalu berputar, Demikianlah hati Gentiri. Dahulu yang dengan relanya menyerahkan tenaganya demi menghormati kesenioran dan kewibawaan Sunan Muria, Gentiri membopong Roroyono sampai ke Ngerang. Gejolak Hati, bersemi laksana kuncup tersirami hingga tumbuh menjadi bunga-bunga cinta. Alur hidup tak selurus anak panah, tetapi setiap saat berubah. Tentu saja perubahan itu terkadang menyimpang di tengah perjalanan.

Perasaan Gentiri dipenuhi dengan bunga hati dan perasaanya sekarang hanyalah Dewi Roroyono, seorang gadis yang mempesona, yang selalu menghias mimpi-mimpinya, Kisah cinta gayung bersambut antara Gentiri dengan Roroyono,namun keadaanlah yang membuat lain. Ia harus rela melepas Roroyono kepada Sunan Muria. Siang malam selalu terbayang wajah cantik Roroyono, sehingga mengganggu tidurnya disetiap malam dan mengganggu kerja disetiap saat.

Gentiri tak mampu membendung rasa rindunya kepada Roroyono, ia akan merebut Roroyono dari Sunan Muria. Sudah barang tentu tindakan ini adalah suatu pengkhinatan janji dan sumpah pada Ki Ageng Ngerang. Dan mengkhianati persaudaran dengan Sunan Muria. Namun apa mau dikata bila niat jahat telah mengalahkan pertimbangan batin yang bening. Keinginan nafsu yang amat besar untuk dapat memiliki Roroyono.

Ketika sore mulai merembang, burung-burung pulang ke sarang hanya desau angin yang mengitari puisi hati, berangkatlah Gentiri menemuai sang pujaan hati di Padepokan Muria. Ia Memakai baju hitam, dan memakai cadar agar tidak dikenali sama Murid Padepokan Muria.

Ketika tengah malam Gentri mengendap-endap memasuki taman kaputren. Di ketuknya daun pintu pelan-pelan.

“Diajeng..Roroyono..ini Kakang Gentiri!”

Roroyono terbangun setelah mendengar panggilan Gentiri dari luar kamarnya. Mereka bertemu sambil menggemgam jemari dua insan yang tengah dilanda asmara. Namun tangan Roroyono buru-buru dilepaskan takut ketahuan Sunan Muria.

“Sudahlah kakang..kita cukup sampai disini saja, saya sudah milik orang lain aku tidak mau gara-gara saya, Romo marah. Terus persahabatan kakang dengan Sunan Muria rusak.”

“aku tidak peduli, aku tidak bisa hidup tanpamu, diajeng!”

“bukan kakang sudah tahu bagaimana sakitnya bila dikhianati, kenapa kakang harus mengkhianati persabatan yang telah kakang bangun lama sekali, hanya karena saya kakang harus bermusuhan dengan Romo dan Kakang Sunan Muria. Apakah itu bagus kakang! Aku tidak mau jadi durhaka sama Romo, aku juga tak mau menyakiti hati Kakang Sunan Muria.”

Putus sudah harapan Gentiri, kini ia dihadapkan pada dua dilemma yang harus dipilih, lari dengan Roroyono tapi harus berperang melawan Sunan Muria dan Ki Ageng Ngerang, atau mengalah membiarkan Roroyono bersama Sunan Muria, namun batin kecilnya memberontak. Gentiri bersikukuh memilih pilihan pertama, melarikan Roroyono, namun baru keluar pintu kaputren ia dipergoki oleh Pengawal kaputren Sunan Muria. Terjadilah perang tanding, Gentiri dikroyok oleh ratusan murid-murid Sunan Muria. Tewaslah Gintiri di padepokan Muria.

Berita kematian maling (pencuri) berkerodok yang ketangkap di Padepokan Muria. Ia mati diadili oleh massa, setelah dibuka cadarnya ternyata Gentiri murid dari Kia Ageng Ngerang. Hal ini membuat Maling Kapa berang, Gentiri adalah adik seperguruan dan adik kandung Kapa, ia tidak terima bila adiknya diperlakukan seperti itu.

Maling Kapa terus berangkat ke Muria dengan tujuan ingin membalas kematian adiknya. Selain itu Ia juga akan mencuri Dewi Roroyono. Dan kali ini berhasil. Roroyono dibopong di pundak Kapa yang kekar. Ia dibawa lari ke Pulau Seprapat. Murid- murid padepokan Muria mengejar sampai ke lereng Muria sampai ke Desa Juana, mereka mau menyebrang ke Pulau Sprapat.

Maling Kapa mau menyembunyikan Roroyono ke Lodhang datuk. Namun Lodhang datuk bersikap arif dan bijaksana. keputusan yang adil dari wiku lodhang datuk itu tidak diterima baik oleh kapa.bahkan Kapa mencaci Sang Wiku, yang sudah dianggap gurunya sendiri. Ia potes atas perlakuan tidak adil terhadap Maling Gentiri.

Ketika itu m,urid-murid Padepokan telah sampai di Pulau Seperapat.salah seorang murid Sunan Muria menantang Maling Kapa. Sehingga terjadilah pergulatan antara kedua kesatria tersebut, dan matilah Kapa yang menjadi Maling (pencuri) itu. Akhirnya Lodang datuk menyerahkan Dewi Roroyono kepada Ki Ageng Ngerang. Oleh Ki Ageng Dewi Roroyono diserahkan kembali ke Padepokan Muria dengan selamat, ia berkumpul lagi dengan suaminya kanjeng Sunan Muria.‎

RIWAYAT GERBANG MAJAPAHIT
Pada sebuah desa yang terpencil hiduplah Seorang janda bernama Randasari yang memiliki anak laki-laki yang tampan, trampil dan gesit. pemuda enerjik ini juga memiliki ilmu kanuragan. Ia sangat menonjol diantara teman-temanya. Ia bernama Kebo Anabrang. Ia suka menolong bila teman-temannya mendapat kesusahan. Namun balas budi yang seharusnya diterima oleh Kebonabrang tidak pernah didapatkan. Meski Kebonabrang tulus dan tidak pamrih dalam membantu masyarakat sekitarnya.‎

Masyarakat selalu mencemooh Kebonabrang sebagai anak lampoar, anak jadaah yang tidak diketahui bapaknya. Kebonbrang menghadapi dengan tambah, karena pesan ibunya Rondhosari untuk tidak melawan orang yang mencemoohnya,

“biarkan saja semua menghinamu Nger! Nanti juga mereka capek sendiri.”

Pada awalnya Kebonabrang menuruti semua pesan Ibunya, namun lama kelamaan hatinya tak kuat juga. Kebonabrang marah ketika seorang pemuda mengatakan bahwa dirinya adalah anak hubungan gelap yang tidak pernah dikehendaki oleh kedua orang tuanya. Panaslah kuping Kebonabrang, bergegas pulang ke rumah, daun pintu ditendang hingga roboh.

Nyai Rondhosari yang tengah di dalam rumah bergegas keluar, mendengar suara keras pintu yang roboh.

“Ada apa Ngger, sabar..sabar!” bujuk Nyai Rondosari dengan memegangi kedua tangannya.

“saya ini anak siapa?, saya ngak mau kalau biyung bohong lagi, saya mau biyung jujur mengatakan sebenarnya!”

“sekarang kamu sudah dewasa dan sudah saatnya kamu tahu sebenarnya siapa dirimu Ngger! Sebenarnya kamu adalah Putra dari Sunan Muria” Nyai Rondosari menerangkan sedetail-detailnya asal-usulnya Kebonabrang.

Berbekal cerita yang diperoleh dari Nyai Rondhosari maka berangkatlah Kebonabrang ke Padepokan Muria. dengan sopannya ia menghadap Kanjeng Sunan Muria. Ia mengaku sebagai anak dari Kanjeng Sunan Muria. Dan ia mau berguru kepada Kanjeng Sunan. 

Sejak kecil memang dia tidak pernah melihat ayahhandanya karena dirahasiakan oleh Nyai Rondosari, baru setelah dewasa ini dia diberitahu oleh ibunya bahwa ayahnya adalah seorang Sunan, yakni Sunan Muria. Akan tetapi pengakuan sang pemuda itu ditolak keras oleh Sunan Muria. Beliau berkata bahwa beliau tidak merasa mempunyai anak yang bernama Kebonabrang. Sebab Ia hanya memiliki seorang anak dari Dewi Roroyono.

Meskipun Sunan Muria menolak pengakuan sang pemuda, Kebonabrang tetap diperbolehkan berguru di Padepokan Muria. Hal ini menjadi kesempatan yang bagus untuk meyakinkan Kanjeng Sunan Muria. Walaupun Kebonabrang mambawa bukti-bukti yang dibekalkan ibunya, kanjeng Sunan masih tetap ragu bahwa dia benar-benar adalah putranya.

Kebonabrang terus menerus mendesak, maka Sunan Muria akhirnya bersedia mengakui bahwa Kebonabrang adalah puteranya, asalkan dia dapat memenuhi syarat. Syaratnya adalah Kebonabrang harus dapat memindahkan salah sebuah pintu Gerbang yang ada di kerajaan Majapahit ke gunung Muria dalam waktu satu malam saja

“andai kamu bisa memenuhi syarat itu, kamu saya akui sebagai putraku!”

Kebonabrang bersungguh-sungguh untuk mendapatkan pengakuan anak oleh Sunan Muria. Berangkatlah ia ke majapahit untuk mendapatkan sebuah pintu gerbang, setelah ia berkeliling di bekas reruntuhan Majapahit, akhirnya dia menemukan sebuah pintu. Ia akan diambilnya sendiri dengan kukuatan sakti yang dimiliki sejak lahir. I‎a tengah mempersiapkan.mantra-mantra dan juga doa kepada tuhan agar segera dapat mengakat pintu Majapahit

Bersamaan dengan itu di Juana, sebelah timur Pati, diadakan sayembara untuk dapat mempersunting Roro Pujiwati dengan syarat dapat membawa Pintu Majapahit ke wilayah Ngerang. Hal ini diikuti oleh para pemuda yang ada di daerah Ngerang, namun semunya tak sanggup. ada juga seorang pemuda bernama Raden Ronggo adalah putra Kanjeng Sunan Muria dari ibunya Dewi Roroyono. Sunan Ngerang juga mempunyai seorang puteri lagi, adiknya Dewi Roroyono, bernama Roro Pujiwati.

Ia sedang menuju ke wilayah reruntuhan Kerajaan Majapahit dalam rangka mengikuti sayambara memindahkan pintu Gerbang Majapahit. Sayembara tersebut untuk memperebutkan seorang puteri cantik bernama Roro Pujiwati, putrinya Kyai Ageng Ngerang (Sunan Ngerang) Juana.

Raden Ronggo sangat mencintai Roro Pujiwati, kisah cintanya ini diketahui oleh Ki Ageng Ngerang dan Sunan Muria sehingga mereka berdua bersepakat untuk membuat sayembara yang sekiranya tidak dapat dipenuhi oleh Raden Ranggo. Padahal Roro Pujiwati ini adalah bibinya Raden Ronggo sendiri, karena Roro Pujiwati itu adalah adiknya Raden Ayu Roroyono (ibunya Raden Ronggo).

Kehendak Raden Ronggo untuk mempersunting Roro Pujiwati itu ditolak, karena di dalam agama tidak diporbolehkan keponakan menikahi bibinya. Ki Ageng Ngerang dan Sunan Muria berunding Bagaimana cara menolaknya, akhirnya ditemukan cara yaitu dengan mengajukan syarat yang harus dipenuhi, yakni memindahkan sebuah pintu Gerbang Majapahit ke tempatnya Roro Pujiwati di Ngerang, Juana.

Setelah sampai di Majapahit, Raden Ronggo kaget sebab telah ada yang mau membawa pintu Majapahit, Ia kecewa karena dia mengetahui bahwa ada seorang pemuda dari Muria yang membawa lari sebuah pintu gerbang.

“Apakah itu suruhannya Romo untuk menggagalkan syembara ini atau dia juga berkompetisi untuk ikut syembara mempersunting Roro Pujiwati.”

Raden Ronggo tertegun, ia mengawasinya dari belakang, Dengan hati berdebar dia kembali mengejar pemuda yang telah mendahuluinya (yakni Kebonabrang). Ia akan merebut bila sudah dekat dengan Ngerang. Kebonabrang sangat gesit sehingga membuat Raden Ronggo keteteran. Raden ronggo melesat lebih cepat lagi untuk mengejar karena Kebokenongo sudah melewati Ngerang, Raden Ronggo berhenti sebentar mengambil Palang pintu yang terjatuh, ia melesat lagi mengejar Kebonabrang, ia mengira pasti ini usaha romonya untuk menggagalkan syembara.

Raden Ronggo akhirnya dapat mengejarnya setelah Kebonabrang sedang bingung mencari palang pintu gerbang yang terjatuh.

“kamu mencari aoa Kisanak, apa yang hilang?” Kebokenongo melihat Raden Ronggo yang sedang memegang Palang pintu.

“Berikan Palang pintu itu Raden!, saya gak ada waktu, cepat berikan!” bentak Kebonabrang.

Terjadilah kejar mengejar dan bertempur sangat hebat, pergulatan adu kekuatan antara Raden Ranggo dengan murid Sunan Muria memeperebutkan pintu Majapahit, Raden Ronggo ingin merebut pintu itu agar dapat mempersunting Roro Pujiwati, sedangkan Kebonabrang agar dapat diakui sebagai putra kanjeng Sunan Muria.

Pertengkaran antara keduanya diketahui oleh Suro Benggol, sehingga ia harus turun gunung untuk melerai perselisihan ini, tempat ini dianamakan Towelo (cetho welo-welo).‎

Akhirnya Suro Benggol mampu meredakan pertempuran perang saudara antara sesama Sunan Muria. Dalam kesapakatan itu Raden Ronggo hanya memperoleh sebatang kayu Pathok, atas saran Suro Benggol agar Raden Ronggo mau membawa pulang palang pintu itu ke Ngerang. Tetapi Roro Pujiwati menolak karena syarat yang diminta adalah pintu Gerbangnya. Karena cintanya ditolak, maka Raden Ronggo marah. Roro Pujiwati dipukul dengan kayu pathok dan lenyaplah Roro Pujiwati di tempat itu. Raden Ronggo tidak mau pulang ke Muria atau Ngerang, ia lebih senang mengembara untuk menghibur hati yang sedang sakit.

Kemudian Suro Benggol memperintahkan Kebonabrang untuk segera membawa pintu gerbang Majapahit ke gunung Muria. Karena hari mulai fajar. Segera Kebonabrang bersiap-siap akanTetapi baru saja diangkat pintunya ayam jantan berkokok bersautan, pertanda hari sudah tiba. Padahal syarat yang harus diminta adalah pintu majapahit harus sudah sampai ke Padepokan Muria sebelum pagi datang. Dan oleh Sunan Muria maka Kebonabrang disuruh untuk menunggu di Pintu Majapahit ini.

Legenda Pulau Seprapat ‎

Pulau Seprapat adalah pulau yang terdapat di Kabupaten Pati tepatnya di daerah Juwana. Kata Seprapat (Bahasa Jawa yang artinya seperempat), Pulau ini diberi nama Pulau Seprapat karena menurut cerita Dampo Awang meninggalkan seprempat hartanya di Pulau seprapat.‎

Pemandangan di Pulau Seprapat sangat indah nan alami dengan pohon tua yang cukup rindang, sehingga cocok bagi tempat rekreasi bersama keluarga dan sanak saudara. Sedangkan di tengah-tengahnya Pulau Seprapat terdapat sebuah makam berbentuk mushala yang dibangun oleh warga setempat.

Pada zaman Majapahit ada seseorang yang tidak dikenal. Oleh karena penderitaan yang dialaminya, orang itu pergi merantau dan mengasingkan diri di pulau yang sekarang bernama Pulau Seprapat. Di pulau itu dia menjalankan pertapaan. Setelah beberapa lama menjalankan pertapaan itu, ia berhasil mendapat pusaka yang sangat berkasiat. Adapun khasiatnya adalah dapat menyembuhkan atau mengembalikan segala sesuatu yang telah terpisah. Untuk membuktikan kasiat benda tersebut, ular dipotong menjadi dua, kemudian meletakkan pusaka di atas badan ular yang terpotong. Seketika ular tersebut dapat tersambung dan hidup. Setelah kakak perempuannya mencari kian kemari, akhirnya menjumpainya di dalam Pulau Seprapat itu. Ia diajak pulang, tetapi tidak mau. Bahkan ia menceritakan kejadian-kejadian yang telah dialami selama di Pulau Seprapat. 

Untuk membuktikan hasil pertapaan adiknya benda yang tajam itu hujamkan pada badan adiknya. Pada percobaan pertama setelah dipotong lehernya dapat dipulihkan kembali dengan kesaktian benda tesebut. Karena belum percaya dengan kejadian itu maka dibuktikan sekali lagi pada sang adik. Tetapi pecobaan kedua mengalami kegagalan karena setelah dipenggal ternyata bagian kepala adiknya menghilang. Oleh karena itu, Sang kakak mencari kepala adiknya. Namun, tidak ketemu. Sang kakak menggunakan kepala kera sebagai ganti kepala adiknya. Dengan menggunakan kesaktian benda tersebut. Kepala kera dapat tersambung ke badannya. Dan adiknya dapat kembali hidup. Akan tetapi berkepala kera. Adiknya yang berkepala kera tadi tinggal di Pulau Seprapat.

Setelah kembali, kakaknya menceritakan kejadian-kejadian itu kepada tetangga. Ia mengatakan bahwa adiknya di sana tidak hanya berkepala kera saja, tetapi juga penjaga pulau tersebut. Di samping itu, adiknya juga menjaga harta benda Dampo Awang yang masih berada di sana yang banyaknya seperempat dari harta bendanya yang ada. Ketika dia kalah dalam pengadaan jago. Kakak perempuannya juga mengatakan kepada penduduk bahwa harta benda Dampo Awang itu boleh dimiliki siapa saja ia mau menjadi warga Pulau Seprapat itu. 

Dengan keterangan-keterangan itu, maka banyak warga datang ke Pulau Seprapat untuk menuruti cita-citanya. Bahkan, disinyalir sampai sekarang. Karena tebalnya kepercayaan, maka menurut berita-berita : “Apabila orang yang ingin kaya itu telah mencapai dan sampai ajalnya, maka orang-orang itu matinya menjadi keluarga di Pulau Seprapat”. Dan menurut kenyataannya apabila yang terlaksana kekayaannya ada yang tembong ada yang guwing (bahasa Jawa). 

Setelah orang-orang itu meninggal, kera yang di sana dalam keadaan tembong dan guwing.

Pulau Seprapat merupakan tempat  bersejarah bagi warga Juwana yang sudah lama dikenal oleh para pengalap berkah dengan sebutan Pulau Seprapat, dan menjadi bagian dari luas wilayah Desa Bendar, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. Pulau dengan pohon tua cukup rindang itu, di tengah-tengahnya terdapat sebuah makam berbentuk mushala yang dibangun oleh warga setempat. Jauh sebelum itu, cungkup makam dari kayu tersebut cukup tua, dan tak terawat. Di balik cungkup itulah, menurut cerita tutur dimakamkan seorang tokoh yang disegani pada masa berkembangnya agama Islam di daerah pesisir Pantai Utara Jawa, yakni Mbah Datuk Lodang.

Oleh warga, sejak pulau tersebut tidak lagi digunakan untuk ngalap berkah, namanya diubah menjadi Syekh Datuk Lodang Wali Joko. Karena itu, tiap tahun sekali pada bulan Syawal, atau bersamaan dengan perayaan tradisional nelayan yang dikenal dengan Sedekah Laut, dilangsungkan pula peringatan atas tokoh tersebut. Di pulau itu diselenggarakan acara ziarah dan dilanjutkan dengan pengajian. 

Tentang siapa, Mbah Datuk Lodang, konon menurut cerita tutur tinular, hidup pada masa Juwana, dimana sudah berdiri padepokan  Ngerang sebagai pusat penyebaran agama Islam dengan tokoh pemukanya, Ki Ageng Ngerang. Letak tepatnya di Dukuh Ngerang Desa Trimulyo, berbatasan dengan Bendar, keduanya di Kecamatan Juwana. Karena semasa hidupnya tak pernah menikah, kecuali hanya mengembleng ilmu jaya kawijayan murid-muridnya, maka warga memberinya nama tambahan Wali Joko. 

Akan tetapi ada salah satu murid yang mencemarkan nama perguruan Pulau Seprapat, yakni Maling Kopo yang nama aslinya Joko Pilang, anak Maling Pekuwon. Maling Kopo, diam-diam berhasil membaca kitab milik gurunya yang berizi tentang kelemahan semua murid Panti Ngerang. Satu di antaranya, adalah Adipati Mondoliko, Pathak Warak yang membawa kabur putri Ki Ageng Ngerang, Roroyono yang sudah dijodohkan dengan murid seperguruan, Said Kusumastuti atau Sunan Muria. Dengan pusaka milik gurunya yang juga dicuri, Maling Kopo berhasil membunuh Pathak Warak, dan mengembalikan Roroyono ke Panti Ngerang. Dia disuruh memilih, antara dijodohkan dengan Roroyono atau diberi kekuasaan sebagai Adipati Buntar, atau nama lain yang sekarang sebagai Bendar. Kendati Maling Kopo awalnya memilih sebagai penguasa di Buntar, tapi belakangan juga tertarik untuk mempersunting Roroyono yang sudah dinikahkan dengan Sunan Muria. Karena itu, cara sebagai maling pun dilakukan, yaitu menculik Roroyono dan disembunyikan di Pulau Seprapat. 

Akibatnya dia harus berhadapan dengan murid Ngerang lainnya, yaitu Adipati Tunjungpuro, Cokrojoyo. Akhir cerita tutur tersebut, Maling Kopo pun harus mati di tangan Adipati Cokrojoyo. ‎

 

Kisah Sang Rosul sebagai Panutan



رَاحَتِ الاَطيَارُ تَشدُو فِى لِيَالىِ المَولِدِ
وَبَرِيقُ النُّورِيَبدُو مِن مَعَانِى اَحمَدِ
فِى لَيَالِى المَولِدِ


Rohatil athyaru tasydu, fii layaalil maulidi,
wa bariqunnuriyabdu, min ma'aani Achmadi.. 2x
Wa bariqunnuriyabdu, min ma'aani Achmadi.. 2x
fii layaalil maulidi.. 2x
---------------------------------
Abdullah nama ayahnya.. Aminah ibundanya..
Abdul Muthallib kakeknya.. Abu Thalib pamannya..
Khadijah istri setia.. Fathimah putri tercinta..
Semua bernasab mulia.. Dari Quraisy ternama..
{Inilah kisah sang Rasul yang penuh suka duka..2x}
{Yang penuh.. Suka duka..2x}
---------------------------------
Dua bulan di kandungan.. Wafat ayahandanya..
Tahun gajah dilahirkan.. Yatim dengan kakeknya..
Sesuai adat yang ada..  Disusui Halimah..
Enam tahun usianya.. Wafat Ibu terpuja..
{Inilah kisah sang Rasul yang penuh suka duka..2x}
{Yang penuh.. suka duka..2x}
---------------------------------
Delapan tahun usia.. Kakek meninggalkannya..
Abu thalib pun menjaga.. Paman paling membela..
Saat kecil menggembala.. Dagang saat remaja..
Umur dua puluh lima.. Memperistri Khadijah..
{Inilah kisah sang Rasul yang penuh suka duka..2X}
{Yang penuh.. suka duka..2x}
---------------------------------
Di umur ketiga puluh.. mempersatukan bangsa..
Saat peletakan batu.. Hajar aswad mulia..
Genap empat puluh tahun.. Mendapatkan risalah..
Ia pun menjadi Rasul.. Akhir para Anbiya..
{Inilah kisah sang Rasul yang penuh suka duka..2X}
{Yang penuh.. suka duka..2X}
------------------------------
---------
Umur lima puluh satu, ditinggal istri tercinta
Abu Tholibpun menyusul, lengkap kesedihannya
Hilanglah duka Beliau, dengan Isro' wal Mi'roj
Allah memanggil sang Rasul, turun perintah Sholat
{Inilah kisah sang Rasul yang penuh suka duka..2X}
{Yang penuh.. suka duka..2X}
------------------------------
------------
Tepat lima puluh tiga, banyak yang memusuhi
Rasul diperintah Hijrah, ke Madinah yang mulia
Sepuluh tahun disana, jaya Agama Alloh
Islampun berkembang pesat, menyebar di dunia
{Inilah kisah sang Rasul yang penuh suka duka..2X}
{Yang penuh.. suka duka..2X}
------------------------------
---------------
Umur enam puluh tiga, Islam sudah sempurna
Al Maidah ayat tiga, akhir dari kitabnya
Pada tahun itu juga, Malaikat menjemputnya
Pulanglah Rasul tercinta, Semestapun berduka
{Inilah kisah sang Rasul yang penuh suka duka..2X}
{Yang penuh.. suka duka..2X}



Kehidupan Gusti Panutan Kanjeng Nabi Agung Muhammad SAW yang penuh dengan suka dan duka dan sesuai Firman ALLOH dalam Al Qur'an 

لقد كان في رسول الله أسوة حسنة 

Kita sebagai umat harus mencoba untuk meneladani Beliau Rosululloh SAW 
Penderitaan yang kita Alami tidak seberapa bila dibandingkan dengan Penderitaan Beliau. 

Kita harus mawas diri dan berusaha untuk mensyukuri atas semua nikmat dan bersabar atas segala cobaan yang menimpa kita.

 

Doa Nabi Sulaiman Menundukkan Hewan dan Jin

  Nabiyullah Sulaiman  'alaihissalam  (AS) merupakan Nabi dan Rasul pilihan Allah Ta'ala yang dikaruniai kerajaan yang tidak dimilik...