Rabu, 18 November 2020

Filsafat Agama dan Cinta


Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani: ”philosophia”. Seiring perkembangan jaman akhirnya dikenal juga dalam berbagai bahasa, seperti : ”philosophic” dalam kebudayaan bangsa Jerman, Belanda, dan Perancis; “philosophy” dalam bahasa Inggris; “philosophia” dalam bahasa Latin; dan “falsafah” dalam bahasa Arab.

Para filsuf memberi batasan yang berbeda-beda mengenai filsafat, namun batasan yang berbeda itu tidak mendasar. Selanjutnya batasan filsafat dapat ditinjau dari dua segi yaitu secara etimologi dan secara terminologi.

Secara etimologi, istilah filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafah atau juga dari bahasa Yunani yaitu philosophia – philien : cinta dan sophia : kebijaksanaan. Jadi bisa dipahami bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Dan seorang filsuf adalah pencari kebijaksanaan, pecinta kebijaksanaan dalam arti hakikat.

Pengertian filsafat secara terminologi sangat beragam. Para filsuf merumuskan pengertian filsafat sesuai dengan kecenderungan pemikiran kefilsafatan yang dimilikinya. Seorang Plato mengatakan bahwa : Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli. Sedangkan muridnya Aristoteles berpendapat kalau filsafat adalah ilmu ( pengetahuan ) yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Lain halnya dengan Al Farabi yang berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu ( pengetahuan ) tentang alam maujud bagaimana hakikat yang sebenarnya. Berikut ini disajikan beberapa pengertian Filsafat menurut beberapa para ahli:

Plato ( 428 -348 SM ) : Filsafat tidak lain dari pengetahuan tentang segala yang ada.

Aristoteles ( (384 – 322 SM) : Bahwa kewajiban filsafat adalah menyelidiki sebab dan asas segala benda. Dengan demikian filsafat bersifat ilmu umum sekali. Tugas penyelidikan tentang sebab telah dibagi sekarang oleh filsafat dengan ilmu.

Cicero ( (106 – 43 SM ) : filsafat adalah sebagai “ibu dari semua seni“ ( the mother of all the arts“ ia juga mendefinisikan filsafat sebagai ars vitae (seni kehidupan )

Filsafat sebagai Wissenschaftslehre (ilmu dari ilmu-ilmu, yakni ilmu umum, yang jadi dasar segala ilmu. Ilmu membicarakan sesuatu bidang atau jenis kenyataan. Filsafat memperkatakan seluruh bidang dan seluruh jenis ilmu mencari kebenaran dari seluruh kenyataan.

Filsafat sebagai Grunwissenschat (ilmu dasar hendak menentukan kesatuan pengetahuan manusia dengan menunjukan dasar akhir yang sama, yang memikul sekaliannya

Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya tercakup empat persoalan.

Apakah yang dapat kita kerjakan? (jawabannya metafisika )
Apakah yang seharusnya kita kerjakan? (jawabannya Etika )
Sampai dimanakah harapan kita? (jawabannya Agama )
Apakah yang dinamakan manusia? (jawabannya Antropologi )
Filsafat menelaah hal-hal yang dijadikan objeknya dari sudut intinya yang mutlak, yang tetap tidak berubah , yang disebut hakekat.

Filsafat sebagai perenungan yang sedalam-dalamnya tentang sebab-sebabnya ada dan berbuat, perenungan tentang kenyataan yang sedalam-dalamnya sampai “mengapa yang penghabisan “.

Berfilsafat ialah mencari kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran , tentang segala sesuatu yang di masalahkan, dengan berfikir radikal, sistematik dan universal.

(1) Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepecayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang dijunjung tinggi; 

(2) Filsafat adalah suatu usaha untuk memperoleh suatu pandangan keseluruhan; 

(3) Filsafat adalah analisis logis dari bahasa dan penjelasan tentang arti kata dan pengertian ( konsep ); Filsafat adalah kumpulan masalah yang mendapat perhatian manusia dan yang dicirikan jawabannya oleh para ahli filsafat.

Ilmu Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai Ke-Tuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana sikap manusia itu sebenarnya setelah mencapai pengetahuan itu.

Manusia selalu mencari sebab-sebab dari setiap kejadian yang disaksikannya. Dia tidak pernah menganggap bahwa sesuatu mungkin terwujud dengan sendirinya secara kebetulan saja, tanpa sebab. Seorang sopir yang mobilnya mogok akan turun dari kendaraannya dan memeriksa kemungkinan sebab-sebab mogoknya mobil itu. Tidak akan pernah terpikir olehnya bahwa mobilnya akan bisa mogok manakala segala sesuatu berada dalam kondisi yang prima. Untuk membuat mobilnya bisa berjalan lagi, dia akan menggunakan cara apa pun yang bisa dilakukannya. Dia tidak akan pernah duduk-duduk saja menunggu mobilnya bisa berjalan lagi.

Jika seseorang merasa lapar, dia akan berpikir tentang makanan. Jika dia haus, dia akan memikirkan air. Jika dia kedinginan, dia akan mengenakan pakaian tambahan atau menyalakan api. Dia tidak akan pernah duduk-duduk saja sambil meyakinkan dirinya bahwa suatu kebetulan akan menyelesaikan masalahnya. Seseorang yang ingin mendirikan bangunan, meminta jasa seorang arsitek, dan para pekerja bangunan. Dia tidak akan pernah berharap bahwa keinginannya terlaksana dengan sendirinya.


Bersama dengan maujudnya manusia, gunung-gunung, hutan-hutan, dan lautan-lautan yang luas juga telah ada bersamanya. Dia selamanya telah melihat matahari, bulan, dan bintang bergerak dengan teratur dan terus-menerus melintasi langit.

Meski demikian, orang-orang yang berilmu di dunia, tanpa mengenal lelah, telah mencari sebab-sebab wujud-wujud dan fenomena-fenomena yang menakjubkan itu. Tidak pernah mereka mengatakan: “Selama kita hidup, kita telah menyaksikan benda-benda langit tersebut dalam bentuknya seperti yang sekarang ini. Karena itu, tentu mereka terwujud dengan sendirinya.”
Hasrat ingin tahu dan ketertarikan yang bersifat instinktif terhadap sebab-sebab ini memaksa kita menyelidiki bagaimana benda-benda di alam ini muncul, dan menyelidiki ketertibannya yang mengagumkan. Kita dipaksa untuk bertanya “ Apakah alam semesta ini, dengan seluruh bagiannya yang saling berkaitan yang benar-benar membentuk satu kesatuan sistem yang besar itu, terwujud dengan sendirinya, ataukah ia memperoleh wujudnya dari sesuatu yang lain?”

Apakah sistem mengagumkan yang berlaku di seluruh alam semesta ini, yang diatur oleh hukum-hukum abadi tanpa kekecualian dan yang membimbing segala sesuatu menuju tujuannya yang unik, dikendalikan oleh suatu kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas, ataukah ia muncul secara kebetulan saja?
Jawaban terhadap pertanyaan ini positif, artinya ke manapun manusia melihat di seluruh penjuru semesta ini, ia akan melihat bukti-bukti yang melimpah akan adanya satu Pencipta dan Kekuatan Pemelihara, sebab manusia melihat bahwa setiap ciptaan itu menikmati anugerah-anugerah wujud dan secara otomatis bergerak mengikuti jalan yang tertentu, akhirnya lenyap dan digantikan makhluk yang lain. Makhluk-makhluk ini tidak pernah mewujudkan dirinya sendiri, menciptakan arah perkembangannya sendiri, ataupun memainkan peran sekecil apa pun dalam menciptakan atau atau mengorganisasi eksistensi mereka.

Bersama dengan maujudnya manusia, gunung-gunung, hutan-hutan, dan lautan-lautan yang luas juga telah ada bersamanya. Dia selamanya telah melihat matahari, bulan, dan bintang bergerak dengan teratur dan terus-menerus melintasi langit.
Meski demikian, orang-orang yang berilmu di dunia, tanpa mengenal lelah, telah mencari sebab-sebab wujud-wujud dan fenomena-fenomena yang menakjubkan itu. Tidak pernah mereka mengatakan: “Selama kita hidup, kita telah menyaksikan benda-benda langit tersebut dalam bentuknya seperti yang sekarang ini. Karena itu, tentu mereka terwujud dengan sendirinya.”

Hasrat ingin tahu dan ketertarikan yang bersifat instinktif terhadap sebab-sebab ini memaksa kita menyelidiki bagaimana benda-benda di alam ini muncul, dan menyelidiki ketertibannya yang mengagumkan. Kita dipaksa untuk bertanya “ Apakah alam semesta ini, dengan seluruh bagiannya yang saling berkaitan yang benar-benar membentuk satu kesatuan sistem yang besar itu, terwujud dengan sendirinya, ataukah ia memperoleh wujudnya dari sesuatu yang lain?”

Apakah sistem mengagumkan yang berlaku di seluruh alam semesta ini, yang diatur oleh hukum-hukum abadi tanpa kekecualian dan yang membimbing segala sesuatu menuju tujuannya yang unik, dikendalikan oleh suatu kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas, ataukah ia muncul secara kebetulan saja?

Jawaban terhadap pertanyaan ini positif, artinya ke manapun manusia melihat di seluruh penjuru semesta ini, ia akan melihat bukti-bukti yang melimpah akan adanya satu Pencipta dan Kekuatan Pemelihara, sebab manusia melihat bahwa setiap ciptaan itu menikmati anugerah-anugerah wujud dan secara otomatis bergerak mengikuti jalan yang tertentu, akhirnya lenyap dan digantikan makhluk yang lain. Makhluk-makhluk ini tidak pernah mewujudkan dirinya sendiri, menciptakan arah perkembangannya sendiri, ataupun memainkan peran sekecil apa pun dalam menciptakan atau mengorganisasi eksistensi mereka.

Kita sendiri tidak memilih kemanusiaan kita atau karakteristik-karakteristik manusiawi kita; kita diciptakan sebagai manusia dan diberi karakteristik-karakteristik kemanusiaan tersebut. Sama halnya, akal kita tidak akan pernah bisa menerima bahwa semua wujud yang ada di alam semesta ini terwujud secara kebetulan saja, dan bahwa sistem wujud itu muncul begitu saja. Akal kita tidak bisa menerima bahwa sejumlah potongan batu bata telah berkumpul bersama-sama secara kebetulan dan dengan sendirinya untuk membentuk sebuah rumah.   Jadi realisme instinktif manusia menyatakan bahwa alam wujud pastilah memiliki satu penopang yang merupakan Sumber wujud  dan Pencipta serta Pemelihara alam semesta, dan bahwa Wujud serta Sumber kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas ini adalah Tuhan, sumber segala wujud dalam sistem eksistensi.

Menurut teori peluang, sebagai contoh, bila kita mengocok huruf yang tertulis dalam kertas masing-masing bertuliskan A, B, C hingga Z (ada 26 huruf). Kemudian kita ambil satu demi satu dan diletakkan di atas meja berurutan. Maka peluang kemunculan huruf-huruf tersebut berurutan ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ adalah kurang dari 0,0000000000000000000000000025 atau kurang dari seperempatratus trilyun trilyun.

Dalam tubuh manusia (70 kg) terdapat sekitar 7 trilyun trilyun trilyun atom (99%nya adalah Hidrogen, Oksigen dan Karbon).  Bisakah kita bayangkan betapa kecil kemungkinan 7 trilyun trilyun trilyun atom ini membentuk, menyusun, berinteraksi dengan sangat kompleks secara “kebetulan” sehingga seorang manusia mewujud di dunia dengan kelengkapan sistem kehidupannyanya ?

Bagaimana pula dengan masyarakat manusia yang terdiri atas milyaran manusia dan tak terhitung spesies-spesies tumbuhan dan hewan baik di daratan maupun di lautan yang tertata rapi membentuk rantai-rantai ekosistem dan berbagai keteraturan dan kesalingterkaitan?

Bagaimana pula dengan planet bumi yang terdiri atas trilyun trilyun trilyun ….. atom yang tertata sedemikian rapi dengan pergantian musimnya, hukum-hukum geologis, hukum-hukum meteorologi, siklus air, keteraturan arus-arus lautan, dan tak terhitung keteraturan-keteraturan lain?

Bagaimana pula dengan posisi bumi di tatanan tata surya, yang “melayang-layang” tanpa tiang bersama planet-planet lain; dan mengikuti berbagai aturan yang bahkan terukur dengan sangat nyata seperti hukum Keppler? Dengan posisi rotasi yang memungkinkan siklus empat musim? Bagaimana pula tata surya sebagai satu dari 100 milyar bintang yang berputar-putar mengitari pusat galaksi bima sakti?

Jadi realisme instinktif manusia menyatakan bahwa alam wujud pastilah memiliki satu penopang yang merupakan Sumber wujud  dan Pencipta serta Pemelihara alam semesta, dan bahwa Wujud serta Sumber kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas ini adalah Tuhan, sumber segala wujud dalam sistem eksistensi.

Allah SWT berfirman:

“Dia (Musa) berkata,’ Tuhan kami ialahyang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.’“ (QS 20(THO HA): 50)

“Sucikanlah Nama Tuhan-mu Yang Maha Tinggi,Yang Menciptakan, dan Menyempurnakan,
Dan yang Menentukan Kadar (masing-masing ) dan Memberi Petunjuk,” (QS 87(AL-A’LA): 1–3)


Tuhan Yang Maha Pemurah adalah Bijak, dan tiada apa pun yang lebih layak disebut Bijak dariNya! Sungguh Dia-lah Yang Maha Bijak (al-Hakim)! “Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS 43 (AZ-ZUKHRUF):84) 
Hal ini telah dijelaskan dalam Tauhid for Teens , Bukti Kebijaksanaan dan inayah Ilahi meniscayakan adanya makna dan tujuan bagi alam ini. 

Maka, apapun yang mewujud niscaya baik untuk dirinya sendiri atau perantara untuk tercapainya kebaikan. “Kebijaksanaan Ilahi” sendiri merupakan konsekuensi sifat Maha Mengetahui dan Maha Berkehendak Allah, dan menjelaskan prinsip kausa final dan teleologis alam semesta. Bahwa mustahil Dia Yang Mahabijak menciptakan semesta, -baik keseluruhannya maupun bagiannya sekecil apa pun – , sia-sia. Di balik semesta ada suatu Kebijakan Agung yang melandasi dan meliputinya. Semesta diciptakan untuk mencapai tujuan tertentu, yang terlimpah dari KemahabijakanNya. 

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia, tanpa hikmah. … (QS Shad: 27) Keadilan Ilahi adalah sifatNya yang merupakan pancaran rahmaniyyah dari Kebijakan Ilahi. Maksud keadilan Allah adalah tidak mengabaikan kapasitas dan kelayakan setiap maujud; Dia pasti memberikan sesuatu yang pantas diterima oleh setiap maujud. Sedangkan, maksud kebijaksanaan Allah adalah fakta bahwa sistem alam yang Dia ciptakan merupakan sistem yang paling baik dan paling maslahat, yakni bahwa Allah telah menciptakan sistem alam paling unggul yang mungkin untuk mewujud. 

Dalam sebait puisi filosofisnya, Khawajah Nashiruddin Al-Thusi mengatakan: Tiada aturan sepatut aturan Al-Haqq Tiada aturan sebaik aturan Al-Haqq Segala yang ada telah mewujud sebagaimana mestinya 
Dan tiada yang mewujud tidak semestinya Perlu dicatat, Kebijakan Ilahi adalah termasuk dalam sifat-sifat Zat Allah , sedangkan keadilan tidak berkaitan dengan sifat pengetahuan dan kehendak Allah, tapi terkait dengan aspek Perbuatan Ilahi, yakni bahwa Adil termasuk dalam sifat-sifat Perbuatan, bukan sifat-sifat Zat Allah.


Nur Muhammad SAW

Menatap Muhammad purnama rindu
tiada mentari yang tak malu
tiada lidah yang tak kelu
tiada hati yang tak menderu
tiada pula bintang gemintang yang tak bergetar-getar menahan segenap kelipnya
merintih 
akuulah geletar cahaya Muhammad, 
aakulah geletar cahaya Muhammad , 
aakulah geletarr cahaya Muhammad
dan tiapa pula awan yang tak berarak-arak menanti pertemuan dengan mu duhai Muhammad
 
Menatap Muhammad rembulan rindu
tiada bestari yang tak syahdu
tiada melodi yang tak sendu
tiada jemari yang tak beradu
tiada pula badai taupan yang tak bertiup kencang menahan segenap hasratnya
meronta 
akuulah dahsyat cahaya Muhammad,
 aakulah dahsyat kuat Muhammad, 
aakulah dahsyat cahaya Muhammad
dan tiada pula sepoi yang tak bertiup-tiupan menanti persuaan dengan mu duhai Muhammad
 
Menatap Muhammad gemerlapan rindu
tiada jauhari yang tak bersatu
tiada cinta yang tak berpadu
tiada rindu yang tak bertalu
tiada hidup yang tak baharu
tiada pula puncak merapi yang tak bergolak kawah menahan segenap takjubnya
meletup 
aakulah gelora cahaya Muhammad, 
aakulah gelora cahaya Muhammad, 
aakulah gelora cahaya Muhammad
dan tiada pula gempa yang tak bergoyang-goyang gelisah akan pertemuan dengan mu duhai Muhammad
 
Menatap Muhammad alifnya rindu
tiada ba` yang tak melengkung
tiada ‘ain yang tak mencekung
tiada penglihatan yang tak tercenung
tiada mata yang tak berpalung
tiada pula samudera yang tak menggelegak ombak menahan segenap asmaranya
mendeburr 
aakulah gelombang cahaya Muhammad, 
aakulah gelombang cahaya Muhammad , 
aaa kulah gelombang cahaya Muhammad
dan tiada pula ikan dan buih yang tak menari resah menanti perhelatan denganmu duhai Muhammad
 
 
Menatap Muhammad hakikat rindu
tiada mata yang tak nanar
tiada bejana yang tak lubar
tiada pedang yang tak lumar
tiada zirah yang tak lumat
tiada pula bumi-bumi yang tak bergempaan menahan segenap cintanya
menggoncang 
akulah goncang cahaya Muhammad, 
aakulah goncang cahaya Muhammad, 
aakulah goncang cahaya Muhammad
dan tiada pula kendi-kendi yang tak berpecahan menanti pertemuan denganmu duhai Muhammad
 
Meresapi Muhammad mawar-melati rindu
tiada tangkai yang tak tertekuk
tak pula hidung yang tak tertenung
tiada daun yang tak mendayu
tak pula indera yang tak merenung
tiada pula kata-bahasa yang tak terpatah resah menahan segenap takjubnya
merintih akulah takjub cahaya Muhammad, 
akulah suci cahaya Muhammad, 
akulah diam cahaya Muhammad
dan tiada pula lidah-kelu yang tak berdiaman menanti pertemuan denganmu duhai Muhammad
 
Menatap Muhammad merak rindu
tiada bahari yang tak menderu
tiada anjungan yang tak berderak
tiada hari yang tak menderu
tiada sahara yang tak menggelegak
tiada pula rajawali garuda yang tak melayang tinggi menahan segenap hasratnya

mencericit 
akulah takjub cantik Muhammad, 
aakulah takjub cahaya Muhammad,  
aakulah warna-warni Muhammad
dan tiada pula nuri dan emprit yang tak berkicauan sendu 
menanti pertemuan denganmu duhai Muhammad
 
Mengingat segenap Mulia Muhammad
pastilah Tuhan kan bersalawat
tiada Malaikat yang tak bersalawat
tiada mukmin yang tak bersalawat
tiada mukmin yang tak bersyafaat
tiada pula pendosa yang tak bergetar takut menjerit

aakulah tujuan kasih Muhammad, 
aakulah harapkan syafa’at Muhammad, 
aakulah harapkan syafa’at Muhammad
dan tiada pula pendoa yang tak bermajlis salawat hingga sekarat 
menanti kepastian syafa’atMu duhai Muhammad
 
Mengingat segenap Indah Muhammad
tiada Zulaikha yang tak ber-Yusuf
tiada Fathimah yang tak ber-‘Ali
tiada Layla yang tak ber-Majnun
tiada Romeo yang tak ber-Yulia
tiada pula kekasih dan pengantin yang tak berpasang-pasangan bercinta 

merintih dalam kerinduan keagungan Mu 

kaamilah (sempurna) cahaya kasih Muhammad, 
kaamilah (sempurna)  cahaya indah Muhammad,
kaamilah (sempurna) bidadari cinta Muhammad
dan tiada pula bidadari-bidadara  surga yang tak merindukan cahaya Indahmu, duhai Muhammad Sang Kekasih 


melukis rembulan dan seribu purnama

lautpun pasang tenang menjulang

burung – burung melayang di bawah purnama

kelepak bayang – nya bak gelombang  pasang


mutiara mutiara kesetiaan

kuberikan pada-Mu madu dan racun

kaupilih keduanya

aku pun memilih keduanya


Saat Kau tenggak racun

kutenggak madu

Saat kau tenggak madu

kutenggak racun


Sehingga Saat Kau tiada

Kaunikmati bayang- bayang-Mu dalam jubahku

dan Saat ku tiada

Kau pun tak tahu di mana Kau harus mencari diri – Mu


Sungguh Muhyiddin telah mengatakannya

purnama adalah mentari bagi malam

Kegelapan adalah Cahaya bagi Terang

Kegelapan adalah Air nan Beriakan


Duhai griffin duhai griffin

hingga kaki terpilin penat memilin hingga rinduku merotanku dengan penjalin

tak kujumpai Kau

bak singa berkepala tujuh dan berekor naga, sampai – sampai kukira Kau tak pernah ada?
 

dulu kukatakan

telah kulewati samudera dan ribuan selat 

berakitkan bambu Dan Fuji dan Sabzavar

kau tak kujumpai di satu kota pun, di satu rumah pun bahkan di satu masjid pun


padahal sampan bambuku beruratkan safinatun-najah

dan telah kubawa azimat kalimat syahadat

kutebasi taring – taring buaya dengan dzul-faqor

dan ribuan perih derita dengan tanah  Karbala


kutanyai penghuni langit

ia bilang tak ada burung griffin

kutanyai sang ikan Yunus nan penuh ilham

ia bilang tak ada ikan griffin


Hendak kucari engkau di daratan

tapi di samudera tak ada daratan

Mustinya kau di daratan, 

Mustinya kau di sela hutan, 
 

Sekiranya di samudra ada daratan

mungkin kucari jejakmu di sana

Sekiranya di samudra ada daratan

mungkinkan kupasang jerat-ku di sana


Duhai Kekasih Maya pujaan

Duhai Kekasih Bayangan pujaan

Ku bercinta dengan bayangan

Ku bercumbu dengan bayangan


Hingga terkadang kupandang Bibir Merah

ternyata mimpi

Dan terkadang kupegangi rangkai rompi-mu

ternyata kumengigau

 
Seribu bayangan mu, kadang ku pikir kaulah griffin

Kadang ku pikir kau Simurgh

Kadang ku pikir kau adalah buruan

dan aku raja nan memburu mu


Tapi ketika kupentang panah

tak lain ia hanya mengenai gores fata morgana

Hingga kupegang hatiku marah

tak kuat menatap samudra fatamorgana


Di awan biru kucumbu Kekasihku

Nama mu Maya, Nama mu Maya

Biar biarlah kukecup bibirmu Maya

walau kuakan terbangun walau ku akan terbangun
 

Di sofa-sofa salju aku menggigil

Kauelus aku Maya dengan hangat

Biar eluslah aku dengan bayang – Mu

walau tak sehangat wujud – Mu


percikan kristal salju keputihan tiada batas

berubah bentuk setiap saat setiap tetes tiada batas

kutak tahu di negeri bambu, di manakah kujumpai bayang Mu

atau di dalam kalam  guruku, apakah bentuk Cadar Mu?


sekiranya lambaian kelapa bisa mengeluhkan mu

niscaya lebur batangnya menjadi abu

Itu griffin, Itu griffin, katanya meyakinkanku

tapi kukatakan, walau lebur lebur itu hanyalah bayangan


maka adakah ia nan telah menjerat griffin?

katakan padanya kau telah menjeratnya?

atau hanyalah tikus sawah nan kau jerat?

dan kau katakan telah kujerat griffin?


Kata orang- orang nan Konon menemukan Selendang -Mu

Kata para pendeta nan Konon telah menemukan Senyum-Mu

Kata pelacur-pelacur nan Konon menemukan AmpunanMu

Kata para ahli makrifat nan Konon telah melihat Wujud -Mu


Kucintai Kau Maya Walau Konon Kau Cantik

Kurindui Kau Maya Walau Konon Kau -lah Lautan Nyala


Kucintai Kau Maya Dan aku yakin cintaMu

Yang jelas kuyakin Kau Ada

Yang jelas kuyakin Kecupan-Mu

walau konon ribuan sampan dalam samudera

mencari keberadaan Mu


mabuk tersungkur

bersulang anggur

aku tersungkur

berbuih anggur

anggur memerah

anggun lembayung

mata memerah

lidah pun berkidung

kidung pemabuk

kidung pemabuk

anggur asmara

anggur asmara


dalam mimpi aku bermimpi

dalam anggur aku bersulang

dalam kidung aku bermimpi

duduk tepekur aku berdendang


lagu-lagu maharia

lagu-lagu mahalara

lagu-lagu cinta ria

lagu-lagu rindu lara

karena cinta adalah ria

dan rindu adalah lara

karena asmara adalah ria

walau bunga-nya adalah lara
 

mabuk tiada duka dan suka

mabuk melayang dalam udara

Tuhan tiada duka dan suka

Tuhan menyayang pemabuk lara


anggur asmara melepas akal

yang ada hanyalah rambut yang ikal

penggila cinta tak punya akal

mabuk menyanyi ribuan Ghazal


seribu rubaiat seribu pantun

Si Dara Hadirat terasa santun

sembari sekarat kubaca pantun

walau berkarat hatiku santun


karena anggur memabuk hati

membuatnya wangi bak melati

karena tepekur memanah hati

membuatnya pecah menatap Melati

 
karena Anggur bertembang rindu

dan mabuk berkicau penuh rayu

karena mabuk aku bersulang rindu

kepada Tuhan aku merayu


memuji Tuhan, Tuhan dan Tuhan

agunglah Tuhan, Tuhan dan Tuhan

Engkau sendirian

bertahta sendirian


Mahkota berkilauan

Wajah Amat Rupawan

Cantik Sekali, Cantik Sekali

Sekarat aku, Menatap sekali
 

berpendar memerah mesra membayang

bergetar cinta bergetar

tersungkur aku tersungkur rasa

jari bergetar jemari bergetar

 
arus nikmat yang amat nikmat

dalam lagu-lagu Kekasih

rahmat semata yang amat nikmat

tenggelam dalam lagu Kekasih


anggur membayang

aku membayang

aku bersulang

aku bersulang


tiada sadar

tiada tahu

aku bergetar

tanpa kutahu


mabuk aku dalam doa

selarik bersama sempoyong anggur

buih anggur dalam doa

terhuyung aku jatuh tersungkur


Tuhan, aku berdoa sembari tersungkur

karena mabuk aku tersungkur

berjuta indah Wajah Rupawan

itulah Engkau Kekasih Pujaan
 
mabuk..

bersulang..

mabuk..

berdendang..

mabuk..

Tuhan

aku mabuk..

Tuhan

Atas segala rahmat dan hidayah Mu

Atas segala Syafa'at dan kasihsayang Mu

 

Wedaring Makrifat Jati


Ing ngisor iki amratelakake urut-urutane Wahananing Dzat kabeh.

 Dzat mutlak kang kadim azali abadi.

1. Chayu, tegese urip, kasebut atma.
2. Nur, tegese cahya, kasebut pranawa.
3. Sir, tegese rahsa, kasebut pramana.
4. Roh, tegese nyawa, kasebut sukma.
5. Napsu, tegese angkara.
6. Akal, tegese budi.
7. Jasad, tegese badan.

Dene Dzat iku tanpa tuduhan, amung dumunung ana rambahi ana sajroning urip kita, ananging akeh kang pada katambuhan, awit dening binasakake ora mawa jaman makam, tegese ora arah ora enggon, akanta tanpa warna tanpa rupa , asifat elok dudu lanang dudu wadon dudu wandu, dipralambangi : ”Kombang angajap ing tawang”, tegese : kombang angleng ana ing awang-awang, mula ing dalem martabat kasebut : la takyun, saka durung sanyata ing kahanan.

Dene Cahyu iku minangka tajalining Dzat, awit kasorotan saka purbaning Dzat sejati, dipralambangi : ”Kusuma anjarah ing tawang”, tegese : kembang tuwuh ana ing awang-awang, mula ing dalem martabat kasebut : takyun awal, dening wiwit sanyata ing kahanane.

Dene Nur iku minangka tajalining Chayu, iya iku dadi sesandaning urip, awit kasorotan saka wisesaning atma sajati, dipralambangi : ”Tunjung tanpa talaga”, tegese : kembang terate urip ora mawa banyu, mula ing dalem martabat kasebut : takyun sani, dening wis sanyata kahanane.

Dene Sir iku minangka tajalining Nur, awit kasorotan saka wisesaning pramana sajati, dipralambangi : ”Isining wuluh wungwang”, tegese : ora kawistara isen-isening wuluh wungwang iku,mula ing dalem martabat kasebut : akyan sabitah, dening sanyata tetep ing kahanane.

Dene Roh iku minangka tajalining Sir, awit kasorotan saka wisesaning pramana sajati, dipralambangi : ”Tapaking Kuntul anglayang”, tegese : ora mawa labet tapaking manuk kuntul anglayang iku, mula ing dalem martabat kasebut : akyan kajariyah, dening sanyata metu ing kahanane.

Dene Napsu iku minangka tajalining Roh, awit kasorotan saka wisesaning sukma sajati, dipralambangi : ”Geni murub ing teleng samudra”, tegese : kaelokan urubing geni ana sajroning banyu iku, mula ing dalem martabat kasebut : akyan mukawiyah, dening sanyata urip ing kahanane.

Dene Budi iku minangka tajalining Napsu, awit kasorotan saka wisesaning angkara sajati, dipralambangi : ”Kuda ngerap ing pandengan”, tegese : jaran anyander isih kinarung ana sajroning jajaran dadi upacara, surasane pada karo pralambang : lumpuh angideri jagad, mula ing dalem martabat kasebut : akyan maknawiyah, dening sanyata kawedar ing kahanane.

Dene Jasad iku minangka tajaline Wahananing sifat, dadi embane para mudah kang wis kasebut ing ngarep mau, awit kalimputan dening pakumpulaning sorot, pada sumarambah amaratani salir anggaotaning badan jasmani kabeh, mula manawa isih jamaning sifat, dipralambangi : ”Kodok kinemulan ing leng”, tegese : kodok iku ngibarating mudah kang ana sajroning jasad, eleng ing ngibarating jasad sajabaning mudah, iya iku kahaning Dzating Gusti isih kalimputan dening sifating kawula, dene manawajamaning Dzat ing delahan, dipralambangi : ”Kodok angemuli ing leng”, tegese : jasad genti dumunung ana ing jero, iya iku kahanane sifating kawula wis kalimputan dening Dzating Gusti, dadi pada tarik-tinarik, tetep-tinetepan, kaya ing ngisor iki dasare.

DERAH KAHANANING DZAT ING DUNYA LAN ING DELAHAN (AKHIRAT)


Kodok kinemulan ing Leng —— Kodok angemuli ing Leng


Kahanane ing Dunya —– Kahanane ing Achirat

DZATING GUSTI KANG NGUWASANI
ING ATASE TURU TANGI LAN PATINING JSAD KITA

Balik mungguh Dzating Gusti iku kaceke karo kawula dening adanbeni pangawasa, wenang ambabar prabawa sarta anarik wedaring gelar kukudan.

Kaya upamane manawa karkating jasad katarik ing pangrasaning budi, pangrasaning budi kairup ing hawaning napsu, hawaning napsu kasirep dening wisesaning suksma, rerem sajroning Bait al makmur, banjur amuntu ing wiwaraning pramana, anglerep saniskaraning pancadriya, mangka kaprabawa dening pangawasaning suksma anggelar pangrasa, wahanane dadi turu kahananing jasad kita, ing kono saka pangrasa katonton alaming ngimpi, kalaksanan saliring saloh bawa kabeh.

Manawa pangawasaning suksma wis ambabar pancadriya sarta ambabar wiwaraning pramana, banjur angredakake hawaning napsu, anuwuhake pangrasaning budi nganti sumarambah ing jasad kabeh, ing kono wahanane dadi tangi kahananing jasad kita, banjur weruh maneh marang saniskara kang katon ing alam dunya, mula dipralambangi : anenun senteg pisan anigasi tegese : lagi sadela ing paningaling alam ngimpi banjur bisa weruh kang katonton ing alam dunya maneh.

Kaya mangkono uga umpamane manawa karkating jasad katarik ing pangrasaning budi, pangrasaning bbudi kairup ing hawaning napsu, hawaning napsu kasirep dening wisesaning suksma, wisesaning suksma kakukud marang pangawasaning rahsa, banjur luluh manjing ing dalem pranawaning cahya, anunggal karo purbaning atma, mulih dadi sajatining Dzat mutlak kang kadin azali abadi, ing kono wahanane diarani matri kahananing jasad kita, ananging satemene ora mati, amung ngalih panggonan bae, malah waluya uripe langgeng ana ing kahanan kang maha mulya, mula dipralambangi : tanggal pisan kapurnaman tegese : durung suwe tumitah ana ing alam dunya, banjur bisa bali maneh dadi manungsa kang sampurna sarta waskita ing saniskara.

PATRAPE MANEKUNG (SEMADI) 

Dene santosaning pangesti kayektekake kang dadi tandane, iku Manawa pinesu ing sajroning manekung anungka semadi aneges karsa, amrsudi kawasa, adapt kang wis kalakon, ana mangunah teka kagawa ing utusan metu saka sarira kita kang amaha mulya, amawa tanda katon saka pramana karasa ing dalem rahsa, ing kono Manawa katarima kang cinipta dadi, kang sinedya ana, kang kinarsan teka saka parmaning Kang Kawasa, mungguh pratikele Manawa arep manekung saka wsiyate Kanjeng Panembahan Senapati Ingalaga Mataram, kaya ing ngisor iki.

Wiwit angurangi dahar sare, anyegah sahwat ambirat napsu hawa ing sawatara dina, banjur pasa anglowong sarta ambisu ing dalem telung dina telung bengi, ora kena angemu sak serik duka cipta, Manawa pasane wis kari sawengi ora kena sare, bareng ing wayah tengah wengi adus banjur manganggo kang sarwa suci, sarta akekonyoh (damel) ganda wida jebab wangi (minyak wangi), adedupa madep mangetan utawa mangulon angarepake keblate dewe, tumeka ing wayah bangun esuk iku wiwit tafakur mati raga nutupi babahan nawasanga, patrape pitekur, jempol sikil ketemokake pada jempol sikil dipapak, polok katemukake pada polok di gatuk, jengku katemokake pada jengku dirapet, palanangan sapalandungane sinipat karo jempol sikil dibener aja nganti katindihan, nuli asta karo angrangkul jengku patrap sidakep suku tunggal, darijining asta pada antuk ing selaning dariji kaya angapu rancang, jempol asta banjur winawas karo pucuking grana, nuli anata wetuning napas tanapas anpas nupus, aja nganti tumpang suh kumpule dadi siwiji, ing kono tinarik saka kiwa tumeka ing puser leren saantara suwene banjur katurunake anengen metu ing leng grana tengen kang alon aja nganti kasusu. 

Manawa wis sareh anarik napas maneh saka tengen tumeka ing puser leren saantara suwene banjur katurunake angiwa metu ing leng grana kiwa kang alon aja nganti kasusu, ambal kaping telu kaya mangkono panariking napas, wekasane manawa sareh anarik napas maneh saka kiwa mubeng anengen, saka tengen mubeng angiwa, kakumpulake dadi sawiji ana ing puser, banjur katarik manduwur bener kang sareh, leren tinata ana ing dada, banjur katarik manduwur maneh kang alon-alon, leren tinata ana ing sirah, ing kono angenengake cipta sarwi osik matrapake panjenenganing Dzat kaya mangkene :

Bismillahirrohmanirrohim
“Ingsung Tajalining Dzat Kang Amaha Suci, Kang Amurba Amisesa kang Kawasa angandika kun fayakun, dadi saciptaningsun, ana sasedyaningsun, teka sakarsaningsun, ……………… anung………….. metu saka ing kudratingsun”. 

Manawa wis mangkono, adat pada sanalika bae kayektenan kang dadi tandane, nuli panariking napas katurunake metu ing leng grana karo pisan kang alon aja nganti kasusu, ing wekasan pasrah analangsa marang Dzat kita dewe.

Mungguh patraping panekungan iku prayogane bisaa kalakon ing saben sasi sapisan, arane amung saben ing dina ijabah bae aja nganti katowangan (kelalen), sabab ing kono waktuning katarima saliring panuwun, kaya kang kasebut kapratelakake ing ngisor iki.

1. Sasi Muharram, ijabahe tanggal kaping 9, karo tanggal kaping 10.
2. Sasi Mulud, ijabahe tanggal kaping 12.
3. Sasi Rejeb, ijabahe tanggal kaping 27.
4. Sasi Ruwah ijabahe tanggal kaping 15.
5. Sasi Pasa, ijabahe tanggal kaping 21, 23, 25, 27 utawa tanggal kaping 29.
6. Sasi Besar, ijabahe tanggal kaping 8 utawa tanggal kaping 9.

Liyane dina-dina ing duwur iku pada sepen tanpa dina ijabah.

Urut-uruting Arane Wahananing Dzat

Ing mengko amratelakake urut-urutaning namane Wahananing Dzat kang wis kasebut ing ngarep kabeh mau kaya ing ngisor iki.


CHAYU

Kang dinging Chayu tegese urip, diarani Chayun tegese panguripan, diarani maneh Chayat tegese anguripi, diarani maneh Chayu Daim tegese urip kang tetep, ananging sejatine iya among sawiji Chayu iku.

N U R

Kang kapindo Nur tegese Cahya, iku sejatine iya amung sawiji, ananging dinamani dadi limang pasebutan.

1. Nur Riyat tegese cahya samar, warnane ireng.
2. Nur Rani tegese cahyo loro, iya iku cahya kapindo, warnane abang.
3. Nur Mahdi tegese cahya sumirat, warnane kuning.
4. Nur Nubuwat tegese cahya kang santosa, warnane ijo.
5. Nur Muhammad tegese cahya kang pinuji, warnane putih

Mungguh grebane kabeh iku, kasebut Nurullah tegese cahyaning Allah.

S I R

Kang kaping telu Sir tegese rahsa, iku sejatine iya amung siwiji, ananging dinamani dadi nem pasebutan.

1. Sir Ibtadi tegese rahsa purba, iya iku dadi wahyaning asmaranala.
2. Sir Kahiri tegese rahsa wisesa, iya iku dadi wahyaning asmaratura.
3. Sir Kamali tegese rahsa sampurna, iya iku dadi wahyaning asmaraturida.
4. Sir Ngaji tegese rahsa mulya, iya iku dadi wahyaning asmaradana.
5. Sir Hakiki tegese rahsa sajati, iya iku dadi wahyaning asmaratantra.
6. Sir Wahdi tegese rahsa tunggal, dinamani Sir Gaibi tegese rahsa gaib, iya iku dadi wahyaning asmaragama.

Mungguh grebone kabeh iku kasebut nama Sirullah tegese rahsaning Allah.

R O H

Kang kaping pat Roh tegese nyawa utama suksma, iku sajatine iya amung sawiji, ananging dinamani dadi pitung pasebutan.

1. Roh Jasmani tegese nyawaning jasad, iya iku wewayanganing nyawa kang anguripake anggaotaning badan, dingibaratake roh kewani tegese kaupamakake nyawa kang anguripi sato kewa.

2. Roh Nabati tegese nyawaning tumuwuh, iya iku wewanyanganing nyawa kang anuwuhake wulu kuku sapanunggalane, tumanem dadi uriping budi.

3. Roh Napsani tegese nyawaning napsu, iya iku wewayanganing nyawa kang anguripake hawananing napsu.

4. Roh Rochani tegese nyawaning suksma, iya iku wewayangananing nyawa kang anguripake warananing suksma.

5. Roh Rahmani tegese nyawaning kang sifat murah diarani Roh Rabani tegese nyawaning Pangeran, iya iku wewayanganing nyawa kang anguripake kahananing rahsa.

6. Roh Nurani tegese nyawaning cahya, iya iku wewayanganing nyawa kang anguripake wahananing cahya.

7. Roh Idlafi tegese nyawa kang wening diarani Roh Kudus tegese nyawa kang suci, iya iku wewayanganing nyawa kang anguripake ananing atma.

Mungguh grebone kabeh iku kasebut nama Rochullah tegese nyawaning Allah.

Dene terange wewejanganing Roh iku manawa karujukake karo wasiyate Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Agung, nalika musawaratan ngelmu kadawuhake marang Kyai Pangulu Ahmad Kategan, mangkene pangandika dalem.

Sejatine Roh iku sawiji minangka kahananing rahsa, binasakake nyawa utawa jiwa kasebut aran suksma, prabedane pada amawa tanda sowang-sowang.

1. Tandaning Roh iku anganakake getih.
2. Tandaning Nyawa anganakake keketek.
3. Tandaning Jiwa anganakake napas.
4. Tandaning Suksma anganakake rasaning jasad.

Ananging Suksma iku ana pepangkatane dadi pitung warna, iki sawiji-wijine.

1. Patemone jasad lan napas iku den arani Suksma Wahya tegese suksma lair.
2. Patemoning napas lan budi iku den arani Suksma Dyatmika tegese suksma batin.
3. Patemoning budi lan napsu iku den arani Suksma Lana tegese suksma tetep.
4. Patemoning napsu lan nyawa iku den arani Suksma Mulya tegese suksma mulus.
5. Patemoning nyawa lan rahsa iku den arani Suksma Jati tegese suksma nyata, den arani maneh Suksma Rasa tegese suksma rahsa.
6. Patemoning rahsa lan cahya iku den arani Suksma Wisesa tegese suksma wenang.
7. Patemoning cahya lan urip iku den arani Suksma Kawekas tegese suksma pungkasan.

Dene patemoning Suksma kabeh iku dadi Suksma Adi Luwih tegese suksma utama, yen kumpul dadi Retna Inten Jumanten, iku ngibarating martabat Wachidiyat, campur dadi Sasraludira, iku ngibarating martabat Wahdat, sampurna dadi Sotyaludira, iku ngibarating martabat Achadiyat, waluya dadi Manik Maya gumilang tanpa wewayangan tegese bali dadi Dzating nukat gaib, mulih marang azali abadi.

N A P S U

Kang kaping lima Napsu tegese angkara, iku sajatine iya mung sawiji, ananging dinamani dadi patang pasebutan.

1. Napsu Luwamah tegese angangsa, darbe hawa amarakake dahaga arip luwe sapanunggalane, hawane ing waduk, wahyane saka lesan kasebut dadi ngibarat kahananing ati kang asorot ireng, sampurnane anarik leburing wulu kuku.

2. Napsu Amarah tegese sereng, darbe hawa amarakake angkara, panasten deduka sapanunggalane, wahanane ing amperu, wahyane saka karna (kuping) kasebut dadi ngibarat kahananing ati kang asorot abang, sampurnane anarik leburing kulit getih.

3. Napsu Sufiyah tegese meles, dinamani napsu Suwiyah tegese adreng, darbe hawa amarakake murka, pepinginan pakareman kabungahan sapanunggalane, wahanane ing lelimpa, wahyane saka netra kasebut dadi ngibarat kahananing ati kang asorot kuning, sampurnane anarik leburing daging otot.

4. Napsu Mutmainah tegese jinem, darbe hawa amarakake loba, iya iku loba marang kautaman, kaya ta anglakoni puja brata tapa brata kang kalantur-lantur ora mawa watara, wahanane ing bebalung wahyane saka grana (irung) kasebut dadi ngibarat kahananing ati kang asorot putih, sampurnane anarik leburing balung sungsum.

Dene manawa kapatitisake witing napsu iku saka utek, dumunung ing ati dadi cipta, dumunung ing jantung dadi birahi, wetune saka jantung banjur dadi nupus, katampan ing ati maneh banjur dadi anpas, anunggal lakunimng getih banjur dadi tanapas, agambah marang maras banjur dadi napas, sumarambah ing jasad banjur ametokake swara saka lesan, mula sangkaning cipta birahi, nupus, anpas, tanapas, napas, swara, iku pada metu saka hawaning napsu kabeh.

A K A L

Kang kaping nem Akal tegese budi, iku sajatine iya amung sawiji, ananging dinamani dadi limang pasebutan, manawa kaetung dalah kang arangkep nama dadi pitung pasebutan, pada anartani marang ngibarat namaning ati, kadadiyane anunggal pasebutan.

1. Budi Maknawi, iya ati manakwi tegese wahyaning budi.
2. Budi Sanubari, iya ati sanubari tegese wahananing budi.
3. Budi Suweda, iya ati suweda tegese woding ati, dadi ngibarat kahananing budi.
4. Budi Pu-at, iya ati pu-at tegese woting jajantung, dinamani budi jaki utawa ati jaki tegese ati suci dadi ngibarat pramananing budi.
5. Budi Siri, iya ati siri tegese rahsaning ati, dinamani budi safi utawa ati safi tegese ati wening dadi ngibarat pangrasaning budi.

Dene manawa kapatitisake pakartining budi iku diarani pancadriya, tegese ati lima, iya iku pangawasa kang metu saka rahsaning budi, peperangane dadi telung pangkat pada anglimang pakarti.

1. Diarani Karmendriya tegese purbaning budi, kayata : paningal, pamiyarsa, pangganda, pamirasa, pangrasa.
2. Diarani Antarendriya tegese antaraning budi kayata : keketek, napas, kedeping netra, rasaning lidah, kenyaming lambe.
3. Diarani Jayanendriya tegese wisesaning budi, kayata : karasaning kulit, parji, dubur, asta, sikil.

J A S A D

Kang kaping pitu Jasad tegese badan, iku sajatine iya mung sawiji, ananging dinamani dadi rong pasebutan.

1. Jasad Turab tegese badan kadadiyan saka lebu, dibasakake badan jasmani iya iku badan wadag.

2. Jasad Latip tegese badan alus, dibasakake badan rochani iya iku badan suksma.

Mungguh janjine badan wadag karo badan alus iku ora kena pisah, sangkan parane anunggal kahanan sajati, upama satu munggwing rimbagan, ananging wewangsulan ing tembe badan wadag iku luluh sampurna ana sajroning badan alus, kalimputan dening Chayu Daim tegese urip kang tetep dumunung ing kahanan kita pribadi, mula dipralambangi : warangka manjing curiga tegese badan wadag dumunung sajroning badan alus, nalika badan wadag isih dadi emban, lambange : curiga manjing warangka tegese badan alus isih dumunung sajroning badan wadag.

Pratikele Angluluh Ing Badan Wadag

Dene pratikele angluluh badan wadag mau, saka wsiyat dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susunan Pakubuwana I, kena kalanteh anglakoni tapa brata kaya ing ngisor iki.

1. Asesuci tegese taberi adus esuk.
2. Angengurangi dahar tegese dahara manawa banget luwe.
3. Angengurangi ngunjuk tegese angunjuka manawa banget kasatan.
4. Angengurangi sare tegese sareya manawa banget karipan.
5. Angarang-arangi pangandika tegese angandika manawa nganggo masa kala.
6. Anguda-uda sahwat tegese asahwata karo garwa manawa banget kangen.
7. Ambirat napsu tegese aja nganti angumbar hawa, angagema budi trima, lila, temen, utama.

Manawa wis bisa kalakon mangkono, angger ora kawistara, sarta dumunung ing asepen iya wallahu alam katarimane.

Dene manawa arep waskita dununging asepen, iku, sakaliring rupa kita kapasrahena marang kang adarbe rupa sakaliring swara kita kaulihena marang kang adarbe swara, paninggal kita, pamiyarsa kita, panganda kita pangrasa kita, pamirasa kita, pada kabalekena marang sangkane dewe-dewe.

Mungguh patrape anyidakake eninging rahsa, angawasake enenging pancadriya, tegese anglerenake saniskaraning ngaurip kabeh, manawa wis bisa mangkono, iya iku bebasan lungguh sarwa lumaku, lumaku karo andeprok, lumayu sarwa alinggih, ambisu karo carita, lunga sarwa aturu, turu karo amelek kaya mangkono ngibarate.

WARAHING HIDAYAT JATI 

Iki Warahing Hidayat Jati, anuduhake dununge pangkating ngelmu makrifat wewejangan saka para Wali ing Tanah Jawa, sasedane Kanjeng Susuhunan ing Ngampeldenta, pada karsa ambuka wiridan kang dadi wijining wewejangan surasaning ngelmu kasampurnan dewe-dewe, wiyose iya uga asal saka Dalil Hadis Ijmak Kiyas, kaya kang wis kasebut ana sajroning Wirid kabeh, mungguh pepangkatane sawiji-wiji kapratelakake ing ngisor iki :

Kang dingin, saankatan nalika jaman awale nagara ing Demak, para Wali kang karsa amejang amung wolu.

1. Kanjeng Susuhunan ing Giri Kadaton, wewejangane, Wisikan Ananing Dzat.

2. Kanjeng Susuhunan ing Tandes, wewejangane, Wedaran Wahananing Dzat.

3. Kanjeng Susuhunan ing Majagung, wejangane, Gelaran Kahananing Dzat.

4. Kanjeng Susuhunan ing Benang, wewejangane, Pambukaning Tata malige ing dalem Bait-al-makmur.

5. Kanjeng Susuhunan ing Muryapada, wewejangane, Pambukaning Tata malige ing dalem Bait-al-muharram.

6. Kanjeng Susuhan ing Kalinyamat, wewejangane, Pambukaning Tata malige ing dalem Bait-al-mukaddas.

7. Kanjeng Susuhunan ing Gunungjati, wewejangane, Santosaning Iman.

8. Kanjeng Susuhunan Kajenar, wewejangane, Sasahidan.

Kang kapindo, ing saangkatan maneh nalika jaman akhire nagara ing Demak, para Wali karsa amejang iya amung wolu.

1. Kanjeng Susuhunan ing Giri Parapen, wewejangane, Wisikan Ananing Dzat.

2. Kanjeng Susuhunan ing Darajat, wewejangane, Wedaran Wahananing Dzat.

3. Kanjeng Susuhunan ing Atasangin, wewejangane, Gelaran Kahananing Dzat.

4. Kanjeng Susuhunan ing Kalijaga, wewejangane, Pambukaning Tata malige ing dalem Bait-al-makmur, banjur ambabar sagung kang dadi parabote amatrapake panjenenganing Dzat kabeh, nanging durung urut patrap panggonane ing sawiji-wiji.

5. Kanjeng Susuhunan ing Tembayat, kalilan dening guru Kanjeng Susuhunan Kalijaga, ambabarake wewejangane, Pambukaning Tata malige ing dalem Bait-al-muharram.

6. Kanjeng Susuhunan ing Padusan, wewejangane, Pambukaning Tata malige ing dalem Bait-al-mukaddas.

7. Kanjeng Susuhunan ing Kudus, wewejangane, Panetep Santosaning Iman.

8. Kanjeng Susuhunan Geseng, wewejangane, Sasahidan.

Dene wewejangane kang wis kasebut ing duwur iku, surasane iya anunggal bae, amarga pada wewiridan saka pamejange Kanjeng Susuhunan Ngampeldenta kabeh, mula ing mangko kaimpun dadi sawiji, supaya gampanga enggonku angrasakake riwayating Dalil Hadis Ijmak Kiyas, sarehne hakekate Dzating Pangeran Kang Amaha Suci iku binasakake luwih dening gaib, tanpa warna tanpa rupa, asifat dudu lanang, dudu wadon, dudu wandu, sarta ora mawa jaman, ora arah ora enggon, amung cipta-sasmita dumunung ana waskita, wewisikane ora ana apa-apa, sakehe kang kasebut iku dudu sajatining Dzat kabeh, ananging kang wajib kaimanake amung Ingsun.

Mungguh wewisikane kang wis waskita iku, manawa durung bisa anampani ing panggalih, prayoga amarsudi ing surasane pangimpuning para wewejangan kabeh, kaya kang kasebut ana Warahing Hidayat Jati mangkene.

Sajatining Dzat Kang Amaha Suci iku asifat Esa, dibasakake Dzat mutlak kadim azali abadi, tegese asifat sawiji, kang amasti dingin dewe nalika isih awang0uwung salawase ing kahanan kita, iya iku jueneng pribadi, ana sajroning nukat gaib kang keluwih langgeng, ing kono amedarake kurat iradate dadi pitung kahanan, minangka warnaning Dzat, dadi wahananing sifat, asma afngal kabeh, ing ngisor iki babare sawiji-wiji.

1. Chayu, tegese urip, dumunung sajabaning Dzat.
2. Nur, tegese, cahya, dumunung sajabaning Dzat.
3. Sir, tegese rahsa, dumunung sajabaning cahya.
4. Roh, tegese nyawa, diarani sukma, dumunung sajabaning rahsa.
5. Napsu, tegese angkara, dumunung sajabaning sukma.
6. Akal, tegese budi, dumuning sajabaning napsu.
7. Jasad, tegese badan, dumunung sajabaning budi.

Denen Chayu, iku kang kapasrahan pangawasaning Dzat, kinarsakake anguripi kahananing cahya, rahsa, sukma, napsu, budi, badan kabeh, sumarambah saka ing wiwitan tumeka ing wekasan, mungguh wewijangane kaya ing ngisor iki.

1. Ing nalika kayu anguripi kahananing cahya, sumarambah ing netra ing netra, wahanane dadi bisa aningali iya iku paningaling Dzat angagem ing netra kita.

2. Ing nalika kayu anguripi kahananing rahsa, sumarambah ing grana, wahanane dadi bisa angganda, iya iku panggandaning Dzat angagem ing grana kita.

3. Ing nalika kayu anguripi kahananing suksma, sumarambah ing lidah, wahanane dadi bisa angandika, iya iku pangandukaning Dzat angagem lesan kita.

4. Ing nalika kayu anguripi kahananing napsu, sumarambah ing talingan, wahanane dadi bisa amiyarsa, iya iku pamiyarsaning Dzat angagem ing karna kita.

5. Ing nalika kayu anguripi kahananing budi, sumarambah ing ati, wahanane dadi bisa birahi anduweni karsa, iya iku karsaning Dzat angagem ing ati kita.

6. Ing nalika kayu anguripi kahananing jasad, sumarambah ing getih, wahanane dadi bisa ambekan, banjur anuwuhake wulu kuku sapadene, 

iya iku afngaling Dzat angagem ing saulah kita, saestu ora beda ing nalika amratandani agngal sajroning alam, banjur bisa amolahake srengenge rembulan angin sapanunggalane, saisen-isening alam kabeh , pada dumunung ana ing purba wisesaning Dzat kaya kang kasebut ing ngisor iki :

a. Dzat amurba Kayu, tegese Dzat iku witing urip.
b. Kayu amisesa Nur, tegese urip iku amengku wahyaning cahya.
c. Nur kang misesa Sir, tegese cahya iku amengku uriping suksma.
d. Sir amisesa Roh, tegese rahsa iku amengku uriping suksma.
e. Roh amisesa Napsu, tegese suksma iku amengku uriping napsu.
f. Napsu amisesa Akal, tegese napsu iku amengku uriping budi.
g. Akal amisesa jasad, tegese budi iku amengku uriping jasad. Mungguh baline mangkene.

Jasad kawisesa dening budi, budi kawisesa dening napsu, napsu kawisesa dening suksma, suksma kawisesa dening rahsa, rahsa kaisesa dening cahya, cahya kaiwisesa dening urip, urip kapurba Dzat, mulane wahananing urip iku tanpa wangenan karo ananing Dzat, iya urip kita iku Dzating Gusti Kang Amaha Suci Sajati, aja uwas sumelang ing galih.

APA KANG BAKAL KALEKSANAN ING JAMAN KARAMATULLAH 

Iki wangsite Kanjeng Susuhunan Kalijaga, amratelakake kang bakal kaleksanan ing sajroning jaman Karamatullah, kaya mangkene.

Ing atasing aral basariyah kabeh, yekti pada anandang jawaliyah, tegese pepalanganing manungsa iku pada kena owah gingsir, iya iku dadi pratandane apesing kawula, kayektenan ing dalem adam kukmi, katon saka pangrasa kaya ing ngisor iki :

1. Alam Rochiyah.

Kang dingin, awit katon alam Rochiyah, tegese alaming nyawa, apadang dudu padanging rahina, tanpa keblat wetan lor kulon kidul ing tengah ing ngisor ing duwur, ing kono aningali sagara tanpa tepi, iku wahananing ati kawimbuhan cahyaning utek, satengahing sagara katon ana duryat pancamaya warna kaya teja gumawangcahyane, iku wahananing jantung kawimbuhan cahyaning johar awal, iya iku manik, kang pancamaya anglimputi jatining ati, dadi pangrasaning sarira, empane dumunung ana ing cipta papane ana ing paningal pamiyarsa pangganda pangrasa pamirasa, diarani muka sifat, kawasane amung anuntun sakaliring sifat kabeh, ing nalika iku aja nganti kasamaran marang panengeraning rupa kang sajati, iya iku rupa kita pribadi.

2. Alam Siriyah.

Kang kaindo, sasirnaning alam Rochiyah, katon alam Siriyah, tegese alaming rahsa, padange angluwihi padanging alam Rochiyah, ing kono tekaning cahya patang warna ireng abang kuning putih, iku wahananing budi, ametokake kahananing napsu patang prakara, kang pada dadi durgamaning ati, katone tumurun siji-siji, kang wiwit katon dingin, cahya ireng, iku kahananing napsu Luwamah, hawane ing nalika urip amarakake dahaga arip luwe sapanunggalane, wahanane ing waduk, wahyane saka lesan, kadadiyane ing sajroning cahya ireng katon sakaliring sato kewan miwah gegremet, pada angragada kaya anganggep Pangeran, prabawane bumi ganjing, alaming napsu diarani alam Nasut, tegese lali, ing nalika iku panggonaning lali, poma dienget, sarta santosa, aja nganti korup ana sajroning cahya ireng, bokmanawa anitis marang sato kewan miwah gegremetan.

Ora antara suwe cahya ireng sirna, nuli katon cahya abang, iku kahananing napsu Amarah, hawane ing nalika urip amarakake angkara, panaten deduka sapanunggalane, wahanane ing amperu, wahyane saka karna, kadadiyane ing sajroning cahya abang katon sakaliring budi srani brekasakan, iya pada ngragada kaya anganggep Pangeran, prabawane geni murub gede angalad-alad, alaming napsu diarani alam Jabarut, tegese asreng, ing nalika iku panggonaning rekasa, poma disareh sarta santosa, aja nganti korup sajroning cahya abang, bokmanawa anitis marang brakasakan.

Ora anatara suwe cahya abang sirna, nuli katon cahya kuning, iku kahananing nafsu Sufiyah, wahanane ing nalika urip amarakake murka, pepinginan pakareman kabungahan sapanunggalane, wahanane ing lelimpa, wahyane saka netra, kadadiyane ing sajroning cahya kuning katon sakaliring manuk miwah bangsa iber-iberan, iya pada angragada kaya anganggep Pangeran, prabawane angin pancawara gede, alaming napsu diarani alam Lahut, tegese gingsir, ing nalika iku panggonaning renggang saliring anggaota, poma ditetep, sarta, santosa, aja nganti korup ana sajroning cahya kuning, bokmanawa anitis marang manuk miwah bangsa iber-iberan.

Ora suwe cahya kuning sirna, nuli katon cahya putih, iku kahananing napsu Mutmainah, hawane ing nalika urip amarakake lobaning kautaman sapanunggalane, kaya ta anglakoni puja tapa brata kang kalantur-lantur, ora mawa watara, kahanane ing balung, wahyane saka ing grana, kadadiyane ing sajroning cahya putih katon sakaliring iwak loh, miwah bangsaning beburon banyu, ana ing sagara rahmat, iya pada angragada kaya anganggep Pangeran, prabawane banyu wening tanpa sangkan, alaming napsu diarani alam Malakut, tegese karaton, ing nalika iku panggonane uninga ing karaton kang rinakit Maha Mulya, aja nganti korup ana sajroning cahya putih, bokmanawa anitis marang iwak loh miwah bangsaning beburon banyu.

3. Alam Nuriyah.

Kang kaping telu, sasirnaning alam Sariyah, katon alam Nuriyah, tegese alaming cahya, padange angluwihi padanging alam Sariyah, ing kono tekaning cahya amancawarna, ireng abang kuning putih, ijo gumelar bareng pada katon karaton sarwa raras kabeh, iku wahanane pancadriya, kawimbuhan cahyaning pramana, alaming pancadriya diarani alam Hidayat, tegese pituduh, dening anuduhake panggonane ing nalika gumelaring karaton, anaging dudu sejatine karaton kang rinakit Maha Mulya, iya iku karatoning panasaran, kaya ta, karaton kang katon ana sajroning cahya ireng, iku dzating sato kewan miwah gegeremetan, kang katon ana sajroning cahya abang, iku karaton dzating brekasakan, kang katon ana sajroning cahya kuning, iku karaton dzating manuk miwah bangsa iber-iberan, kang katon ana sajroning cahya putih, iku karaton dzating iwak loh miwah bangsaning beburon banyu, kang katong ana sajroning cahya ijo, iku karatong dzating tetuwuhan, ing nalika kapiyarsa swara kaya anuduhake karatong kang agung kang Amaha Mulya, poma dijinem sarta santosa, aja nganti anyipta milih salah sawiji, bokmanawa kalebu ing karaton panasaran.

4. Alam Nuriyah Luhur.

Kang kaping pat, isih ana sajroning alam Nuriyah, ing kono katon cahya wening, sajroning cahya ana murub sawiji angadeg sasada lanang gedene, darbe sorot wolung warna, ireng abang kuning putih ijo biru wungu dadu, gumelar pada katon swarga asri kabeh, iku wahanane warnaning pramana, kawimbuhan dening sukma, alaming pramana diarani alam Iskat, tegese birahi, dening panggonane rumasa brangta marang gumelaring swarga, ananging dudu sajatining swarga kang amaha suci, dudu panggonan kang nikmat manpangat rahmat, iya iku kahyanganing jin kabeh, amung panggonan kamukten bae, kaya ta :

a. Kang katon swarga sarwa ireng meles meleng-meleng mimba mustikaning bumi, iku kadadiyan saka kanistaning cipta, yen jumeneng ana ing kono, bokmanawa dadi ratuning jin ireng.

b. Kang katon swarga sarwa abang abra marakata mimba sesotya geniyara, iku kadadiyan saka dustaning cipta, yen jumeneng ana ing kono, bokmanawa dadi ratuning jin abang.

c. Kang katon swarga sarwa kuning sumunar mimba retna dumilah, iku kadadiyan saka doraning cipta, yen jumeneng ana ing kono, bokmanawa dadi ratuning jin kuning.

d. Kang katon swarga sarwa putih maya-mayawenes mimba manikmaya, iku kadadiyan saka setyaning cipta, yen jumeneng ana ing kono, bokmanawa dadi ratuning jin putih.

e. Kang katon swarga sarwa ijo angenguwung mimba manik tejamaya, iku kadadiyan saka santosaning cipta, yen jumeneng ana ing kono, bokmanawa dadi ratuning jin ijo.

f. Kang katon swarga sarwa miru muyek mimba manik nilapakaja, iku kadadiyan saka sambawaning cipta, yen jumeneng ana ing kono, bokmanawa dadi ratuning jin biru.

g. Kang katon swarga sarwa dadu muncar mirah pusparaga, iku kadadiyan saka sambadaning cipta, yen jumeneng ana ing kono, bokmanawa dadi ratuning jin wungu.

h. Kang katon swarga sarwa dadu muncar mimba mirah dalima, iku kadadiyan saka owah gingsiring cipta, yen jumeneng ana ing kono, bokmanawa dadi ratuning jin dadu, ing nalika iku kambu gandane sakehing kahyangan mau amrik arum angambar kaya anarik rahsa, poma aja nganti karasakake, bokmanawa kalebu ing swarga panasaran.

5. Alam Uluhiyah.

Kaping lima, sasirnaning alam Nuriyah, katon alam Uluhiyah, iya iku alam Ilahiyah, tegese alaming Pangeran, padange angluwihi padanging alam Nuriyah, ing kono katon cahya mancur, sajroning cahya ana sifating rerupan kaya tawon gumana, jumeneng ing makam pana, iku warnaning sukma kang amimbuhi ing saliring warna kabeh, anglimputi saubenging jagad cilik jagad gede ing saisen-isene, ananging uripe saka pramananing rahsa, ing nalika iku tekaning malaekat awarna bapa kaki, sapanunggalane leluhur lanang, angaku utusaning Dzat Kang Amaha Suci, kinen angirid marang chalaratullah, poma disantosa aja nganti angimanake, sabab iku afngaling suksma kita pribadi.

6. Alam Uluhiyah Luhur.

Kang kaping nem, isih sajroning alam Uluhiyah, sangsaya wuwuh padange, ing kono katon cahya mancorong, sajroning cahya ana sifating rerupan kaya golek gading asawang peputran mutyara, dudu lanang dudu wadon, dudu wandu, jumeneng ing makam baka, iku pramananing rahsa, kang amurba amisesa ing alam kabeh, ananging uripe saka dzating atma, ing nalika iku tekaning widadari awarna biyung nini, sapanunggalane leluhur wadon, angaku utusaning Dzat Kang Amaha Suci, kinen angirid marang chalaratullah, poma disantosa aja nganti angimanake, sabab iku afngaling rahsa kita pribadi.

7. Alam Uluhiyah Luhur Dewe.

Kang kaping pitu, isih sajroning alam Uluhiyah, tanpa kira-kira padange, ing kono ora katon apa-apa, amung cahya gumilang tanpa wewayangan, iku Dzating atma, anunggal sajatining Dzat Kang Asifat Esa, ora jaman, ora arah, ora enggon, tanpa warna, tanpa rupa, kadim azali abadi, kang amurba amisesa, kang kawasa anitahake sakaliring alam, anglimputi ing alam kabeh, apranawa mengku saliring makam sampurna, urip dewe ora ana kang nguripi, dibasakake : chayun bila rochin, tegese urip tanpa nyawa, iya iku Tajalining Gusti Kang Amaha Suci Sajati, kang Agung Dzate, kang elok sifate, kang wisesa asmane, kang samprna afngale, dumunung ing urip kita pribadi, ing kono tanpa antara pamoring kawula gusti, iya iku urip kita mulih dadi Sajatining Dzat mutlak kang kadim azali abadi, dibasakake : chayun pitdareni, tegese urip ing kahanan loro, ana ing alam Sahir kita urip, ana ing alam Kabir iya urip, pada sanalika banjur enget ing wentehan saniskaraning purwa madya wasana kabeh. Aja uwas sumelang maneh, ing wekasan sumelang maneh, ing wekasan sumangga, anggon-anggon ana ing karsa, katarima ing sarira, aku mung drema angimpun sakaliring ngelmu saka wewejanganing guru sawiji-wiji, pangrasaning ati wis genep, kuranga kaya ora akeh, anjaba amung wejangane Kyai Ageng Liman, iku pakewuh enggonku matrapake, sabab unine kaya ngelmu Kabuddan, mangkene pamejange.

“Hyang-hyang jawata yoganing ngulun, kawidekna kapiya karep, gunung lawu sap pitu iku kabeh”. Saka pamikirku iya prayoga ing surasane, kaya amemuji aja nganti mati ing saenggon-enggon, bisaa mati kaulesan lawon lapis pitu, ananging pakewuhing patrap dening unine kang andadekake ora pakoleh.

Ing wusana aku matur ambodoni, ana kang durung pati terang ing sesurupanku, iya iku pambirating ganda ala bisaa angganda becik, menawa ing buri ana kang wis oleh katerangane ing sesurupan, anyumanggakake patrape pangganggone.

Dene pemutku Wirid iki ora kena kapariksa marang kang durung tunggal ngelmu, bokmanawa kawancenan mundak apa pakolehe, destun amung bebantahan bae, mulane banget-banget ing welingku, aja nganti para bantahan, muga kagaliha ing sayektine.

WUWUHAN

BAB PAMBIRATING GANDA ALA
BISAA ANGGANDA ARUM 

Bab pambirating ganda ala, bisaa anganda becik, saiki aku wis oleh sesurupane, saka pamejange sawijining guruku, samengko ngelmu mau kagelarake ing kene, katambahake nunggal ana sajroning Wirid iki, manggon ing pungkasan.

Dene asale ngelmu mau, kacarita ing kuna saka wasiyate Kanjeng Susuhunan Kalijaga, kang kawasiyatake marang putra wayah kabeh.

Saka pituduhe Kyai Guru, mungguh kang katembungake Kanjeng Susuhunan Lepen, tumrap surasane ngelmu iki, sajatine iya Banyu Urip, iya ananing urip kita pribadi.

Wondene patraping pangonane, surasane ngelmu ikikaesti ing dalem cipta, ing nalika anyipta cancuding amatrapake psnjenenganing Dzat, utawa kawisikake marang wong kang wis ngangkat sakarat.

Para kang pada nganggo ngelmu iki, kang wis katatan (kalakon), jisime banjur bisa anggando arum, dadi kang pada ngupakara pada rahab kabeh, resep enggone ngrukti.

Iki Ngelmune Kang Kaesti :

Bismillahi-rrahmani-rrahim, Sabda angin, tansah murba wisesa, sah ganda kari rasa, badanku arum, selehku arum, rak-lap tan ana karsa, dong ginendong saking karsane Gusti  laailaha illalloh muhammad rosululloh .

 

Doa Nabi Sulaiman Menundukkan Hewan dan Jin

  Nabiyullah Sulaiman  'alaihissalam  (AS) merupakan Nabi dan Rasul pilihan Allah Ta'ala yang dikaruniai kerajaan yang tidak dimilik...