Rabu, 18 November 2020

Imam Nawawi


                                    بسم الله الرحمن الرحيم  

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

NAMA DAN NASABNYA

(يحيى بن شرف بن مُرِّي بن حسن بن حسين بن محمد بن جمعة بن حِزَام، النووي)

Nama beliau adalah Yahya bin Syarof bin Murriy bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizaam An-Nawawi. Disebutkan dalam sejumlah kitab, bahwa sebagian kakek beliau mengatakan bahwa garis keturunan mereka sampai kepada salah seorang sahabat, yaitu Hasyim bin Hizaam radhiallahu ‘anhu. Namun beliau membantah sendiri hal tersebut, ia berkata “ini adalah suatu kekeliruan”. Jadi tidak benar bahwa nasab beliau sampai kepada Hasyim bin Hizaam radhiallahu ‘anhu.

Nama kunyah (baca : kun yah) atau nama panggilan beliau adalah Abu Zakariya (ayahnya Zakariya). Namun demikian Zakariya bukanlah nama anaknya, karena beliau termasuk dalam salah satu ulama yang tidak menikah sampai akhir hidupnya. Sedangkan Imam An-Nawawi sendiri berpendapat bahwa adalah sunnah memiliki nama kunyah. Dan namakunyah tidak mesti diambil dari nama anak, bisa juga menggunakan nama hewan dan lainnya seperti Abu Hurairah (pemilik kucing) dan lain sebagainya.

Kemudian beliau memiliki nama laqob (gelar) yang diberikan oleh kaum muslimin padanya yaitu Muhyiddin yang artinya “orang yang menghidupkan agama”. Namun beliau sendiri membenci gelar ini, sampai-sampai ia berkata “Aku tidak ridho orang menggelariku Muhyiddin“. Ini menunjukkan ketidaksenangannya dengan gelar ini sekaligus menunjukkan ketawadhuannya karena ia menyadari bahwa di dalamnya terdapat tazkiyah (penyucian) atas dirinya, sedangkan beliau tidak suka akan hal itu. Meskipun demikian, laqob tersebut tetap melekat dan selalu menyertai nama beliau di dalam kitab-kitabnya dikarenakan keikhlasan beliau dalam berdakwah dan hampir seluruh kaum muslim menerima dan mengakui keilmuwan dan dakwah beliau.

Adapun kebanyakan kaum muslimin lebih mengenal beliau dengan nama Imam An-Nawawi. Nama An-Nawawi sendiri adalah nisbat (penyandaran) kepada tanah kelahirannya yaitu di Nawa, suatu perkampungan di daerah Hauran, yang berada di Damaskus, Siriya.

KELAHIRAN DAN KEMATIANNYA

Beliau lahir pada awal atau pertengahan bulan Muharram tahun 631 H (1233 M) dan meninggal pada malam Rabu, 24 Rajab tahun 676 H (21 Desember 1277 M) pada usianya yang ke-45 tahun.

PERTUMBUHANNYA DI NAWA

Beliau terlahir di tengah-tengah keluarga yang shalih. Ayahnya bernama Syaraf, ia adalah seorang syaikh yang zuhud dan wara’. Sejak kecil ia telah membiasakan Imam An-Nawawi untuk menuntut ilmu.

Dikisahkan ketika berumur 7 tahun, beliau terjaga dimalam hari pada malam ke 27 Ramadhan yang merupakan salah-satu malam yang diperkirankan turunnya Lailatul Qadar. Pada malam itu ia melihat seberkas cahaya yang menerangi rumahnya, ia pun terkaget karena pada saat itu Imam An-Nawawi masih kanak-kanak dan belum mengerti apa kejadian yang menimpanya, maka ia pun segera membangunkan orangtuanya dan menceritakan tersebut. Sang ayah memahami bahwa ini adalah tanda dari Allah subhanahuwa ta’ala terhadap anaknya. Mereka pun  berdoa agar Allah memberkahi anaknya. Maka sejak kejadian inilah sang ayah memberikan perhatian yang khusus kepada Imam An-Nawawi.

Pada usianya yang ke 10, sang ayah memasukkan Imam Nawawi ke madrasah untuk menghafal Al-Qur’an dan mempelajari ilmu fiqih kepada beberapa ulama di sana. Dan ia sangat antusias untuk menghafal Al-Qur’an. Dikisahkan pada suatu hari ketika Imam An-Nawawi berusia 10 tahun, beliau diajak bermain oleh teman-temannya, tetapi ia menolak dan lebih memilih untuk membaca Al-Qur’an. Namun mereka tetap saja memaksanya untuk bermain hingga akhirnya ia pun berlari sambil menangis. Kejadian itu dilihat oleh syaikh Yasin bin Yusuf al-Marakisyi yang kebetulan lewat, kemudian ia mendatangi kedua orang tuanya dan memberikan nasihat agar mengkhususkan Imam An-Nawawi untuk menuntut ilmu. Orang tuanya menerima usulan tersebut, dan sejak kejadian itu pula perhatian sang ayah dan gurunya pun semakin besar terhadap Imam An-Nawawi.

PERJALANANNYA DALAM MENUNTUT ILMU

Pada usianya yang ke-19 tahun, sang ayah melihat lingkungan di Nawa sudah tidak dapat lagi mencukupi kebutuhan ilmu anaknya. Maka ia memutuskan untuk membawanya ke madrasah ar-Rawahiyyah di pojok timur Masjid Al-Jami’ al-Umawiy di Damaskus. Ketika itu Damaskus merupakan salah satu daerah yang menjadi pusat kajian ilmu.

Beliau sangat tekun dalam menuntut ilmu. Selama 2 tahun di sana ia senantiasa belajar siang dan malam, sampai-sampai ia tidak tidur kecuali karena ketiduran ketika belajar. Dan waktu-waktunya ia habiskan untuk mendalami ilmu dan menghafal berbagai kitab.

Imam Nawawi menceritakan tentang dirinya sendiri, ia berkata “Ketika usiaku telah mencapai 19 tahun, ayahku membawaku pindah ke Damaskus pada saat beliau (ayahnya) berusia 49 tahun. Di sana aku belajar di Madrasah Rawahiyyah. Selama kurang lebih 2 tahun di sana, aku jarang tidur nyenyak; penyebabnya, tidak lain adalah karena aku sangat ingin mendalami semua pelajaran yang diberikan di Madrasah tersebut. Aku pun berhasil menghafal At-Tanbih (red: at-Tanbiih fii Furuu’isy-Syaafi’iyyah, karya Abu Ishaq asy-Syirazi) kurang lebih selama 4,5 bulan. 

Selanjutnya, aku berhasil menghafal 114 Ibadat (sekitar seperempat) dari kitab Al-Muhadzdzab (red: Al-Muhadzdzab fil Furuu’) di sisa bulan berikutnya dalam tahun tersebut. Aku juga banyak memberikan komentar dan masukan kepada syaikh kami, Ishaq Al-Maghribi. Aku juga sangat intens dalam bermulazamah dengannya. Beliaupun lalu merasa tertarik kepadaku ketika melihatku begitu menyibukkan diri dalam semua aktifitasku dan tidak pernah nongkrong dengan kebanyakan orang. Beliaupun sangat senang kepadaku dan akhirnya beliau mengangkatku menjadi assisten dalam halaqahnya, mengingat jama’ahnya yang begitu banyak.”

Imam An-Nawawi memiliki wawasan ilmu dan tsaqafah yang luas. Ini dapat dilihat dari kesungguhannya dalam menimba ilmu. 
Berkata salah seorang muridnya, yakni ‘Ala-uddin Ibnill ‘Aththar, bahwa beliau setiap hari mempelajari dua belas pelajaran baik syarahnya maupun tashhihnya pada para syaikh beliau. Dua pelajaran pengantar, 
satu pelajaran muhadzdzab(sopan santun), 
satu pelajaran gabungan dari dua kitab shahih (Bukhari dan Muslim), 
satu pelajaran tentang shahih Muslim, 
satu pelajaran kitabAl-Lam’u oleh Ibnu Jinni dalam pelajaran nahwu, 
satu pelajaran dalamlshlahul Manthiq oleh Ibnu As-Sikiit dalam pelajaran bahasa, 
satu pelajaran sharaf, 
satu pelajaran Ushul Fiqh, dan kadang kitab Al-Lam ‘uoleh Abi Ishaq dan kadang Al-Muntakhab oleh Fakhrur Raazi; dan 
satu pelajaran tentang Asma’u Rijal, 
satu pelajaran Ushuluddin, dan adalah beliau menulis semua hal yang bersangkutan dengan semua pelajaran ini, baik mengenai penjelasan kemusykilannya maupun penjelasan istilah serta detail bahasanya.

Imam An-Nawawi sangat tekun dan telaten dalam mudzakarah dan belajar siang dan malam, selama sekitar dua puluh tahun hingga mencapai puncaknya. Beliau rajin sekali dan menghafal banyak hal sehingga mengungguli teman-temannya yang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan berkah kepadanya dalam pemanfaatan waktu. Sehingga ia berhasil menjadikan apa yang telah disimpulkannya sebagai sebuah karya dan menjadikan karyanya sebagai hasil maksimal dari apa yang telah disimpulkannya.

Ia Imam An-Nawawi menuliskan dalam sebuah kitabnya: “Dan aku menulis segala yang berhubungan dengannya, baik penjelasan kalimat yang sulit maupun pemberian harakat pada kata-kata. Dan Allah telahmemberikan barakah dalam waktuku.” 

PENGABDIANNYA DALAM MENYEBARKAN ILMU

Ketika usia beliau menginjak 30 tahun beliau mulai aktif menulis. Beliau menuangkan pikiran-pikirannya dalam berbagai buku dan karya ilmiah lainnya yang sangat mengagumkan. Beliau menulis dengan bahasa yang mudah, argumentasi yang kuat, pemikiran yang jelas, dan objektif dalam memaparkan berbagai pendapat para ahli fiqih. Hingga sampai saat ini, karya-karya yang ditulisnya mendapatkan perhatian yang besar dari setiap muslim dan diterima oleh setiap kalangan di seluruh negeri islam. Buku-buku yang beliau tulis sangatlah banyak, insya Allah akan kami sebutkan beberapa karya beliau diakhir tulisan ini insya Allah.

Kemudian pada tahun 665 H, beliau diberi tugas untuk menjadi guru di Darul Hadits Al-Asyrafiyyah dan mengelola bidang pendidikan. Saat itu, usianya baru menginjak 34 tahun. Dan mengajar di sana hingga wafat.

Gaji yang diberikan Madrasah Darul Hadits Al-Asyrafiyyah sangat besar, ia tidak pernah mengambilnya, tetapi mengumpulkannya pada kepala madrasah. Dan apabila telah sampai setahun, uang tersebut digunakan untuk membeli aset dan mewakafkannya untuk Darul Hadits tempat beliau mengajar atau digunakan untuk membeli kitab dan mewakafkannya untuk perpustakaan madrasah.

GURU-GURUNYA

Seumur hidupnya beliau menuntut ilmu dari banyak guru, diantaranya :

Di bidang fiqih dan ushulnya

Ishaq bin Ahmad bin ’Utsman al-Maghribi Al-Maqdisi, wafat pada 650 H
Abdurrahman bin Nuh bin Muhammad al-Maqdisi, wafat pada tahun 654 H,
Sallar bin aI-Hasan al-Irbali al-Halabi ad-Dimasyqi, wafat pada tahun 670 H
Umar bin Bandar bin Umar at-Taflisi asy-Syafi’i, wafat pada tahun 672 H
Abdurrahman bin Ibrahim bin Dhiya’ al-Fazari yang lebih dikenal dengan al-Farkah, wafat pada tahun 690 H.

Di bidang ilmu hadits

Abdurrahman bin Salim bin Yahya al-Anbari, yang wafat pada tahun 661 H,
Abdul ’Aziz bin Muhammad bin Abdul Muhsin al-Anshari, yang wafat pada tahun 662 H,
Khalid bin Yusuf an-Nablusi, yang wafat pada tahun 663 H,
Ibrahim bin ’Isa al-Muradi, yang wafat pada tahun 668 H,
Isma’il bin Abi Ishaq at-Tanukhi, yang wafat pada tahun 672 H,
Abdurrahman bin Abi Umar al-Maqdisi, yang wafat pada tahun 682 H.

Di bidang ilmu nahwu dan bahasa

Syaikh Ahmad bin Salim al-Mishri, wafat pada tahun 664 H,
al-’Izz al-Maliki, salah seorang ulama bahasa dari madzhab imam malik.

MURID-MURIDNYA

Adapun murid-murid beliau yang melalui didikannya bermunculan para ulama besar, di antaranya adalah Sulaiman bin Hilal al-Ja’fari, Ahmad Ibnu Farah al-Isybili, Muhammad bin Ibrahim bin Sa’dullah bin Jama’ah, ’Ala-uddin ’Ali Ibnu Ibrahim yang lebih dikenal dengan Ibnul ’Aththar, ia selalu menemaninya sampai ia dikenal dengan sebutan Mukhtashar an-Nawawi (an-Nawawi junior), Syamsuddin bin an–Naqib, dan Syamsuddin bin Ja’wan dan masih banyak yang lainnya.

AKHLAK DAN SIFATNYA

Para penulis biografi sepakat bahwa Imam an-Nawawi adalah seorang pemimpin dalam bidang zuhud, panutan dalam hal wara’, orang yang selalu memberikan pandagan yang bijak di bidang hukum, orang yang bersungguh-sunguh dalam menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran serta beliau senantiasa memberi nasihat kepada penguasa. 
Beliapun termasuk orang yang senantiasa beribadah di siang dan malamnya. 
Berikut adalah beberapa sifat dan akhlak beliau yang mulia :

1. Zuhud

Imam An-Nawawi tidak terlenana dengan kenikmatan dunia, sikap ini dapat terlihat dari sikap beliau yang menolak untuk diberi gaji, karena bagi beliau puncak kenikmatan adalah melalui ilmu yang dipelajarinya.

Beliau menulis dalam Muqadimah Syarh Al-Muhadzdzab -dan ini adalah pesan emas bagi para penuntut ilmu-, “Ketahuilah, apa-apa yang kami sebutkan terkait dengan keutamaan menimba ilmu, sesungguhnya itu semua hanya diperuntukkan bagi orang yang mempelajarinya karena menginginkan wajah Allah ta’ala (ikhlas), bukan karena motivasi duniawi. Barangsiapa yang belajar karena dorongan dunia seperti; harta, kepemimpinan, jabatan, kedudukan, popularitas, atau supaya orang-orang cenderung kepadanya, atau untuk mengalahkan lawan debat dan tujuan semacamnya maka hal itu adalah tercela.”

Selain itu yang menarik perhatian adalah bahwa beliau pindah dari sebuah perkampungan sederhana menuju kota Damaskus yang penuh dengan kesenangan dan kenikmatan, sedangkan ketika itu usia beliau masih sangat muda dan dalam kondisi fisik yang masih kuat. Meskipun demikian, beliau tidak pernah berpaling untuk memperhatikan semua kesenangan dan syahwat tersebut. Beliau justru membenamkan diri dalam kesungguhan dan kehidupan yang sederhana.

2. Wara’.

Dalam kehidupannya banyak yang menggambarkan kewaraannya. Dan di antaranya adalah beliau tidak mau memakan sayuran yang berasal dari damaskus. Ketika ditanya tentang hal itu, beliau menjawab “Karena di sana banyak tanah wakaf dan kepemilikan yang dikelola oleh orang yang seharusnya dilarang melakukan pengelolaan.” Sedangkan untuk kasus itu, tanah tersebut tidak boleh dikelola kecuali untuk maslahat umum, dan kerja sama yang ada haruslah dalam bentuk kontrak kerja sama dengan sistem masaqat. Dan dalam hal ini banyak ulama berbeda pendapat. Dan karena sifat wara’nya, beliau tidak mau memakan sayuran tersebut.

3. Seorang Alim Penasihat

Dalam diri Imam Nawawi tercermin sifat-sifat alim, suka memberi nasihat, seorang yang berjihad di jalan Allah dengan lisannya, menegakkan kewajiban beramar ma’ruf nahi mungkar. Seorang yang mukhlish dalam memberi nasihat, tidak mempunyai tendensi apapun, seorang yang pemberani, tidak takut celaan di jalan Allah terhadap orang yang mencelanya. Seorang yang mempunyai bayan dan hujjah untuk memperkuat dakwaannya.

Beliau dijadikan rujukan oleh manusia bila mereka menghadapi perkara yang sulit dan pelik, serta minta fatwa kepadanya. Dan beliau menanggapinya serta berusaha memecahkan permasalahannya, seperti ketika berkenaan dengan hukum penyitaan atas dua taman di Syam; ketika Damaskus kedatangan penguasa dari Mesir, dari Raja Bibiris, setelah mereka dapat mengusir pasukan Tartar, maka wakil (pejabat) baitul maal menyangka bahwa kebanyakan dari taman-taman yang berada di Syam tersebut adalah milik negara. Maka sang raja memerintahkan untuk memagarinya, yakni menyitanya.

Maka orang-orang melaporkan hal itu kepada Imam An-Nawawi di Daarul Hadits. Kemudian beliau menulis surat kepada sang penguasa yang dinyatakan di dalamnya sebagai berikut:

“Kaum muslimin merasa dirugikan atas adanya penyitaan hak milik mereka, oleh karena itu mereka menuntut supaya hak milik mereka dikembalikan. Dan penyitaan ini tidak dihalalkan oleh seorang ulama’ pun dari kalangan kaum muslimin. Karena barangsiapa yang di tangannya sesuatu maka dialah pemiliknya, tidak boleh seorang pun merampasnya dan tidak dibenarkan menjadikannya sebagai status miliknya.”

Maka marahlah sang penguasa tersebut terhadap nasihat yang ditujukan kepadanya itu, lalu ia memerintahkan supaya gaji syaikh itu dihentikan dan dicopot dari jabatannya. Akan tetapi orang-orang menyatakan bahwa syaikh itu tidak mendapat gaji dan tidak pula mempunyai jabatan. Akhirnya ketika penguasa itu memandang bahwa tidak bermanfaat lagi surat-menyurat, maka ia pergi sendiri untuk menemui Imam An-Nawawi dan hendak mengumpatnya habis-habisan dan ia ingin mengamuknya. Akan tetapi Allah memalingkan hati penguasa itu dari berbuat yang demikian itu dan melindungi Imam An-Nawawi dari hal semacam itu. Bahkan sang penguasa itu kemudian mencabut penyitaan dan manusia pun dilepaskan Allah dari kejahatannya.

PUJIAN-PUJIAN PARA ULAMA TERHADAPNYA

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan tentangnya, 
“Beliau adalah syaikhul madzhab (maksudnya guru besar dalam madzhab Syafi’i) dan ahli fikih besar di masanya.” Al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan tentangnya, “Beliau adalah ahli fatwa umat ini, syaikhul islam, seorang Hafizh (penghafal hadits) yang cemerlang, salah seorang imam besar dan pemimpin para wali.”

Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan tentangnya, 
“Beliau adalah profil manusia yang berpola hidup sangat sederhana dan anti kemewahan. Beliau adalah sosok manusia yang bertaqwa, qana’ah, wara, memiliki muraqabatullah baik di saat sepi maupun ramai. Beliau tidak menyukai kesenangan pribadi seperti berpakaian indah, makan-minum lezat, dan tampil mentereng. Makanan beliau adalah roti dengan lauk seadanya. Pakaian beliau adalah pakaian yang seadanya, dan hamparan beliau hanyalah kulit yang disamak.”

Abul Abbas bin Faraj rahimahullah mengatakan tentangnya,
 “Syaikh (An-Nawawi) telah berhasil meraih 3 tingkatan yang mana 1 tingkatannya saja jika orang biasa berusaha untuk meraihnya, tentu akan merasa sulit. Tingkatan pertama adalah ilmu (yang dalam dan luas).Tingkatan kedua adalah zuhud (yang sangat). Tingkatan ketiga adalah keberanian dan kepiawaiannya dalam beramar ma’ruf nahi munkar.”

Ibnul Aththar rahimahullah mengatakan tentangnya, 
“Guru kami An Nawawi disamping selalu bermujahadah, wara’, muraqabah, dan mensucikan jiwanya, beliau adalah seorang yang hafidz terhadap hadits, bidang – bidangnya, rijalnya, dan ma’rifat shahih dan dha’ifnya, beliau juga seorang imam dalam madzhab fiqh.”

Ibnul Aththar rahimahulah juga berkata, 
“Guru kami An Nawawi menceritakan kepadaku bahwa beliau tidak pernah sama sekali menyia – nyiakan waktu , tidak di waktu malam atau di waktu siang bahkan sampai di jalan beliau terus dalam menelaah dan manghafal.”

Quthbuddin Al Yuniny rahimahullah mengatakan tentangnya,
 “Beliau adalah teladan zamannya dalam ilmu, wara’, ibadah, dan zuhud.”

Syamsuddin bin Fakhruddin Al Hanbaly rahimahullah mengatakan tentangnya, “Beliau adalah seorang imam yang menonjol, hafidz yang mutqin, sangat wara’ dan zuhud.”

Rasyid bin Mu’aliim rahimahullah mengatakan tentangnya, 
“Syaikh Muhyiddin An Nawawi sangat jarang masuk kamar kecil, sangat sedikit makan dan minumya, sangat takut mendapat penyakit yang menghalangi kesibukannya, sangat menghindari buah – buahan dan mentimun karena takut membasahkan jasadnya dan membawa tidur, beliau sehari semalam makan sekali dan minum seteguk air di waktu sahur.”

WAFATNYA

Pada tahun 676 H. beliau kembali ke kampung halaman-nya di Nawa. Sebelumnya mengembalikan berbagai kitab yang dipinjamnya dari sebuah badan waqaf, dan  menziarahi makam para guru beliau juga bersilaturrahim dengan para sahabat beliau yang masih hidup. Di hari keberangkatan beliau, para jama’ah yang beliau bina melepas kepergian beliau di pinggiran kota Damaskus, mereka lalu bertanya: “Kapan kita bisa bermuwajahah lagi (wahai syaikh)?” Beliau menjawab: “Sesudah 200 tahun.” Akhirnya mereka paham bahwa yang beliau maksud adalah sesudah hari kiamat.

Beliau berziarah ke makam orang tuanya, Baitul Maqdis, dan makam AI-Khalil (Ibrahim) ‘Alaihissalam. Setelah itu barulah beliau meneruskan perjalanannya ke Nawa. Di sanalah (Nawa) beliau lalu jatuh sakit dan akhirnya wafat pada malam Rabu tanggal 24 Rajab (tahun 676 H.). Ketika kabar wafatnya beliau tersiar sampai ke Damaskus, seolah seantero Damaskus dan sekitarnya menangisi kepergian beliau. Kaum muslimin benar-benar merasa kehilangan sosok Imam An-Nawawi. Penguasa di saat itu, ’Izzuddin Muhammad bin Sha’igh bersama para jajarannya datang ke makam Imam Nawawi di Nawa untuk menshalatkannya. Beliau ditangisi oleh tidak kurang dari 20.000 orang atau 600 keluarga lebih. Semoga Allah selalu mencurahkan rahmat yang luas kepada beliau dan membangkitkan beliau kelak bersama mereka yang telah dikaruniai nikmat yang besar yakni dari kalangan para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan Shalihin.

KITAB-KITAB YANG BELIAU TULIS

Berikut adalah beberapa kitab yang beliau tulis :

Dalam Bidang Fiqh

1. Al-Majmu’

Kitab ini merupakan penjelasan (syarah) dari kitab Al-Muhadzdzab karya Abu Ishaq As-Syirozi. Banyak ulama mengakui dan memuji kitab ini, namun sayangnya kitab ini belum sempat beliau selesaikan, hanya sampai pada penjelasan kitab riba pada jilid ke 9. Namun kitab ini kemudian diteruskan oleh As-Subki sebanyak 3 jilid dan kemudian dilengkapi oleh Sayyid Muhammad Najib Al-Muthi’i

2. Raudhatuth Thalibin

Kitab ini tergolong kitab-kitab besar yang terdiri dari 12 Jilid. Di dalamnya, beliau membahas hukum-hukum As-Syarhul Kabir (karya Imam Rafi’ asy-Syafi’i) berikut penjelasan cabang-cabangnya secara detail dan mengumpulkan sekaligus mengoreksi berbagai cabang permasalahan yang semula berserakan di sana sini: Sehingga kitab ini menjadi rujukan dalam taljih, panduan dalam tash-hih, referensi para cerdik pandai dalam mengeluarkan fatwa, dan acuan para tokoh dalam membahas berbagai persoalan kontemporer.

3. Al-Minhaj

Kitab ini adalah mukhtashar (ringkasan) dari kitab Muharrar, karya Imam Rafi’ Asy-Syafi’i. Kitab ini sangat mashyur (terkenal) dan dijadikan sebagai sandaran dalam mempelajari madzhab Syafi’i.

4. Al-Fatawa

Kitab ini merupakan kumpulan berbagai persoalan yang tidak disusun berdasarkan tema per tema. Kitab ini lalu disusun secara tematis oleh murid beliau Syaikh ‘Alauddin Al-’Aththar dengan tambahan beberapa hal penting yang didengarnya langsung dari beliau.

Dalam Bidang Hadits

1. Syarah Shahih Bukhari

Kitab tidak sempat beliau selesaikan dan baru beliau tulis sebanyak 1 jilid.

2. Al-Minhaj Syarah Sahih Muslim

Kitab ini adalah kitab syarah Shahih Muslim yang paling besar dan terkenal. Kitab ini terdiri dari 9 jilid dan termasuk karya terakhir beliau.

3. Syaarah Sunnan Abu Dawud

Kitab ini juga tidak selesai.

4. Arba’in An-Nawawi

Kitab ini adalah kitab hadits yang banyak dirokemendasikan oleh ulama, karena di dalamnya termuat berbagai hadits seputar dasar-dasar agama islam yang sangat penting untuk dipelajari, seperti tentang iman, islam, ihsan dan lain sebagainya.

5. Riyadhush Shalihih.

Ini adalah salah satu kitab beliau yang paling terkenal di kalangan kaum muslimin, hampir di setiap masjid-masjid di negeri kaum muslimin kita akan dapati kitab ini.

6. At-Taqrib wat Taysir fi Ma’rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir

Dalam Bidang Biografi dan Bahasa Arab

1. Tahdzibul Asma’ wal Lughat

Di dalamnya beliau menulis sejumlah biografi singkat dari ulama-ulama baik laki-laki maupun wanita yang disebutkan di dalam kitab Mukhtasor al-Muzzani, Al-Muhadzdzab, At-Tanbih, Al-Wasith dan Al-Wajiz. Selain itu juga menjelaskan tentang bahasa Arab. Kitab ini mendapat pujian daro beberapa ulama.

2. Thabiqat Asy-Syafi’iyyah

Kitab ini menjelaskan tentang biografi ulama-ulama syafi’i.

3. Manaqib Asy-Syafi’i

Kitab ini menjelaskan mengenai kedudukan dan keutaman Imam Asy-Syafi’i rahimahullah serta hal-hal lain yang berkaitan dengannya.

Dalam Bidang Akhlak

1. At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an

Kitab ini membahasa mengenai adab-adab bagi penghafal Al-Qur’an.

2. Bustanul Arifin

3. Al-Adzkar

Dan masih banyak kitab beliau yang lain yang tidakbisa kami tulis

Hizib Wali Quthub Aljilani


Jumlah karomah yang dimiliki oleh asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani banyak sekali:
Syaikh Abil Abbas Ahmad ibn Muhammadd ibn Ahmad al-Urasyi al-Jily: berkata 
Pada suatu hari, aku telah menghadiri majlis asy-Sayikh Abdul Qodir al-Jilani berserta murid-muridnya yang lain. Tiba-tiba, muncul seekor ular besar di pangkuan asy-Syaikh. Maka orang ramai yang hadir di majlis itu pun berlari tunggang langgang, ketakutan. Tetapi asy-Syaikh al-Jilani hanya duduk dengan tenang saja. Kemudian ular itu pun masuk ke dalam baju asy-Syaikh dan telah merayap-rayap di badannya. Setelah itu, ular itu telah naik pula ke lehernya. Namun, asy-Syaikh masih tetap tenang dan tidak berubah keadaan duduknya.

Setelah beberapa waktu berlalu, turunlah ular itu dari badan asy-Syaikh dan ia telah seperti bicara dengan asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani . Setelah itu, ular itu pun ghaib.

Kami pun bertanya kepada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani tentang apa yang telah dipertuturkan oleh ular itu. Menurut beliau ular itu telah berkata bahwa dia telah menguji wali-wali Allah yang lain, tetapi dia tidak pernah bertemu dengan seorang pun yang setenang dan sehebat asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani .

Pada suatu hari, ketika asy-Syaikh sedang mengajar murid-muridnya di dalam sebuah majlis, seekor burung telah terbang di udara di atas majlis itu sambil mengeluarkan satu bunyi yang telah mengganggu majlis itu. Maka asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun berkata, “Wahai angin, ambil kepala burung itu.” Seketika itu juga, burung itu telah jatuh ke atas majlis itu, dalam keadaan kepalanya telah terputus dari badannya.

Setelah melihat keadaan burung itu, asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun turun dari kursi tingginya dan mengambil badan burung itu, lalu disambungkan kepala burung itu ke badannya. Kemudian asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani telah berkata, “Bismillaahirrahmaanirrahim.” Dengan serta-merta burung itu telah hidup kembali dan terus terbang dari tangan asy-Syaikh.
Maka takjublah para hadirin di majlis itu karena melihat kebesaran Allah yang telah ditunjukkanNya melalui tangan asy-Syaikh.

Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat:
Pada suatu hari, di dalam tahun 537 Hijrah, seorang lelaki dari kota Baghdad (dikatakan oleh sesetengah perawi bahawa lelaki itu bernama Abu Sa‘id ‘Abdullah ibn Ahmad ibn ‘Ali ibn Muhammad al-Baghdadi) telah datang bertemu dengan asy-Syaikh Jilani, berkata, bahwa dia mempunyai seorang anak dara cantik berumur enam belas tahun bernama Fatimah. Anak daranya itu telah diculik (diterbangkan) dari atas anjung rumahnya oleh seorang jin.
Maka asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun menyuruh lelaki itu pergi pada malam hari itu, ke suatu tempat bekas rumah roboh, di satu kawasan lama di kota Baghdad bernama al-Karkh.

“Carilah bonggol yang kelima, dan duduklah di situ. Kemudian, gariskan satu bulatan sekelilingmu di atas tanah. Kala engkau membuat garisan, ucapkanlah “Bismillah, dan di atas niat asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani ” Apabila malam telah gelap, engkau akan didatangi oleh beberapa kumpulan jin, dengan berbagai-bagai rupa dan bentuk. Janganlah engkau takut. Apabila waktu hampir terbit fajar, akan datang pula raja jin dengan segala angkatannya yang besar. Dia akan bertanya hajatmu. Katakan kepadanya yang aku telah menyuruh engkau datang bertemu dengannya. Kemudian ceritakanlah kepadanya tentang kejadian yang telah menimpa anak perempuanmu itu.”

Lelaki itu pun pergi ke tempat itu dan melaksanakan arahan asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani itu. Beberapa waktu kemudian, datanglah jin-jin yang cuba menakut-nakutkan lelaki itu, tetapi jin-jin itu tidak berkuasa untuk melintasi garis bulatan itu. Jin-jin itu telah datang bergilir-gilir, yakni satu kumpulan selepas satu kumpulan. Dan akhirnya, datanglah raja jin yang sedang menunggang seekor kuda dan telah disertai oleh satu angkatan yang besar dan hebat rupanya.

Raja jin itu telah memberhentikan kudanya di luar garis bulatan itu dan telah bertanya kepada lelaki itu, “Wahai manusia, apakah hajatmu?”
Lelaki itu telah menjawab, “Aku telah disuruh oleh asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani untuk bertemu denganmu.”

Begitu mendengar nama asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani diucapkan oleh lelaki itu, raja jin itu telah turun dari kudanya dan terus mengucup bumi. Kemudian raja jin itu telah duduk di atas bumi, disertai dengan seluruh anggota rombongannya. Sesudah itu, raja jin itu telah bertanyakan masalah lelaki itu. Lelaki itu pun menceritakan kisah anak daranya yang telah diculik oleh seorang jin. Setelah mendengar cerita lelaki itu, raja jin itu pun memerintahkan agar dicari si jin yang bersalah itu. Beberapa waktu kemudian, telah dibawa ke hadapan raja jin itu, seorang jin lelaki dari negara Cina bersama-sama dengan anak dara manusia yang telah diculiknya.

Raja jin itu telah bertanya, “Kenapakah engkau sambar anak dara manusia ini? Tidakkah engkau tahu yang dia ini berada di bawah naungan al-Quthb ?”
Jin lelaki dari negara Cina itu telah mengatakan yang dia telah jatuh berahi dengan anak dara manusia itu. Raja jin itu pula telah memerintahkan agar dipulangkan perawan itu kepada bapanya, dan jin dari negara Cina itu pula telah dikenakan hukuman pancung kepala.
Lelaki itu pun mengatakan rasa takjubnya dengan segala perbuatan raja jin itu, yang sangat patuh kepada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani.

Raja jin itu berkata pula, “Sudah tentu, karena asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani boleh melihat dari rumahnya semua kelakuan jin-jin yang jahat. Dan mereka semua sedang berada di sejauh-jauh tempat di atas bumi, karena telah lari dari sebab kehebatannya. Allah Ta’ala telah menjadikan asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani bukan saja al-Qutb bagi umat manusia, bahkan juga ke atas seluruh bangsa jin.”

Telah bercerita asy-Syaikh Abi ‘Umar ‘Uthman dan asy-Syaikh Abu Muhammad ‘Abdul Haqq al-Huraimy:

Pada 3 hari bulan Safar, kami berada di sisi asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani Pada waktu itu, asy-Syaikh sedang mengambil wudu dan memakai sepasang terompah. Setelah selesai menunaikan solat dua rakaat, dia telah bertempik dengan tiba-tiba, dan telah melemparkan salah satu dari terompah-terompah itu dengan sekuat tenaga sampai tak nampak lagi oleh mata. Selepas itu, dia telah bertempik sekali lagi, lalu melemparkan terompah yang satu lagi. Kami yang berada di situ, telah melihat dengan ketakjubannya, tetapi tidak ada seorang pun yang telah berani menanyakan maksud semua itu.

Dua puluh tiga hari kemudian, sebuah kafilah telah datang untuk menziarahi asy-Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jilany. Mereka (yakni para anggota kafilah itu) telah membawa hadiah-hadiah untuknya, termasuk baju, emas dan perak. Dan yang anehnya, termasuk juga sepasang terompah. Apabila kami amat-amati, kami lihat terompah-terompah itu adalah terompah-terompah yang pernah dipakai oleh asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pada satu masa dahulu. Kami pun bertanya kepada ahli-ahli kafilah itu, dari manakah datangnya sepasang terompah itu. Inilah cerita mereka:

Pada 3 haribulan Safar yang lalu, ketika kami sedang di dalam satu perjalanan, kami telah diserang oleh satu kumpulan perompak. Mereka telah merampas kesemua barang-barang kami dan telah membawa barang-barang yang mereka rampas itu ke satu lembah untuk dibagi-bagikan di antara mereka.

Kami pun berbincang sesama sendiri dan telah mencapai satu keputusan. Kami lalu menyeru asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani agar menolong kami. Kami juga telah bernazar apabila kami sudah selamat, kami akan memberinya beberapa hadiah.

Tiba-tiba, kami terdengar satu jeritan yang amat kuat, sehingga menggegarkan lembah itu dan kami lihat di udara ada satu benda yang sedang melayang dengan sangat laju sekali. Beberapa waktu kemudian, terdengar satu lagi bunyi yang sama dan kami lihat satu lagi benda seumpama tadi yang sedang melayang ke arah yang sama.

Selepas itu, kami telah melihat perompak-perompak itu berlari lintang-pukang dari tempat mereka sedang membagi-bagikan harta rampasan itu dan telah meminta kami mengambil balik harta kami, karena mereka telah ditimpa satu kecelakaan. Kami pun pergi ke tempat itu. Kami lihat kedua orang pemimpin perompak itu telah mati. Di sisi mereka pula, ada sepasang terompah. Inilah terompah-terompah itu.

Telah bercerita asy-Syaikh Abduh Hamad ibn Hammam:

Pada mulanya aku memang tidak suka kepada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Walaupun aku merupakan seorang saudagar yang paling kaya di kota Baghdad waktu itu, aku tidak pernah merasa tenteram ataupun berpuas hati.
Pada suatu hari, aku telah pergi menunaikan solat Jum’at. Ketika itu, aku tidak mempercayai tentang cerita-cerita karomah yang dikaitkan pada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Sesampainya aku di masjid itu, aku dapati beliau telah ramai dengan jamaah. Aku mencari tempat yang tidak terlalu ramai, dan kudapati betul-betul di hadapan mimbar.

Di kala itu, asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani baru saja mulai untuk khutbah Jumaat. Ada beberapa perkara yang disentuh oleh asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani yang telah menyinggung perasaanku. Tiba-tiba, aku terasa hendak buang air besar. Untuk keluar dari masjid itu memang sukar dan agak mustahil. Dan aku dihantui perasaan gelisah dan malu, takut-takut aku buang air besar di sana di depan orang banyak. Dan kemarahanku terhadap asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun bertambah dan memuncak.

Pada saat itu, asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani telah turun dari atas mimbar itu dan telah berdiri di hadapanku. Sambil beliau terus memberikan khutbah, beliau telah menutup tubuhku dengan jubahnya. Tiba-tiba aku sedang berada di satu tempat yang lain, yakni di satu lembah hijau yang sangat indah. Aku lihat sebuah anak sungai sedang mengalir perlahan di situ dan keadaan sekelilingnya sunyi sepi, tanpa kehadiran seorang manusia.

Aku pergi membuang air besar. Setelah selesai, aku mengambil wudlu. Apabila aku sedang berniat untuk pergi bersolat, dan tiba-tiba diriku telah berada ditempat semula di bawah jubah asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Dia telah mengangkat jubahnya dan menaiki kembali tangga mimbar itu.
Aku sungguh-sungguh merasa terkejut. Bukan karena perutku sudah merasa lega, tetapi juga keadaan hatiku. Segala perasaan marah, ketidakpuasan hati, dan perasaan-perasaan jahat yang lain, semuanya telah hilang.

Selepas sembahyang Jum’at berakhir, aku pun pulang ke rumah. Di dalam perjalanan, aku menyadari bahwa kunci rumahku telah hilang. Dan aku kembali ke masjid untuk mencarinya. Begitu lama aku mencari, tetapi tidak aku temukan, terpaksa aku menyuruh tukang kunci untuk membuat kunci yang baru.

Pada keesokan harinya, aku telah meninggalkan Baghdad dengan rombonganku karena urusan perniagaan. Tiga hari kemudian, kami telah melewati satu lembah yang sangat indah. Seolah-olah ada satu kuasa ajaib yang telah menarikku untuk pergi ke sebuah anak sungai. Barulah aku teringat bahwa aku pernah pergi ke sana untuk buang air besar, beberapa hari sebelum itu. Aku mandi di anak sungai itu. Ketika aku sedang mengambil jubahku, aku telah temukan kembali kunciku, yang rupa-rupanya telah tertinggal dan telah tersangkut pada sebatang dahan di situ.

Setelah aku sampai di Baghdad, aku menemui asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani dan menjadi anak muridnya.

Apakah Hizib itu?

Hizib yang mengandung fadhilah dan khasiat yang luar biasa ini adalah kumpulan ayat-ayat Alqur'an, dzikir dan doa yang dipilih dan disusun oleh ulama salafush shalih yang termasyhur sebagai wali­yullah (Kekasih Allah), hanya saja yang membedakan setiap hizib antara lain asrar yang terkandung dalam setiap rangkaian ayat, doa, atau kutipan hadits, yang sesuai dengan karakter Wali sang penyusun.

Sementara, kandungan dalam hizib terdapat banyak sirr (rahasia) yang tidak mudah dipahami oleh orang awam, seperti kutipan ayat yang isinya terka­dang seperti tidak terkait dengan rang­kaian doa sebelumnya padahal yang terkait adalah asbabun nuzul-nya. Hizib juga biasanya mengandung lebih banyak ismul a'zham (asma Allah yang agung) yaitu nama Allah seperti yang terkandung diantara "KAf dan NUN".

Dengan kata lain, hijib yang terbentuk bukan saja atas keinginan para wali saja namun yang diterima dari Rasululloh langsung dan diterima dari Ilham Allah SWT.

Oleh para Awliya hizib disusun dan dirancang ada yang untuk konsumsi umum  sehingga semua orang boleh meng­amalkannya untuk memperkuat benteng diri dan sebagainya. Ada juga yang dirancang untuk kalangan tertentu yang dianggap memiliki kemampuan lebih dari yang lain.  

Mengamalkan suatu hizib tidak terlepas dari cobaan atau ujian (ada efek negatif), biasanya cobaannya itu ada yang berbentuk kedigjayaan atau kesaktian berbukti (menonjol), kemarahannya berlebihan atau rezekinya seret dan sebagainya. Semua cobaan itu akan membuat kita sombong atau minder. Makanya ketika kita memulai mengamalkan hizib harus lebih ikhlas dan sepenuhnya berserah diri pada Allah agar kita mampu menghadapi semua cobaan yang datang.

Berikut ini saya menukilkan sebuah hizib yang disusun oleh Syekh Abdul Qadir jailani yang memiliki khasiat antara lain sebagai berikut:

Dikasihi dan dicintai makhluk
Diberikan ketentraman dalam rumah tangga
Disenangi dalam pergaulan
Mendapatkan kesaktian/kedigjayaan
Diberikan Allah rezeki yang berlimpah
Mendapat perlindungan harta bendanya
Mendapat kecukupan barokah, karomah, fadhal.
Senantiasa mendapat pertolongan dari Allah SWT

Wasilah Hizib jailani:
1. Ilaa hadhratin nabiyyil mushthafaa muhammadin shallallaahu 'alaihi wasallama, Al-faatihah...(baca surat al-fatihah 1x)..
2. Wa-ilaa hadhratisy syaikh Muhyiddiin abdil Qaadiril jailaanil baghdaadii, Al-faatihah...(baca surat al-fatihah 1x)...
3. Wa-ilaa ruuhi man ajaazanii, Al-fatihah...(baca surat alfatihah 1x)...

بسم الله الرّحمن الرّحيم

ربّ انّى مغلوب فانتصر, واجبرقلبي المنكسر, واجمع شملي المندثر, انّك انت الرّحمن المقتدر, اكفنى ياكافى واناالعبدالمفتقر, وكفى بالله وليّا وكفى بالله نصيرا, انّ الشّرك لظلم عظيم, وماالله يريدظلماللعباد, فقطع دابرالقوم الّدين ظلموا, والحمد الله ربّ العالمين

 “Wahai Tuhanku sungguh aku telah kalah (oleh hawa nafsuku), maka bahagiakanlah hati yang telah musnah ini (dengan rasa syukur atas nikmat yang sedang dan akan terjadi), maka padukanlah kemuliaan yang terselubung. Cukupilah segala kebutuhanku, dan aku adalah hamba yang membutuhkan bantuan-Mu. Dan cukuplah Allah saja sebagai yang diandalkan dan cukup Allah saja sebagai penolong. Sesungguhnya syirik kepada-Mu adalah kejahatan yang besar, dan tidaklah menginginkan Allah kejahatan dan kegelapan bagi hamba-hambanya (sebaliknya Allah menginginkan hamba-hambanya menjadi  khalifah di muka bumi ini dengan sukses). Maka putuslah tipu daya kaum jahat. Dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”

Caranya:
Puasa 3 hari dimulai pada hari selasa, rabu dan kamis.
Selama puasa hizib jailani dibaca sebanyak 70x
Pada malam jum'at setelah buka puasa tidak boleh tidur semalaman.
Sesudah tammat puasa, hizib diwirid setelah sholat maghrib dan isya dibaca sebanyak 7x 
 

Doa diatas mungkin bagi sebagian orang tidaklah asing, minimal pernah mendengar, terlebih bagi orang yang pernah ‘mondok’ di pesantren-pesantren salafiyah atau pesantren yang lebih dikenal pesantren tradisional yang pembelajaranya menggunakan ‘kitab kuning’. Walaupun begitu tidak semua santri-santri diberi ‘ijazahkan’ doa/hizib ini, hanya santri-santri yang sudah dewasa dan sebentar lagi akan terjun ke masyarakat untuk menjadi panutan bagi masyarakatlah yang diberi bekal doa/hizib ini. Doa/hizib diatas sering disebut Hizib Jailani atau Hizib Syekh Abdul Qodir Jailani Al-Baghdady.

Hizib Jailani adalah salah satu doa yang dipanjatkan kepada Allah Yang Maha Kuasa dengan perantara(washilah) kepada pengarangnya, yaitu Sayyidina Syekh Abdul Qadir Jailani Al-Baghdady. Berdoa dengan cara bertawasul seperti ini telah dicotohkan nabi, sahabat, dan orang-orang shaleh pada zaman dahulu. Banyak sekali dalil-dalil, baik dari Al-Quran maupun hadis, yang memperbolehkan berdoa dengan cara bertawasul.

Dalam tulisan ini, saya ingin sedikin Share kepada para pembaca tulisan ini yang mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat dunia akhirat. Tulisan ini bersumber dari pengetahuan saya yang sangat bodoh ini, pengalaman pribadi saya dan dari buku-buku yang pernah saya baca. Tujuan dari tulisan ini tidak lain hanya sebagai curhatan saya dan self-motivation aza…

Oke, kita kembali kepada Judul yang penulis buat. Setelah menerangkan secara ringkas mengenai pengertian hizib, sekarang bagian kata ilmiyah. Katailmiyah kalau disederhanakan mah boleh dibilang masuk akal, bisa diukur, dan berlaku secara umum. Di zaman sekarang yang serba canggih, masalah-masalah yang bisa dibilang ajaib sudah di teliti oleh beberapa peneliti, termasuk masalah spiritualitas yang akan kita bahas. Titik temu antara spiritual dengan keilmiyahan adalah dalam hal ‘kesadaran’. Menurut Amit Goswami P.hD bahwa “ilmu pengetahuan modern akhirnya sepakat dengan pandangan spiritual bahwa kesadaran (yang tidak tampak) adalah penyebab dari semua ciptaan (yang tampak)”. “Keajaiban bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan hukum alam, tetapi sesuatu yang bertentangan dengan pemahaman kita tentang hukum alam itu”, begitulah pendapat dari St. Augustine. 

Kita mulai pembahasannya yuk, tapi seblumnya bukalah hati anda dan fikiran kita, ini adalah masalah logika hati dan logika fikiran. Masalah logika hati vs logika fikiran saya gak akan bahas disini (ngayayay teuing) tapi saya akan mengutip pernyataan dari ilmuwan terkenal  yaitu Blaise Pascal, katanya hati memiliki logika yang tidak mampu dipahami oleh akal fikiran.

Dalam buku Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu, dijelaskan bahwa rahasia doa agar efektif harus memenuhi tiga tahapan, tapi ketiga tahapan itu dilakukan secara bersamaan ketika kita berdoa. Tahapan DOA itu adalah Direction, Obedience, dan Acceptance. Dalam berdoa dengan tawasul menggunakan Hizib Jailany juga tahap-tahap ini perlu diterapkan.

1.      Direction (Meminta dengan niat yang jelas)

“… Aku dekat…. Aku mengabulkan permohonan yang berdoa, apabila ia memohon kepada-Ku”

Pernyataan diatas bukan pernyataan sembarang lho, itu pernyataan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Serba Maha, yaitu Allah SWT. Itu adalah jaminan dari Allah sendiri sedangkan Allah tidak akan mengingkari janjinya. Coba bayangkan dokter mana yang dapat menjamin kesembuhan pasiennya, atau dukun mana yang bisa menjamin keinginan tamu-tamunya, gak ada kan.. tapi hanya Allah lah yang berani menjamin hal tersebut, oleh karena itu serahkanlah semua urusan dan permintaan kita kepada  Allah Yang Maha Kuasa, seperti penyerahan  dalam Hizib jailany diatas, kaffa billahi waliyya wakafabilllahi nashiro(cukuplah Allah saja sebagai yang diandalkan dan cukuplah Allah sebagai sebagai penolongku).

Keikhlasan (menyerahkan semua urusan kepada Allah) dalam tahap Direction ini bertujuan agar semua getaran negatif yang menghambat doa kita dapat terkikis. Ketika kita ikhlas maka alam vibrasi melalui mekanisme kuantum akan berkolaborasi membantu mewujudkan niat-niat Anda. Hal ini sesuai dengan kenyataan pada level kuantum menyatakan bawasemakin dalam, semakin halus, maka semakin dahsyat. Analoginya dalam fisika kuantum misalnya energi nuklir yang lebih halus berjuta-juta kali lebih powerful daripada energi kimia, energi otot lebih kuat dari energi fikiran. Sehingga energi ikhlas yang sangat halus yang berada dihati terdalam pun akan lebih dahsyat daripada energi emosi atau energi fikiran.

Selain itu, dalam tahap Direction ini juga permintaan kita harus FOKUS. Coba lihat lagi firman Allah diatas, Allah mengabulkan hanya orang orang yang HANYA meminta dengan fokus kepadanya. Banyak orang yang bertanya, kenapa harus repot-repot fokus kepada apa yang kita inginkan, toh Allah Maha Tahu segala permasalahan kita?? Emmm oke saya jawab, memang Allah itu Maha Tahu, yang jadi permasalahan apakah kita tahu apa yang kita inginkan tidak heuhh. Allah itu maha pemberi bukan Maha Pemaksa. Allah hanya mengabulkan doa-doa yang kita minta, jadi mintalah dengan fokus sesuai keinginan kita.

Fokuslah kepada apa yang kita inginkan, bukan berfokus kepada apa yang kita TIDAK inginkan. Jika kita ingin kaya, maka fokuslah kepada keberlimpahan..

Jika kita ingin bahagia, fokuslah kepada kebahagiaan..

Jika anda ingin sehat fokuslah kepada kesehatan…

Jika kita ingin jodoh , maka fokuslah kepada…………. (hahaaydeuhh..)

2.      Obdience (Meyakini hati bahwa doa sudah terkabul) 

Meyakini hati bawa doa sudah/akan dikabulkan berkorelasi positif dengan pengabulan doa tersebut.“Allah seperti perasangka hamba-hambanya”, begitulah Allah berfirman dalam hadis qudsi, jika seorang hamba meyakini bahwa doanya dikabulkan fainsyaallah doanya dikabulkan, akan tetapi jika hamba meyakini bahwa doanya ditolak maka Allah akan bertindak seperti perasangka hamba tersebut.

Allah SELALU mengabulkan doa setiap manusia yang ada di HATInya, bukan hanya yang terucap oleh lisannya saja. Jika ada konflik antara lisan dan hati, maka yang menang adalah yang ada di hati. Sebagai contoh jika seorang yang miskin berdo meminta agar menjadi kaya, secara lisan ia memohon agar menjadi kaya tetapi dalam hatinya ia tidak yakin bisa menjadi kaya, maka hasilnya adalah ia akan SELALU miskin.

Jika dilihat dari doa yang kita panjatkan yaitu berupa Hizib jailany, doa ini telah masyhur di kalangan para ulama, kiyai, ustadz, maupun ahli spiritual, bahwa doa ini sangat dahsyat dalam mencapai suatu hajat kebutuhan. Doa ini menggunakan tawasul kepada pengarangnya yaitu seorang waliyullah bahkan menurut sebagian para ulama rajanya para wali, yaitu Sayyidina Syekh Abdul Qadir Jailani Al-Baghdady, yang mempunyai banyak karomah dan derajatnya dekat dengan Allah Yang Maha Kuasa. Hal ini bisa menjadi sarana kita untuk meyakinkan hati bahwa dengan pertolongan Allah kita bisa mendapatkan apa yang kita butuhkan/inginkan.

Keyakinan adalah salah satu kunci dari spiritualitas dan kunci dari segala kesuksesan. Setiap orang yang sukses di dunia ini pasti diawali dengan sebuah keyakinan sehingga mereka lebih optimis dan termotivasi dalam bekerja. Jika kita telah meyakini sesuatu hal, pasti kita akan mendukung keyakinan tersebut, dan jika keyakinan kita itu benar terjadi, keyakinan kita akan semakin kuat. Kekuatan keyakinan yang pasti berpengaruh pada hasil akhir ini dapat saya gambarkan sebagai berikut;

KEYAKINAN

POTENSI

TINDAKAN TERILHAMI

HASIL
 
 Sebagai contoh, jika kita diminta untuk berpidato di depan khalayak umum, maka langkah pertama kita harus yakin bahwa sudah memiliki berbagai informasi mengenai topik yang akan kita bawakan. Hal tersebut akan memantapkan keyakinan kita pada kemampuan diri sendiri untuk memberikan pidato yang bagus, dan itu pasti akan mengeluarkan potensi terbaik kita sehingga merangsang tindakan kita untuk menampilkan yang terbaik, dan otomatis hasilnya pun akan baik dan akan menambah keyakinan kita untuk berpidato kembali dengan baik. Siklus ini selalu berputar terus menerus secara otomatis. Jika keyakinan awal kita tinggi, hal ini akan menjadi sebuah ‘Mata Rantai Kesuksesan’.

3.      Acceptance (Menerima perasaan dan tindakan terkabulnya doa) 

Tahap terakhir ini merupakan tahap yang paling dahsyat, tahap ini adalah tahap yang mudah sekaligus paling sulit dilakukan, khususnya bagi mereka yang terlalu rasional dan analitis (dominan otak kiri. Red). Dalam tahap ini kita merasa bersyukur dan bahagia kita membayangkan bahwa doa kita sudah atau sedang dikabulkan oleh Allah. Dengan kata lain, kita seolah-olah benar melihat, mendengar, dan merasakan sepenuh hati bahwa wujud yang kita inginkan telah terwujud. Ini sangat menyenangkan sekali, seperti kita sudah melunasi pembayaran (Syukur) di muka, meskipun (doa) kita belum terkabul. Selain itu lakukan “Tindakan” yang perlu kita lakukan untuk membangun perasaan menerimanya pada saat sekarang, dan ingat-ingat perasaan itu.

Secara ilmiyah, ternyata semua benda adalah 99,9999999% merupakan cahaya stabil yang memadat pada titik nol, cahaya tersebut memiliki energi yang bergetar disebut frekuensi. Pengertian ini adalah kunci untuk mencapai apapun yang kita inginkan. Kita adalah sebuah medan energi yang beroperasi di medan energi yang lebih besar, dan energi yang kita butuhkan ada di Medan Titik Nol di sekeliling kita saat ini juga. Fisika Kuantum mengatakan kepada kita bahwa segala sesuatu datang diri medan titik nol. Satu-satunya perbedaan antara tubuh kita dan Uang, rumah, orang, dan sebagainya adalah frekuensi getarannya. Jadi KUNCInya adalah: Jika kita Ingin menarik hasil baru dibidang apapun, Anda adalah hasil baru tersebut!, yang harus kita lakukan adalah bertindak menjadi selaras atau harmonis dengannya.

Tindakan adalah kata yang bagi sebagian orang berarti “kerja”, tetapi tindakan yang terilhami sama sekali tidak akan terasa sebagai pekerjaan. Tindakan terilhami adalah ketika kita bertindak untuk menerima, jika kita bertindak untuk berusaha dan membuatnya terwujud maka kita sudah tergelincir ke belakang. Tindakan yang terilhami akan ringan dan terasa menyenangkan karena kita berada dalam frekuensi menerima. 

 Tindakan terilhami ini bukan berarti kita pasrah tanpa gairah hidup, justru tindakan terilhami ini merupakan bertindak dengan berperasangka baik kepada Allah bahwa Allah sedang mencurahkan “ilhamnya” kepada kita untuk mewujudkan doa dalam dunia nyata sehingga kita bersyukur dan “tersenyum” optimis. Kadang-kadang kita bahkan tidak menyadari bahwa kita telah menggunakan “tindakan” karena terasa menyenangkan. Pada saat itu Anda akan menengok ke belakang melihat keajaiban bagaimana Allah telah ‘menggendong’ kita menuju impian… wowwww dan ucapkanlah Alhamdulilllah.

Dalam sebuah tindakan juga faktor “Fikiran Bawah Sadar”, yang mengendalikan semua gerak kita baik yang sadar maupun yang tidak sadar, sangatlah penting. Fikiran bawah sadar berperan penting dalam membentuk karakter, kepribadian, dan citra diri seorang manusia, sehingga dengan memanfaatkan fungsi ini kita bisa  menambah energi kita dalam aktivitas sehari-hari. Dalam memrogram fikiran bawah sadar, kita bisa melakukan tahap-tahap seperti diatas, serta melakukan tindakan yang bersesuaian dengan niat kita.

 

Saipi Angin


ILMU BERJALAN CEPAT 

Saifi angin, berjalan bersama angin

Caranya:

Puasa mutih 7 (tujuh) hari.
Tiap selesai sholat fardhu baca ayat kursy 313 kali.
Kalau akan menggunakan baca 313 kali, lalu berjalan dengan menunduk tanpa tengok kanan kiri.

Bisa juga..:

Caranya:
Rutin puasa Senin Kamis.
Tiap ba’da tengah malam rutin wirid Ismul A’dhom 41 kali.
Kalau akan berngkat, wudlu dulu lalu memakai pakaian ihram haji, terus shalat dua rakaat, baca Ismul A’dhom 41 kali.
Inilah yang dibaca:

                  بسم الله الرحمن الرحيم 

اَللّهُمَّ اِنِّى اَسْئَلُكَ بِاسْمِكَ وَاَنْتَ

لا تُخَيِّبُ مَنْ دَعَاكَ بِاسْمِكَ الرَّحْمنِ

اَلْمُسْتَعَانِ الْمُهَيْمِنِ الْكَبِيْرِ

الْمُتَعَالِ الطَّاهِرِ الْبَاطِنِ الْمَعْبُوْدِ

الْمَحْمُوْدِ الْمُبَارَكِ الْمُقْتَدِرِ

الْقَضْفَاضِ. اَسْئَلُكَ اَنْ تَقضِىَ حَاجَتِى

اَللّهُمَّ هَوِّنْ عَلَىَّ السَّفَرَ وَاطوِى

بِى الْبَعِيْدِ

Atau dgn Cara ini:
1. Puasa sehari semalam (puasa ngeplas)
2. Dalam puasa itu sambil membuat teken / tongkat dari kayu kemiri atau kayu nangka bubur.
3. Tongkat tersebut ditulis dengan Asmaul Husna yang ada huruf Yak yaitu:

رَحِيْمٌ مُهَيْمِنٌ عَزِيْزٌ عَلِيْمٌ سَمِيْعٌ بَصِيْرٌ

لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ حَلِيْمٌ عَظِيْمٌ عَلِيٌّ كَبِيْرٌ

حَفِيْظٌ مُقِيْتٌ حَسِيْبٌ جَلِيْلٌ كِريْمًٌ

رَقِيْبٌ مُجِيْبٌ حَكِيْمٌ مَجِيْدٌ شَهِيْدٌ

وَكِيْلٌ قَوِيٌّ مَتِيْنٌ وَلِيٌّ حَمِيْدٌ مُحْصِيٌّ

مُعِيْدٌ مُحْيِيٌّ مُمِيْتٌ حَيٌّ قَيُّوْمٌ وَالِيْ

غَنِيٌّ مُغْنِيٌّ هَادِيْ بَدِيْعٌ بَاقِيْ رَشِيْدٌ.

(semua ada 40 asma)ً

4. Sewaktu-waktu akan berangkat membaca sholawat istiqomah 10 kali.


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلاةً تَجْعَلُنَا

بِهَا اْلإسْتِقَامَةَ تَتْبَعُهَا الْكَرَامَة

وَتَحْسُرُنَا بِعِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ بِالسَّعَادَةًِ

وَالْكَرَامَةِ فِى الدُّنْيَا وَاْلاخِرَةِ وَعَلَى الِهِ

وَصَحْبِهِ وَبَاِركَ وَسَلِّمْ

5. Membaca asma di bawah ini:

يَا غَنِىُّ يَا غَنِىُّ يَا دَيُوْشُ يَا اَللهُ يَا اَللهُ وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلقَاءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسى ربِّى

اَنْ يَهْدِيَنِى سَوَاءَ السَّبِيْلِ. وَتَرَى الجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِىَ تَمُرُّ السَّحَابُ

صُنْعَ اللهِ الَّذِى اَتْقَنَ كُلَّ شَيْئٍ اِنَّهُ

خَبِيْرٌ بِمَا تَفْعَلُوْنَ. وَاَوْحَيْنَا اَنْ اَسْرِ بِعِبَاِديْ اِنَّكُمْ مُتَّبَعُوْنَ. وَلَقَدْ خَلَقنَا السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِى سِتَّةِ اَيَّامٍ 

وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوْبْ. وَلَوْ تَرَى اِذَا فُزِعُوْا فَلا فَوْتَ وَاُخِذُوْا مِنْ مَكَانٍ

قَرِيْبٍ.َيَسْأَلُوْنَكَ عَنِ الجِبَالِ فَقُلْ

يَنْسِفُهَا رَبِّى نَسْفًا فَيَذَرُوْهَا قَاعًا

صَفْصَفًا لا تَرَى فِيْهَا عِوَجًا وَاَمْتًا.

تِلْمِيَسٍ فَوَاشٍ مَطَالِشٍ خِرَاشٍ مَلْطَشٍ طَيُوْشٍ وَكَلْبُهُمْ قِطْمِيْرْ. يَا خُدَّامَ هَذِهِ الأَسْمَاءِ وَالايَاتِ اَحْمِلُوْنِى اِلى مَكَّةَ 

المُكَرَّمَةَ / اِلى مَدِيْنَةَ المُنَوَّرَةَ.

Thoyyul Ardli / Saifi Angin

Caranya:
Puasa mutih 7 (tujuh) hari.
Hari terakhir puasa ngeplas (pati geni)

Selama puasa tiap ba’da sholat fardlu membaca ayat di bawah ini 7 (tujuh) kali.
Setelah selesai puasa ayat itu tetap dibaca tiap ba’da sholat fardlu semampunya minimal 3 kali.

Kalau akan berangkat dibaca satu kali atau tiga kali.
Inilah ayat yang dibaca:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

وَلَقَدْ اتَيْنَا دَاودَ مِنَّا فَضْلا

يَا جِبَالُ اَوِّبِى مَعَهُ وَالطَّيْرَ وَاَلَنَّا لَهُ الْحَدِيْد

Supaya bisa terbang / Saifi Angin

Caranya:
Harus rutin puasa Senin Kamis.
Harus rutin shodaqoh / slamatan pada malam Jum’at dan malam Ahad.
Inilah asma yang dibaca 7 (tujuh) kali.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَللّهُمَّ اِنِّى اَسْئَلُكَ بِاسْمِكَ وَاَنْتَ 

لا تُخَيِّبُ مَنْ دَعَاكَ بِاسْمِكَ الرَّحْمنِ

اَلْمُسْتَعَانِ الْمُهَيْمِنِ الْكَبِيْرِ الْمُتَعَالِ

الطَّاهِرِ الْبَاطِنِ الْمَعْبُوْدِ الْمَحْمُوْدِ الْمُبَارَكِ

الْمُقْتَدِرِ الْقَضْفَاضِ. اَسْئَلُكَ اَنْ تَقْضِىَ حَاجَتِى. اَللّهُمَّ هَوِّنْ عَلَىَّ السَّفَرَ وَاطوِى بِى الْبَعِيْدِ.

Peringatan:
Barang siapa yang menerima asma-asma ini hendaklah memelihara diri dari perbuatan yang terlarang, karena di dalamnya terdapat Ismul A’dhom.


Supaya bisa berjalan cepat melebihi pesawat terbang

Caranya:
Tiap ba’da Maghrib dan Shubuh istoqomah membaca sholawat Masyisyiyah yang terdapat pada bagian tepi Dalailul Khoirot.
Syaratnya tidak boleh kawin selama 5 (lima) tahun.
(amalan ini hanya cocok untuk para remaja / pemuda).

Berjalan cepat – Saifi angin

Caranya:
1. Puasa tarku dzii ruhin 11 (sebelas) kali.
2. Tiap ba’da sholat fardlu baca ayat 21 (dua satu) kali.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

رَبَّنَا اتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ


3. Kalau akan menggunakan, berdiri tegak, baca ayat 3 (tiga) kali tanpa nafas terus melangkah kaki kanan dulu.
4. Selama berjalan dilarang menengok-nengok ke kiri ke kanan.
5. Dapat juga dengan mengguynakan / mengendarai sepeda pancal atau sepeda motor dll.
6. Dimaksud puasa tarku dzii ruhin yaitu meninggalkan makanan apa saja yang berasal dari hewan, termasuk telur, madu, terasi dll.
7. Perlu diwaspadai sejenis semut-semut kecil yang biasa nyelinap di dalam gula.

PERINGATAN
Amalan-amalan ini ada yang beresiko tinggi tertabrak kendaraan, kecebur laut dsb.
Jangan lakukan amalan ini tanpa izin / ijazah 

Dan ada baiknya untuk lebih afdhol nya dengan ijazah

 

Ibnu Al Muqoffa


Di kalangan Pesantren dan para Kyai Nama Ibnu Al Muqoffa kurang populer. Karena memang Beliau Bukan Mujtahid ataupun pengsyarah (komentator) kitab2 Pelajaran Pesantren. Dan di universitas Islam pun Nama Beliau jarang di buat rujukan. Dan penulis ingin sedikit mengupas sejarah siapa sosok Ulama Besar Abad ke 2 hijrah ini. 

Rudzabah bin Dadzubah Al Mubarok di lahirkan di Persia tepatnya di Bashroh (Irak) pada tahun  106 H/724 M. Memiliki ayah yang bernama al-Mubarak.
 Al-Mubarak bertugas  sebagai pemungut pajak di daerah Irak dan Iran ketika Hajjaj Ibn Yusuf al-Saqafi menjadi Gubernur Irak dan Iran (41–95 H atau 661-714 M) pada masa kekuasaan Dinasti Bani Umayah. Al-Mubarak melakukan kesalahan dalam menjalankan tugasnya, yaitu menggelapkan sebagian hasil pungutan pajak; oleh karena itu, ia dijatuhi hukuman potong tangan (sanksi pencurian adalah potong tangan seperti terdapat dalam Al-Qur’an). 
Sejak saat itulah Al-Mubarak digelari Al-Muqaffa‘ (orang yang terpotong tangannya). Gelar ini kemudian dilekatkan pada nama anaknya, Rudzibah Ibn al-Muqaffa. Secara harfiah, Ibn Al-Muqaffa berarti  “anak orang yang tangannya terpotong.”

Ilmu pertama yang di terima oleh Ibnu Al-Muqaffa’ itu adalah kebudayaan dengan dua bahasa yaitu: Arab dan Persia atas para ilmuan di Bashroh. Dan ia unggul dalam ilmu keduanya, dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan keduanya, Rudzabah itu membantu akhir masa khalifah bani Umayyah kemudian di lanjutkan dengan membantu khalifah Abbasiyah, dan setelah masuk Islam beliau akrab dipanggil Abu Muhammad. Kala itu, karena fitnah yang menimpanya, ia dituduh sebagai orang yang zindiq dan berusaha memusuhi islam. Akan tetapi mungkin dia meninggal karena sebab-sebab politik, Dia dijatuhi hukuman mati ketika berusia 36 tahun (106-142 H). Masih muda. Tragis memang, tetapi itulah sejarah yang ada.

Dialah yang pertama kali melakukan penerjemahan dalam sejarah dan sastra Arab, baik dari segi isi maupun dari gaya ungkapnya. 
Penerjemahan itu mengakibatkan dua hal yang sangat penting : yaitu pindahnya bangsa Arab dari kehidupan bergaya Badui kepada kehidupan Modern dan keterlibatan orang bukan Arab dalam bidang penulisan sastra Arab.

Para pengikut nasionalisme yang menganggap bangsa bukan Arab lebih unggul dari bangsa Arab, telah gagal memberikan kesan bahwa kedudukan bahasa Arab sangat rendah. Mereka juga mengakui bahwa bahasa Al – quran milik orang muslim (apapun bahasa asli mereka) dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hakikat Islam. Akan tetapi, mereka menolak bahwa kaidah – kaidah bahasa Arab didasarkan atas apa yang dipakai oleh orang Arab badui. 

Karena tidak ada sama sekali bukti yang memperkuatnya, misalnya seorang penyair yang bersal dari mereka. Jeleknya, orang badui malah dijadikan penghujat bagi masalah yang muncul dalam bahasa. Bukti yang paling nyata, menurut mereka, adalah adanya penulis atau pelajar yang mengatakan bahwa dirinya telah berbicara seperti halnya orang badui. Meskipun demikian, kehidupan umat-khususnya sejak awal kekhalifahan Abbasiyah telah jauh dari kehidupan badui. Orang – orang yang berpengaruh dalam daulah itu, sebagian besar berasal dari Persia, tidak merasakan adanya hubungan emosional dengan kehidupan Arab, bahkan watak, nilai – nilai etika dan estetika pun berbeda. Orang – orang dinasti Abbasiyah, berkat kemampuan mereka sendiri, mampu berbicara seperti halnya orang badui. 

Akan tetapi, mereka tidak pernah mengisi pikiran mereka yang modern dan kaya itu dengan gaya ungkap bahasa lama. Oleh sebab itu meski diadakan perubahan yang sangat mendasar bagi model ungkapan bahasa Arab. Bahasa Arab harus dikembangkan sesuai perubahan yang terjadi dkehidupan umat. Itulah salah satu perubahan yang mungkin saja menyangkut pemikiran dan makna yang belum pernah terbertik dalam pikiran bangsa Arab terdahulu.

Ibn Al – Muqaffa adalah pakar dalam bidang yang satu ini. Dia menyisihkan bahasa Arab kuno, dan membangun gaya ungkap bahasa arab yang benar, mudah dan sederhana yang dapat mengungkapkan makna dan muatan katanya. Dia mengadakan revolusi besar besaran dalam bahasa Badui kuno, berikut kosakata yang sesuai dengan dunia modern. 
Dia melakukan penyederhanaan ( langsung kepada maksud ), penyusunan gramatikal yang jelas, selain menghindari pemakaian kata yang mengandung banyak arti, mengatur struktur pembicaraan, menghilangkan bentuk ungkapan takjub dan permintaan tolong serta memilih kata yang mudah dipahami dan menghindari setiap musykil yang terdapat dalam bahasa orang badui.

Ibn Al – Muqaffa berpendapat bahwa peniruan terhadap orang – orang terdahulu menjadi batu penghalang yang besar dalam perkembangan pemakaian ungkap baru. Karena itu dia memilih gaya ungkap yang bagus dan menarik, jelas, mudah dipahami dan gampang disampaikan. Dia menghindarkan diri dari tabiat kasar dan rumit orang – orang arab kuno, kemudian menggantinya dengan bahasa – bahaswa yang mudah, teratur dan jelas. Gaya bahasanya biasa, tetapi mudah dipahami. Dengan cepat, gaya bahasa Ibn Al – Muqaffa diikuti oleh banyak orang dan dipakai dalam dunia sastra oleh para sarjana, penulis di dunia Islam.

Kerena pendidikan Ibn Al – Muqaffa banyak diperoleh dari Persia, dia sendiri sangat condong kepada Persia dan ingin menghidupkan umatnya dengan menyebarkan sastra, politik dan sejarah mereka, maka tidak aneh bila buku – buku Ibn Al – Muqaffa adalah buku yang mula – mula dipengaruhi oleh sastra asing, dengan memperluas makna dan konsepnya.

Dia banyak menerjemahkan buku dari bahasa Persia kedalam bahasa Arab. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dialah yang pertama kali menyerukan penyatuan pemikiran yang tumbuh dari kerja sama, tanggung jawab, dan saling pengertian antar generasi, lintas waktu, diantara umat timur yang bermacam – macam. Hal yang sama kemudian direalisasikan oleh peradaban Islam dengan sangat baik setelah dia tiada yaitu, ketika peradaban Islam mulai hidup, kuat, dan sangat berpengaruh dalam kehidupan berbagai umat dan bangsa.

Keelokan hasil terjemahannya dapat dikatakan belum pernah ada pada jaman sebelum ataupun sesudahnya yang mampu menerjemahkan karya sastra kedalam bahasa Arab, yang tidak sama sekali bahwa karya sastra itu berasal dari bahasa Asing. Karya terjemahannya pertanda bahwa kedalaman bahasa Arab mudah dicerna dan enak dibaca.

Buku penting yng dia terjemahkan ialah Kalilah dan daminah yang mampu memasuki ruang kesadaran bangsa Arab dan mampu mempengaruhi pikiran mereka, sebuah kemampuan yang tidak dimiliki oleh buku – buku lainnya, selain Al – Quran dan buku Alf Laylah wa laylah. Buku itu di cetak berkali kali di dunia Arab sejak cetakan pertama hingga jaman kita sekarang ini. 


Di beberapa Negara, buku ini dijadikan sebagai buku wajib di sekolah, sehingga tidak ada satupun cendikiawan atau pelajar yang belum pernah menelaah atau membaca buku itu, sebagian atau keseluruhannya.

Buku kalilah dan daminah telah diterjemahkan kedalam lebih dari dua puluh bahasa. Semuanya kebanyakan diterjemahkan dari terjemahan dari bahasa Arab yang dilakukan oleh Ibn Al – Muqaffa. Banyak penulis yang sangat terpengaruh oleh ghaya sastra arab karena mengikuti Ibn Al – Muqaffa, baik dari segi gaya ungkap maupun cara mengkritik kondisi politik dan ketimpangan social pada masa itu, saat kebebasan mengungkapkan pendapat sudah tidak ada tempatnya.

Ibn Al – Muqaffa menginginkan agar dirinya memiliki kesempatan untuk mengungkapkan kondisi social politik yang bobrok pada masa pemerintahan Abbasiyah dengan cara membandingkannya dengan tatanan politik yang sangat bagus di Persia. Pemikirannya yang asli ini banyak membawa hasil yang baik. Dialah orang yang pertama kali menjelaskan bahwa kemuliaan Akhlak kadang kala datang dari pemikiran dan filsapat, selain datang dari agama. Menurut pendapatnya, orang – orang yang berakhlak, tingkah lakunya pasti sesuai dengan agama dan filsapat dia sangat bangga bahwa dia berakhlak karena berfilsafat ansich. Jika seseorang mau melakukan perbuatan yang mulia, pasti dirinya akan mencapai derajat yang tinggi dan terhormat. Kalaulah perbuatan mulia itu tidak dianjurkan oleh agama, manusia tetap harus melakukan perbuatan yang mulia.

Ibn Al – Muqaffa adalah cendikiawan yang beradab, bukan seorang ahli agama atau ulama. Jikapun tulisannya menyinggung persoalan berbicara tentang akhlak, dia memberi penjelasan dan uraian secara rasional saja. Hamper tidak pernah mempertahankan pendapatnya dengan memakai dalil dari ayat al – Quran ataupun hadist.

Ibn Al – Muqaffa dihukum mati pada saat khalifah Al – Manshur, karena dituduh ‘Zindiq’. Ada juga yang mengatakan bahwa dihukum mati akibat suratnya yang dikirim kepada khalifah yang dikenal dengan nama ‘ Risalah al shahabah’. Surat itu mengkritik tatanan hukum yang berlaku saat itu, selain menunjukan jalan keluar untuk memperbaiki tatanan yang abruk itu. Dia dijatuhi hukuman mati ketika berusia 36 tahun. Masih muda.


Peninggalannya

Telah sampai kepada kita prosa-prosa Ibnu Al-Muqaffa’ salah-satunya al-Adab ash-Shaghir wa al-Adab al-Kabir, menjelaskan bahwa kemuliaan akhlak kadangkala datang dari pemikiran dan filsafat, selain datang dari agama. Menurut pendapatnya, orang-orang yang berakhlak, tingkah lakunya pasti sesuai dengan agama dan filsafat. Dia sangat bangga melakukan perbuatan yang mulia, pasti dirinya akan mencapai derajat yang tinggi dan terhormat. Kalaulah perbuatan mulia itu tidak dianjurkan oleh agama, manusia tetap melakukan perbuatan mulia.

Ibnu Al-Muqaffa’ di dalam adab shaghirnya menyalin kitab-kitab sebelumnya dari perbedaan bangsa-bangsa yang lain, dan di antara keduanya di temukan dalam adab kabir pengarangnya memiliki tujuan yang jelas yaitu menyelesaikan jawaban sebelumnya dari sesuatu hal yang menghilangkan pertimbangan, Ada juga yang mengatakan bahwa dia dihukum mati akibat suratnya yang dikirim kepada khalifah yang dikenal dengan nama ‘Risalah al-shahabah’. Surat itu mengkritik tatanan hukum yang berlaku saat itu, selain menunjukkan jalan keluar untuk memperbaiki tatanan yang ambruk itu. 

Seperti yang di salin kepada kebudayaan arab banyak pengaruhnya kepada prosa-prosa Persia, tetapi belum sampai kepada kita Kalilah wa Dimnahyang menjadi kitab-kitab tersohornya,Di samping itu, Ibn al-Muqaffa’ juga menulis kitabMazdak, at-Taj fi Sirah Anusyirwan, Jawami’ Kalilah wa Dzimnah, al-Yatimah, dan al-Adab ash-Shaghir wa al-Adab al-Kabir. Kitab yang terakhir disebutkan, yaitu al-Adab ash-Shagir wa al-Adab al-Kabir adalah risalah yang memuat petuah-petuah moral. Petuah-petuah tersebut diambil Ibnu Al-Muqaffa’ dari kata-kata bijak orang-orang terdahulu yang sangat berguna untuk membersihkan hati dan menghidupkan pemikiran.

Derajat dalam Kesusastraannya

Ibnu Al-Muqaffa’ adalah orang kedua yang menemukan metode pertama dalam penulisan karya sastra arab, dan yang pertamanya yaitu abdul hamid bin yahya. Dan uslubnya itu mempunyai keunggulan karena di dalamnya terdapat kehususan  tertentu yang jelas di antaranya adalah majaz, dalam perkataanya dia sering menggunakan kalimat majazi:

شربت من الخطب ريا ولم أضبط لها روِيا

Selain majaz dia juga menggunakan uslub mantiq dan dia menyampaikannya dalam bentuk hikmah dan perumpamaan dengan tujuan untuk membantu dalam kebaikan.

Dan dia mempunyai keutamaan terbesar dalam menyampaikan cara penulisan bahasa arab dengan beragam kebudayaan asing yang masih ada, maka dengan demikian muncullah pemikiran kebudayaan arab yang sederhana.

Banyak para penyair dan para penulis yang mendapat pengaruh dari ibnu al-mugaffa baik itu dari pemikirannya, cara memaknainya ataupun dari metode penulisannya bahkan sampai saat ini kita masih menemukan kitab Modern yang cara penulisannya serupa.


Prosanya Dalam hal kesabaran

Ketahuilah bahwasanya sabar itu ada dua:

Pertama Kesabaran seseorang atas apa yang menimpanya dari kesulitan, dan 

Kedua kesabaran seseorang atas apa yang menimpanya dari yang ia senangi.

Dan kesabaran yang terbesar adalah kesabaran yang menuimpanya dari kesulitan dan kebanyakan kesabaran yang seperti itu terjadi atau datang secara tiba-tiba. Dan ketahulah bahwasanya yang rendah itu adalah yang paling sabar secara fisik, dan yang mulya itu adalah mereka yang paling sabar hatinya. Kesabaran yang terpuji itu bukanlah kekuatan yang menerima pukulan dari lelaki atau yang kakinya kuat untuk berjalan atau tangannya yang kuat untuk bekerja, akan tetapi itu merupakan salah satu sifat keledai.

Dan kesabaran terpuji itu adalah apabila seseorang dapat memperoleh kemenangan dari dirinya sendiri  dan banyak mensyukuri segala perkara dan dalam keadaan  darurat dia masih bias melakukan kebaikan yang di pandang baik di mata orang-orang yang berakal, dan ketika dia emosi dia bias menahannya, dia juga unggul dalam memberikan nasehat, tidak mengikuti hawa nafsunya danketika dia mengharapkan suatu kebaikan maka dia tak kenal lelah, dan dia mempersiapkan dirinya untuk melawan hawa nafsu dan membatasi pandangannya sesuai dengan kekuatan hatinya.

Demikian lah sedikit coretan alfaqir tentang tokoh peletak dasar terjemahan bahasa.. yang mana dari Ibnu Al Muqoffa berkembang secara pesat penerjemahan Kitab (buku) dalam berbagai bahasa sampai saat ini.
Semoga bermanfaat.

 

Doa Nabi Sulaiman Menundukkan Hewan dan Jin

  Nabiyullah Sulaiman  'alaihissalam  (AS) merupakan Nabi dan Rasul pilihan Allah Ta'ala yang dikaruniai kerajaan yang tidak dimilik...