Senin, 01 November 2021

Mimpi Bertemu Rosululloh SAW Pasti Benar


Sebagai seorang Muslim sudah pasti ada pada dirinya perasaan cinta kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam,

Namun kadar rasa cinta tersebut berbeda antara satu dengan yang lain. Kata cinta bukan hanya hiasan kata-kata di bibir, tetapi harus dibuktikan dalam tindakan dan perbuatan sehari-hari. Rasa cinta kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam wajib dimiliki oleh setiap Muslim, bahkan melebihi cinta kepada orang tua, anak dan isteri.

Allah berfirman:

النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ

Nabi (itu) lebih utama bagi orang-orang Mukmin daripada diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. [al-Ahzab/33:6]

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Dari Anas Radhiyallahu anhu ia berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda Shallallahu ‘alaihi wa sallam:: “Tidaklah beriman salah seorang kalian sampai aku lebih dicintainya dari orang tuanya, anaknya dan manusia seluruhnya.” [Muttafaq `alaihi]

Para Ulama menjelaskan bahwa cinta kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam terbagi kepada dua tingkatan:

Tingkat Pertama : Cinta yang wajib terdapat pada setiap pribadi Muslim. Ia merupakan dasar keimanan seseorang. Yaitu keridhaan menerima dengan sepenuh hati ajaran yang dibawa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dengan disertai rasa cinta dan pengagungan, serta tidak mencari petunjuk di luar petunjuk Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam . Kemudian menta’ati perintahnya, meninggalkan larangannya, mempercayai segala beritanya dan membela agamanya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Tingkat Kedua : Cinta yang melebihi dari tingkat sebelumnya. Yaitu cinta yang membawa kepada sikap yang menjadikan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam sebagai satu-satunya figur atau qudwah dalam segala segi kehidupan. Mulai dari menghidupkan sunnah-sunnah beliau, baik dalam bentuk kualitas maupun kuantitas. Demikian pula, dalam berakhlak dan budi pekerti terhadap keluarga, karib-kerabat, tetangga dan masyarakat. Sampai dalam hal adab-adab sehari-hari lainnya seperti dalam berpakaian, makanan-minum, buang hajat dan tidur.

Sifat-sifat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam selalu hadir dalam benaknya dan senantiasa ia jadikan sebagai teladan dalam kehidupannya sehari-hari, hingga cinta tersebut membuatnya benar-benar rindu ingin bertemu Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dan bersedia menebus perjumpaannya dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dengan keluarga dan hartanya.

Sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ « مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِيْ لِيْ حُبًّا نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِيْ يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِى بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ »

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Umatku yang amat sangat mencintaiku adalah manusia yang datang setelahku, salah seorang mereka berkeinginan seandainya ia dapat melihatku meskipun dengan (mengorbankan) keluarga dan hartanya”.

Salah seorang mengungkapkan perasaannya di hadapan al-Miqdâd bin al-Aswad, sebagaimana terdapat dalam kisah berikut:

عَنْ جُبَيْرٍ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِيْهِ قاَلَ جَلَسْنَا إِلَى الْمِقْدَادِ بْنِ اْلأَسْوَدِ يَوْماً فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ فَقَالَ: طُوْبَىْ لِهَاتَيْنِ الْعَيْنَيْنِ اللَّتَيْنِ رَأَتاَرَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللهِ لَوَدَدْناَ أَناَّ رَأَيْناَ مَا رَأَيْتَ وَشَهِدْناَ مَا شَهِدْتَ

Jubair bin Nufair meriwayatkan dari bapaknya, ia berkata: ” Pada suatu hari, kami duduk di dekat Miqdâd bin al-Aswad. Lalu seseorang lewat sambil berkata (kepada al-Miqdâd): “Kebaikanlah bagi dua mata ini yang melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.” (Jubair menanggapi): “Demi Allah, kami berkeinginan melihat apa yang engkau lihat, dan menyaksikan apa yang engkau saksikan”. [HR Bukhâri dalam Adâbul Mufrad dan dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni]

Barangkali perasaan seperti di atas banyak orang yang mengaku memilikinya, tetapi sikap dan tingkah lakunya sendiri sangat jauh berseberangan dengan apa yang diakuinya. Atau amalan-amalannya jauh dari sunnah, bahkan amat nyata bertolak belakang dengan ajaran yang dibawa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam, penuh dengan kesyirikan dan bid’ah. Tentu hal yang demikian sudah pasti menodai cintanya kepada Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam. Karena rasa cinta harus diiringi dengan amalan yang sesuai dengan tata cara yang dicontohkan dan diajarakan serta dilakukan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.

Orang-orang yang benar-benar cinta kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, sekalipun mata kepalanya tidak dapat melihat sifat fisik Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam secara nyata waktu di dunia, namun sifat-sifat, tuntunan dan ajaran beliau selalu hadir dalam pandangan mata hatinya; maka Allah k akan mengumpulkan orang tersebut bersama orang yang dicintainya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَقُولُ فِي رَجُلٍ أَحَبَّ قَوْمًا وَلَمْ يَلْحَقْ بِهِمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Dari `Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, lalu ia bertanya: “Ya Rasulullah! Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang mencintai suatu kaum dan ia tidak berjumpa dengan mereka?” Jawab Rasulullah: “Seorang manusia (akan dikumpulkan) bersama orang yang dicintainya” [Muttafaq `alaihi]

Kadangkala seorang Mukmin yang memiliki rasa cinta dan rindu bertemu Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Allah memberi karunia kepadanya mimpi bertemu Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam waktu di dunia. Namun, bermimpi bertemu Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam sering disalah-gunakan oleh sebagian orang dalam mencapai maksud dan tujuan tertentu.

Berbagai warna bentuk penyimpangan dalam masalah bermimpi bertemu Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sering kita temui dalam kehidupan kita. Seperti ada yang mengaku mimpi bertemu Nabi dengan pengakuan dusta sebagai modal untuk mengelabui orang dan mencari popularitas di kalangan pengikutnya. Padahal, ia sama sekali tidak bermimpi melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallm.

Sebagian lagi, ada yang mengaku menerima ajaran tertentu atau metode baru dalam beribadah saat bermimpi bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sebagian yang lain mengaku mendapat do’a atau dzikir dan salawatan tertentu dalam mimpi bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ada pula yang bermimpi sekedar melihat seseorang berpakaian serba putih dan pakai surban, sudah langsung diprediksi bahwa ia bermimpi melihat Nabi. Dan ada lagi yang melakukan wirid-wirid tertentu untuk bermimpi bertemu Nabi, padahal tidak pernah ada anjuran atau tuntunannya dalam syari’at. Atau menganggap orang yang mimpi bertemu Nabi berhak di klaim sebagai wali, serta dapat memberi berkah. Atau setelah bermimpi, mengaku bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan terjaga.

Agar kita selamat dari penyimpangan-penyimpangan ini. Maka selayaknya kita menyimak penjelasan Ulama tentang hal ini? Oleh sebab itu, bahasan kali ini sengaja mengangkat seputar pembahasan mimpi bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

MUNGKINKAN MIMPI BERTEMU NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM? DAN APA HAKEKATNYA?

Termaktub dalam hadits :

حَدََّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ عَنْ يُونُسَ عَنْ الزُّهْرِيِّ حَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ وَلَا يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِي قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ قَالَ ابْنُ سِيرِينَ إِذَا رَآهُ فِي صُورَتِهِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan telah mengabarkan kepada kami Abdullah dari Yunus dari Az Zuhri telah menceritakan kepadaku Abu Salamah, bahwasanya Abu Hurairah mengatakan, aku mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:“Barangsiapa melihatku dalam tidur, maka (seakan-akan) ia melihatku ketika terjaga, (karena) setan tidak bisa menyerupaiku.”. Abu Abdullah mengatakan, Ibnu Sirin mengatakan; ‘Maksudnya jika melihat Beliau dengan bentuk (asli) Beliau.’

Dengan hadits semacam ini, klaim-klaim perjumpaan dengan nabi diobral. Padahal dalam memahami hadits, apalagi terkait suatu tema, diperlukan cara yang selektif dan kritis dalam menggali kesimpulan tentang suatu hadits.

Hadits dengan lafadh tersebut diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6993 dan darinya Al-Baghawiy dalam Al-Anwaar fii Syamaailin-Nabiy hal. 785 no. 1257 : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdaan : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah, dari Yuunus, dari Az-Zuhriy : Telah menceritakan kepadaku Abu Salamah : Bahwasannya Abu Hurairah berkata : Aku pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ، وَلَا يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِي

“Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan terjaga. Setan tidaklah bisa menyerupai diriku”.

Hadits dengan lafadh demikian berasal dari jalan ‘Abdullah bin Al-Mubaarak.

‘Abdullah bin Al-Mubaarak bin Waadlih Al-Handhaliy At-Tamiimiy, Abu ‘Abdirrahmaan Al-Marwaziy; seorang yang tsiqah, tsabat, faqiih, lagi ‘aalim. Termasuk thabaqah ke-8, lahir tahun 118 H, dan wafat tahun 181 H. Dipakai Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 540 no. 3595].

‘Abdullah bin Al-Mubaarak mempunyai mutaba’ah dari :

1.     ‘Abdullah bin Wahb.

Diriwayatkan juga oleh Muslim no. 2266 (11), Abu Daawud hal. 908 no. 5023, Al-Baihaqiy dalam Dalaailun-Nubuwwah 7/45, Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah 12/227 no. 3288, dan ‘Aliy bin Al-Hasan Al-Khala’iy dalam Al-Khal’iyyaat no. 22; namun ia membawakan dengan lafadh yang menunjukkan adanya keraguan dari perawi :

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ، أَوْ لَكَأَنَّمَا رَآنِي فِي الْيَقَظَةِ، لَا يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِي

“Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, ia akan melihatku dalam keadaan terjaga atau seakan-akan ia telah melihatku dalam keadaan terjaga. Setan tidaklah bisa menyerupai diriku”.

Sanad riwayat ini shahih.

‘Abdullah bin Wahb bin Muslim Al-Qurasyiy Al-Fihriy, Abu Muhammad Al-Mishriy Al-Faqiih; seorang yang tsiqah, haafidh, lagi ‘aabid. Termasuk thabaqah ke-9, lahir tahun 125 H, dan wafat tahun 194 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 556 no. 3718].

2.     Anas bin ‘Iyaadl.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan 13/416 no. 6051 dengan lafadh :

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ، فَقَدْ رَأَى الْحَقَّ

“Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, sungguh ia telah melihat kebenaran (yaitu : benar-benar melihat beliau dalam wujud sebenarnya)”.

Sanad riwayat ini hasan atau shahih.

Hisyaam bin ‘Ammaar bin Nushair bin Maisarah bin Abaan As-Sulamiy Abul-Waliid Ad-Dimasyqiy; seorang yang tsiqah atau shaduuq. Termasuk thabaqah ke-10, lahir tahun 153 H, dan wafat tahun 245 H. Dipakai Al-Bukhaariy, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [lihat : Al-Kaasyif 2/337 no. 5973 danTaqriibut-Tahdziib, hal. 1022 no. 7353].

Yuunus bin Yaziid Al-Ailiy dalam periwayatan dari Az-Zuhriy mempunyai mutaba’aat dari :

a.     Muhammad bin ‘Abdillah Az-Zuhriy (keponakan Az-Zuhriy).

Ahmad 5/306 (37/291) no. 22606, Muslim no. 2267, Ibnu Syaadzaan dalam Al-Masyyakhah no. 13, Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad 1/363 no. 615, dan Al-Qadlaa’iy dalam Mu’jamu Ashhaab Al-Qaadliy Abu ‘Aliy Ash-Shadafiy no. 169; dengan lafadh yang menunjukkan adanya keraguan dari perawi sebagaimana di atas.

Sanad riwayat ini hasan.

Muhammad bin ‘Abdillah bin Muslim bin ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin Syihaab Al-Qurasyiy Az-Zuhriy, Abu ‘Abdillah Al-Madaniy; seorang yang shaduuq, namun mempunyai beberapa keraguan. Termasuk thabaqah ke-7, dan wafat tahun 152 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 866 no. 6089].

b.     ‘Uqail bin Khaalid Al-Ailiy

Diriwayatkan oleh Ibnul-Muqri’ dalam Mu’jam-nya hal. 183 no. 982 dan Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad 11/578; dengan lafadh yang menunjukkan adanya keraguan dari perawi sebagaimana di atas.

Sanad riwayat ini lemah karena faktor perawinya yang bernama Salaamah bin Rauh dan Muhammad bin ‘Uzaiz Al-Ailiy.

Salaamah bin Rauh bin Khaalid Al-Qurasyiy Al-Umawiy, Abu Rauh Al-Ailiy; seorang yang dla’iif. Termasuk thabaqah ke-9, dan wafat tahun 197 H/198 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy secara mu’allaq, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 426-427 no. 2728 dan Tahriirut-Taqriib 2/98 no. 2713].

Muhammad bin ‘Uzaiz bin ‘Abdillah bin Ziyaad Al-Ailiy, Abu ‘Abdillah maulaa Bani Umayyah; padanya terdapat kelemahan, para ulama membicarakan tentang keshahihan penyimakan riwayatnya dari pamannya, Salaamah’. Termasuk thabaqah ke-11, dan wafat tahun 267 H. Dipakai oleh An-Nasaa’iy dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 878 no. 6179].

‘Uqail bin Khaalid bin ‘Uqail Al-Ailiy, Abu Khaalid Al-Umawiy; seorang yang tsiqah lagi tsabat. Termasuk thabaqah ke-6, wafat tahun 144 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 687 no. 4699].

c.      Muhammad bin Al-Waliid Az-Zubaidiy.

Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Asy-Syaamiyyiin 3/28 no. 1739 dengan lafadh yang menunjukkan adanya keraguan dari perawi sebagaimana di atas.

Sanad riwayat ini lemah karena faktor Ibraahiim bin Muhammad bin ‘Irq, seorang yang majhuul al-haal [Irsyaadul-Qaadliy wad-Daaniy, hal. 70-71 no. 33].

Muhammad bin Al-Waliid bin ‘Aamir Az-Zubaidiy, Abul-Hudzail Al-Himshiy; seorang yang tsiqah lagi tsabat. Termasuk thabaqah ke-7, dan wafat tahun 146 H/147 H/149 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 905 no. 6412].

Ibnu Syihaab Az-Zuhriy dalam periwayatan dari Abu Salamah mempunyai mutaba’ah dari Muhammad bin ‘Amru Al-Laitsiy sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad 2/261 (12/513-514) no. 7553 & 2/425 (15/296) no. 9488 dan Ibnu Hibbaan 13/417 no. 6052; dengan lafadh :

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ، فَقَدْ رَأَى الْحَقَّ، إِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَشَبَّهُ بِي

“Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, sungguh ia telah melihat kebenaran (yaitu : benar-benar melihat beliau dalam wujud sebenarnya)”.

Sanad riwayat ini hasan.

Muhammad bin ‘Amru bin ‘Alqamah bin Waqqaash Al-Laitsiy Abu ‘Abdillah/Abul-Hasan Al-Madaniy; seorang yang shaduuq. Termasuk thabaqah ke-6, dan wafat tahun 145 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 884 no. 6228 dan Tahriirut-Taqriib, 3/299 no. 6188].

Abu Salamah dalam periwayatan dari Abu Hurairah mempunyai mutaba’aat dari :

1.     Abu Shaalih.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 110 & 6197, Ahmad 1/400 (6/347) no. 3798 & 2/410 (15/182) no. 9316 & 2/463 (16/44) no. 9966 & 2/469 (16/89-90) no. 10055, At-Tirmidziy  dalam Syamaailun-Nabiy hal. 221 no. 407, Ibnu Abi Syaibah 11/55 (16/33) no. 31107, Ath-Thayaalisiy 4/170 no. 2542, Tamaam Ar-Raaziy dalam Al-Fawaaid no. 591, Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad 1/364 no. 616-617, dan Abul-Hasan bin Thalhah dalam Al-Fawaaid no. 14; semuanya dari jalan Abu Hushain, dari Abu Shaalih, dari Abu Hurairah secara marfuu’ dengan lafadh :

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ، فَقَدْ رَآنِي فِي الْيَقَظَةِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ عَلَى صُورَتِي

“Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, sungguh ia (seperti) melihatku dalam keadaan sadar, karena setan tidak dapat menyerupai bentukku”.

Sanad riwayat ini shahih, para perawi tsiqaat.

Dzakwaan, Abu Shaalih As-Sammaan Al-Madaniy; seorang yang tsiqah  lagi tsabat.  Termasuk thabaqah ke-3, dan wafat tahun 101 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 313 no. 1850].

Abu Hushain adalah ‘Utsmaan bin ‘Aashim bin Hushain, Abu Hushain Al-Asadiy Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah lagi tsabat. Termasuk thabaqah ke-4, dan wafat tahun 128 H/129 H/132 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 664 no. 4516].

2.     Muhammad bin Siiriin.

Diriwayatkan oleh Muslim no 2266 (10), At-Tirmidziy 4/123 no. 2280, Ahmad 2/411 (15/188) no. 9324, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath 2/291 no. 954 & 8/74 no. 8005, dan Al-Qaasim bin Muusaa dalam Juuz-nya no. 68; semuanya dari jalan Muhammad bin Siiriin, dari Abu Hurairah secara marfuu’ dengan lafadh :

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ، فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي

“Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, sungguh ia telah melihatku karena setan tidak bisa menyerupaiku”.

Sanad riwayat ini shahih.

Muhammad bin Siiriin Al-Anshaariy, Abu Bakr bin Abi ‘Amrah Al-Bashriy;  seorang tabi’iy masyhur,  tsiqah, lagi tsabat. Termasuk thabaqah ke-3, dan wafat tahun 110 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 853 no. 5985].

3.     ‘Abdurrahmaan bin Ya’quub Al-Juhhaniy.

Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah 5/406 no. 3901, Abu Ya’laa 11/372 no. 6488 & 11/405 6530, Ismaa’iil bin Ja’far dalam Hadiits-nya no. 246, Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad 1/1011 no. 1854, dan Syaibaan bin Farruukh dalam Juuz-nya no. 62; semuanya dari jalan Al-‘Alaa’ bin ‘Abdirrahmaan, dari ayahnya, dari Abu Hurairah secara marfuu’ dengan lafadh :

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ، فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي

“Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, sungguh ia telah melihatku karena setan tidak bisa menyerupaiku”.

Sanad riwayat ini shahih.

‘Abdurrahmaan bin Ya’quub Al-Juhhaniy Al-Madaniy, maulaa Al-Huraqah; seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-3. Dipakai oleh Al-Bukhaariy dalam Juz’ul-Qiraa’ah, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 605 no. 4073].

Al-‘Alaa’ bin ‘Abdirrahmaan bin Ya’quub Al-Huraqiy, Abu Syibl Al-Madaniy; seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-5, dan wafat tahun 130-an H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy dalam Juz’ul-Qiraa’ah Khalfal-Iimaam, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 761 no. 5286, Irwaul-Ghaliil 5/292, Tahriirut-Taqriib, 3/129-130 no. 5247, dan Natslun-Nabaal, hal. 969 no. 2332].

4.     Kulaib bin Syihaab Al-Jarmiy.

Diriwayatkan oleh Ahmad 2/232 (12/87-88) no.7168 & 2/342 (14/200) no. 8508, At-Tirmidziy dalam Syamaailun-Nabiy hal. 222 no. 409, Ishaaq bin Rahawaih dalam Al-Musnad 1/287 no. 261, Ibnu Syabbah dalam Taariikh Madiinah (Takhriij wa Diraasah Al-Ahaadiitsil-Marfuu’ah  fii Kitaab Akhbaaril-Madiinah) hal. 568 no. 733, Al-Haakim 4/393, ‘Affaan bin Muslim dalam Al-Ahaadiits no. 136,dan Ibnul-A’raabiy dalam Mu’jam-nya hal. 76 no. 110; semuanya dari jalan ‘Aashim bin Kulain, dari ayahnya, dari Abu Hurairah secara marfuu’ dengan lafadh :

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لا يَتَمَثَّلُنِي

“Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, sungguh ia telah melihatku karena setan tidak bisa menyerupaiku”.

Sanad riwayat ini shahih.

Kulaib bin Syihaab bin Al-Majnuun Al-Jarmiy Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah. Ia telah ditsiqahkan oleh Abu Zur’ah, Ibnu Sa’d, dan Ibnu Hibbaan. Termasuk thabaqah ke-2. Dipakai oleh Al-Bukhaariy dalam Juz’u Raf’il-Yadain, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqribut-Tahdziib hal. 813 no. 5696 dan Tahdziibut-Tahdziib, 8/445-446 no. 808].

‘Aashim bin Kulaib bin Syihaab bin Al-Majnuun Al-Jarmiy. Ibnu Hajar berkomentar : “Shaduuq, dituduh berpemahaman irjaa’”. Termasuk thabaqah ke-5, dan wafat tahun 137 H. Al-Bukhaariy secara mu’allaq, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 473 no. 3092]. Namun yang benar ia seorang yang tsiqah. Telah ditsiqahkan oleh Ibnu Ma’in, An-Nasaa’iy, Ibnu Hibbaan, Ibnu Syaahiin, Ahmad bin Shaalih Al-Mishriy, dan Ibnu Sa’d. Ahmad bin Hanbal berkata : “Tidak mengapa dengan haditsya”. Abu Haatim berkata : “Shaalih”. Abu Daawud berkata : “Ia orang yang paling utama di kota Kuufah” [selengkapnya lihat : Tahdziibut-Tahdziib, 5/55-56 no. 89].

Abu Hurairah mempunyai syawaahid dari :

1.     Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6994, Ahmad 3/269 (21/339) no. 13849, At-Tirmidziy dalam Syamaailun-Nabiy hal. 224 no. 413, Abu Ya’laa 6/41 no. 3285, ‘Affaan bin Muslim dalam Al-Ahaadiits no. 297, Ibnu Abi Syaibah 11/56 (16/34) no. 31110, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath 4/115 no. 3752, Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliyaa’ 2/330, Al-Baihaqiy dalam Dalaailun-Nubuwwah 7/46, Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah 12/225-226 no. 3286 dan dalam Al-Anwaar fii Syamaailun-Nabiy hal. 783 no. 1254, dan Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid 1/282-283; semuanya dari jalan ‘Abdul-‘Aziiz bin Al-Mukhtaar, dari Tsaabit, dari Anas secara marfuu’ dengan lafadh :

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَخَيَّلُ بِي، وَرُؤْيَا الْمُؤْمِنِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ

“Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, sungguh ia telah melihatku karena setan tidak dapat menyerupai diriku. Mimpi seorang mukmin adalah sebagian dari empatpuluh enam bagian kenabian”.

Sanad riwayat ini shahih.

‘Abdul-‘Aziiz bin Al-Mukhtaar Al-Anshaariy, Abu Ishaaq/Abu Ismaa’iil Ad-Dabbaagh Al-Bashriy; seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-7. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 615 no. 4148].

Tsaabit bin Aslam Al-Bunaaniy, Abu Muhammad Al-Bashriy; seorang yang tsiqah lagi ‘aabid. Termasuk thabaqah ke-4, wafat tahun 123 H/127 H. Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 185 no. 818].

2.     Jaabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu.

Diriwayatkan oleh Muslim no. 2268, Ibnu Maajah 5/406-407 no. 3902, Ahmad 3/350 (23/93-94) no. 14779, An-Nasaa’iy dalam Al-Kubraa 7/106 no. 7582, Ibnu Abi Syaibah 11/56 (16/34) no. 31109, Abu Ya’laa 4/180 no. 2262, ‘Abd bin Humaid 2/148 no. 1044, Asy-Syammaa’  dalam Ats-Tsabt no. 10, Abu Jahm Al-Baghdaadiy dalam Juuz-nya no. 3, Abu ‘Abdillah Al-Muadzdzin dalam Al-Fawaaid no. 38, Asy-Syahaamiy dalam As-Sibaa’iyyaat no. 200, Al-Hasan bin Ahmad Al-Haddaa dalam Mu’jamul-Masyaikh  no. 28, Adz-Dzahabiy dalam Mu’jamusy-Syuyuukh 1/61,  dan Qaasim Qathluubaghaa dalam ‘Awaaliy Al-Laits bin Sa’d no. 32; dari dua jalan (Al-Laits bin Sa’d dan Zakariyyaa bin Ishaaq), dari Abuz-Zubair, dari Jaabir secara marfuu’ dengan lafadh :

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ، فَقَدْ رَآنِي، إِنَّهُ لَا يَنْبَغِي لِلشَّيْطَانِ أَنْ يَتَمَثَّلَ فِي صُورَتِي

“Barangsiapa yang melihatku di dalam mimpi, sungguh ia telah melihatku karena setan tidak bisa menyerupai bentukku”.

Sanad riwayat ini shahih.

Al-Laits bin Sa’d bin ‘Abdirrahmaan Al-Fuhmiy, Abul-Haarits Al-Mishriy; seorang yang tsiqah, tsabt,  faqiih, lagi imam. Termasuk thabaqah ke-7, lahir tahun 93/94 H, dan wafat tahun 175 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 817 no. 5720].

Zakariyyaa bin Ishaaq Al-Makkiy; seorang yang tsiqah,tertuduh berpemahaman qadariyyah. Termasuk thabaqah ke-6. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 338 no. 2031].

Muhammad bin Muslim bin Tadrus Al-Qurasyiy Al-Asadiy Abuz-Zubair Al-Makkiy; seorang yang tsiqah, namun sering melakukan tadlis. Termasuk thabaqah ke-4, wafat tahun 126 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 895 no. 6331].

3.     Abu Qataadah radliyallaahu ‘anhu.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6996, Muslim no. 2267 (11), At-Tirmidziy dalam Syamaailun-Nabiy hal. 223-224 no. 412, Ad-Daarimiy hal. 1360 no. 2186, Ibnul-Muqri’ dalam Mu’jam-nya hal. 183 no. 983, Al-Baihaqiy dalam Dalaailun-Nubuwwah 7/45, Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad 1/363 no. 615, Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah 12/226 no. 3287 dan dalam Al-Anwaar fii Syamaailin-Nabiy hal. 784no. 1255-1256, Ibnu Jaushaa’ dalam Juuz-nya no. 4, Al-Qadlaa’iy dalam Mu’jamu Ashhaab Al-Qaadliy Abu ‘Aliy Ash-Shadafiy no. 170, dan ‘Aliy bin Al-Hasan Al-Khala’iy dalam Khal’iyyaat no. 23; semuanya dari jalan Az-Zuhriy, dari Abu Salamah, dari Abu Qataadah secara marfuu’ dengan lafadh :

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ، فَقَدْ رَأَى الْحَقَّ

“Barangsiapa yang melihatku di dalam mimpi, sungguh ia melihat kebenaran (yaitu : benar-benar melihat beliau dalam wujud sebenarnya)”.

Sanad riwayat ini shahih.

Muhammad bin Muslim bin ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin Syihaab bin ‘Abdillah Al-Qurasyiy Az-Zuhriy, Abu Bakr Al-Madaniy; seorang yang tsiqah, faqiih,  hafiidh, lagi mutqin. Termasuk thabaqah ke-4, wafat tahun 125 H, atau dikatakan sebelumnya. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 896 no. 6336].

Abu Salamah bin ‘Abdirrahmaan bin ‘Auf Al-Qurasyiy Az-Zuhriy Al-Madaniy; seorang yang tsiqah lagi banyak haditsnya. Termasuk thabaqah ke-3, da wafat tahun 94 H dalam usia 72 tahun). Dipakai Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1155 no. 8203].

4.     Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6997, Ibnu Maajah 5/407 no. 3903, Ahmad 3/55 (18/82-83) no. 11521-11522, Ibnu Abi Syaibah 11/56 (16/34-35) no. 31111, Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil 5/391-392, Ath-Thabaraaniy dalam Ash-Shaghiir (Ar-Raudlud-Daaniy) 1/175-176 no. 277 dan dalam Al-Ausath 3/237-238 no. 3026, Muhammad Ar-Raaziy dalam Al-Masyyakhah no. 19, Abu ‘Abdillah Ar-Raaziy dalam Al-Masyyakhah hal. 114, Abu Bakr bin Al-Buhluul dalam Al-Amaaliy no. 20, dan Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad 8/63; dari tiga jalan (‘Abdullah bin Khabbaab, ‘Athiyyah Al-‘Aufiy, ‘Athaa’ bin Yasaar), semuanya dari Abu Sa’iid Al-Khudriy secara marfuu’ dengan lafadh :

مَنْ رَآنِي فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لا يَتَكَوَّنَنِي

“Barangsiapa yang melihatku (dalam mimpi), sungguh ia telah melihatku karena setan tidak bisa menjelma menjadi diriku”.

Riwayat ini shahih.

‘Abdullah bin Khabbaab Al-Anshaariy An-Najjaariy Al-Madaniy; seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-3, dan wafat setelah tahun 100 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 502 no. 3310].

‘Athiyyah bin Sa’d bin Janaadah Al-‘Aufiy Al-Jadaliy Al-Qaisiy Al-Kuufiy, Abul-Hasan; seorang yang shaduuq, banyak salahnya, orang Syi’ah lagi mudallis. Termasuk thabaqah ke-3, dan wafat tahun 111 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul-Mufrad, Abu Daawud, At-Tirmidziy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 680 no. 4649 – Tahriirut-Taqriib 3/20 no. 4616].

‘Athaa’ bin Yasaar Al-Hilaaliy, Abu Muhammad/’Abdillah/Yasaar Al-Madaniy; seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-2, dan wafat tahun  97 H/103 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 679 no. 4638].

5.     ‘Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu.

Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy dalam Al-Jaami’ 4/121 no. 2276 dan dalam Syamaailun-Nabiy hal. 221 no. 406, Ibnu Maajah 5/405 no. 3900, Ad-Daarimiy hal. 1359 no. 2185, Ahmad 1/375 (6/23-24) no. 3559 & 1/440 (7/249) no. 4193 & 1/450 (7/331) 4304, Al-Bazzaar dalam Al-Bahr 5/437no. 2074, Ibnu Abi Syaibah 11/55 (16/33) no. 31107 dan Al-Musnad 1/184 no. 266, Abu Ya’laa 9/161-162 no. 5250, Asy-Syaasyiy dalam Al-Musnad 2/176 no. 740-741, Al-Qathii’iy dalam Juuz-nya hal. 365, Asy-Syaasyiy dalam Al-Musnad 2/176 no. 739, Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliyaa’ 4/348 & 7/246, As-Sariy bin Yahyaa dalam Al-Ahaadiits no. 73, Abu ‘Aliy bin Syaadzaan dalam Hadiits-nya no. 17, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath 2/56 no. 1234, dan Al-Qusyairiy dalam Ar-Risaalah Al-Qusyairiyyah hal. 209; semuanya dari jalan Abu Ishaaq As-Sabii’iy, dari Abul-Ahwash, dari ‘Abdullah bin Mas’uud secara marfuu’ dengan lafadh :

مَنْ رَآنِي فِي مِنَامِهِ فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لا يَتَمَثَّلُ بِي

“Barangsiapa yang melihatku dalam mimpinya, sungguh ia telah melihatku karena setan tidak bisa menyerupai diriku”.

atau :

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ، فَقَدْ رَآنِي فِي الْيَقَظَةِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ عَلَى صُورَتِي

“Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, sungguh ia (seperti) melihatku dalam keadaan terjaga karena setan tidak bisa menyerupai bentukku”.

Sanad riwayat ini shahih.

‘Amru bin ‘Abdillah bin ‘Ubaid Al-Hamdaaniy, Abu Ishaaq As-Sabii’iy Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah, mukatstsir, lagi ‘aabid, namun mengalami  ikhtilaath di akhir hayatnya. Termasuk thabaqah ke-3, wafat tahun 129 H, atau dikatakan sebelum itu. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 739 no. 5100].

[Catatan : beberapa perawi dalam jalur periwayatan ini telah meriwayatkan darinya sebelum masa ikhtilathnya seperti : Israaiil dan Ats-Tsauriy].

Abul-Ahwash adalah : ‘Auf bin Maalik bin Nadhlah Al-Asyja’iy Al-Jusyamiy, Abul-Ahwash Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah.  Termasuk thabaqah ke-3.  Dipakai oleh Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul-Mufrad, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 758 no. 5253].

6.     Abu Juhaifah radliyallaahu ‘anhu.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy dalam At-Taariikh Al-Kabiir 4/294-295 no. 2880, Ibnu Maajah 5/407-408 no. 3904, Al-Bazzaar dalam Al-Bahr 10/160no. 4233, Abu Ya’laa 2/184-185 no. 881, Ibnu Hibbaan 13/417-418 no. 6053, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 22/111 no. 279-280 & 22/118 301, Tamaam Ar-Raaziy dalam Al-Fawaaid no. 1068, Ad-Daqqaaq dalam Al-Fawaaid no. 115, As-Samarqandiy dalam Al-Fawaaid no. 56, dan Al-Mizziy dalam Tahdziibul-Kamaal 13/141; semuanya dari jalan ‘Aun bin Juhaifah, dari ayahnya secara marfuu’ dengan lafadh :

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَكَأَنَّمَا رَآنِي فِي الْيَقَظَةِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَتَمَثَّلَ بِي

“Barangsiapa yang melihatku di dalam mimpi, seakan-akan ia telah melihatku dalam keadaan terjaga karena setan tidaklah mampu menyerupai diriku”.

Sanad riwayat ini shahih.

‘Aun bin Abi Juhaifah Wahb bin ‘Abdillah As-Suwaaiy Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-4 dan wafat tahun 116 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 758 no. 5254].

[Catatan : Riwayat ini merupakan salah satu qarinah pemastian salah satu lafadh keraguan perawi dari jalan Abu Hurairah yang disebutkan di awal].

7.     Thaariq bin Al-Asyyam radliyallaahu ‘anhu.

Diriwayatkan oleh Ahmad 3/472 (25/215) no. 15880 & 6/394 (45/187) no. 27208, Al-Bukhaariy dalam At-Taariikh Al-Kabiir 4/352 no. 3113, At-Tirmidziy dalam Syamaailun-Nabiy hal. 222 no. 408, Al-Bazzaar dalam Al-Bahr 7/201-202 no. 2773, Ibnu Abi Syaibah 11/55 (16/32) no. 31106,Ibnu Abi ‘Aashim dalam Al-Aahaad wal-Matsaaniy 3/21 no. 1305, Ath-Thabaraaniy dalam  Al-Kabiir 8/378-379 no. 8180, Ibnul-Qaani' dalam Mu’jamush-Shahaabah 2/47, Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad 11/217 & 12/222, Adl-Dliyaa’ dalam Al-Mukhtarah 8/99-101 no. 106-108, Abu ‘Abdillah An-Ni’aaliy dalam Al-Fawaaid no. 78,dan Al-Mizziy dalam Tahdziibul-Kamaal 13/336; semuanya dari jalan Khalaf bin Khaliifah, dari Abu Maalik Al-Asyja’iy, dari ayahnya secara marfuu’ dengan lafadh :

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي

“Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, sungguh ia telah melihatku”.

Sanad riwayat ini hasan.

Khalaf bin Khaliifah bin Shaa’id bin Baraam Al-Asyja’iy Abu Ahmad Al-Waasithiy Al-Kuufiy; seorang yang shaduuq, namun bercampur hapalannya di akhir usianya. Termasuk thabaqah ke-8, lahir tahun 91 H/92 H, dan wafat tahun 181 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul-Mufrad, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 299 no. 1741].

Sa’d bin Thaariq bin Asyyam Abu Maalik Al-Asyja’iy Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-4, dan wafat tahun 140 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy secara mu’allaq, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 369 no. 2253].

8.      ‘Abdullah bin ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa.

Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah 5/408 no. 3905, Ahmad 1/361 (5/388-389) no. 3410 & 1/279 (4/318) 2525, At-Tirmidziy dalam  Syamaailun-Nabi hal. 223 no. 410, Ibnu Abi Syaibah 11/56 (16/33-34) no. 31108, Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat 1/202, Ibnu Syabbah dalam Taariikh Madiinah (Takhriij wa Diraasah Al-Ahaadiitsil-Marfuu’ah  fii Kitaab Akhbaaril-Madiinah) hal. 561 no. 719, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 12/38 no. 12403 & 12/213 no. 12926, Ibnu ‘Asaakir dalamTaariikh Dimasyq 3/266, dan Adl-Dliyaa' dalam Al-Mukhtarah 11/411 no. 436.; dari dua jalan (Sa’iid bin Jubair dan Yaziid Al-Faarisiy), dari ‘Abdullah bin ‘Abbaas dengan lafadh :

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ، فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي

“Barangsiapa yang melihatku di dalam mimpi, sungguh ia telah melihatku karena setan tidak dapat menyerupai diriku”

atau :

إِنَّ الشَّيْطَانَ لا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَتَشَبَّهَ بِي، فَمَنْ رَآنِي فِي النَّوْمِ فَقَدْ رَآنِي

“Sesungguhnya setan tidak mampu menyerupai diriku. Maka barangsiapa melihatku di dalam mimpi, sungguh ia telah melihatku”.

Dua jalan tersebut terdapat kelemahan.

Jalan Sa’iid bin Jubair lemah karena faktor Jaabir Al-Ju’fiy. Jaabir bin Yaziid bin Al-Haarits bin ‘Abd Yaghuuts bin Ka’b Al-Ju’fiy Al-Kuufiy, Abu ‘Abdillah. Ibnu Hajar berkata : ”Lemah (dla’iif), Raafidliy”. Termasuk thabaqah ke-5, dan wafat tahun 127 H atau dikatakan tahun 132 H. Dipakai oleh Abu Daawud, At-Tirmidziy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 192 no. 886 – atau selengkapnya silakan baca biografinya pada Tahdziibul-Kamaal, 4/465-472 no. 879].

Jalan Yaziid Al-Faarisiy lemah karena faktor dirinya yang majhuul.

9.     Hudzaifah bin Yamaan radliyallaahu ‘anhu.

Diriwayatkan oleh Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad 9/287, namun sanadnya sangat lemah dikarenakan ia terkenal banyak meriwayatkan hadits-hadits munkar.

Diriwayatkan juga oleh Abu ‘Abdillah An-Ni’aaliy dalam Al-Fawaaid no. 55 dari jalan Al-Khathiib, namun ia menyandarkannya kepada hadits ‘Imraan bin Hushain.

Catatan : Salah satu nakaarah yang ada dalam riwayat ini adanya tambahan lafadh :

وَمَنْ رَأَى أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآهُ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لا يَتَمَثَّلُ بِهِ

“Barangsiapa yang melihat Abu Bakr Ash-Shiddiiq dalam mimpi, sungguh ia telah melihatnya karena setan tidak dapat menyerupai dirinya”.

10.   Al-Barraa’ bin ‘Aazib radliyallaahu ‘anhu.

Diriwayatkan oleh Ar-Ruuyaaniy 1/291 no. 435, Ad-Duulaabiy  dalam Al-Kunaa 1/309 no. 545, dan Ibnu ‘Asaakir dalam Taariikh Dimasyq 14/258; semuanya dari jalan Muhammad bin ‘Abbaas Ad-Duuriy, dari Yahyaa bin Abi Bukair, dari ‘Aliy Abu Ishaaq, dari ‘Aamir bin Sa’d Al-Bajaliy, dari Al-Barraa’ bin ‘Aazib secara marfuu’. Sanadnya lemah karena majhuul-nya ‘Aliy Abu Ishaaq.

11.   ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al-‘Aash radliyallaahu ‘anhumaa.

Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Asy-Syaamiyyiin 3/397 no. 2542 dan dalam Al-Ausath  1/320 no. 608, serta Ibnu ‘Asaakir dalam Taariikh Dimasyq 46/321; semuanya dari jalan Ibraahiim bin Al-‘Alaa’, dari Tsawaabah bin ‘Aun At-Tanuukhiy, dari ‘Amru bin Qais, dari ‘Abdullah bin ‘Amru secara marfuu’. Sanadnya lemah karena majhuul-nya Tsawaabah bin ‘Aun.

12.   Nafii’ bin Al-Haarits radliyallaahu ‘anhu.

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil 2/492-493, namun sanadnya sangat lemah dikarenakan Jubaarah Al-Himmaaniy dan Al-Hakam bin Dhuhair.

Jubaarah bin Al-Mughallis Al-Himmaaniy, Abu Muhammad Al-Kuufiy; seorang yang dla’iif. Termasuk thabaqah ke-10, dan wafat tahun 241 H di Kuufah. Dipakai oleh Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 194 no. 898].

Al-Hakam bin Dhuhair Al-Fazaariy, Abu Muhammad bin Abi Lailaa Al-Kuufiy; seorang yang matruuk. Termasuk thabaqah ke-8 dan wafat tahun 180 H. Dipakai oleh At-Tirmidziy [Taqriibut-Tahdziib, hal. 262 no. 1454].

13.   ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu.

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil 9/67 dan Ad-Daaruquthniy dalam Al-‘Ilal 3/170no. 336; dari jalan Abul-Az-har Ahmad bin Al-Az-har, dari Yahyaa bin Abil-Hajjaaj, dari Sufyaan Ats-Tsauriy, dari Abu Ishaaq, dari Al-Haarits, dari ‘Aliy secara marfuu’. Ad-Daaruquthniy men-ta’liil riwayat ini karena menyelisihi sejum;ah perawi tsiqaat yang meriwayatkan dari Sufyaan Ats-Tsauriy, dimana mereka meriwayatkan dari Sufyaan Ats-Tsauriy, dari Abu Ishaaq, dari Abul-Ahwash, dari ‘Abdullah bin Mas’uud.

14.   Maalik bin ‘Abdillah Al-Khats’amiy radliyallaahu ‘anhu.

Diriwayatkan juga oleh Ath-Thabaraaniy  dalam Al-Kabiir 19/296-297 no. 660.

Sanad riwayat ini lemah karena faktor Syuraih bin ‘Abdirrahmaan, majhuul.

15.   Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullah, mursal.

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq 11/215 no. 20363 dan Ibnu Abid-Dun-yaa dalam Al-Manaamaat hal. 92-93 no. 131.

Sanad riwayat ini lemah karena mursal.

16.   Qataadah rahimahullah, mursal.

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq 11/215-216 no. 20364.

Sanad riwayat ini lemah karena mursal. Selain itu riwayat Ma’mar dari Qataadah dilemahkan oleh sebagian ahli hadits.

Jika kita perhatikan hadits dengan keseluruhan jalannya, maka kita dapati lafadh ‘fasayaraanii fil-yaqdhah’ (ia akan melihatku dalam keadaan terjaga) adalah ghariib dari ‘Abdullah bin Al-Mubaarak. Adapun ‘Abdullah bin Wahb, ia membawakan riwayat dari Yuunus bin Yaziid dengan lafadh yang menunjukkan keraguan perawi : ‘Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, ia akan melihatku dalam keadaan terjaga atau seakan-akan ia telah melihatku dalam keadaan terjaga’. Keraguan ini berasal dari Az-Zuhriy, karena ashhaab-nya yang lain (Muhammad bin ‘Abdillah Az-Zuhriy, ‘Uqail bin Khaalid Al-Ailiy, dan Muhammad bin Al-Waliid Az-Zubaidiy) membawakan riwayat dari Az-Zuhriy dengan lafadh adanya keraguan. Oleh karena itu di sini terlihat bahwa ada kemungkinan ‘Abdullah bin Al-Mubaarak membawakan riwayat dengan peringkasan, wallaahu a’lam.

Dan yang terlihat dari keraguan Az-Zuhriy tersebut, maka yang benar dari keraguan tersebut adalah lafadh : ‘seakan-akan ia telah melihatku dalam keadaan terjaga’. Ini ditunjukkan dari lafadh hadits setelahnya, yaitu : ‘(Karena) setan tidak bisa menyerupai diriku’. Lafadh ini dikuatkan dalam lafadh-lafadh dari jalur lain yang maknanya berdekatan dengan lafadh ini, yaitu jika seseorang bermimpi bertemu dengan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka ia benar-benar bermimpi bertemu beliau dalam wujud aslinya, atau ia seperti bertemu dengan beliau dalam keadaan sadar – karena setan tidak bisa menyerupai bentuk atau rupa beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi. Silakan dilihat kembali lafadh dalam berbagai jalur periwayatan di atas. Apalagi lafadh hadits Abu Juhaifah radliyallaahu ‘anhu jelas mengatakan : “Barangsiapa yang melihatku di dalam mimpi, seakan-akan ia telah melihatku dalam keadaan terjaga karena setan tidaklah mampu menyerupai diriku”. Alhamdulillah, dengan demikian, akurasi lafadh hadits kita dapatkan.

Seandainya kita ambil lafadh ‘fasayaraanii fil-yaqdhah’ dari jalur Ibnul-Mubaarak ini dan dipahami darinya adanya kemungkinan bertemu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan sadar (pasca wafatnya beliau), maka ini merupakan pendapat yang ganjil. Al-Qaadliy Abu Bakr bin Al-‘Arabiy rahimahullah berkata :

وَشَذَّ بَعْض الصَّالِحِينَ فَزَعَمَ أَنَّهَا تَقَع بِعَيْنَيْ الرَّأْس حَقِيقَة

“Dan sebagian orang-orang shaalih telah berpendapatsyaadz (ganjil) yang mengatakan bahwa melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan dua mata kepala terjadi secara hakekat” [Fathul-Baariy, 19/469].

Ibnu Hajar rahimahullah memberikan bantahan :

وَهَذَا مُشْكِل جِدًّا وَلَوْ حُمِلَ عَلَى ظَاهِره لَكَانَ هَؤُلَاءِ صَحَابَةً وَلَأَمْكَنَ بَقَاء الصُّحْبَة إِلَى يَوْم الْقِيَامَة ، وَيُعَكِّر عَلَيْهِ أَنَّ جَمْعًا جَمًّا رَأَوْهُ فِي الْمَنَام ثُمَّ لَمْ يَذْكُر وَاحِدٌ مِنْهُمْ أَنَّهُ رَآهُ فِي الْيَقَظَة

“Ini sangatlah sulit. Dan seandainya hadits itu dibawa pada makna dhahirnya, niscaya mereka (yang pernah melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam) adalah shahabat. Dan status shahabat itu akan tetap ada hingga hari kiamat. Dan bertentangan dengan itu, bahwasannya banyak orang yang pernah melihat beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi, lalu tidak seorang pun dari mereka yang melihat beliau dalam keadaan sadar/terjaga” [idem].

Maksudnya, jika kita memahami hadits : ‘Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan terjaga’ sebagaimana dhahirnya – niscaya akan banyak orang yang pernah bertemu dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan terjaga karena mereka pernah melihat beliau dalam mimpinya. Namun, kenyataannya tidaklah demikian.

Orang yang meninggal, tidaklah mungkin akan bangkit kembali menemui orang yang hidup. Allah ta’ala berfirman :

وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan” [QS. Al-Mukminuun : 100].

Artinya, orang yang meninggal akan tetap di alam mereka (alam kubur) hingga hari kiamat kelak. Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang pertama kali dibangkitkan dari alam kuburnya :

حَدَّثَنِي الْحَكَمُ بْنُ مُوسَى أَبُو صَالِحٍ، حَدَّثَنَا هِقْلٌ يَعْنِي ابْنَ زِيَادٍ، عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ، حَدَّثَنِي أَبُو عَمَّارٍ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ فَرُّوخَ، حَدَّثَنِي أَبُو هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ، وَأَوَّلُ شَافِعٍ، وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ "

Telah menceritakan kepadaku Al-Hakam bin Muusaa Abu Shaalih : Telah menceritakan kepada kami Hiql bin Ziyaad, dari Al-Auzaa’iy : Telah menceritakan kepadaku Abu ‘Ammaar : Telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin farruukh : Telah menceritakan kepadaku Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari kiamat kelak. Aku adalah orang yang muncul (dibangkitkan) lebih dahulu dari kuburan, paling dahulu memberi syafa'at, paling dahulu dibenarkan memberi syafa'at” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2278].

Dari dua dalil ini sangat jelas menafikkan pemahaman dan klaim dimungkinkan bertemu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan sadar/terjaga.

An-Nawawiy rahimahullah memberi penjelasan tentang makna ‘fasayaraanii fil-yaqdhah’ (ia akan melihatku dalam keadaan terjaga) adalah :

أَحَدهَا الْمُرَاد بِهِ أَهْل عَصْره ، وَمَعْنَاهُ أَنَّ مَنْ رَآهُ فِي النَّوْم ، وَلَمْ يَكُنْ هَاجَرَ ، يُوَفِّقُهُ اللَّه تَعَالَى لِلْهِجْرَةِ . وَرُؤْيَته صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْيَقَظَة عِيَانًا ، وَالثَّانِي مَعْنَاهُ أَنَّهُ يَرَى تَصْدِيق تِلْكَ الرُّؤْيَا فِي الْيَقَظَة فِي الدَّار الْآخِرَة ؛ لِأَنَّهُ يَرَاهُ فِي الْآخِرَة جَمِيع أُمَّته مَنْ رَآهُ فِي الدُّنْيَا ، وَمَنْ لَمْ يَرَهُ . وَالثَّالِث يَرَاهُ فِي الْآخِرَة رُؤْيَة خَاصَّته فِي الْقُرْب مِنْهُ وَحُصُول شَفَاعَته وَنَحْو ذَلِكَ . وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Pertama, yang dimaksudkan dengannya adalah orang yang semasa dengan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam (yaitu para shahabat). Dan maknanya, bahwasannya barangsiapa yang melihat beliau dalam mimpi, namun ia tidak berhijrah, niscaya Allah ta’ala akan memberikan taufiq kepadanya untuk berhijrah dan melihat beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan terjaga/sadar dengan mata kepala mereka sendiri. Kedua, maknanya adalah ia akan melihat pembenaran atas mimpinya itu dalam keadaan sadar di akhirat kelak, karena melihat beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam di akhirat akan dialami oleh semua umatnya, baik yang pernah maupun belum pernah melihat beliau di dunia. Dan ketiga, maknanya adalah melihat beliaushallallaahu ‘alaihi wa sallam di akhirat secara khusus dalam kedekatan dan mendapatkan syafa’at dari beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan semisalnya. Wallaahu a’lam” [Syarh Shahiih Muslim, 7/458].

حَدََّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي وَقَالَ ابْنُ فُضَيْلٍ مَرَّةً يَتَخَيَّلُ بِي فَإِنَّ رُؤْيَا الْعَبْدِ الْمُؤْمِنِ الصَّادِقَةَ الصَّالِحَةَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail telah menceritakan kepada kami ‘Ashim bin Kulaib dari bapaknya dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:“Barangsiapa melihatku di dalam mimpi sungguh dia telah melihatku (yang sebenarnya), karena sesungguhnya setan tidak bisa menyerupai aku” ~Ibnu fidloil berkata: “menghayalkan aku"~ , Sesungguhnya mimpi seorang mukmin yang benar adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian kenabian.”. (HR. Ahmad No.6871, At-Tirmidzi No.2202).

Tentang mimpi bertemu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam,didapatkan keterangan bahwa barangsiapa yang bermimpi melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka ia benar-benar melihat beliau dalam bentuk yang aslinya. Hal itu dikarenakan setan tidak bisa meniru atau menyerupai bentuk, wujud, atau rupa beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang asli tersebut.

Permasalahannya kemudian adalah : Setelah meninggalnya beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada lagi yang bisa melihat wujud, bentuk, atau rupa beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam sehingga kita bisa memastikan yang kita lihat dalam mimpi – seandainya kita bermimpi bertemu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam – adalah benar-benar beliau. Hadits tidak menafikkan bahwa setan mampu mengaku-aku sebagai Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi. Yang dinafikkan adalah kemampuan setan meniru wujud beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang asli.

Realitas menyatakan bahwa : Banyak orang mengklaim mengaku pernah bertemu dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpinya, baik orang yang shaalih maupun orang faasiq, baik Ahlus-Sunnah maupun Ahlul-Bid’ah.

Dulu, orang yang mengklaim pernah bertemu dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpinya, tidaklah serta-merta dibenarkan. Harus dibuktikan.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

وَقَدْ رَوَيْنَاهُ مَوْصُولًا مِنْ طَرِيق إِسْمَاعِيل بْن إِسْحَاق الْقَاضِي عَنْ سُلَيْمَان بْن حَرْب وَهُوَ مِنْ شُيُوخ الْبُخَارِيّ عَنْ حَمَّاد بْن زَيْد عَنْ أَيُّوب قَالَ " كَانَ مُحَمَّد - يَعْنِي اِبْن سِيرِينَ - إِذَا قَصَّ عَلَيْهِ رَجُل أَنَّهُ رَأَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : صِفْ لِي الَّذِي رَأَيْته ، فَإِنْ وَصَفَ لَهُ صِفَة لَا يَعْرِفهَا قَالَ : لَمْ تَرَهُ وَسَنَده صَحِيح

“Dan kami telah meriwayatkan secara maushuul dari jalan Ismaa’iil bin Ishaaq Al-Qaadliy, dari Sulaimaan bin Harb – dan ia termasuk di antara guru-guru Al-Bukhaariy - , dari Hammaad bin Zaid, dari Ayyuub, ia berkata : “Dulu Muhammad bin Siiriin apabila ada seseorang bercerita kepadanya bahwa ia pernah melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam (dalam mimpi), Ibnu Siiriin berkata : “Sifatkan kepadaku tentang orang yang engkau lihat”. Jika ia menyifatkan kepadanya satu sifat (dari diri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam) yang tidak ia ketahui, maka Ibnu Siiriin berkata : “Engkau tidak melihatnya”. Sanad riwayat ini shahih [Fathul-Baariy, 19/469].

Simak pula riwayat yang dibawakan Al-Imaam Ahmad dalam Musnad-nya 2/342 (14/200) no. 8508 berikut :

حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ، حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ كُلَيْبٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، أَنَّهِ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي "،

قَالَ عَاصِمٌ: قَالَ: أَبِي: فَحَدَّثَنِيهِ ابْنُ عَبَّاسٍ فَأَخْبَرْتُهُ أَنِّي قَدْ رَأَيْتُهُ، قَالَ: رَأَيْتَهُ؟ قُلْتُ: إِي وَاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُهُ، قَالَ: فَذَكَرْتُ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ، قَالَ: إِنِّي وَاللَّهِ قَدْ ذَكَرْتُهُ وَنَعَتُّهُ فِي مِشْيَتِهِ، قَالَ: فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: إِنَّهُ كَانَ يُشْبِهُهُ

Telah menceritakan kepada kami ‘Affaan : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Waahid : Telah menceritakan kepada kami ‘Aashim bin Kulaib : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Bahwasannya ia pernah mendengar Abu Hurairah berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, sungguh ia telah melihatku karena setan tidak bisa menyerupai diriku”.

‘Aashim berkata : Ayahku berkata : “Ibnu ‘Abbaas menceritakannya kepadaku, lalu aku mengkhabarkan kepadanya bahwa aku benar-benar pernah melihat beliau (dalam mimpi)”. Ia berkata : “Engkau pernah melihatnya ?”. Aku katakan : “Demi Allah, sungguh aku benar-benar pernah melihatnya”. (‘Aashim berkata) : Lalu ayahku berkata : “Lalu aku menyebutkan Al-Hasan bin ‘Aliy”. Ia (ayahku) berkata : “Sesungguhnya aku – demi Allah – menyebutkan (sifat tubuhnya)-nya (Al-Hasan bin ‘Aliy) dan cara berjalannya”. Maka Ibnu ‘Abbaas berkata : “Sesungguhnya Al-Hasan bin ‘Aliy memang menyerupai beliau” [selesai].

Jadi, cara Kulaib membuktikan perihal mimpinya kepada Ibnu ‘Abbaas adalah dengan menyebutkan sifat-sifat yang ada pada Al-Hasan bin ‘Aliy radliyallaahu ‘anhum. Dan Al-Hasan adalah orang yang paling serupa dengan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عُمَرُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ أَبِي حُسَيْنٍ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ الْحَارِثِ، قَالَ: رَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَحَمَلَ الْحَسَنَ وَهُوَ، يَقُولُ: بِأَبِي شَبِيهٌ بِالنَّبِيِّ، لَيْسَ شَبِيهٌ بِعَلِيٍّ، وَعَلِيٌّ يَضْحَكُ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdaan : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku ‘Umar bin Sa’iid bin Abi Husain, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari ‘Uqbah bin Al-Haarits, ia berkata : Aku pernah melihat Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu menggendong Al-Hasan. Ia berkata : “Ayahku sebagai tebusannya, ia mirip dengan Nabi, namun tidak mirip ‘Aliy”. Dan ‘Aliy tertawa (mendengarnya) [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3749].

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: " رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ الْحَسَنُ يُشْبِهُهُ "

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yuunus : Telah menceritakan kepada kami Zuhair : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil, dari Abu Juhaifah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : “Aku pernah melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan Al-Hasan mirip dengan beliau” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3543].

Mimpi seseorang bertemu dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah benar jika orang yang ia temui mempunyai kesamaan sifat yang diketahui melalui khabar-khabar yang shahih. Selain itu, tidak mungkin seseorang mimpi bertemu dengan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan beliau berbuat maksiat dan menyuruh berbuat maksiat. Itu adalah perbuatan setan yang mengaku-aku sebagai Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk menyesatkan manusia.

Mencium Hajar Aswad Adalah Tuntunan Rosululloh SAW


Mengapa seorang muslim disunnahkan mencium hajar Aswad? Jawabannya sebenarnya begitu simpel yaitu ingin mengikuti tuntunan Nabi. Karena Nabi menciumnya maka kita menciumnya. Itu saja alasan sederhananya.

Al-Imaam Al-Bukhaariy rahimahullah berkata:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَابِسِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ جَاءَ إِلَى الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ فَقَبَّلَهُ فَقَالَ إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ وَلَوْ لَا أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin katsiir : Telah mengkhabarkan kepada kami Sufyaan, dari Al-A’masy, dari Ibraahiim, dari ‘Aabis bin Rabii’ah, dari ‘Umar radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya ia pernah mendatangi hajar aswad lalu menciumnya dan berkata : “Sesungguhnya aku tahu bahwasannya engkau hanyalah sebuah batu yang tidak memberikan kemudlaratan dan tidak pula manfaat. Seandainya aku tidak melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menciummu, aku tidak sudi menciummu” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 1597].

Beberapa faedah dari hadits di atas:

Wajibnya mengikuti petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah beliau tunjuki walau tidak nampak hikmah atau manfaat melakukan perintah tersebut. Intinya, yang penting dilaksanakan tanpa mesti menunggu atau mengetahui adanya hikmah.

Ibadah itu tawqifiyah, yaitu berdasarkan dalil, tidak bisa dibuat-buat atau direka-reka.

Mencium hajar aswad termasuk ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kenapa mencium hajar aswad? Alasannya mudah, karena ingin mengikuti ajaran Rasul. Karena seandainya Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidak melakukannya, maka tentu kaum muslimin tidak melakukannya.

Para sahabat begitu semangat melaksanakan setiap ajaran Rasul.

Yang mendatangkan manfaat danmudhorot hanyalah Allah. Hajar aswad hanyalah batu biasa yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Segala sesuatu selain Allah tidak dapat memberikan manfaat atau bahaya walau ia adalah sesuatu yang diagung-agungkan.

Hajar Aswad, Bagaimana Dulunya?

Perlu diketahui bahwa hajar aswad adalah batu yang diturunkan dari surga. Asalnya itu putih seperti salju. Namun karena dosa manusia dan kelakukan orang-orang musyrik di muka bumi, batu tersebut akhirnya berubah jadi hitam.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « نَزَلَ الْحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِى آدَمَ »

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hajar aswad turun dari surga padahal batu tersebut begitu putih lebih putih daripada susu. Dosa manusialah yang membuat batu tersebut menjadi hitam”. ( HR. Tirmidzi no. 877. Shahih menurut Syaikh Al Albani)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ وَكَانَ أَشَدَّ بَيَاضاً مِنَ الثَّلْجِ حَتَّى سَوَّدَتْهُ خَطَايَا أَهْلِ الشِّرْكِ.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hajar aswad adalah batu dari surga. Batu tersebut lebih putih dari salju. Dosa orang-orang musyriklah yang membuatnya menjadi hitam.” (HR. Ahmad 1: 307. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa lafazh ‘hajar Aswad adalah batu dari surga’ shahih dengan syawahid-nya. Sedangkan bagian hadits setelah itu tidak memiliki syawahid yang bisa menguatkannya. Tambahan setelah itudho’if karena kelirunya ‘Atho’).

Keadaan batu mulia ini di hari kiamat sebagaimana dikisahkan dalam hadits,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى الْحَجَرِ « وَاللَّهِ لَيَبْعَثَنَّهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَهُ عَيْنَانِ يُبْصِرُ بِهِمَا وَلِسَانٌ يَنْطِقُ بِهِ يَشْهَدُ عَلَى مَنِ اسْتَلَمَهُ بِحَقٍّ »

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai hajar Aswad, “Demi Allah, Allah akan mengutus batu tersebut pada hari kiamat dan ia memiliki dua mata yang bisa melihat, memiliki lisan yang bisa berbicara dan akan menjadi saksi bagi siapa yang benar-benar menyentuhnya” (HR. Tirmidzi no. 961, Ibnu Majah no. 2944 dan Ahmad 1: 247. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan dan Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini).

Benda-benda tertentu yang mengandung barakah berdasarkan dalil sehingga kita boleh bertabarruk dengannya antara lain:

a.      Hujan

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكًا فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

“Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam” [QS. Qaaf : 9].

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ بَرَكَةٍ، إِلَّا أَصْبَحَ فَرِيقٌ مِنَ النَّاسِ بِهَا كَافِرِينَ، يُنْزِلُ اللَّهُ الْغَيْثَ، فَيَقُولُونَ الْكَوْكَبُ كَذَا وَكَذَا

“Tidaklah Allah menurunkan barakah dari langit, kecuali akan ada sekelompok manusia yang kufur terhadapnya. Allah menurunkan hujan, lalu mereka berkata : ‘Bintang ini dan itu (yang menurunkan hujan)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 72].

Oleh karena itu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyingkap pakaian beliau saat turun hujan pertama agar badan beliau terkena air hujan. Juga sebagian shahabat mengeluarkan beberapa barang/perabot keluar rumah agar terkena air hujan.

b.      Zaitun

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لا شَرْقِيَّةٍ وَلا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api” [QS. An-Nuur : 35].

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

كُلُوا الزَّيْتَ وَادَّهِنُوا بِهِ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ

“Makanlah zaitun dan jadikanlah ia sebagai minyak, karena ia termasuk pohon yang diberkahi” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 1851, Ibnu Maajah no. 3319, ‘Abd bin Humaid no. 13, dan yang lainnya; lihat Silsilah Ash-Shahiihah no. 379].

c.      Kurma

Dalilnya adalah hadits:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: " بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ النَّبِيِّ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُلُوسٌ إِذَا أُتِيَ بِجُمَّارِ نَخْلَةٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ لَمَا بَرَكَتُهُ كَبَرَكَةِ الْمُسْلِمِ، فَظَنَنْتُ أَنَّهُ يَعْنِي النَّخْلَةَ، فَأَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ هِيَ النَّخْلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، ثُمَّ الْتَفَتُّ فَإِذَا أَنَا عَاشِرُ عَشَرَةٍ أَنَا أَحْدَثُهُمْ، فَسَكَتُّ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هِيَ النَّخْلَةُ "

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa, ia berkata : Ketika kami sedang duduk bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau disuguhi jantung kurma. Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya di antara pohon ada satu pohon yang barakahnya seperti barakah seorang muslim”. Aku pun menduganya yang dimaksud adalah pohon kurma. Lalu aku ingin menjawabnya : ‘Ia adalah pohon kurma wahai Rasulullah’, namun ketika aku menoleh ternyata aku adalah yang paling muda diantara yang hadir. Maka aku pun diam, dan kemudian Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ia adalah pohon kurma” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5444].

d.      Segala sesuatu dari badan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam (rambut, keringat, dan yang lainnya).

Dalilnya diantaranya:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: " كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ بَيْتَ أُمِّ سُلَيْمٍ، فَيَنَامُ عَلَى فِرَاشِهَا، وَلَيْسَتْ فِيهِ، قَالَ: فَجَاءَ ذَاتَ يَوْمٍ، فَنَامَ عَلَى فِرَاشِهَا، فَأُتِيَتْ، فَقِيلَ لَهَا: هَذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَامَ فِي بَيْتِكِ، عَلَى فِرَاشِكِ، قَالَ: فَجَاءَتْ وَقَدْ عَرِقَ وَاسْتَنْقَعَ عَرَقُهُ عَلَى قِطْعَةِ أَدِيمٍ عَلَى الْفِرَاشِ، فَفَتَحَتْ عَتِيدَتَهَا، فَجَعَلَتْ تُنَشِّفُ ذَلِكَ الْعَرَقَ فَتَعْصِرُهُ فِي قَوَارِيرِهَا، فَفَزِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: مَا تَصْنَعِينَ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ ؟ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا، قَالَ: أَصَبْتِ

Dari Anas bin Maalik, ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari pernah masuk ke rumah Ummu Sulaim. Beliau lalu tidur di atas alas tidur Ummu Sulaim ketika ia tidak ada di rumah. Pada hari lainnya beliau juga datang dan melakukan hal yang sama. Ketika Ummu Sulaim datang, ada yang melapor bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidur di alas tidur di rumahnya. Segera saja Ummu Sulaim masuk dan mendapati Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersimbah keringat yang sangat banyak sehingga mengenai sepotong kulit yang berada di dekat alas tidur tersebut. Kemudian Ummu Sulaim menyeka keringat tersebut lalu memerasnya ke dalam botol-botol yang terbuat dari kaca. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallamterbangun dan merasa kaget. Beliau bertanya : “Apa yang sedang kamu lakukan wahai Ummu Sulaim ?”. Ia menjawab : “Wahai Rasulullah, kami mengharapkan barakahnya untuk anak-anak kami”. Maka beliau berkata : “Engkau benar” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2331].

Dan yang lainnya.

Maka, orang tidak boleh seenaknya mengatakan bahwa tahu, tempe, asem, dan melon ada barakahnya secara spesifik, karena itu tidak ada dalilnya. Begitu juga tidak boleh mengatakan keringat kakek dan neneknya mengandung barakah diqiyaskan dengan barakahnya keringat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, karena para shahabat dulu tidak pernah bertabarruk dengan keringat selain dari keringat beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu tidak bertabarruk dengan dzat Hajar Aswad karena dianggap mengandung barakah, karena kerberkahan benda-benda tertentu harus berdasarkan dalil, bukan berdasarkan akal dan pendapat semata.

‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu hanyalah mencium Hajar Aswad karena melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukannya.

Oleh karenanya, tabarruk ‘Umar radliyallaahu ‘anhubukan pada dzat bendanya (yaitu Hajar Aswad), akan tetapi bertabarruk dengan sikap ittibaa’ dan ibadah/amal ketaatan sesuai dengan yang diajarkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tabarruk dengan amal shaalih adalah dianjurkan oleh syari’at.

Ath-Thabariy rahimahullah berkata:

إِنَّمَا قَالَ ذَلِكَ عُمَر لِأَنَّ النَّاس كَانُوا حَدِيثِي عَهْد بِعِبَادَةِ الْأَصْنَام فَخَشِيَ عُمَر أَنْ يَظُنّ الْجُهَّال أَنَّ اِسْتِلَام الْحَجَر مِنْ بَاب تَعْظِيم بَعْض الْأَحْجَار كَمَا كَانَتْ الْعَرَب تَفْعَل فِي الْجَاهِلِيَّة فَأَرَادَ عُمَر أَنْ يُعَلِّم النَّاس أَنَّ اِسْتِلَامه اِتِّبَاع لِفِعْلِ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا لِأَنَّ الْحَجَر يَنْفَع وَيَضُرّ بِذَاتِهِ كَمَا كَانَتْ الْجَاهِلِيَّة تَعْتَقِدهُ فِي الْأَوْثَان

“’Umar hanyalah mengatakannya karena orang-orang belum lama terlepas dari penyembahan terhadap berhala, sehingga ia khawatir orang-orang bodoh akan menyangka mencium batu merupakan pengagungan terhadap sebagian batu-batu sebagaimana orang-orang ‘Arab dulu melakukannya di jaman Jaahiliyyah. Maka ‘Umar hendak memberitahukan kepada orang-orang bahwa ia mencium Hajar Aswad karena ittibaa’ terhadap perbuatan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Bukan dikarenakan batu tersebut dapat memberikan manfaat dan mudlarat sebagaimana Jaahiliyyah dulu yang meyakininya pada berhala-berhala’ [Fathul-Baariy, 3/462-463].

Al-Baihaqiy rahimahullah berkata:

فَأَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ قَدْ عَبَدَ الْحَجَرَ فَحِينَ أَهْوَى إِلَى الرُّكْنِ كَأَنَّهُ هَابَ مَا كَانَ عَلَيْهِ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَتَبَرَّأَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سِوَى اللَّهِ وَأَخْبَرَهُ بِأَنَّهُ حَجَرٌ لا يَضُرُّ وَلا يَنْفَعُ يُرِيدُ مَا كَانَ عَلَى هَيْئَتِهِ حَجَرًا وَأَنَّهُ إِنَّمَا يُقَبِّلُهُ مُتَابَعَةً لِلسُّنَّةِ

“Amiirul-mukminiin ‘Umar radliyallaahu ‘anhu dulu menyembah batu. Maka ketika beliau membungkuk hendak mencium Ar-Rukn, sepertinya ia khawatir tentang kondisinya dulu di jaman Jaahiliyyah (yang menyembah batu). Maka beliau berlepas diri dari segala sesuatu selain Allah dan mengkhabarkan bahwa ia hanyalah batu yang tidak memberikan kemudlaratan dan tidak pula manfaat – maksud beliau adalah statusnya sebagai batu - , dan bahwasannya beliau hanya menciumnya karena ber-ittibaa’ kepada sunnah” [Syu’abul-Iimaan, 5/471].

An-Nawawiy rahimahullah berkata:

وَأَمَّا قَوْل عُمَر - رَضِيَ اللَّه عَنْهُ - : ( لَقَدْ عَلِمْت أَنَّك حَجَر وَإِنِّي لَأَعْلَم أَنَّك حَجَر وَأَنَّك لَا تَضُرّ وَلَا تَنْفَع ) فَأَرَادَ بِهِ بَيَان الْحَثّ عَلَى الِاقْتِدَاء بِرَسُولِ اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي تَقْبِيله ، وَنَبَّهَ عَلَى أَنَّهُ لَوْلَا الِاقْتِدَاء بِهِ لَمَا فَعَلَهُ ، وَإِنَّمَا قَالَ : وَإِنَّك لَا تَضُرّ وَلَا تَنْفَع ؛ لِئَلَّا يَغْتَرّ بَعْض قَرِيبِي الْعَهْد بِالْإِسْلَامِ الَّذِينَ كَانُوا أَلِفُوا عِبَادَة الْأَحْجَار وَتَعْظِيمهَا وَرَجَاء نَفْعهَا ، وَخَوْف الضَّرَر بِالتَّقْصِيرِ فِي تَعْظِيمهَا ، وَكَانَ الْعَهْد قَرِيبًا بِذَلِكَ ، فَخَافَ عُمَر - رَضِيَ اللَّه عَنْهُ - أَنْ يَرَاهُ بَعْضهمْ يُقَبِّلهُ ، وَيَعْتَنِي بِهِ ، فَيَشْتَبِه عَلَيْهِ فَبَيَّنَ أَنَّهُ لَا يَضُرّ وَلَا يَنْفَع بِذَاتِهِ ، وَأنْ كَانَ اِمْتِثَال مَا شَرَعَ فِيهِ يَنْفَع بِالْجَزَاءِ وَالثَّوَاب فَمَعْنَاهُ أَنَّهُ لَا قُدْرَة لَهُ عَلَى نَفْع وَلَا ضَرّ ، وَأَنَّهُ حَجَر مَخْلُوق كَبَاقِي الْمَخْلُوقَات الَّتِي لَا تَضُرّ وَلَا تَنْفَع وَأَشَاعَ عُمَر هَذَا فِي الْمَوْسِم ؛ لِيُشْهَد فِي الْبُلْدَان ، وَيَحْفَظهُ عَنْهُ أَهْل الْمَوْسِم الْمُخْتَلِفُو الْأَوْطَان . وَاَللَّه أَعْلَم .

“Adapun perkataan ‘Umar radliyallaahu ‘anhu : ‘Sesungguhnya aku tahu bahwasannya engkau hanyalah sebuah batu, dan aku tahu bahwa engkau sebuah batu yang tidak memberikan kemudlaratan dan tidak pula manfaat’, maka ia hendak memberikan penjelasan dengannya tentang anjuran untuk meneladani Rasulullah shallallaahu ‘alaihi w sallamdalam menciumnya (Hajar Aswad), dan memberitahukan bahwa seandainya bukan karena maksud untuk meneladani beliau, niscaya ia tidak melakukannya. ‘Umar hanyalah berkata : ‘dan sesungguhnya engkau tidak memberikan mudlarat dan tidak pula manfaat; agar orang-orang yang baru masuk Islam yang dulunya senang menyembah batu, mengagungkannya, dan mengharapkan manfaatnya, dan khawatir terhadap mudlarat yang ditimbulkannya karena kurang dalam pengungannya; tidak terpedaya. Mereka baru saja lepas dari semua itu. Maka ‘Umarradliyallaahu ‘anhu khawatir timbul syubhat pada sebagian orang melihatnya mencium Hajar Aswad dan memberikan perhatian kepadanya. ‘Umar pun menjelaskan bahwa ia (Hajar Aswad) tidak dapat memberikan mudlarat dan tidak pula manfaat dengan dzatnya, serta bahwasannya ia adalah makhluk ciptaan yang tidak dapat memberikan manfaat berupa balasan dan pahala serta tidak dapat memberikan mudlarat. ‘Umar menyebarkan ini pada musim haji agar diketahui di negeri-negeri dan dihapal orang-orang dari berbagai negara yang menunaikan haji di muslim haji. Wallaahu a’lam’ [Syarh Shahiih Muslim, 9/16-17].

Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وَهُوَ قَاعِدَة عَظِيمَة فِي اِتِّبَاع النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يَفْعَلهُ وَلَوْ لَمْ يَعْلَم الْحِكْمَة فِيهِ ، وَفِيهِ دَفْع مَا وَقَعَ لِبَعْضِ الْجُهَّال مِنْ أَنَّ فِي الْحَجَر الْأَسْوَد خَاصَّة تَرْجِع إِلَى ذَاته ، وَفِيهِ بَيَان السُّنَن بِالْقَوْلِ وَالْفِعْل

“Hal tersebut merupakan kaedah yang sangat agung dalam ittibaa’ kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada apa yang dilakukan ‘Umar meskipun ia tidak mengetahui hikmah yang terkandung di dalamnya” [Fathul-Baariy, 3/463].

Mencium atau mengusap benda-benda tertentu dalam rangka ibadah tidak diperbolehkan kecuali jika ada dalilnya.

Al-Qaadliy Abu Ya’laa rahimahullah ketika menyebutkan alasan pendapat kedua yang beredar dalam madzhabnya (Hanaabilah) tentang permasalahan berkata:

إنما طريقة القربة تقف على التوقيف ولهذا قال عمر ـ رضي الله عنه ـ في الحجر: لولا أني رأيت رسول الله يقبلك لما قبلتك وليس في هذا توقيف

“Jalan mendekatkan diri kepada Allah hanyalah berdiri di atas tauqiif (landasan dalil). Oleh karena itu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu berkata tentang Hajar Aswad : ‘Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menciummu, sungguhaku tidak sudi menciummu’. Dan tidak ada tauqiifdalam perbuatan ini (meletakkan tangan di atas kubur dan mengusap-usapnya)’ [Al-Masaailul-Fiqhiyyah min Kitaab Ar-Riwaayatain wal-Wajhain, 1/215].

Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

قَالَ شَيْخنَا فِي " شَرْح التِّرْمِذِيّ " : فِيهِ كَرَاهَة تَقْبِيل مَا لَمْ يَرِدْ الشَّرْع بِتَقْبِيلِهِ

“Telah berkata Syaikh kami dalam Syarh At-Tirmidziy : ‘Dalam riwayat tersebut terdapat dalil dibencinya mencium sesuatu yang tidak ada dalil dalam syari’at untuk menciumnya’ [Fathul-Baariy, 3/463].

عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يَكْرَهُ مَسَّ قَبْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Naafi’ : Bahwasannya Ibnu ‘Umar membenci mengusap kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam Diriwayatkan oleh Muhammad bin ‘Aashim Ats-Tsaqafiy dalam Juuz-nya no. 27, dan darinya Adz-Dzahabiy dalam Mu’jamusy-Syuyuukh 1/45 dan As-Siyar 12/378; shahih].

Setelah membawakan ini Adz-Dzahabiy rahimahullah mengomentari:

كره ذلك لأنه رآه إساءة أدب ، وقد سُئل أحمد بن حنبل عن مسّ القبر النبوي وتقبيله فلمْ يرَ بذلك بأسا ، رواه عنه ولده عبدالله بن أحمد

“Hal itu dimakruhkan karena ia (Ibnu ‘Umar) berpandangan sebagai suu’ul-adab saja. Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang mengusap-usap kubur nabi dan menciumnya, maka ia berpendapat tidak mengapa. Diriwayatkan darinya oleh anaknya yang bernama ‘Abdullah” [Mu’jamusy-Syuyuukh, 1/45].

Sebagian orang membawakan perkataan Adz-Dzahabiyrahimahullah di atas untuk menegaskan tetap dimasyru’kannya mengusap-usap kubur Nabi dalam rangka tabarruk padanya dan mengisyaratkan bahwa sikap Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa tersebut bukan mengandung larangan.

Sangat kontradiktif ! Jika memang mengusap-usap kuburdan bertabarruk padanya itu diperbolehkan oleh syari’at, tentu Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa tidak akan membencinya dan mengklasifikasikan perbuatan tersebut sebagai suu’ul-adab terhadap beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa adalah shahabat yang dikenal sangat besar rasa ittibaa’-nya hingga dalam hal kebiasaan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang asalnya tidak diperintahkan untuk mengikutinya.

حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ الْعَدْلُ، ثَنَا أَبُو نَصْرٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ نَصْرٍ، ثَنَا أَبُو غَسَّانَ مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، ثَنَا زُهَيْرٌ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُوقَةَ، عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ، قَالَ: " لَمْ يَكُنْ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَمِعَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ حَدِيثًا أَحْذَرَ أَنْ لا يَزِيدَ فِيهِ وَلا يُنْقِصَ مِنَ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا "

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Abdillah bin Diinaar Al-‘Adl : Telah menceritakan kepada kami Abu Nashr Ahmad bin Muhammad bin Nashr : Telah menceritakan kepada kami Abu Ghassaan Maalik bin Ismaa’iil : Telah menceritakan kepada kami Zuhair, dari Muhammad bin Suuqah, dari Abu Ja’far, ia berkata : “Tidak ada seorang pun dari kalangan shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam apabila mendengar satu hadits dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam yang lebih bersemangat untuk memperingatkan agar tidak menambah ataupun menguranginya daripada Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa” [Diriwayatkan oleh Al-Haakim dalam Al-Mustadrak (At-Tatabbu’ – Muqbil Al-Wadii’iy), 3/690 no. 6453; sanadnya hasan].

Jika mengusap-usap dan bertabarruk merupakan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala, niscaya Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa tidak akan meninggalkannya, membencinya, dan menghukuminya sebagai kejelekan adab. Apakah mungkin Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu membenci sunnah Nabi jika ia memang mengetahui itu merupakan bagian dari sunnah beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam ?.

Thinking before speaking !.

Apalagi, tidak ada riwayat shahih dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang bertabarruk mengusap-usap kubur dan juga tidak ada riwayat shahih dari para shahabat radliyallaahu ‘anhum yang melakukannya pada kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Jika memang disyari’atkan, tentu sudah dijelaskan.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: تَرَكْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ، إِلا وَهُوَ يُذَكِّرُنَا مِنْهُ عِلْمًا، قَالَ: فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ، إِلا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ "

Dari Abu Dzarr, ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada burung yang mengepakkan kedua sayapnya di udara kecuali beliau telah menyebutkan kepada kami ilmu tentangnya. Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Tidak tersisa sesuatupun yang mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka kecuali telah dijelaskan kepada kalian” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 2/155-156 no. 1647; sanadnya shahih].

Sebagai tambahan kita katakan:

Sebagian ulama madzhab Hanaabilah mengingkari riwayat tersebut dengan menafikkan keshahihannya – meski sebagian lain ada yang menetapkannya – . Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وَأَمَّا غَيْره فَنُقِلَ عَنْ الْإِمَام أَحْمَد أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ تَقْبِيل مِنْبَر النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقْبِيل قَبْره فَلَمْ يَرَ بِهِ بَأْسًا ، وَاسْتَبْعَدَ بَعْض اِتِّبَاعه صِحَّة ذَلِكَ

“Adapun mencium selain manusia, maka telah dinukil dari Al-Imaam Ahmad bahwasannya ia pernah ditanya tentang mencium mimbar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan mencium kuburnya, dan ia berpendapat tidak mengapa. Dan sebagian pengikutnya (yaitu ulama madzhab Hanaabilah) menganggap riwayat tersebut tidak shahih” [Fathul-Baariy, 3/475].

Selain itu, ada riwayat lain dari Al-Imaam Ahmad rahimahullah sebagai berikut:

فَصْلٌ : وَلَا يُسْتَحَبُّ التَّمَسُّحُ بِحَائِطِ قَبْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا تَقْبِيلُهُ ، قَالَ أَحْمَدُ : مَا أَعْرِفُ هَذَا .

قَالَ الْأَثْرَمُ : رَأَيْت أَهْلَ الْعِلْمِ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَا يَمَسُّونَ قَبْرَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُومُونَ مِنْ نَاحِيَةٍ فَيُسَلِّمُونَ .

قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ : وَهَكَذَا كَانَ ابْنُ عُمَرَ يَفْعَلُ . قَالَ : أَمَّا الْمِنْبَرُ فَقَدْ جَاءَ فِيهِ. يَعْنِي مَا رَوَاهُ إبْرَاهِيمُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِئُ ، أَنَّهُ نَظَرَ إلَى ابْنِ عُمَرَ ، وَهُوَ يَضَعُ يَدَهُ عَلَى مَقْعَدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمِنْبَرِ ثُمَّ يَضَعُهَا عَلَى وَجْهِهِ .

Pasal : Tidak disukai/disunnahkan mengusap tembok kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula menciumnya. Ahmad berkata : ‘Aku tidak mengetahuinya’. Al-Atsram berkata : “Aku melihat ulama dari kalangan penduduk Madiinah tidak menyentuh kubur Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka berdiri dari sisi kubur lalu mengucapkan salam. Abu ‘Abdillah berkata : ‘Begitulah yang dilakukan Ibnu ‘Umar”. Abu ‘Abdillah berkata : “Adapun mimbar, maka ada riwayat tentang hal tersebut (yang membolehkannya). Yaitu apa yang diriwayatkan oleh Ibraahiim bin ‘Abdirrahmaan bin ‘Abdil-Qaari’, bahwasannya ia pernah melihat Ibnu ‘Umar meletakkan tangannya di atas tempat duduk mimbar Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian meletakkannya (mengusapnya) ke wajahnya” [Al-Mughniy, 3/599].

Yang penting untuk kita ketahui adalah pokok cara pandang Al-Imaam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dalam permasalahan ini. Ketika beliau tidak mengetahui adanya nash atau atsar dari salaf, maka beliau tidak melakukannya. Namun ketika beliau menemukan nash atau atsar yang dapat dijadikan dasar, maka beliau membolehkannya. Menurut riwayat Al-Atsram ini, perbuatan mengusap dan mencium kubur Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui dalil/pijakannya, dan kemudian beliau rahimahullahmenjelaskan sikap Ibnu ‘Umar dan ulama Madiinah yang tidak melakukannya.

Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, Ibnu ‘Umarradliyallaahu ‘anhumaa tidak melakukannya karena membenci perbuatan tersebut. Oleh karenanya, dapat dipahami bahwa pandangan beliau rahimahullah adalah tidak masyru’-nya mengusap-usap kubur Nabi. Inilah jugayang dipahami Al-Qaadli Abu Ya’laa Al-Hanbaliy setelah menyebutkan riwayat Al-Atsram rahimahumallah tersebut:

وهذه الرواية تدل على أنه ليس بسنة وضع اليد على القبر

“Riwayat ini menunjukkan tidak disunnahkannya meletakkan tangan di atas kubur (dan mengusap-usapnya)” [Al-Masaailul-Fiqhiyyah min Kitaab Ar-Riwaayatin wal-Wajhain, 1/215].

Adapun mengusap mimbar, menurut beliau (Ahmad bin Hanbal) diperbolehkan karena berpegangan dengan riwayat Ibnu ‘Umar yang dikatakan pernah mengusap mimbar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam; sedangkan Ibnu ‘Umar merupakan salah seorang shahabat yang sangat besar ittibaa’-nya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Atsar Ibnu ‘Umar dari Ibraahiim bin ‘Abdirrahmaan bin ‘Abdil-Qaari’ yang dimaksudkan dalam riwayat Al-Atsram tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat(1/123) : Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Ismaa’iil bin Abi Fudaik, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Ibnu Abi Dzi’b, dari Hamzah bin Abi Ja’far, dari Ibraahiim bin ‘Abdirrahmaan bin ‘Abdil-Qaari’ : “…..(al-atsar)…”.

Riwayat ini lemah karena majhulnya Ibraahiim bin ‘Abdirrahmaan bin ‘Abdil-Qaari’ dan Hamzah bin Abi Ja’far.Keterangan tentang Ibraahiim dapat dibaca pada At-Taariikh Al-Kabiir 1/297 no. 951, Al-Jarh wat-Ta’diil 2/111 no. 329, dan Ats-Tsiqaat li-Ibni Hibbaan 4/9. Adapun Ja’far bin Abi Hamzah dapat dibaca pada At-Taariikh Al-Kabiir3/51 no. 192, Al-Jarh wat-Ta’diil 3/209 no. 914, dan Ats-Tsiqaat 6/227. Wallaahu a’lam.

Dikarenakan lemah kita tidak dapat memegang riwayat Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu tersebut dan menyepakati pendapat Al-Imaam Ahmad rahimahullah. Meskipun dalam hal sikap akhir kita berbeda dengan beliau dalam riwayat Al-Atsram ini, pada hakekatnya kita berkesesuaian dengan metode beliau. Bukan seperti orang yang tidak memahaminya dan ‘pokoknya’ cocok dengan pendapat beliau tanpa memperhatikan metode yang beliau pakai.

Seandainya pun shahih, maka Al-Imaam Ahmad tidak menyamakan antara mengusap mimbar dan mengusap kuburan. Seandainya beliau menyamakannya, niscaya beliau akan membolehkannya mengusap kuburan yang diqiyaskan dengan mengusap mimbar. Sama-sama diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa. Namun, ternyata beliau rahimahullah tidak bersikap demikian.

Kembali kepada riwayat Al-Imaam Ahmad yang pertama (yang disebutkan oleh Adz-Dzahabiy rahimahumallah).

Di sini ternukil dua riwayat yang berbeda dalam masalah mengusap-usap kubur. Al-Qaadliy Abu Ya’laa Al-Hanbaliyrahimahullah menyebutkan permasalahan ini dalam kitabAr-Riwaayatain wal-Wajhain (melalui perantaraan kitab Al-Masaailul-Fiqhiyyah min Kitaab Ar-Riwaayatain wal-Wajhain, 1/214-215).

Mana yang shahih dari madzhab Hanaabilah ?. Al-Mardawiy rahimahullah menjawab:

لَا يُسْتَحَبُّ تَمَسُّحُهُ بِقَبْرِهِ عَلَيْهِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى الصَّحِيحِ مِنْ الْمَذْهَبِ قَالَ فِي الْمُسْتَوْعِبِ : بَلْ يُكْرَهُ قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ : أَهْلُ الْعِلْمِ كَانُوا لَا يَمَسُّونَهُ

“Tidak disunnahkan mengusap kubur beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan pendapat yang benar dari madzhab (Hanaabilah). Ia berkata dalam Al-Mustau’ib : ‘Bahkan dimakruhkan’. Al-Imaam Ahmad berkata : ‘Para ulama tidak menyentuhnya” [Al-Inshaaf, 4/53].

Untuk madzhab Syaafi’iyyah, An-Nawawiy rahimahullah berkata:

قال أبو موسى : وقال الإمام أبو الحسن محمد بن مرزوق الزعفراني وكان من الفقهاء المحققين في كتابه في الجنائز : ولا يستلم القبر بيده ، ولا يقبله قال : وعلى هذا مضت السنة. قال أبو الحسن : واستلام القبور وتقبيلها الذي يفعله العوام الآن من المبتدعات المنكرة شرعا ، ينبغي تجنب فعله وينهى فاعله ، قال فمن قصد السلام على ميت سلم عليه من قبل وجهه ، وإذا أراد الدعاء تحول عن موضعه واستقبل القبلة ، قال أبو موسى : وقال الفقهاء المتبحرون الخراسانيون : المستحب في زيارة القبور أن يقف مستدبر القبلة مستقبلا وجه الميت ، يسلم ولا يمسح القبر ولا يقبله ولا يمسه ، فإن ذلك عادة النصارى

“Abu Muusaa berkata : Dan telah berkata Al-Imaam Abul-Hasan Muhammad bin Marzuuq Az-Za’faraaniy – dan ia termasuk fuqahaa yang terkenal teliti – dalam kitabnya pada pembahasan tentang janaaiz : ‘Tidak mengusap kubur dengan tangannya dan tidak pula menciumnya’. Ia berkata : ‘Inilah yang sesuai dengan sunnah’. Abul-Hasan berkata : ‘Mengusap-usap kubur dan menciumnya sebagaimana yang dilakukan orang-orang awam termasuk bid’ah-bid’ah yang munkar secara syar’iy. Sudah seharusnya perbuatan tersebut dijauhi dan pelakunya dilarang’. Ia berkata : ‘Barangsiapa yang hendak mengucapkan salam terhadap mayyit, maka ucapkanlah salam dari arah wajahnya. Dan apabila hendak berdoa, maka ia berpindah tempat dan menghadap kiblat’. Abu Muusaa berkata : Telah berkata fuqahaa negeri Khurasaan yang luas ilmunya : ‘Dianjurkan ketika ziarah kubur untuk berdiri membelakangi kiblat seraya menghadapkan wajah ke mayit dan mengucapkan salam kepadanya tanpa mengusap kubur, menciumnya, dan menyentuhnya, karena hal itu termasuk kebiasaan orang Nashaaraa”.

Kemudian An-Nawawiy mengomentari :

وما ذكروه صحيح لأنه قد صح النهي عن تعظيم القبور ، ولأنه إذا لم يستحب استلام الركنين الشاميين من أركان الكعبة لكونه لم يسن ، مع استحباب استلام الركنين الآخرين ، فلأن لا يستحب مس القبور أولى ، والله أعلم

“Apa yang mereka sebutkan itu adalah benar, karena telah shahih adanya larangan pengagungan terhadap kubur. Selain itu, apabila tidak dianjurkan untuk mencium dua rukun Syaam yang merupakan bagian dari rukun-rukun Ka’bah karena hal itu tidak disunnahkan, bersamaan dengan adanya anjuran untuk mencium dua rukun yang lain (Hajar Aswad dan Rukun Yamaniy); maka menyentuh (dan mengusap) kubur tentunya lebih tidak disunnahkan,wallaahu a’lam” [Al-Majmuu’, 5/286-287].

Asy-Syaikh ‘Abdul-Qadiir Al-Jiilaaniy rahimahullah berkata:

اذا زار قبرا لا يضع يده عليه و لا يقبله فانه عادة اليهود و لا يقعد عليه و لا يكتى عليه

“Apabila seseorang berziarah ke kubur, ia tidak boleh meletakkan tangannya di atas kubur dan tidak pula menciumnya, karena hal itu kebiasaan orang Yahuudi. Tidak boleh duduk di atasnya dan tidak boleh bersandar padanya” [Al-Ghunyah, 1/91].

حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُعَاذٍ، قَالَ: ثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ، قَالَ: ثَنَا سَعِيدٌ، عَنْ قَتَادَةَ، وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى: إِنَّمَا أُمِرُوا أَنْ يُصَلُّوا عِنْدَهُ وَلَمْ يُؤْمَرُوا بِمَسْحِهِ، وَلَقَدْ تَكَلَّفَتْ هَذِهِ الأُمَّةُ شَيْئًا مَا تَكَلَّفَتْهُ الأُمَمُ قَبْلَهَا.......

Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Mu’aadz, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Zurai’, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid, dari Qataadah tentang ayat : ‘Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat’ (QS. Al-Baqarah : 125), ia berkata : “Kalian hanyalah diperintahkan untuk shalat di tempat tersebut, dan tidak diperintahkan untuk mengusap-usapnya. Dan sungguh umat ini telah takalluf (memperberat-berat diri) pada sesuatu yang umat sebelumnya tidak ber-takalluf padanya.…..” [Diriwayatkan oleh Ibnu Jariir Ath-Thabariy dalam Tafsiir-nya 2/35; sanadnya hasan].

عَنْ عَطَاءٍ أَنَّهُ كَرِهَ أَنْ يُقَبِّلَ الرَّجُلُ الْمَقَامَ أَوْ يَمْسَحَهُ

Dari ‘Athaa’ : Bahwasannya ia membenci seseorang mencium maqaam (Ibraahiim) dan mengusap-usapnya” [Diriwayatkan oleh Al-Faakihiy dalam Akhbaar Makkah no. 951; sanadnya hasan].

Doa Nabi Sulaiman Menundukkan Hewan dan Jin

  Nabiyullah Sulaiman  'alaihissalam  (AS) merupakan Nabi dan Rasul pilihan Allah Ta'ala yang dikaruniai kerajaan yang tidak dimilik...