Senin, 01 November 2021

Takdir Telah Ditentukan Bagi Seluruh Makhluk


Banyak orang mengenal rukun iman tanpa mengetahui makna dan hikmah yang terkandung dalam keenam rukun iman tersebut. Salah satunya adalah iman kepada takdir. Tidak semua orang yang mengenal iman kepada takdir, mengetahui hikmah dibalik beriman kepada takdir dan bagaimana mengimani takdir. Berikut sedikit ulasan mengenai iman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah menulis seluruh takdir makhluk-makhluk 50.000 tahun sebelum menciptakan langit-langit dan bumi” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2653].

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

“Sesungguhnya makhluk yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena. Allah ta’ala berfirman kepadanya : ‘Tulislah’. Pena bertanya : ‘Wahai Rabbku, apa yang mesti aku tuliskan?’. Allah ta’ala berfirman : ‘Tulislah takdir segala sesuatu hingga datang hari kiamat” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2155 & 3319, Abu Daawud no. 4700; dan yang lainnya].

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ   ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ  أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا. [رواه البخاري ومسلم]

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada ilah selain-Nya, sesungguhnya diantara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli syurga hingga jarak antara dirinya dan syurga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya diantara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli syurga  maka masuklah dia ke dalam syurga. (Riwayat Bukhori dan Muslim).

Hadits ini merupakan pangkal dalam bab taqdir, yaitu tatkala hadits tersebut menyebutkan bahwa taqdir janin meliputi 4 hal: rizqinya, ajalnya, amalnya, dan bahagia atau celakanya.

حَدَّثَنِي أَبِي نا إِسْمَاعِيلُ، عَنْ مَنْصُورِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْغُدَانِيِّ، قَالَ: قُلْتُ لِلْحَسَنِ قَوْلُهُ: مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأَرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا، قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَمَنْ يَشُكُّ فِي هَذَا، كُلُّ مُصِيبَةٍ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ فَفِي كِتَابِ اللَّهِ قَبْلَ أَنْ يَبْرَأَ النَّسَمَةَ

Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepadaku Ismaa’iil (bin ‘Ulayyah), dari Manshuur bin ‘Abdirrahmaan Al-Ghudaaniy, ia berkata : Aku bertanya kepada Al-Hasan (Al-Bashriy) tentang firman-Nya : ‘Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya’ (QS. Al-Hadiid : 22), ia berkata : “Subhaanallah, dan siapakah yang meragukan ayat ini ?. Semua musibah yang terjadi antara langit dan bumi, maka itu telah ditetapkan dalam Kitab Allah (Lauh Mahfuudh) sebelum Allah menciptakan manusia” [Diriwayatkan ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 961; sanadnya hasan].

Termasuk dalam hal ini adalah segala perbuatan baik dan jelek/jahat yang dilakukan oleh manusia, semua itu berjalan menurut taqdir yang telah Allah ta’ala tetapkan. Allah ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ زَيَّنَ لِكَثِيرٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ قَتْلَ أَوْلادِهِمْ شُرَكَاؤُهُمْ لِيُرْدُوهُمْ وَلِيَلْبِسُوا عَلَيْهِمْ دِينَهُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

“Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agamanya. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan” [QS. Al-An’aam : 137].

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا وَلَكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya” [QS. Al-Baqarah : 253].

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَهُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ

“Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (saja), tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya” [QS. Asy-Syuuraa : 8].

Bahkan Allah ta’ala telah menetapkan bahagia celaka, serta kemana tempat kembali seseorang kelak (surga atau neraka) berdasarkan hadits:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ قَتَادَةَ السُّلَمِيِّ، أَنَّهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: " إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَ آدَمَ، ثُمَّ أَخَذَ الْخَلْقَ مِنْ ظَهْرِهِ، وَقَالَ: هَؤُلَاءِ فِي الْجَنَّةِ وَلَا أُبَالِي، وَهَؤُلَاءِ فِي النَّارِ وَلَا أُبَالِي ".قَالَ: فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَعَلَى مَاذَا نَعْمَلُ؟ قَالَ: " عَلَى مَوَاقِعِ الْقَدَرِ "

Dari ‘Abdurrahmaan bin Qataadah As-Sulamiy, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda : “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam, kemudian ia menciptakan makhluk (yaitu keturunannya) dari tulang punggungnya seraya berfirman : ‘Mereka akan berada di surga sedangkan Aku tidak peduli; dan  mereka akan berada di neraka, sedangkan Aku tidak peduli”. Seseorang berkata : “Wahai Rasulullah, lantas atas dasar apa kita beramal ?”. Beliau ﷺ menjawab : “Di atas dasar/pijakan qadar” [Diriwayatkan oleh Ahmad 4/186, Ibnu Hibbaan no. 338, Al-Haakim 1/31, dan yang lainnya].

عَنْ مُسْلِمِ بْنِ يَسَارٍ الْجُهَنِيِّ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ سُئِلَ عَنْ هَذِهِ الْآيَةِ وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ قَالَ: قَرَأَ الْقَعْنَبِيُّ الْآيَةَ فَقَالَ عُمَرُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ سُئِلَ عَنْهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: " إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَ آدَمَ، ثُمَّ مَسَحَ ظَهْرَهُ بِيَمِينِهِ، فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ ذُرِّيَّةً، فَقَالَ: خَلَقْتُ هَؤُلَاءِ لِلْجَنَّةِ وَبِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ يَعْمَلُونَ، ثُمَّ مَسَحَ ظَهْرَهُ فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ ذُرِّيَّةً، فَقَالَ خَلَقْتُ هَؤُلَاءِ لِلنَّارِ، وَبِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ يَعْمَلُونَ، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ فَفِيمَ الْعَمَلُ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا خَلَقَ الْعَبْدَ لِلْجَنَّةِ اسْتَعْمَلَهُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَمُوتَ عَلَى عَمَلٍ مِنْ أَعْمَالِ أَهْلِ الْجَنَّةِ، فَيُدْخِلَهُ بِهِ الْجَنَّةَ، وَإِذَا خَلَقَ الْعَبْدَ لِلنَّارِ اسْتَعْمَلَهُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى يَمُوتَ عَلَى عَمَلٍ مِنْ أَعْمَالِ أَهْلِ النَّارِ، فَيُدْخِلَهُ بِهِ النَّارَ "

Dari Muslim bin Yasaar Al-Juhaniy : Bahwasannya ‘Umar bin Al-Khaththaab pernah ditanya tentang ayat ini : ‘Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka’ (QS. Al-A’raaf : 172). - Al-Qa’nabiy membaca ayat tersebut - . Maka ‘Umar berkata : Aku mendengar Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang ayat tersebut, lalu bersabda : “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam, lalu Ia mengusap punggungnya dengan tangan kanan-Nya, dan mengeluarkan darinya sejumlah keturunannya. Allah berfirman : ‘Aku telah menciptakan mereka untuk dimasukkan ke dalam surga dengan amalan penduduk surga, dan mereka pun mengamalkannya.’. Kemudian Allah mengusap punggungnya lagi, lalu mengeluarkan darinya sejumlah keturunannya, dan Allah berfirman : ‘Aku telah menciptakan mereka untuk neraka dengan amalan penduduk neraka, dan mereka pun mengamalkannya”. Ada seorang laki-laki bertanya : "Wahai Rasulullah, lantas apa gunanya beramal?”. Maka Rasulullah ﷺ menjawab : “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla apabila menciptakan seorang hamba untuk surga, maka Allah menjadikannya beramal dengan amalan penduduk surga, hingga ia mati dalam keadaan beramal dengan amalan-amalan penduduk surga, lalu ia dimasukkan ke dalam surga dengan amalan tersebut. Dan apabila Allah menciptakan seorang hamba untuk neraka, maka Allah menjadikannya beramal dengan amalan penduduk neraka, hingga ia mati dalam keadaan mengamalkan amalan penduduk neraka, lalu ia dimasukkan ke dalam neraka dengan amalan tersebut” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3075, Abu Daawud no. 4703, Ahmad 1/44-45, dan yang lainnya].

عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: جَاءَ سُرَاقَةُ بْنُ مَالِكِ بْنِ جُعْشُمٍ، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، بَيِّنْ لَنَا دِينَنَا كَأَنَّا خُلِقْنَا الْآنَ، فِيمَا الْعَمَلُ الْيَوْمَ؟ أَفِيمَا جَفَّتْ بِهِ الْأَقْلَامُ وَجَرَتْ بِهِ الْمَقَادِيرُ؟ أَمْ فِيمَا نَسْتَقْبِلُ؟ قَالَ: لَا، بَلْ فِيمَا جَفَّتْ بِهِ الْأَقْلَامُ وَجَرَتْ بِهِ الْمَقَادِيرُ، قَالَ: فَفِيمَ الْعَمَلُ، فَقَالَ: اعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ "

Dari Jaabir, ia berkata : Suraaqah bin Maalik bin Ju’syum datang dan berkata : “Wahai Rasulullah, berikanlah penjelasan kepada kami tentang agama kami, seakan-akan kami baru diciptakan sekarang. Untuk apakah kita beramal hari ini?. Apakah itu terjadi pada hal-hal yang pena telah kering dan takdir yang berjalan, ataukah untuk yang akan datang?”. Beliau ﷺ menjawab : “Bahkan pada hal-hal yang dengannya pena telah kering dan takdir yang berjalan”. Ia bertanya : “Lalu apa gunanya beramal?”. Beliau ﷺbersabda : “Beramallah kalian, karena masing-masing dimudahkan (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2648].

عَنْ عِمْرَانَ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فِيمَا يَعْمَلُ الْعَامِلُونَ؟، قَالَ: كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

Dari ‘Imraan, ia berkata : Aku berkata : “Wahai Rasulullah, lantas untuk apa orang-orang yang beramal melakukan amalan mereka ?”. Beliau ﷺ : “Setiap orang akan dimudahkan (menuju jalan) penciptaannya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7551].

Dan inilah yang dipahami para shahabat dan taabi’iin sebagaimana riwayat:

عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ الدِّيلِيِّ، قَالَ: قَالَ لِي عِمْرَانُ بْنُ الْحُصَيْنِ: " أَرَأَيْتَ مَا يَعْمَلُ النَّاسُ الْيَوْمَ وَيَكْدَحُونَ فِيهِ أَشَيْءٌ قُضِيَ عَلَيْهِمْ، وَمَضَى عَلَيْهِمْ مِنْ قَدَرِ مَا سَبَقَ؟ أَوْ فِيمَا يُسْتَقْبَلُونَ بِهِ مِمَّا أَتَاهُمْ بِهِ نَبِيُّهُمْ وَثَبَتَتِ الْحُجَّةُ عَلَيْهِمْ؟ فَقُلْتُ: بَلْ شَيْءٌ قُضِيَ عَلَيْهِمْ وَمَضَى عَلَيْهِمْ، قَالَ: فَقَالَ: أَفَلَا يَكُونُ ظُلْمًا؟ قَالَ: فَفَزِعْتُ مِنْ ذَلِكَ فَزَعًا شَدِيدًا، وَقُلْتُ: كُلُّ شَيْءٍ خَلْقُ اللَّهِ وَمِلْكُ يَدِهِ فَ-لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ، فَقَالَ لِي: يَرْحَمُكَ اللَّهُ، إِنِّي لَمْ أُرِدْ بِمَا سَأَلْتُكَ إِلَّا لِأَحْزِرَ عَقْلَكَ، إِنَّ رَجُلَيْنِ مِنْ مُزَيْنَةَ أَتَيَا رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَقَالَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ مَا يَعْمَلُ النَّاسُ الْيَوْمَ وَيَكْدَحُونَ فِيهِ أَشَيْءٌ قُضِيَ عَلَيْهِمْ وَمَضَى فِيهِمْ مِنْ قَدَرٍ قَدْ سَبَقَ؟ أَوْ فِيمَا يُسْتَقْبَلُونَ بِهِ مِمَّا أَتَاهُمْ بِهِ نَبِيُّهُمْ وَثَبَتَتِ الْحُجَّةُ عَلَيْهِمْ؟ فَقَالَ: لَا، بَلْ شَيْءٌ قُضِيَ عَلَيْهِمْ وَمَضَى فِيهِمْ وَتَصْدِيقُ ذَلِكَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا { 7 } فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا { 8 } "

Dari Abul-Aswad Ad-Dua’liy, ia berkata : ‘Imraan bin Hushain pernah berkata kepadaku : “Apa pendapatmu tentang amalan yang dikerjakan orang hari ini dan jerih payah mereka ? Apakah itu merupakan sesuatu yang telah ditetapkan untuk mereka dan sesuatu yang telah ditentukan takdirnya sebelumnya? Ataukah itu pada sesuatu yang akan mereka hadapi dari ajaran yang dibawa oleh Nabi mereka dan hujjah tegak untuk mereka?”.  Aku menjawab : “Bahkan sesuatu yang telah ditetapkan dan diputuskan untuk mereka”. Ia berkata : “Bukankah itu satu kedhaliman?”. Abul-Aswad berkata : Aku pun sangat terkejut karenanya, lalu aku berkata : “Segala sesuatu adalah ciptaan Allah, kekuasaan berada di tangan-Nya. ‘Dia tidak ditanya tentang perbuatan-Nya, akan tetapi merekalah yang akan ditanya tentang perbuatan mereka’ (QS. Al-Anbiyaa’ : 23). Ia (’Imraan bin Hushain) berkata kepadaku : “Semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya aku tidak bermaksud dengan pertanyaanku kepadamu itu kecuali memahamkan akalmu. Sesungguhnya ada dua orang laki-laki dari Muzainah datang kepada Rasulullah ﷺ. Mereka berkata : ‘Wahai Rasulullah, apa pendapatmu tentang amalan yang dikerjakan orang hari ini dan jerih payah mereka ? Apakah itu merupakan sesuatu yang telah ditetapkan untuk mereka dan sesuatu yang telah ditentukan takdirnya sebelumnya? Ataukah itu pada sesuatu yang akan mereka hadapi dari ajaran yang dibawa oleh Nabi mereka dan hujjah tegak untuk mereka?’. Beliauﷺ bersabda : ‘Tidak, bahkan yang telah ditetapkan dan diputuskan untuk mereka. Pembenaran hal itu ada dalam Kitabullah ‘azza wa jalla : ‘Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya’ (QS. Asy-Syams : 7-8)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2650].

Abul-Aswad Ad-Dualiy termasuk kibaarut-taabi’iin yang wafat tahun 69 H, sedangkan ‘Imraan bin Hushain adalah salah seorang shahabat yang mulia yang wafat tahun 52 H.

Kehendak dan Ikhtiyaar Makhluk

Lantas bagaimana dengan ayat:

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir"[QS. Al-Kahfi : 29].

Apakah ayat ini menunjukkan adanya kehendak manusia yang lepas dari kehendak dan taqdir Allah (yang telah ditetapkan sebelumnya) ?. Atau dikatakan : “Manusia berkehendak dan berikhtiyar, baru ketetapan Allah menyusul kemudian ?” Atau dikatakan : “Taqdir Allah tidak mutlak karena sebagiannya bergantung pada kehendak dan ikhtiyaar manusia ?”.

Tentu tidak ! Jika dipahami demikian, tentu akan menabrak sekian sekian banyak dalil yang diantaranya telah disebutkan di atas. Untuk memahami ayat tersebut, tentu kita butuh penjelasan ulama yang dikuatkan dengan dalil-dalil yang ada.

Al-Baihaqiy rahimahullah membuat satu Bab dalam kitabnya sebagai berikut:

بَابٌ الْقَوْلُ فِي وُقُوعِ أَفْعَالِ الْعَبْدِ بِمَشِيئَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

قال الله تبارك وتعالى: وَمَا تَشَاءُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ. فأخبر أنا لا نشاء شيئا، إلا أن يكون الله قد شاء. وقال: وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لآمَنَ مَنْ فِي الأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا. وقال: وَلَوْ شِئْنَا لآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا. وقال: مَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ. وقال: فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإِسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ. وقال وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا أُولَئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ.

وآيات القرآن في معنى هذه الآيات كثيرة، قد كتبناها في كتاب الأسماء والصفات وفي كتاب القدر.

Bab : Perkataan tentang terjadinya perbuatan-perbuatan hamba dengan kehendak Allah ‘azza wa jalla.

Allah tabaaraka wa ta’ala berfirman : ‘Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah’ (QS. Al-Insaan : 30). (Dalam ayat ini) Allah mengkhabarkan bahwa kita tidak dapat menghendaki sesuatu kecuali apabila Allah menghendakinya. Allah ta’alaberfirman : ‘Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya’ (QS. Yuunus : 99). ‘Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi)-nya’ (QS. As-Sajdah : 13). ‘Niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki’ (QS. Al-An’aam : 111). ‘Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit’ (QS. Al-An’aam : 125). ‘Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka’ (QS. Al-Maaidah : 41).

Ayat-ayat Al-Qur’an yang semakna dengan ayat-ayat ini banyak. Kami telah menulisnya dalam kitab Al-Asmaa’ wash-Shifaat dan Al-Qadr” [Al-I’tiqaad wal-Hidaayah ilaa Sabiilir-Rasyaad, hal. 179].

عَنْ حُذَيْفَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: " لَا تَقُولُوا: مَا شَاءَ اللَّهُ وَشَاءَ فُلَانٌ، وَلَكِنْ قُولُوا: مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ شَاءَ فُلَانٌ "

Dari Hudzaifah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda : “Jangan kalian mengatakan : ‘Atas kehendak Allah dan kehendak Fulan’, akan tetapi katakanlah : ‘Atas kehendak Allah, lalu kehendak Fulan” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4980, Ibnu Maajah no. 2118, dan yang lainnya].

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَجُلا أَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَكَلَّمَهُ فِي بَعْضِ الأَمْرِ، فَقَالَ: مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: " أَجَعَلْتَنِي لِلَّهِ عَدْلا؟ قُلْ: مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ "

Dari Ibnu ‘Abbaas : Bahwasannya ada seorang laki-laki mendatangi Nabi ﷺ lalu ia berbicara dengan beliau pada sebagian urusan. Ia berkata : “Atas kehendak Allah dan kehendakmu”. Maka Nabi ﷺ bersabda : “Apakah engkau menjadikan aku sama dengan Allah ?. Katakan : Atas kehendak Allah semata” [Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah no. 2117, Ahmad 1/214 & 224 & 283 & 347, An-Nasaa’iy dalam  Al-Kubraa 9/362-363 no. 10759, dan yang lainnya].

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ : الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah ﷺ : “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata : ‘Seandainya aku berbuat demikian dan demikian, tentu tidak akan demikian dan demikian’. Akan tetapi katakanlah : Ini telah ditakdirkan Allah, dan Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan setan” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2664, Ahmad 2/366 & 370, Ibnu Maajah no. 79 & 4168, Al-Baihaqiy dalam Al-I’tiqaad hal. 185, dan yang lainnya].

Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa manusia diberikan kehendak sehingga ia dapat berikhtiyaar, namun kehendak manusia tersebut mengikuti  kehendak  Allah ta’ala dan takdir yang telah ditetapkan sebelumnya.

Asy-Syaafi’iy rahimahullah berkata:

الْمَشِيئَةُ إِرَادَةُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَمَا تَشَاءُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ، فَأَعْلَمَ اللَّهُ خَلْقَهُ أَنَّ الْمَشِيئَةَ لَهُ دُونَ خَلْقِهِ، وَأَنَّ مَشِيئَتَهُمْ لا تَكُونُ إِلا أَنْ يَشَاءَ

“Al-Masyii’ah adalah iraadah (keinginan) Allah ‘azza wa jalla: ‘Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam’(QS. At-Takwir : 29). Maka Allah memberitahukan makhluknya bahwa masyi’ah itu murni milik-Nya, bukan milik makhluk-Nya, dan bahwasannya masyi’ah mereka tidak terjadi kecuali jika dikehendaki-Nya” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-I’tiqaad hal. 182; shahih].

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhu ketika menjelaskan QS. Al-Kahfi ayat 29 berkata:

مَنْ شَاءَ اللَّهُ لَهُ الإِيمَانَ آمَنَ وَمَنْ شَاءَ لَهُ الْكُفْرَ كَفَرَ، وَهُوَ قوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَمَا تَشَاءُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya iman, maka ia beriman; dan barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kekafiran, maka ia kafir. Dan itu adalah sebagaimana firman-Nya ‘azza wa jalla : ‘Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam’ (QS. At-Takwir : 29)” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-I’tiqaad hal. 190].

Setelah memberikan dalil dan pemaparan tentang permasalahan ini, Al-Baihaqiy rahimahullah  menutup dengan perkataan:

وَقَدْ رُوِّينَا فِي حَدِيثِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ، وَفِي حَدِيثِ أَبِي الدَّرْدَاءِ وَغَيْرِهِمَا، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: مَا شَاءَ اللَّهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، وَهَذَا كَلامٌ أَخَذَتْهُ الصَّحَابَةُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَأَخَذَهُ التَّابِعُونَ عَنْهُمْ وَلَمْ يَزَلْ يَأْخُذُهُ الْخَلَفُ عَنِ السَّلَفِ مِنْ غَيْرِ نَكِيرٍ وَصَارَ ذَلِكَ إِجْمَاعًا مِنْهُمْ عَلَى ذَلِكَ. وَفِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: مَا شَاءَ اللَّهُ لا قُوَّةَ إِلا بِاللَّهِ، فَنَفَى أَنْ يَمْلِكَ الْعَبْدُ كَسْبًا يَنْفَعُهُ أَوْ يَضُرُّهُ إِلا بِمَشِيئَةِ اللَّهِ وَقُدْرَتِهِ وَفِي مَعْنَى ذَلِكَ قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَا.

“Dan sungguh telah diriwayatkan kepada kami hadits Zaid bin Tsaabit, hadits Abud-Dardaa’, dan yang lainnya, bahwasannya Nabi ﷺ bersabda : “Apa saja yang Allah kehendaki akan terjadi, dana pa saja yang tidak Ia kehendaki tidak akan terjadi”. Perkataan ini diambil oleh para shahabat dari Rasulullh ﷺ, serta diambil oleh parataabi’iin dari mereka, dan senantiasa (terus-menerus) orang-orang belakangan (khalaf) mengambilnya dari salaf tanpa ada pengingkaran, sehingga hal itu menjadi ijmaa’ dari mereka dalam permasalahan tersebut. Dalam Kitabullah ‘azza wa jalla Allah berfirman : ‘Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah’ (QS. Al-Kahfi : 39). Di sini Allah menafikkan bahwa hamba memiliki usaha yang dapat memberikan manfaat atau mudlarat kepadanya kecuali berdasarkan kehendak Allah dan kekuasaan-Nya” [idem, hal. 192].

Kemudian Al-Baihaqiy menukil bait syi’ir Asy-Syaafi’iy rahimahumallah :

مَا شِئْتَ كَانَ وَإِنْ لَمْ أَشَأْ     وَمَا شِئْتُ إِنْ لَمْ تَشَأْ لَمْ يَكُنْ
خَلَقْتَ الْعِبَادَ عَلَى مَا عَلِمْتَ     فَفِي الْعِلْمِ يَجْرِي الْفَتَى وَالْمُسِنُّ
عَلَى ذَا مَنَنْتَ وَهَذَا خَذَلْتَ     وَهَذَا أَعَنْتَ وَذَا لَمْ تُعِنْ
فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَمِنْهُمْ سَعِيدٌ     وَمِنْهُمْ قَبِيحٌ وَمِنْهُمْ حَسَنٌ

“Apa yang Engkau kehendaki pasti terjadi, meskipun tidak menghendakinya
apa saja yang aku kehendaki apabila tidak engkau kehendaki, maka tidak terjadi
Engkau ciptakan hamba-hamba sesuai dengan apa yang Engkau ketahui
di dalam ilmu berlangsung kehidupan pemuda dan orang tua
Kepada ini Engkau anugerahkan, sedangkan yang itu Engkau terlantarkan
dan yang ini Engkau tolong, sedangkan yang itu tidak Engkau tolong
Di antara mereka ada celaka dan diantara mereka ada yang bahagia
di antara mereka ada yang buruk dan diantara mereka pula ada yang baik”

[Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-I’tiqaad hal. 192, Al-Kubraa 10/206-207, Ma’rifatus-Sunan wal-Atsar no. 72,Al-Asmaa’ wash-Shifaat 1/450 no. 376; Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad no. 1303, dan yang lainnya; shahih].

Ibnu Baththah Al-‘Ukbariy rahimahullah berkata:

وَمُجْمِعُونَ عَلَى أَنَّ مَا شَاءَ اللَّهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لا يَكُونُ، وَعَلَى أَنَّ اللَّهَ خَالِقُ الْخَيْرِ وَالشَّرِّ وَمُقَدِّرُهُمَا

“dan sudah di sepakati bahwa semua yang dikehendaki Allah akan terjadi, dan yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Mereka juga bersepakat bahwa Allah adalah Pencipta kebaikan dan keburukan serta Yang menetapkan/menakdirkan keduanya…” [Al-Ibaanah, 1/206].

Ibnu Qutaibah rahimahullah berkata:

لأَنَّ أَصْحَابَ الْحَدِيثِ كُلَّهُمْ مُجْمِعُونَ عَلَى أَنَّ مَا شَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَا لَمْ يَشَأْ لا يَكُونُ، وَعَلَى أَنَّهُ خَالِقُ الْخَيْرِ، وَالشَّرِّ

“Hal itu dikarenakan ashhaabul-hadiits  semuanya sepakat bahwa semua yang dikehendaki Allah akan terjadi, dan yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Mereka juga sepakat bahwa Allah adalah Pencipta kebaikan dan kejelekan….” [Ta’wiil Mukhtalafil-Hadiits, hal. 64].

Berikut beberapa nukilan dari salaf:

أَخْبَرَنِي يُوسُفُ بْنُ مُوسَى، أَنَّ أَبَا عَبْدَ اللَّهِ، " سُئِلَ عَنْ أَعْمَالِ الْخَلْقِ، مُقَدَّرَةٌ عَلَيْهِمْ مِنَ الطَّاعَةِ وَالْمَعْصِيَةِ؟ قَالَ: نَعَمْ، قِيلَ: وَالشَّقَاءُ وَالسَّعَادَةُ مُقَدَّرَانِ عَلَى الْعِبَادِ؟ قَالَ: نَعَمْ، قِيلَ لَهُ: وَالنَّاسُ يَصِيرُونَ إِلَى مَشِيئَةِ اللَّهِ فِيهِمْ مِنْ حَسَنٍ أَوْ سَيِّئٍ؟ قَالَ: نَعَمْ "

Telah mengkhabarkan kepada kami Yuusuf bin Muusaa : Bahwasannya Abu ‘Abdillah pernah ditanya tentang perbuatan-perbuatan hamba, apakah sudah ditakdirkan atas mereka berupa ketaatan dan maksiat ?”. Ia menjawab : “Ya”. Dikatakan : “Sengsara dan bahagia juga telah ditakdirkan atas hamba-hamba ?”. Ia menjawab : “Ya”. Dikatakan kepadanya : “Orang-orang berjalan menuju kehendak Allah pada mereka berupa kebaikan dan keburukan ?”. Ia menjawab : “Ya” [Diriwayatkan oleh Al-Khallaal dalam As-Sunnah no. 932].

أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ الْمَرُّوذِيُّ، قَالَ: سُئِلَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ عَنِ الزِّنَا، بِقَدَرٍ؟ فَقَالَ: الْخَيْرُ وَالشَّرُّ بِقَدَرٍ، ثُمَّ قَالَ: الزِّنَا وَالسَّرِقَةُ، وَذَكَرَ عَنْ سَالِمٍ، وَابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُمْ قَالُوا: " الزِّنَا وَالسَّرِقَةُ بِقَدَرٍ "، ثُمَّ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: كَانَ ابْنُ مَهْدِيٍّ قَدْ سَأَلُوهُ عَنْ ذَا؟ فَقَالَ: الْخَيْرُ وَالشَّرُّ بِقَدَرٍ، فَفَحَصُوا عَلَيْهِ، فَقَالُوا لَهُ: الزِّنَا وَالسِّحَاقُ بِقَدَرٍ؟ فَكَأَنَّهُ أَنْكَرَ هَذَا، وَقَالَ: قَدْ أَجَابَهُمْ إِلَى أَنَّ الْخَيْرَ وَالشَّرَّ بِقَدَرٍ

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr Al-Marruudziy, ia berkata : Abu 'Abdillah (Ahmad bin Hanbal) pernah ditanya tentang zina, (apakah ia terjadi) berdasarkan qadar (takdir) ?. Maka beliau rahimahullah menjawab : "Kebaikan maupun kejelekan terjadi dengan qadar". Kemudian beliau melanjutkan : Zina dan pencurian (terjadi berdasarkan qadar)". Beliau menyebutkan riwayat dari Saalim dan Ibnu 'Abbaas, bahwasannya mereka berkata : "Zina dan pencurian (terjadi) berdasarkan qadar. Kemudian Abu 'Abdillah berkata : "Orang-orang pernah bertanya kepada Ibnu Mahdiy tentang hal tersebut. Ibnu Mahdiy berkata : 'Kebaikan dan kejelekan (terjadi) berdasarkan qadar'. Lantas mereka mengujinya dengan pertanyaan : 'Zina dan sihaaq (lesbianisme) (terjadi) berdasarkan qadar ?' - sekan-akan ia mengingkarinya. Maka ia menjawab mereka bahwasannya kebaikan dan kejelekan (terjadi) berdasarkan qadar...." [idem no. 889].

أَخْبَرَنِي عِصْمَةُ بْنُ عِصَامٍ، قَالَ: ثَنَا حَنْبَلٌ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: أَفَاعِيلُ الْعِبَادُ مَخْلُوقَةٌ، وَأَفَاعِيلُ الْعِبَادِ مَقْضِيَّةٌ بِقَضَاءٍ وَقَدَرٍ، قُلْتُ: الْخَيْرُ وَالشَّرُّ مَكْتُوبَانِ عَلَى الْعِبَادِ، قَالَ: الْمَعَاصِي بِقَدَرٍ ، قَالَ: وَسَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ مَهْدِيٍّ يَقُولُ: الْمَعَاصِي بِقَدَرٍ، قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: وَالْخَيْرُ وَالشَّرُّ بِقَدَرٍ، وَالطَّاعَةُ وَالْمَعْصِيَةُ بِقَدَرٍ، وَأَفَاعِيلُ الْعِبَادِ كُلُّهَا بِقَدَرٍ

Telah mengkhabarkan kepadaku 'Ishmah bin 'Ishaam, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hanbal, ia berkata : Aku mendengar Abu 'Abdillah berkata : "Perbuatan-perbuatan hamba adalah makhluk, dan perbuatan-perbuatan hamba ditetapkan dengan qadlaa' dan qadar". Aku (Hanbal) berkata : "Apakah kebaikan dan kejelakan hamba telah dituliskan ?". Ia (Abu 'Abdillah) berkata : "Perbuatan maksiat terjadi berdasarkan qadar". Ia (Abu 'Abdillah) berkata : "Aku mendengar 'Abdurrahmaan bin Mahdiy berkata : "Perbuatan maksiat (terjadi) berdasarkan qadar". Abu 'Abdillah berkata : "Kebaikan dan kejelekan (terjadi) berdasarkan qadar. Ketaatan dan kemaksiatan (terjadi) berdasarkan qadar. Perbuatan para hamba semuanya berdasarkan qadar" [idem, no. 897].

أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي هَارُونَ، أَنَّ إِسْحَاقَ حَدَّثَهُمْ، أَنَّ أَبَا عَبْدَ اللَّهِ، سُئِلَ عَنِ الْقَدَرِ، فَقَالَ: الْقَدَرُ قَدَّرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْعِبَادِ، فَقَالَ رَجُلٌ: إِنْ زَنَى فَبِقَدَرٍ، وَإِنْ سَرَقَ فَبِقَدَرٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، اللَّهُ قَدَّرَهُ عَلَيْهِ

Telah mengkhabarkan kepadaku Muhammad bin Abi Haaruun : Bahwasannya Ishaaq menceritakan kepada mereka, bahwasannya Abu 'Abdillah pernah ditanya tentang qadar. Ia menjelaskan : "Al-qadar telah Allah tetapkan atas para hamba". Seseorang berkata : "Apabila ada orang yang berzina, apakah itu berdasarkan qadar ? Apabila mencuri juga berdasarkan qadar ?". Abu 'Abdillah menjawab : "Ya, Allah telah mentakdirkan hal itu padanya" [idem, no. 899].

أَخْبَرَنِي عِصْمَةُ بْنُ عِصَامٍ، قَالَ: ثَنَا حَنْبَلٌ، قَالَ: قُلْتُ لأَبِي عَبْدِ اللَّهِ: إِنَّ قَوْمًا يَحْتَجُّونَ بِهَذِهِ الآيَةِ مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ، وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ، قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ، وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ، وَاللَّهُ قَضَاهَا

Telah mengkhabarkan kepadaku 'Ishmah bin 'Ishaam, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hanbal : Aku bertanya kepada Abu 'Abdillah : "Sesungguhnya ada satu kaum yang berhujjah dengan ayat ini : 'Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri’ (QS. An-Nisa’ : 79)". Maka Abu 'Abdillah berkata : "Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri, dan Allah telah menetapkannya" [idem, no. 904].

أَخْبَرَنَا بَكْرُ بْنُ سَهْلٍ الدِّمْيَاطِيُّ بِدِمْيَاطٍ، قَالَ: ثَنَا شُعَيْبُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ: ثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ، حَتَّى وَضْعِكَ يَدَكَ عَلَى خَدِّكَ

Telah mengkhabarkan kepada kami Bakr bin Sahl Ad-Dimyaathiy di negeri Dimyaath, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Syu'aib bin Yahyaa, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Laits (bin Sa'd), dari Hisyaam, dari Ibraahiim bin Muhammad bin 'Aliy, dari 'Aliy bin 'Abdillah bin 'Abbaas, ia berkata : "Semua hal terjadi berdasarkan qadar, hingga engkau meletakkan tanganmu di atas pipimu" [idem, no. 912].

Aliy bin 'Abdillah bin 'Abbaas adalah anak dari Ibnu 'Abbaas radliyallaahu 'anhu. Seorang imam yang tsiqah.

حَدَّثَنِي أَبِي، نا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، نا سُفْيَانُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُحَمَّدٍ، قَالَ: " كُنْتُ عِنْدَ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، فَجَاءَهُ رَجُلٌ، فَقَالَ: الزِّنَا بِقَدَرٍ ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، قَالَ: كَتَبَهُ عَلَيَّ وَيُعَذِّبُنِي عَلَيْهِ؟ قَالَ: فَأَخَذَ لَهُ الْحَصَا "

Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Mahdiy : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari ‘Amru bin Muhamad, ia berkata : Aku pernah berada di sisi Saalim bin ‘Abdillah. Maka datanglah seorang laki-laki lalu berkata : “Apakah zina terjadi berdasarkan qadar ?”. Ia menjawab : “Ya”. Laki-laki itu kembali bertanya : “Hal itu telah ditetapkan untukku dan kemudian aku diadzab atasnya ?”. Maka Saalim mengambil kerikil untuknya (untuk dilemparkan kepadanya)” [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 933].

Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar adalah salah satu pembesar ulama kalangan  taabi’iin (termasuk fuqahaa’ yang tujuh).

Bahkan ketika ternukil dari Qaatadah bin Di’aamah rahimahullah perkataannya:

الأَشْيَاءُ كُلُّهَا بِقَدَرٍ إِلا الْمَعَاصِي

“Segala sesuatu semuanya terjadi berdasarkan qadar kecuali kemaksiatan” [Diriwayatkan oleh Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad no. 1295]

maka para ulama mengecam keras dirinya dan melemparkan tuduhan terimbas pemahaman qadariyyah – sebagaimana dikatakan oleh Muhammad bin Thaahir, Al-‘Ijliy, Adz-Dzahabiy, dan yang lainnya.

Bahkan Abu Tsaur rahimahullah berkata:

وَمَنْ قَالَ: الأَشْيَاءُ كُلُّهَا بِقَدَرٍ إِلا الْمَعَاصِيَ، فَلا يُصَلَّى خَلْفَهُ

“Dan barangsiapa yang mengatakan : Segala sesuatu semuanya terjadi berdasarkan qadar kecuali kemaksiatan, maka jangan shalat di belakangnya” [idem no. 1363].

Segala sesuatu yang telah, sedang, maupun yang akan terjadi/ada di alam ini telah ditakdirkan Allah ta'ala. Ini merupakan taqdir kauniy yang menjadi rahasia Allah, tersimpan di Lauh Mahfuudh. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah ta’ala. Meskipun Allah menakdirkan adanya kemaksiatan, namun Ia menghendaki (iraadah syar’iyyah) hamba-Nya untuk menjauhinya dan semangat untuk beramal (kebajikan). Hal itu sebagaimana sabda Nabi ﷺ :

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ، ثُمَّ قَرَأَ فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى إِلَى قَوْلِهِ لِلْعُسْرَى

“Beramallah kalian, karena masing-masing dimudahkan (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya)”. Kemudian beliau ﷺ membaca ayat : ‘Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar” (QS. Al-Lail : 5-10)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2647].

Sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita agar kita beramal, berusaha mencari jalan yang diridhai Allah Ta’ala dengan petunjuk dari Allah Ta’ala yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena segala sesuatu dimudahkan untuk apa yang telah ditakdirkan atasnya.

عَنْ عَلِىٍّ - رضى الله عنه - قَالَ كَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - فِى جَنَازَةٍ فَأَخَذَ شَيْئًا فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِهِ الأَرْضَ فَقَالَ « مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ قَالَ « اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ » . ثُمَّ قَرَأَ ( فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ) الآيَةَ .

“Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pernah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalllam pada sebuah jenazah, lalu beliau berdiam sejenak, kemudian beliau menusuk-nusuk tanah, lalu bersabda:“Tidak ada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempatnya dari neraka dan tempatnya dari surga”. Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak bersandar atas takdir kita dan meninggalkan amal?”, beliau menajwab: “Beramallah kalian, karena setiap sesuatu dimudahkan atas apa yang telah diciptakan untuknya, siapa yang termasuk orang yang ditakdirkan bahagia, maka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni surga, adapun siapa yang ditakdirkan termasuk dari dari orang yang ditkadirkan sengsara, maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni neraka”. Kemudian beliau membaca ayat:

{فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7)} [الليل: 5 - 7]

Artinya: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa”. “Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)”. “Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”. QS. Al Lail: 5-7.

Imam Nawawi rahimahullah berkata:

وفي هذه الأحاديث النهي عن ترك العمل والاتكال على ما سبق به القدر بل تجب الأعمال والتكاليف التي ورد الشرع بها وكل ميسر لما خلق له لا يقدر على غيره.

“Di dalam hadits-hadits ini terdapat larangan untuk meninggalkan amal dan bersandar dengan apa yang telah ditakdirkan, akan tetapi wajib beramal dan mengerjakan beban yang disebutkan oleh syariat, dan setiap sesuatu dimudahkan untuk apa yang telah diciptakan untuknya, yang tidak ditakdirkan atas selainnya”. Lihat kitab Al Minhaj, Syarah Shahih Muslim., 16/196.

Dengan dasar itulah seorang hamba kelak akan dihisab pada hari kiamat:

الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لا ظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya” [QS. Al-Ghaafir : 17].

Allah ta’ala telah mengkaruniai manusia akal, kehendak, dan kemampuan yang dengannya ia dapat berikhtiyaar memilih jalan petunjuk dengannya. Allah ta’ala juga telah menurunkan Al-Qur’an dan para Nabi/Rasul untuk menjelaskan semua yang menjadi perintah dan larangan dari Allah ta’ala.

Tidak boleh kita beralasan dengan takdir terhadap kemaksiatan yang dilakukan. Seandainya seseorang mencuri, maka ia tetap akan dihukum atas perbuatan yang dilakukannya.

Pembagian Jihad Menurut Ulama'


Secara bahasa (etimologi), lafazh jihad diambil dari kata:

جَهَدَ : اَلْـجَهْدُ، اَلْـجُهْدُ = اَلطَّاقَةُ، اَلْمَشَقَّةُ، اَلْوُسْعُ.

Yang berarti kekuatan, usaha, susah payah, dan kemampuan.

Menurut ar-Raghib al-Ashfahani rahimahullah (wafat th. 425 H), bahwa اَلْـجَهْدُ berarti kesulitan dan اَلْـجُهْدُ berarti kemampuan. Kata jihad ( اَلْـجِهَادُ ) diambil dari kata: جَاهَدَ – يُـجَاهِدُ – جِهَادًا .

Menurut istilah (terminologi), arti jihad adalah:

اَلْـجِهَادُ : مُـحَارَبَةُ الْكُفَّارِ وَهُوَ الْمُغَالَبَةُ وَاسْتِفْرَاغُ مَا فِـيْ الْوُسْعِ وَالطَّاقَةِ مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ.

“Jihad adalah memerangi orang kafir, yaitu berusaha dengan sungguh-sungguh mencurahkan kekuatan dan kemampuan, baik berupa perkataan atau perbuatan.”

Dikatakan juga:

اَلْـجِهَادُ وَالْمُجَاهَدَةُ: اِسْتِفْرَاغُ الْوُسْعِ فِـيْ مُدَافَعَةِ الْعَدُوِّ.

“Jihad artinya mencurahkan segala kemampuan untuk memerangi musuh.”

JIHAD ADA TIGA MACAM
1. Jihad melawan musuh yang nyata.
2. Jihad melawan setan.
3. Jihad melawan hawa nafsu.

Tiga macam jihad ini termaktub di dalam Al-Qur-an, di antaranya:

Firman Allah Azza wa Jalla,

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ

“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur-an) ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dia-lah Pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” [Al-Hajj/22 : 78]

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [At-Taubah/9: 41]

Juga firman-Nya.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَٰئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُمْ مِنْ وَلَايَتِهِمْ مِنْ شَيْءٍ حَتَّىٰ يُهَاجِرُوا ۚ وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلَّا عَلَىٰ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu melindungi mereka, sampai mereka berhijrah. (Tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah terikat perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Al-Anfaal/8: 72]

Kewajiban jihad (perang di jalan Allah) didasarkan pada nash-nash yang adalah qath'i(tegas), dan tidak ada ikhtilaf dikalangan ulama dalam maslah ini. Siapapun yang menolak kewajiban jihad bisa dinyatakan kafir dan keluar dari Islam. Setiap upaya untuk mengaitkan jihad dengan terorisme juga harus ditolak. pengaitan jihad dengan terorisme sangat berbahaya, dan ini merupakan penyesatan politik (tadhlil siyasi). Tentu , ini juga merupakan tindakan kriminal yang luar biasa (jarimah kubra).

Namun kita juga harus jujur dan proporsional. Jihad memang bermakna perang, namun tidak semua perang identik dengan jihad. Perang melawan bughat, perang melawan teroris, perang membela kehormatan, perang membela kehormatan umum masyarakat seperti amar makhruf nahi munkar, perang fitnah, perang melawan perampas kekuasaan, termasuk perang mendirikan agama Islam tidak termasuk dalam kategori jihad. Karena itu, istilah jihad hanya digunakan dalam konteks berperang melawan orang kafir, dalam rangka menjunjung tinggi kalimat Allah, menebarkan kebenaran dan keadilan di tengah-tengah umat manusia. Jihad juga bukan perang demi menumpahkan darah, menjajah, merampok kekayaan alam, menodai jiwa dan merampok kehormatan bangsa atau umat yang di perangi. Jihad adalah perang untuk menggempur dinding kekufuran agar cahaya Islam bisa sampai kepada bangsa atau umat yang ada di dalamnya. Itu pun merupakan alternatif terakhir, setelah para penguasa mereka tetap bebal, dan tidak mau tawaran untuk memeluk Islam, atau tunduk pada sistem dan pemerintahan Islam. Andai saja mereka mau masuk Islam, atau tunduk pada sistem dan pemerintahan Islam meski tetap memeluk agama mereka, maka terhadap mereka hukum jihad tidak akan di terapkan.

Para ulama juga memilah jihad menjadi dua :difa'i (defensif) dan ibtida'i (ofensif). Hukumnya juga berbeda. Ketika negeri kaum Muslim di serang, misalnya, seperti Irak, Afganistan dan palestina, maka hukum berjihad melawan agresor adalah fardhu 'ain. Itulah jihad difa'i(jihad defensif). Berbeda jika umat Islam yang memulai serangan, maka hukumnya bukanfardu 'ain, melainkan fardhu kifayah. Inilah yang di sebut jihad ibtida'i (jihad ofensif). Hanya saja, siapa yang berhak mengumumkan perang dalam kondisi seperti ini?. Dalam pandangan Islam, yang berhak hanya kepala negara sudah memaklumkan jihad maka seruan itu akan disambut oleh seorang Mukmin dengan suka cita. Sebab, dengan jihad itulah mereka akan mendapatkan dua kebaikan. Jika menang, maka itu merupakan kebaikan. Jika kalah, mereka akan menjadi syuhada, dan itu pun merupakan kebaikan.

Kita tidak menafikkan ditegakkannya jihad difa’iy ketika kuffar menyerang dan menduduki negeri kaum muslimin

وأما قتال الدفع فهو أشد أنواع دفع الصائل عن الحرمة والدين فواجب إجماعاً فالعدو الصائل الذي يفسد الدين والدنيا لا شيء أوجب بعد الإيمان من دفعه فلا يشترط له شرط بل يدفع بحسب الإمكان وقد نص على ذلك العلماء أصحابنا وغيرهم فيجب التفريق بين دفع الصائل الظالم الكافر وبين طلبه في بلاده والجهاد منه ما هو باليد ومنه ما هو بالقلب والدعوة والحجة واللسان

“Adapun perang (jihad) difa’, maka hal itu merupakan kewajiban yang paling ditekankan untuk mempertahankan kehormatan dan agama dari penyerang (musuh). Hal itu wajib secara ijma’. Tidak ada sesuatupun yang lebih wajib daripada menolak serangan musuh yang akan merusak agama dan dunia. Maka, tidak disyaratkan padanya satu syaratpun untuk itu, bahkan harus mempertahankan diri sesuai dengan kemampuan” [Al-Ikhtiyaaraat Al-Fiqhiyyah, hal. 608, tahqiq : ‘Ali bin Muhammad ‘Abbas Ba-‘Alawiy Ad-Dimasyqiy; Daarul-Ma’rifah, Cet. Thn. 1397 H].

Selain jihad difa’iy, Islam juga mensyari’atkan jihad thalabiy/hujuumiy (jihad ofensif) yang ditegakkan kepada orang kuffar dalam rangka dakwah. Jihad jenis ini dilakukan kepada orang kuffar karena kekafiran mereka, walau mereka tidak melakukan penyerangan terlebih dahulu kepada kaum muslimin. Banyak dalil yang melandasi hal ini, diantaranya :

QS. Al-Anfaal : 39

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan”.

Makna “fitnah” dalam ayat di atas adalah kekafiran.

Di dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa ketika Usamah mengangkat pedangnya kepada seorang lelaki, lalu lelaki itu mengucapkan, "Tidak ada Tuhan selain Allah," tetapi Usamah tetap memukulnya hingga membunuhnya. Selanjutnya hal itu diceritakan kepada Rasulullah Saw., maka Rasulullah Saw. bersabda kepada Usamah:

"أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؟ وَكَيْفَ تَصْنَعُ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ " قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّمَا قَالَهَا تَعَوُّذًا. قَالَ: "هَلَّا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ؟ "، وَجَعَلَ يَقُولُ وَيُكَرِّرُ عَلَيْهِ: "مَنْ لَكَ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ " قَالَ أُسَامَةُ: حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ إِلَّا ذَلِكَ الْيَوْمَ

"Apakah engkau membunuhnya sesudah dia mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan selain Allah?' Lalu bagaimanakah yang akan kamu lakukan terhadap kalimah 'Tidak ada Tuhan selain Allah' kelak di hari kiamat? Usamah Berkata “Wahai Rasullullah sesungguhnya dia mengucapkannya hanya semata-mata untuk melindungi dirinya.” Rasulullah Saw. bersabda.”Tidakkah engkau belah dadanya untuk mengetahui isi hatinya?” Rasulullah Saw. mengulang-ulang sabdanya itu kepada Usamah seraya bersabda,"Siapakah yang akan membelamu terhadap kalimah 'Tidak ada Tuhan selain Allah kelak di hari kiamat? Usamah mengatakan bahwa mendengar jawaban itu Usamah berharap seandainya saja ia baru masuk Islam saat hari itu (yakni karena merasa berdosa besar).

QS. At-Taubah : 5

فَإِذَا انْسَلَخَ الأشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Ibnu Katsir berkata :

وقوله: { فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ } أي: من الأرض. وهذا عام، والمشهور تخصيصه بتحريم القتال في الحرم بقوله: { وَلا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ } [البقرة: 191]

“Firman Allah “maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka” ; yaitu : di muka bumi. Ini adalah umum. Dan yang masyhur adalah dikhususkan dengan pengharaman peperangan di tanah Haram dengan firman-Nya : “Dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil-Haram kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka” (QS. Al-Baqarah : 191)” [Tafsir Ibnu Katsir4/111].

QS. At-Taubah : 29

قَاتِلُوا الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلا بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk”.

Ibnu Katsir mengatakan :

وهذه الاَية الكريمة أول الأمر بقتال أهل الكتاب بعدما تمهدت أمور المشركين ودخل الناس في دين الله أفواجاً واستقامت جزيرة العرب أمر الله ورسوله بقتال أهل الكتابين اليهود والنصارى وكان ذلك في سنة تسع ولهذا تجهز رسول الله صلى الله عليه وسلم لقتال الروم ودعا الناس إلى ذلك وأظهره لهم وبعث إلى أحياء العرب حول المدينة فندبهم فأوعبوا معه واجتمع من المقاتلة نحو من ثلاثين ألفاً وتخلف بعض الناس من أهل المدينة ومن حولها من المنافقين وغيرهم وكان ذلك في عام جدب ووقت قيظ وحر وخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم يريد الشام لقتال الروم فبلغ تبوك فنزل بها وأقام بها قريباً من عشرين يوماً ثم استخار الله في الرجوع فرجع عامه ذلك لضيق الحال وضعف الناس كما سيأتي بيانه بعد إن شاء الله تعالى

وهذه الآية الكريمة [نزلت] أول الأمر بقتال أهل الكتاب، بعد ما تمهدت أمور المشركين ودخل الناس في دين الله أفواجا، فلما استقامت جزيرة العرب أمر الله ورسوله بقتال أهل الكتابين اليهود والنصارى، وكان ذلك في سنة تسع؛ ولهذا تجهز رسول الله صلى الله عليه وسلم لقتال الروم ودعا الناس إلى ذلك، وأظهره لهم، وبعث إلى أحياء العرب حول المدينة فندبهم، فَأَوْعَبوا معه، واجتمع من المقاتلة نحو [من] ثلاثين ألفا، وتخلف بعضُ الناس من أهل المدينة ومن حولها من المنافقين وغيرهم، وكان ذلك في عام جَدْب، ووقت قَيْظ وحر، وخرج، عليه السلام، يريد الشام لقتال الروم، فبلغ تبوك، فنزل بها وأقام على مائها قريبًا من عشرين يومًا، ثم استخار الله في الرجوع، فرجع عامه ذلك لضيق الحال وضعف الناس، كما سيأتي بيانه بعد إن شاء الله.

“Ayat yang mulia ini turun pertama kali adalah perintah bagi kaum muslimin untuk memerangi Ahli Kitab. Setelah urusan dengan kaum musyrikin mulai mencair dan berbagai kelompok masuk ke dalam agama Islam, dan ketika jazirah Arab mulai stabil, maka Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk memerangi orang-orang Ahli Kitab, Yahudi, dan Nashrani. Ini terjadi pada tahun 9 hijriah. Untuk itu, Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam mempersiapkan diri untuk memerangi bangsa Romawi. Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam menyeru para shahabatnya untuk bersiap-siap, dan mengirim utusan ke daerah-daerah pinggiran kota untuk mengajak mereka agar bersiap-siap dan seruan itu mendapat sambutan yang sangat memuaskan, sehinga terkumpullah pasukan sejumlah kurang lebih 30.000 personil. Sebagian orang penduduk Madinah dan kaum munafiqin yang ada di sekitarnya serta manusia lainnya tidak ikut berperang. Peristiwa ini terjadi pada saat sulitnya pangan dan kemarau panjang serta panas yang sangat terik. Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam dengan pasukanya berangkat menuju ke negeri Syam untuk memerangi pasukan Romawi, ketika sampai di Tabuk, pasukan Islam singgah di salah satu mata airnya selama 20 hari. Setelah itu Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam ber-istikharah untuk kembali ke Madinah. Karena kondisi pasukan yang mulai lemah, maka pada tahun itu juga Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam kembali ke Madinah – sebagaimana yang akan datang penjelasannya nanti, insyaAllah” [selesai – Tafsir Ibnu Katsir 4/132].

Al-Qurthubi mengatakan bahwa (dengan ayat tersebut) Allah subhaanahu wa ta’ala memerintahkan manusia untuk memerangi seluruh orang kuffar yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir serta risalah ketauhidan yang dibawa oleh Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam [Tafsir Al-Qurthubi 10/162].

Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam mengirimkan beberapa pasukannya dalam rangka dakwah.Menawarkan Islam dan memerangi kekafiran. Barangsiapa yang masuk Islam, maka haram darah, harta, dan kehormatannya – kecuali dengan hak Islam. Jika mereka menolak, maka mereka diberikan dua pilihan : Diperangi atau tunduk kepada hukum Islam dengan membayar jizyah. Jika mereka memilih peperangan, maka di sini kaum muslimin memerangi mereka karena kekufuran mereka. Pembangkangan terhadap hukum Allah. Pilihan perang merupakan pilihan/alternatif terakhir yang diambil kaum muslimin. Perang ini dilakukan dalam rangka memerangi kekafiran dan meninggkan kalimat Allah.

Pada perang Mu’tah dan Tabuk, Rasululah shallallaahu ’alaihi wa sallam memerangi orang-orang Romawi dan Arab Nashrani. Ini beliau lakukan setelah tawaran masuk Islam ditolak oleh Hiraklius – sebagaimana masyhur cerita ini dalam kitab-kitab hadits.

QS. At-Taubah : 123

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

”Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”.

Ibnu Katsir membawakan penjelasan yang tidak jauh berbeda dengan ayat 29. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat tersebut memerintahkan Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam untuk memerangi orang-orang kafir dari mulai yang paling dekat dengan wilayah Islam dan begitu seterusnya sampai yang jauh, dari yang lemah begitu seterusnya sampai yang kuat” [Tafsir Al-Qurthubi 10/435 – Al-Qurthubi menguatkan pendapat Qatadah].

Abu Ja’far Ath-Thabari berkata ketika menafsirkan ayat ini :

ابدأوا بقتال الأقرب فالأقرب إليكم دارًا، دون الأبعد فالأبعد. وكان الذين يلون المخاطبين بهذه الآية يومئذ، الروم، لأنهم كانوا سكان الشأم يومئذ، والشأم كانت أقرب إلى المدينة من العراق. فأما بعد أن فتح الله على المؤمنين البلاد، فإن الفرض على أهل كل ناحية، قتالُ من وليهم من الأعداء دون الأبعد منهم، ما لم يضطرّ إليهم أهل ناحية أخرى من نواحي بلاد الإسلام، فإن اضطروا إليهم، لزمهم عونهم ونصرهم، لأن المسلمين يدٌ على من سواهم

”Hendaklah mereka memulai memerangi orang-orang kafir itu dari mulai yang terdekat wilayahnya, kemudian yang lebih jauh, dan begitu seterusnya. Dan orang-orang yang dituju (untuk diserang) oleh ayat ini pada saat itu adalah orang-orang Romawi, karena pada saat itu mereka menjadi penduduk negeri Syaam – dan negeri Syaam adalah wilayah yang terdekat dengan Madinah dibanding ’Iraq. Adapun setelah Allah memberikan kemenangan kepada kaum mukminin untuk menaklukkan negeri Makkah (Fathu Makkah), maka wajib bagi setiap penduduk negeri untuk memerangi musuh-musuh yang ada di sekitar mereka terlebih dahulu, bukan yang lebih jauh dari mereka – selama tidak ada faktor yang mengharuskan mereka untuk menolong kaum muslimin yang berada di negeri Islam yang lainnya. Namun jika ada faktor yang menuntut untuk itu, maka wajib untuk menolong mereka, karena kaum muslimin adalah tangan yang satu terhadap kaum muslimin yang lain” [Tafsir Ath-Thabari, 14/574-575].

Hal yang senada dikatakan oleh Ibnul-Jauziy :

قد أمر بقتال الكفار على العموم وإنما يبتدأ بالأقرب فالأقرب

”Allah telah memerintahkan mereka untuk memerangi orang-orang kafir secara umum, yang dimulai dari yang terdekat, dan kemudian yang lebih jauh, dan seterusnya” [Zaadul-Masiir, 3/518].

Hadits ’Abdullah bin ’Umar radliyallahu ’anhuma :

بَعَثَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَرِيَّةً إِلٰى نَجْدٍ فَخَرَجْتُ فِيْهَا فَأَصَبنَا إِبِلًا وَغَنَمًا فَبَلَغَتْ سُهمَانُنَا اثْنَي عَشَرَ بَعِيْرًا، وَنَفَّلَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعِيْرًا بَعِيْرًا

”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam pernah mengutus pasukan ke negeri Najd. Maka akupun keluar untuk bergabung dengannya. (Pasukan itu mendapatkan kemenangan) sehingga kami mendapatkan ghanimah berupa onta dan kambing. Sehingga, ghanimah yang kami dapat saat itu (masing-masing) dua belas ekor onta. Lalu, Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam masih menambah lagi masing-masing satu ekor onta” [HR. Al-Bukhari no. 3134,4338 dan Muslim no. 1749].

Hadits Ibnu ’Aun rahimahullah :

عَنْ ابْنِ عَوْنٍ قَالَ كَتَبْتُ إِلَى نَافِعٍ أَسْأَلُهُ عَنْ الدُّعَاءِ قَبْلَ الْقِتَالِ قَالَ فَكَتَبَ إِلَيَّ إِنَّمَا كَانَ ذَلِكَ فِي أَوَّلِ الْإِسْلَامِ قَدْ أَغَارَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى بَنِي الْمُصْطَلِقِ وَهُمْ غَارُّونَ وَأَنْعَامُهُمْ تُسْقَى عَلَى الْمَاءِ فَقَتَلَ مُقَاتِلَتَهُمْ وَسَبَى سَبْيَهُمْ وَأَصَابَ يَوْمَئِذٍ

Dari Ibnu ’Aun ia berkata : Aku menulis surat kepada Naafi’ untuk menanyakan tentang seruan (pemberitahuan perang) sebelum perang dimulai. Maka ia membalas surat dan menyatakan bahwa hal itu terjadi di awal Islam. Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam menyerang Bani Musthaliq ketika mereka sedang lengah, yaitu ketika mereka sedang memberi minum ternak mereka. Maka dibunuhlah orang-orang yang berhak dibunuh di antara mereka, dan ditawan orang-orang yang berhak ditawan di antara mereka. Pada hari itu, kaum muslimin menang” [HR. Muslim no. 1730].

An-Nawawi membuat satu bab berjudul :

باب جواز الإغارة على الكفار الذين بلغتهم دعوة الإسلام، من غير تقدم الإعلام بالإغارة

”Bab : Diperbolehkannya menyerang orang-orang kafir yang telah sampai kepada mereka dakwah Islam tanpa didahului peringatan penyerangan”.

Kemudian beliau berkata :

وفي هذا الحديث جواز الإغارة على الكفار الذين بلغتهم الدعوة من غير إنذار بإِلاغارة. وفي هذه المسألة ثلاثة مذاهب حكاها المازري والقاضي أحدها: يجب الإنذار مطلقاً قال مالك وغيرها وهذا ضعيف. والثاني: لا يجب مطلقاً وهذا أضعف منه أو باطل. والثالث: يجب إن لم تبلغهم الدعوة ولا يجب إن بلغتهم لكن يستحب وهذا هو الصحيح، وبه قال نافع مولى ابن عمر والحسن البصري والثوري والليث والشافعي وأبو ثور وابن المنذر والجمهور. قال ابن المنذر وهو قول أكثر أهل العلم: وقد تظاهرت الأحاديث الصحيحة على معناه

”Dalam hadits ini terdapat dalil diperbolehkannya untuk menyerang orang-orang kafir yang telah sampai kepada mereka dakwah Islam tanpa diberikan peringatan terlebih dahulu. Pada pembahasan ini terdapat tiga madzhab yang dihikayatkan oleh Al-Maaziriy dan Al-Qaadliy. Madzhab pertama : Diharuskan memberikan peringatan secara mutlak. Malik dan yang lainnya berkata : ”Pendapat ini lemah”. Madzhab kedua : Tidak wajib secara mutlak. Pendapat ini bahkan lebih lemah dan keliru dibanding yang pertama. Madzhab ketiga : Wajib apabila belum sampai padanya dakwah Islam dan tidak wajib apabila telah sampai padanya dakwah Islam – namun tetap disukai untuk memberikan peringatan terlebih dahulu. Ini adalah pendapat yang benar. Pendapat ini merupakan pendapat Naafi’ maula Ibnu ’Umar, Al-Hasan Al-Bashri, Ats-Tsauriy, Al-Laits, Asy-Syafi’iy, Abu Tsaur, Ibnu Mundzir, dan jumhur ulama. Ibnu Mundzir berkata : ”Hal itu merupakan perkataan sebagian besar ahlul-’ilmi (ulama) yang disokong/diperkuat oleh hadits-hadits shahih” [Syarah Shahih Muslim lin-Nawawi 12/279].

Sabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam ketika menugaskan seorang panglima yang membawa pasukan menuju pertempuran :

اغْزُوا بِاسْمِ اللَّهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ اغْزُوا وَلَا تَغُلُّوا وَلَا تَغْدِرُوا وَلَا تَمْثُلُوا وَلَا تَقْتُلُوا وَلِيدًا وَإِذَا لَقِيتَ عَدُوَّكَ مِنْ الْمُشْرِكِينَ فَادْعُهُمْ إِلَى ثَلَاثِ خِصَالٍ أَوْ خِلَالٍ فَأَيَّتُهُنَّ مَا أَجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ فَإِنْ أَجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى التَّحَوُّلِ مِنْ دَارِهِمْ إِلَى دَارِ الْمُهَاجِرِينَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّهُمْ إِنْ فَعَلُوا ذَلِكَ فَلَهُمْ مَا لِلْمُهَاجِرِينَ وَعَلَيْهِمْ مَا عَلَى الْمُهَاجِرِينَ فَإِنْ أَبَوْا أَنْ يَتَحَوَّلُوا مِنْهَا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّهُمْ يَكُونُونَ كَأَعْرَابِ الْمُسْلِمِينَ يَجْرِي عَلَيْهِمْ حُكْمُ اللَّهِ الَّذِي يَجْرِي عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَكُونُ لَهُمْ فِي الْغَنِيمَةِ وَالْفَيْءِ شَيْءٌ إِلَّا أَنْ يُجَاهِدُوا مَعَ الْمُسْلِمِينَ فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَسَلْهُمْ الْجِزْيَةَ فَإِنْ هُمْ أَجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَقَاتِلْهُمْ وَإِذَا حَاصَرْتَ أَهْلَ حِصْنٍ فَأَرَادُوكَ أَنْ تَجْعَلَ لَهُمْ ذِمَّةَ اللَّهِ وَذِمَّةَ نَبِيِّهِ فَلَا تَجْعَلْ لَهُمْ ذِمَّةَ اللَّهِ وَلَا ذِمَّةَ نَبِيِّهِ وَلَكِنْ اجْعَلْ لَهُمْ ذِمَّتَكَ وَذِمَّةَ أَصْحَابِكَ فَإِنَّكُمْ أَنْ تُخْفِرُوا ذِمَمَكُمْ وَذِمَمَ أَصْحَابِكُمْ أَهْوَنُ مِنْ أَنْ تُخْفِرُوا ذِمَّةَ اللَّهِ وَذِمَّةَ رَسُولِهِ وَإِذَا حَاصَرْتَ أَهْلَ حِصْنٍ فَأَرَادُوكَ أَنْ تُنْزِلَهُمْ عَلَى حُكْمِ اللَّهِ فَلَا تُنْزِلْهُمْ عَلَى حُكْمِ اللَّهِ وَلَكِنْ أَنْزِلْهُمْ عَلَى حُكْمِكَ فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي أَتُصِيبُ حُكْمَ اللَّهِ فِيهِمْ أَمْ لَا

”Berperanglah atas nama Allah ! di jalan Allah ! Perangilah orang yang kufur kepada Allah ! Berperanglah dan jangan curang, jangan berkhianat, jangan berlaku kejam (dengan memotong hidung dan telinga), dan jangan membunuh anak-anak !. Apabila kamu bertemu dengan kaum musyrikin yang menjadi musuhmu, maka tawarkanlah kepada mereka tiga pilihan, yang mana salah satu diantara tiga tersebut yang mereka pilih, maka terimalah dan janganlah mereka diserang, lalu ajaklah mereka masuk Islam. Apabila mereka menerima ajakanmu, maka terimalah dan janganlah mereka diserang. Kemudian ajaklah mereka untuk berpindah dari perkampungan mereka menuju perkampungan orang Muhajirin. Jika mereka mau pindah, beritahukan kepada mereka bahwa mereka mendapatkan hak dan kewajiban yang sama seperti orang-orang Muhajirin. Jika mereka tidak mau pindah dari rumah mereka, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka diperlakukan seperti kaum muslimin yang ada di pedalaman dengan diberlakukan hukum Allah atas mereka seperti yang berlaku atas orang-orang mukmin lain tanpa mendapat bagian dari ghanimah dan fa’i, kecuali jika mereka turut berjihad bersama kaum muslimin. Jika mereka tidak mau masuk Islam, maka suruhlah mereka membayar jizyah. Jika mereka bersedia, maka terimalah dan janganlah mereka diperangi. Apabila mereka menolak, maka mintalah pertolongan kepada Allah dan perangilah mereka ! Apabila kamu mengepung benteng musuh lalu mereka menginginkan agar engkau berikan kepada mereka perlindungan dan jaminan Allah serta Nabi-Nya, maka janganlah engkau berikan kepadanya perlindungan Allah serta Nabi-Nya. Tetapi, berilah mereka perlindungan dan jaminan dari kamu sendiri dan pasukanmu. Karena jika kamu berikan perlindungan dan jaminanmu beserta pasukanmu, maka itu lebih ringan resikonya daripada engkau berikan perlindungan danjaminan Allah serta Nabi-Nya. Apabila kamu mengepung benteng musuh lalu mereka ingin agar engkau memberlakukan kepada mereka hukum Allah, maka janganlah engkau berlakukan hukum Allah kepada mereka. Tetapi, berlakukanlah kepada mereka hukum dari kamu sendiri; karena kamu tidak tahu apakah kamu benar-benar telah memberlakukan hukum Allah kepada mereka atau belum”  [HR. Muslim no. 1731].

Sabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam :

أُمِرتُ أنْ أقاتِلَ الناس حتَّى يقولوا : لا إله إلا الله ، فمن قال : لا إله إلا الله عَصَمَ منِّي مالَه ونَفسَهُ إلا بحقِّه ، وحِسَابُه على الله

”Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan : ’Tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah’. Barangsiapa yang mengatakan : Laa ilaaha illallaah, terlindungi dariku harta dan jiwanya kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah Subhanahu wata'ala” [HR. Al-Bukhari no. 25,1399,2946, 6924,7284; Muslim no. 20-22; At-Tirmidzi no. 2733-2734; Ibnu Majah no. 3297-3299; Al-Baihaqi no. 12894,12897-12899; Ibnu Hibban no. 174,175, 216,218,219; dan yang lainnya].

Sejarah telah mencatat bahwa penegakan jihad thalabiy ini sampai ke negeri Hindustan. Ibnu Katsir menjelaskan :

وقد غزا المسلمون الهند في أيام معاوية سنة أربع وأربعين، وقد غرا الملك الكبير الجليل محمود بن سبكتكين، صاحب غزنة، في حدود أربعمائة، بلاد الهند فدخل فيها وقتل وأسر وسبى وغنم ودخل السومنات وكسر الند الاعظم الذي يعبدونه، واستلب سيونه وقلائده، ثم رجع سالما مؤيدا منصورا.

”Pada masa kekhalifahan Mu’awiyyah radliyallaahu ’anhu, kaum muslimin telah menyerang negeri Hind pada tahun 44 H. Demikian pula raja Ghaznah yang mulia dan terhormat bernama Mahmud bin Subuktatin telah menyerang negeri Hind ini sekutar tahun 104 H. Ia dapat menerobos masuk wilayah Hind, berhasil melumpuhkan tentara Hind, menawan tawanan, dan merebut ghanimah. Ia berhasil merebut Suminat (yaitu daerah suatu kaum yang meyakini reinkarnasi), ia berhasil menghancurkan berhala besar yang disembah-sembah. Ia merampas pedang-pedang dan perhiasan-perhiasan Hind yang terkenal itu. Kemudian ia kembali dengan selamat, tertolong, dan membawa kemenangan” [lihat Al-Bidaayah wan-Nihaayah 6/249].

Namun, kebencian dan permusuhan yang kita berikan kepada orang kaum kafir ini tidaklah mengkonsekuensikan kita boleh berlaku dhalim terhadap mereka. Kita tetap boleh bermuamalah secara ma’ruf serta tetap dituntut berlaku ’adil dengan mereka selama mereka tidak berbuat dhalim kepada kita.

Allah ta’ala berfirman :

لاّ يَنْهَاكُمُ اللّهُ عَنِ الّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرّوهُمْ وَتُقْسِطُوَاْ إِلَيْهِمْ إِنّ اللّهَ يُحِبّ الْمُقْسِطِينَ

”Allah tiada melarangmu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” [QS. Al-Mumtahanah : 8].

Ayat di atas merupakan rukhshah (keringanan) dari Allah dalam hal hubungan dan muamalah dengan orang-orang kafir secara baik dan penuh kebajikan, sebagai balasan atas kebaikan yang telah mereka lakukan kepada kita.

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata :

هذه الآية رخصة من الله تعالى في صلة الذين لم يعادوا المؤمنين ولم يقاتلوهم. قال ابن زيد: كان هذا في أول الإسلام عند الموادعة وترك الأمر بالقتال ثم نسخ. قال قتادة: نسختها "فاقتلوا المشركين حيث وجدتموهم" [التوبة: 5]. وقيل: كان هذا الحكم لعلة وهو الصلح، فلما زال الصلح بفتح مكة نسخ الحكم وبقي الرسم يتلى.

”Ayat ini merupakan rukhshah (keringanan) dari Allah bagi orang-orang (kafir) yang tidak memerangi kaum mukminin dan tidak memusuhinya. Ibnu Zaid berkata : ’Sikap semacam ini terjadi di permulaan Islam dan pada waktu perdamaian dan gencatan senjata lalu dihapus’. Qatadah berkata : ’Ayat tersebut dimansukh oleh ayat : ’Maka bunuhlah orang musyrik itu dimana saja kamu menjumpainya’ (QS. At-Taubah : 5). Ada pula yang mengatakan : ’Ayat di atas tadi berlaku karena ada sebab tertentu, yaitu perdamaian. Ketika hilang hukum perdamaian dengan adanya Fathu Makkah, maka terhapuslah hukumnya, tinggal bacaannya’”.

Dan yang benar bahwa hukum yang terkandung dalam ayat ini tetap berlaku (tidak terhapus secara mutlak). Berbuat baik kepada orang kafir dalam hal muamalah keduniaan tidaklah mengharuskan untuk menanamkan kecintaan kepada mereka dalam hati. Sebab, kecintaan mempunyai konsekuensi pembolehan untuk menjadikan mereka teman dekat, pemimpin, penolong, mempercayakan amanah kepada mereka, dan yang lainnya sebagaimana dijelaskan oleh ulama. Dan itu terlarang secara asal dalam Islam. Allah ta’ala telah berfirman :

لاّ يَتّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّهِ فِي شَيْءٍ إِلاّ أَن تَتّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً

”Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka”.[QS. Aali ’Imraan : 28]

الّذِينَ يَتّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزّةَ فَإِنّ العِزّةَ للّهِ جَمِيعاً

”(Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”. [QS. An-Nisaa’ : 139]

Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

ثم البر والصلة والإحسان لا يستلزم التحابب والتوادد المنهي عنه في قوله تعالى ‏:{ لاّ تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الاَخِرِ يُوَآدّونَ مَنْ حَآدّ اللّهَ وَرَسُولَهُ}  الآية فإنها عامة في حق من قاتل ومن لم يقاتل والله أعلم‏.‏ ا هـ‏.

”Kemudian,... kebajikan, hubungan, dan kebaikan tidak mengharuskan adanya kecintaan dan kasih sayang yang dilarang oleh Allah untuk dilakukan seperti yang terkandung dalam firman Allah : ”Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya”.  Ayat ini bersifat umum, berlaku bagi setiap orang kafir yang memerangi maupun tidak memerangi. Wallaahu a’lam”.

Permusuhan antara kaum muslimin dengan Yahudi ini akan terus abadi hingga hari kiamat kelak. Bahkan, tidak akan tegak hari kiamat hingga kaum muslimin memerangi dan menghabisi kaum Yahudi (yang kafir) sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam :

لا تقوم الساعة حتى يقاتل المسلمون اليهود فيقتلهم المسلمون حتى يختبئ اليهودي من وراء الحجر والشجر فيقول الحجر أو الشجر يا مسلم يا عبد الله هذا يهودي خلفي فتعال فاقتله إلا الغرقد فإنه من شجر اليهود

”Kiamat tidak akan terjadi sehingga kaum muslimin memerangi Yahudi, lalu kaum muslimin akan membunuh mereka sampai-sampai setiap orang Yahudi yang bersembunyi di balik batu dan pohon, namun batu dan pohon itu berkata : ’Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ada orang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia !’. Kecuali pohon Gharqad, karena ia adalah pohon Yahudi”.

Peperangan ini adalah peperangan antara keimanan dan kekafiran. Bukankah bendera Yahudi ini akan berada di belakang Dajjal ? Bukankah Dajjal ini adalah fitnah yang paling besar yang muncul di akhir jaman ? Bukankah tidak ada fitnah yang lebih besar daripada fitnah kekafiran yang dibawanya ? Tidaklah ’Isa bin Maryam kelak memerangi dan membunuh Dajjal dan orang-orang Yahudi (juga Nashrani) melainkan peperangan untuk menegakkan kalimat Allah dan menghancurkan kekafiran dan segala simbolnya.

Siapakah Ahlussunnah Waljama'ah Sebenarnya


Sangat penting kiranya memahami lebih jauh inti daripada aqidah ahlu sunnah wal jama’ah yang memang sejatinya itu adalah sebuah aqidah yang bisa menyelematkan keimanan dan keislaman seorang muslim sampai masuk pada tempat yang di ridhoi Alloh S.W.T.

Penjabaran mengenai aqidah Ahlu sunnah Wal Jama’ah itu memang sangatlah luas dibutuhkan pengkajian ilmu yang begitu mendalam dan mendasar agar tidak meimbulkan keslahfahaman satu sama lain apalagi meyesatkan, karena itu sangatlah membahayakan ideologi aqidah itu sendiri.

Nah dalam memberikan penerangan mengenai hal tersebut Ulama Ahlu sunnah memberikan penjelasan yang detail dengan sebuah rangkuman yang mungkin bisa jauh lebih di pahami oleh orang awwam.

Rasululloh S.A.W Bersabda :

عَلَيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا وَسَتَرَوْنَ مِنْ بَعْدِيْ اخْتِلاَفاً شَدِيْدًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَاْلأُمُوْرَ الْمُحْدَثَاتِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ (رواه ابن ماجه)

"Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah, dan mendengar serta taat (kepada pemimpin) meskipun ia seorang budak hitam. Dan kalian akan melihat perselisihan yang sangat setelah aku (tiada nanti), maka hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafa’ rasyidin mahdiyyin (pemimpin yang lurus dan mendapat petunjuk), gigitlah ia dengan gigi geraham (berpegang teguhlah padanya), dan jauhilah perkara-perkara muhdatsat (hal-hal baru dalam agama), sesungguhnya setiap bid’ah itu kesesatan” (HR. Ibnu Majah. Hadis senada diriwayatkan pula oleh At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad).

Penamaan Ahlus-Sunnah telah ada sejak generasi pertama Islam. Ketika menafsirkan firman Allah ta’ala :

يَوْمَ تَبْيَضّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدّ وُجُوهٌ فَأَمّا الّذِينَ اسْوَدّتْ وُجُوهُهُمْ أَكْفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُواْ الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu." (QS. Ali ‘Imran : 106); Ibnu ‘Abbas berkata :

حين تبيض وجوه أهل السنة والجماعة, وتسود وجوه أهل البدعة والفرقة

“Adapun orang yang putih wajahnya, mereka adalah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah; adapun orang yang hitam wajahnya, mereka adalah Ahlul-Bid’ah dan sesat”  [lihat Tafsir Ibnu Katsir  3/139; Muassasah Qurthubah, Cet. 1/1421].

Kemudian istilah ini menjadi sangat masyhur di era selanjutnya akibat munculnya berbagai penyimpangan dalam agama. Di antara ulama terdahulu yang menyebut istilah Ahlus-Sunnah di antaranya :

1.    Al-Hasan (Al-Bashri) rahimahullah berkata :

يا أهل السنة ترفقوا رحمكم الله فإنكم من أقل الناس

“Wahai Ahlus-Sunnah, berlaku baik/lembutlah ! Semoga Allah memberikan rahmat kepada kalian. Karena sesungguhnya kalian adalah golongan yang paling sedikit dari kalangan manusia” [Syarh Ushuuli I’tiqaad Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah oleh Al-Laalikai 1/57].

2.    Ayyub As-Sikhtiyani rahimahullah berkata :

إني أخبر بموت الرجل من أهل السنة وكأني أفقد بعض أعضائي

“Apabila aku dikabarkan tentang meninggalnya seorang dari Ahlus-Sunnah, seolah-olah hilang salah satu anggota tubuhku” [idem, hal. 60].

3.    Malik bin Anas rahimahullah berkata :

أهل السنة الذين ليس لهم لقب يعرفون به، لا جهمي ولا قدري ولا رافضي

”Ahlus-Sunnah adalah orang-orang yang tidak mempunyai laqab/gelar tertentu yang mereka dikenal dengannya. (Mereka) bukanlah Jahmiy, bukan Qadariy, dan bukan pula Rafidliy” [Al-Intiqaa’ oleh Ibnu ‘Abdil-Barr, hal. 35].

4.    Al-Waki’ (guru Al-Imam Asy-Syafi’i) rahimahullah berkata :

أهل السنة يقولون : الإيمان : قول وعمل ، والمرجئة يقولون : الإيمان قول ، والجهمية يقولون : الإيمان : المعرفة

“Ahlus-Sunnah mengatakan : Iman itu perkataan dan perbuatan. Murji’ah mengatakan : Iman itu perkataan saja. Adapun Jahmiyyah, mereka mengatakan : Iman itu hanya ma’rifat saja” [Asy-Syari’ah oleh Al-Imam Al-Ajurri 1/288].

5.    Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata ketika menjelaskan beberapa prinsip aqidah dalam masalah taqdir:

مثل حديث: «الصادق المصدوق» ومثل ما كان مثله في القدر والرؤية والقرآن وغيرها من السنن مكروه، ومنهي عنه، لا يكون صاحبه، وإن كان بكلامه سنة من أهل السنة حتى يدع الجدال ويسلم. ويؤمن بالآثار

“…..(Tidak boleh baginya untuk berbicara tanpa ilmu) sebagaimana hadits Ash-Shadiqul-Mashduq (yaitu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam) dan hadits-hadits yang semisal dalam masalah taqdir, ru’yah (yaitu melihat Allah di surga kelak bagi kaum mukminin), Al-Qur’an, dan yang lainnya dari sunnah-sunnah. Hal ini adalah dibenci dan dilarang. Pelakunya tidak termasuk Ahlus-Sunnah – walaupun perkataan (kadang) mencocoki sunnah – sampai ia meninggalkan perdebatan dalam masalah-masalah tersebut dan mengimani atsar” [Ushulus-Sunnah lil-Imam Ahmad bin Hanbal dari riwayat ‘Abdus bin Malik Al-‘Athaar].

6.    Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah berkata :

وأما الصواب من القول في رؤية المؤمنين ربهم عز وجل يوم القيامة ، وهو ديننا الذي ندين الله به ، وأدركنا عليه أهل السنة والجماعة فهو : أن أهل الجنة يرونه على ما صحت به الأخبار عن رسول الله

“Adapun yang benar dari permasalahan melihatnya kaum mukminin kepada Rabbnya ‘azza wa jalla di hari kiamat, maka hal itu merupakan agama kami yang kami beragama dengannya. Dan kami mengetahui bahwa Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah berpendapat bahwa Ahlul-Jannah akan melihat Allah sesuai dengan khabar yang datang dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam” [Sharihus-Sunnah oleh Ath-Thabari hal. 4]

Adapun pengertian/definisi dari Ahlus-Sunnah (wal-Jama’ah), maka Ibnul-Jauzi rahimahullah menjelaskan :

ولا ريب في أن أهل النقل والأثر المتبعين آثار رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وآثار أصحابه هم أهل السنة لأنهم على تلك الطريق التي لم يحدث فيها حادث : وإنما وقعت الحوادث والبدع بعد رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وأصحابه .

“Tidak dapat diragukan lagi bahwa Ahlun-Naql wal-Atsaradalah orang-orang yang mengikuti jejak Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam beserta para shahabatnya. Mereka adalah Ahlus-Sunnah, karena mereka berada di atas jalan tersebut yang di sana tidak ada hal-hal yang baru diada-adakan. Sebab, hal-hal yang baru dan bid’ah itu baru muncul sepeninggal Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dan para shahabatnya” [Talbis-Iblis oleh Ibnul-Jauzi 1/24].

Abu Muhamad bin Hazm (Ibnu Hazm) rahimahullah berkata :

وأهل السنة الذين نذكرهم أهل الحق ومن عداهم فأهل البدعة فإنهم - إي أهل السنة - الصحابة رضي الله عنهم وكل من سلك نهجهم من خيار التابعين رحمة الله عليهم، ثم أصحاب الحديث ومن اتبعهم من الفقهاء جيلا فجيلا إلى يومنا هذا ومن اقتدى بهم من العوام في شرق الأرض وغربها رحمة الله عليهم

“Ahlus-Sunnah yang kami sebutkan adalah Ahlul-Haq, sedangkan selain mereka adalah ahlul-bid’ah. Sesungguhnya mereka (Ahlus-Sunnah) adalah para shahabat radliyallaahu ‘anhum dan orang-orang yang berjalan di atas manhaj mereka dari kalangan tabi’in – semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka, kemudian Ashhaabul-Hadits dan orang yang mengikuti mereka dari kalangan fuqahaa, generasi demi generasi, sampai sekarang ini. Demikian pula orang-orang yang mencontoh mereka dari orang-orang awam di bagian Timur dan Barat bumi ini. Semoga Allah memberikan rahmat kepada mereka semua” [Al-Fashlu fil-Milal wal-Ahwaa’ wan-Nihaal oleh Ibnu Hazm 2/113 – melalui perantaraan ’Aqiidatu Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah fish-Shahaabatil-Kiraam]

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

لأنهم متمسكون بكتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم، وما اتفق عليه السابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان

“Karena mereka (Ahlus-Sunnah) adalah orang-orang yang berpegang-teguh kepada Kitabullh (Al-Qur’an) dan Sunah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan apa-apa yang disepakati oleh As-Saabiquunal-Awwaluun dari kalangan Muhajirin, Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik” [Majmu’ Al-Fataawaa oleh Ibnu Taimiyyah 3/375].

Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

وهم أهل السنة والجماعة : المتمسكون بكتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم وبما كان عليه الصدر الأول من الصحابة والتابعين وأئمة المسلمين في قديم الدهر وحديثه

“Mereka adalah Ahlus-Sunnah : (Yaitu) orang-orang yang berpegang-teguh pada Kitabullah (Al-Qur’an), Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan pada apa-apa yang ada pada generasi awal dari kalangan shahabat, tabi’in, dan imam-imam kaum muslimin, baik pada masa dahulu dan sekarang” [Tafsir Ibnu Katsir 3/434].

Al-Alusiy rahimahullah berkata :

(اعلم) أن أهل السنة والجماعة هم أهل السلام والتوحيد، المتمسكون بالسنن الثابتة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم في العقائد والنحل والعبادات الباطنة والظاهرة......فإن السنة في الأصل تقع على ما كان عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم، وما سنه أو أمر به من أصول الدين وفروعه،......وتطلق أيضا على ما كان عليه السلف الصالح في مسائل الامامة والتفضيل، والكف عما شجر بين أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم

“(Ketahuilah) bahwasannya Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, mereka adalah Ahlul-Islam wat-Tauhid, orang-orang yang berpegang-teguh pada sunah-sunnah yang telah tetap dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam hal aqidah, madzhab, dan ibadah baik secara bathin ataupun dhahir….. . Kata As-Sunnah itu pada asalnya adalah setiap perkara yang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berada di atasnya dan apa yang telah sunnahkan atau perintahkan dengannya, baik dalam permasalahan ushuluddin maupun permasalahan furu’….. (Kata ini) juga dimutlakkan pada setiap perkara yang mana as-salafush-shalih berada di atasnya, baik dalam masalah imamah, pengutamaan (di antara shahabat), maupun menahan diri dari setiap perkara yang para shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berselisih padanya” [Ghayaatul-Amaaniy fir-Radd ‘alan-Nabhaaniy oleh Mahmud Syukri Al-Alusi 1/428].

Memelihara Kebersamaan dan Kolektifitas.

Firman Allah SWT:

إِنَّ الذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِيْ شَيْءٍ إنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَفْعَلُوْن (الأنعام: 159)

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamaNya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS. Al-An’am: 159)

Ayat diatas memberikan pengertian bahwa orang-orang yang membuat perpecahan dalam agama dan menciptakan golongan-golongan sendiri maka mereka telah meninggalkan jalan yang benar.

Terkait dengan pengertian ayat tersebut, kenyataan yang ada bahwa Ahlussunnah selalu menjaga kebersamaan dan kolektifitas. Perbedaan yang ada tidak sampai menimbulkan perpecahan yang menyebabkan mereka menjadi beberapa golongan, apalagi sampai mengkafirkan, membid’ahkan dan memfasiqkan. Hal inilah yang membedakan Ahlussunnah wal jamaah dengan aliran-aliran sempalan lainnya.

Dalam hal ini al-Imam Abdul Qahir al-Baghdadi dalam kitab al-Farq bain al-Firoq mengatakan;

الفصل الخامس: في بيان عصمة الله أهل السنة عن تكفير بعضهم بعضا. أهل السنة لا يكفّر بعضهم بعضا، وليس بينهم خلاف يوجب التبري والتكفير، فهم إذن أهل الجماعة القائمون بالحق، والله تعالى يحفظ الحق وأهله، فلا يقعون في تنابذ وتناقض، وليس فريق من فرق المخالفين إلا وفيهم تكفير بعضهم لبعض، وتبري بعضهم من بعض كالخوارج والروافض والقدرية حتى اجتمع سبعة منهم في مجلس واحد فافترقوا عن تكفير بعضهم بعضا وكانوا بمنزلة اليهود والنصارى حين كفّر بعضهم بعضا حتى قالت اليهود ليست النصارى على شيء وقالت النصارى ليست اليهود على شيء.

“Bab Lima, menerangkan tentang penjagaan Allah terhadap Ahlussunnah wal jamaah dan dari saling mengkafirkan antara sesama mereka. Ahlussunnah wal jamaah tidak saling mengkafirkan antara sesama mereka. Di antara mereka tidak ada perselisihan pendapat yang membawa pada pemutusan hubungan dan pengkafiran. Oleh karena itu, mereka memang golongan al-Jama’ah (selalu menjaga kebersamaan dan keharomonisan) yang melaksanakan kebenaran. Allah selalu menjaga kebenaran dan pengikutnya, sehingga mereka tidak terjerumus dalam ketidakharmonisan dan pertentangan. Dan tidak ada satu golongan diantara golongan-golongan sempalan, kecuali diantara mereka terjadi sikap saling mengkafirkan dan memutus hubungan, seperti aliran Khawarij, Syi’ah dan Qodariyah (Mu’tazilah), sehingga pernah suatu ketika tujuh orang dari mereka berkumpul dalam satu majlis, lalu mereka berbeda pendapat dan mereka berpisah dengan saling mengkafirkan antara yang satu dengan yang lain. Mereka tidak ubahnya orang Yahudi dan Nasrani pada saat saling mengkafirkan. Orang-orang Yahudi berkata: ‘Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan’, dan orang Nasrani berkata: ‘Orang-orang Yahudi tidak mempunyai satu pegangan’.

Sikap saling mengkafirkan dan membid’ahkan dalam satu aliran telah menjadi trend di kalangan intern ulama Wahhabi. Dahulu orang Wahhabi membid’ahkan, mengkufurkan dan mengatakan syirik terhadap kaum Muslimin diluar golongan mereka. Namun, kini mereka menyebarkan bid’ah dan kafir terhadap ulama sesama Wahhabi. Misalnya, Abdul Muhsin al-Abbad dari Madinah menganggap al-Albani berfaham Murji’ah. Al-Albani juga menvonis tokoh Wahhabi di Saudi Arabia yang mengkritiknya sebagai musuh tauhid dan Sunnah.

Realita perpecahan tersebut menjadi bukti bahwa Wahhabi memang bukan pengikut Ahlussunnah wal jamaah.

Aqidah Ahlusssunnah adalah aqidah yang diyakini oleh ratusan juta umat Islam, mereka adalah para pengikut madzhab Syafi’i, Maliki,Hanafi, serta orang-orang yang utama dari madzhab Hanbali (Fudhala’ al-Hanabilah).
Aqidah ini diajarkan di pesantren-pesantren Ahlussunnah di negara kita, Indonesia. Dan al-Hamdulillah, aqidah ini juga diyakini oleh ratusan juta kaum muslimin diseluruh dunia seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, India, Pakistan, Mesir (terutama al-Azhar), negara-negara Syam (Syiria, Yordania, Lebanon dan Palestina), Maroko,Yaman, Irak, Turki, Daghistan, Checnya, Afghanistan dan masih banyak lagi di negara-negara lainnya seperti di afrika, eropa, amerika dan australia .

Berikut pernyataan para ulama Ahlu Sunnah Wal Jama’ah:

وأهل الحق عبارة عن أهل السنة أشاعرة وماتريدية أو المراد بهم من كان على سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فيشمل من كان قبل ظهور الشيخين أعني أبا الحسن الأشعري وأبا منصور الماتريدي (حاشية العدوي، علي الصعيدي العدوي، دار الفكر، بيروت، 1412 ج. 1، ص. 151)

“Dan Ahlul-Haqq (orang-orang yang berjalan di atas kebenaran) adalah gambaran tentang Ahlussunnah Asya’irah dan Maturidiyah, atau maksudnya mereka adalah orang-orang yang berada di atas sunnah Rasulullah Saw., maka mencakup orang-orang yang hidup sebelum munculnya dua orang syaikh tersebut, yaitu Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi” (Hasyiyah Al-‘Adwi, Ali Ash-Sha’idi Al-‘Adwi, Dar El-Fikr, Beirut, 1412, juz 1, hal. 105).

والمراد بالعلماء هم أهل السنة والجماعة وهم أتباع أبي الحسن الأشعري وأبي منصور الماتريدي رضي الله عنهما (حاشية الطحطاوي على مراقي الفلاح، أحمد الطحطاوي الحنفي، مكتبة البابي الحلبي، مصر، 1318، ج. 1، ص. 4)

“Dan yang dimaksud dengan ulama adalah Ahlussunnah Wal-Jama’ah, dan mereka adalah para pengikut Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi radhiyallaahu ‘anhumaa (semoga Allah ridha kepada keduanya)” (Hasyiyah At-Thahthawi ‘ala Maraqi al-Falah, Ahmad At-Thahthawi al-Hanafi, Maktabah al-Babi al-Halabi, Mesir, 1318, juz 1, hal. 4).

وأما حكمه على الإطلاق وهو الوجوب فمجمع عليه في جميع الملل وواضعه أبو الحسن الأشعري وإليه تنسب أهل السنة حتى لقبوا بالأشاعرة (الفواكه الدواني، أحمد النفراوي المالكي، دار الفكر، بيروت، 1415، ج: 1 ص: 38)

“Adapun hukumnya (mempelajari ilmu aqidah) secara umum adalah wajib, maka telah disepakati ulama pada semua ajaran. Dan penyusunnya adalah Abul Hasan Al-Asy’ari, kepadanyalah dinisbatkan (nama) Ahlussunnah sehingga dijuluki dengan Asya’irah (pengikut faham Abul Hasan al-Asy’ari)” (Al-Fawakih ad-Duwani, Ahmad an-Nafrawi al-Maliki, Dar el-Fikr, Beirut, 1415, juz 1, hal. 38).

Sebutan Ahlussunnah Wal-Jama’ah bagi Asy’ariyyah dan “pemimpin Ahlussunnah Wal-Jama’ah” bagi Abul Hasan al-Asy’ari, hanyalah sebagai suatu penghargaan dari para ulama setelah beliau atas jasa-jasa beliau dalam menyusun aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah serta perjuangan beliau dalam mempopulerkan dan menyebarluaskannya di saat aqidah sesat Mu’tazilah masih berkuasa. Tentunya, ini tidak berarti bahwa faham Asy’ariyyah atau Maturidiyyah adalah satu-satunya yang sah disebut sebagai Ahlussunnah Wal-Jama’ah, sebab baik Abul Hasan al-Asy’ari maupun Abu Manshur al-Maturidi hanyalah menyusun apa yang sudah diyakini oleh para ulama salaf yang bersumber kepada al-Qur’an, Sunnah Rasulullah Saw., dan atsar para Shahabat. Jadi, mereka hanya menyusun apa yang sudah ada, bukan mencipta keyakinan yang sama sekali baru.

Hadrotus Syaikh Hasyim Asy’ari dalam Risalah Ahlussunnah wal Jamaah menulis;

قال الشهاب الخفاجي رحمه الله تعالى في نسيم الرياض: والفرقة الناجية هم أهل السنة والجماعة، وفي حاشية الشنواني على مختصر ابن أبي جمرة: هم أبو الحسن الأشعري وجماعته أهل السنة وأئمة العلماء لأن الله تعالى جعلهم حجة على خلقه وإليهم تفزع العامة في دينهم وهم المعنيون بقوله : «إن الله لا يجمع أمتي على ضلالة».

“As-Syihab al-Khofaji berkata dalam kitab ‘Nasim al-Riyadh’, golongan yang selamat adalah Ahlussunnah wal jamaah. Dan dalam catatan pinggir as-Syanwani atas Muhtashor Ibnu Abi Jamroh terdapat keterangan, “mereka adalah Abul Hasan al-Asy’ari dan pengikutnya yang merupakan Ahlussunnah dan pemimpin para ulama, karena Allah swt. menjadikan mereka hujjah atas mahlukNya dan hanya mereka yang menjadi rujukan kaum Muslimin dalam urusan agama, mereka yang dimaksud dengan sabda Nabi e; sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku atas kesesatan.”

Penjelasan Hadratussyaikh tersebut seiring dengan hadits shohih berikut ini:

عن إبراهيم العذري قال: قال رسول الله : «يحمل هذا العلمَ من كل خلَف عدولُه ينفون عنه تحريف الغالين وانتحال المبطلين وتأويل الجاهلين». (رواه البيهقي).

“Dari Ibrahim al-Udzri ra. dia berkata, Rasulullah bersabda: ‘Ilmu agama ini akan dibawa oleh orang-orang yang adil dalam setiap generasi. Mereka akan membersihkan ilmu agama dari distorsi kelompok yang ekstrim, kebohongan mereka yang bermaksud jahat dan penafsiran mereka yang bodoh.”(HR. Al-Baihaqi)

Hadits ini memberikan penjelasan bahwa ajaran agama Islam akan selalu disampaikan dari generasi ke generasi oleh para ulama yang dapat dipercaya, yang selalu membersihkan ajaran agama dari pemalsuan dan kebohongan.

Berkaitan dengan substansi hadits tersebut apabila kita mengkaji sejarah peradaban Islam, maka akan dijumpai bahwa para pakar yang menjadi rujukan kaum muslimin dalam berbagai disiplin ilmu agama hingga kini adalah para ulama yang mengikuti madzhab al-Asy’ari dan al-Maturidi.

Di saat para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah merasa berbahagia dengan mengakui diri sebagai pengikut ajaran Asy’ariyyah, kaum Salafi & Wahabi justeru malah melepaskan diri dari ikatan itu, dan memberlakukan terminologi umum tentang Ahlussunnah wal-Jama’ah yang tidak ada hubungannya dengan Asy’ariyyah. Itu memang hak mereka, tetapi masalahnya, bila di dalam mempelajari aqidah tidak ada format baku yang disepakati atau tidak ada ikatan SANAD ILMU YANG TERSAMBUNG dengan para ulama terdahulu dalam memahami al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. serta atsar para Shahabat, maka akan ada banyak orang yang dapat seenaknya mengaku sebagai Ahlussunnah Wal-Jama’ah dengan hanya bermodal dalil-dalil yang mereka pahami sendiri. Dan keadaan ini berbahaya bagi keselamatan aqidah umat Islam.

Jadi, siapakah yang lebih pantas disebut Ahlussunnah Wal-Jama’ah, kaum Salafi & Wahabi yang memahami aqidah para ulama salaf dengan caranya sendiri sehingga berbeda kesimpulan dengan para ulama salaf itu, ATAUKAH para pengikut Asy’ariyyah yang menerima ajaran aqidah ulama salaf secara turun temurun dari generasi ke generasi melalui para guru dan kitab-kitab mereka serta TIDAK BERTENTANGAN dgn mereka generasi salaf?

Doa Nabi Sulaiman Menundukkan Hewan dan Jin

  Nabiyullah Sulaiman  'alaihissalam  (AS) merupakan Nabi dan Rasul pilihan Allah Ta'ala yang dikaruniai kerajaan yang tidak dimilik...