Senin, 01 November 2021

Orang Yahudi Pernah Bertawassul Kepada Rosululloh


Tawassul merupakan salah satu bentuk doa untuk hajat tertentu. Karena salah satu bentuk doa, ia dapat dimaqbul dan ditolak. Dengan tawassul, seseorang tidak mengganti siapa yang dimohon (Allah). Yang dituju dalam berdoa tetap Allah dalam tawassul. Hanya saja ketika berdoa, seseorang menyertakan orang-orang mulia di sisi Allah dengan maksud memudahkan penerimaan-Nya.

Tawassul seperti ini juga dilakukan masyarakat Yahudi Khaibar dalam menghadapi musuh-musuhnya sebelum Rasulullah SAW lahir. Dengan mengambil Nabi Muhammad SAW sebagai wasilah, Yahudi Khaibar dapat memukul mundur suku-suku yang menjadi lawannya. Sebagaimana diketahui, Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang tidak asing bagi masyarakat Yahudi. Pasalnya gambaran dan ciri-ciri Rasulullah SAW tampak jelas dalam kitab-kitab suci mereka.

Bertawassul dengan Nabi atau pun para Nabi itu termasuk ajaran Islam. Tidak dibedakan apakah Nabi itu telah lahir, belum lahir, atau pun telah wafat.

وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ

Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la`nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. [QS. Al-Baqarah: 89]

Tafsir Jalalain:

“وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَاب مِنْ عِنْد اللَّه مُصَدِّق لِمَا مَعَهُمْ” مِنْ التَّوْرَاة : هُوَ الْقُرْآن “وَكَانُوا مِنْ قَبْل” قَبْل مَجِيئِهِ “يَسْتَفْتِحُونَ” يَسْتَنْصِرُونَ “عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا” يَقُولُونَ اللَّهُمَّ اُنْصُرْنَا عَلَيْهِمْ بِالنَّبِيِّ الْمَبْعُوث آخِر الزَّمَان “فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا” مِنْ الْحَقّ وَهُوَ بَعْثَة النَّبِيّ “كَفَرُوا بِهِ” حَسَدًا وَخَوْفًا عَلَى الرِّيَاسَة وَجَوَاب لَمَّا الْأُولَى دَلَّ عَلَيْهِ جَوَاب الثَّانِيَة “فلعنة الله على الكافرين “

(Dan tatkala datang kepada mereka Alquran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka) yakni Taurat (padahal sebelumnya mereka) maksudnya sebelum datangnya Alquran itu (memohon pertolongan) agar beroleh kemenangan (atas orang-orang yang kafir) dengan mengucapkan, “Ya Allah, tolonglah kami dengan nabi yang akan dibangkitkan di akhir zaman.” (Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui) yaitu berupa kebenaran dengan diutusnya Nabi Muhammad itu (mereka lalu ingkar kepadanya) disebabkan kedengkian dan takut kehilangan pengaruh. Jawaban bagi ‘lammaa’ atau ‘tatkala’ yang pertama, ditunjukkan oleh jawaban ‘lammaa’ yang kedua (maka laknat Allahlah atas orang-orang yang kafir itu).

Dalam tafsir Jalalain bisa kita lihat bahwa ketika Al-Qur`an datang kepada orang-orang Yahudi, maka orang-orang Yahudi mengingkarinya. Padahal mereka mengetahui akan kebenaran Al-Qur`an dan Nabi Muhammad bahwa Al-Qur`an memang firman Allah dan Nabi Muhammad memang utusan Allah. Bahkan orang-orang Yahudi bertawassul dengan Nabi yang akan dibangkitkan di akhir zaman, yaitu Nabi Muhammad shollallohu ‘alayhi wa sallam. Dan orang-orang Yahudi pun menang atas musuh-musuh mereka setelah mereka bertawassul dengan Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam.

Hal ini dapat dilihat pula dalam hadits dari Ibnu ‘Abbas yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihahin no. 3042

Al-Haakim rahimahullah berkata:

أَخْبَرَنِي الشَّيْخُ أَبُو بَكْرٍ بْنُ إِسْحَاقُ، أَنْبَأَ مُحَمَّدُ بْنُ أَيُّوبَ، ثنا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى، ثنا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ هَارُونَ بْنِ عَنْتَرَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: " كَانَتْ يَهُودُ خَيْبَرَ تُقَاتِلُ غَطَفَانَ، فَكُلَّمَا الْتَقَوْا هُزِمَتْ يَهُودُ خَيْبَرَ فَعَاذَتِ الْيَهُودُ بِهَذَا الدُّعَاءِ: اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي وَعَدْتَنَا أَنْ تُخْرِجَهُ لَنَا فِي آخِرِ الزَّمَانِ، إِلا نَصَرْتَنَا عَلَيْهِمْ، قَالَ: فَكَانُوا إِذَا الْتَقَوْا دَعَوْا بِهَذَا الدُّعَاءِ، فَهَزَمُوا غَطَفَانَ، فَلَمَّا بُعِثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَفَرُوا بِهِ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ: وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ بِكَ يَا مُحَمَّدُ عَلَى الْكَافِرِينَ

Telah mengkhabarkan kepadaku Asy-Syaikh Abu Bakr bin Ishaaq : Telah memberitahukan Muhammad bin Ayyuub : Telah menceritakan kepada kami Yuusuf bin Muusaa : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Malik bin Haaruun bin ‘Antarah, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Sa’iid bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa, ia berkata : “Yahudi Khaibar berperang dengan Kabilah Ghathafaan. Setiap bertemu dalam peperangan, orang Yahudi Khaibar selalu lari dan meminta perlindungan dengan berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepada-Mu dengan haq (kedudukan) Muhammad, seorang Nabi yang ummi, yang Engkau janjikan kepada kami untuk diutus di akhir zaman, agar Engkau menolong kami”. Maka setiap berperang, Yahudi Khaibar selalu berdoa dengan doa ini sehingga berhasil memukul mundur pasukan Ghathafaan. Dan ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam diutus, mereka kufur terhadapnya. Kemudian Allah menurunkan ayat : ‘padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan– melalui perantaraan dirimu, wahai Muhammad - atas orang-orang kafir’ (QS. Al-Baqarah : 89)” [Al-Mustadrak, 2/263].

Diriwayatkan juga oleh Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah no 667 dan Al-Baihaqiy dalam Dalaailun-Nubuwwah 2/76; semuanya dari jalan Yuusuf bin Muusaa.

Hadits ini palsu (maudluu’), karena:

1.     ‘Abdul-Malik bin Haaruun bin ‘Antarah, seorang pendusta. Berikut perincian perkataan para ulama tentangnya:

Ad-Daaraquthniy berkata : “Dla’iif”. Di lain tempat ia berkata : “Matruuk, sering berdusta”.

Ahmad bin Hanbal berkata : “Dla’iiful-hadiits”. Yahyaa bin Ma’iin : “Kadzdzaab”. Abu Haatim : “Matruuk, dzaahibul-hadiits”. Ibnu Hibbaan : “Ia memalsukan hadits”. As-Sa’diy : “Dajjaal, pendusta”. Shaalih bin Muhammad berkata : “Keumuman haditsnya dusta”.

Al-Haakim berkata : “Dzaahibul-hadiits jiddan”. Dalam kitab Al-Madkhal, ia (Al-Haakim) berkata : “Ia meriwayatkan dari ayahnya hadits-hadits palsu”. Abu Nu’aim berkata : “Ia meriwayatkan dari ayahnya hadits-hadits munkar”.

[Selengkapnya lihat : Mausuu’ah Aqwaal Ad-Daaraquthniy hal. 426 no. 2242, Mausuu’ah Aqwaal Al-Imaam Ahmad fii Rijaail-Hadiits wa ‘Ilalih 2/391 no. 1643, dan Lisaanul-Miizaan 5/276-278 no. 4933].

2.     Bertentangan dengan riwayat lain yang menjelaskan ayat tersebut turun berkenaan dengan Yahudi Madiinah.

قال ابن إسحاق وحدثني عاصم بن عمر بن قتادة عن رجال من قومه قالوا: إن مما دعانا إلى الإسلام مع رحمة الله تعالى وهداه لنا لما كنا نسمع من رجال يهود، وكنا أهل شرك أصحاب أوثان، وكانوا أهل كتاب عندهم علم ليس لنا، وكانت لا تزال بيننا وبينهم شرور فإذا نلنا منهم بعض ما يكرهون قالوا إنه قد تقارب زمان نبي يبعث الآن نقتلكم معه قتل عاد وإرم فكنا كثيرا ما نسمع ذلك منهم فلما بعث الله رسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم أجبناه حين دعانا إلى الله تعالى وعرفنا ما كانوا يتوعدوننا به فبادرناهم إليه فآمنا به وكفروا به ففينا وفيهم نزل الآيات من البقرة {وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ}

Telah berkata Ibnu Ishaaq : Dan telah menceritakan kepada kami ‘Aashim bin ‘Umar bin Qataadah, dari laki-laki dari kaumnya (dalam riwayat lain : ‘orang-orang tua dari kaum kami’ ), mereka berkata : “Sesungguhnya di antara sebab yang menyeru kami memeluk agama Islam di samping rahmat Allah ta’ala dan petunjuk-Nya kepada kami, adalah ketika kami mendengar orang-orang Yahudi yang waktu itu kami masih pelaku kesyirikan dan penyembah berhala sedangkan Ahlul-Kitab mempunyai ilmu yang tidak kami punyai. Kami senantiasa terlibat permusuhan dengan mereka. Apabila kami dapati dari mereka sesuatu yang mereka benci, mereka berkata : “Sesungguhnya telah dekat waktu kedatangan seorang Nabi yang akan diutus sekarang. Kami akan membunuh kalian bersamanya seperti dibunuhnya kaum ‘Aad dan Iram”. Kami sering mendengar hal itu dari mereka. Namun ketika Allah mengutus Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa ‘alaa aalihi wa sallam, kami menjawab seruannya ketika ia mengajak kami menyembah Allah ta’ala dan kami mengetahui apa yang mereka (Yahudi) dulu ancamkan kepada kami dengannya. Kami pun mendahului mereka kepadanya (Nabi) dan beriman kepadanya, sedangkan mereka (Yahudi) malah mengkufurinya. Maka pada kami dan mereka turunlah ayat dari surat Al-Baqarah : ‘Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur'an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu’ (QS. Al-Baqarah : 89)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Hisyaam 1/213 dan Al-Baihaqiy dalam Dalaailun-Nubuwwah 2/75].

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menghasankannya dalam Ash-Shahiihul-Musnad min Asbaabin-Nuzuul hal. 19-20.

‘Aashim bin ‘Umar bin Qataadah adalah orang Madiinah, dan syaikh yang ia sebut pun orang Madiinah. Oleh karena itu, setting peristiwa yang ia ceritakan adalah di Madiinah bersama Yahudi Madiinah.

Jadi mereka dulunya bertawassul dengan Nabi Muhammad untuk memohon kemenangan atas orang-orang kafir. Tetapi setelah Nabi Muhammad diutus, mereka mengingkari beliau.

Jika ada kaum yang sangat tidak ingin ummat Islam ini bertawassul dengan Nabi, maka ketahuilah bahwa kaum itu adalah Yahudi dan pengikutnya yang tak menginginkan kejayaan Islam dan Muslimin. Semoga Allah menjadikan kita sebagai pengikut Nabi, shiddiqin, shalihin dan syuhada serta melindungi kita dari menjadi orang-orang yang dimurkai oleh-Nya. Aamiin.

“Kemudian Nabi Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 37)

“Kalimat” yang dimaksud di atas, sebagaimana diterangkan oleh ahli tafsir berdasarkan sejumlah hadits adalah tawassul kepada Nabi Muhammad SAW, yang sekalipun belum lahir namun sudah dikenalkan namanya oleh Allah SWT, sebagai nabi akhir zaman.

حدثنا أبو سعيد عمرو بن محمد بن منصور العدل حدثنا أبو الحسن محمد بن إسحاق بن إبراهيم الحنظلي حدثنا أبو الحارث عبد الله بن مسلم الفهري حدثنا إسماعيل بن مسلمة أنبأ عبد الرحمن بن زيد بن أسلم عن أبيه عن جده عن عمر بن الخطاب رضى الله تعالى عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لَمَّا اقْتَرَفَ آدَمَ الْخَطِيئَةَ قَالَ يَا رَبِّ أَسْأَلُك بِحَقِّ مُحَمَّدٍ لَمَا غَفَرْت لِي فَقَالَ الله يا آدم وَكَيْفَ عَرَفْت مُحَمَّدًا ولم أخلقه قال يا رب لِأَنَّك لَمَّا خَلَقْتنِي بِيَدِك وَنَفَخْت فِيَّ مِنْ رُوحِك رَفَعْت رَأْسِي فَرَأَيْت عَلَى قَوَائِمِ الْعَرْشِ مَكْتُوبًا لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ فَعَلِمْت أَنَّك لَمْ تُضِفْ إلَى اسْمِك إلَّا أَحَبَّ الْخَلْقِ إلَيْك . فقال الله صَدَقْت يَا آدَمَ إنه لأحب الخلق إِلَيَّ. ادعُنِي بِحَقِّه فَقَد غفرت لك وَلَوْلَا مُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُك هذا حديث صحيح الإسناد وهو أول حديث ذكرته لعبد الرحمن بن زيد بن أسلم في هذا الكتاب

Dari Umar ra. Ia berkata: Rasulullah SAAW bersabda, “Tatkala Adam melakukan kesalahan, dia berkata: “Wahai Rabbku, aku memohon kepada-Mu dengan haq Muhammad akan dosa-dosaku, agar Engkau mengampuniku.” Lalu Allah berfirman: “Wahai Adam, bagaimana kamu mengenal Muhammad sedang Aku belum menciptakannya (sebagai manusia) ?” Adam menjawab: “Wahai Rabbku, tatkala Engkau menciptakanku dengan Tangan-Mu dan meniupkan ruh-Mu ke dalam diriku, maka Engkau Mengangkat kepalaku, lalu aku melihat di atas kaki-kaki arsy tertulis ‘Laa Ilaaha illallaah Muhammadur Rasuulullaah’ sehingga aku tahu bahwa Engkau tidak menambahkan ke dalam Nama-Mu kecuali makhluq yang paling Engkau cintai.” Lalu Allah Berfirman: “Benar engkau wahai Adam, sesungguhnya Muhammad adalah makhluq yang paling Aku cintai, berdoalah kepadaku dengan haq dia, maka sungguh Aku Mengampunimu. Sekiranya tidak ada Muhammad, maka Aku tidak menciptakanmu.” [HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 4194, dan beliau mengatakan shahih. Juga Al-Baihaqi dalam Dala-ilun Nubuwwah. Ibnu Taimiyah mengutipnya dalam kitab Al-Fatawa juz 2 halaman 150, dan beliau menggunakannya sebagai tafsir/penjelasan bagi hadits-hadits yang shahih]

وَكَذَلِكَ مِمَّا يُشْرَعُ التَّوَسُّلُ بِهِ فِي الدُّعَاءِ كَمَا فِي الْحَدِيثِ الَّذِي رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ أَنَّ { النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَ شَخْصًا أَنْ يَقُولَ : اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُك وَأَتَوَسَّلُ إلَيْك بِنَبِيِّك مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إنِّي أَتَوَسَّلُ بِك إلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي لِيَقْضِيَهَا اللَّهُمَّ فَشَفِّعْهُ فِي } “

Syaikh berkata, “Demikian pula termasuk hal yang dianjurkan tawassul dengan Nabi SAW dalam doa, sebagaimana terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan menshahihkannya, bahwa Nabi SAW mengajar seseorang agar berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan bertawassul kepada-Mu dengan (perantara) Nabi-Mu Muhammad SAW. Wahai Muhammad, sesunggunya aku bertawajjuh (menghadap) denganmu kepada Tuhanmu sehingga Tuhanmu menjelaskan kebutuhanku, supaya Dia memenuhinya, maka berilah syafa’at kepada Muhammad untukku.'” (Majmu’ Fatawa Juz I, hal: 265)

Hadits yang beliau maksud adalah hadits berikut:

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ حُنَيْفٍ أَنَّ رَجُلًا ضَرِيرَ الْبَصَرِ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَنِي قَالَ إِنْ شِئْتَ دَعَوْتُ وَإِنْ شِئْتَ صَبَرْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قَالَ فَادْعُهْ قَالَ فَأَمَرَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ فَيُحْسِنَ وُضُوءَهُ وَيَدْعُوَ بِهَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ إِنِّي تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي هَذِهِ لِتُقْضَى لِيَ اللَّهُمَّ فَشَفِّعْهُ فِيَّ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي جَعْفَرٍ وَهُوَ الْخَطْمِيُّ وَعُثْمَانُ بْنُ حُنَيْفٍ هُوَ أَخُو سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ

Hadits tersebut shahih dan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, juga dalam Musnad Ahmad, dan juga yang lainnya.

وَالتَّوَسُّلُ إلَى اللَّهِ بِغَيْرِ نَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سَوَاءٌ سُمِّيَ اسْتِغَاثَةً أَوْ لَمْ يُسَمَّ – لَا نَعْلَمُ أَحَدًا مِنْ السَّلَفِ فَعَلَهُ . وَلَا رَوَى فِيهِ أَثَرًا وَلَا نَعْلَمُ فِيهِ إلَّا مَا أَفْتَى بِهِ الشَّيْخُ مِنْ الْمَنْعِ وَأَمَّا التَّوَسُّلُ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفِيهِ حَدِيثٌ فِي السُّنَنِ رَوَاهُ النسائي والترمذي وَغَيْرُهُمَا { : أَنَّ أَعْرَابِيًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ : إنِّي أُصِبْت فِي بَصَرِي فَادْعُ اللَّهَ لِي فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأْ وَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قُلْ : اللَّهُمَّ أَسْأَلُك وَأَتَوَجَّهُ إلَيْك بِنَبِيِّك مُحَمَّدٍ يَا مُحَمَّدُ إنِّي أَتَشَفَّعُ بِك فِي رَدِّ بَصَرِي . اللَّهُمَّ شَفِّعْ نَبِيَّك فِيَّ وَقَالَ : فَإِنْ كَانَتْ لَك حَاجَةٌ فَمِثْلُ ذَلِكَ فَرَدَّ اللَّهُ بَصَرَهُ . }

Syaikh Ibnu Taymiyyah juga berkata, “Tawassul kepada Allah dengan selain Nabi kita SAW, baik disebut istighatsah atau tidak, kami tidak mengetahui seorang pun dari ulama salaf yang melakukan tidak ada atsar yang diriwayatkan dalam masalah itu, dan kami tidak mengetahui dalam masalah itu kecuali larangan yang difatwakan Syaikh (mungkin maksudnya Imam Ahmad). Adapun tawassul dengan Nabi SAW, maka terdapat hadits dalam kitab-kitab Sunan yang diriwayatkan oleh An-Nasa`i, At-Tarmidzi, dan yang lain, bahwasanya seorang Arab Badui mendatangi Nabi SAW, lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menderita penyakit pada penglihatanku, maka berdo’alah kepada Allah untukku.’ Kemudian nabi SAW bersabda, ‘Berwudhu’lah dan shalatlah dua rakaat, lalu berdo’alah: Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dan memohon kepada-Mu dengan Nabi-Mu Muhammad. wahai Muhammad, sesungguhnya aku memohon pertolongan denganmu untuk mengembalikan penglihatanku, Ya Allah, berilah pertolongan kepada Nabi-Mu untukku.’ dan Nabi bersabda, ‘Jika engkau mempunyai kebutuhan, maka berbuatlah seperti itu juga.’ Kemudian Allah mengembalikan penglihatannya.” (Majmu’ Fatawa, Juz I, hal:19)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ

Dari Anas bin Malik ra sungguh Umar bin Khattab ra ketika sedang musim kering ia memohon turunnya hujan dengan perantara Abbas bin Abdul Muththalib ra, seraya berdoa : “Wahai Allah, sungguh kami telah mengambil perantara (bertawassul) pada Mu dengan Nabi kami (Muhammad saw) agar kau turunkan hujan, lalu Kau turunkan hujan, maka kini kami mengambil perantara (bertawassul) pada Mu dengan paman Nabi Mu (Abbas bin Abdul Muththalib ra) yang melihat beliau sang Nabi saw maka turunkanlah hujan,” maka hujan pun turun dengan derasnya. (Shahih Bukhari hadits no.954)

Berkata Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy mensyarahkan hadits ini :

وَيُسْتَفَاد مِنْ قِصَّة الْعَبَّاس اِسْتِحْبَاب الِاسْتِشْفَاع بِأَهْلِ الْخَيْر وَالصَّلَاح وَأَهْل بَيْت النُّبُوَّة ، وَفِيهِ فَضْل الْعَبَّاس وَفَضْل عُمَر لِتَوَاضُعِهِ لِلْعَبَّاسِ وَمَعْرِفَته بِحَقِّهِ.

Maka diambil faidah dari kejadian Abbas ra ini menjadi hal yang baik memohon syafaat pada orang-orang yang baik dan shalih, dan keluarga Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam, dan pada hadits ini pula menyebutkan keutamaan Abbas ra dan keutamaan Umar ra karena rendah dirinya, dan kefahamannya akan kemuliaan Abbas ra. (Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari Bab Al Jum’ah no.954)

Riwayat di atas menunjukkan bahwa :

1. Para sahabat besar bertawassul pada Nabi saw dan dikabulkan Allah swt.

2. Para sahabat besar bertawassul satu sama lain antara mereka dan dikabulkan Allah swt.

3. Para sahabat besar bertawassul pada keluarga Nabi saw (perhatikan ucapan Umar ra : “demi paman nabi” (saw). Kenapa beliau tak ucapkan namanya saja? Misalnya “Demi Abbas bin Abdulmuttalib ra”? Namun jusetru beliau tak mengucapkan nama, tetapi mengucapkan sebutan “Paman Nabi” dalam doanya kepada Allah, dan Allah mengabulkan doanya, menunjukkan bahwa Tawassul pada keluarga Nabi saw adalah perbuatan shahabat besar, dan dikabulkan Allah.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال لمّا ماتت فاطمة بنت أسد أم علي بن ابي طالب رضي الله عنهما –وذكر الحديث– وفيه: أنه صلى الله عليه وسلم اضطجع في قبرها وقال: الله الذى يحي ويميت وهو حيّ لايموت اغفر لأمّي فاطمة بنت أسد ولقنها حجتها ووسّع مدخلها بحقّ نبيّك والأنبياء والمرسلين من قبلي فإنك أرحم الراحمين
رواه الطبرني

Dari Anas bin Malik ra, ia berkata, “Ketika Fathimah binti Asad ibunda Ali bin Abi Thalib ra meninggal, maka sesungguhnya Nabi SAW berbaring diatas kuburannya dan bersabda:

“Allah adalah Dzat yang Menghidupkan dan mematikan. Dia adalah Maha Hidup, tidak mati. Ampunilah ibuku Fatimah binti Asad, ajarilah hujjah (jawaban) pertanyaan kubur dan lapangkanlah kuburannya dengan hak Nabi-Mu dan nabi-nabi serta para rasul sebelumku, sesungguhnya Engkau Maha Penyayang.” [HR. Thabrani]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. [QS. Al-Ma`idah: 35]

Berkata Imam Ibn katsir menafsirkan ayat ini :

والوسيلة: هي التي يتوصل بها إلى تحصيل المقصود، والوسيلة أيضًا: علم على أعلى منزلة في الجنة، وهي منزلة رسول الله صلى الله عليه وسلم وداره في الجنة، وهي أقرب أمكنة الجنة إلى العرش، وقد ثبت في صحيح البخاري، من طريق محمد بن المُنكَدِر، عن جابر بن عبد الله قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من قال حين يسمع النداء: اللهم رب هذه الدعوة التامة، والصلاة القائمة، آت محمدًا الوسيلة والفضيلة، وابعثه مقامًا محمودا الذي وعدته، إلا حَلَّتْ له الشفاعة يوم القيامة”.

حديث آخر في صحيح مسلم: من حديث كعب عن علقمة، عن عبد الرحمن بن جُبير، عن عبد الله بن عمرو بن العاص أنه سمع النبي صلى الله عليه وسلم يقول: “إذا سمعتم المؤذن فقولوا مثل ما يقول، ثم صلُّوا عَليّ، فإنه من صلى عَليّ صلاة صلى الله عليه بها عشرًا، ثم سلوا الله لي الوسيلة، فإنها منزلة في الجنة، لا تنبغي إلا لعبد من عباد الله، وأرجو أن أكون أنا هو، فمن سأل لي الوسيلة حَلًّتْ عليه الشفاعة.” (1)

حديث آخر: قال الإمام أحمد: حدثنا عبد الرزاق، أخبرنا سفيان، عن لَيْث، عن كعب، عن أبي هريرة؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “إذا صليتم عَليّ فَسَلُوا لي الوسيلة”. قيل: يا رسول الله، وما الوسيلة؟ قال: “أعْلَى درجة في الجنة، لا ينالها إلا رَجُلٌ واحد (2) وأرجو أن أكون أنا هو”.

Wasilah adalah sesuatu yg menjadi perantara untuk mendapatkan tujuan, dan merupakan perantara pula ilmu tentang setinggi tinggi derajat, ia adalah derajat mulia Rasulullah saw di Istana beliau saw di sorga. Dan itu adalah tempat terdekat di sorga ke Arsy, dan telah dikuatkan pd shahih Bukhari dari jalan riwayat Muhammad bin Al Munkadir, dari Jabir bin Abdillah ra, sabda Rasulullah saw : Barangsiapa yg berdoa ketika mendengar seruan (adzan) :Wahai Alla Tuhan Pemilik Dakwah ini Yang Maha Sempurna, dan Shalat Yang didirikan, berilah Muhammad perantara dan anugerah, dan bangkitkanlah untuk beliau saw derajat yg terpuji yg telah Kau Janjikan pada beliau saw, maka telah halal syafaat dihari kiamat”.

Hadits lainnya pada Shahih Muslim, dari hadits Ka’ab dari Alqamah, dari Abdurrahman bin Jubair, dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, sungguh ia mendengar Nabi saw bersabda : Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkan seperti ucapan mereka, lalu bershalawatlah padaku, maka sungguh barangsiapa yg bershalawat padaku sekali maka Allah melimpahkan shalawat padanya 10x, lalu mohonlah untukku wasiilah (perantara), maka sungguh ia merupakan tempat di sorga, tiada diberikan pada siapapun kecuali satu dari hamba Allah, dan aku berharap agar akulah yg menjadi orang itu, maka barangsiapa yg memohonkan untukku perantara, halal untuknya syafaat.

Dan hadits lainnya berkata Imam Ahmad, diucapkan pada kami oleh Abdurrazzak, dikabarkan pada kami dari sofyan, dari laits, dari Ka;ab, dari Abu Hurairah ra : Sungguh Rasulullah saw bersabda : Jika kalian shalat maka mohonkan untukku wasiilah, mereka bertanya : Wahai Rasulullah, (saw), wasiilah itu apakah?, Rasul saw bersabda : Derajat tertinggi di sorga, tiada yg mendapatkannya kecuali satu orang, dan aku berharap akulah orang itu. (Tafsir Imam Ibn Katsir juz’ 3, halaman 103 pada Al Maidah 35)

1. Pendapat Malikiyah

Al Qasthallani berkata: Telah diriwayatkan bahwa Imam Malik ketika ditanya oleh Abu Ja’far Manshur Al Abbasi, Khalifah kedua Bani Abbas, “Wahai Abu Abdillah (Imam Malik), apakah saya harus menghadap Rasulullah lalu berdoa atau menghadap kiblat lalu berdoa?”

Imam Malik menjawab, “Mengapa kau memalingkan wajahmu darinya (Rasulullah) padahal ia adalah wasilah (perantara)mu dan wasilah bapakmu Adam AS kepada Allah pada hari Kiamat? Menghadaplah ke arahnya, lalu minta kepada Allah dengannya, Dia akan menjadikannya pemberi syafaat bagimu.”

Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Al Hasan Ali bin Fihr dalam kitabnya, Fadhoil Malik (keutamaan-keutamaan Malik) dengan sanad yang tak ada masalah. Juga disebutkan oleh Al Qadhi Iyadh dalam kitabnya Asy-Syifa melalui jalurnya dari para pembesar masyayikhnya yang terpercaya.

2. Pendapat Syafiiyah

Imam Nawawi berkata mengenai adab ziarah kubur Nabi SAW, “Kemudian orang yang berkunjung itu menghadapkan wajahnya ke arah Nabi SAW lalu bertawassul dengannya dan memohon syafaat dengannya kepada Allah.” (Al Majmu’ 8/2740)

Izzuddin bin Abdissalam berkata, “Sebaiknya hal ini hanya berlaku untuk Rasulullah SAW saja karena beliau adalah pemimpin Bani Adam (manusia).”

As Subki berkata, “Disunnahkan bertawassul dengan Nabi SAW dan meminta syafaat dengannya kepada Allah SAW.”

Dalam I’anat at Thalibin disebutkan, “Aku telah datang kepadamu dengan istighfar dari dosaku dan memohon syafaat denganmu kepada Tuhanku.” (Lihat: (Faidhul Qadir 2/134/135, I’anat at Thalibin 2/315, Muqaddimah At Tajrid Ash Sharih tahqiq Dr Musthofa Dib Al Bugho)

3. Pendapat Hanabilah

Ibnu Qudamah berkata dalam Al Mughni, “Disunnahkan bagi yang memasuki masjid untuk mendahulukan kaki kanan… kemudian anda masuk ke kubur lalu berkata… “Aku telah mendatangimu dengan beristighfar dari dosa-dosaku dan memohon syafaat denganmu kepada Allah.”

Demikian pula dalam Asy Syarhul Kabir.

4. Pendapat Hanafiyah

Adapun Hanafiyah, para ulama Mutaakhirin mereka telah membolehkan bertawassul dengan Nabi SAW.

Al Kamal bin Al Humam berkata dalam Fathul Qadir tentang ziarah kubur Rasulullah SAW, “…kemudian dia berkata pada posisinya: Assalamu’alaika ya rasulullah (salam bagimu wahai Rasulullah)… dan memohon kepada Allah hajatnya dengan bertawassul kepada Allah dengan Hadrat NabiNya SAW.”

Pengarang kitab Al Ikhtiyar menulis, “Kami datang dari negeri yang jauh… dan memohon syafaat denganmu kepada Rabb kami… kemudia berkata: dengan memohon syafaat dengan NabiMu kepadamu.”

Hal yang senada juga disebutkan dalam kitab Maraqi Al Falah dan Ath Thahawi terhadap Ad Durrul Mukhtar dan Fatawa Hindiyah, “Kami telah datang mendengar firmanMu, menaati perintahMu, memohon syafaat dengan NabiMu kepadaMu.”

Kewajiban Memilih Makanan Dan Minuman Yang Halal


Secara etimologi makanan adalah memasukkan sesuatu melalui mulut. Dalam bahasa Arab makanan berasal dari kata at-ta’am ( الطعام ) dan jamaknya al-atimah (الأطمة ) yang artinya makan-makanan. Sedangkan dalam ensiklopedia Hukum Islam yaitu segala sesuatu yang dimakan oleh manusia, sesuatu yang menghilangkan lapar.

Halal berasal dari bahasa Arab ( الحلال ) yang artinya membebaskan, memecahkan, membubarkan dan membolehkan. Sedangkan ensiklopedia hukum Islam yaitu segala sesuatu yang menyebabkan seseorang tidak dihukum jika menggunakannya atau sesuatu yang boleh dikerjakan menurut syara. Jadi pada intinya makanan halal adalah makanan yang baik yang dibolehkan memakannya menurut ajaran islam, yaitu sesuai dalam Al-Qur’an dan Al Hadist.

Sedangkan pengertian makan yang baik itu adalah segala makan yang dapat membawa kesehatan bagi tubuh, dapat menimbulkan nafsu makan dan tidak ada larangan dalam Al-Qur’an maupun Hadist. Kata thayyib menunjukkan sesuatu yang benar-benar baik. Bentuk jamak dari kata ini adalah thayyibat yang diambil dari derivasi thaba-yathibu-thayyibah dengan beberapa makna, yaitu: zaka wa thahara (su cidan bersih), jada wa hasuna (baik dan elok), ladzdaza (enak) dan halal (halal). Pada dasarnya kata ini berarti sesuatu yang dirasakan enak oleh indra dan jiwa, atau segala sesuatu selain yang menyakitkan dan menjijikan. Al-qur’an menyebutkan kata thayyiban dengan diawali kata halalan sebanyak empat kali untuk menjelaskan sifat makanan yang halal.

Firman Allah ta’ala:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah dan yang tercekik” [QS. Al-Maaidah : 3].

قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ

“Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah” [QS. Al-An’aam : 145].

إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” [QS. Al-Maaidah : 90].

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar” [QS. Al-Baqarah : 219].

Allah ta’ala menetapkan padanya al-itsm (dosa).

Dan pada ayat yang lain:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ

“Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar” [QS. Al-A’raaf : 33].

(Dalam ayat ini), Allah ta’ala mengharamkan al-itsm (dosa) secara nash.

Dikatakan, al-itsm merupakan salah satu nama di antara nama-nama khamr, sebagaimana ungkapan syair:

شربت الإثم حتى ضل عقلي

كذاك الإثم يذهب بالعقول

“Aku minum al-itsm (khamr) hingga tersesat akalku,

demikianlah al-itsm (khamr) dapat menghilangkan akal”

Hadits ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa yang terdapat dalam Shahiihain : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang al-bit’, lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ شَرَابٍ أَسْكَرَ فَهُوَ حَرَامٌ

“Setiap minuman dapat memabukkan, maka haram hukumnya”.

Hadits Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa dalam Shahiih Muslim:

كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ، وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

“Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap yang memabukkan haram hukumnya”.

dan haditsnya yang lain dalam Shahiihain:

مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ لَمْ يَتُبْ مِنْهَا، حُرِمَهَا فِي الْآخِرَةِ

“Barangsiapa yang minum khamr di dunia kemudian ia tidak bertaubat darinya, maka diharamkan khamr tersebut kelak di akhirat (untuknya)”.

Juga hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu dalam Shahiihain:

أُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِهِ بِإِيلِيَاءَ بِقَدَحَيْنِ مِنْ خَمْرٍ وَلَبَنٍ، فَنَظَرَ إِلَيْهِمَا، ثُمَّ أَخَذَ اللَّبَنَ، قَالَ لَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ: " الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَاكَ لِلْفِطْرَةِ، لَوْ أَخَذْتَ الْخَمْرَ لَغَوَتْ أُمَّتُك

“Didatangkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada malam beliau di-israa’-kan di Iiliyaa’ dua gelas masing-masing berisi khamr dan susu. Lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam memperhatikan dua gelas tersebut, setelah itu beliau mengambil gelas yang berisi susu. Jibriil ‘alaihis-salaam berkata kepada beliau : ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepadamu terhadap fitrah. Seandainya engkau mengambil khamr, niscaya umatmu akan tersesat”.

dan haditsnya yang lain dalam Shahiihain:

وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ الشَّارِبُ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ....

“Tidaklah seorang peminum ketika ia sedang minum khamr dalam keadaan mukmin….”.

Al-Baihaqiy meriwayatkan dengan sanadnya dari Al-Hasan, ia berkata:

جاء رجل بنبيذ إلى أحب خلق الله إليه حتى أفسده، يعني العقل

“Datang seorang laki-laki dengan membawa nabiidz yang merupakan makhluk Allah yang paling ia cintai, hingga nabiidz tersebut merusaknya – yaitu : akalnya”.

Dikatakan kepada sebagian orang Arab : “mengapa engkau tidak minum nabiidz ?”. Ia menjawab : “Demi Allah, betapa aku ridla seandainya akalku itu sehat. Lantas bagaimana aku memasukkan sesuatu kepadanya yang justru akanmerusaknya ?”.

Dari Al-Hakam bin Hisyaam, bahwasannya ia pernah berkata kepada anaknya:

يا بنيَّ إياك والنبيذ، فإنه فيءٌ في شدقك وسلحٌ في عَقِبِكَ، وحدّ في ظهرك، وتكون ضحكة للصبيان، وأسيراً للدّيَّان

“Wahai anakku, jauhilah nabiidz, karena ia merupakan muntahan mulutmu, kotoran duburmu, serta hukuman yang menimpa punggungmu yang menjadi bahan tertawaan anak-anak dan tawanan bagi agama”.

Dari sebagian ahli hikmah, bahwasannya ia pernah berkata kepada anaknya:

يا بُنيّ ما يدعوك إلى النبيذ؟. قال : يهضم طعامي. قال : والله [يا] بني هو لدينك أهضم

“Wahai anakku, apa yang mendorongmu untuk minum nabiidz?”. Si anak menjawab : “Untuk menghancurkan (mencerna) makananku”. Si ahli hikmah berkata : “Demi Allah wahai anakku, ia lebih menghancurkan agamamu”.

Dalam Shahih Muslim dan yang lainnya dari hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, disebutkan:

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالى أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: يَأَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ [المؤمنون : ٥١]، وَقَالَ: يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ [البقرة : ١٧٢] ، ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu adalah Thayyib (baik), Ia tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah ta’ala memerintahkan kepada kaum mukminiin dengan apa yang Ia perintahkan kepada para Rasul. Allah ta’ala berfirman : ‘Hai Rasul-Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan’ (QS. Al-Mukminuun : 51). Allah ta’ala juga berfirman : ‘Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah’ (QS. Al-Baqarah : 172)”. Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu lalu menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata : ‘Ya Rabb..ya Rabb…’, sedangkan makanannya haram, pakaiannya dari yang haram, minumannya haram, dicukupi dari yang haram, maka bagaimana mungkin dikabulkan doanya?”.

Dalam Shahihain dari hadits An-Nu’maan bin Basyiir radliyallaahu ‘anhu, (Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam):

إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَ ذَلِكَ مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِعِرْضِهِ وَدِيْنِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيهِ، أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، وَحِمَى اللَّهِ فِي الْأَرْضِ مَحَارِمُهُ

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Dan di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barangsiapa yang menjauhi perkara-perkara yang samar, sungguh ia telah menyelamatkan kehormatannya dan agamanya. Dan barangsiapa yang terjatuh dalam perkara-perkara yang samar, maka ia akan terjatuh pada perkara-perkara yang diharamkan, seperti seorang penggembala yang menggembala (gembalaannya) di sekitar wilayah larangan dikhawatirkan lama-kelamaan ia akan memasukinya. Ketahuilah, setiap raja mempunyai wilayah larangan, dan wilayah larangan Allah di muka bumi adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya”.

Dalam Shahiihain dari hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, (Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam):

إِنِّي لَأَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِي فَأَجِدُ التَّمْرَةَ سَاقِطَةً عَلَى فِرَاشِي أَوْ فِي بَيْتِي ، فَأَرْفَعُهَا لِآكُلَهَا، ثُمَّ أَخْشَى أَنْ تَكُونَ صَدَقَةً فَأُلْقِيهَا

“Sesungguhnya aku pulang menuju keluargaku. Aku mendapati sebutir kurma terjatuh di atas tempat tidurku atau di rumahku. Lalu aku angkat kurma tersebut untuk memakannya, namun kemudian aku khawatir jika kurma tersebut merupakan kurma shadaqah/zakat sehingga aku pun membuangnya”.

Dalam Shahiih Al-Bukhaariy dari hadits ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa, ia berkata :

كَانَ لِأَبِي بَكْرٍ غُلَامٌ يُخْرِجُ لَهُ الْخَرَاجَ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَأْكُلُ مِنْ خَرَاجِهِ، فَجَاءَ يَوْمًا بِشَيْءٍ فَأَكَلَ مِنْهُ أَبُو بَكْرٍ، فَقَالَ لَهُ الْغُلَامُ أَتَدْرِي مَا هَذَا؟ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَمَا هُوَ؟ قَالَ: كُنْتُ تَكَهَّنْتُ لِإِنْسَانٍ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَمَا أُحْسِنُ الْكِهَانَةَ إِلَّا أَنِّي خَدَعْتُهُ، فَلَقِيَنِي فَأَعْطَانِي بِذَلِكَ فَهَذَا الَّذِي أَكَلْتَ مِنْهُ، فَأَدْخَلَ أَبُو بَكْرٍ يَدَهُ فَقَاءَ كُلَّ شَيْءٍ فِي بَطْنِهِ

“Dahulu Abu Bakr mempunyai seorang budak yang biasa mengeluarkan kharaj (harta yang menjadi bagian majikan dari usaha budaknya) untuknya. Abu Bakr biasa makan dari kharaj tersebut. Pada suatu hari, budak tersebut datang membawa sesuatu, lalu Abu Bakr memakannya. Si budak berkata : ‘Apakah engkau tahu makanan ini?’. Abu Bakr berkata : ‘‘Makanan apa ini?’. Si budak berkata : ‘Dulu di masa jahiliyyah aku pernah praktek perdukunan kepada orang-orang. Sebenarnya, saya tidak pandai perdukunan, sehingga aku cuma menipunya saja. Lalu orang tersebut menemuiku dan memberiku upah. Makanan yang engkau makan ini berasal dari upah itu’. Segera Abu Bakr memasukkan jarinya ke mulutnya hingga memuntahkan semua yang ada di perutnya”.

Dari Zaid bin Aslam:

أن عمر بن الخطاب رضي الله عنه شرب لبناً فأعجبه، فقال للذي سقاه : من أين لك هذا اللبن ؟. فأخبره أنه ورد على ماء قد سماه، فإذا نعم من نعم الصدقة وهم يسقون فحلبوه لي من ألبانها، فجعلته في سقائي وهو هذا، فأدخل عمر يده فاستقاءه

“Bahwasannya ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu pernah meminum susu, lalu ia merasa heran. Ia berkata kepada orang yang memberinya minum : ‘Darimana engkau dapatkan susu ini?’. Kemudian orang tersebut mengkhabarkan kepadanya bahwa ia sampai pada suatumata air yang telah diberi nama. Ternyata di situ ada onta-onta shadaqah yang sedang minum air. Mereka memeraskan susunya untukku, lalu aku jadikan susu itu sebagai minumanku. Susu itu itulah yang engkau minum’. Maka ‘Umar memasukkan tangannya ke mulutnya lalu memuntahkannya”.

Telah memberitahukan kepada kami Al-Baihaqiy dengan sanadnya dari Bisyr bin Al-Haarits, ia berkata: Telah berkata Yuusuf bin Asbaath:

إِذَا تَعَبَّدَ الشَّابُّ، يَقُولُ إِبْلِيسُ: انْظُرُوا مِنْ أَيْنَ مَطْعَمُهُ، فَإِنْ كَانَ مَطْعَمُهُ مَطْعَمَ سُوءٍ، قَالَ: دَعُوهُ، لا تَشْتَغِلُوا بِهِ، دَعُوهُ يَجْتَهِدُ وَيَنْصَبُ، فَقَدْ كَفَاكُمْ نَفْسَهُ

“Apabila seorang pemuda beribadah, maka Ibliis berkata : ‘Perhatikan dari mana makanannya’. Apabila makanannya adalah makanan yang buruk, maka Ibliis berkata : ‘Biarkanlah ia, jangan kalian menyibukkan diri dengannya. Biarkan ia bersungguh-sungguh dalam ibadahnya, sesungguhnya ia telah mencukupi kalian dengan (hawa nafsu) dirinya”.

Dari Hudzaifah Al-Mar’asyiy, bahwasannya ia pernah melihat orang-orang yang bergegas menuju shaf pertama. Lalu ia berkata:

يَنْبَغِي أَنْ يَتَبَادُرُوا إِلَى أَكْلٍ مِنَ الْحَلالِ

“Seharusnya mereka (juga) bergegas untuk memakan makanan yang halal”.

Dari Fudlail bin ‘Iyaadl, ia berkata: Sufyaan Ats-Tsauriy pernah ditanya tentang keutamaan shaff pertama, lalu ia menjawab:

انْظُرْ كِسْرَتَكَ الَّتِي تَأْكُلُهَا مِنْ أَيْنَ تَأْكُلُهَا، وَقُمْ فِي الصَّفِّ الأَخِيرِ

“Lihatlah remahan makanan yang engkau makan, darimana engkau makan itu. Dan berdirilah di shaff akhir”.

Dan juga darinya (Ats-Tsauriy), ia berkata:

انْظُرْ دِرْهَمَكَ مِنْ أَيْنَ هُوَ وَصَلِّ فِي الصَّفِّ الأَخِيرِ

“Lihatlah dirhammu, dari mana ia (engkau dapatkan). Dan shalatlah di shaff akhir”.

Dari Sarriy As-Saqathiy, bahwasannya ia tidak memakan sayuran berwarna hitam, tidak buahnya, dan tidak juga sesuatu yang tidak diketahui asal-usulnya. Ia sangat menekankan hal itu dalam rangka wara’. Meskipun demikian, ia berkata:

كُنْتُ بِطَرَسُوسَ، وَكَانَ مَعِي فِي الدَّارِ فِتْيَانٌ مُتَعَبِّدُونَ، وَكَانَ فِي الدَّارِ تَنُّورٌ يَخْبِزُونَ فِيهِ، فَانْكَسَرَ التَّنُّورُ فَعَمِلْتُ بَدَلَهُ مِنْ مَالِي فَتَوَرَّعُوا أَنْ يَخْبِزُوا فِيهِ

“Aku pernah di negeri Tharasuus, dan bersamaku di dalam rumah ada pemuda yang rajin beribadah. Di rumahtersebut terdapat tanur yang dipergunakan orang-orang untuk memasak/membuat roti. Lalu tanur tersebut tiba-tiba pecah sehingga aku menggantinya dari hartaku. Mereka bersikap wara’ untuk membuat roti dari tungku tanur tersebut”.

Dan juga darinya (Sarriy As-Saqathiy), ia berkata:

وَكَانَ أَبُو يُوسُفَ الْعُسولي يَلْزَمُ الثَّغْرَ وَيَغْزُو، فَكَانَ إِذَا غَزَا مَعَ النَّاسِ وَدَخَلُوا بِلادَ الرُّومِ أَكَلَ أَصْحَابُهُ مِنْ ذبائحهم وفواكههم، وَهُوَ لا يَأْكُلُ، فَيُقَالُ لَهُ: يَا أَبَا يُوسُفَ، أَتَشُكُّ أَنَّهُ حَلالٌ؟ فَيَقُولُ: لا، فَيُقَالُ لَهُ: فَكُلْ مِنَ الْحَلالِ، فَيَقُولُ: إِنَّمَا الزُّهْدُ فِي الْحَلالِ

“Adalah Abu Yuusuf Al-‘Usuuliy senantiasa menjaga perbatasan dan sering berperang. Sewaktu ia berangkat berperang dengan orang-orang dan masuk ke negeri Romawi, shahabat-shahabatnya makan sembelihan mereka dan buah-buahan mereka, namun ia tidak memakannya. Dikatakan kepadanya : ‘Wahai Abu Yuusuf, apakah engkau ragu status kehalalannya ?’. Ia berkata : ‘Tidak’. Dikatakan kepadanya : ‘Makanlah dari makanan yang halal ini’. Ia berkata : ‘Zuhud itu hanyalah ada pada makanan yang halal”.

Dari As-Sarriy, ia berkata:

رجعت من بعض المغازي، فَرَأَيْتُ فِي طَرِيقِي مَاءً صَافِيًا وَحَوْلَهُ عُشْبٌ مِنْ حَشِيشٍ قَدْ نَبَتَ، فَقُلْتُ فِي نَفْسِي: يَا سَرِيُّ، لَوْ كُنْتَ يَوْمًا أَكَلَتْ أَكْلَةً حَلالا، وَشَرِبْتَ شَرْبَةً حَلالا، فَالْيَوْمُ، فَنَزَلْتُ عَنْ دَابَّتِي، فَأَكَلْتُ مِنْ ذَلِكَ الْحَشِيشِ، وَشَرِبْتُ مِنْ ذَلِكَ الْمَاءِ، فَهَتَفَ بِي هَاتِفٌ، سَمِعْتُ الصَّوْتَ وَلَمْ أَرَ الشَّخْصَ: يَا سَرِيُّ الْمُغَلِّس، فَالنَّفَقَةُ الَّتِي بَلَغَتْكَ إِلَى هُنَا مِنْ أَيْنَ هِيَ؟ فقصر إليّ نفسي

“Aku pernah kembali dari sebagian peperangan. Lalu aku melihat di jalanku air yang jernih dan di sekitarnya tumbuh rerumputan dari jenis hasyiisy. Maka aku berkata pada diriku : ‘Wahai Sarriy, apabila engkau di suatu hari memakan makanan yang halal dan minum minuman yang halal, lalu bagaimana dengan hari ini ?’. Kemudian aku turun dari kendaraanku, lalu aku makan hasyiisy tersebut dan minum air yang ada di situ. Setelah itu aku mendengar suara yang aku tidak melihat orang yang mengatakannya : ‘Wahai Sarriy bin Al-Mughallis, nafkah yang menyampaikan dirimu hingga ke tempat ini, dari mana engkau dapatkan ?’. Suara itu mencegah diriku (untuk memakan dan meminumnya)”.

Diriwayatkan dari sebagian mereka, bahwasannya ia senantiasa mencari yang halal dan meminta agar ditunjukkan kepadanya (yang halal). Lantas, ditunjukkanlah ia kepada Al-Hasan Al-Bashriy. Ia pun melakukan perjalanan dari negeri yang jauh menuju (tempat) Al-Hasan. Lalu Al-Hasan berkata kepadanya :

إنني رجل واعظ آكل من هدايا الناس وضيافاتهم، لكنني أدلك على رجل ببلاد سجستان تراه في مزرعته، له بقرة قد جعل لها في أحد طريقيها تبناً وشعيراً، وفي الآخر ماءً، فإذا وصلت إلى التبن والشعير، عرضهما عليها، وإذا وصلت إلى الماء، عرضه عليها، فقال : فتوجه الرجل إليه، فوجده كذلك، فسلم عليه وقص عليه حاله، فبكى الرجل، وقال : قد صدقك الإمام أبو سعيد، لكن زال ذلك عني بسبب أن البقرة عبرت ذات يوم إلى أرض جاري وقد اشتغلتُ عنها بصلاتي، فعادت إلى أرضي وقوائمها ملطخة بطينها، واختلط ذلك بطين أرضي فصارت شبهة، عد إليه ليدلك على غيري، وبكى

“Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi nasihat yang makan dari hadiah/pemberian orang dan jamuan mereka. Akan tetapi akan aku tunjukkan kepadamu seorang laki-laki di negeri Sijistaan yang engkau akan lihat ladang pertaniannya. Ia memiliki sapi dimana ia membuat salah satu jalan baginya (sapi) berupa tumpukan jerami dan gandum, dan jalan yang lain berupa air. Apabila sapi itu sampai pada jalan yang berisi tumpukan jerami dan gandum, maka ia memberikan keduanya kepada sapinya itu. Dan apabila sapi itu sampai pada jalan yang berair, maka ia juga memberikan air itu untuknya”. Maka ia pergi mencari laki-laki tersebut dan berhasil menemuinya. Ia mengucapkan salam kepadanya dan bercerita kepadanya tentang keadaannya. Maka laki-laki tersebut menangis seraya berkata : “Sungguh, Al-Imaam Abu Sa’iid (Al-Hasan Al-Bashriy) telah jujur kepadamu. Akan tetapi apa yang ia ceritakan telah hilang dariku karena suatu hari sapiku melewati tanah tetanggaku dimana waktu itu aku sedang sibuk dengan shalatku. Lalu sapi itu kembali ke tanahku sedangkan kaki-kakinya terlumuri dengan tanahnya dan kemudian bercampur dengan tanahku sehingga hal itu menjadi syubhat. Kembalilah kepadanya (Al-Hasan) sehingga ia dapat menunjukkan orang selain diriku”. Kemudian ia menangis.

Dari Abu ‘Abdillah bin Al-Jalaa’, ia berkata :

أَعْرِفُ مَنْ أَقَامَ بِمَكَّةَ ثَلاثِينَ سَنَةً لَمْ يَشْرَبْ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ إِلا مَا اسْتَقَاهُ بَرَكْوَتِهِ وَرِشَائِهِ، وَلَمْ يَتَنَاوَلْ مِنْ طَعَامِ جَلَبَ مِنْ مِصْرَ شَيْئًا

“Aku mengetahui seseorang yang tinggal di Makkah selama tiga puluh tahun yang ia tidak pernah minum air zamzam kecuali yang ia peroleh dengan ceret dan tali timbanya. Ia tidak mau menerima makanan yang datang (diimpor) dari Mesir sedikitpun”.

Dari Bisyr bin Al-Haarits  Al-Haafiy bin ‘Abdirrahmaan, ia berkata : Aku mendengar Al-Mu’aafaa bin ‘Imraan berkata:

كَانَ عَشَرَةٌ فِيمَنْ مَضَى مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يَنْظُرُونَ الْحَلال الشَّدِيدَ، لا يُدْخِلُونَ بُطُونَهُمْ إِلا مَا يَعْرِفُونَ مِنَ الْحَلالِ، وَإِلا اسْتَفُّوا التُّرَابَ ". ثُمَّ عَدَّ بِشْرُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ أَدْهَمَ، وَسُلَيْمَانَ الْخَوَّاصَ، وَعَلِيَّ بْنَ فُضَيْلِ بْنِ عِيَاضٍ، وَأَبَا مُعَاوِيَةَ الأَسْوَدَ، وَيُوسُفَ بْنَ أَسْبَاطٍ، وَوُهَيْبَ بْنَ الْوَرْدِ، وَحُذَيْفَةَ شَيْخاً مِنْ أَهْلِ حَرَّانَ، وَدَاوُدَ الطَّائِيَّ، فَعَدَّ بِشْرٌ عَشَرَةً

“Ada sepuluh orang dari kalangan ulama dahulu yang senantiasa memperhatikan kehalalan dengan sangat ketat. Tidak akan masuk ke perut-perut mereka kecuali yang mereka ketahui dari makanan yang halal. Jika tidak, maka mereka mencukupkan diri menelan tanah”. Kemudian Bisyr menyebutkan orang-orang tersebut diantaranya : Ibraahiim bin Idham, Sulaimaan Al-Khawwaash, ‘Aliy bin Fudlail bin ‘Iyaadl, Abu Mu’aawiyyah Al-Aswad, Yuusuf bin Asbaath, Wuhaib bin Al-Ward, Hudzaifah syaikh penduduk negeri Harraan, Daawud Ath-Thaaiy, dan kemudian Bisyr menghitungnya sepuluh orang.

Dari Yahyaa bin Ma’iin Al-Muhaddits :

الْمَالُ يَذْهَبُ حِلُّهُ وَحَرَامُهُ         يَوْمًا وَيَبْقَى فِي غَدٍ آثَامُهُ

 لَيْسَ التَّقِيُّ بِمُتَّقٍ لإِلَهِهِ         حَتَّى يَطِيبَ شَرَابُهُ وَطَعَامُهُ

 وَيَطِيبَ مَا يَحْوِي وَيَكْسِبُ كَفُّهُ         وَيَكُونَ فِي حُسْنِ الْحَدِيثِ كَلامُهُ

 نَطَقَ النَّبِيُّ لَنَا بِهِ عَنْ رَبِّهِ         فَعَلَى النَّبِيِّ صَلاتُهُ وَسَلامُهُ

“Harta akan hilang kehalalan dan keharamannya suatu hari nanti
sehingga hanya tersisa keesokan harinya dosa-dosanya
Tidaklah ketaqwaan terhadap Tuhannya (dapat diraih)
hingga ia memperbaiki makanan dan minumannya
Serta memperbaiki apa yang ia miliki dan ia usahakan
sehingga perkataannya adalah hadits-hadits yang baik
Yang diucapkan Nabi kepada kita dari Rabbnya
shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi”.

Sufyaan Ats-Tsauriy pernah ditanya tentang wara’, lalu ia menjawab:

إِنِّي وَجَدْتُ فَلا تَظُّنُوا غَيْرَهُ         هَذَا التَّوَرُّعَ عِنْدَ هَذَا الدِّرْهَمُ
فَإِذَا قَدَرْتَ عَلَيْهِ ثُمَّ تَرَكْتَهُ           فَاعْلَمْ بِأَنَّ هُنَاكَ تَقْوَى الْمُسْلِم

“Sesungguhnya aku mendapati sesuatu yang tidak disangka oleh orang lain
sifat wara’ ini ketika dirham ada di sisinya
Apabila engkau mampu untuk mendapatkannya namun engkau tinggalkan
ketahuilah bahwa di sanalah ketaqwaan seorang muslim”.

Dari Muhammad bin ‘Abdil-Kariim Al-Marwaziy : Ketika Yahyaa bin Aktsam dipercaya menjabat qadliy/hakim, saudaranya yang bernama ‘Abdullah bin Aktsam di negeri Marwi – dan ia seorang yang zuhud – menulis surat kepadanya:

وَلُقْمَةٍ بِجَرِيشِ الْمِلْحِ تَأْكُلُهَا         أَلَذُّ مِنْ تَمْرَةٍ تُحْشَى بِزَنْبُورِ
 وَأَكْلَة قَرَّبَتْ لِلْهُلْكِ صَاحِبَهَا         كَحَبَةِ الْفَخِّ دَقَّتْ عُنْقَ عُصْفُورِ

“Sesuap tumbukan garam yang engkau makan
lebih lezat daripada kurma yang dimakan bersama zanbur
Makanan yang mendekatkan orang yang memakannya pada kehancuran
seperti biji jerat yang memecahkan leher burung pipit”.

Dari Ibraahiim bin Husyaim, bahwasannya ia pernah menasihati rekannya ketika melepas kepergiannya. Ia berkata:

أوصيك أن يكون عملك صالحا، وتأكل طيبا

“Aku menasihati dirimu agar amalanmu shaalih, dan engkau memakan makanan yang baik (halal)”.

Kita ketahui, halal itu bukan sekedar halal makanannya, tapi juga dari sumber bagaimana mendapatkannya pun harus halal. Kalau sumbernya haram seperti korupsi, mencuri, merampok, menggusur tanah rakyat dengan harga yang rendah, maka makanan yang dimakan pun meski sebetulnya halal, tetapi haram. Maka Rasulullah saw., telah bersabda:

إِنَّ دِمَائَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ

Artinya: “Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian, dan kehormatan-kehormatan kalian antara sesama kalian adalah haram”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)

Dan selain doanya tidak dikabulkan, dikarenakan makanan, minuman, pakaiannya, serta dagingnya tumbuh dari barang yang haram maka akan membuat si pemakannya disiksa di api neraka. Nabi berkata:

أَيُّمَا لَحْمٍ نَبَتَ مِنَ الْحَرَامِ فَالنَّارُ أَوْلَى لَهُ

Artinya : “Tiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram maka api neraka lebih utama membakarnya.” (HR. Ath-Thabrani)

Selain halal, makanan juga harus baik. Dan alasan kenapa Allah menganjurkan makanan yang bukan hanya halal tetapi juga baik karena mengkonsumsi semua makanan dan minuman yang bisa memudharatkan diri, apalagi kalau sampai membunuh diri baik dengan segera maupun dengan cara perlahan. Misalnya: racun, narkoba dengan semua jenis dan macamnya, rokok, dan yang sejenisnya. Juga sabda Nabi saw., :

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

Artinya : “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain”.

Setiap orang beriman diperintahkan Allah SWT. Untuk senantiasa mengkonsumsi makanan yang halal dan baik (mengandung gizi dan vitamin yang cukup). Jadi bagian ayat yang berbunyi halal dan baik (halalan thayyiban)tersebut diatas mengandung makna dua makna yang akan melekat pada setiap rezeki makanan yang dikonsumsi manusia.

Pertama, hendaklah makanan di dapatkan dengan cara yang halal yang sesuai dengan syariat Islam yang dicontohkan Rasul. Dalam hal ini mengandung makna perintah untuk bermuamalah yang benar.

Kedua, dalam makna baik atau thayyib adalah dari sisi kandungan zat makanan yang dikonsumsi. Makanan hendaknya mengandung zat yang dibutuhkan oleh tubuh, baik mutu maupun jumlah. Makanan gizi seimbang adalah dianjurkan.

Ada makanan halal tetapi tidak thayyib, misalnya Rasul mencontohkan, kulit dan jeroan binatang sembelihan dibuang. Bahkan beliau bersabda jangan memakan tulang karena tulang adalah makanan untuk saudaramu dari bangsa jin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagian-bagian tersebut ternyata banyak mengandung zat penyebab kadar kolestrol darah dalam tubuh manusia cepat meningkat.

Arti Dari Sembunyikan Amal Kebaikan



Ikhlas dalam beribadah adalah kewajiban setiap muslim. Tanpanya ibadah atau amal shaleh akan sia-sia, bahkan berakibat siksa. Allah berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahfi [18]: 110)

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah [98]: 5)

Menyembunyikan amal adalah cara paling efektif agar amal shaleh yang kita lakukan dapat terhindar dari riya. Ibadah yang dilakukan di tempat yang jauh dari pandangan manusia, hanya kita dan Allah saja, akan menjadikan hati lebih tenang dan tidak sibuk mengharap penilaian manusia.

Beribadah dengan cara ini hanya mampu dilakukan oleh orang-orang jujur dalam keimanannya. Ia adalah bukti keimanan dan kecintaan mereka yang sangat dalam kepada Allah. Sementara orang-orang munafik, mereka tidak akan mampu melakukannya, karena mereka senantiasa membangun ibadahnya diatas riya.

Hidup dalam dunia kemasan, kita sulit memilah dan memilih mana yang benar dan baik buat kita dan mana yang salah dan buruk. Katanya sih tayangan olah raga, tetapi kalau ditayangkan di televisi nasional, ditonton jutaan orang tua dan anak-anak, gulat bebas yang katanya olah raga itu, yang perempuan pun kita lihat saling pukul dan tendang, rasanya kok kurang pantas. Tanya diri kita, ini baik atau buruk ya buatku. Dengan menjadi Penebar Kebaikan, posisi kita sama dengan mereka yang menyerang diri kita dan lingkungan kita dengan konten porno, narkoba, aliran sesat dan sebagainya.

Kenapa kita tidak menggunakan strategi mereka juga, membombardir internet, medsos dengan berbagai hal positif, kebaikan dan kreativitas yang positif. Bukankah kita tahu hadits "Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat" (HR. Bukhari). Nah berpijak dari ini, untuk mengurangi dan membentengi diri kita dan lingkungan kita dari konten-konten buruk, kita sebarkan, ramaikan lah wall kita, medsos kita, viralkan hal-hal yang baik, bukan kedengkian yang kita tebarkan. Kalau ada yang kurang pas, anggap saja tarafnya masih belajar. Kalau ada yang merasa digurui anggap saja cara menyampaikannya kurang pas, cari dalil yang lebih pas.

Jadi sifatnya selalu melengkapi, menutupi kekurangan yang ada, tetapi dalam konten yang benar, yang baik, bukan hal-hal yang buruk, begitu dapat berita kecelakaan, ada yang kirim foto lalu ditimpali, dilengkapi, dicari lagi dengan foto yang lebih riil, lengkap dengan kaki tangan yang putus, otak terberai, halah, buat apa sih, cukup kita tahu ada kecelakaan, jadi kan saja itu pelajaran. Kita viralkan doa mau jalan, doa dalam perjalanan, pesan hati-hati berkendara, memperhatikan rambu-rambu, dan hal positif lainnya yang bisa menutupi keburukan-keburukan. Ngapain sih, harus liat foto-foto kecelakaan gitu, yang tadi laper, jadi gak nafsu makan, rugi kan.

Jadi ketika kita mendapati hal-hal buruk, langsung tutupi dengan jutaan kebaikan, ingatlah prinsip air dalam gelas tadi, siram terus dengan kebaikan, karena ilmu ini sudah dicuri lebih dulu oleh keburukan. Mereka membombardir dengan konten buruk. Kenapa kita gak menjadi agen-agen Penebar Kebaikan. Tidak usah saling berbantah dalam kebaikan.

Kita harus saling bangun, saling sinergi, saling melengkapi dalam kebaikan dan menutupi dalam keburukan. Ada berita buruk dikit saja, alihkan ke hal positif, ada teman memancing dengan tulisan, gambar tidak pantas di grup wa, grup bbm, tutupi, alihkan dengan tulisan, gambar yang baik, terus dan terus lakukan seperti itu hingga keburukan harus putar otak mempromosikan keberadaannya.

Anda tahu gak kalau Majalah Playboy, yang mendengarnya saja kita langsung terpikir bahwa majalah ini adalah majalah cabul, untuk beberapa tahun tidak menampilkan perempuan telanjang, surprise.  Bahkan majalah ini pernah menampilkan wanita berhijab. Woww pasti Anda sebagian marah, murka, kesal, campur aduk, tapi ketahuilah perasaan campur aduk itu, itu merupakan hal yang wajar dipermainkan oleh Majalah sebesar Playboy. Karena dunia ini saya sebut tadi Dunia Kemasan. Mereka tidak mampu lagi menjual ketelanjangan, hal-hal yang vulgar, dunia barat jenuh dengan ketelanjangan.

Dunia barat melirik hijab, banyak perempuan berjilbab disana, Amerika, Canada, Perancis, Inggeris, pertumbuhannya pesat. Nah mereka putar otak, bagaimana majalah ini tetap eksis, dicarilah sensasi dengan menampilkan wanita berjilbab yang berprofesi wartawan. Dia tidak telanjang disana. Seharusnya kita bisa berpikir positif disini. Lihatlah bahwa air putih bisa menjernihkan air kotor. Itu yang terjadi disini. Disini lah ujiannya, seberapa besar minat kita kepada kebaikan. Namanya juga manusia, perang kebaikan dan keburukan terjadi sepanjang masa, dari waktu ke waktu, melintasi ruang dan waktu. Jadi jangan campurkan emosi Anda dalam Dunia Kemasan ini. Teruslah menebar kebaikan hingga tidak ada tempat buat keburukan.

Al-Imaam Muslim rahimahullah berkata :

حَدَّثَنَا عَفَّانُ بْنُ مُسْلِمٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ وَهُوَ ابْنُ سَلَمَةَ، عَنْ سَعِيدٍ الْجُرَيْرِيِّ، بِهَذَا الْإِسْنَادِ، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، قَالَ: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ خَيْرَ التَّابِعِينَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ وَلَهُ وَالِدَةٌ، وَكَانَ بِهِ بَيَاضٌ فَمُرُوهُ فَلْيَسْتَغْفِرْ لَكُمْ

Telah menceritakan kepada kami ‘Affaan bin Muslim : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Sa’iid Al-Jurairiy dengan sanad ini, dari ‘Umar bin Al-Khaththaab, ia berkata : Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya sebaik-baik tabi’iin adalah seorang laki-laki yang bernama Uwais. Ia mempunyai ibu, dan ia dulu mempunyai belang putih. Carilah ia, lalu mintalah ia agar memohonkan ampun kepada kalian” [Shahih Muslim no. 2542].

Ya, dialah Uwais Al-Qaraniy rahimahullah. Seorang yang sempat sejaman dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, namun belum pernah bertemu dengan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Keutamaan yang dimiliki Uwais salah satunya karena sifatnya yang enggan dengan kemasyhuran. Ia senantiasa menyembunyikan diri dalam ketaatan, hingga ketika ada orang menemuinya karena mengetahui keutamaan yang disebutkan ‘Umar dalam hadits di atas, Uwais berkata :

مَا أَنَا بِمُسْتَغْفِرٍ لَكَ حَتَّى تَجْعَلَ لِي ثَلاثًا، قَالَ: وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: لا تُؤْذِينِي فِيمَا بَقِيَ، وَلا تُخْبِرْ بِمَا قَالَ لَكَ عُمَرُ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ، وَنَسِيَ الثَّالِثَةَ

“Aku tidak akan memintakan ampun (kepada Allah) untukmu hingga engkau memenuhi tiga permintaanku”. Orang itu berkata : “Apakah itu ?”. Uwais berkata : “Janganlah engkau menyusahkan aku lagi setelah ini, jangan engkau beritahukan pada seorang pun apa yang telah dikatakan ‘Umar kepadamu, - dan perawi lupa yang ketiga” [Diriwayatkan oleh Al-Haakim, 3/404-405; sanadnya shahih].

Perkataan ‘Umar pada diri Uwais bukanlah celaan, namun sanjungan (dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam) – yang dengan sanjungan itu, ia bisa memperoleh fasilitas-fasilitas dari Khaalifah. Namun, itulah Uwais. Ia lebih senang jika orang-orang tidak mengenal dirinya selain dari : Uwais, si pemuda dari daerah Qaran.

Menyembunyikan kebaikan adalah tabiat yang bertentangan dengan tabiat manusia pada umumnya. Dengan menyembunyikan kebaikan, ketenaran dan sanjungan tidak akan ia dapatkan dari mulut manusia. Beda halnya jika ia menampakkannya.

Allah ta’ala berfirman tentang orang yang bershadaqah :

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” [QS. Al-Baqarah : 271].

Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :

وقوله: { وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُم } فيه دلالة على أن إسرار الصدقة أفضل من إظهارها؛ لأنه أبعد عن الرياء، إلا أن يترتب على الإظهار مصلحة راجحة، من اقتداء الناس به، فيكون أفضل من هذه الحيثية

Dan firman-Nya : ‘Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu’; padanya terdapat dalil tentang menyembunyikan shadaqah lebih utama daripada menampakkannya, karena lebih jauh dari riyaa’. Kecuali jika menampakkannya menimbulkan maslahat yang lebih kuat, yaitu orang-orang dapat mencontoh perbuatan tersebut, maka ia lebih utama dengan pertimbangan ini” [Tafsiir Ibni Katsiir, 1/701].

Allah ta’ala memberikan balasan khusus bagi orang-orang yang bershadaqah secara sembunyi-sembunyi sebagaimana riwayat :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ بُنْدَارٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، قَالَ: حَدَّثَنِي خُبَيْبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ، الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ "

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyaar Bundaar, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa, dari ‘Ubaidullah, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Khubaib bin ‘Abdirrahmaan, dari Hafsh bin ‘Aashim, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Ada tujuh golongan yang kelak akan Allah naungi di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya : (1) imam yang ‘adil; (2) pemuda yang menyibukkan diri beribadah kepada Rabb-Nya; (3) laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid; (4) dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah dimana mereka berkumpul ataupun berpisah semata-mata karena-Nya; (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang kaya lagi cantik, lalu laki-laki itu menolak dan berkata : ‘sesungguhnya aku takut kepada Allah’; (6) laki-laki yang bershadaqah secara sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya; dan (7) laki-laki yang ingat kepada Allah di saat sunyi hingga mengalir kedua air matanya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 660].

Abul-‘Abbaas Al-Qurthubiy rahimahullah berkata :

وقوله : (( ورجل تصدَّق بصدقة فأخفاها )) ؛ هذه صدقة التطوع في قول ابن عباس وأكثر العلماء . وهو حضٌّ على الإخلاص في الأعمال ، والتستر بها ، ويستوي في ذلك جميع أعمال البر التطوعية

“Dan sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Dan laki-laki yang bershadaqah dengan shadaqah yang ia sembunyikan’; ini adalah shadaqah sunnah menurut pendapat Ibnu ‘Abbaas dan kebanyakan ulama. Ini adalah anjuran untuk ikhlash dalam beramal dan menyembunyikannya. Hal yang sama berlaku pada semua amal kebaikan yang bersifat sunnah” [Al-Mufhim, 3/76].

Benar,..... anjuran dan keutamaan bershadaqah secara sembunyi-sembunyi berlaku pula untuk amal-amal lain yang bersifat sunnah.

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيل بْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ بَحِيرِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ، عَنْ كَثِيرِ بْنِ مُرَّةَ الْحَضْرَمِيِّ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " الْجَاهِرُ بِالْقُرْآنِ كَالْجَاهِرِ بِالصَّدَقَةِ، وَالْمُسِرُّ بِالْقُرْآنِ كَالْمُسِرِّ بِالصَّدَقَةِ "

Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Arafah : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin ‘Ayyaasy, dari Bahiir bin Sa’d, dari Khaald bin Ma’daan, dari Katsiir bin Murrah Al-Hadlramiy, dari ‘Uqbah bin ‘Aamir, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallambersabda : “Orang yang menjaharkan bacaan Al-Qur’an adalah seperti orang yang menjaharkan (menampakkan) shadaqah. Dan orang yang men-sirr-kan (melirihkan) bacaan Al-Qur’an adalah seperti orang yang men-sirr-kan (menyembunyikan) shadaqah” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2919; sanadnya hasan, namun shahih dengan keseluruhan jalannya].

Tentang hadits ini At-Tirmidziy rahimahullah berkata :

وَمَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ الَّذِي يُسِرُّ بِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ أَفْضَلُ مِنْ الَّذِي يَجْهَرُ بِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ لِأَنَّ صَدَقَةَ السِّرِّ أَفْضَلُ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ صَدَقَةِ الْعَلَانِيَةِ وَإِنَّمَا مَعْنَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ لِكَيْ يَأْمَنَ الرَّجُلُ مِنْ الْعُجْبِ لِأَنَّ الَّذِي يُسِرُّ الْعَمَلَ لَا يُخَافُ عَلَيْهِ الْعُجْبُ مَا يُخَافُ عَلَيْهِ مِنْ عَلَانِيَتِهِ

“Makna hadits ini yaitu bahwa orang yang melirihkan bacaan Al-Qur’an lebih utama daripada orang yang men-jahr-kan bacaan Al-Qur’an, karena shadaqah secara sembunyi-sembunyi lebih utama daripada shadaqah secara terang-terangan menurut para ulama. Makna hadits ini menurut para ulama hanyalah supaya seseorang dapat aman dari sifat ‘ujub, karena orang yang menyembunyikan amal tidak dikhawatirkan tertimpa ‘ujub sebagaimana orang yang beramal secara terang-terangan” [Sunan At-Tirmidziy, 5/41].

Sekarang, mari kita telusuri beberapa riwayat perkataan dan perbuatan salaf tentang menyembunyikan amal ketaatan dan penjagaan mereka dari godaan riyaa’.

نا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، قَالَ: أنا شُعْبَةُ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ، عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ، عَنِ الزُّبَيْرِ، قَالَ: مَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ تَكُونَ لَهُ عَمَلٌ خَبِيئَةٌ مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ فَلْيَفْعَلْ، نا مُسَدَّدٌ، قَالَ: نا يَحْيَى، عَنْ إِسْمَاعِيلَ، قَالَ: ني قَيْسٌ، قَالَ: سَمِعْتُ الزُّبَيْرَ بْنَ الْعَوَّامِ، يَقُولُ مِثْلَهُ

Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Katsiir, ia berkata Telah memberitakan kepada kami Syu’bah, dari Ismaa’iil bin Abi Khaalid, dari Qais bin Abi Haazim, dari Az-Zubair (bin Al-‘Awwaam), ia berkata : “Barangsiapa di antara kalian yang mampu menyembunyikan amal shalihnya, hendaklah ia lakukan”.

Telah mengkhabarkan kepada kami Musaddad, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Yahyaa, dari Ismaa’iil,ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Qais, ia berkata : Aku mendengar Az-Zubair bin Al-‘Awwaam berkata semisalnya [Diriwayatkan oleh Abu Daawud dalamAz-Zuhd no. 119-120; sanadnya shahih].

حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، قَالَ: " اكْتُمْ حَسَنَاتِك أَكْثَرَ مِمَّا تَكْتُمُ سَيِّئَاتِكَ "

Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah, dari Abu Haazim, ia berkata : “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu lebih banyak daripada engkau sembunyikan kejelekan-kejelekanmu” [Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah 13/520 no. 36424; sanadnya shahih].

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الْجُعْفِيُّ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ الْجَزَرِيِّ، قَالَ: " كَانَتِ الْعُلَمَاءُ إِذَا الْتَقَوْا تَوَاصَوْا بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ، وَإِذَا غَابُوا كَتَبَ بِهَا بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ أَنَّهُ: مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ أَصْلَحَ اللَّهُ عَلانِيَتَهُ، وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ كَفَاهُ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَمَنِ اهْتَمَّ بِأَمْرِ آخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ أَمْرَ دُنْيَاهُ "

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahmaan bin Shaalih : Telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin ‘Aliy Al-Ju’fiy, dari Ma’qil bin ‘Ubaidillah Al-Jazariy, ia berkata : “Para ulama dulu apabila bertemu saling menasihati dengan kalimat-kalimat ini, dan apabila mereka pergi/berpisah, sebagian dari mereka menuliskan kepada sebagian yang lain : ‘Barangsiapa yang memperbaiki hal-hal yang tersembunyi dari dirinya, niscaya Allah akan memperbaiki hal-hal yang hal-hal yang nampak dari dirinya. Barangsiapa yang memperbaiki urusan antara dirinya dengan Allah, niscaya akan Allah cukupkan urusan yang terjadi antara dirinya dengan manusia. Dan barangsiapa yang memperhatikan urusan akhiratnya, niscaya akan Allah cukupkan urusan dunianya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunyaa dalam Al-Ikhlaash wan-Niyyah no. 25; sanadnya hasan].

أَخْبَرَنَا عَارِمُ بْنُ الْفَضْلِ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، قَالَ: قَالَ أَيُّوبُ: " لأَنْ يَسْتُرَ الرَّجُلُ زُهْدَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يُظْهِرَهُ "

Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Aarim bin Al-Fadhl, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, ia berkata : Telah berkata Ayyuub (As-Sukhtiyaaniy) : “Seandainya seseorang menyembunyikan/menutupi kezuhudannya, maka itu lebih baik baginya daripada menampakkannya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat, 7/128; para perawinya tsiqaat].

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ الْجُشَمِيُّ، حَدَّثَنَا جَعْفَرٌ، عَنْ أَبِي التَّيَّاحِ قَالَ: " إِنْ كَانَ الرَّجُلُ يَتَعَبَّدُ عِشْرِينَ سَنَةً وَمَا يَعْلَمُ بِهِ جَارُهُ "

Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Umar Al-Jusyamiy : Telah menceritakan kepada kami Abut-Tayyaah, ia berkata : “Sesungguhnya dulu ada seorang laki-laki yang beribadah selama duapuluh tahun tanpa diketahui oleh tetangganya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dun-yaa dalam Al-Ikhlaash wan-Niyyah no. 37; sanadnya hasan].

أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ، قَالَ: رَأَيْتُ أَبَا أُمَامَةَ " أَتَى عَلَى رَجُلٍ فِي الْمَسْجِدِ وَهُوَ سَاجِدٌ يَبْكِي فِي سُجُودِهِ، وَيَدْعُو رَبَّهُ، فَقَالَ أَبُو أُمَامَةَ: أَنْتَ، أَنْتَ، لَوْ كَانَ هَذَا فِي بَيْتِكَ "

Telah mengkhabarkan kepada kami Ismaa’iil bin ‘Ayyaasy, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ziyaad, ia berkata : Aku pernah melihat Abu Umaamah mendatangi seorang laki-laki di masjid yang sedang menangis dalam sujudnya dan berdoa kepada Rabbnya. Maka Abu Umaamah berkata : “Engkau, engkau, seandainya perbuatanmu ini engkau lakukan di rumahmu” [Diriwayatkan oleh Ibnul-Mubaarak dalam Az-Zuhd no. 156; sanadnya hasan].

أَخْبَرَنَا طَلْحَةُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مُهَاجِرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ الْقَاسِمَ بْنَ مُحَمَّدٍ، يَقُولُ: " إِنَّ الصَّلاةَ النَّافِلَةَ تَفْضُلُ فِي السِّرِّ عَلَى الْعَلانِيَةِ، كَفَضْلِ الْفَرِيضَةِ فِي الْجَمَاعَةِ "

Telah mengkhabarkan kepada kami Thalhah bin Abi Sa’iid, dari Khaalid bin Muhaajir, ia berkata : Aku mendengar Al-Qaasim bin Muhammad berkata : “Sesungguhnya shalat sunnah secara tersembunyi lebih utama dibandingan secara terang-terangan, seperti keutamaan shalat wajib berjama’ah (dibandingkan sendirian)” [Diriwayatkan oleh Ibnul-Mubaarak dalam Az-Zuhd no. 151; sanadnya hasan].

حدثنا خالد بن خداش وعبيد الله بن عمر قالا : حدثنا حماد بن زيد، عن يونس، عن الحسن قال : إن كان رجل ليكون عنده الزور فيصلي الصلاة الطويلة أو الكثيرة من الليل ما يعلم بها زوره

Telah menceritakan kepada kami Khaalid bin Khidaasy dan ‘Ubaidullah bin ‘Umar, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari Yuunus, dari Al-Hasan, ia berkata : “Sesungguhnya dulu ada seorang laki-laki didatangi tamu. Lalu laki-laki tersebut melakukan shalat yang panjang atau banyak pada waktu malam tanpa diketahui oleh tamunya itu” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dun-yaa dalam Al-Ikhlaash wan-Niyyah no. 45; dengan sanad shahih].

حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ أَخْزَمَ، قَالَ: سَمِعْتُ سُلَيْمَانَ بْنَ حَرْبٍ، عَنْ حَمَّادِ بْنِ زَيْدٍ، قَالَ: كَانَ أَيُّوبُ فِي مَجْلِسٍ، فَجَاءَتْهُ عَبْرَةٌ، فَجَعَلَ يَمْتَخِطُ، فَيَقُولُ: " مَا أَشَدَّ الزُّكَامَ "

Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Akhzam, ia berkata : Aku mendengar Sulaimaan bin Harb, dari Hammaad bin Zaid, ia berkata : Ayyuub pernah berada dalam satu majelis. Lalu ada sesuatu yang membuatnya menangis, kemudian ia membuang ingus dan berkata : “Sungguh berat pilek ini” [Diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam Musnad-nya no. 1246; sanadnya shahih].

حدثني أحمد بن إبراهيم، حدثني أبو محمد، يعني عبد الله بن عيسى قال : أخبرني أبي قال : كَانَ حَسَّانُ بْنُ أَبِي سِنَانٍ يَحْضُرُ مَسْجِدَ مَالِكِ بْنِ دِينَارٍ فَإِذَا تَكَلَّمَ مَالِكٌ بَكَى حَسَّانُ حَتَّى يَسِيلَ مَا بَيْنَ يَدَيْهِ لا يُسْمَعُ لَهُ صَوْتٌ

Telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Ibraahiim : Telah menceritakan kepadaku Abu Muhammad ‘Abdullah bin ‘Iisaa, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku ayahku, ia berkata : “Hassaan bin Abi Sinaan biasa menghadiri masjid Maalik bin Diinaar. Apabila Maalik berbicara, Hassaan menangis hingga air matanya mengalir tanpa terdengar suara darinya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunyaa dalam Al-Ikhlaash wan-Niyyah no. 48; dengan sanad shahih].

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، عَنْ مَعْمَرٍ، قَالَ: بَكَى رَجُلٌ إِلَى جَنْبِ الْحَسَنِ، فَقَالَ: " قَدْ كَانَ أَحَدُهُمْ يَبْكِي إِلَى جَنْبِ صَاحِبِهِ فَمَا يَعْلَمُ بِهِ "

Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Yahyaa, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq, dari Ma’mar, ia berkata : Ada seseorang yang menangis di sebelah Al-Hasan (Al-Bashriy), lalu Al-Hasan berkata : “Sungguh, salah seorang di antara mereka menangis di sebelah shahabatnya tanpa diketahui olehnya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dun-yaa dalam Al-Ikhlaash wan-Niyyah no. 35; dengan sanad hasan].

وَقَالَ ابْنُ عَدِيٍّ: صَامَ دَاوُدُ بْنُ أَبِي هِنْدٍ أَرْبَعِينَ سَنَةً لَا يَعْلَمُ بِهِ أَهْلُهُ، كَانَ خَرَّازًا يَحْمِلُ غَدَاهُ مِنْ عِنْدِهِمْ فَيَتَصَدَّقُ بِهِ فِي الطَّرِيقِ وَيَرْجِعُ عَشِيًّا فَيُفْطِرُ مَعَهُمْ.

Telah berkata Ibnu ‘Adiy : “Daawud bin Abi Hind berpuasa sunnah selama empatpuluh tahun tanpa diketahui oleh istrinya. Ia adalah seorang tukang kayu yang senantiasa membawa bekal untuk makan siang yang dibawakan oleh keluarganya. Bekal tersebut ia shadaqahkan di tengah jalan, dan ia kembali pulang pada sore harinya dan berbuka makan bersama mereka (keluarganya)” [Dibawakan oleh Ismaa’iil bin Muhammad Al-Ashbahaaniy dalam Siyarus-Salafish-Shaalihiin, 3/756].

قال مغيرة: كان لشريح بيت يخلو فيه يوم الجمعة، لا يدري الناس ما يصنع فيه

Al-Mughiirah berkata : “Dulu Syuraih mempunyai rumah yang ia pergunakan untuk menyendiri beribadah pada hari Jum’at. Orang-orang tidak mengetahui apa yang ia lakukan di dalamnya” [Dibawakan oleh Adz-Dzahabiy dalam Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 4/105].

أَخْبَرَنَا ابْنُ عَوْنٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ: " إِنْ كَانُوا لَيْكَرَهُونَ إِذَا اجْتَمَعُوا أَنْ يُخْرِجَ الرَّجُلُ أَحْسَنَ حَدِيثِهِ، أَوْ أَحْسَنَ مَا عِنْدَهُ "

Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu ‘Aun, dari Ibraahiim (An-Nakha’iy), ia berkata : “Apabila berkumpul, mereka membenci jika ada seorang laki-laki mengeluarkan perkataan yang paling baik yang dimilikinya atau sesuatu yang paling baik yang dimilikinya” [Diriwayatkan oleh Ibnul-Mubaarak dalam Az-Zuhd hal. 81 no. 139; sanadnya shahih].

حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى، قَالَ: قَالَ لِي خَالِدُ بْنُ نِزَارٍ، عَنْ سُفْيَانَ: " الشَّهْوَةُ الْخَفِيَّةُ، الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُحْمَدَ عَلَى الْبِرِّ "

Telah menceritakan kepada kami Yuunus bin ‘Abdil-A’laa, ia berkata : Telah berkata kepadaku Khaalid bin Nizaar, dari Sufyaan (bin ‘Uyainah), ia berkata : “Syahwat tersembunyi adalah orang yang senang dipuji atas kebaikan yang dilakukannya” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabariy dalam Tahdziibul-Aatsaar no. 1143; sanadnya hasan].

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، حَدَّثَنَا رَجُلٌ فِي بَيْتِ أَبِي عُبَيْدَةَ، أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو، يُحَدِّثُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " مَنْ سَمَّعَ النَّاسَ بِعَمَلِهِ، سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ سَامِعَ خَلْقِهِ، وَصَغَّرَهُ وَحَقَّرَهُ "، قَالَ: فَذَرَفَتْ عَيْنَا عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Amru bin Murrah : Telah menceritakan kepada kami seorang laki-laki di rumah Abu ‘Ubaidah, bahwasannya ia mendengar ‘Abdullah bin ‘Amru menceritakan hadits kepada Ibnu ‘Umar, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang memperdengarkan amalnya kepada manusia, niscaya Allah akan perdengarkan amal tersebut kepada makhluk-Nya yang dapat mendengar. Dan Allah pun akan merendahkan dan meremehkannya”. Laki-laki itu berkata : “(Mendengar itu), menangislah mata ‘Abdullah (bin ‘Umar)” [Diriwayatkan oleh Ahmad 2/195; dinyatakan shahih oleh Ahmad Syaakir dan Al-Arna’uth].

Doa Nabi Sulaiman Menundukkan Hewan dan Jin

  Nabiyullah Sulaiman  'alaihissalam  (AS) merupakan Nabi dan Rasul pilihan Allah Ta'ala yang dikaruniai kerajaan yang tidak dimilik...