Senin, 01 November 2021

Janganlah Berlomba Dalam Urusan Dunia, Berlombalah Dalam Menggapai Akhirat


Terkadang hati dan iman kita sedang lemah, kita bisa jadi timbul rasa iri, mereka bisa segera meraih kenikmatan dunia, sedangkan kita terkadang sibuk denganmenuntut ilmu dan dakwah sehingga dunia tidak banyak kita dapat.

Al Hasan Al Bashri mengatakan,

إذا رأيت الرجل ينافسك في الدنيا فنافسه في الآخرة

“Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka unggulilah dia dalam masalah akhirat.”

Wahib bin Al Warid mengatakan,

إن استطعت أن لا يسبقك إلى الله أحد فافعل

“Jika kamu mampu untuk mengungguli seseorang dalam perlombaan menggapai ridha Allah, lakukanlah.”

Sebagian salaf mengatakan,

لو أن رجلا سمع بأحد أطوع لله منه كان ينبغي له أن يحزنه ذلك

“Seandainya seseorang mendengar ada orang lain yang lebih taat pada Allah dari dirinya, sudah selayaknya dia sedih karena dia telah diungguli dalam perkara ketaatan.”

Jangan sering melihat kenikmatan orang lain dan lupa nikmat sendiri

Janganlah kita sebagaimana orang yang melihat bagaimana kemegahan Qarun dan ingin menjadi seperti Qarun.

Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman:

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia:“Moga-moga kiranya kita ini mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun;sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. (Al-Qashash: 79)

Inilah perkatan orang-orang yang cenderung terhadap dunia saja.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

فلما رآه من يريد الحياة الدنيا ويميل إلى زخرفها وزينتها، تمنوا أن لو كان لهم مثل الذي أعطي

“Tatkala (qorun) dilihat oleh mereka yang mengingikan kehidupan dunia dan cenderung kepada gemerlap dan perhiasannya maka mereka berangan-angan seandainya mereka sebagaimana Qarun diberi (kenikmatan).”

Dan kita diperintahkan agar jangan terlalu silau dan terpana dengan kenikmatan orang lain.

Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman,

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Rabb-mu adalah lebih baik dan lebih kekal. “ (Thaha: 131)

Melihat kenikmatan orang lain dan membanding-bandingkan dengan kita hanyalah membawa kesedihan dan menambah duka saja. Al-Baghawi rahimahullah berkata,

قال أبي بن كعب: من لم يعتز بعز الله تقطعت نفسه حسرات، ومن يتبع بصره فيما في أيدي الناس طال حزنه

“Berkata ‘Ubay bin Ka’ab: ‘ Barangsiapa yang tidak merasa mulia dengan kemulian dari Allah akanmemutuskan dirinya sendiri dalam kerugian. Barangsiapa yang mengikuti pandangannya terhadap apa yang ada ditangan manusia maka akan semakin bertambah kesedihannya.”

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالأنْعَامُ حَتَّى إِذَا أَخَذَتِ الأرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالأمْسِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir” [QS. Yunus : 24].

Allah Swt. membuat perumpamaan tentang bunga kehidupan dunia dan perhiasannya serta kefanaannya yang cepat dengan tumbuh-tumbuhan yang dikeluarkan oleh Allah dari tanah melalui air hujan yang diturunkan dari langit. Tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang beraneka ragam macam dan jenisnya itu ada yang dimakan oleh manusia; ada pula yang dimakan oleh binatang ternak, seperti rumput, ilalang, dan lain sebagainya.

{حَتَّى إِذَا أَخَذَتِ الأرْضُ زُخْرُفَهَا}

Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya. (Yunus: 24)
Yakni perhiasannya yang fana telah sempurna.

{وَازَّيَّنَتْ}

dan memakai (pula) perhiasannya. (Yunus: 24)
Sehingga semua yang dikeluarkannya tampak indah dihiasi dengan bunga-bungaan yang aneka ragam warna dan bentuknya.

{وَظَنَّ أَهْلُهَا} الَّذِينَ زَرَعُوهَا وَغَرَسُوهَا {أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا}

dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (Yunus: 24)
Maksudnya, mampu menuai dan memetik hasilnya. Ketika mereka dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba datanglah sa'iqah atau angin kencang yang sangat dingin sehingga dedaunannya menjadi kering dan buahnya membusuk. Karena itu, dalam firman selanjutnya disebutkan:

{أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا}

tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang hari, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit.(Yunus: 24)
Yakni menjadi kering, sebelumnya segar lagi hijau.

{كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالأمْسِ}

seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. (Yunus: 24)
Yaitu seakan-akan tidak pernah tumbuh sebelum itu.
Menurut Qatadah, seakan-akan belum pernah tumbuh dengan segar. Demikianlah keadaan semua urusan sesudah kehancurannya, maka akan kelihatan seakan-akan belum pernah ada.
Di dalam sebuah hadis disebutkan seperti berikut:

يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا، فيُغْمَس فِي النَّارِ غَمْسَة ثُمَّ يُقَالُ لَهُ: هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ [هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ؟] فَيَقُولُ: لَا. وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا فِي الدُّنْيَا فَيُغْمَسُ فِي النَّعِيمِ غَمْسَةً، ثُمَّ يُقَالُ لَهُ: هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ؟ فَيَقُولُ: لَا"

(Kelak di hari kiamat) didatangkan seorang penghuni dunia yang paling senang, lalu ia dicelupkan ke dalam neraka sekali celup, kemudian dikatakan kepadanya, "Apakah kamu pernah mengalami suatu kebaikan? Dan apakah kamu pernah mengalami suatu kesenangan?” Maka ia menjawab, "Tidak.” Lalu didatangkan seorang yang paling sengsara di dunia, kemudian ia dimasukkan ke dalam kehidupan yang penuh dengan kenikmatan (surga) sekali masuk. Sesudah itu dikatakan kepadanya, "Apakah kamu pernah mengalami suatu kesengsaraan?” Maka dia menjawab, "Tidak.”

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا * الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا

“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” [QS. Al-Kahfi : 45-46].

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” [QS. Al-Hadiid : 20].

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah” [QS. Faathir : 5].

فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلا أَنْ قَالُوا اقْتُلُوهُ أَوْ حَرِّقُوهُ فَأَنْجَاهُ اللَّهُ مِنَ النَّارِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Maka tidak adalah jawaban kaum Ibrahim, selain mengatakan: "Bunuhlah atau bakarlah dia", lalu Allah menyelamatkannya dari api. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman” [QS. Al-Ankabuut : 64].

Diriwayatkan dari ‘Amr bin ‘Auf radliyallaahu ‘anhu :

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم بعث أبا عبيدة بن الجراح إلى البحرين يأتي بجزيتها، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم هو صالح أهل البحرين وأمر عليهم العلاء بن الحضرمي، فقدم أبو عبيدة بمال من البحرين، فسمعت الأنصار بقدوم أبي عبيدة فوافت صلاة الصبح مع النبي صلى الله عليه وسلم، فلما صلى بهم الفجر انصرف، فتعرضوا له فتبسم رسول الله صلى الله عليه وسلم حين رآهم، وقال: (أظنكم قد سمعتم أن أبا عبيدة قد جاء بشيء). قالوا: أجل يا رسول الله، قال: (فأبشروا وأملوا ما يسركم، فوالله لا الفقر أخشى عليكم، ولكن أخشى عليكم أن تبسط عليكم الدنيا، كما بسطت على من كان قبلكم، فتنافسوها كما تنافسوها، وتهلككم كما أهلكتهم).

Bahwasannya Rasululah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengutus Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarraah ke Bahrain untuk mengambil harta jizyah; dan ketika itu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mengadakan perjanjian damai dengan orang-orang Bahrain dengan mengangkat Al-‘Alaa’ bin Al-Hadlramiy sebagai gubernur di sana. Maka Abu ‘Ubaidah pun datang dengan membawa harta dari Bahrain. Orang-orang Anshar mendengar kedatangan Abu ‘Ubaidah. Mereka pun mengerjakan shalat Shubuh bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ketika telah selesai shalat Shubuh, beliau berpaling. Mereka pun mendatangi beliau. Maka, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tersenyum saat melihat kedatangan mereka, dan bersabda : “Aku kira kalian telah mendengar Abu ‘Ubaidah telah datang dengan membawa sesuatu”. Mereka berkata : “Benar wahai Rasulullah”. Beliau bersabda : “Bergembiralah dan harapkanlah untuk memperoleh apa-apa yang menyenangkan kalian. Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas diri kalian. Namun yang aku takutkan atas diri kalian adalah akan dibentangkannya dunia pada kalian, sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian. Maka kalian akan berlomba-lomba sebagaimana mereka dulu telah berlomba-lomba (untuk mendapatkannya). Lalu kalian akan binasa sebagaimana mereka dulu telah binasa”.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

أن النبي صلى الله عليه وسلم جلس ذات يوم على المنبر، وجلسنا حوله، فقال: (إني مما أخاف عليكم من بعدي ما يفتح عليكم من زهرة الدنيا وزينتها)

Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah duduk pada suatu hari di atas mimbar. Kami pun duduk di sekitar beliau. Maka beliau bersabda : “Sesungguhnya yang aku takutkan atas diri kalian setelahku adalah dibukakannya bunga (kemegahan) dunia dan perhiasannya kepada kalian”.

Dan diriwayatkan juga dari Abu Sa’id Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إن الدنيا حلوة خضرة. وإن الله مستخلفكم فيها. فينظر كيف تعملون. فاتقوا الدنيا واتقوا النساء. فإن أول فتنة بني إسرائيل كانت في النساء.

“Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau. Dan sesungguhnya Allah akan menyerahkannya kepada kalian dan melihat apa yang akan kalian lakukan. Maka, berhati-hatilah kalian pada dunia, dan berhati-hatilah juga pada para wanita ! Karena fitnah yang pertama kali menimpa Bani Israil datang dari para wanita”.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ألا إن الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله وما والاه وعالم أو متعلم

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya dunia itu terlaknat, dan terlaknat pula apa-apa yang ada di dalamnya. Kecuali dzikir kepada Allah, apa-apa yang mendekatkan diri kepada-Nya, orang yang mengajarkan ilmu, atau orang yang belajar ilmu”.

Pelajaran Dari Bab

Dunia itu cepat hilangnya, dan berpegang pada dunia adalah fatamorgana. Sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal abadi yang tidak akan hilang atau habis.

Peringatan bagi siapa saja yang dibukakan dunia kepadanya dari buruknya akibat dan firnah yang ditimbulkannya. Maka janganlah ia merasa tenang dengan kemegahannya.

Berlomba-lomba dalam urusan duniaakan menyeret manusia kepada kerusakan agama dan dunia. Karena harta itu sangat menggiurkan hingga jiwa pun suka dan mencarinya. Ia merasa nikmat dengannya. Dan itu dapat memicu timbulnya permusuhan, pertumpahan darah, dan menyeret kepada kebinasaan.

Seorang mukmin tidaklah merasa tenang kepada harta dan tidak pula tenggelam di dalamnya. Karena harta itu tidaklah ada nilainya di sisi Allah meskipun hanya seperti sayap nyamuk. Oleh karena itu, seorang mukmin hidup di dunia seperti hidup di dalam penjara, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

الدنيا سجن المؤمن وجنة الكافر

“Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi bagi orang kafir”.

Ia merasa rindu dengan kampungnya yang pertama di surga yang abadi. Semoga Allah merahmati Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah yang mengatakan :

وحي على جنات عدن فإنها منازلك الأولى وفيها المخيم
ولكننا سبي العدو فهل ترى نعود إلى أوطاننا ونسلم
وأي اغتراب فوق غربتنا التي لها أضحت الأعداء فينا تحكم
وقد زعموا أن الغريب إذا نأى وشطت به أوطانه ليس ينعم
فمن أجل ذا لا ينعم العبد ساعة من العمر إلا بعد ما يتألم

“Marilah segera menuju jannah ‘Adn,
karena sesungguhnya adalah tempatmu pertama dan di dalamnya ada tempat tinggal
Akan tetapi kita tawanan musuh
apakah menurut pandanganmu kita bisa kembali ke kampung kita dengan selamat ?
Keterasingan siapa lagi yang lebih hebat dari keterasingan kita
yang mana musuh-musuh menguasai kita
Mereka mengira bahwasannya orang yang asing
adalah orang yang jauh dari tempat tinggalnya dan tidak merasa nikmat
Karena itulah seorang hamba tidaklah merasa nikmat walau sesaat dari umurnya
kecuali setelah ia merasakan sakit.

Selayaknya kita menjadikan dunia sebagai tempat lintas menuju kampung akhirat, karena dunia ini akan binasa dan bukan kampung yang abadi. Tempat lintas bukan tempat menetap. Sungguh baik orang yang mengatakan :

إن لله عبادا فطنا طلقوا الدنيا وخافوا الفتنا
نظروا فيها فلما علموا أنها ليست لحي وطنا
جعلوها لجة واتخذوا صالح الأعمال فيها سفنا

“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang bijak
mereka meninggalkan dunia dan takut fitnah
Mereka melihat dan memperhatikannya, maka setelah mereka mengetahui
bahwa dunia bukanlah tempat tinggal untuk hidup
Maka mereka menjadikannya sebagai samudera
dan amal shalih sebagai bahteranya”.

Firman Allah Swt.:

{وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلامِ}

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam(surga). (Yunus: 25)
Setelah menceritakan perihal dunia dan kelenyapannya yang cepat, maka Allah menyebutkan tentang surga dan menyeru kepadanya serta menamainya dengan sebutan Darussalam, yakni rumah yang aman dari semua penyakit, semua kekurangan, dan semua musibah. Untuk itu, Allah Swt. berfirman:

{وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam(surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus(Islam). (Yunus: 25)

Ayyub telah meriwayatkan dari Abu Qilabah, dari Nabi Saw., yang telah bersabda:

"قِيلَ لِي: لتنَمْ عينُك، وليعقلْ قَلْبُكَ، وَلْتَسْمَعْ أُذُنُكَ فَنَامَتْ عَيْنِي، وَعَقَلَ قَلْبِي، وَسَمِعَتْ أُذُنِي. ثُمَّ قِيلَ: سيّدٌ بَنَى دَارًا، ثُمَّ صَنَعَ مَأْدُبَةً، وَأَرْسَلَ دَاعِيًا، فَمَنْ أَجَابَ الدَّاعِيَ دَخَلَ الدَّارَ، وَأَكَلَ مِنَ الْمَأْدُبَةِ، وَرَضِيَ عَنْهُ السَّيِّدُ، وَمَنْ لَمْ يُجِبِ الدَّاعِيَ لَمْ يَدْخُلِ الدَّارَ، وَلَمْ يَأْكُلْ مِنَ الْمَأْدُبَةِ، وَلَمْ يَرْضَ عَنْهُ السَّيِّدُ فَاللَّهُ السَّيِّدُ، وَالدَّارُ الْإِسْلَامُ، وَالْمَأْدُبَةُ الْجَنَّةُ، وَالدَّاعِي مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Dikatakan kepadaku, "Tidurlah kedua matamu, tetapi sadarlah hatimu dan mendengarlah dengan telingamu!" Maka mataku tertidur dan hatiku sadar serta kedua telingaku mendengar. Kemudian dikatakan kepadaku, "Seperti seorang tuan yang membangun sebuah gedung, lalu membuat perjamuan (pesta) dan mengutus seseorang untuk menyampaikan undangan. Maka barang siapa yang memenuhi undangannya masuk ke dalam gedung itu dan memakan jamuannya, dan si tuan merasa puas (rida) kepadanya. Dan barang siapa yang tidak memenuhi undangannya, tidak masuk ke dalam gedung itu dan tidak makan jamuannya, serta si tuan tidak rela kepadanya Allah adalah si tuan itu, sedang gedung itu adalah agama Islam, dan jamuannya adalah surga, sedangkan penyampai undangan itu adalah Muhammad Saw."
Hadis ini mursal, tetapi diriwayatkan pula secara muttasil melalui hadis Al-Lais dari Khalid ibnu Yazid dari Sa'id ibnu Abu Hilal dari Jabir ibnu Abdullah r.a. yang menceritakan.”Pada suatu hari Rasulullah Saw. keluar (dari rumah) dan menjumpai kami, lalu beliau bersabda:

"إِنِّي رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ كَأَنَّ جِبْرِيلَ عِنْدَ رَأْسِي، وَمِيكَائِيلَ عِنْدَ رِجْلِي، يَقُولُ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ: اضْرِبْ لَهُ مَثَلًا. فَقَالَ: اسْمَعْ سَمعت أُذُنُكَ، وَاعْقِلْ عَقَل قَلْبُكَ، إِنَّمَا مَثَلُك وَمَثَلُ أمَّتك كَمَثَلِ مَلِكٍ اتَّخَذَ دَارًا، ثُمَّ بَنَى فِيهَا بَيْتًا، ثُمَّ جَعَلَ فِيهَا مَأْدُبَةً، ثُمَّ بَعَثَ رَسُولًا يَدْعُو النَّاسَ إِلَى طَعَامِهِ، فَمِنْهُمْ مَنْ أَجَابَ الرَّسُولَ، وَمِنْهُمْ مَنْ تَرَكَهُ، فَاللَّهُ الْمَلِكُ، وَالدَّارُ الْإِسْلَامُ، وَالْبَيْتُ الْجَنَّةُ، وَأَنْتَ يَا مُحَمَّدُ الرسُول، فَمَنْ أَجَابَكَ دَخَلَ الْإِسْلَامَ، وَمَنْ دَخَلَ الْإِسْلَامَ دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ دَخَلَ الْجَنَّةَ أَكَلَ مِنْهَا"

Sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku seakan-akan Jibril berada di dekat kepalaku dan Mikail berada di dekat kedua kakiku. Salah satunya berkata kepada yang lain, 'Buatlah suatu perumpamaan baginya.' Maka yang ditanya menjawab, 'Dengarkanlah dengan baik oleh telingamu dan resapilah dengan baik oleh hatimu. Sesungguhnya perumpamaanmu dan perumpamaan umatmu sama dengan seorang raja yang menempati sebuah istana, lalu ia membangun sebuah rumah di dalamnya dan mengadakan pesta perjamuan di dalamnya, untuk itu lalu ia mengutus seorang utusan guna memanggil orang-orang menghadiri perjamuannya. Maka di antara mereka ada yang memenuhi undangan utusannya, dan di antara mereka ada pula yang tidak memenuhinya. Raja itu adalah perumpamaan Allah, istana itu perumpamaan Islam, rumah itu perumpamaan surga, dan engkau —hai Muhammad— adalah perumpamaan utusan itu. Barang siapa yang memenuhi undanganmu, niscaya masuk Islam; dan barang siapa masuk Islam, pasti masuk surga; dan barang siapa masuk surga, pasti memakan makanan yang ada di dalamnya'.”
Hadis ini merupakan riwayat Ibnu Jarir.

Qatadah mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Khulaid Al-Asri, dari Abu Darda secara marfu', bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

"مَا مِنْ يَوْمٍ طَلَعَتْ فِيهِ شَمْسُهُ إِلَّا وبجنَبَتَيْها مَلَكَانِ يُنَادِيَانِ يَسْمَعُهُمَا خَلْقُ اللَّهِ كُلُّهُمْ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ: يَا أيها الناس، هَلُمُّوا إِلَى رَبِّكُمْ، إِنَّ مَا قلَّ وكَفَى، خَيْرٌ مِمَّا كَثُرَ وَأَلْهَى".

Tiada suatu hari pun yang matahari terbit padanya, melainkan pada kedua sisinya terdapat dua malaikat, kedua-duanya menyerukan kalimat berikut yang seruannya dapat didengar oleh semua makhluk Allah kecuali manusia dan jin, yaitu: "Hai manusia, kemarilah kepada Tuhan kalian. Sesungguhnya sesuatu yang sedikit tetapi mencukupi adalah lebih baik daripada sesuatu yang banyak tetapi melalaikan (kalian kepada Allah).”
Sehubungan dengan perkataan, "Hai manusia, kemarilah kepada Tuhan kalian," Abu Darda mengatakan bahwa diturunkan firman Allah Swt.: Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga). (Yunus: 25), hingga akhir ayat.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir.

Adab Ketika Bersin


Semua orang normal pasti pernah bersin, namun banyak di antara mereka yang tidak mengetahui sunnah-sunnah yang dilakukan ketika bersin.

“Bersin adalah lawan dari menguap yaitu keluarnya udara dengan keras, kuat disertai hentakan melalui dua lubang: hidung dan mulut. Maka akan terkuras dari badan bersamaan dengan bersin ini sejumlah hal seperti debu, haba’ (sesuatu yang sangat kecil, di udara, yang hanya terlihat ketika ada sinar matahari), atau kutu, atau mikroba yang terkadang masuk ke dalam organ pernafasan. Oleh karena itu, secara tabiat, bersin datang dari Yang Maha Rahman (Pengasih), sebab padanya terdapat manfaat yang besar bagi tubuh. Dan menguap datang dari syaithan sebab ia mendatangkan bahaya bagi tubuh. Dan atas setiap orang hendaklah memuji Allah Yang Maha Suci Lagi Maha Tinggi ketika dia bersin, dan agar meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk ketika sedang menguap (Lihat Al-Haqa’iq Al-Thabiyah fii Al-Islam: hal 155).

Berikut akan disebutkan beberapa riwayat yang menyebutkan tuntunan adab tersebut, semoga bermanfaat.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ وَزِيرٍ الْوَاسِطِيُّ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلَانَ، عَنْ سُمَيٍّ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا عَطَسَ غَطَّى وَجْهَهُ بِيَدِهِ أَوْ بِثَوْبِهِ وَغَضَّ بِهَا صَوْتَهُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Waziir Al-Waasithiy : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Sa’iid, dari Muhammad bin ‘Ajlaan, dari Sumaiy, dari Abu Shaalih, dari Abu Hurairah : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila bersin, beliau menutupi wajahnya dengan tangannya atau dengan pakaiannya, seraya merendahkan suara (bersin)-nya [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2745, dan ia berkata : ‘hadits hasan shahih’].

حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ، حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ، وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ، فَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ، فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ، وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِذَا قَالَ: هَا ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ

Telah menceritakan kepada kami Aadam bin Abi Iyaas : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi’b : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid Al-Maqburiy, dari ayahnya, dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Oleh karena itu, apabila salah seorang dari kalian bersin lalu ia memuji Allah, maka kewajiban bagi setiap muslim yang mendengarnya untuk bertasymit (mengucapkan yarhamukallaah). Adapun menguap, maka tidaklah iadatang kecuali dari setan. Maka,hendaklah menahannya (menguap)semampunya. Jika ia sampai mengucapkan ‘haaah’, maka setan akan tertawa karenanya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6223].

Allah membenci menguap karena menguap adalah aktivitas yang membuat seseorang banyak makan, yang pada akhirnya membawa pada kemalasan dalam beribadah. Menguap adalah perbuatan yang dibenci oleh Allah, terlebih-lebih ketika pada waktu shalat. Para nabi tidak pernah menguap, dikarenakan menguap adalah salah satu aktivitas yang dibenci oleh Allah.

Imam Ibnu Hajar berkata, “Imam Al-Khathabi mengatakan bahwa makna cinta dan benci pada hadits di atas dikembalikan kepada sebab yang termaktub dalam hadits itu. Yaitu bahwa bersin terjadi karena badan yang kering dan pori-pori kulit terbuka, dan tidak tercapainya rasa kenyang. Ini berbeda dengan orang yang menguap. Menguap terjadi karena badan yang kekenyangan, dan badan terasa berat untuk beraktivitas, hal ini karena banyaknya makan . Bersin bisa menggerakkan orang untuk bisa beribadah, sedangkan menguap menjadikan orang itu malas (Fathul Baari, 10/607)

حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ، فَإِذَا قَالَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ، فَلْيَقُلْ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ "

Telah menceritakan kepada kami Maalik bin Ismaa’iil : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Abi Salamah : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Diinaar, dari Abu Shaalih, dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan : ‘Alhamdulillah (segala puji hanya untuk Allah)’. Dan saudara atau rekannya (yang mendengar ucapan tersebut) hendaknya mengucapkan kepadanya : ‘yarhamukallaah (semoga Allah memberikan rahmat kepadamu)’. Apabila rekannya tersebut mengucapkan kepadanya ‘yarhamukallah’, hendaknya ia membalas : ‘yahdiikumullahu wa yushlihu baalakum (semoga Allah memberikan hidayah kepa kalian dan memperbaiki keadaan kalian)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6224].

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيل، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ: الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ، وَلْيَقُلْ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ، وَيَقُولُ هُوَ: يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ "

Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Ismaa’iil : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin ‘Abdillah bin Abi Salamah, dari ‘Abdullah bin Diinaar, dari Abu Shaalih, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan : ‘Alhamdulillahi ‘alaa kulli haal (segala puji bagi Allah dalam segala kondisi)’. Dan saudara atau rekannya (yang mendengar ucapan tersebut) hendaknya mengucapkan : ‘yarhamukallaah’. Dan hendaknya ia (yang bersin) membalas : ‘yahdiikumullahu wa yushlihu baalakum” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 5033; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan Abi Daawud, 3/236].

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا رِفَاعَةُ بْنُ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيُّ، عَنْ عَمِّ أَبِيهِ  مُعَاذِ  بْنِ رِفَاعَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَطَسْتُ، فَقُلْتُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصَرَفَ، فَقَالَ: " مَنِ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ؟ " فَلَمْ يَتَكَلَّمْ أَحَدٌ ثُمَّ قَالَهَا الثَّانِيَةَ: " مَنِ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ؟ " فَلَمْ يَتَكَلَّمْ أَحَدٌ ثُمَّ قَالَهَا الثَّالِثَةَ: " مَنِ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ " فَقَالَ رِفَاعَةُ بْنُ رَافِعٍ ابْنُ عَفْرَاءَ: أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: " كَيْفَ قُلْتَ؟ " قَالَ: قُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدِ ابْتَدَرَهَا بِضْعَةٌ وَثَلَاثُونَ مَلَكًا أَيُّهُمْ يَصْعَدُ بِهَا ".

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah : Telah menceritakan kepada kami Rifaa’ah bin Yahyaa bin ‘Abdillah bin Rifaa’ah bin Raafi’ Az-Zuraqiy, dari paman ayahnya, dari ayahnya, ia berkata : Aku pernah shalat di belakang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku bersin. Aku mengucapkan : ‘Alhamdulillahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi mubaarakan ‘alaihi kamaa yuhibbu Rabbunaa wa yardlaa (segala puji bagi Allah, dengan pujian yang banyak, baik, diberkahi di dalamnya serta diberkahi di atasnya, sebagaimana Rabb kami senang dan ridla)’. Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, beliau berpaling seraya bersabda : “Siapakah yang berbicara tadi waktu shalat?”.Tidak ada seorang pun yang menjawab, sehingga beliau bertanya untuk kedua kalinya : “Siapakah yang berbicara tadi waktu shalat?”. Tidak ada seorang pun yang menjawab, sehingga beliau bertanya untuk ketiga kalinya :“Siapakah yang berbicara tadi waktu shalat?”.  Maka Rifaa’ah bin Raafi’ bin ‘Afraa’ berkata : “Aku wahai Rasulullah”. Beliau bersabda : “Apa yang engkau ucapkan tadi?”. Aku menjawab : “Aku mengucapkan : ‘Alhamdulillahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi mubaarakan ‘alaihi kamaa yuhibbu Rabbunaa wa yardlaa”. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh ada tiga puluh lebih malaikat saling berebut untuk membawa naik kalimat tersebut” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 404, dan ia berkata : ‘hadits hasan’].

أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، حَدَّثَنَا هُدْبَةُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " لَمَّا نَفَخَ فِي آدَمَ، فَبَلَغَ الرُّوحُ رَأْسَهُ عَطَسَ، فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَقَالَ لَهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَرْحَمُكَ اللَّهُ "

Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Hasan bin Sufyaan : Telah menceritakan kepada kami Hudbah bin Khaalid : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Tsaabit Al-Bunaaniy, dari Anas bin Maalik : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ketika Allah meniup ruuh pada diri Aadam, maka sampailah ruh di kepalanya, Aadam pun bersin. Lalu ia mengucapkan : ‘Alhamdulillahi Rabbil-‘aalamiin (segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam)’. Allah tabaaraka wa ta’alaa berfirman kepadanya : ‘Yarhamukallah” [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan no. 6165; dishahihkan oleh Al-Arna’uth dalam takhriij Shahiih Ibni Hibbaan 14/37].

حَدَّثَنَا حَامِدُ بْنُ عُمَرَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ أَبِي جَمْرَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ، يَقُولُ إِذَا شمّت عَافَانَا اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ النَّارِ، يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ "

Telah menceritakan kepada kami Haamid bin ‘Umar, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awaanah, dari Abu Jamrah, ia berkata : Aku mendengar Ibnu ‘Abbaas mengucapkan tasymiit : ‘’Aafaanallaahu wa iyyaakum minan-naar, yarhamukumullah (semoga Allah menyelamatkan kami dan kalian dari api neraka, dan semoga Allah memberikan rahmat kepada kalian)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul-Mufrad no. 929].

عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا عَطَسَ، فَقِيلَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ، قَالَ: " يَرْحَمُنَا اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ وَيَغْفِرُ لَنَا وَلَكُمْ "

Dari Naafi’ : Bahwasannya ‘Abdullah bin ‘Umar apabila bersin, lalu dikatakan kepadanya : ‘Yarhamukallah’. Ia (Ibnu ‘Umar) berkata : “Yarhamunallaahu wa iyyaakum wa yaghfiru lanaa wa lakum (semoga Allah memberikan rahmat kepada kami dan kepada kalian, dan semoga Allah memberikan ampunan kepada kami dan kepada kalian)” [Diriwayatkan oleh Maalik no. 1939].

أَخْبَرَنَا أَبُو طَاهِرٍ الْفَقِيهُ، أنا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ الْقَطَّانُ، نا أَحْمَدُ بْنُ يُوسُفَ السَّلَمِيُّ، نا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أنا سُفْيَانُ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السَّلَمِيِّ، أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ، كَانَ يَقُولُ: " إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلِ: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَلْيَقُلْ مَنْ يَرُدُّ عَلَيْهِ: يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ، وَلْيَقُلْ: يَغْفِرُ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ ".هَذَا مَوْقُوفٌ، وَهُوَ الصَّحِيحُ

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Thaahir Al-Faqiih : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr Muhammad bin Al-Husain Al-Qaththaan : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yuusuf As-Sulamiy : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq : Telah mengkhabarkan kepada kami Sufyaan, dari ‘Athaa’ bin As-Saaib, dari Abu ‘Abdirrahmaan As-Sulamiy : Bahwasannya Ibnu Mas’uud pernah berkata : “Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan : ‘Alhamdulillahi rabbil-‘aalamiin’. Dan orang yang menjawabnya hendaklah mengucapkan : ‘Yarhamukumullah (semoga Allah memberikan rahmat kepada kalian)’. Orang yang bersin tadi hendaknya mengucapkan : ‘Yaghfirullaahu lii wa lakum (semoga Allah memberikan ampunan kepadaku dan kepada kalian)’” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Syu’abul-Iimaan no. 9342; dan ia berkata : ‘Riwayat ini mauquuf, dan itulah yang shahih’].

Dalam riwayat Al-Haakim, Ibnu Mas’uud berkata:

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ، فَلْيَقُلِ: الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلْيُقَلْ لَهُ: يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ، فَإِذَا قِيلَ لَهُ: يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ، فَلْيَقُلْ: يَغْفِرُ اللَّهُ لَنَا وَلَكُمْ

“Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan : ‘Alhamdulillah’. Dan hendaklah dikatakan kepadanya : ‘Yarhamukumullah’. Dan apabila dikatakan kepadanya ‘yarhamukumullah, hendaklah ia mengucapkan : ‘Yaghfirullaahu lanaa wa lakum (semoga Allah memberikan ampunan kepada kami dan kepada kalian)” [Al-Mustadrak, 4/262-263].

حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الأَحْمَرُ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ قَالَ: " كَانَ أَصْحَابُ عَبْدِ اللَّهِ إِذَا عَطَسَ الرَّجُلُ، فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ، قَالُوا: يَرْحَمُنَا اللَّهُ وَإِيَّاكَ، وَيَقُولُ هُوَ: يَغْفِرُ اللَّهُ لَنَا وَلَكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Abu Khaalid Al-Ahmar, dari Al-A’masy, dari Ibraahiim (An-Nakha’iy), ia berkata : “Adalah shahabat-shahabat ‘Abdullah (bin Mas’uud) apabila ada seseorang bersin mengucapkan ‘alhamdulillah’, mereka mengucapkan : ‘yarhamunallaahu wa iyyaaka’. Dan orang yang bersin itu menjawab : ‘yaghfirullaahu lanaa wa lakum” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah no. 26400; sanadnya hasan].

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي سَلَمَةَ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي ابْنُ شِهَابٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ: رَدُّ السَّلَامِ، وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ، وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ، وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ "

Telah menceritakan kepada kami Muhammad : Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Abi Salamah, dari Al-Auzaa’iy, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Ibnu Syihaab, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Sa’iid bin Al-Musayyib : Bahwasannya Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu pernah berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Hak seorang muslim terhadap muslim lainnya ada lima : menjawab salam, menjenguk orang yang sakit, mengikuti jenazah (hingga ke kuburnya), memenuhi undangan, dan mengucapkan tasymiit terhadap orang yang bersin” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1240].

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ عَمَّارٍ، عَنْ إِيَاسِ بْنِ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " يُشَمَّتُ الْعَاطِسُ ثَلَاثًا فَمَا زَادَ، فَهُوَ مَزْكُومٌ "

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Muhammad : Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari ‘Ikrimah bin ‘Ammaar, dari Iyaas bin Salamah bin Al-Akwa’, dari ayahnya, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Orang bersin dibacakan tasymiit sebanyak tiga kali. Selebih dari itu maka ia sedang kena flu" [Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah no. 3714; dishahihkan oleh Basyaar ‘Awwaad Ma’ruuf dalam Takhriij Sunan Ibni Maajah 4/5/285].

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ حَكِيمِ بْنِ دَيْلَمَ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ: " كَانَ الْيَهُودُ يَتَعَاطَسُونَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُونَ أَنْ يَقُولَ لَهُمْ: " يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ، فَيَقُولُ: يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ "

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyaar : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahmaan bin Mahdiy : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari Hakiim bin Dailam, dari Abu Burdah, dari Abu Muusaa, ia berkata : “Dulu ada seorang Yahudi bersin di sisi Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan mengharapkan agar beliau mengucapkan kepada mereka ‘yarhamukumullah’. Namun beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan : ‘yahdikumullahu wa yushlihu baalakum” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2739, dan ia berkata : ‘hadits hasan shahih’].

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلامٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَخْلَدٌ، قَالَ: أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، أَخْبَرَنِي ابْنُ أَبِي نَجِيحٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ: عَطَسَ ابْنٌ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ إِمَّا أَبُو بَكْرٍ، وَإِمَّا عُمَرُ، فَقَالَ: آبَّ، فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: " وَمَا آبَّ؟ إِنَّ آبَّ اسْمُ شَيْطَانٍ مِنَ الشَّيَاطِينِ جَعَلَهَا بَيْنَ الْعَطْسَةِ وَالْحَمْدِ "

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salaam, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Makhlad, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Juraij : Telah mengkhabarkan kepadaku Ibnu Abi Najiih, bahwasannya ia mendengar Mujaahid berkata : “Seorang anak dari ‘Abdullah bin ‘Umar – mungkin ia Abu Bakr atau ‘Umar (perawi ragu) - bersin, lalu mengucapkan : ‘aaabba’. Ibnu ‘Umar berkata : “Apa itu Aaabba ?. Sesungguhnya Aabba adalah nama setan di antara setan-setan yang sengaja ditempatkan antara bersin dan ucapan tahmiid” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul-Mufrad no. 937].

Sebagian faedah yang dapat diambil:

1.     Sesungguhnya Allah mencintai bersin.

Bersin dapat menyehatkan dan menyegarkan badan karena berkaitan dengan proses imunitas.

2.     Disunnahkan untuk menutup wajah dengan tangan atau kain, serta memelankan suara ketika bersin.

3.     Disunnahkan untuk mengucapkan tahmiid ketika bersin, dan wajib bagi yang mendengarnya untuk bertasymit kepadanya.

4.     Mengucapkan tasymiit merupakan hak yang harus ditunaikan seorang muslim apabila ia mendengar muslim lainnya yang bersin (dan mengucapkan tahmiid). Hukumnya adalah fardlu ‘ain bagi setiap yang mendengarnya.

أنه ذهب بعض العلماء إلى أن التشميت فرض كفاية، فإذا كنا جماعة وعطس رجل وقال: الحمد لله؛ فقال أحدنا له: يرحمك الله، كفى، وقال بعض العلماء: بل تشميته فرض عين على كل من سمعه؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((كان حقًا على كل من سمعه أن يقول: يرحمك الله)) وظاهر هذا أنه فرض عين؛ فعلى هذا كل من سمعه يقول له: (يرحمك الله)

“Bahwasannya sebagian ulama berpendapat ucapan tasymiit hukumnya fardlu kifaayah. Apabila kita sekelompok orang dan salah seorang bersin seraya mengucapkan‘alhamdulillah, dan kemudian salah seorang di antara kita mengucapkan yarhamukallaah, mencukupi. Sebagian ulama lain berpendapat ucapan tasymiit hukumnya fardlu ‘ain bagi setiap orang yang mendengarnya, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘wajib bagi setiap orang yang mendengarnya untuk mengucapkan yarhamukallaah’. Dan yang dhahhir hukum permasalahan ini adalah fardlu ‘ain. Oleh karena itu, setiap orang yang mendengarnya mengucapkan padanya yarhamukallaah” [Syarh Riyaadlish-Shaalihiin, 1/272].

5.     Disunnahkan untuk mengeraskan suara pujian kepada Allah (tahmiid) sekedar untuk terdengar oleh orang-orang yang ada di sekitarnya sehingga mereka dapat mengucapkan tasymit kepadanya. Al-Baghawiy rahimahullah berkata setelah menyebutkan hadits Abu Hurairah:

وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي أَنْ يَرْفَعَ صَوْتَهُ بِالتَّحْمِيدِ حَتَّى يُسْمِعَ مَنْ عِنْدَه حَتَّى يَسْتَحِقَّ التَّشْمِيتَ

“Dalam hadits tersebut merupakan dalil bahwa orang yang bersin hendaknya mengeraskan suaranya dengan tahmiid hingga terdengar oleh orang yang ada di sisinya hingga ia berhak mendapatkan ucapan tasymiit” [Syarhus-Sunnah, 12/307].

Tetap disunnahkan mengucapkan tahmiid ketika bersin meskipun sedang shalat, namun orang yang mendengarnya dilarang mengucapkan tasymiit jika ia sedang shalat karena dapat membatalkan shalatnya.

حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ، أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَتَقَارَبَا فِي لَفْظِ الْحَدِيثِ، قَالَا: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيل بْنُ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ حَجَّاجٍ الصَّوَّافِ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ هِلَالِ بْنِ أَبِي مَيْمُونَةَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ، قَالَ: بَيْنَا أَنَا أُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ، فَقُلْتُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ، فَرَمَانِي الْقَوْمُ بِأَبْصَارِهِمْ، فَقُلْتُ: وَا ثُكْلَ أُمِّيَاهْ، مَا شَأْنُكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَيَّ؟ فَجَعَلُوا يَضْرِبُونَ بِأَيْدِيهِمْ عَلَى أَفْخَاذِهِمْ، فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ يُصَمِّتُونَنِي، لَكِنِّي سَكَتُّ، فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبِأَبِي هُوَ وَأُمِّي، مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ، وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ، فَوَاللَّهِ مَا كَهَرَنِي وَلَا ضَرَبَنِي وَلَا شَتَمَنِي، قَالَ: إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ، لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ، إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Ash-Shabbaah (حِ), dan Abu Bakr bin Abi Syaibah – dan keduanya berdekatan dalam lafadh haditsnya - , mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Ibraahiim, dari Hajjaaj Ash-Shawwaaf, dari Yahyaa bin Abi Katsiir, dari Hilaal bin Abi Maimuunah, dari ‘Athaa’ bin Yasaar, dari Mu’aawiyyah bin Al-Hakam As-Sulamiy, ia berkata : Saat aku shalat bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba ada seseorang bersin. Aku kemudian berkata : ‘Yarhamukallaah’ (semoga Allah merahmatimu). Maka orang-orang saling memandangku. Aku pun berkata : ‘Kenapa kalian memandangku demikian ?’. Mereka menepuk-nepuk paha dan aku lihat mereka mengisyaratkan agar aku diam. Akhirnya aku pun diam. Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan shalatnya, demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya, aku belum pernah melihat seorang pendidik yang lebih baik dari beliau sebelumnya. Beliau tidak menghardikku, tidak memukulku, dan tidak pula mencemoohku. Beliau (hanya) bersabda : ‘Sesungguhnya shalat ini tidak boleh sedikitpun dicampuri dengan pembicaraan manusia. Ia hanyalah berisi tasbih, takbir, dan bacaan Al-Qur’an” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 537].

An-Nawawiy rahimahullah berkata:

وَفِي هَذَا الْحَدِيث : النَّهْي عَنْ تَشْمِيت الْعَاطِس فِي الصَّلَاة ، وَأَنَّهُ مِنْ كَلَام النَّاس الَّذِي يَحْرُم فِي الصَّلَاة وَتَفْسُد بِهِ إِذَا أَتَى بِهِ عَالِمًا عَامِدًا

“Dalam hadits ini merupakan larangan mengucapkan tasymiit bagi orang yang bersin dalam shalat, karena ia termasuk pembicaraan manusia yang diharamkan diucapkan dalam shalat, dan dapat membatalkan shalat apabila dilakukan dalam keadaan mengetahui dan sengaja”.

وَأَمَّا الْعَاطِس فِي الصَّلَاة فَيُسْتَحَبّ لَهُ أَنْ يَحْمَد اللَّه تَعَالَى سِرًّا ، هَذَا مَذْهَبنَا ، وَبِهِ قَالَ مَالِك وَغَيْره ، وَعَنْ اِبْن عُمَر وَالنَّخَعِيّ وَأَحْمَد - رَضِيَ اللَّه عَنْهُمْ - أَنَّهُ يَجْهَر بِهِ ، وَالْأَوَّل أَظْهَر ؛ لِأَنَّهُ ذِكْر ، وَالسُّنَّة فِي الْأَذْكَار فِي الصَّلَاة الْإِسْرَار إِلَّا مَا اِسْتَثْنَى مِنْ الْقِرَاءَة فِي بَعْضهَا وَنَحْوهَا

“Adapun orang yang bersin dalam shalat, maka disunnahkan baginya untuk menggucapkan tahmiid kepada Allah ta’ala secaa pelan (sirr). Inilah madzhab kami. Dan pendapat itulah yang dipegang oleh Maalik dan yang lainnya. Adapun dari Ibnu ‘Umar, An-Nakha’iy, Ahmad – radliyallaahu ‘anhum– berpendapat untuk mengeraskan tahmiid. Pendapat pertama yang lebih benar, karena ia merupakan dzikir. Dan sunnah dalam dzikir-dzikir dalam shalat adalah diucapkan secara pelan, selain yang dikecualikan dari qira’at (Al-Qur’an) di sebagiannya dan yang semisalnya" [Syarh Shahiih Muslim, 5/21].

Namun yang nampak dalam hadits, bacaan tahmiid tersebut dilakukan secara keras sebagaimana jika dilakukan di luar shalat. Tidaklah Mu’aawiyyah bin Al-Hakam mengucapkan tasymiit kecuali karena ia mendengar tahmiid orang yang bersin tadi, wallaahu a’lam.

6.     Barangsiapa yang tidak mengucapkan tahmiid atau mengucapkan dengan suara pelan sehingga tidak terdengar, maka ia tidak berhak mendapatkan ucapan tasymiit.

حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ التَّيْمِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: " عَطَسَ رَجُلَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشَمَّتَ أَحَدَهُمَا وَلَمْ يُشَمِّتِ الْآخَرَ، فَقَالَ الرَّجُلُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، شَمَّتَّ هَذَا وَلَمْ تُشَمِّتْنِي، قَالَ: إِنَّ هَذَا حَمِدَ اللَّهَ وَلَمْ تَحْمَدِ اللَّهَ "

Telah menceritakan kepada kami Aadam bin Abi Iyaas : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah : Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan At-Taimiy, ia berkata : Aku mendengar Anas radliyallaahu ‘anhuberkata : “Dua orang bersin di sisi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau bertasymit kepada salah seorang dari keduanya, namun tidak bertasymit kepada yang lain. Berkatalah orang yang tidak diucapkan tasymit oleh beliau : "Wahai Rasulullah, engkau bertasymit pada orang ini, namun engkau tidak bertasymit kepadaku". Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya orang ini mengucapkan tahmid, sedangkan engkau tidak mengucapkan tahmid” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6225].

7.     Bacaan tahmiid bagi orang yang bersin antara lain adalah :

a.      Alhamdulillah
b.      Alhamdulillahi rabbil-‘aalamiin
c.      Alhamdulillahi ‘alaa kulli haal.
d.      Alhamdulillahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi mubaarakan ‘alaihi kamaa yuhibbu Rabbunaa wa yardlaa.

Semua bacaan tahmiid merupakan pilihan yang kesemuanya benar.

An-Nawawiy rahimahullah berkata:

اتفق العلماء على أنه يستحب للعاطس أن يقول عقب عطاسه الحمد لله , ولو قال الحمد لله رب العالمين لكان أحسن ,فلو قال الحمد لله على كل حال كان أفضل

“Para ulama sepakat bahwa disunnahkan bagi orang yang bersin untuk mengucapkan setelah bersinnya :Alhamdulillah. Seandainya ia mengucapkan ‘alhamdulillahi rabbil-‘aalamiin’, lebih baik. Dan apabila ia mengucapkan ‘alhamdulillahi ‘alaa kulli haal’, maka lebih utama” [Al-Adzkaar, hal. 231].

قَالَ الْقَاضِي : وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاء فِي كَيْفِيَّة الْحَمْد وَالرَّدّ ، وَاخْتَلَفَتْ فِيهِ الْآثَار ، فَقِيلَ : يَقُول : الْحَمْد لِلَّهِ . وَقِيلَ : الْحَمْد لِلَّهِ رَبّ الْعَالَمِينَ ، وَقِيلَ : الْحَمْد لِلَّهِ عَلَى كُلّ حَال ، وَقَالَ اِبْن جَرِير : هُوَ مُخَيَّر بَيْن هَذَا كُلّه ، وَهَذَا هُوَ الصَّحِيح وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ مَأْمُور بِالْحَمْدِ لِلَّهِ.

“Al-Qaadliy berkata : Para ulama berselisih pendapat tentang kaifiyyah ucapan tahmiid dan menjawabnya. Beberapa riwayat dalam masalah tersebut menyebutkan berbeda-beda. Dikatakan, orang yang bersin mengucapkan : Alhamdulillah. Dikatakan pula : ‘alhamdulillahi rabbil-‘aalamiin’. Dikatakan pula : ‘alhamdulillahi ‘alaa kulli haal’. Ibnu Jariir berkata : ‘Semua itu merupakan pilihan, dan inilah yang benar. Dan mereka (para ulama) bersepakat bahwa orang yang bersin diperintahkan untuk mengucapkan pujian terhadap Allah” [Syarh Shahiih Muslim, 18/120].

8.     Bacaan tasymiit bagi orang yang mendengar tahmiid dari orang yang bersin antara lain adalah:

a.      Yarhamukallaah.

b.      Yarhamukumullaah.

Inilah yang marfuu’.

Ucapan ‘Yarhamunallaahu wa iyyaaka’ sebagaimana diriwayatkan dari shahabat-shahabat Ibnu Mas’uud, secara makna tidak berbeda, hanya saja doa tersebut ditambahkan permohonan limpahan rahmat kepada diri sendiri. Namun demikian, riwayat marfuu’ dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tetap lebih diutamakan.

Adapun ucapan tasymiit :

a.      ’Aafaanallaahu wa iyyaakum minan-naar, yarhamukumullah’  - dari riwayat Ibnu ‘Abbaas;

b.      Yarhamunallaahu wa iyyaakum wa yaghfiru lanaa wa lakum – dari Ibnu ‘Umar

Maka kemungkinan tambahan merupakan ijtihad mereka berdua. Sebagaimana sebelumnya, riwayat marfuu’ lebih didahulukan karena siapapun selain Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ada kemungkinan keliru atau tidak mengetahui sebagian ilmu yang diketahui oleh yang lain. Dan khususnya Ibnu ‘Umar, jika tambahan tersebut merupakan kelaziman baginya, maka besar kemungkinan ucapan tersebut berasal dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang ia ketahui, karena ia (Ibnu ‘Umar) pernah melarangan tambahan bacaan shalawat ketika bersin.

حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ، حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ الرَّبِيعِ، حَدَّثَنَا حَضْرَمِيٌّ مَوْلَى آلِ الْجَارُودِ، عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ رَجُلًا عَطَسَ إِلَى جَنْبِ ابْنِ عُمَرَ، فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، قَالَ ابْنُ عُمَرَ: وَأَنَا أَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَلَيْسَ هَكَذَا عَلَّمَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَنَا، أَنْ نَقُولَ: " الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ "

Telah menceritakan kepada kami Humaid bin Mas’adah : Telah menceritakan kepada kami Ziyaad bin Ar-Rabii’ : Telah menceritakan kepada kami Hadlramiy maulaa Aali Al-Jaaruud, dari Naafi’ : Bahwasannya ada seseorang bersin di samping Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu, lalu dia berkata : “Alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasulihi (segala puji bagi Allah dan kesejahteraan bagi Rasul-Nya)”. Maka Ibnu ‘Umar berkata : “Dan saya mengatakan, alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillah. Akan tetapi tidak demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. Akan tetapi beliau mengajari kami untuk mengatakan : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2738].

Sebagaimana diketahui, Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu adalah salah seorang shahabat yang paling bersemangat dalam meniru Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bahkan hingga pada hal-hal yang hanya merupakan kebiasaan beliau saja. Kemungkinan ini sangat kuat.

An-Nawawiy rahimahullah berkata:

وَأَمَّا لَفْظ ( التَّشْمِيت ) فَقِيلَ : يَقُول : يَرْحَمك اللَّه ، وَقِيلَ ، يَقُول : الْحَمْد لِلَّهِ يَرْحَمك اللَّه ، وَقِيلَ : يَقُول : يَرْحَمنَا اللَّه وَإِيَّاكُمْ .

“Al-Qaadliy berkata : Adapun lafadhtasymiit; dikatakan, ia mengucapkan : ‘yarhamukallah’. Dikatakan pula, ia mengucapkan : ‘alhamdulillah, yarhamukallaah’. Dikatakan pula, ia mengucapkan : ‘yarhamunallaah wa iyyaakum’” [Syarh Shahiih Muslim, 18/120].

Catatan :

Saya belum menemukan riwayat yang menyebutkan pensyari’atan lafadh tasymit : ‘alhamdulillah, yarhamukallaah’.

9.     Balasan ucapan tasymiit adalah : ‘yahdiikumullahu wa yushlihu baalakum’.

Adapun ucapan yang ternukil dari Ibnu Mas’uud dan shababat-shahabatnya :

a.      Yaghfirullaahu lii wa lakum

b.      Yaghfirullaahu lanaa wa lakum

maka kemungkinan:

a.      merupakan ijtihad pribadi Ibnu Mas’uud yang kemudian diikuti oleh murid-muridnya, sehingga riwayat marfu’ tetap lebih diutamakan;

b.      merupakan riwayat marfuu’ yang ia ketahui berasal dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, karena ia (Ibnu Mas’uud) – sebagaimana Ibnu ‘Umar – juga merupakan shahabat yang paling ketat dalam pengamalan sunnah. Ia pernah mengoreksi tambahan huruf alif dan wawu dalam bacaan tasyahud yang dilakukan oleh Al-Aswad dan murid-murid Ibnu Mas’uud yang lain.

وَحَدَّثَنَاهُ مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، قَالَ: نا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنِ الأَسْوَدِ، قَالَ: كَانَ عَبْدُ اللَّهِ يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ فِي الصَّلاةِ، فَيَأْخُذُ عَلَيْنَا الأَلِفَ وَالْوَاوَ

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Fudlail, dari Al-A’masy, dari Ibraahiim, dari Al-Aswad, ia berkata : “Ibnu Mas’uud mengajari kami tasyahud dalam shalat, dan ia mengambil (tambahan) huruf alif dan wawu dari kami” [Diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dalam Musnad-nya no. 1629; shahih].

Kemungkinan ini sangat kuat.

An-Nawawiy rahimahullah berkata:

قَالَ : وَاخْتَلَفُوا فِي رَدّ الْعَاطِس عَلَى الْمُشَمِّت ، فَقِيلَ : يَقُول : يَهْدِيكُمْ اللَّه وَيُصْلِح بَالكُمْ ، وَقِيلَ : يَقُول : يَغْفِر اللَّه لَنَا وَلَكُمْ ، وَقَالَ مَالِك وَالشَّافِعِيّ : يُخَيَّر بَيْن هَذَيْنِ ، وَهَذَا هُوَ الصَّوَاب ، وَقَدْ صَحَّتْ الْأَحَادِيث بِهِمَا .

“Al-Qaadliy : berkata : Para ulama juga berselesih pendapat dalam jawaban orang yang bersin terhadap orang yang mengucapkan tasymiit. Dikatakan, ia mengucapkan : ‘yahdiikumullahu wa yushlihu baalakum’. Dikatakan pula, ia mengucapkan : ‘yaghfirullaahu lanaa wa lakum’. Maalik dan Asy-Syaafi’iy berkata : ‘Diberikan kebebasan memilih diantara dua bacaan ini’. Inilah pendapat yang benar. Telah shahih beberapa hadits yang menyebutkan dua bacaan tersebut” [Syarh Shahiih Muslim, 18/120-121].

10.   Orang bersin hanya dibacakan tasymit maksimal tiga kali (yaitu untuk tiga kali bersin). Selebih dari itu, maka tidak lagi menjadi kewajiban untuk mengucapkannya, karena orang yang bersin tersebut menderita flu – atau sebab lainnya.

An-Nawawiy rahimahullah berkata:

إذا تكرر العطاس من الإنسان متتابعاً , فالسنة أن يشمته لكل مرة إلى أن يبلغ ثلاث مرات

“Apabila seseorang bersin berulang kali secara berturutan, maka disunnahkan mengucapkan tasymiit kepadanya untuk setiap kali bersin hingga maksimal tiga kali” [Al-Adzkaar, hal. 233].

11.   Tidak diperbolehkan mengucapkan tasymiit kepada orang kafir yang bersin meskipun ia mengucapkan tahmiid.

12.   Tidak diperbolehkan mendoakan rahmat kepada orang kafir, namun boleh mendoakan agar mereka diberikan hidayah (Islam) dan kebaikan dalam perkara dunia

13.   Dilarang mengucapkan aaabba ketika bersin, karena ia merupakan salah satu nama diantara nama-nama setan. Diriwayat lain, nama Aabba disebutkan dengan sebutan Asyhaab.

حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنِ ابْنِ أَبِي نَجِيحٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، قَالَ: عَطَسَ رَجُلٌ عِنْدَ ابْنِ عُمَرَ، فَقَالَ: أَشْهَبُ، فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: " أَشْهَبُ اسْمُ شَيْطَانٍ، وَضَعَهُ إِبْلِيسُ بَيْنَ الْعَطْسَةِ وَالْحَمْدِ لِيُذْكَرَ "

Telah menceritakan kepada kami ‘Iisaa bin Yuunus, dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Najiih, dari Mujaahid, ia berkata : “Ada seorang laki-laki bersin di sisi Ibnu ‘Umar, lalu laki-laki tersebut berkata : “Asyhab”. Maka Ibnu ‘Umar berkata : “Asyhab adalah nama setan yang diletakkanIbliis antara bersin dan ucapan tahmiid agar namanya diingat” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Adab no. 337; shahih].

Hikmah Disunahkan Makan Pakai Tiga Jari


Salah satu contoh dari universalitas ajaran Islam adalah bahwa Islam mengatur persoalan makan dan minum. Banyak hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang memberikan tuntunan dalam hal ini. Darinya, para ulama menyusun adab-adab makan dan minum dalam kitab-kitab mereka. Sehingga semakin mudahlah kita untuk memahami dan mengamalkan tuntunan Islam dalam masalah ini. Di antaranya, membaca basmalah sebelum makan, makan dengan tangan kanan, makan dengan duduk, tidak bersandar ketika makan, tidak mencela makanan, dan selainnya.

Ada satu adab makan yang kurang diperhatikan. Bahkan, terkadang jika diamalkan banyak umat Islam yang mencibirnya, padahal hadits cukup jelas menjelaskannya. Yaitu menjilati tangan dan piring sebelum mengelap atau mencucinya agar tidak ada makanan yang tersisa.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمُ الطَّعَامَ فَلاَ يَمْسَحْ يَدَهُ حَتَّى يَلْعَقَهَا أَوْ يُلْعِقَهَا وَ لَا يَرْفَعَ صَحْفَةً حَتَّى يَلْعَقَهَا أَوْ يُلْعِقَهَا، فَإِنَّ آخِرَ الطَّعَامِ فِيْهِ بَرَكَةٌ

"Apabila salah seorang kamu makan makanan, janganlah dia mengelap tangannya hingga menjilatinya atau meminta orang menjilatinya. Dan janganlah dia mengangkat piringnya hingga menjilatinya atau meminta orang untuk menjilatinya., karena pada makanan terakhir terdapat barakah." (HR. Bukhari no. 5465; Muslim no. 2031, Abu Dawud, Nasai, Ahmad dan lainnya).

Makan dengan tiga jari merupakan adab Islam yang sepatutnya tidak ditinggalkan oleh kaum muslimin. Al-Imaam Muslim rahimahullah berkata :

حدثنا يحيى بن يحيى. أخبرنا أبو معاوية عن هشام بن عروة، عن عبدالرحمن بن سعد، عن ابن كعب بن مالك، عن أبيه. قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يأكل بثلاث أصابع. ويلعق يده قبل أن يمسحها.

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Yahyaa : Telah mengkhabarkan kepadaku Abu Mu’aawiyyah, dari Hisyaam bin ‘Urwah, dari ‘Abdurrahman bin Sa’d, dari Ibnu Ka’b bin Maalik, dari ayahnya, ia berkata : “Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam makan dengan tiga jari, dan menjilat tangannya sebelum mengusapnya dengan sapu tangan" [Shahih Muslim no. 2032].

Al-‘Allamah An-Nawawi rahimahullah berkata,

وَاسْتِحْبَاب الْأَكْل بِثَلَاثِ أَصَابِع ، وَلَا يَضُمّ إِلَيْهَا الرَّابِعَة وَالْخَامِسَة إِلَّا لِعُذْرٍ بِأَنْ يَكُون مَرَقًا وَغَيْره مِمَّا لَا يُمْكِن بِثَلَاثٍ وَغَيْر ذَلِكَ مِنْ الْأَعْذَار

“Dan diantara pelajaran hadits adalah disunnahkan makan dengan tiga jari, dan janganlah seseorang menggunakan jari yang keempat dan kelima kecuali karena suatu ‘udzur (alasan yang membolehkan), seperti jika makanannya berupa kuah atau selainnya yang tidak mungkin memakannya dengan tiga jari, dan alasan-alasan lainnya.” [Syarhu Muslim, 13/203]

Penggunaan tiga jari ini, menunjukan ketawadhuan beliau dan sifat beliau yang tidak rakus dengan makanan. Yang demikian itu berlaku bagi makanan yang bisa dimakan dengan menggunakan tiga jari, adapun makanan yang tidak bisa dimakan dengan menggunakan tiga jari, maka diperbolehkan untuk menggunakan lebih dari tiga jari ataupun dengan sendok misalnya. Namun, makanan yang bisa dimakan dengan menggunakan tiga jari, maka hendaknya kita hanya menggunakan tiga jari saja, karena hal itu merupakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.

Akan tetapi jika makanan itu susah untuk diambil dan dimakan dengan tiga jari, boleh menggunakan lebih dari tiga jari. Telah berkata Al-Qaadliy ‘Iyaadl rahimahullah :

وَالْأَكْلُ بِأَكْثَرَ مِنْهَا مِنْ الشَّرَهِ وَسُوءِ الْأَدَبِ ، وَلِأَنَّهُ غَيْرُ مُضْطَرٍّ لِذَلِكَ لِجَمْعِهِ اللُّقْمَةَ وَإِمْسَاكِهَا مِنْ جِهَاتِهَا الثَّلَاثِ ، وَإِنْ اُضْطُرَّ إلَى الْأَكْلِ بِأَكْثَرَ مِنْ ثَلَاثَةِ أَصَابِعَ ، لِخِفَّةِ الطَّعَامِ وَعَدَمِ تَلْفِيقِهِ بِالثَّلَاثِ يَدْعَمُهُ بِالرَّابِعَةِ أَوْ الْخَامِسَةِ .

“Makan dengan lebih dari tiga jari termasuk keburukan dan jeleknya adab. Hal itu dikarenakan tidak ada kebutuhan yang mengharuskan menggunakan lebih dari tiga jari untuk mengumpulkan suapan makanan dan memegangnya. Namun jika ada kebutuhan untuk makan lebih dari tiga jari, karena ringan/lembutnya makanan dan tidak dapat diambil dengan tiga jari, maka ia boleh menggunakan jari yang keempat atau kelima” [Fathul-Baariy, 9/578].

‘Illat hukum menggunakan lebih dari tiga jari adalah karena ada kebutuhan. Hal itu sama dengan penggunaan sendok, ia pun boleh dipakai karena kebutuhan (untuk makan makanan yang berkuah, sup, dan yang lain sebagainya). Oleh karenanya, makan dengan sendok tidaklah lebih utama daripada makan lebih dari tiga jari dengan melihat ‘illat hukum yang sama.

Menurut penjelasan Imam Al-Ghazali, aktivitas makan menggunakan 3 jari dinilai dari beberapa sudut, yaitu :

 1. Makan dengan menggunakan satu jari dapat menjadikan seseorang terhindar dari sifat pemarah.
 2. Makan dengan menggunakan dua jari dapat menghindarkan seseorang dari sifat sombong.
 3. Makan dengan menggunakan tiga jari dapat menghindarkan seseorang dari sifat lupa.

Selain itu, makan dengan tiga jari merupakan cara yang pas untuk mengukur porsi yang cocok bagi setiap orang.

Fakta berikutnya,makan dengan menggunakan tangan ternyata bisa lebih sehat daripada makan dengan sendok. Mengapa bisa demikian? Hal ini dikarenakan pada tangan kita terdapat sebuah enzim, yakni enzim RNase yang dapat menurunkan aktivitas bakteri-bakteri patogen yang ada pada tangan kita ketika kita makan. Enzim RNase adalah enzim yang dapat mendepolarisasi RNA (asam nukleat). Sehingga ketika kita menyuap makanan dengan tangan, bakteri yang terdapat pada makanan dapat terikat oleh enzim Rnase yang dihasilkan di tangan kita. Tapi tentunya dengan catatan, tangan kita sudah dicuci terlebih dahulu dengan sabun hingga bersih dan higienis.

Enzim Rnase banyak dihasilkan oleh 3 jari tangan, yaitu ibu jari, telunjuk, dan jari tengah. Apabila makan menggunakan 3 jari tersebut, maka bakteri yang masuk kedalam sistem pencernaan  akan diikat oleh enzim Rnase, sehingga aktivitas bakteri pun terhambat. Tak hanya bakteri, namun juga berbagai virus berbahaya, seperti virus RNA.

Jadi, jika anda menginginkan sistem pencernaan tubuh tetap sehat, sebaiknya makanlah sesuai sunnah Rasul. Menggunakan 3 jari dan menjilati jari-jari sesudah makan.

Nabi shallallahu’alaihiwasallam biasa makan berjama’ah dalam satu piring besar, sebab keberkahan turun pada sunnah dalam makan berjama’ah ini.

Imam Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunannya (no. 3764, shahih)

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى الرَّازِيُّ، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي وَحْشِيُّ بْنُ حَرْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ أَصْحَابَ النَّبِيِّ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلَا نَشْبَعُ، قَالَ: «فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ؟» قَالُوا: نَعَمْ، قَالَ: «فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ»

Menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa Ar-Razi, menceritakan kepada kami Al-Walid bin Muslim yang berkata: menceritakan kepada saya Wahsyi bin Harb dari Bapaknya, dari Kakeknya, “Sesungguhnya para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya kami makan namun tidak merasa kenyang”. Nabi bersabda, “Mungkin kalian makan sendiri-sendiri?”. Mereka menjawab, “Iya”. Nabi lantas bersabda, “Makanlah secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah sebelumnya (Bismillah), maka pastilah makanan tersebut akan diberkahi.”
Akan tetapi, hal ini bukan merupakan larangan bagi makan sendirian.

Allah berfirman,

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَأْكُلُوا جَمِيعًا أَوْ أَشْتَاتًا

“Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian.” (QS. an-Nur: 61).

Ibn Katsir menyatakan dalam Tafsirnya (6/86),

فَهَذِهِ رُخْصَةٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى فِي أَنْ يَأْكُلَ الرَّجُلُ وَحْدَهُ، وَمَعَ الْجَمَاعَةِ، وَإِنْ كَانَ الْأَكْلُ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلَ وَأَبَرَكَ

“Ini merupakan rukhshoh (keringanan) dari Allah Ta’ala. Seorang boleh makan dengan cara sendiri-sendiri, atau bersama beberapa orang/berjama’ah (dalam satu wadah makanan) meskipun makan dengan cara berjama’ah itu lebih berkah dan lebih utama.”
Lalu Ibnu Katsir menyebutkan hadits diatas.

Nabi shallallahu’alaihi wasallam biasa makan dengan lesehan, karena beliau tidak suka makan sambil bersandar.

Abu Syaikh meriwayatkan dalam Ahlaqun Nabi wa Adabuhu (no. 128, hasan):

أَخْبَرَنَا الْبَغَوِيُّ، نَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ الْمَقَابِرِيُّ، نَا أَبُو إِسْمَاعِيلَ الْمُؤَدِّبُ، عَنْ مُسْلِمٍ الْأَعْوَرِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْلِسُ عَلَى الْأَرْضِ، وَيَأْكُلُ عَلَى الْأَرْضِ، وَيَعْتَقِلُ الشَّاةَ، وَيُجِيبُ دَعْوَةَ الْمَمْلُوكِ»

Al-Baghawi mengabarkan kepada kami, menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub al-Maqabiri, menceritakan kepada kami Abu Ismail Al-Muaddib, meceritakan kepada kami Muslim al-A’war dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu berkata: “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam biasa duduk diatas lantai, makan diatas lantai (lesehan), memerah kambing, dan memenuhi undangan seorang budak”.
Al-Haitsami (9/20) berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani, dan sanadnya hasan”.
Bahkan Beliau shallallahu’alaihi wasallam tidak pernah memiliki meja makan, tempat beliau makan dirumahnya adalah tikar dari kulit,

Abu Syaikh meriwayatkan dalam Ahlaqun Nabi wa Adabuhu (no. 620, shahih),

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، نَا بُنْدَارٌ، نَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ يُونُسَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، يَقُولُ: مَا أَكَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى خِوَانٍ وَلَا فِي سُكُرُّجَةٍ، وَلَا خُبِزَ لَهُ مُرَقَقٌ. قُلْتُ لِقَتَادَةَ: عَلَى مَا يَأْكُلُونَ؟ قَالَ: عَلَى هَذِهِ – لَسُفْرَةٌ

Menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya, menceritakan kepada kami Bundar, menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam, menceritakan kepada saya Bapak dari Yunus dari Qatadah dari Anas bin Malik yang berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tidak pernah makan di meja makan ataupun dari mangkuk kecil, beliau juga tidak pernah dibuatkan roti yang lembut”. Yunus bertanya kepada Qatadah, “lantas dimana beliau makan?”. Qatadah menjawab, “Diatas alas makan dari kulit”.
Hadits ini dikeluarkan juga oleh Bukhori (no. 5415).

Beliau juga biasa makan bersama-sama dalam satu tempat makan besar yang dinamai al-Gharra, yang biasa diangkat oleh 4 orang,

Abu Syaikh meriwayatkan dalam Ahlaqun Nabi wa Adabuhu (no. 621, shahih)

أَخْبَرَنَا ابْنُ أَبِي عَاصِمٍ، نَا الْحَوْطِيُّ، نَا أَبُو عُمَرَ، وَعُثْمَانُ بْنُ سَعِيدٍ، نَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عِرْقٍ، قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ بُسْرٍ، يَقُولُ: كَانَتْ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَصْعَةٌ يُقَالُ لَهَا: الْغَرَّاءُ، يَحْمِلُهَا أَرْبَعَةُ رِجَالٍ

Mengabarkan kepada kami Ibnu Abi Ashim, menceritakan kepada kami Al-Hauthi, menceritakan kepada kami Abu ‘Umar dan Utsman bin Sa’id. Menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahman bin Auf yang berkata: aku mendengar Abdullah bin Busr mengatakan, “Nabi shallallahu’alaihi wasallam mempunyai tempat makan besar (nampan) yang dinamai al-gharra dan bisa diangkat oleh 4 orang”.
Hadits ini dikeluarkan juga oleh Abu Dawud (no. 3773).

Abu Syaikh meriwayatkan juga (no. 622, shahih), dengan lafazh:

كَانَ لِرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَفْنَةٌ لَهَا أَرْبَعُ حِلَقٍ

“Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam memiliki sebuah tempat makan yang memiliki 4 buah pegangan”.

Cara duduk beliau ketika makan
Nabi shallallahu’alaihi wasallam membenci segala cara duduk untuk makan dengan bersandar (tentu saja kecuali orang yang terpaksa atau sakit).
Sebagaimana dalam riwayat Shahih Bukhori (no. 5398):

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا مِسْعَرٌ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ الأَقْمَرِ، سَمِعْتُ أَبَا جُحَيْفَةَ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ آكُلُ مُتَّكِئًا»

Menceritakan kepada kami Abu Nu’aim, menceritakan kepada kami Mis’ar dari Ali bin Al-Aqmar yang mendengar Abu Hudzaifah berkata: bersabda Rasulullah shallallahu’ alaihi wasallam: “Saya tidak makan sambil bersandar”.
Terdapat beberapa riwayat tentang cara beliau shallallahu’alaihi wasallam duduk untuk makan. Dan semuanya itu tercakup dalam duduk yang tidak bersandar.

Ada riwayat dari Abu Hasan bin al-Muqri dalam Syamailnya sebagaimana disebutkan dalam takhrij al-Ihya karya al-Iraqi (1/432):

كَانَ إِذا قعد عَلَى الطَّعَام استوفز عَلَى ركبته الْيُسْرَى وَأقَام الْيُمْنَى

“Bahwa (Nabi shallallahu’alaihi wasallam) ketika duduk untuk makan beliau menekuk lututnya yang kiri dan menegakkan kaki kanan”.
Tetapi sanad hadits ini dhaif sebagaimana dikatakan oleh al-’Iraqi.

Ada juga hadits yang shahih dalam riwayat Muslim (no. 2044),

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَأَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ، كِلَاهُمَا عَنْ حَفْصٍ، قَالَ أَبُو بَكْرٍ: حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ، عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سُلَيْمٍ، حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ، قَالَ: «رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُقْعِيًا يَأْكُلُ تَمْرًا»

Menceritakan kepada kami Abu Bakar ibn Abi Syaibah dan Abu Sa’id al-Asyaj, keduanya dari Hafsh. Abu Bakar berkata: Menceritakan kepada kami Hafsh bin Ghiyats dari Mush’ab bin Sulaim. Menceritakan kepada kami Anas bin Malik yang berkata, “Aku melihat Nabi shallallahu’alaihi wasallam memakan kurma sambil duduk muq’iy”.
Hanya saja, Para ulama berbeda pendapat tentang duduk muq’iy ini, sampai kurang lebih 3 atau 4 pendapat. Diantara pendapat itu ada yang mengatakan bahwa duduk muq’iy itu seperti duduk yang disebutkan dihadits dhaif diatas tadi.
Akan tetapi jalan tengah bagi semua riwayat dan pendapat itu adalah dikembalikan pada hadits dibencinya makan sambil duduk bersandar diawal tadi. Semua cara duduk untuk makan yang dibenci adalah semua cara duduk yang bisa disebut duduk sambil bersandar, baik ke belakang ataupun ke samping dan tidak terbatas dengan duduk tertentu.
Ibnu Hajar mengatakan,

وَإِذَا ثَبَتَ كَوْنُهُ مَكْرُوهًا أَوْ خِلَافُ الْأَوْلَى فَالْمُسْتَحَبُّ فِي صِفَةِ الْجُلُوسِ لِلْآكِلِ أَنْ يَكُونَ جَاثِيًا عَلَى رُكْبَتَيْهِ وَظُهُورُ قَدَمَيْهِ أَوْ يَنْصِبُ الرِّجْلَ الْيُمْنَى وَيَجْلِسُ عَلَى الْيُسْرَى

“Jika sudah pasti bahwasanya makan sambil bersandar itu dimakruhkan atau kurang utama, maka posisi duduk yang dianjurkan ketika makan, adalah dengan (jatsa) menekuk kedua lutut dan menduduki bagian dalam telapak kaki atau dengan menegakkan kaki kanan dan menduduki kaki kiri.” (Fathul Baari 9/542).

Doa Nabi Sulaiman Menundukkan Hewan dan Jin

  Nabiyullah Sulaiman  'alaihissalam  (AS) merupakan Nabi dan Rasul pilihan Allah Ta'ala yang dikaruniai kerajaan yang tidak dimilik...