Sabtu, 30 Oktober 2021

Memaknai Hijrah Dalam Aspek Kehidupan


Asal hijrah di sini bermakna meninggalkan, yaitu meninggalkan berbicara atau meninggalkan perbuatan. Tidak berbicara pada orang lain, itu bermakna hajr.

Sedangkan kalau membahas hijrah, ada dua maksud:

Hijrah hissi, yaitu berpindah tempat, yaitu berpindah dari negeri kafir ke negeri Islam atau berpindah dari negeri yang banyak fitnah ke negeri yang tidak banyak fitnah. Ini adalah hijrah yang disyari’atkan.Hijrah maknawi (dengan hati), yaitu berpindah dari maksiat dan segala apa yang Allah larang menuju ketaatan.

Ingatlah, Tujuan Kita Diciptakan

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Allah tidak menciptakan kita sia-sia, pasti ada suatu perintah dan larangan yang mesti kita jalankan dan mesti kita jauhi. Allah Ta’ala berfirman,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115).

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, “Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dari-Nya?” (Madarij As-Salikin, 1: 98)

Jadi beribadah kepada Allah adalah tujuan diciptakannya jin, manusia dan seluruh makhluk. Makhluk tidak mungkin diciptakan begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. Allah Ta’ala berfirman,

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah: 36).

Imam Asy Syafi’i mengatakan,

لاَ يُؤْمَرُ وَلاَ يُنْهَى

“(Apakah mereka diciptakan) tanpa diperintah dan dilarang?”.

Ulama lainnya mengatakan,

لاَ يُثاَبُ وَلاَ يُعَاقَبُ

“(Apakah mereka diciptakan) tanpa ada balasan dan siksaan?” (Lihat Madarij As-Salikin, 1: 98)

Sesungguhnya menjaga dan menyelamatkan agama lebih mulia dan lebih utama daripada hanya sekedar menyelamatkan dunia. Untuk itulah, Allah ’azza wa jalla memerintahkan kaum muslimin yang tertindas, terfitnah agamanya, tidak kuasa menegakkan syi’ar-syi’ar Islam agar melakukan hijrah atau meninggalkan kampung yang rusak menuju kampung yang bisa menyelamatkan agamanya. Allah berfirman :

يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ

”Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja.” [QS. Al-Ankabuut : 56].

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الأرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

”Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali” [QS. An-Nisaa’ : 97].

Al-Hafidh Ibnu Katsir rahimahullah berkata : ”Ayat yang mulia ini turun mencakup untuk setiap orang yang tinggal di tengah-tengah orang-orang musyrik sedangkan ia mampu hijrah dan dia tidak mampu untuk menegakkan agama, maka sesungguhnya dia mendhalimi dirinya dan melakukan keharaman dengan ijma’ ulama dan berdasarkan ketegasan ayat ini”.

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata : ”Ini adalah ancaman yang sangat keras, yang menunjukkan wajib, sebab menegakkan kewajiban agama hukumnya wajib bagi yang mampu, sedangkan tidak mungkin hal itu terpenuhi kecuali dengan hijrah, maka hijrahnya jadi ikut wajib”.

Dan tidak ragu lagi bahwa keumuman ayat ini juga mencakup lebih dari sekedar hijrah dari negeri kafir, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Al-Qurthubi dalam Tafsirnya 5/346, katanya : ”Dalam ayat ini terdapat dalil tentang hijrah dari kampung yang banyak maksiat di dalamnya. Sa’id bin Jubair berkata : ”Apabila banyak kemaksiatan di suatu kampung, maka keluarlah dari kampung itu, beliau seraya membaca ayat di atas”.

Namun, anehnya masih banyak kalangan yang belum memahami masalah hijrah ini atau ada yang mengerti tapi karena cinta dunia maka diapun melalaikannya. Tak cukup hanya itu, tatkala ada seorang ulama Sunnah yang berfatwa sesuai dalil, maka mereka dengan kejahilan dan kecintaan dunianya menudingnya sebagai antek Yahudi, setan, gila, dan gelar-gelar memalukan lainnya ! Oleh karena itu, kami merasa penting untuk membahas masalah ini untuk menghilangkan kabut yang menghalangi terangnya matahari. Wallaahu a’lam.

Menjadi Manusia Ideal

Manusia ideal tentu saja yang merealisasikan tujuan penciptaannya di atas. Ia menjalankan yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Perintah dan larangan ini dalam hal hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama. Manusia ideal adalah yang baik terhadap Allah dan terhadap manusia. Kriteria ini masuk dalam kriteria orang shalih.

Ibnu Hajar berkata, “Shalih sendiri berarti,

الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده وَتَتَفَاوَت دَرَجَاته

“Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah. Kedudukan shalih pun bertingkat-tingkat” (Fath Al-Bari, 2: 314).

Karena Rasul tidak hanya diutus untuk membetulkan ibadah, namun juga mengajarkan akhlak sesama. Disebutkan dalam hadits, dari Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan baiknya akhlak.” (HR. Ahmad, 2: 381. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Mendekati Ideal

Dari hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,ia berkata,

إِنّمَا النَّاسُ كَالإِبْلِ المِائَةِ لاَ تَكَادُ تَجِدُ فِيْهَا رَاحِلَةٌ

“Sesungguhnya manusia seperti unta sebanyak seratus, hampir-hampir tidaklah engkau dapatkan di antara unta-unta tersebut, seekor pun yang layak untuk ditunggangi.” (HR. Bukhari, no. 6498).

Maksud hadits, tak ada memang yang sempurna. Namun tetap memang ada yang mendekati ideal atau kesempurnaan.

Karena Rasul juga mengatakan bahwa yang terbaik bukanlah orang yang tidak pernah berbuat dosa. Setiap manusia pernah berbuat salah. Yang paling baik dari mereka adalah yang mau bertaubat.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap manusia pernah berbuat salah. Namun yang paling baik dari yang berbuat salah adalah yang mau bertaubat.” (HR. Tirmidzi no. 2499; Ibnu Majah, no. 4251; Ahmad, 3: 198. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Kata Ibnu Rajab dalam Fathul Barinya, yang dimaksud at-tawwabun adalah:

أَيْ الرَّجَّاعُونَ إِلَى اللَّهِ بِالتَّوْبَةِ مِنْ الْمَعْصِيَةِ إِلَى الطَّاعَةِ .

“Orang yang mau kembali pada Allah dari maksiat menuju ketaatan.“ Artinya, mau berhijrah dari maksiat dahulu menjadi lebih baik saat ini.

Tentu saja hijrah tersebut haruslah tulus lillah, tulus karena Allah …

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8)

Ibnu Katsir menerangkan mengenai taubat yang tulus sebagaimana diutarakan oleh para ulama, “Taubat yang tulus yaitu dengan menghindari dosa untuk saat ini, menyesali dosa yang telah lalu, bertekad tidak mengulangi dosa itu lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya atau mengembalikannya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 323).

Hudzaifah pernah berkata,

بحسب المرءِ من الكذب أنْ يقول : أستغفر الله ، ثم يعود

“Cukup seseorang dikatakan berdusta ketika ia mengucapkan, “Aku beristighfar pada Allah (aku memohon ampun pada Allah) lantas ia mengulangi dosa tersebut lagi.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 411).

Siapa Saja yang Mau Berhijrah …

Siapa saja yang mau berhijrah, Allah akan menerima hijrahnya.

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53).

Tentu saja setelah berhijrah, seseorang harus punya tekad menjadi baik dan bertekad tidak mengulangi lagi maksiat yang dahulu dilakukan.

ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا

“Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.”

Begitu juga dalam ayat disebutkan,

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى

“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)

Agar Bisa Istiqamah dalam Berhijrah?

Ingatlah kalau bisa istiqamah, itu benar-benar suatu karunia yang besar. Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah disampaikan oleh muridnya Ibnul Qayyim dalam Madarij As-Salikin,

أَعْظَمُ الكَرَامَةِ لُزُوْمُ الاِسْتِقَامَةِ

“Karamah yang paling besar adalah bisa terus istiqamah.”

Kiat agar bisa terus istiqamah adalah:

Harus dimulai dengan niatan yang ikhlas.Meninggalkan maskiat dahulu yang dilakukan.Bertekad untuk jadi lebih baik.Mencari lingkungan bergaul yang baik.Berusaha terus menambah ilmu lewat majelis ilmu.Memperbanyak doa.

Terutama masalah teman, ini teramat penting. Karena tanpa teman yang baik, kita sulit untuk berubah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; Ahmad, 2: 344. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. LihatShahihul Jaami’ 3545).

Teman-teman shalih bisa didapat di majelis ilmu. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101, dari Abu Musa)

Yang jelas hijrah tersebut harus ikhlas karena Allah, bukan karena cari ridha manusia.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وما لا يكون له لا ينفع ولا يدوم

“Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.”  (Dar-ut Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql, 2: 188).

Para ulama juga memiliki istilah lain,

ما كان لله يبقى

“Segala sesuatu yang didasari ikhlas karena Allah, pasti akan langgeng.”

Juga jangan lupa untuk panjatkan doa pada Allah. Karena tanpa pertolongan-Nya, kita tak berdaya dengan berbagai godaan. Do’a yang paling sering nabi panjatkan agar bisa terus istiqamah adalah,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenapa do’a tersebut yang sering beliau baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab,

يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

“Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.”

Dalam riwayat lain dikatakan,

إِنَّ الْقُلُوبَ بِيَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا

“Sesungguhnya hati berada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya.”

Kapan Mau Hijrah?

Allah Ta’ala menyeru kita,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)

Dalam ayat di atas disuruh bersegera bertaubat. Ini berarti disuruh pula untuk segera meninggalkan maksiat dan raihlah ampunan Allah. Ini maksud yang sama yang berisi perintah untuk segera berhijrah.

Imam Asy-Syaukani dalam Fath Al-Qadir menyatakan,

سارعوا إلى ما يوجب المغفرة من الطاعات

“Bersegeralah meraih ampunan Allah dengan melakukan ketaatan.”

Makna Hijrah

Hijrah adalah perpindahan dari satu situasi atau kondisi yang satu ke kondisi atau situasi yang lain. Hijrah merupakan perbuatan yang dianjurkan oleh Allah SWT, bahkan bisa wajib tatkala sangat diperlukan. Secara garis besarnya hijrah itu terdiri yang bersifat fisik yaitu perpindahan tempat, dan yang bersifat non fisik yaitu perpindahan situasi atau mengubah keadaan. Hijrah bisa bernilai ibadah, jika untuk Allah dan mengikuti Rasul-Nya, dan tidak bernilai ibadah bila dilakukan bukan untuk mencarai ridla Allah SW. Beliau menandaskan lagi dalam sabdanya:

 ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Barangsiapa yang hijrahnya untuk kepentingan duniawi, atau kepentingan wanita yang dinikahi, maka manfaat hijrahnya pun sesuai dengan apa yang dituju.

Hadits ini juga mengisyaratkan bahwa hijrah itu ada yang syar’i, ada pula yang tidak. Hijrah yang syar’i adalah perpindahan untuk kepentingan tegaknya al-Islam, demi meraih ridla Allah. Sedangkan hijrah yang tidak bernilai syar’i adalah yang bukan kepentingan jalan Allah, dan tidak bertujuan meraih ridla-Nya. Oleh karena itu, supaya segalanya bernilai ibadah, ikhlaskan tujuan untuk mencari ridla Allah dan melakukannya berdasar syari’ah Allah, serta mengikuti sunnah Rasul-Nya.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أُنْزِلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ ابْنُ أَرْبَعِينَ فَمَكَثَ بِمَكَّةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً ثُمَّ أُمِرَ بِالْهِجْرَةِ فَهَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ فَمَكَثَ بِهَا عَشْرَ سِنِينَ ثُمَّ تُوُفِّيَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Ibnu Abbas, meriwayatkan bahwa Rasûl SAW menerima wahyu ketika berusia empat puluh tahun, kemudian tetap di Mekah selama tiga belas tahun, kemudian diperintah hijrah. Beliau hijrah ke Madinah dan berada di sana selama sepuluh tahun hingga wafat. Hr. Ahmad (164-241H), al-Bukhari (194-256H),

Da’wah Islam yang dilakukan Rasul SAW pada awalnya secara sembunyi-sembunyi, kemudian bertambah luas hingga jumlah kaum muslimin empat puluh orang, yang kemudian dibina secara khusus di Bait al-Arqam.Kaum Quraisy berusaha menghalangi risalah dengan berbagai usaha, mulai dari berbagai tawaran, rayuan hingga kekerasan. Sejak tahun keempat kenabian, banyak kaum muslimin yang disiksa secara kejam, hingga mendorong Rasul untuk menghijrahkan shahabatnya ke Habsyah pada pertengahan tahun kelima. Rombongan pertama sebanyak sepuluh orang, antara lain Utsman bin Affan beserta istrinya, Ruqayah putri Rasul; Abdurrahman bin Auf, dan Zubair bin Awwam. Rombongan kedua dipimpin Ja’far sebanyak seratus orang. Pada bulan Dzul-hijah tahun keenam kenabian, Umar bin Khathab dan Hamzah masuk Islam, yang mengakibatkan semakin menambah kebencian musyrikin.

Pada tahun ketujuh dari kenabian, Bani Hasyim diboikot perekonomiannya hingga menyengsarakan. Walaupun kaum muslimin mendapat cobaan berat dari segala penjuru, terutama penindasan kaum musyrikin, baik dalam bidang ekonomi maupun politik, semua itu tidak menurunkan semangat Rasul SAW dalam berda’wah. Pada tahun itu juga, Abu Thalib sebagai pimpinan suku Bani Hasyim dan Siti Khadijah isteri Rasul yang mendukung da’wah baik materil maupun immateril, wafat.

Pada bulan syawal tahun kesepuluh dari kenabian (Mei-Juni 619 M), Rasul berangkat ke Tha’if. Namun ternyata orang Tha`if belum meraih hidayah, Rasul diperlakukan tidak layak oleh mereka bahkan mendapat lemparan batu dan kotoran hingga terluka. Menurut sebagian riwayat, setelah Rasul SAW kembali ke Mekkah maka tahun itu pula Isra dan Mi’raj terjadi, sekaligus turun perintah shalat lima waktu.

Da’wah selanjutnya dilakukan dengan mendatangi berbagai lapisan masyarakat seperti Bani Kilab, Bani Hanifah, Bani Amir, dan ternyata mendapat sambutan yang menggembirakan. Pada musim haji berikutnya, berdatanganlah masyarakat dari berbagai penjuru, yang dimanfaatkan Rasul SAW untuk menda’wahi berbagai kafilah dari luar penduduk Mekah. Di awal tahun kesebelas dari kenabian banyak orang Yatsrib  yang masuk Islam seperti: Suwaib bin Shamit, Iyas bin Mu’adz, Tufail bin Amr, dan Dlamad al-Azdi.

Pada musim haji tahun kesebelas dari kenabian (Juli 620 M), jamaah Yatsrib masuk Islam. Mereka adalah kaum muda Bani Najar seperti As’ad bin Zararah dan Auf bin Haris,  dari Bani  Zuraiq seperti Rafi’ bin Malik, dari bani Salmah seperti Qathbah bin Amir, dari Bani Haram bernama Uqbah, dan dari Bani Ubaid bernama Jabir bin Abdillah. Mereka bertekad akan menda’wahkan Islam di Yatsrib sebagai kampung halamannya.

Pada musim haji tahun keduabelas (Juli 621 M), bersama lima orang yang sudah masuk Islam tahun sebelumnya (di luar Jabir), tujuh penduduk Yatsrib bangsa Khazraj yaitu Mu’adz, Dzakwan, Ubadah, Yazid dan Abbas serta bangsa Aus yaitu Abul-Haitsam dan Uwaim berbai’at kepada Rasul di Aqabah untuk diangkat menjadi juru da’wah. Inilah yang dinamakan Bai’at al-Aqabah pertama. Rasul pun mengutus Mush’ab bin Umair untuk ikut ke Yatsrib sebagai utusan dan melihat situasi di sana.

Pada musim haji tahun berikutnya (Juni 622 M), sebanyak 73 orang Yatsrib menunaikan haji dan berbai’at pada Rasul sebagai juru da’wah Islam, yang dinamakan Baiat al-Aqabah kedua. Mereka juga mengundang Rasul untuk hijrah ke Yatsrib, dilatarbelakangi antara lain: (1) memperluas da’wah, (2) menyelamatkan muslimin yang tertindas di Mekah dan (3) menjalin persaudaraan antara Aus dan Khazraj yang telah lama bermusuhan.

Di sisi lain, semakin luasnya jangkauan da’wah Rasul dan bertambahnya jumah muslimin, berakibat kaum musyrikin semakin membenci Rasul. Mulai saat itu kaum muslimin diperintah Rasul untuk hijrah ke Yatsrib secara berangsur. Pada hari Kamis, 26 Shafar (12-september- 622 M) para pembesar Quraisy semacam parlemen, berkumpul di Dar al-Nadwa yang diikuti oleh Abu Jahl bin Hisyam, Jubair bin Muth’im, Tha’imah, Harits, Syaibah, Utbah, Abu Sufyan, al-Nazhr, Abu al-Bukhturi, Zam’ah, Hakim, Nabih, Munabbih, dan Umayah bin Khalaf. Mereka bersepakat untuk mengepung dan membunuh Rasul SAW. Rasul mengetahui ancaman kaum musyrikin tersebut dan siang harinya beliau mengunjungi rumah Abu Bakr untuk mengajak hijrah, dan kembali ke rumahnya menunggu waktu malam tiba.

Pada malam 27 Shafar (13-9-622 M), Rasul SAW dan Abu Bakr meninggalkan rumah, setelah berpesan pada Ali bin Abi Thalib,untuk menempati tempat tidur beliau, kemudian menuju Goa Tsur. Pada malam itu pula pembesar Quraisy sebanyak sebelas orang mengepung rumah Rasul SAW untuk melaksanakan pesan Dar al-Nadwa, padahal di rumah tersebut hanya ada Ali bin Abi Thalib. Rasul dan Abu Bakr berada di Goa Tsur selama tiga malam, hingga malam Ahad tanggal 30 Shafar.

Pada hari Senin 1 Rabi al-Awal, Rasul melanjutkan perjalanan menuju Yatsrib. Senin 8 Rabi’ul-Awal /23-September-622 M (perjalanan Tsur-Quba ditempuh dalam waktu satu pekan), Rasul dengan Abu Bakr tiba di Quba dan mendirikan Masjid di depan Rumah Kalstum bin al-Hadm.Di Quba, Rasul menginap empat malam dan hari Jum’at melanjutkan perjalanan. Waktu zhuhur sampai di daerah Bani Salim bin ‘Awf, perintah shalat Jum’at turun dan melakukan shalat Jum’at dengan berjamaah bersama seratus muslimin. Setelah shalat Jum’at Rasul melanjutkan perjalanan dan sampai di Yatsrib tanggal 12 rabi’ul Awal. Inilah hijrah terbesar yang dilakukan Rasul SAW bersama kaum muslimin. Kota Yatsrib kemudian diberi nama al-Madinah al-Munawarah, sebagai pusat bersinarnya syi’ar Islam ke seluruh penjuru dunia.

Hijrah menurut bahasa berarti pindah, baik secara fisik maupun non fisik. Al-Qurthubi (w.671H) menandaskan:

الهجْرة معْنَاهَا الإنْتِقَال مِنْ مَوْضِعٍ إلَى مَوْضِعٍ وَقَصْدُ تَرْكِ الأوَّل إِيْثَارًا لِلثَّانِي

Hijrah berarti pindah dari satu tempat ke tempat lain dan menyengaja meninggalkan satu posisi awal menuju posisi yang ke dua.

Pengertian semacam ini bisa dipahami bahwa hijrah itu perpindahan posisi, baik secara fisik maupun non fisik. Perpindahan fisik adalah pindah dari tempat yang diduduki, sedangkan pindah non fisik adalah pindah pendirian, pergantian sikap, atau perubahan tingkah laku. Menurut mufasir, orang yang berhijrah adalah:

تَرَكُوا دِيَارَهُم خَوْفَ الفِتْنة وَالإضْطِهَاد فِي ذَات الله

Meninggalkan kampung halaman karena Allah demi menyelamatkan diri dari kekacauan dan penindasan.

Mahmud Hijazi menjelaskan bahwa yang berhijrah adalah:

فََارَقُوا الأهْلَ وَالأوْطَانَ لإعْلاَءِ كَلِمَةِ الله وَنَصْرِ دِيْنِهِ وَلَحَقُوا بِالنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم

Meninggalkan keluarga dan kampung halaman untuk menegakkan kalimah Allah, membela agama dan mengikuti Rasul SAW.

Orang yang berhijrah karena didasari iman dan untuk jihad, maka akan meraih rahmat dan ampunan Allah SWT. Firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Qs.2:218.

Selanjutnya arti hijrah tersirat dalam sabda Rasul SAW, sebagai berikut:

الُمهَاجِرُمَنْ هَاجَرَ  مَا نَهَى الله عَنْهُ

Orang hijrah adalah yang meninggalkan segala yang dilarang  Allah SWT. Hr. Ahmad (164-241H), Ibn Hibban (w.354 H)

Menurut  riwayat al-Thabarani (260-360H), dalam khutbah Haji Wada, Rasul bersabda:

المُهَاجِرُ مَنْ  هَاجَرَ السَّيِّئَاتِ

Orang yang berhijrah adalah yang meninggalkan segala keburukan.

Pemahaman Tentang Waliyulloh


Tentang kedudukan para wali sebagai waliyullah, Allah swt tidak memberi tanda atau bukti yang menunjukkan mereka itu wali Allah. Artinya, tidak ada orang yang mengetahui bahwasanya seseorang itu wali. Waliyullah itu pun tidak memberi tanda kepada dirinya sendiri yang dapat menunjukkan bahwa ia telah menjadi wali. Tidak pula seorang pun yang dapat menunjukkan ciri-ciri bahwa seseorang itu wali. Jikalau ada orang yang mengenal seseorag itu wali, maka hal itu sangat luar biasa. Merupakan suatu keistimewaan yang dianugerahkan Allah untuknya. Hanya orang yang memiliki ma’rifat yang sudah tinggi sajalah yang mampu mengetahui hal itu, itupun tidak semua. Karena hanya wali sajalah yang mengetahui seseorang itu wali.

 سُبْحَانَ مَنْ لَمْ يَجْعَلِِ الدَّلِيْلَ عَلَى اَوْلِيَآئِهِ اِلاَّ مِنْ حَيْثُ الدَّلِيْلُ عَلَيْهِ وَ لَمْ يُوْصِلْ اِلَيْهِمْ اِلاَّ مَنْ اَرَادَ اَنْ يُوَصِّلَهُ اِلَيْهِ٠

“Maha Suci Allah yang tidak menjadikan dalil (bukti), bagi para wali-Nya, kecuali sebagai tanda pengenalan dengannya. Tidak akan sampai kepada mereka, kecuali orang yang dikehendaki akan menyampaikannya kepada Allah.”

Akan tetapi perlu diingat, mengenal wali itu , seperti dikatakan oleh Syekh Abul Abbas Al Mursy, sangat sukar. Lebih mudah mengenal Allah daripada mengenal wali, karena mengenal Allah itu dapat diketahui dari sifat-sitat-Nya, dan bekas ciptaan-Nya. Sedangkan sukarnya mengenal wali, disebabkan ia adalah manusia bersama kita, makan minum, tidur, belajar, beribadah, tidak beda dengan manusia lainnya. Mereka juga sering susah dan menderita, atau bisa juga senang dan gembira.

Waliyullah atau wali Allah itu adalah hamba Allah yang memperoleh nurullah. Para Wali itu fana dalam dirinya, akan tetapi tetap baqa dalam musyahadah dengan Allah. Wali menerima cahaya Allah, tidak dengan sendirinya. Ia pun melatih dirinya tahap demi tahap, sehingga ia tiba pada maqam (tingkat) kesempurnaan makrifat. Kemakrifatannya kepada Allah yang sangat dekat, karena taqarrub-Nya tidak ada henti-hentinya, membuat ia menjadi kekasih Allah (Waliyullah).

Perlu dipahami dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya bagi setiap mukmin yang selalu patuh kepada perintah dan larangan Allah, serta menjalankan ibadah dengan tertib dan penuh keikhlasan, mereka selalu dijaga dan mendapat perlindungan Allah. Karena Allah itu adalah wali dari orang mukmin.

يَآأَيُّهَا النَّاسُ اسْمَعُوْا وَاعْقِلُوْا وَاعْلَمُوْا أَنَّ لِلّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ عِبَادًا لَيْسُوْا بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ عَلَى مَجَالِسِهِمْ وَقُرْبِهِمْ مِنَ اللهِ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الْأَعْرَابِ مِنْ قَاصِيَةِ النَّاسِ وَأَلْوَى بِيَدِهِ إِلَى نَبِيِّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللهِ نَاسٌ مِنَ النَّاسِ لَيْسُوْا بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ عَلَى مَجَالِسِهِمْ وَقُرْبِهِمْ مِنَ اللهِ انْعَتْهُمْ لَنَا يَعْنِيْ صِفْهُمْ لَنَا فَسُرَّ وَجْهُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِسُؤَالِ الْأَعْرَابِيِّ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُمْ نَاسٌ مِنْ أَفْنَاءِ النَّاسِ وَنَوَازِعِ الْقَبَائِلِ لَمْ تَصِلْ بَيْنَهُمْ أَرْحَامٌ مُتَقَارِبَةٌ تَحَابُّوْا فِي اللهِ وَتَصَافَوْا يَضَعُ اللهُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنَابِرَ مِنْ نُوْرٍ فَيُجْلِسُهُمْ عَلَيْهَا فَيَجْعَلُ وُجُوْهَهُمْ نُوْرًا وَثِيَابَهُمْ نُوْرًا يَفْزَعُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يَفْزَعُوْنَ وَهُمْ أَوْلِيَاءُ اللهِ الَّذِيْنَ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

"Wahai sekalian manusia! Dengar, pahami dan ketahuilah bahwa Allah Azza wa Jalla memiliki hamba-hamba, mereka bukan para Nabi ataupun Syuhada’ (orang-orang yang mati syahid), akan tetapi para Nabi dan Syuhada’ merasa iri pada mereka karena tempat dan kedekatan mereka dengan Allah pada hari Kiamat". Kemudian, salah seorang Badui datang, dia berasal dari pedalaman jauh dan menyendiri, dia menunjuk tangannya ke arah Nabi saw. seraya berkata: “Wahai Nabi Allah! Sekelompok orang yang bukan para Nabi ataupun Syuhada’ tetapi para Nabi dan Syuhada’ merasa iri kepada mereka karena kedudukan dan kedekatan mereka dengan Allah, sebutkan ciri-ciri mereka untuk kami?” Wajah Rasulullah saw. bergembira karena pertanyaan orang Badui itu, lalu Rasulullah saw. bersabda: "Mereka adalah orang-orang yang berasal dari berbagai penjuru dan orang-orang asing, diantara mereka tidak dihubungkan oleh kekerabatan yang dekat, mereka saling mencintai karena Allah dan saling tulus ikhlas, Allah menempatkan untuk mereka mimbar-mimbar dari cahaya pada hari Kiamat, Allah mendudukan mereka diatasnya, Allah menjadikan wajah-wajah mereka bercahaya, pakaian-pakaian mereka bercahaya, orang-orang ketakutan pada hari Kiamat sementara mereka tidak ketakutan, mereka adalah para wali-wali Allah yang tidak takut dan tidak bersedih hati." (HR. Ahmad)

PEMAHAMAN YANG SEBENARNYA TENTANG ISTILAH :

لاَيِعْـرِفُ الوَالِيّ اِلاَّ الوَالِيّ

Tidak mengetahui/mengenali wali kecuali wali.

Berhubung banyak sekali yg saya dapati, betapa banyak orang awam bahkan santri, yg masih saja salah paham dengan arti dan makna perkata'an di atas.

Kali ini saya ingin memberi penjabaran tentang istilah perkata'an itu.

Oran awam mengartikannya begini:

لا يعرف

Tidak mengetahui

الوالي

Wali (manusia)

إلا

Kecuali

الوالي

Wali (manusia).

Jadi kesimpulan bahasanya begini:

Tidak mengetahui orang wali kecuali orang wali.

Nah kata-kata itulah yg di yakini kebanyakan orang. Padahal maksud dari arti itu salah.

Arti dan pemahaman yg benar begini:

لا يعرف

Tidak mengetahui

الوالي

Wali (manusia)

إلا

Kecuali

الوالي

Wali (allah swt).

Jadi kesimpulan bahasanya adalah:

Tidak mengetahui wali kecuali allah swt.

Inilah arti yg sebenarnya dan yg akan kita jabarkan.

Pertama-tama kita memahami arti Kata Wali.

Kalimat Wali (الوالي) merupakan kalimat yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadis. Al-Wali memiliki arti ganda (isytirak) :

1. Sebagai subyek (الفاعل) : yang mengasihi, yang menguasai, yang menolong yang melindungi. Dalam artian ini makna wali dapat menjadi salah satu asma Allah Swt yang baik (asmaul husna).

2. Sebagai obyek (المفعول) : yang dikasihi, yang dikuasai , yang ditolong, yang dilindungi.

Arti kata wali ini ditujukan kepada manusia.

Istilah kata (لاَيِعْـرِفُ الوَالِيُّ اِلاَّ الوَالِيّ), merupakan pemahaman yang sangat populer dalam masyarakat. Namun, pada umumnya hanya diberi arti dengan tidak dapat mengetahui seorang wali (kekasih allah) kecuali wali (kekasih allah) yang lain.

Padahal seharusnya dijelaskan dengan arti yang lain juga, yakni : “Tidak ada yang mengetahui wali (manusia yang dikasihi, yang dikuasai, dilindungi oleh Allah), kecuali Wali (Allah Swt Yang Mengasihi, Yang Menguasai, dan Yang Melindungi).

Seperti itulah penjelaskan dalam kitab Fathul Bariy, oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (w- 757 H).

juga dalam kitab Jami’ Karamatil Auliya’ bab pendahuluan diterangkan, bahwa ukuran seorang auliya’illah pada ketaatannya terhadap aturan allah swt.

Sehingga terdapat juga seorang waliyullah itu tidak mengerti kalau dirinya itu waliyullah.

1: Jadi kalimat wali yg pertama dalam istilah

(لاَيِعْـرِفُ الوَالِيُّ اِلاَّ الوَالِيّ)

itu di ambil dari nash dan hadist di bawah ini:

(أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ)

[سورة يونس 62]

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

(الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ)

[سورة يونس 63]

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.

Juga dalam Hadits riwayat Bukhari dari Abu Hurairah Ra , Rasulullah Saw bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ : مَنْ عَادَى لِيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِيْ لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِيْ لأُعِيْذَنَّهُ

Dari Abu Hurairah ra., dia berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhya Allah Ta’ala berfirman : ‘Barangsiapa yang memusuhi Wali-Ku maka Aku telah mengumumkan perang dengannya. Tidak ada taqarrubnya seorang hamba kepada-Ku yang lebih aku cintai kecuali dengan beribadah dengan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil (perkara-perkara sunnah) maka Aku akan mencintainya dan jika Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku niscaya akan Aku berikan dan jika dia minta perlindungan dari-Ku niscaya akan Aku lindungi.’ ” (HR. Bukhari)

Dan banyak  lagi ayat-ayat alquran dan hadist-hadist nabi yg menerangkan kalimat wali ini.

2: kalimat wali yg kedua juga di ambil dari nash alquran:

(اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ)

[سورة البقرة 257]

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Juga dalam ayat:

فَاطِرَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ أَنتَ وَلِىِّۦ فِى ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأَخِرَةِ‌ۖ تَوَفَّنِى مُسۡلِمً۬ا وَأَلۡحِقۡنِى بِٱلصَّـٰلِحِينَ

yang artinya: ‘.. Pencipta seluruh langit dan bumi, Engkaulah (waliku) Penolong-ku di dunia dan akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan taat, dan gabungkanlah daku beserta orang-orang yang shaleh.” (12:102).

Jadi dari sekarang kita jelaskan pada mereka yg masih salah dalam memahami hal ini.

Jadi istilah wali itu banyak artinya..

Ada wali (allah swt) ada wali (manusia)  ada wali (syetan) dll. Seperti yg di maksud dalam ayat di bawah ini adalah wali syetan:

وَمَنْ يَتِّخْذ الشَيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُ وْنِ اللهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِيْنًا

Barang siapa yang menjadikan setan sebagai wali (pelindung, penolong, kekasih) selain Allah, maka sungguh rugi dengan kerugian yang nyata.

(Qs, an-Nisa’ 119).

Juga dalam ayat:

اِنَّاجَعَلْنَاالشَيَاطِيْنَ اَوْلِيَاءً لِلَّذِ يْنَ لاَيُؤْمِنُوْنَ .

Sesungguhnya Kami menjadikan setan sebagai wali (penguasa, pelindung, kekasih dan penolong) bagi orang-orang yang tidak beriman. (Qs. al-A’raf : 28), dan :

Ayat di atas walinya syetan..

Jadi walinya syetan adalah dalam kata lain walinya thogut, seperti dalam ayat:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ)

[سورة البقرة 257]

Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Jadi kalau kita istilahkan ayat di atas, maka artinya seperti ini:

Tidak mengetahui wali-nya syetan, kecuali syetan.

Nah paham kan? :)

Jadi jangan sekali kali anda mempunyai pemahaman "tidak mengetahui wali kecuali wali" dengan pemahaman yg keliru.

Nabi saja tidak kenal sesama nabi, seperti nabi musa as yg kalamullah tidak mengenali/mengetahui dengan nabi khidir as. Juga kisah syech abdul qodir jailany yg pada saat bertawaf tidak mengenali seorang wali perempuan yg juga tawaf.

Mengenali seorang wali itu adalah sangat sulit, bukan saja untuk orang awam, Pada kalangan khusus atau bahkan sesama wali saja itu sangat sulit untuk mengenalinya.

Bukan hanya karena kiyai satu bilang wali pada kiayai satunya, terus dia jadi wali.. Bukan...

Apalagi hanya karena seorang kiayai yg hanya mengagumi atau fanatik buta pada yg lain dan bilang wali padanya, terus jadi wali? Dan kita ini semua ikut2an bilang wali???. Tidak sobat :). Bukan gitu..

Wali itu tidak di obral dan semurah itu..

Bahkan saat di hadromaout banyak wali, syech sayyid abu bakar bin salim alawy, mewanti-wanti dengan syairnya untuk supaya tidak membocorkan dan mengumbar2 sir kewalian bagi yg menyadari dirinya wali allah swt, seperti syair beliau:

واﺣﺬﺭ ﺗﺒﻴﺢ ﺑﺴﺮﻧﺎ ﻟﺴﻮﺍﻧﺎ

Dan jagalah agar kau tak sesumbarkan apa-apa

yang kau ketahui dari Kemuliaan (kewalian) kita, pada yg lain.

Dan juga yg di sayangkan , bagaimana divinisi wali dalam pemikiran sebagian kalangan yg ahli fanatik pada seorang figur, berbeda dengan arti wali dalam kitab-kitab salaf aswaja yg sebenarnya.

Contoh mungkin kalau ada ulama kita yg tegas, keras seperti sayyidina umar ra, memperjuangkan amar ma'ruf nahi mungkar , sangat tegas kalau agama allah di lecehkan (tapi bukan bertindak seperti teroris). Maka mereka mengatakan extrim padanya.. Padahal ini juga satu dari tanda kewalian, seperti wali hawariyun dan wali rijal al-quwwah.

Sebaliknya kalau ada yg nyeleneh dan sering terjadi fitnah pada kalangan awan orang islam oleh sebab kelakuannya, hanya karena keturunan seorang wali, maka di rekomendasikan wali. Dan kadang di doktrin bahwa otak kita belum sampe. :)

Saya cuplikan sebagia saja wali yg ada dalam kitab salaf aswaja. Yaitu sifat wali yg tegas atas agama allah swt, pembela agama allah. Seperti wali di bawah ini:

الرِّجَالُ اْلغَيْرَةِ

Rijalul Ghairoh ( dalam 1 Abad ada 5 Orang )

Wali pembela agama Allah.. Ini adalah wali yg selalu membela agama allah, supaya tetap tinggi.

Beda sama kiayai aneh yg mengatakan "allah kok di bela" :) . orang awam akan bilang kata2 itu benar. Padahal kata2 itu termasuk kata2 bodoh.

Karena banyaknya ayat dan hadist yg menganjurkan kita membela allah swt (agama allah).

Juga ada wali:

الرِّجَالُ اْلقُوَّاةِ اْلإِلَهِيَّةِ

Rijalul Quwwatul Ilahiyyah (dalam 1 Abad, ada 8 Orang ).

Wali jenis ini mempunyai keistimewaan, yaitu sangat tegas terhadap orang-orang kafir dan terhadap orang-orang yang suka mengecilkan agama. Sedikit pun mereka tidak takut oleh kritikan orang.

Meskipun watak mereka tegas, tetapi sikap mereka lemah lembut terhadap orang-orang yang suka berbuat kebajikan.

Ada juga wali:

حَوَارِىٌّ

Hawariyyun ( dalam 1 Abad ada 1 Orang )

Tugasnya membela agama Allah baik dengan argumen maupun dengan senjata. Wali Hawariyyun di beri kelebihan Oleh Alloh dalam hal keberanian di dalam menegakkan Agama Islam Di muka bumi.

Kelebihan seorang wali Hawariy biasanya seorang yang berani dan pandai berhujjah.

Lebih lengkapnya bisa di cari di kitab-kitab aswaja yg membahas tentang wali-wali allah, Seperti kitab taudhihul-madzahib dll.

Perlu di sadari bahwa Sebagian masyarakat kita malah lebih suka bilang wali ke yg nyeleneh, hanya karena mengagumi dll .. Inilah kita yg jadi buta dan fanatik, sehingga tidak bisa membedakan mana yg benar dan yg salah...

Dalam sejarah tidak ada wali yg keluar dari syariat atau membuat fitnah ummat.. Yg ada hanyalah tingkatan orang jadzab.. Itupun hanya nyeleneh sewaktu waktu saja, bukan terus menerus dan menjadikannya prinsip (berprinsip nyeleneh). Dan orang seperti ini tidak akan sampai pada drajat wali yg sesungguhnya apalagi ke abdal dan aqtob, karena syariatnya masih perlu di bimbing lagi. Dan yg paling mengotori jiwa seorang yg nyeleneh adalah membuat dosa orang lain. Bagaimana tidak.? Wong yg dilakukan selalu berdampak fitnah, sehingga masyarakat ngerasani, ngomongin dll, bahkan ada yg bentrok hanya karena ulahnya figur yg hobi nyeleneh.

Kebanyakan para waliyullah sangat dirahasiakan oleh Allah Swt. Sebagimana tercermin dalam hadits qudsi, Allah Swt bersabda :

اِنّ اَوْلِيَائي عَلَى قَبْضِي لا َيَعْرِفُهُ غًيْرِي

Para wali–Ku itu dalam genggaman-Ku, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Aku.
(Kitab Jami’ al-Ushul fil Auliya’nya Syeh kamasykhanawi dalam bab muqaddimah).

Jadi sangat banyak orang wali tidak mengerti kalau dirinya itu waliyullah, apalagi orang lain.

Bahkan Imam Abul Hasan as-Syadzili juga menjelaskan tentang kerahasiaan para waliyullah Ra. Ia berkata :

مَعْرِفَةُ الوَالِيِّ أَصْعَبُ مِنْ مَعْرِفَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ اللهَ مَعْرُوفٌ بِكَمَالِهِ وَجَمَالِهِ وَحَتَّى تَعْرِفَ مَخْلُوقًا مِثْلَكَ يَأْكُلُ كَمَا تَأْكُلُ وَتَشْرَبُ كَمَا تَشْرَبُ.

Mengetahui wali (Allah) itu lebih sukar daripada mengetahui Allah ‘Azza wa Jalla. Sesungguhnya Allah itu dapat diketahui dengan Jamal-Nya dan Kamal-Nya. Bagaimana engkau dapat mengetahui wali, sedangkan ia makan sebagaimana engkau makan, dan ia minum sebagaimana engkau minum.
(al-Yawaqit wal Jawahir nya Syeh Abdullah Sya’rani, juz II dalam bab as-Syadzali.).

Tapi perlu di garis bawahi.. Bahwa ada segelintir wali yg memang oleh allah swt di perkenalkan satu sama lain, entah dengan cara ru'yah sholehah (ilham) dll.

Anugrah ini biasanya di peroleh oleh wali wali allah yg sangat tinggi darajatnya di sisi allah swt, Seperti abdal aqthob.

Imam Jalaluddin as-Suyuthi, dalam kitabnya al-Hawi lil Fatawi juz II dalam bab “haditsul quthbi” juga menjelaskan tentang kerahasiaan waliyullah ra :

وَقَدْ سَتَرَتْ أَحْوَالُ القُطْبِ وَهُوَ الغَوْثِ عَنِ العَامَّةِ وَالخَاصَّةِ وَسَتَرَ أَحْوَلُ النُجَبَاءِ عَنِ العَامَّةِ وَالخَاصَّةِ وَكَشَفَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ

Keadaan al-Quthbu (al-Ghauts) tertutup dari kalangan awam dan kalangan khas. Dan nujaba’ juga tertutup dari awam dan kalangan khusus. Dan terbuka bagi kalangan mereka sendiri.
(Kitab al-Hawi lil fatawi, juz II  bahasan 69).

Dengan penjelasan di atas, kita bisa memahami bahwa wali-wali kelas tinggi sebangsa qutub dll, Berlainan dengan waliyullah secara umum. Dalam hal Ghautsiyah saja, Allah Swt dan Rasulinya Saw terkadang memberitahukannya kepada hamba-Nya yang dikehendaki melalui pengalaman ruhani (rukyah shalihah), itu hanya terkadang bukan kepastian.

Juga Syeh Abdul Wahab As-Sya’rani, menerangkan dalam kitabnya, bahwa Syeh Abul Hasan As-Syadziliy berkata :

لِكُلّ وَلِيٍّ سَتْرٌ أَوْأَ سْتَارٌ نَظِيْرُالسَبْعِيْنَ حِجَابًا الَتِي وَرَدَ تْ فِي حَقِّ الحَقّ تَعَالَى حَيْثُ اِنّهُ لَمْ يُعْرَفْ اِلاَّ مِنْ وَرَائِهَا

Setiap waliyullah memiliki penutup 70 penutup. Hal ini sebagai kebiasaan dalam haqqullah. Sehingga sukar wali diketahui, kecuali orang-orang yang ada dibelakang waliy (pengikutnya).
(Thabaqatul Kubra-nya Syeh Abdul Wahab As-Sya’rani, juz I, halaman 8,).

Bisa di pahami bahwa pengikut di atas, bukan pengikut-pengikut fanatik buta, atau pengikut-ngikut nyeleneh.

Tapi pengikut yg setia di dalam ibadah, khusyuk dan dzikir bersama. Bisa di katakan juga seperti pengikut toriqoh yg sudah mapan syariat dan rohaninya.

Jadi kesimpulannya keadaan wali itu seperti ini:

1: Para waliyullah tidak dapat mengetahui kalau dirinya sebagai waliyullah, seperti yg di jelaskan syeh Abu Bakar Ibnu Faurak:

إِنَّ  الوَلِيَّ لاَيَعْرِفُ كَونَهُ وَلِيًّا. إِنَّ الوَالِيَّ إِنَّمَا يَصِيْرُ وَلِيًّا لآَجْلِ أَنَّ الحَقَّ يُحِبُّهُ..

Sesungguhnya wali itu, tidak dapat mengetahui kalau dirinya sebagai wali (Allah). Sungguh seorang wali, ketika menjadi wali, dikarenakan Al-Haq (Allah) mencintainya..

2: Syeh Abul Qasim al-Qusyari dan Guruynya (Syaikh Abu Ali ad-Daqaq) Qs wa Ra, berkata  :

إِنَّ الوَلِيَّ قَدْ َيَعْرِفُ كَونَهُ وَلِيًّا, إِنَّ  الوَلِيَّ لَهَا رُكْنَانِ أَحَدُهُمَا كَوْنُهُ في الظَاهِرِ مُنْقَادًا لِلشرِيْعَةِ الثَانِي كَونُهُ مُسْتَغْرِقًا فِي نُور الحَقِيْقَةِ

Sesungguhnya wali (Allah) terkadang dapat mengetahui kalau dirinya, sebagai wali (Allah). Sesungguhnya untuk wali terdapat dua pondasi : pertama, secara lahiriyah keberadaan amalnya, sesuai dengan syariah (Islam), kedua, secara batiniyah, senantiasa tenggelam dalam nur hakikat.

Aqidah ahli sunnah wal jamaah adalah mempercayai keadaan wali seperti penjelasan di atas.

Jadi bagi anda yg tidak mempercayai tentang adanya wali, silahkan.. Terserah anda.. Yg jelas dalil-dalil nash dan hadist sangat banyak yg menjelaskan adanya wali.

Atau anda yg menyempitkan kalimat wali dengan ayat:

(أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ)

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

(الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ)

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.

Sehingga anda mengatakan , pokoknya taqwa iya itu wali.

Nah saya jawab singkat hal ini.

Bahwa seorang wali itu adalah orang yg bertaqwa (harus taqwa).

Sedang orang yg taqwa belum tentu wali,

Karena mengingat adanya taqwa itu bertingkat2. Dan di antara tingkatan dasar dari taqwa adalah melakukan kewajiban2 syariat islam. Dan meninggalkan larangan-larangan allah swt (agama). Itu sudah cukup di bilang taqwa, walaupun dia tidak melakukan perbuatan sunnah sekalipun.

Di samping banyak ayat dan hadist yg menjelaskan adanya wali (seperti ayat dan hadist di atas). juga ada hadist yg menjelaskan tentang wali lebih mendetail, seperti hadits riwayat Imam Ahmad, Thabrani dan Abu Nuaim dari sahabat ‘Ubadah Ibn As Shamit, Rasulullah Saw bersabda :

لاَ يَزَالُ فِي أُمَّتِي ثَلاَثُوْنَ بِهِمْ تَقُومُ الاَرْضُ وَبِهِمْ يُمْطَرُوْنَ وَبِهِمْ يُنْصَرُونَ

Tidak sepi didalam ummat-Ku, dari tigapuluh orang (wali). Sebab mereka bumi tetap tegak, dan sebab mereka manusia diberi hujan, dan sebab mereka manusia tertolong.

Juga Hadis riwayat Thabrani dari sahabat Muad ibnu Jabbal, Rasulullah Saw bersada :

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِمْ مِنَ الاَبْدَالِ بِهِمْ قِوَامُ الدُنْيَا وأَهْلِهَ

Tiga hamba. Barang siapa ada diantaranya, merekalah wali Abdal. Sebab (sirri batin dan doa) mereka dunia dan seisinya tetap tegak.

Jika anda tetap belum mempercayainya..

Inilah respon imam kita waliyullah imam suyuti ra.

Tentang mereka yang mengingkari waliyullah. Beliau mengatakan  :

قَدْ بَلَغَنِي عَنْ بَعْضِ مَنْ لاَ عِلْمَ عِنْدَهُ إِنْكَارُ مَاشْتَهَرَ عَنِ السَادَةِ الأَوْلِيَاَءِ مِنْ أَنَّ مِنْهُمْ أَبْدَالاً وَنُقَبَاءً وَنُجَبَاءً وَأَوْتَادًا وَأَقْطَابَاً. وَقَدْ وَرَدَتْ الأَحَادِيْثُ وَالأَثَارُ بِإِثْبَاتِ ذَالِكَ.

Telah sampai kepadaku tentang orang yang tidak memiliki ilmu yang mengingkari sesuatu yang telah masyhur tentang adanya pimpinan para waliyullah. Diantara mereka ada yang menjadi abdal, nuqaba’, nujaba’, autab dan aqthab. Padahal telah banyak hadis dan atsar yang menetapkan adanya hal tersebut.
(al-Hawi lil Fatawi juz II bahasan 69).

Orang Jadzab Tetep Kena Hukum Syar'i


Misteri wali-wali majnun - Jadzab(majdzub) mengajak kita untuk berfikir untuk menambah khasanah keilmuan kita.Dengan adanya kajian tentangnya kita mengerti yang benar dan yang salah.Jadikan memontum ini untuk menguatjan kita.Dan pastikan pula kita selalu mawas diri dalam menghadapi setiap problematik kehidupan kita.Dan selu berhati hati dalam menyikapi segala sesuatunya.

JAZDAB adalah “tampaknya sifat-sifat ilahi”, ketika seseorang mengalami jazdab, maka seseorang akan betul-betul mampu melihat secara nyata sifat-sifat allah, dan mampu merasakannya.

فإن صاحب الخشوع القلبي و الوجل بذكر الله تعالي قد يغيب عقله عن إحترام الناس و إعتبار أهل المجلس فيقوم و يقعد يدور و يتواجد و ربما يسقط علي الأرض علي حسب قوة إستعداده لتحمل الواردات الالهية عليه فهو في طاعة و عبادة من غير شبهة عند كل أحد من الاسلام و الايمان و لا يجوز سوء الظن به (فويل للقاسية قلوبهم من ذكرالله أولئك في ضلال مبين)

Maka sesungguh nya seorang yang khusu’ hati nya dan bergetar hatinya karna menyebut nama Allah SWT terkadang hilang akal nya sampai dia tidak menghormati manusia apalagi orang-rang disekitar majlisnya (tempat dia berdzikir ) maka dia berdiri dan duduk berputar putar dan bergoyang goyang seluruh tubuhnya (seperti kita saksikan di majlis-majlis dzikir) dan terkadang mereka terjatuh di atas tanah (karna hilang akal sehatnya) dengan melihat seberapa kuat dia membawa suatu/ rahasia – rahasia ketuhanan padanya (karna dia yang jadzab/wajad / haroro yang merasakan akan keni’matan itu) maka dia jelas terhitung orang taat (kepada Allah dan Rasullah SAW ) dan beribadah tanpa diragukan lagi menurut semua Ulama’ Islam dan Ahli Iman (kecuali orang-orang yang dengki dan tidak mengerti) maka tidak boleh berprasangka buruk pada mereka (dosa besar). Allah SWT berfirman yang artinya: “Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allâh. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”.

و في بعض الأثار :
جذبة من جذبات الرحمن توازي عمل الثقلين

Di sebagian Atsar (Hadist):
Jazdab itu sebagian tarikan dari Ar-Rohman (hatinya di getarkan Allah SWT) yaitu menyamai amalannya seluruh manusia dan jin:

و ذكر في مسند الامام احمد بن حنبل عن علي كرم الله وجهه قال : أتيت النبي صلي الله عليه و سلم أنا و جعفر و زيد فقال النبي صلي الله لزيد : أنت مولاي فحجل، فقال لجعفر : أنت اشبهت خلقي و خلقي فحجل ثم قال لي أنت مني فحجلت :

والحجل هو رفع رجل و مشي علي الاخري وهو من نتائج التواجد

Dan disebutkan di dalam Musnad Imam Ahmad Bin Hambal dari Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah, berkata : aku mendatangi Nabi SAW, aku dan Jakfar dan Zaid. Maka berkata Nabi SAW kepada Zaid: kamu tuan ku maka bergoyanglah Zaid, maka bersabda kepada Jakfar : kamu menyerupaiku dan akhlakku maka bergoyanglah Jakfar , maka Nabi SAW bersabda kepada ku : kamu bagian dari ku maka aku pun bergoyang (tanpa sadar bukan di sengaja/niat)

Dan adapun arti lafad Hajal yaitu mengangkat kaki satu nya dan berjalan dengan kaki yang lain (yaitu bergetar badannya) karna buah dari wajd/harara/jadzab.

وقد صح عن بعض الصحابة التواجد،فلا يجوز سوء الظن بأهل التواجد لقوله تعالي (ياأيها الذين أمنوا إجتنبوا كثيرا من الظن إن بعض الظن إثم) فإن سوء الظن بالمسلم حرام قطعا و التأويل واجب في أقواله و افعاله

Dan sungguh Sohih riwayat dari sebagian para sahabat tentang tawajud ( harara /jadzab/ wajd ) mereka., maka tidak boleh buruk prasangka pada Ahli Tawajd (harara/jadzab/wajd) karna Firman Allah SWT: “Wahai orang-orang yang beriman jauhilah dari banyak prasangka buruk, sesungguhnya sebagian prasangka buruk itu dosa) maka jelas buruk prasangka kepada seorang muslim itu dosa secara pasti dan adapun ta’wil (baiik prasangka) pada mereka wajib (hukumnya) di dalam ucapannya ahli wajd (harara/jadzab).

وقد يحصل من المريد في حال الجذبة صراخ و تخبط و صرع و بكاء فأدبه في ذلك الوقت أن يسلم نفسه لوارده يتصرف فيه كيف شاء.ولا يمنع نفسه من الصراخ و البكاء لئلا يتضرر

Dan terkadang dari murid (salik) di dalam hal jadzab (harara/wajd) itu menjerit dan kelakuannya tidak jelas dan membantingkan diri dan menangis, maka adabnya seketika itu dia (murid) harus merelakan (pasrahkan) diri nya akan hal-hal yang datang kepada dirinya dengan melakukan dikala (jadzab) itu apa yang mereka inginkan (yaitu menangis atau menjerit atau bergerak tanpa tujuan atau membantingkan diri seperti keterangan diatas) dan tidak pantas (baik) baginya mencegah diri nya untuk menjerit atau menangis karna supaya tidak berbahaya baginya (sebab mereka dikala harara/jadzab/wajad jika di tahan akan mudorot bagi dirinya sendiri)

للمريد الصادق أن بتواجد لطلب الحقيقة بمنزلة التباكي المأمور به لما روي موقوفا علي أبي بكر و ابي موسي و عبد الله بن عمرو : أبكوا فإن لم تبكوا فتباكوا ، رواه أحمد

Bagi murid (salik) yang tulus itu harus berusaha untuk bertawajud ( berusaha untuk harara / wajad/jadzab ) karena mencari kebenaran nyata (tangisan yang tulus) dengan berusaha pura-pura menangis yang di perintahkan (di dalam agama apa lagi kalo memang tangisan nyata bukan pura-pura) karena di riwayatkan secara mauquf kepada Abi Bakar dan Abi Musa dan Abdullah Bin Amr: “Menangislah kalian jika kalian tidak bisa menangis maka pura-pura lah menangis”. (Hadist riwayat Imam Ahmad).

قال بعض العارفين :
إن العينين لا تبكيان حتي يأتي ملك من الله فيمسح القلب بجناحه فتبكي عينا قلبه فيظهر بذلك في عيني رأسه ،

Berkata sebagian orang-orang Arif;
Sesungguh nya kedua mata tidak akan menangis sampai malaikat itu datang karna diperintah Allah, kemudian Malaikat itu mengusap hati (orang yang benar benar berdzikir) dengan sayap nya,maka menangislah kedua mata hatinya maka tampak pula menangis kedua mata kepalanya.

الكشف عن حقيقة الصوفية - (1 / 244)الجذبة هي التجلي الإلهي، وفيها يحصل التحقيق بالأسماء الإلهية، والاستشعار بالاسم الصمد، أو بالألوهيةالفكر الصوفي

Secara global, seluruh istilah-istilah dalam kaum sufi (meskipun berbeda-beda) mempunyai satu orientasi, yaitu wahdatul wujud. Namun menurut Sayid Husen, dua prinsip sufi yaitu antara wahdatul wajud dan insane kamil, memandang bahwa sesuatu apapun akan tampak pada asmaul husna dan sifat-ifat allah. Serta bagi insane kamil akan mampu menggambarkan tuhan dan sesuatu apapun.

الكشف عن حقيقة الصوفية - (1 / 94)يفهمنا هذا النص أن كل العبارات الصوفية المختلفة التي مرت والتي ستمر والتي لن تمر معنا، كلها تشير إلى معنى واحد، (وقد عرفناه، إنه وحدة الوجود يقول سيد حسين نصر مؤكداً وكل ما نستطيعه هو التشديد على أن التعاليم الصوفية تدور حول عقيدتين أساسيتين هما: (وحدة الوجود)، و(الإنسان الكامل). إن جميع الأشياء تجليات للأسماء الحسنى والصفات الِإلهية، فبالِإنسان الكامل يتصور الله بذاته، ويتأمل جميع الأشياء التي جاء بها إلى- حيز الوجود2).:

Jazdab menurut ahli sufi di sebabkan keimanan yang sangat kuat seorang hamba pada tuhanya hingga oleh allah, orang sufi akan di berikan sesuatu yang tidak akan bisa di lihat, tidak bisa di dengar, dan tak akan bisa di rasakan oleh manusia lain, di lain itu , orang yang mengalami jazdab akan senantiasa berdoa pada allah dengan tetap khauf (takut pada azdab allah) dan thoma’ (keinginan untuk masuk surga).

(في ضوء الكتاب والسنة) - (1 / 18)فهؤلاء الذين ادخر الله لهم ما لا عين رأت، ولا أذن سمعت، ولا خطر على قلب بشر لا شك أنهم أكمل الناس إيمانًا وحالًا، ومع ذلك فهم يدعون ربهم خوفًا وطمعًا : خوفًا من عذابه، وطمعًا في جنته . وآيات القرآن في هذا المعنى لا تحصى كثرة

Tanda-tanda jazdab: saat mengalami jazdab, seseorang akan mengalami khudur atau menyatunya jiwa dengan allah yang maha esa (sebagian ulama sufi mendifinisikan keadaan seperti ini dengan istilah fana’).

الكشف عن حقيقة الصوفية - (1 / 93)الحضور: النفس حين تتحد بالواحد في حال الجذب (هذا التعريف هو لأفلوطين، من المعجم الفلسفي الصادر عن مجمع اللغة العربية)، وإذا أردنا أن نصيغ هذه الجملة بالعبارة الصوفية، نقول: الحضور هو الفناء في الذات.

Di samping itu, tanda-tanda jazdab yang lain adalah, secara prilaku dia akan seperti orang gila, namun tidak seperti orang gila, karna sebetulnya orang yang sedang jazdab sedang menyatu, dalam penjelasan ulama, mereka mengatakan bahwa, gila yang di alami para orang yang sedang jazdab adalah karna mereka larut kedalam kecintaan mereka pada Allah

الكشف عن حقيقة الصوفية - (2 / 61)في واقع الأمر، إن ما يحصل للصوفي هو نفس ما يحصل للمجنون من خدر في مراكز الوعي والضبط في الدماغ، مع فارق، أن ما يحصل للصوفي هو شيء شبه مرضي، لا مرضي، ولا يكون مرضياً مثل الجنون تماماً إلا عند الذين يستولي عليهم الجذب، والذين يقولون عنهم إنهم في مقام جمعالجمع وكثيراً ما سمعنا ممن يقول عن مجنون أو معتوه إنه سائح في حب الله

Menurut as-syeh Abdul Aziz bin Muhammad Ad-Dibaghi (1095 H - 1132H), sesungguhnya Allah tidak akan mencintai seorang hamba, sebelum orang tersebut oleh allah di jadikan sebagai manusia yang ma’rifat bi allah, dan ha inilah yang menyebabkan seseorang mengalami jazdab.

الكشف عن حقيقة الصوفية - (1 / 373)ويقول عبد العزيز الدباغ إن الله تعالى لا يحب عبداً حتى يُعرِّفه به، وبالمعرفة يطلع على أسراره تعالى، فيقع له الجذب إلى الله تعال:

Hukum orang yang sedang jazdab: saat seseorang mengalami jazdab,(karna dia seperti orang gila dan hilang kesadaran)menurut Ad- Burhami, tidak terkena taklif dari syariat, maka di tidak berkuwajiban hal-hal yang di perintahkan tuhan atas hambanya. Namun hal ini, di dalam kitab tholai’ul As-sufi di bantah habis-habisan oleh Abu Al- Qosim Al- Amidi. Menurut beliu, hal-hal seperti fana’, wahdatul wujud (termasuk juga jazdab) sudah melenceng dari agama islam, sebab hal itu merupakan kepercayaan-kepercayaan dari agam Hindu, Budha, Zairoster. Disamping itu, menurut Aly Awajiy, hal yang di kemukakan oleh ahli sufi bahwa saat di mengalami jazdab tidak tertaklif, hanya sebuah bentuk kemalasan untuk thoat pada perintah agama, dan hal ini juga di dukung oleh imam sya’roni yang mengatakan bahwa para Wali-Wali ahli sufi pun tetap terkena hokum taklif dari syari’at.

طلائع الصوفية - (1 / 32)لاشك أن ما يدعو إليه الصوفية من الزهد ، والورع والتوبة والرضا ... إنما هي أمور من الإسلام ، وأن الإسلام يحث على التمسك بها والعمل من أجلها ، ولكن الصوفية في ذلك يخالفون ما دعا إليه الإسلام حيث ابتدعوا مفاهيم وسلوكيات لهذه المصطلحات مخالفة لما كان عليه الرسول صلى الله عليه وسلم وصحابته لكن الذي وصل إليه بعضهم من الحلول والاتحاد والفناء ، وسلوك طريق المجاهدات الصعبة ، إنما انحدرت هذه الأمور إليهم من مصادر دخيلة على الإسلام كالهندوسية والجينية والبوذية والأفلاطونية والزرادشتية والمسيحية.فرق معاصرة للعواجي - (3 / 118)وقال أيضاً: "إن الله يفتح للعارف وهو على فراشه ما لا يفتح لغيره وهو قائم يصلي"( )، وهذه دعوى صريحة إلى التكاسل في الطاعات وتعريض بقلة فضل الصلاة وتتضح منزلة التكاليف عند بعض أولياء الصوفية عند الشعراني في تراجمه لكثير من أعلامهم بما لا يدع مجالاً للشك في إلحاد وزندقة هؤلاء الذين يسميهم أولياء ويترضى عنهم أيضاً.

Menyikapi hal ini, Seykh Muhammad bin Sulaiman Al-Bagdadi mengatakan, sesungguhnya jazdab tanpa adanya ketaqwaan atau menjalankan perintah tuhan tak akan ada artinya, begitu pula bila hanya melakukan syariat tampa adanya jadzab, karna tidak akan menghasilkan apapun, kecuali menjadi golongan ulama yang cenderung dhohiriyah atau hanya melihat dhohir saja.

موسوعة الرد على الصوفية - (78 / 241)ويقول محمد بن سليمان البغدادي الحنفي النقشبندي واعلم أن الجذب وحده من غير سلوك في الطريق المستقيم بامتثال أوامر الحق تعالى والاجتناب عن نواهيه لا نتيجة له أصلاً...وكذلك السلوك بامتثال الأوامر واجتناب النواهي من غير جذب إلهي لا نتيجة له غير الدخول من أهل الظاهر في حيز العلماء والعباد

Sebuah kesimpulan kecil : jazdab, fana’, wahdatul wujud, dalam istilah sufi mempunyai tujuan sama, yaitu bagaimana menjadi manusia sempurna di sisi Allah, hingga merasa tidak ada apapun kecuali Allah, tidak ada yang tampak kecuali Allah. Begitu memahami kehambaan diri dan menyadari kebesaran allah melalui sifat dan asma-asmanya, hingga seperti mampu melihat tuhan seperti benda yang wujud.Sedangkan Jazdab dalam istilah sufi adalah,merupakan sebuah fase di mana manusia oleh tuhan di tarik ke alam yang berbeda untuk di jadikan kekasihnya (ma’rifat bil allah) atau Allah akan memperlihatkan kekuasaanya serta rahasia yang tidak di ketahui manusia. Hal itu menjadikan dirinya lupa akan keadaanya (hingga banyak dari tokoh sufi yang seperti orang gila), namun tidak gila karna sakit, tapi karna keimanan yang luar biasa pada Allah atau pula karna dia telah tenggelam dalam kecintaanya pada Allah.Hukum yang berlaku pada orang jazdab tetap seperti orang biasa, yaitu dia masih terkena taklif dari syari’at agama. Karna jika seseorang telah menjadi kekasih allah, pasti orang tersebut tidak akan meninggalkan perintah allah dan meninggalkan laranganya. Namun jika ada orang yang jazdab akan tetapi meninggalkan syari’at, hal itu hanyalah jazdab yang tidak ada faedahnya.

Semua orang yang beriman pasti memiliki mahabbah. Baik sedikit maupun banyak mereka pasti memiliki mahabbah. Dalam Al-Qur'an telah disebutkan :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
(QS. Al Baqarah: 165)

"Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS. Al-Baqarah: 165)

Akan tetapi yang paling banyak, mahabbah mereka wujud untuk khidmah kepada agama Allah (berdakwah, mengajar, dll). Ini juga tak lain karena adanya tajalli dari Allah. Oleh karena itu mahabbah ini tidak akan tertuju kepada selain Allah. Tajalli di sini adalah sebagaimana dalam Al-Qur'an :

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ 

(QS. Al A’raf: 143)

"Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan kami) pada waktu yang Telah kami tentukan dan Tuhan Telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar Aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi Lihatlah ke bukit itu, Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu*, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, Aku bertaubat kepada Engkau dan Aku orang yang pertama-tama beriman". (QS. Al-A'raf: 143)

*para Mufassirin ada yang mengartikan yang nampak oleh gunung itu ialah kebesaran dan kekuasaan Allah, dan ada pula yang menafsirkan bahwa yang nampak itu hanyalah cahaya Allah. Bagaimanapun juga nampaknya Tuhan itu bukanlah nampak makhluk, hanyalah nampak yang sesuai sifat-sifat Tuhan yang tidak dapat diukur dengan ukuran manusia.

Jadi hati yang lemah seperti ini kalau ada tajalli maka akan jatuh pingsan.

Kita memiliki dan diberi mahabbah sangat sedikit tapi kalau sudah sampai pada derajat wahdatis Syuhud maka semua akan dilupakan sehingga terkadang dia melupakan syari'at. Dia akan seperti orang yang gila bahkan memang benar-benar gila sehingga dia tidak kewajiban shalat dan ibadah lain. Dia tidak sadar dengan apa yang dilakukan. Lalu apa tugas mereka sebagai wali Allah swt dan apa faedahnya?

Memang mereka tidak ditugaskan untuk amar ma'ruf oleh Allah tapi mereka memiliki tugas yang tidak bisa dilihat mata namun atsarnya akan kelihatan. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits :

حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ حَدَّثَنِي شُرَيْحٌ يَعْنِي ابْنَ عُبَيْدٍ قَالَ
ذُكِرَ أَهْلُ الشَّامِ عِنْدَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَهُوَ بِالْعِرَاقِ فَقَالُوا الْعَنْهُمْ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ قَالَ لَا إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْأَبْدَالُ يَكُونُونَ بِالشَّامِ وَهُمْ أَرْبَعُونَ رَجُلًا كُلَّمَا مَاتَ رَجُلٌ أَبْدَلَ اللَّهُ مَكَانَهُ رَجُلًا يُسْقَى بِهِمْ الْغَيْثُ وَيُنْتَصَرُ بِهِمْ عَلَى الْأَعْدَاءِ وَيُصْرَفُ عَنْ أَهْلِ الشَّامِ بِهِمْ الْعَذَابُ

Artinya: "Suatu ketika Ahli syam disebut-disebut di hadapan Sayyidina Ali (ketika beliau di Irak) lalu penduduk Irak berkata: laknatlah mereka wahai amirul mukminin. Sayyidina Ali menjawab: tidak, saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: wali abdal itu berada di syam, mereka ada 40 orang, ketika satu orang meninggal maka Allah mengganti tempatnya dengan orang lain. Karena merekalah penduduk syam diberi hujan, karena mereka penduduk syam ditolong dari musuh dan karena mereka penduduk syam dihindarkan dari siksa"

حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بن عَمْرٍو الدِّمَشْقِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بن الْمُبَارَكِ الصُّورِيُّ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بن وَاقِدٍ، عَنْ يَزِيدَ بن أَبِي مَالِكٍ، عَنْ شَهْرِ بن حَوْشَبٍ، قَالَ: لَمَّا فُتِحَتْ مِصْرُ، سَبُّوا أَهْلَ الشَّامِ، فَأَخْرَجَ عَوْفُ بن مَالِكٍ رَأْسَهُ مِنْ تُرْسٍ، ثُمَّ قَالَ: يَا أَهْلَ مِصْرَ , أَنَا عَوْفُ بن مَالِكٍ، لا تَسُبُّوا أَهْلَ الشَّامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ:"فِيهِمُ الأَبْدَالُ، وَبِهِمْ تُنْصَرُونَ، وَبِهِمْ تُرْزَقُونَ".

Artinya: "Ketika negara Mesir dikuasai Islam, penduduknya mencaci maki ahli syam, lalu Auf bin Malik mengeluarkan kepalanya dari perisainya dan berkata: wahai penduduk Mesir saya adalah Auf bin Malik, janganlah kalian mencaci maki ahli syam karena saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: dalam ahli syam ada wali abdal. Karena merekalah ahli syam ditolong dan karena merekalah ahli syam diberi rizki"

Dalam Hadits lain:

Artinya: "Nabi Muhammad saw pernah bersabda: banyak orang yang amburadul rambutnya, berdebu, dan hanya memiliki dua pakaian yang rusak, namun jika mereka bersumpah dengan nama Allah maka Allah pasti akan meluluskan sumpah tersebut"

Jadi tugas mereka tidak kelihatan tapi berkahnya sangat besar bagi manusia. Lalu kenapa Allah menjadikan dua hamba yang berbeda? memang sunatullah dalam menciptakan sesuatu ada yang bervariasi sehingga tidak monoton. Kalau diciptakan seperti kelompok yang pertama maka semua akan amar ma’ruf tapi tidak ada yang bisa menjadikan bumi tenang dan kalau hanya yang seperti kelompok kedua maka tidak akan ada amar ma’ruf.

Ada orang ziarah pada Syekh Ramdhan. Orang ini seperti orang yang gila namun dia dimuliakan oleh Syekh Ramdhan. Ketika ingin pulang Syekh Ramdhan meminta doa agar Allah memuliakannya sebagaimana orang tersebut. Lalu orang tersebut berkata: "Kalau kamu seperti saya nanti siapa yang mengurusi masyarakat". Lalu dengan cerita ini apakah bisa menunjukan bahwa kelompok yang kedua lebih mulia dari pada kelompok yang pertama. Tidak, karena ini semua hanyalah ciptaan dan sunnah Allah. Pada zaman nabi beliau pernah berpesan pada sahabat Umar agar beliau minta doa pada Uwais Al-Qarany.

Lalu bagaimana sikap kita menghadapi dua hamba tersebut?. Hikmah Allah memang sangat besar. Seandainya Allah memperlihatkan walinya maka semua yang tidak menjadi wali pasti akan terlihat jelek, oleh karena itu Allah menutupinya. Dari sini kita harus selalu berkhusnudzon, jangan-jangan orang yang kelihatan jelek adalah wali Allah sehingga kita harus memuliakannya. Lebih baik kita tunduk kepada orang walaupun sebenarnya dia tidak mulia daripada kita sombong pada orang yang benar-benar mulia. Semua hamba tersebut (baik kelompok pertama maupun kedua) dibantu oleh Allah swt sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an:

كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا (QS. Al Isra’: 20)

Artinya: Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. (QS. Al-Isra': 20)

إذا سمعت كلمات من أهل التصوف والكمال ظاهرها ليس موافقا لشريعة الهدى من الضلال توفق فيها واسأل من الله العليم أن يعلمك مالم تعلم ولا تمل إلى الإنكار الموجب للنكال, لأن بعض كلماتهم مرموزة لاتفهم, وهي فى الحقيقة مطابقة لبطن من بطون القرأن الكريم وحديث النبي الرحيم. فهذا الطريق هوالأسلم القويم, والصراط المستقيم. .“

Apabila engkau mendengar beberapa kalimah-perkataan dari ahli Tashawwuf dan kesempurnaan zahirnya tidak sesuai bagisyariatnya Nabi yang menyatakan petunjuk dari segala kesesatan maka bertawaquflah (berdiamlah) engkau padanya dan bermohonlah (berserahlah) kepada Allah Yang Maha Mengetahui agar engkau di beriakan ilmu yang belum engkau mengetahuinya. Janganlah engkau cenderung mengingkarinya yang mengakibatkan kepada natijah yang buruk. Kerana sebagian dari pada kalimah atau perkataan mereka itu adalah isyarat yang tidak mudah difahami. Padahal hakikat-isinya itu sesuai dengan batinnya dari pada isi al Quran al Karim, dan haditsnya Nabi yang penyayang. Maka jalan ini lebih selamat sejahtera, dan jalan yang lurus.”

ومن أصول أهل السنة : التصديق بكرامات الأولياء وما يجري الله على أيديهم من خوارق العادات في أنواع العلوم والمكاشفات وأنواع القدرة والتأثيرات ، كالمأثور عن سالف الأمم في سورة الكهف وغيرها ، وعن صدر هذه الأمة من الصحابة والتابعين وسائر قرون الأمة ،وهي موجودة فيها ] ص: 287 [ إلى يوم القيامة( .] العقيدة الواسطية « شرح العقيدة الواسطية « أصول أهل السنة والجماعة الدين والإيمان قول وعمل « من أصول أهل السنة والجماعة التصديق بكرامات الأولياء[“

Termasuk prinsip ahlu as-Sunnah wa al-Jama’ah adalah membenarkan adanya karomah para wali dan kejadian-kejadian luar biasa yang Allah tunjukkan melalui mereka dalam berbagai bentuk ilmu dan mukasyafah, dalam berbagai jenis qudrat dan pengaruh, seperti yang diriwayatkan dari umat-umat terdahulu dalam (al Qur'an) Surat al-Kahfi dan selainnya, dan dari generasi awal umat ini, para sahabat, tabi’in, serta generasi-generasi umat yang lain. Karomah tetap akan ada di setiap umat sampai hari Kiamat.”[Syarh Aqidatul Waasithiyah ]

Doa Nabi Sulaiman Menundukkan Hewan dan Jin

  Nabiyullah Sulaiman  'alaihissalam  (AS) merupakan Nabi dan Rasul pilihan Allah Ta'ala yang dikaruniai kerajaan yang tidak dimilik...