Sabtu, 30 Oktober 2021

Doa Birul Walidain


Salah satu kewajiban seorang muslim adalah berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain). birrul walidain adalah sikap bakti kita kepada kedua orang tua kita dan hukumnya wajib sekalipun mereka adalah non muslim. segala hal dan sesuatu yang diperintahkan orang tua wajib kita jalankan selama tidak bertentangan dengan perintah dan hukum ALLAH SWT.

Saking pentingnya berbakti kepada orang tua sampai sampai surga dan neraka seseorang tergantung dari kedua orang tuanya terutama seorang ibu. seorang yang durhaka kepada kedua orang tua sekalipun ia taat beribadah tidak akan masuk surga dan mendekam di dalam neraka jahannam. bahkan dikatakan bahwa "ridho ALLAH SWT tergantung kepada ridho kedua orang tua" serta dikatakan pula bahwa "surga ada ditelapak kaki ibu".

Adapun bentuk bakti dan taat kita kepada orang tua salah satunya adalah dengan mendoakannya baik yang msih hidup maupun yang telah meninggal dunia. diriwayatkan dari Malik bin Zararah r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Meminta ampunan yang dilakukan oleh seorang anak untuk kedua orang tuanya setelah keduanya meninggal adalah termasuk bentuk berbakti kepada orang tua.” (HR Ibnu an-Najjar)

Berbakti kepada kedua orang tua tidak hanya sebatas ketika mereka masih hidup saja, tetapi berlanjut sampai keduanya meninggal. diriwayatkan dari Abu Usaid Malik ibnu Rabi’ah as-Sa’idi, ia berkata, “Ketika kita duduk bersama di samping Rasulullah SAW. tiba-tiba datang seorang laki-laki dari bani Salamah dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, masih adakah amalan yang harus saya lakukan untuk berbakti kepada bapak dan ibu setelah mereka meninggal?’ Kemudian beliau menjawab, ‘Ya, yaitu mengerjakan shalat untuk kedua orang tua (maksudnya mendoakan kedua orang tua atau menshalati jenazahnya), memohon ampunan atas segala dosanya, melaksanakan janji mereka setelah mereka meninggal, meneruskan tali silaturahmi yang pernah dilakukan orang tua ketika masih hidup, dan memuliakan kawan-kawannya.” (HR Abu Dawud dalam Sunan-nya dan Ahmad dalam Musnad: 3/498)

Doa Birrul Walidain merupakan salah satu bentuk (tindakan) berbakti kepada kedua orang tua. Seperti diketahui, sebagai orang anak wajib hukumnya untuk selalu berbakti kepada orang tua baik ayah maupun ibu. Apabila seorang anak tidak berbakti kepada kedua orang tua, maka Allah SWT mengancamnya dengan ancaman yang keras, yaitu dimasukkan ke nereka yang lebih dalam lagi. Na'udzu billah min daalik.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Isra ayat 23 yang artinya "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya".

Maka dari itu, sudah menjadi kewajiban kita sebagai seorang anak untuk selalu berbuat baik kepada kedua orang tua. Banyak cara untuk berbuat baik kepada ibu dan bapak kita, salah satunya yaitu mendoakan mereka dengan Bacaan Doa Birrul Walidain berikut ini.

Doa Birrul Walidain beserta Terjemahannya Lengkap

أَلْحَـمْــدُ لِلّٰهِ الَّـــذِيْ أَمَـرَنَــا بِــشُــــكْــرِ الْــوَالِــدَيْـــنِ وَالْإِحْسَانِ إِلَيْهِمَا، وَحَثَّناَ عَلَى اغْتِنَامِ بِرِّ هِمَا وَاصْطِنَاعِ الْمَعْرُوْفِ لَدَيْهِمَا، وَنَدَبْـنَآ إِلىٰ خَفْضِ الْجَنَاحِ مِنَ الرَّحْمَةِ لَهُمَا إِعْظَامًا وَّإِكْبَارًا، وَوَصَّانَا بِالتَّـــرَحُّمِ عَلَيْهِمَا كَمَا رَبَّـيَـانَا صِغَارًا

Segala puji bagi Allah, Tuhan yang memerintahkan kami untuk bersyukur dan berbuat baik kepada kedua orang tua, yang telah mendorong kami untuk meraih kemuliaan berbakti dan berbuat baik di hadapan mereka, yang telah menganjurkan kami untuk merendahkan diri kepada mereka dengan penuh kasih sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan, serta mewasiatkan kami untuk memohonkan kasih sayang Allah bagi mereka sebagaimana mereka mendidik dan membimbing kami sewaktu kecil

اَللّٰهُمَّ فَارْحَمْ وَالِدِيْـــنَا، اَللّٰهُمَّ فَارْحَمْ وَالِدِيْــنَا، اَللّٰهُمَّ فَارْحَمْ وَالِدِيْــنَا، وَاغْفِرْ لَهُمْ، وَارْضَ عَنْهُمْ رِضًا تُحِلُّ بِهِ عَلَيْهِمْ جَوَامِعَ رِضْوَانِكَ، وَتُحِلُّهُمْ بِــهِ دَارَ كَــرَامَـتِــكَ وَأَمَـــانِــكَ، وَمَــــوَاطِـنَ عَــفْــوِكَ وَغُــفْــرَانِـــكَ، وَاَدِرَّ بِهِ عَــلَــيْـــهِــمْ لَطَـآئِــفَ بِــرِّكَ وَإِحْسَانِكَ

Ya Allah, sayangilah kedua orang tua kami. Ya Allah, sayangilah kedua orang tua kami. Ya Allah, sayangilah kedua orang tua kami. Ampuni, rahmati, dan ridhoilah mereka dengan keridhoan yang mengantarkan mereka pada semua jenis keridhaan-Mu, membawa mereka ke tempat-tempat yang mendatangkan maaf dan ampunan-Mu, serta meletakan mereka di negeri yang mulia dan aman (surga), kemudian hidangkanlah kepada mereka berbagai kebaikan dan kedermawaan-Mu

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْ مَغْـفِرَةً جَامِعَةً تَمْحُوْ بِهَا سَالِفَ أَوْزَارِهِمْ، وَسَيِّءَ إِصْرَارِهِمْ، وَارْحَمْهُمْ رَحْمَةً تُـنِـيْــرُ لَهُمْ بِهَا الْمَضْجَعَ فِيْ قُــبُــوْرِهِمْ، وَتُــؤَمِّـنُـهُمْ بِـهَا يَـوْمَ الْفَزَعِ عِنْدَ نُشُوْرِهِمْ

Ya Allah, ampunilah mereka dengan pengampuan menyeluruh yang menghapus dosa-dosa mereka terdahulu dan keburukan yang selalu mereka lakukan, dan rahmatilah mereka dengan rahmat yang mampu menerangi pembaringan mereka di dalam kubur, serta menyelamatkan mereka pada saat kebangkitan di hari yang menakutkan.

اَللّٰهُمَّ تَحَنَّنْ عَلىٰ ضَعْفِهِمْ كَمَا كَانُـوْا عَلىٰ ضَعْفِنَا مُتَحَنِّنِيْنَ، وَارْحَمِ انْـقِطَاعَهُمْ إِلَيْكَ كَمَا كَانُـوْا لَنَا فِيْ حَالِ انْقِطَاعِنَا إِلَيْهِمْ رَاحِمِيْنَ، وَتَـعَطَّفْ عَلَيْهِمْ كَمَا كَانُـوْا عَلَـيْــنَا فِيْ حَالِ صِغَرِنَا مُتَعَطِّفِيْنَ، اَللّٰهُمَّ احْفَظْ لَهُمْ ذٰلِكَ الْوُدَّ الَّذِيْ أَشْرَبْـتَهُ قُـلُوْبَـهُمْ، وَالْحَنَانَةَ الَّتِيْ مَلَأْتَ بِهَا صُــدُوْرَهُـــمْ، وَالـلُّــطْــفَ الَّـــذِيْ شَـــــغَــلْتَ بِـــهِ جَوَارِحَهُمْ، وَاشْكُرْ لَهُمْ ذٰلِكَ الْجِهَادَ الَّذِيْ كَانُـوْا بِهِ فِـيْـنَا مُجَاهِدِيْنَ، وَلَا تُضَـيِّــعْ لَهُمْ ذٰلِكَ الْاِجْتِهَادَ الَّـذِيْ كَانُــوْا بِـــهِ فِـــيْــنَــا مُـجْـتَـهِدِيْـنَ، وَجَازِهِمْ عَلىٰ ذٰلِكَ السَّــعْيِ الَّذِيْ كَانُـوْا بِهِ فِيْـنَا سَاعِيْنَ، وَالـرَّعْــيَ الَّذِيْ كَانُـــوْا بِـــهِ لَـنَا رَاعِيْنَ، أَفْضَلَ مَاجٰزَيْتَ بِهِ السُّعَاةَ الْمُصْلِحِيْنَ، وَالرُّعَاةَ النَّاصِحِيْنَ

Ya Allah, sayangilah (maklumilah) kelemahan mereka sebagaimana mereka dahulu menyayangi (memaklumi) kelemahan kami, dan hargailah usaha mereka untuk beribadah kepada-Mu sepanjang waktu sebagaimana mereka dahulu juga menghargai usaha kami untuk berbakti kepada mereka sepanjang masa, dan kasihanilah mereka sebagaimana mereka mengasihi kami sewaktu kami kecil. Ya Allah, peliharalah rasa cinta yang Engkau letakan dalam hati mereka kasih sayang yang Engkau penuhi dada mereka dengannya, dan kelembutan yang Engkau sibukkan anggota tubuh mereka dengannya. Karuniailah mereka dengan pahala atas perjuangan mereka dahulu dalam mendidik kami, jangan sia-siakan perjuangan mereka tersebut. Balaslah usaha mereka untuk menghidupi dan memelihara kami dengan sebaik-baik balasan yang Engkau berikan kepada mereka yang suka berbuat baik dan memberi nasihat.

اَللّٰهُمَّ بِـرَّ هُمْ أَضْعَافَ مَا كَانُــوْا يَــبُــرُّوْنَــنَا، وَانْظُرْ إِلَيْهِمْ بِـعَيْنِ الرَّحْمَةِ كَمَا كَانُــوْا يَــنْـظُرُوْنَــنَا

Ya Allah, berbuat baiklah kepada mereka dengan kebaikan yang jauh lebih banyak dari semua kebaikan mereka kepada kami, dan pandanglah mereka dengan pandangan kasih sebagaimana dahulu mereka memandang kami.

اَللّٰهُمَّ هَبْ لَهُمْ مَا ضَـيَّــعُوْامِنْ حَقِّ رُبُـوْبِـيَّـتِكَ بِمَا اشْتَـغَلُوْا بِهِ مِنْ حَقِّ تَـرْبِـيَّـتِـنَا، وَتَجَاوَزْ عَـنْـهُمْ مَا قَصَّرُوْا فِـيْهِ مِنْ حَقِّ خِدْمَتِكَ بِمَا آثَـرُوْنَا بِهِ فِيْ حَقِّ خِدْمَتِنَا، وَاعْفُ عَنْـهُمْ مَا ارْتَكَبُـوْا مِنَ الشُّـبُـهَاتِ مِنْ أَجْلِ مَا اكْتَسَبُـوْا مِنْ أَجْلِنَا، وَلَاتُـؤَاخِذْهُمْ بِمَا دَعَتْـهُمْ إِلَيْهِ الْحَمِيَّةُ مِنَ الْهَوٰى لِمَا غَلَبَ عَلىٰ قُـلُـوْبِـهِمْ مِنْ مَحَبَّـتِـنَـا، اَللّٰهُمَّ وَتَحَمَّلْ عَنْـهُمُ الظُّـلُمَاتِ الَّتِي ارْتَكَــبُـوْهَا فِيْمَا اجْـتَـرَحُوْا لَنَا وَسَعَوْا عَلَيْـنَا، وَالْطُفْ بِهِمْ فِيْ مَضَاجِعِ الْبِلىٰ لُطْفًا يَّزِيْدُ عَلىٰ لُطْفِهِمْ فِيْ أَيَّامِ حَيَاتِهِمْ بِنَا

Ya Allah, berilah mereka pahala beribadah kepada-Mu yang tidak sempat mereka lakukan karena sibuk mendidik kami, dan maafkanlah segala kekurangan mereka dalam mengabdi kepada-Mu karena sibuk melayani kami, dan ampunilah mereka atas hal-hal syubhat yang mereka lakukan demi menghidupi kami, dan jangan siksa mereka karena rasa cinta mereka kepada kami yang menggelora, dan selesaikanlah permasalahan-permasalahan mereka dengan sesama manusia yang mereka lakukan demi menghidupi kami, dan bersikap lembutlah kepada mereka dipembaringan kubur dengan kelembutan yang melebihi sikap lembut mereka kepada kami di masa hidup mereka dahulu.

اَللّٰهُمَّ وَمَا هَدَيْـتَـنَا لَهُ مِنَ الطَّاعَاتِ، وَيَسَّرْتَهُ لَنَا مِــنَ الْحَــسَــنَـاتِ، وَوَفَّـــقْـتَــنَالَــهُ مِــنَ الْـقُــرُبَاتِ، فَـنَسْـأَلُـكَ اللّٰهُمَّ أَنْ تَجْعَلَ لَهُمْ مِنْـهَا حَظًّا وَّنَــصِـــــيْـبًا، وَمَـــا اقْـــتَــــرَفْـنَـاهُ مِــنَ السَّــــــيِّــئَاتِ، وَاكْـتَسَبْــنَـاهُ مِنَ الْخَــطِـيْـــئَاتِ، وَتَحَمَّـلْنَـاهُ مِنَ التَّبِعَاتِ، فَلَا تُــلْحِقْ بِهِمْ مِنَّا بِذٰلِكَ حَوْبًا، وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْهِمْ مِنْ ذُنُــوْ بِـنَا ذُنُـوْبًا

Ya Allah, atas setiap ketaatan yang Engkau hidayahkan kepada kami, kebaikan yang Engkau mudahkan kami untuk melakukannya, dan amal saleh yang Engkau beri kami taufik untuk mengerjakannya, kami mohon Engkau beri mereka pahala pula, dan jika ada keburukan yang kami lakukan, kesalahan yang kami perbuat, dan permasalahan dengan sesama manusia yang harus kami pertanggung jawabkan, jangan Engkau bebani mereka dengannya dan jangan tambahkan dosa kami ke dalam catatan dosa mereka.

اَللّٰهُمَّ وَكَمَا سَرَرْتَــهُمْ بِنَا فِي الْحَيَاةِ، فَسُرَّهُمْ بِنَا بَعْدَ الْوَفَاةِ

Ya Allah, sebagaimana Engkau senangkan mereka dengan kami semasa hidup, maka senangkan pula mereka dengan kami setelah mati. (Dibaca 3 Kali)

اَللّٰهُمَّ وَلَا تُــبْـلِغْهُمْ مِنْ أَخْبَارِنَا مَا يَسُوْءُهُمْ، وَلَا تُحَمِّلْهُمْ مِنْ أَوْزَارِنَا مَايَــنُـوْءُهُمْ، وَلَا تُخْزِهِمْ بِـنَا فِــيْ عَسْــكَرِالْأَمْوَاتِ بِمَانُحْدِثُ مِنَ الْمُخْزِيَاتِ وَنَـأْتِيْ مِنَ الْمُنْكَرَاتِ، وَسُرَّ أَرْوَاحَهُمْ بِأَعْمَالِنَا فِيْ مُلْـتَــقَى الْأَرْوَاحِ، إِذَا سُـــرَّ أَهْلُ الصَّلَاحِ بِأَبْــنَآءِ الصَّلَاحِ، وَلَا تُقِفْهُمْ بِسَبَبِنَا عَلىٰ مَوْقِفِ افْتِضَاحٍ بِمَا نَجْتَرِحُ مِنْ سُوْءِ الْاِجْتِرَاحِ

Ya Allah, jangan sampaikan berita-berita tentang diri kami yang akan membuat mereka kecewa, dan jangan bebankan kesalahan kami kepada mereka, dan jangan hinakan mereka di hadapan orang-orang yang sudah meninggal dunia dengan perbuatan-perbuatan hina dan mungkar yang kami lakukan, dan senangkanlah ruh mereka dengan amal-amal baik kami di tempat pertemuan para arwah, ketika orang-orang yang saleh bergembira dengan putra-putra mereka, dan jangan jadikan mereka ternoda oleh perbuatan-perbuatan buruk yang kami lakukan.

اَللّٰهُمَّ وَمَا تَلَوْنَا مِنْ تِلَاوَةٍ فَـزَ كَّيْتَهَا، وَمَا صَلَّيْـنَا مِنْ صَلَاةٍ فَـتَـقَــبَّـلْتَهَا، وَمَا تَصَدَّقْـنَا مِنْ صَدَقَةٍ فَـنَمَّـــيْـــتَـهَا، وَمَــا عَمِلْــنَـا مِنْ أَعْمَالٍ صَالِحَةٍ فَـرَضِيْـتَـهَا، فَـنَسْأَلُكَ اللّٰهُمَّ أَنْ تَجْعَلَ حَظَّهُمْ مِنْـهَآ أَكْبَـرَ مِنْ حُظُوْظِنَا ، وَقِسْمَهُمْ مِنْـهَآ أَجْزَلَ مِنْ أَقْسَامِنَا، وَسَهْمَهُمْ مِــنْ ثَـــوَابِــهَآ أَوْفَـــرَ مِـــنْ سِهَامِنَا، فَإِنَّكَ وَصَّيْتَنَا بِـبِـرِّهِمْ، وَنَدَبْــتَــنَآ إِلىٰ شُكْرِهِمْ، وَأَنْتَ أَوْلىٰ بِالْبِرِّ مِنَ الْـبَآرِّيْنَ، وَأَحَقُّ بِالْوَصْلِ مِنَ الْمَأْمُوْرِيْنَ

Ya Allah, bagi setiap ayat suci yang kami baca, shalat kami yang Engkau terima, amal saleh kami yang Engkau ridhai, serta sedekah kami yang Engkau lipat gandakan pahalanya, tolong ya Allah, berilah mereka bagian yang lebih banyak dari bagian kami, dan pahala yang jauh lebih besar dari pahala kami sebab Engkaulah yang mewasiatkan agar kami berbakti dan berbuat baik kepada mereka. Sesungguhnya, Engkaulah yang lebih pantas untuk berbuat baik kepada mereka dari semua yang berbakti kepada orang tuanya, dan Engkaulah yang lebih berhak untuk melakukan kebajikan tersebut daripada mereka yang Engkau perintahkan.

  اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا لَهُمْ قُـرَّةَ أَعْيُنٍ يَّـوْمَ يَـقُوْمُ الْأَشْهَادِ، وَأَسْمِعْهُمْ مِنَّـآ أَطْـيَبَ النِّدَآءِ يَــوْمَ الـتَّــنَادِ، وَاجْـعَلْهُمْ بِنَا مِنْ أَغْبَطِ الْآبَآءِ بِالْأَوْلَادِ

Ya Allah, jadikanlah kami penyejuk hati mereka di hari para saksi berdiri sebagai saksi, dan perdengarkanlah kepada mereka sebaik-baik seruan ketika sang penyeru berseru, dan jadikanlah mereka sebagai ayah yang merasa paling senang dengan anak-anaknya, (Dibaca 3 Kali)

حَـتَّى تَجْـمَـعَـنَا وَإِيَّـاهُـمْ وَالْمُسْـلِـمِيْنَ جَمِيْـعًـا فِيْ دَارِ كَــرَامَـــتِـــكَ، وَمُــسْـــتَــقَـرِّ رَحْـــمَــتِــكَ، وَمَـــحَــلِّ أَوْلِيَآئِكَ، مَعَ الَّذِيْنَ أَنْــعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّـبِـيِّـيْنَ وَالصِّدِّيْـقِيْنَ وَالشُّــهَدَآءِ وَالصَّــالِـحِيْنَ، وَحَـــسُنَ أُولَـٰئِـكَ رَفِـيْــقًا، ذٰلِـكَ الْفَــضْلُ مِنَ اللهِ وَكَــفٰى بِاللهِ عَلِيْمًا

Kemudian pertemukanlah kami dengan mereka dan seluruh kaum muslimin di negeri yang mulia, di tempat curahan rahmat-Mu, dan kediaman para wali-Mu bersama orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, yaitu para Nabi, shiddiqin, syuhada, dan sholihin. Merekalah sebaik-baik teman. Itulah karunia Allah dan cukuplah Allah sebagai Dzat Yang Maha Mengetahui.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّايَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَــلَى الْـمُرْسَـــلِـيْنَ، وَالْحَــمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَـالَمِـيْنَ، وَصَلَّى اللهُ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ

Maha Suci Allah, Tuhan Yang Perkasa, Mulia dan Agung dari segala tuduhan-tuduhan yang tidak layak dan patut bagi-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Semoga shalawat dan salam Allah selalu tercurah kepada Sayyidina Muhammad beserta keluarga dan para sahabat beliau.

Wahyu Cakraningrat


Bagi orang-orang yang mengesampingkan mata batin dan cenderung empiris, menduga bahwa Wahyu Cakraningrat ini adalah sebuah benda tiga dimensi, yang mempunyai volume, mempunyai berat, ada di ruang tertentu, dan ada pada waktu tertentu. Ia seperti senjata pamungkas, tiada tanding, tiada banding, bisa sebagai alat penakhluk musuh sehebat apapun, bisa digunakan oleh siapapun, apakah tokoh protagonis atau tokoh antagonis, atau tokoh pengecut. Padahal sejatinya, Wahyu Cakraningrat ini adalah “sebuah ruh” Batara Cakraningrat, atau lebih tepatnya adalah “spirit” Cakraningrat. Dia bisa eksis di madyapada dengan syarat: yaitu harus ada “kurungan kencana” (jasad emas) yang memang tepat dan pantas buat dia. Ya, Cakraningrat! Cakra adalah roda, ningrat adalah kemuliaan. Dia adalah sesuatu yang terus bergerak, menggelinding dengan membawa unsur-unsur kemuliaan.

Batara Cakraningrat selalu mencari dan mencari ‘kurungan kencana’ yang bersih lahir batin, yang cerdas, yang tahan godaan, yang tahan fitnahan, yang “sepi ing pamrih – rame ing gawe”, berbudi luhur, jujur, dapat dipercaya, mempunyai kesabaran tinggi, dan kepekaan sosial yang tinggi. Apa itu kepekaan sosial yang tinggi? Yaitu yang dekat (tahu) dengan (masalah) rakyat, peduli dengan rakyat, dan suka menolong. Batara (spirit) Cakraningrat tidak akan bisa bersenyawa dengan kurungan (jasad) siapapun kecuali dengan ‘kurungan kencana’ ini. Jika mereka berhasil bertemu, kemudian bersenyawa maka, kedahsyatannya akan tampak hingga mampu menggenggam dan mengelola dunia ini dengan baik. Dia akan menjelma menjadi satria agung karena dia lahir melalui proses persenyawaan antara pengalaman hidup, pengalaman batin, dan wahyu yang selalu menyadarkannya kepada Sang Hyang Akarya Jagad, bahwa dirinya adalah sang pembawa misi Tuhan di muka bumi ini. Tidak mengherankan jika satria ini mampu menegakkan keadilan dan kebenaran meskipun nyawa adalah taruhannya. Baginya, gugur adalah musnahnya kurungan, tetapi kencana tidak akan! Dan Batara Cakraningrat akan selalu dapat menemukan dan ‘manjing’ke kurungan kencana lainnya dan oleh karena itu dia akan tetap eksis. Dia juga akan menjelma menjadi satria bijaksana dan waskita, “weruh sadurunge winarah”, mampu memprediksi kejadian yang akan datang secara tepat. Oleh karena itu, program-program yang dibawanya selalu ‘titis’, tepat sasaran dan tidak mubadzir.

Cerita Wahyu Cakraningrat Dalam Pewayangan

Cerita Wahyu Cakraningrat adalah bercerita tentang upaya tiga orang satria yaitu, Raden Lesmono Mandrakumara, Raden Sombo Putro dan Raden Abimayu yang berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Ketiganya sama-sama berambisi besar menjadi Ratu. Untuk itu, mereka harus bertarung dan mendapat gelar ”Wahyu Cakraningrat”. Namun mendapatkan Wahyu Cakraningrat tidaklah mudah karena sejumlah syarat harus dipenuhi agar Wahyu Cakraningrat bisa majing atau sejiwa dengan satria terpilih. Adapun syarat yang harus dipenuhi adalah: mampu handayani (membuat contoh yang baik) kepada rakyat, berpegang pada kejujuran, mampu memberikan keteladanan, mampu memberikan rasa tenteram kepada rakyat, mampu memberi rasa kasih sayang pada rakyat, mempunyai perilaku amanah, mampu merekatkan seluruh rakyat tanpa memandang latar belakang, agama, ras dan budaya, serta harus peduli terhadap lingkungan.

Raden Lasmana Mandrakumara ingin memiliki Wahyu Cakraningrat, dan dia harus bertapa di hutan Gangga Warayang. Pada saat ditanya tentang kesanggupannya bertapa di hutan, maka Raden Lasmana Mandrakumara menjawab sanggup bertapa di hutan tersebut. Namun dia ingin agar dijaga paman-pamannya, di antaranya adalah Sengkuni dan Drona. Yang paling penting bagi Lasmana Mandrakumara adalah membawa minuman dan makanan dengan tujuan agar tidak kelaparan pada saat bertapa meraih wahyu. Dengan demikian diri si tapa akan tenang sehingga wahyunya nanti akan mudah menyatu ke tubuh (manjing sarira), itulah pemikiran para sesepuh Hastina. Keberangkatannya di antar oleh para punggawa prajurit berkuda dan Lasmana Mandrakumara naik Joli Jempana yaitu kereta yang ditarik lebih dari dua ekor kuda.

Lain lagi dengan putra mahkota Dwarawati satriya Parang Garuda Raden Samba. Dia satriya yang pemberani juga ingin bertapa di dalam hutan Gangga Warayang untuk meraih Wahyu Cakraningrat. Kebertangkatannya diantar oleh para senapati sampai di perbatasan kraton. Selanjutnya berangkat sendiri dengan berjalan kaki. Ketika dalam perjalanan, Raden Samba bertemu dengan orang-orang Kurawa yang juga akan menuju ke hutan Gangga Warayang guna menyambut turunnya Wahyu Cakraningrat. Secara persaudaraan mereka saling bertegur-sapa tetapi setelah mengetahui keperluan masing-masing, mereka menjadi selisih pendapat. Awalnya hanya pertengkaran mulut, tetapi akhirnya menjadi pertengkaran fisik. Karena Raden Samba hanya sendirian maka ia tidak mampu melawan Kurawa, dan akhirnya menyingkir. Ada satu kebulatan tekad dalam diri Raden Samba. Walaupun kalah perang melawan orang-orang Kurawa dari Hastina bukan berarti harapan untuk memiliki Wahyu Cakraningrat berhenti. Wahyu Cakraningrat harus bisa diraih dan bisa menjadi miliknya, begitulah pikiran Raden Samba. Agar tidak bertemu dengan orang Hastina yang urakan itu maka Raden Samba melanjutkan perjalanan menuju hutan Gangga Warayang dari sisi lain.

Berbeda dengan Raden Abimanyu yang dikeroyok lima raksasa hutan, dan nampak satriya tersebut agak kewalahan. Kebetulan di angkasa terlihat Raden Gathotkaca yang sedang mencari Raden Abimanyu atas perintah sang paman Raden Arjuna. Dari angkasa Raden Gathotkaca telah melihat dengan jelas kejadian yang menimpa Raden Abimanyu, maka dengan segera dan cepat-cepat turun untuk membantu Raden Abimanyu. Dalam sekejab tamatlah riwayat lima raksasa pembegal itu di tangan Raden Gathotkaca. Setelah beristirahat sejenak, Raden Abimanyu menjelaskan kepada Raden Gathotkaca, bahwa dia sedang mencari Wahyu Cakraningrat. Maka Raden Gathotkaca dimohon agar pulang dahulu. Setelah Raden Gathotkaca pulang maka Raden Abimanyu melanjutkan perjalanan hingga sampai di suatu gunung yang dijadikan sebagai tempat bertapa.

Sedangkan Punokawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong berada di tempat yang jauh menanti selesainya Raden Angkawijaya (Abimanyu) bertapa. Sudah berbulan-bulan belum ada tanda-tanda selesai bertapa.Tiba-tiba keempat panakawan tersebut di suatu hari waktu larut malam melihat cahaya sangat terang turun di hutan Gangga Warayang bagian timur yang disusul dengan suara gunung meletus. Panakawan bingung, khawatir terhadap tuannya (bendaranya) yaitu Raden Angkawijaya, jangan-jangan suara tadi mengenainya sehingga mengakibatkan kematian. Baru saja akan beranjak tiba-tiba para panakawan mendengar sorak-sorai, yang ternyata adalah orang-orang Kurawa. Mengapa dan ada apa mereka bersorak-sorai? Wahyu Cakraningrat sudah turun dan berada pada diri Raden Lasmana Mandrakumara.

Para Kurawa langsung mengajak Raden Lasmana Mandrakumara pulang ke negeri Astina. Rasa suka cita yang tiada taranya telah dirasakan oleh semua punggawa Hastina yang dalam hatinya masing-masing merasa sukses dan berhasil. Para golongan tua di antaranya Drona, dan Sengkuni merasa berhasil dan sukses mendidik Raden Lasmana Mandrakumara. Yang muda merasa berhasil memberikan petunjuk dan arahannya kepada putra mahkota itu dan masing-masing merasa berjasa. Sehingga semua berkata “kalau tidak ada saya mungkin gagal untuk mendapat Wahyu Cakraningrat.”

Rombongan Kurawa segera pulang untuk merayakan keberhasilan Raden Lasmana Mandrakumara. Dalam perjalanan pulang rombongan Kurawa tidak merasa bahwa perjalanan kembali itu sudah mendapat separuh perjalanan. Tiba-tiba Raden Lasmana minta berhenti sebab dia bertemu orang yang berjalan sedang membawa barang bawaan dan tidak menghormat saat berada di depan Raden Lasmana Mandrakumara. Maka ditendanglah hingga orang itu terguling-guling di tanah dan barang bawaannya terlempar jauh serta hancur berantakan. Begitu ada kejadian seperti itu maka para punggawa yang merasa berjasa cepat-cepat ikut marah. Orang tadi terus dipukuli dan ditendang seperti bola. Orang itu hilang berubah menjadi cahaya dan kemudian masuk ke tubuh Raden Lasmana Mandrakumara dan keluar lagi bersama Wahyu Cakraningrat. Seketika itu jatuhlah Raden Lasmana Mandrakumara hingga pingsan. Mereka bersama-sama lari mengejar Wahyu Cakraningrat dan saling mendahului. Raden Lasmana Mandrakumara ditinggal sendirian di tempat itu. Sejenak peristiwa itu berlalu, terlihatlah dua cahaya dari angkasa turun di hutan Gangga Warayang di bagian sebelah barat.

Tidak lama kemudian Raden Samba yang bersemedi di tempat tersebut merasa bahwa dirinya sudah bisa mendapatkan Wahyu Cakraningrat. Dia sangat bangga bahwa dengan kekuatan sendiri bisa mendapatkan wahyu tersebut. Maka berangkatlah Raden Samba pulang ke Dwarawati dengan hati yang sombong karena Wahyu Cakraningrat sudah berada pada dirinya. Tiba-tiba Kurawa mengejar dan meminta wahyu yang sudah berada pada diri Samba. Sudah barang tentu Raden Samba tidak memperbolehkan. Terjadilah peperangan yang sengit. Ternyata tidak ada yang bisa melawan kekuatan Raden Samba. Mereka lari tunggang langgang dan tidak ada lagi yang berani berhadapan dengan Raden Samba. Dengan larinya para Kurawa itu berarti mereka telah kalah dan tidak akan berani lagi mengganggu perjalanan Raden Samba. Demikianlah Raden Samba merasa dirinya paling kuat dan sakti mandraguna. Dia berani mengatakan ”akulah segalanya.” Bahkan Raden Samba telah berani mengukuhkan ”Akulah orang yang akan menurunkan Raja-raja “

Sesudah melontarkan kata-kata itu, dia lalu terdiam sejenak, dia seperti mendengarkan lengkingan kata-kata sang ibu dewi Jembawati ”Anakku ngger Samba, eling den eling ngati-ati marang sakehing panggoda. Eling-elingen ya ngger ya!” (anakku Samba, ingat dan hati-hatilah terhadap semua godaan, ingatlah angger). Dasar Samba anak yang congkak dan sombong, kata-kata ibunya itu selalu diingat tetapi tidak diperhatikan. Dalam hati kecil Raden Samba berkata ”namanya orang kuat karena mendapat wahyu maka tak ada yang mampu mengganggu, contohnya Kurawa tak akan mampu mengalahkanku ha..ha..ha…” demikian kata-kata sombong Raden Samba. Sejenak kesombongan Raden Samba sedang bertahta dalam singgahsana hatinya. Seketika itu juga nampak di matanya seorang perempuan bersama seorang laki-laki tua. Si perempuan itu masih muda, cantik berkulit kuning langsap, bermata juling. Mereka menghaturkan sembah kepada Raden Samba. Dan tentu Raden Samba sangat rela untuk menerima sembahnya. Keduanya ingin mengabdi kepadanya. Itulah keperluan mereka berdua, mengapa keduanya menghadap ke sang penerima Wahyu Cakraningrat.

Seketika itu juga Raden Samba berkenan untuk menerimanya tetapi si laki-laki ditolak dengan alasan sudah tua dan dipastikan tidak mampu bekerja, justru akan membuat kesal saja. Dengan hinaan itu menyingkirlah orang tua tersebut. Tentu saja si perempuan cantik itu mengikuti jejak si tua. Tetapi Raden Samba telah mengejarnya, sambil merayu si perempuan cantik yang mengaku bernama Endang Mundhiasih. Jawab Mundhiasih sambil melontarkan kemarahan atas ketidak adilan serta tidak adanya rasa belas kasih terhadap orang tua, hanya perempuan saja yang dikejar-kejar. Endang Mundhiasih berkata “Wahyu Cakraningratmu tidak pantas untuk menghujat”. Ternyata Mundhiasih dan orang laki-laki tua itu kemudian hilang bersamaan dengan sinar Wahyu Cakraningrat pergi meninggalkan Raden Samba. Seketika itu badan raden Samba terasa lemas bagaikan orang tak berpengharapan dan tidak tahu apa yang akan diperbuat. Bukan main rasa kecewa Raden Samba terhadap watak sombong dan congkaknya ketika merasa wahyunya sudah pergi. Wahyu Cakraningrat tidak kuat menempati rumah (tubuh) yang congkak dan sombong. Akhirnya Raden Samba menyadari bahwa Wahyu Cakraningrat bukanlah miliknya. Apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur maka pulanglah Raden Samba ke Kadipaten Parang Garuda di negara Dwarawati.

Di tempat lain, di sebelah selatan hutan Gangga Warayang, terlihat empat panakawan seperti biasa masih menanti selesainya tapa sang Bendara. Pekerjaan seperti ini sudah terbiasa dilakukan oleh para panakawan sejak jaman Maharesi Manumayasa.Namun pada malam hari mereka berempat merasa seperti ada bayangan hitam berada tepat di tengah-tengah mereka. Bayangan tersebut sambil berkata ”Jawata bakal marengake dheweke nampa Wahyu Cakraningrat ”. (Dewata memperkenankan dia untuk menerima Wahyu Cakraningrat) Demikian para panakawan bergembira ria karena bendaranya telah mendapatkan apa yang didiinginkan. Dan benar, Raden Angkawijaya telah keluar dari pertapaannya. Wajahnya kelihatan cerah bersinar, tubuhnya nampak segar utuh tanpa cela. Memang itulah tubuh yang telah berisi wahyu. Maka berangkatlah pulang dan mereka memperhitungkan bahwa apa yang diidamkan telah terlaksana dan selesailah. Tiba-tiba datang para Kurawa mengejar Raden Angkawijaya yang telah mendapat Wahyu Cakraningrat. Para Kurawa mengejar Raden Abimanyu karena ingin merebut Wahyu Cakraningrat dan ternyata para Kurawa tidak mampu mengejarnya hingga Raden Angkawijaya sudah sampai di istana Amarta yang pada saat itu di Amarta sedang ada rapat rutin (siniwaka). Mereka semuanya bersyukur karena apa yang diinginkan Angkawijaya telah menjadi kenyataan. Dan Angkawijaya-lah kelak yang akan menurunkan raja-raja di Jawa.Tak lama kemudian terdengar suara ramai di luar yang ternyata orang-orang Kurawa yang merasa bahwa Wahyu Cakraningrat sudah menjadi milik Raden Lasmana Mandrakumara, maka mereka menginginkan agar Wahyu Cakraningrat di kembalikan kepada Raden Lasmana Mandrakumara. Peperangan antara Kurawa dengan Pandawa tak bisa dihindarkan. Namun tak ada si jahat dapat mengalahkan kebaikan.

Wafatnya 'Ulama Sebagai Tanda Rusaknya Dunia


Munculnya golongan bodoh setelah wafatnya ulama dan ulama yang tersisa berada dalam kumpulan sedikit adalah merupakan tanda-tanda hari kiamat yang diriwayatkan dalam beberapa hadis berikut.

Dalam Ash-Shahiihain, dari Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

من أشراط الساعة أن يُرْفَعَ العلم، ويَثْبُتَ الجهلُ.

“Termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan tetapnya kebodohan”.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Syaqiiq, ia berkata : “Aku pernah bersama ‘Abdullah dan Abu Musa. Mereka berkata : Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

إن بين يدي الساعة لأيَّاماً يُنزَلُ فيها الجهلُ، ويُرْفَعُ العلم.

“Sesungguhnya menjelang hari kiamat kelak, akan ada hari-hari yang diturunkanya kebodohan dan diangkatnya ilmu”.

Berkata Ibnu Baththaal rahimahullah :

وجميع ما تضمَّنَهُ هذا الحديث من الأشراط قد رأيناها، فقد نقص العلم، وظهر الجهل، وأُلْقِي الشحّ في القلوب، وعمّت الفتن، وكثرَ القتل.

“Seluruh tanda-tanda tentang hari kiamat yang terdapat dalam hadits ini telah kita lihat. Sungguh, ilmu telah berkurang, kebodohan merajalela, sifat kikir telah dijatuhkan/dijangkitkan dalam hati (manusia), firnah telah tersebarnya, dan pembunuhan banyak terjadi”.

Ibnu Hajar mengulas hal itu dengan berkata :

الذي يظهر أن الذي شاهده كان منه الكثير، مع وجود مقابله، والمراد من الحديث استحكام ذلك، حتى لا يبقى مما يقابله إلا النادر، وإليه الإشارة بالتعبير يقبض العلم، فلا يبقى إلا الجهل الصرف، ولا يمنع من ذلك وجودُ طائفة من أهل العلم، لأنهم يكونون حينئذ مغمورين في أولئك.

“Yang nampak, tanda-tanda hari kiamat yang disaksikannya itu memang sudah banyak terjadi, bersamaan dengan adanya realiti yang sebaliknya. Dan yang dimaksud oleh hadits adalah dominannya hal-hal tersebut sehingga tidak tersisa hal yang tidak seperti itu melainkan sedikit. Inilah yang diisyaratkan oleh hadits dengan ungkapan : ‘diangkatnya ilmu’; tidaklah tinggal/tersisa kecuali hanyalah kebodohan. Namun hal itu tidaklah menghalangi untuk tetap adanya sekelompok ahli ilmu (ulama) di tengah umat, karena pada waktu itu mereka tertutup oleh dominasi masyarakat yang bodoh akan ilmu agama”

Ilmu al-Quran dan sunah adalah sumber penerang dunia. Sebab, wahyu bagi penduduk bumi merupakan cahaya yang akan membimbing manusia ke jalan yang benar. Allah mengingatkan,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran). (QS. an-Nisa’: 174)

Karena itu, kehadiran para ulama dan para pengajar al-Quran dan sunah merupakan rahmat bagi penduduk bumi. Melalui jasa mereka, masyarakat menjadi paham tentang hakekat syariat. Dan Allah mencabut ilmu agama bagi penduduk bumi, dengan Allah wafatkan para ulama.

Dalam hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا ، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak akan mencabut ilmu dari umat manusia dengan sekali cabut. Akan tetapi, Dia akan mencabut dengan mematikan para ulama (ahlinya). Sampai apabila Dia tidak menyisakan seorang alim, umat manusia akan menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai pimpinanpimpinan mereka. Mereka ditanya (oleh umatnya) lantas menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)

An-Nawawiy berkata :

هذا الحديث يُبَيِّنُ أن المراد بقبض العلم في الأحاديث السابقة المطلقة ليس هو محوُه من صدور حفَّاظه، ولكن معناه : أن يموتَ حملتُه، ويتخذ الناس جُهَّالا يحكمون بجهالاتهم، فيضلُّون ويُضِلُّون.

“Hadits ini memberikan penjelasan akan maksud ‘diangkatnya ilmu’ - sebagaimana tertera dalam hadits-hadits secara mutlak – bukanlah menghapuskannya dari dada para penghapalnya. Namun maknanya adalah : wafatnya para pemilik ilmu tersebut. Manusia kemudian mengambil orang-orang bodoh yang menghukumi sesuatu dengan kebodohan mereka. Akhirnya mereka pun sesat dan menyesatkan orang lain”.

Dan yang dimaksud dengan ‘ilmu’ di sini adalah ilmu mengenai Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah, yang itu merupakan ilmu warisan para nabi ‘alaihis-salaam. Dan ulama adalah pewaris para nabi. Oleh karena itu, kepergian mereka sama dengan perginya ilmu, matinya sunnah, berkembangnya bid’ah, dan meratanya kebodohan.

Adapun ilmu keduniaan, maka itu merupakan tambahan. Bukanlah ia yang dimaksud dalam hadits-hadits, dengan alasan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Mereka ditanya, dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Hingga akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (orang lain)”. Kesesatan hanyalah terjadi karena kebodohan dalam agama. Dan ulama yang hakiki adalah ulama yang mengamalkan ilmu-ilmu mereka, mengarahkan dan menunjukkan umat ke jalan lurus dan petunjuk. Ilmu tanpa disertai amalan tidaklah banyak bermanfaat. Bahkan dapat menjadi bencana bagi pemiliknya. Telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dengan lafadh :

وينقص العمل

“Dan amal pun berkurang”.

Berkata Al-Imam Muarrikh (ahli sejarah) Islam Adz-Dzahabi setelah menyebutkan sekelompok ulama :

وما أوتوا من العلم إلا قليلاً، وأما اليوم؛ فما بقي من العلوم القليلة إلا القليل، في أناس قليل، ما أقل مَن يعمل منهم بذلك القليل، فحسبنا الله ونعم الوكيل.

“Tidaklah mereka diberikan ilmu melainkan sedikit. Adapun hari ini, tidaklah tersisa dari ilmu-ilmu yang sedikit tersebut melainkan lebih sedikit lagi di tangan orang-orang yang jumlahnya sedikit pula. Dan betapa sedikit lagi orang-orang yang beramal dengan ilmu mereka yang sedikit itu. Hasbunallaahwani’mal-wakiil (Semoga Allah mencukupkan kita, dan Dia-lah sebaik-baik Pelindung)".

Dalam al-Quran ada satu ayat yang oleh sebagian ahli tafsir dijadikan dalil tentang peran ulama. Allah berfirman,

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا

Apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah itu, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? (QS. ar-Ra’du: 41)

Dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katsir menukil keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

وقال ابن عباس في رواية: خرابها بموت فقهائها وعلمائها وأهل الخير منها. وكذا قال مجاهد أيضا: هو موت العلماء

Dalam salah satu riwayat, Ibnu Abbas mengatakan, berkurangnya bumi dengan kematian fuqaha dan ulama, serta orang-orang soleh. Demikian pula yang dinyatakan Mujahid, ‘Berkurangnya bumi adalah kematian ulama.’ (Tafsir Ibnu Katsir, 4/472).

 Subhanallah…

Seperti itu sahabat Ibnu Abbas menafsirkan. Kita bisa memahami korelasinya. Ketika ulama meninggal, kebodohan mudah tersebar. Terlebih ketika orang bodoh angkat bicara masalah agama. Sehingga pelanggaran agama akan semakin mudah tersebar dan meraja lela. Bumi kehilangan ruh kebaikannya.

Para ulama ahlus sunah…

Mereka yang mengajarkan al-Quran dan sunah sesuai pemahaman para sahabat, berjasa besar bagi masyarakat. Karena jasa besarnya, banyak diantara mereka yang Allah tampakkan amal baiknya di akhir hayatnya. Agar manusia generasi setelahnya, selalu mengenang jasa baik mereka.

Peristiwa Indah di Akhir Hayatnya

Mereka wafat sambil menorehkan sejarah. Wafat, diiringi peristiwa yang dikenang manusia dari generasi ke generasi. Kita akan simak cuplikannya,

[1] Wafatnya Imam Ahmad

Iblis mengaku kalah,

Diceritakan oleh Abdullah putra Imam Ahmad,

Aku menghadiri proses meninggalnya bapakku, Ahmad. Aku membawa selembar kain untuk mengikat jenggot beliau. Beliau kadang pingsan dan sadar lagi. Lalu beliau berisyarat dengan tangannya, sambil berkata, “Tidak, menjauh…. Tidak, menjauh…” beliau lakukan hal itu berulang kali. Maka aku tanyakan ke beliau, “Wahai ayahanda, apa yang Anda lihat? Beliau menjawab,

إن الشيطان قائم بحذائي عاض على أنامله يقول: يا أحمد فتني وأنا أقول لا بعد لا بعد

“Sesungguhnya setan berdiri di sampingku sambil menggingit jarinya, dia mengatakan, ‘Wahai Ahmad, aku kehilangan dirimu (tidak sanggup menyesatkanmu).  Aku katakan: “Tidak, menjauhlah…. Tidak, menjauhlah….” (Tadzkirah Al-Qurthubi, Hal. 186)

Pengaruh dakwah luar biasa, membuat banyak orang masuk islam

Abu Hatim meriwayatkan pernnyataan al-Warkani, tetangganya Imam Ahmad,

أسلم يوم مات أحمد عشرون ألفا من اليهود والنصارى والمجوس

Pada hari wafatnya Imam Ahmad, ada 20 ribu yahudi, nasrani, dan majusi yang masuk islam. (al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir, 10/342)

[2]  Wafatnya Abu Zur’ah

Abu Zur’ah ar-Razi, ahli hadis, salah satu gurunya imam Muslim. Beliau wafat dengan mentalqin dirinya sendiri.

Membaca hadis beserta sanadnya (nama perawinya) yang isinya,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Siapa yang kalimat terakhirnya, Laa ilaaha illallaah, maka dia masuk surga.” (HR. Abu Daud 3118)

Dikisahkan oleh Al-Hafidz Abu Ja’far al-Tusturi,

Kami hadir ketika proses wafatnya Abu Zur’ah, bersama para ulama murid beliau lainnya, seperti Abu Hatim, Muhammad bin Muslim, al-Mundzir bin Syadzan, dan beberapa ulama lainnya. Mereka ingin mempraktekkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

“Talqin orang yang hendak mati diantara kalian untuk mengucapkan laa ilaaha illallaah…”

Namun mereka semua malu untuk mentalqin gurunya Abu Zur’ah. Tiba-tiba Abu Zur’ah yang dalam kondisi mau meninggal menyampaikan hadis dengan sanadnya,

حدثنا بندار ، حدثنا أبو عاصم ، حدثنا عبد الحميد بن جعفر ، عن صالح بن أبي عريب ، عن كثير بن مرة الحضرمي ، عن معاذ بن جبل، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

Imam Bundar menceritakan kepada kami, bahwa Imam Abu Ashim menyampaikan kepada kami, bahwa Abdul Hamid bin Ja’far menceritakan kepada kami, dari Sholeh bin Abi Arib, dari Katsir bin Murrah al-Hadhrami, dari Muadz bin Jabal, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

 “Siapa yang kalimat terakhirnya, Laa ilaaha illallaah, maka dia masuk surga.”

Seketika setelah itu, beliau wafat.

(Ma’rifah Ulum al-Hadits, Imam Hakim, hlm. 76)

Subhanallah, wafatnya ahli hadis, diakhiri dengan menyampaikan hadis. Hadis yang berisi talqin kematian. Karena umumnya manusia akan mati sesuai kondisi kebiasaannya.

[3] Wafatnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Syaikhul Islam, beliau wafat di penjara Qal’ah. Beliau mengakhiri hidupnya setelah membaca ayat yang maknanya sangat indah,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ . فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.” (QS. al-Qamar: 54)

Salah satu muridnya, Ibnu Abdil Hadi bercerita,

أقبل الشيخ بعد إخراجها على العبادة والتلاوة والتذكر والتهجد حتى أتاه اليقين، وختم القرآن مدة إقامته بالقلعة ثمانين أو إحدى وثمانين ختمة انتهى في آخر ختمة إلى آخر اقتربت الساعة

Setelah Syaikhul Islam banyak menulis buku, beliau habiskan waktunya untuk beribadah, membaca al-Quran, dzikir, tahajud, hingga wafat. Selama di penjara, beliau mengkhatamkan al-Quran sebanyak 80 atau 81 kali. Dan di akhir bacaan beliau, beliau membaca,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ. فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.” (QS. al-Qamar: 54)

[4] Wafatnya al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani

Beliau termasuk ahli hadis dunia. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani. Wafat saat mendengar firman Allah dibacakan di sampingnya,

سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ

(Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. (QS. Yasin: 58)

Dikisahkan oleh muridnya, as-Sakhawi dalam kitab al-Jawahir wa ad-Durar fi Tarjamati Syaikhul Islam Ibnu Hajr,

Sebelum wafat, beliau sakit selama sebulan. Di saat detik kematiannya, ada muridnya yang membaca surat Yasin. Saat muridnya membaca firman Allah,

سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ

(Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.

Kemudian beliau wafat. Rahimahullah…

[5] Wafatnya al-Hafidz Ibnu Rajab

Beliau termasuk ahli hadis, menulis kitab syarah Shahih Bukhari. Namun tidak sampai selesai. Beliau hanya bisa menyelesaikan sampai bab janaiz.

Dan beliau wafat setelah mensyarah kitab shahih Bukhari di bab al-Janaiz.

[6] Wafatnya Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi

Beliau menulis kitab tafsir Adhwa’ul Bayan – Tafsir al-Quran bil Qur’an. Namun tidak sampai selesai. Lalu dilanjutkan oleh muridnya, Syaikh Athiyah Muhammad Salim.

Beliau wafat setelah membahas firman Allah,

أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Mereka itulah hizbullah… ketahuilah bahwa hizbullah adalah orang-orang yang muflih (beruntung). (QS. al-Mujadilah: 22)

[7] Wafatnya Muhammad Rasyid Ridha

Beliau penulis kitab Tafsir al-Manar. Namun tidak sampai selesai. Hanya sampai surat Yusuf.

Dan beliau wafat setelah selesai menulis tafsir firman Allah,

رَبِّ قَدْ آَتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh. (QS. Yusuf: 101)

Kejujuran dalam mengajarkan kebenaran kepada masyarakat, itulah faktor terbesar mereka mendapat kebahagiaan. Allah tunjukkan dalam karya mereka.  Yang kami sebutkan hanya sekelumit dari sejarah mereka para ulama.

Al-Hafidz Ibnu Katsiir pernah menasehatkan,

حافظوا على الإسلام في حال صحتكم وسلامتكم لتموتوا عليه ، فإن الكريم قد أجرى عادته بكرمه أنه من عاش على شيء مات عليه ، ومن مات على شيء بعث عليه ، فعياذا بالله من خلاف ذلك

“Peliharalah Islam ketika kamu sehat wal afiat, agar engkau mati di atas islam. Sesungguhnya Dzat yang Maha mulia dengan kemurahan-Nya akan memberlakukan seseorang sesuai kebiasaannya. Bahwa orang yang memiliki kebiasaan tertentu dalam hidup, dia akan mati sesuai kebiasaannya. Dan siapa yang mati dalam kondisi tertentu, dia akan dibangkitkan sesuai kondisi matinya. Sungguh kita berlindung kepada Allah, jangan sampai menyimpang dari kebenaran. (Tafsiir Ibnu Katsir, 2/87)

Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhumengingatkan dan menasehatkan  :

عليكم بالعلم قبل أن يرفع، ورفعه هلاك العلماء، فوالذي نفسي بيده ليودن رجال قتلوا في سبيل الله شهداء أن يبعثهم الله علماءلما يرون من كرامتهم، وإن أحدا لم يولد عالما، وإنما العلم بالتعلم

“Wajib atas kalian untuk menuntut ilmu, sebelum ilmu tersebut dihilangkan. Hilangnya ilmu adalah dengan wafatnya para ‘ulama. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh orang-orang yang terbunuh di jalan Allah sebagai syuhada, mereka sangat menginginkan agar Allah membangkitkan mereka dengan kedudukan seperti kedudukannya para ‘ulama, karena mereka melihat begitu besarnya kemuliaan para ‘ulama. Sungguh tidak ada seorang pun yang dilahirkan dalam keadaan sudah berilmu. Ilmu itu tidak lain didapat dengan cara belajar.” [lihat Al-’Imu Ibnu Qayyim, no. 94].

Hizb Darul A'la Imam Ibnu 'Arobi



Kapsul, atau tablet, tentu tidak mempunyai dosis yang sama. Demikian juga dosis obat antibiotik dan vitamin. Jika yang satu bisa diminum sehari tiga kali, yang lain mungkin hanya boleh diminum satu kali dalam sehari. Bahkan vitamin, yang jelas-jelas berguna, pun jika diminum melebihi dosis yang ditentukan dokter; efeknya akan berakibat buruk bagi tubuh. Badan bisa meriang atau bahkan keracunan. Begitu pula halnya dengan hizib dan ratib.

Hizib dan ratib, dilihat dari susunannya, sebenarnya sama. Yakni, sama-sama kumpulan ayat, dzikir; dan doa yang dipilih dan disusun oleh ulama salafush shalih yang termasyhur sebagai waliyullah (Kekasih Allah). Yang membedakan suatu ratib dengan ratib lain, atau hizib dan hizib lain, adalah asrar yang terkandung dalam setiap rangkaian ayat, doa, atau kutipan hadits, yang disesuaikan dengan waqi’iyyah (latar belakang penyusunan)-nya.

Namun, meski muncul pada waqi’ yang sama dan oleh penyusun yang sama, ratib sejak awal dirancang oleh para awliya untuk konsumsi umum, meski tetap mustajab. Semua orang bisa mengamalkan untuk memperkuat benteng dirinya, bahkan tanpa perlu ijazah. Meski tentu jika dengan ijazah lebih afdhal.

Sementara hizib, sejak awal dirancang untuk kalangan tertentu yang oleh sang wali (penyusun-red) dianggap memiliki kemampuan lebih, karena itu mengandung dosis yang sangat tinggi. Hizib juga biasanya mengandung banyak sirr (rahasia) yang tidak mudah dipahami oleh orang awam, seperti kutipan ayat yang isinya terkadang seperti tidak terkait dengan rangkaian doa sebelumnya padahal yang terkait adalah asbabun nuzul-nya. Hizib juga biasanya mengandung lebih banyak ismul a’zham (asma Allah yang agung), yang tidak ada dalam ratib.

Dan yang pasti, hizib tidak disusun berdasarkan keinginan sang ulama, karena hizib rata-rata merupakan ilham dari Allah SWT: Ada juga yang mendapatkannya langsung dari Rasulullah SAW seperti Hizbul Bahr, yang disusun oleh Syaikh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili.rhm Karena itulah, hizib mempunyai fadhilah dan khasiat yang luar biasa.

Selain itu, ada juga syarat usia yang cukup bagi pengamal hizib. Sebab orang yang sudah mengamalkan hizib biasanya tidak lepas dari ujian. Ada yang hatinya mudah panas, sehingga cepat marah. Ada yang, karena Allah SWT, menampakkan salah satu hizibnya dalam bentuk kehebatan, lalu pengamalnya kehilangan kontrol terhadap hatinya dan menjadi sombong. Ada juga yang berpengaruh ke rizqi, yang selalu terasa panas sehingga sering menguap tanpa bekas, dan sebagainya.

Karena itu pula diperlukan ijazah dari seorang ulama yang benar-benar mumpuni dalam arti mempunyai sanad ijazah hizib tersebut yang bersambung dan mengerti dosis hizib. Selain itu juga diperlukan guru yang shalih yang mengerti ilmu hati untuk mendampingi dan ikut membantu si pengamal dalam menata hati dan menghindari efek negatif hizib.

Ada satu lagi yang termasuk Khoriqul adah, yaitu kelebihan yang diberikan Allah didasari dari laku riyadhoh atau membaca wirid tertentu dengan dosis yang ditentukan pula, ilmu ini sering disebut ; ilmu hikmah, maka ilmu ini bisa dicapai atau dimiliki oleh siapapun, tidak memerlukan bakat khusus, siapa yang memenuhi persyaratan dan melaksanakan tata-caranya, dia akan memperolehnya.

Ada yang berpendapat, bahwa ilmu hikmah itu bukan bagian dari tasawuf, meskipun ada ulama-ulama sufi yang memberikan ilmu hikmah, ilmu hikmah bisa berupa do’a atau wirid-wirid semacam hizib, asma atau berupa wifiq\wafak ( rajah-rajah berupa angka maupun huruf hijaiyyah ).

Ulama-ulama yang menerangkan tentang ilmu hikmah ini semisal ; Syaikh Ali al-Buny dengan kitab man’baul hikmah yang masyhur, Abi hasan as-Syadzili dengan kitab Sirrul jalil yang membuat juga HIZIB NASHR yang melegenda.

HIZIB DAN JIMAT

Mengamalkan doa-doa, hizib dan memakai azimat pada dasanya tidak lepas dari ikhtiar atau usaha seorang hamba, yang dilakukan dalam bentuk doa kepada Allah SWT. Jadi sebenanya, membaca hizib, dan memakai azimat, tidak lebih sebagai salah satu bentuk doa kepada Allah SWT. Dan Allah SWT sangat menganjurkan seorang hamba untuk berdoa kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

اُدْعُوْنِيْ أَسْتَجِبْ لَكُمْ

‘Berdoalah kamu, niscya Aku akan mengabulkannya untukmu. (QS al-Mu’min: 60)

Ada beberapa dalil dari hadits Nabi yang menjelaskan kebolehan ini. Di antaranya adalah:

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الأشْجَعِي، قَالَ:” كُنَّا نَرْقِيْ فِيْ الجَاهِلِيَّةِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ؟ فَقَالَ: اعْرِضُوْا عَلَيّ رُقَاكُمْ، لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ

Dari Auf bin Malik al-Asja’i, ia meriwayatkan bahwa pada zaman Jahiliyah, kita selalu membuat azimat (dan semacamnya). Lalu kami bertanya kepada Rasulullah, bagaimana pendapatmu (ya Rasul) tentang hal itu. Rasul menjawab, ”Coba tunjukkan azimatmu itu padaku. Membuat azimat tidak apa-apa selama di dalamnya tidak terkandung kesyirikan.” (HR Muslim [4079]).

Dalam At-Thibb an-Nabawi, al-Hafizh al-Dzahabi menyitir sebuah hadits:

Dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Apabila salah satu di antara kamu bangun tidur, maka bacalah (bacaan yang artinya) Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah SWT yang sempurna dari kemurkaan dan siksaan-Nya, dari perbuatan jelek yang dilakukan hamba-Nya, dari godaan syetan serta dari kedatangannya padaku. Maka syetan itu tidak akan dapat membahayakan orang tersebut.” Abdullah bin Umar mengajarkan bacaan tersebut kepada anakanaknya yang baligh. Sedangkan yang belum baligh, ia menulisnya pada secarik kertas, kemudian digantungkan di lehernya. (At-Thibb an-Nabawi, hal 167).

Dengan demikian, hizib atau azimat dapat dibenarkan dalam agama Islam. Memang ada hadits yang secara tekstual mengindikasikan keharaman menggunakan azimat, misalnya:

عَنْ عَبْدِ اللهِ قاَلَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنَّ الرُّقًى وَالتَّمَائِمَ وَالتَّوَالَةَ شِرْكٌ

Dari Abdullah, ia berkata, Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “’Sesungguhnya hizib, azimat dan pelet, adalah perbuatan syirik.” (HR Ahmad [3385]).

Mengomentari hadits ini, Ibnu Hajar, salah seorang pakar ilmu hadits kenamaan, serta para ulama yang lain mengatakan:

“Keharaman yang terdapat dalam hadits itu, atau hadits yang lain, adalah apabila yang digantungkan itu tidak mengandung Al-Qur’an atau yang semisalnya. Apabila yang digantungkan itu berupa dzikir kepada Allah SWT, maka larangan itu tidak berlaku. Karena hal itu digunakan untuk mengambil barokah serta minta perlindungan dengan Nama Allah SWT, atau dzikir kepado-Nya.” (Faidhul Qadir, juz 6 hal 180-181)

lnilah dasar kebolehan membuat dan menggunakan amalan, hizib serta azimat. Karena itulah para ulama salaf semisal Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Taimiyyah juga membuat azimat.

A-Marruzi berkata, ”Seorang perempuan mengadu kepada Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal bahwa ia selalu gelisah apabila seorang diri di rumahnya. Kemudian Imam Ahmad bin Hanbal menulis dengan tangannya sendiri, basmalah, surat al-Fatihah dan mu’awwidzatain (surat al-Falaq dan an-Nas).” Al-Marrudzi juga menceritakan tentang Abu Abdillah yang menulis untuk orang yang sakit panas, basmalah, bismillah wa billah wa Muthammad Rasulullah, QS. al-Anbiya: 69-70, Allahumma rabbi jibrila dst. Abu Dawud menceritakan, “Saya melihat azimat yang dibungkus kulit di leher anak Abi Abdillah yang masih kecil.” Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah menulis QS Hud: 44 di dahinya orang yang mimisan (keluar darah dati hidungnya), dst.” (Al-Adab asy-Syar’iyyah wal Minah al-Mar’iyyah, juz II hal 307-310)

Namun tidak semua doa-doa dan azimat dapat dibenarkan. Setidaknya, ada tiga ketentuan yang harus diperhatikan.

1. Harus menggunakan Kalam Allah SWT, Sifat Allah, Asma Allah SWT ataupun sabda Rasulullah SAW

2. Menggunakan bahasa Arab ataupun bahasa lain yang dapat dipahami maknanya.

3. Tertanam keyakinan bahwa ruqyah itu tidak dapat memberi pengaruh apapun, tapi (apa yang diinginkan dapat terwujud) hanya karena takdir Allah SWT. Sedangkan doa dan azimat itu hanya sebagai salah satu sebab saja.” (Al-Ilaj bir-Ruqa minal Kitab was Sunnah, hal 82-83).

HIZIB DAURUL A'LA adalah hizibnya  Syaikhul Akbar Muhyiddin Ibnu Al'Arabi, seorang Guru Agung yang luar biasa dan banyak bertemu, berkawan dan belajar kepada para Waliyullah (qutub, abdal, akhyar dll) di zamannya, sampai akhirnya beliau juga menjadi Waliyullah Agung saat itu.

Salah satu karyanya yang fenomenal adalah kitab fushushul hikam dan futuhatul makiyyah ,dan salah satu amalan yang beliau ajarkan pada banyak orang adalah Hizib Wiqoyah ini atau Daurul a'la.

Mengenai saat pembacaan Hizib Wiqoyah ini, ada berbagai macam variasi, ada yang hanya membacanya ba'da subuh, ada yang membacanya ba'da isya, ada juga yang membacanya pada tengah malam,tetapi dari hasil pembelajaran saya pribadi melalui Guru2 saya dan juga pengkajian manuskrip2 peninggalan para Guru terdahulu, pengalaman Hizib tersebut bisa diamalkan kapan saja, kalaupun ada waktu khusus itu sengaja ditetapkan agar menjadi wirid (amalan yang diamalkan berulang-ulang dengan ketetuan yang selalu sama) pribadi bagi si pengamal.

Waktu pengamalan yang berbeda akan menghasilkan pola energy yang berbeda, menghasilkan faedah yang berbeda. Seperti halnya Hizib Bahri, tidak selalu harus diamalkan ba'da ashar atau ba'da subuh, pengamalan yang mengikuti kaidah falakiyyah akan menghasilkan khowas yang berbeda.

Hizib Wiqoyah atau Hizib Daurul A'la ini merupakan salah satu hizib yang mempunyai khowas sangat banyak, sebagaimna hal-nya Hizib Bahr , ada cara-cara tertentu dan wirid tambahan untuk mengaktifkan pola energy yang tersembunyi padanya, biasanya rahasia pembacaannya diajarkan seacara langsung, jarang ditulis dan kalupun ditulis, tulisannya itu disimpan dengan baik agar tidak sembarang orang bisa mengamalkannya.

Kalau diteliti dengan seksama, terlihat bahwa ada 33 kalimat inti dari Hizib Wiqoyah ini, dan 33 kalimat inti tersebut selalu diawali dengan 2 asmaul husna dan ayat quran pilihan yang memiliki karomah tertentu, nah inilah kunci pola energy yang tersembunyi tadi, dengan kaifiyat tertentu pola yang tersembunyi itu diaktifkan dengan kunci utama asmaul husna dan ayat tersebut,
Selain itu, pada pengajaran Hizib Wiqoyah ini juga diajarkan wafaq-wafaq mistik yang diambil dari kalimat dan asma tertentu yang ada didalam hizib ini.. tentunya hal ini bukanlah hal yang aneh laggi, karena Syeikhul Akbar Ibnu Arabi sangat ahli sekali dalam bidang ini, juga dalam bidang ilmu falak serta ilmu esoteris (rahasia) lainnya.

Lalu apa saja khowas dari Hizib ini?
Dengan metode pembacaan yang benar, hizib ini bermanfaat untuk perlindungan dari kejahatan manusia, hewan serta makhluk gaib, menghilangkan ketakutan, kecemasan, penyembuhan fisik (sakit kepala, sakit perut, sakit mata, sakit gigi, menyembuhkan demam, kebutaan,patah tulang, dll), penyembuhan mental-emosional (ketakutan, kecemasan, trauma), inner beauty, kewibawaan dan derajat, kemuliaan, disukai orang (mahabbah), kerezekian, kemudahan segala urusan, kemenangan perang, keberanian, menundukkan jin dan makhluk gaib yang mengganggu, membantu mengingat syahadat ketika sakaratul maut, dll.

Untuk mengamalkan hizib ini, harus dengan ijasah khusus kepada guru yang sudah diberi wewenang untuk memberi ijasah.

حزب الدور الأعلى للشيخ محي الدين بن العربي قدس الله سره

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ﴿1﴾الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿2﴾ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ﴿3﴾ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ﴿4﴾ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿5﴾ اهْدِنَاالصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿6﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ﴿7﴾
 اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ .
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ ﴿1﴾ هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ قَضَى أَجَلًا وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ ﴿2﴾ وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ ﴿3﴾ .
 (اللهم صلِّ على سيدنا محمدٍ النور الذاتي الساري سرهُ في سائر الأسماء والصفات وعلى آله وصحبه وسلم عدد كمال الله وكما يليق بكماله ، سبعاً)
اللهم صلِّ على الذاتِ المطلسمِ والغيبِ المطمطم والجمال المكتم لاهوتِ الجمال وناسوتِ الوصال وطلعة الحق كثوب إنسان الأزل من لم يزل في غاب ناسوت وصال القرب اللهم صلِّ به منه فيه عليه . يا عظيمُ أنت العظيمُ قدهمني أمرٌ عظيم وكل أمرٍ يهون بأمرك يا عظيم .
الصلاة والسلام عليك يا رسول الله . الصلاة والسلام عليك يا حبيب الله. الصلاة والسلام عليك يا سيد المرسلين  أنت لها ولكل كربٍ عظيم يا ربِّ فرج عنا بفضلِ بسم اللـه الرحمن الرحيم اللـهُمَّ يَاحَيُّ يَاقيُّوْمُ بِكَ تَحَصَنْتُ فَاحْمِنِى بِحِمَايَتِكَ كِفَايَةَ وِقايةٍ حَقِيْقَةٍ بُرْهَانٍ جِرْزِ أَمَانٍ بِسْمِ اللّـهِ
وَأدْخِلْنِى يَاأوَّالُ ياآخِرُ مَكْنُوْنٌ غَيْبِ سِرِّ دَآئِرَةٍ وَكَنْزِ مَاشآءَ اللّـهُ . لاَقُوَّةَ إلاَّ باِللّـهِ
وَاسْبِلْ عَلىَّ يَاحَلِيْمُ يَاسَتَّارُ كَنَفَ سِتْرٍ حِجَابٍ صِيانَةٍ نَجَّاةٍ وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللـهِ
وَأُبْنِ يَامُحِيْطُ يَاقَادِرُ عَلَيَّ سُوْرَامَانٍ إحَاطَةٍ مَجْدٍ سُرَادِقِ عِزٍّ عَظَمَتِ ذلِكَ خَيْرٌ ذلِكَ مِنْ أيَاتِ اللـهِ
وَأعِذ ْنِى يَارَقِيْبُ يَامُجِيْبُ وَاحْرُسْنِى أهْلِى وَمَالِى وَوَلَدِى بِكَلاَءَةٍ إغَاثَةٍ وَمَاهُمْ بِضَآرِيْنَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إلا بِإذْنِ اللّـهِ
وَقِنِى يَامَانِعُ يَانَافِعُ بِأيَاتِكَ وأسْماَئِكَ وَكَلِمَتِكَ شَرَّ الشَّيْطَانِ فإنَّهُ ظاَلِمٌ أوْجَبَّارٌ بَغىَ عَلَىَّ أخَذَتْهُ غَاشِيَةٌ مِنْ عَذَابِ اللَّـهِ
وَنَجِّنِى يَامُذِّلُّ يَامُنْتَقِمُ مِنْ عَبِيْدِكَ الظَّالِمِيْنَ اْلبَاغِيْنَ عَلَىَّ وَأعْوَانِهِمْ فإنَّهُمْ لِى أحَدٌ مِنْهُمْ بِسُوْءٍ خَذَلَهُ اللَّـه
وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقُلُوْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيْهِ مِنْ بَعْدِ اللـهِ
وَاكْفِنِى يَاقَابِضُ يَاقَهَّارُخَدِيْعَةَ مَكْرِهِمْ وَارْدُدْ عَنِّى مَذْمُوْمِيْنَ مَدْحُوْرِيْنَ بِتَخْسِيْرِتَغْيِيْرِتَدْسِيْرٍ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُوْنَهُ مِنْ دُوْنِ اللّـهِ
وَأذِقْنِى يَاسُبُّوْحُ يَاقُدُّوْسُ لَذَّةَ مُنَاجَاةٍ أقْبِلْ وَلاتَخَفْ إنَّكَ مِنَ الأمِنِيْنَ بِفَضْلِ اللـهِ يَامُمِيْتُ نَكَالَ وَبَالِ زَوَّالِ فَقُطِعَ دَابِرُ القَوْمِ الذِينَ ظَلَمُوْا وَالحَمْدُ لِلـهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ يَاسَلاَمُ يَامُؤمِنُ صَولَةُ جَوْلَةٍ دَوْلَةِ الأعْدَاءِ بِغَايَةٍ بِدَايَةٍ لَهُمُ البُشرَى فِى الحَيَوةِ الدُّنْيَا وَفِى الأخِرَةِ لاَتَبْدِيْلَ لِكَلِمَاتِ اللـهِ
وَتَوَجِّنِى يَاعَظِيْمُ يَامُعِزُّ بتِاَجٍ مَهَابَةٍ كِبْرِيَاءٍ جَلاًلٍ سُلْطَانٍ مَلَكُوتِ عِزّ عَظَمَةٍ وَلايَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ إنَّ العِزَّةَ للـهِ
وألبِسْنِى ياجَلِيْلُ ياكبيرُ خِلْعَةَ جَلالٍ جَمَالٍ إقباَلْ إكمَالْ فلماَّ رَأينَهُ أكبَرْنَهُ وقطَّعْنَ أيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ للـهِ
وألْقِ ياعزيزُ ياودودُ علىَّ مَحَبَةً مِنكَ فتَنْقادُ وتخْضَعُ بها قلوبُ عِبادِك بالمحبَّةِ والمُعزَّةِ والمَوَدَّةِ مِنْ تَعْطِيْفٍ تَأْلِيْفٍ يُحِبُّوْنَهُمْ كَحًبِّ اللـهِ والذين أمنوا أشَدُّ حُبًّا للـهِ
وأظهِرْ علىَّ ياظاهرُ ياباطنُ أثارَ أسْرَارِ أنوارِ يُحِبُّهُمْ ويُحِبُّونَهُ أذِلَةً على المؤمنين أعِزَّةِ على الكافرين يُجاهِدُونَ فى سبيل اللـه وَوَجِّهْ اللـهُمَّ ياصمدُ يانورُ وَجْهِىْ بِصِفَآءِ جَمَالِ أنْسِ إشْرَاقِ فإنْ حَاجُّوكَ فقُلْ أسلمتُ وجْهِيَ للـهِ
وجَمِّلْنِى يابديعُ السمواتِ والأرضِ ياذالجلال والإكرامِ بالفَصَاحَةِ والبلاغةِ والبَراعَةِ واحلُلْ عُقدَةَ مِنْ لِسَانِى يَفقَهُوا قَولِى بِرِفَّةٍ وأْفَةٍ رحمةِ ثُمَّ تَلِيْنُ جُلودُهُمْ وقلوبُهم إلى ذكر اللـهِ
وَقَلِّدْنِى ياشديدَ البَطْشِ ياجبَّارُ ياقهَّارُ والشِّدَةِ والقُوَةِ والمَنَعَةِ مِن بَأْسٍ جَبَرُوْةِ عَزَّةٍ وَمَا النَّصْرُ إلاَّ مِنْ عِنْدِ اللـهِ
وأدِمْ علىَّ يابَاسِطُ يافتَّاحُ بَهْجَةَ مَسَرَّةٍ رَبِّ اشْرَحْ لِى صَدْرِى وَيَسِّرْلِى أمْرِى بِلَطائِفِ عَوَاطِفِ ألمْ نشرَحْ لك صَدْرَكَ وَبِأشَائِرِ بَشَائِرِ يَوْمَئِذٍ يفرَحُ المُؤمِنُوْنَ بِنَصْرِ اللـهِ
وأنزِلِ اللـهُمَّ يالطيفُ يارؤفُ بقلبى الإيمان والإطْمِنَانِ والسكينةِ لأَكُوْنَ مِنَ الذينَ وتَطْمَئِنَّ قلوبهُم بذكر اللـه
وأفرِغْ عليَّ ياصَبُورُ ياشَكورُ صَبَرَ الذِينَ تدرَّعُوا إثباتَ يَقِينٍ كَمْ مِن فِئَةٍ تَلِيلَةٍ غَبَتْ فِئَةٍ كَثِيرَةَ بإذنِ اللـهِ
واحْفَظْنِى ياحفيظُ ياوكيلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِى وعَنْ يَمِيْنِى وَعَنْ شِماَلِى ومِن فوقِى ومِن تَحْتِى بِوُجُوِد شُهُودِ جُنُودِ له مُعاقِباتٌ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ ومِنْ خَلْفِى يَحْفَظُونَه مِن أمرٍ اللـه
وثبِّتِ اللـهمَّ ياثابِتُ ياقادم يادائم قدَمَيَّ كما ثبَّتَ القائلُ وكيفَ أخافُ ماأشرَكْتُمْ ولاتَخَافُوْنَ أنكم أشْرَكْتُمْ باللـهِ
وانْصُرْنِى يانِعْمَ المَولىَ ويانِعْمَ النَّصِيْرُ. عَلَى أعْدَائِـى نَصَرَ الذِى قِيْلَ لهُ أتَـتَّخِذُنا هُزُوًا. قال أعوذ باللـه
وأيِّدْنِى ياطالبُ ياغلبُ بِتَـأئِيدِ نَبِيِكَ مُحَمَدٍ صلى اللـه عليه وسلم المُؤَّيَّدِ بتَعْزيزٍ تَوقِيرٍ إنا أرسلناك شاهدا ومُبشِرا ونذيرا. لتُؤمِنُوا باللـه
واكفِنى ياكافى ياشافِى ْلأعْدَاءِ والأسْوَاءِ بِعَوَائِدِ فَوَائِدِ لو أنزلنا هذا القرآن على حبل لَرَأَيْتَهُ خاشِعا مُتصدِّعًا من خشية اللـه
وامنُنْ علىَّ ياوهَّابُ يارزذَاقُ بِحُصُولِ وُصُولِ قُبُولِ تَيْسِيْرتَسْخِيْرِ كُلُوْا واشرَبُوا مِن رزقِ اللـهِ
وتولَّنِى ياوليُّ ياعليُّ بالوِلايَةِ والعِنايَةِ والرَعَايَةِ والسلامةِ بمَزِيْدِ إيْرَادِ إسْعَادِ إمْدادٍ ذلك مِن فضل اللـه
وأكرِمْنِى ياغنِىِّ ياكريم بِالسَّعَادَةِ والكرامةِ والمغفرة وكما أكرَمْتَ الذين يَغُضُّوْنَ أصْوَاتَهُم عِندَ رَسُولِ اللـهِ
وَتُبْ عَلىَّ ياتوَّابُ ياحكيمُ توبةً نَصُوْحًا ِلأَكُونَ مِن الذين إذا فَعلوا فاحِشَةً أوظلموا أنفُسَهُم ذَكَرُوا اللـهَ فَاستَغْفَرُوا لذُنوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِروا الذنُوبَ إلا اللـهُ
وألزِمْنِى ياواحِدُ ياأحدُ كلمةَ التقوى كما ألزَمْتَ حبيبك محمدًا صلى اللـه عليه وسلم حيثُ قُلتَ فاعْلمْ أنهُ لا إله إلا اللـهُ
واختِمْ لِى يارحمنُ يارحيمُ بِحُسْنِ خاتمةٍ الناجِيْنَ والرَّاجِينَ قُلْ يَاعِبَادِيَ الذين أسرفوا على أنفُسِهِم لاتقنَطُوا من رحمة اللـه
وأسْكِـنِّى ياسميعُ ياقريبُ جَنَّةَ أُعِدَّتْ للمُتقين دعواهم فيها سبحانَكَ اللـهم وتحِيَتُهُمْ فيها سلامٌ وآخَرُدعْوَاهًم أنِ الحَمْدُ للـه
يا أللـه  يَا اللهُ يَا اللهُ يَا رَبُّ يَا نَافِعُ  يارحمن يارحيم أسئلك بحُرمَةِ هذه الأسماء والأيات والكلمات سُلطانًا نصيرًا ورِزقًا كثيرَا وقلبًا قريباً وقبرا منيرا وحِسابا يسيرا وأجرا كبيرا وصلى اللـه على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه وسلمَ تسليما كثيرا والحمد للـه رب العالمين
بسم الله الرحمن الرحيم  أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ ﴿1﴾ وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ ﴿2﴾ الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ ﴿3﴾ وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ ﴿4﴾ فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا﴿5﴾إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا﴿6﴾فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ﴿7﴾وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ﴿8﴾ ثلاثاً.
اللهم صلَّ على سيدنا محمدٍ صلاة تحل بها العقد وتفرج بها الكرب وتشرح بها الصدور ، وتيسر بها الأمور في الدنيا والآخرة وعلى آله وصحبه وسلم تسليماً كثيراً .

Keterangan:
Syekh Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi memiliki amalan wirid yang masyhur: al-Awrad al-yawmiyya, atau Awrad al-ayyam wa al-layal, yang dibaca setiap hari pada waktu tertentu. Dan kita tahu banyak wirid yang mesti dibaca dalam hari, atau waktu tertentu, untuk mendapatkan hasil optimal. Kita tentu menduga bahwa ada sesuatu dibalik “waktu” sehingga para Awliya Allah memberi perhatian pada bagian-bagian dari waktu itu.

Wird sulit diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Akar kata wird mengandung konotasi mencapai, menjangkau, sampai, muncul atau diterima. Bagi para pengembara gurun di Arab, akar kata ini merujuk pada sumber air, oase, atau sumur, tempat para pengelana mengambil air. Dalam konteks spiritual, istilah “wird” itu biasanya diaplikasikan pada amalan khusus pada waktu tertentu pada siang atau malah hari. Ini adalah amalan tambahan (sunnah). Ada banyak wirid sufi termasyhur selain wiridnya Ibn Arabi, seperti Hizb Bahr nya Syekh Hasan Syadzili, atau Hizb Nawawi, dan sebagainya. Amalan itu bukan amalan biasa, dan biasanya tidak dimaksudkan untuk dibaca secara berjamaah. Dalam kasus doa Ibn Arabi ini, dan doa-doa sufi agung lainnya, amalan lebib sering berbentuk seperti “munajat”, dimana isinya mengandung indikasi betapa mendalamnya pemahaman spiritual penyusunnya. Maknanya menunjukkan bahwa apa yang “dibaca” adalah hal-hal yang “mendatangi hati” (warid) dan “diterima” oleh pembacanya. Yang istimewa dari setiap amalan Wali Allah adalah ia bukan sekadar bacaan dan doa, tetapi juga sarana pendidikan ruhani yang penting.

Dalam surat ar-Rahman tercantum bahwa Setiap yang ada di langit dan bumi memohon kepada-Nya; dan setiap saat Dia selalu dalam kesibukan (beraktivitas). Bagi Syekh Ibn Arabi, ayat ini mengekspresikan tema eksistensi yang penting. Setiap saat, semua makhluk, dari yang sebesar galaksi sampai partikel terkecil, selalu memohon dan menerima anugerah pemeliharaan, baik secara fisik maupun ruhani. Menurut beliau, tak ada satupun makhluk yang tidak memohon kepada Allahu ta’ala, tetapi masing-masing menerima jawaban sesuai dengan tingkat permohonannya. Jadi sebagian dari “kesibukan” Tuhan adalah memberi jawaban atas doa. Respon Tuhan secara intrinsik adalah keniscayaan, sebab Dia-lah yang mewajibkan hamba-Nya berdoa dan Dia pula yang berjanji menjawabnya. Ini adalah hubungan timbal-balik: Tuhan dan hamba adalah yang meminta sekaligus yang diminta (talib ma matlub). Barangsiapa menjawab “panggilan” Tuhan melalui Hukum Wahyu, maka Tuhan akan menjawab permintaan hamba-Nya yang memenuhi panggilan-Nya. Maka, pada hakikatnya, menurut Syekh Ibn Arabi, semua permintaan tertuju kepada-Nya, sebab tidak sesuatupun (wujud) selain Dia.

Karena selalu ada jawaban dari Allah atas permintaan kita, maka kita seharusnya menyadari betul hal-hal yang dimintakan. Syekh Ibn Arabi menulis dalam Futuhat al-Makiyyah, IV:

“Allah lebih dekat kepada hamba-Nya ketimbang urat lehernya.” Disini Dia membandingkan kedekatan-Nya dengan hamba-Nya dengan kedekatan hamba dengan dirinya sendiri. Ketika seseorang “meminta” dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu dan kemudian ia bertindak, maka tak ada jeda waktu antara permintaan dengan respon. Momen meminta pada esensinya adalah momen menjawab. Jadi kedekatan Tuhan dalam menjawab hamba-Nya adalah sama dengan kedekatan hamba dalam menjawab permintaan pada dirinya sendiri.

Pada hakikatnya, dibalik setiap permintaan ada satu tujuan utama: memandang segala sesuatu dari perspektif riil. Dalam pengertian ini, setiap doa adalah sebentuk “mengingat” atau zikir. Saat membaca doa, seseorang [seharusnya] tidak sekadar membaca berulang-ulang secara mekanis, tetapi sembari menghayati dan menyadari serta mengakui Kehadiran Tuhan. Ini berarti ia harus mengingat-Nya dengan sepenuh hati. Jika ia sampai pada level ini maka doa menjadi ingatan timbal-balik, seperti firman-Nya: “Ingatlah Aku dan Aku akan mengingatmu.”

Bentuk doa yang paling intim adalah munajat, semacam dialog dengan Yang Maha Goib. Membaca teks doa hanya satu bagian. Bagian lain yang lebih penting adalah “situasi dialog yang akrab” dengan Allah, mengingat-Nya sepenuh hati, mengundang-Nya dan, karena itu, diundang oleh-Nya. Maka dengan berdoa seseorang sesungguhnya juga “kembali” kepada hakikat dari kenyataan, sebuah tindakan “kembali” ke asal yang mesti diulang secara konstan. Semua mursyid tarekat menekankan bahwa hal ini tidak bisa dicapai melalui proses intelektual biasa, tetapi melalui hati (qalb), sebab hati adalah cermin yang memantulkan tajalli Ilahi dan, karenanya, hanya hati yang :bisa “melihat” manifestasi ilahi. Kapasitas hati untuk melihat inilah yang mentransformasi doa dari bentuk repetisi menjadi sebuah percakapan yang bermakna dan intim.

Dalam kitab Fusush al-Hikam, Bab Tentang Muhammad, Syekh Ibn Arabi menulis: “Karena doa adalah percakapan yang intim, maka ia adalah juga zikir. Dan barangsiapa mengingat Allah, ia bersama dengan Allah dan “duduk” bersama-Nya… dan barangsiapa yang “duduk” bersama Allah dan memiliki mata batin yang jernih, ia akan “memandang teman duduknya.” Ini adalah mushahadah dan ru’yat. Jika dia tak memiliki mata batin maka dia tak akan mampu melihat-Nya. Sesungguhnya melalui penglihatan batin dalam doa inilah orang yang berdoa akan mengenali maqom spiritualnya.”

Doa Nabi Sulaiman Menundukkan Hewan dan Jin

  Nabiyullah Sulaiman  'alaihissalam  (AS) merupakan Nabi dan Rasul pilihan Allah Ta'ala yang dikaruniai kerajaan yang tidak dimilik...