Sabtu, 30 Oktober 2021

Hakikat Ilmu Dalam Menggapai Ketaqwaan


Janganlah engkau sebarkan ilmumu agar engkau dibenarkan oleh manusia. Namun sebarkanlah ilmumu agar Allah membenarkan dirimu, walaupun ada sebab yang mencercamu. Maka sebab yang ada diantara dirimu dan Allah dimana datangnya dari arah perintah-Nya kepadamu itu lebih baik bagimu daripada sebab yang ada diantara dirimu dan manusia, dari sisi, dimana Allah melarangmu.

Suatu sebab yang engkau bisa kembali kepada Allah lebih baik dari sebab yang memutuskan dirimu dengan Allah. Untuk tujuan itulah Allah mengaitkan dirimu dengan pahala dan siksa. Sebab tak ada yang diharapkan dan ditakuti kecuali dari sisi Allah. Allah cukup sebagai Pendamping dan Pembenar.

Hendaknya engkau selalu bersama Allah sebagai orang yang alim dan pengajar. Cukuplah Allah sebagai Penunjuk, Penolong dan Kekasih. Yakni Penunjuk yang memberi petunjuk padamu, dan menunjukkan bersamamu dan kepadamu; Penolong yang menolongmu, menolong bersamamu dan tidak menolong yang membuatmu sengsara; sebagai Kekasih yang mengasihimu, mengasihi bersamamu dan tidak mengasihi yang mencelakakanmu.

Ilmu-ilmu ini mengandung beberapa firasat dan penjelasan dalam obyek-obyek jiwa, dalam bisikan-bisikan, cobaan dan kehendak jiwa. Hati, harus melakukan analisa, penentraman dan pendasaran menurut jalan tauhid dan syariat, dengan kejernihan mahabbah dan keikhlasan demi agama dan sunnah.

Setelah itu, mereka mendapatkan tambahan-tambahan dalam tahap-tahap yaqin: berupa zuhud, sabar, syukur, harapan, ketakutan, tawakkal, ridha dan sebagainya, dari tahap-tahap yaqin. Inilah jalan para penempuh amal bagi Allah.

Sedangkan Ahlullah dan kalangan khusus-Nya, adalah kaum yang ditarik dari keburukan dan prinsip-prinsipnya. Mereka diperamalkan untuk kebajikan dan cabang-cabangnya. Mereka dicintakan untuk khalwat, dan dibukakan pintu jalan munajat. Allah memperkenalkan diri pada mereka, sehingga merekapun kenal Dia. Allah memberikan kecintaan kepada mereka sehingga mereka mencintai-Nya.

Allah menunjukkan jalan dan mereka menempuh jalan itu. Mereka selalu bersama-Nya dan bagi-Nya. Mereka tidak dibiarkan untuk yang lain-Nya, dan mereka tidak ditutupi dari-Nya. Namun justru mereka tertutup —bersama-Nya— dari selain-Nya. Mereka tidak mengenal selain Dia dan tidak pula mencintai selain Dia. ”Mereka adalah orang-orang yang oleh Allah diberi petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang memiliki hati nurani.”

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” [QS. Faathir : 28].

Al-Hafidh Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :

أي: إنما يخشاه حق خشيته العلماء العارفون به؛ لأنه كلما كانت المعرفة للعظيم القدير العليم الموصوف بصفات الكمال المنعوت بالأسماء الحسنى -كلما كانت المعرفة به أتمّ والعلم به أكمل، كانت الخشية له أعظم وأكثر


“Yaitu : orang-orang yang takut kepada-Nya dengan sebenar-benarnya hanyalah para ulama yang mengenal-Nya. Karena, setiap kali pengetahuan tentang Allah Yang Maha Agung, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui serta memiliki sifat-sifat yang sempurna dan nama-nama-Nya yang baik; semakin sempurna dan semakin lengkap, maka setiap kali itu pula rasa takut semakin besar dan semakin banyak.

وقال سعيد بن جبير: الخشية هي التي تحول بينك وبين معصية الله عز وجل.
وقال الحسن البصري: العالم مَن خشي الرحمن بالغيب، ورغب فيما رغب الله فيه، وزهد فيما سَخط الله فيه، ثم تلا الحسن: { إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ } .
وعن ابن مسعود، رضي الله عنه، أنه قال: ليس العلم عن كثرة الحديث، ولكن العلم عن كثرة الخشية.
وقال أحمد بن صالح المصري، عن ابن وهب، عن مالك قال: إن العلم ليس بكثرة الرواية، وإنما العلم نور يجعله الله في القلب.
قال أحمد بن صالح المصري : معناه: أن الخشية لا تدرك بكثرة الرواية، وأما العلم الذي فرض الله، عز وجل، أن يتبع فإنما هو الكتاب والسنة، وما جاء عن الصحابة، رضي الله عنهم، ومن بعدهم من أئمة المسلمين، فهذا لا يدرك إلا بالرواية ويكون تأويل قوله: "نور" يريد به فهم العلم، ومعرفة معانيه.

وقال سفيان الثوري، عن أبي حيان [التميمي] ، عن رجل قال: كان يقال: العلماء ثلاثة: عالم بالله عالم بأمر الله، وعالم بالله ليس بعالم بأمر الله، وعالم بأمر الله ليس بعالم بالله. فالعالم بالله وبأمر الله: الذي يخشى الله ويعلم الحدود والفرائض. والعالم بالله ليس بعالم بأمر الله: الذي يخشى الله ولا يعلم الحدود ولا الفرائض. والعالم بأمر الله ليس بعالم بالله: الذي يعلم الحدود والفرائض، ولا يخشى الله عز وجل.

“Sa’iid bin Jubair berkata : ‘Al-Khasyyah adalah sesuatu yang menghalangi antaramu dan maksiat kepada Allah‘azza wa jalla’.

Al-Hasan Al-Bashriy berkata : ‘Seorang ‘aalim adalah orang yang takut kepada Ar-Rahmaan (Allah) dalam kesendirian, senang dengan apa yang disenangi oleh Allah, zuhud terhadap apa yang yang dimurkai Allah’ – kemudian Al-Hasan membaca ayat : ‘Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun’ (QS. Faathir : 28).

Dari Ibnu Mas’uud radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : ‘Ilmu bukanlah dengan banyaknya bicara, akan tetapi ilmu itu adalah banyaknya khasyyah (rasa takut kepada Allah)’.

Telah berkata Ahmad bin Shaalih Al-Mishriy, dari Ibnu Wahb, dari Maalik (bin Anas), ia berkata : ‘Sesungguhnya ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat. Akan tetapi ilmu itu hanyalah cahaya yang Allah letakkan dalam hati’.

Ahmad bin Shaalih Al-Mishriy berkata : ‘Maknanya adalah, kasyyah itu tidak didapatkan dengan banyaknya riwayat. Adapun ilmu yang telah Allah ‘azza wa jallawajibkan untuk diikuti, maka ia hanyalah Al-Qur’an, As-Sunnah, dan apa-apa yang datang dari para shahabatradliyallaahu ‘anhum, dan yang datang dari generasi setelah mereka dari kalangan para imam kaum muslimin. Maka ini tidak mungkin didapatkan kecuali dengan riwayat. Sehingga makna perkataannya (Maalik) tentang ‘cahaya’, adalah pemahaman atas ilmu dan pengetahuan akan makna-maknanya”.

Telah berkata Sufyaan Ats-Tsauriy, dari Abu Hayyaan (At-Tamiimiy), dari seorang laki-laki, ia berkata : “Pernah dikatakan : ‘Ulama itu ada tiga : (1) Yang mengetahui Allah dan mengetahui perintah Allah, (2) Yang mengetahui Allah, namun tidak mengetahui perintah Allah, dan (3) Yang mengetahui perintah Allah, namun tidak mengetahui Allah. Ulama yang mengetahui Allah dan perintah-Nya adalah orang yang takut kepada Allah, mengetahui hukum-hukum dan kewajiban-kewajiban (yang telah ditetapkan-Nya). Ulama yang mengetahui Allah namun tidak mengetahui perintahnya adalah orang yang takut kepada Allah, namun tidak mengetahui hukum-hukum dan kewajiban-kewajiban (yang telah ditetapkan-Nya). Ulama yang mengetahui perintah Allah namun tidak mengetahui Allah adalah orang yang mengetahui hukum-hukum dan kewajiban-kewajiban (yang telah ditetapkan-Nya) namun tidak takut kepada Allah” [Tafsiir Al-Qur’aanil-‘Adhiim, 6/544-545, tahqiq : Saamiy bin Muhammad Salaamah; Daaruth-Thayyibah, Cet. 2/1420 H].

Al-Baghawiy  rahimahullah  menyebutkan atsar dalam Tafsir-nya :

وقال مسروق: كفى بخشية الله علمًا وكفى بالاغترار بالله جهلا. وقال رجل للشعبي: أفتني أيها العالم، فقال الشعبي: إنما العالم من خشي الله عز وجل.

“Masruuq berkata : ‘Cukuplah rasa takut kepada Allah disebut sebagai ilmu, dan cukuplah durhaka kepada Allah disebut sebagai kebodohan’. Dan seorang laki-laki perah berkata kepada Asy-Sya’biy : ‘Berilah aku fatwa wahai ‘aalim’. Maka ia (Asy-Sya’biy) berkata : ‘Seorang‘aalim itu hanyalah orang yang takut kepada Allah ‘azza wa jalla” [Tafsir Al-Baghawiy, 6/419].

Allah ta’ala berfirman :

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” [QS. Az-Zumar : 9].

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ (23)

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya” [QS. Az-Zumar : 23].

قال عبد الرزاق: حدثنا مَعْمَر قال: تلا قتادة، رحمه الله: { تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ } قال: هذا نعت أولياء الله، نعتهم الله بأن تقشعر جلودهم، وتبكي أعينهم، وتطمئن قلوبهم إلى ذكر الله، ولم ينعتهم بذهاب عقولهم والغشيان عليهم، إنما هذا في أهل البدع، وهذا من الشيطان.

‘Abdurrazzaaq berkata : Telah menceritakan kepada kami Ma’mar, ia berkata : Qataadah pernah membaca ayat ini : ‘gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah’ (QS. Az-Zumar : 23), ia berkata : “Ini adalah sifat para wali Allah. Allah telah menyifati mereka bahwasannya gemetar kulit mereka, menangis mata-mata mereka, dan tenang hati-hati mereka ketika mengingat Allah. Allah tidak menyifati mereka dengan hilangnya akal-akal dan mabuk kepada mereka. Sifat seperti ini hanyalah ada pada ahlul-bida’, dan ini berasal dari setan” [Tafsiir Ibni Katsiir, 7/95].

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، قَالَ: قُلْتُ لَجَدَّتِي أَسْمَاءَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: كَيْفَ كَانَ يَصْنَعُ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَرَأُوا الْقُرْآنَ؟ قَالَتْ:"كَانُوا كَمَا نَعَتَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى، تَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ وَتُقَشْعِرُّ جُلُودُهُمْ"، قُلْتُ: فَإِنَّ نَاسًا هَاهُنَا إِذَا سَمِعُوا ذَلِكَ تَأْخُذُهُمْ عَلَيْهِ غَشْيَةٌ، فَقَالَتْ:"أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ"

Dari ‘Abdullah bin ‘Urwah bin Az-Zubair, ia berkata : Aku bertanya kepada nenekku Asmaa’ radliyallaahu ‘anhaa : “Bagaimanakah sikap yang dilakukan para shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika mereka membaca Al-Qur’an ?”. Asmaa’ menjawab : “Mereka, sebagaimana yang Allah ta’ala terangkan kepada mereka, mata mereka meneteskan air mata dan kulit mereka bergetar”. Aku berkata : “Sesungguhnya manusia sekarang ini apabila mereka mendengar Al-Qur’an, membuat mereka pingsan”. Asmaa’ berkata : ‘A’uudzubillahi minasy-syaithaanir-rajiim (aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk)” [Tafsir Ibni Abi Haatim, hal. 3249 no. 18383, tahqiq : As’ad Muhammad Thayyib; Maktabah Nizaar Mushthafaa Al-Baaz, Cet. 1/1417 H. Lihat juga atsar ini dengan sanadnya dalam Tafsir Al-Baghawiy, 7/116].

Kondisi ulama dan penuntut ilmu tanpa ruh pernah menjadi keprihatinan Ibnul-Jauziy rahimahullah, sebagaimana perkataannya berikut :

رأيت أكثر العلماء مشتغلين بصورة العلم دون فهم حقيقته ومقصوده؛ فالقارئ مشغول بالروايات، عاكف على الشواذ، يرى أن المقصود نفس التلاوة، ولا يتلمح عظمة المتكلم، ولا زجر القرآن ووعده، وربما ظن أن حفظ القرآن يدفع عنه، فتراه يترخص في الذنوب، ولو فهم، لعلم أن الحجة عليه أقوى ممن لم يقرأ!
والمحدث يجمع الطرق، ويحفظ الأسانيد، ولا يتأمل مقصود المنقول، ويرى أنه قد حفظ على الناس الأحاديث، فهو يرجو بذلك السلامة، وربما ترخص في الخطايا، ظنًّا منه أن ما فعل في الشريعة يدفع عنه!
والفقيه قد وقع له أنه بما قد عرف من الجدال، الذي يقوي به خصامه، أو المسائل التي قد عرف فيها المذهب: قد حصل بما يفتي به الناس ما يرفع قدره، ويمحو ذنبه؛ فربما هجم على الخطايا، ظنًّا منه أن ذلك يدفع عنه! وربما لم يحفظ القرآن، ولم يعرف الحديث، وأنهما ينهيان عن الفواحش بزجر ورفق، وينضاف إليه -مع الجهل بهما- حب الرئاسة، وإيثار الغلبة في الجدل، فتزيد قسوة قلبه!
وعلى هذا أكثر الناس، صور العلم عندهم صناعة، فهي تكسبهم الكبر والحماقة....
.......
وهؤلاء لم يفهموا معنى العلم، وليس العلم صور الألفاظ؛ إنما المقصود فهم المراد منه، وذاك يورث الخشية والخوف، ويري المنة للمنعم بالعلم، وقوة الحجة له على المتعلم

“Aku telah melihat kebanyakan ulama dewasa ini hanyamenyibukkan diri dengan simbol ilmu saja tanpa kepahaman akan hakekat dan maksudnya. Seorangqaari’ sibuk dengan riwayat-riwayat dengan menetapi bacaan-bacaan syaadz untuk tujuan tilaawah semata, tanpa menatap akan keagungan Allah dan kandungan Al-Qur’an yang ia baca. Ia menyangka hapalan Al-Qur’an-nya akan dapat memberikan keringanan dalam dosa. Seandainya memahami, niscaya ia akan mengetahui bahwa hujjah Allah kepadanya lebih kuat daripada orang selain dirinya yang bukan qaari’.

Seorang muhaddits yang mengumpulkan jalan-jalan riwayat dan menghapal sanad-sanad, namun tidak merenungkan maksud dari riwayat yang ia bawa, sementara ia memandang dirinya telah menjaga manusia dengan hadits-hadits yang ia bawa; dan ia berharap dengan hal itu semua keselamatan (dari Allah). Ia memberikan keringanan bagi dirinya akan kesalahan-kesalahan dengan sangkaan bahwa jasa yang ia perbuat dalam syari’at dapat melindunginya.

Seorang yang faqiih yang dikenal sebagai ahli debat, kuat dalam perbantahan, serta menguasai berbagai permasalahan madzhab, sehingga fatwa yang diberikannya kepada manusia dapat mengangkat kedudukannya dan menghapus dosanya. Namun seringkali ia melakukan kesalahan dengan sangkaan bahwa apa yang ia lakukan selama ini dalam melindunginya. Seringkali orang seperti ini tidak menghapal Al-Qur’an ataupun mengetahui hadits dimana dua hal tersebut dapat mencegahnya dari berbagai macam kekejian dengan adanya faedah dan larangan. Ia pun – bersamaan dengan kebodohan terhadap Al-Qur’an dan hadits - condong kepada cinta kekuasaan dan kesenangan menang dalam berdebat. Maka, hatinya pun bertambah keras....
........
Mereka itu semua termasuk golongan orang yang tidak memahami makna ilmu. Ilmu itu bukanlah sekedar simbol-simbol lafadh saja. Akan tetapi ilmu itu hanyalah kepahaman akan maksud yang ada padanya dan mewariskan sikap tunduk dan takut, sehingga ia (ilmu) akan menjadi penolong dan hujjah baginya kelak di hadapan Allah ta’ala” [Shaidul-Khaathir, hal. 449-451; Daarul-Qalam, Cet. 1/1425 H].

حدثنا عبد الله بن عبد الرحمن، أنبأنا عبد الله بن صالح، حدثني معاوية بن صالح، عن عبد الرحمن بن جبير بن نفير، عن أبيه جبير بن نفير عن أبي الدرداء قال:  "كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم فشخص ببصره الى السماء، ثم قال: هذا أوان يختلس العلم من الناس حتى لا يقدروا منه على شيئ. فقال زياد بن لبيد الأنصاري: كيف يختلس منا، وقد قرأنا القرآن فوالله لنقرأنه، ولنقرئنه نساءنا وأبناءنا؟ قال: ثكلتك أمك يا زياد إن كنت لأعدك من فقهاء أهل المدينة، هذه التوراة والانجيل عند اليهود والنصارى فماذا تغني عنهم؟ قال جبير: فلقيت عبادة بن الصامت فقلت ألا تسمع ما يقول أخوك أبو الدرداء؟ فأخبرته بالذي قال أبو الدرداء، قال صدق أبو الدرداء إن شئت لأحدثنك بأول علم يرفع من الناس: الخشوع، يوشك أن تدخل مسجد الجامع فلا ترى فيه رجلا خاشعا". هذا حديث حسن غريب.

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Abdirrahmaan : Telah memberitakan kepada kami ‘Abdulah bin Shaalih : Telah menceritakan kepadaku Mu’aawiyyah bin Shaalih, dari ‘Abdurrahmaan bin Jubair bin Nufair, dari ayahnya, Jubair bin Jufair, dari Abud-Dardaa’, ia berkata : Kami pernah bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Lalu tiba-tiba beliau mengangkat pandangannya ke langit dan bersabda : “Inilah waktu ketika ilmu dirampas dari manusia hingga mereka tidak mampu melakukan apapun”. Ziyaad bin Labiir Al-Anshaariy berkata : “Bagaimana ilmu itu dirampas dari kami. Sungguh, kami telah membaca Al-Qur’an. Dan demi Allah, kami benar-benar senantiasa akan membacakannya kepada istri-istri dan anak-anak kami”. Beliau bersabda : “Celaka engkau wahai Ziyaad. Aku mengira engkau adalah salah satu fuqahaa’ penduduk Madiinah. Taurat dan Injil ini ada di sisi Yahudi dan Nashara. Lalu mengapa hal itu tidak mencukupi bagi mereka ?”. Jubair berkata : “Aku pernah menemui ‘Ubaadah bin Ash-Shaamit, lalu aku berkata : “Tidakkah engkau mendengar apa yang dikatakan saudaramu Abud-Dardaa’ ?. Lalu aku khabarkan apa yang dikatakan Abud-Dardaa’”. Ia (‘Ubaadah) berkata : “Abud-Dardaa’ benar. Apabila engkau ingin, akan aku katakan kepadamu awal ilmu yang akan diangkat dari manusia, yaitu :Khusyu’ (ketundukan). Boleh jadi engkau masuk masjid Jaami’, namun engkau tidak melihat satupun orang di dalamnya yang khusyu’” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2653, dan ia berkata : “Hadits hasan ghariib”].

Allah ta’ala berfirman :

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’ (tunduk) hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik” [QS. Al-Hadiid : 16].

حدثني يونس بن عبد الأعلى الصدفي. أخبرنا عبدالله بن وهب. أخبرني عمرو بن الحارث عن سعيد بن أبي هلال، عن عون بن عبدالله، عن أبيه؛ أن ابن مسعود قال: ما كان بين إسلامنا وبين أن عاتبنا الله بهذه الآية: {ألم يأن للذين آمنوا أن تخشع قلوبهم لذكر الله} إلا أربع سنين.

Telah menceritakan kepadaku Yuunus bin ‘Abdil-A’laa Ash-Shadafiy : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb : Telah mengkhabarkan kepadaku ‘Amru bin Al-Haarits, dari Sa’iid bin Abi Hilaal, dari ‘Aun bin ‘Abdillah, dari ayahnya : Bahwasannya Ibnu Mas’uud pernah berkata : “Jarak antara keislaman kami dengan celaan Allah kepada kami dengan ayat ini : ‘Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’ (tunduk) hati mereka mengingat Allah’ (QS. Al-Hadiid : 16) adalah empat tahun” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 3027].

حدثنا أبو أسامة عن عثمان بن واقد عن نافع قال : كان عبد الله بن عمر إذا قرأ هذه الآية ( ألم يأن للذين آمنوا أن تخشع قلوبهم لذكر الله ) بكى حتى يغلبه البكاء

Telah menceritakan kepada kami Abu Usaamah, dari ‘Utsmaan bin Waaqid, dari Naafi’, ia berkata : “’Abdullah bin ‘Umar apabila membaca ayat ini : ‘Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’ (tunduk) hati mereka mengingat Allah’ (QS. Al-Hadiid : 16) menangis tersedu-sedu” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 13/237; hasan].

Al-Haafidh Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata :

وقال الجنيد "الخشوع تذلل القلوب لعلام الغيوب".
وأجمع العارفون على أن (الخشوع) محله القلب وثمرته على الجوارح وهي تظهره و"رأى النبي صلى الله عليه وسلم رجلا يعبث بلحيته في الصلاة فقال: لو خشع قلب هذا لخشعت جوارحه"

وقال النبي صلى الله عليه وسلم "التقوى ههنا وأشار إلى صدره ثلاث مرات"

وقال بعض العارفين: حسن أدب الظاهر عنوان أدب الباطن ورأى بعضهم رجلا خاشع المنكبين والبدن فقال: يا فلان الخشوع ههنا وأشار إلى صدره لا ههنا وأشار إلى منكبيه.
وكان بعض الصحابة رضى الله عنهم وهو حذيفة يقول: "إياكم وخشوع النفاق فقيل له: وما خشوع النفاق؟ قال: أن ترى الجسد خاشعا والقلب ليس بخاشع" ورأى عمر بن الخطاب رضي الله عنه رجلا طأطأ رقبته في الصلاة فقال: "يا صاحب الرقبة ارفع رقبتك ليس الخشوع في الرقاب إنما الخشوع في القلوب"

“Al-Junaid berkata : ‘Khusyuu’ adalah tunduk/merendahkan hati kepada Allah ta’ala. Orang-orang ahli ma’rifat bersepakat bahwasanya khusyuu’ tempatnya di dalam hati, buahnya ada di (amalan) anggota badan yang menampakkannya. Nabi shalalaahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seorang laki-laki bermain-main dengan jenggotnya ketika shalat. Lalu beliau bersabda : ‘Seandainya hati ini khusyu’, niscaya akan khusyu’ pula angota badan’.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda : ‘Taqwa itu ada di sini’ – dan beliau berisyarat pada dadanya -. Beliau mengatakannya sebanyak tiga kali.

Sebagian ahli ma’rifat berkata : ‘Baiknya adab dari seseorang yang nampak merupakan alamat baiknya adab yang ada dalam dada (batin). Sebagian dari mereka pernah melihat seorang laki-laki yang merendahkan kedua pundak dan badannya. Maka ia berkata : ‘Wahai Fulaan, khusyuu’ itu ada di sini’ – dan ia berisyarat pada dadanya – ‘bukan di sini’ – dan ia berisyarat pada dua pundaknya.

Dulu sebagian shahabat radliyallaahu ‘anhum, di antaranya Hudzaifah, berkata : “Berhati-hatilah kalian akan khusyuu’ nifaaq”. Dikatakan kepadanya : ‘Apa itukhusyu’ nifaaq ?’. Ia menjawab : ‘Engkau melihat jasadnyakhusyu’ (tunduk), namun hatinya tidak khusyu’ (tunduk)’.

‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu pernah melihat seorang laki-laki menundukkan leher/kepalanya amat sangat ketika shalat, lalu ia berkata : ‘Wahai orang yang memiliki leher, angkatlah leher/kepalamu. Ke-khusyu’-an itu tidak terletak di leher, akan tetapi ke-khusyu’-an ada di dalam hati” [Madaarijus-Saalikiin, 1/521; Daarul-Kitaab Al-‘Arabiy, Cet. 2/1393 H].

عَن سعيد بن عبد الرحمن الجمحي أنا ابن ابن عمر: مر برجل من أهل العراق ساقطًا فقال: ما بال هذا؟ قالوا: إنه إذا قرئ عليه القرآن أو سمع ذكر الله سقط، قال ابن عمر: إنا لنخشى الله وما نسقط! وقال ابن عمر: إن الشيطان ليدخل في جوف أحدهم، ما كان هذا صنيع أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم

Dari Sa’iid bin ‘Abdirrahmaan Al-Jumahiy : Telah memberitakan kepada kami Ibnu ‘Umar, ia berjalan melewati seorang laki-laki dari kalangan penduduk ‘Iraaq yang terjatuh. Maka ia berkata : “Ada apa gerangan dengan orang ini ?”. Orang-orang menjawab : “Sesungguhnya ia apabila dibacakan kepada Al-Qur’an atau mendengar dzikrullah  terjatuh”. Ibnu ‘Umar berkata : “Sesungguhnya kami (para shahabat) sangat takut kepada Allah, namun kami tidak sampai terjatuh”. Ibnu ‘Umar melanjutkan : “Sesungguhnya setan masuk ke dalam hati salah seorang di antara kalian. Hal ini bukan termasuk yang dilakukan para shahabat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Diriwayatkan oleh Al-Baghawiy dalam Tafsir-nya, 7/116].

أخبرنا أحمد بن سعيد بن بشر قال حدثنا ابن أبي دليم قال حدثنا ابن وضاح قال حدثنا أبو الفضل صالح بن عبيد قال حدثنا سعيد بن عامر الضبعي سيد أهل البصرة غير مدافع عن صالح بن رستم أبي عامر الخزاز عن أيوب السختياني قال قال لي أبو قلابة إذا أحدث الله لك علما فأحدث له عبادة ولا يكن همك أن تحدث به

Telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin Sa’iid bin Bisyr, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dulaim, ia bekata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wadldlaah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abul-Fadhl Shaalih bin ‘Ubaid, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin ‘Aamir Adl-Dlab’iy, pembesar penduduk Bashrah, dari Shaalih bin Rustum Abu ‘Aamir Al-Khazzaaz, dari Ayyuub As-Sukhtiyaaniy, ia berkata : Telah berkata kepadaku Abu Qilaabah : “Apabila Allah menciptakan ilmu untukmu, maka balaslah Ia dengan beribadah kepada-Nya, dan jangan sampai tujuanmu adalah membicarakan (Dzat)-Nya” [Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil-Barr dalam Jaami’ Bayaanil-‘Ilmi wa Fadhlih, hal. 708 no. 1279].

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة وإسحاق بن إبراهيم ومحمد بن عبدالله بن نمير - واللفظ لابن نمير - (قال إسحاق: أخبرنا. وقال الآخران: حدثنا) أبو معاوية عن عاصم، عن عبدالله بن الحارث؛ وعن أبي عثمان النهدي، عن زيد بن أرقم. قال:
لا أقول لكم إلا كما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: كان يقول ".....اللهم! إني أعوذ بك من علم لا ينفع، ومن قلب لا يخشع، ومن نفس لا تشبع، ومن دعوة لا يستجاب لها".

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah, Ishaaq bin Ibraahiim, Muhammad bin ‘Abdillah bin Numair – dan lafadh ini milik Ibnu Numair – (Ishaaq berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami, sedangkan yang lain berkata : Telah menceritakan kepada kami) Abu Mu’aawiyyah, dari ‘Aashim, dari ‘Abdullah bin Al-Haarits; dan dari Abu ‘Utsmaan An-Nahdiy, dari Zaid bin Arqam, ia berkata : Aku tidak akan berkata kepada kalian kecuali sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda : “....Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’ (tunduk), dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak terkabulkan” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2722].

Pendeknya Usia Kita Di Dunia


Waktu di dunia ini sebenarnya pendek jika dibandingkan akhirat yang abadi. Adapun usia manusia di dunia ini lebih pendek lagi. Keberadaannya di dunia ini hanyalah beberapa hari yang terbatas, kemudian berjalan menuju akhirat. Oleh karena itu, setiap orang yang berakal dan cerdas harus segera memanfaatkan waktu dan membuahkan setiap kesempatan untuk beramal shalih, melakukan ketaatan, dan mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Kesempatan yang ada di dunia ini sedikit, dan perjalanan yang harus dilaluinya telah dekat, jalannya menakutkan, dan bahayanya besar. Sesungguhnya Allah Maha Melihat. Jika demikian, mungkinkah bagi orang yang berakal untuk menghilangkan detik-detik usianya yang terbatas ini untuk sesuatu yang tidak bermanfaat setelah kematiannya ?

Renungkanlah firman Allah ta’ala tentang orang-orang yang berdosa besar pada hari kiamat. Allah ta’ala berfirman :

قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الأرْضِ عَدَدَ سِنِينَ * قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَاسْأَلِ الْعَادِّينَ * قَالَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلا قَلِيلا لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ * أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لا تُرْجَعُونَ

“Allah bertanya: "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?". Mereka menjawab: "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung." Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui." Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? [QS. Al-Mukminuun : 112-115].

Renungkanlah ! Orang-orang yang berdosa itu mengakui bahwa mereka hidup di dunia ini hanya sebentar, yaitu sehari atau setengah hari. Pada hakekatnya kehidupan dunia ini singkat, jika dibandingkan akhirat. Kemudian, Allah menjelaskan hakekat ini seraya berfirman :

إِنْ لَبِثْتُمْ إِلا قَلِيلا لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui”.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مالي و لي الدنيا إنما مثلي ومثل الدنيا كمثل راكب قال في ظل شجرة ثم راح وتركها

“Apa urusanku dengan dunia ? Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia adalah seperti pengembara yang tidur siang hari di bawah naungan pohon. Ia istirahat, lalu meninggalkannya” [HR. Ahmad 1/391 dan At-Tirmidzi no. 2377; shahih].

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengkhabarkan kepada kita tentang pendeknya usia manusia di dunia dengan bersabda :

أعمار أمتي ما بين ستين إلى سبعين وأقلهم من يجوز ذلك

“Umur umatku antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan hanya sedikit di antara mereka yang melebihi umur tersebut” [HR. At-Tirmidzi no. 3550, Ibnu Majah no. 4236, Abu Ya’la no. 5990, Ibnu Hibbaan no. 2980, Al-Haakim 2/427, dan yang lainnya].

Oleh karena itu, sungguh celaka orang yang berjuang untuk kepentingan dunia yang pendek dan kemuliaan yang hina ini.

Orang bijak pernah berkata :

كيف يفرح بالدنيا من يومه يهدم شهره وشهره يهدم سنته وسنته تهدم عمره كيف يفرح من يقوده عمره إلى أجله وتقوده حياته إلى موته

“Bagaimana bahagia dengan dunia orang yang harinya menghabiskan bulannya, bulannya menghabiskan tahunnya, dan tahunnya menghabiskan umurnya ? Bagaimana bisa bahagia dengan dunia orang yang dituntun usianya kepada ajalnya, dan dituntun kehidupannya kepada kematiannya ?”.

Seorang penyair berkata :

نسير إلى الآجال في كل لحظة      وأيامنا تطوي وهن مراحل

ولم أر مثل الموت حقا كأنه       إذا ما تخطته الأماني باطل

وما أقبح التفريط في زمن الصبا      فكيف به والشيب للرأس شاعل

ترحل من الدنيا بزاد من التقي       فعمرك أيام وهن قلائل

“Kita berjalan kepada ajal di setiap setiap detik waktu

Hari-hari kita dilipat dan itu merupakan tahapan-tahapan

Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih hakiki daripada kematian

Jika sesuatu dilampaui angan-angan, maka bathil

Sungguh jelek kelalaian di waktu muda

Bagaimana uban itu memenuhi kepala ?

Ia berjalan dari dunia dengan bekal taqwa

Jadi, umurmu adalah kumpulan hari-hari; dan hari-hari itu amatlah sedikit

Adalah para shahabat, orang-orang yang patut menjadi teladan kita dalam kebaikan. Al-Imam Ibnu Rajab menggambarkan keadaan para shahabat akan hal itu :

لما سمع الصحابة رضي الله عنهم قول الله عز وجل: {فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ} [البقرة: 148]. {سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ} [الحديد: 21] فهموا أن المراد من ذلك أن يجتهد كل واحد منهم أن يكون هو السابق لغيره إلى هذه الكرامة والمسارع إلى بلوغ هذه الدرجة العالية فكان أحدهم إذا رأى من يعمل عملا يعجز عنه خشي أن يكون صاحب ذلك العمل هو السابق له فيحزن لفوات سبقه فكان تنافسهم في درجات الآخرة

“Ketika para shahabat radliyallaahu ‘anhu mendengar firman Allah ‘azza wa jalla : ‘Berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan’ (QS. Al-Baqarah : 148) ‘Berlomba-lombalah kalian untuk mendapatkan ampunan dari Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi’(QS. Al-Hadiid : 21); mereka memahami bahwa maksudnya adalah agar mereka bersungguh-sungguh dan berlomba-lomba dalam ketaatan dan amal shalih agar tiap-tiap orang di antara mereka segera mendapatkan kemuliaan dan derajat yang tinggi. Jika salah seorang di antara mereka melihat yang lainnya beramal dengan satu amalan yang ia merasa lemah untuk mengerjakannya, maka ia khawatir bahwa orang tersebut akan mendahuluinya. Ia merasa sedih karena luput dalam mengerjakan amal. Persaingan mereka (para shahabat) adalah dalam meraih (ketinggian) derajat di akhirat” [Lathaaiful-Ma’aarif, hal. 244].

Mari kita baca satu pucuk surat Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri yang pernah ditujukan kepada Khalifah mulia, ‘Umar bin ‘Abdil-‘Aziiz rahimahumallah :

لأصفنّ لك الدنيا : ساعة بين ساعتين؛ ساعة ماضية وساعة آتية، وساعة أنت فيها. فأما الماضية والباقية فليس تجد لراحتهما الذَّة؛ ولا لبلائها ألمًَا. وإنما الدنيا ساعة أنت فيها فخدعتك تلك الساعة عن الجنة وصيرتك إلى النار، وإنما اليوم إن عقلت ضيف نزل بك وهو مرتحل عنك، فإن أحسنت نزله وقراه شهد لك وأثنى عليك بذلك وصدق فيك، وإن أسأت ضيافته ولم تحسن قراه جال في عينك. وهما يومان بمنزلة الأخوين نزل بك أحدهما فأسأت إليه ولم تحسن قراه فيما بينك وبينه، فجاءك الآخر بعده فقال : إني قد جئتك بعد أخي فإن إحسانك إليَّ يمحو إساءتك إليه، ويغفر لك ما صنعت فدونك إذ نزلت بك وجئتك بعد أخي المرتحل عنك فلقد ظفرت بخلف منه إن عقلت، فداركْ ما قد أضعت. وإن ألحقت الآخر بالألى فما أخلقك أن تهلك بشهادتهما عليك. إن الذي بقي من العمر لا ثمن له ولا عدل، فلو جمعت الدنيا كلها ما عدلت يومًا بقي من عمر صاحبه، فلا تبع اليوم ولا عدله من الدنيا بغير ثمنه، ولا يكونن المقبور أعظم تعظيمًا لما في يديك منك وهو لك، فلعمري لو أن مدفونًا في قبره قيل له : هذه الدنيا أولها إلى آخرها تجعلها لولدك أم يوم تترك فيه تعمل لنفسك لاختار ذلك، وما كان ليجمع مع اليوم شيئًا إلا اختار اليوم عليه رغبة فيه وتعظيمًا له، بل لو اقتصر على ساعة خُيِّرَهَا وما بين أضعاف ذلك يكون لغيره، بل لو اقتصر على كلمة يقولها تكتب له وبين ما وصفت لك وأضعافه لاختار كلمة الواحدة عليه، فانتقد اليوم لنفسك، وأبصر الساعة، وأعظم الكلمة، واحذر الحسرة عند نزول السكرة، ولا تأمن أن تكون لهذا الكلام حجة نفعنا الله وإياك بالموعظة، ورزقنا وإياك خير العواقب. والسلام عليك ورحمة الله وبركته.

“Aku akan menggambarkan kepadamu bahwa dunia ini adalah satu masa di antara dua masa yang lain. Satu masa telah lampau, satu masa akan datang, dan satu masa lagi saat dimana engkau hidup sekarang. Adapun masa lampau dan yang akan datang, tidaklah memiliki kenikmatan dan juga tidak ada rasa sakit yang bisa dirasakan sekarang. Tinggallah dunia ini saat dimana engkau hidup sekarang ini. Saat itulah yang sering memperdayamu hingga lupa dengan akhirat, dan perjalanan yang bisa mengantarkanmu menuju neraka. Sesungguhnya hari ini - bila engkau mengerti - ibarat tamu yang mampir ke rumahmu dan akan segera pergi meninggalkan rumahmu. Apabila engkau memberi penginapan yang baik dan menghormatinya, ia akan menjadi saksi atas dirimu, memujimu, dan berbuat benar untuk dirimu. Akan tetapi bila engkau memberi penginapan yang jelek, melayaninya dengan kasar, maka ia akan terus terbayang di depan matamu.

Hari ini dan hari esok bagaikan dua orang bersaudara yang masing-masing bertamu kepadamu secara bergantian. Ketika yang pertama singgah, engkau bersikap jelek kepadanya dan tidak memberikan pelayanan yang baik antara engkau dan dia. Lalu di hari kemudian saudaranya yang akan berkata : “Sesungguhnya saudaraku telah engkau perlakukan buruk. Sekarang aku datang setelahnya. Bila engkau melayaniku dengan baik, niscaya engkau dapat membayar perlakuan burukmu terhadap saudaraku, dan aku akan memaafkan apa yang telah engkau perbuat (terhadap saudaraku). Maka cukuplah engkau memberi pelayanan kepadaku apabila aku singgah dan menemuimu setelah kepergian saudaraku tadi. Dengan itu engkau telah mendapat keuntungan sebagai gantinya bila engkau mau berpikir. Gapailah apa yang telah engkau sia-siakan”.

Bila yang datang kemudian engkau perlakukan seperti sebelumnya, alangkah meruginya hidupmu di dunia akibat persaksian keduanya atas kejahatanmu. Sisa umurmu tidak akan berguna dan berharga lagi. Apabila engkau kumpulkan dunia seluruhnya, tidak akan dapat menggantikannya meskipun hanya satu hari yang tersia-siakan. Maka, janganlah engkau jual hari ini, dan jangan engkau ganti hari ini dengan dunia tanpa faedah yang berharga. Janganlah sampai terjadi, bahwa orang yang telah dikubur saja lebih menghargai apa yang ada di hadapanmu daripada dirimu sendiri, padahal semua itu milikmu. Demi Allah, apabila orang yang telah dikebumikan itu ditanya : ‘Ini dunia beserta seisinya, dari awal sampai akhirnya, yang bisa engkau pergunakan untuk anak cucumu setelah kematianmu, agar mereka dapat berfoya-foya, yang keinginanmu hanyalah mereka; dan ini satu hari yang disediakan untukmu yang dapat engkau gunakan untuk beramal bagi dirimu” - manakah yang engkau pilih ? Tentu ia akan memilih satu hari yang terakhir. Tidak ada sesuatu yang dapat diperbandingkan dengan satu hari itu, melainkan ia pasti memilih hari itu karena kesukaannya dan penghormatannya terhadap hari itu. Bahkan apabila hanya dicukupkan satu jam, untuk diperbandingkan dengan berkali-kali lipat dari apa yang telah kita paparkan tadi; pasti ia juga akan memilih yang satu jam tadi. Meskipun dengan segala yang kita sebutkan dengan berbagai kelipatannya diberikan kepada orang lain. Bahkan apabila ia diberikan (pahala) satu kata yang ia ucapkan, untuk diperbandingkan dengan berlipat-lipat dari yang disebutkan tadi, pasti ia akan memilih satu kata itu.

Maka mulailah hari ini ! Cermatilah hari-harimu untuk kemaslahatanmu. Cermatilah meski hanya satu jam ! dan hormatilah meski hanya satu kata. Waspadailah kehinaan yang datang di akhir kehidupanmu. Janganlah engkau merasa aman untuk tidak dibantah oleh ucapanmu sendiri. Semoga nasihat ini berguna buatmu dan buat kami sendiri. Semoga Allah memberikan rizki kepada kita dengan akhir kehidupan yang baik. As-Salaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabatakaatuh”. [Hilyatul-Auliyaa’ 2/39].

وَأَنفِقُواْ مِن مّا رَزَقْنَاكُمْ مّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولُ رَبّ لَوْلآ أَخّرْتَنِيَ إِلَىَ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصّدّقَ وَأَكُن مّنَ الصّالِحِينَ *  وَلَن يُؤَخّرَ اللّهُ نَفْساً إِذَا جَآءَ أَجَلُهَآ وَاللّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata,”Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)-ku sebentar saja, sehingga aku dapat bersedekah dan aku menjadi orang-orang shalih”. Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan [QS. Al-Munafiquun : 10-11].

عَنْ ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ : كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ . وَكاَنَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ : إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

Dari Ibnu Umar radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam pernah memegang pundak kedua pundakku seraya bersabda :“Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara “. Ibnu Umar berkata : “Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu”. [HR. Al-Bukhari no. 6416, Al-Baihaqi 3/369, Ibnul-Mubaarak dalam Az-Zuhdno. 13, Al-Baghawiy no. 4029, dan yang lainnya].

إِغْتَنِمْ خَمْساًَ قًبْلَ خَمْسٍِ : حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَشَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ

”Manfaatkanlah lima (keadaan) sebelum (datangnya) lima (keadaan yang lain) : Hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum waktu sempitmu, masa mudamu sebelum masa tuamu, dan kayamu sebelum miskinmu”.

Waktu amat berharga, wahai saudaraku. Ia tidak mungkin kan kembali setelah berlalu pergi.

الوقت أنفاس لا تعود

“Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali.”

Syaikh ‘Abdul Malik Al Qosim berkata, “Waktu yang sedikit adalah harta berharga bagi seorang muslim di dunia ini. Waktu adalah nafas yang terbatas dan hari-hari yang dapat terhitung. Jika waktu yang sedikit itu yang hanya sesaat atau beberapa jam bisa berbuah kebaikan, maka ia sangat beruntung. Sebaliknya jika waktu disia-siakan dan dilalaikan, maka sungguh ia benar-benar merugi. Dan namanya waktu yang berlalu tidak mungkin kembali selamanya.” (Lihat risalah “Al Waqtu Anfas Laa Ta’ud”, hal. 3)

Tanda waktu itu begitu berharga bagi seorang muslim karena kelak ia akan ditanya, di mana waktu tersebut dihabiskan,

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Menyia-nyiakan waktu hanya untuk menunggu-nunggu pergantian waktu, itu sebenarnya lebih parah dari kematian. Ibnul Qayyim  rahimahullah dalam Al Fawa-id berkata,

اِضَاعَةُ الوَقْتِ اَشَدُّ مِنَ الموْتِ لِاَنَّ اِضَاعَةَ الوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَالموْتِ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَاَهْلِهَا

“Menyia-nyiakan waktu itu lebih parah dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”

Imam Syafi’i pernah mendapat nasehat dari seorang sufi,

الوقت كالسيف فإن قطعته وإلا قطعك، ونفسك إن لم تشغلها بالحق وإلا شغلتك بالباطل

“Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.” Lihat Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim, 3: 129.

Basyr bin Al Harits berkata,

مررت برجل من العُبَّاد بالبصرة وهو يبكي فقلت ما يُبكيك فقال أبكي على ما فرطت من عمري وعلى يومٍ مضى من أجلي لم يتبين فيه عملي

“Aku pernah melewati seorang ahli ibadah di Bashroh dan ia sedang menangis. Aku bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?” Ia menjawab, “Aku menangis karena umur yang luput dariku dan atas hari yang telah berlalu, semakin dekat pula ajalku, namun belum jelas juga amalku.” (Mujalasah wa Jawahir Al ‘Ilm, 1: 46, Asy Syamilah).

Jangan Jadi Orang yang Menyesal Kelak

Sebagian orang kegirangan jikalau ia diberi waktu yang panjang di dunia. Bahkan inilah harapan ketika nyawanya telah dicabut, ia ingin kembali di dunia untuk dipanjangkan umurnya supaya bisa beramal sholih. Orang-orang seperti inilah yang menyesal di akhirat kelak, semoga kita tidak termasuk orang-orang semacam itu. Allah Ta’ala berfirman,

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan” (QS. Al Mu’minun: 99-100).

Ketika orang kafir masuk ke neraka, mereka berharap keluar dan kembali ke dunia dan dipanjangkan umur supaya mereka bisa beramal. Allah Ta’ala berfirman,

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (QS. Fathir: 37).

Dalam ayat lainnya disebutkan pula,

وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

“Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.”” (QS. As Sajdah: 12).

وَتَرَى الظَّالِمِينَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ يَقُولُونَ هَلْ إِلَى مَرَدٍّ مِنْ سَبِيلٍ

“Dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata: “Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?”” (QS. Asy Syura: 44).

قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَى خُرُوجٍ مِنْ سَبِيلٍ ذَلِكُمْ بِأَنَّهُ إِذَا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ وَإِنْ يُشْرَكْ بِهِ تُؤْمِنُوا فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ

“Mereka menjawab: “Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Ghafir: 11-12).

Qotadah mengatakan, “Beramallah karena umur yang panjang itu akan sebagai dalil yang bisa menjatuhkanmu. Marilah kita berlindung kepada Allah dari menyia-nyiakan umur yang panjang dalam hal yang sia-sia.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553, pada tafsir surat Fathir ayat 37)

Renungkan: Umurmu yang Berkurang

Tidak ada awal dan akhir tahun, yang ada hanyalah umur yang semakin berkurang. Mengapa kita selalu berpikir bahwa umur kita bertambah, namun tidak memikirkan ajar semakin dekat? Benar kata Al Hasan Al Bashri, seorang tabi’in terkemuka yang menasehati kita agar bisa merenungkan bahwa semakin bertambah tahun, semakin bertambah hari, itu berarti berkurangnya umur kita setiap saat.

Hasan Al Bashri mengatakan,

ابن آدم إنما أنت أيام كلما ذهب يوم ذهب بعضك

“Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.” (Hilyatul Awliya’, 2: 148)

Al Hasan Al Bashri juga pernah berkata,

لم يزل الليلُ والنهار سريعين في نقص الأعمار ، وتقريبِ الآجال

“Malam dan siang akan terus berlalu dengan cepat dan umur pun berkurang, ajal (kematian) pun semakin dekat.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 383).

Semisal perkataan Al Hasan Al Bashri juga dikatakan oleh Al Fudhail bin ‘Iyadh. Beliau rahimahullah berkata pada seseorang, “Berapa umurmu sampai saat ini?” “Enam puluh tahun”, jawabnya. Fudhail berkata, “Itu berarti setelah 60 tahun, engkau akan menghadap Rabbmu.” Pria itu berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi rooji’un.” “Apa engkau tidak memahami maksud kalimat itu?”, tanya Fudhail. Lantas Fudhail berkata, “Maksud perkataanmu tadi adalah sesungguhnya kita adalah hamba yang akan kembali pada Allah. Siapa yang yakin dia adalah hamba Allah, maka ia pasti akan kembali pada-Nya. Jadi pada Allah-lah tempat terakhir kita kembali. Jika tahu kita akan kembali pada Allah, maka pasti kita akan ditanya. Kalau tahu kita akan ditanya, maka siapkanlah jawaban untuk pertanyaan tersebut.” Lihat percakapan Fudhail ini dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 383.

Jadi sungguh keliru, jika sebagian kita malah merayakan ulang tahun karena kita merasa telah bertambahnya umur. Seharusnya yang kita rasakan adalah umur kita semakin berkurang, lalu kita renungkan bagaimanakah amal kita selama hidup ini?

Bukankah yang Islam ajarkan, kita jangan hanya menunggu waktu, namun beramallah demi persiapan bekal untuk akhirat. Ibnu ‘Umar pernah berkata,

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

“Jika engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu waktu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu sore. Isilah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu, dan isilah masa hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari no. 6416). Hadits ini mengajarkan untuk tidak panjang angan-angan, bahwa hidup kita tidak lama.

‘Aun bin ‘Abdullah berkata, “Sikapilah bahwa besok adalah ajalmu. Karena begitu banyak orang yang menemui hari besok, ia malah tidak bisa menyempurnakannya. Begitu banyak orang yang berangan-angan panjang umur, ia malah tidak bisa menemui hari esok. Seharusnya ketika engkau mengingat kematian, engkau akan benci terhadap sikap panjang angan-angan.” ‘Aun juga berkata,

إنَّ من أنفع أيام المؤمن له في الدنيا ما ظن أنَّه لا يدرك آخره

“Sesungguhnya hari yang bermanfaat bagi seorang mukmin di dunia adalah ia merasa bahwa hari besok sulit ia temui.” Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 385.

Hafalan Shohabat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu Dalam Hadits Dan Selainnya


Abdurahman bin Sakhr merupakan nama asli dari sahabat yang akrab kita dengar dengan Abu Hurairah. Beliau di panggil Abu Hurairah  karena di waktu kecil ia di perintahkan untuk mengembala beberapa ekor kambing milik keluarganya, di sela sela ia mengembala kambing  Abu Hurairah selalu bermain dengan kucing kecilnya di saat siang hari dan jika malam sudah tiba, kucing tersebut di letakkan di atas pohon lalu  Abu Hurairah pulang kerumahnya. Kebiasaan ini berjalan terus sampai teman sebayanya memanggilnya dengan Abu Hurairah yang berarti si pemilik kucing kecil.

Tempat Asal Abu Hurairah

Abu Hurairah seorang sahabat yang lahir di daerah Ad Daus Yaman, daerah yang mulanya selalu menentang risalah kenabian Muhammad Shallahu Alaihi wa Sallam, sampai datanglah seorang sahabat bernama Thufail bin Amru Ad Dausi  Radhiallahu anhu yang pernah bertemu Nabi Muhammad Shallahu Alaihi wa Sallam dan mengikrarkan islamnya sebelum hijrahnya Nabi Shallahu Alaihi wa Sallam ke Madinah.

Tufail bin ‘Amru Ad Dausi yang mendakwahkan Islam kepada kaumnya Ad Daus, namun tidak ada dari kota Ad Daus yang menerima Islam kecuali satu orang yaitu Abu Hurairah Radhiallahu anhu.

Pada awal tahun ke tujuh hijriah diumurnya yang ke dua puluh enam, tekad Abu Hurairah Radhiallahu anhu untuk hijrah dari negrinya menuju Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bulat, dengan perbekalan yang seadanya tak membuat Abu Hurairah Radhiallahu anhu mundur, bahkan ia pernah bersyair saat tiba di Madinah,

يا ليلة من طولها و عنائها

على أنها من دارة الكفر نجت

Wahai malam yang panjang serta melelahkan, namun saat itulah aku terselamatkan dari negri kafir.

Tetapi tibanya beliau di malam itu tidak dapat di sambut dengan Rasulullah dan para sahabat besar karena mereka semua sedang berada di medan perang Khaibar.

Sampailah waktu Subuh, kemudian para sahabat berkumpul untuk melaksanakan shalat subuh yang di pimpin oleh Siba bin Urfutoh Radhiallahu anhu  yang telah di tunjuk oleh Rasulullah menjadi imam kala Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam  berperang saat itu.

Setelah shalat subuh selesai tak lama terdengar suara suara yang menandakan tibanya tentara kaum Muslimin berserta panglimanya yaitu Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam , sebagaimana biasanya Rasulullah langsung menuju masjid shalat dua rakaat dan menemui beberapa sahabat, kemudian di lihatlah oleh Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam seseorang yang mempunyai kulit agak gelap, lebar pundaknya serta memiliki celah diantara dua gigi depannya dan langsung membaiat Rasulullah. Kemudian, Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam mengatakan,

ممن أنت ؟ قلت : من دوس، قال: ما كنت أرى في دوس احدا فيه خير

“Dari mana engkau?”, Abu Hurairah menjawab, “Aku berasal dari Ad Daus”, Rasulullah mengatakan, “Sungguh aku dulu tidak menyangka ada kebaikan di  Daus”.

Kehidupan Awal Di Madinah

Abu Hurairah yang merupakan tamu baru di kota Madinah, juga dikenal pada saat itu seorang sahabat yang sangat miskin, keputusan ia berhijrah dari yaman ke tanah Madinah membuatnya kehilangan harta harta yang ia miliki di yaman. Namun, kaum muslimin saat itu telah menyediakan tempat untuk tamu Allah yang  tidak mempunyai harta dan keluarga. Mereka akan di tempatkan di masjid, seraya belajar Islam kepada Rasulullah Shallahu’Alaihi wa Sallam .

Ahlu suffah merupakan sebutan untuk mereka para penghuni masjid Nabawi saat itu, dan sahabat Abu Hurairah merupakan orang yang paling fakih di antara ahlu Suffah yang lain, karena jarangnya ia absen dalam mendengarkan Rasullah saat menyampaikan pelajaran.

Para Ahlu Suffah mendapatkan makanan jika Rasulullah mendapatkan makanan, dan mereka juga tak makan jika keluarga Rasulullah tak makan  maka laparnya Ahlu Suffah berarti laparnya Rasulullah serta keluarganya Shallahu Alaihi wa aalihi wa Sallam.

Kemiskinan Abu Hurairah

Abu Hurairah merupakan seorang sahabat yang sangat sabar dengan apa yang Allah  timpahkan, kemiskinannya membuat benar-benar ia tak asing lagi dengan rasa lapar yang selalu hadir hampir di setiap harinya, ia tak asing dengan batu yang selalu mengikat perutnya, bahkan ia pernah mengatakan, “Aku pernah merasakan lapar sampai aku ingin pingsan, kemudian agar aku mendapatkan makanan, aku berpura-pura seperti  orang yang kejang diantara mimbar Rasul dan rumah Aisyah sampai orang-orang datang kepadaku kemudian meruqyaku, aku langsung mengangkat kepalaku lalu aku katakan,

ليس الذي ترى، إنما هو الجوع

“Ini bukan yang seperti kalian lihat (kejang karena kesurupan,pent-) namun aku begini karena lapar”.

Kelaparan Bersama Abu Bakar, Umar dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam

Dikisahkan bahwa Abu Hurairah di suatu hari telah mengikat dengan keras perutnya dengan batu agar tidak terasa lapar yang menusuk, demi mendapatkan makanan, beliau duduk di jalan yang biasa di lewati oleh para sahabat.

Tak lama berselang lewatlah Sahabat yang mulia Abu Bakar Radhiallahu Anhu di hadapan Abu Hurairah, maka langsung Abu Hurairah menghampiri Abu Bakar bertanya-tanya tentang masalah agama, namun di dalam pertanyaan tersebut Abu Hurairah berharap pertanyaan yang ia layangkan dapat membawanya diundang makan bersama Abu Bakar, namun tidak seperti yang di harapkan, lalu berpisahlah mereka berdua.

Kemudian lewatlah Al Faruq Umar bin Khattab Radhiallahu Anhu , maka Abu Hurairah Radhiallahu Anhu  melakukan apa yang ia lakukan bersama Abu Bakar dengan harapan yang sama, namun tidak juga seperti yang di harapkan. Kedua sahabat yang mulia itu tidak mengetahui maksud dari Abu Hurairah.

Berikutnya, lewatlah manusia yang paling mulia Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam , melihat Abu Hurairah yang sedang duduk-duduk di jalan, Rasulullah mengetahui bahwa sahabatnya itu sedang kelaparan, lalu Rasulullah memanggil Abu Hurairah untuk datang kerumahnya, ternyata di dapati di dalam rumah Rasulullah hadiah berupa satu bejana susu. Kemudian Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam  berkata, “Abu hurairah panggilah para ahli suffah”. Mendengar perintah tersebut abu hurairah pergi memanggil ahli suffah sambil berkata dalam hatinya, “kenapa tidak saya dikasih minum dulu, jika telah datang ahlu suffah maka akan habis susu itu, tapi biarlah kelaparan ku ini tak menghalangi ku untuk taat kepada Allah dan RasulNya”.

Datanglah Ahlu Suffah dengan perasaan senang menyambut panggilan, begitu mereka duduk, Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam  memerintahkan Abu Hurairah untuk menuangkan kepada setiap ahlu suffah susu tersebut sampai semua kenyang. Maka tak tersisa lagi yang kelaparan pada saat itu kecuali Abu Hurairah dan Rasulullah, kemudian Rasulullah senyum sambil melihat bejana susu lalu melihat kepada Abu Hurairah yang kelaparan,

“ wahai Abu hurairah tinggal tersisa aku dan kamu”,

Abu Hurairah menjawab, “benar wahai Rasulullah”,

Rasulullah berkata, “minumlah”

Abu Hurairah berkata, dan akupun langsung meminumnya, dan tidaklah Rasulullah memerintahkan ku untuk terus meminum susu tersebut sampai aku tidak mendapatkan ruang kosong dalam lambungku, setelah aku kenyang barulah Rasulullah meminum susunya".

Subhanallah, terllihat sekali kelembutan, kebaikan, kepedulian Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam  kepada para sahabatnya, dan lihatlah ketaatan Abu Hurairah Radhiallahu Anhu  akan perintah Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam .

حدثنا أحمد بن أبي بكر أبو مصعب قال: حدثنا محمد بن إبراهيم بن دينار، عن ابن أبي ذئب، عن سعيد المقبري، عن أبي هريرة قال : قلت: يا رسول الله، إني أسمع منك حديث كثيرا أنساه؟ قال: (أبسط رداءك). فبسطته، قال: فغرف بيديه، ثم قال: (ضمه) فضممته، فما نسيت شيئا بعده.

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abi Bakr Abu Mush’ab, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ibraahiim bin Diinaar, dari Ibnu Abi Dzi’b, dari Sa’iid Al-Maqburiy, dari Abu Hurairah, ia berkata : Aku berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendengar banyak hadits darimu, namun (saat ini) aku lupa”. Beliaushallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Bentangkanlah selendangmu !’. Akupun kemudian membentangkan kain selendangku. Lalu beliau menggerakkan tangannya seakan-akan menciduk sesuatu, kemudian bersabda :‘Tangkupkanlah ia’. Aku pun menangkupkannya. Semenjak itu aku tidak pernah melupakan sesuatu” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 119].

Muslim meriwayatkan dengan lafadh :

فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم "من يبسط ثوبه فلن ينسى شيئا سمعه مني" فبسطت ثوبي حتى قضى حديثه. ثم ضممته إلي. فما نسيت شيئا سمعته منه.

“Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :‘Barangsiapa yang membentangkan pakaiannya, niscaya ia tidak akan lupa sedikitpun apa-apa yang ia dengar dariku’. Maka aku (Abu Hurairah) pun membentangkan pakaianku hingga beliau selesai bersabda. Kemudian aku lipat/tangkupkan pada diriku. (Semenjak saat itu), aku tidak lupa terhadap apa-apa yang aku dengardari beliau” [Shahih Muslim no. 2492].

Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

وفي هذين الحديثين فضيلة ظاهرة لأبي هريرة ومعجزة واضحة من علامات النبوة، لأن النسيان من لوازم الإنسان، وقد اعترف أبو هريرة بأنه كان يكثر منه ثم تخلف عنه ببركة النبي صلى الله عليه وسلم.

“Dalam dua hadits ini terdapat keutamaan nyata yang ada pada diri Abu Hurairah, serta mu’jizat yang jelas dari tanda-tanda kenabian. Hal itu dikarenakan, sifat lupa adalah sesuatu yang biasa terjadi pada diri manusia. Abu Hurairah sendiri mengakui bahwa dirinya dulu mempunyai banyak sifat lupa, kemudian hal ini hilang dikarenakan barakah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Fathul-Baariy, 1/215].

Kemudian beliau (Ibnu Hajar) melanjutkan :

وفي المستدرك للحاكم من حديث زيد بن ثابت قال: "كنت أنا وأبو هريرة وآخر عند النبي صلى الله عليه وسلم فقال: "ادعوا." فدعوت أنا وصاحبي وأمن النبي صلى الله عليه وسلم، ثم دعا أبو هريرة فقال: اللهم إني أسألك مثل ما سألك صاحباي، وأسألك علما لا ينسى. فأمن النبي صلى الله عليه وسلم فقلنا: ونحن كذلك يا رسول الله، فقال: "سبقكما الغلام الدوسي".

“Dan dalam Al-Mustadrak karangan Al-Haakim dari hadits Zaid bin Tsaabit ia berkata : ‘Aku, Abu Hurairah, dan seorang yang lain pernah berada di sisi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda : ‘Berdoalah kalian’. Aku dan temanku pun berdoa, sementara Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengaminkannya. Kemudian Abu Hurairah berdoa : ‘Ya Allah, sesunguhnya aku memohon kepada-Mu semisal apa yang dimohonkan oleh dua orang shahabatku ini. Dan aku memohon kepada-Mu ilmu yang tidak pernah aku lupakan’. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengaminkannya. Kami pun berkata : ‘Dan kami pun memohon seperti itu juga wahai Rasulullah’. Beliau menjawab : ‘Anak dari suku Daus itu telah mendahului kalian berdua” [idem].

Adz-Dzahabiy rahimahullah berkata :

حماد بن زيد: حدثني عمرو بن عبيد الانصاري: حدثني أبو الزعيزعة كاتب مروان: أن مروان أرسل إلى أبي هريرة، فجعل يسأله، وأجلسني خلف السرير، وأنا أكتب، حتى إذا كان رأس الحول، دعابه، فأقعده من وراء الحجاب، فجعل يسأله عن ذلك الكتاب، فما زاد ولا نقض، ولا قدم ولا أخر.
قلت: هكذا فليكن الحفظ.

“(Berkata) Hammad bin Zaid : Telah menceritakan kepadaku ‘Amr bin ‘Ubaid Al-Anshaariy : Telah menceritakan kepadaku Abuz-Zu’aizi’ah, sekretaris Marwaan : Bahwasannya Marwaan pernah mengutusnya seseorang kepada Abu Hurairah untuk menanyakan sesuatu. Ia (Marwaan) menyuruhku duduk di belakang pembaringan, dan aku menulis (apa yang ia tanyakan kepada Abu Hurairah). Hingga datang awal tahun berikutnya, Marwaan memanggil Abu Hurairah dan menyuruhnya duduk di balik hijab. Lalu ia bertanya kepada Abu Hurairah tentang isi tulisan (yang dulu pernah ia tanyakan kepadanya). Tidaklah Abu Hurairah menambahkan, mengurangi, mendahulukan, dan mengakhirkan isi tulisan tersebut.

Aku (Adz-Dzahabiy) berkata : Begitulah yang seharusnya (yang dilakukan dalam) menghapal” [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 2/598].

Adz-Dzahabiy rahimahullah mensifati Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu sebagai :

الامام الفقيه المجتهد الحافظ، صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم، أبو هريرة الدوسي اليماني.
سيد الحفاظ الاثبات.

“Al-imam, al-faqih, al-mujtahid, al-haafidh, salah seorang shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Abu Hurairah Ad-Dausiy Al-Yamaaniy. Penghulu penghapal hadits yang terpercaya” [idem, 2/578].

وقد كان أبو هريرة وثيق الحفظ، ما علمنا أنه أخطأ في حديث.

“Abu Hurairah adalah orang yang terpercaya dalam hapalannya. Kami tidak pernah mengetahuinya salah dalam (meriwayatkan) hadits” [idem, 2/621].

عن بن عمر أنه قال لأبي هريرة : يا أبا هريرة أنت كنت ألزمنا لرسول الله صلى الله عليه وسلم وأحفظنا لحديثه

Dari Ibnu ‘Umar, bahwasannya ia pernah berkata kepada Abu Hurairah : “Wahai Abu Hurairah, engkau adalah orang yang paling sering mendampingi (bersama) Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam dan paling hapal hadits beliau di antara kami” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3836, Ahmad 2/2, ‘Abdurrazzaq no. 6270, Al-Haakim 3/510, dan Ibnul-Atsir dalam Usudul-Ghaabah 6/320. At-Tirmidziy berkata : “Hadits ini hasan”. Al-Albaniy berkata : “Shahiihul-isnaad”].

عن محمد بن عمارة بن عمرو بن حزم أنه قعد في مجلس فيه أبو هريرة وفيه مشيخة من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم بضعة عشر رجلا فجعل أبو هريرة يحدثهم عن النبي صلى الله عليه وسلم فلا يعرفه بعضهم ثم يتراجعون فيه فيعرفه بعضهم ثم يحدثهم ولا يعرفه بعضهم ثم يعرفه بعض حتى فعل ذلك مرارا فعرفت يومئذ أن أبا هريرة أحفظ الناس عن النبي صلى الله عليه وسلم

Dari Muhammad bin ‘Umaarah bin ‘Amr bin Hazm, bahwasannya ia pernah duduk di dalam suatu majelis yang dihadiri oleh belasan shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang telah tua (senior). Lalu Abu Hurairah menyampaikan satu hadits dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka. Sebagian di antara mereka ada yang tidak mengetahui hadits tersebut. Maka mereka mengulang-ulangnya hingga benar-benar mengetahuinya (menghapalnya). Kemudian Abu Hurairah menyampaikan hadits yang lain kepada mereka dimana sebagian di antara mereka tidak mengetahuinya. (Mereka mengulangnya) hingga mereka mengetahuinya. Begitulah yang terjadi berulang-ulang. Sejak itu saat itu aku mengetahui bahwa Abu Hurairah adalah orang yang paling hapal hadits dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy dalam Al-Kabiir 1/186-187 no. 574].

Tidaklah heran jika Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu – dengan kelebihannya tersebut - menjadi shahabat paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

عن أبي هريرة قال: ما من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم أحد أكثر حديثا عنه مني، إلا ما كان من عبد الله بن عمرو، فإنه كان يكتب ولا أكتب.

Dari Abu Hurairah, ia berkata : “Tidak ada seorang pun dari kalangan shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang lebih banyak dariku dalam meriwayatkan hadits dari beliau, kecuali ‘Abdullah bin ‘Amr. Ia menulis, sedangkan aku tidak menulis” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 113, Ahmad 2/248-249, At-Tirmidziy no. 2668, dan yang lainnya].

Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

هذا استدلال من أبي هريرة على ما ذكره من أكثرية ما عند عبد الله بن عمرو أي ابن العاص على ما عنده، ويستفاد من ذلك أن أبا هريرة كان جازما بأنه ليس في الصحابة أكثر حديثا عن النبي صلى الله عليه وسلم منه إلا عبد الله، مع أن الموجود المروي عن عبد الله بن عمرو أقل من الموجود المروي عن أبي هريرة بأضعاف مضاعفة، فإن قلنا الاستثناء منقطع فلا إشكال، إذ التقدير: لكن الذي كان من عبد الله وهو الكتابة لم يكن مني، سواء لزم منه كونه أكثر حديثا لما تقتضيه العادة أم لا. وإن قلنا الاستثناء متصل فالسبب فيه من جهات: أحدها أن عبد الله كان مشتغلا بالعبادة أكثر من اشتغاله بالتعليم فقلت الرواية عنه. ثانيها أنه كان أكثر مقامه بعد فتوح الأمصار بمصر أو بالطائف ولم تكن الرحلة إليهما ممن يطلب العلم كالرحلة إلى المدينة، وكان أبو هريرة متصديا فيها للفتوى والتحديث إلى أن مات، ويظهر هذا من كثرة من حمل عن أبي هريرة، فقد ذكر البخاري أنه روى عنه ثمانمائة نفس من التابعين، ولم يقع هذا لغيره. ثالثها ما اختص به أبو هريرة من دعوة النبي صلى الله عليه وسلم له بأن لا ينسى ما يحدثه به كما سنذكره قريبا. رابعها أن عبد الله كان قد ظفر في الشام بحمل جمل من كتب أهل الكتاب فكان ينظر فيها ويحدث منها فتجنب الأخذ عنه لذلك كثير من أئمة التابعين.
..........
ويحتمل أن يقال تحمل أكثرية عبد الله بن عمرو على ما فاز به عبد الله من الكتابة قبل الدعاء لأبي هريرة لأنه قال في حديثه: "فما نسيت شيئا بعد " فجاز أن يدخل عليه النسيان فيما سمعه قبل الدعاء، بخلاف عبد الله فإن الذي سمعه مضبوط بالكتابة،

“Ini adalah pendalilan dari Abu Hurairah atas apa yang ia sebutkan bahwa hadits ‘Abdullah bin ‘Amr lebih banyakdaripada yang ia ada padanya. Dari ucapan Abu Hurairah ini dapat diambil faedah bahwa ia menyatakan secara tegas tidak ada shahabat yang mempunyai hadits lebih banyak darinya kecuali ‘Abdullah bin ‘Amr. Padahal, hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amr lebih sedikit dari Abu Hurairah (yaitu dalam kitab-kitab hadits). Jika kita katakan pengecualian (dalam ucapan Abu Hurairah) di atas bersifat terputus, maka tidak ada masalah (isykaal) padanya; karena penjabarannya : ‘akan tetapi apa yang dilakukan ‘Abdullah, yaitu menuliskan hadits, tidak aku melakukannya. Sama saja, apakah ia mempunyai lebih banyak hadits ataupun tidak’. Jika kita katakan bahwa pengecualian tersebut bersifat tersambung, maka sebabnya bisa dijelaskan dalam beberapa sisi : (1). ‘Abdullah lebih banyak menyibukkan diri dengan ibadah daripada mengajar, sehingga riwayat yang diterima darinya lebih sedikit. (2). Setelah penaklukan banyak kota/daerah, ‘Abdullah lebih banyak menetap di Mesir atau Tha’if yang notabene bukan sebagai tujuan menuntut ilmu seperti halnya Madinah. Sedangkan Abu Hurairah menjadi tempat rujukan fatwa dan periwayatan hadits hingga ia meninggal. Hal ini terlihat dari banyaknya orang yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah. Al-Bukhariy menyebutkan bahwa jumlah mereka mencapai 800 orang dari kalangan tabi’in. Jumlah ini tidak dicapai oleh shahabat yang lain. (3) Keistimewaan yang dimiliki Abu Hurairah dari doa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam padanya, bahwa ia tidak akan melupakan apa yang ia riwayatkan. (4) ‘Abdullah bin ‘Amr lama menetap di Syaam dengan membawa onta yang mengangkut kitab-kitab Ahli KItab. Ia membacanya dan membicarakannya. Oleh karena itu, para pemuka tabi’in menjauhkan diri dari mengambil hadits darinya.
……
Dan tidak menutup kemungkinan kelebihan ‘Abdullah bin ‘Amr (atas Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhum) dipahami sebagai kelebihannya dalam hal penulisan sebelum adanya doa (Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam) kepada Abu Hurairah. Karena ia berkata dalam haditsnya :‘Semenjak itu aku tidak pernah melupakan sesuatu’. Maka, boleh jadi ia pernah mengalami kelupaan atas apa yang didengarnya dari beliau sebelum mendapat doa tersebut. Berbeda halnya dengan ‘Abdullah, dimana apa-apa yang didengarnya terjaga oleh tulisan” [Fathul-Baariy, 1/207].

عن أبي أنس بن أبي عامر قال كنت عند طلحة بن عبيد الله فدخل عليه رجل فقال يا أبا محمد ما ندري هذا اليماني أعلم برسول الله منكم أم هو يقول على رسول الله صلى الله عليه وسلم ما لم يقل فقال والله ما نشك أنه سمع من رسول الله صلى الله عليه وسلم ما لم نسمع وعلم ما لم نعلم إنا كنا أقواما أغنياء ولنا بيوتات وأهلون وكنا نأتي نبي الله صلى الله عليه وسلم طرفي النهار ثم نرجع وكان مسكينا لا مال له ولا أهل إنما كانت يده مع يد نبي الله صلى الله عليه وسلم وكان يدور معه حيث دار فما نشك أنه قد علم ما لم نعلم وسمع ما لم نسمع ولم نجد أحدا فيه خير يقول على رسول الله صلى الله عليه وسلم ما لم يقل

Dari Abu Anas bin Abi ‘Aamir, ia berkata : “Aku pernah berada di sisi Thalhah bin ‘Ubaidillah. Lalu ada seorang laki-laki yang masuk menemuinya dan berkata : ‘Wahai Abu Muhammad, demi Allah, tidaklah kami mengetahui orang Yaman ini (yaitu Abu Hurairoh) paling tahu tentang (hadits) Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dibanding kalian (para shahabat). Ataukah ia mengatakan tentang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam apa-apa yang tidak beliau sabdakan ?’. Thalhah berkata : ‘Demi Allah, tidaklah kami ragu bahwasannya ia telah mendengar dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam apa-apa yang tidak kami dengar, dan ia mengetahui apa-apa yang tidak kami ketahui. Sesungguhnya kami ada kaum yang berkecukupan, memiliki rumah dan keluarga. Kami mendatangi Nabiyullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada pagi dan sore, lalu kami pulang. Adapun ia adalah seorang yang miskin, tidak mempunyai harta dan keluarga. Tangannya selalu bergandengan dengan tangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ia selalu bersama beliau dimanapun beliau berada. Oleh karena itu, kami tidak ragu bahwa ia mengetahui apa-apa yang tidak kami ketahui dan mendengar apa-apa yang tidak kami dengar. Kami tidak mendapati seorang pun yang mempunyai kebaikan mengatakan tentang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam apa-apa yang tidak beliau sabdakan” [Diriwayatkan oleh Al-Haakim dalam Al-Mustadrak (At-Tatabbu’) 3/627-628, Abu Ya’laa no. 636-637, Ibnu Katsiir dalam Al-Bidaayah wan-Nihaayah 8/109, dan At-Tirmidziy no. 3837.Rijaal-nya tsiqah, namun dalam sanad ini Ibnu Ishaaq telah melakukan ‘an’anah, sedangkan ia seorang mudallis].

Ibnu Shalaah rahimahullah berkata :

أكثر الصحابة حديثا عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أبو هريرة.

“Shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Hurairah” [‘Uluumul-Hadiits, hal. 265].

Doa Nabi Sulaiman Menundukkan Hewan dan Jin

  Nabiyullah Sulaiman  'alaihissalam  (AS) merupakan Nabi dan Rasul pilihan Allah Ta'ala yang dikaruniai kerajaan yang tidak dimilik...