Senin, 25 Oktober 2021

Banyak Ilmuwan Muslim Yang Diakui Dunia Dari Spanyol


Al Andalus adalah nama yang diberikan bangsa arab pada semenanjung Iberia dan ‎Septimania, dibawah pemerintahan Arab dan Muslim Afrika utara, atau sering orang eropah menyebutnya orang Moor, pada periode antara tahun 711 – 1492. Al Andalus juga sering di sebut dengan kata ‎Andalusia. Tapi bukan Andalusia yang ada sampai saat ini. Al-Andalus adalah gabungan wilayah-wilayah di daerah ‎Spanyol, Portugal dan Perancis selatan. Daerah kekuasaan itulah oleh umat muslim jaman itu disebut Al-Andalus ( lafal arab ).‎

Al-Andalus mengalami beberapa pemerintahan. Awalnya dibawah kekalifahan Ummayah, dibawah Kalifah Al Walid ( 711-750 ), Kemudian berubah menjadi sebuah ke-amiran , dibawah ke – amiran ( emirat )Kordoba ( 929-1030 ). Akhirnya terpecah menjadi “taifa” ( taifa ; kerajaan kecil pecahan dari satu ke khalifahan ), salah satunya adalah Granada, adalah daerah keuasaan islam terakhir yang diserahkan pada kerajaan Kastilia

Sejarah mengatakan, dibawah ke-Khalifahan Kordoba, Al-Andalus menjadi pusat kemajuan dan pusat belajar ilmu pengetahuan. Kota Kordoba menjadi salah satu kota pusat budaya dan ekomomi terkemuka, baik di Basin Mediterania dan dunia Islam saat itu.

Karena keterlibatan Al Andalus dalam konflik dengan kerajaan Kristen utara, dan tahun 1805 Alfonso VI dari Kastilia dan Leon menakluhkan Toledo. Hal itu mempercepat kemerosotan dan kejatuhan Kordoba di tahun 1236. Dengan jatuhnya Kordoba, benteng terakhir umat Islam tinggal di wilayah keamiran Granada, praktis teritorial atau wilayah yang masih dibawah kekuasan dan dibawah aturan Islam hanya tinggal di sebuah wilayah tersebut, yang sekarang kita sebut Spanyol.

Di tahun 1249, Portugis semakin menunjukan puncak kekuatannya dan melakukan penaklukan kembali terhadap kekuasaan muslim, yakni Alfonso IIImenaklukan Algarve. Tahun 1236 ke – amiran Granada tunduk menjadi jajahan Kerajaan Kastilia, dibawah Raja Ferdinand III. Dari masa inilah mulai terjadi pengusiran terhadap kaum Muslim dan Yahudi di Spanyol

2 Januari 1492 Emir Muhammad ke XII, menyerahkan ke-amiran Granada kepadaRatu Issabela I dari Kastilia yang bersuamikan raja Ferdinand II dari Aragon, seorang Raja Katolik Spanyol, dan Granada menjadi wilayah kesatuan ( entitas ), bawahan ( bagian ) dari Kastilia. Disini ber-akhirnya masa Islam di Iberia.‎‎
MASYARAKAT AL-ANDALUS.
Masyrakat di Al-Andalus terdiri dari 3 kelompok utama berdasarkan agama; Muslim, Kristen danYahudi. Komunitas-komunitas ini dalam satu kota tinggal didaerah yang berbeda. Umat islam sendiri, walau disatukan dalam agama yang sama, tapi kadang masih terbagi – bagi menurut etnisnya. Terutama perbedaan antara orang Arab dan Berber ( etnis Afrika utara sebelah barat ) yang tinggal didaerah pegunungan yang sekarang berada di daerah utara Portugal, dan di Meseta Central. Sedang orang Arab tinggal didaerah bagian selatan dan di lembah Ebro, di timur laut.

Orang Muzarab ( Mozarab / Musta’rib ), orang kristen yang hidup dibawah kekuasaan Islam di Al-Andalus, mengikuti banyak adat, kesenian dan kata-kata dalam bahasa Arab, namun tetap memelihara tradisi dan ibadah kristen, dan bahasa yang mereka miliki adalah bahasa turunan latin, disebut bahasa Muzarab.

Orang Yahudi biasanya bekerja sebagai pedagang, pemungut pajak, dokter atau duta besar. Pada akhir Abad ke 15 terdapat sekitar 50.000 Yahudi di Granada, dan 100.000 di seluruh wilayah Al-Andalus.

Kemenangan pasukan jenderal Tariq atas orang-orang Visigoth disambut suka cita oleh kaum Yahudi, karena sudah lama mereka hidup dibawa tekanan kristen Visigoth. Kemenangan ini memicu gelombang imigrasi Yahudi ke Spanyol. Wilayah Islam Spanyol menawarkan banyak hal terhadap Yahudi dari wilayah Eropah, Maroko maupun Yahudi yang berasal dari Arab.

Yahudi Spanyol meninggalkan hubungan budayanya dengan Yahudi Irak, mereka membuat budayanya sendiri di Spanyol secara indipenden dan otoritas talmud. Dibawah pengaruh ilmuwan bahasa muslim, mereka mulai mencari bentuk-bentuk budaya baru dalam bahasa Ibrani.

Dengan mengadopsi bahasa Arab, bukan saja menghasilkan kosa kata baru tapi juga pemikiran – pemikiran baru, yang memungkinkan orang Yahudi ikut berpartisipasi dalam budaya setempat dimana mereka tinggal. Dan hal ini, tak pernah ada dalam wilayah kristen Eropah. Banyak sarjana Yahudi dari luar negri di undang ke Kordoba, untuk membuat sekolah-sekolah indipenden di sana. Ahli bahasa dan tata bahasa Yahudi banyak dipekerjakan di pemerintahan ke-Khalifahan Al-Andalus.
ASAL KATA AL-ANDALUS.
Ilmuwan barat pernah mengusulkan 3 teori etimolgi ( asal kata ), dan semuanya menganggap bahwa nama ini berasal dari zaman kekuasaan Romawi di semenanjung Iberia.

Teori pertama, nama tersebut berasal dari Vandal. Satu suku Jerman yang menguasai sebagian Iberia selama kurun waktu 407-419. Reinhart P Dozy, sejarahwan abad ke-19, salah satu yang menerima teori tersebut.
Teori ke dua, nama tersebut berasal dari Arabisasi kata “Atlantik”, pendapat ini didukung oleh sejahrawan SpanyolVallve.
Teori ke tiga, nama tersebut adalah nama yang diberikan suku Visigothyang berkuasa di Iberia pada abad-5 hingga abad-9. Teori ini diajukan olehHalm ( tahun 1989 ). Dalam bahasa Latin, Iberia Visigoth disebut Gothica Sors ( = tanah undian Goth ). Menurut Halm, dalam bahasa gothic “ tanah undian “, mungkin disebutLandahlauts, dari sinilah asal nama Al -Andalus, demikian pendapat dia.
Sayangnya, ketiga teori ini tidak memiliki bukti sejarah, dan dianggap amat lemah. Belakangan, ahli bahasa diikut sertakan dalam diskusi ini. Dan semakin jelas kelemahan teori diatas, dilihat dari ilmu sejarah, linguistik dan toponimi ( ilmu mempelajari nama daerah ), semakin jelas kelemahan teori yang menyatakan bahwa nama tersebut berasal dari masa Romawi. Sebab nama Al-Andalus di prediksi sudah ada sebelum masa Romawi.

Bukti paling awal dari nama Al-Andalus, adalah koin yang dicetak oleh pemerintahan Islam di Iberia, sekitar tahun 715. Tapi sayangnya, pencetakan itu juga tidak pasti, karena koin ditulis dalam hurup Latin dan Arab, keduanya memberikan tahun pencetakan yang berbeda.

Nama Andaluz ( kata Andaluz sama dengan ejaan dalam kata Spanyol Andalus ) juga banyak di pakai di sekitar pegunungan Kastilia. Bagian kata “and”, dalam bahasa Spanyol pada umumnya menyatakan satu tempat umum, dan bagian kata “luz”, biasa disebutkan dalam kata Spanyol.

Baiklah kita tidak terlalu perlu berpikir tentang kata Al-Andalus atau Andalusia. Biarkan sejarahwan yang menganalisa asal usul nama tersebut. Yang terpenting adalah, sejarah mengatakan, kejayaan Islam pernah ada diwilayah tersebut ( eropah ), dan masih ada jejak – jejaknya sampai saat ini. Kejayaan Islam di belahan eropah telah banyak meninggalkan budaya dan ilmu pengetahuan bagi bangsa eropah itu sendiri. Jejak jejak itu masih terbaca di Spanyol sampai saat ini.

MASUKNYA ISLAM KE SPANYOL.
Iberia merupakan kerajaan Hispania yang dikuasai oleh orang Kristen Visigoth.Pasukan Umayyah dibawah kekalifahan Umayyah Damaskus, yang sebagian besar adalah bangsa Moor, bangsa Afrika barat laut, dan dipimpin oleh Jenderal Tariq bin Ziyad menyerbu Hispania dengan 12.000 personil. Mendarat di Gibraltar ( Jabal Tariq ) pada 30 April 711.

Pada saat itu sebenarnya telah terjadi permasalahan di kalangan umat nasrani disana, adanya perbedaan pendapat antaraNasrani Aria dengan raja Roderick beserta pendukungnya. Roderick dan pengikutnya meyakini Trinitas ( Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh kudus ), umat nasrani Aria menganggap bahwa nabi Isa semata-mataadalah utusan Tuhan. Roderick berusaha memaksakan pemahaman Trinitas pada nasrani Aria.

Pimpinan Aria meminta bantuan Musa Ibnu Nushair penguasa ke-Amiran Afrika utara dan barat dibawah ke-Khalifaahn Umayyah di Damaskus. Musa menghubungi Damaskus. Ijinpun didapatkan dari Damaskus. Ke-Khalifahaan Umayyah mengirim jenderal Tariq yang segera merapat disebuah selat yang terletak antara Maroko dan benua eropah. Mendarat di satu tempat didaerah tersebut, yang kemudian dikenal dengan nama Gibraltar ( Jabal Tariq, mengambil nama dari jenderal Tariq ).

Pertempuran dengan raja Roderick tak ter-elakan. Terjadi tanggal 19 Juli 711. Kedua pasukan bertemu di sungai Rio Barbate ( terkenal dengan sebutan Battle of Rio Barbate atau Battle of Guadalate ). Pasukan Roderick pada akhirnya terdesak dan terkalahkan, bahkan Roderick sendiri tewas, menurut catatan sejarah, Roderick tenggelam di sungai Rio Barbate, saat berusaha untuk melarikan diri.

Setelah mengalahkan raja Roderick dari Visigoth dalam pertempuran Guadalete, 19 Juli 711. Sejak itu kekuasaan Islam terus berkembang hingga tahun 719, sebab jenderal Tariq selalu mendapat dukungan dari penduduk di setiap daerah yang ditaklukan. Pasukannya terus bergerak dan menguasai Toledo, tapi terlebih dulu menguasai kota-kota Malaga, Elvira,Murcia, Cordova ( Kordoba ), kecuali ‎Galicia, Basque dan Asturia.

Mendengar kesuksesan jenderal Tariq,Musa Ibnu Nushair, Amir penguasa di ke-amiran Afrika utara dan barat, berkedudukan di Qairawan ( sekarang Tunisia ), dibawah dinasti Khalifah bani Umayyah di Damaskus, berangkat bersama pasukannya18.000 personil ( kebanyakan dari etnis Arab ) menuju Spanyol, dengan melewati jalur yang tidak dilewati oleh jenderal Tariq. Dia berhasil mnguasai Sidonia, Carmona, terus masuk dan menguasai Sevilla, Huelva.Dengan terus mengikuti jalur sungai, sampailah dia di Moredo dan kota-kota kecil lainnya. Yang pada akhirnya dia bertemu dan bergabung dengan pasukan jenderal Tariq di Toledo. Spanyol adalah pintu gerbang eropah, dari sinilah pintu dakwa Islam dilakukan hingga menyebar ke daerah eropah lainnya.

Pasukan Islam terus bergerak dan menyeberangi Pirenia, menaklukanPerancis, Tapi hanya berhasil mendudukiPerancis selatan, pergerakan pasukan muslim tertahan oleh kaum Frank di pertempuran Tours (732). Namun Pasukan Muslim masih mampu bergerak dan menduduki daerah Avignon, Arles dan sampai di Provence ( 734). Tahun 737, pasukan muslim menguasai Burgundy.Daerah yang dikuasai Muslim, disebut provinsi Al-Andalus, terdiri dari Spanyol,Portugal dan Perancis selatan.

Sayangnya, di tahun 759, kaum Frank dipimpin si pendek Pepin ( Pepin the short ), berhasil menguasai Septimania, salah satu daerah dari 5 wilayah Administratif Al-Andalus, ( Al-Andalus di bagi menjadi 5 daerah Administratif )

Semenanjung Iberia, kecuali daerah kerajaan Asturia, menjadi bagian dari daerah kekuasaan dinasti Umayyah, dan disebut Al-Andalus. Dinar koin Arab adalah penegasan pertama atas wilayah Arab. Koin tersebut tersimpan di Musium Arkeologi Madrid. Bentuk koin, satu sisi berhurup Arab disisi lain berhurup latin Iberia.

Al-Andalus awalnya dipimpin oleh Wali ( Gubernur ) yang ditunjuk oleh ke-Kalifahan di Damaskus dengan masa jabatan 3 tahun. Tahun 740 pecah perang saudara di ke-Khalifahan Umayyah, kekuasaan Khalifah menjadi melemah. Tahun 746 Yusuf Al Fihrimemenangkan perang saudara tersebut, dan dia menjadikan pemerintahannya tidak terikat lagi dengan Damaskus.

KE-KHALIFAHAN DI KORDOBA ( CORDOVA ).
Pemerintahah Umayyah di Damaskus dijatuhan oleh Bani Abbasiyah pada tahun 750, dia memindahkan ibukotanya dari Damaskus ke Bagdad, dengan begitu bani Abbasiyah berkuasa atas daerah-daerah Arabia.

Tahun 756, pangeran keturunan Umayyah yang berada di pengasingan,Abdurrachman I ( Al-Dakhil ), berhasil melengserkan Yusuf Al Fihri, penguasa Kordoba. Adurrachman I menjadi penguasa Kordoba, dan menjadi Amir Kordoba. Dia menolak untuk tunduk pada dinasti Abbasiyah, karena banyak keluarganya yang telah dibunuh. Abdurrachman I memerintah sekitar 30 tahun di Kordoba. Dalam masa pemerintahannya, dia harus selalu berperang dengan para pendukung Al-Fihri maupun menahan serangan dari dinasti Abbasiyah.

Selama 1,5 abad kemudian, keturunannya menguasai Kordoba, menjadi Amir Kordoba, atas seluruh sisa wilayah, dan kadang sampai meliputi wilayah Afrika Utara bagian barat. Pemerintahan amir Kordoba keturunan Adurrachman, sering mengalami pasang surut kekuasaan, terutama daerah wilayah yang berbatasan dengan kaum Kristen. Bahkan Amir Abdullah bin Muhammadsampai hanya memiliki kekuasaan atas Kordoba saja. Itu karea kelemahan keturunan Adurrachman.

Tapi hal itu tidak berlangsung lama, cucu Abdullah, yakni Abdurrachman III, menggantikan tampuk pemerintahan pada tahun 912. Dengan cepat dia berhasil mengembalikan kekuasaan dinasti Umayyah atas Al-Andalus dan Afrika utara bagian barat. Tahun 929 dia mengangkat diri sebagai Khalifah. Kekuasaannya setara dengan ke-Khalifahan Abbasiyah di Bagdaddan ke-Khlifahan Syi’ah di Tunis.

Periode Kekhalifahan Abdurrachman III,oleh para penulis Muslim dianggap sebagaimasa ke-emasan Islam di Al-Andalus. Masyarakat Kordoba menikmati hasil panen yang berlimpah karena irigasi yang baik, serta bahan pangan melimpah. Al-Andalus merupakan daerah sektor pertanian yang paling maju masa itu di kawasan Eropah.. Kordoba dijaman Kekhalifahan Abdurrachman III mempunyai populasi sekitar 500.000, mengalahkan Konstantinopel, baik dalam jumlah penduduk maupun kemakmurannya. Kordoba menjadi kota terbesar kala itu. Pusat ilmu pengetahuan, pusat budaya. Karya – karya ilmuwan dan filsuf Al-Andalus, seperti Abul Qasim dan Ibnu Rusyid, mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan kaum intelektual di daratan Eropah di abad pertengahan.

Orang muslim maupun non muslim dari luar negri, banyak datang untuk belajar di berbagai perpustakaan dan universitas di Al-Andalus ( Kordoba, ibukota ). Orang non muslim yang terkenal menterjemahkan karya-karya cendekiawan muslim adalah Michael Scot ( Orang Skotlandia, seorang filsuf, Matematikawan dan astrolog ). Dia menterjemahkan karya-karya Ibnu Rusyd,Ibnu Sina dan Al Bitruji, kemudian membawanya ke Itali. Karya-karya inilah yang berdampak penting dalam berawalnya jaman Renaisans Eropah. Betapa pengaruh kemajuan muslim di Al-Andalus merupakan titik tolak kemajuan bangsa- bangsa di Eropah.‎

PERIODE TAIFA, DINASTI MURABITUN, MUWAHIDUN DAN BANU MARIN.
Taifa, pecahan dari ke-Khalifahan, menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Hal itu terjadi karena ke-Khalifahaan Kordoba ( Cordoba / Cordova ) mengalami kejatuhan, karena adanya perang saudara ( perang antar pejabat, kerabat, antar penguasa sipil ) antara 1009 sampai 1013. Puncaknya, ke-Khalifahan Kordoba dihapuskan. Al-Andalus terpecah-pecah menjadi wilayah kerajaan – kerajaan kecil yag dikenal dengan istilah TAIFA. Taifa ini pada umumnya amat lemah dan tidak mampu menghadapi serangan-serangan dari kaum lain, terutama dari kerajaan-kerajaan Kristen dari daerah utara dan barat Al-Andalus. Orang muslim lebih mengenal mereka sebagai bangsa Galicia, yang telah menyebar dari benteng benteng mereka di ‎Galicia, Asturia, Catabrina di kawasan ‎Basque dan Carolingian Marca Hispanica, yang akhirnya menjadi kerajaan – kerajaan, antara lain Navarre, Leon, Portugal,Kastilia, Aragon dan Barcelona.‎

Pada akhirnya, taifa-taifa tersebut tertaklukan oleh kerajaan kristen. Taifa-Taifa Al-Andalus meminta bantuan ke dinasti Murabitun ( Almoravid-etnis berber ) penguasa Islam di Maghreb – Afrika utara yang berhaluan Islam fundamental. Dinasti Murabitun berhasil mengalahkan raja Kastilia, Alfonso VI, dalam pertempuran diZallaqah dan pertempuran Ucles.Murabitun berhasil menguasai Al-Andalus.

Proses penguasaan kembali Al-Andalus adalah sebagai berikut, tahun 1086, Yusuf bin Tasyfin, pemimpin Murabitun di Maroko, diundang oleh bangsawan muslim di Iberia, meminta bantuan untuk mempertahankan Iberia dari Alfonso VI raja Kastilia dan Leon. Pada tahun itu juga Yusuf bin Tasyfin, menuju Algeciras dengan menyeberangi selat Gibraltar. Terjadi pertempuran di Zallaqah, dan berhasil mengalahkan kaum kristen dengan telak. Tahun 1094, Yusuf bin Tasyfin mengambil alih semua daerah dari penguasa-penguasa kecil Islam di Iberia, dan menghapuskan kekuasaan mereka, kecuali Zaragoza. Valecia dia rebut juga dari tangan umat kristen. Tahun 1147, dinasti ‎Murabitun kekusaannya diganti dinasti ‎Muwahidun ( Almohad ), yang juga berasal dari suku Berber ( Catatan, Suku Berber adalah etnis Afrika utara bagian barat, salah satu keturunan suku berber dijaman kini adalah Zidane,mantan pemain bola Perancis ). 

Dinasti Muwahidun memindahkan ibukota Al-Andalus ke Sevilla di tahun 1170. Tahun1195 mengalahkan raja Kastilia Alfonso VIII dalam pertempuran di Alarcos. Tapi tahun1212 gabungan kerajaan kristen , Kastilia,Navarra, Aragon dan Portugal mengalahkan kaum Muwahidun pada pertempuran Las Navas de Tolosa, memaksa sultan Muwahidun meninggalkan Iberia.

Umat Islam Iberia kembali terpecah menjadi taifa-taifa lemah, dengan cepat dan mudah ditaklukan oleh Portugal, Kastilia dan Aragon. Setelah Murcia jatuh tahun 1243,dan Algarve ditahun 1249. Hanya tersisa daerah yang dipimpim banu Nasri yakniGranada. Menjadi daerah bawahan Kastilia dan harus membayar upeti. Pembayaran Upeti harus berupa emas dari daerah yang sekarang di sebut Mali dan Burkina Faso,dibawah melalui jalur perdagangan di gurun Sahara.

Pada abad ke 14, dinasti islam banu Marin (Marinid ) di Maroko mengalami kemajuan, mulai bergerak mengancam kerajaan – kerajaan kristen di Iberia. Banu Marin kemudian mengambil alih Granada, menduduki kota-kotanya, seperti Algeciras. Namun mereka gagal merebut Tarifa, yang bertahan dari serangan banu Marin, hingga kedatangan bantuan dari pasukan Kastilia dibawah raja Alfonso XI. Dengan dibantu oleh Afonso IV dari Portugal dan Pedro IV dari Aragon, bertiga mengalahkan banu Marin pada pertempuran Rio Salado ditahun1340. Mereka merebut Algeciras tahun 1344.Alfonso XI mengepung Gibraltar, yang saat itu dikuasai Granada selama 1349-1350. Tapi Alfonso XI bersama sebagaian besar pasukannya dibinasakan oleh wabahkematian hitam ( Black Death – wabah pes) ditahun 1350. Pedro dari Kastilia ( julukannya Peter si kejam ) sebagai penggantinya, memutuskan berdamai dengan umat islam, dan dia berperang melawan kerajaan-kerajaan kristen yang lain. Peristiwa ini menandai dimulainya perang saudara antar umat kristen serta pemberontakan selama 150 tahun di Eropah. Hal inilah yang mengamankan Granada, dari serangan kaum kristen.

Setelah perjanjian damai dengan Pedro raja Kastilia, Granada menjadi negara aman merdeka hingga sampai 150 tahun berikutnya. Umat Islam diberi kebebasan bergerak, ber-agama dan bebas dari upeti selama 3 tahun. Setelah 3 tahun umat islam diwajibkan membayar upeti tidak lebih dari yang telah dibayarkan oleh banu Nasri sebelumnya.

Tahun 1469, terjadi pernikahan antara rajaFerdinand II dari Aragon dengan ratuIsabella dari Kastilia, gabungan dua kerajaan ini meng-isyaratkan penyerangan ke Granada. Ferdinand II dan Isabella meyakinkan paus Siktus IV, menyatakan perang mereka sebagai perang suci. Satu persatu umat islam terkalahkan oleh mereka, pada akhirnya pada 2 Januari 1492 Sultan Muhammad Abu Abdullah ( Boabdil ), penguasa Granada, menyerahkan benteng Granada, istana Alhambra kepada kekuasaan kristen. Mulai saat itu, diawalJanuari 1492, ber-akhirlah kekuasaan Islam di semenanjung Iberia. Ke-Kahlifahan Al-Andalus tidak ada lagi. Kekuasaan Islam di bagian belahan Eropah musnah.‎‎

NON MUSLIM DAN PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DI AL-ANDALUS
Salah satu periode toleransi terbesar umat muslim terhadap non muslim adalah pada masa Abdurrachman III dan Al-Hakam II, dimana Yahudi Al-Andalus mengalami kemakmuran serta mencurahkan kehidupannya untuk melayani ke-khalifahaan Kordoba, belajar sains, perdagangan dan industri. Terutama perdagangan sutra dan budak. Al-Andalus merupakan tempat suaka bagi kaum Yahudi yang ter-aniaya di negri-negri lain.

Orang kristen di sepanjang perbatasan Al-Andalus kadang sengaja melakukan ke-martiran, bahkan selama masa toleransi terjadi. Misal, terjadi 48 orang kristen di Kordoba dihukum penggal, karena melakukan penghinaan pada agama Islam. Mereka sengaja melakukannya agar mati sebagai martir, mereka dikenal sebagai Martir Kordoba. Beberapa orang dari generasi berikut melakukan hal yang sama, dengan sengaja mereka menghina agama Islam, padahal mereka tahu apa yang terjadi pada pendahulu mereka.

Pada tahun 976 setelah Al-Hakammeninggal, situasi berubah memburuk bagi non muslim pada umumnya. Dan hampir 100 tahun berikutnya, 30 Desember 1066, peristiwa penganiayaan pertama terjadi, dimana kaum Yahudi di usir dari Granada, dan kerusuhan sampai menewaskan sekitar 3000 orang. Pada masa Murabitun dan Muwahidun juga pernah terjadi sesekali, tapisumber sejarah ini sangat sedikit dan tidak memberikan gambaran yang jelas kebenarannya.

Saat terjadi kekerasan terhadap non muslim, banyak Yahudi, bahkan orang muslim sendiri meninggalkan daerah kekuasaan tersebut, menuju Toledo yang telah dikuasai kaum kristen, yang dianggap lebih memiliki toleransi Banyak Yahudi yang bergabung dengan pasukan kristen, sebagian sisanya bergabung dengan pasukan Murabitun untuk menghadapi raja Alfonso VI dari Kastilia.

Pada masa Muwahidun, lebih fundamentalis dari Murabitun. Perlakuan terhadap non muslim lebih keras. Yahudi banyak yang pindah ke daerah muslim yang lebih toleran, di selatan dan timur, atau ke arah utara, wilayah kristen. Namun penguasa Muwahidun juga mendorong perkembangan seni dan tulisan ( sastra ). Menghasilkan cendekiawan-cendekiawan besar, diantaranya ; Ibnu Tufail, Ibnu Araby danIbnu Rusyd.

Perlakuan terhadap non muslim di Al-Andalus merupakan bahan diskusi dan debat diantara para pengamat dan para ahli sejarah. Kaum non muslim di Al-Andalus, seperti kristen dan Yahudi dalam hukum Islam, adalah dianggap dzimmi ( orang dalam perlindungan ), mereka bebas menjalankan agamanya. Tidak ada dorongan untuk masuk Islam, tapi membayar pajak, yang disebut jizyah. Pajak satu dinar pertahun, kecuali orang tua, orang cacat, anak-anak dan perempuan. Bagi yang tidak berstatus kristen, diberi status Majusi

Para ahli berpendapat, agama minoritas ( termasuk yahudi ) di Al-Andalus yang dikuasai umat Islam, diperlakukan lebih baik daripada didaerah Eropah barat yang dikuasai kristen. Non muslim hidup dalammasa ke-emasan toleransi di Al-Andalus. Saling menghormati dan terjadi keharmonisan antar umat ber-agama.

Al-Andalus juga merupakan pusat kunci peradaban kaum Yahudi di abad pertengahan. Menghasilkan ilmuwan-ilmuwan Yahudi, seperti ; Maiminodes,rabbi, filsuf dan dokter. Mereka merupakan masyarakat Yahudi Al-Andalus yan paling stabil dan makmur.

Umat Kristen di Al-Andalus disebut kaumMuzarab. Kaum Muzarab merupakan keturunan orang kristen terdahulu di Spanyol yang tetap memeluk agama kristen, tapi mengadopsi budaya Arab. Bahasa mereka, bahasa Muzarab, merupaka bahasa Roman yang dipengaruhi oleh bahasa Arab, ditulis dalam abjad Arab.

Maria Rosa Menocal, spesialis sastra Iberia di universitas Yale berpendapat, “ Toleransi merupakan aspek melekat di masyarakt Al-Andalus “. Dalam bukunya The Ornament of the World ( 2003), ia berpendapat, sebagai ‎dzimmi, memang diberikan hak yang lebih terbatas dari umat muslim, tapi itu masih lebih baik daripada didaerah eropah yang dikuasai kristen. Banyak orang Yahudi maupun sekte-sekte kristen yang ditempatnya dianggap terlarang, berdatangan ke Al-Andalus, dimana masyarakatnya ber-toleransi.

Ada pandangan berbeda dari Bernard Lewis, ia berpendapat, “ Klaim toleransi yang sekarang banyak didengar dari apologis Muslim, dan khususnya apologis untuk Islam, merupakan hal baru dan tidak diketahui asal usulnya “. Lewis menolak, bahwa muslim dan non muslim diberikan perlakuan sama dimasa lalu. Ia juga mengatakan, “ Bagaimana mungkin orang yang memeluk agama yang benar dan orang yang menolaknya diperlakukan sama ? Ini merupakan hal yang mustahil secara Teologi dan Logika“. Pendapat Lewis ini menjadikan saya ingat dengan sabda Nabi “ Agamaku agamaku, Agamamu agamamu “, yang artinya, kita tidak boleh memaksa orang untuk meyakini apa yang kita yakini, dan tidak diperbolehkan juga memusuhinya, begitu juga sebaliknya. Sebagai umat manusia harus bisa hidup saling berdampingan satu sama lain tanpa saling mengganggu. Urusan Agama adalah urusan masing masig orang dengan Tuhan. Dan ini diwujudkan Nabi dalam bentuk hubungan sosial dengan kaum Yahudi di Medinah waktu itu‎. Lewis tidak memahami ajaran Islam yang satu ini, bahwa ada umat muslim yang melakukan kekejaman, itu adalah manusianya, yang dalam hal ini menurut pendapat saya, mereka keliru dalam meng-artikan atau memahami sebuah ajaran. Jadi bukan Islam nya yang kejam. Pada dasarnya Islam menghargai perbedaan perbedaan itu. Sedang perbedaan itu sudah ada dari sananya. Karena perbedaanlah, umat manusia menjadi maju dan berkembang.

Melihat perkembangan peradaban Yahudi dan kenyataan bahwa mereka turut mengungsi bersama masyarakat Islam ke Maroko, saat kerajaan katolik ( Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, yang berhasil meyakinkan paus Siktus IV, bahwa perang mereka adalah perang suci, menurut anggapan mereka ) merebut Al-Andalus, dan mengingat sekte-sekte kristen lainnya yang dianggap menyimpang, yang bisa bebas menjalankan agamanya di Al-Andalus, menandakan bahwa Muslim telah memperlakukan non muslim dengan baik.

Sejarahwan barat yang konservatif, W. Montgomery Watt dalam bukunya “Sejarah Islam di Spanyol”, mencoba meluruskan persepsi keliru kaum orientalis ( Orientalis, adalah kaum non muslim yang mempelajari Islam dan sejarahnya ), “ Mereka ( kaum orientalis ) umumnya mengalami mis-persepsi dalam memahami jihad umat Islam. Seolah-olah kaum muslim hanya memberi dua tawaran bagi musuhnya, yaitu antara Islam dan pedang. Padahal bagi pemeluk agama lain, termasuk ahli kitab, mereka bisa saja tidak masuk Islam meski tetap dilindungi oleh suatu pemerintahan Islam.”

Banyak suku, agama, dan ras ( etnis ) yang hidup bersama di Al-Andalus. Masing-masing dari mereka menyumbangkan kemajuan untuk Al-Andalus. Buku-buku jauh tersebar luas di Al-Andalus dibanding di negeri barat lainnya ( Eropah ). Sejarah intelektual Al-Andalus di tunjukan dengan banyaknya ilmuwan Yahudi maupun Muslim.
KEMAJUAN ILMU PENGETAHUAN DI AL-ANDALUS.
Kemajuan sains di Al-Andalus bermula dari perseteruan – persaingan intelektual bani Umayyah yang berkuasa di Al-Andalusdengan inteletual bani Abbasiyah yang berkuasa di Timur Tengah. Bani Umayyah berusaha memperbanyak perpustakaan dan lembaga pendidikan Al-Andalus, di ibukotanya, yakni Kordoba. Untuk bisa mengalahkan Ibukota bani Abbasiyah, yaitu di Bagdad. Walau kedua ke-Khalifahan ini saling bersaing, tapi keduanya membolehkan perjalanan antar kedua ke-Khalifaan dengan bebas, untuk saling bertukar ide dan penyebaran ilmu pengetanhuan, inovasi-inovasi antar keduanya.

Di abad ke 10 Kordoba memiliki 700 masjid,60.000 istana dan 70 perpustakaan, salah satu perpustakaan terbesar di Kordoba memiliki 500.000 naskah. Sebagai perbandingan, perpustakaan kristen di eropah saat itu hanya memiliki tak lebih dari 400 naskah, bahkan universitas Paris di abad 14, baru memiliki sekitar 2.000 buku. Pada tiap tahunnya di Al-Andalus diterbitkan kurang lebih 60.000 buku, termasuk risalah-risalah, puisi, polemik dan antologi. Sebagai perbandingan, Spanyol modern hanya menerbitkan 46.330 buku tiap tahunnya, menurut data UNESCO, ditahun 1996.

Sebagian besar sejarah menuliskan, dibawah ke-Khalifahan Kordoba, Al-Andalus merupakan mercusuar untuk belajar segala ilmu pengetahuan. Kordoba menjadi salah satu pusat kebudayaan, pusat ekonomi terkemuka, baik di Basin Mediteranean dan dunia Islam masa itu.

Dengan kondisi seperti tersebut diatas, penyebaran ilmu pengetahuan di eropah, di mulai di jaman kejayaan Islam di Al-Andalus ( Spanyol ). Hingga saat ini daratan eropah begitu maju dalam segala ilmu pengetahuan. Sayang umat Islam sendiri tidak berkembang dengan baik bidang ilmu pengetahuannya setelah kejatuhan Islam di Al-Andalus. Saya kira banyak buku-buku, risalah-risalah yang tertinggal dan dimanfaatkan oleh bangsa eropah untuk kemajuan mereka. Seperti yang telah diceritakan diatas, banyak tokoh dan cendekiawan non muslim yang datang dan belajar di Kordoba, menterjemahkan buku-buku disana dan dibawah pulang ke negara masing-masing. Inilah titik tolak mereka dalam perkembangan bangsanya.

Sejarahwan Said Al-Andalusi menulis, bahwa Khalifah Abdurrachman III ( 912-961 ), mengumpulkan sejumlah besar buku-buku dan memberikan perlindungan bagi para ilmuwan yang mempelajari ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu kuno. Khalifah Al-Hakam II (Al-Mustansir ) sebagai penggantinya, membangun perpustakaan dan universtas di Kordoba. Kordoba menjadi pusat pembelajaran ilmu kedokteran dan filosofi terkemuka di dunia.

Setelah Al-Hakam II wafat, digantikan anaknya, Al-Hisyam II, tapi kekuasaan sesungguhnya berada ditangan seorang tokoh agama bernama Al-Mansur bin Abi Amir. Tokoh ini tidak menyukai ilmu pengetahuan, terutama asrtronomi dan ilmu ilmu logika, terutama astrologi. Hingga banyak buku-buku yang telah dikumpulkan dengan susah payah oleh Al-Hakam II,dibakar didepan umum.

Ini adalah salah satu behayanya, bila seorang ulama atau tokoh agama ( agama apapun ) berkuasa atas sebuah pemerintahan. Logika ilmu pengetahuan bisa tercampur-aduk dengan logika agama, jelas tidak akan ketemu benang merahnya. Logika ilmu pengetahuan adalah bekal manusia untuk hidup dimuka bumi, logika agama bekal manusia setelah dia mati.

Tapi untungnya, setelah kematian Al-Mansur bin Abi Amir ( 1002 ), filosofi dan ilmu pengetahuan di Al-Andalus bangkit kembali. Banyak cendekiawan muncul kembali.. Seperti Abu Uthman Ibn Fathundengan karya risalah filosofinya, “Pohon Kearifan ( Tree Wisdom )”. CendekiawanMaslamah Ibn Achmad Al-Majriti ( meninggal 1008 ), seorang petualang pemberani, penjelajah seluruh dunia Islam, tergabung dan terus berhubungan dengan organisasi Ikhwan As-Shafa ( Perkumpulan rahasia para filsuf Islam di Basra pada jaman Abbasiyah, orang eropah lebih mengenal dengan istilah Brethren of Purity ), membuat dan memperbaiki tabel astronomi, mempelopori geodesi dan triangulasi,

Murid Al-Majriti yang terkenal, Abu Hakam Al-Kirmani, adalah filsuf dan ahli ilmu ukur, yang merupakan guru bagi filsuf dan dokter terkemuka Abu Bakar Ibn Al Sayigh, yang didunia arab lebih dikenal denan nama Ibnu Bajjah ( Avempace , eropah menyebutnya ).

Adanya sikap toleransi terhadapYahudi di Al-Andalus, serta mundurnya pusat kebudayaan Yahudi di Babilonia, Al-Andalus jadi pusat berkembangnya pemikir-pemikir inteletual Yahudi. Judah Halevi (1086-1145 ) dan Dunash ben Labrat ( 920-990 ), merupakan penulis-penulis Yahudi yang memberikan sumbangan terhadap kehidupan di Al-Andalus pada umumnya, dan pada perkembangan filosofi masyarakat Yahudi itu sendiri. Maimonides ( 1135-1205 ) pemikir Yahudi ( penganut Averroes ) asal Al-Andalus, menerbitkan karya-karyanya di Maroko dan Mesir, menghindari dinasti Muwahidun yang keras di Al-Andalus. Ia menulis buku “Panduan bagi yang Bingung “. Dia memperbaharui hukum Yahudi , sehingga mendapat julukan “Musa baru” ( nama depan Maimonides sendiri adalah Moses / Musa ).‎
LAHIRNYA PEMIKIR SEKULER.
Filsuf Andalusia,Ibn Rusyd ( 1126-1198 ), orang eropah lebih mengenalnya dengan nama Averroes, di eropah dianggap merupakan “Bapak pemikiran Sekuler”. Pendiri sekolah filsafat Averroism. Karya dan komentar-komentarnya berdampak munculnya pemikiran sekuler di Eropah barat. Dia juga mengembangkan pemikiran “Eksistensi mendahului Essensi ( existence precedes essence )”

Filsuf Andalusia ( Al-Andalus ) lainnya yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap perkembangan ilmu filsafat modern adalahIbnu Tufail. “Hayy Ibn Yaqdhan”, sebuah novel karyanya yang bernafaskan filosofi, diterjemahkan ke dalam bahasa latin “Philosophus Autodidactus” ditahun 1671. Novel tersebut telah banyak mempengaruhi para cendekiawan dan pemulis eropah, antara lain:

John Locke, orang inggris, dikenal sebagai BapakLiberalisme, filsuf juga seorang dokter.

Gottfriet Leibniz, orang jerman, ahli bidang filsafat dan matematika.

Melkisedek Thevenot, orang perancis, penulis, pembuat peta, petualang, orientalis, penemu, juga seorang diplomat.

John Wallis, orang inggris, ahli matematika.

Christian Huygens, orang belanda, matematikawan, fisikawan, astronom dan Horoloqis.

George Keith, seorang missionaris skotlandia ( penyebar agama nasrani ).

Robert Barkley, seorang penulis skotlandia.

Samuel Hartlib, penulis berbagai bidang, asal jerman.

Kaum Quaker, sebuah kelompok perkumpulan atau perhimpunan keagamaan kristen di Inggris.
KEDOKTERAN.
Dokter dan tabib merupakan sumbangan ilmu kedokteran yang penting di Al-Andalus, termasuk anatomi dan fisiologi. Ilmuwan bidang kedokteran diantaranya adalah Abu al Qasim Az-Zahrawi ( Abulcasis ), ia adalah “Bapak ilmu bedah modern”. Ia juga menulis “ Kitab at-Tashrif “, buku penting dalam bidang kedokteran dan ilmu bedah. At-Tashrif merupakan ensiklopedia 30 volume, yang kemudian diterjemahkan keBahasa Latin, digunakan dalam sekolah kedokteran di Eropah maupun dunia Islam selama ber abad-abad. 

Kordoba sendiri dimasa itu telah mempunyai 50 Bimaristan ( bahasa Persia, artinya rumah sakit ). Sekolah kedokteran “Mamun”waktu itu adalah sekolah yang sangat aktif di Bagdad. Rumah sakit umum pertama di buka di Bagdad pada ke-Khalifaan Harun Al Rasyid. Sebagaimana sistim yang telah berkembang disana, dokter dan ahli bedah disana ditunjuk untuk memberikan mata kuliah ke-dokteran, dan mengeluarkan ijasah bagi yang telah lulus. Tahun 872 di Mesir, untuk pertama kalinya dibuka sebuah rumah sakit, kemudian rumah sakit umum mulai bermunculan di kerajaan Islam Spanyol ( ke-Khalifahan Al-Andalus ), mulai dari Maghrepsampai ke Persia. Demikian yang di katakan oleh Sir John Bagot Glubb ( seorang letnan jendral Inggris yang berpengalaman di pernag dunia 1, dia banyak ditugaskan di Perancis )

Dokter Muslim di Al-Andalus memberikan kontribusi yang signifikan dalam bidang ilmu kedokteran, termasuk bidang Fisiologi dan Anatomi. Abu Al-Qasim Al-Zahrawi ( Abulcasis ), seperti yang telah diceritakan diatas, telah diangap sebagai “ Bapak Ilmu Bedah Modern “. Kontribusinya amat besar dalam ilmu bedah, dengan adanya kitab yang dia tulis Kitab Al- Tasrif ( Book of Concession ). Ensiklopedi ilmu kedokteran dalam 30 volume, yang diterjemahkan kedalam bahasa latin, dipergunakan di eropah dan sekolah kedoteran muslim selama ber-abad-abad. Ia telah meletakan dasar-dasar ilmu bedah modern. Ia menemukan sejumlah peralatan kedokteran bedah, termasuk sebuah peralatan bedah pertama yang unik untuk kaum perempuan. Peralatan-peralatan bedah yang digunakannya adalah, catgut, tag, ligatur, jarum bedah, pisau bedah, kuret ( currete), retractor, sendok bedah, peralatan bedah berbentuk hook( surgical hook/kait ),peralatan bedah berbentuk batang ( surgical rod ), specula dan gergaji tulang.

Sejak abad ke 10, dokter bedah muslim telah menggunakan alkohol murni sebagai antiseptik luka. Pembedahan di jaman Islam Spanyol sudah menggunakan mitode kusus utuk menjaga antisepsis sebelum maupun selama operasi atau pembedahan. Mereka juga memberlakuan aturan kusus untuk menjaga kebersihan kesehatan selama sesudah pembedahan. Tingkat keberhasilan dalam pembedahan begitu sangat tinggi, sehinga seluruh pejabat di Eropah datang ke Kordoba. Keberhasilan tersebut bisa dibandingkan dengan “Mayo Clinic”, sebuah klinik nirlaba yang didirikan oleh Rochester tahun 1889 di Minnesota, Amerika.

Ibn Zuhr ( eropah mengenal dengan namaAvenzoar ), orang pertama kali yang dikenal sebagai ahli bedah eksperimental. Di Abad 12, dia memperkenalkan mitode ilmiah eksperimental, bagaimana seharusnya masuk keruang bedah. Dia orang pertama yang melakukan eksperimen bedah dengan hewan. Orang pertama yang melakukan pembedahan otopsi terhadap manusia maupun hewan. Dia mendirikan sekolah bedah sebagai disiplin ilmu kedokteran tersendiri. Membedakan antara peran dokter bedah dan dokter umum, dalam segi perawatan pasien.

Abu Al-Qazim dan Ibn Zuhr adalah ahli bedah pertama yang menggunakan sistimanestesi ( pembiusan pasien ) dengan menggunakan narkotika. Dengan cara menggunakan spon yang telah direndam cairan narkotika, kemudian diletakan di wajah pasiennya. Selama abad pertengahan, dokter muslim memperkenal opium sebagai alternatip anestesi dalam pembedahan. Ibnu Sina ( Avicinna ) menulis tentang ilmu kedokteran dalam bukunya The Canon of Medecine, dalam bahasa arab Al Qanun fi al-tibb, yang berarti hukum kedokteran. Diterjemahkan dalam bahasa latin di tahun 1484, sekarang disimpan di perpustakaan sejarah PI Nixon Medis, The University of Texas Health Science Centre di San Antonio. Karya itu mempengaruhi karya Paracelsus ( dokter di jaman Renesain, kelahiran Swis. Ahli Botani, astrolog, kimia ). Sigrid Hunk ( penulis Jerman, menerima gelar Phd dari universitas Wilhelms Berlin Friedrich tahun 1941, dikenal usahanya dalam bidang studi agama ) menuliskan pendapatnya sbb :

“ Ilmu kedokteran muslim telah menemukan sesuatu yang besar, penemuan sangat penting dalam bidang ilmu bedah yaitu anestesi. Betapa unik, efisien dan tidak menyiksa pasien saat menjalani pembedahan. Hal ini sangat berbeda dengan cara India, Roma dan Yunani, dengan cara memaksa meminumkan ramuan pada pasien untuk menghilangkan rasa sakit saat menjalani pembedahan. Ada beberapa sangkalan atas penemuan itu dari pihak Itali atau Alexandria, tapi sejarah membuktikan, bahwa tehnik atau cara anestesi dengan menggunakan spon tersebut adalah murni penemuan kedokteran muslim ( Islam ), yang tidak dikenal sebelumnya. Tehnik pencelupan spon dalam cairanganja, opium, hyoscyamus dan tanaman lain yang disebut Zoan.”

Selama wabah pes ( Black Death Bubonic Plaque ) di Al-Andalus abad ke 14, Ibnu Khatima dan Ibn Al-Khatib memberikan hopotesa tentang cara menularnya panyakit tersebut dengan cara “entitas menular” tersebut masuk ke tubuh manusia.

Abu Al-Qazim telah mengembangkan tehnik dan bahan mengenai bedah saraf, dan masih digunakan hingga saat ini. Ibn Zuhr, orang pertama yang memberikan deskripsi akurat tentang gangguan saraf, termasuk meningitis, intracranial thrombophlebitis, dansel kuman mediastinum tumor, serta memberikan kontrobusinya tentangneuropharmacologi.

Sekarang sudah semakin terang, sejarah mengatakan, ilmu kedokteran sebenarnya merupakan sumbangsih ilmuwan muslim di jaman Al-Andalus. Banyak buku kedokteran yang diterjemahkan ke dalam bahasa latin. Pada jaman dulu di eropah ( kaum barat ), kaum inteleknya selalu belajar bahasa latin, sebagai bahasa yang mencerminkan intelektualitas seseorang pada masa itu.

ASTRONOMI

Di abad pertengahan Islam, astronom muslim saling memberikan gagasan, sepertiIbn al-Haytham , Al-Zarqali, Ibn Rusyd, Albithruji, Ibn Bajjah dan beradu argumen dengan temuan temuan cendekiawan non muslim, seperti Maimonides, Ptolomeusmaupun temuan Aristoteles. Di Abad ke11 dan 12, para astronom muslim memperkenalkan ilmu astronomi yang berbeda dari astronomi ala Ptolomeus, pertama dikenalkan oleh Ibn al-Haytham, yaitu suatu konfigurasi alternatif dari temuan Ptolomeus, untuk menghindari satu kesalahan temuan model Ptolomeus. Seperti juga kritik Ibn al-Haytham terhadap Ptolomeus, sebuah karya anonim dari Al-Andalus berjudul “Al-Istidrak ala Batlamyus” ( Rekapitulasi mengenai Ptolomeus ), adalah termasuk salah satu buku daftar ungkapan keberatan terhadap astronomi ala Ptolomeus. Dari sinilah awal pemberontakan sekolah di Andalusia terhadap astronomi ala Ptolomeus di Al-Andalus atau lebih dikenal dengan“Andalusian Revolt / Pemberontakan Andalusia “

Di Abad 11 akhir, Al-Zarqali ( dalam bahasa latin disebut Arzachel ), menemukan bahwa,orbit planet-planet adalah orbit dalam bentuk Ellip bukan dalam bentuk orbit lingkaran, walau dia masih mengikuti pemikiran model Ptolomeus. Pendapatnya tersebut ternyata diakui dan dipakai hingga sekarang. Bahwa bentuk orbit planet bukanlah dalam bentuk lingkaran melainkan dalam bentuk Ellip.

Di Abad 12, Ibn Rusyd ( orang eropah mengenal dengan nama Averroes ), menolak teori alam semesta “ eccentric deferents “ yang diperkenalkan oleh Ptolomeus. Dia memaparkan teori alam semesta dengan model “ concentric / konsentris “. Dia menkritik gerak planet model Ptolomeus sbb :

“ To assert the existence of an eccentric sphere or an epicyclic sphere is contrary to nature. The astronomy of our time offers no truth, but only agrees with the calculations and not with what exists. ( Untuk menegaskan keberadaan ruang lingkup eksentrik atau bola epicyclic bertentangan dengan alam. Astronomi ala kami menawarkan ketidak kebenaran, tapi hanya setuju dengan perhitungannya saja, bukan dengan apa yang ada.) “

Seorang pengikut Ibn Rusyd ( Averoes ),Maimonides menuliskan pendapatnya tentang model planet ynang diusulkan olehIbn Bajjah, ia menyatakan sbb :

“ I have heard that Abu Bakr (Ibn Bajja/Avempave) discovered a system in which no epycicles occur, buteccentric spheres are not excluded by him. I have not heard it from his pupils; and even if it be correct that he discovered such a system, he has not gained much by it, for eccentricity is likewise contrary to the principles laid down by Aristotle I have explained to you that these difficulties do not concern the astronomer, for he does not profess to tell us the existing properties of the spheres, but to suggest, whether correctly or not, a theory in which the motion of the stars and planets is uniform and circular, and in agreement with observation. ( Saya mendengar Ibn Bajjah / Avempace menemukan sistem dimana tidak adanya terjadi Epicycles, tapi Eksentrik sistem juga bukan pendapat temuannya. Saya belum mendengar dari murid-muridnya, katakanlah temuannya itu benar, tapi dia tidak akan mendapatkan banyak sesuatu dari hal tersebut, sebab teori Eksentrik bertentangan dengan prinsip yang telah ditetapkan Aristoles. Ia tidak menyatakan pada kami adanya sifat-sifat ruang lingkup tersebut, tapi menyarankan, apakah benar atau tidak, teori gerakan bintang-bintang dan planet-planet adalah seragam dan dalam bentuk melingkar, hal itu dinyatakan dalam bentuk perjanjian observasi ( pengamatan ). “

Dari tanggapan ilmuwan Yahudi tersebut ( Maimonides ), kita bisa membayangkan betapa temuan- temuan filsuf Muslim waktu telah menjadi pembicaraan antar ilmuwan non muslim, baik dari eropah maupun kaum Yahudi sendiri yang ada di Al-Andalus.

Ibn Bajjah juga mengajukan, bahwa galaksiBima sakti ( Milky Way ) terdiri banyak bintang, tapi penampakan itu merupakan gambaran terus menerus dari efek refraksi di Asmosphir bumi. Penggantinya Ibn Tufaildan Nur Ed-Din Albithruji ( Alpetragius, eropah ) adalah orang pertama yang mengusulkan model planet-planet tanpa equant, epicycles dan eccentric. Albithruji juga orang yang pertama kali menemukan, bahwa planet-planet itu mempunyai cahayanya sendiri. Namun konfigurasi mereka tidak dapat diterima oleh ilmuwan eropah, karena model posisi urutan planet – planet, urutan numerik prediksi mereka kurang akurat dibanding dari model Ptolomeus. Sebab mereka bepandangan dengan gagasan Aristoteles, tentang gerak melingkar yang sempurna.‎

ILMU BUMI.
Pada Akhir abad ke 11 Abu ‘Abd Allah Muhammad ibn Ma’udh, tinggal di Al-Andalus, menulis sebuah karya tentang “Optik”, dan diterjemahkan ke bahasa latin ‘Liber de crepisculis ‘. Sebuah karya pendek yang mengupas tentang sudut estimasi depresi matahari, pada awal pagi hari dan akhir senja. Mencoba untuk menghitung berdasar data tersebut ( sudut etimasi depresi matahari ) dengan nilai ketinggian kelembaban udara di Atmosphir atas refraksi ( bias ) sinar matahari. Dengan percobaan ini dia mendapatkan nilai sudut yang akurat yaitu 18O. Mendekati perhitungan yang dilakukan para ilmuwan modern.

Diawal abad ke 13, seorang ilmuwan biologi, orang Arab bernama Abu al-Abbas al-Nabati, mengembangkan untuk pertama kalinya, sebuah mitode ilmiah Botani, memperkenalkan tehnik empiris dan exsperimental dalam pengujian, deskripsi, identifikasi materi medica, memisahkan laporan yang tak terverifikasi berdasakan test aktual dan pengamatan ( obsevasi ). Seorang muridnya, Ibn Al-Baitarmenerbitkan “Kitab al-Jami fi al-Adwiya al-Mufrada”. Diangap salah satu buku kompilasi botani terbesar dalam sejarah, dan merupakan otoritas botani selama berabad-abad. Kitab tersebut berisi rincian secara detail, setidaknya 1.400 item, tentang jenistanaman, makanan dan obat-obatan. 300item diantaranya adalah hasil temuannya sendiri. “Kitab al-Jami fi al-Adwiya al-Mufrada”, sangat berpengaruh di daratan eropah, dan diterjemahkan kedalam bahasa latin di tahun 1758.‎

GEOGRAFI DAN EXSPLORASI.
Perjalanan jarak jauh sangat membutuhkan peta untuk petunjuk arah agar tidak tersesat, informasi-informasi tentang pemetaan itu banyak diperoleh dari para pelancong. Sebab perjalanan jauh di abad pertengahan amat berbahaya, tapi umat muslim tetap melakukan perjalanan panjang tersebut. Tujuanya adalah untuk perjalanan Haji danziarah. Setiap tahun banyak orang muslim yang datang ke Mekah, dari Afrika, muslim Spanyol ( Al-Andalus ), Persia dan India. Selain berziarah dan ber-haji, perjalanan panjang tersebut juga bertujuan untuk berdagang. Umat muslim melakukan perdaganan dengan berbagai bangsa, antara lain, dengan bangsa eropah, India, Cina.

Baculus, sebuah alat navigasi, digunakan untuk astronomi kelautan, berasal dari Muslim Spanyol ( Islam Spanyol ), yang pada akhirnya banyak di gunakan oleh pelaut portugis, untuk sebuah perjalanan laut yang panjang. Kapal-kapal yang digunakan portugis dan Spanyol untuk perjalan laut yang panjang, sejak abad ke 15, merupakan kapal yang digunakan para penjelajah Islam Spanyol sejak abad ke 13. Penjelajah Al-Andalus kemungkinan juga sudah mencapai benua Amerika, walaupun teori ini masih banyak diperdebatan.
PERTANIAN DAN INFRASTRUKTUR.
Sistim pertanian modern pada dasarnya sudah terjadi dijaman ke-Khalifahaan Arab. Kota kota di timur yang terdekat, Afrika utara, bangsa Moor di Spanyol, sistim pertaniannya telah didukung oleh sebuah sistim pertanian yang baik. Irigasi dibuat berdasarkan prinsip prinsip hidraulik dan prinsip hidrostatis.

Pengenalan tanaman baru, menjadikan petani dapat meng-exsport hasil tanaman kemana-mana, termasuk eropah. Pertanian pada umumnya terbatas pada penanaman gandum yang diperoleh dari daerah Asia tengah. Hasil pertanian Spanyol, makanan, sayuran maupun buah banyak di kirimkan ke eropah. Di samping itu pertanian di Spanyol juga mengembangkan tanaman-tanaman baru, yang belum begitu dikenal di Spanyol, seperti beras, tebu, jeruk, aprikot, kapas, kunyit. Dari hasil pengembangan itu beberapa kemudian dikirim ke pesisir Spanyol, dan koloni-koloninya, benua luar eropah. Pengenalan dan penyebaran tanaman baru tersebut juga dikenalkan melalui penyebaran agama Islam. Industri sutra berkembang, rami dan linen telah dibudidayakan dan diekspor, juga jenis rumput tertentu ( esparto grass ), yang tumbuh liar, dikeringkan dan dikumpulkan, diubah menjadi berbagai benda yang berguna ( semacam cindera mata mungkin ).

Industri pengolahan air telah di bangundi Al-Andalus di abad 11 dan 13. Pabrik baja dan pabrik-pabrik lainnya menyebar di Spanyol, baik wilayah Islam maupun kristen di abad 12. Kincir angin dibangun pertama kali diSistan, Afganistan. Kincir angin ini diperkenalkan ke daratan Eropah melalui Islam Spanyol. Dan digunakan di eropah sampai saat ini.

Kincir air ( kilang air / water mill ) sudah dibangun dan digunakan di Al-Andalus antara abad 11 sampai 13. Pabrik baja dan pabrik pabrik lainnya menyebar diantara wilayah Islam Spanyol maupun Kristen Spanyol di abad 12.

Kincir angin pertama kali dibangun diSistan, Afganistan, diperkirakan sudah ada antara abab 7 sampai abad 9. Diperkenalkan ke wilayah eropah melalui Islam Spanyol, dan dipakai hingga saat ini. Terutama negara belanda yang paling terkenal dengan banyaknya kincir angin yang dibangun disana. Begitu pula jenis peralatan kilang tumbuk, sudah dipergunakan para pekerja tambang di Samarkand. Tenaga penggerak alat tersebut adalah air ( kincir air ). Digunakan di Samarkand sejak tahun 973. Di Persia, peralatan tersebut dipergunakan untuk menumbuk biji-bijian. Pada abad ke 11, peralatan tersebut dipergunakan secara luas di Al-Andalus, termasuk di wilayah eropah lainnya. Penumbuk biji-bijian dengan penggunakan peralatan kilang tumbuh, digerakan dengan tenaga kincir air. Dari putaran kincir air, menggerakan tuas atau as sedemikian rupa, yang berhubungan dengan lengan tumbuk pada alat tersebut.

‎Dam, acequias, ( pelafalan dengan bahasa spanyol, yang artinya kurang lebih, jalur air irigasi ), qanat atau pengolahan air bersih bawah tanah, pengaliran air bersih didaerah-daerah panas, seperti di daerah gurun. Juga sistim irigasi yang disebut dengan Tribunal of water irrgation, sudah dibangun dimasa kejayaan Islam Spanyol ( Al-Andalus ), hingga saat ini masih digunakan di wilayah-wilayah islam di eropah, seperti Sisilia maupun semenanjung Iberia. Terutama daerah provensi-provensi Spanyol, seperti Andalusia, Aragon dan Valencia.
Sistim irigasi maupun sistim distribusi air gaya Arabs ( qanat ), diadopsi di kepulauanCanary. Orang-orang amerika keturunan Spanyol yang berada di Texas, New Mexico, Mexico, Peru dan Chili, juga menggunakan sistim distribusi air gaya Arab tersebut.

Kota – kota muslim, seperti di Kordoba, sudah mepunyai sistim air domestik, saluran air sanitasi, kamar mandi maupun toilet umum, tempat minum air bersih ( seperti di negara barat saat ini, air minum tinggal memutar kran dan airnya mancur, kita tinggal minum saja ), dan pipa-pipa untuk memasok air minum.

Lampu-lampu jalan yang pertama kali membangun adalah di jaman Emperium Arab ( Arab Empire ), terutama di Kordoba, Ibukota ke-Khalifahan Al-Andalus ( Islam Spanyol ).

BUDAYA MASAKAN.
Restoran dijaman abad pertengaha Islam Spanyol, dihidang tiga hal, pertama soup kemudian makanan utama terakhir makanan penutup.. Gaya itu diperkenalkan olehZiryab diabag ke 9. Ziryab, seorang musisi, penyair, penyanyi, ahli kecantikan. Dia seorang Persia, ada juga yang menyebut dari suku Kurdi. Ia hidup di jaman dinasti Umayyah.

Sebagai dampak dari meningkatnya pertanian dan usaha makanan, maka taraf hidup di jaman Islam Spanyol meningkat, dan hal itu berdampak pula meningkatnya para lulusan sarjan baru hingga mencapai 65-75 persen pertahun di abad ke 11

Budaya penyajian makanan tersebut diatas masih dianut hingga saat ini di eropah

LINGUISTIK DAN SASTRA.
Sekolah-sekolah di Toledo merupakan sekolah sekolah terkenal di abad pertengahan. Anggota sekolah tersebut adalah, Yehuda bin Tibbon, Herman si orang jerman, Adelard of Bath dan Gerard dari Cremona.

Di abad ke 12, seorang Al-Andalus, filsuf arab dan novelis bernama Ibn Tufail ( di barat dikenal dengan nama Abubacer atau nama lain Ebn Tophail ), mendemonstrasikan teori Ibnu Sinna ( Avicena ), tentang teori tabula rasa, sebagai exsperimen pikiran yang ditulis dalam novel berjudul “Hayy bin Yaqsan”. Bercerita tentang penggabaran tabula rasa perkembangan pikiran seorang anak liar dengan yang dewasa, dikehidupan masyarakt di gurun pasir. Terjemahan bahasa latinnya berjudul “Philoshopus Autodidactus”. Buku ini banyak mempengaruhi pemikiran para filsuf barat.

“Hadis Bayad wa Riyad” ( cerita tentang Bayad dan Riyad ), sebuah cerita cinta yang di tulis di Al-Andalus. Karakter utama cerita ini adalah Bayad, putra seorang pedagang dari Damaskus, dan Riyad, seorang gadis berpendidikan bekerja di pengadilan sebagai Hajib (wazir atau menteri) dan berasal dari Al-Andalus. Cerita ini diyakini hanyalah sebuah ilustrasi manuskrip, cerita ini mampu bertahan lebih dari delapan abad, selama kehadiran muslim di Spanyol.

PENERBANGAN.
Di Abad 9 seorang muslim Spanyol bernamaAbbas Ibn Firnas ( Armen Firnas ), menemukan parasut / payung versi primitip.

John H. Lienhard menggambarkannya dalam bukunya “ The Engines of Our Ingenuity”, sbb :

“Pada 852, seorang Khalifah baru, seorang yang pemberani, melakukan percobaan aneh. Ia bernama Armen Firman. Dia memutuskan, melakukan terbang dari menara di Cordova ( Kordoba ). Meluncur kebumi dengan menggunakan jubah besar seperti sayap, untuk menahan daya jatuhnya. Dia selamat, hanya luka kecil. Seorang muda bernama Ibn Firnas melihat kejadian itu “

Ibn Firnas adalah orang yang pertama kali membuat alat pengendali pada penerbangan, yang sangat berbeda dengan pesawat luncur ( hang glider ), yang pernah dilakukan percobaan di Cina kuno. Pesawat luncur yang dilakukan percobaan di Cina kuno, tanpa menggunakan alat pengontrol penerbangan.

Ibn Firnas membuat dua set sayap buatan, befungsi sebagai pengendali arah penerbangan dan juga sebagai pengatur ketinggian. Dengan demikian Ibn Firnas bisa mengendalikan arah terbang pesawat luncurnya ( Hang Glider ). Dia berhasil kembali ketempat dimana dia menerbangkan pesawat luncurnya, tapi dia kurang berhasil dalam pendaratan. Demikian yang diceritakan oleh Philip Hitti dalam bukunya “History of Arabs “. Dan menurut Philip Hitti pula dalam bukunya yang sama adalah sbb :

“ Ibn Firnas adalah orang pertama dalam sejarah, yang telah membuat upaya percobaan ilmiah dalam ilmu penerbangan “.

Philip Hitti kelahiran Ottoman, Libanon seorang Sarjana dalam ilmu Islam, yang banyak mengenalkan studi budaya Arab di Amerika. Dia berasal dari komunitas gereja Maronit.

Kemungkinan besar, pesawat luncur Ibn Firnas adalah pesawat luncur pertama di dunia, meskipun sebelumnya di Cina kuno pernah ada percobaan layang-layang ber-awak.

Pengetahuan tentang mesin terbang Firnas pada akhirnya menyebar ke Eropah dari referensi Arab. Pesawat luncur pertama bersayap, adalah buatan Firna, walaupun masih gagal dalam percobaan penerbangan.

BUKU-BUKU TERJEMAHAN.

Kontribusi terhadap pertumbuhan ilmu pengetahuan Eropah adalah pencarian sesuatu yang baru oleh para sarjana eropah, dan mereka hanya bisa menemukan ilmu-ilmu baru tersebut, di kalangan umat islam, kususnya di Islam Spanyol dan Islam Sisilia. Para sarjana tersebut menterjemahkan teks-teks ilmiah, filosofis, dari bahasa Arab ke bahasa latin.

Penterjemah yang paling produktif saat itu adalah Gerard dari Cremona. Dia menterjemahkan 87 buku dari bahasa Arab ke bahasa latin. Diantaranya adalah, buku karya Muhammad Ibn Musa Al-Kwarizmi,Algebra and Almucabala, bukunya Jabir Ibn Aflah “ Elementa Astronomica “, Al Kindi “ On Optik “, Ahmad bin Muhammad ibn Kathir al Farqhani “ On Elements of Astronomy on the Celestial Motions “, Al Farabi “ On the Classification of the Sciences “, kimia dan medis karya Razi, karya Tsabit bin Qurra dan Hunain IbnIshaq, serta karya-karya Arzhacel ( Al-Zarqali ), Abu Kamil Shuja’ bin Aslam,Abu al Qasim, Ibn Al Haytham.

Dengan jatuhnya Islam di Spanyol di tahun 1492, maka segala ilmu pengetahuan dan tehnologi ilmiah, ilmu ilmu Islam menjadi warisan bangsa eropah, dan merupakan dasar – tonggak revolusi ilmiah dan jaman Renaisans Eropah.

Jadi semakin jelas, kemajuan bangsa eropah merupakan warisan ilmu pengetahuan kaum Islam di jaman ke-Khalifahan Al-Andalus dengan ibukotanya Kordoba.. Dan sangat di sayangkan, kaum muslim saat ini hanya berkutat di permasalahan perbedaan paham agama, permasalahan haram dan halal. Padahal muslim jaman Al-Andalus bukan lah Muslim yang miskin ilmu pengetahuan maupun ilmu ekonomi, industri dan pertanian serta kelautan. Dari referensi ini, membuktikan kaum muslim jaman setelah Nabi adalah kaum muslim yang berpikiran sangat maju dan modern. Banyak menggali ilmu pengetahuan, disamping melakukan dakwa islam.

MUSIK.

Sejumlah alat musik yang digunakan untuk memainkan musik klasik, terutama yang di Spanyol, nama-nama alat musik tersebut diyakini berasal dari bahasa arab. Kecapi berasal dari kata arab Al’ud, Rebec atau Rebab, Gitar dari kata Qitara. Naker ( sejenis drum kecil ) dariNaqareh. Adufe, rebana berbentuk persegi, alat musik tradisional orang Moor, dipergunakan di Portugis, asal kata dari Al duff. Alboka ( klarinet, alat musik Basque ) dari kata Al-buq, Anafil dari kata Al-nafis,Exabeba ( flute ) asal kata dari Al-shababba, Atabal asal kata dari Al-tabl ( bass drum), Atambal asal kata dari Al-tinbal. Balapan, merupakan alat musik tiup dari kayu dari Azerbaijan. Castanet, terbuat dari dua kulit kerang, yang biasa dipakai penari flamengo di andalusia, dipakai di jari-jarnya. Para penari flamengo modern andalusia, yang terkenal enerjik dan menggairahkan itu, mengakui bahwa tarian itu dipengaruhi oleh unsur seni pertunjukan Arab.

TEMBIKAR.
Moresque-ware Hispano, adalah model desain tembikar bergaya Islam, dibuat oleh para ahli tembikar Islam Spanyol. Tembikar yang di glasier ( bisa menimbulkan efek mengkilat dan bersinar ) ditemukan, oleh umat muslim di Basra di abad ke 8. Tembikar yang diglasier dibuat di Irak di abad 9, pertama kalinya. Dari Irak menyebar ke Mesir, Persia, Spanyol, Belanda di abad 16, terus ke Inggris, Perancis dan negara-negara lain sesaat setelahnya, dan akhirnya sampai di Itali di jaman Renesains.

Lusterware ( gerabak menggunakan glasier logam ) ditemukan oleh Jabir Ibn Hayyan, dan mengaplikasikan pada keramik di abad ke 8. Setelah di produksi, Lusterware populer di timur tengah, kemudian menyebar ke Eropah, pertama di Al-Andalus, terutama di Malaga, kemudian ke Itali.

Semakin terbukti dengan jelas, betapa hebatnya umat Islam setelah nabi. Mereka begitu giat menggali ilmu pengetahuan. Banyak penemuan-penemuan yang dilakukan. Dan temuan temuan itu sangat berguan hungga saat ini. Tapi sayangnya yang banyak mengembangkan justru orang-orang eropah yang notabene beragama kristen. Umat islam jaman kini sangat ketinggalam di bidang ilmu pengetahuan. Lihat saja di pusat studi-studi islam di negara islam berasal, yang dipelajari hanya hukum hukum agama.

Kalau umat islam terus berpandangan seperti itu, maka satu saat muslim akan belajar hukum hukum islam di barat, karena orang-orang barat sekarang sudah sangat giat mempelajari islam, sementara umat islam itu sendiri terlena dengan paham yang kaku, merasa dirinya benar, merasa dirinya pasti masuk surga hanya dengan kata jihad dan meng-katamkan al-quran. Sungguh amat menyedikan cara berpkir seperti itu. Yang diajarkan hanya sifat sifat ke fanatikan tanpa logika. Mangajarkan kebenaran dengan cara yang salah hanya akan menyebar kebencian dan kehancuran.‎

Minggu, 24 Oktober 2021

Sejarah Perkembangan Zaragoza Masa Abu Ja'far Al-Muqtadir


Emires de Zaragoza
Mundir b. Yahya, 1013-1022
Yahya b. Mundir, 1022-1036
Mundir b. Yahya Muizz, 1036-1039
Abdállah b. Hakam, 1039-1039
Sulayman b. Hud, 1039-1046
Abu Ja'far Ahmad b. Sulaymán al Muqtadir, 1046-1083
Yusuf b. Ahmad, 1083-1085
Ahmad b. Yusuf, 1085-1110
Abd al Malik Imad, 1110-1130
Ahmad b. Abd, 1130-1146
Introducción a la taifa
Desde 1009, en la guerra civil por el Califato de Córdoba sobresalió Mundir, de los Tuyibíes, la familia árabe que venía gobernando Zaragoza desde finales del s. IX . El califa Sulayman concedió a Mundir el dominio de Zaragoza, en 1013, y allí se alzó, independiente, en su taifa, extendida por el valle del Ebro, limitando con las taifas de Toledo, Albarracín, Valencia y Tortosa, además de lindar con territorios cristianos.

Así, la taifa de Zaragoza estuvo regida, en una primera fase, por los Tuyibíes.Mundir I se tituló hayib, mayordomo de palacio, igual que se había titulado Almanzor, al que imitó también en su epíteto de al Mansur, el Victorioso.

Las crónicas señalan la prosperidad de la taifa de Zaragoza en tiempos de Mundir I (muerto hacia 1021-1022), y de sus sucesores, su hijo Yahya († 1036) y su nieto Mundir II, asesinado en 1038 por un primo, pronto suprimido por el gobernador hasta entonces de Lérida y Tudela, Sulayman b. Hud, quien pasó a señorear la taifa. El gran oponente de Zaragoza fue en este periodo Sancho IIIel Mayor de Navarra (m.1035).

La segunda fase de la taifa de Zaragoza estuvo dominada por la dinastía de losBanu Hud, otra familia árabe asentada desde el s. VIII en al Andalus. Los Banu Hud destacaron en el partido árabe andalusí, encabezado por la taifa de Zaragoza. Guerrearon por cuestiones fronterizas con los régulos beréberes de la taifa de Toledo.

Recurrieron en este y otros conflictos externos e internos, al pago de parias a Barcelona, Cerdaña, Urgel, Aragón, Pamplona y Castilla. El Cid, como auxiliar de los Banu Hud, llegó a Zaragoza en 1081. La ofensiva cristiana se intensificó con la intervención de la Cruzada en la Península, logrando la toma efímera de Barbastro en 1064, repitiendo incursiones en 1073, 1077 y 1086-1087.

Al morir Sulayman b. Hud en 1047, sus cinco hijos, repartidos por él en el gobierno de los principales enclaves de su taifa (Calatayud, Huesca, Tudela y Lérida, además de Zaragoza), se alzaron cada uno en si lugar, hasta que uno de ellos, Ahmad al Muqtadir, desde Zaragoza, volvió a reunirlo todo, tras luchas que quebrantaron la taifa, aunque pudo expandirse, anexionándose la taifa de Tortosa, en 1060-1061, y la de Denia, en 1076; luego, los régulos de Zaragoza competirán con otras taifas y con el Cid por apoderarse, ya sin éxito, de la taifa de Valencia. Ahmad al Muqtadir murió en 1082, y fue el más importante soberano de la taifa de Zaragoza, dando tono monumental a su corte de la Aljafería, que lleva su nombre de Abu Yafar.

Hasta la conquista de Zaragoza por los almorávides, en 1110, se sucedieron tres régulos más: al Mutamin, 1081-1085; al Mustain II, 1085-1110, e Imad al Dawla, 1110-1130, que tras ser expulsado de Zaragoza por los almorávides, se mantuvo en Rueda de Jalón, apoyado por los reyes cristianos de Aragón y luego de Castilla.

El final de la taifa de Zaragoza está marcado por luchas dinásticas, intentos frustrados de expansión por Levante, conquistas cristianas (Huesca, en 1096; Barbastro, en 1100) y ocupación de los almorávides, quienes tampoco lograron mantenerse: Zaragoza fue ocupada por Alfonso Iel Batallador en 1118, y Tudela en 1119. La Marca Superior de al Andalus quedó desmantelada en el s. XII.

Abú Yafar Áhmad ibn Sulaymán al-Muqtadir Billah, rey de la taifa de Saraqusta entre 1046 y 1081.

Abú Yafar Al-Muqtadir, de la dinastía de los Banu Hud, llevó a la taifa de Zaragoza a su máximo apogeo político y cultural. Fue mecenas de las ciencias, de la filosofía y de las artes. Mandó construir el bello palacio de la Aljafería donde se reunieron importantes intelectuales andalusíes.

Al-Muqtadir consiguió reunir bajo su mandato las tierras disgregadas tras el reparto de los dominios de Zaragoza entre sus hermanos hecha por su padre ‎Sulaymán banu Hud al-Musta'in. Solo Yúsuf, gobernador de Lérida, resistió durante más de treinta años los intentos de integración de su hermano, hasta que fue hecho prisionero en 1078.

Fue un periodo de máximo esplendor de la taifa zaragozana, que, en la segunda mitad del siglo xi, solo tuvo rival en la de Sevilla ‎de Al-Mutamid. Sus fronteras llegaron hasta el Mediterráneo, cuando, a partir de1076 reunía bajo su dominio las taifas de ‎Tortosa y de Denia, siendo el rey de la taifa de Valencia vasallo suyo.

Sin embargo, la difícil situación de Zaragoza, amenazada por el reino de Aragón de Ramiro I y Sancho Ramírez y en constante litigio fronterizo por las tierras de la extremadura navarra y castellana (Tudela, Soria, Guadalajara), obligaban tanto a Al -Muqtadir como a Yúsuf de Lérida a pagar parias a sus vecinos cristianos, en especial al poderoso Alfonso VI de Castilla. Hasta el punto de que, en1081, su sucesor, Al-Mutamán hubo de contratar los servicios de un mercenario castellano, Rodrigo Díaz de Vivar, conocido más tarde como El Cid, que deriva del árabe "sidi" (Señor).

Rey taifa de Zaragoza nacido hacia 1020 y muerto hacia 1082. Su reinado fue el más largo de entre los reyes de Zaragoza y su reino, el más grande de la España musulmana de su época, tuvo más de la mitad de sus fronteras lindando con los diferentes estados cristianos. Durante los primeros años de su reinado Ahmed se dedicó a unificar el país y posteriormente convirtió Zaragoza en una potencia expansiva que conquistó los reinos de Tortosa y Denia.
Perteneciente a la familia de los Banu Hud, originaria de Arabia y cuyo primer representante en Al-Andalus fue Hud, Ahmed fue hijo de Sulayman Ibn Hud al-Mustasin, que había gobernado Zaragoza con el título de al-Hayib entre 1039 y 1046 y que había dividido sus estados entre sus cinco hijos; Ahmed recibió Zaragoza a la muerte de su padre en 1046 y tomó los títulos de al-Hayib, Imad ad-Dawla y más tarde al-Muqtadir Billah.

De los hermanos de Ahmed, Lubb, que gobernaba Huesca, era el único que se mantuvo dependiente de Zaragoza; Mundiren Tudela, Muhammad en Calatayud y Yusuf al-Muzaffar en Lérida, trataron de gobernar su herencia de manera autónoma, pero la política centralista del soberano de Zaragoza pasaba por la reunificación de los estados paternos. Ahmed, según los cronistas, se valió de engaños para arrebatar sus reinos a sus hermanos. Antes de 1051 sometió Tudela y Calatayud, pero al-Muzaffar de Lérida no estuvo conforme con entregar el poder a su hermano, lo que causó un largo enfrentamiento entre ambos.

A principios del reinado de Ahmed se produjo un hecho que ilustra los métodos que usó el rey de Zaragoza en las guerras civiles contra sus hermanos y la enemistad que existía entre éste y Yusuf al-Muzaffar: los habitantes de Tudela, que dependían del gobernador de Lérida, le pidieron ayuda debido a la gran carestía de alimentos que sufrían. Yusuf reunió los víveres que los tudelanos reclamaban y ofreció al rey de Aragón, Ramiro I, una cantidad de dinero para que permitiese al convoy con los alimentos atravesar sus tierras de camino a Tudela. Cuando Ahmed se enteró del acuerdo ofreció al monarca aragonés el doble de dinero del que le había ofrecido su hermano para que le permitiese enfrentarse a al-Muzaffar y Ramiro aceptó. Según la crónicaal-Bayan el enfrentamiento entre ambos ejércitos -Yusuf había enviado los víveres acompañados de una importante escolta de jinetes- se produjo en el centro de los territorios de Ramiro y el resultado de la escaramuza fue la victoria de Ahmed, que permitió a los aragoneses hacerse con el botín y tomó como prisioneros a los supervivientes. A raíz de este enfrentamiento el prestigio de Ahmed creció enormemente. Aunque la crónica no indica la fecha del suceso, parece que éste se produjo antes de noviembre de 1058, fecha en que los hermanos celebraron una entrevista para poner fin a las guerras entre ambos. Ibn Jaldun también habla en sus crónicas de la alianza que en el año 443 de la Hégira (1051/52) concretó Yusuf con catalanes y navarros para atacar Zaragoza, pero la noticia es vaga y no da más datos al respecto.

Ahmed Ibn Hud, para asegurar la integridad de sus territorios o para comprar la intervención cristiana en sus enfrentamientos, pagó parias a los diferentes príncipes cristianos entre los años 1048 y 1063: tributó a Ramón Berenguer I de Barcelona, a Ramiro I de Aragón, a Armengol III de Urgel y a García de Pamplona; a partir de 1061 también se convirtió en tributario de Fernando I de Castilla.

En noviembre de 1058 Ahmed y Yusuf se reunieron para negociar la paz, pero en la entrevista, realizada en los territorios de Ahmed, el rey de Lérida fue atacado por gentes de Ahmed y sólo salvó su vida gracias a la cota de malla que portaba bajo sus vestiduras. Según Ibn Hayyan, Ahmed negó cualquier implicación en el hecho y castigó a los atacantes con la muerte, lo cual evitó una guerra abierta entre los hermanos, pero la enemistad entre ambos continuó como antes de la entrevista.

Ante la imposibilidad de extender su reino a costa del feudo de Yusuf, Ahmed comenzó una política expansiva hacia Levante. Se apoderó de Tortosa tras una sublevación de su población contra el gobernante Nabil al-Fatah y el poder le fue entregado por los notables de la ciudad. La incorporación de este pequeño reino supuso para la taifa de Zaragoza la anexión de un territorio conocido por su riqueza y con un importante puerto para el comercio y la construcción y reparación de barcos. Las fuentes árabes discrepan en la fecha de esta incorporación, pero en cualquier caso, ésta debió producirse entre 1060 y 1061.

En mayo de 1063 el reino Hudí de Zaragoza fue atacado por Ramiro I de Aragón por su principal baluarte: Graus, que junto con Barbastro constituía el puesto más avanzado de Al-Andalus. Graus ya había sufrido los ataque sin éxito del monarca aragonés en la primavera de 1055 y volvió a ser sitiada por el mismo rey en primavera de 1063. Ahmed marchó a la defensa de la ciudad, contando con la ayuda del infante Sancho, hijo de Ramiro I; un joven Rodrigo Díaz de Vivar también formaba parte de las huestes del zaragozano. En la batalla perdió la vida el rey aragonés y la victoria fue de los aliados musulmanes y castellanos.

La muerte de Ramiro I causó una gran conmoción en la Europa cristiana, de modo que el papa Alejandro II predicó la cruzada contra los musulmanes de España y concedió la remisión de los pecados a aquellos que combatiesen contra ellos. A la prédica de 1063 sucedió la movilización cristiana el año siguiente, de carácter internacional, a la que acudieron sobre todo franceses y a la que se unieron italianos y catalanes. El ejército cristiano estuvo comandado por Guillermo de Montreuil, gonfaloniero del papa; la facción catalana estaba bajo el mando de Armengol III de Urgel; los franceses, fueron comandados por Guillermo VIII, conde de Poitiers y duque de Aquitania; junto a todos ellos se encontraba el aventurero Robert Crespin, barón de la Baja Normandía, capitaneando a los normandos. Los coligados se reunieron en Graus y partieron hacia Barbastro a finales de junio de 1064. La ciudad, que se encontraba bajo la zona de influencia de Yusuf al-Muzaffar, señor de Lérida, fue abandonada a su suerte por su gobernante y terminó capitulando por falta de provisiones y agua.

La pérdida de Barbastro pasó a ser el tema más importante de las conversaciones en todo Al-Andalus y algunos escritores como Ibn Hayyan culparon Ahmed Ibn Hud. El rey de Zaragoza, para desquitarse de estas acusaciones, preparó un ejército para reconquistar la ciudad y contó para ellos con el apoyo del poderoso rey de Sevilla, Abbad Ibn Muhammad al-Mutadid e hizo un llamamiento a los distintos reyes taifas de Al-Andalus para comenzar la guerra santa contra los conquistadores de Barbastro. El ejército, imbuido de una gran sed de venganza por las humillaciones que habían sufrido ante los cristianos los habitantes de la ciudad, partieron de Zaragoza a primeros de abril de 1065; un mes después Barbastro había sido recuperada para el Islám y a consecuencia de ello Ahmed I Ibn Hud fue considerado en todo Al-Andalus el campeón y el salvador del Islám y el reino Hudí de Zaragoza se hizo más fuerte y poderoso. A partir de este momento Ahmed tomó el título honorífico de al-Muqtadir.

En 1069 Ahmed al-Muqtadir firmó una alianza con Sancho García de Navarra con vistas a evitar un ataque navarro-aragonés en caso de que el rey navarro se uniese conSancho Ramírez de Aragón. A raíz de la reconquista de Barbastro al-Muqtadir comenzó a extender su autoridad y engrandecer su reino incorporando, poco a poco, nuevos dominios, lo que hizo de la Marca Superior un nuevo y poderoso reino. Coincidiendo con la anarquía que se desató en Castilla tras la derrota de Barbastro, las fronteras del reino de Zaragoza quedaron cerradas contra las tentativas conquistadoras de sus enemigos, a excepción de algunos lugares que fueron atacados por los aragoneses sin resultados. El peligro que suponía el reforzamiento del reino Hudí llevó al papa Alejandro II a predicar una nueva cruzada contra los dominios de al-Muqtadir. Tras la muerte del pontífice en 1073 la cruzada fue retomada por su sucesor,Gregorio VII. Por causa de la alianza entre Zaragoza y Pamplona, Sancho Ramírez de Aragón buscó apoyos en el exterior para enfrentarse al reino Hudí y los encontró en Francia y en la Santa Sede, pero el proyecto de cruzada retomado por Gregorio VII, no obtuvo el mismo acogimiento que el anterior de 1063 y los ataques del rey aragonés contra los territorios de al-Muqtadir -probablemente sobre Huesca- fueron de poca magnitud y contando con la única ayuda extranjera que la que le proporcionó su cuñado Ebles, barón de Champañes.

En 1076 una serie de circunstancias hicieron que Ahmed al-Muqtadir se convirtiese en soberano de la taifa de Denia: el rey de Zaragoza inició expediciones contra el reino de Denia, gobernado por Alí Iqbal ad-Dawla, para conquistar ciertas fortalezas y entregarlas a su hijo al-Mundhir; cuando el príncipe deniense supo de los planes del zaragozano envió orden a los alcaides para que entregasen las plazas, pero después dio la orden contraria y pidió ayuda a sus aliados de Sevilla y Almería para resistir a Ahmed; éste marchó a Denia y se entrevistó con el príncipe Muizz ad-Dawla, interviniendo en las negociaciones un ministro deniense de Ahmed, Ibn Ar-Royolo, que según las crónicas fue quien convenció a su señor para que se apoderase de la ciudad, cosa que sucedió en marzo de 1076, cuando los altos dignatarios de Denia entregaron el poder a al-Muqtadir. El nuevo monarca de Denia permaneció un tiempo en la ciudad para arreglar ciertos aspectos administrativos y después marchó a Zaragoza llevando consigo a Alí Iqbal ad-Dawla, a quien concedió un pequeño feudo del que éste vivió hasta su muerte en 1081.

Después de la anexión de Denia al-Muqtadir se interesó por la incorporación a sus dominios del reino de Valencia, que a la sazón se encontraba bajo la órbita del reino de Toledo, cada día más acosado por Alfonso VI de Castilla. Según el cronista Ibn Bassam, los súbditos de al-Muqtadir le acusaban de haber conquistado Denia antes que Valencia, más importante y rica. Para no enemistarse con el rey de Castilla, el rey Hudí entregó una suma de dinero a Alfonso VI para que éste le permitiera anexionarse el reino de Valencia. El régulo de Valencia, Abu Bakr Ibn Abd al-Aziz tuvo el acierto político de reconocer teóricamente la soberanía de al-Muqtadir sobre la ciudad (1076), lo que evitó que el ejército dispuesto para conquistarla entrase en ella.

Durante sus últimos años de vida al-Muqtadir consiguió anexionar por fin el reino de Lérida a sus posesiones, al vencer a su hermano mayor al-Muzaffar y encarcelarlo en el castillo de Rueda. Las crónicas no han dejado datos sobre el hecho y se desconoce la fecha de la incorporación de Lérida, que debió suceder entre 1078 y 1081; por estos años al-Muqtadir se apoderó también de Molina de Aragón y Santaver.

Antes de morir, el rey de Zaragoza acogió en sus dominios a Rodrigo Díaz de Vivar que al ser expulsado de Castilla había ofrecido sus servicios a Ramón II de Barcelona y había sido rechazado, por lo que viajó a Zaragoza donde ofreció su espada a su antiguo señor en la batalla de Graus. En 1081 al-Muqtadir enfermó gravemente y el gobierno de sus estados pasó a sus hijos: Yusuf al-Mutamin se encargó del gobierno de Zaragoza, Calatayud, Tudela y Huesca; Mundir comenzó a reinar en Denia, Tortosa, Lérida y Monzón. De esta manera se volvieron a disgregar los estados que al-Muqtadir había acumulado durante su largo reinado. Ahmed Ibn Hud al-Muqtadir Billah mantuvo el poder teórico hasta 1082, año en que aún aparece en las monedas y que probablemente fue el de su muerte. Las fuentes árabes no se ponen de acuerdo en la fecha ni la causa de su muerte: Ibn Idari e Ibn al-Jatib mencionan el año 475 de la Hégira (1082/1083); Ibn Abi Zar e Ibn Jaldun afirman que fue en Yumada I del 474 de la Hégira (octubre de 1081). Por otra parte Ibn al-Jatib indica que el señor de Zaragoza murió a causa del ataque de un perro, mientras que Ibn Idari relata que fue víctima de una enfermedad que le hizo perder la razón.

Durante su próspero reinado Ahmed al-Muqtadir sólo acuñó dirhemes. Fue un soberano amante de la cultura, que se rodeó en su corte de filósofos y literatos. Pasó a la posteridad por la construcción del palacio de la Aljafería y por el embellecimiento de Zaragoza

Historia del reinado de Al-Muqtadir‎

Conflictos fratricidas por la sucesión
Al obtener el reino de Zaragoza en 1046, Al-Muqtadir debió reducir a su obediencia a sus hermanos, que habían sido situados al frente del gobierno de los diferentes distritos de la Taifa, y que pronto se alzaron como régulos en sus diferentes ciudades. Excepto Lubb de Huesca, que reconoció pronto a su señor y hermano, Muhámmad en Calatayud y Mundir en Tudela comenzaron a acuñar moneda con su nombre, dándose títulos soberanos. En1051 Al-Muqtadir ya habría destronado a tres de sus cuatro hermanos (excepción hecha de Yúsuf al-Muzaffar de Lérida) recurriendo incluso a celadas no muy nobles.‎

Yúsuf intentó incluso dominar Zaragoza, atacando a su hermano Al-Muqtadir, que, a su vez, y para impedir que Lérida se aliara con ejércitos cristianos para conseguirlo (sobre todo estaban interesados en ello los condes catalanes por las recompensas territoriales que podrían obtener) debió comenzar con su política de aplacarles pagándoles parias a cambio de su no intervención. De este modo, uno de los males endémicos de Zaragoza comenzó pronto a manifestarse, pues las grandes necesidades de dinero para tributar a los reinos cristianos provocaron continuas subidas de impuestos, lo que supuso un descontento creciente de la clase productiva de Zaragoza. Más aún, la economía de la taifa se resentía a la vez que aumentaba la disponibilidad de numerario de unos reinos cristianos cuyos intercambios en metálico eran de escasa entidad hasta entonces. El cargo más oneroso para las arcas de Al-Muqtadir fue el ser tributario del poderoso reino de Castilla, que le defendía de los ataques del rey aragonés. Ya en 1060, Fernando I de Castilla cobraba el impuesto anual del rey de Zaragoza. En 1058 había intentado firmar la paz con Yúsuf de Lérida para evitar pagar parias al conde de Barcelona,Ramón Berenguer I (incluso consta que recibieron tributos de Zaragoza en algún momento entre 1048 y 1063 Ramón de Cerdaña, Armengol de Urgel, Ramiro I de Aragón y García de Pamplona), pero la desconfianza entre los dos hermanos impidió su avenencia.
La conquista de la taifa de Tortosa
En 1060, un suceso inesperado vendría a iniciar la expansión hacia levante de Áhmad I Al-Muqtadir, obteniendo una salida al mar. Al morir los dos régulos eslavos de la taifa de Tortosa, Muqatil y Ya'la, un tercero, llamado Nabil o Labil que les sucedió, no pudo mantenerse en el poder, acosado por presiones internas y del exterior y, con sus súbditos sublevados, abandonó la taifa y se la entregó a Al-Muqtadir a cambio de asilo político. De este modo se inicia una expansión territorial que ocuparía todo el Levante con el vasallaje de Valencia en 1076 y la rendición de Lérida en 1078. Paradójicamente, su poderío con respecto al resto de los reyes taifas de la zona contrasta con la debilidad mostrada ante los pujantes reinos cristianos, a los que solo podía hacer frente pagando a cambio de alianzas, apoyos militares y ejércitos mercenarios, como el del desterrado Cid.

La frontera norte: cruzada y yihad por Barbastro
A mediados del siglo xi, la frontera norte del reino hudí se situaba en la actualBarbastro, y disponía de un fuerte enGraus. Ramiro I de Aragón intentó repetidas veces apoderarse de estos puntos estratégicos que formaban una avanzada en forma de cuña entre sus territorios. En 1063 sitió Graus, pero Al-Muqtadir en persona, al frente de un ejército que incluía un contingente de tropas castellanas al mando de Sancho, el futuro Sancho II de Castilla, que quizá contaba en su mesnada con el Cid, consiguió rechazar a los aragoneses que perdieron en esta batalla a su rey, al parecer asesinado por un soldado árabe, llamado Sadaro, que hablaba romance y que iba disfrazado de cristiano y que, acercándose al real de Ramiro I, le clavó una lanza en la frente. Su sucesor, Sancho Ramírez, con la ayuda de tropas de condados francos ultrapirenaicos llamadas a la cruzada por Alejandro II, tomó Barbastro en 1064.

Al año siguiente, Al-Muqtadir, reaccionó solicitando la ayuda de todo Al-Ándalus, llamando a su vez a la yihad y volviendo a recuperar Barbastro en 1065. Este triunfo le indujo a tomar el sobrenombre de Al-Muqtadir Billah ("el poderoso gracias a Dios), que inmediatamente mandó grabar en inscripciones cúficas en las yeserías dela Aljafería que entonces estaba construyendo con las leyendas "Esto es lo que mandó hacer el poderoso gracias a Dios" (es decir, Al-Muqtadir Billah).

A pesar de la pérdida de Barbastro, el reino de Aragón era una fuerza emergente y en ese mismo año toma el castillo de Alquézar. Para contrarrestarle, Al-Muqtadir firmó tratados en 1069 y 1073 con Sancho el de Peñalén, rey de Pamplona, por los que obtenía la ayuda navarra a cambio de parias. La alianza con el rey pamplonés detuvo por un tiempo el expansionismo aragonés, pero Sancho IV murió pronto, en junio de 1076, asesinado por obra de una conjura de sus hermanos Ramón y Ermesinda.

Campañas en Levante: conquista de Denia y vasallaje de Valencia
En levante, la taifa de Denia, que era muy rica, pues había sido una potencia marítima y comercial en tiempos deMuyahid y su hijo Alí (que casó con una hermana de Al-Muqtadir), estaba subordinada al gran Al-Mamún de Toledo, que murió envenenado en 1075. Aprovechó esta ocasión Al-Muqtadir para presentarse en Denia con un ejército notable, animado por un visir de aquel soberano llamado Ibn al-Royolo, que consiguió mover a la población a favor del monarca zaragozano. Se negoció sin batalla la entrega de la Taifa de Denia a Al-Muqtadir en 1076, con lo que los dominios de Zaragoza se extendieron hasta la actual Murcia.

Tras este éxito, Al-Muqtadir fijó su objetivo en comunicar sus dominios, interrumpidos por la Taifa de Valencia. Esta era gobernada por Abú Bakr de Valencia, que había estado subordinada políticamente a Toledo y estaba en la órbita de Alfonso VI, de quien de hecho dependía. Al-Muqtadir se dirigió a Valencia con sus tropas y Abú Bakr salió a su encuentro engalanado y se declaró su vasallo. Así, Valencia pasó a ser una taifa vasalla del señor de Zaragoza y, a cambio, este mantuvo al rey-títere Abú Bakr en Valencia en el poder. No podía llevar a cabo una conquista más efectiva, pues, tanto Alfonso VI, como el resto de los régulos de taifas, estaban muy recelosos del excesivo poder que acumulaba el rey de Zaragoza.
Últimos años: dominio sobre la taifa de Lérida 
En sus tres últimos años de gobierno, de1078 a 1081, Al-Muqtadir concentró sus fuerzas en conseguir someter a su poder a la taifa de Lérida, donde resistía su hermano Yúsuf al-Muzzafar. Tras muchos enfrentamientos lo hizo prisionero en la fortaleza de Rueda y logró el reconocimiento de su dominio sobre Lérida por parte de su hermano. Pese a ello, y tal como había hecho su padre Sulaymán, volvió a dividir el reino al entregar a su hijo Al-Mutamín Zaragoza y la zona occidental, y a su hijo Al-Mundir, Lérida, Tortosa y Denia. A finales de 1081 Al-Muqtadir, al parecer gravemente enfermo, tuvo que delegar el poder en sus hijos y murió, con toda seguridad, en el año 1082.

Esplendor cultural‎

Además de su talento político y militar, Al-Muqtadir fue un rey sabio, con amplias inquietudes artísticas y culturales. Como muestra del esplendor de su reinado mandó erigir un palacio-fortaleza en la explanada de la saría zaragozana, en la Almozara, donde se celebraban las paradas militares, las fiestas de las victorias y los ejercicios ecuestres: La Aljafería (al-yafariya deriva de uno de sus nombres, Al-Yafar). Este suntuoso palacio fue la sede de su corte, creando en sus dependencias un centro de cultura donde acudieron intelectuales y artistas de todos los puntos de Al-Ándalus, buscando un refugio de tolerancia y mecenazgo en la taifa más septentrional y más alejada del influjo almorávide por su lejanía y por ser regida por una dinastía hispanoárabe. Allí se dieron cita poetas, músicos, historiadores, místicos y, sobre todo, nació la mejor escuela de filosofía del islam, con la incorporación plena de Aristóteles a la filosofía árabe, labor que, iniciada en Oriente por Ibn Sina (Avicena), fue desarrollada con un criterio independiente por Ibn Bayya, el Avempace de los cristianos. La labor de Avempace fue el punto de partida de la filosofía hispano-árabe, que fue continuada por Ibn Rushd (Averroes) y en la cultura hebrea por Maimónides.‎

Paradigma Muawiyah Bin Abu Sufyan


Para poder comprender por qué hay una diferencia tan grande entre el discurso del Corán y el discurso de la llamada Sunna (La sunna escolástica y no la sunna profética), para poder entender por qué existen hoy día tantos movimientos y tendencias en el Islam actual, aunque también en el Islam clásico, como Sunnies (Salafies, Asharies, Maturdies, Nasibies, Muyries,…), Shias (Imamies y sus grupos, Zaidies, ismaelies y sus grupos, alauies…), Ibadies, Muutazilies, etc…
Pero también para poder comprender por qué el Corán habla de una unicidad pura mientras que en los hadices encontramos antropomorfismos y semejanzas de Dios con sus criaturas. Para poder entender por qué el Fiqh ha desarrollado una jurisprudencia muy similar a la herencia hebrea por ejemplo, la lapidación y la inferioridad de la mujer, cuando nada de eso aparece en el Corán más bien el Corán dice lo contrario. O por qué no existe la Consulta (Ashuura) cuando es un mandamiento coránico. Personalmente me he topado con un personaje histórico que siempre que quiero buscar y llegar al principio de cualquiera de estos asuntos encuentro siempre el mismo personaje como paradigma central que conecta todos estos aspectos, es como si fuera la piedra angular sobre lo que se va a construir el Islam Anti-profético.

Llevo un tiempo haciendo una investigación sobre este personaje (Para muchos considerado Sahabi o compañero del Mensajero) pero al final lo único que hice fue realizar una tarea de compilación y traducción porque encontré que muchos ya lo habían investigado en la antigüedad y en la actualidad y ahora comprendo su trascendencia en la actualidad de los musulmanes y el Islam. Este personaje se llama Muawiya Ibn Abi Sufian del Clan de Beni Omeya (Posteriormente imperio Omeya) de la tribu de Quraish. Siempre he escuchado en muchos púlpitos que cuando se nombra Muawiya se dice después (Dios esté complacido con él), claro que esto se repite para todos los compañeros del Mensajero, la paz sea con él. Luego de investigarlo me llevó a cuestionarme ¿Quiénes son realmente los Compañeros del Mensajero, la paz sea con él? desde luego Muawiya no podía ser uno de ellos sobre todo después de leer lo que dijo el Profeta sobre él.
Por ejemplo el Hadiz que dice: El primero que cambiará mi Sunna será un hombre de Beni Omeya.

Este hadiz está recogido en muchas de las obras como Sahih tanto las antiguas como las nuevas como en la Cadena del Sahih del Albani (nº 3598).

Otro Hadiz: Todo pueblo tiene su Faraón y el Faraón de mi Ummah es Muawiya. Hadiz Sahih en diferentes cadenas y el Sahabi que lo narra es Abu Tharr. Pero también lo narra Ibn Al-abbas. Recogido en más de una obra por ejemplo Ajbar Asbahan Volumen 7 página 40 o también Al-Muntajab de Al-jalal volumen 1 págin 32, …. También está narrado de forma más completa (Todo pueblo tiene su Faraón y el Faraón de mi Ummah es Muawiya y ciertamente Muawiya está en el nivel más bajo del fuego y poca diferencia con el Faraón si no es porque el Faraón dijo “Yo soy vuestro señor el exaltado” Estaría en el más bajo de los niveles del fuego)

Otro Hadiz: Narrado por Abdullah Bin Omar dijo; dijo el Mensajero, la paz sea con él: Aparecerá un hombre por esa parte que morirá no siendo de mi religión, entonces temí que fuera mi padre, y apareció Muawiya. Considerado Sahih. En la obra del Asbahani Volumen 7 página 47ز

O quizás uno de los hadices más famosos es cuando dice el Mensajero cuando veía a Ammar levantado tabiques para la construcción de la mezquita de Medinah, Ammar será asesinado por el grupo hipócrita (rebelde) les llama a Dios y le llaman al fuego. Sahih Bujari (2657), Sahih Muslim (2915) y demás colecciones del Sahih. Y los que tienen nociones de la historia islámica saben que en la batalla de Siffin Ammar luchó en el bando del Imam Ali mientras que el ejército de Muawiya era el que lo asesinó.

Estos sólo son algunos de los hadices sobre Muawiyah que de ninguna manera reflejan a un Sahabi o compañero más bien a un enemigo del mensajero y del Islam. Bien pues comprendiendo los acontecimientos llevados a cabo a nivel político, social, cultural y religioso por Muawiya y su gobierno, comprenderemos por qué no tenemos claro el concepto de compañero del mensajero, la paz sea con él, o por qué hubo diferentes grupos, o por qué se habían falsificado hadices o ¿Por qué de repente personajes como Kaab Al-ahbar, el representante por excelencia de la influencia judía en la corte Omeya, tiene más influencia sobre Abu Huraira? o ¿Por qué se le permite a Abu Huraira, Dios le tenga en su misericordia, narrar más de 5000 comentarios? o ¿Por qué no encontramos muchos comentarios de otros Sahaba como Abu Tharr o Ammar o Ali pero si encontramos de muchos omeyas o de sus aliados? etc…

Sin duda el estudio de la historia de Muawiya Ibn Abu Sufian nos revelará mucho sobre el Islam anti-profético que explica la contradicción entre la Sunna escolástica por un lado y el Corán y la Sunna profética por otro lado.‎

Cuando empezó la misión profética, sabemos, que como ocurrió con los Mensajeros anteriores, fue rechazada, combatida y humillada por parte de los Quraishies, aún así Dios quiso que su Mensaje prevaleciera sobre la soberbia de este pueblo. ‎

El Islam fue gravemente alterado después del fallecimiento del Mensajero, la paz sea con él, la visión coránica y profética en su mayoría fue sustituida por la visión escolástica creando un Islam histórico que dista mucho (institucionalmente hablando) del Islam coránico. Las diferentes contradicciones entre muchos comentarios, normas, leyes, visiones y el Corán es muy palpable, pero para poder explicar todo eso debemos volver a las raíces del problema. Como dije en un hilo anterior sería interesante abrir un hilo dedicado a lo que considero el paradigma que vincula todos estos aspectos de la contradicción del Islam escolástico. Este paradigma, que una parte del Islam escolástico considera Sahabi (En el sentido de compañero seguidor del Mensajero la paz sea con él) y que otros niegan ese estatus. En este hilo lo que quiero tratar es el propio Islam de Muawia, es decir, ¿era Muawia un creyente? antes de hablar si fue un compañero. Obviamente Muawiya y su padre Abu Sufián era enemigo aférrimos del Profeta desde la etapa inicial y hasta la etapa final. No entraré en las razones previas a la profecía y la rivalidad entre el Clan de Beni Omeya al que pertenecían Abu Sufián y su hijo Muawia y el clan Beni Hachim al que pertenecía el Profeta, la paz sea con él.

El argumento Coránico:
Azora de Yasin

يس (1) وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ (2) إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ (3) عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (4) تَنزيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ (5) لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ (6) لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (7) إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلالا فَهِيَ إِلَى الأذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ (8) وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ (9) وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (10) إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ (11)

Ya, Sin* (1) ¡Por el Corán sabio! (2) que tú eres uno de los enviados (3) en un camino recto. (4) Revelación que ha hecho descender el Poderoso, el Compasivo (5) para que adviertas a una gente cuyos padres no fueron advertidos y están desorientados. (6) Se ha hecho realidad la palabra dictada contra la mayoría de ellos y no creen. (7) Cierto que les pondremos en el cuello argollas que les llegarán hasta el mentón y no podrán moverse. (8) Hemos puesto una barrera por delante de ellos y otra por detrás y les hemos velado, no tienen visión. (9) Es igual para ellos que les adviertas o que no les adviertas, no creerán. (10) Sólo admite la advertencia quien sigue el Recuerdo y teme al Misericordioso aunque no Lo vea. Anúnciale perdón y una generosa recompensa. (11)

Esta aleya es Mequense bien se refiere a sólo los Quraish (Que es lo más probable por el contexto) o bien a todos los árabes. Y Dios deja claro que una mayoría no creerá y sólo una minoría es la que seguirá el Recuerdo y tiene consciencia del Misericordioso.

Mientras que el discurso escolástico habla de aquellos que hicieron la peregrinación con el Mensajero, la paz sea con él, eran más de 114 mil. Es obvio que la mayoría eran musulmanes de nombre, hipócritas, negadores o en los que sus corazones hay una atracción por lo mundano. Y esto lo veremos en las aleyas que vendrán después.

Hay que recordar que cuando fue revelada esta aleya Abu Sufián y Muawiya forman parte del liderazgo que lucha contra el Mensajero, la paz sea con él.
En la azora de La Postración:
Y dicen: ¿Cuándo tendrá lugar la victoria (Conquista) si es verdad lo que decís? (28) Di: El día de la victoria (conquista), de nada les servirá a los que se negaron a creer que crean ni se les dará un tiempo de espera. (29) Apártate de ellos y espera, que su caso es sólo cuestión de tiempo. (30)

En esta aleya los Quraishies se mofan del Mensajero sobre la promesa de Dios. Y la vitoria o la conquista, bien se refiere a la victoria de Badr o bien la del Hudeibia o bien la de Makkah. Es decir, que Dios dice en el Corán de que entonces de nada les servirá decir que creemos. Obviamente está de más recordar que Abu Sufián y Muawia están al frente del liderazgo de los Quraishies.

Este liderazgo Quraishi es el mismo que prometió no creer hasta ver grandes milagros. Esto está en la Azora de El viaje Nocturno:
Hemos mostrado en este Corán a las personas toda clase de ejemplos, sin embargo la mayoría de ellos ha rehusado todo lo que no fuera negarse a creer. (89) Y dicen: No creeremos en ti hasta que no hagas por nosotros que surja un manantial de la tierra. (90) O poseas un jardín de palmeras y vides y hagas nacer entre ellas ríos que fluyan. (91) O que hagas caer el cielo en pedazos sobre nosotros, como afirmas, o traigas a Allah y a los ángeles por delante. (92) O poseas una casa de oro o subas al cielo, y aún así no creeríamos en tu ascensión hasta que no hicieras descender sobre nosotros un libro que pudiéramos leer.Di: Gloria a mi Señor. ¿Acaso soy algo más que un ser humano enviado como mensajero? (93) Y lo que impide a los hombres creer cuando les llega la guía es que dicen: ¿Es que Allah ha mandado como mensajero a un ser humano? (94)

Bien pues esos milagros no han ocurrido, la pregunta es ¿Han cumplido su palabra y nunca creyeron?
Pero estos Quraishies que rechazaron creer en el Corán que les vino a anunciar el Mensajero, la paz sea con él, ¿Qué dirán el día del Juicio según Dios en el Corán?:
Y dicen los que se niegan a creer: No creeremos en este Corán ni en lo que había antes. Pero si pudieran ver los injustos cuando estén de pie ante su Señor haciéndose mutuos reproches. Dirán los que se dejaron llevar a los que fueron soberbios: De no haber sido por vosotros habríamos sido creyentes. (31)

En las aleyas anteriores Dios en el Corán condena a los que negaron al Mensajero y la revelación y lo persiguieron, lo humillaron y a los que estaban con él. Asesinaron a los que asesinaron, y todos recordamos a Abu Yahl, otro líder de los quraishies, ejecutando los padres de Ammar Ibn Yaser.

La pregunta que podemos plantear sobre estas aleyas que condenan a los quraishies que negaron al Mensajero y lo combatieron injustamente, principalmente sus líderes, entre los que se encuentran a su cabeza Abu Sufián y Muawia, ¿Retirará Dios la condena porque se precipitó al condenarles, pues puede que Dios se haya equivocado (según la visión de algunos sobre la divinidad) y que luego crean de verdad?
En la azora de Yunus Dios se dirige al Mensajero, la paz sea con él y le dice:

فَإِنْ كُنْتَ فِي شَكٍّ مِمَّا أَنزلْنَا إِلَيْكَ فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكَ لَقَدْ جَاءَكَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ (94) وَلا تَكُونَنَّ مِنَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ فَتَكُونَ مِنَ الْخَاسِرِينَ (95) إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ (96) وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الألِيمَ (97)
Y si estás en duda de lo que te hemos hecho descender, pregunta a los que leían el Libro antes de ti. Te ha llegado la verdad de tu Señor; no seas de los escépticos. (94) Ni seas tampoco de los que niegan la verdad de los signos de Allah, porque entonces estarías entre los perdidos. (95) Aquéllos en cuya contra se han hecho realidad las palabras de tu Señor, no creerán (96) aunque se les presenten todos los signos, hasta que no vean el doloroso castigo. (97)

Es decir, aquellos que previamente ya se ha revelado contra ellos la palabra de Dios no creerán. Y si aún no ha quedado claro, hay más aleyas aún más contundentes en este sentido.

La siguiente aleya para muchos interpretes se refiere a cuando los musulmanes conquistaron Makka los asociadores vieron el inmenso poder y se rindieron. Pero hay opiniones que dicen que no, así que no se presenta como argumento definitivo pero la citaré como posibilidad de la primera opinión:
Azora de El Perdonador (Ghafir):

فَلَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا قَالُوا آمَنَّا بِالَّهِ وَحْدَهُ وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهِ مُشْرِكِينَ (84) فَلَمْ يَكُ يَنْفَعُهُمْ إِيمَانُهُمْ لَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا ۖسُنَّتَ الَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ فِي عِبَادِهِ ۖوَخَسِرَ هُنَالِكَ الْكَافِرُونَ (85)
Y al ver Nuestra furia, dijeron: Creemos en Allah, Él sólo, y renegamos de los asociados que Le atribuíamos. (84) Pero no les sirvió de nada creer una vez que ya habían visto Nuestra furia, es la práctica constante de Allah que ya ha aplicado antes a Sus siervos. Allí perdieron los incrédulos. (85)

Muchos se han negado a creer al Mensajero, la paz sea con él, pero hay otros que se mofaron de él y tomaron como burla la revelación, en cuanto a los Quraishies que tomaban al Mensajero como burla Dios dice al respecto.
En la Azora de La Caverna (Al-kahf):

وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَيُجَادِلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَمَا أُنْذِرُوا هُزُوًا (56) 
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ إِنَّا جَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِنْ تَدْعُهُمْ إِلَى الْهُدَى فَلَنْ يَهْتَدُوا إِذًا أَبَدًا (57)
Y no enviamos a los enviados sino como gente que anuncia buenas noticias y advierte. Pero los que no creen, discuten con falsedad para anular así la verdad y toman Mis signos y aquello de lo que se les advierte a burla… (56) ¿Y quién es más injusto que aquel que habiendo sido amonestado con los signos de su Señor se aparta de ellos y se olvida de lo que sus manos tendrán que presentar? Es cierto que les hemos cubierto los corazones para que no puedan comprender y hemos puesto sordera en sus oídos de manera que si los llamas a la guía no podrán seguirla nunca. (57)

Hay muchas más aleyas que anuncian que aquellos Quraishies que mostraron enemistad al Mensajero y sus seguidores, los combatieron y se negaron a creer en el Corán, no creerán después. Pero me quedaré con dos o tres sobre todo por su contundencia para el argumento. Dios dice en el Corán que los Quraishies (Aquí el discurso va dirigido principalmente al liderazgo quraishi) de Makkah que no emigraron con el Mensajero, Dios selló sus corazones.
Azora de Las Abejas:
Eso es porque ellos habrán preferido la vida del mundo a la Última y porque Allah no guía a la gente incrédula. (107) Esos son a los que Allah les ha sellado el corazón, el oído y la vista y son los indiferentes. (108) No hay ninguna duda de que ellos en la Última Vida serán los perdedores. (109) Y luego, es cierto que tu Señor, con los que hayan emigrado tras haber sido perseguidos y después hayan luchado y hayan tenido paciencia… Tu Señor, después de todo eso, es realmente Perdonador y Compasivo. (110)

Por lo tanto aquellos que emigraron, tuvieron paciencia y lucharon al lado del Mensaero, Dios les ha perdonado mientras que los quraishies que lucharon contra ellos durante años, Abu Sufián y Muawiya a la cabeza, Dios selló sus corazones.

Y sabemos a ciencia cierta que ni Muawiya ni Abu sufián estaban entre los Muhayirun (Emigrantes) ni entre los Ansar (auxiliadores).

Y en la Azora de La Vaca y es una Azora Medinense, es decir, después de que los musulmanes y el Mensajero emigraron de Makka a Medina, dice Dios en el Corán al Mensajero:
A los que se niegan a creer, es igual que les adviertas o que no les adviertas, no creerán. (6) Allah les ha sellado el corazón y el oído y en los ojos tienen un velo. Tendrán un inmenso castigo. (7)

Así que los líderes que se rindieron en la conquista de Makkah (At-tulaqaa) y el Mensajero les perdonó por su misericordia, con Abu Sufián y Muawia a la cabeza, según el Corán no son creyentes.

Luego está la famosa aleya dedicada a Abu Sufyan, porque financió la batalla contra los musulmanes en Uhud al contratar alrededor de dos mil mercenarios.
En la Azora del Botín de Guerra (Al-Anfaal):

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ (36)

Es cierto que los que se niegan a creer gastan sus riquezas para apartar del camino de Allah. Las gastarán y después se tendrán que lamentar por ello, siendo además vencidos. Los que se niegan a creer serán reunidos para ir a Yahannam. (36)

La opinión de los Muhayirún que estuvieron desde el principio con el Mensajero, la paz sea con él y esté complacido con los emigrantes y los auxiliadores y aquellos que les siguen con virtud, con respecto al Islam de Muawiya y los líderes omeyas:

Ammar Ibn Yaser:
Cuando estaba en la batalla de Siffin (Contra Muawiya) que lideraba el estandarte de los que participaron en la batalla de Badr (Los Badries) de entre los Muhayirún y Al-ansar y compartían la opinión de Ammar, se dirige a él un hombre y le dice, ¿A caso no dijo el Mensajero, la paz sea con él, que les combatamos (En las diferentes batallas anteriores) hasta que declaren su Islam y si lo hacen queda prohibida su sangre y sus pertenencias? Ammar respondió: así es, pero por Dios que no abrazaron el Islam sino que se rindieron e insistieron en su incredulidad hasta que encontraron apoyo. (La fuente está en muchas fuentes de historia y hadices pero sólo cito como ejemplo la obra de La Historia de At-tabari, Volumen 3 página 83)

Said Bin Zaid:
Según los hadices es uno de los diez que recibió las buenas nuevas del paraíso. Cuando Marwan (Familiar de Muawiya y uno de los gobernadores provinciales) vino a Medina y ordenó que declarasen lealtad a Yazid (hijo de Muawiya). Dijo Said Bin Zaid: A caso voy a declarar lealtad a gente que he combatido con mi espada hasta que abrazaran el Islam pero en vez de eso se rindieron. (Fuente: Tarij Dimashq Volumen 21 página 89 y otras fuentes)

Y hubo muchos más de los compañeros que siguieron el Mensajer, la paz sea con él, de entre los Muhayirun y Al-ansar que tenían la misma opinión. Pero quizás una de las opiniones más relevantes si cabe es la del propio Imam Alí el líder de la gente de la Sunna de su época, yerno del Mensajero y padre de sus nietos sobre los que el Mensajero dijo: (Hassan y Husein son los líderes de los jóvenes del paraíso- esto no necesita fuente es muy extendido)

En la Obra Tasfihata Al-Muhaddicin (Página de los comentaristas) Abi Ahmad Al-askari, recoge el hadiz (En el volumen 1 página 551) de Qasi Ibn Abi Hazim que está recogido previamente en el Musnad de Al-bazar (Volumen 2 página 19): dijo; dijo Ali, Dios esté complacido con él: Preparados para ir a por lo que queda de los coligados (Se refiere a la alianza de Quraish en la batalla de las trincheras), pues decimos que Dios y su Mensajero dicen la verdad y ellos dicen Dios y su Mensajero mienten.

En resumen los Compañeros que seguían al Mensajero, la paz sea con él, no consideraban que Muawiya y sus aliados como creyentes, al igual que las aleyas que se mencionan anteriormente.

Hay muchos más detalles obviamente que merecen de estudio y arrojan más luz sobre este hecho. Pero como dije en un hilo anterior, el estudio sobre Muawiya es sin duda lo que nos hará entender cómo nació el Islam Anti-profético. Puesto que nos hará comprender la aparición de nuevos conceptos que no están en el Corán y la veraz Sunna profética y hoy en día asumimos que son términos islámicos indiscutibles.

Syaikh Abu Ayyub Sulaiman Ibn Yahya Ibn Jabirul (Avicebron)


Poeta, filósofo y músico hispano de origen judío, nacido en Málaga hacia el año 1020 y fallecido en Valencia hacia el año 1058. Se trata de uno de los más afamados eruditos hispano-hebreos de la Edad Media, cuyo fulgor de sabiduría abarcó casi todas las ramas literarias de manera espectacular. También fue conocido por su denominación árabe, Abú Ayyub Sulaymán ibn Yahya ibn Jabirul, o por la forma romanceada de su nombre hebreo, Avicebrón.

(Selomó, Solomon o Salomón ben Yehuda ibn Gabirol, llamado Avicebrón o Avincebrol; Málaga, c. 1020 - Valencia, c. 1058) (árabe: سليمان بن يحيى بن جبيرول) o Avicebrón) Poeta y filósofo hebraico español. Se educó en Zaragoza, viajó por toda la península y vivió un tiempo en Granada. Muchas de sus composiciones religiosas, de talante neoplatónico y místico, han pasado al ritual de los judíos sefardíes; sus poemas profanos, influidos por la poesía árabe, destacan por su pesimismo. Es autor de Fuente de la vida, sobre el origen y la constitución de los seres, y de ‎Selección de perlas, centón de máximas morales en árabe.

‎Hasta el siglo pasado, Avicebrón era considerado como un filósofo hispanoárabe cristiano, pero en 1857 S. Munk, en Mélanges de philosophie juive et arabe, publicó una antigua versión hebraica parcial de la obra Fuente de la vida (escrita originariamente en árabe y conocida a través de la versión latina de Domenico Gundissalino). El traductor hebreo, Sem Tob ibn Falachera, citaba como autor de la obra al gran poeta Ibn Gabirol, que, junto con Judá Levita e Ibn Ezra, forma parte del máximo triunvirato de la lírica hebrea medieval. La escolástica latina, interesándose sólo por la obra filosófica y deformando en Avicebrón el nombre de Ibn Gabirol, había dado origen a este curioso desdoblamiento, favorecido por la variedad de temas tratados por Ibn Gabirol y por la brevedad de su vida.

Muy joven, se había trasladado a Zaragoza, donde obtuvo la amistad y la protección de Semu'el ha-nagid; poseyó una inspiración precoz y melancólica, a causa de sus muchos dolores físicos y de las desventuras familiares. A los dieciséis años se lamentaba ya de su vejez y escribía algunas de sus mejores poesías, celebrando la naturaleza y cantando a sus amigos (sobre todo a Jekultiel ibn Hasan de Zaragoza).

Reclamado de ciudad en ciudad a causa de su fama y de sus numerosas amistades, alternaba la lírica (en la que también fue técnicamente un innovador, introduciendo en hebreo la variedad de metros árabes) con la producción gnómica y filosófica. Escribió en árabe una colección de sentencias morales titulada Mukhtar al-Giawahir (Selección de perlas), el tratado moral Kitab Islah al-akhlaq (El perfeccionamiento de las cualidades del alma) y su obra principal, Fuente de la vida.

En hebreo compuso Keter Malkuth (La corona real), en la que la poesía de losSalmos y la visión metafísica neoplatónica se funden en un lírico itinerario hacia Dios de profunda sugestión. Si por un lado el poeta se complace en contemplar toda la magnífica fábrica del mundo, expresión del poder y majestad de Dios, por otro siente el déficit moral de su vida, confiesa la reata del pecado y bate su pecho con contrición. El poema está dividido como en pequeñas perícopas, al final de cada una de las cuales hay una alusión a un pasaje bíblico relacionado con el asunto tratado; la expresión y el estilo es sublime y profundo, en un hebreo muy puro.

La muerte de Semu'el ha-nagid (1055) le causó acerbo dolor, y a partir de entonces sólo escribió poesías religiosas, muchas de las cuales han entrado a formar parte de la liturgia sinagogal: recordemos, en el rito italiano, "l'Adon' ôlam" ("Señor del mundo") y el llamado "Símbolo de Maimónides", poética formulación de los trece artículos de fe del judaísmo. La autenticidad de algunas poesías y obras menores no es, con todo, muy segura. Su pensamiento filosófico, escasamente judaico y estrechamente vinculado al dePlotino, tuvo amplia difusión en Occidente y nutrió la filosofía franciscana, que incorporó algunos de los temas esenciales del voluntarismo y de la inspiración mística de Avicebrón.

Fuente de la vida

Esta obra debe su importancia al hecho de haber sido Avicebrón el primer expositor sistemático del neoplatonismo en Europa, llevando a cabo de esta manera una función análoga a la que mil años atrás otro judío, Filón, había ejercido como intermediario entre la filosofía helénica, especialmente la platónica, y el mundo oriental. Ambos tuvieron una influencia escasa en los ambientes judíos, y notable en cambio sobre el cristianismo primitivo (Filón) y sobre la escolástica cristiana medieval (Avicebrón).

Fuente de la vida toma la forma de un diálogo filosófico entre maestro y discípulo y consta de cinco tratados que desarrollan los siguientes temas: la materia y la forma en general y su relación en las substancias corpóreas; la substancia que sostiene la corporeidad del mundo; pruebas de la existencia de substancias simples, intermediarias entre Dios y el mundo físico; pruebas de que estas substancias simples o inteligibles también están constituidas de materia y forma; y, por último, la materia universal y la forma universal. La tesis dominante es que todos los seres creados están constituidos de materia y de forma, no sólo las substancias corpóreas, sino también las simples o espirituales, que sirven de eslabón entre la substancia primera (Dios) y la substancia que se divide en las nueve categorías (el mundo físico). La materia y la forma se encuentran siempre en la relación de quien sostiene y quien es sostenido, de calificado y cualidad, substrato y atributo: la misma materia se da en todo el universo, desde las más altas formas de la espiritualidad a los más bajos límites del mundo físico; pero cuanto más se aleja la materia de su primer origen, menos espiritual es.

La materia universal es el substrato de todo lo que existe. Esta universalidad de la materia es la aportación más original de la filosofía de Avicebrón. Todo lo que existe se puede reducir a tres categorías: substancia primera, materia y forma, mundo. La voluntad de Dios, su palabra creadora, no hace de intermediario; no es ni atributo ni substancia separada. Se ha dicho que con esta teoría, mezcla de platonismo, empedoclismo y monoteísmo judío, Avicebrón se proponía reconciliar esta última concepción con el neoplatonismo, pero hay que observar que, contrariamente a la escolástica (incluso a la escolástica judía, para la que la filosofía era la criada de la teología), Avicebrón mantuvo su especulación filosófica inmune a toda contaminación teológica y bíblica.

De ahí que su obra se convirtiera en manzana de discordia entre los franciscanos platónicos y los dominicos aristotélicos, dirigidos por San Alberto Magno y Santo Tomás de Aquino. Guillermo de Auvernia habla de él como del más noble de todos los filósofos cristianos; y Alejandro de Hales y San Buenaventura aceptaron su doctrina de la constitución de las substancias espirituales de materia y forma; su más celoso defensor fue Duns Scoto, para llegar más tarde a Giordano Bruno. Santo Tornás de Aquino se opuso a tres de sus teorías: la universalidad de la materia, la pluralidad de las formas en un ser físico (pues admitía "formas separadas" desprovistas de materia) y el poder de actividad de las substancias físicas, afirmado por Avicebrón y rechazado por Santo Tomás. Jourdain escribió que la filosofía del siglo XIII no es inteligible sin conocer la filosofía de Avicebrón y su influencia.

Obra

Como en el caso de su biografía, de nuevo hay que recurrir a las acotaciones realizadas por el autor en su obra para conocer la extensión de la misma. En principio, Ibn Gabirol declara haber escrito una veintena de libros, lo que, a nivel actual de las investigaciones, se tiene por verídico a pesar de que únicamente hayan llegado hasta nuestros días dos obras plenamente atribuidas a su pluma: Mekor Hayyim y Tikkun Middot ha-Nefesh. De manera tradicional, también ha recaído la paternidad de Ibn Gabirol sobre el Sefer Al ha-Nefesh(conocido a partir de su traducción latina, Liber de anima) y sobre la colección de Mihvar Peninim, pero no existen demasiadas pruebas para certificar con total claridad estos trabajos al erudito aragonés de adopción. El más grave escollo para la atribución de éstas y otras obras radica en que la posterior popularidad de Ibn Gabirol ha hecho enorme la circulación de sus obras conocidas a base de antologías, breves pasajes o incluso pequeños apuntes dispersos por otros escritos, de ahí la dificultad de concretar dónde está el límite entre lo que sin duda fue una idea original de Ibn Gabirol y los posibles añadidos posteriores. En cualquier caso, las siguientes líneas únicamente pretenden hacer un somero repaso a los principales escritos del sabio hispano; recurra el interesado en mayor profundidad a la voz Literatura hebrea.

Poesía

Sin tener en cuenta sus otras meritorias aportaciones al terreno de la cultura, Ibn Gabirol ya tendría un lugar de oro en las letras hispanas tan solo por su papel en la lírica medieval, pues creó un nuevo modo de hacer poesía que sería posteriormente imitado en todo el espacio de Sefarad. Selomoh parte de una posición clásica en su primera obra poética, Anaq, ('El collar'), escrita cuando el autor sólo tenía dieciséis años. En ella hace un elogio de la lengua hebrea, considerándola como la única digna para elaborar lírica, pues tal es su autoridad y majestuosidad. Más apreciada es, sin duda, su colección de Azharot ('Perlas'), utilizando la típica estrofa sefardí llamada piyut, de origen todavía incierto. El uso hecho de esta estrofa por Ibn Gabirol ayudó a popularizarla incluso en la actualidad, ya que los Azharot del sabio hispano son muy utilizados por la comunidad hebrea en diversas ceremonias: en las celebraciones correspondientes al Yom Kippur, es frecuente que los versos recitados sean delAzharot de Ibn Gabirol. Sin embargo, su obra cumbre en cuanto a poesía religiosa lo constituye el Keter Malkut('Corona Real'), una impresionante reflexión filosófica sobre la existencia de Dios, su grandiosidad y el papel del individuo en la sociedad religiosa. Se trata, en efecto, de un resumen lírico del pensamiento teológico de su autor.

Dejando atrás la poesía religiosa, en la poesía secular es donde mejor se demuestra el carácter innovador de Ibn Gabirol, ya que incorpora la originalidad de utilizar estrofas de origen árabe, hasta entonces no utilizadas en poesía hebrea, con el consiguiente efecto de brillantez. Uno de los más bellos poemas hebreos medievales es Bi-Ymei Yekuti'el Asher Nigmaru, una elegía de Ibn Gabirol al fallecimiento de Yekuthiel, su protector zaragozano, asesinado en 1040 durante una intriga política cortesana:

Fíjate en el sol al atardecer, rojo
como revestido de un velo de púrpura;
va destapando los costados del norte y el sur,
mientras cubre de escarlata el poniente;
abandona desnuda a la tierra
al buscar en la sombra de la noche albergue y cobijo;
en ese momento el cielo se oscurece, como si
se cubriera de saco por la muerte de Yekutiel.

(Recogido por Sáenz-Badillos, El alma lastimada, p. 67).

También son destacados sus poemas más triviales, sobre el vino, el amor, la belleza, así como la impronta filosófica que Ibn Gabirol dejó en algunos poemas de caracter personal, donde puede apreciarse toda la carga vital de su existencia.

Filosofía y ética

Tal como era frecuente en la época, Ibn Gabirol utilizó el árabe para redactar sus escritos filosóficos, aunque, en esencia, constituye la parte de su obra que más menoscabo ha sufrido con el paso del tiempo, ya que nada se ha conservado salvo el Mekor Hayyim ('La fuente de la vida'). Originalmente escrita en árabe, el Mekor se conoció durante toda la Edad Media por su traducción al latín, Fons vitae, efectuada por dos conocidos traductores de la escuela toledana, Juan Hispano y Domingo Gundisalvo, que fueron quienes otorgaron fama entre los cristianos a "Avicebrón". Posteriormente, circuló también un resumen hebreo de la obra, que puede ser considerada, a grandes rasgos, como un intento aperturista de la tradición filosófica hebrea hacia la corriente neoplatónica.

La influencia del pensamiento filosófico de Ibn Gabirol no fue demasiada en el mundo judaico, mucho más cerrado a corrientes aperturistas que el cristiano; si acaso, cabe destacar precisamente que Ibn Gabirol intentó domesticar ideas platónicas hacia el tradicional credo hebreo, demostrando con ello un ejercicio mental ampliamente valorable. Sin embargo, el influjo del Mekor fue más variado en la Cábala hebrea, donde sí fue valorado por los sabios que construían en Sefarad el que habría de ser el sistema cabalístico de los judíos. Tanto Abraham ben David como Isaac el Ciego, fundadores del Zohar (libro cabalístico de los hebreos, compuesto en el siglo XIII), beben de la rica fuente representada por Ibn Gabirol. Por otra parte, a través de la traducción latina, Fons vitae, Ibn Gabirol fue conocido entre los filósofos y teólogos cristianos, especialmente la rama franciscana del siglo XIII (Guillermo de Auvernia y Alejandro de Hales), que acabó cristalizando en el siglo XIV con la síntesis de Juan Duns Scoto, quien tenía a "Avicebrón" como una de sus principales fuentes de conocimiento. La escuela dominicana, hegemónica en la Escolástica, no comulgó nunca con el neoplatonismo de Ibn Gabirol, ni siquiera con los comentarios del filósofo cristiano que mejor comulgó con el hebreo, David de Dinant, cuya síntesis fue tachada de panteísta y condenada.

La última de las aportaciones del sabio hebreo es el tratadoTikkun Middot ha-Nefesh ('Libro de la corrección de los caracteres''), planteado como la construcción de un sistema ético y moral de vida del hombre. Se sabe con total rigor que el Tikkun fue compuesto en árabe en el año 1045, para ser un siglo más tarde traducida al hebreo.

Pensamiento filosófico

El pensamiento filosófico de Avicebrón se configura a partir del neoplatonismo de Filón y de Plotino, y más directamente a partir del pseudo-empedoclismo de la escuela deAbenmasarra, la Theologia Aristotelis, la teología árabe y el monoteísmo y moralismo judío-bíblicos.

Teología: Dios creador y los seres creados

La metafísica de Avicebrón considera a Dios, concebido en forma de persona, como realidad primera. Dios es simplicidad y unidad absoluta, mientras que el resto de los seres son múltiples y compuestos. De Dios, al que llamaFactor primus, Factor non factus y Principium rerum, derivan todos los seres por creación ex nihilo (de la nada). La materia y la forma son los elementos constitutivos de todas las cosas y existen desde la eternidad en Dios, quien al crear "las extraña", las hace externas. Sin embargo, Dios no crea a los seres directamente, sino que lo hace a través de su voluntad. La doctrina de la voluntad es una de las partes más profundas, aunque también más inciertas, del pensamiento de Avicebrón; la voluntad es necesaria como elemento mediador que permita entender cómo dios, que es pura simplicidad y unidad, es la causa de las cosas compuestas y múltiples. Pero describir en qué consista la voluntad es imposible, de ella sólo se puede explicitar cuál es su función, a saber, "creare omnia, disponere omnia, movere omnia"; por ello la voluntad es llamada Fuente de vida. La voluntad es productora directa de las formas, que son principio de actividad; también une dichas formas a la materia y vincula a los seres entre sí confiriéndoles determinado orden. El problema que se debe resolver entonces es el de las relaciones entre Dios y la voluntad divina, problema que Avicebrón no consigue esclarecer del todo.

Fuera de Dios, todo lo real se compone de materia y forma, conceptos que son caracterizados de manera especial por Avicebrón y que influyeron notablemente en toda la metafísica escolástica. La materia es pura posibilidad, divisible y múltiple, subsistente por sí, y tiene la función de sostener las formas; la forma, por el contrario, subsiste in alio, en lo otro, o sea, en la materia, y tiene la función de dar a las cosas su propio ser y de perfeccionar su esencia. La forma, por tanto, es principio de diferenciación en los seres, mientras que la materia es el género que comparten todos ellos y que se diferencia únicamente en tanto que toma distintas formas. Los seres se definen entonces como "materia informada", es decir, materia dotada de forma. Estos seres se ordenan según una jerarquía ontológica de perfección, en donde los distintos grados de perfección son consecuencia de la mayor o menor distancia que guardan con Dios.

Las sustancias simples

La doctrina de las sustancias simples viene a completar la doctrina de la voluntad en el pensamiento de Avicebrón. Entre Dios y el universo de los seres corpóreos existen tres sustancias simples: la Inteligencia (o Entendimiento), el alma universal y la Naturaleza (Intelligibilitas, Sensibilitas,Vegetabilitas). La Inteligencia es la primera criatura de Dios, el primer ser creado; se identifica con lo que los árabes llamaron "entendimiento agente", y se compone de materia y forma, aunque su forma es el conjunto de todas las formas. El Alma universal es producida por la Inteligencia mediante emanación, debido a una sobreabundancia de su virtud; al igual que la Inteligencia, se halla difundida en todo el universo, y es la causa directa de la Naturaleza y de las almas individuales. La Naturaleza, anterior a la sustancia del universo, es la causa de éste y de su devenir. Por último, el mundo físico, o universo, compuesto por todos los seres corpóreos (tanto celestes como terrestres), adquiere en Avicebrón un aspecto espiritualista: es el conjunto de la materia corpórea y de la forma de la corporeidad, y se presenta como una serie de formas corpóreas que van desde las más universales a las más individuales. Se trata de una emanación o proyección del mundo espiritual y, al modo de un rayo de luz que se oscurece y difumina a medida que se aleja de su foco, así el universo no representa sino la misma realidad en un grado inferior. Toda la realidad es el fruto del descenso de la sustancia superior a la inferior y, del mismo modo, existe en los seres un movimiento ascensional a la sustancia superior, a la Unidad primera, debido a su deseo de perfección o amor universal de unidad, que es fruto de la voluntad divina y que impulsa a todos los seres a amar la unión con lo que es más elevado.

Valoración

Ibn Gabirol es un perfecto exponente de la llamada "España de las Tres Culturas", en la que la convivencia en un mismo espacio geográfico de tres culturas, la cristiana, la hebrea y la musulmana, posibilitó unos contactos culturales de enorme riqueza, cuya difusión fue asegurada por las diferentes traducciones de uno a otro idioma. En el Renacimiento, la filosofía de Ibn Gabirol contó con un comentador de excepción, el maestro Yehudá Abravanel, más conocido como León Hebreo, que fue quien puso en circulación sus textos hasta llegar a Giordano Bruno. A su vez, éste fue la fuente de ‎Baruch Spinoza, con lo que puede observarse la tremenda vigencia del pensamiento de Ibn Gabirol.

Las palabras de Sáenz-Badillos suponen un colofón a estas líneas dedicadas a glosar la vida y la obra del gran literato hebreo:

Los escritores judíos de Sefarad de las generaciones sucesivas no le olvidaron, sino que en todo momento hicieron patente la admiración que despertaba en ellos su obra polifacética. Para todos los que de algún modo recordaron la historia literaria de los judíos de al-Andalus, Ibn Gabirol se encontraba siempre en la máxima categoría entre los poetas. Puede decirse que fue recordado e imitado.‎

Doa Nabi Sulaiman Menundukkan Hewan dan Jin

  Nabiyullah Sulaiman  'alaihissalam  (AS) merupakan Nabi dan Rasul pilihan Allah Ta'ala yang dikaruniai kerajaan yang tidak dimilik...