Minggu, 24 Oktober 2021

Kidung Ilir-Ilir Sebagai Ajaran Pekerti


Sunan Kalidjaga, seorang wali sanga penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad XV—XVI Masehi, menciptakan tembang dolanan anak-anak “Ilir-ilir”. Tembang “Ilir-ilir” tidak sekadar lagu permainan anak-anak yang bersifat menyenangkan, tetapi sebuah tembang yang bernilai edipeni dan adiluhung. Tembang ini digunakan sebagai sarana berdakwah bagi Sunan Kalidjaga dalam rangka menyebarluaskan agama Islam di pulau Jawa pada masa itu. Mengingat masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa pada umumnya adalah masyarakat agraris, petani, dan masih dipengaruhi kuat oleh budaya Animisme, Dinamisme, Hindhu, Budha, dan kepercayaan lainnya, maka tembang dolanan anak-anak itu digubah dengan menggunakan simbol-simbol masyarakat agraris di pedalaman Pulau Jawa, seperti tandure, sumilir, cah angon, blimbing, lunyu, dodot, seba, dan gedhe rembulane.

Nilai edipeni tembang “Ilir-ilir” terletak pada struktur fisik tembang yang melodius sehingga nikmat dirasakan dan mengandung nilai hiburan. Nilai adiluhung tembang “Ilir-ilir” terletak pada filosofi kandungan makna sebagai pembentukan pekerti bangsa yang disampaikan secara simbolik atau kias. Pekerti bangsa yang tersirat dalam tembang “Ilir-ilir” adalah manusia harus segera bangun jiwanya: sadar, percaya, dan taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Setelah bangun jiwanya, manusia harus segera bersesuci dengan lima watak utama, panacasila: rila, narima, sabar, temen, dan budi luhur, sebagai bekal menghadap kepada Tuhan Yang Maha Esa di istana Taman Kemuliaan Abadi. Delapan watak keutamaan itulah yang setiap harinya harus diolah oleh manusia dalam melaksanakan tugas dan kewajiban hidup di dunia. Nilai-nilai edipeni dan adiluhung tembang “Ilir-ilir” ini dapat dipakai sebagai sumber kearifan pembentukan pekerti bangsa yang beradab, bermartabat, dan berbudi luhur sehingga kelak bangsa Indonesia mencapai puncak kejayaan dunia.

Akhir-akhir ini, bangsa Indonesia disibukkan oleh berbagai kepentingan material keduniawian sehingga melupakan kearifan pembentukan pekerti bangsa. Hal ini disebabkan oleh sikap hidup pragmatis pada sebagian be­sar masyarakat Indonesia yang mengakibatkan terki­kisnya nilai-nilai luhur budaya bangsa. Demikian halnya dengan budaya kekerasan dan anarkisme sosial yang turut serta memperparah kondisi sosial budaya bangsa. Kondisi dan situasi bangsa Indonesia saat ini seolah-olah telah dirasuki zaman edan, kalabendhu, kalatidha (Ranggawarsita) atau zaman retu (Soenarto Mertowardojo). Budaya bangsa adilu­hung dan edipeni sebagai nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom), bahkan kearifan budaya yang santun, saling menghormati, arif-bijaksana, dan religius, seakan-akan terkikis dan tereduksi oleh gaya hidup instan dan modern. Masyarakat sangat mudah tersulut emosinya, pemarah, brutal, anarkisme, kasar, dan vulgar, tanpa mampu mengendalikan hawa nafsunya. Penonjolan perasaan kecewa dan emosi yang dilampiaskan dengan kemarahan membabi buta: hantam krama dan urusan belakang, berakibat fatal dan menghancurkan. Fenomena ini dapat menjadi representasi mele­mahnya pekerti bangsa yang terkenal dengan ramah, santun, penuh kasih sayang, saling menghormati, saling asah, asih, dan asuh, serta berbudi pekerti luhur atau berbudi pekerti mulia.

Sebagai bangsa yang beradab dan ber­mar­tabat, situasi dan kondisi yang demikian itu jelas tidak menguntungkan bagi masa depan bangsa dan negara Indonesia, khu­susnya dalam melahirkan generasi muda masa depan bangsa yang:

1. cerdas bijak bestari (mursid),
2. terampil dan cendekia (sugih kagunan lan pangawikan),
3. ber­budi pekerti luhur (luhur budinipun),
4. berderajat mulia (luhur derajatipun),
5. berperadaban mulia (mulya gesangipun), serta
6. berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Oleh karena itu, dibutuh­kan paradigma pendidikan kejiwaan yang berori­entasi pada kearifan budaya pembentukan pekerti bangsa, yang tidak sekadar memburu kepentingan kognitif (pikir, nalar, dan material duniawi), tetapi juga memperhatikan dan mengintegrasikan persoalan-persoalan moral dan keluhuran budi pekerti bangsa. Salah satu media pendidikan kejiwaan yang berorientasi membangun pekerti bangsa itu ialah melalui pendidikan dan pengolahan jiwa dengan memahami dan mengaplikasikan makna tembang-tembang Jawa yang banyak mengandung falsafah hidup, petuah, wejangan, dan nilai-nilai kebajikan lainnya. Salah satunya adalah memahami dan mengaplikasikan makna tembang “Ilir-ilir” karya Sunan Kalidjaga yang diciptakan semasa abad XV—XVI Masehi.

Teladan Sunan Kalidjaga

Sunan Kalidjaga sebagai guru spiritual bangsa Indonesia umumnya, khususnya bagi masyarakat Jawa, mewariskan kepada kita sejumlah ajaran atau wejangan yang mampu membentuk kearifan budaya pekerti bangsa. Warisan wejangan kearifan budaya pekerti bangsa itu oleh Sunan Kalidjaga, antara lain, disampaikannya dalam bentuk tembang macapat bermatra dhandhanggula yang terkenal adalah “Kidung Rumekasa ing Wengi” dan tembang dolanan anak-anak “Ilir-ilir”. Dalam dua buah wejangan itu beliau tidak sekadar mursid, sugih kagunan tuwin pangawikan, tetapi juga mumpuni olah laku dan olah budi di dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, Sunan Kalidjaga dapat dikatakan “jalma linimpad ing budi” atau “bebasane wong kang limpad seprapat bae wus tamat”, dan tentu saja “waskita ing ilmu lan laku”.

Sejarah perjalanan hidup Kanjeng Sunan Kalidjaga telah memberi teladan nyata bagaimana seharusnya setiap manusia menjalani kehidupan sehari-hari. Berawal dari keprihatinan Raden Sahid menyaksikan penderitaan hidup rakyat Tuban ketika itu di bawah kendali Kerajaan Majapahit yang semakin hari bertambah sengsara. Rasa kasih sayang kepada sesama makhluk Tuhan, rakyat kecil yang menderita, mendorong Raden Sahid muda berbuat sesuatu untuk dapat menyejahterakan rakyat yang sengsara tersebut. Jalan yang ditempuh adalah menjadi “maling aguna” atau “maling cluring”, yaitu mengambil barang-barang milik orang-orang kaya raya, lalu hasil curiannya itu dibagi-bagikan kepada rakyat miskin yang menderita tersebut. Beberapa kali Raden Sahit tertangkap oleh punggawa Kadipaten Tuban dan diserahkan pengadilannya kepada Sang Adipati Tuban. Oleh karena merasa malu terhadap perbuatan anaknya, lalu Sang Adipati Tuban mengusir Raden Sahid meninggalkan Kadipaten Tuban.

Meskipun telah terusir dari Kabupaten Tuban, Raden Sahid tetap nekad melakukan perbuatan mencuri, tidak jera bila tertangkap, bahkan menjadi perampok dan pembegal dengan sebutan “Berandal Lokajaya". Hasil curian, rampokan, dan begalannya itu tetap diberikan atau dibagi-bagikan kepada kaum fakir miskin yang ditemuinya. Akhir petualangan Raden Sahid menjadi “maling aguna” ketika berada di hutan Jati Wangi bertemu dengan seorang tua bersorban putih, Sunan Bonang. Orang tua ini belum dikenal sebelumnya oleh Raden Sahid sehingga hendak dibegalnya. Namun, orang tua yang serba tenang, penuh kesabaran, dan bijaksana itu tidak mampu dilumpuhkan oleh Raden Sahid. Merasa dirinya kalah perbawa dengan orang tua itu, maka Raden Sahid menyerah bertobat kepada Sunan Bonang dan memohon diri untuk dapat menjadi muridnya.

Pertemuannya dengan Sunan Bonang ini menggugah kesadaran Raden Sahid bahwa yang dilakukan selama ini termasuk perbuatan sesat, meski tampak mulia didasari rasa kasih sayang kepada rakyat yang menderita. Sebagai salah satu laku dalam penebusan dosa atas perbuatannya itu Raden Sahid diminta melakukan tapa brata di sebuah sungai (kali) hingga Sunan Bonang kembali menjenguknya. Tidak terasa dalam bermeditasi di sungai itu telah bertahun-tahun lamanya Raden Sahid menunggu dengan setia kedatangan Sunan Bonang. Rasa patuh, sabar, percaya, dan berbakti mendasari jiwa Raden Sahid dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai upaya laku makrifat, yakni marsudi nggayuh kasunyatan. Jadi, dalam hal ini Raden Sahid bukan hanya sekadar memiliki ilmu yang berhenti pada pengertian, melainkan juga diikuti dengan perbuatan atau laku. Sebab, ilmu tanpa laku akan hanya menjadi buah bibir (pembicaraan) yang pada saatnya akan “mblenjani janji”.

Setelah Sunan Bonang kembali menemui Raden Sahid di sungai penantian, tahap selanjutnya adalah masa penggemblengan Raden Sahid menerima semua ilmu yang dimiliki Sunan Bonang. Raden Sahid tidak hanya berhenti berguru ilmu dan laku kepada Sunan Bonang, tetapi dilanjutkan berguru kepada Sunan Ampel, Sunan Giri, dan ke Pasai. Setelah itu Raden Sahid berdakwah ke Semenanjung Malaya hingga ke Patani wilayah Thailand Selatan (Chodjim, 2003:10). Dalam “Hikayat Patani” disebutkan bahwa Syeh Malaya sebagai seorang tabib yang mampu menyembuhkan sakit Raja Patani. Di Jawa Syeh Malaya dikenal sebagai Sunan Kalidjaga yang merupakan nama lain Raden Sahid setelah diangkat menjadi anggota wali sanga, majelis ulama Kerajaan Demak, derajat mulia pada masa itu.

Betapapun beliau berderajat mulia sebagai guru spiritual raja-raja Demak, Pajang, dan Mataram, Sunan Kalidjaga tetap menunjukkan kebersahajaannya. Sunan Kalidjaga mulai menanam benih kearifan budaya pekerti bangsa melalui wejangan keutamaan laku hidup:
1. mangerti, penalaran, pengertian, berhubungan dengan logika;
2. makarti, berkaitan dengan pelaksanaan, laku, tindak kerja;
3. pakerti, mengolah budi pekerti agar berderajat luhur dan mulia; dan
4. mastuti ing Widhi, melaksanakan kebaktian kepada Tuhan Yang 
    Maha Esa.
 
Atas dasar wejangan laku hidup empat perkara itulah dakwah Sunan Kalidjaga terasa sejuk dan menenteramkan umatnya. Sunan Kalidjaga dalam berdakwah, menyebarluaskan agama Islam, mampu memadukan budaya Jawa yang sinkretis dengan akidah agama Islam yang disertai kearifannya. Dakwah-dakwahnya tidak pernah ada yang bertentangan dengan adat-istiadat Jawa. Oleh karena itu, teladan dan ajaran Sunan Kalidjaga yang disertai dengan kebijakan dapat digunakan sebagai sumber kearifan budaya dalam pembentukan pekerti bangsa. Salah satu dakwah yang mengandung ajaran mulia adalah tembang “Ilir-ilir”, yang dipercaya sebagai karya Sunan Kalidjaga. Tembang “Ilir-ilir” diyakini mengandung falsafah hidup yang edipeni dan adiluhung. Akan tetapi, tidak semua orang memahami dan mengerti akan makna keedipenian dan keadiluhungan tembang “Ilir-ilir”; pilih jalma kang mangerti marang surasane tembang kasebut. Apalagi mau melangkah ke makarti, pakerti, hingga ke mastuti ing Widhi, tentu jalan itu akan semakin licin, pelik, dan sukar sekali.

Keèdipènian Tembang “Ilir-Ilir”

Pada zaman dahulu, sebelum mengenal teknologi dan informasi canggih, tembang “Ilir-ilir” biasa dinyanyikan oleh anak-anak Jawa pada malam hari yang bersama main-main di bawah terangnya sinar bulan purnama. Sudah sejak lama di Jawa tembang “Ilir-ilir” diajarkan di sekolah rakyat (SD). Selain itu, di pondok-pondok pesantren di Jawa pun tembang “Ilir-ilir” diajarkan dan dipadukan dengan kasidahan salawat badar. Namun, anak SD dan anak-anak pesantren yang mendendangkan tembang “Ilir-ilir” itu tidak akan pernah mengerti makna dari tembang yang dinyanyikannya. Meskipun kata-kata dan struktur kalimat syair tembang tersebut bersahaja, tidak muluk-muluk atau pelik, dikenal dalam kehidupan sehari-hari, tetap makna tembang “Ilir-ilir” itu dibungkus dengan kiasan atau perlambang. Bahkan, guru yang mengajarkan tembang tersebut hanya sekadar mengajarkan, hafal syairnya dan pandai melantunkannya, tetap maksud dari tembang tersebut sama sekali tidak dipahaminya.

Sementara itu, bagi orang-orang dewasa tembang “Ilir-ilir” sekadar dinyanyikan sebagai tembang kenangan. Tidak lebih daripada itu. Namun, ada juga beberapa orang yang mencoba-coba menafsirkan makna tembang tersebut. Dari sejumlah buku dan tulisan yang tersebar di internet, umumnya mereka hanya menuliskan bunyi syairnya, ada yang disertai dengan terjemahan bahasa Indonesia yang kurang tepat, dan ada juga yang menambahkan penafsiran yang terbata-bata karena ketaksaan bahasa menyebabkan banyak interpretasi. Hal ini disebabkan oleh keedipenian dan keadiluhungan tembang “Ilir-ilir” yang seolah sakral untuk dipahami maknanya, apalagi mau dibabarkan dalam tindakan, masih jauh api dari panggang. Secara lengkap syair tembang “Ilir-Ilir” tersebut sebagai berikut.

ILIR-ILIR

Ilir-ilir Ilir-ilir
tandure wis sumilir
tak ijo royo-royo
tak sengguh penganten anyar.

Cah angon cah angon
penekna blimbing kuwi
lunyu-lunyu peneken
kanggo masuh dodotira.

Dodotira dodotira
kumitir bedhah pinggire
dondomana, jlumatana
kanggo seba mengko sore.

Mumpung gedhe rembulane
mumpung jembar kalangane
ya suraka..... surak.... hore....
ya suraka..... surak.... hore....

Awal tahun 1960-an, Soenarto Mertowardojo (1964:45) mendengarkan tembang “Ilir-ilir” dari uyon-uyon gayeng yang disiarkan oleh RRI Surakarta. Begitu mendengar tembang “Ilir-ilir” tersebut Soenarto merasakan enak, nikmat, memberi rasa sejuk, dan menghibur bagi mereka yang sedang dilanda duka, sedih, dan nestapa. Bahasa tembang tersebut tampak bersahaja, penuh repetisi, pendek-pendek, kosakata yang digunakan hampir semuanya ada dalam kehidupan sehari-hari, terasa familier, dan iramanya pun lancar didendangkannya. Seolah-olah syair tembang “Ilir-ilir” yang bahasanya tampak bersahaja itu memiliki daya pesona yang kuat dan tajam menyentuh dasar hati manusia yang terdalam sehingga mereka yang mendengarkan tembang tersebut merasa mat (marem, ayem, tentrem). Oleh karena itu, sesungguhnya tembang “Ilir-ilir” tersebut memiliki nilai edipeni.

Kata èdipèni merupakan dua kata sifat untuk benda dan tempat yang berarti sarwa becik; wewujudan, papan, rerenggan, lan sapanunggale sing katon sarwa éndah >serba baik; perwujudan, tempat, perhiasan, dan sebagainya yang terlihat tampak serba indah= (Sudaryanto, 2001:262) atau éndah lan nengsemake >indah dan mempesona= (Sudaryanto, 2001:819). Biasanya kata èdipèni dipergunakan untuk menyebut dan menghargai sesuatu hal, barang atau benda dan tempat, yang tampak secara visual atau segi fisiknya. Slametmuljana (dalam Pradopo, 1994:43) memadankan kata èdipèni dengan kata Latin sublimus. Demikian Slametmuljana mengatakan: AIstilah Jawa èdipèni sama dengan pengertian Latin sublimus. Istilah ini dipergunakan apabila keindahan memuncak, artinya bila sinar kebagusan itu cerlang gemilang sedemikian rupa sehingga seolah-olah mengenai daya penangkap kita@. Kata sublim dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti >menampakkan keindahan dalam bentuk yang tertinggi; amat indah; mulia; utama= (KBBI, 2001:1094). Atas dasar pemahaman itu banyak kritisi menyatakan bahwa sublim itu merupakan Akeindahan sukar@ (difficult beauty), karena di dalam mengandung nilai-nilai kekompleksitasan, kesaktian, ketakjuban, pesona, keagungan, kecemerlangan, dan sebagainya. Hal itu tepat apabila dikatakan bahwa tembang “Ilir-ilir” memiliki nilai keedipenian yang sempurna dari segi struktur fisiknya. Terdapat keselarasan dan keterpaduan pilihan kata, bunyi, struktur kalimat, pembaitan, dan makna tembang “IIir-ilir” tersebut dengan makna filosofinya yang adiluhung.
            
Saat sekarang, tembang “Ilir-ilir” dapat didendangkan dengan berbagai cara, model, gaya, atau cengkok dengan iringan alat musik modern ataupun tradisional. Sudah tidak mengherankan tembang “Ilir-ilir” didendangkan dengan iringan musik taradisional gamelan Jawa. Di kalangan pondok pesantren, tembang “Ilir-ilir” dipadukan dengan salawat badar dan diiringi oleh alat musik rebana. Iramanya pun dapat dibuat kasidahan, irama padang pasir, atau gaya musik Arab, seperti yang dilakukan oleh Emha Ainun Nadjib dengan kelompok Kyai Kanjeng dan Hamas, serta para santri dari Pondok Pesantren As-Salafiyyah Mlangi, Sleman, Yogyakarta. Beberapa penyanyi Jawa, di antaranya Didi Kempot dan Eny Sagita, menyanyikan tembang “Ilir-ilir” dengan iringan campursari. Masih ada penyanyi-penyanyi Jawa lainnya yang mendendangkan tembang “Ilir-ilir” dengan iringan alat musik lain, seperti dengan siter, orgen, piano, biola, angklung, gendang, suling, dan gitar sekalipun. Hal ini dapat dibuktikan ketika membuka internet, lalu mengeklik You Tube, mengetik “lir-ilir” atau “ilir-ilir”, begitu di klik lalu bermunculan tajuk-tajuk video yang mengunggahkan kelompok seni dengan berbagai ragam musik yang mendendangkan tembang “Ilir-ilir”. Kalau ingin MP3-nya, juga ada beberapa kelompok seni yang mendendangkan tembang “Ilir-ilir” tersebut, dan kita tinggal unduh saja, lalu menikmatinya.

Judul, batasan, teks, dan ulasan sekadarnya tentang tembang “Ilir-ilir” juga dapat kita temukan dalam blog-blog atau situs-situs dunia maya. Begitu kita membuka “Google” lalu mengetik “ilir-ilir” akan bermunculan nama-nama blog dan situs yang mengunggahkan tentang tembang “ilir-ilir” tersebut. Meskipun kita temukan banyak blog dan situs dalam dunia maya yang mengunggahkan tentang tembang “Ilir-ilir”, tampaknya satu dengan yang lainnya hampir sama, tidak jauh berbeda, bahkan cuma kopi paste dari satu blog ke blog lainnya. Selain di dunia maya, di dunia buku atau penerbitan juga banyak kita temukan judul, batasan, teks tembang, dan ulasan yang memuat tentang tembang “Ilir-ilir”, antara lain buku karya: 
* Banoe (2003),
* Basral (2010),
* Chodjim (2003),
* Harto (2003),
* Idrus (1995),
* Mulyani (2005),
* Mulyono (1978),
* Nadia (2002),
* Nadjib (1999),
* Paradise (2009),
* Purwadi (2005 dan 2009),
* Setiawan (2003 dan 2004),
* Sulaiman (2009),
* Supadjar (1993),
* Sylado (2008),
* Tim Media Pusindo (2008),
* Utomo (2007), dan
* Wiratmoko (2000).

Buku-buku yang memuat perihal tembang “Ilir-ilir” tersebut ada yang berjenis kamus, ensplopedia anak, cerita rakyat, novel remaja, kumpulan tembang daerah, bagian dari kisah Sunan Kalidjaga, pembahasan dunia wayang, dan ulasan khusus tentang ajaran Sunan Kalidjaga. Jadi, penyebarluasan tembang “Ilir-ilir” ini tidak terbatas untuk konsumsi anak-anak dan dunia Jawa, tetapi juga meluas untuk kalangan remaja, orang tua, dan tersebar ke seluruh dunia. Judul, batasan, teks tembang, dan ulasan tentang tembang “Ilir-ilir” dapat dibaca, dilihat, diakses, diunduh, dan didengarkan melalui dunia maya atau penyebarluasan yang terekam dalam kaset, cakram padat, plisdis, dan hardis komputer. 

Keadiluhungan Tembang “Ilir-Ilir”

Kata adiluhung merupakan dua kata sifat yang dirangkai untuk suatu nilai kegunaan sehingga kata adiluhung diartikan: nduweni kagunan utawa mutu sing dhuwur; luwih dhuwur >mempunyai kelebihan atau kualitas tinggi; lebih tinggi= (Sudaryanto, 2001:6). Pemakaian adiluhung lebih cenderung untuk menilai atau mengapresiasi sesuatu hal dari kandungan makna atau isinya. Jadi, tembang “Ilir-ilir” yang diciptakan oleh Kanjeng Sunan Kalidjaga, salah seorang wali sanga terkemuka di tanah Jawa, semasa abad XV—XVI Masehi, tentu memiliki nilai keadiluhungan sebagai kearifan budaya (cultural wisdom). Tembang ini digunakan sebagai sarana berdakwah bagi Sunan Kalidjaga dalam rangka menyebarkan agama Islam di pulau Jawa pada masa itu. Mengingat masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa pada umumnya adalah masyarakat agraris, petani, dan masih dipengaruhi kuat oleh budaya lama (seperti Animisme, Dinamisme, Hindhu, Budha, dan kepercayaan lainnya), maka tembang dolanan anak-anak itu dibuatlah melalui simbol-simbol masyarakat agraris di pedalaman Pulau Jawa. Agar lebih jelas makna filosofi dari tembang “Ilir-ilir” yang memuat nilai keadiluhungan sebagai kearifan budaya tersebut kurang lebih sebagai berikut.

Iir ilir lir ilir “Bangun, bangun, bangunlah, bangun” atau juga dapat diterjemahkan menjadi “Sadar, sadar, sadarlah, sadar”. Kanjeng Sunan Kalidjaga mengajak kita agar bangun (sadar) dari kelelapan tidur panjang, segeralah sadar akan tugas dan kewajiban kita hidup di dunia ini, tidak hanya tidur saja. Tidur dalam arti hanya mengurus duniawi saja. Setelah bangun dan sadar (eling), segeralah mencari dan menemukan pencerahan sinar cahaya Tuhan. Maknanya, setelah engkau sadar, segeralah berbakti, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahakuasa, salah satunya diwujudkan dalam bentuk melakukan zikir dan bersembahyang, salat lima waktu, sesuai dengan perintah agama.

Tandure wis sumilir “Tanamannya sudah semburat bersemi”. Biasanya orang Jawa yang agraris itu menanam padi di sawah atau ladang. Kini, tanaman padi itu sudah tampak semburat bersemi. Ibarat suatu tanaman padi yang sudah semburat bersemi tersebut, kebaktian, kesadaran, keimanan, dan ketakwaan kita kepada Tuhan Yang Mahakusa sudah mulai tumbuh semburat bersemi. Oleh karena itu, lanjutkan dan tetap terus pelihara cahaya kebaktian, kesadaran, keimanan, dan ketakwaan kita kepada Tuhan yang Mahakuasa itu agar tetap menyala terus, api iman agar semakin lama semakin bercahaya terang benderang untuk menerangi jalan hidup kita dari pondok dunia hingga sampai ke istana akhirat.

Tak ijo royo-royo, tak sengguh penganten anyar “Tanaman padi tersebut sudah semburat tampak menghijau berseri laksana pengantin baru”. Sebagaimana halnya seorang pengantin baru, tentu tampak indah, senang, bahagia, dan berseri-seri. Seorang yang telah sadar, penuh kebaktian kepada Tuhan yang Mahakuasa, diperkokoh dengan iman yang bulat, serta takwa yang berusaha teguh memenuhi semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya, tentu hidupnya akan tampak indah, bahagia, dan berseri-seri seperti pengantin baru yang senantiasa penuh kasih sayang dapat mengasyikan sekali. Apalagi suasananya masih dalam bulan madu, tentu sangat membahagiakan. Demikian halnya kebaktian, kesadaran, keimanan, dan ketakwaan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa dilandasi rasa kasih sayang kepada sesama umat, tentu sangat membahagiakan.

Cah angon, cah angon, penekna blimbing kuwi. “Wahai, anak-anak pengembala, tolonglah panjatkan pohon blimbing itu”. Biasanya di ladang atau di sawah, selain ditanami padi, juga ditanami pohon-pohonan sebagai peneduh di kala terik panas matahari yang menyengat bumi. Salah satu pohon yang ada di dekat pematang sawah atau ladang itu adalah pohon belimbing. Ketika seorang petani yang tengah berada di sawahnya melihat beberapa gembala, biasanya menggembalakan sapi, kerbau, atau kambing sebagai binatang piaraan petani, sang petani tersebut meminta bantuan para gembala itu untuk memanjatkan pohon belimbing, lalu memetik buahnya. Ada dua jenis belimbing, yaitu belimbing manis (yang enak dan segar rasanya, dapat sebagai pelepas dahaga) dan belimbing wuluh (belimbing sayur yang hijau dan masam rasanya). Buah belimbing manis rupanya kuning keemasan berlingir (seperti lekuk bintang) lima, tetapi permukaannya licin. Hal ini secara semiotis melambangkan lima watak utama yang harus dimiliki manusia agar dapat menyempurnakan kebaktian, kesadaran, keimanan, dan ketakwaannya kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Lima watak keutamaan (pancasila) adalah: rila (ridla, rela), narima (qanaah, tawakal, dan senantiasa bersyukur), temen (al-shidqu, jujur, menepati janji), sabar (shabr, momot), dan budi luhur (al-akhlaq al-karimah, berbudi pekerti mulia). Sementra itu, belimbing wuluh yang rasanya asam hanya dapat menjadi enak setelah dimasak buat sayur asam. Tentu hal ini juga menyiratkan makna agar kelima watak utama tersebut, meskipun getir dan asam rasanya, tetaplah harus dapat diolah sedemikian rupa sehingga nanti dapat menjadi enak dirasakannya. Jadi, agar sempurna baktimu, sadarmu, imanmu, dan takwamu kepada Tuhan Yang Mahakuasa, harusalah melaksanakan watak utama lima hal di atas.

Lunyu-lunyu peneken kanggo masuh dodotira “Biarpun licin, tetap panjatlah, untuk mencuci pakaianmu”. Setelah diguyur hujan, pohon belimbing tersebut begitu licin. Namun, tetaplah panjat dan petiklah buahnya untuk mencuci pakaian agar bersih suci. Buah belimbing pada zaman dahulu, sebelum ditemukan sabun, dapat digunakan untuk mencuci atau membersihkan pakaian. Kata “dodot” yang arti harfiahnya “pakaian” atau “kain”, sebagai lambang busana dan hati manusia. Busana atau lambang lahiriah kewadakan manusia dapat dicuci bersih dengan menggunakan air yang bersabunkan belimbing. Akan tetapi, hati atau jiwa manusia agar bersih mencapai kesucian, haruslah dicuci dengan cara revolusi jiwa, yaitu mengubah watak atau pekerti, dari angkara murka, malas, dengki, iri, pendendam, tamak, loba, dan aniaya, menjadi watak atau pekerti manusia yang tulus ikhlas (rila legawa), senantiasa bersyukur dan tawakal (narima), sabar menghadapi berbagai cobaan dan tidak pemarah (momot), jujur dan selalu menepati janji (temen), serta kasih sayang kepada sesama umat dengan memirip-miripi sifat Tuhan (budi luhur). Hanya dengan kesucian inilah bekal manusia untuk dapat menghadap ke hadirat Tuhan Yang Mahakuasa di tahta suci, pusat hati sanubari (Kalbhu mukmin Baitullah).

Dodotira kumitir bedhah pinggire/dondomana, jlumatana,/kanggo seba mengko sore “Pakaianmu berketai-ketai (sobek kecil-kecil) pada pinggirnya, jahitlah, jerumatlah, agar dapat dipakai menghadap nanti sore”. Secara semiotis menyiratkan makna bahwa pakaian (dodot) selain sebagai perumpamaan hati, juga menjadi lambang kepercayaan (agama) kepada Allah. “Kang tumrap neng tanah Jawa/ Agama ageming aji” (Mangkunegara IV) yang oleh Soehadha (2008) diartikan sebagai “Orang Jawa memaknai agama”. Pakaian yang robek pinggirnya, agar pantas dipakainya, hendaklah harus dijahit atau dijerumat supaya utuh kembali. Hal ini mengandung makna bahwa kepercayaan (iman, agama) kita kepada Allah haruslah tetap utuh (bulat), hendaklah dijaga agar jangan sampai surut, robek, gempil, atau sompel. Sesungguhnya orang yang telah berbakti, sadar, iman, dan takwa kepada Allah dan sudah suci hatinya, bilamana iman dan takwanya tersebut goncang, menipis, dan masih lobang-lobang, sobek kecil-kecil bagain pinggir, berarti orang tersebut belumlah sempurna kesucian melaksanakan agamanya. Sebab, busana atau pakaiannya belum lengkap atau belum utuh untuk dapat dipakainya menghadap ke hadirat Tuhan Yang Mahakuasa. Kata “mengko sore” sebagai penanda waktu bahwa ajal kematian kita sudah dekat. Oleh karenanya, sungguh pun belum tahu kapan kita dipanggil kembali ke hadirat Tuhan, setiap manusia harus sudah siap sedia sewaktu-waktu menerima panggilan Tuhan.

Mumpung gedhe rembulane/ Mumpung jembar kalangane ”Senyampang besar rembulannya, senyampang luas lingkarannya”. Pada waktu malam hari ketika terang bulan, bulan purnama raya, tampak sinar bulan begitu terang dan lingkaranya besar dan luas sekali. Hal ini bermakna untuk memberi pesan, berisi peringatan, agar para hamba (siapa pun) janganlah menunda-nunda waktu, selagi masih muda, senyampang masih sehat wal afiat, gagah perkasa, dan mumpung masih mempunyai waktu panjang, masih ada kesempatan, bergegas-gegasalah atau bersiapsiaga mengenakan busana kesucian untuk menghadap, sewaktu-waktu, kapan pun dipanggil ke hadirat Tuhan Yang Mahakuasa. Sebab, jikalau sudah terlanjur tua renta, jompo, sakit-sakitan, dan pikun, mustahil dapat mengenakan busana kesucian serta membina kebaktian, kesadaran, keimanan, dan ketakwaan kepada Allah secara baik dan benar. Ya, senyampang masih ada kesempatan kenapa tidak kita manfaatkan secara baik untuk melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai kafilah di bumi.

Ya suraka … surak … hore… “Ayo bersorak soraklah bergembira”. Hal ini menggambarkan perasaan, senang, bergembira ria, bahagia, dan juga bersyukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa bahwa kita mampu mengenakan busana delapan watak keutamaan (eling, pracaya, mituhu, rila, sabar, narima, temen, lan budi luhur), menaati sabda Allah, menjauhi semua larangan-Nya, dan akhirnya memasuki Taman Kemulian Abadi, kembali bertunggal dengan Tuhan Yang Mahakuasa. Kebahagiaan yang tiada taranya apabila setiap hamba dapat kembali ke hadirat Tuhan secara pratitis. Asal dari Allah yang suci kembali kepada Allah juga dengan kesucian. 

Pembentukan Pekerti Bangsa

Menginghat betapa agung dan mulianya kandungan makna tembang “Ilir-ilir” karya Sunan Kalidjaga tersebut sekiranya dapat dipakai sebagai sumber pembentukan pekerti bangsa. Sebagaimana telah disampaikan dalam bab pendahuluan di atas bahwa kondisi dan situasi pekerti bangsa Indonesia sekarang berada di titik nadir: sikap hidup pragmatis, brutal, mudah emosional, pembohong, dan selalu berkeluh kesah. Oleh karenanya, pekerti bangsa yang demikian rendah itu perlu dibenahi, dibentuk kembali, dengan cara meneladan kearifan Sunan Kalidjaga dan mengaplikasikan dalam tindakan (laku) apa yang menjadi wejangannya yang tersirat dan yang tersurat dalam tembang “Ilir-ilir”.

Kata pekerti berarti ‘perangai’; ‘tabiat’; ‘akhlak’’ ‘watak’ (KBBI, 2001:843). Arti kata perangai ialah:
1. ‘sifat batin manusia yang memengaruhi segenap pikiran dan perbuatan’, ‘watak’;
2. ‘cara berbuat’, ‘tingkah laku’, ‘kelakuan’; dan
3. ‘cara khas seseorang dalam beraksi terhadap berbagai macam fenomena’ (KBBI, 2001: 855).
 
Atas dasar pemahaman makna pekerti tersebut bahwa ‘perangai’ ‘tabiat’ ‘akhlak’ ‘watak’ bangsa yang kurang baik, haruslah diolah, dididik, dan dilatih (digulawenthah) agar menjadi watak budi pekerti luhur, mulia, beradab, dan bermatabat.

Dari mana memulai dan bagaimana caranya? Secara jelas Kanjeng Sunan Kalidjaga telah memberi teladan dalam sejarah kehidupannya. Sebelum Beliau bertemu dengan Sunan Bonang, perangainya boleh dibilang kurang baik dan sesat. Namun, setelah pertemuannya dengan Sunan Bonang itu Raden Sahid mau dan mampu mengubah watak atau perangainya menjadi wali yang saleh: temen, sabar, narima, rila, dan budi luhur. Agar bangsa Indonesia memiliki pekerti yang luhur dan mulia, setiap orang harus berkemauan dan berkemampuan mengolah pekertinya yang didahului dengan mengerti akan hal ajaran keutamaan, lalu melaksanakan ajaran keutamaan itu, dan kemudian diikuti dengan senantiasa mendekat kepada Tuhan Yang Maha Esa (laku hidup: mangerti, makarti, pakarti, mastuti ing Widhi).

Melalui tembang “Ilir-ilir” Kanjeng Sunan Kalidjaga memberi wejangan bahwa yang pertama dilakukan adalah menggugah atau membangunkan jiwa manusia agar sadar akan tugas dan kewajiban sebagai kafilah di bumi (Ilir-ilir ilir-ilir). Jiwa yang telah sadar berarti mengerti akan tugas dan kewajiban hidupnya untuk memayu hayuning bawana. Untuk melaksanakan tindak kerja memayu hayuning bawana itu manusia harus memahami benar falsafah hidup petani dalam menanam padi (Tandure wis sumilir/ Tak ijo royo-royo/ tak sengguh penganten anyar). Petani hanya dapat menuai padi setelah dia bermandikan keringat, membajak dan menggaru sawahnya, serta menyebar benih, selanjutnya menjaga agar benih yang telah disebar itu selamat, tidak mengeluh maupun susah tertimpa hujan dan terik matahari, dengan sabar menantikan padi itu semburat, menguning, dan masak. Hasil pengorbanan petani adalah panen padi yang memberi manfaat (Mertowardojo, 1960: 24).

Perumpamaan falsafah hidup petani dalam tembang “Ilir-ilir” dapat digunakan sebagai cara mengolah pekerti bangsa agar menjadi bangsa yang berbudi mulia, beradab, dan bermartabat. Memang sebagian dari kodrat pekerti manusia itu cenderung pada kejahatan. Akan tetapi, terlaksannya hingga menjadi perbuatan itu juga bergantung pada angan-angannya. Apabila angan-angannya dapat mengendalikan diri, perbuatkan yang menuju ke arah kejahatan dapat dicegahnya. Andaikata pekerti manusia itu sebagai sawah ladang petani, maka angan-angan itu sebagai peranti untuk mengolahnya. Sebagai bajaknya adalah rila, garunya temen, pupuknya sabar lan narima, dan air yang digunakan menyiraminya adalah eling, pracaya, dan mituhu. Sarana pemeliharaannya agar tanaman padi dapat semburat menguning hingga panen, tidak dimakan hama, adalah dengan menyingkiri Paliwara (larangan Tuhan). Oleh karena itu, “Cah angon cah angon/ penekna blimbing kuwi/ Lunyu-lunyu peneken kanggo masuh dodotira”. Meskipun mengolah pekerti itu susahnya bukan main, licin, tetaplah kerjakan untuk dapat menyucikan diri kita.

Kebersahajaan petani dapat dicontohnya meski hanya dengan dodot (kain) yang telah sobek kecil-kecil di pinggirnya. Kain yang tidak lagi utuh dan baru itu dapat dijahit dan dijerumat lagi serta dicucinya hingga bersih untuk dapat digunakan menghadap atasan nanti sewaktu-waktu dipanggil (Dodotira kumitir bedhah pinggire/dondomana, jlumatana,/kanggo seba mengko sore). Oleh karena itu, pekerti bangsa harus dapat dibiasakan dengan hidup bersahaja, berhemat, dan tidak foya-foya dengan harta yang dimilikinya. Manfaatkan waktu dan kesempatan dengan sebaik-baiknya guna berbuat kebajikan, kasih sayang kepada sesama makhluk (Mumpung gedhe rembulane/ Mumpung jembar kalangane). Apabila falsafah tembang “Ilir-ilir” dapat dilaksanakan sebagai sumber kearifan pembentukan pekerti bangsa yang beradab, bermartabat, dan berbudi luhur sehingga kelak bangsa Indonesia mencapai puncak kejayaan dunia, tentu semua akan merasa senang, bangga, dan bahagia (Ya suraka … surak … hore…). Jadi, tembang “Ilir-ilir” sebagai sumber kearifan dalam pembentukan pekerti bangsa agar dapat menjadi bangsa yang berbudi luhur, beradab, dan bermartabat itu dapat terlaksana apabila ada kemauan dan kemampaun melaksanakan secara sungguh-sungguh. 

Tembang “Ilir-ilir” yang ditulis oleh Kanjeng Sunan Kalidjaga pada seputar abad XV—XVI Masehi itu tidak hanya sekadar tembang dolanan yang menyenangkan dan menghibur, tetapi juga berisi petuah atau wejangan hidup untuk senantiasa mengolah budi pekerti agar mencapai kesempurnaan. Pengolahan budi pekerti bangsa, juga pekerti diri manusia sendiri, disimbolkan dengan dengan kehidupan petani. Hal ini mengingat masyarakat Jawa adalah masyarakat agraris yang hidup bersahaja dan penuh kesabaran mengolah sawah ladangnya hingga mencapai panen padi yang bermanfaat bagi orang banyak. Pekerti bangsa itu ibarat sawah dan ladang petani yang harus diolah, seperti dibajak, diluku, disebari benih, diairi, dipupuk, disiangi, dan dijaga agar tanaman padi itu tumbuh subur dan padi dapat dipanen beguna bagi masyarakat. Demikian halnya dengan pekerti bangsa haruslah diolah setiap harinya untuk senantiasa dapat melaksanakan delapan watak keutamaan: eling, pracaya, mituhu, rila, narima, sabar, temen, dan budi luhur. Pengolahan delapan watak keutamaan ini ibarat jamu yang pahit rasanya, yang hanya dapat diminum oleh mereka yang teguh budinya dan yang percaya bahwa jamu itu dapat meyembuhkan penyakit. Oleh karena itu, mudah dan sukarnya menetapi makna ajaran delapan watak keutamaan itu hanya bergantung pada yang menjalaninya, apakah berdasarkan keteguhan hati ataukah hanya seenaknya saja.

Dari uraian diatas dapat kita lihat bagaimanaSunan Kalijaga secara jenius menerjemahkan ajaran Islam dalam rangkaian syair dan tembang pendek yang memiliki makna mendalam mengenai perlunya seseorang dalam memperhatikan hidup kita selama di dunia ini. Jangan hanya berorientasi pada keduniawian melainkan berorientasi pada kehidupan dalam alam kekekalan yaitu akhirat. Sehingga kehidupan dunia dan akhirat harus seimbang.

Sunan Kalijaga mengingatkan bahwa kita mempunyai pertanggungjawaban pribadi kepada Tuhan, karena semua perbuatan kita akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Sunan Kalijaga menawarkan Islam sebagai jalan dan bekal untuk menghadapi kematian dan pertanggungjawaban akhir. Dengan berbekal mengenai keislaman dengan Rukun Islamnya yaitu sahadat, sholat, zakat, puasa, haji dan senantiasa melaksanakan semua perinyahNya dan menjauhi semua laranganNya untuk mendapatkan kehidupan yang baik diakhirat nanti. 

Sunan Kalijaga juga mengingatkan kepada kita bahwa perbuatan baik dan amalan memiliki peran yang sangat penting termasuk sahadat, sholat, zakat, puasa, haji dalam Islam sebagai bekal yang menentukan keselamatan seseorang yang harus dibawa dan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Selain itu, hendaknya sebagai seorang muslim tidak menganggap remeh amalan-amalan yang telah dilakukannya. 

Lagu tembang Lir-ilir memberi kita pelajaran dan pesan islami, hendaknya manusia menyadari, bahwasanya kita hidup di dunia fana ini tidak akan lama, yang dalam bahasa jawa diibaratkan urip iku sekedar mampir ngombe yang artinya hidup itu hanya sementara, seyogyanya kita semua harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya sehingga kelak kita akan siap ketika tiba saatnya kita semua dipanggil menghadap kehadirat Allah SWT.‎

Kidung Wahyu Kolosebo

 

Kidung merupakan bagian dari seni dan budaya bangsa Indonesia yang lahir di pulau jawa...

Pada awalnya sblm zaman Wali Songo, Kidung adalah susunan sastra yg di tembangkan oleh orang - orang bertaraf khusus (sakti mandra guna) sebagai wasilah (perantara) permohonan kepada Sang Hyang Taya (Tuhan Yang Tidak Bisa Di Ilustrasikan dan Tidak Menyerupai Makhluq), sehingga estetika nuansa kidung sangat identik dengan kesyakralan dan mistis.

Pada zaman Wali Songo, keberadaan Kidung tetap di lestarikan, hanya saja nilai2 bahasa Kidung di selaraskan dengan ajaran Islam tanpa mengurangi nilai kesyakralan dan kemistisan sebagai bagian dari keindahan warisan Leluhur Orang Jawa.

Termasuk lahirnya Lakon Wayang Kulit Dewa Ruci yang terus melegenda sejak 500th yang lalu hingga detik ini pada mulanya bersumber dari Kidung yang di susun oleh Kanjeng Sunan Kalijaga (Kidung Linglung).

Secara terminologi, Kidung bisa berarti Doa atau bahasa Sejarah (Lelaku) dalam meraih kesempurnaan dan kebahagiaan hidup dengan bersandar pada Permohonan kepada ALLAH SWT.

Jika anda berkidung berarti anda telah berdoa dan anda membaca sejarah perjalanan diri anda sendiri menuju ALLAH SWT (dalam bahasa Tasawuf bisa di sebut sebagai seorang Salik yang sedang ber-Thoriqoh).

Sehingga sangatlah wajar bila para ahli spiritual dan para cendikiawan metafisik berpendapat bahasa kidung memiliki ruh yang sulit utk di terjemahkan dengan bahasa lisan, dan semua itu adalah bagian dari indahnya warisan seni serta budaya jawa yang tetap luhur sepanjang masa.

Kidung Wahyu Kolosebo‎

Rumekso ingsun laku nisto ngoyo woro
Kelawan mekak howo, howo kang dur angkoro
Senadyan setan gentayangan, tansah gawe rubeda
Hinggo pupusing jaman

(TUHAN… Dengan seluruh kekuatan yang Engkau berikan, sesungguhnya saya akan berjuang memerangi sifat dusta yang ada didalam diri saya, dan dengan sepenuh hati saya akan membentengi diri saya dari gerakan nafsu angkara murka yang menyesatkan, meskipun syetan laknat terus ber-grelya membujuk anak manusia berbuat jahat sepanjang jaman)

Hameteg ingsun nyirep geni wiso murko
Maper hardening ponco, saben ulesing netro
Tinambaran sih kawelasan, ingkang paring kamulyan
Sang Hyang Jati Pengeran

(TUHAN… Rupanya iblis membiuskan api – api kesesatannya di dalam jiwa dan raga saya, dan saya sudah bertekat disetiap nafas berhembus bahkan pada setiap mata berkedip saya akan berperang dengan mereka di medan laga, sehingga mereka tidak lagi memiliki kemampuan menguasai 5 perkara yang ada di tubuh saya *Telinga, mata, hidung, mulut dan 2 lubang di bawah perut*, dan dengan Kasih Sayang-MU TUHAN… Hujanilah jiwa raga saya dengan kemualian-kemulian-MU, dan sungguh Engkaulah TUHAN YANG MAHA ABADI)

Jiwanggo kalbu, samudro pepuntoning laku
Tumuju dateng gusti, Dzat Kang Amurbo Dumadi
Manunggaling kawulo gusti, krenteg ati bakal dumadi
Mukti ingsun …tanpo piranti

(Ketika kesadaran jiwa setiap insan merasakan dirinya berada dalam KUASA TUHAN, sungguh ia akan memiliki kekuatan hati yang bila berdoa di kabulkan, bila meminta di penuhi, bila berharap di wujudkan, bila berperang melawan kebathilan dimenangkan, dan ia akan merasakan kelezatan kehidupan jiwa tanpa harus melewati proses yang melelahkan, karena sesungguhnya TUHAN MAHA BERKUASA terhadap seluruh Ciptaan-NYA)

Sumebyar ing sukmo madu sarining perwito
Maneko warno prodo, mbangun projo sampurno
Sengkolo tido mukso, kolobendu nyoto sirno
Tyasing roso mardiko

(Tahukah kalian wahai insan yang di hidupkan dimuka bumi, ketika jiwamu di penuhi dengan ilmu dan kasih sayang, maka engkau akan mendapatkan berbagai cahaya kebenaran, ruh kebaikan serta pancaran kemuliaan yang sempurna, sebagai Anugerah dari TUHAN-mu Yang Maha SEMPURNA, sehingga akan lenyap kesedihan didalam dirimu, dan akan sirna segala macam bentuk angkara murka di dalam jiwamu, sampai akhirnya suatu hari nanti kamu bangkit menjadi insan yang tidak terjajah oleh nafsu yang menyesatkan, maka bangkitlah dengan kasih sayang TUHAN-mu)

Mugiyo den sedyo pusoko Kalimosodo
Yekti dadi mustiko, sajeroning jiwo rogo
Bejo mulyo waskito, digdoyo bowo leksono
Byar manjing sigro-sigro

(TUHAN… melalui bait bait Kidung yang saya lantunkan ini, semoga Engkau berkenan menanam ke-IMANAN yang sejati di dalam jiwaku bahwa TIADA TUHAN selain ENGKAU YANG MAHA SEJAHTERA, dan saya memohon kepada-MU TUHAN… anugerahkan pula terhadap diri saya sebuah kedudukan sebagai hamba-MU yang memiliki keberuntungan hidup, memiliki banyak ilmu dan berpengetahuan luas, tidak lemah dan selalu memiliki keberanian membela kebenaran, berwibawa dan bisa menjadi suri tauladan terhadap sesama, sehingga siapa saja insan yang berada di sekeliling saya segera merasakan indahnya hidup berkat KASIH SAYANG-MU YANG SANGAT LUHUR LAGI AGUNG)

Ampuh sepuh wutuh, tan keno iso paneluh
Gagah bungah sumringah, ndadar ing wayah-wayah
Satriyo toto sembodo, Wirotomo katon sewu kartiko
Kataman wahyu ……..Kolosebo

(Karena saya tahu, sesungguhnya seorang hamba-MU yang telah ENGKAU menangkan, akan memiliki kekuatan yang utuh, bahkan segala macam pengaruh sihir jahat akan lumpuh seketika dihadapannya, dia begitu bijak dan sangat mulia, wajahnya-pun memancarkan cahaya yang mampu meredam semua unsur amarah serta kebencian, bahkan dia akan tampil sebagai kesatriya yang mengobarkan api kebenaran, tiada henti terus menerus menyerukan perdamaian dan sungguh dialah sosok sang raja pembawa kesejahteraan yang bermahkotakan kasih sayang)

Memuji ingsun kanthi suwito linuhung 
Segoro gando arum, suh rep dupo kumelun
Tinulah niat ingsun, hangidung sabdo kang luhur
Titahing Sang Hyang Agung

(Wahai TUHAN YANG MAHA LUHUR, saya adalah hamba-MU yang lemah, datang bersimpuh dihadapan-MU, memohon kepada-MU dengan jeritan hati yang terdalam, tenggelamkan saya Wahai TUHAN kedalam samodra kemenangan-MU, dan bangkitkan saya kembali kepermukaan bumi setelah tubuh dan jiwa ini ENGKAU lengkapi dengan berbagai cahaya kemenangan-MU, sehingga saya memiliki kekuatan mengibarkan panji – panji kemenangan-MU diseluruh penjuru bumi, dan sungguh jika itu terlaksana semata – mata hanya ENGKAU-lah yang menghendakinya, karena sungguh hanya ENGKAULAH TUHAN YANG MAHA BIJAKSANA)

Rembesing tresno, tondo luhing netro roso
Roso rasaning ati, kadyo tirto kang suci
Kawistoro jopo montro, kondang dadi pepadang
Palilahing Sang Hyang Wenang

(Wahai insan sejagad raya, ketahuilah bahwa cinta akan selalu melahirkan air mata, sebuah air mata yang akan membentuk jiwamu, hatimu serta seutuhnya yang ada pada dirimu mengerti bahwa cinta itu suci, sesuci air matamu yang jatuh membasahi bumi, maka berharaplah dengan berbagai untaian doa, agar suatu ketika kalian dapat berjumpa dengan SANG PENCIPTA kesucian air mata, karena sesungguhnya hanya DIA sebagai MAHA TERTINGGI yang menguasai jiwa – jiwa para PECINTA)

Nowo dewo jawoto, tali santiko bawono
Prasido sidhikoro, ing sasono asmoroloyo
Sri Narendro Kolosebo, winisudo ing gegono
Datan gingsir….sewu warso

(Sesungguhnya tidak ada tali sakti yang dapat mengikat sembilan dimensi bumi, kecuali talinya para kestriya yang memiliki kesaktian berupa sifat bersahaja, berbudi pekerti mulia, senang berbagi kebaikan dan tidak gentar memperjuangkan kebenaran ajaran TUHAN, dan mereka sangat pantas mendapat anugerah mahkota sang raja pembawa kesejahteraan dunia, bahkan seluruh Malaikat yang ada dilangitpun mengaguminya dan sejarah akan mencatat derajat mereka sebagai hamba yang teristimewa, dan seandainya kita hidup bersamanya rasanya kebahagian itu tidak bisa di ungkapkan walau kita hidup seribu tahun lamanya)‎

Kidung Kawedar Mantrawedha


Mantrawedha adalah kidung karya Kangjeng Sunan Kalijaga. Kidung ini mantra dan wejang yang terdiri dari 10 pupuh dhandhang gula. Karena kidung ini murni berisikan doa atau mantra, maka umumnya dilantunkan dalam suara lembut, hening tanpa diiringi gamelan nada macapat.

Inti mantrawedha hanyalah yang tersurat dalam 5 pupuh pertama, yaitu doa kepada Allah SWT. Sehingga jika seseorang ingin berdoa dengan mengidung atau membaca mantrawedha, maka yang diperlukan hanya pupuh 1 sampai dengan 5 saja. Isi dari doa adalah memohon keselamatan, baik terhadap gangguan kejahatan maupun penyakit dan hama, baik dari sumber biologis dan fisik maupun dari metafisik. Pupuh-pupuh selanjutnya menggambarkan wejang dari Kangjeng Sunan Kalijaga tentang isi dan misi 5 pupuh pertama.

Beberapa bahasa daerah, tidak sepenuhnya bisa dituliskan dalam aksara Latin, terutama yang termasuk bahasa alam. Ada beberapa vokal maupun konsonan yang tidak terwakili oleh aksara Latin. Terlebih bahasa Jawa, bahkan aksara Jawa pun menjadi tidak konsisten. Contohnya vokal “a”. Ada “a” yang diucapkan tegas ada pula yang di antara “a” dan “o”. Penulisannya yang benar tetap “a”, baik dalam aksara Latin maupun Jawa. Untuk memudahkan pembaca, setiap pupuh kidung ini ditulis 2 kali. Yang pertama adalah penulisan yang seharusnya, dan yang kedua adalah menurut pengucapannya. Namun karena tidak ada aksara Latin untuk menyatakan vokal di antara “a” dan “o”, maka disini dicoba dituliskan dengan “o”.

Kidung karya Sunan Kalijaga ini sudah terkenal sampai pelosok Nusantara. Di desa, kidung ini sering dinyanyikan saat pertunjukan ketoprak, wayang kulit, dan lain lain.

Inti laku pembacaan Kidung Kawedar adalah agar kita senantiasa terhindar dari malapetaka. Dengan demikian kita dituntut untuk senantiasa berbakti, beriman dan taqwa kepada Allah SWT.

Adapun fungsi secara eksplisit tersuratnya antara lain:

1. Penyembuh segala macam penyakit.
2. Pembebas pageblug
3. Mempercepat jodoh bagi perawan tua.
4. Penolak bala yang datang di malam hari.
5. Menang dalam perang
6. Memperlancar cita-cita luhur.

Kidung Kawedar dikenal memiliki berapa nama lain yaitu Kidung Sarira Ayu, sesuai dengan bunyi teks dalam bait ketiga, dan Kidung Rumekso Ing Wengi, sesuai bunyi teks di awal Kidung, sebagaimana kita lazim menyebut Surat Al Ikhlas dengan nama Surat Qulhu atau Surat Al Insyiraah dengan sebutan Surat Alam Nasyrah.


Dalam membahas bait demi bait, bagi yang bisa menembang macapat, silahkan dilakukan seraya mendendangkan dengan tembang Dhandanggula.

Pupuh 1

Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu luputa ing Lara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Miwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirna

Pengucapannya

Ono kidung rumekso ing wengi,
teguh ayu luputo ing leloro,
luputa bilahi kabeh,
jin setan datan purun,
peneluhan tan ono wani,
miwah panggawe olo,
gunaning wong luput,
geni atemahan tirta,
maling adoh tan ono ngarah mring mami,

guno duduk pan sirna.

Terjemah bebas

Ini doa penjaga malam,
semoga semua aman, luput dari penyakit,
dan luput dari petaka,
jin dan setan tidak akan (mengganggu),
teluh (santet) tak akan berani (beraksi),
sekalian niat jahat,
(dan) tipu daya luput,
api akan tertangkis air,
maling menjauh tak berani menyatroni ku,
(dan) segala bentuk santet sirna

Penjelasan

Ini doa penjaga malam memohon kepada Allah akan keselamatan dan perlindungan dari berbagai kejahatan, baik yang dilakukan manusia, jin maupun setan, ataupun persekutuan antar mereka. Kejahatan-kejahatan tersebut akan luput atau gagal bagaikan api bertemu air.

Pupuh 2 dan 3

Sakehing lara pan samya bali
Sakeh ngama pan sami miruda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa
Sato galak tutut
Kayu aeng lemah sangar
Songing landhak guwaning wong lemah miring 
Myang pakiponing merak

Pagupakaning warak sakalir
Nadyan arca myang segara asat
Temahan rahayu kabeh
Apan sarira ayu
Ingideran kang widadari
Rineksa malaekat
Sakathahing Rasul
Pan dadi sarira Tunggal
Ati Adam Utekku Baginda Esis
Pangucapku ya Musa

Pengucapannya

Sakabehing loro pan samyo bali,
kehing omo pan sami mirudo,
welas asih pandulune,
sakehing brojo luput,
kadi kapuk tibaning wesi,
sakehing wiso towo,
sato galak lulut,
kayu aeng lemah sangar,
songing landhak guwaning mong lemah miring,
myang pakiponing merak.

Pagupakaning warak sakalir,
nadyan arko myang segoro asat,
temahan rahayu kabeh,
apan sarira ayu,
ingideran mring widodari,
rinekso malaikat,
sakathahing rasul,
pan dadi sariro tunggal,
ati Adam uteku Bagindo Esis,

pangucapku yo Musa.


Terjemah bebas

Semua penyakit akan kembali (ke asalnya),
semua hama akan menyingkir,
semua melihatku penuh kasih,
semua serangan senjata (yang tertuju padaku) akan luput,
bak kapuk jatuh di atas besi,
semua racun (bisa) akan netral (bagiku),
(semua) biatang buas akan tunduk (padaku),
pohon angker, tanah gersang –
bulu landak, goa di tebing miring –
maupun sarang merak (baca: kawasan perburuan harimau) –

(dan) kubangan badak dan sebangsanya (baca: kawasan jorok sumber penyakit) –
termasuk teriknya matahari (arka) yang sedemikian hebatnya sehingga mampu mengeringkan laut (baca: kemarau panjang),
semua segera menjadi nyaman,
dan membahagiakan,
bak diiringi bidadari,
dijaga malaikat,
dan segenap para rasul,
semua bak manunggal sejiwa (denganku),
perasaan(ku) (adalah Nabi) Adam, pemikiranku (adalah Nabi) Sis,
(dan) ucapanku (adalah Nabi) Musa.

Penjelasan

Pupuh 2 dan 3 ini menunjukkan sebuah hasrat untuk beraura “pencerah”. Semua penyakit, hama maupun serangan senjata tidak ada artinya. Ganasnya binatang buas berbalik menjadi kepatuhan. Kawasan-kawasan angker, gersang, berbahaya, jorok seram dan gawat serta kekeringan (peceklik) berubah menjadi indah, damai, subur, nyaman dan penuh kebahagiaan.

Semua itu berkat keimanan kita sehingga dari dalam diri kita terpancar aura para malaikat dan para rasul. Semua manunggal dalam sanubari, dimana perasaanku seperti Nabi Adam, pemikiranku seperti Nabi Sis, dan ucapanku seperti Nabi Musa.

Apa istimewa perasaan Adam? Jelas, Nabi yang satu ini adalah satu-satunya lelaki yang pernah hidup di Syurga sebelum turun ke bumi. Beliau juga manusia pertama bumi versi jaman ini. Bahkan ada kisah bahwa beliau turun ke bumi karena dosa. Semua ini menunjukkan kondisi extrim. Ketika di syurga mendapat kenikmatan extrim. Setelah berbuat dosa dan diturunkan ke bumi, menjadi penyesalan extrim, namun harus mengatasinya dengan tawakal extrim. Sehingga tentu apa yang dirasakan Adam tidak bisa dibayangkan oleh manusia lain dan manusia lain tidak mungkin mengalami hal yang seperti dialami Adam.

Pemikiran Nabi Sis dan ucapan Nabi Musa, sepertinya merupakan kemenonjolan yang disimpulkan oleh Sunan Kalijaga. Hal-hal seperti ini akan dilanjutkan dalam pupuh 4 dan 5.

Pupuh 4 dan 5

Napasku Nabi Ngisa linuwih
Nabi Yakup Pamiyarsaningwang
Yusup ing rupaku mangke
Nabi Dawud Suwaraku
Jeng Suleman kasekten mami
Nabi Ibrahim nyawaku
Edris ing Rambutku
Baginda Ngali kulitingwang
Getih daging Abubakar singgih
Balung Baginda Ngusman

Sungsumingsun Patimah linuwih
Siti Aminah Bayuning Angga
Ayup ing Ususku mangke
Nabi Nuh ing Jejantung
Nabi Yunus ing Otot mami
Netraku ya Muhammad
Pamuluku Rasul
Pinayungan Adam sarak
Sammpun pepak sakatahe para
Nabi dadya sarira Tunggal.

Pengucapannya

Napasingun Nabi Isa luwih,
Nabi Yakub pamiyarsaningwang,
Yusuf ing rupaku mangke,
Nabi Dawud swaraku,
Hyang Suleman kasekten mami,
Ibrahim nyawaningwang,
Idris ing rambutku,
BagendAli kulitingwang,
Abu Bakar getih daging Umar singgih,
balung Bagendo Usman.

Sungsum ingsun Patimah linuwih,
Siti Aminah banyuning anggo,
Ayub ing ususku mangke,
Nabi Nuh ing jejantung,
Nabi Yunus ing otot mami,
Netraku ya Muhammad,
panduluku rasul,
pinayungan Adam Sarak,
sampun pepak sakhathahing poro Nabi,
dadyo sarira tunggal.

Terjemah bebas

Napasku Nabi Isa
penampilanku Nabi Yakub,
wajahku Nabi Yusuf,
suaraku Nabi Dawud,
kesaktianku Nabi Sauleman,
nyawaku Nabi Ibrahim,
rambutku Nabi Idris,
kulitku (sahabat) Ali,
darahku (sahabat) Abu Bakar,
dagingku (sahabat) Umar,
tulangku (sahabat) Usman,

Sumsumku Fatimah,
cairan tubuhkan Siti Aminah,
ususku Nabi Ayub,
jantungku Nabi Nuh,
ototku Nabi Yunus,
mataku Nabi Muhammad,
penglihatanku bak rasul,
diteduhi oleh Nabi Adam dan Siti Sarah,
sudah lengkap semua nabi,
manunggal dalam jiwaku.

Penjelasan

Sepertinya menggambarkan sekujur tubuh kita luar-dalam penuh dengan aura para nabi, para sahabat dan para isteri Nabi Muhammad. Entah ini benar-benar permohonan supaya aura para manusia istimewa tersebut masuk menjadi aura kita, atau sekedar kiyas ataukah punya makna lain, saya sama sekali belum tahu. Yang jelas, Sunan Kalijaga adalah seorang wali yang umumnya tingkat ilmu dan pengetahuannya sudah makrifat. Seperti yang pernah saya tuliskan di laman Bima Suci, seorang makrifat adalah orang yang jenius, sehingga tidak selalu pola pikirnya bisa diikuti oleh orang awam. Kejeniusan Sunan Kalijaga sudah terbukti, selain melalui pengembangan seni dan budaya, juga tata kota dan teknik bangunan, meski beliau bukan insinyur sipil.

Pupuh 6-7: Wejang Sunan Kalijaga tentang Mantrawedha

Pupuh 6 sampai dengan 10 adalah penjelasan atau “wejang” dari Sunan Kalijaga tentang inti Mantrawedha yang tersurat pada pupuh 1 sampai dengan 5 di atas. Namun sepertinya wejang ini bukan menjelaskan arti dari setiap pupuh, melainkan cenderung khasiat atau manfaat dan cara mendapatkannya.

Pupuh 6

Wiji sawiji mulane dadi
Apan apencar dadiya sining jagad
Kasamadan dening Dzate
Kang maca kang angrungu
Kang anurat kang anyimpeni
Dadi ayuning badan
Kinarya sesembur
Yen winacakna toya
Kinarya dus rara gelis laki
Wong edan dadi waras

Pengucapannya

Wiji sawiji mulane dadi,
apan pencar sak indenging jagad,
kasamadan dening dzate,
kang moco kang angrungu,
kang anurat kang anyimpeni,
dadi ayuning badan,
kinaryo sesembur,
yen winacakno ing toyo,
kinarya dus roro tuwo gelis laki,
wong edan nuli waras.

Terjemah bebas:

Benih apapun yang tumbuh,
akan menyebar ke seluruh dunia,
mendapat restu dari Dzat yang Maha Kuasa,
yang membaca (dan) yang mendengar,
(dan) yang menulis (dan) yang menyimpannya,
semua akan mendapat manfaat (pahala),
sebagai (kemampuan memberi) petunjuk.
Jika (kidung ini) dibaca dekat air,
gadis tua lekas dapat jodoh,
(dan) orang gila segera sembuh.

Penjelasan:

Sebuah ilmu yang bermanfaat, baik pengetahuan maupun keterampilan, akan diridloi NYA untuk menyebar ke segala penjuru dunia. Semua pihak akan mendapat manfaatnya, baik yang membaca, yang mendengarkan (orang membaca), yang menulis maupun yang sekedar menyimpannya. Demikian pula kidung ini (pupuh 1-5), jika dibacakan di dekat air, maka jika air itu untuk mandi gadis tua, dia akan lekas mendapat jodoh. Jika utuk mandi orang gila, dia akan segera waras.

Pupuh 7

Lamun ana wong kadhendha kaki
Wong kabanda wong kabotan utang
Yogya wacanen den age
Nalika tengah dalu
Ping sawelas macanen singgih
Luwar saking kabanda
Kang kadhendha wurung
Aglis nuli sinauran mring hyang
Suksma kang utang puniku singgih
Kang agring nuli waras

Pengucapannya

Lamun ono wong kadhendho kaki,
wong kabondo wong kabotan utang,
yogya wacanen den age,
naliko tengah dalu,
ping sawelas wacanen singgih,
luwar saking kebondo,
kang kadhendho wurung,
aglis nuli sinauran,
mring Hyang Suksmo kang utang puniku singgih,
kang agring nuli waras.

Terjemah bebas:

Manakala (seseorang atau kamu) kena denda,
atau terikat terjerat hutang,
sebaiknya segera baca kidung ini (pupuh 1-5),
di tengah malam,
jam 11 (pm) bacalah dengan khusuk,
jeratan akan segera lepas,
denda akan segera urung,
Tuhan yang akan membayar hutangnya,
(dan) jika sakit segera sembuh.

Penjelasan:

Bagi yang sedang terancam kena denda atau hukuman atau terbelit hutang atau terjerat dalam kekonyolan, kidung ini (pupuh 1-5) bisa menjadi doa ampuh untuk memohon pertolongan Allah, terutama jika dibacakan jam 11 malam dengan khusuk. Ancaman denda akan segera urung, jeratan segera lolos dan belitan hutang segera lunas. Tuhan akan memberi jalan yang mudah untuk melunasi hutangnya.

Karena ini mantra seorang wali, tentu tidak mungkin untuk menyelamatkan orang yang sengaja berbuat salah. Kita boleh jadi berbuat salah tanpa sengaja berniat kriminal. Misalnya perkelahian, atau karena ulah kawan kita, yang berakibat cukup fatal sehingga sepertinya kita melakukan kesalahan. Kita juga bisa terbelit hutang tanpa ada niatan ngemplang. Misalnya, gara-gara kena PHK, maka sebagian atau semua hutang macet. Niatnya tidak ngemplang. Tapi karena tidak ada uang untuk membayar, maka akan tampak seperti orang yang ngemplang. Kesalahan-kesalahan seperti inilah yang akan dimohonkan dalam kidung mantrawedha untuk mendapat pertolongan Tuhan.

Bagi orang-orang yang benar-benar bersalah, semisal penjahat atau koruptor, doa kidung ini tidak ada manfaatnya. Mereka mesti mencari mantra dari setan atau iblis bila ingin lolos dari hukuman. Kidung ini justru mustajab untuk menaklukkan mereka, karena masuk dalam kategori sebagai pelaku “guna” yang “luput”. Bahkan bisa jadi orang-orang jahat seperti ini dianggap sebagai penyakit atau hama.

Catatan: “Ping sawelas” – “ping” disini bukan berarti “kali”, melainkan jam atau pukul, dari asal kata “tabuh kaping”.

Pupuh 8

Lamun ora bisa maca kaki,
winawera kinarya ajimat,
teguh ayu tinemune,
lamun ginawa nglurug,
Mungsuhira tan ana wani,
luput senjata tawa,
iku pamrihipun,
sabarang pakaryanira,
pan rineksa dening Hyang Kang Maha Suci,
sakarsane tinekan.

Pengucapannya

Lamun ora bisa moco kaki,
winawero kinaryo ajimat,
teguh ayu tinemune,
lamun ginowo nglurug,
Mungsuhiro tan ono wani,
luput senjoto towo,
iku pamrihipun,
sabarang pakaryaniro,
pan rinekso dening Hyang Kang Moho Suci,
sakarsane tinekan.

Terjemah bebas:

Jika (kamu) tidak bisa membaca,
hapalkan saja seperti jimat,
niscaya akan aman,
jika (kamu) bawa meluruk (perang),
musuhmu akan takut,
luput dari (serangan) senjata (apapun),
itulah manfaatnya,
segalanya akan dijaga oleh Tuhan yang Maha Suci,
(dan) apapun yang kau inginkan kabul.

Penjelasan:

Bagi yang tidak bisa membaca (buta huruf), tetap bisa mendapat manfaatnya dengan menghapalkannya. Kidung ini tetap akan menjadi doa untuk keselamatan dalam peperangan maupun untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Pupuh 9

Lamun arsa tulus nandur pari 

puwasaa sawengi sadina,
Iderana gelengane
Wacanen kidung iku
Sakeh ngama sami abali
Yen sira lunga perang
Wateken ing sekul
Antuka tigang pulukan
Musuhira rep sirep tan ana wani
Rahayu ing payudan

Pengucapannya

Lamun arso tulus nandur pari,
puwosowo sawengi sadino,
iderono galengane,
wacanen kidung iku,
kehing omo samyo bali,
yen sira lungo perang,
wateken ing sekul,
antuko tigang pulukan,
musuhiro rep sirep tan ono wani,
rahayu ing payudan.

Terjemah bebas:

Jika (kamu) akan bertani padi,
berpuasalah semalam sehari,
(dan) beredarlah di setiap pematangnya,
(sambil) membaca kidung ini,
(niscaya) semua hama akan kembali (ke asalnya),
jika (kamu) akan pergi ke medan perang,
bacalah (kidung ini) dekat nasi,
makanlah 3 suap,
(niscaya) musuhmu ketakutan tak akan berani,
(dan) kamu selamat dalam peperangan.

Penjelasan:

Bagi yang akan bertani padi, kidung ini juga menjadi doa ampuh untuk memohon keberhasilan ketika panen kelak. Akan lebih afdol jika dibaca ketika sedang berpuasa sambil beredar di setiap pematang. Ini akan menjadi doa ampuh untuk memohon supaya tanamannya terbebas dari hama.

Bagi yang hendak pergi ke medan perang, kidung ini dibaca di dekat nasi dan dilanjutkan dengan memakannya 3 suap. Ini akan menjadi doa ampuh untuk memohon keselamatan dan kejayaan di medan tempur.

Pupuh 10

Sing sapa bisa nglakoni
Amutiya lawan anawaa
Patang puluh dina wae
Lan tangi wektu subuh
Lan den sabar sukuring ati
Insya Allah tinekan
Sakarsanireku
Tumrap sanak rakyatira
Saking sawabing ngelmu pangiket mami

Duk aneng Kalijaga.

Pengucapannya

Sing sopo kulino anglakoni,
amutiyo lawan anowoho,
patang puluh dino bae,
lan tangi wektu subuh,
lan den sabar sukuring ati,
Insha Allah tinekan,
sakarsanireku,
tumrap sanak rakyatira,
saking sawabing ngelmu pangiket mami,
duk aneng Kalijogo.

Terjemah bebas:

Bagi(mu) yang suka berprihatin,
mutih-tawarlah (baca: puasa dan hanya makan nasi putih dan minum air putih),
40 hari saja,
bangunlah setiap subuh,
dan utamakan sabar dan syukur,
insha Allah terkabul,
apa saja yang kamu inginkan,
bagi kerabat dan rakyatmu,
oleh pengaruh keimananku,
(yang kudapat) ketika di Kalijaga.

Penjelasan:

Bagi yang biasa “lelakon” atau bertapa, bisa mendapat manfaat kidung ini lebih sempurna. Syaratnya adalah dengan melakukan puasa mutih atau tawar selama 40 hari. Puasa “mutih” artinya puasa dan ketika berbuka hanya makan makanan yang berwarna putih atau tak berwarna. Puasa “nawa” artinya puasa dan ketika buka hanya makan makanan yang tak berasa. Disini disyaratkan puasa mutih dan nawa selama 40 hari.

Selain itu juga disyaratkan untuk bangun setiap subuh dan menengadah dengan penuh kesadaran kepasrahan dan kesabaran berucap syukur kehadlirat Allah yang Maha Kuasa. Insha Allah, akan mendapatkan apa yang kita inginkan dan berkah yang melimpah bagi segenap kerabat dan rakyat. Karena cara ini benar-benar sesuai dengan cara sang wali mendapatkan ilmu ini ketika di Kalijaga.
Sampai sekarang sebagian masyarakat Indonesia termasuk suku Jawa, masih percaya dan menyenangi hal-hal gaib. Secara sederhana hal itu bisa dilihat dari bertahannya kehadiran sejumlah media massa seperti majalah, tabloid bahkan acara-acara televisi yang menayangkan hal-hal gaib. Lebih-lebih lagi suasana kehidupan masa kecil saya di  Jawa Tengah – Jawa Timur periode 1950 – 1960-an.
Hampir setiap hari pembicaraan kami kanak-kanak, tidak pernah tanpa bicara masalah makhluk halus, kesaktian dan kanuragan, Gusti Allah serta masalah-masalah gaib dan supranatural. Ada saja yang dibicarakan mengenai sepak terjang belasan jenis makhluk halus. Ada yang disebut gendruwo, wewe, banaspati, jrangkong, hantu pocong, glundung pecengis, lampor, sundel bolong dan lain-lain.

Setiap pohon beringin atau pohon-pohon besar berusia puluhan bahkan ratusan tahun serta tempat-tempat angker yang belum disentuh dan diolah manusia, dipercaya dihuni makhluk halus. Padahal pohon dan tempat seperti itu pada masa itu banyak sekali dan hampir ada di setiap pekarangan rumah. Penduduk masih jarang dan hunian tidak sepadat sekarang. Jarak satu rumah dengan yang lain lebar-lebar. Kebun dan halaman rumah luas-luas, bisa ribuan meter persegi sehingga banyak yang belum terolah dan menjadi semak belukar atau berupa rumpun bambu. Demikian pula pepohonannya yang tumbuh alami dari biji, berbatang besar-besar lagi tinggi, jauh lebih besar dari pelukan pemiliknya.

Sementara listrik belum masuk desa, belum ada radio, televisi, apalagi telpon. Jalan-jalan desa masih berupa jalan tanah dan jumlah mobil di setiap kabupaten bisa dihitung dengan jari. Jadi bisa dibayangkan, sunyi sepinya suasana sehari-hari, lebih-lebih bila hari sudah mulai gelap.

Di tengah kesunyian itulah kami bermain aneka permainan tradisional termasuk permainan mengundang ruh halus yang disebut jaelangkung dan jaelangsih. Kami juga harus belajar silat untuk bekal membela diri jika bepergian, mempelajari ilmu kesaktian dan kanuragan, tenaga dalam serta berbagai olah batin agar bisa selamat lagi berjaya dalam kehidupan.

Itu adalah gambaran suasana pertengahan abad XX. Bisa dibayangkan betapa lebih sunyi dan seramnya suasana abad XV – XVI dengan hutan belantara di mana-mana, suasana serta kehidupan di zaman peralihan dari Kerajaan Majapahit ke Kesultanan Demak, tatkala agama Islam baru mulai disebarkan ke penduduk Jawa yang menganut agama Syiwa-Buddha dan percaya bahkan banyak yang memuja ruh-ruh halus. Maka topik pembicaraan apa yang paling menarik untuk disampaikan jikalau bukan tentang bagaimana menghadapi godaan makhluk halus, menangkal ilmu hitam, memperoleh kesaktian serta menundukkan kawasan-kawasan angker dan keramat demi kesejahteraan hidup.

Dengan daya tarik itulah Sunan Kalijaga memulai Suluk Kidung Kawedar sebagaimana bait di atas. Kanjeng Sunan Kali, demikian panggilan kehormatan beliau, langsung menawarkan mantera pelindung kehidupan, yang mampu menjaga siapa yang membaca dan yang mempercayainya dari segala marabahaya, serta bisa membuat hidup menjadi sejahtara.

Bait pertama menggambarkan kehebatan tembang pujian, yang enak didengar namun sekaligus sakti mandera guna, yang menjaga kita di malam hari, yang melindungi kita dari segala macam penyakit dan hal-hal buruk, melindungi dari gangguan jin dan setan, menangkal ilmu hitam dan segala hal yang buruk yang mau mencelakai kita, sampai-sampai diibaratkan bisa mengubah api yang panas menjadi air nan sejuk bila menghampiri kita, seperti kisah Kanjeng Nabi Ibrahim ketika dibakar. Demikian pula para pencuri menjauh, tidak ada yang berani mengganggu hak milik kita.

Bait kedua masih menggambarkan kehebatan kidung mantera ini. Hama dan penyakit menyingkir, karena siapa pun makhluk Allah yang melihat kita menjadi iba dan menaruh kasih sayang. Pun segala ilmu kesaktian, tiada yang bisa mencelakai kita, lantaran akan bagai kapuk yang sangat ringan lagi lembut, jatuh ke atas besi yang keras lagi kuat. Semua racun menjadi tawar, semua binatang buas menjadi jinak. Segala jenis tumbuh-tumbuhan, pohon, kayu, tanah sangar atau angker serta sarang-sarang binatang yang dilindungi aura gaib, tiada perlu ditakuti lagi.

Bait ketiga masih diawali dengan pameran kekuatan sang kidung yang luar biasa bak bisa membuat air lautan menjadi asat atau mengering, yang dilanjutkan dengan iming-iming, pesona gambaran kehidupan serba nyaman dan selamat sejahtera. Kepada masyarakat Jawa yang percaya akan adanya para dewa dengan para bidadarinya, Sunan Kalijaga mulai memasukkan daya tarik dan istilah-istilah baru secara lepas-lepas, yakni butir-butir ajaran Islam.

Siapa yang percaya kidung ini, kehidupannya akan dikelilingi oleh para bidadari, akan dijaga oleh para malaikat dan rosul yang bahkan telah menyatu pada diri kita. Nabi Adam akan manjing, merasuk ke dalam batin kita. Nabi Sis berada di otak sedangkan Nabi Musa di tuturkata kita. Malaikat, rasul, Adam, Sis dan Musa adalah hal-hal baru bagi orang-orang Jawa baik yang animis, mempercayai ruh leluhur, makhluk gaib mau pun yang Syiwa-Buddha. Hal-hal baru itulah yang sesungguhnya menjadi inti kekuatan kidung mantera pujian ini.‎

Doa Nabi Sulaiman Menundukkan Hewan dan Jin

  Nabiyullah Sulaiman  'alaihissalam  (AS) merupakan Nabi dan Rasul pilihan Allah Ta'ala yang dikaruniai kerajaan yang tidak dimilik...