Sabtu, 23 Oktober 2021

Filsafat Ilmu Waringin Sungsang


WARINGIN sungsang berarti beringin terbalik. Pernahkah anda melihat pohon beringin terbalik? pasti tidak pernah! Mungkin,yang pernah dilihat seputar beringin roboh,miring atau terjungkal akibat tersapu angin puting beliung, terhempas tsunami atau roboh karena keberatan dahan.Tapi beringin yang tumbuh terbalik,--akarnya diatas dan daun kebawah memang tidak ada.Tapi itulah yang di sebut waringin sungsang.

Seorang murid terpaksa dikeluarkan dari perguruan silat karena diharuskan belajar ilmu tapak geni (semacam pukulan geledek yang panasnya seperti api).sedangkan simurid tidak mau belajar keras seperti latih kecepatan dan kekerasan pukulan pada pasir panas. akhirnya si murid mengembangkan ilmu sendiri yang dikenal pukulan inti es (semacam pukulan yang membuat tulang lawan terasa ngilu seperti tersentuh es).Saat sang Guru beradu jurus dengan mantan murid disebuah pertemuan silat,tentu gurunya kaget setengah mampus karena ilmu tapak geni yang disabetkannya tidak membuat tubuh lawan hangus,dan sebaliknya mantan muridnya malah tersenyum. Si mantan murid menjelaskan, ilmu Waringin Sungsang pada sang Guru,’’Ilmu Tapak Geni hanya bisa dikalahkan dengan pukulan inti es’’.Sang Guru manggut saja sambil mengelus jenggot yang sudah memutih dan berusaha mengerti, meski tetap dalam ketidakmengertian .

Kalau ingin belajar ilmu Waringin Sungsang mungkin perlu membaca buku Paul Arden’’Whatever You Think,Think The Opposite’’(Apapun yang kamu pikir,pikirlah kebalikannya).

Kalau anda ingin terkenal dan dikenal,anda harus memakai jurus lain,--Waringin Sungsang. Nyeleneh dan berpikir terbalik itu perlu dilakukan agar bisa berbeda.Hanya orang yang berbeda yang menarik perhatian.Yang menarik perhatian,itulah yang pantas memenangkan persaingan.

Untuk menerapkan ilmu Waringin Sungsang diperlukan keberanian extra.Minimal,berani salah dan ditertawain,selain bekerja keras dan berpikir lebih,berani membuat inovasi baru yang berlawanan dengan jaman.Meski banyak ide gila yang tidak berhasil direalisasi,namun pada kenyataannya banyak juga ide gila yang sukses sampai mendatangkan keuntungan material berlimpah dan memudahkan hidup.misalnya,penggunaan telepon genggam,internet dan mesin fax merupakan sebagian dari ide gila yang berhasil digunakan masyarakat modern terkini,yang mungkin ide gila itu memang dianggap tidak masuk akal jika dijelaskan masyarakat yang hidup diawal tahun 1900-an.Sebab,pada saat itu orang berpikir tidak mungkin berbicara lewat telepon tanpa kabel atau mengirim surat dengan listrik.
Ilmu Waringin Sungsang hanya bisa sukses diterapkan oleh orang fokus mengawal patokan visi.dengan visi yang kuat,seseorang mampu membangun semangat sendiri agar bisa terus bekerja tanpa mengenal lelah,selalu memunculkan ide-ide kreatif dan inovatif di tengah-tengah keraguan masyarakat,berani melawan arus bahkan menjadi bahan cemoohan.Akhirnya hanya waktu yang menentukan apakah ide anda adalah ide gila karena anda orang waras?Ataukah anda memiliki ide yang waras,padahal anda gila beneran.

Ajian Waringin Sungsang memiliki efek yang sangat mematikan. Siapa yang diserang ajian ini akan terserap energi kesaktiannya dan mengalami lumpuh hingga akhirnya roboh tidak berdaya. Dan dengan memiliki ajian ini muncul energi pertahanan kekuatan tubuh yang sangat hebat. Maka, para pendekar yang memiliki Ajian Waringin Sungsang ini bisa dipastikan akan disegani kawan sesama pendekar maupun musuh.

Ajian Waringin Sungsang diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Dia juga menciptakan banyak ilmu kedigdayaan lain seperti aji lembu sekilan dan lainnya. Kenapa Sunan Kalijaga menciptakan ilmu kedigdayaan yang begitu banyak?

Salah satu alasan logisnya yaitu pada masa itu banyak kejahatan dari golongan pendekar yang beraliran ilmu hitam dan banyaknya ahli sihir yang mempraktekkan ilmu-ilmu sihir yang menggunakan kekuatan buruk. Mereka berkuasa dan ditakuti oleh masyarakat awam.

Untuk menaklukkan kalangan pendekar berilmu hitam dan meyakinkan kepada masyarakat umum bahwa sumber kekuatan ilmu kanuragan tetap dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Ini terlihat dari rapal-rapal ilmu kedigdayaan ciptaan Sunan Kalijaga selalu bernuansa religius dan menyertakan “nama” Tuhan.

Ajian Waringin Sungsang memiliki falsafah yang mendalam. Waringin Sungsang berarti pohon beringin yang terbalik dimana akarnya berada di atas, seperti pohon kalpataru. Pohon waringin sungsang ini bermakna sumber kehidupan segala yang ada, sumber kebahagiaan, keagungan, serta sumber asal mula kejadian. Maka pohon ini juga disebut pohon purwaning dumadi atau pohon sangkan paran.

Di dalam waringin sungsang, juga terdapat ular yang melilit pohon tersebut. Ini melambangkan jasmani dan rohani yang telah menyatu dalam perilaku. Maka, seorang pendekar pemilik ilmu waringin sungsang ini adalah orang yang sudah manunggal atau menyatu kehendak lahir dan kehendak batinnya. Ilmu ini hanya dimiliki oleh para pendekar sepuh atau ‘tua’ sehingga tidak digunakan sembarangan karena efeknya yang melumpuhkan.

Pohon berasal dari kayu atau kayon, berasal dari bahasa Arab ‘khayyu’ yang artinya hidup. Dalam ilmu kalam ‘khayyu’ hanya merupakan sifat sejatinya Tuhan. Di dalam Al Quran dinyatakan; “Allahu la illaha illa huwal hayyu qayyum” yang artinya Tidak ada Tuhan melainkan Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluknya. (QS, 2, 255).

Karena begitu tingginya falsafah yang terkandung dalam ajian Waringin Sungsang ini, maka hanya kepada para pendekar yang sudah “menyelesaikan” urusan diri sendirilah ilmu ajian ini boleh diwariskan.

Ajian Waringin Sungsang dirapalkan sebagai berikut:

Bismillahirrohmanirrohim‎

Sun amatek ajiku Waringin Sungsang

wayahipun tumuruna, ngaubi awak mami, tur tinuting bala, pinacak suji kembar, pipitu jajar maripit, asri yen siyang, angker kalane wengi.

Duk samana akempal kumpuling rasa, netraku dadi dingin, netra ningsun emas, puputihe mutyara, ireng-ireng wesi manik, ceploking netra, waliker uda ratih.

Idep ingsun kekencang bang ruruwitan, alisku sarpa mandi, kiwa tengen pisan, cupakku surya kembar, kedepku pan kilat tatit, kang munggeng sirah, wesi kekenten adi.

Rambut kawat sinomku pamor anglayap, batuk sela cendani, kupingku salaka, pilingan ingsun gangsa, irungku wesi duaji, pasu kulewang, pipiku wesi kuning.

Watu item lungguhe ing janggut ingwang, untuku rajeg wesi, lidah wesi abang, aran wesi mangangkang, iduku tawa sakalir, lambeku iya, sela matangkep kalih.

Guluku-ningsun paron wesi galigiran, jaja wesi sadacin, pundak wesi akas, walikat wesi ambal, salangku wesi walulin, bauku denda, sikutku pukul wesi.

Asta criga epek-epek ingsun cakra, cakar wok jempol kalih, panuduh trisula, panunggulku musala, mamanisku supit wesi, jentikku iya, ingaran pasopati.

Bebokongku sela ageng kumalasa, akawet wesi gilig, ebol-ingsun karah, luput denda kang tinja, balubukan entut mami, uyuhku wedang, dakarku purasani.

Jembut kawat gantungaku wesi mentah, walakang wesi gapit, pupu kalataka, sungsum ingsun gagala, ototku gungane wesi, ing dalamkan, ingaran kaos wesi.

Sampun pepak sarira-ningsun sadaya, samya pangawak wesi, pan ratuning braja, manjing aneng sarira, tan ana braja ndatengi, dadya wiyana, ayu sarira mami.

Ana kidung sun-angidung bale anyar, tanpa galar asepi, ninis samun samar, patining wuluh kembang, siwur burut tanpa kancing, kayu trisula, gagarannya calimprit.

Sumur bandung sisirah talaga mancar, tibeng jaja ajail, dinding endas parah, ulur-ulur liweran, tatambang jaringing maling, dadal dadnya, gagulung ing gagapit.
Naga raja pangawasan manik kembang, kembang gubel abaji, tajem neng kandutan, udune sarwi nungsang, kurangsangan angutipil, angajak-ajak.”

=================================

Apa ygang dimaksud dengan ilmu karang? bisa jadi ilmu karang menurut istilah kerennya dalah ilmu sihir, tapi menurut isitilah jawa ilmu karang itu ilmu yg dikarang karang tanpa maksud dan tujuan yg jelas serta tata cara kelimuannya ganjil, dan ilmu karang ini di pakai oleh orang2 yg pendek akalnya (Kekerane ngelmu karang, kakarangan saking bangsaning gaib) dengan cara bersekutu dengan makhluk halus memakai perjanjian khusus dan melibatkan pengorbanan nyawa dan darah serta berbuat dholim dan aniaya seperti menginjak injak kitab suci dsb. Didalam perjanjiannya dengan sang makhluk halus maka sesungguhnya perjanjian itu merugikan kedua belah pihak yaitu dari sisi keimanan baik bagi manusia maupun jin itu sendiri, tapi karena nafsu kedua makhluk berdosa ini maka sesuatu yg merugi akan berubah seperti serba menguntungkan, bagi si manusia akan mendapatkan kekayaan, kesaktian dsb, bagi si makhluk halus akan menambah kekuatan gaibnya karena dia menyedot hawa dan aura yg dikorbankan. Tapi ilmu karang juga bisa berarti lain, yaitu akibat dari kesombongannya sendiri, diparagraf terakhir akan dijelaskan mengenai hal ini.

Seampuh apapun ilmu karang tetaplah ilmu karang yg hanya menjadikan cacat bagi jiwa kita (iku boreh paminipun) dan tidak akan masuk kedalam tapi hanya dipermukaan (tan rumasuk ing jasad, amung aneng sajabaning daging kulup) itu karena unsur2 penyusun kekuatan ilmu karang berasal dari luar bukan dari dalam diri sendiri, kekuatan ilmu karang biasanya datang dari jin kafir yg memanfaatkan kelengahan manusia didalam bersyukur kepadaNya sehingga si manusia itu menjadi kufur nikmat. Para pemakai ilmu karang itu biasanya pendek akalnya dan tidak punya pendirian maka ilmu karang hanya ilmu bagi si bodoh (yen kapengkok pancabaya,ubayane mbalenjani).

Bagi para pemburu ilmu2 kanoman yg sebagian saya sebutkan di atas maka hal2 yg perlu diperhatikan adalah :
- asal kekuatan = segala sesuatunya adalah dari Allah, maka sadarlah bahwa segala kekuatan itu datang dari Allah
- cara mendapatkan = pastikan lelaku2 yg anda jalankan itu tidak menganiaya diri sendiri seperti memakai darah, nyawa, menginjak injak kitab suci dsb, kalau hanya puasa itu masih oke2 saja, serta mintalah penjelasan dari sang guru apa makna dan filosofi dari mantra tsb serta makna dari simbol2nya, apabila ditemukan unsur meminta selain kepada Allah maka jangan dipelajari
- niatnya = pastikan niat anda mempelajari ilmu kanoman untuk tujuan kebaikan, bukan karena ikut2an supaya bisa untuk pamer dsb, segala sesuatunya itu dari niat
- tujuan = pastikan tujuan anda karena ingin mencapai kemuliaan disisiNya, ilmu itu hanya alat dan bukan tujuan untuk supaya sakti dsb, pastikan segala tujuan kita karena Allah.

Apabila kurang satu aspek pun yg saya sebutkan diatas maka jangan mempelajari ilmu kanoman karena bisa berbahaya bagi keimanan kita. Ilmu kanoman itu dibuat hanya sebagai sarana untuk disepuh oleh ilmu kasepuhan, sehingga pemakai ilmu kanoman akan terhindar dari berubahnya ilmu kanoman menjadi ilmu karang, ilmu kasepuhan itu ilmu pamoring kawulo gusti, ilmu sangkan paraning dumadi. Pamoring kawulo gusti itu seperti warangka yg masuk kedalam keris atau tubuh yg masuk kedalam ruh, sedangkan sangkan paraning dumadi itu segala sesuatunya dari dan menuju Allah. pengguna ilmu kanoman itu berpotensi besar untuk sombong karena merasa mempunyai kelebihan dibanding orang lain, apabila sudah terjangkiti sifat sombong dan takabur maka ilmunya berubah menjadi ilmu karang atau hatinya telah berkarang oleh kotoran hati yg penuh kesombongan, maka dari itu pengguna ilmu kanoman untuk disarankan lebih tawaduk dibanding orang lain, meyakini bahwa semua itu hanya amanah dan titipan maka sewaktu waktu bisa diambil oleh Yang Maha Berilmu.‎

Sumur Upas Mojopahit


Situs Candi Kedaton dan Sumur Upas merupakan dua situs yang berada pada satu lokasi. Lokasi situs ini terletak di Dusun Kedaton, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur atau lebih tepatnya 500 m ke Selatan dari Pendopo Agung. Situs ini merupakan peninggalan kerajaan yang amat besar kala itu, yaitu Kerajaan Majapahit ( WILWATIKTA ).
Situs ini terbuat dari batu bata merah dan dulunya merupaka bagunan fungsional ( nama candi digunakan karena konotasi lingkungan bahwa semua bangunan peninggalan masa lalu disebut candi ).

Sebenarnya situs ini lebih bisa disebut kompleks. Mengapa demikian? Karena disekitar dua situs ini ( Candi Kedaton dan Sumur Upas ) ditemukan banyak sekali peninggalan berupa pondasi bangunan. Bangunan ini layaknya rumah yang memiliki banyak sekali kamar dan ruangan. Menurut keterangan penjaga situs, situs ini dipercaya dimasa lalu merupakan tempat tinggal seseorang yang memiliki jabatan atau berpengaruh dimasa itu atau bahkan bisa saja keluarga bangsawan kerajaan. Dibeberapa bagian bilik-bilik batu bata memiliki ruangan yang masih cukup baik.

Nah, Candi Kedaton sendiri terletak di pojok kompleks situs ini sedangkan Sumur Upas terletak ditengah-tengah kompleks situs. Ada beberapa pendapat mengapa sumur ini dinamakan Sumur Upas:

Sumur ini mengandung kadar racun yang sangat tinggi ( pengaruh geologis lokasi ) yang mampu merusak sistem saraf manusia. Itulah sebabnya air disini bagus untuk merendam/memandikan pusaka.
Sumur ini banyak dihuni binatang-binatang berbisa seperti: lipan, kalajengking, ular welang dan kodok bangkong beracun.
Sumur Upas dalam pengertian kiasan atau sanepan. Karena tempat ini juga dipercaya merupakan tempat latihan bagi keastria-kesatria kerajaan, maka bagi para lawan lokasi ini merupakan sumber racun bagi kekuasaan mereka. Karena dari tempat ini lahir para pemimpin yang tangguh.

Menurut penuturan penjaga Candi, Sumur Upas ini juga dipercaya merupakan sebuah terowongan yang mampu tembus hingga laut selatan (kidul). Situs ini diperkirakan hancur dan terkubur oleh bencana alam kala itu. Situs ini memiliki misteri itulah sebabnya mengapa pemugaran situs yang sudah dimulai sejak 2 dekade lalu (1990-an) tidak kunjung menemukan bentuk asli bangunan dan cenderung tersendat karena semakin digali untuk mencari pondasi situs malah situs ini menunjukkan struktur dan susunan ruangan ke arah bawah. Sekarang Kompleks situs ini dilindungi bangunan baru layaknya bangunan pabrik hasil pembangunan pemerintah kabupaten Mojokerto. Bangunan ini menggantikan tiang-tiang bambu dan atap seng yang sudah reot dan dinilai tidak bisa menjaga situs ini. Untuk masuk ke sius ini tidak dipatok biaya tertentu hanya sumbangan sukarela. Setiap bulannya situs ini dikunjungi sedikitnya 50 pengunjung. Kebanyakan pengunjung  adalah pelajar dan mahasiswa yang melakukan observasi disitus tersebut.

Candi Sumur Upas merupakan bangunan parit yang berkelok. Parit-parit dari batu bata merah ini memiliki kedalaman hingga 1,6 meter dengan panjang 12,5 dan lebar 8,5 meter. Di sisi barat parit, terdapat tangga selebar 2 meter. Anggapan lainnya, bangunan parit ini memiliki penutup di bagian atas. Karena ada kemungkinan, tempat itu sering digunakan raja-raja Majapahit untuk bersemedi. Tepat di tengah parit, terdapat sebuah sumur yang ditutup dengan selembar batu gilang.

Diameter sumur yang konon lebih menyerupai gua sekitar 80 centimeter. Sedang kedalamannya, sampai sekarang masih belum diketahui. Dari kesaksian warga sekitar, hingga sekarang, belum pernah ada orang yang berani membuka mulut sumur.

Masih dari kisah warga, dulu, ada warga yang nekat membuka sumur. Katanya, ia langsung tewas karena lemas. Dari penuturan itu, warga Kedaton menamakan sumur ini dengan sebutan sumur upas atau bisa. Masih menurut mereka, Sumur Upas juga kerap dihubungkan dengan mitos para raja. Diantaranya, Sumur Upas dikabarkan jadi tempat pelarian Raja Brawijaya terakhir, yang dipercaya muksa atau menghilang begitu saja.

Sumur Upas yang menjadi jujugan paranormal, ada lagi sebuah sumur tapi tak diketahui namanya. Sumur itu dinilai mengandung ‘air kehidupan’. Para penjaga candi.‎

Sumur itu kerap didatangi orang untuk tujuan mencari kesehatan lahir batin. Ketentraman hidup dan kedamaian rumah tangga selalu menjadi ujub utama para peziarah. Caranya dengan mandi di sumur itu dan harus didasari keyakinan yang mantap.‎

Kisah Datu Landak


Datu Landak, yang nama aslinya adalah Syekh Muhammad Afif, lahir di desa Dalam pagar, Martapura, Kabupaten Banjar. 

Beliau merupakan buyut (cicit) dari Datu Kalampayan (Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari). Ada pun silsilah beliau adalah : Muhammad Afif bin Qadhi, H. Mahmud bin Asiah binti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, beliau sangat alim dan taat menjalankan ibadah sesuai dengan agama yang beliau anut, karena itu oleh Allah beliau diberikan karamah atau kesaktian. Pada tahun 1897 masyarakat Dalam Pagar ingin mendirikan masjid, Datu Landak diberikan kepercayaan untuk mencari kayu ulin yang akan di jadikan tiang utama msjid tersebut.
           
Dengan ditemani oleh Khalid, Idrus dan Lotoh berangkatlah beliau menuju Kalimantan Tengah. Dalam perjalanan yang memakan waktu berbulan2 lamanya itu, beliau sering menemui gangguan dari suku dayak. Terkadang menjadi bentrokkan fisik antara datu landak dengan penduduk setempat. 

Peristiwa yang beliau alami itu, terutama halangan dan rintangan dapat beliau atasi. Berkat kesabaran dan kegigihan beliau, akhirnya kayu ulin atau pohon ulin dapat ditemukan, pohon tersebut menurut cerita hanya dicabut saja oleh Datu Landak, bukan ditebang seperti biasanya, kemudian ditarik oleh beliau dengan tangan sendiri menuju ke sungai Barito. Setelah di ikat kayu itupun dihanyutkan di sungai tersebut. Konon bekas geseran pohon yang beliau tarik atau seret itu menjadi sungai kecil yang mengeluarkan intan yang banyak sekali. Oleh beliau intan2 itu dikumpulkn dan di tanam kembali ke dalam tanah, disekelilingnya beliau pagar dengan rumput bamban. Setelah itu beliau kembali ke Dalam Pagar, Martapura. 

Pada hari yg telah disepakati yaitu tepatnya pada hari minggu diputuskan untuk memancangkan empat tiang utama. Namun yang menjadi masalah bagaimana mendirikan keempat tiang itu, karena ke empat tiang utama tersebut besar dan panjangnya sama dengan tiang guru Masjid Suriansyah di Kuin Banjarmasin, karena ketika itu belum ada alat pengangkat canggih seperti sekarang ini. ''Tidak usah bingung, saya yang akan mengangkatnya'' kata Datu Landak. Semua yang hadir jadi terdiam, ingin tahu apa yang akan diperbuat Datu Landak..''Puk..! Puk...!'' beliau menepukkan tangan ketanah dan kempat tiang utama kayu ulin itu serentak tegak berdiri dengan sendirinya sesuai dengan yg diinginkan.  Menyaksikan Kesaktian beliau itu orang2 yang hadir pada saat itu serentak mengucapkan " Allahu Akbar".

Sang Datu Sebagai Penyebar Syi'ar Di Bangka
Awal penyebaran Islam di Bangka Belitung (khususnya di Pulau Bangka) baru teridentifikasi pada abad XVI yang dibuktikan dengan kedatangan Sultan Johor dan Panglima Perang Tuan Sarah serta Raja Alam Harimau Garang dari Minangkabau yang mengemban misi untuk menumpas bajak laut (lanun/lanon) sekaligus menyebarkan Agama Islam yang berkedudukan di Bangkakota dengan mengangkat Panglima Sarah sebagai Raja Muda di Pulau Bangka. 

Kemudian dilanjutkan dengan priode ulama Banten yang berakhir pada sekitar separuh lebih dari abad XVII atau sejak wafatnya Bupati Nusantara pada tahun 1671. Pasca selanjutnya, penyebaran dan dakwah Islam di Pulau Bangka dilanjutkan oleh Kesultanan Palembang yang pada saat itu dipimpin oleh Sultan Abdurrahman, menantu Bupati Nusantara. Sampai di priode ini (Kesultanan Palembang) penyebaran Islam berlangsung lamban karena hampir dari seluruh sultan Palembang lebih terfokus pada eksploitasi bijih timah ketimbang secara intensif menyebarkan Islam di Pulau Bangka. 

Babak baru penyebaran Islam di Pulau Bangka baru terjadi atau diperkirakan berlangsung sekitar pertengahan abad XIX. Disebut sebagai babak baru karena upaya penyebaran Islam secara intensif dilakukan ke hampir seluruh Pulau Bangka bermula pada pertengahan abad XIX. Pada priode ini, ulama Banjar (Kalimantan Selatan) memegang peranan penting, karena mereka inilah yang konon disebut- sebut sebagai ulama paling berpengaruh ‘mewarnai’ Islam di Pulau Bangka. Mengenai kapan tahun kedatangan pertama ulama-ulama Banjar ke Pulau Bangka belum diperoleh data yang pasti. 

Dalam makalah berjudul Islamisasi di Bangka ditulis oleh Ketua STAIN SAS Bangka Belitung, Drs Zulkifli Harmi MA, dalam Seminar Nasional Sejarah Masuknya Islam di Bangka Belitung, memaparkan salah seorang ulama Banjar yang tercatat mendatangi sekaligus menyebarkan Islam di Pulau Bangka adalah H Muhammad Afif keturunan ketiga (cicit) Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari ulama Banjar yang paling berpengaruh dan pengarang kitab fiqih Sabil al Muhtadin yang tersohor itu. 

Kemungkinan besar, H Muhammad Afif yang tidak lain adalah ayah dari Syaikh Abdurrahman Siddik ini datang ke Pulau Bangka tepatnya di Muntok pada dekade setelah 1860-an. Hijrah Karena Penindasan Dakwah Islam di Pulau Bangka yang dilakukan oleh ulama Banjar pada pertengahan abad XIX atau sekitar tahun 1860-an, berawal dari peristiwa jatuhnya Kesultanan Banjar di tangan pemerintah Hindia Belanda sekitar tahun 1859. 

Hegemoni kekuasaan kolonial pada masa itu tidak saja meruntuhkan Kesultanan Banjar secara politik maupun ekonomi, namun turut pula menciptakan kekacauan dan rasa tidak aman bagi rakyat Banjar. Khususnya para ulama dan orang-orang kesultanan yang tidak mau tunduk dengan pemerintah Belanda, terus dikejar dan dibunuh. Berdasarkan catatan Zulkifli, runtuhnya Kesultanan Banjar yang sebelumnya telah menggantikan kedudukan Kesultanan Palembang sebagai pusat kebudayaan dan intelektual Islam di nusantara akibat pendudukan pemerintah Hindia Belanda ini, membawa pengaruh yang besar terhadap perkembangan Islam di Bangka. 

Rasa tidak aman rakyat Banjar dan ulama-ulamanya akibat penindasan pemerintah Hindia Belanda ini, membuat sebagian mereka memilih meninggalkan tanah kelahiran mereka (hijrah). Salah satu tempat yang dipilih untuk hijrah dan bermukim adalah Pulau Bangka. 

Pada masa itu tercatat nama H Muhammad Afif bersama istri mudanya Sofiyah binti H Muhammad Qasim dan tiga orang putranya, memilih bermukim di salah satu tempat yang strategis di Pulau Bangka yakni Kota Muntok. Alasan mengapa H Muhammad Afif memilih melakukan penyebaran atau dakwah Islam di Pulau Bangka, tidak mendapat penjelasan rinci dalam Seminar Sejarah Masuknya Islam di Bangka Belitung. Namun boleh jadi kedatangan H Muhammad Afif ini disebabkan karena wilayah Pulau Bangka pada masa itu masih terbilang aman dari penindasan kolonial (Belanda). 

Tidak seperti di Banjar dimana pada saat itu para ulama dan orang-orang yang terkait dengan Kesultanan Banjar diuber-uber bahkan dibunuh oleh Belanda. Tidak menutup kemungkinan pula kalau kedatangan H Muhammad Afif di Pulau Bangka adalah untuk meneruskan dakwah Islam yang sebelumnya sudah dilakukan oleh sejumlah ulama Banjar terdahulu. 

Kemungkinan seperti ini (melanjutkan dakwah ulama-ulama terdahulu) bisa saja terjadi mengingat masih banyak ulama-ulama penyebar Islam pada fase awal masuknya Islam di Pulau Bangka yang diyakini belum tercantum dalam data dan garapan tentang sejarah Islam di Bangka Belitung. Salah satunya adalah Atok Ning (Ningrat?) ulama Banten yang menyebarkan Islam di Bangka yang wafat dan dimakamkan di Desa Air Duren Kecamatan Mendobarat. 

Oleh sebagian orang, ulama yang satu ini disebut-sebut sebagai ulama pertama yang melakukan dakwah Islam di Mendobarat sekaligus sebagai penggagas dan pendiri masjid pertama untuk melaksanakan Sholat Jumat di Mendobarat yang sekarang bernama Masjid Mardhiatul Jannah di Desa Air Duren. 

Namun belum ditemukan data akurat apakah Atok Ning melakukan dakwah Islam di Air Duren ini sebelum masuknya Kesultanan dan Ulama Banten di Pulau Bangka ataukah sesudahnya. Kemungkinan seperti ini bisa pula terjadi pada ulama-ulama Banjar yang menyebarkan Islam di Pulau Bangka. 

Seperti ulama-ulama sebelumnya, selama menetap di Muntok H Muhammad Afif gencar melakukan dakwah Islam. Di zaman itu, nama ulama ini pun makin tersohor di wilayah Pulau Bangka. Bahkan, menurut Zulkifli, berkat kerja keras H Muhammad Afif inilah yang membuat proses islamisasi di Bangka berlangsung cepat di masa itu. Di penghujung abad XIX atau sekitar tahun 1898-1899, salah seorang putra H Muhammad Afif yakni Syaikh Abdurrahman Siddik datang ke Muntok dan menggantikan posisi ayahnya mengajarkan pendidikan Islam dan dakwah di Muntok. Kedatangan ulama yang membawa ajaran tarekat Samaniah dengan salah satu karya yang terkenal yakni Amal Ma’rifat ini, belakangan, sangat memberi pengaruh besar terhadap pertumbuhan Islam di Bangka Belitung pada priode itu bahkan hingga sekarang. 

Hasil penelusuran dari beberapa literatur dan keterangan yang disampaikan secara lisan, kedatangan Syaikh Abdurrahman Siddik ke Pulau Bangka setidaknya mengemban dua misi. Pertama untuk bersilaturrahmi kepada ayahnya H Muhammad Afif dan menyebarkan dakwah serta pendidikan Islam sebagai salah satu jihad dan kekuatan melawan kolonialisme pada masa itu. Dakwah yang dilakukan Syaikh Abdurrahman Siddik tidak saja terpusat di Muntok. Selanjutnya meluas hingga Kundi, Kotawaringin, Pudingbesar, Mendobarat (yang berpusat di Kemuja), Sungaiselan, Belinyu dan sejumlah tempat lainnya. Selain merujuk pada kitab-kitab yang dipelajari dari guru-gurunya, Syaikh Abdurrahman Siddik juga aktif menulis kitab sebagai bahan ajar. 

Setidaknya, selama berada di Bangka, menurut Zulkifli, Syaikh Abdurrahman Siddik telah menulis sembilan kitab masing-masing Jadwal Sifat Dua Puluh dan Tadzkirah li Nafs wa li Amsal yang ditulis di Belinyu, Pelajaran Kanak- kanak ditulis di Kemuja, Syarah Sittin Masalah dan Jurumiyah di Sungaiselan, Asrar al-Shalah min Iddah Kutub al-Mu’tamaddah, Syair Ibrah dan Khabar Qiyamah di Muntok serta Fath al-Alim fi Tartib al-Ta’lim di Kundi. Kebanyak kitab-kitab tersebut dicetak di Mathba’ah Ahmadiyah Singapura. Berdasarkan sejumlah keterangan lisan, untuk lebih memperdalam ilmu agama yang telah ia ajarkan, Syaikh Abdurrahman Siddik menganjurkan murid-muridnya (khususnya di Kemuja) untuk menuntut ilmu (naon) di Mekkah. Mereka inilah (murid- mmurid Syaikh Abdurrahman Siddik yang naon di Mekkah) yang nantinya akan melanjutkan dakwah dan ajaran Syaikh Abdurrahman Siddik di Desa Kemuja yang dikemas dan dikelola dalam bentuk madrasah (warga setepat menyebutnya dengan sebutan Sekolah Arab) hingga menjadi pesantren yakni Pesantren Al Islam Kemuja. 

Sekitar tahun 1912 M, Syaikh Abdurrahman Siddik meninggalkan Pulau Bangka dan melanjutkan dakwah Islam ke beberapa tempat di Sumatera hingga wafatnya di Riau tepatnya di Kampung Hidayat, Sapat, Indragiri tahun 1939. Sedangkan dakwah Islam yang diajarkan beliau selama di Bangka terus dikembangkan oleh para murid dan keturunannya sehingga dikenal luas seantereo Bangka Belitung. Hingga menjelang pertengahan abad XX atau sekitar dekade 1940-an, dakwah dengan sistem pengajian di rumah-rumah penduduk oleh ulama Banjar, masih berlangsung di Pulau Bangka. 

Salah satu ulama dimaksud yakni KH Mansyur Al Banjari yang menetap di Desa Petaling Kecamatan Mendobarat. Mengenai ulama ini, belum ditemukan data maupun karya tertulis yang menguak secara mendalam tentang kiprah dan pemikiran-pemikiran beliau, kecuali keterangan dari mulut ke mulut yang disampaikan oleh para tetua masyarakat. 

Besar kemungkinan KH Mansyur Al Banjari merupakan ulama Banjar terakhir yang melakukan dakwah Islam di Mendobarat. KH Mansyur yang oleh masyarakat Petaling dipanggil Atok Banjar ini menetap di Petaling bersama istrinya bernama Khadijah. Beliau wafat dan dimakamkan di TPU Desa Petaling yang hingga saat ini makamnya dianggap keramat dan sering diziarahi oleh banyak orang.‎

Doa 'Asyuro


Selain menyuruh puasa, kita juga disunatkan untuk melakukan shalat sunat Asyura di hari atau malam 10 Muharram. shalat sunat ini minimal dilakukan 2 rakaat 1 salam dan standarnya 4 rakaat 2 kali salam tergantung kemampuan. Tata cara shalatnya adalah :

1. Berniat melakukan shalat sunat asyura 2 rakaat.

2. Setelah membaca surat Al-fatihah pada rakaat pertama maka bacalah 10 x surat Al-ikhlas 1 x surat al-falaq dan 1 x surat Annas, kemudian rukuk, sujud seperti biasa dan pada rakaat kedua setelah dibaca Al-fatihah dibaca lagi 10 x surat Al-ikhlas 1 x surat al-falaq dan 1 x surat Annas.

3. Setelah salam baca zikir (tasbih) Subhanallah, Walhamdulillah, Lailahaillah, Allahuakbar 70 x, kemudian

4. Baca Rabbigfirli waliwa lidayya 70 x, kemudian

5. Baca Hasbiyallah Huwanikmal Wakil Nikmal Maula Wanikmannasir 70 x, kemudian

6. Baca zikir spesial muharram di bawah ini seberapa sanggup.

Doa 'Asyura 

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ سُبْحَانَ اللَّهِ مِلْءَ الْمِيْزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ الْعَرْشِ لاَمَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَأَ مِنَ اللَّهِ اِلاَّ اِلَيْهِ سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ كُلِّهَا نَسْأَلُكَ السَّلاَمَةَ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّبِاللَّهِ الْعَلِىِّ الْعَظِيْمِ وَهُوَحَسْبُنَا الله وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

“Hasbunallahu wani’mal wakiilu ni’mal maulaa wani’man nashiiru Subhanallahi mil-al miizaani wa muntahal ‘ilmi wa mablaghar ridhaa wazinatal ‘arsyi Laa malja-a walaa manja-a minallahi illa ilaihi subhaanallahi ‘adadasy syaf’ir wal witri Wa ‘adada kalimaatillahittaammaati kulliha nas-alukas salaamata birahmatika yaa arhamar raahimina Walaa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhiimi Wa huwa hasbuna wa ni’mal wakiilu ni’mal maulaa wa ni’man nashiiru Wa shallalahu ‘alaa sayyidina muhammadin wa ‘alaa aalihi washahbihii wasallam”
“Cukuplah Allah menjadi sandaran kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung, sebaik-baik kekasih, dan sebaik-baik Penolong. Maha Suci Allah sepenuh timbangan, sesempurna ilmu, sepenuh keridhaan dan timbangan ‘arsy. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari Allah, kecuali hanya kepada-Nya. Maha Suci Allah sebanyak bilangan genap dan ganjil, dan sebanyak kalimat Allah yang sempurna, kami memohon keselamatan dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Paling Penyayang diantara semua yang penyayang. Dan tiada daya upaya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Dan Dialah yang mencukupi kami, sebaik-baik Pelindung, sebaik-baik kekasih, dan sebaik-baik Penolong. Semoga rahmat dan salam Allah tetap tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad, teriring keluarga dan sahabat beliau.”

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

أَللَّـهُمَّ ياَمُفَرِّجَ كُلِّ كَرْبٍ وَياَ مُخْرِجَ ذِى النُّوْنِ يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ وَياَجاَمِعَ شَمْلَ يَعْقُوْبَ يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ ,وَياَغاَفِرَ ذَنْبِ دَاوُدَ يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ وَياَكاَشِفَ ضُرِّ أَيُّوْبَ يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ وَياَساَمِعَ دَعْوَةَ مُوْسَى وَهاَرُوْنَ يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ , وَياَخاَلِقَ رُوْحِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ , وَياَرَحْمَنُ الدُّنْياَ وَالأَخِرَةِ وَأَطِلْ عُمْرِى فىِ طاَعَتِكَ وَمَحَبَّتِكَ وَرِضاَكَ ياَأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَأَحْيِنِى حَياَةً طَيِّبَةً وَتَوَفَّنِى عَلَى الإِسْلاَمِ وَالإِيْماَنِ ياَأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ , وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالحَمْدُ ِللهِ رَبِّ العاَلَمْيَنَ
 
Allaahumma yaa mufarrija kulli karbin, wa yaa mukharrija dzin nuuni yauma ‘aasyuuraa’. wa yaa jaami’a syamli ya’kuuba yauma ‘aasyuraa’. wa yaa ghaafira dzambi daawuuda yauma ‘aasyuraa’. wa yaa kaasyifa dlurri ayyuuba yauma aasyuraa’. wa yaa saami’a da’wati muusa wa haaruuna yauma aasyuraa’. wa yaa rahmaanad dun-yaa wal aakhirata wa athil ‘umrii fii thaa’atika wa mahabbatika wa ridlaaka wa yaa arhamar raahimiin. wa ahyinii hayaatan thayyibatan wa tawaffanii ‘alal islaami wal iimaani yaa arhamar raahimiin. wa shal lallaahu ‘alaa sayyidinaa muhammadiw wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam, wal hamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin.

Ya Allah wahai Yang membebaskan segala kesulitan, wahai Yang melepaskan Nabi Yunus Dzin-Nun di hari ‘Asyura, wahai Yang menyembuhkan derita Nabi Ya’kub di hari ‘Asyura, wahai Yang mengampuni dosa Nabi Daud di hari ‘Asyura, wahai Yang menyembuhkan derita Nabi Ayub di hari ‘Asyura, wahai Yang mendengar do’a Nabi Musa dan Nabi Harun di hari ‘Asyura, wahai Yang menciptakan ruh Nabi Muhammad Saw di hari ‘Asyura, wahai Yang mengasihi dunia dan akhirat panjangkanlah umurku dalam taat ibadah dan cinta kepadaMu, wahai Yang maha Pengasih diantara yang pengasih hidupkan-lah aku dalam kehidupan yang baik, matikanlah aku dalam Islam dan Iman, wahai Yang maha Pengasih diantara yang Pengasih, semoga Allah limpahkan rahmat dan salam atas baginda kita Muhammad juga keluarga beliau dan para sahabat beliau, segala puji bagi Allah Tuhan pengurus sekalian alam.

Penjelasan Amalan Hari 'Asyuro Bukanlah Bid'ah Yang Sesat


Sesungguhnya Hari ‘Asyura (10 Muharram) merupakan hari bersejarah dan diagungkan dalam Islam. Hari ‘Asyura ini bersejarah karena pada hari ini Nabi Musa a.s. dan kaumnya terlepas dari kejaran Fir’aun laknatillah. Karena itu, menjadi tradisi bagi orang-orang Quraisy dan Yahudi pada masa Nabi Muhammad SAW melakukan puasa untuk dan mengenang dan sekaligus bersyukur terlepas dari musuh mereka. Nabi Muhammad SAW yang merupakan nabi terakhir melestarikan tradisi ini dengan melaksanakan puasa pada hari ini dan memerintah ummatnya melakukan hal serupa. Nabi SAW bersabda :

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

”Di zaman Jahiliyah dahulu, orang Quraisy biasa melakukan puasa ’Asyura. Rasulullah SAW juga melakukan puasa tersebut. Tatkala tiba di Madinah, beliau melakukan puasa tersebut dan memerintahkan yang lain untuk melakukannya. Namun tatkala puasa Ramadhan diwajibkan, beliau meninggalkan puasa ’Asyura. (Lalu beliau mengatakan:) Barangsiapa yang mau, silakan berpuasa. Barangsiapa yang mau, silakan meninggalkannya (tidak berpuasa). (H.R. Bukhari)

Dari Ibnu Abbas r.a., beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ ». فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ. فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.

“Ketika tiba di Madinah, Rasulullah SAW mendapati orang-orang Yahudi melakukan puasa ’Asyura. Kemudian Rasulullah SAW bertanya, ”Hari yang kalian bepuasa ini hari apa?” Orang-orang Yahudi tersebut menjawab, ”Ini adalah hari yang sangat mulia. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya. Ketika itu pula Fir’aun dan kaumnya ditenggelamkan. Musa berpuasa pada hari ini dalam rangka bersyukur, maka kami pun mengikuti beliau berpuasa pada hari ini”. Rasulullah SAW lantas berkata,” Kami seharusnya lebih berhak dan lebih utama mengikuti Musa daripada kalian.”. Lalu setelah itu Rasulullah SAW memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.”(H.R. Muslim)

Dua hadits ini menunjukkan bahwa suku Quraisy berpuasa pada hari ‘Asyura di masa Jahiliyah, dan sebelum hijrahpun Nabi SAW telah melakukan puasa pada hari ini.  Kemudian sewaktu tiba di Madinah, beliau temukan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu, maka Nabi-pun berpuasa dan mendorong umatnya untuk berpuasa. Karena ibadah puasa ‘Asyura dilakukan juga oleh Yahudi, maka Rasulullah menganjurkan puasa pada hari kesembilan Muharram (Tasu’a) untuk menyelisih ibadah Yahudi. Ibnu Abbas beliau berkata :

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ:  فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ  قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ، حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

”Rasulullah SAW melaksanakan dan memerintah berpuasa pada Hari ’Asyuraa, ketika itu para sahabat berkata : ”Ya Rasulullah sesungguhnya hari Asyura itu merupakan hari yang dihormati oleh Yahudi dan Nashrani.”  Rasulullah SAW menjawab : ”Apabila datang tahun depan, insya Allah kami berpuasa pada hari kesembilannya. Ibnu Abbas mengatakan : ”Tidak sempat datang tahun depan itu, karena Rasulullah SAW duluan wafat.” (H.R. Muslim)‎

Lalu bagaimana dengan tradisi masyarakat kita yang merayakan 10 Muharram (‘Asyura) dengan berbagai amalan seperti memberikan makanan kepada fakir miskin, mandi, berdoa dan lain-lain, - yaitu amalan amalan yang dianjurkan pada setiap waktu tanpa dikaidkan dengan waktu tertentu - dengan niat bersyukur kepada Allah Ta’ala dan mengenang sejarah terlepas Nabi Musa a.s. dan kaumnya dari kejaran Fir’aun ?  jawabannya selama amalan-amalan itu tidak ada unsur maksiat dan tidak dilarang agama, maka itu menjadi amalan shalihah, karena amalan tersebut termasuk dalam keumuman anjuran bersyukur dan mengambil i’tibar dengan peristiwa-peristiwa masa-masa lalu, apalagi ini merupakan peristiwa sejarah sangat penting dalam perjalanan syari’at Allah Ta’ala. Menurut hemat kami, amalan-amalan yang dianjur pada setiap waktu seperti memberikan makanan kepada fakir miskin, mandi, berdoa dan lain-lain apabila dilakukan pada 10 Muharram, maka dapat diqiyaskan kepada ibadah puasa yang dianjurkan dilakukan pada 10 Muharram dengan jalan kesamaannya (‘illah-nya) sama-sama merupakan amalan dalam rangka mengungkap rasa syukur dan mengenang sejarah terlepas Nabi Musa a.s. dan kaumnya dari kejaran Fir’aun. Sehingga memperingati 10 Muharram ini sama dengan memperingati hari-hari besar Islam lainnya seperti Maulid Nabi SAW, Isra’ Mi’raj, Nuzul Qur’an yang dianjurkan dalam agama meskipun tidak ada contoh secara detil dari Nabi SAW dan para Sahabat. Namun karena ada dalil dan didukung oleh qawaid agama secara umum, maka termasuk dalam katagori bid’ah hasanah.

Tradisi yang biasa mereka lakukan itu memang termasuk salah satu masalah furu'iyah yang di dalamnya terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama yang timbulnya dikarenakan tidak adanya dalil yang sharih atau nash syar’i yang khusus menjelaskan tentang masalah itu. Namun dalam beberapa dalil syar'i, secara umum toh syari'at kita menganjurkan berbuat baik/beramal sholih, baik yang berupa ibadah mahdlah atau ibadah ghairu mahdlah, yang bersifat qauliyah, badaniyah, atau maliyah.

SOAL: Setiap hari Asyura atau tanggal sepuluh Muharram, umat Islam banyak melakukan tradisi Islami yang baik. Apakah hal tersebut ada keterangannya dalam kitab para ulama yang mu’tabar dan diakui?

JAWAB: Ya jelas banyak, antara lain dalam kitab I’anah al-Thalibin karya Sayyid Bakri Syatha al-Dimyathi, dan penjelasan Syaikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Qudus al-Makki, ulama Syafi’iyah terkemuka dan pengajar di Masjid al-Haram, dalam kitabnya Kanz al-Najah wa al-Surur fi al-Ad’iyah al-Ma’tsurah allati Tasyrah al-Shudur, halaman 82, sebagai berikut:

فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ عَشْرٌ تَتَّصِلْ # بِهَا اثْنَتَانِ وَلَهَا فَضْلُ نُقِلْ
صُمْ صَلِّ صِلْ زُرْ عَالِمًا عُدْ وَاكْتَحِلْ # رَأْسَ الْيَتِيْمِ امْسَحْ تَصَدَّقْ وَاغْتَسِلْ
وَسِّعْ عَلىَ الْعِيَالِ قَلِّمْ ظَفَرَا # وَسُوْرَةَ اْلإِخْلاَصِ قُلْ أَلْفًا تَصِلْ

Pada hari Asyura terdapat dua belas amalan yang memiliki keutamaan

1) Puasa
2) Memperbanyak ibadah shalat
3) Shilaturrahmi dengan keluarga dan family
4) Berziarah kepada ulama
5) Menjenguk orang sakit
6) Memakai celak mata
7) Mengusap kepala anak yatim
8) Bersedekat kepada fakir miskin
9) Mandi
10) Membuat menu makanan keluarga yang istimewa
11) Memotong kuku
12) Membaca surah al-Ikhlash 1000 kali.
Dalam kitab Nihayatuz Zain hal. 196 disebutkan :

وَنُقِلَ عَنْ بَعْضِ اْلأَفَاضِلِ أَنَّ اْلأَعْمَالَ فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ اثْنَا عَشَرَ عَمَلاً: الصَّلاَةُ، وَاْلأَوْلَى أَنْ تَكُوْنَ صَلاَةُ التَّسْبِيْحِ، وَالصَّوْمُ، وَالصَّدَقَةُ، وَالتَّوْسِعَةُ عَلَى الْعِيَالِ وَاْلاِغْتِسَالُ، وَزِيَارَةُ الْعَالِمِ الصَّالِحِ، وَعِيَادَةُ الْمَرِيْضِ، وَمَسْحُ رَأْسِ الْيَتِيْمِ، وَاْلاِكْتِحَالُ، وَتَقْلِيْمُ اْلأَظَافِرِ، وَقِرَاءَةُ سُوْرَةِ اْلإِخْلاَصِ أَلْفَ مَرَّةٍ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ.  وَقَدْ وَرَدَتْ اْلأَحَادِيْثُ فِي الصَّوْمِ وَالتَّوْسِعَةِ عَلَى الْعِيَالِ. وَأَمَّا غَيْرُهُمَا فَلَمْ يَرِدْ فِي اْلأَحَادِيْثِ.  وَقَدْ ذَكَرَ إِمَامُ الْمُحَدِّثِيْنَ ابْنُ حَجَرٍ الْعَسْقَلاَنِيِّ فِيْ شَرْحِ الْبُخَارِيْ كَلِمَاتٍ مَنْ قَالَهَا فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ، وَهِيَ: سُبْحَانَ اللهِ مِلْءُ الْمِيْزَانِ .... إِلى أن قال: وَنَقَلَ سَيِّدِيْ عَلِيْ اْلأَجْهُوْرِيْ أَنَّ مَنْ قَالَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ سَبْعِيْنَ مَرَّةً: حَسْبِيَ اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ، كَفَاهُ اللهُ تَعَالَى شَرَّ ذَلِكَ الْعَامِ.

"Diriwayatkan dari sebagian orang-orang yang mempunyai sifat utama bahwa amalan pada hari asyura'/10 Mkuharram itu ada dua belas macam, yakni : shalat, -yang afdlol shalat tasbih- puasa, bersedekah, membuat anggota keluarga merasa gembira, mandi, manziarahi orang alim/orang shalih, menjenguk orang sakit mengusap kepala/menyantuni anak yatim, memakai celak, memotong kuku, membaca surat al-Ikhlash 1.000 x dan silaturrahim. Mengenai anjuran puasa dan membuat gembira kepada anggota keluarga ada hadits yang menerangkannya. Selain dua hal tersebut tidak ada hadits yang menerangkannya. Imam Ibnu Hajar menyebutkan bahwa barang siapa yang membaca kalimat ini pada hari Asyura', maka hatinya tidak mati, yaitu subhanallah mil'al mizan dan seterusnya. Sayyid Al-Ajhuri meriwayatkan bahwa barang siapa yang membaca hasbiyallah wani'mal wakil, ni'mal maula wa ni'man nashir 70 x pada hari Asyura' maka Allah akan menghindarkan orang tersebut dari keburukan dalam tahun ini.

Dalam kitab Asnal Mathalib fi Ahaditsa Mukhtalifatil Maratib juz II hal 586 disebutkan:

(أَحَادِيْثُ فَضْلِ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ) ثَبَتَ مِنْهَا أَحَادِيْثُ الصِّيَامِ، فَفِي الْبُخَارِي وَمُسْلِمٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ تَصُوْمُهُ قُرَيْشٌ فِيْ الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَصُوْمُهُ فِيْ الْجَاهِلِيَّةِ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِيْنَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ عَاشُوْرَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ. وَأَمَّا حَدِيْثُ التَّوْسِعَةِ وَلَفْظُهُ: مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ فِيْ سَنَتِهِ كُلِّهَا، فَفِيْهِ خِلاَفٌ.

"(Beberapa hadits tentang keutamaan hari Asyura') Telah tercatat dalam beberapa hadits antara lain tentang puasa (Asyura'). Dalama kitab shahih Bukhari dan Muslim dari A'isah ra, dia berkata : bahwa kaum Quraisy di zaman Jahiliyah berpuasa pada hari Asyura'. Rasulullah SAW. juga berpuasa pada hari itu. Sewaktu beliau hadir/hijrah ke Madinah masih juga beliau melakukan dan memerintahkan puasa Asyura' tetapi ketika puasa Ramadlan telah diwajibkan, beliau meninggalkannya, barang siapa menghendaki puasa disilahkan berpuasa, dan barang siapa yang menghendaki tidak berpuasa boleh meninggalkannya. Adapun hadits "tausi'ah" yang lafdznya : barang siapa membuat gembira kepada keluarganya pada hari Asyura', maka Allah akan memberikan kelapangan kepadanya sepanjang tahun. Hadits tersebut masih diperselisihkan oleh para ahli hadits tentang keshahihannya.

Dalam kitab I'anatut Thalibin juz II hal. 266 diterangkan :

قَالَ الْعَلاَّمَةُ اْلأَجْهُوْرِيْ: وَلَقَدْ سَأَلْتُ بَعْضَ أَئِمَّةِ الْحَدِيْثِ وَالْفِقْهِ عَنِ الْكُحْلِ، وَطَبْخِ الْحُبُوْبِ، وَلُبْسِ الْجَدِيْدِ، وَإِظْهَارِ السُّرُوْرِ، فَقَالَ: لَمْ يَرِدْ فِيْهِ حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلاَ عَنْ أَحَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ وَلاَ اسْتَحَبَّهُ أَحَدٌ مِنْ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ.

“Imam Ajhuri berkata : sungguh saya telah menanyakan kepada sebagian dari para imam ahli hadits dan ahli fiqih tentang memakai celak, menanak biji-bijian, memakai pakaian yang serba baru dan memperlihatkan kegembiraan, beliau menjawab : mengenai hal itu tidak ada riwayat hadits yang shahih dari Nabi atau salah seorang sahabat dan tidak ada salah seorang pun dari para pemimpin Islam yang menganjurkannya”.

Walaupun demikian, karena sudah menjadi tradisi, maka hal tersebut bisa saja dilestarikan (jangan ditinggalkan), namun dengan catatan : bagi yang melakukannya jangan mempunyai i'tikad/anggapan bahwa yang dilakukan itu merupakan anjuran khusus dari Rasulullah SAW. kecuali beberapa amalan yang memang sudah dinash dalam hadits nabi. Ketentuan ini sesuai dengan keterangan dalam kitab mafahim yang ditulis oleh Sayyid Muhammad Alawi, hal. 314 :

جَرَتْ عَادَاتُنَا أَنْ نَجْتَمِعَ لإِحْيَاءِ جُمْلَةٍ مِنَ الْمُنَاسَبَاتِ التَّارِيْخِيَّةِ كَالْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ، وَذِكْرَى اْلإِسْرَاءِ وَالْمِعْرَاجِ، وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَالْهِجْرَةِ النَّبَوِيَّةِ، وَذِكْرَى نُزُوْلِ الْقُرْآنِ وَذِكْرَى غَزْوَةِ بَدْرٍ. وَفِي اعْتِبَارِنَا أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ عَادِيٌّ لاَ صِلَةَ لَهُ بِالدِّيْنِ، فَلاَ يُوْصَفُ بِأَنَّهُ مَشْرُوْعٌ أَوْ سُنَّةٌ كَمَا أَنَّهُ لَيْسَ مُعَارِضًا لأَصْلٍ مِنْ أُصُوْلِ الدِّيْنِ، لأَنَّ الْخَطَرَ هُوَ فْي اعْتِقَادِ مَشْرُوْعِيَّةِ شَيْءٍ لَيْسَ بِمَشْرُوْعٍ.

"Kita mempunyai tradisi yang sudah berlaku yaitu kita berkumpul untuk perayaan sejumlah hari-hari yang bernilai sejarah, seperti kelahiran nabi, peringatan Isra' Mi'raj, malam NishfuSya'ban, peringatan hijrahnya nabi, malam nuzulul qur'an dan peringatan perang badar. Menurut anggapan kita, perkara semacam itu merupakan suatu tradisi semata tidak ada sangkut pautnya dengan syari'at agama, maka tidak bisa dikatakan bahwa hal tersebut disyari'atkan atau disunnatkan. Namun amalan tadi sama sekali tidak bertentangan dnegan prinsip-prinsip agama. Karena yang menjadi kekhawatiran itu hanya lah timbulnya anggapan adanya anjuran syari’at terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak disyari’atkan.

SOAL: Maaf, itu kan keterangan dari ulama muta’akhkhirin, bukan ulama ahli hadits terdahulu. Kami ingin keterangan dari ulama ahli hadits masa lalu? Karena kami khawatir itu justrru tradisi Syiah, bukan Ahlussunnah Wal-Jama’ah.

JAWAB: Justru menurut ulama ahli hadits terdahulu, tradisi Asyura lebih banyak dari pada keterangan di atas. Misalnya seperti yang telah dijelaskan oleh al-Imam al-Hafizh Ibnu al-Jauzi al-Hanbali, (508-597 H/1114-1201 M), seorang ulama ahli hadits terkemuka bermadzhab Hanbali, yang menjelaskan dalam kitabnya al-Majalis sebagai berikut:

فَوَائِدُ فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ
اَلْفَائِدَةُ اْلأُوْلَى: يَنْبَغِيْ أَنْ تَغْسِلَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، وَقَدْ ذُكِرَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى يَخْرِقُ فِيْ تِلْكَ اللَّيْلَةِ زَمْزَمَ إِلىَ سَائِرِ الْمِيَاهِ، فَمَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَئِذٍ أَمِنَ مِنَ الْمَرَضِ فِيْ جَمِيْعِ السَّنَةِ، وَهَذَا لَيْسَ بِحَدِيْثٍ، بَلْ يُرْوَى عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ. اْلفَائِدَةُ الثَّانِيَةُ: الصَّدَقَةُ عَلىَ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِيْنِ. اْلفَائِدَةُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَمْسَحَ رَأْسَ الْيَتِيْمِ. اَلْفَائِدَةُ الرَّابِعَةُ أَنْ يُفَطِّرَ صَائِمَا. اَلْفَائِدَةُ الْخَامِسَةُ أَنْ يُسْقِيَ الْمَاءَ. اَلْفَائِدَةُ السَّادِسَةُ أَنْ يَزُوْرَ اْلإِخْوَانَ. اَلْفَائِدَةُ السَّابِعَةُ: أَنْ يَعُوْدَ الْمَرِيْضَ. اَلْفَائِدَةُ الثَّامِنَةُ أَنْ يُكْرِمَ وَالِدَيْهِ وَيَبُرَّهُمَا. الْفَائِدَةُ التَّاسِعَةُ أَنْ يَكْظِمَ غَيْظَهُ. اَلْفَائِدَةُ الْعَاشِرَةُ أَنْ يَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَهُ. اَلْفَائِدَةُ الْحَادِيَةَ عَشَرَةَ: أَنْ يُكْثِرَ فِيْهِ مِنَ الصَّلاَةِ وَالدُّعَاءِ وَاْلاِسْتِغْفَارِ. اَلْفَائِدَةُ الثَّانِيَةَ عَشَرَةَ أَنْ يُكْثِرَ فِيْهِ مِنْ ذِكْرِ اللهِ. اَلْفَائِدَةُ الثَّالِثَةَ عَشَرَةَ أَنْ يُمِيْطَ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ. اَلْفَائِدَةُ الرَّابِعَةَ عَشَرَةَ أَنْ يُصَافِحَ إِخْوَانَهُ إِذَا لَقِيَهُمْ. اَلْفَائِدَةُ الْخَامِسَةَ عَشَرَةَ: أَنْ يُكْثِرَ فِيْهِ مِنْ قِرَاءَةِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ لِمَا رُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: مَنْ قَرَأَ فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ أَلْفَ مَرَّةٍ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ نَظَرَ اللهُ إِلَيْهِ وَمَنْ نَظَرَ إِلَيْهِ لَمْ يُعَذِّبْهُ أَبَدًا.

Beberapa faedah amalan shaleh pada hari Asyura

1) Mandi pada hari Asyura. Telah disebutkan bahwa Allah SWT membedah komunikasi air Zamzam dengan seluruh air pada malam Asyura’. Karena itu, siapa yang mandi pada hari tersebut, maka akan aman dari penyakir selama setahun. Ini bukan hadits, akan tetapi diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
2) Bersedekah kepada fakir miskin.
3) Mengusap kepala anak yatim.
4) Memberi buka orang yang berpuasa.
5) Memberi minuman kepada orang lain.
6) Mengunjungi saudara seagama.
7) Menjenguk orang sakit.
8) Memuliakan dan berbakti kepada kedua orang tua.
9) Menahan amarah dan emosi.
10) Memaafkan orang yang telah berbuat aniaya.
11) Memperbanyak ibadah shalat, doa dan istighfar.
12) Memperbanyak dzikir kepada Allah.
13) Menyingkirkan apa saja yang mengganggu orang di jalan.
14) Berjabatan tangan dengan orang yang dijumpainya.
15) Memperbanyak membaca surat al-Ikhlash sampai seribu kali. Karena atsar yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, barangsiapa yang membaca 1000 kali surah al-Ikhlash pada hada hari Asyura, maka Allah akan memandang-Nya. Siapa yang dipandang oleh Allah, maka Dia tidak akan mengazabnya selamanya. (Al-Hafizh Ibnu al-Jauzi al-Hanbali, kitab al-Majalis halaman 73-74, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah).

Jadi tradisi-tradisi tersebut bukan tradisi Syiah. Tetapi murni Islami dan Ahlussunnah Wal-Jama’ah dan ahli hadits.

SOAL: Sebagian masyarakat Nusantara berbagi-bagi bubur pada hari Asyura. Apakah hal tersebut ada dalilnya?

JAWAB: Ya, berbagi bubur kepada tetangga itu kan bagian dari sedekah. Jelas ada dalilnya. Berkaitan dengan tradisi membuat makanan Bubur Syuro pada hari Asyura ini, ada hadits shahih yang mendasarinya.‎
 
عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ فِيْ سَنَتِهِ كُلِّهَا. حديث صحيح (رواه الطبرانى، والبيهقى).

“Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menjadikan kaya keluarganya (dalam hal belanja dan makanan) pada hari Asyura, maka Allah akan menjadikannya kaya selama satu tahun tersebut.” Hadits shahih. (HR. al-Thabarani dan al-Baihaqi).

Status hadits ini dikuatkan oleh banyak ulama seperti dari Mufti Universitas Al Azhar Mesir yang mengutip dari al Hafidz as Suyuthi:

وَقَالَ الْبَيْهَقِى إِنَّ أَسَانِيْدَهُ كُلَّهَا ضَعِيْفَةٌ ، وَلَكِنْ إِذَا ضُمَّ بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ أَفَادَ قُوَّةً ، قَالَ الْعِرَاقِى فِى أَمَالِيْهِ : لِحَدِيْثِ أَبِى هُرَيْرَةَ طُرُقٌ صَحَّحَ بَعْضَهَا ابْنُ نَاصِرٍ الْحَافِظُ ، وَأَوْرَدَهُ ابْنُ الْجَوْزِى فِى الْمَوْضُوْعَاتِ . وَذَلِكَ لأَنَّ سُلَيْمَانَ بْنَ أَبِى عَبْدِ اللهِ الرَّاوِى عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ مَجْهُوْلٌ ، لَكِنْ جَزَمَ الْحَافِظُ فِى تَقْرِيْبِهِ بِأَنَّهُ مَقْبُوْلٌ ، وَذَكَرَهُ ابْنُ حِبَّانَ فِى الثِّقَاتِ وَاْلحَدِيْثُ حَسَنٌ عَلَى رَأْيِهِ . قَالَ الْعِرَاقِى : وَلَهُ طُرُقٌ عَنْ جَابِرٍ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ أَخْرَجَهَا ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ فِى “اْلاِسْتِيْعَابِ ” وَهِىَ أَصَحُّ طُرُقِهِ . (فتاوى الأزهر –ج 9 / ص 256)

”Al Baihaqi berkata: Sanad hadis ini secara keseluruhan adalah dlaif. Namun jika diakumulasikan maka menjadi kuat. Al ‘Iraqi berkata dalam al Amali: Hadis Abu Hurairah memiliki banyak jalur riwayat yang sebagiannya disahihkan oleh al Hafidz Ibnu Nashir. Dan Ibnu al Jauzi memasukkan dalam kitab al-Maudlu’at. Sebab Sulaiman bin Abi Abdillah seorang perawi dari Abu Hurairah adalah majhul. Namun al-Hafidz Ibnu Hajar secara tegas menyatakan dalam kitab Taqribnya bahwa ia perawi yang diterima. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Maka hadis ini adalah hasan menurutnya. Al ‘Iraqi berkata: Hadis ini memiliki riwayat lain dari Jabir sesuai syarat Muslim yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam al-Isti’ab. Dan ini adalah riwayat yang paling sahih”

Al Hafidz Ibnu Hajar menambahkan riwayat berikut sebagai lanjutan hadits di atas:

قَالَ جَابِرٌ جَرَّبْنَاهُ فَوَجَدْنَاهُ كَذَلِكَ وَقَالَ أبُوْ الزُّبَيْرِ: مِثْلَهُ وَقَالَ شُعْبَةٌ: مِثْلَهُ وَشُيُوْخُ ابْنِ عَبْدِ الْبَرِّ الثَّلاَثَةِ مُوَثَّقُوْنَ وَشَيْخُهُمْ مُحَمَّدُ بْنُ مُعَاوِيَةَ هُوَ ابْنُ اْلأَحْمَرِ رَاوِي السُّنَنِ عَنِ النَّسَائِي وَثَّقَهُ ابْنُ حَزْمٍ وَغَيْرُهُ (لسان الميزان – ج 2 / ص 293)

”Jabir berkata: Kami mencobanya maka kami menemukannya seperti itu (diluaskan rezekinya). Abu Zubair dan Syu’bah berkata demikian. Guru-guru Ibnu Abdil Barr yang tiga dinilai terpercaya. Guru mereka Muhammad bin Muawiyah adalah Ibnu al-Ahmar perawi sunan dari Nasai, yang dinilai tsiqah oleh Ibnu Hazm dan lainnya” (Lisan al-Mizan 2/293)

Berkaitan dengan hadits tersebut, al-Imam al-Hafizh Ahmad al-Ghumari menulis kitab khusus tentang keshahihannya berjudul, Hidayah al-Shaghra’ bi-Tashhih Hadits al-Tausi’ah ‘ala al-‘Iyal Yauma ‘Asyura’. Bahkan al-Imam al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali, murid Syaikh Ibnu Taimiyah, berkata dalam kitabnya Lathaif al-Ma’arif, sebagai berikut:

وَقَالَ ابْنُ مَنْصُوْرٍ: قُلْتُ لأَحْمَدَ: هَلْ سَمِعْتَ فِي الْحَدِيْثِ: ( مَنْ وَسَّعَ عَلىَ أَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ أَوْسَعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرَ السَّنَةِ) فَقَالَ: نَعَمْ رَوَاهُ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ جَعْفَرٍ اْلأَحْمَرِ عَنْ إِبْرَاهِيْمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنِ الْمُنْتَشِرِ وَ كَانَ مِنْ أَفْضَلِ أَهْلِ زَمَانِهِ أَنَّهُ بَلَغَهُ: أَنَّهُ مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ أَوْسَعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ فقَالَ ابْنُ عُيَيْنَةَ: جَرَّبْنَاهُ مُنْذُ خَمْسِيْنَ سَنَةً أَوْ سِتِّيْنَ سَنَةً فَمَا رَأَيْنَا إِلاَّ خَيْرًا. (الإمام الحافظ ابن رجب الحنبلي، لطائف المعارف، ص ١٣٧-١٣٨).

“Ibn Manshur berkata, “Aku berkata kepada Imam Ahmad, “Apakah Anda mendengar hadits, “Barangsiapa yang menjadikan kaya keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan menjadikannya kaya selama setahun?” Ahmad menjawab, “Ya. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Sufyan bin Uyainah dari Ja’far al-Ahmar, dari Ibrahim bin Muhammad, dari al-Muntasyir –orang terbaik pada masanya-, bahwa ia menerima hadits, “Barangsiapa yang menjadikan kaya keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan menjadikannya kaya selama satu tahun penuh”. Sufyan bin Uyainah berkata, “Aku telah melakukannya sejak 50 atau 60 tahun, dan selalu terbukti baik.” (al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma’arif, hal. 137-138).

Mengapa sebagian ulama Syafi’iyah menganjurkan 10 amal di atas dilakukan pada 10 Muharram? Sebab para sahabat sudah melakukan amal-amal saleh di bulan-bulan mulia, dan 10 Muharram termasuk di dalamnya:

وَذَكَرْنَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ الْعَمَلَ الصَّالِحَ وَاْلأَجْرَ فِي هَذِهِ الْحُرُمِ أَعْظَمُ … وَقَدْ كَانَ كَثِيْرٌ مِنَ السَّلَفِ يَصُوْمُ اْلأَشْهُرَ الْحُرُمَ كُلَّهَا رُوِيَ ذَلِكَ عَنِ ابْنِ عُمَرَ وَالْحَسَنَ الْبَصْرِي وَأَبِي إِسْحَاقَ السَّبِيْعِي وَقَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِي : اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ يُصَامَ مِنْهَا (لطائف المعارف –ج 1 / ص 279)

“Telah kami sebutkan dari Abdullah bin ‘Abbas bahwa amal shaleh dan pahala di bulan-bulan mulia ini sangatlah agung. Dan sungguh banyak ulama Salaf berpuasa di bulan-bulan mulia tersebut, kesemuanya, yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, Hasan Al Bashri, dan Abu Ishaq As Sabii. Sufyan Ats Tsauri berkata: Bulan-bulan mulia lebih saya senangi untuk melakukan puasa darinya” (al-Hafidz Ibnu Rajab, Lathaif al-Ma’arif, 1/279).

Perhatikan, ternyata tradisi sedekah Asyura telah berlangsung sejak generasi salaf.

SOAL: Berarti kelompok yang enggan melakukan tradisi Asyura dan bahkan hanya bisa mencela dan membid’ahkan tidak punya dasar ya?

JAWAB: Ya jelas tidak punya dasar.

SOAL: Apa sih gunanya mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura?

JAWAB: Pertanyaan Anda dijelaskan dalam hadits berikut ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلاً شَكَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَسْوَةَ قَلْبِهِ فَقَالَ امْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ وَأَطْعِمْ الْمِسْكِينَ. رواه أحمد. قال الحافظ الدمياطي ورجاله رجال الصحيح.

Dari Abu Hurairah, bahwa seorang laki-laki mengeluhkan hatinya yang keras kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu beliau bersabda: “Usaplah kepala anak yatim, dan berilah makan orang miskin.” (HR. Ahmad [9018]. Al-Hafizh al-Dimyathi berkata: “Para perawinya adalah para perasi hadits shahih.” Lihat, al-Hafizh al-Dimyathi, al-Matjar al-Rabih fi Tsawab al-‘Amal al-Shalih, hlm 259 [1507]).

Perhatikan, dalam hadits di atas, mengusap kepala anak yatim dan bersedekah makanan kepada kaum miskin termasuk kita yang jitu yang mengatasi hati yang keras. Kita perhatikan, orang yang tidak suka mengusap kepala anak yatim, dan membid’ahkan orang yang gemar selamatan, hatinya selalu keras, meskipun ribuan dalil disampaikan, masih saja hatinya menolak kebenaran. 

Saudaraku yang kumuliakan, marilah kita berdoa, semoga Allah SWT berkenan menolong kita untuk bisa memuliakan segala hal yang dimuliakan-Nya, seperti empat bulan yang mulia ini. Harapan kita semua, semoga Allah SWT meridloi dan menerima semua amal ibadah kita, dan mengampuni semua kesalahan dan dosa kita. Semoga Allah SWT berkenan meninggikan derajat kita di sisi-Nya, dan menempatkan kita kelak bersama Rasulullah SAW di surga-Nya.
Hadaanallaahu waiyyaakum. Amin.
“Wahai para ulama’ yang fanatik terhadap madzhab-madzhab atau terhadap suatu pendapat, tinggalkanlah kefanatikanmu terhadap perkara-perkara furu’, dimana para ulama telah memiliki dua pendapat yaitu; setiap mujtahid itu benar dan pendapat satunya mengatakan mujtahid yang benar itu satu akan tetapi pendapat yang salah itu tetap diberi pahala. 
Tinggalkanlah fanatisme dan hindarilah jurang yang merusakkan ini (fanatisme). Belalah agama Islam, berusahalah memerangi orang yang menghinal al-Qur’an, menghina sifat Allah dan perangi orang yang mengaku-ngaku ikut ilmu batil dan akidah yang rusak. Jihad dalam usaha memerangi (pemikiran-pemikiran) tersebut adalah wajib” ‎

Doa Nabi Sulaiman Menundukkan Hewan dan Jin

  Nabiyullah Sulaiman  'alaihissalam  (AS) merupakan Nabi dan Rasul pilihan Allah Ta'ala yang dikaruniai kerajaan yang tidak dimilik...