Rabu, 20 Oktober 2021

Menyikapi Terjadinya Perpecahan Umat


‎Perpecahan di dalam tubuh umat Islam adalah sesuatu yang tidak terhindarkan, tetapi yang perlu diingat adalah, orang sering kali tidak tahu sebab-sebab terjadinya perpecahan. Di kalangan umat Islam sekarang ini terkadang terjadi perpecahan dalam hal-hal yang sebenarnya tidak boleh terjadi. Kita sering berpendapat, bahwa menghidari perpecahan dan membendung bahayanya sebelum hal itu terjadi jauh lebih baik daripada pengobatan setelah terjadi. Memang pendapat ini merupakan ijma’ yang disepakati. Namun sebaiknya kita mengerti bahwa menjaga dari perpecahan caranya adalah dengan jalan menghindari penyebabnya. Ada beberapa masalah lain yang bisa menjadi faktor terhindarnya perpecahan, yaitu dalam bentuk umum maupun khusus. Sebab-sebab umunya adalah: Berpegang  teguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw.
              
Dengan memahami petunjuk Nabi saw dan berpegang teguh kepadanya, insya Allah akan mendapat petunjuk dan mengetahui agamanya. Oleh karena itu akan terjauhkan dari perpecahan dan pertentangan yang menuju pada perpecahan atau terjerumus ke dalamnya tanpa disadari. Sementara sebab khusus yang dapat menjaga dari perpecahan adalah megikuti jalan Salafush Shalih,yaitu sahabat, tabi’in, dan imam agama dari kalangan Ahlu Sunnah wal Jama’ah.

Perpecahan politik dan aliran pemikiran antara kaum muslimin terjadi karena perbedaan tentang masalah khilafah, hal ini dimulai setelah wafatnya Ali Bin Abi Thalib yang telah mengakibatkan barisan kaum muslimin terpecah menjadi tiga kelompok:
1.      Syiah, yaitu orang yang sangat fanatik dengan Ali bin Abi Thalib. Mereka menganggap khilafah hanya untuk Ali dan keturunannya sehingga urusan khilafah menurut mereka sama dengan warisan dari Nabi saw dan bukan dengan cara baiat.
2.      Khawarij, yaitu orang yang kecewa dengan adanya proses tahkim (perdamaian)pada zaman khalifah Muawiyah lalu mereka mengkafirkan Ali dan Muawiyah, dan mayoritas mereka berpendapat wajib melantik seorang khalifah taat agama, adil mutlak, tegas dan keras, dan tidak harus dari suku Quraisy atau keturunan Arab.
3.      Jumhur kaum muslimin (Ahlu Sunnah wal jama’ah), yaitu kaum moderat yang memiliki sifat adil dan tidak radikal. Mereka berpendapat bahwa khalifah harus dari suku Quraisy, namun mereka dipilih oleh kaum muslimin dengan cara bai’at. Perbedaan politik ini telah memberikan pengaruh yan besar terhadap perjalanan aliran fiqh yang berkembang pada zaman berikutnya.
            
Adanya perpecahan dalam tubuh umat Islam (dan juga umat-umat yang lainnya) telah dinashkan melalui Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahiihah. 

Allah berfirman :

وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا وَلَوْلا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ فِيمَا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

"Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu." [QS. Yunus : 19].

Ini merupakan iradah kauniyyah dari Allah ta'ala. Namun Allah tidak menghendaki adanya perselisihan itu. Allah mencintai agar hamba-hamba-Nya selalu bersatu. Dan inilah yang disebut inilah yang disebut iradah syar'iyyah dari Allah ta'ala. Allah berfirman :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا 

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai" [QS. Ali 'Imran : 103].

Pembincangan mengenai perpecahan umat itu juga bermula dari hadis Nabi Muhammad saw tentang terjadinya perpecahan di tengah umat ini, di antaranya adalah hadis iftiraq:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً ، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً ، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً.
Artiya: Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah saw telah bersabda: Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.
           
Hadits ini diriwayatkan oleh :

Abu Dawud : Kitabus-Sunnah, 1-babSyarhus-Sunnah 4:197-198, nomor hadits 4596. Dan hadits di atas adalah lafadh Abu Dawud.

At-Tirmidzi : Kitaabul-Iman, 18 babMaa Jaa-a fii Iftiraaqi Hadzihil-Ummah, nomor 2778 dan ia berkata : Hadits ini hasan shahih (lihat Tuhfatul-Ahwadzi VII : 397-398).

Ibnu Majah : 36-Kitaabul-Fitan, 17-babIfitiraaqil-Umam, nomor 3991.

Imam Ahmad dalam Musnad-nya 2 : 332 tanpa menyebut kata ”Nashara”.

Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak: Kitaabul-Iman 1:6 dan ia berkata : Hadits ini banyak sanadnya dan berbicara masalah pokok agama.

Ibnu Hibban dalam kitab Mawaaridudh-Dham’an : 31-Kitaabul-Fitan, 4-babIftiraaqil-Umam, halaman 454 nomor 1834.

Abu Ya’la Al-Mushiliy dalam kitabnyaAl-Musnad : Musnad Abi Hurairah.

Ibnu Abi ’Ashim dalam kitab As-Sunnah, bab 19-bab Fii Maa Akhbara bihin-Nabiy anna Ummatahu Sataftariqu, juz 1 hal. 33 nomor 66.

Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanatul-Kubraa : bab Dzikri fii Iftiraaqil-Ummah fii Diinihaa wa ’alaa Kam Taftaraqu Ummah ?, juz 1 hal. 228 nomor 252.

Al-Aajurriy dalam kitabnya Asy-Syari’ah, bab Dzikri Iftiraaqil-Umam halaman 15.

Semua ahli hadits tersebut di atas meriwayatkan dari jalan Muhammad bin ’Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam.

Hadits ini derajatnya hasan, karena ada Muhammad bin ‘Amr, tetapi hadits ini menjadi shahih karena banyak syawahid-nya.

At-Tirmidzi berkata : Hadits ini hasan shahih.

Al-Hakim berkata : Hadits ini shahih menurut syarat Muslim dan keduanya (yakni Bukhari dan Muslim) tidak mengeluarkannya, dan Imam Adz-Dzahabi menyetujuinya. (Al-Mustadrak Al-Hakim : Kitaabul-‘Ilmi juz I hal. 128).

Ibnu Hibban dan Asy-Syathibi dalam Al-I’tisham 2:189 menshahihkan hadits ini.

عَنْ أَبِيْ عَامِرٍ الْهُوزَنِيْ عَنْ مُعَاوِيَّةَ بْنِ أَبِيْ سُفْيَانَ أَنَّهُ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ أًلا إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ : أَلا إِنَّ مِنْ قَبْلِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوْا عَلٰى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً، وَإِنْ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلٰى ثَلاثٍِ وَسَبْعِيْنَ اثْنَتَانِ وَسَبْعِوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

Artinya : Dari Abu ‘Aamir Al-Huzaniy, dari Mu’awiyyah bin Abi Sufyan bahwasannya ia (Mu’awiyyah) pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia berkata : Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bediri di hadapan kami, kemudian beliau bersabda : “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan. (Adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk neraka dan satu golongan akan masuk surga, yaitu ”Al-Jama’ah”.
Hadits ini diriwayatkan oleh :

Abu Dawud : Kitaabus-Sunnah, bab ‎Syarhus-Sunnah 4:198 nomor 4597. Dan hadits di atas adalah lafadh Abu Dawud.

Ad-Darimi 2:241 bab Fii Iftiraaqi Hadzihil-Ummah.

Imam Ahmad dalam Musnad-nya 4:102.

Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 1:128.

Al-Aajurriy dalam kitab Asy-Syari’ahhal. 18.

Ibnu Abi ’Ashim dalam kitab As-Sunnah1:7 nomor 1 dan 2.

Ibnu Baththah dalam kitab Al-Ibaanatul-Kubraa 1:221, 223 nomor 245 dan 247.

Al-Laalikai dalam kitab Syarhu Ushuulil-I’tiqaad Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah 1:101-102 nomor 150, tahqiq Dr. Ahmad Sa’ad Hamdari.

Al-Ashbahaaniy dalam kitab Al-Hujjah fii Bayaanil-Mahajjah fasal Fii Dzikri Ahwaa’ Al-Madzmuumah, Al-Qismul-Awwal hal. 177 nomor 107.

Semua ahli hadits tersebut di atas meriwayatkan dari jalan :
Shafwan bin ‘Amr, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Azhar bin ’Abdillah Al-Haraazi, dari Abu ’Amir ’Abdullah bin Luhai, dari Mu’awiyyah.

Hadis megenai perpecahan umat tersebut merupakan hadis yang populer dan masyhur karena banyak yang meriwayatkan, namun yang menarik dari hadis di atas adalah karena hadis tersebut tidak diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab shohihainnya. Di dalam hadis tersebut juga terdapat masalah, yaitu masalah penilaian perpecahan umat menjadi lebih banyak dari perpecahan Yahudi dan Nasrani dari satu segi, dan bahwa firqah-firqah ini seluruhnya binasa dan masuk neraka kecuali hanya satu saja. Ini akan membuka pintu bagi klaim-klaim setiap firqh bahwa dialah firqah yang benar, sementara yang lain binasa. Hal ini tentunya akan memecah belah umat, mendorong mereka untuk saling cela satu sama lain, sehinnga akan melemahkan umat secara keseluruhan dan memperkuat musuhnya. Oleh karena itu, Ibnu Waziir mencurigai hadits ini secara umum terutama pada tambahannya itu. Karena, hal itu akan membuat kepada penyesatan umat satu sama lain, bahkan membuat mereka saling mengkafirkan.‎
            
Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian untuk memahami secara mendalam terhadap hadis tersebut sangat diperlukan untuk menghindari kesalah pahaman di antara umat Islam. Salah satu sebab perbedaan pendapat yang akhirnya berujung kepada perpecahan itu adalah karena tidak mampu memahami permasalahan secara menyeluruh, yang satu memahaminya melalui satu sisi dan yang lain melalui sisi yang lain pula, demikian juga orang yang ketiga memahaminya dari sisi selain yang dipahami oleh orang pertama dan kedua.
            
Ahli hikmah mengatakan: “Sesungguhnya kebenaran tidak akan dicapai oleh manusia dalam semua aspeknya dan mereka juga tidak akan salam dalam segala bentuknya, tetapi sebagian mereka mencapai sebagian kebenaran dan yang lain mencapai aspek kebenaran yang lain.”Mereka mengumpamakan hal itu dengan sekelompok orang buta yang memegang seekor gajah besar. Setiap orang akan mensifatinya (gajah) seperti bagian yang dipegang dan terlintas dalam fikiran masing-masing. Bagi orang yang memegang kaki gajah ia akan mengatakan bahwa gajah adalah hewan yang bentuknya seperti pohon kurma yang tinggi dan bulat. Dan orang yang memegang punggung gajah mengatakan bahwa gajah itu bentuknya seperti bukit yang tinggi atau tanah yang menggunung. Begitulah masing-masing memberikan ciri-ciri gajah dengan apa yang mereka sentuh. Dalam satu segi ia benar, tapi jika ia mengklaim yang lain berbohong dan tidak benar, maka ia telah melakukan kesalahan.
              
Sesungguhnya berbeda dengan orang lain bukanlah suatu kesalahan, apalagi kejahatan, namun sebaliknya sangat diperlukan. Tentunya, berbeda dengan pengertian ini bukan asal berbeda atau (waton sulaya). Perbedaan harus dipandang sebagai suatu realitas sosial yang fundamental, yang harus dihargai dan dijamin pertumbuhannya oleh masyarakat itu sendiri. ‎Kaitannya dengan penjelasan ini, al-Qur’an surah al-Hujurat ayat 13 menegaskan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْد اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ.
Artinya: Hai sekalian manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan kami jadikan kau berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah yang lebih taqwa di antara kamu.

Ayat al-Qur’an ini sesungguhnya mengajarkan kepada manusia untuk saling mengerti dan memahami. Itu artinya, karena Allah swt sengaja menciptakan perbedaan di antara umat manusia, maka manusia diperintahkan untuk saling menjaga situasi fisik dan batin sesamanya agar tak terlukai dan melukai satu sama lain oleh sebab perbedaan yang ada. Pada akhirnya, tinggi rendahnya manusia dihadapan Tuhan tidak ditentukan oleh fakta perbedaan yang melekat pada dirinya, tetapi oleh kadar ketaqwaannya. Itulah sesungguhnya prestasi gemilang manusia di hadapan sesama dan Tuhannya. Kata iman dan taqwa merupakan suatu prestasi tersendiri bagi manusia. Seakan Tuhan berkata, “Hai manusia, kalian semua sama di hadapanku, kecuali prestasimu”. Prestasi di sini adalah prestasi sosial dan prestasi spiritual di hadapannya.
            
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa sumber ajaran Islam adalah al-Qur’an dan hadis. Keduanya memiliki peranan yang penting dalam kehidupan umat Islam. Walaupun terdapat perbedaan pendapat dari segi penafsiran dan aplikasi, namun setidaknya ulama sepakat bahwa keduanya dijadikan rujukan. Ajaran Islam mengambil dan menjadikan pedoman utamanya dari keduanya. Oleh karena itu, kajian- kajian terhadapnya tak akan pernah keruh bahkan terus berjalan dan berkembang seiring dengan kebutuhan umat islam. Melalui terobosan-terobosan baru, kajian ini akan terus mewarnai khasanah perkembangan studi keislaman dalam pentas sejarah umat Islam.
            
Dalam sejarah dan bahkan saat ini, ada sekelompok kecil orang-orang yang mengaku diri mereka sebagai orang Islam, tetapi mereka menolak hadis atau sunnah Nabi saw. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang berfaham inkarus-sunnah. Cukup banyak alasan mereka menolak hadis Nabi saw sebagai sumber ajaran Islam. Dengan meyakini bahwa hadis Nabi merupakan bagian dari sumber  ajaran Islam, maka penelitian hadis khususnya hadis ahad sangat penting. Penelitian itu dilakukan untuk menghindarkan diri dari pemakaian dalil-dalil hadis yang tidak dapat dipertanggung jawabkan sebagai sesuatu yang berasal dari Rasulullah saw. Sekiranya hadis Nabi hanya berstatus sebagai data sejarah belaka, niscaya penelitian hadis tidaklah begitu penting. Hal ini tampak jelas pada sikap ulama ahli kritik hadis dalam berbagai kitab sejarah yang termuat dalam kitab-kitab sejarah (siratun-Nabi). Kritik yang diajukan ulama hadis terhadap apa yang termuat dalam berbagai kitab-kitab sejarah tidaklah seketat kritik yang mereka ajukan kepada berbagai hadis yang termuat dala kitab-kitab hadis, khususnya yang berkaitan erat dengan pokok-pokok ajaran Islam.
            
Agak sulit kita bayangkan, jika tanpa “campur tangan: Hadis, al-Qur’an, khususnya yang berkaitan dengan masalah-masalah hukum dapat dipahami dan diaktualisasikan dalam amaliah praktis kaum muslimin. Karena itulah Hadis mejadi sumber utama bagi kaum Muslimin setelah al-Qur’an, sebagai juklak hukum dan ajaran-ajaran yang terdapat dalam al-Qur’an. Oleh Karena itu pula kiranya perhatian yang diberikan umat Islam begitu besar terhadap hadis sejalan dengan perhatian mereka terhadap al-Qur’an.
            
Perbedaan dan perpecahan tentu tidak bisa kita hindari  karena berbagai sebab, akan tetapi jangan sampai perbedaan tersebut memicu untuk saling merendahkan satu sama lain dan hanya menganggap kelompoknya yang paling benar dan menyalahkan kelompok lain atau bahkan mengkafirkannya. Oleh karena itu, sangat diperlukan perhatian kita mengenai hal ini untuk mengetahui bagaimana solusinya dan salah satu solusinya adalah dengan meneliti hadits tentang perpecahan ummat Islam menjadi 73 golongan mulai dari sanad, matan, dan pendapat ulama mengenai hadis tersebut. Dari penelitian hadis tersebut, maka kita akan mengetahui kehujjahan hadis terpecahnya umat Rasulullah menjadi 73 golongan dan tidak memahaminya secara parsial atau setengah-setengah.

Sebagian orang ada yang beranggapan bahwa yang dimaksud ummatiy (ummatku) atau haadzihi-l-ummah (ummat ini) adalah seluruh manusia sejak kerasulan Nabi Muhammad saw hingga hari kiamat, dengan asumsi bahwa Beliau adalah Nabi dan Rasul untuk seluruh umat manusia. Sehingga 70 sekian kelompok yang masuk neraka adalah umat-umat non muslim yang tidak menerima risalah beliau, sedangkan satu kelompok yang selamat adalah umat Islam. Penafsiran ini kurang tepat dari beberapa aspek:

a. Dalam hadits-hadits tersebut Rasulullah saw kadang kala menggunakan lafazh ummatiy(ummatku) dan kadang kala menggunakan lafazh ‎haadzihi-l-ummah (ummat ini). Yaitu lafazh yang lazim Beliau gunakan untuk menyebut umat Islam, sebagaimana pada riwayat-riwayat berikut.

عن أبي هريرة قال إني سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول : إن أمتي يدعون يوم القيامة غرا محجلين من آثار الوضوء فمن استطاع منكم أن يطيل غرته فليفعل . ( رواه البخاري )

Dari Abi Hurairah berkata, aku mendengar Nabi saw bersabda: Sesungguhnya umatku dipanggil di hari kiamat kelak dalam keadaan belang bercahaya karena bekas wudhu’, barang siapa diantara kalian yang bisa memperpanjang belangnya, maka hendaknya dia melakukannya. (HR. Al-Bukhari)

عن عبد الله بن بريدة عن أبيه ان النبي صلى الله عليه و سلم قال : أهل الجنة عشرون ومائة صف وهذه الأمة من ذلك ثمانون صفا . ( رواه أحمد بن حنبل ) . تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح

Dari Abdullah bin Buraidah, dari Bapaknya, bahwa Nabi saw bersabda: Penghuni surga terdiri dari seratus dua puluh shaff, dan umat ini menempati delapan puluh shaff diantaranya. (HR. Ahmad)Syu’aib Al-Arna’uth: sanadnya Shahih

b. Dalam riwayat lainnya Rasulullah saw menggunakan lafazh haadzihi-l-millah, sedangkan lafazh al-millah itu sendiri artinya adalah agama atau syari’atnya (Lihat Ibnu Manzhur, Lisaan Al-‘Arab, 11/628). Maka tentu jelas yang dimaksud adalah al-millah al-islamiyyah (agama Islam) bukan yang lainnya. Diperkuat hadits Nabi saw:

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ما من مولود يولد الا على هذه الملة حتى يبين عنه لسانه فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يشركانه ( رواه مسلم وأحمد )

Dari Abu Hurairah ra beliau berkata, Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah seorang anak yang terlahir kecuali ia berada di atas millah (agama) ini, hingga lisannya bisa menjelaskan agamanya sendiri. Maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Musyrik.” (HR. Muslim dan Ahmad). Riwayat lain menyebutkan al-fithrah, yaitu Islam.

c. Jika memang yang maksud umat Muhammad saw di hadits-hadits tersebut adalah semua manusia, tentu termasuk juga di dalamnya adalah kaum Yahudi dan Nasrani yang masih terus ada hingga saat ini. Sedangkan menurut pemberitaan Nabi saw sendiri, bahwa masing-masing dari keduanya sudah terpecah menjadi 70 kelompok lebih, sehingga jika digabungkan maka perpecahan sudah mencapai 140 ‎kelompok lebih, sedangkan umat Beliau dikatakan akan terpecah menjadi 70 sekian kelompok saja.

Perbedaan antara kelompok yang akan masuk neraka dan kelompok yang akan masuk surga adalah perbedaan dalam perkara pokok (ushuul), baik di bidang ‎Akidah maupun Syari’ah, bukan perbedaan dalam perkara cabang (furuu’). 

Ada dari kalangan ulama dahulu yang telah berusaha menetapkan siapa saja kelompok-kelompok penghuni neraka tersebut dengan menyebutkan namanya satu-persatu secara rinci, sebagaimana dicantumkan oleh Imam Ibnu Al-Jauziy dalam kitab beliau Talbiis Ibliis (tipu daya Iblis) halaman 36 dan seterusnya.

وقد ظهر لنا من أصول الفرق الحرورية والقدرية والجهمية والمرجئة والرافضة والجبرية . وقد قال بعض أهل العلم أصل الفرق الضالة هذه الفرق الستة وقد انقسمت كل فرقة منها على اثنتي عشرة فرقة فصارت اثنتين وسبعين فرقة .

Sungguh telah jelas bagi kami bahwa asal kelompok-kelompok tersebut adalah: Al-Haruriyyah, Al-Qodariyyah, Al-Jahmiyyah, Al-Murji'ah, Ar-Rofidhoh, dan Al-Jabariyyah. Telah berkata sebagian ulama, asal kelompok-kelompok sesat itu adalah enam kelompok ini, sunggung masing-masing dari kelompok tersebut telah terbagi lagi menjadi dua belas kelompok, maka kemudian jadilah tujuh puluh dua kelompok. (kemudian beliau sebutkan satu-persatu). Untuk lebih lengkapnya silahkan merujuk ke kitab tersebut, tepatnya di Bab Dua, untuk versi cetak terbitan Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, tahun 2006, halaman 36. 

Rincian tersebut bisa jadi sangat relevan di masa ulama yang mencetuskannya. Namun secara faktual sebagian kelompok yang saat itu ada, di masa-masa berikutnya sudah tidak ada lagi eksistensinya sebagai kelompok. Bahkan muncul kelompok-kelompok baru dalam jumlah lebih banyak dan belum pernah ada sebelumnya, baik skala internasional seperti Ahmadiyyah maupun skala lokal Indonesia semisal aliran Salamullah, aliran Islam Liberal, dll.

Bentuk mubaalaghah semacam itu juga ditemukan dalam Al-qur’an, yaitu surat At-Taubah ayat 80, disebutkan:

اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (التوبة/80)

Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, Namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (QS. At-Taubah [9]: 80) 

Penyebutan angka 70 dalam ayat tersebut bukan berarti pembatasan, melainkan mengisyaratkan jumlah yang sangat banyak. Artinya, meskipun Rasulullah memintakan ampunan dalam jumlah yang sangat banyak, tetap Allah swt tidak akan mengampuni orang yang mati dalam keadaan kafir. Imam Ibn Katsir memberikan keterangan dalam kitab tafsirnya:

إن السبعين إنما ذكرت حسما لمادة الاستغفار لهم ، لأن العرب في أساليب كلامها تذكر السبعين في مبالغة كلامها ، ولا تريد التحديد بها، ولا أن يكون ما زاد عليها بخلافها .

Sesungguhnya jumlah tujuh puluh itu disebutkan semata-mata untuk memutus (kebolehan) memintakan ampunan untuk mereka, karena orang Arab dalam gaya bicaranya menyebutkan bilangan tujuh puluh untuk tujuan mubaalaghah (penekanan yang menunjukkan sangat banyak) dari pembicaraan mereka, dan bukan dimaksudkan pembatasan, sehingga tidak berarti jika lebih dari itu maka yang berlaku adalah sebliknya. (Tafsir Ibn Katsir: 4/188)  

Demikian pula penyebutan angka pada hadits terpecahnya umat Islam menjadi 70 kelompok lebih. Bukan dalam rangka membatasi, melainkan sebagaimubaalaghah atas sangat banyaknya perpecahan yang telah terjadi pada umat Yahudi dan Nashrani, dan yang akan terjadi pada umat Islam, dengan urutan terbanyak dari masing-masing agama berdasarkan selisihnya.

Gambaran akan banyaknya perpecahan secara mutlak juga tergambar pada riwayat berikut:

عن أبي نجيح العرباض بن سارية رضي الله تعالى عنه قال : وعظنا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم موعظة وجلت منها القلوب وذرفت منها العيون فقلنا : يا رسول الله كأنها موعظة مودع فأوصنا قال أوصيكم بتقوى الله عز وجل والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد فإنه من يعش منكم فسيري اختلافا كثيرا فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة ] رواه أبو داود والترمذي وقال : حديث حسن صحيح

Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah ra beliau berkata, Rasulullah saw menasehati kami dengan nasihat yang membuat hati bergetar dan mata menangis. Maka kami berkata: Wahai Rasulullah saw, sepertinya ini adalah nasihat yang terakhir, maka berwasiatlah kepada kami, Beliau berkata:“Aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah swt, serta patuh dan ta’at (terhadap Khalifah), sekalipun yang menjadi amir atas kalian adalah seorang hamba sahaya. Sesungguhnya siapa saja di antara kalian (kaum muslim) yang hidup (sepeninggalku kelak) akan menjumpai pertentangan yang begitu banyak. Maka hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafa Rasyidun, gigitlah dengan gigi geraham kalian (peganglah dengan kuat), dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru (dalam agama), karena setiap kebid’ahan adalah sesat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi) beliau berkata: hadits Hasan Shahih

Di lain sisi, penyebutan tujuh puluh sekian kelompok sebagai penghuni neraka menunjukkan bentuk dzamm (celaan) terhadap perpecahan, yang itu berfaedah keharaman. Sedangkan disebutnya satu kelompok sebagai penghuni surga menunjukkan bentuk madh (pujian) terhadap persatuan umat, yang itu berfaedah kewajiban. Jadi, hadits tersebut sekaligus menunjukkan hukum haramnya perpecahan dan wajibnya persatuan.

Kalaupun perpecahan tersebut harus terjadi, maka kita harus berpegang teguh pada solusi yang diberikan oleh Rasulullah saw:

As-Sawad Al-A'zham atau Al-Jama’ah, yaitu sabar dan teguh dalam kesatuan kaum muslimin di bawah kepemimpinan seorang imam/ khalifah/ amir.

عن ابن عباس يرويه قال قال النبي صلى الله عليه وسلم من رأى من أميره شيئا فكرهه فليصبر فإنه ليس أحد يفارق الجماعة شبرا فيموت إلا مات ميتة جاهلية

Dari Ibn Abbas, Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa melihat sesuatu pada Amirnya lalu membencinya maka hendaklah ia bersabar, karena sesungguhnya tidak seorang pun yang memisahkan diri dari Jama'ah kemudian ia mati melainkan ia mati dalam keadaan mati jahiliyyah. (HR. Bukhori)

Berikut nukilan perkataan Imam At-Tirmidzi:

قال الترمذي وتفسير الجماعة عند أهلا العلم (هم أهل الفقه والعلم والحديث): الاعتصام ومعنى السواد الأعظم: - المجتمعون على إمام يحكم بالكتاب والسنة وينصر الحق وأهله.

At-Tirmidzi berkata: tafsir dari kata Jama'ah menurut Ulama (yaitu mereka ahli fiqh, ilmu, dan hadits)yaitu berpegang teguh, dan makna As-Sawad Al-A'zham adalah orang-orang yang berhimpun pada seorang Imam yang menerapkan hukum Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta menolong kebenaran dan pengembannya. (Shahih Kunuz As-Sunnah An-Nabawiyyah 1/212)

Jika kaum muslimin tidak memiliki imam atau kesatuan pemimpin, maka di hadits berikut ini telah dinyatakan solusinya:

عن حذيفة بن اليمان يقول كان الناس يسألون رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الخير وكنت أسأله عن الشر مخافة أن يدركني فقلت يا رسول الله إنا كنا في جاهلية وشر فجاءنا الله بهذا الخير فهل بعد هذا الخير من شر قال نعم قلت وهل بعد ذلك الشر من خير قال نعم وفيه دخن قلت وما دخنه قال قوم يهدون بغير هديي تعرف منهم وتنكر قلت فهل بعد ذلك الخير من شر قال نعم دعاة على أبواب جهنم من أجابهم إليها قذفوه فيها قلت يا رسول الله صفهم لنا قال هم من جلدتنا ويتكلمون بألسنتنا قلت فما تأمرني إن أدركني ذلك قال تلزم جماعة المسلمين وإمامهم قلت فإن لم يكن لهم جماعة ولا إمام قال فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض بأصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك .

Dari Hudzaifah bin Yaman berkata, orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir akan menimpaku, maka aku katakan: wahai Rasulullah saw, kami dahulu berada dalam masa jahiliyyah dan keburukan, kemudian Allah swt datangkan kebaikan ini (Islam), lalu apakah setelah kebaikan ini ada keburukan? beliau berkata: Ya. aku berkata: dan apakah setelah keburukan tesebut ada kebaikan lagi? beliau berkata: Ya, dan di masa itu ada asap (bertanda polusi). aku bertanya: apa asapnya? beliau menjawab: kaum yang memberi petunjuk dengan selain petunjukku, kamu mengenali di antara mereka dan mengingkarinya. aku bertanya: apakah setelah kebaikan itu ada keburukan? beliau menjawab: Ya, para pendakwah di depan pintu-pintu neraka jahannam, siapa yang memenuhi seruan mereka maka mereka akan melemparkannya kedalamnya (neraka). aku bertanya: gambarkanlah (tentang mereka) kepada kami wahai Rasulullah saw. Beliau berkata: mereka adalah dari kalangan bangsa kita, berkata-kata dengan bahasa kita pula. aku bertanya: lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku di masa itu? beliau bersabda: berpegang teguhlah terhadap jama'ah kaum muslimin dan imam mereka (khilafah). aku berkata: bagaimana jika mereka tidak lagi memiliki jama'ah dan imam? beliau berkata:maka jauhilah kelompok-kelompok (yang menyeru kepada kesesatan) tersebut seluruhnya, sekalipun kamu harus menggigit akar pohon hingga kematian menjumpaimu sedangkan kamu dalam kondisi seperti itu. (HR. Bukhori)

yaitu untuk meninggalkan kelompok-kelompok sesat yang menyerukan kepada neraka, betapapun mereka dari kalangan kita (هم من جلدتنا ويتكلمون بألسنتنا). Lalu bagaimana dengan kelompok-kelompok yang menyerukan kepada islam dan syari'atnya? tentu mereka tidak termasuk yang disebut sebagai (دعاة على أبواب جهنم), selama apa yang diserukannya benar berdasarkan petunjuk Allah swt dan Rasul-Nya.

Dan menurut riwayat At-Tirmidzi, berusaha agar seperti apa yang Nabi saw dan para sahabatnya berada diatasnya, yaitu keberislaman secara I’tiqodi dan ‘Amali yang sesuai dengan apa yang dijalani oleh Nabi saw dan para sahabat terdahulu.

Dalam penjelasannya, ada perbedaan pendapat dalam mengartikan jama’ah. Ada yang mengartikan ajaran-ajaran yang telah disepakati kaum muslim secara umum yang tidak boleh ada perbedaan di dalamnya, ada yang mengartikan kumpulan para sahabat Nabi saw, ada yang mengartikan jama’ah kaum muslim di bawah kepemimpinan satu imam (khalifah), dsb. Imam Ibnu Baththal mengutip pendapat Ath-Thabari sebagai penpadat yang terkuat:

قال الطبرى : والصواب فى ذلك أنه أمر منه ( صلى الله عليه وسلم ) بلزوم إمام جماعة المسلمين ونهى عن فراقهم فيما هم عليه مجتمعون من تأميرهم إياه فمن خرج من ذلك فقد نكث بيعته ونقض عهده بعد وجوبه .

Berkata Ath-Thabari: Pendapat yang benar dalam perkara tersebut adalah, bahwa ia (hadits tersebut) merupakan perintah dari Rasulullah saw untuk berpegang teguh terhadap Imam kaum muslim (khalifah), dan larangan memisahkan diri dari siapa yang mereka (kaum muslim) sepakati untuk dijadikan Amir. Siapa saja yang keluar dari hal tersebut, maka telah batal bai’atnya dan telah gugur janji (setia) nya padahal telah diketahui itu wajib. (Ibn Baththal,Syarh Shahih Al-Bukhari, 10/35)

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw yang lain
:
عن أبي نجيح العرباض بن سارية رضي الله تعالى عنه قال : وعظنا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم موعظة وجلت منها القلوب وذرفت منها العيون فقلنا : يا رسول الله كأنها موعظة مودع فأوصنا قال أوصيكم بتقوى الله عز وجل والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد فإنه من يعش منكم فسيري اختلافا كثيرا فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة ( رواه أبو داود والترمذي ) وقال : حديث حسن صحيح

Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah ra beliau berkata, Rasulullah saw menasehati kami dengan nasihat yang membuat hati bergetar dan mata menangis. Maka kami berkata: Wahai Rasulullah saw, sepertinya ini adalah nasihat yang terakhir, maka berwasiatlah kepada kami, Beliau berkata:“Aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah swt, serta patuh dan ta’at (terhadap Khalifah), sekalipun yang menjadi amir atas kalian adalah seorang hamba sahaya. Sesungguhnya siapa saja diantara kalian yang hidup (sepeninggalku kelak) akan menjumpai pertentangan yang begitu banyak. Maka hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafa Rasyidun, gigitlah dengan gigi geraham kalian (peganglah dengan kuat), dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru (dalam agama), karena setiap kebid’ahan adalah sesat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi) beliau berkata: hadits Hasan Shahih

Sunnah di situ adalah perilaku atau metode dalam menerapkan Islam, baik dalam skala individu, keluarga, maupun negara. Bukan sunnah yang berarti hadits, dan bukan pula yang berarti an-nadb(lawan dari makruh).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa hendaknya setiap muslim selalu bersikap waspada terhadap perpecahan dan kebercerai-beraian dengan sesamanya.  Memahami wilayah mana saja yang boleh berbeda dan wilayah mana saja yang tidak boleh, serta tetap memperhatikan perkara-perkara yang harus selalu dipegang-teguh, yaitu: tetap bersama jama’ah kaum muslim yang berada di bawah kepemimpinan seorang Imam (Khalifah) dengan memberikan ketaatan kepadanya. Jika di suatu masa jama’ah kaum muslim dan Imam mereka tidak ada, sebagaimana terjadi saat ini, maka dengan mewaspadai serta menghindari kelompok-kelompok yang menyeru kepada neraka Jahannam (menyeru kepada kesesatan). Serta menerapkan seluruh ajaran Islam sebagaimana dilakukan Rasulullah saw dan sahabat beliau (khususnya para Khulafa Rasyidun) secara sempurna pada seluruh aspek kehidupan, baik skala individu, keluarga, maupun pemerintahan, tanpa ada penambahan dan pengurangan.

Prinsip Keseimbangan Hudup Bagi Muslim


Mahluk yang Allah di ciptakan didunia ini berpasang-pasangan ada siang ada malam, ada bumi ada langit, ada matahari ada bulan ada insan laki-laki ada insan perempuan supaya mereka saling kenal mengenal, saling menyangi, mencintai, tolong menolong memberi, memberi manfaat untuk mencari keridhoaan Allah Swt. agar keseimbangan kehidupan seorang insan tercapai, dunia bahagia akhirat bahagia. diuraikan dalam hadist riwayat Ibnu Asakir tentang keseimbangan hidup didunia dan akhirat.

لَيْسَ بِخَيْرِ كُمْ مَنْ تَرَكَ دُنْيَاهُ لِاخِرَتِهِ وَلاَ اخِرَتَهُ لِدُنْيَاهُ حَتّى يُصِيْبُ مِنْهُمَاجَمِيْعًا فَاِنَّ الدَّنْيَا بَلَاغٌ اِلَى اْلاخِرَةِ وَلَاتَكُوْنُوْا كَلًّ عَلَى النَّاسِ
                                                                                                 
"Dari Anas ra, bahwasannya Rasulullah Saw. telah bersabda, "Bukanlah yang terbaik diantara kamu orang yang meninggalkan urusan dunianya karena (mengejar) urusan akhiratnya, dan bukan pula (orang yang terbaik) oarang yang menhinggalkan akhiratnya karena mengejar urusan dunianya, sehingga ia memperoleh kedua-duanya, karena dunia itu adalah (perantara) yang menyampaikan ke akhirat, dan janganlah kamu menjadi beban orang lain."

Hadist tersebut di atas menjelaskan tentang kehidupan manusia yang seharusnya, yaitu kehidupan yang berimbang, kehidupan dunia harus diperhatikan disamping kehidupan di akhirat. Islam tidak memandang baik terhadap orang yang hanya mengutamakan urusan dunia saja, tapi urusan akhirat dilupakan. Sebaliknya Islam juga tidak mengajarkan umat manusia untuk konsentrasi hanya pada urusan akhirat saja sehingga melupakan kehidupan dunia.

Dunia adalah sarana yang akan mengantarkan ke akhirat. manusia hidup didunia memerlukan harta benda untuk memenuhi hajatnya, manusia perlu makan, munum, pakaian, tempat tinggal, berkeluarga dan sebagainya, semua ini harus dicari dan diusahakan. Harta juga bisa digunakan untuk bekal beribadah kepada Allah Swt., karena dalam pelaksanaan ibadah itu sendiri tidak lepas dari harta. Contohnya sholat memerlukan penutup aurat (pakaian). ibadah haji perlu biaya yang cukup besar . dengan harta kita bisa membayar zakat, sadaqah, berkurban, menolong fakir miskin dan sebagainya.

Kehadiran kita di dunia ini jangan sampai menjadi beban orang lain. Maksudnya janganlah memberatkan dan menyulitkan orang lain. Dalam hubungan ini, umat Islam tidak boleh bermalas-malasan, apalagi malas bekerja untuk mencari nafkah , sehingga mengharapkan belas kasihan orang lain untuk menutupi keperluan hidup sehari-hari.

Keseimbangan (At Tawazun) merupakan salah satu prinsip ajaran Islam. Keseimbangan membuka jalan bagi nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan. Keseimbangan akan melahirkan kebahagiaan yang ditandai dengan adanya ketenteraman dan kesejahteraan yang merata. Keseimbangan menebarkan rasa aman, dan membebaskan manusia dari semua bentuk intimidasi dan rasa takut. Keseimbangan menjamin distribusi kekayaan Negara proporsional, memberi peluang bekerja dan berusaha secara merata. Keseimbangan membebaskan, sedang ketimpangan atau ketidakseimbangan membelenggu. Keseimbangan membahagiakan, dan ketidakseimbangan menyengsarakan.

Alloh Subhanahu Wata'ala Berfirman 
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (al Qashash: 77).

Dari ayat di atas setidaknya ada 4 hal yang perlu kita perhatikan,

Pertama, Mencari atau mendapatkan anugerah allah berupa negeri akherat (surga)

Ini adalah peringatan Allah bahwa di dalam hidup ini, seluruh upaya harus dikerahkan untuk memperoleh negeri akherat tersebut. Kenapa? Karena kita akan kembali ke akherat. Tapi kesadaran mempersiapkan diri untuk mati dan untuk kembali ke akherat tidaklah sama.

Sebab itulah Ibrahim bin Adham pernah menjawab pertanyaan, “apa sebabnya doa kami tidak diperkenankan? Sedangkan Allah telah menjanjikan bahwa orang yang berdoa akan diperkenankanNya? Makadiantara jawabannya adalah,

قلتم الموت حق ولم تستعدوا له. اشتغلتم بعيوب الناس ولم تنشغلوا بعيوبكم. دفنتم الأموات ولم تعتبروا

“Kalian mengatakan bahwa kematian pasti tiba bagi setiap jiwa, tetapi masih tidak bersedia untuknya. Menyibukkan diri membuka keaiban orang lain, tetapi lupa akan keaiban diri sendiri. Menghantar dan menguburkan jenazah/mayat saudara se-Islam, tetapi tidak mengambil pengajaran daripadanya”.

Sebab kita akan kembali ke akherat maka tidak ada tempat lain yang kita inginkan kecuali surga.  Setiap orang ingin mencapai surga Allah. Dan untuk mencapainya tidaklah mudah. Rukun islam yang lima merupakan bentuk ibadah yang harus dilakukan, itu saja tidaklah cukup. Banyak hal yang harus dilakukan dan banyak pula hal yang harus ditinggalkan, sesuai dengan syariat agama. Bahkan tutur kata, sikap, perilaku dan perbuatan kita bisa dengan mudah mengantarkan atau menggagalkan kita untuk mencapai surga Allah. Satu hal yang pasti bahwa semuanya menjadi otoritas Al Khaliq. Sering terjadi apa yang ditentukan oleh manusia tidak selalu sama dengan ketentuan Allah. Sebab surga adalah rahmat dari Allah Ta’ala.

Karenanya, kita memohon kepada Allah Ta’ala, mudah-mudahan kita selalu dibimbing oleh-Nya agar senantiasa berjalan lurus menuju kepada-Nya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Seluruh umatku akan masuk Surga kecuali yang enggan”. Para sahabat bertanya: “Siapakah yang enggan itu wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Beliau menjawab: “Siapa yang mentaatiku, ia pasti masuk Surga. Siapa yang mendurhakaiku, maka dialah yang enggan (masuk surga)”. (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)

Ibnu Abbas radhiallahu Anhuma berkata,“Allah menjamin bagi siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan ajaran yang ada di dalamnya bahwa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akherat.”

Orang yang dianugerahi oleh Allah SWT kekayaan yang berlimpah-limpah, perbendaharaan harta yang bertumpuk-tumpuk serta nikmat yang banyak, hendaklah ia memanfaatkan di jalan Allah, patuh dan taat pada perintah-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya untuk memperoleh pahala sebanyak-banyaknya di dunia dan di akhirat. Sabda Nabi saw :

اغتنم خمسا قبل خمس شبابك قبل هرمك وصحتك قبل سقمك وغناك قبل فقرك وفراغك قبل شغلك وحياتك قبل موتك.
Manfaatkan yang lima sebelum datang (lawannya) yang lima; mudamu sebelum tuanmu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu senggangmu sebelum kesibukanmu dan hidupmu sebelum matimu.(H.R. Baihaki dari Ibnu Abbas)

Kedua, Tidak melupakan bagian dari kenikmatan dunia

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita mendengar nasehat “ingat akherat jangan lupa dunia”. Kalau kita jabarkan dan kita kembangkan perintah Allah tersebut sangat luar biasa. Di dalamnya terkandung perintah agar manusia tidak hanya mencari bekal akhirat, tetapi juga bekal hidup di dunia.

Manusia telah diberikan bekal berupa akal, penglihatan, pendengaran, dan hati.  Semua itu berkembang menjadi potensi-potensi. Baik berupa pengetahuan, keterampilan dan sikap. Bahkan manusia diberikan keahlian/kemakmuran yang berbeda. Kesemuanya diberikan oleh Allah agar manusia bisa berkarya untuk mencari bekal kehidupan, asalkan pencarian bekal dan kesenangan tersebut tidak bertentangan dengan syari’at Allah (halal dan baik) dan tidak bertentangan dengan usaha pencapaian untuk meraih surga Allah Ta’ala.

Bumi ini diciptakan untuk manusia. Dengan potensi yang dimiliki, manusia dapat mengolah, mengusahakan, mengeskplorasi alam untuk kepentingan umat manusia. Karena itu, di dalam alquran terdapat banyak ayat yang isinya merupakan perintah agar manusia dapat menggunakan akal pikirannya. Sebagai salah satu contoh yaitu surah Ali Imran ayat 190, yang berbunyi,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ (آل عمران: 190)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. (Ali Imran: 190)

Melalui ayat ini, manusia diperintah oleh Allah untuk memberdayakan akal fikirannya guna mengolah bumi dan alam seisinya agar bisa memberikan manfaat (barakah) bagi dirinya. Artinya, manusia diperintah untuk bekerja agar memperoleh penghasilan yang cukup dan memiliki kehidupan yang patut. Ayat ini sekaligus merupakan pencerminan bahwa Allah menghendaki agar manusia tidak malas dalam bekerja. Orang yang malas bekerja jangankan bisa bermanfaat untuk orang lain, untuk mencukupi dirinya sendiri pun tidak akan bisa.

Hidup di dunia adalah suatu perjalanan, tujuan kita adalah akhirat. Namun, persiapan bekal untuk akhirat, tidak menutup kita untuk mempersiapkan bekal dalam perjalanan hidup di dunia ini untuk diri sendiri dan keluarga.

Agama kita melarang umatnya untuk bersikap santai, bermalas-malasan dan bertopang dagu. Para sahabat mencontohkan, jika terdengar adzan maka mereka segera ke masjid, jika selesai melaksanakan kewajibannya maka mereka kembali bertebaran di muka bumi untuk kembali melanjutkan usahanya sambil berdoa, ”Ya Allah, kami telah memenuhi panggilan-Mu dan telah melaksanakan apa yang telah Engkau wajibkan, sekarang kami menyebar (berusaha) sebagaima Engkau perintahkan, maka berilah kami rizki karena Engkaulah sebaik-baik Pemberi Rizki”.

Orang yang bekerja akan memperoleh hasil yang sepadan dengan pekerjaannya. Akan tetapi perlu diingat bahwa penghasilan seseorang tidak selalu dapat diukur dari volume dan jenis pekerjaannya. Banyak fakta menunjukkan bahwa penghasilan seseorang lebih banyak ditentukan oleh kualitas pekerjaan dan keahliannya. Kita juga sering melihat kenyataan adanya orang yang sudah membanting tulang siang-malam, akan tetapi penghasilannya tetap pas-pasan. Ini semua merupakan hak preogratif Allah untuk menentukannya.

Dan sudah menjadi sunnatullah bahwa di dunia ini, ada yang kaya dan ada pula yang miskin. Ada yang rajin bekerja dan ada pula yang malas. Oleh karena itu, hendaknya manusia rajin bekerja dan rajin berdoa’ agar memiliki kehidupan yang layak bahkan bisa lebih berkecukupan.

RENUNGAN

وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi”.

Ayat tersebut mengajarkan, untuk kehidupan akhirat, Allah memerintahkan dengan kata ”carilah”, sedangkan untuk kehidupan dunia, Allah hanya mengingatkan ”jangan lupa”. Jadi kalau ada pertanyaan bagaimana seimbangnya kehidupan dunia dan akhirat ini, barangkali ayat itulah jawabannya. Toh manusia tidak perlu disuruh untuk mencari dunia, sudah mempunyai naluri sendiri untuk mengejar dunia dengan dengan segala cara dan berbagai motifasinya.

Janganlah seseorang itu meninggalkan sama sekali kesenangan dunia baik berupa makanan, minuman dan pakaian serta kesenangan-kesenangan yang lain sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran yang telah digariskan oleh Allah SWT, karena baik untuk Tuhan, untuk diri sendiri maupun keluarga, semuanya itu mempunyai hak atas seseorang yang harus dilaksanakan. Sabda Nabi Muhammad saw :

اعمل لدنياك كأنك تعيش أبدا واعمل لآخرتك كأنك تموت غدا
Kerjakanlah (urusan) duniamu seakan-akan kamu akan hidup selama-lamanya. Don laksanakanlah amalan akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok. (H.R. Ibnu Asakir)

Ungkapan tersebut sangat populer di masyarakat. Saking populernya, dianggap sebagai hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Sebenarnya, ungkapan tersebut bukan hadits. Ungkapan itu adalah perkataan seorang sahabat Nabi yang bernama Abdullah bin Amr bin al-Ash Radhiallahu Anhu. Jadi, ini hanya soal pandangan Abdullah tentang masalah keduniaan.

Lalu, apa makna ungkapan Abdullah bin Amr bin al-Ash itu? Ungkapan tersebut mengisyaratkan bahwa akhirat lebih utama dibanding dunia. Apa buktinya? Buktinya bahwa untuk urusan akhirat harus disegerakan (waktunya sempit, karena besok kita akan mati), dan urusan dunia boleh ditunda (karena waktunya masih panjang yaitu hidup selamanya).

Ketiga, Berbuat baik kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.

Sebenarnya Allah telah memberikan fasilitas kehidupan bagi manusia. Kalau kita mau merenung, kita dapat melihat, mendengar, merasakan, membau dan menikmati apa yang dianugerahkan Allah kepada kita. Hanya karena setiap saat (tanpa henti) secara otomatis manusia menikmatinya selama hidup, manusia tidak merasa bahwa ada karunia Allah yang tidak ternilai harganya bagi kehidupan. Bahkan manusia sering lupa dan tidak bersyukur. Sebagai contoh adalah Oksigen yang selama hidup di dunia manusia selalu memerlukannya. Itu baru satu item yang namanya oksigen. Belum lagi yang lain-lain yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Itulah sebabnya Allah berfirman dalam Surat An-Nahl ayat 18,

وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ اللّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ (النحل: 18)

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (An Nahl: 18)

Ketika manusia telah mengetahui bahwa Allah telah berbuat baik kepada manusia hendaknya manusia harus berbuat baik kepada orang lain. Al Qur’an Surat An-Nisa’ ayat 85, memberikan petunjuk tentang hal itu.

مَّن يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُن لَّهُ نَصِيبٌ مِّنْهَا وَمَن يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُن لَّهُ كِفْلٌ مِّنْهَا وَكَانَ اللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُّقِيتاً

“Barang siapa memberi pertolongan dengan pertolongan yang baik, niscaya dia akan memperoleh bagian dari (pahala)-nya. Dan barang siapa memberi pertolongan yang buruk, niscaya dia akan memikul bagian dari (dosa)-nya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (An Nisa’: 85)

Pada pelajaran kedua telah diuraikan bahwa Allah memerintahkan manusia untuk rajin bekerja sehingga bisa memperoleh penghasilan yang cukup (bahkan lebih) agar memiliki kehidupan yang layak dan patut. Perintah ini sesungguhnya memiliki implikasi yaitu agar manusia yang telah berhasil (sukses) hidupnya mau dan senang menolong, senang berbagi, gemar bershadaqah, tidak kikir, tidak egois (lebih-lebih bengis dan sadis), dan mau mengembangkan jiwa sosial serta solidaritas yang tinggi terhadap sesama. Tidak hanya itu, perilaku simpati yang tidak menyakiti, tutur kata santun, perangai yang ramah, tidak mencaci-maki harus dikembangkan.

Keempat, Tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang – orang yang berbuat kerusakan

Orang yang berbuat kerusakan adalah mereka yang melanggar aturan, mereka tahu tapi sengaja melupakan dan mengabaikan apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala. Manusia ditunjuk oleh Allah sebagai Khalifah Allah di bumi. Ini berarti manusia diutus untuk menjaga kelestarian alam semesta ini. Alam lingkungan, marga satwa, lautan dengan flora dan faunanya, dan lain-lain menjadi tanggung jawab manusia untuk menjaga dan merawatnya. Namun saat ini, telah terjadi berbagai kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh manusia. Oksigen pun telah tercemari oleh polusi, hutan yang berfungsi sebagai jantung dunia pun telah dirusak karena pembalakan liar, sungai – sungai keruh, air yang tercemar dan penuh sampah, sehingga berakibat banjir merupakan wujud kerusakan alam dan lingkungan. Kalau hal ini tidak disadari oleh manusia dan perusakan lingkungan tetap dilakukan, berarti manusia telah gagal dalam menjalankan tugasnya sebagai Khalifah Allah di muka bumi.

Allah Ta’ala Maha Pengampun, karena itu marilah kita bersama – sama memohon ampun kepada-Nya dan tidak lagi melakukan perusakan di bumi. Kita bangun dan tata kembali lingkungan yang bersih, sehat, indah, segar, bermanfaat demi kehidupan yang akan datang, entah sampai kapan dunia ini akan ditutup dan diakhiri oleh Al-Khaliq, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita termasuk orang-orang yang bisa melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-laranganNya.

Bahayanya Fanatisme terhadap Ulama Dan Golongan

 

Di masa sekarang ini, banyak dijumpai beraneka jamaah pengajian dan kelompok kajian agama. Mereka semua mengaku yang paling benar, sesuai dengan ajaran Islam dan berasa akan ahlu sunnah wal jama’ah. Ketika masing-masing mereka menganggap bahwa merekalah yang terbaik dan terbenar, tidak mau menerima kebenaran kelompok lain, menutup mata dari kesalahan kelompoknya sen diri dan menyangka bahwa merekalah yang paling berhak menerangkan berbagai perkara agama, akhirnya jadilah umat ini terfirqoh-firqoh. Lalu tanpa mereka sadari, perilaku dan perbuatan mereka itu telah menyeret mereka kepada kerusakan, perselisihan dan perpecahan. Dalam anggapan mereka, merekalah gudangnya kebenaran sedangkan selain mereka adalah gudang kekeliruan. Akhirnya dari perilaku seperti itu lahirlah fanatisme kelompok (ashobiyyah).

Padahal sikap fanatisme kelompok itu sangat diharamkan oleh Islam, lantaran perbuatan itu merupakan kebiasaan orang kafir/ musyrik dan dapat menimbulkan perselisihan, perpecahan dan permusuhan lalu pada akhirnya akan melemahkan kekuatan kaum muslimin. Sebagaimana dalil-dalil berikut ini,

وَ لاَ تَكُوْنُوْا مِنَ اْلمـُـشْرِكِيْنَ مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَ كَانُوْا شِيَعًا كُـلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ

Dan janganlah kalian termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah (kaum musyrikin), yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. [QS. ar-Rum/30: 31-32].

وَ أَطِيْعُوْا اللهَ وَ رَسُوْلَهُ وَ لاَ تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَ تَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَ اصْبِرُوْا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian saling berbantah-bantahan, yang akan menyebabkan kalian lemah dan hilangnya kekuatan kalian dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. [QS. Al-Anfal/ 8: 46].

عن جندب بن عبد الله البجلي رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يَدْعُوْ عَصَبِيَّةً أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

Dari Jundub bin Abdullah al-Bajaliy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang terbunuh di bawah bendera ummiyyah (kesesatan) yang disebabkan ia mengajak kepada ashobiyah atau dalam rangka menolong ashobiyah, maka matinya adalah mati jahiliyah”. [HR Muslim: 1850, an-Nasa’iy: VII/ 123 dan ath-Thoyalisiy].

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال: كُنَّا فِى غَزَاةٍ فَكَسَعَ رَجُلٌ مِنَ اْلمـُهَاجِرِيْنَ رَجُلًا مِنَ اْلأَنْصَارِ فَقَالَ اَلأَنْصَارِيُّ: يَا لَلْأَنْصَارَ وَ قَالَ اْلمـُهَاجِرِيُّ: يَا لَلْمـُهَاجِرِيْنَ فَسَمِعَ ذَاكَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَا بَالُ دَعْوَى اْلجَاهِلِيَّةِ؟ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَسَعَ رَجُلٌ مِنَ اْلمـُهَاجِرِيْنَ رَجُلًا مِنَ اْلأَنْصَارِ فَقَالَ: دَعُوْهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ

Dari Jabir radliyallahu anhuma berkata, kami pernah berada dalam suatu peperangan (yaitu Bani al-Mushthaliq), lalu seseorang dari golongan Muhajirin melukai seorang dari golongan Anshor. Berkata orang Anshor, “Wahai orang-orang Anshor”. Dan berkata golongan Muhajirin, “Wahai orang-orang Muhajirin”. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mendengar perkataan itu lalu bersabda, “Apakah dengan seruan-seruan Jahiliyyah (kalian menyeru)?, (padahal aku masih berada di tengah-tengah kalian)”. Mereka berkata, “Wahai Rosulullah, seorang dari golongan Muhajirin melukai seseorang dari golongan Anshor”. Lalu Beliau bersabda, “Tinggalkanlah ia, karena sesungguhnya ia busuk baunya’. [HR al-Bukhoriy: 4905, Muslim: 2584 dan at-Turmudziy: 3315].

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menegur para shahabat Muhajirin dan Anshor radliyallahu anhum karena mereka meneriakkan seruan-seruan jahiliyah. Yaitu ucapan ‘Ya lal Anshor’ dan ‘Ya lal Muhajirin’, yang merupakan kalimat pengagungan bagi kaum atau golongan mereka masing-masing. Jika dua kelompok paling mulia ini saja dilarang untuk saling membanggakan kelompoknya masing-masing maka bagaimana dengan kelompok atau golongan yang lainnya. Rosulullah memerintahkan kedua kelompok mulia itu untuk meninggalkan budaya tersebut karena termasuk kebiasaan jahiliyah dan Beliau menyebutnya dengan sesuatu yang baunya busuk.

Jika dalam suatu tempat tercium bau busuk yang sangat menyengat, maka orang-orang yang berada disekitarnya niscaya akan pergi dan membubarkan diri meninggalkan tempat tersebut tanpa diperintah dan dikomando oleh orang lain. Namun dengan seruan kebanggaan jahiliyah, masih banyak di antara umat manusia bahkan umat Islam yang saling menyeru dan meneriakkannya dengan lantang tanpa perasaan bersalah. Terkadang orang-orang itu merasa sudah berbuat yang sepatutnya dan benar tindakan mereka.

Padahal sudah berapa banyak kehancuran yang menimpa umat manusia, yang disebabkan perang antar suku, ras dan golongan di berbagai tempat di belahan dunia dan bahkan di Indonesia ini. Banyak manusia terbunuh, rumah hancur porak poranda, gedung-gedung untuk layanan masyarakat dan kendaraan-kendaraan pribadi atau pemerintah yang ikut jadi korban. Hal itu karena masalah ashobiyah atau fanatik kesukuan yang sangat kental di sisi manusia.

Begitupun umat Islam yang kebanyakan mereka sangat fanatik dengan madzhab, partai, kelompok pengajian ataupun para ustadz mereka. Banyak di antara mereka yang terkadang lebih fanatik kepada madzhab dan golongannya daripada fanatiknya mereka kepada Islam. Mereka lebih fanatik kepada ustadz mereka daripada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Subhanallah. 

Padahal jika ditanyakan kepada mereka, ”Dahulu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berpegang kepada madzhab apa?”. Dan begitu pula para Shahabat seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Abdurrahman bin Auf, Usamah bin Zaid, Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan selain mereka radliyallahu anhum, apakah madzhab yang mereka anut?. Niscaya mereka tidak akan pernah mendapatkan satu dalilpun di dalam alqur’an dan hadits-hadits shahih tentang hal itu. Mereka hanya akan jumpai dalil-dalil itu dari ucapan para ustadz mereka untuk membela pemahaman mereka yang rapuh lagi goyah.

Bahkan para Imam yang empat itupun dahulu mereka tidak pernah saling bermadzhab kepada seseorang di antara mereka dan tidak ada satupun ucapan mereka yang mengajak umat Islam dan pengikutnya untuk bermadzhab kepada mereka. Dan yang ada malah kebalikannya, yaitu mengajak mereka untuk selalu berpijak dan berpihak kepada sumber pengajaran Islam yaitu Alqur’an dan hadits-hadits yang shahih.

Demikianlah larangan bagi umat Islam, dari dakwah atau menyeru kepada ashobiyah (fanatik golongan), bangga dengan ashobiyah, marah karena membela ashobiyah dan menolong lantaran ashobiyah. Dan mereka juga dilarang untuk masuk ke dalam madzhab atau golongan dan fanatik terhadapnya, yang akan menyebabkan umat Islam tercerai berai, lemah dan tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi musuh. Lalu jika mereka mati atau terbunuh di bawah bendera kesesatan tersebut maka matinya mereka itu adalah mati jahiliyah.

Sesungguhnya cobaan yang menimpa umat Islam tidak hanya terbatas pada satu sisi tertentu saja. Bahkan meluas sampai pendidikan dengan mengerahkan segenap unsur dan sarananya untuk merubah aqidah, nilai-nilai, dan akhlak Islam. Sehingga orang yang menjadi sasaran rencana-rencana setan itu berada di dalam puncak kegembiraan, dia menyangka berada di atas kemajuan yang hebat. Oleh karena itu, sesungguhnya para ahli maksiat di kalangan kaum muslimin dewasa ini menjadi korban pendidikan yang salah, yang menjadikan mereka hanya memikirkan dunia. Pendidikan tersebut semenjak awal menghendaki kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan bagi kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman:

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ

Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri. [al-Baqarah/2:109].

Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. [Ali ‘Imran/3:100].

Sehingga akhirnya para penyeru kesesatan dan tokoh-tokoh kekafiran memandang remeh terhadap kaum Muslimin. Mereka memecah belah mereka menjadi golongan-golongan dan partai-partai.

كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. [ar-Rûm/30: 32]

Itu merupakan rencana Iblis yang saling diwasiatkan oleh tentara setan.

أَتَوَاصَوْا بِهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ

Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu; sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. [adz-Dzâriyât/51:53].

Sehingga akhirnya sampai kepada sumber penyakit dan akar bencana. Allah berfirman:

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. [al-Qashshash/28:4].

Akibatnya :

فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu), lalu mereka patuh kepadanya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. (Qs. az-Zukhruf/43: 54).

Demikianlah, tentara setan mengetahui tempat kebinasaan, yang juga telah diketahui oleh rezim Fir’aun dan tentaranya, lalu mereka saling berwasiat untuk melakukan pengrusakan, dan mereka menggiring masyarakat menuju kelompok-kelompok kecil yang tenggelam di dalam perpecahan dan fanatisme golongan. Sebagian mereka disibukkan mengurusi sebagian yang lain, sehingga mereka tidak akan bangkit, mengenal jalan, berusaha mendengar agama, dan kembali kepada keyakinan.
Di antara manusia ada yang mengkhususkan pakaian tertentu; dia tidak mengenakan pakaian lainnya. Atau mengkhususkan duduk di tempat tertentu; dia tidak duduk di tempat lainnya. Atau mengkhususkan cara berjalan tertentu; dia tidak berjalan dengan selainnya. Atau mengkhususkan dengan bentuk pakaian dan cara yang tidak pernah ia tinggalkan. Atau mengkhususkan ibadah tertentu; dia tidak beribadah dengan selainnya, walaupun yang lain itu lebih tinggi dari ibadah yang ia lakukan. Atau mengkhususkan syaikh (guru) tertentu; dia tidak memandang guru yang lainnya, walaupun guru lain tersebut lebih dekat kepada Allah dan Rasul-Nya daripada gurunya.

Mereka semua terhalang dari meraih tuntutan yang paling tinggi. Kebiasaan-kebiasaan, gambar-gambar, keadaan-keadaan, istilah-istilah, telah menghalangi mereka dari memurnikan mutâba’ah (mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ). Sehingga mereka terasing dari Sunnah. Rumah mereka adalah rumah yang paling jauh dari Sunnah. Engkau melihat salah seorang dari mereka beribadah dengan riyadhah (tirakat), khalwat (menyepi) dan mengosongkan hati, dan mengganggap ilmu agama menghalangi jalan (yang dia tempuh). Jika disebutkan kepadanya muwâlah dan mu’âdah (membela dan memusuhi) karena Allah dan amar ma’ruf nahi mungkar, dia menganggap hal itu sebagai perbuatan berlebihan yang tidak perlu dan keburukan. Jika mereka melihat orang yang melakukannya di antara mereka, maka mereka akan mengusir dari kelompok mereka, dan mereka menganggap orang itu cemburu terhadap mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang paling jauh dari Allah, walaupun mereka paling banyak dipuji (oleh manusia),
Sesungguhnya kita telah ditimpa oleh keadaan ini, yang diwariskan dari mayoritas firqah-firqah dan golongan-golongan yang telah ditawan oleh belenggu-belenggu hizbiyyah (fanatisme golongan), dan nafas-nafasnya telah dibebani oleh beban-beban sirriyah (aktifitas yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi).

Jika ada seorang muslim di luar kelompok mereka memberikan nasihat karena Allah dan Rasul-Nya, maka mereka menuduhnya sebagai “orang yang menghambat”, “pengacau”, “orang yang membuat keributan”, “dia ingin merobohkan shaf (bangunan) Islam dan membuka peluang kepada musuh-musuh Islam”.

Sebaliknya, jika datang pemberi nasihat dari kalangan mereka sendiri, mereka menuduh “dia terjatuh di jalan ini, menghendaki perpecahan dan menelantarkan kawan”.

Aduhai inginnya aku mengetahui! Kapan mereka mengetahui, bahwa lingkaran Islam itu sangat luas, persaudaraan iman itu lebih penting, dan manhaj (jalan) Salaf yang pertama itu lebih berilmu, lebih bijaksana, dan lebih selamat?‎
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْفَرْوِيُّ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ غَزِيَّةَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ بْنِ قَتَادَةَ عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ عَنْ قَتَادَةَ بْنِ النُّعْمَانِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا حَمَاهُ الدُّنْيَا كَمَا يَظَلُّ أَحَدُكُمْ يَحْمِي سَقِيمَهُ الْمَاءَ قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ صُهَيْبٍ وَأُمِّ الْمُنْذِرِ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرْسَلًا حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ بْنِ قَتَادَةَ عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ عَنْ قَتَادَةَ بْنِ النُّعْمَانِ قَالَ أَبُو عِيسَى وَقَتَادَةُ بْنُ النُّعْمَانِ الظَّفَرِيُّ هُوَ أَخُو أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ لِأُمِّهِ وَمَحْمُودُ بْنُ لَبِيدٍ قَدْ أَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَآهُ وَهُوَ غُلَامٌ صَغِيرٌ

Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Yahya], telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Muhammad Al Farwi], telah menceritakan kepada kami [Isma'il bin Ja'far] dari [Umarah bin Ghaziyyah] dari [Ashim bin Umar bin Qatadah] dari [Mahmud bin Labid] dari [Qatadah bin An Nu'man] bahwasanya; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "‎Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan melindunginya dari fitnah dunia. Sebagaimana salah seorang dari kalian berteduh untuk melindungi sakitnya dari percikan air. Abu Isa berkata; Hadits semakna juga diriwayatkan dari Shuhaib & Ummu Al Mundzir. Ini adl hadits Hasan Gharib. Hadits ini telah diriwayatkan pula dari Mahmud bin Labid, dari Nabi secara Mursal. Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr, telah mengabarkan kepada kami Isma'il bin Ja'far dari Amru bin Abu Amru & dari Ashim bin Umar bin Qatadah dari Mahmud bin Labid dari Nabi semisalnya. Namun di dalamnya ia tak menyebutkan; Dari Qatadah bin An Nu'man. Abu Isa berkata; Qatadah bin An Nu'man Azh Zhafari adl saudaranya Sa'id Al Khudri dari jalur ibunya. Sedangkan Mahmud bin Labid mendapati Nabi & sempat melihatnya, yg pada saat itu ia masih anak-anak. [HR. Tirmidzi No.1959].‎

حَدَّثَنَا عَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ الدُّورِيُّ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا فُلَيْحُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ التَّيْمِيِّ عَنْ يَعْقُوبَ بْنِ أَبِي يَعْقُوبَ عَنْ أُمِّ الْمُنْذِرِ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَهُ عَلِيٌّ وَلَنَا دَوَالٍ مُعَلَّقَةٌ قَالَتْ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْكُلُ وَعَلِيٌّ مَعَهُ يَأْكُلُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَلِيٍّ مَهْ مَهْ يَا عَلِيُّ فَإِنَّكَ نَاقِهٌ قَالَ فَجَلَسَ عَلِيٌّ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْكُلُ قَالَتْ فَجَعَلْتُ لَهُمْ سِلْقًا وَشَعِيرًا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَلِيُّ مِنْ هَذَا فَأَصِبْ فَإِنَّهُ أَوْفَقُ لَكَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ فُلَيْحٍ وَيُرْوَى عَنْ فُلَيْحٍ عَنْ أَيُّوبَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ وَأَبُو دَاوُدَ قَالَا حَدَّثَنَا فُلَيْحُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ أَيُّوبَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ يَعْقُوبَ بْنِ أَبِي يَعْقُوبَ عَنْ أُمِّ الْمُنْذِرِ الْأَنْصَارِيَّةِ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ نَحْوَ حَدِيثِ يُونُسَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ فُلَيْحِ بْنِ سُلَيْمَانَ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ أَنْفَعُ لَكَ وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ فِي حَدِيثِهِ وَحَدَّثَنِيهِ أَيُّوبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ هَذَا حَدِيثٌ جَيِّدٌ غَرِيبٌ

Telah menceritakan kepada kami [Abbas bin Muhammad Ad Duri], telah menceritakan kepada kami [Yunus bin Muhammad], telah menceritakan kepada kami [Fulaih bin Sulaiman] dari [Utsman bin Abdurrahman At Taimi] dari [Ya'qub bin Abu Ya'qub] dari [Ummu Al Mundzir] ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah menemuiku & pada saat itu beliau bersama Ali. Ketika itu, kami memiliki ember-ember yg tergantung. Kemudian Rasulullah makan & Ali pun ikut makan. Lalu Rasulullah bersabda kepada Ali: Wahai Ali, mah..mah.., sesungguhnya kamu adl seorang yg paham. Maka Ali pun duduk sedangkan Nabi makan. Lalau aku membikinkan As Silq (sejenis ubi) & gandum bagi mereka. Kemudian Nabi bersabda: Wahai Ali, mulailah dari sini, karena ia lebih pas untukmu. Abu Isa berkata; Ini adl hadits hasan gharib, kami tak mengetahuinya kecuali dari haditsnya Fulaih. Dan diriwayatkan pula dari Fulaih dari Ayyub bin Abdurrahman Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar Telah menceritakan kepada kami Abu Amir dari Abu Dawud keduanya berkata, Telah menceritakan kepada kami Fulaih bin Sulaiman dari Ayyub bin Abdurrahman dari Ya'qub bin Abu Ya'qub dari Ummu Al Mundzir Al Anshariyah ia berkata; Suatu ketika Rasulullah menemui kami. Maka ia pun menyebutkan hadits seperti haditsnya Yunus bin Muhammad bin Fulaih bin Sulaiman, hanya saja ia menyebutkan, Ia lebih bermanfaat untukmu. Muhammad bin Basysyar berkata di dalam haditsnya; Dan telah menceritakan kepadaku Ayyub bin Abdurrahman. Hadits ini adl hadits jayyid gharib. [HR. Tirmidzi No.1960].

 بِشْرُ بْنُ هِلَالٍ الصَّوَّافُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ غَيْلَانَ بْنِ جَرِيرٍ عَنْ زِيَادِ بْنِ رِيَاحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَدْعُو إِلَى عَصَبِيَّةٍ أَوْ يَغْضَبُ لِعَصَبِيَّةٍ فَقِتْلَتُهُ جَاهِلِيَّةٌ

Telah menceritakan kepada kami [Bisyr bin Hilal As Shawaf] telah menceritakan kepada kami [Abdul Warits bin Sa'id] telah menceritakan kepada kami [Ayyub] dari [Ghailan bin Jarir] dari [Ziyad bin Riyyah] dari [Abu Hurairah] dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa berperang di bawah bendera kefanatikan & menyeru kepada fanatisme, atau marah karena fanatisme, maka matinya menyerupai mati jahiliyyah. [HR. ibnumajah No.3938].

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ الرَّبِيعِ الْيُحْمِدِيُّ عَنْ عَبَّادِ بْنِ كَثِيرٍ الشَّامِيِّ عَنْ امْرَأَةٍ مِنْهُمْ يُقَالُ لَهَا فُسَيْلَةُ قَالَتْ سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمِنَ الْعَصَبِيَّةِ أَنْ يُحِبَّ الرَّجُلُ قَوْمَهُ قَالَ لَا وَلَكِنْ مِنْ الْعَصَبِيَّةِ أَنْ يُعِينَ الرَّجُلُ قَوْمَهُ عَلَى الظُّلْمِ

Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abu Syaibah] telah menceritakan kepada kami [Ziyad bin Ar Rabi' Al Yuhmidi] dari ['Abbad bin Katsir As Syami] dari seorang wanita yang disebut dengan [Fusailah] ia berkata, "Aku mendengar [Ayahku] berkata, "Aku bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, 'Wahai Rasulullah, apakah termasuk dari ashabiyah (fanatik golongan) apabila ada seseorang yang mencintai kaumnya? ' Beliau menjawab: "Bukan, akan tetapi yg termasuk ashabiyah adl seseorang menolong kaumnya atas dasar kezhaliman. [HR. ibnumajah No.3939].

Jika demikian, pantaskah manusia selain Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk diikuti dan diteladani segala perkataan dan perbuatannya. Padahal telah nyata dalilnya yang jelas mengenai ketidaksuciannya mereka dari dosa-dosa. Tegasnya, andaikan ada seseorang selain Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata. Maka tidak akan terjamin mengenai benar atau salahnya, pun demikian perbuatannya. Benar dan salahnya tingkah laku dan ucapan seseorang itu mesti diukur dengan alqur’an dan sunnah. Jika sesuai dengan keduanya maka kebenaran itu landasan berpijaknya dan jika berselisih, batillah segala tingkah laku dan perkataannya.

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قَالَ: كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم أُرِيْدُ حِفْظَهُ فَنَهَتْنىِ قُرَيْشٌ وَ قَالُوْا أَ تَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ َتسْمَعُهُ وَ رَسُوْلُ اللهِ بَشَرٌ يَتَكَلَّمُ فىِ اْلغَضَبِ وَ الرِّضَا فَأَمْسَكْتُ عَنِ اْلكِتَابِ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَأَوْمَأَ بِاُصْبُعِهِ إِلىَ فِيْهِ فَقَالَ: اكْتُبْ فَوَ الَّذِي نَفْسِى بِيَدِهِ مَا َيخْرُجُ مِنْهُ وَ فى رواية: مَا خَرَجَ مِنْهُ و فى رواية: مَا خَرَجَ مِنىِّ إِلاَّ حَقٌّ

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhu berkata, “aku senantiasa mencatat (menulis) segala sesuatu yang aku dengar dari Rosulullah  Shallallahu alaihi wa sallam. Aku bertujuan untuk menghafalnya. Lalu orang-orang Quraisy melarangku dan berkata, “Apakah engkau selalu mencatat semua yang engkau dengar (darinya) sedangkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah seorang manusia yang berbicara dengan rasa marah dan senang”. Lalu akupun menghentikan dari mencatatnya. Maka aku ceritakan hal tersebut kepada Rosulullah  Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu Beliau berisyarat dengan jarinya ke mulutnya seraya bersabda, “Catatlah, demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggaman tangan-Nya, tidaklah keluar darinya (di dalam satu riwayat, tidaklah keluar dariku) kecuali kebenaran”. [HR Abu Dawud: 3646, Ahmad: II/ 162, 192, ad-Darimiy: I/ 125 dan al-Hakim].

Jika Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berbicara dan mengerjakan sesuatu pastilah suatu kebenaran, karena Beliau tidak pernah berbicara dan berbuat sesuatu itu dari dasar hawa nafsunya. Dan semua yang diucapkan ataupun yang dikerjakannya itu berdasarkan wahyu yang diwahyukan kepadanya (lihat QS. An-Najm/ 54: 3-4). Sehingga pantaslah jika kita sebagai umatnya untuk ashobiyah atau fanatik kepadanya. Namun selain Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, apakah dijamin setiap perkataan dan perbuatannya itu adalah kebenaran. Apalagi jika ia jauh dari bimbingan alqur’an dan sunnah serta pemahaman para ulama yang meniti jalan bersama Nabi  Shallallahu alaihi wa sallam dan para shahabat radliyallahu anhum?.

Oleh karena itulah, para Imam yang empat rahimahumullah telah mewasiatkan kaum muslimin supaya tidak taklid dan fanatik kepada mereka, namun meletakkan ittiba’ dan fanatik kepada Allah Subhanahu wa ta’ala (Alqur’an) dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam (hadits-haditsnya yang shahih), di dalam beberapa ucapan mereka berikut ini,

A. al-Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata,

1). Apabila aku berkata satu perkataan yang menyelisihi kitabullah (Alqur’an) dan khabar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam (hadits), maka tinggalkanlah perkataanku.

2). Tidak halal bagi seseorang untuk mengambil pendapat kami selama ia tidak mengetahui dari mana kami telah mengambilnya. ‎

3). Haram bagi seseorang yang tidak mengetahui dalilku untuk berfatwa dengan perkataanku. ‎

4). Celakalah engkau wahai Ya’kub (yaitu Abu Yusuf). Janganlah engkau selalu mencatat semua yang kamu dengar dariku. Karena aku pada hari ini berpendapat dengan suatu pendapat namun aku akan meninggalkannya esok. Atau aku esoknya berpendapat suatu pendapat lalu lusanya aku meninggalkannya pula.

5). Apabila hadits itu shahih maka ia adalah madzhab (pendirian)ku. (Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 46).

B. al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata,

1). Aku ini hanyalah manusia, bisa salah dan bisa juga benar. Oleh sebab itu perhatikanlah pendapatku itu dengan seksama. Maka semua yang sesuai dengan alqur’an dan sunnah maka ambillah. Dan semua yang tidak sesuai dengan Alqur’an dan sunnah maka tinggalkanlah.

2). Tidak ada seseorang sesudah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang diambil dan ditinggalkan kecuali Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. ‎

C. al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

1). Apabila kalian mendapatkan di dalam kitabku ada yang menyelisihi sunnah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam maka hendaklah kalian berkata dengan sunnah Rosulullah  Shallallahu alaihi wa sallam dan tinggalkan apa yang telah aku katakan. Di dalam satu riwayat: Maka ikutilah sunnah tersebut dan janganlah kalian berpaling kepada perkataan seseorang.

2). Kaum muslimin telah berijmak bahwasanya orang yang telah jelas baginya satu sunnah dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya lantaran pendapat seseorang.

3). Setiap persoalan yang telah shahih hadits tentangnya dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menurut ahli naql (ahli hadits) yang berselisih dengan apa yang kukatakan. Maka aku merujuk kepadanya di masa hidupku dan setelah kematianku.

4). Apabila kalian melihat aku mengatakan suatu perkataan sedangkan telah shahih dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang menyelisihinya maka ketahuilah bahwasanya telah hilang akalku. ‎

5). Semua yang kukatakan sedangkan yang shahih dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyelisihi ucapanku maka hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam adalah yang lebih utama. Janganlah kalian taklid kepadaku.

6). Semua hadits dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam adalah merupakan ucapanku meskipun kalian tidak mendengarnya dariku. ‎

D. al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata,

1). Janganlah kalian taklid kepadaku, jangan pula taklid kepada Malik, asy-Syafi’i, al-Awza’iy dan juga ats-Tsauriy. Tetapi ambillah dari arah mana mereka mengambil.

2). Pendapat al-Awza’iy, pendapat Malik dan pendapat Abu Hanifah, semuanya itu hanyalah pendapat. Di sisiku semuanya itu sama. Hujjah itu hanyalah ada pada atsar.

3). Berkata Abu Dawud, Aku pernah bertanya kepada Imam Ahmad, ”Apakah al-Awza’iy itu pengikut Imam Malik?”. Ia menjawab, ”Janganlah engkau taklid kepada seseorang dari mereka di dalam agamamu. Apa yang datang dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan para shahabatnya maka ambillah”. ‎

4).Sebahagian dari minimnya pemahaman seseorang terhadap agamanya adalah ia taklid kepada orang-orang di dalam agamanya. ‎

5). Barangsiapa yang menolak hadits Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam maka berarti ia berada di tepi jurang kebinasaan. ‎

Tiadakah hikmah dan faidah sabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan ucapan para imam tersebut bagi segenap umat Islam, khususnya para dai?. Sehingga masih terlihat gejala dan penyakit fanatik golongan ini pada mereka. Karena gejala dan penyakit fanatik golongan ini biasanya timbul dari sikap para dai yang menyeru dan mengajak umat ini kepada kefanatikan suatu golongan tertentu yang mereka anut. Belumkah mereka membaca nash-nash di atas ataukah mereka berpura-pura tidak tahu?. Gejala dan penyakit ashobiyah (fanatik golongan) ini biasanya dilahirkan pula oleh sikap kaum muslimin yang berlebih-lebihan terhadap ustadz, guru ataupun para imam mereka. Sehingga mereka berasumsi bahwa hanya ustadz dan imam mereka sajalah yang benar dan berhak untuk menyampaikan kebenaran. Sedangkan orang selainnya adalah tidak benar dan tidak pantas untuk menyampaikan kebenaran dan jikapun benar itupun harus seidzin dan sepengetahuan ustadz dan imam mereka, walaupun orang yang menyampaikannya itu benar-benar menyampaikan kebenaran dari alqur’an dan hadits yang shahih. Iblis la’natullah alaihi saja yang telah jelas kesesatannya mengatakan, ”Aku adalah termasuk orang-orang yang memberikan nasihat” (QS. al-A’raf/ 7: 21), ketika menggelincirkan nabi Adam alaihi as-Salam dan istrinya dari surga. Apalagi manusia yang merasa benar dan tidak mengetahui kesesatannya tentu dengan penuh keyakinan juga akan mengatakan, ”Aku adalah termasuk orang-orang yang memberikan nasihat dan yang menyampaikan kebenaran”. Takkan ada orang yang tahu akan aib dirinya sendiri jika tidak mengaca kepada cermin. Pun demikian tiada orang yang akan tahu akan kesalahan dan kesesatan dirinya jika ia tidak mau mengaca kepada kitabullah dan sunah Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam.

Fanatik atau ashobiyah golongan ini jika dibiarkan mengendap di dalam sanubari seseorang dari kelompok tersebut, maka sikap ini akan menimbulkan kesombongan dan kebanggan kepada kelompoknya tersebut. Dan tak aneh jika ada di antara mereka yang marah sebab membela kelompoknya lantaran ashobiyah, rela mati sebab mempertahankan ashobiyah dan ia akan berkata dengan pebuh kebanggaan kepada selainnya, ” ana khoirum minka” (aku lebih baik darimu) atau ”nahnu khoirum minkum” (kami lebih baik dari kalian). Tidakkah perkataannya itu sama dengan perkataan Iblis la’natullah alaihi ketika ia berkata, “ana khoirum minhu” (aku lebih baik darinya) (QS. Shaad/ 38: 76 dan QS. al-A’raf/ 7: 12 ). Padahal Allah Subhanahu wa ta’ala telah melarang seseorang hamba untuk mengatakan bahwa dirinya itulah yang terbaik, yang terpandai dan menganggap dirinya suci atau bersih dari kesalahan-kesalahan. Yakni firman-Nya, ”dan janganlah kalian menganggap diri kalian suci.” (QS. an-Najm/ 53: 32).

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: يَظْهَرُ اْلإِسْلاَمُ حَتىَّ تَخْتَلِفَ التُّجَّارُ فىِ اْلبَحْرِ وَ حَتىَّ تَخُوْضَ اْلخَيْلُ فىِ سَبِيْلِ اللهِ ُثمَّ يَظْهَرُ قَوْمٌ يَقْرَؤُوْنَ اْلقُرْآنَ يَقُوْلُوْنَ: مَنْ أَقْرَأُ مِنَّا ؟ مَنْ أَعْلَمُ مِنَّا ؟ مَنْ أَفْقَهُ مِنَّا؟ ثُمَّ قَالَ لِأَصْحَابِهِ: هَلْ فىِ أُوْلَئِكَ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالُوْا: َاللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ قَالَ: أُوْلَئِكَ مِنْكُمْ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ وَ أُوْلَئِكَ هُمْ وَقُوْدُ النَّارِ

Dari Umar bin al-Khoththob radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Islam itu akan unggul sehingga para pedagang akan berselisih di lautan, dan sehingga akan ada kuda yang berbicara pada jalan Allah. Kemudian akan muncul suatu kaum yang membaca alqur’an seraya berkata, “Siapakah orang yang paling pandai membaca (alqur’an) dari kami? Siapakah yang paling berilmu dari kami? Siapakah yang lebih mengerti hukum dari kami?”. Kemudian beliau bersabda kepada para shahabatnya, “Apakah pada mereka itu ada kebaikan?”. Mereka menjawab, “Allah dan rosul-Nya-lah lebih mengetahui. Beliau bersabda, “Mereka itu adalah dari golongan kalian dari umat ini dan mereka itu adalah bahan bakarnya neraka”. [HR ath-Thabraniy didalam al-Awsath dan al-Bazzar dengan sanad tiada cacat dengannya].

Masihkah diragukan lagi berita yang telah dibawa oleh utusan Allah ini, padahal berita tersebut adalah merupakan salah satu dari tanda-tanda kenabian yang akan berlaku dan terjadi di dunia ini. Bahwa akan akan ada di antara umat Islam ini yang membaca Alqur’an hanya untuk kebanggaan dan kesombongan belaka. Sehingga ia merasa bahwa dirinyalah yang paling pandai di dalam membaca Alqur’an, paling berilmu dan paling mengerti tentang hukum dari selainnya, sedangkan ia adalah merupakan bahan bakarnya neraka Jahannam. Ma’adzallah.

عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: لَيَظْهَرَنَّ اْلإِيْمَانُ حَتىَّ يُرَدُّ اْلكُفْرُ إِلىَ مَوَاطِنِهِ وَ لَتُخَاضَنَّ اْلبِحَارُ بِاْلإِسْلاَمِ وَ لَيَأْتِيَنَّ عَلىَ النَّاسِ زَمَانٌ يَتَعَلَّمُوْنَ فِيْهِ اْلقُرْآنَ يَتَعَلَّمُوْنَهُ وَ يَقْرَؤُوْنَهُ ُثمَّ يَقُوْلُوْنَ: قَدْ قَرَأْنَا وَ عَلِمْنَا فَمَنْ ذَا الَّذِي هُوَ خَيْرٌ مِنَّا ؟ فَهَلْ فىِ أُوْلَئِكَ مِنْ خَيْرٍ ؟ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: أُوْلَئِكَ مِنْكُمْ وَ أُوْلَئِكَ هُمْ وَقُوْدُ النَّارِ

Dari Abdullah bin Abbas radliyallahu anhuma dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Benar-benar akan tampak jelas keimanan itu, sehingga kekufuran akan dikembalikan ke tempat-tempatnya. Dan sungguh-sungguh akan diperbincangkan lautan itu dengan Islam. Dan benar-benar akan datang suatu masa atas manusia, yang pada masa tersebut mereka akan mempelajari alqur’an, mereka mempelajari dan membacanya, kemudian mereka akan berkata, ”Sungguh-sungguh kami telah membaca dan mengetahui, maka siapakah orang yang lebih baik dari kami? Maka apakah pada mereka itu ada kebaikan?”. Mereka bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Rosulullah?”. Beliau menjawab, “mereka itu adalah termasuk kalian dan mereka itu adalah bahan bakarnya api neraka”. [HR al-Imam ath-Thabraniy di dalam al-Kabir].

Dengan nash hadits ini belumkah cukup bagi mereka untuk menghentikan diri mereka dari mengagul-agulkan dan mengagung-agungkan diri sendiri dan bahkan menganggap bahwa hanya dirinyalah yang paling pandai dan paling benar. Padahal sebagaimana telah dijelaskan bahwa ukuran benar dan salah serta baik dan buruknya seseorang itu bukan di ukur dari penilaian manusia secara mayoritas. Tetapi yang menjadi barometer penentu bagi seseorang itu apakah berpijak kepada kebenaran ataukah kepada kebatilan dan apakah ia orang baik ataukah seorang yang buruk, itu adalah alqur’an dan sunnah yang telah tsabit dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Jika ia sesuai dengan keduanya, maka kepada kebenaran ia berpijak dan ia adalah orang yang shalih. Tetapi apabila ia menyelisihi keduanya maka kepada kebatilanlah ia berpihak dan ia adalah seorang yang thalih (buruk).

Singkatnya, seorang dai itu hanyalah berkewajiban mengajak umat Islam ini agar mereka beribadah dan mengabdi kepada Allah Subhanahu wa ta’ala semata untuk mendapatkan ampunan dan keridloan-Nya, dengan cara mengikuti dan menteladani petunjuk Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam melalui dua nara sumber umat Islam yaitu Alqur’an dan hadits-hadits shahih. Di sisi lain, iapun berkewajiban membongkar dan memerangi praktek-praktek bid’ah dan ashobiyah atau fanatik golongan yang terlarang menurut syariat. Lalu menerangkan sejelas-jelasnya kepada umat Islam mengenai bahaya dan akibatnya bagi orang-orang yang mengerjakannya dengan cara mengungkapkan illat (cacat)nya hadits-hadits lemah, palsu atau yang tidak ada asalnya yang dijadikan sandaran amalan orang-orang yang mengerjakannya, dan mengenai hal ini mesti merujuk kepada para ahli hadits. Atau meletakkan kembali kedudukan dari hadits-hadits shahih yang disalah-artikan atau diselewengkan dari pemahaman yang sebenarnya oleh sebahagian dari mereka untuk kepentingan pribadi atau golongannya. Hal tersebut biasanya disebabkan karena mereka lebih mendahulukan dan mengutamakan pendapatnya sendiri dan juga para pendahulu mereka yang sepaham, dengan menomorduakan bahkan meninggalkan penjelasan para ulama salafus shalih dari kalangan para shahabat, tabi’in dan atba’ut tabi’in yang mereka itu telah diabadikan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits-hadits terdahulu sebagai tiga generasi yang terbaik dari umat ini.

Tindakan lain yang mesti dilakukan oleh seorang dai adalah mengungkapkan dan memunculkan kembali hadits-hadits shahih yang disembunyikan dan dikubur rapat-rapat oleh mereka atau mungkin karena mereka memang tidak tahu dan buta terhadap hadits-hadits shahih tersebut dan mereka tidak mau tahu untuk mempelajarinya, sehingga sering dijumpai pada kebanyakan umat Islam ini bahkan para ustadz dan ustadzahnya yang tidak memahami arti dari hadits shahih, hasan, dla’if, maudlu dan munkar. Juga mereka tidak mengerti tentang pengertian bid’ah, ashobiyah, syirik, tauhid rububiyyah, uluhiyyah dan asma dan sifat, nifak, hijrah dan lain sebagainya secara jelas dan benar. Maka terjadilah ketentuan Allah Azza wa Jalla bahwa Islam itu akan kembali asing sebagaimana telah dikhabarkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam beberapa riwayat hadits berikut ini,

عن أبى هريرة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: بَدَأَ اْلإِسْلاَمُ غَرِيْبًا وَ سَيَعُوْدُ كَمَا بَدَأَ غَرِيْبًا فَطُوْبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Islam itu awalnya adalah asing dan akan kembali asing sebagaimana mulanya maka beruntunglah bagi orang-orang yang terasing”. [HR Muslim: 145 dan 146 dari Ibnu Umar, Ahmad: I/ 398 dari Ibnu Mas’ud, at-Turmudziy: 2629 dari Ibnu Mas’ud, 2630 dari Auf, Ibnu Majah: 3986 dari Abu Hurairah, 3987 dari Anas, 3988 dari dari Ibnu Mas’ud dan ad-Darimiy: II/ 311-312 dari Ibnu Mas’ud].

Di dalam satu riwayat, Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah orang-orang yang terasing itu wahai Rosulullah?”. Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang shalih ditengah-tengah rusaknya manusia”. [Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hadits ini dikeluarkan oleh Abu Amr ad-Daniy dari Ibnu Mas’ud dengan sanad yang shahih]. ‎

Berkata al-Allamah Ibnu Qoyyim al-Jauziyah rahimahullah, “Kaum mukminin itu minoritas di antara manusia, para ulama itu juga minoritas di antara kaum mukminin dan mereka juga minoritas di antara para ulama. Maka dari sebab itu, waspadalah terhadap tipuan ini yang telah menipu kaum bodoh. Karena mereka mengatakan, seandainya mereka di atas kebenaran maka tidak mungkin mereka itu menjadi kelompok yang tersedikit di antara manusia”, sedangkan manusia menyelisihi mereka.

Dari sebab itu, wahai saudara-saudaraku tercinta marilah kita mempelajari dan mengenal Islam yang telah menjadi agama kita dengan benar secara berkesinambungan. Dengan berpijak kepada alqur’an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang shahih melalui pemahaman para ulama salafush shalih (para shahabat, tabi’in dan Atba’ at-Tabi’in serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka). Jauhilah sifat dan sikap fanatik (ashobiyah) dan taklid kepada seseorang ataupun kelompok manapun karena hal tersebut akan memicu kepada perselisihan, pertikaian dan permusuhan di antara kita. Maka rugilah kita di dunia dan akhirat..

Doa Nabi Sulaiman Menundukkan Hewan dan Jin

  Nabiyullah Sulaiman  'alaihissalam  (AS) merupakan Nabi dan Rasul pilihan Allah Ta'ala yang dikaruniai kerajaan yang tidak dimilik...