Rabu, 20 Oktober 2021

Ketidakpatuhan Sebagai Akibat Kekalahan Pasukan Muslim Di Perang Uhud


Perang Uhud terjadi setelah suatu perang yang umat muslim mengalami kemenangan besar, yaitu Perang Badar. Dalam perang sebelumnya itu, Kaum Quraisy mengalami kekalahan telak karena jumlah mereka kurang lebih 1000 orang sedangkan yang dilawan hanya sepertiganya, maka Perang Uhud ini adalah ajang pembalasannya. 

Nabi Muhammad yang pada dasarnya telah mengkhawatirkan dan mengira akan adanya serangan balasan mendapat surat dari pamannya, Abbas yang menguatkan persangkaannya itu. Dikabarkan dalam surat tersebut, pasukan Quraisy yang berjumlah lebih dari tiga ribu orang telah berangkat menuju basis kaum muslim di Madinah. Waktu persiapan beliau hanya dua minggu sebelum pecahnya peperangan. 

Berdasarkan musyawarah yang digelar Nabi, diputuskanlah untuk bergerak keluar Madinah dan tidak hanya menunggu di dalam kota menerapkan strategi bertahan. Pengusul pendapat ini mayoritas adalah kaum muda yang tidak ikut pada Perang Badar didasari keinginginan memperoleh kemenangan serupa. 

Kala itu telah terkumpul pasukan sebanyak 1000 orang. Namun tiba-tiba, persis sebelum perang dimulai, salah seorang sahabat yaitu Abdullah ibnu Ubayy yang tidak sependapat dengan keputusan tersebut mengambil langkah mundur, beserta 300 orang yang di bawah komandonya. Abdullah ibnu Ubay telah mendapat label munafik karena berkali-kali melakukan pengkhianatan pada Nabi Muhammad. 

Pesan Nabi sebelum perang adalah agar para pemanah yang diposisikan di atas bukit tidak meninggalkan posnya apapun kondisinya, menang atau kalah. Tujuannya agar pasukan musuh tidak mengambil alih lokasi strategis yang bisa dengan leluasa menyerang musuh tersebut. Namun dari sinilah kekalahan umat muslim bermula.

Awal pertempuran berjalan baik. Pasukan Quraisy dapat dipukul mundur oleh pasukan pemanah muslim dari atas bukit. Pasukan Quraisy banyak yang berjatuhan, mereka kemudian mundur dengan meninggalkan tunggangan serta barang bawaan mereka. Kondisi ini dilihat sebagian pasukan muslim sebagai kemenangan yang jelas, serta rampasan perang telah memanggil-manggil mereka, termasuk sekitar 40 orang pemanah yang juga tergiur oleh harta yang tak bertuan tersebut. 

Khalid ibnu Walid yang kala itu belum bergabung bersama Islam, setelah menyaksikan pergerakan pasukan muslim segera mengomandoi pasukannya untuk menaiki bukit dan menyerang pasukan muslim dari situ. Serangan balik yang tak terduga itu menimbulkan keterceraian serta kekalutan. Sebagian masih melancarkan perlawanan namun tak tentu akan bergerak ke mana. 

Ketidakpatuhan pasukan pemanah ini menyebabkan pasukan Nabi Muhammad harus mundur. Tujuh puluh orang gugur dari pasukan Islam, sedangkan dari pasukan Quraisy hanya 20 orang. Kerugian lainnya adalah terjatuhnya Muhammad yang menyebabkan pipinya terluka oleh rantai dari penutup kepalanya sendiri, giginya pun tanggal satu. Beruntung beberapa sahabat sigap segera memapah beliau ke atas kuda agar dapat menyelamatkan diri.‎
Alloh Subhanahu Wata'ala Berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ (149) بَلِ اللَّهُ مَوْلَاكُمْ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ (150) سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ (151) وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ (152) إِذْ تُصْعِدُونَ وَلَا تَلْوُونَ عَلَى أَحَدٍ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ فِي أُخْرَاكُمْ فَأَثَابَكُمْ غَمًّا بِغَمٍّ لِكَيْلَا تَحْزَنُوا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا مَا أَصَابَكُمْ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (153)

Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kalian ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kalian orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allah-lah Pelindung kalian, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong. Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim. Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian, ketika kalian membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kalian lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai. Di antara kalian ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kalian ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian; dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kalian. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman. (Ingatlah) ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seseorang pun, sedangkan Rasul yang berada di antara kawan-kawan kalian yang lain memanggil kalian. Karena itu, Allah menimpakan atas kalian kesedihan atas kesedihan, supaya kalian jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari kalian dan terhadap apa yang menimpa kalian. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. (QS Ali Imran: 149-153) 

Allah Swt. memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman terhadap sikap menaati orang-orang kafir dan orang-orang munafik, karena sesungguhnya taat kepada mereka dapat mengakibatkan kehancuran dan kehinaan di dunia dan akhirat. Karena itulah Allah Swt. berfirman: 

{إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ}

jika kalian menaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kalian ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kalian orang-orang yang rugi. (Ali Imran: 149)

Selanjutnya Allah memerintahkan mereka agar taat kepada-Nya, berpihak kepada-Nya, membantu menegakkan agama-Nya, dan bertawakal kepada-Nya. Untuk itu Allah Swt. berfirman: 

{بَلِ اللَّهُ مَوْلاكُمْ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ}

Tetapi (ikutilah Allah), Allah-lah Pelindung kalian, dan Dialah sebaik-baik Penolong. (Ali Imran: 150)‎

Kemudian Allah Swt. menyampaikan berita gembira kepada mereka bahwa Dia akan menimpakan ke dalam hati musuh-musuh mereka rasa takut dan hina terhadap mereka, disebabkan kekufuran dan kemusyrikan musuh-musuh mereka. Selain itu Allah telah menyiapkan buat musuh-musuh mereka itu azab dan pembalasan di kampung akhirat nanti. Hal ini diungkapkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya: 

{سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنزلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ}

Akan kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim. (Ali Imran: 151)

Telah disebutkan di dalam kitab Sahihain sebuah hadis dari Jabir ibnu Abdullah, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: 

«أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ، وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا، وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ، وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً»

Aku telah diberi lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelumku, yaitu: Aku diberi pertolongan melalui rasa takut (yang ditimpakan ke dalam hati musuh) sejauh perjalanan satu bulan, dijadikan untukku tanah ini sebagai masjid (tempat salat) dan suci (lagi menyucikan), dihalalkan bagiku ganimah-ganimah (rampasan perang), aku diberi izin untuk meruberikan syafaat, dan dahulu seorang nabi diutus hanya khusus untuk kaumnya sendiri, sedangkan aku diutus untuk seluruh umat manusia.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عَدِيّ عَنْ سُلَيْمَانَ -يَعْنِي التَّيْمِيَّ-عَنْ سَيّار، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلم قال: "فَضَّلَني [رَبِّي] عَلَى الأنْبِيَاء -أَوْ قَالَ: عَلَى الأمَمِ-بأَرْبَعٍ" قَالَ "أُرْسِلْتُ إلَى النَّاسِ كَافَّةً وَجُعِلَتْ لِيَ الأرْضُ كُلُّهَا وَلأمَّتِي مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأيْنَمَا أدْرَكَتْ  رَجُلا مِنْ أُمَّتِي الصَّلاةُ فَعِنْدَهُ مَسْجِدُهُ و طَهُوُرهُ، ونُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَة شَهْرٍ يَقْذِفُهُ فِي قُلُوبِ أَعْدَائِي وأحَل لِيَ الغنائِم".

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Addi, dari Sulaiman At-Taimi, dari Sayyar, dari Abu Umamah, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Allah menjadikan aku lebih utama di atas para nabi —atau atas seluruh umat (manusia)— dengan empat perkara. Aku diutus untuk seluruh umat manusia; bumi seluruhnya dijadikan untukku dan umatku sebagai masjid dan suci (lagi menyucikan), maka di mana pun seseorang dari umatku menjumpai waktu salat, di tempat itulah masjid dan sarana bersucinya; aku diberi pertolongan melalui rasa takut yang mencekam hati musuh-musuhku dalam jarak perjalanan satu bulan; dan ganimah (rampasan perang) dihalalkan bagiku.

Imam Turmuzi meriwayatkannya melalui hadis Sulaiman At-Taimi, dari Yasar Al-Qurasyi Al-Umawi —maula mereka adalah Ad-Dimasyqi, penduduk kota Basrah—, dari Abu Umamah (yaitu Sada ibnu Ajlan r.a.) dengan lafaz yang sama, dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

قَالَ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ: أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْب، أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ: أَنَّ أَبَا يُونُسَ حَدَّثَهُ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ: "نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ عَلَى الْعَدُوِّ".

Sa'id ibnu Mansur mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Amr ibnul Haris, bahwa Abu Yunus telah menceritakan kepadanya, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Aku diberi pertolongan dengan melalui rasa takut yang mencekam musuh.
Imam Muslim meriwayatkannya dari hadis Ibnu Wahb.

وَرَوَى الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ أَبِي بُرْدَة، عَنْ أَبِيهِ  أَبِي مُوسَى قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أُعْطِيتُ خَمْسًا: بُعِثْتُ إلَى الأحْمَرِ وَالأسْوَدِ، وَجعلَتْ لِيَ الأرْض طَهُورًا ومَسْجِدًا، وأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِم وَلَمْ تَحِل لِمَنْ كَانَ قَبْلِي، ونُصِرْتُ بِالرُّعْبِ شَهْرًا، وأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ، وَلَيْسَ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا وَقَدْ سَأَل شَفَاعَتَهُ، وإنِّي اخْتَبَأتُ شَفَاعَتِي، ثُمَّ جَعَلْتُهَا لِمَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا".

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abu Ishaq, dari Abu Burdah, dari Abu Musa yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Aku dianugerahi lima perkara, yaitu aku diutus kepada orang yang berkulit merah dan hitam (seluruh umat manusia); tanah dijadikan untukku suci (lagi menyucikan) dan sebagai masjid; ganimah dihalalkan bagiku, sedangkan sebelumku ganimah tidak pernah dihalalkan buat seorang pun; aku diberi pertolongan dengan rasa takut (yang mencekam hati musuh) dalam jarak perjalanan satu bulan; aku diberi izin memberikan syafaat, tiada seorang nabi pun melainkan pernah meminta syafaat, dan sesungguhnya aku simpan syafaatku buat orang yang meninggal dunia dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun.
Hadis ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad sendiri.

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut. (Ali Imran: 151). Allah menimpakan rasa takut ke dalam hati Abu Sufyan (dalam Perang Ahzab, pent.), maka ia kembali ke Mekah (bersama pasukan bersekutunya). Lalu Nabi Saw. bersabda:

«إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ قَدْ أَصَابَ مِنْكُمْ طَرَفًا، وَقَدْ رَجَعَ وَقَذَفَ اللَّهُ فِي قَلْبِهِ الرُّعْبَ»

Sesungguhnya Abu Sufyan telah tertimpa suatu tekanan dari kalian; kini ia kembali, sedangkan Allah telah memasukkan rasa takut ke dalam hatinya.
Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Hatim. ‎
Firman Allah Swt.:

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ

Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian, ketika kalian membunuh mereka dengan izin-Nya. (Ali Imran: 152)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa Allah telah menjanjikan kepada kaum mukmin akan beroleh kemenangan. Menurut salah satu di antara dua pendapat yang disebut di muka, firman Allah Swt. yang mengatakan: 

إِذْ تَقُولُ لِلْمُؤْمِنِينَ أَلَنْ يَكْفِيَكُمْ أَنْ يُمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلاثَةِ آلافٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُنْزَلِينَ بَلى إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ آلافٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُسَوِّمِينَ

(Ingatlah) ketika kamu mengatakan kepada orang-orang mukmin, "Apakah tidak cukup bagi kalian Allah membantu kalian dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?" Ya (cukup), jika kalian bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kalian dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kalian dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda. (Ali Imran: 124-125)

menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi dalam Perang Uhud. Karena jumlah pasukan musuh mereka terdiri atas tiga ribu personel. Ketika pasukan kaum muslim menghadapi mereka, maka kemenangan dan keberuntungan berada di pihak pasukan Islam pada permulaan siang harinya. Tetapi setelah terjadi pelanggaran perintah yang dilakukan oleh pasukan pemanah kaum muslim dan sebagian pasukan kaum muslim merasa frustasi, maka janji ini ditangguhkan, karena syarat dari janji ini ialah hendaknya mereka sabar dalam menghadapi musuh dan taat kepada pimpinan (Nabi Saw.). Karena itu, dalam ayat ini disebutkan:

{وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ}

Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian. (Ali Imran: 152), 
Yakni pada permulaan siang hari. 

{إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ}

Ketika kalian membunuh mereka dengan izin-Nya.(Ali Imran: 152), 
Yaitu kalian dapat membunuh mereka dengan kekuasaan Allah yang diberikan kepada kalian terhadap mereka.

{حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ}

sampai pada saat kalian lemah. (Ali Imran: 152)
Ibnu Juraij mengatakan bahwa menurut Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan al-fasyl ialah frustasi atau menjadi pengecut.

{وَتَنَازَعْتُمْ فِي الأمْرِ وَعَصَيْتُمْ}

dan kalian berselisih dalam urusan itu dan kalian mendurhakai perintah (Rasul). (Ali Imran: 152), Seperti yang terjadi pada pasukan pemanah kaum muslim.

{مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ}

sesudah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai. (Ali Imran: 152) 
Yakni kemenangan yang kalian raih atas mereka.

{مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا}

Di antara kalian ada orang yang menghendaki dunia.  (Ali Imran: 152) 
Mereka adalah orang-orang yang menginginkan dapat ganimah setelah melihat pasukan musuh terpukul mundur.

{وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الآخِرَةَ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ}

dan di antara kalian ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian. (Ali Imran: 152) 
Kemudian Allah memberikan kesempatan menang kepada mereka atas kalian untuk menguji dan mencoba kalian.

{وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ}

dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kalian. (Ali Imran: 152) 

Yakni mengampuni kalian atas perbuatan kalian yang demikian itu, karena —hanya Allah Yang lebih mengetahui— jumlah personel pasukan musuh dan peralatan mereka lebih banyak, sedangkan pasukan kaum muslim dan peralatannya sedikit.

Ibnu Juraij mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kalian. (Ali Imran: 152) Yaitu dengan tidak memusnahkan kalian. Hal yang sama dikatakan pula oleh Muhammad ibnu Ishaq; kedua riwayat ini diceritakan oleh Ibnu Jarir.

{وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ}

Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman. (Ali Imran: 152)
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ أخبرنا عبد الرحمن ابن أَبِي الزِّنَادِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عُبَيد اللَّهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ: مَا نَصَرَ اللَّهُ فِي مَوْطِن كَمَا نَصَرَهُ يَوْمَ أُحُدٍ. قَالَ: فَأَنْكَرْنَا ذَلِكَ، فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: بَيْنِي وَبَيْنَ مَنْ أَنْكَرَ ذَلِكَ كتابُ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ فِي يَوْمِ أُحُدٍ: {وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ} يَقُولُ ابْنُ عَبَّاسٍ: والحَسُّ: الْقَتْلُ {حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الأمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الآخِرَةَ} الْآيَةَ وَإِنَّمَا عَنَى بِهَذَا الرُّمَاةَ، وَذَلِكَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقَامَهُمْ فِي مَوْضِعٍ، ثُمَّ قَالَ: "احْمُوا ظُهُورَنَا، فَإنْ رَأيْتُمُونَا نُقْتَلُ فَلا تَنْصُرُونَا وَإنْ رَأَيْتُمُونَا قَدْ غَنِمْنَا فَلا تُشْرِكُونَا. فَلَمَّا غَنِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وأباحُوا عَسْكَرَ الْمُشْرِكِينَ أَكَبَّتِ الرُّماة جَمِيعًا [وَدَخَلُوا] فِي الْعَسْكَرِ يَنْهَبُونَ، وَلَقَدِ الْتَقَتْ صُفُوفُ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَهُم هَكَذَا -وَشَبَّكَ بَيْنَ يَدَيْهِ-وَانْتَشَبُوا، فَلَمَّا أَخَلَّ الرُّمَاةُ تِلْكَ الْخَلَّةِ الَّتِي كَانُوا فِيهَا، دَخَلَتِ الْخَيْلُ مِنْ ذَلِكَ الْمَوْضِعِ عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَضَرَبَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا وَالْتَبُسُوا، وقُتل من المسلمين ناس كَثِيرٌ، وَقَدْ كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ أَوَّلَ النَّهَارِ، حَتَّى قُتِل مِنْ أَصْحَابِ لِوَاءِ الْمُشْرِكِينَ سَبْعَةٌ أَوْ تسعةٌ، وَجَالَ الْمُسْلِمُونَ جَوْلَةً نَحْوَ الْجَبَلِ وَلَمْ يَبْلُغُوا -حَيْثُ يَقُولُ النَّاسُ-الْغَارَ، إِنَّمَا كَانَ تَحْتَ المِهْراس، وَصَاحَ الشَّيْطَانُ: قُتل مُحَمَّدٌ، فَلَمْ يُشَك فِيهِ أَنَّهُ حَقٌّ، فَمَا زِلْنَا كَذَلِكَ مَا نَشُك أَنَّهُ حَقٌّ، حَتَّى طَلَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ السَّعْدَيْنِ، نَعْرِفُهُ بِتَلَفُّتِهِ إِذَا مَشَى -قَالَ: فَفَرِحْنَا حَتَّى كَأَنَّهُ لَمْ يُصِبْنَا مَا أَصَابَنَا-قَالَ: فَرَقِيَ نَحْوَنَا وَهُوَ يَقُولُ: "اشْتَدَّ غَضَبَ اللهِ عَلَى قَوْمٍ دَمَّوْا وَجْهَ رَسُولِ اللهِ". وَيَقُولُ مَرَّةً أُخْرَى: "اللَّهم إِنَّهُ لَيْسَ لَهم أنْ يَعْلُونَا". حَتَّى انْتَهَى إِلَيْنَا، فَمَكَثَ سَاعَةً، فَإِذَا أَبُو سُفْيَانَ يَصِيحُ فِي أَسْفَلِ الْجَبَلِ: اعْلُ هُبَلُ، مَرَّتَيْنِ -يَعْنِي آلِهَتَهُ-أَيْنَ ابْنُ أَبِي كَبْشة؟ أَيْنَ ابْنُ أَبِي قحَافة؟ أَيْنَ ابْنُ الْخَطَّابِ؟ فَقَالَ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَا أُجِيبَهُ؟ قَالَ: "بَلَى" قَالَ: فَلَمَّا قَالَ: اعْلُ هُبَلُ. قَالَ عُمَرُ: اللَّهُ أَعْلَى وَأَجَلُّ. فَقَالَ أَبُو سُفْيَانَ: قَدْ أَنْعَمَتْ عَيْنُهَا فعَادِ عَنْهَا أَوْ: فَعَالِ! فَقَالَ: أَيْنَ ابْنُ أَبِي كَبْشَةَ؟ أَيْنَ ابْنُ أَبِي قُحَافة؟ أَيْنَ ابْنُ الْخَطَّابِ؟ فَقَالَ عُمَرُ: هَذَا رَسُولُ اللَّهِ، وَهَذَا أَبُو بَكْرٍ، وَهَا أَنَا ذَا عُمَرُ. قَالَ: فَقَالَ أَبُو سُفْيَانَ: يَوْمٌ بِيَوْمِ بَدْرٍ، الْأَيَّامُ دُوَل، وَإِنَّ الْحَرْبَ سِجَال. قَالَ: فَقَالَ عُمَرُ: لَا سَوَاءً، قَتْلَانَا فِي الْجَنَّةِ وَقَتْلَاكُمْ فِي النَّارِ. قَالَ إِنَّكُمْ تَزْعُمُونَ ذَلِكَ، لَقَدْ خِبْنا إِذًا وخَسِرْنا ثُمَّ قَالَ أَبُو سُفْيَانَ: إِنَّكُمْ سَتَجِدُونَ فِي قَتْلَاكُمْ مُثْلَةً وَلَمْ يَكُنْ ذَلِكَ عَلَى رَأْيِ سُرَاتِنَا. قَالَ: ثُمَّ أدركَتْه حَمِيَّة الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ: أَمَا إِنَّهُ إِنْ كَانَ ذَلِكَ لَمْ نَكْرهْه.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Daud, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Abuz Zanad, dari ayahnya, dari Ubaidillah, dari Ibnu Abbas, yang mengatakan bahwa Allah belum pernah menolong Nabi Saw. seperti pertolongan-Nya dalam Perang Uhud. Ketika kami mengingkari hal tersebut, maka Ibnu Abbas berkata bahwa ia berani bersumpah atas nama Kitabullah antara dirinya dan orang yang mengingkari hal tersebut. Karena sesungguhnya dalam Perang Uhud Allah Swt. telah berfirman: Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian, ketika kalian membunuh mereka dengan izin-Nya. (Ali Imran: 152); Ibnu Abbas dan Al-Hasan mengatakan sehubungan dengan makna al-fasylyang ada dalam firman-Nya: sampai pada saat kalian lemah dan berselisih pendapat dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai. Di antara kalian ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kalian ada orang yang menghendaki akhirat. (Ali Imran: 152), hingga akhir ayat. Yang dimaksud dengan 'kalian' dalam ayat ini adalah pasukan pemanah, karena Nabi Saw. menempatkan mereka dalam suatu posisi yang sangat strategis, lalu beliau bersabda:Lindungilah punggung kami; jika kalian melihat kami terpukul, janganlah kalian membantu kami; dan jika kalian melihat kami menjarah ganimah, janganlah kalian ikut-ikutan dengan kami (yakni tetaplah kalian pada posisi kalian dalam keadaan apa pun). Tetapi ketika Nabi Saw. dan pasukannya berhasil menjarah ganimah dan menyingkirkan pasukan kaum musyrik, maka semua pasukan pemanah turun ke medan pertempuran, ikut menjarah ganimah. Ketika pasukan kaum musyrik melihat posisi pasukan pemanah telah dikosongkan, maka pasukan berkuda kaum musyrik masuk dari celah tersebut dan menyerang sahabat-sahabat Rasulullah Saw. sehingga terjadilah perang sengit; sebagian mereka memukul sebagian yang lain karena dalam keadaan kalut, sehingga banyak dari kalangan pasukan kaum muslim yang terbunuh. Padahal pada awal pertempuran, kemenangan berada di pihak pasukan Rasulullah Saw. sehingga mampu membunuh sekitar tujuh atau sembilan orang pasukan kaum musyrik yang memegang panji. Kemudian pasukan kaum musyrik beroleh kemenangan dan maju ke arah bukit, tetapi mereka tidak mampu sampai ke bukit karena orang-orang mengatakan bahwa pasukan kaum muslim berada di dalam posisi kuat. Lalu setan berseru bahwa Muhammad telah terbunuh, dan mereka tidak meragukan kebenaran seruan tersebut. Kami (pasukan kaum muslim) masih tetap dalam keadaan tidak meragukan bahwa berita itu benar sebelum Rasulullah Saw. muncul dengan diapit oleh dua Sa'd; beliau kami kenal melalui kedua pundaknya apabila berjalan. Maka kami gembira sehingga kami merasakan bahwa seakan-akan kami tidak tertimpa bencana yang sekarang menimpa diri kami. Lalu Rasulullah Saw. naik ke arah kami seraya bersabda: Murka Allah sangat keras terhadap kaum yang berani melukai wajah Rasulullah. Terkadang beliau bersabda:Mereka tidak akan dapat mengalahkan kita. Ketika beliau Saw. sampai pada kami, maka beliau tinggal sesaat. Tiba-tiba Abu Sufyan berseru dari arah bawah bukit, "Tinggilah Hubal," sebanyak dua kali menyebut nama berhala sesembahannya, "Di manakah Ibnu Abu Kabsyah (maksudnya Nabi Saw.), di manakah Ibnu Abu Quhafah, di manakah Ibnul Khattab?" Maka Umar r.a. berkata, "Wahai Rasulullah, bolehkah aku menjawabnya?" Nabi Saw. bersabda, "Ya." Ketika Abu Sufyan menyerukan kalimat, "Tinggilah Hubal," maka Umar r.a. menjawab, "Allah Mahatinggi lagi Mahaagung." Abu Sufyan berkata, "Kamu telah enak sekarang?" Umar menjawab, "Karena meninggalkannya (Hubal)." Abu Sufyan kembali berkata, "Di manakah Ibnu Abu Kabsyah, di manakah Ibnu Abu Quhafah, di manakah Ibnul Khattab?" Umar berkata, "Inilah Rasulullah, ini Abu Bakar, dan inilah aku, Umar." Abu Sufyan berkata, "Kemenangan hari ini adalah pembalasan kekalahan dalam Perang Badar, hari-hari itu bergilir dan sesungguhnya perang itu silih berganti." Umar menjawab, "Tidak sama. Orang-orang kami yang gugur berada di dalam surga, sedangkan orang-orang kalian yang gugur berada di dalam neraka." Abu Sufyan berkata, "Itu hanyalah menurut dugaan kalian. Kalau demikian, berarti kami kecewa dan merugi." Lalu Abu Sufyan berkata lagi, "Sesungguhnya kalian nanti akan menemukan di antara orang-orang kalian yang gugur ada yang dicincang, tetapi hal tersebut bukan keluar dari pendapat pemimpin-pemimpin kami." Kemudian hati Abu Sufyan terbakar oleh fanatisme Jahiliah, lalu ia berkata lagi, "Ingatlah, jika hal tersebut terjadi, kami tidak membencinya (yakni menyetujuinya)."

Hadis ini garib, dan konteksnya mengherankan, ia termasuk salah satu di antara hadis mursal ibnu Abbas, karena sesungguhnya dia tidak ikut dalam Perang Uhud, baik dia sendiri ataupun ayahnya.

Imam Hakim mengetengahkannya di dalam kitab Mustadrak, dari Abun Nadr Al-Faqih, dari Usman ibnu Sa'id, dari Sulaiman ibnu Daud ibnu Ali ibnu Abdullah ibnu Abbas dengan lafaz yang sama.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Imam Baihaqi dalam kitab Dalailun Nubuwwah melalui hadis Sulaiman ibnu Daud Al-Hasyimi dengan lafaz yang sama. Sebagian dari hadis ini ada saksi penguatnya di dalam kitab-kitab sahih dan kitab lainnya.

حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، حَدَّثَنَا عَطَاءُ بْنُ السَّائِبِ عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: إِنَّ النِّسَاءَ كُنَّ يَوْمَ أُحُدٍ، خلْف الْمُسْلِمِينَ، يُجْهزْن عَلَى جَرْحى الْمُشْرِكِينَ، فَلَوْ حَلَفت يَوْمَئِذٍ رَجَوْتُ أَنْ أبَر: أَنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنَّا يُرِيدُ الدُّنْيَا، حَتَّى أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: {مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الآخِرَةَ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ} فَلَمَّا خَالَفَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وعَصَوا مَا أُمِرُوا بِهِ، أُفْرِدَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي تِسْعَةٍ: سَبْعَةٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، وَرَجُلَيْنِ مِنْ قُرَيْشٍ، وَهُوَ عَاشِرُهُمْ، فَلَمَّا رهقُوه [قَالَ: "رَحِمَ اللهُ رَجُلًا رَدَّهُمْ عَنَّا". قَالَ: فَقَامَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ فَقَاتَلَ سَاعَةً حَتَّى قُتِلَ، فَلَمَّا رَهقُوه] أَيْضًا قَالَ: "رَحِمَ اللهُ رَجُلا رَدَّهُمْ عَنَّا". فَلَمْ يَزَلْ يَقُولُ ذَا حَتَّى قُتِل السَّبْعَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِصَاحِبِهِ: "مَا أَنْصَفْنَا أَصْحَابَنَا".فَجَاءَ أَبُو سُفْيَانَ فَقَالَ: اعْلُ هُبَلُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "قُولُوا: اللهُ أعْلَى وأجَلُّ". فَقَالُوا: اللَّهُ أَعْلَى وَأَجَلُّ. فَقَالَ أَبُو سُفْيَانَ: لَنَا العُزَّى وَلَا عُزَّى لَكُمْ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قُولُوا: "اللهُ مَوْلانَا، وَالْكَافِرُونَ لَا مَوْلَى لَهُم". ثُمَّ قَالَ أَبُو سُفْيَانَ: يومٌ بيوْم بَدْر، يومٌ عَلَيْنَا وَيَوْمٌ لَنَا وَيَوْمٌ نُسَاءُ وَيَوْمٌ نُسَر. حَنْظَلَةَ بِحَنْظَلَةَ، وَفُلَانٌ بِفُلَانٍ، وَفُلَانٌ بِفُلَانٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَا سَوَاء. أمَّا قَتْلانَا فَأْحَيْاءٌ يُرْزَقُونَ، وَقْتَلاكُمْ فِي النَّارِ يُعَذَّبُونَ". قَالَ أَبُو سُفْيَانَ: قَدْ كَانَ فِي الْقَوْمِ مَثُلَةٌ، وإنْ كانَتْ لَعَنْ غَيْرِ مَلأ منَّا، مَا أمرتُ وَلَا نَهَيْتُ، وَلَا أحْبَبْتُ وَلَا كَرِهتُ، وَلَا سَاءَنِي وَلَا سرَّني. قَالَ: فَنَظَرُوا فَإِذَا حمزةُ قَدْ بُقِرَ بَطْنُه، وأخذتْ هنْد كَبده فلاكَتْها فَلَمْ تَسْتَطِعْ أَنْ تَأْكُلَهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أكَلَتْ شَيْئًا؟ " قَالُوا: لَا. قَالَ: "مَا كَانَ اللهُ ليُدْخِلَ شَيْئًا مِنْ حَمْزَةَ فِي النَّارِ". قَالَ: فَوَضَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَمْزَةَ فَصَلَّى عَلَيْهِ، وَجِيء بِرَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ فَوُضِع إِلَى جَنْبِهِ فصلَّى عَلَيْهِ، فَرُفِعَ الْأَنْصَارِيُّ وتُرِكَ حَمْزَةُ، ثُمَّ جِيءَ بِآخَرٍ فوضعَه إِلَى جَنْبِ حَمْزَةَ فَصَلَّى [عَلَيْهِ] ثُمَّ رُفِعَ وتُرِكَ حَمْزَةُ، حَتَّى صلَّى عَلَيْهِ يَوْمَئِذٍ سَبْعِينَ صَلَاةً.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Ata ibnus Saib, dari Asy-Sya'bi, dari Ibnu Mas'ud yang menceritakan bahwa kaum wanita dalam Perang Uhud berada di belakang pasukan kaum muslim, tugas mereka mengobati orang-orang yang terluka dari pasukan kaum musyrik. Seandainya aku bersumpah pada hari itu aku berharap dapat menunaikannya, bahwa tidak ada seorang pun di antara kami yang menghendaki duniawi hingga Allah menurunkan firman-Nya: Di antara kalian ada yang menghendaki dunia dan di antara kalian ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian. (Ali Imran: 152) Ketika sahabat-sahabat Rasulullah Saw. melanggar apa yang diperintahkan kepada mereka oleh Rasulullah Saw., maka beliau Saw. menyendiri bersama sembilan orang; tujuh orang dari kalangan Ansar dan yang dua orang lain dari kalangan Quraisy, sedangkan Nabi Saw. adalah orang yang kesepuluhnya. Ketika Nabi Saw. melihat bahwa mereka mengejar beliau, maka beliau bersabda:Semoga Allah merahmati seseorang yang dapat mengusir mereka (pasukan musuh) dari kami.Maka salah seorang Ansar maju bertempur selama sesaat hingga ia gugur. Ketika mereka masih mengejar beliau, maka beliau bersabda pula:Semoga Allah merahmati orang yang dapat mengusir mereka dari kami. Nabi Saw. terus-menerus mengucapkan demikian hingga tujuh orang yang melindungi dirinya gugur, lalu Rasulullah Saw. bersabda kepada kedua temannya yang masih ada, "Kita tidak berbuat adil terhadap teman-teman kita." Lalu Abu Sufyan tampil dan berkata, "Tinggilah Hubal!" Rasulullah Saw. bersabda, "Katakanlah bahwa Allah Mahatinggi dan Mahaagung." Maka mereka mengatakan, "Allah Mahatinggi dan Mahaagung." Abu Sufyan berkata, "Kami mempunyai Uzza (yang artinya identik dengan pengertian kejayaan), sedangkan kalian tidak mempunyai Uzza (berhala sesembahan mereka)." Maka Rasulullah Saw. bersabda, "Jawablah oleh kalian, Penolong kami adalah Allah, dan orang-orang kafir tidak mempunyai penolong." Abu Sufyan berkata, "Perang ini pembalasan Perang Badar, sehari kekalahan kami dan hari yang lain kemenangan kami, hari Nasa dan hari Nasar, Hanzalah dibalas dengan Hanzalah (kepahitan dibalas dengan kepahitan), dan si Fulan dibalas dengan si Fulan." Maka Rasulullah Saw. menjawab: Tidak sama. Adapun orang-orang kami yang gugur, mereka hidup dengan diberi rezeki, sedangkan orang-orang yang gugur dari kalian berada di dalam neraka dan diazab. Maka Abu Sufyan berkata.”Sesungguhnya di antara kaum yang gugur terdapat pencincangan. Dan jika hal itu memang ada, maka kami bersikap acuh terhadapnya. Aku tidak memerintahkan dan tidak pula melarang, aku tidak suka dan tidak pula benci, serta tidak membuatku sedih dan tidak membuatku senang." Maka kaum muslim melihat-lihat, dan ternyata menjumpai Hamzah dalam keadaan perutnya telah dirobek. Hindun mengambil hatinya, lalu berupaya menelannya, tetapi ia tidak mampu memakannya. Ketika Rasulullah Saw. bertanya, "Apakah dia telah memakan sesuatu?" Mereka menjawab, "Tidak." Maka Rasulullah Saw. bersabda: Allah tidak akan memasukkan sesuatu dari (tubuh) Hamzah ke dalam neraka. Lalu Rasulullah Saw. meletakkan jenazah Hamzah dan menyalatkannya. Lalu didatangkan jenazah seorang lelaki dari Ansar yang langsung diletakkan di sebelah jenazah Hamzah, kemudian beliau menyalatkannya. Jenazah orang Ansar itu diangkat, tetapi jenazah Hamzah tidak; hingga didatangkan lagi jenazah lainnya, lalu diletakkan di sebelah jenazah Hamzah, dan Rasulullah Saw. menyalatkannya. Setelah selesai, jenazah lain diangkat, tetapi jenazah Hamzah tidak, hingga dalam hari itu Rasulullah Saw. menyalatkan tujuh puluh jenazah.
Hadis ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad seorang.

قَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا عُبَيد اللَّهِ بْنُ مُوسَى، عَنْ إِسْرَائِيلَ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ: عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ: لَقِينَا الْمُشْرِكِينَ يَوْمَئِذٍ، وأجْلَس النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَيْشا مِنَ الرُّماة، وأمَّر عَلَيْهِمْ عَبْدَ اللَّهِ -يَعْنِي ابْنَ جُبَيْر-وَقَالَ: "لَا تَبْرَحُوا إنْ رأيْتُمُونَا ظَهَرْنَا عَلَيْهِمْ فَلا تَبْرَحُوا، وإنْ رَأَيْتُمُوهُمْ ظَهَرُوا عَلَيْنَا فَلا تُعِينُونَا". فَلَمَّا لَقِينَاهُمْ هربُوا، حَتَّى رَأَيْنَا النِّسَاءَ يَشْتَددْنَ فِي الْجَبَلِ، رَفَعْنَ عَنْ سُوقهن، وَقَدْ بَدَتْ خَلاخلهن، فَأَخَذُوا يَقُولُونَ: الغنيمةَ الغَنيمة. فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ: عَهدَ إِلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَّا تَبْرَحُوا. فأبَوْا، فَلَمَّا أبَوْا صَرَفَ وُجُوهَهُمْ، فأُصِيب سَبْعُونَ قَتِيلًا فَأَشْرَفَ أَبُو سُفْيَانَ فَقَالَ: أَفِي الْقَوْمِ مُحَمَّدٌ؟ فَقَالَ: "لَا تُجِيبُوهُ". فَقَالَ: أَفِي الْقَوْمِ ابْنُ أَبِي قُحَافَةَ؟ فَقَالَ: "لَا تُجِيبُوهُ". فَقَالَ: أَفِي الْقَوْمِ ابْنُ الْخَطَّابِ؟ فَقَالَ: إِنْ هَؤُلَاءِ قَدْ قُتِلوا، فَلَوْ كَانُوا أَحْيَاءً لَأَجَابُوا. فَلَمْ يَمْلِكْ عُمَرُ نَفْسَهُ فَقَالَ: كَذَبْتَ يَا عَدَوَّ اللهِ، قَدْ أَبْقَى اللَّهُ لَكَ مَا يُحزِنكَ فَقَالَ أَبُو سُفْيَانَ: اعْل هُبَل. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أجِيبُوهُ". قَالُوا: مَا نَقُولُ؟ قَالَ: "قُولُوا: اللَّهُ أعْلَى وأجَلُّ". فَقَالَ أَبُو سُفْيَانَ: لَنَا العُزَّى وَلَا عُزَّى لَكُمْ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أجِيبُوهُ". قَالُوا: مَا نَقُولُ؟ قَالَ: "قُولُوا: اللهُ مَوْلانَا، وَلا مَوْلَى لَكُمْ". قَالَ أَبُو سُفْيَانَ: يَوْمٌ بِيَوْمِ بَدْرٍ، وَالْحَرْبُ سِجَال، وَتَجِدُونَ مَثُلَةً لَمْ آمُرْ بِهَا وَلَمْ تَسُؤْنِي.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Musa, dari Israil, dari Abu Ishaq, dari Al-Barra yang menceritakan bahwa pada hari itu kami bersua dengan pasukan kaum musyrik, lalu Nabi Saw. menempatkan sepasukan pemanah (pada posisi yang strategis), dan mengangkat Abdullah ibnu Jubair sebagai pemimpin (komandan) mereka, lalu beliau Saw. bersabda: Janganlah kalian tinggalkan posisi ini; jika kalian melihat kami memperoleh kemenangan atas mereka (musuh), kalian telap jangan meninggalkan ternpat ini. Dan juga jika kalian melihat mereka beroleh kemenangan atas kami, janganlah kalian membantu kami. Ketika kami bertempur dengan mereka dan mereka lari hingga aku melihat kaum wanita (musyrik) menaiki bukit seraya mengangkat kain mereka hingga gelang kaki mereka kelihatan. Maka pasukan kaum muslim berseru, "Ganimah, ganimah!" Abdullah ibnu Jubair berkata, "Ingatlah kalian kepada pesan Nabi Saw., jangan sekali-kali kalian meninggalkan posisi ini!" Tetapi mereka menolak (dan tetap turun merebut ganimah). Setelah mereka membangkang, perhatian mereka berpaling (ke arah ganimah), akibatnya tujuh puluh orang dari pasukan kaum muslim gugur di medan perang. Lalu muncullah Abu Sufyan dan berkata, "Apakah di antara kaum ada Muhammad?" Nabi Saw. bersabda, "Jangan kalian jawab dia." Abu Sufyan berkata lagi, "Apakah di antara kaum ada Abu Quhafah?" Nabi Saw. bersabda, "Jangan kalian jawab dia." Abu Sufyan berseru lagi, "Apakah di antara kaum ada Ibnul Khattab?" Karena tidak ada yang menjawab, akhirnya Abu Sufyan mengatakan, "Sesungguhnya mereka telah terbunuh. Seandainya mereka masih hidup, niscaya mereka akan menjawab seruanku ini." Tetapi Umar tidak dapat menahan dirinya, maka ia berkata kepada Abu Sufyan, "Engkau dusta, hai musuh Allah! Semoga Allah mengekalkan apa yang menyusahkanmu." Abu Sufyan berkata, "Tinggilah Hubal." Nabi Saw. bersabda, "Jawablah dia." Mereka (para sahabat) bertanya, "Apa yang harus kami katakan?" Nabi Saw. bersabda,"Katakanlah oleh kalian bahwa Allah Mahatinggi lagi Mahaagung." Abu Sufyan berkata, "Kami mempunyai Uzza (kejayaan), sedangkan kalian tidak mempunyai Uzza" Nabi Saw. bersabda, "Jawablah dia." Mereka bertanya, "Apa yang harus kami katakan?" Nabi Saw. bersabda: Katakanlaholeh kalian bahwa Allah adalah Penolong kami, sedangkan kalian tidak mempunyai penolong. Abu Sufyan berkata, "Perang hari ini pembalasan Perang Badar. peperangan itu silih berganti, dan kalian akan menjumpai orang yang tercincang, tetapi aku tidak memerintahkannya dan tidak pula membuatku sedih (susah)."

Dari segi ini hadis hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari sendiri. Kemudian Imam Bukhari meriwayatkannya melalui Amr ibnu Khalid, dari Zuhair ibnu Mu'awiyah ibnu Abu Ishaq, dari Al-Barra dengan lafaz yang semisal. Nanti akan disebutkan hal yang lebih panjang lebar dari pembahasan ini.

Imam Bukhari mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Siti Aisyah r.a. yang menceritakan bahwa dalam peperangan Uhud ketika pasukan kaum musyrik terpukul mundur, iblis berseru, "Hai hamba-hamba Allah, mundurlah kalian ke belakang!" Maka pasukan yang terdepan mundur ke belakang hingga bertubrukan dengan pasukan yang berada di belakang (terlibat dalam pertempuran di antara sesama kawan). Dalam pertempuran itu tiba-tiba Huzaifah melihat ayahnya, yaitu Al-Yaman. Maka ia berseru, "Hai hamba-hamba Allah, dia adalah ayahku, dia adalah ayahku!" Akan tetapi, demi Allah, mereka tidak mempedulikannya hingga membunuhnya. Maka Huzaifah berkata, "Semoga Allah mengampuni kalian." Urwah mengatakan, "Demi Allah, di dalam diri Huzaifah masih ada lebihan kebaikan hingga ia bersua dengan Allah Swt."

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yahya ibnu Abbad ibnu Abdullah ibnuz Zubair, dari kakeknya, bahwa Az-Zubair ibnul Awwam pernah menceritakan kisah berikut.”Demi Allah, aku melihat pelayan-pelayan Hindun dan semua teman wanitanya lari terbirit-birit seraya menyingsingkan kain mereka dengan meninggalkan semua barang bawaan mereka, baik yang banyak maupun yang sedikit. Kemudian pasukan pemanah menyerbu ke arah medan perang di saat kami mencegah mereka supaya jangan meninggalkan tempat mereka. Tetapi mereka tidak mengindahkan cegahanku demi merebut ganimah. dan mereka membiarkan kami pasukan kaum muslim tidak terlindungi dari arah belakang dari pasukan berkuda kaum musyrik. Kami diserang oleh pasukan berkuda dari arah belakang, ada seseorang yang menyerukan bahwa Muhammad telah terbunuh. Kami mundur, dan semua kaum pun (pasukan kaum muslim) mundur, padahal sebelumnya kami banyak membunuh para pemegang panji pasukan kaum musyrik, hingga tidak ada seorang pun dari mereka yang berani mendekat kepadanya." Muhammad ibnu Ishaq melanjutkan kisahnya, bahwa pemegang panji pasukan kaum musyrik satu demi satu mati terbunuh hingga panji mereka dipegang oleh Amrah binti Alqamah Al-Harisiyyah, lalu ia menyerahkan panji itu kepada kabilah Quraisy, dan mereka langsung melipatnya.

As-Saddi meriwayatkan dari Abdu Khair, dari Ali ibnu Abdullah ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa ia sama sekali belum pernah berpendapat bahwa ada seseorang di antara sahabat Rasulullah Saw. yang menghendaki duniawi sebelum diturunkan kepada kami apa yang diturunkan oleh Allah dalam Perang Uhud, yaitu firman-Nya: Di antara kalian ada orang yang menghendaki dunia. dan di antara kalian ada orang yang menghendaki akhirat. (Ali Imran: 152)

Hadis ini diriwayatkan melalui berbagai jalur dari Ibnu Mas'ud. Hal yang sama diriwayatkan dari Abdur Rahman ibnu Auf dan Abu Talhah. Ibnu Murdawaih meriwayatkannya di dalam kitab tafsirnya. 

Firman Allah Swt.:
ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ

Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian. (Ali Imran: 152)

Ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Qasim ibnu Abdur Rahman ibnu Rafi' —salah seorang dari Bani Addi ibnun Najjar— yang menceritakan hadis berikut, bahwa Anas ibnu Nadr (paman Anas ibnu Malik) sampai kepada Umar ibnul Khattab dan Talhah ibnu Ubaidillah yang berada di tengah-tengah kaum Muhajirin dan Ansar, mereka menjatuhkan semua senjata yang ada di tangan mereka. Anas ibnun Nadr bertanya, "Apakah yang menyebabkan kalian melepas senjata kalian?" Mereka menjawab, "Rasulullah Saw. telah gugur." Anas Ibnun Nadr berkata, "Lalu apakah yang akan kalian lakukan dalam kehidupan sesudah peristiwa ini? Ayo bangkitlah, dan majulah sampai titik darah penghabisan untuk membela apa yang telah dibela beliau." Kemudian Anas ibnun Nadr menghadapi pasukan musuh dan bertempur sendirian dengan gigihnya hingga gugur. Semoga Allah melimpahkan keridaan-Nya kepadanya.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hassan ibnu Hassan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Talhah, telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas ibnu Malik, bahwa pamannya (yaitu Anas ibnun Nadr) tidak ikut dalam Perang Badar, lalu ia mengatakan, "Aku tidak ikut dalam permulaan peperangan yang dilakukan oleh Nabi Saw. (yakni Perang Badar). Sekiranya Allah memperkenankan aku ikut perang bersama Rasulullah-Saw. di masa datang, sungguh Allah akan menyaksikan apa yang akan aku lakukan." Lalu ia ikut dalam Perang Uhud. Ketika orang-orang (pasukan kaum muslim) terpukul mundur, ia berkata, "Ya Allah, sesungguhnya aku meminta maaf kepada-Mu atas apa yang telah dilakukan mereka (pasukan kaum muslim yang mundur), dan aku nyatakan kepada-Mu berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh orang-orang musyrik." Kemudian ia maju dengan senjata pedangnya. Ketika bersua dengan Sa'd ibnu Mu'az, ia bertanya, "Hendak ke manakah engkau, hai Sa'd? Sesungguhnya aku menjumpai bau surga dari arah Uhud ini." Lalu ia maju dan berperang dengan sengitnya hingga gugur. Tiada yang mengenalnya, hanya saudara perempuannya sendiri yang mengenalnya melalui tahi lalatnya atau jari jemarinya; sedangkan pada tubuhnya terdapat delapan puluh luka lebih akibat sabetan pedang, tusukan tombak, dan lemparan panah.

Demikianlah menurut lafaz hadis yang diketengahkan oleh Imam Bukhari.
Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadis Sabit ibnu Anas dengan lafaz yang semisal.

قَالَ الْبُخَارِيُّ [أَيْضًا] حَدَّثَنَا عَبْدَانُ، أَخْبَرَنَا أَبُو حَمْزَةَ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ مَوْهَب قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ حَجَّ الْبَيْتَ، فَرَأَى قَوْمًا جُلُوسًا، فَقَالَ: مَنْ هَؤُلَاءِ القُعُودُ؟ قَالُوا: هَؤُلَاءِ قُرَيْشٌ. قَالَ: مَنِ الشَّيْخُ؟ قَالُوا: ابْنُ عُمَر. فَأَتَاهُ فَقَالَ: إِنِّي سَائِلُكَ عَنْ شَيْءٍ فَحَدِّثْنِي. قَالَ: أنْشُدُك بِحُرْمَةِ هَذَا الْبَيْتِ أَتَعْلَمُ أنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ فَرَّ يَوْمَ أُحُدٍ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَتَعْلَمُه تَغَيَّب عَنْ بَدْرٍ فَلَمْ يَشْهَدْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فتعْلم أَنَّهُ تَخَلَّفَ عَنْ بَيْعَةِ الرّضْوان فَلَمْ يشهَدْها؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَكَبَّرَ، فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: تَعَالَ لأخبرَك ولأبيَّن لَكَ عَمَّا سَأَلْتَنِي عَنْهُ. أَمَّا فِرَارُهُ يَوْمَ أُحُدٍ فَأَشْهَدُ أَنَّ اللَّهَ عَفَا عَنْهُ، وَأَمَّا تَغَيُّبه عَنْ بَدْرٍ فَإِنَّهُ كَانَ تحتَه بنتُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَتْ مَرِيضَةً، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إنَّ لَكَ أَجْرَ رَجُلٍ مِمَّنْ شَهِدَ بَدْرًا وَسَهْمَه". وَأَمَّا تَغَيُّبُهُ عَنْ بَيْعَةِ الرِّضْوَانِ فَلَوْ كَانَ أَحَدٌ أَعَزَّ بِبَطْنِ مَكَّةَ مِنْ عُثْمَانَ لَبَعَثَهُ مَكَانَهُ، فَبَعَثَ عثمانَ، فَكَانَتْ بَيْعَةُ الرِّضْوَانِ بَعْدَ مَا ذَهَبَ عُثْمَانُ إِلَى مَكَّةَ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ الْيُمْنَى: "هِذِهِ يَدُ عُثْمَان". فَضَرَبَ بِهَا عَلَى يَدِهِ، فَقَالَ: "هِذِهِ يَدُ عُثْمَان اذْهَبْ بِهَا الآنَ مَعَكَ".

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdan, telah menceritakan kepada kami Abu Hamzah. dari Usman ibnu Mauhib yang mengatakan bahwa seorang lelaki datang melakukan ibadah haji, lalu ia melihat suatu kaum yang sedang duduk, maka ia bertanya, "Siapakah mereka yang sedang duduk itu?" Orang-orang menjawab, "Mereka adalah orang-orang Quraisy." Lelaki itu bertanya, "Siapakah guru mengaji mereka?" Orang-orang menjawab, "Sahabat Ibnu Umar." Lalu ia mendatanginya dan bertanya, "Sesungguhnya aku mau bertanya kepadamu tentang sesuatu, maka aku memohon sudilah engkau menjawabnya." Ibnu Umar berkata, "Bertanyalah." Ia berkata.”Aku bertanya kepadamu demi kesucian Baitullah ini, tahukah engkau bahwa Usman ibnu Affan lari dalam Perang Uhud?" Ibnu Umar menjawab, "Ya." Ia bertanya lagi, "Kalau demikian, berarti engkau mengetahui pula bahwa dia absen dalam Perang Badar dan tidak (mengikuti)nya?" Ibnu Umar menjawab, "Ya." Ia berkata lagi, "Dan engkau pun pasti tahu pula bahwa dia absen pula dalam Bai'atur Ridwan dan tidak menyaksikan (mengikuti)nya." Ibnu Umar menjawab, "Ya." Lalu ia bertakbir. Maka Ibnu Umar berkata: Kemarilah, aku akan menceritakan kepadamu dan menjelaskan kepadamu hal-hal yang engkau tanyakan kepadaku tadi. Adapun mengenai dia (Usman) lari dalam Perang Uhud, maka aku bersaksi bahwa Allah telah memaafkannya. Adapun mengenai ketidakhadirannya dalam Perang Badar, karena sesungguhnya dia sedang merawat putri Nabi Saw. yang menjadi istrinya yang saat itu sedang sakit. Maka Rasulullah Saw. bersabda kepadanya,"Sesungguhnya engkau beroleh pahala seorang lelaki yang ikut dalam Perang Badar dan juga bagian (ganimah)nya." Adapun mengenai ketidakhadirannya dalam Bai'at Ridwan, kisahnya adalah seperti berikut. Seandainya ada seseorang yang lebih dihormati di lembah Mekah daripada Usman, niscaya Nabi Saw. akan mengutusnya sebagai delegasi menjadi ganti Usman. Maka Nabi Saw. mengutus Usman, lalu terjadilah Bai'at Ridwan sesudah keberangkatan Usman ke Mekah. Maka Nabi Saw. bersabda seraya mengisyaratkan dengan tangan kanannya, "Inilah tangan Usman," lalu beliau menepukkan tangan kanannya itu ke tangan kirinya seraya bersabda, "Ini adalah tangan Usman, sekarang pergilah engkau bersamanya!"
Kemudian Imam Bukhari meriwayatkannya melalui jalur lain dari Abu Uwwanah, dari Usman ibnu Abdullah ibnu Mauhib. 

Firman Allah Swt.:

إِذْ تُصْعِدُونَ وَلا تَلْوُونَ عَلى أَحَدٍ

(Ingatlah) ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seseorang pun. (Ali Imran: 153)
Yakni kalian berpaling dari mereka (musuh kalian) ketika kalian terpaksa naik ke atas bukit, lari dari musuh kalian.

Al-Hasan dan Qatadah membacanya tas'aduna,yakni ketika kalian naik ke bukit.

{وَلا تَلْوُونَ عَلَى أَحَدٍ}

dan tidak menoleh kepada seseorang pun. (Ali Imran: 153), 
Yaitu sedangkan kalian tidak menoleh kepada seorang pun karena dalam keadaan kalut, takut, dan ngeri.

{وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ فِي أُخْرَاكُمْ}

sedangkan Rasul yang berada di belakang kalian memanggil kalian. (Ali Imran: 153) 

Artinya, kalian telah meninggalkan beliau di belakang kalian, sedangkan beliau berseru memanggil kalian agar jangan lari dari musuh, dan memerintahkan kalian agar kembali dan berperang menghadapi musuh.

قَالَ السُّدِّي: لَمَّا شَدّ الْمُشْرِكُونَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ بِأُحُدٍ فَهَزَمُوهُمْ، دَخَلَ بَعْضُهُمُ الْمَدِينَةَ، وَانْطَلَقَ بَعْضُهُمْ فَوْقَ الْجَبَلِ إِلَى الصَّخْرَةِ فَقَامُوا عَلَيْهَا، وَجَعَلَ الرَّسُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو النَّاسَ: "إليَّ عِبَادَ اللهِ، إليَّ عِبَادَ اللَّهِ". فَذَكَرَ اللَّهُ صُعُودَهُمْ عَلَى الْجَبَلِ، ثُمَّ ذَكَرَ دُعَاء النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِيَّاهُمْ فَقَالَ: {إِذْ تُصْعِدُونَ وَلا تَلْوُونَ عَلَى أَحَدٍ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ فِي أُخْرَاكُمْ}

As-Saddi mengatakan, ketika tekanan pasukan kaum musyrik bertambah berat atas pasukan kaum muslim dalam Perang Uhud dan pasukan kaum musyrik dapat memukul mundur pasukan kaum muslim, maka sebagian di antara pasukan kaum muslim ada yang lari masuk ke Madinah, sedangkan sebagian yang lain ada yang lari naik ke bukit dan berdiri di atas batu besar. Sedangkan Rasulullah Saw. menyeru mereka melalui sabdanya, "Kemarilah kepadaku, hai hamba-hamba Allah. Kemarilah kepadaku, hai hamba-hamba Allah!" Allah Swt. menceritakan perihal naiknya mereka ke atas bukit, lalu menceritakan pula perihal seruan Nabi Saw. yang ditujukan kepada mereka melalui firman-Nya: (Ingatlah) ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seseorang pun, sedangkan Rasul yang berada di belakang kalian memanggil kalian. (Ali Imran: 153)

Hal yang sama dikatakan pula oleh Ibnu Abbas, Qatadah, Ar-Rab'i, dan Ibnu Zaid.

Abdullah ibnuz Zaba'ri menceritakan perihal kekalahan pasukan kaum muslim dalam Perang Uhud melalui qasidahnya, saat itu ia masih musyrik dan belum masuk Islam. Dalam permulaan qasidahnya itu ia mengatakan:

يَا  غُرَابَ الْبَيْنِ أَسْمَعْتَ فَقُلْ ... إِنَّمَا تَنْطِقُ شَيْئًا قَدْ فُعِلْ
إِنَّ لِلْخَيْرِ وَلِلشَّرِّ مَدًى ... وَكِلَا ذَلِكَ وَجْهٌ وَقَبَلْ

Wahai burung gagak pertanda perpisahan, apakah engkau mendengar? Katakanlah, sesungguhnya engkau hanya mengatakan sesuatu yang telah terjadi. Sesungguhnya bagi kebaikan dan keburukan itu ada masanya, masing-masing dari keduanya mempunyai bagian muka dan bagian belakang{nya).

Sampai ia mengatakan dalam qasidahnya:

لَيْتَ أَشْيَاخِي بِبَدْرٍ شَهِدُوا ... جَزَعَ الْخَزْرَجِ مِنْ وَقْعِ الْأَسَلْ
حِينَ حَكَّتْ بِقُبَاءٍ بَرْكَهَا ... وَاسْتَحَرَّ الْقَتْلُ فِي عَبْدِ الْأَشَلْ
ثُمَّ خَفُّوا عِنْدَ ذَاكُمْ رُقَّصَا ... رَقَصَ الْحَفَّانِ يَعْلُو فِي الْجَبَلْ
فَقَتَلْنَا الضِّعْفَ مِنْ أَشْرَافِهِمْ ... وَعَدَلْنَا مَيْلَ بَدْرٍ فَاعْتَدَلْ

Aduhai, sekiranya pemimpin-pemimpinku (yang mati) di Badar menyaksikan rintihan orang-orang Khazraj karena tusukan tombak. Yaitu ketika mereka mengistirahatkan unta kendaraannya di Quba, dan pembunuhan banyak yang terjadi di kalangan Bani Abdul Asyal. Kemudian saat itulah mereka lari terbirit-birit bagaikan larinya anak burung unta menaiki bukit. Kami dapat membunuh banyak orang dari kalangan pemimpin mereka, maka tertebuslah kekalahan kami dalam Perang Badar, hingga keadaan menjadi seimbang.

Al-hifan artinya anak burung unta. Saat itu Nabi Saw. terkucil bersama dua belas orang dari kalangan sahabat-sahabatnya. 

Seperti apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. ia mengatakan: 

حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا زُهَير، حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ أَنَّ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ قَالَ: جَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الرُّمَاةِ يَوْمَ أُحُدٍ -وَكَانُوا خَمْسِينَ رَجُلًا-عَبْدَ اللَّهِ بْنَ جُبير قَالَ: وَوَضَعَهُمْ مَوْضِعًا وَقَالَ: "إنْ رَأَيْتُمُونَا تَخَطَّفَنَا الطَّيْرُ فَلا تَبْرَحُوا حَتَّى أُرْسِلَ إلَيْكُمْ وَإنْ رَأيْتُمُونَا ظَهَرنَا عَلَى الْعَدُوّ وأوَطأناهُمْ فَلا تَبْرَحُوا حَتَّى أُرسِلَ إلَيْكُمْ قَالَ: فَهَزَمُوهُمْ. قَالَ: فَأَنَا وَاللَّهِ رَأَيْتُ النِّسَاءَ يَشْتددن عَلَى الْجَبَلِ، وَقَدْ بَدَتْ أسْؤُقُهنّ وخَلاخلُهُن رَافِعَاتٌ ثيابهُن، فَقَالَ أَصْحَابُ عَبْدِ اللَّهِ: الغَنِيمة، أَيْ قَوْمُ الْغَنِيمَةَ، ظَهَرَ أَصْحَابُكُمْ فَمَا تَنْتَظِرُونَ ؟ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جُبَيْرٍ: أَنَسِيتُمْ مَا قَالَ لَكُمْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالُوا: إنا والله لَنَأتيَن الناس فَلنُصِبيَنَّ مِنَ الْغَنِيمَةِ. فَلَمَّا أَتَوْهُمْ صُرِفَتْ وُجُوهُهُمْ فَأَقْبَلُوا مُنْهَزِمِينَ، فَذَلِكَ الَّذِي يَدْعُوهُمُ الرَّسُولُ فِي أُخْرَاهُمْ، فَلَمْ يَبْقَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرُ اثْنَيْ عَشَرَ رَجُلًا فَأَصَابُوا مِنَّا سَبْعِينَ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وأصحابُه أَصَابُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ يَوْمَ بَدْر أَرْبَعِينَ وَمِائَةً: سَبْعِينَ أَسِيرًا وَسَبْعِينَ قَتِيلًا. قَالَ أَبُو سُفْيَانَ: أَفِي الْقَوْمِ مُحَمَّدٌ؟ أَفِي الْقَوْمِ مُحَمَّدٌ؟ أَفِي الْقَوْمِ مُحَمَّدٌ؟ -ثَلَاثًا -قَالَ: فَنَهَاهُمْ رسولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجِيبُوهُ، ثُمَّ قَالَ: أَفِي الْقَوْمِ ابْنُ أَبِي قُحَافة؟ أَفِي الْقَوْمِ ابْنُ أَبِي قُحَافَةَ؟ أَفِي الْقَوْمِ ابْنُ الْخَطَّابِ؟ أَفِي الْقَوْمِ ابْنُ الْخَطَّابِ؟ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى أَصْحَابِهِ فَقَالَ: أَمَّا هَؤُلَاءِ فَقَدْ قُتِلُوا، قَدْ كُفيتُمُوه. فَمَا مَلَكَ عُمَر نفسَه أَنْ قَالَ: كذبتَ وَاللَّهِ يَا عَدُوَّ اللَّهِ، إِنَّ الَّذِينَ عَدَدْتَ لِأَحْيَاءٌ كُلُّهُمْ، وقد بَقى لك ما يسوؤك. فَقَالَ يَوْمٌ بِيَوْمِ بَدْرٍ، وَالْحَرْبُ سِجَال، إِنَّكُمْ سَتَجِدُونَ فِي الْقَوْمِ مَثُلَةً لَمْ آمُرْ بِهَا وَلَمْ تَسُؤْنِي ثُمَّ أَخَذَ يَرْتَجِزُ، يَقُولُ: اعلُ هُبَلْ. اعْلُ هُبَلْ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَلَا تُجِيبُوه ؟ " قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا نَقُولُ؟ قَالَ: "قُولُوا: اللَّهُ أَعْلَى وَأَجَلُّ". قَالَ: لَنَا العُزَّى وَلَا عزَّى لَكُمْ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَلَا تُجِيبُوهُ؟ ". قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا نَقُولُ؟ قَالَ: "قُولُوا: اللهُ مَوْلانَا وَلا مَوْلَى لَكُمْ"

telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq, dari Al-Barra ibnu Azib r.a. yang menceritakan bahwa dalam Perang Uhud Rasulullah Saw. mengangkat Abdullah ibnu Jubair sebagai komandan pasukan pemanah yang jumlahnya lima puluh orang. Nabi Saw. menempatkan mereka pada suatu posisi yang strategis dan berpesan kepada mereka melalui sabdanya: Jika kalian melihat kami disambar oleh burung-burung, janganlah kalian tinggalkan tempat kalian sebelum aku mengirimkan utusan kepada kalian. Kaum muslim dapat memukul mundur pasukan kaum musyrik. Al-Barra ibnu Azib r.a. mengatakan, "Demi Allah, aku melihat kaum wanita berlari-lari dengan kencangnya menuju ke arah bukit, sedangkan betis-betis mereka dan gelang-gelang kaki mereka kelihatan karena mereka mengangkat kain mereka." Lalu teman-teman Abdullah ibnu Jubair mengatakan, "Ganimah, hai kaum. ganimah! Teman-teman kalian beroleh kemenangan, bagaimanakah menurut pandangan kalian?" Abdullah ibnu Jubair berkata, "Apakah kalian lupa apa yang telah dipesankan oleh Rasulullah Saw. kepada kalian?" Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami, demi Allah, tetap akan datang kepada mereka dan kita pasti akan memperoleh bagian dari ganimah." Ketika pasukan pemanah mendatangi teman-temannya yang beroleh kemenangan, maka perhatian mereka berpaling, lalu pasukan kaum musyrik datang menyerang mereka. Akhirnya keadaan menjadi terbalik, merekalah kini yang terpukul mundur. Dalam peristiwa itulah Rasulullah Saw. memanggil mereka dari arah belakang mereka. Rasulullah Saw. saat itu hanya ditemani oleh dua belas orang lelaki, tujuh di antaranya gugur dalam membela Rasulullah Saw. Rasulullah Saw. dan sahabatnya berhasil menangkap seratus empat puluh orang pasukan kaum musyrik dalam Perang Badar; tujuh puluh orang di antaranya ditawan dalam keadaan hidup, sedangkan yang tujuh puluh lagi telah gugur di medan perang. Abu Sufyan berseru, "Apakah di antara kaum ada Muhammad, apakah di antara kaum (pasukan kaum muslim) terdapat Muhammad?" Hal ini diucapkannya sebanyak tiga kali. Tetapi Rasulullah Saw. melarang mereka menjawab seruan Abu Sufyan itu. Kemudian Abu Sufyan berseru pula, "Apakah di antara kaum terdapat Abu Quhafah, apakah di antara kaum ada Abu Quhafah? Apakah di antara kaum ada Ibnul Khattab, apakah di antara kaum ada Ibnul Khattab?" Setelah itu ia kembali bergabung dengan pasukan kaum musyrik dan berkata kepada mereka, "Mereka telah terbunuh, dan sekarang kalian telah membungkam mereka." Maka Umar tidak dapat menahan dirinya lagi, lalu ia berkata, "Engkau dusta. Demi Allah, hai musuh Allah, sesungguhnya orang-orang yang kamu sebutkan tadi semuanya masih hidup, Allah tetap membiarkan bagimu apa yang menyusahkanmu." Abu Sufyan berkata, "Hari ini adalah pembalasan dari Perang Badar; peperangan itu silih berganti. Sesungguhnya kalian akan menemukan di antara kaum yang gugur ada orang yang dicincang yang tidak aku perintahkan, maka janganlah kalian menyalahkan diriku." Kemudian Abu Sufyan berdendang, mengalunkan syair yang bunyinya mengatakan, "Tinggilah Hubal, tinggilah Hubal." Rasulullah Saw. bersabda, "Mengapa tidak kalian jawab dia?" Mereka (para sahabat) bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang harus kami katakan?" Rasulullah Saw. bersabda, "Katakanlah bahwa Allah Mahatinggi lagi Mahaagung." Abu Sufyan berseru lagi, "Kami mempunyai Uzza, sedangkan kalian tidak mempunyai Uzza." Rasulullah Saw. bersabda, "Mengapa kalian tidak menjawabnya?" Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang harus kami katakan?" Rasulullah Saw. bersabda memberikan petunjuknya: Katakanlah, "Allah  Penolong  kami,  sedangkan kalian  tidak mempunyai seorang penolong pun."


Imam Bukhari meriwayatkannya melalui hadis Zuhair ibnu Mu'awiyah secara ringkas. Dia meriwayatkannya melalui hadis Israil, dari Abu Ishaq dengan konteks yang lebih panjang dari hadis ini, seperti yang disebutkan sebelumnya.

وَرَوَى الْبَيْهَقِيُّ فِي دَلَائِلِ النُّبُوَّةِ مِنْ حَدِيثِ عُمَارَةَ بْنِ غَزِيَّة، عَنْ أَبِي الزُّبَير، عَنْ جَابِرٍ قَالَ: انْهَزَمَ النَّاسُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ أُحُدٍ وَبَقِيَ مَعَهُ أَحَدَ عَشَرَ رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ، وَطَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ وَهُوَ يَصْعَدُ الْجَبَلَ، فَلَقِيَهُمُ الْمُشْرِكُونَ، فَقَالَ: "أَلَا أحَدٌ لِهَؤُلاءِ؟ " فَقَالَ طَلْحَةُ: أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَقَالَ: "كمَا أنْتَ يَا طَلْحَةُ". فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ: فَأَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَقَاتَلَ عَنْهُ، وَصَعِدَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ بَقِيَ مَعَهُ، ثُمَّ قُتل الْأَنْصَارِيُّ فَلَحِقُوهُ فَقَالَ: "أَلَا رجُلٌ لِهؤُلاءِ؟ " فَقَالَ طَلْحَةُ مِثْلَ قَوْلِهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ قَوْلِهِ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ: فَأَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَقَاتَلَ عَنْهُ وَأَصْحَابُهُ يَصْعَدْنَ، ثُمَّ قُتِلَ فَلَحِقُوهُ، فَلَمْ يَزَلْ يَقُولُ مِثْلَ قَوْلِهِ الْأَوَّلِ فَيَقُولُ طَلْحَةُ: فَأَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَيَحْبِسُهُ، فَيَسْتَأْذِنُهُ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ لِلْقِتَالِ فيأذَنُ لَهُ، فَيُقَاتِلُ مِثْلَ مَنْ كَانَ قَبْلَهُ، حَتَّى لَمْ يَبْقَ مَعَهُ إِلَّا طَلْحَةُ فَغشَوْهما، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَنْ لِهَؤلاءِ؟ " فَقَالَ طَلْحَةُ: أَنَا. فَقَاتَلَ مثْل قِتَالِ جَمِيعِ مَنْ كَانَ قَبْلَهُ وَأُصِيبَتْ أَنَامِلُهُ، فَقَالَ: حَسِّ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ: "لوْ قُلْتَ: بِاسْمِ اللهِ، وذَكرت اسْمَ اللَّهِ، لَرَفَعَتْكَ الملائِكَة والنَّاسُ يَنْظُرونَ إلَيْكَ، حَتَّى تلجَ بِكَ فِي جَوِّ السَّمَاءِ"، ثُمَّ صَعِدَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أَصْحَابِهِ وَهُمْ مُجْتَمِعُونَ

Imam Baihaqi meriwayatkan di dalam kitab Dalailun Nubuwwah melalui hadis Imarah ibnu Gazyah, dari Abuz Zubair, dari Jabir yang menceritakan bahwa ketika pasukan kaum muslim terpukul mundur dan meninggalkan Rasulullah Saw. dalam Perang Uhud bersama sebelas orang lelaki dari kalangan Ansar dan Talhah ibnu Ubaidillah, ketika itu Rasulullah Saw. sedang naik ke bukit (mencari posisi yang kuat agar tidak dapat diserang oleh musuh). Maka pasukan kaum musyrik mengejarnya. Lalu Nabi Saw. bersabda,"Tidakkah ada seseorang yang menahan mereka?" Talhah berkata, "Akulah yang akan menahan mereka, wahai Rasulullah." Tetapi Rasulullah Saw. bersabda, "Engkau tetap bersamaku, hai Talhah." Maka seorang lelaki dari kalangan Ansar berkata, "Akulah yang menahan mereka, wahai Rasulullah." Lalu lelaki itu berperang, melindungi Nabi Saw.,sedangkan Nabi Saw. terus naik ke bukit bersama orang-orang yang tersisa. Lelaki Ansar itu gugur dan mereka melanjutkan pengejarannya, maka Nabi Saw. bersabda, "Adakah seseorang yang mau menahan mereka?" Maka Talhah mengucapkan kata-katanya seperti yang pertama tadi, dan Rasulullah Saw. mengucapkan pula sabdanya seperti yang pertama (yakni mencegahnya). Kemudian seorang lelaki Ansar berkata, "Wahai Rasulullah, akulah yang akan menahan mereka." Lalu ia berperang, melindungi Nabi Saw.; sedangkan semua temannya naik ke bukit. Tetapi akhirnya lelaki itu gugur, dan kaum musyrik terus mengejar Nabi Saw. Nabi Saw. kembali mengatakan perkataannya yang pertama tadi, dan Talhah selalu menjawabnya, "Wahai Rasulullah, akulah yang menahan mereka," tetapi Rasulullah Saw. selalu menahannya. Lalu seorang lelaki dari Ansar meminta izin kepada Nabi Saw. untuk berperang, dan Nabi Saw. mengizinkannya, lalu ia berperang seperti teman-teman yang mendahuluinya, hingga tiada yang tersisa bersama Nabi Saw. selain dari Talhah sendiri. Maka kaum musyrik mengepung keduanya, lalu Rasulullah Saw. bersabda, "Siapakah yang mau menahan mereka?" Talhah menjawab.”Akulah yang akan menahan mereka." Kemudian Talhah berperang seperti yang dilakukan oleh semua orang yang mendahuluinya, dan dalam perang itu jari tangannya terpotong, lalu ia mengucapkan, "Aduh!" Maka Rasulullah Saw. bersabda:Seandainya engkau mengucapkan Bismillah dan menyebut asrna Allah (ketika terkena luka itu), niscaya para malaikat mengangkatmu, sedangkan semua orang melihatmu hingga para malaikat membawamu masuk ke langit. Kemudian Rasulullah Saw. naik ke bukit, menyusul sahabat-sahabatnya yang saat itu berkumpul di atas bukit.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Waki', dari Ismail, dari Qais ibnu Abu Hazim yang mengatakan: Aku melihat tangan Talhah yang pernah dipakai untuk melindungi Nabi Saw. (yakni dalam Perang Uhud) dalam keadaan lumpuh.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui hadis Mu'tamir ibnu Sulaiman, dari ayahnya, dari Abu Usman An-Nahdi yang menceritakan bahwa tiada seorang pun yang pernah berperang bersama-sama Rasulullah Saw. dalam peperangan yang dilakukannya masih hidup selain dari Talhah ibnu Ubaidillah dan Sa'd, yakni melalui hadis keduanya.

قَالَ الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ: حَدَّثَنَا ابْنُ مَرْوَانَ بْنِ مُعَاوِيَةَ، عَنْ هَاشِمِ بْنِ هَاشِمٍ الزُّهْرِيِّ، قَالَ سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ المسيَّب يَقُولُ: سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَاصٍّ [رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ] يقول: نَثُل لي  رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كِنَانَتَهُ يَوْمَ أُحُدٍ قَالَ: "ارْمِ فِدَاكَ أبِي وأُمِّي".

Al-Hasan ibnu Arafah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Marwan ibnu Mu'awiyah, dari Hisyam ibnu Hisyam Az-Zuhri yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sa'id ibnul Musayyab bercerita; ia pernah mendengar Sa'd ibnu Abu Waqqas menceritakan hadis berikut, bahwa Rasulullah Saw. dalam Perang Uhud mempersenjatai dirinya dengan panah seraya bersabda: "Bidikkanlah, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu."


Hadis tersebut diketengahkan oleh Imam Bukhari, dari Abdullah ibnu Muhammad, dari Marwan ibnu Mu'awiyyah.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Saleh ibnu Kaisan, dari salah seorang keluarga Sa'd, dari Sa'd ibnu Abu Waqqas, bahwa dia dalam Perang Uhud membidik musuh untuk melindungi Rasulullah Saw. Sa'd mengatakan, "Sesungguhnya aku melihat Rasulullah Saw. memberikan anak panah kepadaku seraya bersabda: 'Bidikkanlah, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu!' hingga beliau memberiku anak panah yang tidak ada ujung besinya. Maka aku pakai juga untuk membidik musuh."

Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui hadis Ibrahim ibnu Sa'd ibnu Abu Waqqas dari ayahnya yang menceritakan: Aku melihat dalam Perang Uhud di sebelah kanan Nabi Saw. dan di sebelah kirinya terdapat dua orang lelaki yang memakai pakaian putih, keduanya berperang melindungi Rasulullah Saw. dengan gigih. Aku belum pernah melihat keduanya, baik sebelum itu ataupun sesudahnya. Yang dimaksud oleh sahabat Sa’d dengan "keduanya' adalah Malaikat Jibril dan Malaikat Mikail a.s.

Hammad ibnu Salamah meriwayatkan dari Ali ibnu Zaid dan Sabit, dari Anas ibnu Malik, bahwa Rasulullah Saw. dalam Perang Uhud terkucilkan bersama tujuh orang dari kalangan Ansar dan dua orang dari kalangan Quraisy. Ketika pasukan kaum musyrik mengejar beliau, beliau bersabda,"Siapakah yang mau mengusir mereka dari kita, dan baginya surga," atau "Dia akan menjadi temanku di surga." Maka majulah seorang lelaki dari kalangan Ansar yang langsung bertempur hingga gugur. Kemudian pasukan kaum musyrik mengejar beliau, maka beliau bersabda, "Siapakah yang mau mengusir mereka dari kita, dan baginya surga." Maka majulah seorang lelaki dari kalangan Ansar yang langsung bertempur hingga gugur. Demikianlah seterusnya hingga gugur tujuh orang. Maka Rasulullah Saw. bersabda kepada kedua temannya, "Kita tidak berlaku adil kepada teman-teman kita."

Imam Muslim meriwayatkannya melalui Hudbah ibnu Khalid, dari Hammad ibnu Salamah dengan lafaz yang semakna.

قَالَ أَبُو الْأَسْوَدِ، عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ: كَانَ أبَيُّ بْنُ خَلَف، أَخُو بَنِي جُمَح، قَدْ حَلَفَ وَهُوَ بِمَكَّةَ لَيَقْتُلَن رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا بلغتْ رسولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَلْفَتُه قَالَ: "بَلْ أنَا أقْتُلُهُ، إنْ شَاءَ اللَّهُ". فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ أُحُدٍ أَقْبَلَ أبَي فِي الْحَدِيدِ مُقَنَّعا، وَهُوَ يَقُولُ: لَا نَجَوْتُ إِنْ نَجَا مُحَمَّدٌ. فَحَمَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرِيدُ قتْله، فَاسْتَقْبَلَهُ مُصْعَب بْنُ عُمَير، أَخُو بَنِي عَبْدِ الدَّارِ، يَقِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَفْسِهِ، فَقُتِلَ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ، وَأَبْصَرَ رسولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَرْقُوَة أُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ مِنْ فَرْجةَ بَيْنَ سَابِغَةِ الدِّرْعِ وَالْبَيْضَةِ، وَطَعَنَهُ فِيهَا بِحَرْبَتِهِ، فَوَقَعَ إِلَى الْأَرْضِ عَنْ فَرَسِهِ، لَمْ يَخْرُجْ مِنْ طَعْنَتِهِ دَمٌ، فَأَتَاهُ أَصْحَابُهُ فَاحْتَمَلُوهُ وَهُوَ يَخُورُ خُوار الثَّوْرِ، فَقَالُوا لَهُ: مَا أَجْزَعَكَ إِنَّمَا هُوَ خَدْشٌ؟ فَذَكَرَ لَهُمْ قَوْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَنَا أقْتُلُ أُبيا". ثُمَّ قَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ كَانَ هَذَا الَّذِي بِي بِأَهْلِ ذِي المَجَاز لَمَاتُوا أَجْمَعُونَ. فَمَاتَ إِلَى النَّارِ، فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِ.

Abul Aswad meriwayatkan dari Urwah ibnuz Zubair yang menceritakan bahwa dahulu Ubay ibnu Khalaf —saudara lelaki Bani Jumah— telah bersumpah ketika di Mekah, bahwa dirinya benar-benar akan membunuh Rasulullah Saw. Tatkala sumpahnya itu sampai terdengar oleh Rasulullah Saw, maka beliau Saw. bersabda: Tidak, bahkan akulah yang akan membunuhnya, jika Allah mengizinkan. Ketika Perang Uhud berkobar, Ubay maju ke medan perang dengan memakai topi besi yang menutupi seluruh kepalanya seraya berkata, "Aku tidak akan selamat jika Muhammad selamat." Lalu ia langsung maju menyerang ke arah Rasulullah Saw. dengan maksud untuk membunuhnya, tetapi ia dihadang oleh Mus'ab ibnu Umair (saudara lelaki Bani Abdud Dar) untuk melindungi Rasulullah Saw. dengan dirinya, hingga Mus'ab ibnu Umair gugur sebagai tameng Rasulullah Saw. Saat itu juga Rasulullah Saw. melihat tenggorokan Ubay ibnu Khalaf yang tampak di antara celah topi besi dan baju besinya, lalu beliau menusuk celah tersebut dengan tombak pendeknya, hingga Ubay ibnu Khalaf terjatuh dari kudanya ke tanah, tetapi dari tusukan itu tidak ada darah yang mengalir. Teman-teman Ubay ibnu Khalaf datang membopongnya, sedangkan Ubay ibnu Khalaf menjerit-jerit seperti suara sapi jantan (karena kesakitan). Lalu mereka berkata kepadanya, "Apakah yang membuatmu merintih, sesungguhnya luka ini hanyalah goresan saja." Kemudian disampaikan kepada mereka sabda Rasulullah Saw. yang mengatakan, "Tidak, bahkan akulah yang akan membunuh Ubay." Kemudian Nabi Saw. bersabda, "Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, seandainya apa yang telah menimpaku ini ditimpakan kepada penduduk Zul Majaz, niscaya mereka mati semuanya." Akhirnya Ubay ibnu Khalaf mati dan dimasukkan ke dalam neraka.Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. (Al-Mulk: 11)

Musa ibnu Uqbah di dalam kitab Magazi-nya telah meriwayatkan hadis ini melalui Az-Zuhri, dari Sa'id ibnul Musayyab dengan lafaz yang semisal.

Muhammad ibnu Ishaq menceritakan, ketika Rasulullah Saw. dalam keadaan terjepit di lereng bukit, Ubay ibnu Khalaf mengejarnya seraya berkata, "Aku tidak akan selamat jika engkau selamat." Maka pasukan kaum muslim berkata, "Wahai Rasulullah, ada seorang lelaki yang menghadangnya dari kalangan kita." Rasulullah Saw. bersabda, "Biarkanlah dia!' Ketika Ubay mendekat kepada Rasulullah Saw., maka Rasulullah Saw. mengambil sebilah tombak dari Al-Haris ibnus Summah. Menurut yang diceritakan kepadaku dari salah seorang kaum yang hadir, disebutkan bahwa ketika Rasulullah Saw. mengambil tombak itu dari Al-Haris ibnus Summah, maka Rasulullah Saw. terlebih dahulu menggerak-gerakkan tombak itu sekali gerak hingga kami semua menjauh, bagaikan bulu unta yang berterbangan bila seekor unta menggerak-gerakkan tubuhnya. Kemudian Ubay dihadapi oleh Rasulullah Saw., dan Rasulullah Saw. langsung dapat menusuknya pada lehernya dengan sekali tusuk, hingga Ubay ibnu Khalaf terjatuh berkali-kali dari atas kudanya karena tusukan tersebut.
Al-Waqidi meriwayatkan dari Yunus ibnu Bukair, dari Muhammad ibnu Ishaq, dari Asim ibnu Amr ibnu Qatadah, dari Abdullah ibnu Ka'b ibnu Malik, dari ayahnya hal yang semisal.

Al-Waqidi mengatakan, Ibnu Umar pernah mengatakan bahwa Ubay ibnu Khalaf mati di Lembah Rabig. Sesungguhnya aku melewati Lembah Rabig sesudah malam hari tiba, ternyata aku melihat api yang menyala-nyala di hadapanku hingga aku takut. Tiba-tiba aku melihat seorang lelaki keluar dari api itu dalam keadaan dibelenggu dengan rantai; ia diseret dan dalam keadaan terbakar oleh kehausan. Tiba-tiba aku melihat ada seorang lelaki lain berkata, "Jangan beri dia minum, karena sesungguhnya orang ini adalah orang yang terbunuh oleh Rasulullah Saw. Inilah Ubay ibnu Khalaf."

Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui riwayat Abdur Razzaq, dari Ma'mar, dari Hamman ibnu Munabbih, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

«اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ على قوم فعلوا بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَهُوَ حينئذ يشير إلى رباعيته- واشتد غَضَبُ اللَّهِ عَلَى رَجُلٍ يَقْتُلُهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ»

Murka Allah sangat keras terhadap suatu kaum yang berani melakukan hal ini —seraya mengisyaratkan kepada gigi serinya— kepada diri Rasulullah Saw. Dan murka Allah sangat keras terhadap lelaki yang dibunuh oleh Rasulullah Saw. dalam perang sabilillah.

Imam Bukhari mengetengahkannya melalui hadis Ibnu Juraij, dari Amr ibnu Dinar, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa murka Allah amat keras terhadap orang yang telah dibunuh oleh Rasulullah Saw. dengan tangannya dalam perang sabilillah. Murka Allah amat keras terhadap suatu kaum yang berani melukai wajah Rasulullah Saw.

Ibnu Ishaq mengatakan bahwa gigi seri Rasulullah Saw. dirontokkan dan pelipisnya dilukai, juga bibirnya. Orang yang berani melakukan demikian terhadap diri beliau adalah Atabah ibnu Abu Waqqas.

فَحَدَّثَنِي صَالِحُ بْنُ كَيْسان، عَمَّنْ حَدَّثَهُ، عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍّ قَالَ: مَا حَرَصْتُ عَلَى قَتْلِ أَحَدٍ قَط مَا حَرَصْتُ عَلَى قَتْلِ عُتْبة بْنِ أَبِي وَقَّاصٍّ وَإِنْ كَانَ مَا عَلِمْتُهُ لَسَيِّئَ الخلُق، مُبْغَضًا فِي قَوْمِهِ، وَلَقَدْ كَفَانِي فِيهِ قَوْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "اشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى مَنْ دَمَّى وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ".

Saleh ibnu Kaisan meriwayatkan dari orang yang menceritakan hadis ini dari Sa'd ibnu Abu Waqqas. Disebutkan bahwa Sa'd ibnu Abu Waqqas pernah berkata, "Aku belum pernah ingin membunuh seseorang seperti keinginanku untuk membunuh Atabah ibnu Abu Waqqas. Menurut sepengetahuanku, dia adalah orang yang jahat perangainya lagi dibenci di kalangan kaumnya. Sesungguhnya telah cukup bagiku mengenai dirinya, yaitu sabda Rasulullah Saw. yang mengatakan: 'Murka Allah amat keras terhadap orang yang berani melukai wajah Rasulullah Saw.'."

قَالَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ: أَنْبَأَنَا معْمَر، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عن عُثْمَانَ الجزَري، عَنْ مقْسَم؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَا عَلَى عُتْبةَ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍّ يَوْمَ أحُد حِينَ كَسر رَبَاعيتَه ودَمى وَجْهَهُ فَقَالَ: "اللَّهُمَّ لَا تَحُلْ عَلَيْهِ الْحَوْل حَتَّى يموتَ كَافِرًا". فَمَا حَالَ عَلَيْهِ الحولُ حَتَّى مَاتَ كَافِرًا إِلَى النَّارِ

Abdur Razzaq meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Az-Zuhri, dari Usman Al-Hariri, dari Miqsam, bahwa Rasulullah Saw. telah mendoakan kebinasaan atas Atabah ibnu Abu Waqqas dalam Perang Uhud, yaitu ketika Atabah berani merontokkan gigi serinya dan melukai wajahnya. Beliau Saw. berdoa: Ya Allah, janganlah engkau lewatkan atas dirinya masa satu tahun sebelum dia mati dalam keadaan kafir. Ternyata belum lagi lewat masa satu tahun, dia telah mati dalam keadaan kafir dan masuk neraka.

Al-Waqidi meriwayatkan dari Ibnu Abu Sabrah, dari Ishaq ibnu Abdullah ibnu Abu Farwah, dari Abul Huwairis, dari Nafi' ibnu Jubair yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar seorang Muhajirin menceritakan kisah berikut, bahwa ia ikut dalam Perang Uhud, dan menyaksikan anak-anak panah bertaburan dari berbagai arah mengarah ke suatu tempat, sedangkan Rasulullah Saw. berada di tengah-tengah tempat itu, tetapi semua anak panah meleset darinya. Sesungguhnya ia melihat Abdullah ibnu Syihab Az-Zuhri pada hari itu (Perang Uhud) mengatakan, "Tunjukkanlah aku kepada Muhammad, aku tidak akan selamat jika dia selamat," padahal saat itu Rasulullah Saw. berada di sebelahnya tanpa ditemani oleh seorang pun, kemudian Abdullah ibnu Syihab Az-Zuhri melewatinya. Maka Safwan mencelanya karena peristiwa tersebut. Tetapi Ibnu Syihab menjawabnya, "Demi Allah, aku tidak melihatnya, aku bersumpah dengan nama Allah bahwa dia terlindungi dari kita. Kami berangkat bersama empat orang, dan kami berjanji untuk membunuhnya, tetapi kami tidak dapat melakukan hal tersebut." Al-Waqidi mengatakan, menurut apa yang telah terbuktikan pada kami, orang yang melukai kedua pelipis Rasulullah Saw. adalah Ibnu Qumaiah, sedangkan yang melukai bibirnya dan merontokkan gigi serinya adalah Atabah ibnu Abu Waqqas.

قَالَ أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ: حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ يَحْيَى بْنِ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ الله، أَخْبَرَنِي عِيسَى بْنُ طَلْحَةَ، عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ أَبُو بَكْرٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، إِذَا ذَكَرَ يَوْمَ أُحُدٍ قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ كُله لِطَلْحَةَ، ثُمَّ أَنْشَأَ يُحَدِّثُ قَالَ: كُنْتُ أَوَّلَ مَنْ فَاء يَوْمَ أُحُدٍ، فَرَأَيْتُ رَجُلًا يُقَاتِلُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دُونَهُ -وَأُرَاهُ قَالَ: حَميَّة فَقَالَ فَقُلْتُ: كُنْ طَلْحَةَ، حَيْثُ فَاتَنِي مَا فَاتَنِي، فَقُلْتُ: يَكُونُ رَجُلًا مِنْ قَوْمِي أَحَبُّ إِلَيَّ، وَبَيْنِي وَبَيْنَ الْمُشْرِكِينَ رَجُلٌ لَا أَعْرِفُهُ، وَأَنَا أَقْرَبُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهُ، وَهُوَ يَخْطِفُ الْمَشْيَ خَطْفًا لَا أَحْفَظُهُ فَإِذَا هُوَ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ، فَانْتَهَيْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَقَدْ كُسِرَتْ رَبَاعِيتُه وشُجّ فِي وَجْهِهِ، وَقَدْ دَخَلَ فِي وَجْنَته حَلْقَتَانِ مِنْ حِلَق المِغْفَر، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "عَليكُما صَاحِبَكُما". يُرِيدُ طَلْحَةَ، وَقَدْ نَزَفَ، فَلَمْ نَلْتَفِتْ إِلَى قَوْلِهِ، قَالَ: وَذَهَبْتُ لِأَنْ أَنْزِعَ  ذَلِكَ مِنْ وَجْهِهِ، فَقَالَ أَبُو عُبَيْدَةَ: أَقْسَمْتُ عَلَيْكَ بِحَقِّي لَمَا تَرَكْتَنِي. فَتَرَكْتُهُ، فَكَرِهَ أَنْ يَتَنَاوَلَهَا بِيَدِهِ فَيُؤْذِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأزَمَّ عَلَيْهَا بِفِيهِ فَاسْتَخْرَجَ إِحْدَى الْحَلْقَتَيْنِ، وَوَقَعَتْ ثَنيَّته مَعَ الْحَلْقَةِ، ذَهَبْتُ لِأَصْنَعَ مَا صَنَعَ، فَقَالَ: أَقْسَمْتُ عَلَيْكَ بِحَقِّي لَمَا تَرَكْتَنِي، قَالَ: فَفَعَلَ مِثْلَ مَا فَعَلَ فِي الْمَرَّةِ الْأُولَى، فَوَقَعَتْ ثَنِيَّتُهُ الْأُخْرَى مَعَ الْحَلْقَةِ، فَكَانَ أَبُو عُبَيْدَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَحْسَنَ النَّاسِ هَتْما، فَأَصْلَحْنَا مِنْ شَأْنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ أَتَيْنَا طَلْحَةَ فِي بَعْضِ تِلْكَ الْجِفَارِ، فَإِذَا بِهِ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ أَقَلُّ أَوْ أَكْثَرُ مِنْ طَعْنَةٍ ورَمْيَة وَضَرْبَةٍ، وَإِذَا قَدْ قُطعَتْ إِصْبَعُهُ، فَأَصْلَحْنَا مِنْ شَأْنِهِ.

Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak, dari Ishaq ibnu Yahya ibnu Talhah ibnu Ubaidillah, telah menceritakan kepadaku Isa ibnu Talhah, dari Ummul Mukminin r.a. yang menceritakan bahwa sahabat Abu Bakar apabila teringat akan Perang Uhud, ia selalu mengatakan, "Hari itu keseluruhannya merupakan hari bagi Talhah." Selanjutnya Abu Bakar menceritakan peristiwa tersebut, bahwa dia adalah orang yang mula-mula kembali ke medan perang dalam Perang Uhud. Lalu ia melihat seorang lelaki yang sedang bertempur dengan gigihnya bersama Rasulullah Saw. untuk melindunginya. Lalu aku (Abu Bakar) berkata, "Mudah-mudahan engkau adalah Talhah, mengingat aku sendiri tidak dapat melakukannya karena ada halangan yang menghambatku. Kalau memang demikian, berarti dia (Talhah) adalah seorang lelaki dari kaumku yang paling aku cintai." Saat itu antara aku (Abu Bakar) dan pasukan kaum musyrik terdapat seorang lelaki yang tidak aku kenal, sedangkan posisiku lebih dekat kepada Rasulullah Saw. ketimbang dia. Dia berjalan dengan langkah-langkah yang tidak kukenal sebelumnya, tetapi cukup cepat. Setelah dekat, temyata dia adalah Abu Ubaidah ibnul Jarrah. Ketika aku sampai kepada Rasulullah Saw., kujumpai gigi serinya rontok dan wajahnya terluka, dua mata rantai dari kerudung besinya melukai pipi beliau. Maka Rasulullah Saw. bersabda, "Kamu berdua harus menolong teman kamu," yang beliau maksud adalah Talhah. Saat itu darah mengucur dari luka beliau, maka kami tidak mempedulikan ucapan beliau. Aku segera bersiap-siap mencabut kedua mata rantai itu dari wajahnya, tetapi Abu Ubaidah berkata, "Aku mohon kepadamu, biarkanlah aku yang menangani ini." Maka aku biarkan dia melakukannya. Abu Ubaidah tidak suka mencabut dengan tangannya karena khawatir akan membuat Rasulullah Saw. kesakitan, maka ia menggigit dengan mulutnya. Ia dapat mencabut salah satu dari kedua mata rantai, tetapi bersamaan dengan itu satu gigi serinya rontok. Maka aku (Abu Bakar) bermaksud untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Abu Ubaidah, tetapi Abu Ubaidah berkata, "Aku mohon kepadamu, biarkanlah aku yang melakukan ini." Maka ia lakukan seperti yang ia lakukan pada pertama kalinya tadi, dan gigi serinya rontok pula bersama tercabutnya mata rantai terakhir. Sejak itu Abu Ubaidah adalah orang ompong yang paling baik. Setelah kami merawat dan mengobati Rasulullah Saw., kemudian kami menemui Talhah yang ada di salah satu galian, ternyata kami jumpai pada tubuhnya kurang lebih tujuh puluh luka akibat tusukan tombak, pukulan pedang, dan lemparan panah. Kami jumpai pula jari telunjuknya terpotong, maka kami urus jenazahnya.

Al-Haisam ibnu Kulaib dan Imam Tabrani meriwayatkannya melalui hadis Ishaq ibnu Yahya dengan lafaz yang sama.

Tetapi di dalam riwayat Al-Haisam disebutkan bahwa Abu Ubaidah mengatakan, "Aku mohon kepadamu, hai Abu Bakar, biarkanlah aku yang melakukan ini." Lalu Abu Ubaidah mencabut panah itu dengan mulutnya secara pelan-pelan karena takut membuat Rasulullah Saw. kesakitan. Akhimya anak panah itu berhasil ia cabut, tetapi bersamaan dengan itu gigi serinya rontok. Lalu Al-Haisam melanjutkan kisahnya. Hadis ini dipilih oleh Al-Hafiz Ad-Diya Al-Maqdisi di dalam kitabnya.

Ali ibnul Madini menilai daif hadis ini ditinjau dari jalur Ishaq ibnu Yahya. Karena sesungguhnya Ishaq ibnu Yahya dibicarakan mempunyai kelemahan oleh Yahya ibnu Sa'id Al-Qattan, Imam Ahmad, Yahya ibnu Mu'in, Imam Bukhari, Abu Zar'ah, Abu Hatim, Muhammad ibnu Sa'd, Imam Nasai serta lain-lainnya.

قَالَ ابْنُ وَهْب: أَخْبَرَنِي عَمْرو بْنُ الْحَارِثِ: أَنَّ عُمَر بْنَ السَّائِبِ حَدَّثَهُ: أَنَّهُ بَلَّغَهُ أَنَّ مَالِكًا أَبَا [أَبِي] سَعِيدٍ الخُدْري لمَّا جُرِحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ أُحُدٍ مَصّ الْجُرْحَ حَتَّى أَنْقَاهُ وَلَاحَ أَبْيَضَ، فَقِيلَ لَهُ: مُجَّه. فَقَالَ: لَا وَاللَّهِ لَا أَمُجُّهُ أَبَدًا. ثُمَّ أَدْبَرَ يُقَاتِلُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، فلينظُرْ إِلَى هَذَا " فَاسْتُشْهِدَ

Ibnu Wahb meriwayatkan, telah menceritakan kepadaku Amr ibnul Haris, bahwa Umar ibnus Saib pernah menceritakan kepadanya bahwa Malik (yaitu ayah sahabat Abu Sa'id Al-Khudri) ketika Rasulullah Saw. terluka dalam Perang Uhud, maka ia menyedot luka itu dengan mulutnya hingga bersih dan tampak putih. Lalu dikatakan kepadanya, "Ludahkanlah!" Malik menjawab, "Tidak, demi Allah, aku tidak akan mengeluarkannya untuk selama-lamanya." Kemudian Malik berbalik dan maju bertempur, maka Nabi Saw. bersabda: Barang siapa yang ingin melihat seorang lelaki dari penduduk surga, hendaklah ia memandang orang ini. Akhirnya Malik gugur sebagai syuhada.

Telah disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui jalur Abdul Aziz ibnu Abu Hazm, dari ayahnya, dari Sahl ibnu Sa'd, bahwa ia pernah ditanya mengenai luka yang dialami oleh Rasulullah Saw. Maka ia menjawab: Wajah Rasulullah Saw. terluka dan gigi serinya rontok serta topi besi yang ada di kepalanya pecah. Maka Siti Fatimah mencuci darahnya, dan sahabat Ali mengucurkan air dengan tameng. Ketika Fatimah melihat bahwa air tidak dapat menghentikan darah, bahkan justru bertambah banyak; maka ia mengambil sepotong tikar, lalu ia bakar hingga menjadi abu, kemudian abunya ia tempelkan ke anggota yang luka, maka barulah darah berhenti.

Firman Allah Swt.:

فَأَثابَكُمْ غَمًّا بِغَمٍّ

Karena itu, Allah menimpakan atas kalian kesedihan atas kesedihan. (ali Imran: 153)

Yakni Allah membalas kalian dengan kesusahan di atas kesusahan yang lain. Perihalnya sama dengan perkataan orang-orang Arab, "Engkau tinggal di Bani Fulan, juga tinggal di Bani Anu." Menurut Ibnu Jarir, demikian pula makna firman-Nya:

وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ

dan  sesungguhnya  aku  akan  menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma. (Taha: 71)
'Ala juzu'in nakhli, artinya pada pangkal pohon kurma.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa kesusahan pertama disebabkan kekalahan dan ketika diserukan bahwa Muhammad Saw. telah terbunuh. Sedangkan kesusahan yang kedua ialah ketika pasukan kaum musyrik menduduki posisi yang lebih tinggi daripada mereka di atas bukit, dan Nabi Saw. bersabda:

«اللَّهُمَّ لَيْسَ لَهُمْ أَنْ يَعْلُونَا»

Ya Allah, mereka tidak boleh lebih tinggi daripada kita.


Dan diriwayatkan dari Abdur Rahman ibnu Auf, bahwa kesusahan yang pertama disebabkan kekalahan, sedangkan kesusahan yang kedua terjadi ketika diserukan bahwa Nabi Muhammad Saw. telah terbunuh. Berita yang kedua ini mereka rasakan lebih berat ketimbang kekalahan yang mereka derita.

Kedua asar tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih. Telah diriwayatkan pula hal yang semisal dari Umar ibnul Khattab. Ibnu Abu Hatim meriwayatkan hal yang semisal dari Qatadah.

As-Saddi mengatakan bahwa kesusahan pertama disebabkan telah luput dari mereka ganimah dan kemenangan. Kesusahan yang kedua karena musuh beroleh kemenangan atas mereka.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Karena itu, Allah menimpakan atas kalian kesedihan atas kesedihan. (Ali Imran: 153) Yaitu kesusahan di atas kesusahan, dengan terbunuhnya sebagian di antara saudara-saudara kalian, musuh kalian menang atas kalian, dan kesedihan yang mencekam hati kalian ketika mendengar bahwa Nabi kalian telah dibunuh. Hal tersebut terjadi menimpa kalian secara berturut-turut, hingga menjadi kesedihan di atas kesedihan.

Mujahid dan Qatadah mengatakan bahwa kesusahan pertama karena mereka mendengar bahwa Nabi Muhammad dibunuh, kesusahan yang kedua ialah pembunuhan dan pelukaan yang diderita mereka dalam perang itu. Telah diriwayatkan dari Qatadah serta Ar-Rabi' ibnu Anas hal yang sebaliknya.

Diriwayatkan dari As-Saddi bahwa kesedihan yang pertama karena kemenangan dan ganimah terlepas dari tangan mereka. Kesedihan kedua karena musuh dapat mengalahkan mereka dan berada di atas mereka. Pendapat ini telah disebut keterangannya dari As-Saddi.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat yang benar di antara semuanya ialah pendapat orang yang mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Karena itu, Allah menimpakan atas kalian kesedihan atas kesedihan. (Ali Imran: 153) karena itu, Allah menggantikan nikmat kalian —hai orang-orang mukmin— dengan terhalangnya kalian mendapat ganimah dari kaum musyrik dan kemenangan atas mereka serta mendapat bantuan untuk menghadapi mereka, sehingga kalian banyak yang gugur dan mengalami luka-luka pada hari itu. Padahal pada mulanya Allah telah memperlihatkan kepada kalian dalam kesemuanya itu hal-hal yang kalian sukai. Hal ini terjadi karena kalian durhaka terhadap Tuhan kalian dan kalian berani melanggar perintah nabi kalian. Kini kalian menjadi sedih setelah kalian menduga bahwa nabi kalian telah dibunuh, musuh berhasil memukul mundur kalian, dan keadaannya menjadi terbalik

Firman Allah Swt: 

{لِكَيْلا تَحْزَنُوا عَلَى مَا فَاتَكُمْ}

supaya kalian jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari kalian. (Ali Imran: 153) 
Yakni ganimah dan kemenangan atas musuh kalian yang luput dari tangan kalian.

{وَلا مَا أَصَابَكُمْ}

dan terhadap apa yang menimpa kalian. (Ali Imran: 153) 
Yaitu berupa luka-luka yang banyak dialami oleh kalian, juga yang terbunuh. Demikianlah menurut penafsiran Ibnu Abbas, Abdur Rahman ibnu Auf, Al-Hasan, Qatadah, dan As-Saddi.

{وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ}

Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. (Ali Imran: 153) 
Mahasuci Allah dengan segala puji-Nya, tidak ada Tuhan selain Allah Yang Mahaagung lagi Mahatinggi.

Perang Tanding Dalam Perang Uhud


Sebelum membahas peperangan yang dilakukan Rasulullah SAW perlu kita ketahui bahwa peperangan pada zaman Rasulullah SAW itu ada 2 macam, yaitu :
1.  Sariyyah ialah peperangan yang dilakukan oleh pasukan tentara Islam yang dikirim oleh Nabi SAW, sedangkan beliau tidak turut di dalamnya.
2.  Ghazwah ialah peperangan yang Nabi SAW turut di dalamnya.
Pasukan Islam yang dipimpin Hamzah bin Abdul Muththalib.
Menurut riwayat, bahwa pada bulan Ramadlan tahun 1 Hijrah, Nabi SAW mengirim pasukan Islam yang pertama kali dan dipimpin oleh Hamzah bin 'Abdul Muththalib RA untuk menghadang kafilah Quraisy. Pasukan tersebut terdiri dari kaum Muhajirin sebanyak 30 orang, berbendera putih dan yang membawa benderanya ialah shahabat Abu Martsad RA.Hamzah berangkat bersama tentara Islam yang jumlahnya sedikit tadi menuju ke suatu tempat yang bernama 'Ish (Hish) dekat lautan yang dipergunakan jalan bagi angkatan perdagangan kaum musyrikin Quraisy.
Adapun kafilah Quraisy tersebut adalah mereka yang sedang kembali dari Syam untuk berdagang sebanyak lebih kurang 300 orang dan dipimpin oleh Abu Jahl. Setelah mereka saling berhadapan dan siap bertempur, tidak lama kemudian datanglah seorang kepala Banu Dlamrah yang bernama Majdiy bin 'Amr Al-Juhaniy, mendamaikan dua golongan tersebut, sehingga pertempuran tidak terjadi. Akhirnya tentara Islam kembali ke Madinah, dan kafilah Quraisy melanjutkan pulang ke Makkah.
Pasukan Islam yang dipimpin oleh 'Ubaidah bin Al-Haarits.
Diriwayatkan, bahwa pada bulan Syawwal tahun 1 Hijrah, Nabi SAW memberangkatkan pula pasukan Islam yang dipimpin oleh shahabat 'Ubaidah bin Al-Haarits untuk menghadang kafilah Quraisy. Pasukan tentara Islam berjumlah 80 orang Muhajirin, berbendera putih yang dibawa oleh shahabat Misthah bin Atsaatsah.Adapun kafilah musyrikin Quraisy sebanyak 200 orang.
Kedua pasukan ini setelah bertemu di tepi laut, di suatu tempat yang bernama Bathnu Rabigh yang terletak antara negeri Makkah dan Madinah, lalu saling melepaskan panah. Akhirnya tentara kaum musyrikin ketakutan terhadap kaum muslimin, lalu mereka mundur. Pada peristiwa tersebut Sa'ad bin Abi Waqqash sempat melepaskan anak panah, dan itu merupakan panah yang pertama kali dilepaskan dalam Islam. Dan diantara mereka ada dua orang yang menyerahkan diri kepada pasukan muslimin.Kedua orang tadi ialah Miqdad bin Al-Aswad dari Bani Zuhrah dan 'Utbah bin Ghazwan dari Bani Naufal, yang duanya itu keturunan Quraisy.Setelah mereka menyerahkan diri, lalu dengan ikhlash mengikut Islam.
Peristiwa lain-lain yang terjadi pada th. 1 Hijrah.
1. Wafatnya beberapa shahabat :
a. Wafatnya shahabat Kaltsum bin Hadam RA.
Kaltsum bin Hadam adalah seorang shahabat Anshar yang pada waktu Nabi SAW sampai di Quba' dalam perjalanan hijrah ke Madinah rumahnya didiami oleh Nabi SAW. Dan dia adalah shahabat Anshar yang pertama wafat setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah.
b. Wafatnya 'Utsman bin Madl'un RA.
Shahabat 'Utsman bin Madl'un adalah seorang shahabat dan saudara susu Nabi SAW. Dan dia termasuk dari orang-orang yang mula-mula masuk Islam, dan pernah ikut berhijrah ke Habsyi. Dan dia adalah shahabat Muhajirin yang pertama wafat. Dan diriwayatkan, bahwa pada waktu dia dimakamkan, Nabi SAW memerintahkan kepada seorang laki-laki untuk mengambil sebuah batu yang agak besar.Setelah Nabi SAW mendapatkan batu itu, beliau meletakkannya di arah kepalanya sambil bersabda :
اَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ اَخِى وَ اَدْفِنُ اِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ اَهْلِى. ابو داود و ابن ماجه
Aku menandai dengan (batu) ini akan kubur saudaraku ini dan aku mengubur di sini orang yang mati dari ahliku. [HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah]
c. Wafatnya shahabat As'ad bin Zurarah RA.
Shahabat As'ad bin Zurarah adalah seorang shahabat Anshar, dan dalam bai'at 'Aqabah yang kedua, Nabi SAW telah menetapkannya sebagai pengawas bagi kaum Banu Sa'idah. Maka setelah ia wafat, jabatan pengawas bagi kaumnya itu dipegang oleh Nabi SAW sendiri, dan hal ini berdasarkan kemauan dan pilihan kaum Banu Sa'idah itu sendiri.
d. Wafatnya shahabat Barra' bin Ma'rur RA.
Dia adalah seorang shahabat Anshar yang dalam bai'at 'Aqabah yang kedua berbicara di hadapan Nabi SAW atas nama kaumnya (Banu Salamah) dan dialah yang ditetapkan menjadi pengawas bagi kaumnya.
e. Kelahiran 'Abdullah bin Zubair RA‎
Menurut riwayat, beberapa bulan sesudah Nabi SAW sampai di Madinah dalam hijrah beliau, keluarga shahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq RA menyusul hijrah. Diantara keluarga ini ialah Asma' yaitu putri shahabat Abu Bakar, kakak perempuan 'Aisyah, dan dia adalah istri shahabat Zubair bin 'Awwam. Ketika Asma' berangkat berhijrah dia sedang hamil. Kemudian, beberapa bulan sesudah dia sampai di Madinah, dia melahirkan seorang putera yang dinamakan 'Abdullah. 'Abdullah bin Zubair ini adalah seorang putera dari shahabat Muhajirin yang pertama-tama dilahirkan. Lahirnya shahabat 'Abdullah bin Zubair berarti lahirnya seorang calon pejuang Islam, karena ternyata dia adalah seorang pejuang Islam sampai akhir hayatnya.
Dan pada tahun 1 Hijrah itu pula 2 orang musuh Islam telah meninggal :
1. Kematian Walid bin Mughirah.
Walid bin Mughirah adalah seorang yang sangat memusuhi Islam dan merintangi seruan Nabi SAW ketika di Makkah, karena dia memang salah seorang ketua dan kepala bangsa Quraisy di Makkah. Pada tahun pertama hijrah, dia mati dengan penuh penyesalan. Dan diriwayatkan bahwa pada saat ajalnya hampir tiba, ia sering mengeluh dan tampak sangat susah. Maka Abu Jahl bertanya kepadanya, "Wahai pamanku, mengapa engkau tampak begitu sedih, lalu apa yang menyebabkan engkau mengeluh ?". Walid bin Mughirah menjawab, "Saya sedih ini bukan karena takut akan mati, tetapi karena saya khawatir, kalau-kalau sepeninggal saya nanti agama Ibnu Abi Kabsyah mendapat kemenangan". [Yang dimaksud Ibnu Abi Kabsyah adalah Nabi SAW].
Kemudian Abu Sufyan segera menyahut,"Jangan khawatir, jangan takut, saya tanggung agama Ibnu Abi Kabsyah tidak akan dapat masuk ke Makkah. Jangankan mendapat kemenangan, masuk saja tidak akan bisa". Demikianlah riwayat kematian Walid bin Mughirah.
2. Kematian 'Ash bin Waail.
Beberapa hari sesudah Walid bin Mughirah meninggal, lalu 'Ash bin Waail As-Sahmiy menyusul meninggal. 'Ash ini adalah seorang kepala Quraisy Makkah yang sangat memusuhi seruan Nabi SAW.
Perang Waddan.
Menurut riwayat, Ibnu Hisyam dari Ibnu Ishaq, dan dikuatkan pula oleh Imam Bukhari dalam Tarikh Shaghirnya, bahwa ghazwah Waddan ini adalah ghazwah (peperangan) yang pertama kali yang dikepalai oleh Nabi SAW. Waddan adalah suatu nama gunung yang terletak diantara Makkah dan Madinah. Dan perang tersebut juga dinamakan ghazwah Abwa', karena berdekatan dengan desa Abwa'.
Ghazwah Waddan ini terjadi pada tanggal 12 bulan Shafar tahun kedua Hijrah. Pada hari dan bulan itu, berangkatlah Nabi SAW dengan diiringi oleh shahabat-shahabat Muhajirin sebanyak 70 orang. Shahabat-shahabat Anshar tidak ada yang disuruh ikut. Sebelum Nabi SAW berangkat, pimpinan kaum muslimin di Madinah diserahkan kepada shahabat Sa'ad bin 'Ubadah RA. Nabi SAW berangkat menuju Waddan diiringi oleh pasukan tersebut dengan berbendera putih yang dibawa oleh shahabat Hamzah RA, Nabi dan tentaranya berangkat untuk menghadang seperangkatan unta yang membawa perdagangan kaum musyrikin Quraisy. Tetapi ternyata seperangkatan unta tersebut telah lewat, maka ghazwah tadi tidak sampai terjadi.
Kemudian di tempat tersebut Nabi SAW mengadakan perjanjian dengan kaum Arab dari Bani Dlamrah, perjanjian tersebut oleh pembesar kaum ini yang bernama Makhsyi bin Amr Adl-Dlamriy pemimpin mereka pada saat itu, dan telah diterima dengan baik. Adapun isi perjanjiannya ialah :
1.  Bahwa Bani Dlamrah tidak diperkenankan menyerang atau memerangi lebih dahulu kepada kaum muslimin.
2.  Bahwa kaum muslimin tidak diperkenankan menyerang atau memerangi lebih dahulu kepada mereka.
3.  Bahwa jika masing-masing dari dua golongan mendapat serangan dari luar, maka wajib membela dan menolong dengan sekuat-kuatnya.
4.  Bahwa Bani Dlamrah tidak diperkenankan membantu apasaja kepada orang yang hendak memusuhi Islam.
Selanjutnya setelah perjanjian perdamaian selesai, Nabi SAW bersama tentara Islam kembai ke Madinah dengan selamat, dan menurut riwayat bahwa sejak dari berangkat sampai kembalinya tentara Islam ini dalam waktu 15 hari.
Perang Buwath.
Sekembali Nabi SAW ke Madinah, tidak lama kemudian Nabi SAW menerima khabar, bahwa seperangkatan unta yang membawa perdagangan kaum musyrikin Quraisy dari negeri Syam sebanyak dua ribu lima ratus unta dan seratus orang laki-laki yang dipimpin Umayyah bin Khalaf akan kembali ke Makkah. Oleh sebab itu Nabi SAW segera berangkat menuju desa Buwath. Buwath adalah nama suatu gunung yang letaknya dari Madinah kira-kira perjalanan 5 pos (dekat pelabuhan Yanbu'). Nabi SAW berangkat diiringi oleh pasukan muslimin yang terdri dari shahabat Muhajirin sebanyak 200 orang, dengan berbendera putih di bawa oleh shahabat Sa'ad bin Abi Waqqash RA. Ketika itu pimpinan kaum muslimin di Madinah diserahkan kepada shahabat Saaib bin 'Utsman bin Madl'un RA. Nabi SAW berangkat dalam bulan Rabi'ul Awwal tahun kedua Hijrah. Setelah Nabi SAW sampai di tempat yang dituju, ternyata seperangkatan unta kaum musyrikin Quraisy tersebut sudah berlalu dari Buwath, maka dari itu pertempuran tidak terjadi, dan Nabi SAW bersama tentara Islam lalu pulang kembali ke Madinah dengan selamat.
Perang 'Usyairah.
Menurut riwayat, bahwa sekembali Nabi SAW di Madinah, tidak beberapa lama, terdengarlah khabar oleh Nabi, bahwa kaum Quraisy di Makkah akan mengadakan angkatan perdagangannya lagi ke negeri Syam, angkatan tersebut sebanyak 1.000 unta, dengan membawa perdagangan seharga 50.000 dinar, dan orang-orang yang mengiringinya lebih dari 30 orang dan dikepalai oleh seorang ketua Quraisy yang tidak asing lagi namanya ialah Abu Sufyan bin Harb. Maka setelah khabar ini didengar oleh Nabi SAW lalu beliau bersiap mengatur pasukan tentara kaum muslimin sebanyak 150 orang, kemudian pada hari permulaan bulan Jumadil Ula tahun kedua Hijrah, berangkatlah Nabi SAW dengan diiringi oleh pasukannya yang terdiri dari shahabat-shahabat Muhajirin dengan membawa bendera putih dan dibawa shahabat Hamzah RA. Pimpinan kaum muslimin di Madinah ketika itu diserahkan kepada Abu Salamah bin 'Abdul Asad. Beliau berangkat menuju suatu desa yang bernama 'Usyairah. Nama 'Usyairah ini asal mulanya nama suatu jurang di dekat Yanbu', dimana beliau sengaja hendak menghadang kaum Quraisy. Tetapi setelah tentara kaum muslimin sampai di tempat tersebut seperangkatan unta kaum Quraisy itu telah berlalu. Maka dari itu tidak terjadi pertempuran. Dan waktu itu Nabi SAW lalu mengadakan perjanjian perdamaian dengan kepala qabilah Bani Mudlij, yang ketika itu mereka di bawah pengaruh Banu Dlamrah, padahal Banu Dlamrah telah mengadakan perdamaian dengan Nabi SAW. Dan perjanjian Nabi SAW dengan Banu Mudlij tersebut adalah seperti perjanjian beliau dengan Banu Dlamrah juga. Kemudian Nabi SAW bersama kaum muslimin kembali ke Madinah dengan selamat.‎
Diriwayatkan, bahwa sekembali Nabi SAW dan kaum muslimin dari 'Usyairah tersebut, selang beberapa hari Nabi SAW menerima khabar, bahwa di suatu desa yang bernama Badr, ada seorang bernama Kurz bin Jabir Al-Fahriy merusak tanaman dan merampas buah-buahan kepunyaan penduduk Madinah. Maka Nabi SAW segera berangkat bersama kaum muslimin (yang jumlahnya di dalam kitab-kitab tarikh yang telah kami baca tidak disebutkan). Beliau berangkat dengan berbendera putih dan dibawa oleh shahabat 'Ali bin Abu Thalib RA. Adapun pimpinan kaum muslimin di Madinah diserahkan kepada shahabat Zaid bin Haritsah. Nabi SAW berangkat sengaja hendak mengejar perampas dan perusak tadi, tetapi setelah Nabi sampai di Badr, perampas dan perusak tadi sudah meloloskan diri, maka pertempuran itu tidak terjadi.
Kemudian Nabi SAW bersama pengiringnya kembali ke Madinah dengan selamat.
Nama Badr ini adalah nama suatu tempat mata air yang terletak diantara Makkah dan Madinah, tetapi lebih dekat dari Madinah, dan perang ini di dalam kitab-kitab tarikh dinamakan Perang Badrul ula dan disebut pula Perang Shafwan. Nama Shafwan ini adalah nama suatu jurang di dekat Badr.
Pasukan Islam yang dipimpin 'Abdullah bin Jahsy.
Pada bulan Rajab tahun kedua Hijrah, Nabi SAW memberangkatkan 'Abdullah bin Jahsy bersama 8 orang dan dikepalai oleh 'Abdullah bin Jahsy, adapun 8 orang tadi merupakan jago-jago pemuda shahabat Muhajirin, yaitu : 1. Sa'ad bin Abu Waqqash, 2. 'Ukkasyah bin Mihshan, 3. 'Utbah bin Ghazwan, 4. Abu Hudzaifah bin 'Utbah, 5. Suhail bin Baidla', 6. 'Amir bin Rabi'ah, 7. Waqid bin 'Abdullah, 8. Khalid bin Bukair, dan 'Abdullah bin Jahsy sebagai kepala mereka.Tiap-tiap dua orang diantara mereka, berkendaraan unta. Sebelum mereka berangkat, pimpinan mereka diberi sepucuk surat tertutup oleh Nabi SAW. Surat tersebut tidak boleh dibuka sebelum perjalanan dua hari dua malam.Setelah perjalanan dua hari dua malam, barulahsurat tersebut dibuka oleh 'Abdullah bin Jahsy, dan di dalamnya berisi petunjuk, yaitu : "Apabila kamu telah membaca suratku ini, hendaklah kamu terus berjalan sehingga sampai di desa Nakhlah yang desa itu terletak diantara Makkah dan Thaif. Setelah tiba di sana, lalu kamu turun dan selidikilah keadaan kaum Quraisy. Kemudian setelah kamu mendapatkan berita tentang mereka, maka segeralah kamu memberi khabar kepada kami".
Setelah surat tersebut dibaca 'Abdullah bin Jahsy, kemudian dia berkata kepada kawan-kawannya, "Sesungguhnya Rasulullah SAW telah memerintahkan kepadaku supaya menyelidiki kaum Quraisy dan rencana-rencana yang akan mereka perbuat. Dan Rasulullah SAW juga melarangku untuk memaksa seorangpun diantara kalian semua. Maka dari itu barangsiapa diantara kalian akan mencari mati syahid dan cinta padanya, marilah kita berangkat bersama-sama, dan barangsiapa tidak cinta kepada yang demikian itu, maka pulanglah. Adapun aku akan terus berjalan mengikuti perintah Rasulullah SAW".
Dan ternyata kawan-kawan 'Abdullah bin Jahsy semuanya ikut meneruskan perjalanan sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW, dan tidak ada seorangpun yang ingin kembali pulang. Namun sebelum sampai desa Nakhlah, tiba-tiba tersesatlah unta yang dikendarai Sa'ad bin Abi Waqqash dan Utbah bin Ghazwan dari jalan yang sebenarnya, sehingga mereka itu tertinggal dari kawan-kawannya.
Dan Abdullah bin Jahsy melanjutkan perjalanannya bersama kawan-kawannya hingga sampai di desa Nakhlah. Dan di tempat itulah mereka dapat bertemu dengan seperangkatan unta kaum Quraisy yang membawa dagangan sedang berjalan dengan dipimpin oleh 'Amr bin Hadlramiy.
Setelah Nabi SAW dan kaum muslimin berpindah ke tempat yang diusulkan Hubab, selanjutnya di tempat tersebut shahabat Sa’ad bin Mu’adz mengemukakan pendapatnya kepada Nabi SAW, ia berkata, “Ya Rasulullah, tidakkah lebih baik tuan kami buatkan ‘arisy (pos/gardu) buat tempattuan ? Dan kami menyediakan satu kendaraan untuk tuan ? Jika nanti kami bertempur dengan musuh, kami minta tuan supaya berada di dalam ‘arisy saja, dan kami yang bertempur dengan musuh. Jika Tuhan memberi kemenangan kepada kita, dan kita dapat menghancurkan musuh, itulah yang kita harapkan. Dan jika kita kalah, kami persilahkan tuan kembali kepada orang-orang yang masih banyak di belakang kita, karena di belakang kita masih banyak orang yang belum ikut berangkat kemari. Kecintaan kami kepada tuan tidak melebihi dari kecintaan mereka kepada tuan. Seandainya mereka tahu bahwa tuan akan berperang, niscaya mereka tidak akan berpisah dari tuan. Tuhan menolong kepada tuan dengan sebab mereka, dan mereka akan berperang melawan musuh bersama-sama tuan”.
Demikianlah perkataan shahabat Sa’ad bin Mu’adz waktu itu. Dan pendapat tersebut diterima dengan baik dan dipuji oleh Nabi SAW.Lalu seketika itu juga dibuatlah suatu ‘arisy dari pelepah pohon kurma diatas bukit yang tampak dari medan peperangan. Maka setelah ‘arisy dibuat dengan kokoh, Nabi SAW lalu dipersilakan masuk ke dalamnya, dan untanya diikat di belakang ‘arisy, dan shahabat Abu Bakar RA sebagai kawan yang tercinta diajak masuk bersama-sama oleh Nabi SAW.
Kedatangan tentara Quraisy dan doa Nabi SAW.
Sesudah tentara Islam mendapat tempat yang baik, dan keadaan air pun tidak kekurangan, serta berbenteng di gunung-gunung yang begitu kokoh lagi pula tempat bagi Nabi SAW telah selesai dibuat, dan kemah-kemah yang dipergunakan tempat beristirahat oleh masing-masing tentara telah selesai dipasang juga, maka ketika itu datanglah pasukan tentara musyrikin Quraisy dengan sombong dan congkak.
Nabi SAW setelah melihat kedatangan tentara Quraisy yang begitu sombong dan congkak itu lalu berdoa kepada Allah :

اَللّهُمَّ هذِهِ قُرَيْشٌ قَدْ اَقْبَلَتْ بِخُيَلاَئِهَا وَ فَخْرِهَا تُحَادُّكَ وَ تُكَذِّبُ رَسُوْلَكَ، اَللّهُمَّ فَنَصْرَكَ الَّذِى وَعَدْتَنِى. اَللّهُمَّ اَحِنْهُمُ اْلغَدَاةَ. ابن هشام 3:168

Ya Allah, Inilah kaum Quraisy telah datang dengan sombong dan congkak. Mereka memusuhi Engkau dan mendustakan Rasul Engkau. Ya Allah, maka pertolongan Engkau yang telah Engkau janjikan kepada hamba (itulah yang kami nantikan). Ya Allah, binasakanlah mereka itu besok pagi hari. [Ibnu Hisyam 3 : 168]
Kemudian kepala tentara Quraisy menyuruh seseorang yang bernama ‘Umair bin Wahb Al-Jumahiy supaya datang ke tempat tentara Islam untuk menghitung banyaknya. ‘Umair lalu datang dan memperkirakan banyaknya, lantas kembali melapor kepada kepala tentara Qurais, bahwa tentara Muhammad kurang lebih 300 orang.Tetapi ‘Umair juga berkata, “Sekalipun begitu, cobalah kita per-hatikan dulu dari jauh dan dari atas gunung, apakah memang tentara Muham-mad hanya itu, ataukah ada lagi yangbersembunyi ? Sebab saya khawatir, jika Muhammad menyembunyi-kan tentaranya di belakang gunung ini”.
Perkataan ‘Umair yang demikian itu diterima baik oleh kepala-kepala Quraisy, dan mereka lalu berangkat bersama ‘Umair naik ke atas gunung dekat lembah Badr. Mereka setelah sampai diatas gunung, lalu masing-masing melihat ke sebelah bawah (ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang), tetapi mereka tidak melihat apa-apa. Karena tentara Muhammad memang hanya itu.
Kemudian ketika itu dalam pasukan tentara Quraisy timbul pula suatu kekacauan yang hebat yaitu kekacauan yang ditimbulkan oleh seseorang dari antara kepala pasukan Quraisy sendiri, ialah ‘Utbah bin Rabi’ah.
‘Utbah waktu itu mendadak berpendapat, bahwa berperang dengan Muhammad jangan dilanjutkan, karena bukan semestinya kalau tentara Quraisy berperang dengan Muhammad dan tentaranya, karena sebagian dari tentaranya masih famili kaum Quraisy sendiri.
Oleh sebab itu dengan adanya pendapat ‘Utbah ini, lalu timbul perdebatan dan pertengkaran mulut dengan Abu Jahl, sehingga ketika itu Abu Jahl mengatakan, bahwa ‘Utbah penakut, pengecut dan sebagainya.
Dan ketika timbul perdebatan tadi, Nabi SAW mengetahui dari jauh dan saat itu juga tentara Islam ketika melihat tentara Quraisy, tidak merasa takut dan gentar sedikitpun.
Pendapat ‘Utbah tadi setelah diperbincangkan oleh kepala-kepala pasukan, maka akhirnya ‘Utbah kalah suara, dan diputuskan oleh kepala-kepala pasukan Quraisy, bahwa peperangan dilanjutkan.
Kemudian waktu itu ada seorang Quraisy yang dengan sombong keluar lebih dulu dari barisan tentaranya. Orang tersebut bernama Aswad bin ‘Abdul Asad Al-Makhzumiy. Ia keluar terus berjalan menuju ke kolam-kolam yang telah penuh air bagi tentara Islam, sambil berkata,“Saya bersumpah dengan nama Allah, sungguh saya akan minum dari kolam mereka, dan saya akan merusak kolam-kolam mereka, jika tidak bisa lebih baik saya mati”.
Ketika itu terdengar oleh shahabat Hamzah, lalu beliau mengejar Aswad. Kemudian setelah diketahui bahwa ia hendak merusak kolam kepunyaan tentara Islam, lalu didahului dengan pukulan pedang sekeras-kerasnya oleh shahabat Hamzah, maka seketika itu juga jatuhlah Aswad tertelungkup di kolam dengan mengucurkan darah yang banyak, lalu Hamzah memukulnya hingga mati bersimbah darah.
Selanjutnya sebagaimana biasa bagi bangsa Arab umumnya terutama bagi bangsa Quraisy, apabila hendak berperang, maka diantara pahlawan-pahlawannya lebih dulu harus bertanding dan beradu kekuatan dengan pahlawan-pahlawan musuh, seorang lawan seorang. Maka dari itu sewaktu sebelum terjadi pertempuran dan peperangan, kepala tentara Quraisy minta dan menentang dengan sombong kepada Nabi SAW supaya Nabi mengeluarkan tiga orang dari pahlawan tentaranya untuk bertanding dan beradu kekuatan dengan pahlawan-pahlawan tentara Quraisy.
Maka setelah tentara Quraisy mengeluarkan 3 orang pahlawannya yang gagah berani di tengah medan yang akan dipergunakan berperang, maka Nabi SAW bersabda kepada 3 orang pahlawan tentaranya dari golongan shahabat Anshar. Adapun 3 orang dari pahlawan tentara Quraisy tadi ialah : 1. ‘Utbah bin Rabi’ah, 2. Syaibah bin Rabi’ah, dan 3. Walid bin ‘Utbah. Adapun dari pahlawan tentara Islam yang disuruh keluar oleh Nabi, ialah : 1. ‘Auf bin Al-Harits, 2. Mu’adz bin Al-Harits, dan 3. ‘Abdullah bin Rawahah. Masing-masing dari shahabat Anshar.
Kemudian pahlawan-pahlawan Quraisy tersebut bertanya, “Siapa kalian ?”. Pahlawan-pahlawan Islam itu menjawab, “Kami dari golongan Anshar, dan dari Madinah”. Lalu oleh pahlawan Quraisy tadi ditolak dengan ejekan, “Ah, bukan sepatutnya kalau kami bertanding dengan kamu, karena kamu bukan dari bangsa kami. Percuma kalau kamu bertanding dengan kami”. Lalu mereka berteriak meminta kepada Nabi SAW,“Ya Muhammad, keluarkanlah 3 orang dari golongan kita (Quraisy) dan yang dari keturunan Hasyim”. Oleh sebab itu Nabi SAW lalu menyuruh 3 orang Anshar tadi supaya mengundurkan diri, dan beliau menyuruh kepada 3 orang pahlawan Islam dari bangsa Quraisy dan Bani Hasyim, yaitu : 1. Hamzah bin ‘Abdul Muththalib, 2. ‘Ali bin Abu Thalib, dan 3. ‘Ubaidah bin Al-Harits supaya keluar menggantikan 3 orang pahlawan dari Anshar tadi.
Shahabat Hamzah, shahabat ‘Ali dan shahabat ‘Ubaidah seketika itu juga berdiri dengan tegak, terus keluar dari tempatnya masing-masing dan menuju ke tengah medan pertempuran, lalu mendekati mereka masing-masing yang sombong itu. Kemudian setelah masing-masing berdekatan dan berhadapan muka, lalu mereka bertanya dengan sombong, “Siapakah kamu sekalian itu ?”. Shahabat ‘Ubaidah menjawab,“Saya ‘Ubaidah bin Al-Harits”. Kemudian shahabat Hamzah mengatakan, “Saya Hamzahbin ‘Abdul Muththalib”. Dan shahabat ‘Ali mengatakan, “Saya ‘Ali bin Abu Thalib”. Mereka berkata, “Ya baiklah. Memang sudah sepatutnya kalau kami bertanding dengan kamu. Kami dari Quraisy, dan kamu juga dari Quraisy”.
Kemudian pertandingan beradu kekuatan dimulai seorang dengan seorang. Shahabat ‘Ubaidah dengan ‘Utbah bin Rabi’ah, shahabat Hamzah dengan Syaibah bin Rabi’ah dan shahabat ‘Ali dengan Walid bin ‘Utbah.
Maka setelah masing-masing saling memukul dan beradu kekuatan, shahabat Hamzah dengan mudah mengalahkan Syaibah sampai mati.Shahabat ‘Ali dengan mudah mengalahkan Walid hingga mati. Adapun shahabat ‘Ubaidah dalam bertanding dengan Utbah bin Rabi’ah, mereka saling memukul. Dan akhirnya shahabat ‘Ubaidah dipukul dengan keras oleh ‘Utbah sehingga kakinya terkena dan hampir putus.Sebab itu shahabat ‘Ubaidah lalu jatuh, dan segera diangkat shahabat Hamzah dan ‘Ali dibawa ke hadapan Nabi SAW. Lalu shahabat Hamzah dan ‘Ali kembali lagi ke medan perang dan bertanding dengan ‘Utbah, dan dengan sekejap ‘Utbah terpukul oleh ‘Ali hingga menghem-buskan nafas yang terakhir.
Keadaan shahabat ‘Ubaidah setelah di hadapan Nabi SAW lalu disuruh berbaring diatas tikar beliau, maka setelah ia berbaring diatas tikar lalu berkata, “Bukankah saya mati syahid, yaRasulullah ?”. Nabi SAW bersabda :
اَشْهَدُ اَنَّكَ شَهِيْدٌ
Aku menyaksikan, bahwa engkau mati syahid.
Maka seketika itu juga, wafatlah shahabat ‘Ubaidah dengan hati gembira.
Jadi dalam pertandingan adu kekuatan tadi, tentara Quraisy kehilangan tiga orang pahlawannya, dan tentara Islam kehilangan seorang pahlawan, dan dengan kejadian ini menjadi suatu tanda, bahwa dalam peperangan nanti kemenangan akan didapat oleh kaum muslimin.

Pertempuran tentara Quraisy dengan tentara Islam.
Setelah selesai pertandingan tersebut, lalu Nabi SAW keluar dari ‘arisy untuk mengatur barisan tentaranya sambil memberi pengarahan tentang cara-caranya orang melepaskan anak panahnya kepada musuh dan lain sebagainya.
Dan diriwayatkan bahwa Nabi SAW ketika mengatur barisan, beliau memukul seorang shahabat yang bernama Sawad bin Ghaziyah (Anshar) dengan tongkatnya, karena waktu Nabi SAW mengatur, ia beromong kosong dengan kawannya sambil dirinya keluar dari barisan yang tengah diatur dengan sebaik-baiknya. Beliau menegur, “Disiplinlah, hai Sawad”, beliau sambil memukul perut Sawad dengan tongkat. Lalu Sawad menjawab, “Ya Rasulullah, engkau diutus dengan membawa kebenaran dan keadilan, maka aku akan membalasmu”. Lalu Rasulullah SAW membuka bajunya dan bersabda, “Silakan membalas, hai Sawad”. Kemudian Sawad merangkul dan menciumi perut beliau. Lalu Nabi SAW bertanya, “Apa yang menyebabkan kamu berlaku demikian ?”. Sawad menjawab,“Sungguh telah datang apa yang kamu lihat, maka aku menginginkan supaya akhir hayatku kulitku bisa bertemu dengan kulitmu”. 
Kemudian Rasulullah SAW mendoakan kebaikan untuknya.
Setelah selesai mengatur pasukan, beliau kembali ke ‘arisy bersama Abu Bakar, sedangkan shahabat Sa’ad bin Mu’adz berjaga di pintu ‘arisy dengan pedang terhunus. Lalu beliau SAW tidak henti-hentinya berdoa :
اَللّهُمَّ اَنْشُدُكَ عَهْدَكَ وَ وَعْدَكَ ، اَللّهُمَّ اِنْ شِئْتَ لَمْ تُعْبَدْ. نور اليقين:107
Ya Allah, hamba memohon kepada Engkau akanjanji dan perjanjian Engkau. Ya Allah, jika Engkau berkehendak (mengalahkan pada hamba), Engkau tidak akan disembah. [Nurul Yaqin 107].
Dan dalam satu riwayat Nabi SAW menghadap ke qiblat dan berdoa :
اَللّهُمَّ اَنْجِزْ لِى مَا وَعَدْتَنِى، اَللّهُمَّ اِنْ تُهْلِكْ هذِهِ اْلعِصَابَةَ مِنْ اَهْلِ اْلاِسْلاَمِ فَلاَ تُعْبَدُ بَعْدُ فِى اْلاَرْضِ اَبَدًا. نور اليقين: 107
Ya Allah, sempurnakanlah kepadaku janji-Mu. Ya Allah, jika Engkau mengalahkan kaum muslimin, maka Engkau tidak akan disembah di bumi ini sesudah itu selamanya. [Nurul Yaqin : 107]
Beliau SAW terus-menerus berdoa kepada Allah sehingga selendangnya jatuh, kemudian Abu Bakar mengambilnya dan menyelempangkannya kembali sambil berkata, “Cukuplah ya Rasulullah, pasti Allah akan menyempurnakan janji-Nya kepadamu”. Kemudian Rasulullah SAW keluar dari ‘arisy dan bersabda sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Qamar ayat 45 :
سَيُهْزَمُ اْلجَمْعُ وَ يُوَلُّوْنَ الدُّبُرَ. القمر:45

Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke  belakang.
Diriwayatkan pula, bahwa sebelum terjadi pertempuran, Nabi SAW bersabda sambil berisyarat dengan tangannya, “Itu tempat bangkainya Abu Jahl, itu tempat binasanya si Fulan, ini tempat tewasnya si Fulan”, dan demikianlah selanjutnya. Adapun yang dimaksud dengan si Fulan dan si Fulan tadi ialah dari orang-orang Quraisy yang akan binasa dalam peperangan tersebut.
Selanjutnya Nabi SAW menyampaikan peringatan kepada segenap tentara muslimin, yang arinya, “Hai manusia, janganlah kamu mencita-citakan hendak bertempur dengan musuh, dan mohonlah ampunan kepada Allah.Akan tetapi jika kamu bertemu dengan musuh, hendaklah kamu bertahan (berani bertempur dengan musuh), dan ketahuilah olehmu, bahwa sesungguhnya surga itu di bawah naungan pedang”.
Menurut riwayat, Nabi SAW ketika itu juga berpesan kepada segenap tentaranya :
اِنِّى قَدْ عَرَفْتُ اَنَّ رِجَالاً مِنْ بَنِى هَاشِمٍ وَ غَيْرِهِمْ قَدْ اُخْرِجُوْا كُرْهًا لاَ حَاجَةَ لَهُمْ بِقِتَالِنَا. فَمَنْ لَقِيَ مِنْكُمْ اَحَدًا مِنْ بَنِى هَاشِمٍ فَلاَ يَقْتُلْهُ، وَ مَنْ لَقِيَ اَبَا اْلبُخْتُرِيِّ بْنَ هِشَامٍ فَلاَ يَقْتُلْهُ، وَ مَنْ لَقِيَ اْلعَبَّاسَ بْنَ عَبْدِ اْلمُطَّلِبِ عَمَّ رَسُوْلِ اللهِ، فَلاَ يَقْتُلْهُ، فَاِنَّهُ اِنَّمَا اُخْرِجَ مُسْتَكْرَهًا.
Sesungguhnya saya mengetahui, bahwa beberapa orang lelaki dari Bani Hasyim dan lainnya, mereka itu dikeluarkan dengan paksaan (untuk berperang), padahal mereka itu tidak ada kemauan untuk memerangi kita. Oleh sebab itu, maka barangsiapa diantara kalian bertemu salah seorang dari bani Hasyim, janganlah iamembunuhnya. Barangsiapa bertemu dengan Abul Bukhturiy bin Hisyam janganlah iamembunuhnya. Dan barangsiapa bertemu dengan ‘Abbas bin Abdul Muththalib (paman Rasulullah SAW), maka janganlah iamembunuhnya. Karena sesungguhnya iadikeluarkan untuk berperang dengan dipaksa.
Waktu Nabi SAW berpesan demikian itu, shahabat Abu Hudzaifah bin ‘Utbah bertanya,“Ya Rasulullah, mengapa begitu ? Tidakkah engkau telah menyuruh kami supaya membunuh ketua-ketua kami, orang-orang tua kami, anak-anak kami, saudara-saudara kami dan kawan-kawan kami yang masih dalam kemusyrikan ?Mengapa engkau melarang kami membunuh‘Abbas ? Bukankah ia dari kaum musyrikin juga ?Demi Allah, jika saya bertemu dengan dia, tentu akan saya potong dengan pedang ini”.
Di kala itu Nabi SAW tetap berpesan, “Janganlah mereka itu dibunuh, karena mereka itu keluar dari kota Makkah mengikuti tentara musyrikin dengan dipaksa”.
Pesan Nabi SAW yang demikian itu karena beliau mengerti bahwa pada hakekatnya mereka itu tidak ada kemauan untuk berperang, memerangi kaum muslimin. Dan Abul Bukhturiy sekalipun termasuk pemuka Quraisy, tetapi bukanlah termasuk yang menganiaya Nabi.Bahkan dialah yang berdiri untuk merobek naskah pemboikotan yang pernah dilakukan segenap pemuka Quraisy terhadap Nabi dan pengikutnya serta bani Hasyim di Makkah dulu.Adapun ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib dikala itu meskipun pada lahirnya masih mengikut agama berhala, namun nampaknya Nabi SAW menginginkan bahwa ia nanti akan menjadi muslim. Dan dia pernah menguatkan perjajian rahasia yang pernah dilakukan Nabi dengan kaum ‘Aus dan Khajraj yang terkenal dengan baiatul ‘Aqabah. Demikianlah sebabnya Nabi SAW melarang mereka itu dibunuh mengingat jasa-jasa mereka.
Sebelum perang tempur, kaum musyrikin mengajak untuk perang tanding terlebih dahulu.Nabi SAW diminta supaya mengeluarkan seorang pahlawannya untuk maju perang tanding di tengah medan dengan seorang pahlawan musyrikin. Ketika itu keluarlah dari barisan mereka (tentara musyrikin) seorang pahlawan dengan menunggang unta seraya berkata,“Siapa yang akan berperang tanding ?”. Demikian sampai tiga kali berteriak, “Siapa yang akan berperang tanding ?”. Maka ketika itu Zubair dengan gagah berani maju dan meloncat ke atas untanya, lalu bergulat di atas unta, dan akhirnya jatuhlah orang musyrikin tadi dan sahabat Zubair juga jatuh, tetapi jatuh di atas diri orang musyrikin tadi, dan dengan cepat  Zubair membunuhnya, sehingga kemenangan berada di tangan shahabat Zubair RA. Shahabat Zubair RA lalu kembali ke tempat barisan tentara muslimin.Waktu itulah Nabi SAW bersabda :

اِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوَارِيًّا، وَ الزُّبَيْرَ حَوَارِيَّ. سير اعلام النبلاء 1: 397

“Bagi tiap-tiap seorang Nabi (tentu) mempunyai shahabat setia, dan Zubair adalah shahabat setiaku”. [Sairu A’laamin Nubalaa’ I, hal. 397]
Kemudian keluarlah seorang pahlawan Quraisy lagi dengan gagah, bernama Thalhah bin Abu Thalhah (pemegang bendera Quraisy) ke tengah-tengah antara kedua pasukan sambil berteriak, “Siapa yang akan berperang tandingberikutnya ?”. Demikianlah ia meminta kepada tentara muslimin sampai berulang-ulang, tetapi oleh tentara muslimin tidak dijawab.
Thalhah berteriak lagi, “Hai pengikut-pengikut Muhammad, kamu semua menyangka bahwa Tuhan mempercepat kami ke neraka dengan pedangmu, dan mempercepat kamu ke surga dengan pedang kami. Maka dari itu, siapakah seorang dari kamu yang akan mempercepat kami dengan pedangnya ke neraka, atau kami mempercepat dia dengan pedang kami ke surga ? Sungguh kamu berdusta. Demi Lata dan ‘Uzza, kalau kamu semua betul-betul tahu begitu, pasti keluar seorang darimu kepada kami sekarang ini”.
Demikianlah tantangan Thalhah bin Abu Thalhah kepada tentara muslimin. Maka keluarlah shahabat ‘Ali RA ke tengah-tengah antara kedua pasukan, lalu bertanding dengan Thalhah bin Abu Thalhah.
Dalam perang tanding ini, Thalhah berhasil dipukul dengan pedang oleh ‘Ali RA di kakinya, dan seketika itu jatuhlah Thalhah ke tanah dan terputuslah kakinya serta tampaklah auratnya.Lalu ditinggalkan oleh ‘Ali, padahal Thalhah belum mati, maka ‘Ali pun ditanya oleh Nabi SAW, “Apa yang menghalangimu membunuhnya ?”. Shahabat ‘Ali menjawab, “Ya, karena dia telah menampakkan auratnya kepada saya, maka saya kasihan kepadanya”. Nabi SAW bersabda, “Bunuhlah !”.
Maka dengan cepat shahabat ‘Ali bin Abu Thalib kembali dan membunuh Thalhah. Lalu tentara musyrikin mengeluarkan seorang pahlawannya lagi yang bernama ‘Utsman bin Abu Thalhah, dan tentara muslimin mengeluarkan seorang pahlawannya, ialah Hamzah. Setelah perang tanding, akhirnya ‘Utsman bin Abu Thalhah terbunuh oleh Hamzah bin ‘Abdul Muththalib.
Tentara musyrikin mengeluarkan pula seorang pahlawan bernama Abu Sa’id bin Abu Thalhah, dan tentara muslimin mengeluarkan seorang pahlawannya ialah shahabat Sa’ad bin Abu Waqqash RA. Setelah perang tanding, akhirnya Abu Sa’id terbunuh oleh shahabat Sa’ad bin Abu Waqqash.
Tentara musyrikin mengeluarkan lagi seorang pahlawan bernama Musafi’ bin Thalhah (anaknya Thalhah yang terbunuh oleh shahabat ‘Ali tadi) lalu tentara muslimin mengeluarkan seorang pahlawannya yang bernama ‘Ashim bin Tsabit RA setelah perang tanding, akhirnya Musafi’ terbunuh oleh ‘Ashim bin Tsabit RA.
Tentara musyrikin mengeluarkan lagi seorang pahlawannya bernama Harits bin Thalhah (saudara Musafi’), dan tentara Muslimin mengeluarkan ‘Ashim bin Tsabit RA lagi, maka akhirnya Harits terbunuh oleh ‘Ashim juga.
Tentara musyrikin mengeluarkan lagi seorang pahlawannya bernama Kilab bin Thalhah (saudara Musafi’ dan Harits tersebut), dan tentara muslimin mengeluarkan shahabat Zubair RA. Setelah perang tanding, akhirnya Kilab jatuh terbunuh oleh shahabat Zubair.
Tentara musyrikin mengeluarkan lagi seorang pahlawannya bernama Jullas bin Thalhah (saudara Musafi’, Harits dan Kilab tersebut), dan tentara muslimin mengeluarkan Thalhah bin ‘Ubaidillah RA. Setelah perang tanding dengan sekuat-kuatnya, akhirnya Jullas terbunuh oleh Thalhah RA.
Tentara musyrikin mengeluarkan lagi seorang pahlawannya bernama Arthah bin Syurahbil (seorang yang gagah perkasa), dan tentara muslimin mengeluarkan shahabat ‘Ali bin Abi Thalib RA. Maka setelah perang tanding, akhirnya Arthah juga terbunuh oleh shahabat ‘Ali RA.
Tentara musyrikin belum merasa puas, lalu mengeluarkan seorang pahlawannya lagi bernama Syuraih bin Qaridl, dan tentara muslimin mengeluarkan shahabat Hamzah bin ‘Abdul Muththalib RA. Setelah perang tanding akhirnya Syuraih terbunuh oleh shahabat Hamzah RA.
Tentara musyrikin masih juga menantang dengan mengeluarkan seorang pahlawannya yang bernama Abu Zaid bin ‘Amr, maka tentara muslimin mengeluarkan seorang lagi bernama Qazman, dan setelah perang tanding, akhirnya Abu Zaid terbunuh oleh Qazman.
Tentara musyrikin mengeluarkan lagi seorang pemuda anaknya Syurahbil (saudara Arthah yang terbunuh tadi) dan tentara muslimin menyerahkan lagi kepada Qazman. Maka setelah perang tanding, maka akhirnya anak Syurahbil tadi terbunuh oleh Qazman juga.
Tentara musyrikin belum juga merasa puas, lalu mengeluarkan lagi seorang bernama Shu’ab (bangsa Habsyi), dan oleh tentara muslimin diserahkan juga kepada Qazman, maka setelah perang tanding akhirnya Shu’ab juga terbunuh oleh Qazman.
Demikianlah sebelum peperangan secara umum terjadi, sebagaimana biasa lebih dahulu dilakukan perang tanding seorang lawan seorang. Jadi ketika itu tentara musyrikin telah kematian banyak tentaranya yang gagah perkasa, sedangkan tentara muslimin belum ada seorang pun yang mati terbunuh oleh mereka.
Setelah perang tanding selesai, Abu Sufyan sebagai kepala pasukan tentara musyrikin berpidato di muka tentaranya yang memegang bendera berpesan kepada mereka supaya bersungguh-sungguh dalam memegang bendera, karena menang atau kalah tergantung kepada mereka semata-mata.

Peperangan tentara muslimin dengan tentara musyrikin dimulai
Kemudian pertempuran antara tentara muslimin dengan tentara musyrikin terjadi hebat. Abu Dujanah sebagai tentara muslimin yang telah sanggup memegang pedang Nabi SAW keluar dengan pedang terhunus sambil berjalan meliuk-liukkan kepalanya, terus menerjang barisan musuh. Ketika Nabi SAW melihat gaya Abu Dujanah tersebut beliau bersabda :

اِنَّهَا لَمِشْيَةٌ يُبْغِضُهَا اللهُ اِلاَّ فِى مِثْلِ هذَا اْلمَوْطِنِ. ابن هشام 4: 13
“Sesungguhnya yang demikian itu adalah caraberjalan yang dimurkai Allah, kecuali di tempat seperti ini”. [Ibnu Hisyam 4, hal. 13]
Maksudnya berjalan dengan meliuk-liukkan kepala itui sesungguhnya terlarang oleh Allah dan dimurkai-Nya. Tetapi diwaktu berperang dengan musuh yang demikian itu tidak terlarang dan tidak dimurkai-Nya.
Abu Dujanah berjalan meliuk-liukkan kepalanya sambil  bersyair sebagai berikut :

اَنَا الَّذِى عَاهَدَنِى خَلِيْلِى،   وَ نَحْنُ بِالسَّفْحِ لَدَيِ النَّخِيْلِ،
     اَلاَّ اَقُوْمَ الدَّهْرَ فِى اْلكَيُّوْلِ،  اَضْرِبُ بِسَيْفِ اللهِ وَ الرَّسُوْلِ.

Saya yang telah diberi janji oleh kekasihku (Nabi SAW),
sedangkan kami berada pada kaki bukit dekat pohon kurma,
Selamanya saya tidak akan berdiri di barisan yang di belakang,
saya akan memukul (musuh) dengan pedang Allah dan Rasul(Nya). [Ibnu Hisyam Juz 4, hal. 16]
Pada saat itu siapasaja dari tentara musuh yang dihadapi Abu Dujanah, pasti dibunuhnya. Abu Dujanah terus bertempur, dan pedang Nabi SAW dan dipergunakan dengan sebaik-baiknya, iaterus menerus memenggal dan membunuh musuh dengan pedang itu. Dan ia menyerbu musuh hingga masuk jauh ke dalam barisan musuh.
Demikianlah seterusnya, pertempuran berlangsung dahsyat. Sampai pada suatu saat pedang Abu Dujanah yang terkenal itu berada diatas kepala Hindun, isteri Abu Sufyan, yang ketika itu hampir saja kepalanya terbelah. Tetapi dia tidak jadi memukulkannya, karena menjaga pedang Rasulullah SAW jangan sampai untuk membunuh seorang wanita.
Hamzah bin Abdul Muththalib, paman Nabi SAW yang terkenal sebagai “Singa Allah”, terus maju dan menyerbu ke barisan musuh dengan hebatnya, dan dimanapun ia berjumpa dengan musuh, maka seketika itu ia menyerang dan membunuhnya. Dia termasuk pahlawan Islam yang gagah berani dalam pertempuran yang hebat itu. Memang sejak terjadi pertempuran di Badr dia kelihatan sebagai seorang pahlawan yang gagah perkasa. Dari tangannyalah sebagian besar para ketua dan pemimpin Quraisy melayang jiwanya dalam pertempuran di Badr dulu. Diantaranya ‘Utbah bin Rabi’ah (ayah Hindun) dan Syaibah bin Rabi’ah. Dalam peretempuran di Uhud ini pun ia menunjukkan lebih nyata lagi keberaniannya yang luar biasa.
Mush’ab bin  ‘Umair juga bertempur dengan hebat, banyak pihak lawan yang terbunuh olehny, begitu pula Ali bin Abu Thalib berperang dengan hebatnya.
Anas bin Nadlar, seorang prajurit Islam yang masih muda, yang ketika terjadi perang di Badr belum diizinkan ikut, maka pada perang Uhud ini hatinya sangat gembira karena dapat ikut serta menjadi tentara Islam, dan dia memperlihatkan keberaniannya yang luar biasa.
Barisan kaum perempuan musyrikin
Sebagaimana kita ketahui, bahwa para istri pemuka-pemuka musyrikin Quraisy banyak yang ikut dalam barisan tentara mereka dengan dikepalai oleh Hindun, istri Abu Sufyan. Dalam pertempuran di Uhud ini mereka berbaris, terkadang di depan, terkadang di belakang, dan kadang-kadang berada di tengah-tengah tentara mereka sambil memukul rebana dan tambur seraya menyuarakan syair-syair untuk mengobarkan semangat berperang tentara mereka, dan menyenangkan hati kaum lelaki mereka yang sedang bertempur dengan tentara muslimin. Diantara syair-syair yang diucapkan oleh Hindun dikala itu ialah :
نَحْنُ بَنَاتُ طَارِقْ، نَمْشِى عَلَى النَّمَارِقْ،  مَشَى اْلقَطَا اْلبَوَارِقْ.  وَ اْلمِسْكُ فِى اْلمَفَارِقْ،   وَ الدُّرُّ فِى اْلمَخَانِقْ،   اِنْ تُقْبِلُوْا نُعَانِقْ.  وَ نَفْرُشُ النَّمَارِقْ،   اَوْ تُدْبِرُوْا نُفَارِقْ،   فِرَاقَ غَيْرِ وَامِقْ.
Kami anak-anak perempuan bintang thariq,
Kami berjalan di atas bantal-bantal sutera,
Berjalan dengan pijakan halus,
Minyak kasturi berada di belahan rambut,
Permata intan di kalung-kalung,
Jika kalian maju kami merangkul,
dan kami sorongkan bantal-bantal sutera,
Jika kalian mundur ke belakang kami akanmemisahkan,
perpisahan tanpa kecintaan.
[Al-Kamil Juz 2 hal. 48]
وَيْهًا بَنِى عَبْدِ الدَّارْ! وَيْهًا حُمَاةُ اْلاَدْبَارْ ! ضَرْبًا بِكُلِّ بَتَّارْ !
Majulah wahai keturunan ‘Abdud-Dar !
Majulah wahai pembela barisan belakang !
Pukullah mereka itu dengan pedang yang tajam !.
[Al-Kamil Juz 2 hal 48].
Demikianlah syair-syair yang mereka dengung-dengungkan dengan riang gembira untuk mengobarkan semangat tentara mereka yang sedang bertempur agar semangatnya tidak kunjung padam dalam menghantam musuh.
Menurut riwayat, sewaktu mendengar syair-syair mereka yang sedemikian itu, dengan tenang Nabi SAW berdoa :
اَللّهُمَّ بِكَ اَجُوْلُ، وَ بِكَ اَصُوْلُ، وَ فِيْكَ اُقَاتِلُ، حَسْبِيَ اللهُ وَ نِعْمَ اْلوَكِيْلَ. نور اليقين: 126
Ya Allah, dengan Engkau aku menangkis (musuh), dan dengan Engkau aku menyerang (musuh), dan dengan Engkau pula aku berperang memerangi musuh. Cukuplah Allah bagiku dan Dia sebaik-baik Pelindung. [Nurul Yaqin hal. 126].

Kemenangan tentara muslimin dalam pertempuran pertama
Dari dorongan semangat tentara muslimin yang menyala-nyala dan keteguhan kepercayaan mereka yang membaja, mereka terus menerjang dan mengejar musuh dengan hebat dan dahsyat, sehingga barisan tentara musuh menjadi kalang kabut, kocar-kacir dan bercerai-berai. Akhirnya banyak yang lari mengundurkan diri. Pemegang bendera pihak musyrikin dapat disambar oleh pedang kaum muslimin dan terbunuh, yang menyebabkan tentara musyrikin semakin kacau dan morat-marit. Maka dalam pertempuran babak pertama hari itu, tentara Quraisy yang berganda besarnya terpaksa mundur dalam keadaan kacau-balau.
Ketika itu pintu kemenangan sudah kelihatanakan dicapai oleh tentara muslimin, sekalipun belum terbukti, karena peperangan belum selesai. Keberanian dan kesanggupan kaum muslimin yang kira-kira hanya 700 orang itu sudah kelihatan dapat merobohkan dan memaksa mundur musuh yang hampir lima kali lipat jumlahnya. Bendera mereka sudah rebah jatuh tersungkur dimuka barisan tentara muslimin.
Tetapi ketika sebagian tentara muslimin sedang bertempur dengan musuh yang tengah melarikan diri, dan mengejar pihak musuh yang lari tunggang langgang, tiba-tiba dari sebagian tentara muslimin yang diserahi oleh Nabi SAW untuk menjaga tempat di bagian belakang untuk memanah dari atas bukit Uhud, setelah melihat kawan-kawannya sedang mengejar musuh, timbullah perselisihan di antara mereka.
Sebagian dari mereka ada yang berkata, “Buat apa kita menunggu sampai lama di tempat ini, padahal pihak musuh sudah diundurkan oleh Allah. Para kawan kita sudah bergerak mengejar musuh, dan musuh sudah banyak yang lari, maka marilah kita turun dari tempat ini untuk mengambil harta rampasan bersama mereka yang mengambil”.
Sebagian yang lain berkata, “Tidakkah Rasulullah berpesan kepada kita supaya kita jangan meninggalkan tempat ini sebelum ada perintah dari beliau ?”.
Mereka yang ingin meninggalkan tempat yang penting itu menyahut,  “Betul begitu. Tetapi kita tidak disuruh menunggu di sini setelah tentara musuh mengundurkan diri dan dikalahkan oleh Allah”.
Demikianlah terus menerus mereka berselisih dan berdebat. Akhirnya ‘Abdullah bin Jubair sebagai orang yang diserahi mengepalai pasukan pemanah di bukit Uhud tersebut berkata, “Janganlah kita menyalahi perintah Rasulullah SAW”. Demikian sampai berulang kaliia memperingatkan kawan-kawannya, tetapi kawan-kawannya tidak mengacuhkan peringatan yang baik itu. Sebagian besar mereka terus turun meninggalkan tempat dengan tujuan untuk mengejar jarahan yang akan diperoleh dari pihak musuh. Akhirnya tinggal ‘Abdullah bin Jubair dan 10 orang kawannya yang tetap teguh menjaga tempat yang diperintahkan oleh Nabi tersebut, sedangkan 40 orang kawannya telah turun dari lereng bukit Uhud terus mengejar harta jarahan, padahal kemenangan di waktu itu belum nyata tercapai oleh angkatan tentara muslimin.

Doa Nabi Sulaiman Menundukkan Hewan dan Jin

  Nabiyullah Sulaiman  'alaihissalam  (AS) merupakan Nabi dan Rasul pilihan Allah Ta'ala yang dikaruniai kerajaan yang tidak dimilik...