Selasa, 19 Oktober 2021

Penjelasan Shohihnya Hadits Tentang Sihir


Setan adalah musuh manusia paling nyata sejak zaman Nabi Adam AS, yang akan terus menggoda anak cucu Adam hingga kiamat datang, mereka selalu mengembuskan bisikan dan rayuannya ke dalam dada manusia. Tidak ada orang yang sanggup menghalau godaan setan, kecuali orang yang beriman dan selalu memohon perlindungan Allah SWT.

Diterangkan, bahwa setan itu membujuk dan merayu manusia melalui hembusan dan darah yang mengalir dalam tubuh manusia. Oleh karena itu, Rasulullah SAW memohon perlindungan kepada Allah SWT dari godaan setan, dan pengaruh sihir yang dilakukan oleh orang-orang jahat.

Sihir memang ada kenyataannya dan berpengaruh terhadap diri manusia, sebab timbulnya kebencian diantara suami istri dan perpisahan antara keduanya sebagaimana dinyatakan Al-Qur’an tidak lain adalah pengaruh sihir. Kalau seandainya sihir itu tidak dapat berpengaruh tentu Al-Qur’an tidak menganjurkan untuk berlindung diri kepada Allah dari kejahatan perempuan-perempuan tukang sihir yang menghembus simpul-simpul, maka kami percaya bahwa sihir dapat berpengaruh dan dapat membahayakan manusia, tetapi pengaruh dan bahayanya itu tidak akan mengenai seseorang kecuali dengan izin Allah.

Sihir sebenarnya tidak dikenal melainkan dikalangan kaum Yahudi. Sejarah timbulnya sihir sejak kelahiran mereka. Merekalah orang-orang yang melemparkan kitab Allah lalu mempelajari ilmu sihir dan berusaha merusak akal dan aqidah manusia dengan sihir, sulap dan penyesatan. Ini satu bukti bahwa orang Yahudi itu sumber segala keburukan, dan sumber segala fitnah sebagaimana digambarkan dalam al-Qur`an: 

“Setiap mereka menyalakan api peperangan, maka Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi sedang Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan”. (Qs. Al-Maidah/5:64)

Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi. Mereka mendapatkan banyak cobaan dan bencana dari umatnya sendiri. Ada di antara mereka yang dibunuh, dipukuli, ditahan (disandera), ada juga yang biasa diejek. Jadi bukanlah suatu bid’ah jika ada Nabi yang diuji oleh umatnya, dengan izin Allah meski tidak menghendakinya, dengan macam-macam ujian seperti juga suatu macam sihir.
 
Sebagaimana nabi Muhammad pun pernah diuji dengan dilempari kotoran ketika sedang melakukan sujud, dan lain-lain cobaan dan bencana. Semua itu tidak mengurangi kredibilitas yang dimilikinya, tidak pula menimbulkan cela. Justru hal itu dapat meningguikan derajat dan kemuliannya di sisi Allah.

Masalah hadits yang menyatakan bahwa Nabi pernah tersihir pun direspon oleh para ulama dengan berbagai argument yang mereka kemukakan. Sebagian menganggap hadits ini shahih, sebagian yang lain menganggap hadits ini dlaif. Lalu bagaimana dengan sifat dalam diri Nabi yang “ma’shum??? Apakah Nabi memang benar-benar tersihir atau malah sebaliknya? Beliau tetap dijaga oleh Allah…

Melalui tulisan ini, penulis mencoba menguak sedikit problematika tentang kasus tersihirnya nabi yang di kalangan para ulama mendapat sorotan ‘agak tajam’ dari mereka. Dan apa hikmah dari kejadian itu semua. Oleh karena itu, Mari kita menelusuri hadits ini bersama-sama.

Sekilas tentang sihir
Secara etimologis (lughah), sihir berarti ,mampu dan memalingkan seseorang dari arah hidupnya. Sedang secara terminologi adalah perkataan dan perbuatan yang memperlihatkan hal-hal istimewa dan ajaib, serta luar biasa. Seperti mukjizat dan keramat.

Yang harus dicermati adalah bahwa menjadi seorang Nabi bukan berarti kebal terhadap senjata tajam, terbebas dari setan dan tidak terpengaruh gangguan apapun. Meskipun beliau menjadi Nabi dan bertugas menjadi wakil Tuhan di bumi, akan tetapi beliau masih tetap sebagai manusia biasa yang tetap berada dalam pengaruh hukum alam. Bisa sakit, terluka, tergoda oleh setan, dan bahkan bisa meninggal. Hanya saja kebenaran yang disampaikan itulah yang tetap terjaga dan terpelihara kemurniannya oleh Allah.

 Hadis tentang tersihirnya Nabi (HR. Bukhari No. 4059)

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى، أَخْبَرَنَا عِيسَى، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: سُحِرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَالَ اللَّيْثُ: كَتَبَ إِلَيَّ هِشَامٌ أَنَّهُ سَمِعَهُ وَوَعَاهُ عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشةَ قَالَتْ:سُحِرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، حَتَّى كَانَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَمَا يَفْعَلُهُ، حَتَّى كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ دَعَا وَدَعَا، ثُمَّ قَالَ: " أَشَعَرْتِ أَنَّ اللَّهَ أَفْتَانِي فِيمَا فِيهِ شِفَائِي، أَتَانِي رَجُلاَنِ: فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَالآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ مَا وَجَعُ الرَّجُلِ؟ قَالَ: مَطْبُوبٌ، قَالَ: وَمَنْ طَبَّهُ؟ قَالَ لَبِيدُ بْنُ الأَعْصَمِ، قَالَ: فِيمَا ذَا، قَالَ: فِي مُشُطٍ وَمُشَاقَةٍ وَجُفِّ طَلْعَةٍ ذَكَرٍ، قَالَ فَأَيْنَ هُوَ؟ قَالَ: فِي بِئْرِ ذَرْوَانَ " فَخَرَجَ إِلَيْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ لِعَائِشَةَ حِينَ رَجَعَ: «نَخْلُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ» فَقُلْتُ اسْتَخْرَجْتَهُ؟ فَقَالَ: «لاَ، أَمَّا أَنَا فَقَدْ شَفَانِي اللَّهُ، وَخَشِيتُ أَنْ يُثِيرَ ذَلِكَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا» ثُمَّ دُفِنَتِ البِئْر (رواه البخاري)

“Telah berkata kepada kami Ibrahim bin Musa telah diceritakan ‘Isa dari Hisyam dari Bapaknya dari ‘Aisyah r.ha berkata: “Nabi SAW. telah disihir.” Kemudian al-Laits berkata: “Hisyam menulis surat kepadaku, bahwasanya dia mendengarnya, dan menganggapnya dari bapaknya dari ‘Aisyah r.ha berkata: “Nabi SAW. telah disihir hingga terbayang oleh beliau seolah-olah berbuat sesuatu padahal tidak. Hingga pada suatu hari beliau memanggil-manggil kemudian bersabda: ‘Apakah kamu menyadari bahwa Allah telah memutuskan tentang kesembuhanku ?’ telah datang kepadaku dua orang pemuda, salah satunya duduk di dekat kepalaku dan yang satunya lagi duduk di dekat kakiku. Kemudian salah seorang dari mereka berkata: “Sakit apa orang ini ?” Temannya menjawab: “Ia terkena sihir.” Temannya bertanya lagi: “Siapa yang menyihirnya ?” Yang satu menjawab: “Labid bin al-A’sham.” Yang satu bertanya lagi: “Dengan cara apa ?” Dijawab: “Dengan cara melalui sisir, rambut yang rontok saat disisir dan putik kembang kurma jantan.” Berkata yang satu lagi: “Sekarang sihir itu diletakkan dimana ?” Yang lain menjawab: “Di sumur Dzarwan.” Maka Nabi SAW. pergi mendatangi tempat tersebut kemudian kembali dan berkata kepada ‘Aisyah setelah kembali, “Putik kurmanya bagaikan kepala-kepala syaitan.” Aku bertanya: “Apakah baginda telah keluarkan ?” Tidak, karena Allah telah menyembuhkan aku. Namun aku khawatir bekasnya itu dapat mempengaruhi manusia maka sumur itu aku timbun.” (HR. al-Bukhari)

Kualitas sanad hadits ini shahih, karena diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya. Semua perawi hadits dinilai tsiqah. Dengan pendekatan kritik sanad, hadits ini dinilai valid. Karenanya, berdasarkan zahir hadits kita pahami bahwa Nabi pernah terkena sihir.‎

 Hadits Mutabi’ dan Syahid

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: سَحَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَهُودِيٌّ مِنْ يَهُودِ بَنِي زُرَيْقٍ يُقَالُ لَهُ لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ، حَتَّى كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَلَا يَفْعَلُهُ، قَالَتْ: حَتَّى إِذَا كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ أَوْ كَانَ ذَاتَ لَيْلَةٍ دَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ دَعَا، ثُمَّ دَعَا، ثُمَّ قَالَ: " يَا عَائِشَةُ أَشَعَرْتِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ؟ جَاءَنِي رَجُلَانِ، فَجَلَسَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي، وَالْآخَرُ عِنْدَ رِجْلِي فَقَالَ: الَّذِي عِنْدَ رَأْسِي لِلَّذِي عِنْدَ رِجْلِي أَوِ الَّذِي عِنْدَ رِجْلِي لِلَّذِي عِنْدَ رَأْسِي مَا وَجَعُ الرَّجُلِ قَالَ: مَطْبُوبٌ. قَالَ: مَنْ طَبَّهُ قَالَ: لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ. قَالَ: فِي أَيِّ شَيْءٍ؟ قَالَ: فِي مُشْطٍ، وَمُشَاطَةٍ، وَجُفِّ طَلْعَةِ ذَكَرٍ. قَالَ: وَأَيْنَ هُوَ؟ قَالَ: فِي بِئْرِ ذِي أَرْوَانَ " قَالَتْ: فَأَتَاهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أُنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ: «وَاللَّهِ يَا عَائِشَةُ لَكَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الْحِنَّاءِ، وَلَكَأَنَّ نَخْلَهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ» قَالَتْ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَلَا أَحْرَقْتَهُ؟ قَالَ: «لَا، أَمَّا أَنَا فَقَدْ عَافَانِي اللَّهُ، وَكَرِهْتُ أَنْ أُثِيرَ عَلَى النَّاسِ مِنْهُ شَرًّا» فَأَمَرَ بِهَا فَدُفِنَتْ (رواه ابن ماجه)

HR. Muslim 4059

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: سَحَرَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَهُودِيٌّ مِنْ يَهُودِ بَنِي زُرَيْقٍ، يُقَالُ لَهُ: لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ: قَالَتْ حَتَّى كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّيْءَ، وَمَا يَفْعَلُهُ، حَتَّى إِذَا كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ، أَوْ ذَاتَ لَيْلَةٍ، دَعَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ دَعَا، ثُمَّ دَعَا، ثُمَّ قَالَ: " يَا عَائِشَةُ أَشَعَرْتِ أَنَّ اللهَ أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ؟ جَاءَنِي رَجُلَانِ فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَالْآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ، فَقَالَ الَّذِي عِنْدَ رَأْسِي لِلَّذِي عِنْدَ رِجْلَيَّ، أَوِ الَّذِي عِنْدَ رِجْلَيَّ لِلَّذِي عِنْدَ رَأْسِي: مَا وَجَعُ الرَّجُلِ؟ قَالَ: مَطْبُوبٌ، قَالَ: مَنْ طَبَّهُ؟ قَالَ: لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ، قَالَ: فِي أَيِّ شَيْءٍ؟ قَالَ: فِي مُشْطٍ وَمُشَاطَةٍ، قَالَ: وَجُفِّ طَلْعَةِ ذَكَرٍ، قَالَ: فَأَيْنَ هُوَ؟ قَالَ: فِي بِئْرِ ذِي أَرْوَانَ " قَالَتْ: فَأَتَاهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أُنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، ثُمَّ قَالَ: «يَا عَائِشَةُ وَاللهِ لَكَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الْحِنَّاءِ، وَلَكَأَنَّ نَخْلَهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ» قَالَتْ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلَا أَحْرَقْتَهُ؟ قَالَ: «لَا أَمَّا أَنَا فَقَدْ عَافَانِي اللهُ، وَكَرِهْتُ أَنْ أُثِيرَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا، فَأَمَرْتُ بِهَا فَدُفِنَتْ» (رواه مسلم)

Hukum Hadits Dari Segi Sanad

Dari rantaian sanad yang telah dipaparkan dalam teks hadits,   penilaian jarh wa at-ta’dil para perawi,   yaitu:
Ø  ‘Aisyah bint Abu Bakar                     
menurut Ibn Hajar                               : Sahabat”Tsiqoh”
Menurut Ibn Hatim                             : Tsiqoh
Ø  ‘Urwah ibn Zubair ibn al-‘Awam      
menurut Ibn Hajar                               : Tsiqoh
menurut muhammad ibn sa’ad            : Tsiqoh
Ø  Hisyam ibn ‘Urwah ibn Zubair          
menurut Ibn Hajar                               : Tsiqoh faqih
menurut Ya’qub ibn Syaibah              : Tsiqoh tsabat
Ø  ‘Isa ibn Yunus ibn Abi Ishaq as-Sabi’i
menurut Ibn Hajar                               : Tsiqoh Ma’mun
menurut hambal ibn Ishaq                   : Tsiqoh
Ø  Ibrahim Ibn Musa ibn Yazid ibn Zadan
menurut Ibn Hajar                               : Tsiqoh Hafidz
menurut imam Nasa’i                          : Tsiqoh
Apabila melihat jarh wa at-ta’dil para perawi, maka dapat disimpulkan bahwa hadits tersebut jika dinilai dari segi sanad, yaitu: Shahih. 
Dari bagan di atas, jelaslah bahwa Hadis ini terpercaya ruwwat-nya. Dan dalam  ketersambungannya hadis ini termasuk yang marfu’ muttashil. Sedang kwalitas hadis secara keseluruhan sanad,juga menunjukkan bahwa hadis ini shahih dan memenuhi syarat untuk dikaji lebih lanjut.
Penjelasan hadis

Kata سحر digunakan untuk menyebut perbuatan menyihir sebagaimana sihir yang kita kenal selama ini. Sihir sebagai suatu perbuatan yang ditujukan untuk mencelakai dan merugikan orang lain menggunakan kekuatan gaib termasuk kekuatan yang berasal dari setan.

Sedangkan kata طب dan مطبوب yang digunakan oleh dua orang malaikat itu merupakan kinayah bagi perbuatan dan akibat (korban) perbuatan sihir. Dalam lisan al-arab disebutkan bahwa سحر disebut طبkarena sihir tersebut dapat disembuhkan sehingga orang yang terkena sihir (مسحور) disebut dengan مطبوب (orang yang sakit/yang sedang diobati).

Dengan perintah allah swt, Jibril menggunakan kata mathbub dan tidak menggunakan kata mashur. Padahal katamashur itu banyak digunakan dalam al-Qur’an. Kata mathbub sendiri diambil sebagai isim maf’ul dari kata thabba yang berarti ‘alaja atau dawa (mengobati). Jadi ‎yuthabibi artinya yu’aliju atau yudawy“mengobati”. Dan thabib adalah mu’alij ataumudawy “dokter yang mengobati”. Maksud penggunaan kata tersebut (mathbub) untuk menegaskan bahwa ada sihir yang dapat digunakan untuk mengobati (bi-anna min al-sihr al-‘ilaj) atau yang paling jelas bahwa sihir dapat diobati. Bahkan bukan hal yang mustahil dan tidak sulit bagi Allah untuk melenyapkan atau menghilangkan segala rasa sakit dan bekas sihir apa pun dari orang yang terkena sihir.
Cerita di atas adalah sejarah, dimana Nabi saw. pernah terkena sihir, pelakunya adalah Labid bin al-A'sham, seorang Yahudi dari kelompok Bani Zuraiq. Orang-orang Yahudi bersekongkol dengan Labid, salah seorang tukang sihir Yahudi yang terkenal untuk makar kepada Muhammad dengan imbalan tiga dinar. Kemudian Labid mengerjakannya melalui beberapa helai rambut yang rontok karena tersisir, yang menurut riwayat, rambut itu diperoleh dari seorang budak perempuan yang pergi ke rumah Nabi saw dan membuat buhul pada rambut tersebut sebagai sihir, lalu diletakkan di sumur Dzarwan. Kemudian Nabi mendatangi sumur itu bersama beberapa orang sahabat. Dalam riwayat lain disebutkan nama Ali ‎dan beberapa sahabat lain. ‎Kemudian sihir itu dikeluarkan ‎lalu Nabi membacakan Mu’awwidzatain pada buhul-buhul tersebut. Nabi terlepas dari pengaruh sihir itu sebagaimana digambarkan Nabi laksana terlepas dari berbagai ikatan.‎

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah ketika menjelaskan kedudukan hadits sihir menjelaskan: “Hadits ini Tsabit (Shahih) menurut para ahli ilmu dalam bidang hadits, mereka telah menerimanya dan tidak berselisih tentang keshahihannya. walaupun banyak kalangan ahli kalam dan selainnya yang membantahnya, mengingkari dengan keras bahkan menganggapnya dusta sebagian mereka ada yang menulis karangan khusus tentang hal ini dan menuduh Hisyam (bin Urwah) sebagai penyebab (lemahnya) dan yang maksimal (cercaan terhadap Hisyam bahwa mereka) menuduh Hisyam telah keliru dan tersamarkan hadits ini atasnya,padahal sedikitpun dirinya tidak demikian. Lalu (mereka) berkata: ”Karena Nabi saw tidak mungkin terkena sihir, sebab hal itu akan membenarkan perkataan kaum kuffar.

Semua yang mereka katakan tersebut tertolak menurut ahli ilmu.Sesungguhnya Hisyam termasuk perawi yang paling tsiqah dan berilmu, tidak seorangpun dari kalangan Imam mencela-nya yang mengakibatkan tertolaknya hadits (yang diriwayatkannya). Apa pula urusan ahli kalam ikut-ikutan membicarakan hal ini? Telah diriwayatkan pula dari selain Hisyam dari ‘Aisyah dan telah sepakat pemilik dua Shahih (Bukhari dan Muslim) dalam menshahihkan hadits ini tidak seorangpun dari kalangan ahli Hadits dan Fiqih yang menolaknya. Kisah ini Masyhur bagi ahli tafsir, sunan, hadits,sejarah dan fuqaha’. Mereka lebih alim tentang keadaan Rasulullah dan kesahariannya daripada ahli kalam.‎
Lalu Mengatakan: “Sihir yang menimpa beliau adalah sejenis penyakit dari penyakit-penyakit yang muncul, kemudian Allah swt menyembuhkannya. Hal tersebut bukan merupakan kekurangan (bagi Rasul) dan tidak ada celaan sedikitpun padanya, sesungguhnya penyakit boleh menimpa para nabi, demikian pula pingsan. Sungguh Nabi pernah pingsan ketika sakit,pernah terjatuh hingga terluka kaki beliau dan tergores kulitnya.Ini termasuk bala’ (cobaan) yang dengannya Allah mengangkat derajat beliau serta dengannya Rasulullah mendapat keutamaannya. Adapun cobaan paling berat yang di rasakan oleh para Nabi adalah cobaan yang mereka terima dari umatnya dari berbagai macam ujian, berupa pembunuhan dan pemukulan, celaan dan penahanan. Maka bukanlah suatu hal yang baru Jika Rasulullah mendapatkan ujian dari sebagian musuh-musuhnya dengan sejenis sihir, sebagaimana Beliau telah di uji dengan lemparan panah dari musuhnya lalu panah tersebut melukai Beliau. Rasulullah juga pernah di uji dengan diletakannya kotoran di atas punggung Beliau tatkala sujud, dan selain itu.hal ini tidak menunjukan kekurangan dan aib atas mereka (para nabi), bahkan menunjukan kesempurnaan dan ketinggian derajat mereka di sisi Allah subahanahu wata’ala.

Abu Fadhl ‘Iyyadh bin Musa bin “Iyyadh al Yahshubi , yang Masyhur dengan nama ”al Qadhi bin ‘Iyyadh“. Beliau mengatakan dalam kitabnya ” Asy-Syifa’ “, ketika menjawab syubhat orang-orang yang meragukan hadits tentang tersihirnya Nabi. “Ketahuilah -semoga Allah memberi taufik kepada kami dan kalian- bahwa hadits ini adalah hadits yang shahih yang di sepakati keshahih-annya. Kaum mulhid (atheis) telah mencerca hadits ini dan hal itu semakin menguatkan kerendahan akal mereka juga pengkaburan (al-haq) dari Orang-orang yang semisal dengan mereka untuk membuat keraguan dalam syari’at. Sungguh Allah telah mensucikan syari’at serta nabi-Nya dari sesuatu yang mengaburkan perkaranya (berupa wahyu). Sihir  yang di maksud disini hanyalah sejenis penyakit yang timbul, maka Boleh menimpa Beliau sebagaimana berbagai jenis penyakit lain yang tidak mungkin di ingkari, dan hal itu tidaklah merusak kenabian Beliau.

Adapun yang terdapat dalam riwayat bahwa dikhayalkan kepada Beliau telah melakukan sesuatu padahal tidak melakukannya, maka ini tidaklah merusak sediktpun apa yang Beliau sampaikan, Beliau syari’atkan, atau merusak kejujurannya sebab dalil telah jelas dan mayoritas Ulama telah bersepakat bahwa Beliau adalah ma’shum. Hal ini Hanyalah kejadian yang mungkin saja muncul dalam perkara duniawi-yang Beliau tidak di utus karena (urusan dunia) dan tidak ada keutamaan padanya sehingga selama di dunia, bisa saja Beliau tertimpa berbagai penyakit halnya manusia lain. Maka bukanlah suatu hal yang mustahil lantas di khayalkan kepada Beliau beberapa urusan yang pada hakekatnya tidak ada. Akhirnya,Beliau pun terbebas darinya dan kembali seperti sedia kala.

Telah ditafsirkan juga bahwa perkara yang di khayalkan tersebut –dalam hadits yang lain-dari kalimat” sehingga dikhayalkan kepada Beliau telah mendatangi istrinya padahal Beliau tidak mendatanginya.” Sufyan mengatakan : “Tidak ada khabar lain yang di nukilkan dari Beliau selain dari yang telah di khabarkan –Sufyan– bahwa Beliau ingin melakukannya dan ternyata beliau tidak melakukannya, namun itu hanyalah bersifat goresan hati dan khayalan.

Adapula yang mengatakan, “Yang dimaksud dalam hadits ini adalah Beliau membayangkan sesuatu bahwa beliau melakukannya namun ternyata tidak melakukannya. Namun itu adalah khayalan yang Beliau sendiri tidak meyakini kebenarannya. Maka semua keyakinan Beliautetaplah benar dan apa yang Beliau ucapkan tetaplah terjaga.

Inilah yang ditemukan dari jawaban para Ulama tentang Hadits ini dengan tambahan penjelasan tentang makna perkataan mereka serta terhadap beberapa isyarat yang mereka sebutkan dan setiap jawaban tersebut memuaskan. Namun telah nampak bagiku penakwilan yang terdapat dalam hadits ini -yang lebih jelas dan lebih selamat dari celaan orang-orang yang sesat- yang dapat kita petik dari hadits itu sendiri.

Disinilah letak perbedaan visi, bagi umat Islam kejadian seperti itu adalah sangat manusiawi, sebagaimana yang dialami oleh para Nabi lainnya, semua itu tidak terkait dengan cacatnya kewahyuan. Maha benar Allah ketika menyifati Nabi Muhammad saw. saat menyampaikan syari'at Islam dalam firman-Nya surat al-Najm: 2-4

مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4)

"Temanmu (Muhammad) tidak akan sesat dan tidak akan keliru dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya".

Kemudian Beliau menyebutkan beberapa riwayat dan lafadz hadits ini, lalu melanjutkan: Dari kandungan riwayat-riwayat tersebut jelaslah bahwa sihir itu hanya menimpa zhahirnya Beliau dan jasadnya, bukan hati, keyakinan dan akalnya. Dan hal itu hanya memberikan pengaruh pada penglihatan, mencegah dari menetubuhi istri dan makan beliau sehingga tubuhnya lemas dan menyebabkan sakit. Maka makna perkataan “………dibayangkan kepada Beliau mendatangi istrinya, namun tatkala Beliau telah mendekatinya sihir tersebut mempengaruhi tubuhnya (menjadi lemah) sehingga Beliau tidak mampu melakukannya, sebagaimana sesuatu yang menimpa secara tiba-tiba sehingga melemahkan Beliau.

Adapun perkataan Aisyah, “……..dan di khayalkan kepada Beliau bahwa Beliau melakukan sesuatu dalam penglihatannya, sebagimana yang di sebutkan dalam hadits:” Bahwa Beliau menyangka akan mampu melihat seseorang dari orang lain, lalu yang ternyata tidak seperti yang beliau bayangkan, karena apa yang menimpa pandangannya menyebabkan (tubuh Beliau) menjadi lemah - bukan sesuatu yang merusak pikirannya.

Al Imam Al-Maziri Mengatakan: “Sebagian ahli Bid’ah telah mengingkari hadits ini dan menyangka hadits tersebut merendahkan kedudukan Nabi dan membuat keragu-raguan padanya, lalu mereka berkata: “segala sesuatu yang mengantarkan kepada (keraguan) tersebut maka itu bathil. Mereka menyangka bahwa terjadinya hal tersebut pada Beliau dapat menghilangkan kepercayaan terhadap syari’at yang dibawa, sebab ada kemungkinan dengan kejadian ini dikhayalkan kepada beliau telah melihat Jibril padahal Jibril tidak ada disana, dan menyangka telah di wahyukan sesuatu, padahal tidak ada wahyu yang turun kepadanya, semua ini tertolak sebab dalil telah nyata menunjukan kejujuran Nabi terhadap apa yang disampaikannya dari Allah dan terpeliharanya penyampaian Beliau. Berbagai mu’jizat menjadi saksi kejujuran Beliau maka beranggapan terhadap sesuatu yang telah terdapat dalil yang menyelisihi yang hal tersebut; adalah suatu kebatilan. Adapun yang berhubungan dengan sebagian perkara dunia yang Beliau pun tertimpa apa yang menimpa manusia lainnya seperti berbagai penyakit, maka bukan hal yang mustahil pula di khayalkan kepada Beliau urusan dunia yang pada hakekatnya tidak ada, dalam keadaan Beliau tetap terpelihara darinya dalam perkara agama.”

Sebagian ulama’ (Al Muhallab) berkata: Terjaganya Nabi dari para syaithon tidaklah mencegah kehendak mereka untuk menggangu Beliau. Telah disebutkan dalam “al-Shahih” bahwa syaitan ingin merusak shalat Rasulullah maka Allah menyelamatkannya dari syaithan tersebut. Demikian pula sihir yang mendatangkan kemudharatan kepadanya tidaklah mengurangi sedikitpun apa yang beliau sampaikan (dalam urusan agama), namun ini termasuk jenis kemudharatan berbagai penyakit apa yang beliau alami berupa kelemahan untuk berbicara, ketidakmampuan melakukan sebagian perbuatan, atau terjadinya sesuatu yang membayangkan serta tidak berkepanjangan, tetapi segera sirna dan Allah membatalkan tipu daya para syaithan.

Rasulullah adalah seorang manusia, dapat menimpa Beliau apa-apa yang menimpa manusia lainnya dari berbagai penyakit, sikap melampaui batas sebagian manusia terhadapnya dan tindak kedzaliman mereka terhadap Beliau sebagaimana manusia yang lainnya. Demikian pula hal - hal lain yang berhubungan dengan perkara dunia yang Beliau tertimpa sesuatu penyakit atau sikap melampaui batas orang lain terhadapnya -dengan sihir misalnya- yang dengan sebab itu Beliau membayangkan sesuatu urusan dunia yang hakekatnya tidak ada. Dibayangkan kepada Beliau menyetubuhi istrinya padahal tidak melakukannya, atau Beliau memiliki kekuatan untuk menyetubuhinya, namun tatkala mendekati salah seorang dari mereka, tiba-tiba muncul kelemahan dan hilang kekuatan beliau untuk melakukannya. Tetapi musibah yang menimpa Beliau penyakit, atau sihir tersebut tidaklah mempengaruhi penerimaan wahyu dari Allah swt dan tidak berhubungan dengan apa yang beliau sampaikan dari Allah swt kepada umatnya, karena telah tegaknya berbagai dalil dari Al Qur’an dan sunnah dan kesepakatan para pendahulu umat ini yang menunjukan kemaksumannya (terpeliaharanya). Beliau dalam menerima wahyu, menyampaikan, dan semua yang berhubungan dengan perkara-perkara agama. Dan sihir adalah sejenis penyakit yang menimpa Beliau.

Firman-Nya pula dalam surat al-Hajj: 52

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آَيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (52)

"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasul-pun dan tidak pula seorang Nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syetanpun memasuk-kan godaan-godaan terhadap keinginan itu, melainkan Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syetan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayatnya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana".

Dalam surat al-Kahfi: 110

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (110)

"Sesungguh-nya aku ini hanyalah seorang manusia biasa seperti kamu, namun yang kusampai-kan hanyalah wahyu yang diwahyukan Allah kepadaku".

Seputar Hadits tentang tersihirnya Nabi: “Ini benar adanya, terdapat dalam hadits yang shahih dan hal itu terjadi di madinah. Tatkala wahyu telah turun (secara berangsur) dan telah tegak tonggak risalah (yang beliau sampaikan), telah tampak berbagai tanda kenabian Beliau dan kebenaran risalahnya, serta Allah menolong Nabi-Nya mengalahkan kaum musyrikin dan menghinakan mereka; seorang dari Yahudi yang bernama Labid bin Al-A’sham ingin mengganggu Beliau. Dia pun membuat simpul sihir pada sisir, rontokan rambut, dan mayang kurma jantan sehingga di bayangkan kepada beliau melakukan sesuatu terhadap keluarganya padahal ternyata tidak melakukannya. Namun tetap -walhamdulillah- akalnya, perasaannya, dan pemahamannya terhadap Beliau beritakan kepada manusia tidaklah terganggu. Beliau tetap memberitakan kepada manusia kebenaran yang telah Allah swt wahyukan kepadanya, namun beliau merasakan sesuatu yang memberikan sebagian pengaruh dalam hubungannya dengan Istrinya, sebagaimana yang di katakan Aisyah bahwa di bayangkan kepada beliau melakukan sesuatu bersama keluarganya di rumah dan ternyata tidak melakukannya.

Diutuslah (sebagian sahabat) untuk mengeluarkan (simpul sihir) dari sumur milik salah seorang Anshar tersebut dan melenyapkan (pengaruh sihir)-nya. Akhirnya hilanglah pengaruh tersebut-segala puji bagi Allah. Surat al-Mu’awwidzatain (al Falaq dan An-Nas), Lalu Beliau membacanya. Maka hilanglah setiap gangguan tersebut.Rasulullah bersabda: “tidak ada seorang yang ber-ta’awwudz yang menandingi keduanya”.

Dan (hal itu) tidaklah mengakibatkan sesuatu yang memudharatkan manusia, atau merusak risalah atau wahyu yang Beliau bawa. Allah telah memeliharanya dari manusia atas sesuatu yang mencegah terhalanginya risalah yang Beliau bawa, atau tercegah dari menyampaikannya.

Adapun yang menimpa para rasul berupa jenis-jenis gangguan, Beliau pun tidak terpelihara darinya, hal itu pun menimpa Rasulullah. Diantaranya juga, terlukanya Beliau pada perang Uhuhd, kepala Beliau di Pukul dengan alat pelindung kepala hingga sebagian besinya masuk kedalam dua pipi Beliau, serta terjatuh pada sebagian lubang yang terdapat di sana. Dan mereka (Rasulullah dan para sahabat) telah disempitkan kehidupannya sewaktu di Makkah, Beliau mengalami sesuatu yang telah menimpa para rasul sebelumnya. Inilah Sunatullah, dengannya Allah mengangkat derajat Beliau meninggikan kedudukannya, dan melipatgandakan kebaikan-kebaikannya.Namun Allah senantiasa memelihara Beliau dari sisi bahwa meraka tidak mampu membunuhnya, dan tidak mampu mencegahnya menyampaikan risalah. Tidak satupun yang mampu menghalagi apa saja yang wajib beliau sampaikan, sungguh Beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, mudah-mudahan shalawat dan salam Allah subahanahu wata’ala senantiasa tercurah atas Beliau.

Dari semua riwayat tampak bahwa sihir yang dilakukan oleh Yahudi kepada Nabi tersebut termasuk jenis sihir yang paling jahat, dengan maksud membunuh Nabi, sebagaimana dimaklumi dari sekian macam sihir itu memang ada yang tujuannya untuk membunuh, akan tetapi Allah menjaga Nabi dari makar mereka, sehingga sihir itu menjadi jenis sihir yang paling ringan, yakni sekedar ketidakberdayaan Nabi untuk menggauli istrinya sendiri, jenis sihir inilah yang lazim disebut al-rabth.

Terjadinya sakit pada diri Nabi yang disebabkan sihir di atas tidak akan merusak status kenabian, karena penyakit tersebut hanya terkait urusan keduniaan, sehingga penyakit yang menimpa Nabi tersebut sama seperti penyakit-penyakit lain yang hanya menimpa pada bagian jasmaniah, seperti pandangan mata seakan menggauli dan memanggil-manggil isteri padahal tidak, hanya sebatas itu.

Peristiwa seperti ini juga pernah dialami oleh Musa ketika berhadapan dengan tukang-tukang sihir Fir'aun, ketika itu terbayang oleh Musa lantaran sihir mereka seakan-akan tongkat mereka merayap dengan cepat, kemudian Allah memberikan keteguhan hati kepada Musa. Dalam firman Allah disebutkan, "Kami berkata: janganlah takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul atau menang. Lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya dia akan menelan apa yang mereka perbuat, Sesungguhnya apa yang mereka perbuat adalah tipu daya tukang sihir, dan tidak akan menang tukang sihir itu".

Larangan melakukan sihir

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ الْمَدَنِيِّ عَنْ أَبِي الْغَيْثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ(رواه البخاري )‎

Dalam hadis di atas dapat diketahui bahwa sahabat bertanya kepada Rasul perihal larangannya untuk menjauhi tujuh dosa besar. Kemudian Rasul menjawab: syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan cara yang benar, riba, memakan harta kekayaan anak yatim. Lari dari medan perang dan menuduh wanita mukminah yang lalai berbuat zina.

Secara jelas sihir yang dimaksud adalah dikategorikan sebagai dosa besar. Hal itulah yang menimbulkan daya rusak dan efek negatif yang besar terhadap raga manusia, misalnya melenyapkan nyawa seseorang, bercerai berainya suami istri, tertutupnya kebenaran dengan kebathilan, dan lain-lain.

Sihir adalah termasuk dosa besar yang sangat diancam oleh syariat Islam. Al-Quran telah mempertalikan orang yang mengerjakan sihir atau orang yang mengajar yang lain daripada hal pekerjaan sihir itu dengan pekerjaan syaitan yang terkutuk. Ini kerana syaitan itu membuatkan kehidupan manusia menjadi kucar-kacir dan menarik manusia untuk berpaling daripada takdir Tuhan. Orang yang berjaya mensihirkan orang lain akan merasa senang hati terhadap penderitaan orang yang disihirnya, dan akan bercita-cita supaya penderitaan itu berterusan sehingga membawa mati, padahal Allah dan Rasul-Nya melarang cita-cita yang buruk terhadap sesama manusia.

Pekerjaan sihir itu selalunya bergantung kepada syaitan dan jin, yakni makhluk-makhluk terkutuk Allah, dan orang yang membuat sihir itu meletakkan sepenuh keyakinannya kepada makhluk jahat itu sehingga sampai ke peringkat penyembahan. Semua amalan ini adalah syirik, dan syirik itu adalah adik-beradik kufur. Oleh sebab itulah Allah swt menetapkan tempat orang-orang yang mengerjakan sihir dan yang bergantung kepada sihir dalam neraka jika mereka tidak segera bertaubat sebelum mati. Lantaran itu, hendaklah kita berhati-hati daripada perbuatan ini dan tidak menceburkan diri ke dalam golongan orang-orang yang membuat sihir ini.

Hal tersebut dijalankan oleh orang yang hanya untuk memenuhi ambisi nafsu setan. Allah berfirman dalam surat al-Baqarah: 102
 وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulai­man (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut; se­dangkan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu). Sebab itu, janganlah kamu kafir." Mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mere­ka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempe­lajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak mem­beri manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat; dan amat jahatlah per­buatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka me­ngetahui. (QS Al-Baqoroh Ayat 102)
Hukuman bagi penyihir

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ جُنْدُبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدُّ السَّاحِرِ ضَرْبَةٌ بِالسَّيْفِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ لَا نَعْرِفُهُ مَرْفُوعًا إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَإِسْمَعِيلُ بْنُ مُسْلِمٍ الْمَكِّيُّ يُضَعَّفُ فِي الْحَدِيثِ مِنْ قِبَلِ حِفْظِهِ وَإِسْمَعِيلُ بْنُ مُسْلِمٍ الْعَبْدِيُّ الْبَصْرِيُّ قَالَ وَكِيعٌ هُوَ ثِقَةٌ وَيُرْوَى عَنْ الْحَسَنِ أَيْضًا وَالصَّحِيحُ عَنْ جُنْدَبٍ مَوْقُوفٌ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ وَهُوَ قَوْلُ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ و قَالَ الشَّافِعِيُّ إِنَّمَا يُقْتَلُ السَّاحِرُ إِذَا كَانَ يَعْمَلُ فِي سِحْرِهِ مَا يَبْلُغُ بِهِ الْكُفْرَ فَإِذَا عَمِلَ عَمَلًا دُونَ الْكُفْرِ فَلَمْ نَرَ عَلَيْهِ قَتْلًا.(رواه الترمذي )
Adapun hukuman terhadap tukang sihir itu adalah bunuh disebabkan dia telah kufur kepada Allah, atau cenderung kepada kekufuran. Sedangkan Nabi s.a.w. dengan tegasnya telah bersabda: “Jauhilah tujuh dosa besar.” Oleh itu setiap orang mestilah takut kepada Allah dan janganlah memasuki sesuatu yang akan merugikan dirinya, baik di dunia mahupun akhirat.

Ancaman daripada melakukan sihir jelas terbukti berdasarkan hadis riwayat al-Tirmizi. Sabda Rasulullah s.a.w. bermaksud: “Hukuman terhadap ahli sihir adalah dipenggal (lehernya) dengan pedang.” Tetapi pada setengah riwayat mengatakan bahawa kata-kata ini sebenarnya daripada ucapan Jundub.

Dan daripada Bujalah bin Abdah, dia mengatakan: “Telah sampai kepada kami (surat) perintah daripada Saidina Umar r.a. setahun sebelum kewafatannya menyuruh kami membunuh setiap tukang sihir baik lelaki maupun wanita.”

Indikasi yang menonjol dan sangat menentukan adalah besarnya hukuman yang diberikan kepada pelakunya, hukuman mati. Sebagaimana kita ketahui bahwa Islam tidak gegabah menetapkan hukuman mati kepada seseorang kecuali ia telah melakukan kesalahan yang sangat besar, membunuh orang lain tanpa alasan benar.

Sihir pada hadis di atas dimaknai dengan santet. Para sahabat memiliki aturan dan syarat tersendiri untuk memperlakukan hukuman terhadap para tukang sihir. Sebagaimana yang dikatakan oleh Qadi Iyad: Malik berkata bahwa Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari banyak sahabat dan tabiin. Mereka mengatakan bahwa mereka membunuh penyihir apabila penyihir itu membunuh orang dengan sihir atau dengan pengakuan penyihir bahwa orang tersebut karena sihir yang dilakukannya. Apabila orang tersebut meninggal karena sihirnya akan tetapi ia tidak berniat membunuhnya, maka ia dikenakan diyat dan kafarah. Dan yang lain berpendapat bahwa pembunuhan dengan sihir tidak bisa dibuktikan dengan saksi melainkan harus dengan pengakuan penyihir.
5 golongan orang yang tidak masuk surga

حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ عَنِ الْأَعْمَشِ عَنْ سَعْدٍ الطَّائِيِّ عَنْ عَطِيَّةَ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ صَاحِبُ خَمْسٍ مُدْمِنُ خَمْرٍ وَلَا مُؤْمِنٌ بِسِحْرٍ وَلَا قَاطِعُ رَحِمٍ وَلَا كَاهِنٌ وَلَا مَنَّانٌ (رواه احمد)

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dari riwayat Abi Sa’id al-Khudri ini Nabi bersabda: lima jenis golongan orang yang tidak masuk surga. Peminum khamr, orang yang mempercayai sihir, orang yang memutuskan hubungan silaturrahmi, tukang tenun/ramal dan orang yang menyebut-nyebut kebaikan yang telah dilakukannya.

Dilihat dari zahir kalimat, hadis ini bertentangan dengan hadis yang berkenaan dengan tersihirnya Nabi. Akan tetapi setelah diteliti lebih lanjut ternyata hadis ini tidak bertentangan dengan hadis manapun.

Al-Zahabi berkata: Sihir itu adalah termasuk dosa besar yang sangat diancam oleh syariat Islam. Al-Quran telah mempertalikan orang yang mengerjakan sihir atau orang yang mengajar yang lain daripada hal pekerjaan sihir itu dengan pekerjaan syaitan yang terkutuk. Ini kerana syaitan itu membuatkan kehidupan manusia menjadi kucar-kacir dan menarik manusia untuk berpaling daripada takdir Tuhan. Orang yang berjaya mensihirkan orang lain akan merasa senang hati terhadap penderitaan orang yang disihirnya, dan akan bercita-cita supaya penderitaan itu berterusan sehingga membawa mati, padahal Allah dan Rasul-Nya melarang cita-cita yang buruk terhadap sesama manusia. Oleh sebab itulah Allah s.w.t. menetapkan tempat orang-orang yang mengerjakan sihir dan yang bergantung kepada sihir dalam neraka jika mereka tidak segera bertaubat sebelum mati. Lantaran itu, hendaklah kita berhati-hati daripada perbuatan ini dan tidak menceburkan diri ke dalam golongan orang-orang yang membuat sihir ini.

Berikut ini doa yang bisa kita baca setiap saat agar kita terhindari dari sihir dan santet.

أَعُوذُبِكَ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ شَرِّمَا خَلَقَ وَذَرَأَ وَبَرَأَ وَمِنْشَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَآءِ وَمِنْ شَرِّمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَمِنْ شَرِّ فِتَنِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ
إِلَّا طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنُ

“Aku berlindung dengan kalimah-kalimah Allah yang sempurna yang tidak dapat ditembusi oleh orang baik ataupun jahat, daripada segala kejahatan yang Dia ciptakan, Dia tanamkan dan Dia adakan, serta kejahatan yang turun daripada langit dan yang naik kepadanya dan dari kejahatan yang ditanamkan dalam bumi dan yang keluar darinya daripada kejahatan malam dan siang, kejahatan setiap yang datang melainkan yang datang dengan kebaikan, wahai Yang Maha Pemurah”

Penjelasan Hadits Rosululloh Pernah Terkena Sihir


Ahlus Sunnah mengimani keberadaan sihir. Sihir tidak akan dapat memberikan manfaat maupun mudharat kecuali jika Allah menghendaki.

Alloh Subhanahu Wata'ala Berfirman;

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ 

Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulai­man (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut; se­dangkan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu). Sebab itu, janganlah kamu kafir." Mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mere­ka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempe­lajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak mem­beri manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat; dan amat jahatlah per­buatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka me­ngetahui. (QS Al-Baqoroh Ayat 102)

Syaikhul Islam Abu Utsman Ismail Ashabuni berkata: “Mereka (Ashabul Hadits) juga berkeyakinan bahwa di dunia ini memang ada sihir dan tukang sihir, akan tetapi tukang sihir tersebut tidak dapat mencelakakan seseorang kecuali dengan izin Allah 'Azza wa Jalla, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ
 
"Dan mereka (tukang sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah." (QS. Al-Baqarah:102) 
Siapa yang menjadi penyihir atau menggunakan jasa sihir, sementara ia berkeyakinan bahwa sihir bisa memberi manfaat atau memberi mudharat tanpa izin Allah, maka ia telah kafir kepada Allah Ta'ala.” (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits oleh Syaikhul Islam Ashabuni)

Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan: “Al-Maziri berkata: Sebagian ahli bid’ah mengingkari sihir yang menimpa Rasulullah ini. Mereka menyangka bahwa hal ini akan menjatuhkan kedudukan nubuwwah dan akan memberi keraguan. Mereka berkata: Siapa saja yang berkata demikian maka itu adalah pengakuan batil.” (Fathul Bari 10/226)

Ibnu Hajar Al-Asqalani mengisahkan: “Terdapat sebuah boneka dari lilin untuk disantet kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini seperti terkandung dalam riwayat Umrah dari Aisyah. Ini adalah salah satu cara kerja ahli nujum.” (Fathul Bari 10/230)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Dan sekelompok manusia telah mengingkari hal ini (disihirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam-red). Mereka mengatakan: “Ini tidak boleh menimpa diri Rasul,” bahkan mereka menganggap ini sebagai suatu kekurangan dan aib. Dan perkaranya tidak seperti yang mereka duga, akan tetapi sihir tersebut adalah dari jenis perkara (penyakit) yang berpengaruh terhadap diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, hal ini termasuk  dari jenis-jenis penyakit yang menimpanya sebagaimana beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam juga tertimpa racun, di mana tidak ada perbedaan antara pengaruh sihir dengan racun.” (Zaadul Ma’ad 4/ 124)

Ibnul Qayyim rahimahullah juga  menyebutkan dari Qadhi Iyadh rahimahullah, bahwasanya beliau berkata: “Kejadian disihirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menodai kenabian beliau. Adapun keberadaan atau kejadian beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dikhayalkan melakukan sesuatu padahal beliau tidak melakukannya, hal ini tidaklah mengurangi sifat shiddiq (jujur) yang ada pada diri beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dikarenakan adanya dalil bahkan ijma’ (kesepakatan umat Islam) atas kemaksuman (terpelihara dari dosa dan kesalahan) beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dari hal tersebut, akan tetapi hal ini suatu perkara duniawi yang mungkin bisa menimpanya. Yang beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak diutus karena sebab tersebut dan tidak diberi keutamaan, karenanya pula beliau dalam hal ini seperti manusia yang lainnya, maka tidak mustahil untuk dikhayalkan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dari perkara-perkara yang tidak ada hakekatnya baginya, kemudian hilang dari beliau dan kembali seperti keadaan semula.” (Zaadul Ma’ad 4/ 124)

Qadhi Iyadh berkata: “Tampaklah sesungguhnya sihir. Dia mampu menguasai jasad dan memperlihatkan pengaruhnya. Namun bukan pada keistimewaan dan keyakinannya. Sihir yang menimpanya bagai penyakit yang dengan kehendak Allah lalu disembuhkan. Ini bukanlah perkara yang mengandung nilai kekurangan, bukan juga perkara aneh bagi Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam, seperti sakit wajar bagi seorang Nabi, rasa pusing Rasulullah, kakinya robek atau tubuhnya terluka. Ini adalah ujian yang diberikan Allah agar makin meningkatkan derajat dan menambahkan kemuliaannya. Ujian terhebat yang pernah menimpa manusia adalah ujian bagi para Nabi. Mereka diuji oleh umatnya dengan berbagai percobaan pembunuhan, pemukulan, makian dan penyanderaan. Karena itu, bukanlah sesuatu yang dibuat-buat jika Nabi diserang oleh musuhnya dengan sihir. Seperti halnya orang yang menguji Rasul dengan melemparinya hingga tulangnya patah. Diuji dengan penyakit yang muncul di punggung plasentanya hingga tak berdaya, dan lainnya. Ini bukanlah kekurangan, atau aib memalukan terhadap para Nabi. Hal ini bahkan menambah kesempurnaan dan ketinggian derajat mereka.” (Fathul Bari 10/227 dan Tafsir Al-Muawwidzatain oleh Ibnul Qayyim hal. 29, 30)

Al Qurthubi rahimahullahu mengatakan: “Ahlus Sunnah telah berpendapat bahwa sihir itu telah pasti ada dan memiliki hakikat. Sedangkan penganut Mu'tazilah secara umum dan Abu Ishaq al-Istirabadi, salah seorang penganut madzhab Syafi'i berpendapat, bahwa sihir itu tidak memiliki hakikat, tetapi sihir hanya merupakan tindakan pengelabuhan, pemunculan bayangan dan penipuan terhadap sesuatu, tidak seperti yang (tampak) sebenarnya. Sihir ini tidak ada bedanya dengan hipnotis dan sulap. Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta'ala: "Terbayang oleh Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka". (QS. Thaha : 66)
Dan Allah tidak mengunakan kata tas'aauntuk pengertian yang sebenarnya, tetapi Dia mengatakan: Terbayangkan oleh Musa. Selain itu, Dia juga berfirman: "Mereka menyihir mata umat manusia". (QS. Al-A'raf : 116) Yang demikian itu tidak mengandung hujjah sama sekali, karena tidak memungkiri pengelabuan dan juga selainnya,yang merupakan bagian dari sihir. Tetapi, telah ditetapkan di balik itu berbagai hal yang diterima oleh akal dan pendengaran. Diantara hal itu adalah apa yang disebutkan dalam ayat diatas yang menyebutkan sihir dan mempelajarinya. Seandainya sihir itu tidak memiliki hakikat, maka tidak mungkin untuk dipelajari dan juga Allah Ta'ala tidak akan memberitahukan bahwa mereka mengajarkan sihir itu kepada umat manusia. Yang mana hal itu menunjukan bahwa sihir itu memang mempunyai hakikat. Begitupun firman Allah Ta'ala yang menceritakan tentang kisah para tukang sihir Fir'aun:“Mereka mendatangkan sihir yang besar.”(Al- A'raf : 116) dan Surat Al-Falaq, di mana para ahli tafsir telah bersepakat bahwa sebab turunnya ayat ini adalah berkenaan dengan sihir Labid bin al-A'sham, hal tersebut juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori dan Imam Muslim serta perawi lainnya, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah disihir oleh seorang Yahudi dari suku Bani Zuraiq, yang bernama Labid Al A'sham.” Di dalam hadits tersebut disebutkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam pada saat mengobati sihir berkata:“Sesungguhnya Allah telah menyembuhkanku.” Kata Asy-syifa adalah terjadi dengan menghilangkan sebab dan menghilangkan penyakit, sehingga hal itu menunjukan bahwa sihir itu memang ada dan hakiki. Keberadaan dan kejadian sihir itu dipastikan ada melalui pemberitahuan Allah Ta'ala dan Rasul-Nya. Ulama telah mengeluarkan Ijma' (kesepakatan) mengenai hal tersebut. Dengan adanya kesepakatan mereka ini, maka tidak perlu dipedulikan lagi kebodohan kaum Mu'tazilah dan penentangan mereka terhadap pemegang kebenaran. Pada zaman-zaman dulu, sihir ini telah tersebar luas dan banyak di perbincangkan oleh umat manusia, dan tidak tampak adanya penolakan (tentang adanya sihir) dari para Sahabat dan Tabi'in.” (Tafsir al-Qurtubi II / 46)

Para ahli bid’ah mengingkari hadits-hadits tentang tersihirnya Nabi. Mereka berdalil dengan ayat berikut:

“Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir.” (QS. Al-Isra’: 47)

Mereka beranggapan bahwa Allah telah membantah prasangka orang kafir bahwa Nabi terkena sihir. Seandainya Nabi dapat disihir, secara tidak langsung hal itu membenarkan perkataan orang kafir sebagaimana diterangkan dalam Firman Allah: “Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir.” Selain itu, peristiwa penyihiran yang menimpa Nabi akan mengguncang makna kenabiannya dan menimbulkan keraguan. Ketika mengusung pendapat bahwa Nabi berimajinasi melihat Jibril, tapi bukan Jibril atau dia merasa diwahyukan sesuatu tapi tidak ada wahyu itu. Tidak pantas Nabi Muhammad terkena sihir.

Para ahli bid’ah mengingkari hadits-hadits berikut ini.

MATAN HADITS

Riwayat Imam Muslim 
‎حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: سَحَرَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَهُودِيٌّ مِنْ يَهُودِ بَنِي زُرَيْقٍ، يُقَالُ لَهُ: لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ: قَالَتْ حَتَّى كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّيْءَ، وَمَا يَفْعَلُهُ، حَتَّى إِذَا كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ، أَوْ ذَاتَ لَيْلَةٍ، دَعَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ دَعَا، ثُمَّ دَعَا، ثُمَّ قَالَ: " يَا عَائِشَةُ أَشَعَرْتِ أَنَّ اللهَ أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ؟ جَاءَنِي رَجُلَانِ فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَالْآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ، فَقَالَ الَّذِي عِنْدَ رَأْسِي لِلَّذِي عِنْدَ رِجْلَيَّ، أَوِ الَّذِي عِنْدَ رِجْلَيَّ لِلَّذِي عِنْدَ رَأْسِي: مَا وَجَعُ الرَّجُلِ؟ قَالَ: مَطْبُوبٌ، قَالَ: مَنْ طَبَّهُ؟ قَالَ: لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ، قَالَ: فِي أَيِّ شَيْءٍ؟ قَالَ: فِي مُشْطٍ وَمُشَاطَةٍ، قَالَ: وَجُفِّ طَلْعَةِ ذَكَرٍ، قَالَ: فَأَيْنَ هُوَ؟ قَالَ: فِي بِئْرِ ذِي أَرْوَانَ " قَالَتْ: فَأَتَاهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أُنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، ثُمَّ قَالَ: «يَا عَائِشَةُ وَاللهِ لَكَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الْحِنَّاءِ، وَلَكَأَنَّ نَخْلَهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ» قَالَتْ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلَا أَحْرَقْتَهُ؟ قَالَ: «لَا أَمَّا أَنَا فَقَدْ عَافَانِي اللهُ، وَكَرِهْتُ أَنْ أُثِيرَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا، فَأَمَرْتُ بِهَا فَدُفِنَتْ» رواه مسلم ‎
Riwayat Imam Bukhari 
قال البخاري رحمه الله في "الصحيح" برقم (5763): حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى، أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: سَحَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي زُرَيْقٍ، يُقَالُ لَهُ لَبِيدُ بْنُ الأَعْصَمِ، حَتَّى كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ كَانَ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَمَا فَعَلَهُ، حَتَّى إِذَا كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ أَوْ ذَاتَ لَيْلَةٍ وَهُوَ عِنْدِي، لَكِنَّهُ دَعَا وَدَعَا، ثُمَّ قَالَ: "يَا عَائِشَةُ، أَشَعَرْتِ أَنَّ اللَّهَ أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ، أَتَانِي رَجُلاَنِ، فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي، وَالآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ: مَا وَجَعُ الرَّجُلِ؟ فَقَالَ: مَطْبُوبٌ، قَالَ: مَنْ طَبَّهُ؟ قَالَ: لَبِيدُ بْنُ الأَعْصَمِ، قَالَ: فِي أَيِّ شَيْءٍ؟ قَالَ: فِي مُشْطٍ وَمُشَاطَةٍ، وَجُفِّ طَلْعِ نَخْلَةٍ ذَكَرٍ. قَالَ: وَأَيْنَ هُوَ؟ قَالَ: فِي بِئْرِ ذَرْوَانَ " فَأَتَاهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَجَاءَ فَقَالَ: «يَا عَائِشَةُ، كَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الحِنَّاءِ، أَوْ كَأَنَّ رُءُوسَ نَخْلِهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ» قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ: أَفَلاَ اسْتَخْرَجْتَهُ؟ قَالَ: «قَدْ عَافَانِي اللَّهُ، فَكَرِهْتُ أَنْ أُثَوِّرَ عَلَى النَّاسِ فِيهِ شَرًّا» فَأَمَرَ بِهَا فَدُفِنَتْ تَابَعَهُ أَبُو أُسَامَةَ، وَأَبُو ضَمْرَةَ، وَابْنُ أَبِي الزِّنَادِ، عَنْ هِشَامٍ، وَقَالَ: اللَّيْثُ، وَابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ هِشَامٍ: «فِي مُشْطٍ وَمُشَاقَةٍ» يُقَالُ: المُشَاطَةُ: مَا يَخْرُجُ مِنَ الشَّعَرِ إِذَا مُشِطَ، وَالمُشَاقَةُ: مِنْ مُشَاقَةِ الكَتَّانِ.
وأخرجه مسلم برقم (2189)، وقال: حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ، عَنْ هِشَامٍ، به.

Al-Bukhoriy Rohimahulloh berkata di dalam "Ash-Shohih" dengan (no. 5763): 
"Telah menceritakan kepada kami Ibrohim bin Musa, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami 'Isa bin Yunus, dari Hisyam, dari bapaknya (Urwah Ibnuz Zubair) dari Aisyah Rodhiyallahu 'anha, dia berkata: Telah disihir Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) oleh seorang lelaki dari Bani Zuroiq, dikatakan bahwa namanya adalah Labib Ibnul A'shom, sampai Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) mengangan-angankan untuk melakukan sesuatu namun beliau tidak melakukannya, sampai-sampai beliau pada suatu hari atau pada suatu malam dan beliau di sisiku, akan tetapi beliau berdoa dan berdoa, kemudian beliau berkata: "Wahai 'Aisyah, apakah kamu merasakan bahwasanya Alloh telah mengabulkan doaku ketika aku berdoa kepada-Nya, telah datang kepadaku dua orang lelaki, lalu salah satu dari keduanya duduk di sisi kepalaku, dan yang lain di sisi kakiku, lalu berkata salah seorang dari keduanya kepada kawannya: Apa yang membaringkan orang ini?
Yang satunya menjawab: "Disihir".
Yang satunya lagi bertanya: "Siapa yang menyihirnya?".
Yang satunya menjawab: "Labib Ibnul A'shom".
Yang satunya bertanya lagi: "Pada sesuatu apa (dia disihir)?".
Yang satunya menjawab: "Pada sisir dan apa yang menyertainya dan pada sisik dari pelepak korma".
Yang satunya bertanya: "Dimana dia?".
Yang satu lagi menjawab: "Di sumur Dzarwan".
Maka Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) bersama beberapa shohabatnya mendatanginya, lalu beliau berkata: "Seakan-akan airnya seperti air bekas yang berwarna kekuning-kuningan, atau seakan-anak punuk-punuk pelepak kormanya seperti kepala-kepalanya syaithon". Aku bertanya: "Apakah engkau mengeluarkannya?", beliau menjawab: "Sungguh Alloh telah menyembuhkanku, dan aku benci akan mempengaruhi manusia pada kejelekannya". Maka beliau memerintahkan dengannya lalu ditimbunlah.
 
Hadits ini memiliki jalur periwayatan dari Abu Usamah, Abu Damroh dan Ibnu Abiz Zinad dari Hisyam. Al-Laits dan Ibnu 'Uyainah berkata: Dari Hisyam:"Dari sisir dan musyaqoh".

Al-Musyaqoh adalah apa yang keluar dari rambut jika disisir, dan Al-Musyaqoh termasuk dari apa yang keluar dari rambut.

Dan hadits ini diriwayatkan pula oleh Muslim dengan (no. 2189), beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Kuroib, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair, dari Hisyam, yang semisal (dengan periwayatan Al-Bukhoriy).

Faedah yang bisa dipetik dari hadits ini diantaranya:

Pertama:

Asy-Syaikhoni (Al-Bukhoriy dan Muslim) meriwayatkan hadits ini di dalam "Ash-Shohihain", yang para Ahli ilmu telah bersepakat bahwa keduanya adalah kitab yang paling shohih setelah Kitabulloh, sampai mereka berkata:

"اتفق عليه العلماء من أن أصح كتاب بعد كتاب الله "صحيحا البخارى ومسلم".

"Telah bersepakat tentangnya para ulama, bahwasanya paling shohihnya kitab setelah Kitabulloh adalah shohih Al-Bukhoriy dan Muslim".

Maka dengan kejelasan seperti itu bila kemudian ada yang menolak satu hadits semisal ini maka dia dipertanyakan tentang jati diri dan keislamannya, dan kami tidak menganggapnya sama sekali kalau dia sebagai seorang Ahlissunnah bahkan dia adalah mubtadi' dhol, siapa pun dia, baik itu Ahmad Surkati (sang pendiri firqoh Ali Irsyad) atau masyayikhnya atau yang semisal mereka, mereka menolak hadits semisal ini dengan berbagai macam alasan, ada yang mengatakan karena hadits ahad-lah atau khobar ahad-lah, bagi siapa yang menolaknya maka dipertanyakan keislaman dan aqidahnya, dan para ulama telah berkata:

"من أنكر خبر الواحد فقد رد الشريعة كلها".

"Barang siapa yang menolak khobar ahad maka sungguh dia telah menolak syari'at seluruhnya".
  ‎
Kedua:

Adapun perkataannya: "Telah disihir Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) oleh seorang lelaki dari Bani Zuroiq" maka ini adalah penetapan bahwa Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) telah disihir.

Dan ini adalah bantahan terhadap orang-orang congkak, sombong dan sok bertaqwa ketika melihat atau mendengar bahwa ada dari Ahlissunnah terkena sihir, mereka pun berkata: "Itu karena mereka lemah tauhidnya dan lemah imannya jadi sihir mengenainya", dengan ucapan mereka seperti ini mereka tidak menyadari kalau mereka telah menghina Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) yang pernah terkena sihir, bagaimana mereka merasa diri paling bertauhid dan paling kuat keimanannya sedangkan mereka memperoleh ilmu tauhid dari Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), bagaimana mereka mentazkiyyah diri mereka dengan kecongkakan dan kesombongan itu sementara Alloh (تعالى) telah menjaga Nabi-Nya:

{وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ} [المائدة: 67]

"Alloh menjagamu dari (gangguan) manusia, sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir". (Al-Maidah: 67).

Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)seperti itu lalu bagaimana dengan umatnya?, itulah ketentuan Alloh(تعالى), bahwasanya Dia akan selalu menguji hamba-hamba-Nya yang beriman, baik mereka adalah para Nabi atau pun umat-umatnya, Alloh (تعالى) berfirman:

{وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا} [الفرقان: 20]

"Dan Kami telah jadikan sebagian kalian cobaan bagi sebagian yang lain, apakah kalian bersabar?; dan Robbmu adalah Al-Bashir (Maha Melihat)". (Al-Furqan: 20).

Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) tidak hanya diuji dengan disihir namun beliau diuji dengan berbagai macam ujian dan cobaan, baik ujian itu datangnya dari syaithon yang berbentuk manusia atau syaithon yang berbentuk jin, Alloh (تعالى) berfirman:

{ وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ} [الأنعام: 112]

"Dan Demikianlah Kami telah jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaithon-syaithon (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia), Jikalau Robbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan". (Al-An'am: 112).

Maka kami katakan kepada saudara-saudariku Ahlisunnah: "Janganlah kalian bersedih hati jika kalian mendapatkan ujian, sebagaimana kami katakan kepada diri kami sendiri untuk senantiasa berharap dengan sebab ujian itu kita akan diampuni dari dosa-dosa kita dan semoga kita dimasukan ke dalam Jannahnya Alloh (تعالى) yang kekal abadi, biarlah orang-orang jahat dan para pedengki mengatakan bahwa kita sedang ditimpakan bala', kita katakan: "Iya, kami sedang ditimpakan bala' akan tetapi bala' yang baik, Robb kami telah menghibur kami:

{وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَاءً حَسَنًا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ} [الأنفال: 17]

"Dan ditimpakan bala' bagi orang-orang yang beriman, dengan bala' yang baik. Sesungguhnya Alloh adalah As-Sami' (Maha Mendengar) lagi Al-'Alim (Maha Mengetahui)". (Al-Anfal: 17).

Dan Nabi kami Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) telah menghibur kami dengan hiburan yang sangat menyenangkan, Al-Bukhoriy telah membuat bab khusus tentang masalah ini di dalam "Ash-Shohih", beliau berkata:

"بَابٌ: أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ"

"Bab: Paling besarnya bala' pada manusia adalah para Nabi, kemudian semisalnya kemudian semisalnya".

Dan Ahlussunan kecuali Abu Dawud telah meriwayatkan dari hadits Sa'd bin Abi Waqqosh, beliau berkata:

"يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟".
 ‎
"Wahai Rosululloh, siapakah manusia yang paling besar bala'nya?". Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) menjawab:

«الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الْعَبْدُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صُلْبًا، اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ، ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ، حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ، وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ»".

"Para Nabi, kemudian semisalnya dan yang semisalnya, ditimpakan bala' kepada seorang hamba disesuaikan dengan keadaan agamanya, jika pada agamanya itu ada kekokohan maka dibesarkan bala'nya, dan jika pada agamanya ada kelemahan (kerendahan) maka ditimpakan bala' sesuai kadar agamanya, dan senantiasa seorang hamba akan ditimpakan bala' sampai dia dibiarkan berjalan di muka bumi dan dia tidak ada padanya dosa"".  

Mereka para penjahat dan para pendengki itu merasa bangga karena tidak sakit, tidak menderita dan tidak kekurangan, maka kami katakan kepada mereka: "Begitulah keadaan Fir'aun!, tidak ada keterangan atau riwayat yang menjelaskan bahwa dia duji dengan sakit, begitu pula para tukang sihir".

Ketiga:

Adapun perkataannya: "sampai Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) mengangan-angankan untuk melakukan sesuatu namun beliau tidak melakukannya" maka ini sebagai dalil bahwasanya sihir dengan izin Alloh (تعالى) mampu memberikan pengaruh kepada manusia baik jasmani maupun rohaninya, Alloh (تعالى) berkata tentang kisah tukang sihirnya Fir'aun:

{فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ}[الأعراف: 116]

"Maka tatkala mereka melepaskan sihir-sihir mereka, dengan menyihir mata-mata manusia maka manusia merasa takut kepada mereka dan mereka mendatangkan dengan sihir yang besar". (Al-A'rof: 116).

Adapun pengaruhnya kepada jasmani dan rohani maka dia seperti yang dirasakan oleh Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) dan orang-orang yang pernah disihir, yaitu mereka merasakan pada diri-diri mereka rasa sakit yang berat dan daya nalar atau pikiran kacau sampai menginginkan untuk melakukan sesuatu kemudian terlupakan atau tidak teringat dengan rencana tersebut.

Keempat:

Adapun perkataannya: (أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ) "bahwasanya Alloh telah mengabulkan doaku ketika aku berdoa kepadanya" maka Ibnu Hajar Rohimahulloh telah berkata di dalam "Fathul Bariy" (10/228) tentang ma'na dari perkataan ini:

"فِي رِوَايَةِ الْحُمَيْدِيِّ أَفْتَانِي فِي أَمْرٍ اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ أَيْ أَجَابَنِي فِيمَا دَعَوْتُهُ فَأَطْلَقَ عَلَى الدُّعَاءِ اسْتِفْتَاءً لِأَنَّ الدَّاعِيَ طَالِبٌ وَالْمُجِيبَ مُفْتٍ أَوِ الْمَعْنَى أَجَابَنِي بِمَا سَأَلْتُهُ عَنْهُ لِأَنَّ دُعَاءَهُ كَانَ أَنْ يُطْلِعَهُ اللَّهُ عَلَى حَقِيقَةِ مَا هُوَ فِيهِ لِمَا اشْتَبَهَ عَلَيْهِ مِنَ الْأَمْرِ".

"Di dalam riwayat Al-Humaidiy aftaaniy fii amrinis taftaituhu fiih yaitu Dia mengabulkanku terhadap apa yang aku berdoa kepada-Nya, fatwa diitlakan pada doa karena orang yang berdoa adalah menuntut (meminta), dan yang mengabulkan adalah orang yang berfatwa atau ma'na telah mengabulkanku terhadap apa yang aku telah meminta-Nya tentangnya, karena sesungguhnya doanya supaya Alloh menampakannya atas keadaan yang sebenarnya dari apa yang dia berada pada kesamaran dari suatu perkara".
Apa yang telah dikatakan oleh Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) itu termasuk dari bentuk pengajaran, maka hendaknya seorang bapak mengikuti metode tersebut, baik dia mengajari istrinya, putra-putrinya, atau seorang ustadz yang mengajari para muridnya.

Pada perkataan Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) tersebut mengandung banyak pelajaran, diantaranya tentang tauhid, Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) ketika sudah merasakan derita maka beliau langsung berdoa kepada Alloh (تعالى), dengan sebab doa tersebut tersingkaplah apa yang disembunyikan oleh tukang sihir.

Dan hendaknya bagi setiap hamba Alloh untuk mengikuti metode Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) ini:

{وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ} [غافر: 60]

"Dan Robb kalian telah berkata: "Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagi kalian". (Ghofir: 60).

Dan bagi siapa yang enggan dan tidak mau untuk berdoa kepada-Nya maka Dia telah mengancamnya dengan ancaman neraka, sebagaimana perkataan-Nya pada kelanjutan ayat tersebut:

{إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ} [غافر: 60]

Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku maka mereka akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (Ghofir: 60).‎

Kelima:

Adapun perkataannya:"Pada sesuatu apa (dia disihir)?" maka ini menunjukkan bahwa sihir memiliki banyak bentuk, terkadang tukang sihirnya langsung melepaskan sihir-sihir mereka dari tangan-tangan mereka, sebagaimana Alloh (تعالى) ‎kisahkan tentang tukang sihirnya Fir'aun:

{قَالُوا يَا مُوسَى إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَلْقَى (65) قَالَ بَلْ أَلْقُوا فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى (66)} [طه: 65، 66]

"(Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: "Wahai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kami yang memulai melemparkan?", Musa berkata: "Bahkan kalianlah melemparkan". Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka (berlepasan), terbayang kepada Musa seakan-akan dia merayap cepat, lantaran sihir mereka". (Thohaa: 65-66).

Pada sihir mereka ini berbentuk sesuatu seperti tali dan tongkat, dan terkadang mereka (para tukang sihir) ketika melepaskan sihir dari tangan-tangan mereka maka ada pula yang berbentuk api, cairan panas atau berbentuk kawat-kawat, atau sejenis binatang dan hewan atau yang semisalnya.

Ini satu bentuk, dan ada pula bentuk yang lain, yaitu mereka mengirimkan dengan bentuk para jin, yang para jin tersebut kemudian mengganggu dan menyakiti orang yang akan mereka sihir.

Ini satu bentuk pula, dan ada pula bentuk yang lain, yaitu proses pengiriman dari jarak jauh, bila orang yang akan mereka sihir adalah dari kalangan Ahlut tauhid maka mereka mengirimkan sejenis sihir tersebut, seakan-akan mereka sedang melakukan bluetooth. Pada jenis ini terkadang nyasar (salah sasaran), terkadang mengenai pintu rumah orang yang akan disihir, atau terkadang mengenai benda yang ada di samping orang yang akan disihir, dan metode ini mereka sering gagal, karena gagal terus mereka pun menggunakan penopang atau cara seperti yang dilakukan oleh Labib Ibnul A'shom ini, yaitu mereka mengambil rambut atau sisir orang yang akan mereka sihir, atau mereka mengambil foto, pakaian, bekas-bekas atau yang semisalnya, atau mereka juga membuat patung atau yang sejenis boneka yang mereka jadikan boneka tersebut seakan-akan itulah diri orang yang akan mereka sihir, kemudian mereka tusuk patung atau boneka tersebut dengan paku, jarum atau benda tajam lainnya, dan praktek sihir seperti ini terdapat di berbagai tempat di Bumi Nusantara ini;

"أَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَقْتُلَ سَوَاحِرَ"

"Aku memohon kepada Alloh untuk membunuh para tukang sihir".

"وَأَسْأَلُهُ أَنْ يُعَذّبَهُمْ بِسِحْرِهِمْ"


"Dan aku memohon kepada-Nya untuk mengazab mereka dengan sihir-sihir mereka".

Keenam:

Adapun perkataannya: "Di sumur Dzarwan" maka ini menunjukan bahwa tukang sihir terkadang menyimpan bahan sihir di sumur, di gua, di kamar khusus atau di tanjung, atau di antara dua batu atau di tempat-tempat yang mereka anggap layak sebagai tempat penyimpanan.

Ketujuh:

Adapun perkataannya: "dan aku benci akan mempengaruhi manusia pada kejelekannya" maka ini menunjukan bahwa beliau (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) sangat kasih sayang terhadap umatnya, Alloh (تعالى) sebutkan tentang sifatnya yang mulia:

{لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ} [التوبة: 128]

"Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rosul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keselamatan) bagi kalian, sangat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang bermu'min". (At-Taubah: 128).

Adapun para tukang sihir dan para penjahat maka mereka tidak memiliki rasa belas kasihan, mereka melakukan PBB (perlombaan biadab-biadab), di sisi lain para tukang sihir melakukan sihirnya, para penjahat menjalankan makarnya di sisi lain.

Sangat teringat di benak kami dan bagi yang menyaksikan atau mendengarkan, ketika kami sedang tegang-tegangnya dalam melawan serangan sihir, tiba-tiba segerombolan pengacau berupaya pula untuk memudhorotkan kami, salah satu kawan mereka (sebagai juru bicara) dihubungi dengan tujuan supaya kami diangkat ke orang yang berpengaruh, dengan maksud supaya kami diusir, berbagai macam cara mereka jalani, tukang sihir menyerang kami lewat dalam tubuh dan ada dari mereka (para pengacau) mendorong kami dari luar tubuh -وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ-, namun –dengan izin Alloh- mereka tidak akan mampu memudhorotkan kami:

{ لَنْ يَضُرُّوكُمْ إِلَّا أَذًى} [آل عمران: 111]

"Tidaklah mereka memudhorotkan kalian melainkan hanya gangguan saja". (Ali Imron: 111).

{وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ} [فاطر: 10]

"Dan rencana jahat mereka akan hancur". (Fathir: 10).

Walaupun para tukang sihir dan para pengacau, baik yang dari jin maupun yang dari manusia bersatu padu atau berserikat untuk memudhorotkan kami maka sungguh mereka tidak akan sanggup kecuali apa yang telah Robb kami tetapkan, Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) Bersabda‎:

"وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ»".

"Dan kalau pun mereka bersatu untuk memberikan kemadhorotan kepadamu maka mereka tidak akan mampu memudhorotkanmu melainkan dengan sesuatu yang telah Alloh tuliskan untukmu, telah terangkat pena dan telah tertulis lembaran-lebaran".Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy dengan sanad hasan dari hadits ‎Abdulloh bin 'Abbas.

Mengatasi Serangan Sihir

Dalam mengatasi serangan sihir adakalanya dengan menggunakan dzikir-dzikir dan doa-doa yang telah diajarkan oleh Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), dan tentang masalah ini telah kami sebutkan dalam jawaban kami tersendiri ketika ada pertanyaan yang bekaitan dengan ini.

Dan terkadang pula mengatasinya dengan cara menggabungkan tata cara tersebut dengan praktek pengobatan Islamiy seperti bekam dan yang semisalnya, dan Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah Rohimahulloh menyebutkan bahwa serangan sihir diatasi dengan hijamah (berbekam) itu memiliki kesesuaian atau kecocokan dalam penanganan.

Dan Alhamdulillah sekarang kita dapati banyak yang memiliki keahlian dalam masalah ini, ada yang meruqyah orang yang terkena sihir kemudian penanganan terakhirnya dengan cara berbekam, dan ada pula melakukannya dengan cara bersamaan, masing-masing memiliki segi pandang yang berbeda-beda.

Dan ada pula yang mencoba semua tata cara tersebut namun tidak didapatkan hasil atau perubahan kepada diri orang yang terkena sihir, bila keadaannya seperti ini maka hendaknya orang yang disihir tersebut benar-benar bertawakkal dan bersabar, dan yakin bahwa balasan baginya adalah Jannah(surga), 

Asy-Syaikhon meriwayatkan di dalam "Ash-Shohihain" dari hadits dari 'Atho' bin Abi Robah, beliau berkata:Ibnu Abbas berkata kepadaku:

"أَلاَ أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ؟ قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: هَذِهِ المَرْأَةُ السَّوْدَاءُ، أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ، وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي، قَالَ: «إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ» فَقَالَتْ: أَصْبِرُ، فَقَالَتْ: إِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ، فَدَعَا لَهَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ، أَخْبَرَنَا مَخْلَدٌ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ: «أَنَّهُ رَأَى أُمَّ زُفَرَ تِلْكَ امْرَأَةً طَوِيلَةً سَوْدَاءَ، عَلَى سِتْرِ الكَعْبَةِ»

"Maukah aku kabarkan kepadamu tentang wanita dari penduduk Jannah?", aku berkata: "Tentu", ini adalah wanita yang berkulit hitam, datang kepada Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), lalu dia berkata: "Sesungguhnya saya pingsan-pingsan (karena sebab gangguan), dan sesungguhnya saya terbuka auratku (ketika tertimpa musibah tersebut), maka berdoalah kepada Alloh untuk (menyembuhkan)ku!, beliau (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata: "Jika kamu ingin untuk bersabar maka bagimu Jannah, dan jika kamu ingin supaya aku berdoa kepada Alloh untuk menyembuhkanmu", maka dia (wanita tadi) berkata: "Aku akan bersabar". Kemudian dia berkata: "Sesungguhnya saya terbuka auratku (ketika tertimpa musibah tersebut) maka berdoalah kepada Alloh untukku supaya tidak tersingkap, maka beliau mendoakan untuknya".‎

Doa Nabi Sulaiman Menundukkan Hewan dan Jin

  Nabiyullah Sulaiman  'alaihissalam  (AS) merupakan Nabi dan Rasul pilihan Allah Ta'ala yang dikaruniai kerajaan yang tidak dimilik...