Jumat, 15 Oktober 2021

Penjelasan Tentang Puasa Bulan Dzulhijjah


Sebagian berpendapat bahwa dimakruhkan berpuasa dari tanggal 1 Dzulhijjah sampai tanggal 9 Dzulhijjah secara berurutan, mereka berdalih dan berdalil bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mengerjakannya dan menganjurkannya kecuali tanggal 9 Dzulhijjahnya yaitu hari Arafah.‎

Salah satu dalil yang dipakai adalah:

عَنْ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- لَمْ يَصُمِ الْعَشْرَ.

Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berpuasa pada 10 hari (pertama Dzulhijjah-pen).” HR. Muslim.

TETAPI, PENDAPAT YANG LEBIH KUAT ADALAH BAHWA DIPERBOLEHKAN BAHKAN DIANJURKAN UNTUK BERPUASA DARI TANGGAL 1 SAMPAI TANGGAL 8 DZULHIJJAH, BAIK YANG MENUNAIKAN IBADAH HAJI ATAU TIDAK DAN SANGAT DITEKANKAN BERPUASA TANGGAL 9 DZULHIJJAH BAGI YANG TIDAK MENUNAIKAN IBADAH HAJI SAJA, ADAPUN YANG SEDANG MENUNAIKAN IBADAH HAJI DAN WUKUF DI ARAFAH DIMAKRUHKAN BERPUASA PADA HARI INI. WALLAHU A’LAM.

Dalil-dalil yang menunjukkan akan penguatan pendapat di atas adalah:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ ». فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».

Artinya: Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Tiada hari-hari, amal shalih di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini". yakni 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah, mereka (para shahabat) bertanya: "Wahai Rasulullah, dan tidak juga berjihad di jalan Allah (lebih utama darinya)?", beliau bersabda: "Dan tidak juga berjihad di jalan Allah (lebih utama darinya), kecuali seseorang yang berjuang dengan dirinya dan hartanya lalu ia tidak kembali dengan apapun". HR. Bukhari.

 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :« مَا مِنْ عَمَلٍ أَزْكَى عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلاَ أَعْظَمَ أَجْراً مِنْ خَيْرٍ تَعْمَلُهُ فِى عَشْرِ الأَضْحَى ». قِيلَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ. قَالَ :« وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ». قَالَ : وَكَانَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ إِذَا دَخَلَ أَيَّامُ الْعَشْرِ اجْتَهَدَ اجْتِهَاداً شَدِيداً حَتَّى مَا يَكَادُ يَقْدِرُ عَلَيْهِ.

Artinya: Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Tiada dari amalan lebih suci di sisi Allah Azza wa Jalla dan lebih besar pahalanya dari sebuah kebaikan yang kamu kerjakan pada sepuluh hari pertama”, beliau ditanya: "Dan tidak juga berjihad di jalan Allah (lebih utama darinya)?", beliau bersabda: "Dan tidak juga berjihad di jalan Allah (lebih utama darinya), kecuali seseorang yang berjuang dengan dirinya dan hartanya lalu ia tidak kembali dengan apapun". Beliau berkata: “ Sa’id bin Jibair jika memasuki sepuluh hari pertama Dzulhijjah, sangat bersungguh-sungguh sekali samapi-sampai tidak ada yang mampu sepertinya.” HR. Ad Darimi dan dihasankan oleh Al Albani di dalam kitab IRwa Al Ghalil, no. 890.

Penjelasan para ulama terhadap hadits-hadits di atas:

Ibnu Hazm berkata:

 (( ونستحب صيام أيام العشر من ذي الحجة قبل النحر ، لما حدثنا . . . - ، وذكر الحديث ، ثم قال -: قال أبو محمد : وهو عشر ذي الحجة ، والصوم عمل بر ، فصوم عرفة يدخل فيه أيضا )) .

“Dan kami menganjurkan berpuasa pada sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah sebelum hari Idul Adha…”, kemudian beliau menyebutkan hadits, lalu berkata: “berkata Abu Muhammad:Ia adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan berpuasa adalah amal baik dan puasa hari Arafah masuk di dalamnya juga.” Lihat kitab Al Muhalla, 7/19.

Berkata Ibnu Rajab rahimahullah:

(( وقد دل حديث ابن عباس على مضاعفة جميع الأعمال الصالحة في العشر من غير استثناء شيء منها )) .

“Dan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma telah menunjukkan atas pelipatan pahala seluruh amal-amal shalih pada sepuluh hari pertama tanpa pengecualian darinya sedikitpun.” Lihat kitab Lathaif Al Ma’arif, hal. 460.

Berkata Ibnu Hajar rahimahullah:

 (( واستدل به - يعني بحديث ابن عباس - على فضل صيام عشر ذي الحجة ، لاندراج الصوم في العمل )) .

“Dan dijadikan dalil dengannya yaitu hadits Abdullah bin Abbas atas keutamaan berpuasa sepuluh hari pertama Dzulhijjah, karean berpuasa masuk dalam amal.” Lihat kitab Fath Al Bary, 2/534.

Berkata Asy Syaukany rahimahullah:

(( وقد تقدم في كتاب العيدين أحاديث تدل على فضيلة العمل في عشر ذي الحجة على العموم ، والصوم مندرج تحتها )) .

“Dan telah lewat di dalam kitab Al ‘Idain hadits-hadits yang menunjukkan atas keutamaan beramal di dalam sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah secara umum, dan puasa masuk di bawahnya.” Lihat kitab Nail Al Awthar, 5/347.

Adapun bagaimana cara menanggapi perkataan Ummu Al Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, mari lihat penjelasan para ulama rahimahumullah;

Berkata An Nawawi rahimahullah:

فيتأول قولها : لم يصم العشر , أنه لم يصمه لعارض مرض أو سفر أو غيرهما , أو أنها لم تره صائماً فيه , ولا يلزم عن ذلك عدم صيامه في نفس الأمر , ويدل على هذا التأويل حديث هنيدة بن خالد عن امرأته عن بعض أزواج النبي - صلى الله عليه وسلم - قالت : كان رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يصوم تسع ذي الحجة , ويوم عاشوراء , وثلاثة أيام من كل شهر : الاثنين من الشهر والخميس ) ورواه أبو داود وهذا لفظه وأحمد والنسائي وفي روايتهما ( وخميسين ) والله أعلم )

“Ditafsirkan perkataan beliau (‘Aisyah radhiyallahu ‘anha) “Tidak berpuasa pada sepuluh hari Dzulhijjah”, bahwa beliau tidak berpuasa padanya karena suatu halangan sakit atau safar atau selain kedunya atau beliau tidak melihatnya sedang berpuasa di dalamnya dan tidak mengharuskan hal itu tidak berpuasanya beliau pada saat yang bersamaan, dan yang menunjukkan tafsiran ini adalah hadits Hunaidah bin Khalid ia meriwayatkan dari istrinya, meriwayatkan dari salah satu istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa berpuasa pada sembilan hari (pertama-pen) Dzulhijjah, hari ‘Asyura, tiga hari dari setiap bulan; hari senin dari bulan dan hari kamis”, hadits riwayat Abu Daud dan ini adalah lafazh darinya, Ahmad dan An Nasai di dalam dua riwayatnya menyebutkan “Dua hari Kamis”. Wallahu a’lam. Lihat kitab Syarah Shahih Muslim, Karya An Nawawi, 3/251.

Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalny rahimahullah:

[ واستدل به على فضل صيام عشر ذي الحجة لاندراج الصوم في العمل , واستشكل بتحريم الصوم يوم العيد , وأجيب بأنه محمول على الغالب , ولا يرد على ذلك ما رواه أبو داود وغيره عن عائشة قالت ( ما رأيت رسول الله - صلى الله عليه وسلم - صائماً العشر قط ) لاحتمال أن يكون ذلك لكونه كان يترك العمل وهو يحب أن يعمله خشية أن يفرض على أمته , كما رواه الصحيحان من حديث عائشة أيضاً ]

“Dan dijadikan dalil dengannya yaitu hadits Abdullah bin Abbas atas keutamaan berpuasa sepuluh hari pertama Dzulhijjah, karean berpuasa masuk dalam amal, dan dipermasalahkan dengan pengharaman berpuasa pada hari Idul Adha, (dapat) dijawab bahwa disebutkan secara kebanyakan, dan tidak bertentangan atas itu apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan selainnya dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata: “Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada sepuluh hari pertma Dzulhijjah.” Karena dimungkinkan itu terjadi, karena belia senantiasa meninggalkan sebuah amalan padahal beliau menyukai untuk mengamalkannya, karena takut akan diwajibkan atas umatnya, sebagaimana yang diriwayatkan dari hadits riwayat Bukhari dan Muslim, dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga.” Lihat kitab Fath Al Bary, 2/593.

JADI, PENDAPAT YANG LEBIH KUAT ADALAH BAHWA DIPERBOLEHKAN BAHKAN DIANJURKAN UNTUK BERPUASA DARI TANGGAL 1 SAMPAI TANGGAL 8 DZULHIJJAH, BAIK YANG MENUNAIKAN IBADAH HAJI ATAU TIDAK DAN SANGAT DITEKANKAN BERPUASA TANGGAL 9 DZULHIJJAH BAGI YANG TIDAK MENUNAIKAN IBADAH HAJI SAJA, ADAPUN YANG SEDANG MENUNAIKAN IBADAH HAJI DAN WUKUF DI ARAFAH DIMAKRUHKAN BERPUASA PADA HARI INI. 

Puasa Arafah yaitu puasa pada tanggal 9 bulan Dzulhijjah, sedangkan puasa tarwiyah adalah puasa pada tanggal 8 bulan Dzulhijjah. Puasa sunnah itu berdasarkan dalil berikut:

Dari Abi Qatadah Radhiyallahu ‘Anhu berkata bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

صوم يوم عرفة يكفر سنتين ماضية ومستقبلة وصوم يوم عاشوراء يكفر سنة ماضية

"Puasa hari Arafah menghapuskan dosa dua tahun, yaitu tahun sebelumnya dan tahun sesudahnya. Puasa Asyura’ menghapuskan dosa tahun sebelumnya". (HR. Jamaah, kecuali Bukhari dan Tirmizy)

Puasa hari Arafah (9 Dzulhijjjah) ini disepakati sunnah bagi yang tidak menunaikan haji. Sedangkan bagi yang wukuf di Arafah hukumnya diperselisihkan dikarenakan dalil yang melarang puasa bagi jamaah haji yang wukuf dipermasalahkan.

1. Haram Puasa Bagi Yang Wukuf

Imam At Tirmidzi Rahimahullah mengatakan:

وقد استحب أهل العلم صيام يوم عرفة إلا بعرفة

Para ulama telah menganjurkan berpuasa pada hari ‘Arafah, kecuali bagi yang sedang di ‘Arafah. (Sunan At Tirmidzi, komentar hadits No. 749)

Apa dasarnya bagi yang sedang wuquf di ‘Arafah dilarang berpuasa?

Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu berkata:
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَاتٍ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang berpuasa pada hari ‘Arafah bagi yang sedang di ‘Arafah.” (HR. Abu Daud No. 2440, Ibnu Majah No. 1732, Ahmad No. 8031, An Nasa’i No. 2830, juga dalam As Sunan Al Kubra No. 2731, Ibnu Khuzaimah No. 2101, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1587)

Hadits ini dishahihkan oleh Imam Al Hakim, katanya: “Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim tapi keduanya tidak meriwayatkannya.” (Al Mustadrak No. 1587) Imam Adz Dzahabi menyepakati penshahihannya. Dishahihkan pula oleh Imam Ibnu Khuzaimah, ketika beliau memasukkannya dalam kitab Shahihnya. Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar: Aku berkata: Ibnu Khuzaimah telah menshahihkannya, dan Mahdi telah ditsiqahkan oleh Ibnu Hibban. (At Talkhish, 2/461-462)

2. Boleh Berpuasa Meski Wukuf

Mereka menyanggah tashhih (penshahihan) tersebut, karena perawi hadits ini yakni Syahr bin Hausyab dan Mahdi Al Muharibi bukan perawi Bukhari dan Muslim sebagaimana yang diklaim Imam Al Hakim.

Imam Al Munawi mengatakan: Berkata Al Hakim: “Sesuai syarat Bukhari,” mereka (para ulama) telah menyanggahnya karena terjadi ketidakjelasan pada Mahdi, dia bukan termasuk perawinya Bukhari, bahkan Ibnu Ma’in mengatakan: majhul. Al ‘Uqaili mengatakan: “Dia tidak bisa diikuti karena kelemahannya.” (Faidhul Qadir, 6/431)  Lalu,  Mahdi Al Muharibi – dia adalah Ibnu Harb Al Hijri, dinyatakan majhul (tidak diketahui) keadaannya oleh para muhadditsin.

Syaikh Al Albani berkata: Aku berkata: isnadnya dhaif, semua sanadnya berputar pada Mahdi Al Hijri, dan dia majhul. (Tamamul Minnah Hal. 410)

Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata: Isnadnya dhaif, karena ke-majhul-an Mahdi Al Muharibi, dia adalah Ibnu Harbi Al Hijri, dan Ibnu Hibban menyebutkannya dalam kitab Ats Tsiqaat (orang-orang terpercaya), dia (Ibnu Hibban) memang yang menggampangkannya (untuk ditsiqahkan, pen). (Ta’liq Musnad Ahmad No. 8041)

Telah masyhur bagi para ulama hadits, bahwa Imam Ibnu Hibban adalah imam hadits yang dinilai terlalu mudah men-tsiqah-kan perawi yang majhul.

Majhulnya Mahdi Al Muharibi juga di sebutkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar. (At Talkhish Al Habir,  2/461), Imam Al ‘Uqaili mengatakan dalam Adh Dhuafa: “Dia tidak bisa diikuti.” (Ibid)

Imam Yahya bin Ma’in dan Imam Abu Hatim mengatakan: Laa A’rifuhu – saya tidak mengenalnya. (Imam Ibnu Mulqin, Al Badrul Munir, 5/749)

Imam Ibnul Qayyim mengatakan: Dalam isnadnya ada yang perlu dipertimbangkan, karena Mahdi bin Harb Al ‘Abdi bukan orang yang dikenal. (Zaadul Ma’ad, 1/61), begitu pula dikatakan majhul oleh Imam Asy Syaukani. (Nailul Authar, 4/239)

Maka, pandangan yang lebih kuat adalah tidak ada yang shahih larangan berpuasa pada hari  ‘Arafah bagi yang sedang di ‘Arafah. Oleh karenanya Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: Tidak ada yang shahih bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarang berpuasa pada hari ini ( 9 Dzhulhijjah). (Ta’liq Musnad Ahmad, No. 8031)

Tetapi, di sisi lain juga tidak ada yang shahih bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berpuasa ketika wuquf di ‘Arafah.‎
 
Rasulullah Wukuf dan Tidak Berpuasa Arafah
Diriwayatkan secara shahih:

عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ أَنَّهُمْ شَكُّوا فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَرَفَةَ فَبَعَثَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحٍ مِنْ لَبَنٍ فَشَرِبَهُ

 Dari Ummu Al Fadhl, bahwa mereka ragu tentang berpuasanya Nabi Shalllallahu ‘Alaihi wa Sallam pada hari ‘Arafah, lalu dikirimkan kepadanya segelas susu, lalu dia meminumnya. (HR. Bukhari No. 5636)

Oleh karenanya Imam Al ‘Uqaili mengatakan: Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan sanad-sanad yang baik, bahwa Beliau belum pernah berpuasa pada hari ‘Arafah ketika berada di sana, dan tidak ada yang shahih darinya tentang larangan berpuasa pada hari itu. (Adh Dhuafa, No. 372)

Para sahabat yang utama pun juga tidak pernah berpuasa ketika mereka di ‘Arafah. Disebutkan oleh Nafi’ –pelayan Ibnu Umar, sebagai berikut: Dari Nafi’, dia berkata: Ibnu Umar ditanya tentang berpuasa hari ‘Arafah ketika di ‘Arafah, dia menjawab: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak berpuasa, begitu pula Abu Bakar, Umar, dan Utsman.” (HR. An Nasa’i, As Sunan Al Kubra No. 2825)

Maka, larangan berpuasa pada hari ‘Arafah bagi yang di ‘Arafah tidaklah pasti, di sisi lain, Nabi pun tidak pernah berpuasa  ketika sedang di ‘Arafah, begitu pula para sahabat setelahnya. Oleh karena itu, kemakruhan berpuasa tanggal 9 Dzulhijjah bagi yang sedang wuquf telah diperselisihkan para imam kaum muslimin. Sebagian memakruhkan dan pula ada yang membolehkan.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau tidak pernah melakukannya, tetapi juga tidak melarang puasa ‘Arafah bagi yang wuquf di ‘Arafah.

 سئل بن عمر عن صوم يوم عرفة فقال حججت مع النبي صلى الله عليه و سلم فلم يصمه وحججت مع أبي بكر فلم يصمه وحججت مع عمر فلم يصمه وحججت مع عثمان فلم يصمه وأنا لا أصومه ولا أمر به ولا أنهى عنه

Ibnu Umar ditanya tentang berpuasa pada hari ‘Arafah, beliau menjawab: “Saya haji bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Beliau  tidak berpuasa, saya haji bersama Abu Bakar, juga tidak berpuasa, saya haji bersama Umar, juga tidak berpuasa, saya haji bersama ‘Utsman dia juga tidak berpuasa, dan saya tidak berpuasa juga, saya tidak memerintahkan dan tidak melarangnya.”(Sunan Ad Darimi No. 1765. Syaikh Husein Salim Asad berkata: isnaduhu shahih.)

Kalangan Hanafiyah mengatakan, boleh saja berpuasa ‘Arafah bagi jamaah haji yang sedang wuquf jika itu tidak membuatnya lemah. (Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu,  3/25)

Syaikh Wahbah Az Zuhaili menyebutkan bahwa tidak dianjurkan mereka berpuasa, walaupun kuat fisiknya, tujuannya agar mereka kuat berdoa: Ada pun para haji, tidaklah disunahkan berpuasa pada hari ‘Arafah, tetapi disunahkan untuk berbuka walau pun dia orang yang kuat, agar dia kuat untuk banyak berdoa, dan untuk mengikuti sunah. (Ibid, 3/24) Jadi, menurutnya “tidak disunahkan”, dan tidak disunahkan bukan bermakna tidak boleh.

Keutamaan Puasa Tanggal 1-9 Dzulhijjah

Disebutkan Dalam Kitab Durrotunnasihin Tentang Keutamaan Puasa Dzulhijjah

في اول يوم من ذي الحجة غفر الله فيه لآدم ومن صام هذا اليوم غفر الله له كل ذنب
و في اليوم الثاني استجاب الله لسيدنا يوسف, ومن صام هذا اليوم كمن عبد الله سنة و لم يعص الله طرفة عين
و في اليوم الثالث استجاب الله دعاء زكريا , ومن صام هذا اليوم استجاب الله لدعاه
و في اليوم الرابع ولد سيدنا عيسى عليه السلام, ومن صام هذا اليوم نفى الله عنه الياس و الفقر و في يوم القيامة يحشر مع السفرة الكرام
و في اليوم الخامس ولد سيدنا موسى عليه السلام, و من صام هذا اليوم برئ من النفاق و عذاب القبر
و في اليوم السادس فتح الله لسيدنا محمد عليه الصلاة و السلام بالخير,و من صامه ينظر الله اليه بالرحمة و لا يعذبه أبدا
و في اليوم السابع تغلق فيه أبواب جهنم, و من صامه أغلق الله له ثلاثون بابا من العسر و فتح الله له ثلا ثين بابا من الخير
و في اليوم الثامن المسمى بيوم التروية و من صامه أعطي له من الأجر ما لا يعلمه إلا الله
و في اليوم التاسع و هو يوم عرفة من صامه يغفر الله له سنة من قبل و سنة من بعد
و في اليوم العاشر يكون عيد الأضحى و فيه قربان و ذبح ذبيحة و عند أول قطرة من دماء الذبيحة يغفر الله ذنوبه وذنوب أولاده. ومن أطعم فيه مؤمنا و تصدق بصدقة بعثه الله يوم القيامة آمنا و يكون ميزانه أثقل من جبل أحد

“Di hari pertama bulan Dzulhijjah Allah mengampuni Adam dan barangsiapa yang berpuasa pada hari tersebut Allah akan mengampuni seluruh dosanya”

“Di hari kedua Allah mengabulkan doa sayyidina Yusuf, dan barangsiapa yang berpuasa di hari itu pahalanya seperti beribadah kepada Allah setahun penuh dan tidak bermaksiat walau sekejap mata”

“Di hari ketiga Allah mengabulkan doa Zakaria, dan barangsiapa yang berpuasa pada hari itu Allah akan mengabulkan doanya”

“Di hari keempat lahir sayyidina ‘Isa ‘alaihissalam, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan menghilangkan kefakiran darinya dan pada hari kiamat ia akan dikumpulkan bersama As Safarat Al Kiram (malaikat yang mulia –pent)

“Di hari kelima lahirlah Musa ‘alaihissalam, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu ia akan dibebaskan dari sifat munafik dan adzab kubur”

“Di hari keenam Allah membukakan sayyidina Muhammad ‘alaihis sholatu wassalam kebaikan, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan melihatnya dengan rahmat-Nya dan ia tidak akan diadzab”

“Di hari ketujuh ditutup pintu-pintu jahannam, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan tutup baginya 30 pintu kesulitan dan Allah bukakan baginya 30 pintu kebaikan”

“Di hari kedelapan yang disebut juga dengan hari Tarwiyah, barangsiapa berpuasa pada hari itu akan diberi balasan yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Allah”

“Di hari kesembilan yaitu hari Arafah barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan mengampuni dosanya selama setahun sebelumnya, dan setahun sesudahnya”

“Di hari kesepuluh yaitu Idul Adha, di dalamnya terdapat qurban, penyembelihan, dan pengaliran darah (hewan qurban), Allah akan mengampuni dosa anak-anaknya (yaitu orang yang berpuasa tadi –pent). Barangsiapa yang member makan orang mukmin dan bershadaqah Allah akan mengutus baginya pada hari kiamat, keamanan dan timbangannya lebih berat dari Gunung Uhud”

Takhtimah
Di antara alasan kenapa dianjurkan berpuasa karena amalan tersebut ada kekhususan di mana Allah melipatgandakan pahalanya, amalan tersebut hanya untuk Allah dan Dia yang akan membalasnya. Keutamaan tersebut disebutkan dalam hadits berikut,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku...” (HR. Muslim no. 1151)
Dalam riwayat lain dikatakan,
قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى
“Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”.” (HR. Bukhari no. 1904)
Dalil yang mendukung anjuran puasa di 10 hari pertama Dzulhijjah adalah hadits dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْر.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya (hijriyah), …” (HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah ‘Abdullah bin ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma-. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. (Lihat Lathoif Al Ma’arif, hal. 461)

Penjelasan Sunnah-nya Puasa Syawal

 

Kesempurnaan amal tergantung dari dua perkara, pertama adalah keimanan seseorang. Semakin tinggi keimanan seseorang, hal itu mempengaruhi kualitas ibadahnya. Dan yang kedua adalah keilmuannya. Tentu berbeda kualitas ibadah seorang hamba yang hanya melakukan suatu amalan ibadah atas dasar ikut-ikutan, dengan amalan seorang hamba yang mengetahui dalil perintah, mengetahui keilmuan akan dasar mengerjakan amalan tersebut.

Puasa enam hari di bulan syawal merupakan salah satu ibadah yang disunnahkan dalam syariat Islam, dimana dia merupakan pelengkap yang mengikuti puasa ramadhan. Dan puasa ini juga sebagai pembuktian apakah kita mendapatkan jenjang ketakwaan yang mejadi target dari puasa ramadhan ataukah tidak. Dimana di antara ciri wali-wali Allah -yang tidak lain adalah orang-orang yang bertakwa- adalah mengerjakan semua amalan yang sunnah setelah mengerjakan semua amalan yang wajib. Karenanya hendaknya seorang muslim mengamalkan puasa sunnah ini setelah dia mengamalkan puasa wajib ramadhan.

Dalil tentang Puasa Syawal

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَعَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ جَمِيعًا عَنْ إِسْمَعِيلَ قَالَ ابْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ أَخْبَرَنِي سَعْدُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ ثَابِتِ بْنِ الْحَارِثِ الْخَزْرَجِيِّ عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ سَعِيدٍ أَخُو يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ أَخْبَرَنَا عُمَرُ بْنُ ثَابِتٍ أَخْبَرَنَا أَبُو أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ بِمِثْلِهِ و حَدَّثَنَاه أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ سَعْدِ بْنِ سَعِيدٍ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ ثَابِتٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا أَيُّوبَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ  . رواه مسلم  ‎
“Dari Abi Ayub al-Ansari radiallahu ‘anhu: Bahawa Rasulullah bersabda: Barangsiapa berpuasa ramadan kemudian diikuti puasa enam hari di bulan Syawal, pahalanya seperti puasa setahun”. (H/R Muslim (1164). Ibn Majah (1612/1716). Imam Ahmad dalam musnadnya (2/204-5/417/419). Abu Daud (2433). Tirmizi (759). Nasaii dalam As-Sunan al-Kubra (2/2862). At-Thayalisi dalam Al-Musnad (hlm. 81). Abdurrazzak dalam Al-Musannaf (7918, 7919, 7921). Ibnu Syaibah dalam Al-Musannaf (3/97). At-Tahawi dalam Musykil al-Atsar (2238, 2340,2341,2345). Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra (4/292), H/R Ahmad 417. Muslim 822 (Kitabus Siam) no. 1164. Abu Daud. 2/812-813. (Kitabus Siam). No 2433. At-Turmizi . (Bab As-Siam) no 756 Turmizi berkata: Hadis hasan sahih. Ibnu Majah 3/206-207 (Kitabus Siam) no 1716)

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ اِبْرَاهِيْمَ : اَنَّ اُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ كَانَ يَصُوْمُ اَشْهُرَ الْحُرُمِ ، فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صُمْ شَوَّالاً. فَتَرَكَ اَشْهُرَ الْحُرُمِ ثُمَّ لَمْ يَزَلْ يَصُوْمُ شَوَّالاًحَتَّى مَاتَ.

“Dari Muhammad bin Ibrahim bahawa Usamah bin Zaid berpuasa pada bulan-bulan mulia, lalu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda kepadanya: Puasalah pada bulan Syawal. Lalu dia meninggalkan puasa bulan-bulan mulia dan terus berpuasa dibulan Syawal hingga dia meninggal dunia”. (Lihat: Al-Jami As-Saghir 2/99 hadis no 5037. Imam as-Syuti menyebutkan bahawa hadis ini sahih. H/R Ibnu Majah no. 1744)

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ فَذَلِكَ تَمَامُ السَنَةِ

“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadan, maka puasa sebelum itu sama dengan sepuluh bulan dan dengan puasa enam hari setelah berbuaka (berhari raya), maka itu melangkapi puasa setahun”. ((H/R Ahmad 5/280). Ibnu Majah (1715). An-Nasaai dalam As-Sunan Al-Kubra (2/2860). Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra (4/393) dan dalam Asy- Syu’bah Al-Imam 3/3736). Al-Khatib dalam Tarikh Baghdad (2/362) Ad-Darimi dalam As-Sunan (2/21). Ibnu Khuzaimah dalam Sahihnya (2115). At-Tahawi dalam Musykil Al-Atsar (2348). At-Tabrani dalam Musnad Asy- Syamiyin (903))

Pada hadits ini terdapat dalil tegas tentang dianjurkannya puasa enam hari di bulan Syawal dan pendapat inilah yang dipilih oleh madzhab Syafi’i, Ahmad dan Abu Daud serta yang sependapat dengan mereka. Sedangkan Imam Malik dan Abu Hanifah menyatakan makruh. Namun pendapat mereka ini lemah karena bertentangan dengan hadits yang tegas ini. (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56)
HUKUM PUASA 6 HARI BULAN SYAWAL

Hukumnya sunnah yakni berpahala bagi yang melakukan tapi tidak berdosa bagi yang meninggalkan. Berdasarkan hadits-hadits di atas, maka kebanyakanاulama fiqih sepakat atas sunnahnya berpuasa selama 6 hari pada bulan Syawal setelah sebulan penuh berpuasa Ramadan.

Hanya Imam Malik yang menyatakan bahwa puasa bulan Syawal hukumnya makruh dengan alasan karena takut umat Islam berkeyakinan puasa Syawal sebagai bagian dari puasa Ramadan.

Menurut Imam An-Nanawi rahimahullah: “Para ulama berkata: Bahawa puasa enam setara dengan puasa setahun, kerana satu kebaikan diberi ganjaran sepuluh kali ganda. Puasa sebulan Ramadan sama dengan puasa sepuluh bulan, puasa enam pula sama dengan berpuasa dua bulan”. (Lihat: Syarah Muslim 3/238)

Menurut Ibn Qudamah rahimahullah: “Puasa enam hari di bulan Syawal disunnahkan sebagaimana pendapat kebanyakan para ulama, iaitu berdasarkan riwayat dari Ka’ab al-Ahbar, Asy-Syafie dan Maimun bin Mihran serta inilah pendapat Imam Asy-Syafie rahimahullah dan Ahmad”. (Lihat: Al-Baihaqi dalam Ma’rifat As-Sunan Wal-Atsar (3/450). An-Nawawi dalam Syarah Muslim (3/238). Abdullah bin Ahmad dalam Masail Ahmad hlm 93. Syarah ‘Umdatul Ahkam (2/556)). (Lihat: Al-Mugni (4/438))
Perbezaan Pendapat Tentang Puasa Enam Syawal

Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad tidak menganggap sunnah puasa enam hari di bulan Syawal. Namun ini diingkari (dibantah) oleh al-Hafiz Asy-Syaukani, beliau mengatakan:

“Mereka berhujjah bahawa mungkin (puasa enam hari Syawal) akan dianggap sebagai puasa yang wajib. Ini adalah pendapat yang batil yang tidak pantas dikeluarkan oleh orang yang memiliki akal fikiran, apalagi seorang ulama seperti mereka dalam menentang sunnah yang sahih dan jelas. Malah pendapat seperti ini akan berlaku pula pada semua puasa yang dianjurkan oleh agama dan tidak seorangpun yang mengatakan demikian. Sementara Imam Malik berhujjah dalam memakruhkannya sebagaimana yang beliau katakan di dalam Al-Muwata’: Bahawa beliau tidak pernah melihat seorangpun dari kalangan ulama yang mengerjakan puasa enam hari Syawal. Sedangkan perlu dijelaskan bahawa jika ia tidak melihat seseorang melakukan sesuatu sunnah, maka tidak bererti pendangannya boleh menolak sunnah”. (Lihat: Nailul Autar (4/282))

Pendapat Yang Rajih (Lebih Sahih Dan Kuat)

Namun pendapat yang lebih rajih ialah hadis Aisyah radiallahu ‘anha bahawa beliau mengqada’ puasanya di bulan Syaban dan Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa-sallam membenarkannya:

ِكَانَ يَكُوْنُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيْعُ أَنْ أَقْضِيَهُ اِلاَّ فِى شَعْبَانَ

“Dahulu aku mempunyai hutang puasa Ramadan, maka aku tidak mampu mengqada’nya kecuali pada bulan Sya’ban”. (H/R Bukhari l950. Muslim 1146)

Maka dibolehkan berpuasa sunnah sebelum mengqada’ puasa wajib yang tertingggal. Kewajipan mengqada’ puasa tidak dibatasi oleh waktu-waktu tertentu. (Lihat: Bada’ As-Sanai’ 2/104. (rujuk pendapat al-kasani))

Menurut Imam An-Nawawi: Mazhab Maliki, Abu Hanifah, As-Syafie, Ahmad dan Jumhur Ulama Salaf dan Khalaf, bahawa mengqada’ puasa Ramadan bagi orang yang meninggalkannya kerana uzur seperti disebabkan haid atau dalam musafir, maka tidak disyaratkan mengqada’nya dengan segera setelah mampu melakukannya, (Lihat: Syarah Muslim. 3/213. An-Nawawi) kerana keumuman Firman Allah Azza wa-Jalla:‎

فَعِدَّةٌ مِنْ أيَّامٍ أُخَرُ يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“berpuasalah dihari-hari yang lain, Allah menghendaki kemudahan bagi kamu dan tidak menghendaki kesusasah bagi kamu”. (al-Baqarah 2: 185)

Menurut Imam Qurtubi rahimahullah: “Ayat ini menunjukkan wajibnya mengqada’ puasa tanpa ditentukan harinya, kerana lafaz ayat tersebut berlaku sepanjang masa tanpa ditentukan pada masa-masa tertantu”. (Lihat: al-Jami Li Ahkam Al-Quran 2/282. al-Qurtubi)

Syeikul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah setelah mengingkari pendapat Imam Ahmad rahimahullah yang memakruhkan puasa enam hari Syawal, maka Ibn Taimiyah berkata: “Apabila dilakukan di akhir Ramadan, maka antara keduanya telah terpisah oleh Hari Raya. Dan larangan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam berkenaan puasa di Hari Raya menunjukkan bahawa larangan tersebut khusus jika dikerjakan pada hari itu sahaja, sedangkan di hari-hari setelahnya adalah hari yang dibolehkan dan diizinkan untuk berpuasa. Jelasnya jika baginda mahu melarang dari puasa enam hari Syawal, pasti baginda akan menegahnya sebagaimana baginda menegah berpuasa diawal bulan Ramadan (Lihat: Syarah Al-Umdah (2/559)):
لاَ تُقَدِّمُوْا رَمَضَانَ بِصَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ.

Janganlah kamu mendahului puasa Ramadan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya”. (Rujuk: Sahih Bukhari hadis no: 1914, Sahih Muslim, hadis no: 2514)

Berikut beberapa permasalahan yang sering dipertanyakan dalam masalah ini:

1. Apakah puasa syawal harus dimulai pada tanggal 2 syawal?

Jawab: Tidak harus, puasa syawal bisa dimulai kapan saja selama dia bisa menyelesaikan 6 hari puasa itu di bulan syawal. Walaupun tidak diragukan bahwa menyegerakan pengerjaannya itu lebih utama berdasarkan keumuman dalil untuk berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan dan dalil yang menganjurkan untuk tidak menunda amalan saleh.

2. Apakah dipersyaratkan keenam hari puasa syawal ini harus dikerjakan secara berturut-turut?

Jawab: Hal itu tidak dipersyaratkan bahkan boleh mengerjakannya secara terpisah-pisah selama masih dalam bulan syawal. Walaupun sekali lagi, mengerjakannya secara berurut itu lebih utama berdasarkan keumuman dalil yang kami isyaratkan di atas.
Tidak disyaratkan dikerjakan pada minggu pertama Syawal, kedua atau ketiga atau secara beruturut. Boleh dikerjakan pada Hari Raya kedua, berturut-turut atau diselang seli kerana keumuman sabda Rasulullah:
وَأَتْبَعَهُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالَ (وَفِى رِوَايَةٍ) سِتًّا مِنْ شَوَّالَ.

“Dan ikutkanlah/iringkanlah dengan puasa enam hari di bulan Syawal. (Diriwayat yang lain) Enam hari di bulan Syawal”.

Hadis di atas ini menunjukkan bahawa bulan Syawal keseluruhannya waktu untuk berpuasa enam, diberi kelongaran sehingga tidak dikhususkan sebahagian waktu dengan waktu yang lain, yang pesti ia dipisahkan oleh puasa Ramadan dengan Hari Raya pertama (1hb Syawal), kerana tidak dibolehkan berpuasa pada awal Hari Raya.

Ibn Taimiyah menjelaskan: Telah diketahui bahawa puasa Syawal tidak bersambung dengan puasa Ramadan, jika melakukannya di awal bulan lebih afdal kerana lebih hampir dengan Ramadan, maka melakukan di akhir bulan Syawal juga afdal kerana mengakhirinya menghampirkan puasa Ramadan dengan puasa lainnya, atau menjadikan Hari Raya kedua seperti yang dilakukan sebahagian orang, maka keduanya ada kebaikannya sama ada di awal atau di akhir Syawal.

Menurut Imam An-Nawawi rahimahullah: “Pendapat dari kalangan ulama Syafiyah puasa enam hari sunnah dilakukan secara berterusan/berurutan, kerana menurut Imam an-Nawawi: Para sahabat kami berkata: Disunnahkan puasa enam bulan Syawal berdasarkan hadis sahih. Mereka juga berkata: Disunahkan berpuasa berurutan (terus menerus enam hari tanpa diputuskan), tidak ditunda sehingga akhir bulan, namun sebaliknya juga dibolehkan, orang yang melakukan masih mengikut sunnah yang sesuai dengan keumuman makna hadis dan kemutlakannya. Dan ini tiada perbizaan dikalangan mazhab kami, sebagaimana juga pendapat Ahmad dan Abu Daud”. (Lihat: Al-Majmu’ (6/379))

Menurut Imam Ahmad, dijelaskan oleh anaknya Abdullah: “Nabi Muhammad bersabda: Enam hari dari bulan Syawal, maka apabila seseorang berpuasa enam hari tersebut, tidak perlu dikhuatari sama ada dilakukan berselang seli atau serentak (berurutan)”. (Lihat: Masail Abdullah hlm. 193)

3. Apakah puasa enam hari dibulan syawal boleh dikerjakan sebelum mengerjakan puasa qadha` -bagi yang mempunyai tunggakan di bulan ramadhan-?

Jawab: Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini, hanya saja lahiriah hadits Abu Ayyub di atas menunjukkan bahwa puasa syawal hanya disunnahkan bagi orang yang sudah selesai mengerjakan puasa ramadhan yang jumlahnya 29 atau30 hari. Sementara orang yang mempunyai qadha tentunya puasanya kurang dari 29 hari maka dia diharuskan menyelesaikan dulu ramadhannya baru kemudian mengerjakan puasa syawal.

Dari sudut tinjauan lain, puasa qadha` adalah wajib sementara puasa syawal adalah sunnah, dan tentunya ibadah wajib lebih didahulukan daripada ibadah yang sunnah.

Jika ada yang bertanya: Bagaimana dengan ucapan Aisyah, “Saya pernah mempunyai kewajiban puasa ramadhan, lalu saya tidak bisa untuk mengqadha`nya kecuali sampai datangnya sya’ban.” Bukankah ini menunjukkan Aisyah -radhiallahu anha- berpuasa syawal sebelum mengqadha`, karena qadha’nya dikerjakan di sya’ban tahun depannya?

Jawab: Dalam ucapannya tidak ada sama sekali keterangan yang menunjukkan kalau beliau mengerjakan puasa syawal, maka ucapan beliau tidak boleh ditafsirkan seperti itu. Karenanya sebagian ulama mengatakan bahwa Aisyah -radhiallahu anha- tidak mengerjakan puasa-puasa sunnah karena beliau sibuk mengerjakan ibadah yang jauh lebih utama dibandingkan puasa-puasa sunnah tersebut, yaitu kesibukan beliau melayani Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-. Dan tidak diragukan bolehnya meninggalkan sebuah amalan sunnah untuk mengerjakan amalan sunnah lain yang lebih besar pahalanya dibandingkan amalan sunnah yang pertama.‎

مَنْ تَطَوَّعَ وَعَلَيْهِ مِنْ رَمَضَانَ شَيْءٌ لَمْ يَقْضِهِ فَاِنَّهُ لاَ يُتَقَبَّلُ مِنْهُ حَتَّى يَصُوْمَهُ

“Barangsiapa yang mengerjakan puasa sunnah sedangkan ia mempunyai hutang (qada’) Ramadan yang belum ditunaikan, maka puasa sunnahnya tidak diterima sampai ia membayarnya (mengqada’nya). (Lihat: Al-Mugni. 4/401)

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ اتْبَعَهُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالَ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ.

“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadan, lalu ia mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seakan-akan ia telah berpuasa setahun”.

Oleh kerana hadis ini menetapkan: (Barangsiapa yang berpuasa Ramadan) adalah jelas. Sebahagian ahli ilmu ada yang berbeza pendapat tentang sahnya melakukan puasa sunnah sebelum mangqada’ puasa wajib. Namun masalah ini tidak berlaku khasnya kepada perkara ini, kerana hadis ini menyatakan dengan jelas tidak ada puasa enam hari kecuali setelah mengqada’ puasa Ramadan”. (Lihat: Al-Mugni. 4/401)‎

4. Bagi yang mengerjakan mulai berpuasa syawal pada tanggal 2 syawal dan dia kerjakan berturut-turut. Apakah pada tanggal 8 syawal ada lagi perayaan, yang dinamakan oleh sebagian orang dengan lebaran ketupat?

Jawab: Tidak ada hari raya dalam Islam kecuali dua hari id dan hari jumat, karenanya membuat hari raya baru yang tidak ada tuntunannya dalam syariat adalah perbuatan yang bid’ah yang bertentangan dengan agama. Lebaran Ketupat hanya lah sebuah tradisi dan bukan hari raya.

Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا)

“Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal].” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Orang yang melakukan satu kebaikan akan mendapatkan sepuluh kebaikan yang semisal. Puasa ramadhan adalah selama sebulan berarti akan semisal dengan puasa 10 bulan. Puasa syawal adalah enam hari berarti akan semisal dengan 60 hari yang sama dengan 2 bulan. Oleh karena itu, seseorang yang berpuasa ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan syawal akan mendapatkan puasa seperti setahun penuh. (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56 dan Syarh Riyadhus Sholihin, 3/465). Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat ini bagi umat Islam.‎

Demikian beberapa masalah seputar puasa syawal yang bisa kami bahas pada kesempatan ini.

Penjelasan Tentang Puasa Hari Putih (Ayyamul Baidh)

 

Sungguh, puasa adalah amalan yang sangat utama. Di antara ganjaran puasa disebutkan dalam hadits berikut,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi” (HR. Muslim no. 1151).
Adapun puasa sunnah adalah amalan yang dapat melengkapi kekurangan amalan wajib. Selain itu pula puasa sunnah dapat meningkatkan derajat seseorang menjadi wali Allah yang terdepan (as saabiqun al muqorrobun).
Lewat amalan sunnah inilah seseorang akan mudah mendapatkan cinta Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi,
وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ
“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya” (HR. Bukhari no. 2506).‎‎

Puasa mutih atau putih adalah puasa yang dikerjakan pada tanggal 13,14,15 bulan qomariah yang biasa disebut Ayyamul Bidh atau Puasa Bulan Purnama karena pada tanggal itu bulan tampak putih bersinar.. dan pada tiap tiap bulan dianjurkan puasa sunah pada tanggal tersebut yaitu 13,14,15 bagi siapa yang ingin berpuasa.. sebagaimana yang Rasulullah Saw Sabdakan:

عَنْ مُوْسَى بْنِ طَلْحَةَ قَالَ: سَمِعْتُ اَبَا ذَرّ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: يَا اَبَا ذَرّ، اِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ اَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَ اَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ. الترمذى 2: 130 ،رقم: 758 ،وحسنه

Dari Musa bin Thalhah , ia berkata : Saya mendengar Abu Dzarr berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Hai Abu Dzarr, kalau engkau mau puasa tiga hari dari satu bulan, maka puasalah pada hari yang ke-13, 14 dan 15". [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 130 , no. 758 , dan ia menghasankannya] 

Namun demikian puasa tiga hari pada tiap tiap bulan itu tidak harus dikerjakan pada tanggal 13,14,15 karena Rasulullah SAW sendiri berpuasa tidak peduli tanggalnya sebagaimana riwayat berikut

عَنْ مُعَاذَةَ اْلعَدَوِيَّةِ اَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيّ ص: اَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَصُوْمُ مِنْ كُلّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ اَيَّامٍ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. فَقُلْتُ لَهَا: مِنْ اَيّ اَيَّامِ الشَّهْرِ كَانَ يَصُوْمُ؟ قَالَتْ: لَمْ يَكُنْ يُبَالِى مِنْ أَيّ اَيَّامِ الشَّهْرِ يَصُوْمُ. مسلم 2: 818

Dari Muadzah Al-Adawiyah bahwasanya ia bertanya kepada Aisyah istri Nabi SAW, Apakah Rasulullah SAW berpuasa tiga hari pada setiap bulan ?. Aisyah menjawab, "Ya", Lalu aku bertanya lagi kepadanya, Pada tanggal berapa beliau berpuasa ?. Aisyah menjawab, Beliau tidak peduli tanggal berapa saja berpuasa pada bulan tersebut. [HR. Muslim juz 2, hal. 818 ]

 أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ أَوْصَانِى خَلِيْلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوْتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

Dari Abu Hurairah ra berkata : Kekasihku (Rasulullah) memberikan wasiat kepadaku agar melakukan tiga perkara, aku tidak akan meninggalkannya selama aku hidup, yaitu puasa tiga hari pada tiap bulan, shalat dhuha dan aku tidak akan tidur kecuali telah melakukan shalat witir. (H. R. Bukhari no. 1178, Muslim no. 1705 dan lainnya)‎

عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ لِى النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  إِنَّكَ لَتَصُوْمُ الدَّهْرَ ، وَتَقُوْمُ اللَّيْلَ. فَقُلْتُ نَعَمْ . قَالَ إِنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ هَجَمَتْ لَهُ الْعَيْنُ وَنَفِهَتْ لَهُ النَّفْسُ، لاَ صَامَ مَنْ صَامَ الدَّهْرَ ، صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ
Abdullah bin Amru bin Ash ra berkata,, Nabi saw berkata berkata kepadaku : Apakah benar kamu berpuasa dahr (sepanjang masa) dan shalat sepanjang malam? Aku jawab; Benar. Beliau berkata: Jika kamu kerjakan itu nanti matamu akan mengantuk dan fisikmu menjadi lemah. Tidak ada nilai puasa bagi siapa yang mengerjakan puasa sepanjang masa. Puasa tiga hari (dalam sebulan) sama nilainya dengan puasa sepanjang jaman. (H. R. Bukhari no. 1979, Nasa'i no. 2398 dan lainnya)‎

مُعَاذَةُ الْعَدَوِيَّةُ أَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ قَالَتْ نَعَمْ. فَقُلْتُ لَهَا مِنْ أَىِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ كَانَ يَصُوْمُ قَالَتْ لَمْ يَكُنْ يُبَالِى مِنْ أَىِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ يَصُوْمُ.
Mu'adzah Al-Adawiyyah, sesungguhnya dia bertanya kepada Aisyah istri Nabi saw: Apakah Rasulullah saw berpuasa tiga hari pada tiap bulan? Aisyah menjawab : Ya, Aku berkata : Pada bulan apakah beliau berpuasa? Aisyah menjawab : Beliau tidak memperdulikan dari bulan apakah beliau berpuasa. (H. R. Muslim no. 2801 dan Abu Daud 2455)

أَبَا ذَرٍّ يَقُوْلُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ
Abu Dzar berkata, Rasulullah saw bersabda : Wahai Abu Dzar, bila kamu berpuasa tiga hari pada tiap bulan, maka berpuasalah pada tanggal tiga belas, empat belas dan lima belas. (H. R. Tirmidzi no. 766 dan Ibnu Khuzaimah no. 1951)‎

وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا بِصِيَامِ أَيَّامِ الْبِيْضِ الثَّلاَثَةِ وَيَقُوْلُ هُنَّ صِيَامُ الدَّهْرِ
Dan sebagian sahabat Rasulullah saw berkata : Adalah Rasulullah saw memerintahkan kami untuk berpuasa pada hari putih (hari di mana bulan menyinari bumi dengan terang benderang) selama tiga hari, beliau bersabda : Puasa tiga hari tiap bulan itu sama dengan puasa setahun. (H. R. Ahmad no. 20857 dan Baihaqi no. 8704).‎

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيْضِ فِي حَضَرٍ وَلَا سَفَرٍ
Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Adalah Rasulullah saw tidak pernah berbuka pada hari putih, baik di waktu mukim atau bepergian. (H. R. Nasa'i no. 2344)

Untuk berpuasa tiga hari setiap bulan ini, harinya bebas. Tapi yang paling afdhal adalah malam-malam purnama. Tepatnya tanggal 13, 14, dan 15. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:
والأفضل صومُها في الأيام البيض وهي الثالثَ عشر والرابعَ عشر والخامسَ عشر، وقِيل : الثاني عشر، والثالِثَ عشر، والرابعَ عشر، والصحيح المشهور هُوَ الأول.
“Yang paling utama untuk puasa tiga hari adalah berpuasa pada ayyamul biidh (hari-hari putih). Yaitu tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas. Ada pula yang mengatakan: tanggal 12, 13, dan 14, tapi yang benar adalah pendapat pertama.” (lihat bab: 230 dari kitab Riyadh Ash-Shalihin)

Berdasarkan hadits 

Dan disunnahkan melaksanakannya pada Ayyamul Bidh (hari-hari putih), yaitu tanggal 13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah. Diriwayatkan dari Abi Dzarr Radhiyallahu 'Anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadaku:

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنْ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

"Wahai Abu Dzarr, jika engkau ingin berpuasa tiga hari dari salah satu bulan, maka berpuasalah pada hari ketiga belas, empat belas, dan lima belas." (HR. At Tirmidzi dan al-Nasai. Hadits ini dihassankan oleh al-Tirmidzi dan disetujui oleh Al-Albani dalam al-Irwa' no. 947)‎

Dari Jabir bin Abdillah, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda;

صِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صِيَامُ الدَّهْرِ وَأَيَّامُ الْبِيضِ صَبِيحَةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ
"Puasa tiga hari setiap bulan adalah puasa dahr (puasa setahun). Dan puasa ayyamul bidh (hari-hari putih) adalah hari ketiga belas, empat belas, dan lima belas." (HR. An Nasai dan dishahihkan al Albani)‎

Selain itu puasa 3 hari tiap bulan memiliki keutamaan yang besar sebagaimana yang Rasulullah Saw Sabdakan:

عَنْ اَبِى ذَرّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ صَامَ مِنْ كُلّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ اَيَّامٍ فَذلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ. فَاَنْزَلَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالىَ تَصْدِيْقَ ذلِكَ فِى كِتَابِهِ. مَنْ جَاءَ بِاْلحَسَنَةِ فَلَه عَشْرُ اَمْثَالِهَا. اَلْيَوْمُ بِعَشْرَةٍ. الترمذى 2: 131 ،رقم: 759 ، وقال هذا حديث حسن

Dari Abu Dzarr, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda,  Barangsiapa berpuasa tiga hari setiap bulan, maka yang demikian itu sama dengan puasa sepanjang masa. Kemudian Allah Tabaaraka wa Ta`aalaa menurunkan ayat yang membenarkan hal itu dalam kitab-Nya. (Barangsiapa beramal baik, maka baginya pahala sepuluh kali lipat) [Al-An`aam : 160 ]. Puasa satu hari sama dengan sepuluh hari (pahalanya). [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 131 , no. 759 , dan ia berkata : Ini hadits hasan] 

Penjelasan Tentang Puasa Senin Kamis

 

Puasa adalah amalan yang sangat utama. Dengan puasa seseorang akan terlepas dari berbagai godaan syahwat di dunia dan terlepas dari siksa neraka di akhirat. Puasa pun ada yang diwajibkan dan ada yang disunnahkan. Setelah kita menunaikan yang wajib, maka alangkah bagusnya kita bisa menyempurnakannya dengan amalan yang sunnah. Ketahuilah bahwa puasa sunnah nantinya akan  menambal kekurangan yang ada pada puasa wajib. Oleh karena itu, amalan sunnah sudah sepantasnya tidak diremehkan.
Keutamaan Orang yang Berpuasa
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”” (HR. Muslim no. 1151)
Dalam riwayat lain dikatakan,
قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى
“Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”.” (HR. Bukhari no. 1904)
Dalam riwayat Ahmad dikatakan,
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ الْعَمَلِ كَفَّارَةٌ إِلاَّ الصَّوْمَ وَالصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ
“Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan  puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya”.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)
Di antara ganjaran berpuasa sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.
Pahala yang tak terhingga bagi orang yang berpuasa
Amalan puasa khusus untuk Allah
Sebab pahala puasa, seseorang memasuki surga
Dua kebahagiaan yang diraih orang yang berpuasa yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya.
Bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih harum daripada bau minyak kasturi.
Lakukanlah Puasa dengan Ikhlas dan Sesuai Tuntunan Nabi
Agar ibadah diterima di sisi Allah, haruslah terpenuhi dua syarat, yaitu:
Ikhlas karena Allah.‎
Mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ittiba’).
Jika salah satu syarat saja yang terpenuhi, maka amalan ibadah menjadi tertolak.

Dalil dari dua syarat di atas adalah firman Allah Ta’ala,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya“.” (QS. Al Kahfi: 110)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”, maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen). Dan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya. Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam."
Al Fudhail bin ‘Iyadh tatkala menjelaskan mengenai firman Allah,
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk [67] : 2), beliau mengatakan, “yaitu amalan yang paling ikhlas dan showab (mencocoki tuntunan Nabi ‎shallallahu ‘alaihi wa sallam).”
Lalu Al Fudhail berkata,  “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 19)

Dalil Anjuran Puasa Senin-Kamis

Dari Abu Qotadah Al Anshori radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab,
ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ
“Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.”[HR. Muslim no. 1162‎]
Al-Imam At-Tirmidziy -rahimahullah- berkata dalam Sunan-nya (no. 747),

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى ، قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ رِفَاعَةَ ، عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالخَمِيسِ ، فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ.
حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ فِي هَذَا البَابِ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ.

“Muhammad bin Yahya telah menceritakan kami, ia berkata, “Abu Ashim telah menceritakan kami dari Muhammad bin Rifa’ah dari Suhail bin Abi Sholih dari bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
“Amalan-amalan dihadapkan pada Hari Senin dan Kamis. Karena itu, aku menyukai kalau amalanku dihadapkan, sedang aku berpuasa”.
At-Tirmidziy berkata, “Hadits Abu Hurairah dalam bab ini adalah hadits hasan ghorib”.
Al-Imam Ahmad dalam Al-Musnad (no. 21781) meriwayatkan dengan sanadnya dari bekas budak Usamah bin Zaid -radhiyallahu anhu-:
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ يَعْنِي الدَّسْتُوَائِيَّ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْحَكَمِ بْنِ ثَوْبَانَ، أَنَّ مَوْلَى قُدَامَةَ بْنِ مَظْعُونٍ حَدَّثَهُ أَنَّ مَوْلَى أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، حَدَّثَهُ أَنَّ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ، كَانَ يَخْرُجُ فِي مَالٍ لَهُ بِوَادِي الْقُرَى فَيَصُومُ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسَ، فَقُلْتُ لَهُ: لِمَ تَصُومُ فِي السَّفَرِ وَقَدْ كَبِرْتَ وَرَقَقْتَ ؟ فَقَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسَ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، لِمَ تَصُومُ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسَ ؟ قَالَ: ” إِنَّ الْأَعْمَالَ تُعْرَضُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ “
“Bahwa beliau (Usamah) pernah keluar karena harta miliknya di Wadi Al-Quro. Kemudian beliau berpuasa Senin-Kamis. Aku katakan kepadanya, “Kenapa anda berpuasa di dalam safar, padahal anda telah tua dan lemah?” Beliau berkata, “Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dulu biasa berpuasa Senin-Kamis, lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, kenapa anda berpuasa Senin-Kamis?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya amalan-amalan dihadapkan pada hari Senin dan Hari Kamis”.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ath-Thoyalisiy dalam Al-Musnad (no. 632), Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thobaqot Al-Kubro (4/71), Ibnu Abi Syaibah dalamAl-Mushonnaf (3/42-43), Ad-Darimiy dalam Sunan-nya (no. 1757), An-Nasa’iy dalam Al-Kubro (2781 & 2782), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (4/293) dan dalam Fadho’il Al-Awqot (291) dari berbagai jalur dari Hisyam Ad-Dastawa’iy dengan sanad yang sama di atas.
Di dalam sanadnya ada dua rawi yang bermasalah, yaitu bekas budaknya Qudamah dan bekas budaknya Usamah. Kedua orang ini majhul. Namun hadits ini shohih li ghoirih dengan adanya syawahid(beberapa penguat) di atas dan lainnya.

Ibnu Khuzaimah berkata dalam Shohih-nya (2119) dengan membawakan sanadnya sampai kepada Usamah -radhiyallahu anhu-, beliau berkata,
حدثنا سعيد بن أبي يزيد وراق الفريابي حدثنا محمد ابن يوسف حدثني أبو بكر بن عياش عن عمر بن محمد حدثني شرحبيل بن سعد عن أسامة قال : كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يصوم الاثنين و الخميس و يقول : إن هذين اليومين تعرض فيهما الأعمال
“Dahulu Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- biasa berpuasa Senin-Kamis dan beliau bersabda, “Sesungguhnya kedua hari ini dihadapkan padanya amalan-amalan”.

Ahli Hadits Negeri Syam, Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- berkata dalam Al-Irwa’ usai membawakan hadits ini, “Syarohbil bin Sa’ad adalah Abu Sa’ad Al-Khothmiy Al-Madaniy. Pada dirinya ada kelemahan. Namun hadits ini dengan adanya tiga jalur ini, tak ragu lagi tentang ke-shohih-annya. Terlebih lagi ia memiliki syahid (penguat) dari haditsnya Abu Hurairah, yaitu hadits yang akan datang berikutnya”.

Al-Imam At-Tirmidziy berkata dalam Sunan-nya (no. 745) dengan membawakan sanadnya sampai kepada A’isyah -radhiyallahu anha-
حَدَّثَنَا أَبُو حَفْصٍ ، عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ الفَلاَّسُ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ دَاوُدَ ، عَنْ ثَوْرِ بْنِ يَزِيدَ ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ ، عَنْ رَبِيعَةَ الجُرَشِيِّ ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : ((كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالخَمِيسِ))
وَفِي البَابِ عَنْ حَفْصَةَ ، وَأَبِي قَتَادَةَ ، وَأَبِي هُرَيْرَةَ ، وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ.
حَدِيثُ عَائِشَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الوَجْهِ.
“Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- biasa menaruh pilihan berpuasa pada Hari Senin dan Kamis”.

At-Tirmidziy berkata, “Di dalam bab ini (ada hadits-hadits) dari Hafshoh, Abu Qotadah, Abu Hurairah dan Usamah. Hadits A’isyah adalah hasan ghorib dari sisi ini”.‎

Hadits ini juga diriwayatkan oleh An-Nasa’iy dalamSunan-nya (no. 2360) dan Ibnu Majah dalamSunan-nya (no. 1739) dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (7/123). Syaikh Al Albaniy -rahimahullah- mengatakan bahwa hadits ini shahih. [LihatShohihul Jami’ (no. 4897)].

Di dalam sanadnya ada seorang rawi bernamaRobi’ah bin Amr atau Robi’ah Al-Ghoz Al-Jurosyiy. Dia diperselisihkan kedudukannya sebagai sahabat.‎ Sebagian orang menyangka bahwa tak ada yang menyatakannya tsiqoh, kecuali Ibnu Hibban. Bahkan beliau di-tsiqoh-kan oleh Ad-Daruquthniy. [Lihat Al-Khulashoh (hal. 116),Tahdzib At-Tahdzib (12/38) dan Mawsu’ah Aqwal Ad-Daruquthniy (15/21) oleh As-Sayyid Abul Mu’athi An-Nuri]

Rawi yang demikian halnya derajat haditsnya tak akan turun dari derajat shohih atau hasan menuju dho’if. Anggaplah hadits ini dho’if (lemah), tapi ia kuat dengan sebab dua syahid yang berlalu di atas. Karenanya, Al-Imam Adz-Dzahabiy -rahimahullah- menyatakan hadits ini shohih dalam Siyar A’lam An-Nubala’ (13/563)
Al-Imam An-Nasa’iy -rahimahullah- berkata dalam Sunan-nya (4/203/no. 2367),
أخبرنا القاسم بن زكريا بن دينار قال حدثنا حسين عن زائدة عن عاصم عن المسيب عن حفصة قالت : كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا أخذ مضجعه جعل كفه اليمنى تحت خده الأيمن وكان يصوم الإثنين والخميس
“Al-Qosim bin Zakariyya bin Dinar telah mengabari kami, ia berkata, “Husain telah menceritakan kami dari Za’idah dari Ashim dari Al-Musayyib dari Hafshoh, ia berkata,

“Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dahulu -bila hendak tidur-, maka beliau meletakkan telapak tangan kanannya di bawah pipi kanannya. Dahulu beliau biasa berpuasa Senin-Kamis”.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (1/152/no. 9228), (3/42) & (9/76), Abd bin Humaid dalam Al-Muntakhob (1545), An-Nasa’iy dalam Al-Kubro (2676, 2787 & 10600) dan dalam Amal Al-Yawm wa Al-Lailah (no. 764), Abu Ya’la dalam Al-Musnad (no. 7037), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (no. 347), Ibnus Sunni dalam Amal Al-Yawm wa Al-Lailah (no. 730) dari jalur Husain bin Ali Al-Ju’fiy dengan sanad di atas.

Semua rawi hadits ini tak ada yang bermasalah, kecuali Al-Musayyib, walaupun ia tsiqoh, namun sebagian ulama menyatakan bahwa ia tak pernah mendengarkan suatu hadits dari seorang sahabat pun, selain Al-Baro’ bin Azib dan Abu Iyas Amir bin Abdah. Hanya saja hadits ini bisa dijadikan penguat bagi riwayat yang sebelumnya dan sebaliknya dikuatkan dengannya.
Al-Imam Ath-Thobroniy -rahimahullah- berkata dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (no. 942) dengan membawakan sanadnya sampai kepada Abu Rafi’ -radhiyallahu anhu-,
حدثنا الحسين بن إسحاق التستري ثنا يحيى الحماني ثنا مندل بن علي عن محمد بن عبيد الله بن أبي رافع عن أبيه عن جده : أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يصوم الإثنين والخميس
“Bahwa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dahulu biasa berpuasa Senin-Kamis”.

Hadits ini lemah, karena di dalamnya terdapat rawi-rawi yang lemah: Yahya Al-Hammaniy, Mindil bin Ali Al-Kufi (dho’if) dan Muhammad bin Ubaidillah. Muhammad bin Ubaidillah (dho’if). [Lihat At-Tarikh Al-Kabir (1/171) oleh Al-Bukhoriy, Al-Asami wal Kuna (5/234) oleh Abu Ahmad Al-Hakim,Majma’ Az-Zawa’id (3/255)]

Para ahli hadits telah menganggap hadits shohih dan benar datangnya dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, berdasarkan hadits-hadits ini dan amaliah para sahabat sebagaimana anda bisa lihat dalam kitab-kitab Al-Mushonnaf. Nah, diantara yang menilai hadits tentang hadits puasa Senin-Kamis adalah shohih, misalnya: Adz-Dzahabiy dalam Siyar A’lam An-Nubala’, Al-Hafizh dalam Fathul Bari(4/236), Ibnul Mulaqqin dalam Al-Badrul Munir(5/755), Al-Albaniy, Husain Salim Asad dalamTakhrij Musnad Abi Ya’laa, Abdul Qodir Al-Arna’uth dalam Takhrij Jami’ Al-Ushul, Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Al-Musnad.
Hadits-hadits yang menetapkan Puasa Senin-Kamis adalah hadits-hadits shohih dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, karena ia datang dari berbagai jalur periwayatan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya.

Hadits-hadits ini telah di-shohih-kan oleh sejumlah ulama hadits sebagaimana telah berlalu penyebutan nama-nama mereka. Yang kami sebutkan disini jumlah mereka sedikit. Tapi sebenarnya banyak yang telah menilainya shohih, entah secara gamblang, maupun tersirat.

Faedah Puasa Senin-Kamis

Puasa senin dan kamis adalah media monitoring aktivitas kesehariaan dalam sepekan. Dua hari sebagai monitor untuk tujuh hari kedepan dengan selang tengah, yaitu kamis, merupakan momentum strategis untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Beramal pada waktu utama yaitu ketika catatan amal dihadapkan di hadapan Allah.

Kemaslahatan untuk badan dikarenakan ada waktu istirahat setiap pekannya.
Puasa senin dan kamis adalah pengendali segala hawa nafsu manusia. Sebagaimana dalam adab berlaku berpuasa, maka dengan berpuasa segala tindakan dan ucapannya akan jauh dari segala bentuk kegaduhan, kebohongan dan kelicikan. Orang yang berniat secara sungguh-sungguh mencari ridha Allah SWT. dalam berpuasa, akan senang tiasa menjaga lidahnya dari segala ucapan atau perkataan kotor. Demikian juga orang yang berpuasa akan selalu menjaga perbuatan dan tindakannya dari segala bentuk kedzaliman, kecurangan, dan segala tipu muslihat.
Puasa senin dan kamis adalah motivator terbesar dalam setiap langkah kita untuk mencapai tujuan hidup. Dalam kondisi perut lapar, bukan berarti kita kehabisan energi untuk melaksanakan aktivitas. Justru sebaliknya dengan kondisi perut yang demikian semangat aktivitas semakin kreatif dan inovatif. Disamping itu, harapan akan keberhasilan dalam segala apa yang diusahakannya begitu besar. Dalam kondisi seperti ini, orang yang dalam keadaan puasa sangat antipati terhadap putus asa dan pantang menyerah. Segala keberhasilannya ia yakini sebagai limpahan kemurahan Allah SWT. terhadap dirinya, dan segala kegagalan merupakan ujian dari Allah. Atau merupakan keberhasilan yang tertunda. Dengan demikian sifat kesabaran dan tidak putus asa ini akan menyatu dalam sanubarinya.
Puasa senin dan kamis adalah pembersih hati dan penyuci jiwa dari segala noda. Peryataan Allah akan pahala bagi orang yang berpuasa tidak diragukan lagi. Bahwa puasa adalah ibadah untuk Allah dan bukan untuk diri orang yang berpuasa sendiri, serta Allah sendirilah yang akan memberikan pahala puasa orang tersebut, bukan melalui malaikat atau makhluk yang lainnya. Janji Allah tersebut, jika dicermati secara seksama mengandung harapan dan rasa optimis yang begitu tinggi. Harapan bagi orang yang berpuasa terhadap janji pahala Allah secara lansung tersebut membuat hati kian peka terhadap hal-hal yang dilarang Allah SWT. Segala perbuatannya selalu ditanyakan kepada Qur’an dan Hadits, apakah hal ini halal atau haram, boleh atau tidak, dibenci atau disukai oleh Allah SWT.. Hatinya kian tunduk dan taat pada-Nya, serta sangat takut akan siksa dan azab di akhirat nanti.
Catatan: Puasa senin kamis dilakukan hampir sama dengan puasa wajib di bulan Ramadhan. Dianjurkan untuk mengakhirkan makan sahur dan menyegerakan berbuka. Untuk masalah niat, tidak ada lafazh niat tertentu. Niat cukup dalam hati.
Amalan yang Terbaik adalah Amalan yang Bisa Dirutinkan
Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya.[HR. Muslim no. 783, Kitab shalat para musafir dan qasharnya, Bab Keutamaan amalan shalat malam yang kontinu dan amalan lainnya‎].
Dari ’Aisyah, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah. Rasul ‎shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab,
أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ
”Amalan yang rutin (kontinu), walaupun sedikit.”[HR. Muslim no. 782‎]
’Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ’Aisyah, ”Wahai Ummul Mukminin, bagaimanakah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam beramal? Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ’Aisyah menjawab,
لاَ. كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً وَأَيُّكُمْ يَسْتَطِيعُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَسْتَطِيعُ
”Tidak. Amalan beliau adalah amalan yang kontinu (rutin dilakukan). Siapa saja di antara kalian pasti mampu melakukan yang beliau shallallahu ’alaihi wa sallam lakukan.”[HR. Muslim no. 783]

Doa Nabi Sulaiman Menundukkan Hewan dan Jin

  Nabiyullah Sulaiman  'alaihissalam  (AS) merupakan Nabi dan Rasul pilihan Allah Ta'ala yang dikaruniai kerajaan yang tidak dimilik...