Jumat, 15 Oktober 2021

Penjelasan Hukum Makan Daging Keledai


Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa makanan mempunyai pengaruh yang dominant bagi diri orang yang memakannya, artinya : makanan yang halal, bersih dan baik akan membentuk jiwa yang suci dan jasmani yang sehat. Sebaliknya, makanan yang haram akan membentuk jiwa yang keji dan hewani. Oleh karena itulah, Islam memerintahkan kepada pemeluknya untuk memilih makanan yang halal serta menjauhi makanan yang haram. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ { يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ } وَقَالَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah baik, tidak menerima kecuali hal-hal yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mu’min sebagaimana yang diperintahkan kepada para rasul, Allah berfirman : “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Dan firmanNya yang lain : “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu”. Kemudian beliau mencontohkan seorang laki-laki, dia telah menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut serta berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit : “Ya Rabbi ! Ya Rabbi! Sedangkan ia memakan makanan yang haram, dan pakaiannya yang ia pakai dari harta yang haram, dan ia meminum dari minuman yang haram,dan dibesarkan dari hal-hal yang haram, bagaimana mungkin akan diterima do’anya” [Hadits Riwayat Muslim no. 1015]

Allah juga berfirman.

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

“Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk” [Al-A’raf : 157]

Makna الطَّيِّبَاتِ (at-Thoyyibaat) bisa berarti lezat/enak, tidak membahayakan, bersih atau halal. [Lihat Fathul Bari (9/518) oleh Ibnu Hajar]

Sedangkan makan الْخَبَائِثَ (al-Khabaaits) bisa berarti sesuatu yang menjijikan, berbahaya dan haram. Sesuatu yang menjijikan seperti barang-barang najis, kotoran atau hewan-hewan sejenis ulat, kumbang, jangkrik, tikus, tokek/cecak, kalajengking, ular dan sebagainya sebagaimana pendapat Abu Hanifah dan Syafi’i. [Lihat Al-Mughni (13/317) oleh Ibnu Qudamah]. Sesuatu yang membahayakan seperti racun, narkoba dengan aneka jenisnya, rokok dan sebagainya. Adapun makanan haram seperti babi, bangkai dan sebagainya.

KAIDAH PENTING TENTANG MAKANAN
Sebelum melangkah lebih lanjut, perlu kita tegaskan terlebih dahulu bahwa asal hukum segala jenis makanan baik dari hewan, tumbuhan, laut maupun daratan adalah halal. Allah berfirman.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi” [Al-Baqarah : 168]

Tidak boleh bagi seorang untuk mengharamkan suatu makanan kecuali berlandaskan dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang shahih. Apabila seorang mengharamkan tanpa dalil, maka dia telah membuat kedustaan kepada Allah, Rabb semesta alam. FirmanNya.

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan lebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung” [An-Nahl : 116]

MAKANAN HARAM
Karena asal hukum makanan adalah halal, maka Allah tidak merinci dalam Al-Qur’an satu persatu, demikian juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-haditsnya. Lain halnya dengan makanan haram, Allah telah memerinci secara detail dalam Al-Qur’an atau melalui lisan rasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Allah berfirman.

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkanNya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya” [Al-An’am : 119]

Perincian penjelasan tentang makanan haram, dapat kita temukan dalam surat Al-Maidah ayat 3 sebagai berikut ;

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya” [Al-Maidah : 3]

Dari ayat di atas dapat kita ketahui beberapa jenis makanan haram yaitu :

1. Bangkai
Yaitu hewan yang mati bukan karena disembelih atau diburu. Hukumnya jelas haram dan bahaya yang ditimbulkannya bagi agama dan badan manusia sangat nyata, sebab pada bangkai terdapat darah yang mengendap sehingga sangat berbahaya bagi kesehatan. Bangkai ada beberapa macam sebagai berikut.

a. Al-Munkhaniqoh yaitu hewan yang mati karena tercekik baik secara sengaja atau tidak.
b. Al-Mauqudhah yaitu hewan yang mati karena dipukul dengan alat/benda keras hingga mati olehnya atau disetrum dengan alat listrik.
c. Al-Mutaraddiyah yaitu hewan yang mati karena jatuh dari tempat tinggi atau jatuh ke dalam sumur sehingga mati
d. An-Nathihah yaitu hewan yang mati karena ditanduk oleh hewan lainnya [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim 3/22 oleh Imam Ibnu Katsir]

Sekalipun bangkai haram hukumnya tetapi ada yang dikecualikan yaitu bangkai ikan dan belalang berdasarkan hadits.

أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ

“Dari Ibnu Umar berkata: ” Dihalalkan untuk dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai yaitu ikan dan belalang, sedang dua darah yaitu hati dan limpa.” [Shahih. Lihat takhrijnya dalam Al-Furqan hal 27 edisi 4/Th.11]

Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah ditanya tentang air laut, maka beliau bersabda.

هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُأَخْرَجَهُ الأَرْبَعَةُ وَابْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَالتِّرْمِيْذِيُّ وَرَوَاهُ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ

” Laut itu suci airnya dan halal bangkainya” [Shahih. Lihat takhrijnya dalam Al-Furqan 26 edisi 3/Th 11]‎

Hukum Islam Mengenai Daging Keledai

Keledai (equus asinus) adalah mamalia dari keluarga Equidae. Hewan jinak ini biasa digunakan untuk hewan angkut dan kerja yang lain, seperti menarik kereta kuda atau membajak ladang.

Keledai bisa memiliki anak campuran dengan kuda. Anak kuda betina dengan keledai jantan disebut bagal. Anak keledai betina dengan kuda jantan disebut hinny. Bagal lebih umum dan sering digunakan sebagai hewan angkut bagi manusia dan benda.

Pada masyarakat jahiliyah hingga datangnya islam mereka masih memakan daging keledai. Dan hal tersebut dilakukan sebelum adanya larangan dari Rasullah SAW. Sejak zaman dulu keledai digunakan symbol yang memiliki makna tertentu, sebagian besar symbol tersebut memiliki makna yang negative. Orang yang suka berbohong juga di simbolkan oleh hewan keledai, bahkan dislah satu hadis beliau menyebutkan  keledai sebagai terputusnya shalat.
Hukum memakan daging Keledai dalam islam yaitu ada 2 yaitu daging keledai jinak haram di makan kerena najis dan daging keledai liar halal untuk di makan. Berikut dalil yang menyatakan daging keledai jinak haram untuk di makan

Keledai piaraan (jinak)
Mayoritas ulama berpendapat bahwa keledai jinak itu haram untuk dimakan. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits Anas bin Malik,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَهُ جَاءٍ فَقَالَ أُكِلَتْ الْحُمُرُ ثُمَّ جَاءَهُ جَاءٍ فَقَالَ أُكِلَتْ الْحُمُرُ ثُمَّ جَاءَهُ جَاءٍ فَقَالَ أُفْنِيَتْ الْحُمُرُ فَأَمَرَ مُنَادِيًا فَنَادَى فِي النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يَنْهَيَانِكُمْ عَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ فَإِنَّهَا رِجْسٌ فَأُكْفِئَتْ الْقُدُورُ وَإِنَّهَا لَتَفُورُ بِاللَّحْمِ
“Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berkata, “Daging keledai telah banyak di konsumsi. ” Selang beberapa saat orang tersebut datang lagi sambil berkata, “Daging keledai telah banyak di konsumsi.” Setelah beberapa saat orang tersebut datang lagi seraya berkata, “Keledai telah binasa.” Maka beliau memerintahkan seseorang untuk menyeru di tengah-tengah manusia,sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya melarang kalian mengkonsumsi daging keledai jinak, karena daging itu najis.” Oleh karena itu, mereka menumpahkan periuk yang di gunakan untuk memasak daging tersebut.” (HR. Bukhari no. 5528 dan Muslim no. 1940)
- عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ - رضي الله عنه - قَالَ: - لَمَّا كَانَ يَوْمُ خَيْبَرَ, أَمَرَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَبَا طَلْحَةَ, فَنَادَى: "إِنَّ اَللَّهَ وَرَسُولَهُ يَنْهَيَانِكُمْ عَنْ لُحُومِ اَلْحُمُرِاَلْأَهْلِيَّةِ, فَإِنَّهَا رِجْسٌ" - مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Artinya : Dari Anas bin Malik r.a., beliau berkata : Pada ketika perang Khaibar, Rasulullah SAW memerintah Abu Thalhah untuk menyeru, “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya melarang kalian memakan daging keledai kampung, karena ia adalah najis. (Muttafaqun ‘alaihi)

Menurut keterangan Imam Nawawi dalam Syarah Muslim, telah terjadi perbedaan pendapat ulama mengenai hukum memakan daging keledai kampung dalam beberapa pendapat, yaitu :

1. Jumhur Sahabat, Tabi’in dan ulama sesudah mereka, berpendapat haram daging keledai kampung, berdasarkan penjelasanyang sharih dari hadits-hadits shahih, salah satunya adalah hadits di atas

2. Ibnu Abbas mengatakan, tidak haram

3. Ada tiga riwayat dari Malik, yaitu :

- Yang lebih masyhur, makruh tanzih syadidah

- Haram

- Mubah

Yang benar adalah pendapat yang pertama sebagaimana pendapat Jumhur. Golongan yang berpendapat halal daging keledai kampung berargumentasi dengan hadits riwayat Abu Daud berbunyi :

عَنْ غَالِب بْن أَبْجَرَ قَالَ : أَصَابَتْنَا سَنَة فَلَمْ يَكُنْ فِي مَالِي شَيْء أُطْعِم أَهْلِي إِلَّا شَيْء مِنْ حُمُر ، وَقَدْ كَانَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَرَّمَ لُحُوم الْحُمُر الْأَهْلِيَّة ، فَأَتَيْت النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْت : يَا رَسُول اللَّه أَصَابَتْنَا السَّنَة فَلَمْ يَكُنْ فِي مَالِي مَا أُطْعِم أَهْلِي إِلَّا سِمَان حُمُر ، وَإِنَّك حَرَّمْت لُحُوم الْحُمُر الْأَهْلِيَّة ، فَقَالَ : أَطْعِمْ أَهْلَك مِنْ سَمِين حُمُرك ، فَإِنَّمَا حَرَّمْتهَا مِنْ أَجْل جَوَّال الْقَرْيَة

Artinya : Dari Ghalib bin Abjar, berkata : Selama satu tahun kami ditimpa bencana, aku tidak mempunyai sesuatupun yang dapat dimakan keluargaku kecuali keledai, padahal Rasulullah SAW telah mengharamkan daging keledai kampung. Maka aku datangi Nabi SAW dengan berkata : “Ya Rasulullah, selama satu tahun kami ditimpa bencana, aku tidak mempunyai sesuatupun yang dapat dimakan keluargaku kecuali beberapa keledai gemuk, padahal engkau telah mengharamkan daging keledai kampung.” Lalu Rasulullah SAW bersabda : “Berikanlah keluargamukeledaimu yang gemuk itu, sesungguhnya aku haramkan keledai itu adalah karena ia binatang kampung pemakan kotoran (H.R. Abu Daud)

Imam Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini sangat goyang sanadnya (muzhtharib) dan kalaupun seandainya sahih sanadnya, maka kandungan hadits ini diposisikan pada ketika mudharat.
Sedangkan keledai liar itu halal untuk dimakan dan hal ini telah menjadi ijma’ (kesepakatan) ulama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya pun memakannya, sebagaimana terdapat riwayat yang shahih mengenai hal ini. Abu Qotadah menceritakan:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – خَرَجَ حَاجًّا ، فَخَرَجُوا مَعَهُ فَصَرَفَ طَائِفَةً مِنْهُمْ ، فِيهِمْ أَبُو قَتَادَةَ فَقَالَ خُذُوا سَاحِلَ الْبَحْرِ حَتَّى نَلْتَقِىَ . فَأَخَذُوا سَاحِلَ الْبَحْرِ ، فَلَمَّا انْصَرَفُوا أَحْرَمُوا كُلُّهُمْ إِلاَّ أَبُو قَتَادَةَ لَمْ يُحْرِمْ ، فَبَيْنَمَا هُمْ يَسِيرُونَ إِذْ رَأَوْا حُمُرَ وَحْشٍ ، فَحَمَلَ أَبُو قَتَادَةَ عَلَى الْحُمُرِ ، فَعَقَرَ مِنْهَا أَتَانًا ، فَنَزَلُوا فَأَكَلُوا مِنْ لَحْمِهَا ، وَقَالُوا أَنَأْكُلُ لَحْمَ صَيْدٍ وَنَحْنُ مُحْرِمُونَ فَحَمَلْنَا مَا بَقِىَ مِنْ لَحْمِ الأَتَانِ ، فَلَمَّا أَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّا كُنَّا أَحْرَمْنَا وَقَدْ كَانَ أَبُو قَتَادَةَ لَمْ يُحْرِمْ ، فَرَأَيْنَا حُمُرَ وَحْشٍ فَحَمَلَ عَلَيْهَا أَبُو قَتَادَةَ ، فَعَقَرَ مِنْهَا أَتَانًا ، فَنَزَلْنَا فَأَكَلْنَا مِنْ لَحْمِهَا ثُمَّ قُلْنَا أَنَأْكُلُ لَحْمَ صَيْدٍ وَنَحْنُ مُحْرِمُونَ فَحَمَلْنَا مَا بَقِىَ مِنْ لَحْمِهَا .
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama mereka (para sahabat) berangkat untuk menunaikan haji. Lalu sebagian rombongan ada yang berpisah, di antaranya adalah Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata, kepada rombongan ini: “Ambillah jalan menyusuri tepi pantai hingga kita bertemu”. Maka mereka mengambil jalan di tepian pantai. Ketika mereka hendak berangkat, semua anggota rambongan itu berihram kecuali Abu Qatadah. Ketika mereka sedang berjalan, mereka melihat ada seeokor keledai liar. Maka Abu Qatadah menghampiri keledai itu lalu menyembelihnya yang sebagian dagingnya dibawa ke hadapan kami. Maka mereka berhenti lalu memakan daging keledai tersebut. Sebagian dari mereka ada yang berkata: “Apakah kita boleh memakan daging hewan buruan padahal kita sedang berihram?”. Maka kami bawa sisa daging tersebut. Ketika mereka berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka berkata: “Wahai Rasulullah, kami sedang berihram sedangkan Abu Qatadah tidak. Lalu kami melihat ada keledai-keledai liarkemudian Abu Qatadah menangkapnya lalu menyembelihnya kemudian sebagian dagingnya dibawa kepada kami, lalu kami berhenti dan memakan dari daging tersebut kemudian diantara kami ada yang berkata: “Apakah kita boleh memakan daging hewan buruan padahal kita sedang berihram?”. Lalu kami bawa sisa dagingnya itu kemari”. Beliau bertanya: “Apakah ada seseorang diantara kalian yang sedang berihram menyuruh Abu Qatadah untuk memburunya atau memberi isyarat kepadanya?”. Mereka menjawab: “Tidak ada”. Maka Beliau bersabda: “Makanlah sisa daging yang ada itu”.” (HR. Bukhari no. 1824 dan Muslim no. 1196)

Daging Keledai Liar Hukumnya Halal Karena daging keledai piaraan (jinak) telah diharamkan maka mafhum mukhafalah-nya (kebalikan) berarti daging keledai liar adalah boleh untuk dimakan. Hal ini sudah menjadi ijma' Ulama. Konsumsi daging ini telah diriwayatkan dari Nabi dan para sahabat beliau.
Daging keledai jinak di haramkan untuk dimakan hal ini karenakan pada waktu perang khibar para sahabat menyembelih  hewan kuda, bighal dan khimar (keledai). Datanglah utusan Rasullah Saw memberitahukan bahwa daging keledai itu tidak boleh dimakan di karenakan najis.  Daging Keledai  najis karena keledai memakan kotoran manusia dan ini merupakan illat diharamkannya keledai. Adanya najis pada daging keledai maka di perkuat bahwa daging keledai tersebut haram dan sesuatu yang najis itu haram untuk di makan.

 

Renungkanlah Keagungan Dan Kekuasaan Alloh


Allah itu begitu Maha Besar dan Maha Agung. Makhluk begitu kerdil dibandingkan dengan kebesaran Allah. Hadits yang kita kaji kali ini menerangkan pula bahwa orang yang menyekutukan Allah dengan sesembahan yang lain tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya.‎
جَـاءَ حَبْـرٌ مِنَ الْأَحْـبَارِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ: يَا مُـحَمَّد ، أَوْ يَا أَبَا الْقَاسِم ، إِنَّ الله تَعَالَى يُمْسِكُ السَّمَوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى إِصْبَعٍ ، وَالأَرَضِيْنَ عَلَى إِصْبَعٍ ، وَالْـجِبَالَ وَالشَّجَرَ عَلَى إِصْبَع ، وَالْـمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى إِصْبَع ، وَسَائِرَ الْـخَلْقِ عَلَى إِصْبَعٍ ، ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ فَيَقُوْلُ : أَنَا الْـمَلِكُ ، أَنَا الْـمَلِكُ. فَضَحِكَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (حَتَّى يَدَتْ نَوَاجِذُهُ) تَعَجُّبًا مِمَّـا قَالَ الْـحَبْرُ ، تَصْدِيْقًا لَهُ. ثُمَّ قَرَأَ : وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Seorang ulama Yahudi datang kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata, ‘Wahai Muhammad atau wahai Abul Qâsim, kami mendapati (dalam Taurat) bahwa Allâh meletakkan langit-langit di atas satu jari, bumi-bumi di atas satu jari, pohon-pohon di atas satu jari, air di atas satu jari, tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari, kemudian Dia berfirman, ‘Aku-lah Raja. Aku-lah Raja.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa (sehingga gigi gerahamnya terlihat) karena senang mengakui kebenaran ucapan ulama Yahudi tersebut. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allâh Azza wa Jalla , “Dan mereka tidak mengagungkan Allâh dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” [az-Zumar/39:67]

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh:
1. Al-Bukhari dalam Shahîh-nya (no. 4811, 7414, 7415, 7451, 7513),
2. Muslim dalam Shahîh-nya (no. 2786),
3. Ahmad (1/429, 457),
4. An-Nasâ-i dalam Kitab at-Tafsîr (no. 470, 471, 472) dan as-Sunan al-Kubra (no. 11386-11388),
5. At-Tirmidzi dalam Sunannya (no. 3238, 3239),
6. Ibnu Khuzaimah dalam at-Tauhîd (1/180-181 no. 123, 124, 128),
7. Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitab as-Sunnah (no. 541-544),
8. Al-Âjurri dalam asy-Syari’ah (no. 736, 737, 738),
9. Al-Lâlikâ-i dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah (no. 706),
10. Abdullah bin Imam Ahmad dalam Kitâbus Sunnah (no. 490),
11. Al-Baihaqi dalam al-Asmâ’ was Shifât (II/68-69),
12. Ibnu Mandah dalam ar-Radddu ‘alal Jahmiyyah (no. 64).
13. At-Thabari dalam tafsirnya (no. 30217-30219).

Hadits ini diriwayatkan juga dari Shahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dan Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu .

Seorang ‘alim dari ulama Yahudi menyebutkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apa yang mereka dapatkan dalam kitab mereka, Taurat, yaitu penjelasan tentang keagungan Allâh, kecilnya semua makhluk di hadapan-Nya Azza wa Jalla, dan bahwa Allâh meletakkannya di atas jari jemari-Nya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkannya, senang dengannya, dan membacakan ayat al-Qur’ân yang membenarkannya.

Hadits-hadits di atas dan yang semakna dengannya menunjukkan keagungan Allâh Azza wa Jalla , keagungan kekuasaan-Nya. Allâh Azza wa Jalla telah memperkenalkan diri-Nya kepada para hamba-Nya dengan sifat-sifat-Nya dan keajaiban makhluk-makhluk-Nya. Semuanya menunjukkan dan mengenalkan kesempurnaan-Nya, bahwa Dia satu-satunya yang berhak diibadahi, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam rububiyyah dan uluhiyyah-Nya. Firman Allâh Azza wa Jalla.
ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Demikianlah, karena sesungguhnya Allâh, Dia-lah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allâh itulah yang batil; dan sesungguhnya Allâh Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. [Luqmân/31:30]

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’ân itu benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu.” [Fush-shilat/41:53]

Hadits-hadits di atas menetapkan sifat-sifat bagi Allâh sesuai dengan kebesaran dan kemuliaan-Nya dengan tanpa tamtsîl dan juga menetapkan kesucian Allâh Azza wa Jalla dari sifat-sifat yang tidak layak tanpa ta’thîl. Inilah yang ditunjukkan oleh nash-nash al-Qur’ân dan as-Sunnah, yang diyakini oleh salaful ummah dan para Imam mereka, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, serta meneladani jejak mereka di atas Islam dan iman.

Perhatikanlah apa yang terkandung dalam hadits-hadits shahih ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengagungkan Rabb-nya dengan menyebutkan sifat-sifat kesempurnaan-Nya sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan berita orang-orang Yahudi tentang sifat-sifat Allâh yang menunjukkan kebesaran-Nya.

Perhatikanlah hadits-hadits ini, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan sifat ‘uluww (sifat ketinggian) bagi Allâh Azza wa Jalla di atas ‘Arsy-Nya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang sifat-sifat Allâh dengan jelas dan tegas.

Menetapkan sifat tangan bagi Allâh Azza wa Jalla , menetapkan sifat jari-jemari Allâh Azza wa Jalla . Sesungguhnya Allâh Mahabesar, semua makhluk-Nya berada di jari-jemari Allâh Azza wa Jalla , langit dan bumi digenggam di tangan kanan Allâh Yang Maha Mulia dan Maha Besar. Langit digulung oleh Allâh Azza wa Jalla seperti menggulung lembaran kertas. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ ۚ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

(Yaitu) pada hari Kami menggulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati;sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” [al-Anbiyâ’/21:104]

Kita wajib menetapkan semua sifat-sifat Allâh sebagaimana yang Allâh Azza wa Jalla tetapkan dalam al-Qur’ân dan ditetapkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Tidak boleh seorang pun mengingkarinya, mentakwil atau mentahrif (memalingkan dari makna yang sebenarnya kepada makna yang lain) dan tidak boleh tamtsil atau tasybih (menyamakan Allâh dengan makhluk-Nya).

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

… Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dia-lah Yang Mahamendengar dan Mahamelihat.” [asy-Syûrâ/42:11]

Para Shahabat Radhiyallahu anhum menerima sifat-sifat Rabb yang dijelaskan dan ditetapkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa sifat-sifat kesempurnaan dan sifat-sifat keagungan; Mereka mengimaninya; Mereka beriman kepada kitab Allâh dan sifat-sifat Allâh yang Maha Mulia lagi Maha tinggi yang terkandung di dalamnya, sebagaimana Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا

… Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyâbihât, semuanya itu dari sisi Rabb kami …. ” [Ali ‘Imrân/3:7]

Demikian pula para tabi’in dan tabi’ut tabi’in, para Imam, baik dari kalangan ahli hadits maupun ahli fiqih, seluruhnya menyifati Allâh Azza wa Jalla dengan sifat-sifat yang Allâh sematkan dan tetapkan untuk diri-Nya serta sifat-sifat yang dipergunakan oleh Rasul-Nya untuk Allâh Azza wa Jalla . Mereka tidak memungkiri sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla sedikitpun.

Tidak ada seorang pun dari mereka yang berkata, “Maksud dari ayat-ayat tentang sifat ini bukanlah zhahirnya atau bukan yang tersurat.”

Tidak ada juga yang mengatakan bahwa menetapkan ataupun mengakui sifat-sifat itu sebagai sifat bagi Allâh Azza wa Jalla berarti menyamakan Allâh dengan makhluk. Bahkan sebaliknya, mereka sangat mengingkari siapa saja yang mengatakan demikian dengan pengingkaran yang keras. Demi membantah syubhat-syubhat ini mereka menulis kitab-kitab besar yang terkenal yang ada di tangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Ini adalah kitab Allâh Azza wa Jalla , dari awal hingga akhir, Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , perkataan para Shahabat Radhiyallahu anhum dan tabi’in, perkataan Ulama-ulama lainnya menetapkan, baik dalam bentuk nash maupun dalam bentuk zhahir bahwa Allâh di atas segala sesuatu, di atas langit-Nya, Allâh di atas ‘Arsy-Nya, bersemayam di atasnya, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

…KepadaNya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkan-Nya… [Fâthir/35:10]

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ﴿١٦﴾أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا ۖ فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ

Apakah kamu merasa aman dari Allâh yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang? Atau apakah kamu merasa aman dari Allâh yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku.” [al-Mulk/67:16-17]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu [as-Sajdah/32:5]

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ

Mereka takut kepada Rabb mereka yang di atas mereka…” [an-Nahl/16:50]

تَنْزِيلًا مِمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَى﴿٤﴾الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

Yaitu diturunkan dari Allâh yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Rabb yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘Arsy.” [Thâhâ/20:4-5]

Imam asy-Syâfi’i rahimahullah berkata, “Allâh Azza wa Jalla mempunyai nama-nama dan sifat-sifat. Tidak patut bagi seseorang pun untuk menolaknya. Barangsiapa menyelisihinya setelah hujjah tegak atasnya, maka dia kafir. Adapun sebelum tegaknya hujjah, maka dia masih bisa dimaklumi karena kejahilan. Kami menetapkan sifat-sifat ini dan menafikan tasybîh dari-Nya sebagaimana Allâh menafikan tasybîh dari Diri-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“…Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dia-lah Yang Mahamendengar dan Mahamelihat.” [asy-Syûrâ/42:11][7]

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan Allâh memiliki Asma-ul Husna (nama-nama terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma-ul Husna itu dan tinggalkanah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” [al-A’râf/7:180]

Allâh Azza wa Jalla menetapkan nama-nama dan sifat. Allâh Azza wa Jalla menetapkan bagi diri-Nya sifat mendengar, melihat, hidup, berkuasa, memiliki dua tangan, wajah, ilmu, dan sifat-sifat lainnya. Allâh menetapkan bagi diri-Nya semua sifat-sifat yang sempurna. Maka barangsiapa mengingkari atau menakwilkan berarti dia telah berbuat ilhâd (mengingkari nama-nama dan sifat-sifat-Nya).

Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, “Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” merupakan ancaman keras dari Allâh Azza wa Jalla terhadap orang-orang yang menyalahi nama-nama Allâh dan sifat-Nya.

Dalam hadits di awal pembahasan ini, Nabi n membacakan ayat :

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ

“Dan mereka tidak mengagungkan Allâh dengan pengagungan yang semestinya…” [az-Zumar/39:67]

Ayat ini mencakup :
1. Orang-orang yang mengingkari adanya Allâh Azza wa Jalla , yaitu kaum Dahriyyun.

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ ۚ وَمَا لَهُمْ بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

Dan mereka berkata, ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah keidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.’ Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga saja.” [al-Jâtsiyah/45:24]

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُون﴿٣٥﴾ أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۚ بَلْ لَا يُوقِنُونَ

Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” [at-Thûr/52:35-36]

Mereka pada hakikatnya tidak mengagungkan Allâh dengan sebenar-benar pengagungan.

2. Orang-Orang Musyrikin yang mengakui adanya Khaliq (Pencipta), Mudabbir (Pengatur alam semesta), muhyi (Yang Menghidupkan), Mumît (Yang Mematikan), yaitu Allâh Azza wa Jalla . Tapi mereka menyembah selain Allâh atau mereka beribadah kepada Allâh tapi juga bersamaan dengan itu ia menyembah tuhan yang lain, seperti menyembah berhala, batu, pohon, kubur, benda-benda mati dan lainnya. Mereka pada hakikatnya tidak menghargai Allâh Azza wa Jalla dengan sebenarnya. Padahal yang mereka sembah tidak bisa menciptakan, tidak bisa memberi rizki, tidak bisa memberikan manfaat, tidak bisa menolak bahaya bahkan tidak bisa menghidupkan dan mematikan. Seperti orang-orang yang datang ke kubur untuk meminta sesuatu kepada mereka, meminta hajat kepada mereka bahkan ada yang thawaf di kuburan. Mereka pada hakikatnya tidak mengagungkan Allâh Azza wa Jalla dan tidak memuliakannya. Mereka telah berbuat syirik yang besar.

3. Demikian juga orang-orang yang mengingkari nama-nama dan sifat Allâh, yang Allâh dan Rasul-Nya telah tetapkan. Begitu juga orang yang mentakwil sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla atau memaknainya dengan makna yang lain atau dengan makna zhahir dan batin atau orang yang menyamakan Allâh Azza wa Jalla dengan makhluk-Nya pada hakikatnya. Mereka ini tidak mengagungkan Allâh Azza wa Jalla , seperti orang-orang yang mengingkari tentang keberadaan Allâh Azza wa Jalla di atas ‘Arsy-Nya. Mereka mentakwilkannya dengan arti kekuasaan atau lainnya. Pada hakikatnya mereka ini tidak mengagungkan Allâh Azza wa Jalla. Begitu juga orang-orang yang mengartikan ‘Tangan’ Allâh dengan kekuasaan atau nikmat; Begitu juga orang yang mengatakan bahwa ayat atau hadits ini tidak jelas tentang sifat Allâh; Atau mengatakan bahwa itu adalah kiasan atau mengatakan bahwa itu bukan hakikatnya. Mereka ini pada hakikatnya tidak menghargai dan tidak mengagungkan Allâh Azza wa Jalla . Mereka tidak beradab kepada Allâh Azza wa Jalla .

4. Orang yang tidak beriman kepada qadha’ dan qadar yang baik dan buruk dan tidak beriman dengan kekuasaan Allâh, bahwa Allâh Mahaberkuasa atas segala sesuatu. Orang yang tidak mengimani ini, maka ia tidak mengagungkan Allâh Azza wa Jalla dengan sebesar-besar pengagungan. Dan masih banyak contoh yang lainnya.

FAWA-ID HADITS
1. Penjelasan tentang keagungan Allâh Azza wa Jalla dan ke-Mahabesaran Allâh Azza wa Jalla. Allâh Mahabesar, Allâh Mahaberkuasa, Allâh Mahaagung. Semua nama-nama Allâh adalah nama-nama yang paling indah dan semua sifat-sifatnya adalah sifat yang tinggi dan sempurna.

2. Seluruh makhluk, langit, bumi, dan seluruh isinya adalah sangat kecil dibandingkan Allâh Yang Mahatinggi dan Mahabesar.

3. Menetapkan kedua tangan, jari-jari yang hakiki bagi Allâh Azza wa Jalla yang sesuai dengan keagungan dann kemuliaan-Nya

4. Ilmu yang mulia ini terdapat dalam Taurat dan mereka tidak mengingkarinya dan tidak mentahrifnya

5. Menerima kebenaran yang datang sesuai dengan al-Qur’ân dan as-Sunnah meski disampaikan oleh orang Yahudi

6. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bergembira dan tertawa karena membenarkan apa yang terdapat dalam Taurat itu sesuai dengan yang ada dalam al-Qur’ânul Karîm.

7. Pada hari Kiamat langit dan bumi akan dilipat dengan tangan kanan Allâh Yang Mahamulia.

8. Orang-orang Yahudi, Nasrani, kaum Musyrikin mereka tidak mengagungkan Allâh Azza wa Jalla dengan pengagungan yang benar.

9. Orang-orang yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla , orang-orang yang mentakwil/mentahrif sifat-sifat Allâh, pada hakikatnya mereka tidak mengagungkan Allâh Azza wa Jalla dengan pengagungan yang benar.

10. Allâh Azza wa Jalla pencipta seluruh makhluk dan hanya Allâh Azza wa Jalla yang berkuasa sementara seluruh kekuasaan makhluk itu akan binasa.

11. Wajib menetapkan Allâh Azza wa Jalla itu Maha Tinggi dan Allâh bersemayam di atas ‘Arsy sebagai bantahan kepada Jahmiyyah, Mu’tazilah.

12. Menetapkan ilmu-Nya Allâh Azza wa Jalla yang meliputi segala sesuatu bahwa tidak ada satu pun yang terluput bagi Allâh Azza wa Jalla di langit dan di bumi.

13. Wajib mengesakan Allâh Azza wa Jalla dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan juga dalam nama dan sifat-sifat-Nya.

14. Allâh yang Mahabesar yang menciptakan seluruh makhluk maka Allâh Azza wa Jalla satu-satunya yang wajib diibadahi. Hanya Allâh Azza wa Jalla saja yang dapat menghidupkan, mematikan, memberikan manfaat, menolak bahaya, memberikan rrizki, dan mengumpulkan seluruh makhluk di hadapan-Nya pada hari Kiamat.

15. Keagungan Allâh Azza wa Jalla dan kebesaran-Nya semestinya menimbulkan kecintaan, ketundukan, rasa hina, rasa takut, dan berharap hanya kepada Allâh Azza wa Jalla . Allâh Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya Dzat yang wajib diibadahi dengan ikhlas dan benar.

Tanda-tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla , yang Ia ciptakan di langit dan di bumi dan di antara keduanya, semua itu tidak diciptakan dengan sia-sia, tetapi mengandung tujuan. Yaitu untuk kemashlahatan makhluk-makhluk-Nya, sebagai sarana beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , sekaligus membuktikan tentang keesaan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. [Ali ‘Imran/3:190-191].

Yang dimaksud dengan merenungi ayat-ayat Allah, ialah melihatnya, merenungi manfaat-manfaatnya, sehingga menghasilkan sebuah keyakinan yang mendalam bahwa hanya Allah Azza wa Jalla saja dzat satu-satunya yang menciptakan semua itu. Dia-lah satu-satunya ilah yang berhak untuk disembah. Dia-lah satu-satunya ilah yang berhak ditakuti, ditaati, dan hanya Dia yang kita jadikan sebagai petunjuk, sebagai bukti keagungan dan kekuasaan-Nya. Dia tidak menciptakan semua itu dengan sia-sia.

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ

Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir; maka celakalah orang-orang kafir itu, karena mereka akan masuk neraka. [Shâd/38:27].

Ayat-ayat Allah Azza wa Jalla itu ada dua macam:

Pertama : Yaitu ayat-ayat Allah Azza wa Jalla yang bisa kita lihat. Yaitu ayat-ayat Allah Azza wa Jalla yang berupa semua ciptaan-Nya, baik di langit maupun yang di bumi, dengan segala makhluk yang ada di antara keduanya. Jumlahnya sangat banyak, dan kita tidak mengetahui jumlahnya.

Semua itu menjadi bukti yang menunjukkan bahwa hanya Dia-lah satu-satunya Rabb. Semua itu menunjukkan kekuasaan dan keagungan-Nya.

Suatu ketika ada seorang Arab badui ditanya: “Bagaimana engkau bisa mengenal Tuhanmu?”

Dia pun menjawab: “Telapak kaki, menujukkan adanya orang yang berjalan. Kotoran, menunjukkan adanya unta. Bukankah alam raya ini menunjukkan ada penciptanya yang Maha Perkasa lagi Maha Agung?”

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy; Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam. [al-A’râf/7:54].

Kedua : Ayat-ayat Allah Azza wa Jalla yang berupa tulisan. Yaitu kalam dan wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ; yakni Al-Qur`aan yang ada di hadapan kita. Yang kita diperintahkan untuk mentadaburi dan merenungkan kandungan maknanya, menjalankan semua perintah yang ada di dalamnya, serta menjahui semua larangannya. Kelak, ia akan menjadi alasan Allah untuk mengadzab manusia, bila manusia menyia-nyiakannya. Atau sebaliknya, ia akan menjadi alasan manusia untuk mendapatkan balasan kenikmatan, bila manusia mau berpegang teguh dan mengamalkan dalam kehidupannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

Dan Al-Qur`an itu bisa menjadi hujjah (kenikmatan bagimu) atau bisa menjadi malapetaka bagimu

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا وَأَنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Sesungguhnya Al-Qur`an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, Kami sediakan bagi mereka adzab yang pedih. [al-Isrâ`/17:9-10].

Allah meminta kita untuk merenungi, memikirkan dan mencermati ayat-ayat Allah Azza wa Jalla. Dengan merenungi ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala , maka akan menumbuhkan rasa keagungan terhadap Allah Azza wa Jalla dalam hati kita, kecintaan yang mendalam kepada-Nya, mengokohkan keimanan kepada-Nya, memantapkan keyakinan tentang keesaan-Nya. Sebaliknya, jika kita meninggalkan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala , maka hati akan menjadi keras, mata menjadi buta, sehingga seakan tidak ada bedanya dengan binatang ternak yang hidup di muka bumi lalu mati menjadi tanah.

Pernahkan kita melihat alat yang kecil lagi rumit yang dibuat oleh manusia pada zaman sekarang, seperti hp, laptop, dan lainnya? Seberapa besar kekaguman manusia terhadap alat-alat tersebut? Seberapa besar penghargaan manusia dengan penemuan itu? Padahal, itu hanya sebagian kecil dari ciptaan-ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala , karena penemuan itu bukan murni hasil karya manusia, tetapi masih termasuk ciptaan Allah Azza wa Jalla . Yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala mengilhamkan dan memberi ilmu kepada manusia, sehingga ia mampu menciptakan alat-alat itu.

Jika demikian, bagaimana mungkin manusia bisa terkagum-kagum dengan hasil karyanya, kemudian ia lupa dengan tanda-tanda kekusaan Allah Azza wa Jalla yang digelar di alam raya ini, bahkan tanda-tanda kebesaran-Nya di dalam diri manusia itu sendiri?

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri; maka apakah kamu tidak memperhatikan? [adz-Dzâriyât/51:20-21].

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan; dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan? [al-Ghasyiyah/88:17-20].

Bumi, tempat tinggal kita ini, kita berjalan di atasnya, yang membawa dan mengangkat kita; langit yang menaungi kita, binatang ternak yang kita naiki, kita minum susunya, kita makan dagingnya, dan manfaat-manfaat lainnya, mengapa kita tidak mau mencermati dan merenunginya? Mengapa kita tidak mau menggunakan akal kita untuk memahami bahwa semua makhluk itu tidak diciptakan dengan sia-sia, tidak diciptakan begitu saja lalu di biarkan? Semua itu diciptakan untuk maksud yang sangat mulia.

Kewajiban kita ialah untuk mencermati dan merenungi makhluk-makhluk Allah, memperhatikan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Kewajiban setiap muslim ialah menjadikan apa yang dilihat di sekitarnya, bahkan apa yang ada di dalam dirinya itu memiliki nilai di depan matanya, yaitu untuk menunjukkan betapa besar keagungan dan kekuasaan penciptannya, menunjukkan betapa indah ciptaan-Nya, betapa banyak hikmah dari ciptaan-Nya. Allah Azza wa Jalla mengatur semua itu. Allahu Akbar! Allahu Akbar.

Marilah kita tetap dalam keadaan bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla . Karena sesungguhnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat-Nya, tidak mau merenungi dan mentadaburinya.

Allah berfirman :

وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ أَفَأَمِنُوا أَنْ تَأْتِيَهُمْ غَاشِيَةٌ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ أَوْ تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya. Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya?[Yûsuf/12 : 105-107]

Mereka tak ubahnya seperti binatang ternak. Disebutkan dalam firman Allah

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).[al-Furqân/25 : 44]

Di antara tanda kebesaran Allah yang lainnya, yang ada di bumi adalah Anda melihat ada bagian bumi yang kering yang tidak tumbuh di sana tumbuh-tumbuhan, kemudian Allah ﷻ turunkan air lalu tumbuhlah tumbuh-tumbuhan yang hijau menyejukkan pandangan. Dan ini adalah ayat-ayat Allah ﷻ yang menunjukkan kebesaran-Nya. Menunjukkan Dialah Tuhan yang sebenarnya. Dan Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu. Allah ﷻ berfirman,

وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ (5) ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّهُ يُحْيِ الْمَوْتَى وَأَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (6) وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ

“Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.” (QS:Al-Hajj | Ayat: 5-7).‎

Tanda-tanda kebesaran dan keagungan-Nya yang lain, yang ada di muka bumi adalah variasinya jenis-jenis tumbuhan. Beda bentuknya, warnanya, buahnya, rasanya, dll. padahal tumbuh-tumbuhan itu disirami dengan air yang sama. Yaitu air yang berasal dari langit yang sama. Alangkah agungnya tanda-tanda kebesaran-Nya. Allah ﷻ berfirman,

وَفِي الْأَرْضِ قِطَعٌ مُتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الْأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS:Ar-Ra’d | Ayat: 4).
Allah jadikan bumi ini kokoh bagi para hamba-Nya. Bumi itu tenang tidak membuat orang yang tinggal di atasnya berdesak-desakan. Allah ﷻ berfirman,

اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ قَرَارًا

“Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap…” (QS:Al-Mu’min | Ayat: 64).

Bumi itu kokoh, orang yang berjalan di atasnya tenang tidak terombang-ambing. Alangkah besar tanda kekuasaan Allah ﷻ di bumi.

Perhatikan dan renungkanlah, ketika bumi ini bergoncang, goncangan gempa yang hanya terjadi pada suatu waktu dan pada bagian tertentu saja. Lihatlah manusia kehilangan ketenangan mereka. Itu hanya terjadi di sebagian tempat dan dalam waktu yang singkat. Apabila gempa itu sangat kuat, maka ia bisa membinasakan manusia.

Kita mendengar baru-baru ini terjadi gempa di sebagian wilayah dunia. Terjadi dalam suatu malam, namun mengakibatkan ribuan nyawa melayang. Ribuan manusia binasa dalam satu waktu saja. Rumah-rumah mereka hancur. Kebun dan ladang mereka rusak. Ini adalah tanda kebesaran Allah. Allah ﷻ mampu mematikan ribuan manusia dalam satu waktu. Dialah yang kuasa atas segala sesuatu. Allah ﷻ berfirman,

وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

“Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.” (QS:Al-Israa’ | Ayat: 59).

Jangan Pernah Mengsia-siakan Amanah


Sesungguhnya amanah adalah sesuatu yang besar dan memiliki kedudukan yang agung. Wajib bagi hamba Allah untuk memperhatikan dan menjaga hak-haknya, mengetahui kedudukannya, dan berupaya untuk mewujudkan dan merealisasikannya. Banyak dalil, baik dari Alquran maupun sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan tentang kedudukan amanah dan balasan yang akan didapatkan di dunia dan akhirat bagi orang yang menjaganya dan adzab bagi mereka yang menghianatinya.

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,

فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ

“Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya.” (QS. Al-Baqarah: 283)

Dalam ayat lain :

إِنَّ  اللّٰـهَ  يَأْمُرُكُمْ  أَن  تُؤَدُّوا۟  الْأَمٰنٰتِ  إِلَىٰٓ  أَهْلِهَا  وَإِذَا  حَكَمْتُم  بَيْنَ  النَّاسِ  أَن  تَحْكُمُوا۟  بِالْعَدْلِ  ۚ  إِنَّ  اللّٰـهَ  نِعِمَّا  يَعِظُكُم    بِهِۦٓ  ۗ  إِنَّ  اللّٰـهَ  كَانَ  سَمِيعًۢا  بَصِيرًا  ﴿النساء:٥٨﴾

“Sesungguhnya Allah  menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah  memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah  adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”  ﴾ An Nisaa:58 ﴿

Di antara orang yang ahli  itu adalah yang mampu menerapkan hukum secara adil, dan hukum yang diterapkan itu adalah hukum Allah . Dan hukum Allah  itu sendiri bisa kah kita tegakkan secara adil, dan inilah salah satu kreteria orang yang ahli mengemban amanah adalah mampu menerapkan hukum Allah  itu dengan baik dan maksimal sehingga hasilnya terwujud keadilan.

Amanah dalam bahasa arab berasal dari kata al Amaanah yang berarti segala yang diperintah Allah SWT kepada hamba-hambanya‎. Secara khusus amanah adalah sikap bertanggung jawab orang yang dititipi barang, harta atau lainnya dengan mengembalikannya kepada orang yang mempunyai barang atau harta tersebut.
Sedangkan secara umum amanah sangat luas sekali. Sehingga menyimpan rahasia, tulus dalam memberikan masukan kepada orang yang meminta pendapat dan menyampaikan pesan kepada pihak yang benar atau sesuai dengan permintaan orang yang berpesan juga termasuk amanah. Maka sifat amanah baik secara umum maupun yang khusus sangat berhubungan erat dengan sifat-sifat mulia lainnya seperti jujur, sabar, berani, menjaga kemuliaan diri, memenuhi janji dan adil.

Sahabat nabi Khudzaifah r.a. menerangkan dalam hadis yang berbunyi:

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ حَدِيْثَيْنِ رَأَيْتُ اَحَدَهُمَا وَأَنَا أَنْتَظِرُ اْلاَخَرَ.حَدَّثَنَا أَنَّ اْلأَ مَانَةَ نَزَلَتْ فِيْ جَذْرِ قُلُوْبِ الرِّجَالِ ثُمَّ عَلِمُوْامِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ عَلِمُوْامِنَ السُّنَّةِ وَ حَدَّثَنَا عَنْ رَفْعِهَا قَالَ يَنَامُ الرَّجُلُ النَّوْمَةَ فَتُقْبَضُ اْلأَمَانَةُ مِنْ قَلْبِهِ فَيَظَلُّ أَثَرُهَا مِثْلَ اَثَرِالْوَكْتِ ثُمَّ يَنَامُ النَّوْمَةَ فَتُقْبَضُ فَيَبْقَى اَثَرُهَا مِثْلَ اْلمَجْلِ كَجَمْرِ دَحْرَجْتَهُ عَلىَ رِجْلِكَ فَنَفِطَ فَتَرَاهُ مُنْتَبِرًاوَلَيْسَ فِيْهِ سَيْءٌ فَيُصْبِحُ النَّاسُ يَتَبَا يَعُوْنَ فَلاَيَكَادُ أَحَدٌ يُؤَدِّي اْلأَماَنَةَ فَيُقَالُ إِنَّ فِيْ بَنِيْ فُلاَنٍ رَجُلاً أَمِيْنًا وَيُقَّالُ لِلرَّجُلِ ماَأَعْقَلَهُ وَماَ اَظْرَفَهُ وَمَا اَجْلَدَهُ وَمَا فِيْ قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ اِيْمَانِ وَلَقَدْ أَتَى عَلَيَّ زَمَانٌ وَمَا أُبَا لِيْ أَيَّكُمْ بَايَعْتُ لَئِنْ كَانَ مُسْلِمًا رَدَّهُ عَلَيَّ اْلإِسْلاَمُ وَإِنْ كَانَ نَصْرَانِيًّا رَدَّهُ عَلَيَّ سَاعِيْهِ فَأَمَّا الْيَوْمَ فَمَا كُنْتُ أُبَا يِعُ إِلاَّ فُلاَنًا وَفُلاَنًا.(اَخْرَجَهُ الْبُخَا رِيُّ فِيْ كِتَابِ الرِقَاقْ)          

Dari Khudzaifah berkata, Rasulullah SAW menyampaikan kepadaku dua hadis, yang satu telah saya ketahui dan yang satunya lagi masih saya tunggu. Beliau bersabda kepada kami bahwa amanah itu diletakkan di lubuk hati manusia, lalu mereka mengetahuinya dari Al Qur’an kemudian mereka ketahui dari al hadis (sunnah). Dan beliau juga menyampaikan kepada kami tentang akan hilangnya amanah. Beliau bersabda: seseorang tidur lantas amanah dicabut dari hatinya hingga tinggal bekasnya seperti bekas titik-titik. Kemudian ia tidur lagi, lalu amanah dicabut hingga tinggal bekasnya seperti bekas yang terdapat di telapak tangan yang digunakan untuk bekerja, bagaikan bara yang di letakkan di kakimu, lantas melepuh tetapi tidak berisi apa-apa. Kemudian mereka melakukan jual beli/transaksi-transaksi tetapi hampir tidak ada orang yang menunaikan amanah maka orang-orang pun berkata : sesungguhnya dikalangan Bani Fulan terdapat orang yang bisa dipercayai dan adapula yang mengatakan kepada seseorang alangkah pandainya, alangkah cerdasnya, alangkah tabahnya padahal pada hatinya tidak ada iman sedikitpun walaupun hanya sebiji sawi. Sungguh akan datang padaku suatu zaman dan aku tidak memperdulikan lagi siapa diantara kamu yang aku baiat, jika ia seorang muslim hendaklah dikembalikan kepada Islam yang sebenarnya dan juga ia seorang nasrani maka dia akan dikembalikan kepadaku oleh orang-orang yang mengusahakannya. Adapun pada hari ini aku tidak membaiat kecuali Fulan bin Fulan.(HR. Imam Bukhari).

Hadis diatas menuturkan tentang diturunkannya dan diangkatnya amanah, salah satu dari keduanya melihat bahwa sesungguhnya amanah itu kebalikan dari sifat khianat atau dengan kata lain adalah suatu beban tanggung jawab. Amanah diturunkan dalam lubuk hati orang-orang, setelah itu orang-orang mengetahui dari Al Qur’an kemudian dari Sunnah (Hadis) . 

Bahwasanya amanah itu diberikan kepada orang-orang menurut fitrahnya, setelah itu dengan melalui usaha dari syariat. Adapun secara lahir yang dimaksud dengan amanah adalah suatu tanggung jawab yang telah Allah SWT bebankan kepada terhadap hamba-hambanya dan juga janji yang telah Allah SWT berikan kepada hambanya, Pengarang kitab Tahrir mengatakan bahwa yang dikehendaki amanah di bab ini adalah seperti yang terkandung dalam firman Allah SWT yang berbunyi:‎

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
  
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh. (QS. Al Ahzab/33: 72)

Bahwa tingkah laku atau kondisi manusia yang menyerupai ayat tadi yaitu suatu beban atau tanggung jawab yang berupa ketaatan dengan tingkah laku yang ditawarkan. Apabila amanah itu ditawarkan atau ditimpakan kepada langit, bumi dan gunung-gunung  niscaya mereka enggan untuk menanggungnya karena sangat agung dan beratnya sebuah amanah untuk menanggungnya. Akan tetapi manusia dengan sifat lemah dan sedikit kemampuannya mau menanggung amanah tersebut. Sesungguhnya manusia itu termasuk orang-orang yang mendzolimi dirinya dan amat bodoh tingkahnya sekira dia mau mengemban beban suatu amanah.

Allah SWT menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunungnya maka Allah SWT berkata kepada mereka, Apakah kalian mampu menanggung amanah dengan apa yang ada didalamnya? Allah menjawab: Apabila kamu bisa mengemban dan menjaga baik amanah maka kalian akan memperoleh balasan yang banyak. Dan ketika kalian mendurhakai suatu amanah maka kalian akan mendapat siksa yang setimpal, lalu mereka menjawab: tidak ya Allah, tidak, kami tidak mengharapkan apapun dari balasan ganjaran maupun siksa karena memuliakan dan takut kepada Agama Allah SWT.

Sejatinya kesanggupan untuk memikul tanggung jawab berat ini diatas pundak adalah tindakan membahayakan diri sendiri. Karenanya manusia adalah makhluk yang mendzolimi dirinya sendiri dan jahil, tidak tahu kemampuannya sendiri. Ini jika dibandingkan dengan besarnya penolakan nafsunya untuk memikulnya. Namun demikian, jika dia bangkit dengan memikul tanggung jawab itu, saat dia sampai kepada makrifah yang menyampaikannya kepada penciptaannya, ketika dia mengambil petunjuk secara langsung dari syariat-Nya dan kala dia sangat patuh kepada kehendak Rabbnya, petunjuk dan ketaatan yang dengan mudah dicapai oleh langit, bumi, dan gunung, makhluk-makhluk yang bermakrifah dan taat kepada penciptaannya tanpa ada penghalang dari dirinya. Ketika manusia telah sampai kepada derajat ini dan dia sadar, mengerti, beriradah, maka sungguh dia telah sampai di kedudukan yang mulia, kedudukan istimewa diantara sekian makhluk Allah SWT.
عَنْ أَبِي هُرَ يْرَ ةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: إِذَاضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِالسَّاعَةَ,كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَارَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَاْلأَمْرُ إِلىَ غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِالسَّا عَةَ. (اَخْرَجَهُ الْبُخَا رِيُّ فِيْ كِتَابِ الرِقَاقْ)          
                                                                 
Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda: Apabila amanah disia-siakan maka tunggulah saat kehancurannya. Salah seorang sahabat bertanya:”Bagaimanakah menyia-nyiakannya, hai Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab: “Apabila perkara itu diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya (HR. Imam Bukhari).

Nabi Muhammad SAW menyebutkan tentang salah satu pertanda akan datangnya hari kiamat adalah bilamana amanah atau kepercayaan diserahkan bukan pada ahlinya. Manusia memiliki keahlian yang berbeda-beda. Idealnya seorang manusia harus mengerjakan sesuatu sesuai dengan kemampuannya. Kalau dia melakukan suatu pekerjaan yang tidak sesuai dengan maka pekerjaan tersebut akan berantakan.  Kalau dia ahli pertanian janganlah disuruh memperbaiki mobil, untuk sekedar bergaya montir dan membongkar mesin mungkin bisa, tetapi memperbaiki mesinnya tidak akan bisa. Untuk itulah nabi melarang memberikan perkara kepada orang yang bukan ahlinya.

Sifat amanah memang lahir dari kekuatan iman. Semakin menipis keimanan seseorang semakin pudar pula sifat amanah pada dirinya. Berpadunya kekuatan dan amanah pada diri seorang manusia sangat jarang terdapat. Maka bila ternyata ada dua orang laki-laki satu diantaranya lebih besar amanah padanya dan yang satunya lebih besar kekuatan haruslah diutamakan mana yang lebih bermanfaat bagi bidang jabatannya itu yang lebih sedikit resikonya.

Oleh karena itu didahulukanlah dalam jabatan pimpinan peperangan, orang yang kuat fisiknya lagi berani sekalipun dia fasik daripada orang yang lemah dan tidak  bersemangat sedangkan sekalipun dia seorang yang kepercayaan sebagaimana pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal tentang dua orang laki-laki yang akan memimpin peperangan satu diantaranya kuat tetapi fasik, yang lain saleh tetapi lemah, dibawah komando siapa dia akan berperang? Maka beliau menjawab: Adapun orang fasik tetapi kuat, maka kekuatannya itu berguna bagi kaum Muslimin, sedang kefasikannya adalah atas tanggungan dirinya sendiri dan orang saleh tetapi lemah maka kesalehannya berguna bagi diri sendiri sedangkan kelemahannya menimbulkan hal yang tidak baik bagi kaum muslimin.

Apabila satu amanah diabaikan maka akan berakibat kehancuran, kerusakan.

Profesi adalah sebuah amanah, yang menjadi amanah kita adalah apa yang menjadi akad pekerjaan kita itu.  Amanah ini terkait dengan kesanggupan kita mengembannya/memikulnya, kalau sebuah profesi kita terima saja dan kita tidak mampu melaksanaknnya, berarti kita menghadapkan diri kita kepada kehancuran. Oleh karena itu seorang mukmin harus amanah kepada ilmunya, amanah kepada pengalamannya, amanah kepada dirinya, sehingga ketika ada pilihan dia harus memilih mana yang bisa dia kerjakan, mana yang mampu dia kerjakan, mana yang di luar batas kemampuannya. Tetapi hal ini tidak menutup kita untuk berkembang atau berarti hanya memaksa kita untuk berkerja pada kemampuan kita sekarang. Karena manusai itu berkembang, bisa jadi yang sekarang tidak paham besok kita bisa paham.

Oleh karena itu untuk bisa mengimplementasikan amanah ini dalam kehidupan kita ada beberapa syarat yang harus kita miliki. Pertama manah ini adalah merupakan komitmen, bukan hanya kita dengan manusia, tetapi komitmen kita kepada Allah  Ta’ala. Sehingga membuat diri kita jujur, dan yang menjadi akad/transaksi kita itu amanah yang pada hakikatnya disaksikan oleh Allah  Ta’ala. Bukan hanya  berarti antara kita dengan patner kita, tetapi lebih menjadi komitmen kita kepada Allah  karena menjadi setiap komitmen kita harus didasari ibadah kepada Allah  Ta’ala. Bahkan dahulu para shahabat ketika mereka berbaiat kepada Rasulullah shalAllah u ‘alaihi wa sallam, mereka pada hakikatnya berbaiat kepada Allah  Ta’ala.

Inilah yang harus kita sadari ketika seorang mukmin ketika mengambil suatu amanah, pekerjaan, profesi yang yakin dia bisa, ingatlah bahwa dia sedang diawasi oleh Allah  Ta’ala dan dia tidak boleh mengabaikan amanah, baik karena dia menyembunyikan sesuatu yang dia tidak paham, atau dia paham tetapi tidak mau melaksanakannya. Oleh karena itu komitmen kepada Allah  ini harus menjadi sebuah keharusan, sebagaimana firman Allah  :

يٰٓأَيُّهَا  الَّذِينَ  ءَامَنُوٓا۟  أَوْفُوا۟  بِالْعُقُودِ ۚ أُحِلَّتْ  لَكُم  بَهِيمَةُ  الْأَنْعٰمِ  إِلَّا  مَا  يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ  غَيْرَ مُحِلِّى الصَّيْدِ وَأَنتُمْ  حُرُمٌ ۗ إِنَّ اللّٰـهَ    يَحْكُمُ  مَا  يُرِيدُ    ﴿المائدة:١﴾

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.”  ﴾ Al Maidah:1 ﴿

Hendaknya seorang mukmin melaksanakan janji-janji yang telah dia ambil. Karena melanggar janji itu adalah salah satu ciri dari kemunafikan, seperti yang Rosululloh  Sholallohu  ‘alaihi wa sallam katakana :

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاثٌ : إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ

“Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, bila berkata ia dusta, bila berjanji mengingkari, dan bila dipercaya ia khianat.”  (H.R Mutafaqqun Alaih)

Dan yang kedua setelah kita merasakan komitmen kita kepada Allah , agar amanah itu bisa dilaksanakan maka kita harus berlilmu. Dan tidak mungkin sesuatu itu kita lakukan tanpa ilmu, karena sekedar kemauan, keinginan saja itu tidak cukup. Dan berlaku untuk semua hal, baik dalam beribadah maupun dalam pekerjaan semuanya butuh ilmu.

Banyak kita lihat dalam masalah ibadah umat kita yang tidak paham ilmunya seperti shalat,  dan di antara ilmu tentang shalat itu adalah laki-laki harus berjama’ah di masjid, tidak boleh shalat di ruang kantor. Selama kita bisa ke masjid, kita harus ke masjid, dan ilmu lain tengan shalat adalah datang ke masjid sebelum adzan bukan di rakaat aterakhir atau bahkan shalat jama’ah sudah selesai baru datang,  Karena ahdholnya shalat itu tepat pada waktunya. Karena kalau kedisiplinan shalat itu diabaikan maka akan mempengaruhi kedisiplinan hidup kita secara keseluruhan.

Sehingga akan menyebabkan kurangnya produktivitas kita dalam kehidupan ini, kalau produktivitas kita itu terkait dengan uang, harta maka itu masih perkara kecil, tetapi kalau terkait dengan keimanan, ibadah maka hal ini adalah masalah besar. Sihingga kita beribadah hanya sekedar melaksanakannya saja, hal ini terjadi karena tidak ada ilmu.

Dan ilmu tentang agama ini, wajib dan penting harus kita pelajari dari pada ilmu-ilmu teknologi dunia. dan kalau kita tidak ada perhatian sama sekali kepada ilmu agama, ilmu bagaimana kita beribadah kepada Allah , maka kita telah menyia-nyiakan amanah, menyia-nyiakan kita sebagai seorang muslim. Dan Allah  sudah pilih kita manusia itu adalah amanah karena manusia adalah makhluk Allah  yang mulia

وَلَقَدْ  كَرَّمْنَا  بَنِىٓ  ءَادَمَ  وَحَمَلْنٰهُمْ  فِى  الْبَرِّ  وَالْبَحْرِ  وَرَزَقْنٰهُم  مِّنَ  الطَّيِّبٰتِ  وَفَضَّلْنٰهُمْ  عَلَىٰ  كَثِيرٍ  مِّمَّنْ  خَلَقْنَا  تَفْضِيلًا  ﴿الإسراء:٧۰﴾

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.“  ﴾ Al Israa':70 ﴿

Menjadi seorang muslim adalah amanah yang Allah  berikan kepada kita, dalam hal ini berarti Allah  telah merancang kita sukses dunia akhirat. Dan yang terpenting adalah kita jaga keimanan kita, keIslaman kita dan untuk menjaganya kita butuh ilmu. Karena tidak mungkin kita masuk surga tanpa ilmu, semuanya dengan ilmu.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ : ” مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ….

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata : “Barang siapa yang melangkahkan kaki dalam rangka mencari ilmu maka Allah  akan mudahkan langkahnya ke surga.”  (HR. Tirmidzi)

Berarti kalau kita ingin masuk surga harus dengan ilmu. Kita diciptakan Allah  dalam keadaan muslim, bertempat tinggal di lingkungan mayoritas muslim, ini semua adalah amanah yang harus kita syukuri dan kita jalankan sesuai denganyang dikehendaki Allah .

Kita harus mengetahui hakikat aqidah yang benar, hakikat keimanan yang benar, harus tahu konskwensi dari keimanan, harus tahu pembatal-pembatal keimanan. Karena iman itu lah ayang akan menentukan amalan kita diterima atau tidak disisi Allah .

Setelah ada ilmu maka harus ada kejujuran, karena meskipun ada ilmu tapi tidak ada kejujuran maka tidak amanah itu terlaksanakan. Dan berbagai macam ibadah dalam Islam itu mendidik kepada kejujuran, oleh karena itu Allah  ajarkan kita beibadah itu dengan niat, dan niat itu adanya di hati tidak ada yang mengetahuinya  kecuali hanya Allah  dan diri kita sendiri, dan kalau kita beribadah ikhlas karena Allah  maka Allah  terima, tetapi kalau tidak ikhlas maka Allah  tolak.

Termasuk juga shalat malam ini adalah melatih kejujuran kita, sehingga jangan sampai kita shalat ketika ada orang saja, tetapi bagaimana meski tidak ada orang pun kita bisa shalat, termasuk juga puasa dan ibadah yang lainnya semuanya mengajarkan kita untuk jujur. Dan orang yang merasa aman di dunia ini adalah orang yang jujur kepada Allah  Ta’ala. Rasulullah menyebutkan kejujuran adalah induk dari segala kebaikan, sedangkan dusta adalah induk dari kejahatan :

إن الصدق يهدي إلى البر ، وإن البر يهدي إلى الجنة ، وإن الرجل ليصدق حتى يكتب عند الله صديقا ، وإن الكذب يهدي إلى الفجور ، وإن الفجور يهدي إلى النار ، وإن الرجل ليكذب حتى يكتب عند الله كذابا . ( متفق عليه )

”Hendaklah kanu bersikap jujur,sebab sesungguhnya kejujuran itu menunjukan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan kepada surga,tidak henti-hebtinya seseorang berlaku jujur dan memilih kejujuran sampai dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur.Hindarilah dusta karena dusta itu sungguh menunjukkan kepada perbuatan dosa dan perbuatan dosa menunjukkan ke neraka.Dan seseorang tidak henti-hentinya berdusta dan memilih dusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.”  (HR Mutafaqun ‘Alaih)

Doa Nabi Sulaiman Menundukkan Hewan dan Jin

  Nabiyullah Sulaiman  'alaihissalam  (AS) merupakan Nabi dan Rasul pilihan Allah Ta'ala yang dikaruniai kerajaan yang tidak dimilik...