Kamis, 14 Oktober 2021

Penjelssan Keutamaan Membaca Basmalah

 

Syetan dari golongan jin mempunyai ukuran tubuh tertentu. Ukuran itu bisa membesar dan mengecil. Ketika seseorang mengumpat dan mencelanya, syetan membesar sebesar rumah. Karenanya Rasulullah melarang mengumpati syetan.

Sebaliknya, Rasulullah mengajarkan sebuah kalimat singkat yang bisa membuat syetan mengecil menjadi seukuran lalat. Bacaan itu tidak lain adalah basmalah. Yakni membaca "bismillah" atau lengkapnya "bismillahirrahmaanirrahiim".

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Walid Abu Malih, ayahnya yang pernah dibonceng Rasulullah menceritakan:

كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَعَثَرَتْ دَابَّتُهُ فَقُلْتُ تَعِسَ الشَّيْطَانُ . فَقَالَ لاَ تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَعَاظَمَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الْبَيْتِ وَيَقُولَ بِقُوَّتِى وَلَكِنْ قُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَصَاغَرَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الذُّبَابِ

Ketika aku dibonceng Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tiba-tiba unta beliau tergelincir. Serta merta aku mengatakan, "Celakalah syetan." Maka beliau bersabda, "Jangan kamu katakan, 'celakalah syetan,' sebab jika kamu katakan seperti itu maka syetan akan membesar sebesar rumah dan dengan sombongnya syetan akan berkata; 'itu terjadi karena kekuatanku'. Akan tetapi, ucapkanlah 'Bismillah' sebab jika engkau mengucapkan basmalah syetan akan mengecil hingga seukuran lalat." (HR. Abu Dawud)

Inilah salah satu   (keutamaan) basmalah. Dalam Tafsir Al Qur'an al 'Adhim, setelah mengetngahkan hadits ini Ibnu Katsir menjelaskan: "Demikian itu berkat kalimah bismillah. Karena itu, pada permulaan setiap perbuatan dan ucapan disunnahkan terlebih dahulu membaca basmalah."

Betapa dahsyatnya kalimah basmalah, Hasan Bishri menjelaskan dalam buku Dahsyatnya Kekuatan Basmalah: "Jangankan syetan yang lemah dan pengecut, gunung yang besar dan kokoh pun luluh lantak bila diturunkan Al Qur'an kepadanya."

Hadits tersebut juga mengajarkan kepada umat Islam agar tidak memperturutkan kemarahan dan emosi dengan mengumpat. Tidak pula diperkenankan mengaitkan musibah atau kecelakaan dengan keyakinan bahwa itu terjadi akibat ulah syetan. Tetapi sandarkanlah kepada Allah dengan membaca nama-Nya, berlindunglah kepada-Nya dari gangguan syetan serta mara bahaya seraya meyakini bahwa tidak ada yang dapat melindungi kita dan tidak ada yang kuasa menimpakan bahaya kecuali Allah Azza wa Jalla.

Dari Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang membaca:

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dengan menyebut nama Allah yang tidak akan bisa memudharatkan bersama nama-Nya segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” pada setiap hari di waktu shubuh dan sore sebanyak tiga kali maka tidak akan memudharatkan baginya sesuatu apa pun.” (HR. At Tirmidzi no. 3310).

Basmalah merupakan isi surat yang dikirim oleh Nabi Sulaiman ‘alaihis shalatu was salam kepada Ratu Saba’ yang ketika itu masih menyembah matahari. Allah berfirman, menceraitakan kisah mereka,

قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ ( ) إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ( ) أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ

“Sang ratu berkata: Wahai para menteri, saya mendapatkan sepucuk surat yang mulia. Surat itu dari Sulaiman, isinya: Bismillahir rahmanir rahiim. Janganlah kalian bersikap sombong di hadapanku dan datanglah kepadaku dengan tunduk.” (QS. An-Naml: 29 – 31).

Tujuan utama Nabi Sulaiman mengirim surat ini adalah untuk mengajak mereka masuk Islam dan meninggalkan kekufurannya. Mengingat pentingnya tujuan ini, Nabi Sulaiman mengawalinya dengan basmalah.

Bacaan basmalah menjadi pemula untuk berbagai bentuk ibadah, seperti wudhu, atau mandi dan tayamum, menurut pendapat sebagian ulama. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْه

“Tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah (membaca basmalah).” (HR. Abu Daud 101).

Hadis ini berbicara tentang wudhu, namun ulama mengqiyaskannya untuk mandi dan tayamum, karena semuanya adalah kegiatan bersuci.

Basmalah sebagai  perlindungan dari setan ketika makan

Orang yang makan atau minum dengan didahului membaca basmalah sebelumnya maka setan tidak mampu untuk turut memakannya. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.” (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858.)

Dari hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ‎shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ الَّذِى لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya setan dibolehkan makan makanan yang tidak dibacakan nama Allah ketika hendak dimakan.”(HR. Abu Daud no. 3766)

Basmalah sebagai penjagaan dari gangguan setan ketika berhubungan badan

dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ قَالَ: “بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا“، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا

“Jika salah seorang dari kalian (suami) ketika ingin menggauli istrinya, dan dia membaca doa: ‘Dengan (menyebut) nama Allah, …dst’, kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya.” (HR. Bukhari no.141 dan Muslim no.1434)

Basmalah sebagai penghalang antara pandangan jin dan aurat manusia.

Seperti yang sering kita bahas, kita tidak bisa melihat jin, namun jin bisa melihat kita dalam semua keadaan. Tidak segan-segan, jin yang kurang bertanggung jawab, juga akan melihat kita dalam posisi ketika tidak berbusana. Untuk menanggulangi hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan agar ketika buka pakaian, kita tidak lupa membaca basmalah.

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ: إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمُ الخَلَاءَ، أَنْ يَقُولَ: بِسْمِ اللَّهِ

“Penghalang antara mata jin dengan aurat bani Adam, apabila kalian masuk kamar kecil, ucapkanlah bismillah.” (HR. Turmudzi 606)

Basmalah sebagai penghalang setan untuk membuka tempat barang berharga.

Beberapa harta berharga yang kita simpan di malam hari, juga akan menjadi incaran setan. Dia berusaha mengganggu kita dengan mengotori makanan atau mengambil barang berharga itu. Untuk mengatasi hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan umatnya agar ketika menutup semua makanan dengan membaca basmalah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

غَطُّوا الْإِنَاءَ، وَأَوْكُوا السِّقَاءَ، وَأَغْلِقُوا الْبَابَ، وأطفؤا السِّرَاجَ، فإن الشَّيْطَانَ لَا يَحُلُّ سِقَاءً، ولا يَفْتَحُ بَابًا، ولا يَكْشِفُ إِنَاءً، فَإِنْ لم يَجِدْ أحدكم إلا أَنْ يَعْرُضَ على إِنَائِهِ عُودًا وَيَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ، فَلْيَفْعَلْ

“Tutuplah bejana, ikatlah geribah (tempat menyimpan air yang terbuat dari kulit), tutuplah pintu, matikanlah lentera (lampu api), karena sesungguhnya setan tidak  mampu membuka geribah yang terikat, tidak dapat membuka pintu, dan tidak juga dapat menyingkap bejanan yang tertutup. Bila engkau tidak mendapatkan tutup kecuali hanya dengan melintangkan di atas bejananya sebatang ranting, dan menyebut nama Allah, hendaknya dia lakukan.” (HR. Muslim)

Basmalah menghalangi setan menginap di dalam rumah

Bacaan basmalah diucapkan ketika masuk rumah, bisa menjadi penghalang bagi setan untuk ikut memasukinya atau menginap di dalamnya.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ، فَذَكَرَ اللهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: لَا مَبِيتَ لَكُمْ، وَلَا عَشَاءَ، وَإِذَا دَخَلَ، فَلَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ دُخُولِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ، وَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ

“Jika seseorang masuk rumahnya dan dia mengingat nama Allah ketika masuk dan ketika makan, maka setan akan berteriak: ‘Tidak ada tempat menginap bagi kalian dan tidak ada makan malam.’ Namun jika dia tidak mengingat Allah ketika masuk maka setan mengatakan, ‘Kalian mendapatkan tempat menginap’ dan jika dia tidak mengingat nama Allah ketika makan maka setan mengundang temannya, ‘Kalian mendapat jatah menginap dan makan malam’.” (HR. Muslim).

Basmalah menjadi syarat halalnya hewan sembelihan

Diantara keberkahan basmalah, orang yang menyembelih binatang dengan menyebut basmalah, hewan sembelihannya bisa menjadi halal. Sebaliknya, orang yang menyembelih binatang tanpa mengucapkan basmalah, baik disengaja maupun lupa, sembelihannya batal, dan hewan itu tidak boleh dimakan. Allah berfirman,

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

“Janganlah kalian makan (hewan) yang tidak disebutkan nama Allah ketika menyembelihnya. Itu sesuatu yang fasik (tidak halal).” (QS. Al-An’am: 121).‎

Beberapa Perkara Yang Dianjurkan Untuk Dimulai Dengan Menyebut Nama Allah
Berikut ini kami paparkan beberapa perkara yang dianjurkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam untuk mengawalinya menyebut nama Allah subhanahu wata’ala:

1. Ketika Hendak Tidur
Dari shahabat Hudzaifah radhiallahu ‘anhu berkata: “Kebiasaan (sunnah) Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam ketika hendak tidur, beliau membaca:

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا

“Dengan menyebut nama-Mu Ya Allah, aku mati dan aku hidup.”
(HR. Al Bukhari no. 6334, dan Muslim no. 2711 dengan redaksi yang sedikit berbeda)

2. Ketika Keluar Dari Rumah
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bila seseorang keluar dari rumahnya, lalu ia membaca:

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

“Dengan nama Allah, aku bertawakkal hanya kepada Allah, tiada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah.”
Maka dikatakan padanya: “Engkau telah mendapat petunjuk, engkau tercukupi dan engkau telah terjaga (terbentengi),” sehingga para setan lari darinya. Setan yang lain berkata: “Bagaimana urusanmu dengan seseorang yang telah mendapat petunjuk, tercukupi, dan terbentengi?!” (HR. Abu Dawud no. 4431)


Atau dengan membaca:

بِاسْمِكَ رَبِّي إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَزِلَّ أَوْ أَضِلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ

“Dengan nama-Mu Ya Rabb-ku, sesungguhnya aku berlindung Kepada-Mu jangan sampai aku salah atau sesat, menganiaya atau dianiaya, membodohi atau dibodohi.” (HR. Ahmad no. 26164, riwayat dari Ummul Mukminin Ummu Salamah)

3. Ketika Masuk Kamar Mandi (WC)

Dari shahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya Rasulullah bersabda:

سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمْ الْخَلاَءَ أَنْ يَقُولَ بِسْمِ اللَّهِ

“Penutup antara pandangan-pandangan jin dengan aurat bani Adam ketika seseorang masuk wc adalah membaca basmalah.” (At Tirmidzi no. 551, dan dishahihkan oleh As Syaikh Al Albani)

4. Ketika Hendak Makan
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: “Telah bersabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ

“Bila salah seorang diantara kalian makan maka hendaknya ia mengucapkan bismillah, bila ia lupa diawalnya, maka hendaknya ia membaca bismillah fi awwalihi wa akhirihi.” (HR. At Tirmidzi no. 1781, dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani)

5. Ketika Hendak Berhubungan Dengan Istri
Dari shahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: “Berkata Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam: “Bila salah seorang diantara kalian menggauli istrinya, hendaknya ia berdo’a:

بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah setan dari kami dan jauhkanlah setan dari apa yang engkau rizkikan kepada kami.”
Bila Allah subhanahu wata’ala memberikan karunia anak kepadanya maka setan tidak akan mampu memudharatkannya.” (HR. At Tirmidzi no. 1012)

6. Ketika Hendak Menyembelih
Disyari’atkan pula dalam penyembelihan hewan dengan membaca basmalah. Bahkan hukumnya bukan sekedar mustahab (anjuran) saja tetapi wajib. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فَلْيَذْبَحْ عَلَى اسْمِ اللَّهِ

“Hendaknya menyembelih dengan (menyebut) nama Allah (basmalah).” (HR. Al Bukhari no.5500)


Maka sebelum menyembelih hewan hendaknya membaca:

بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

(HR. Abu Dawud no. 2427)

7. Ketika Hendak Memasukkan Jenazah ke Liang Kubur
Disunnahkan (dianjurkan) membaca:

بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dengan menyebut nama Allah dan diatas sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Abu Dawud no. 2798)

Demikian pula perkara-perkara yang lain, termasuk amalan jihad fi sabilillah yang merupakan puncak tertinggi dalam Islam hendaknya juga diawali dengan membaca basmalah sebagaimana yang diriwayatkan Al Imam At Tirmidzi no. 1337 dari shahabat Buraidah radhiallahu ‘anhu.‎

Doa Basmalah Kabir (Besar) :‎

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ  بِفَضْلِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, وَأَسْأَلُكَ بِعَظَمَة بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, وأَسْأَلُكَ بِجَلاَلِ وَثَنَاءِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, وَأَسْأَلُكَ بِهَيْبَةِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, وَبِحُرْمَةِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, وَبِجَبَرُوتِ وَمَلَكُوتِ وَكِبْرِيَاءِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, وَبِعَِةِ وَقُوَّةِ وَقُدْرَةِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, إرْفَعْ قَدْرِى بِسِرِّ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ.  اللَّهُمَّ  يَسِّرْ أَمْرِى وَاجْبُرْ كَسْرِى وَأَغْنِ فَقْرِى أَسْأَلُكَ وَأطِلْ عُمْرِى مَعَ الصِّحَّةِ وَالْعَافِيَةِ  بفَضْلِكَ وَكَرَمِكَ وَإحْسَانِكَ يَا مَنْ هُوَ كهيعص . حمعسق. الم  . المر المص : بِسِرِ اسْمِ الله الأَ عْظَمِ.  الله الّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ ذُو الجَــلاَلِ وَ الإِكْرَامِ, أَسْأَلُكَ بِجَلاَلِ الهَيْبَةِ وَبِعِزَّةِ العِزَّةِ, وَ أَسْأَلُكَ بِكِبْرِيَاءِ العَظَمَةِ وَبِجَبَرُوتِ القُدْرَةِ أَنْ تَجْعَلَنِى مِنَ الذِيْنَ لاَ خَوفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُونَ, وَ أَسْأَلُكَ بِحُسْنِ الْبَهَاءِ وَبِإِشْرَاقِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ أَنْ تُدْخِلَنِى بِرَحْمَتِكَ فِى جَنَّاتِ النَّعِيْمِ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ, اللَّهُمَّ  أَسْأَلُكَ بِسِرِّ هَذَا كُلِّهِ أَنْ تَقْضِيَ لِى جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ, وَاَنْ تُطَهِّرَنِى  مِنْ جَمِيْعِ السَّـيِّـئَاتِ, وَأَنْ تُنْجِيْنِى مِنْ جَمِيْعِ الأَهْوَالِ وَالآفَاتِ وَتَرْفَعَنِى  عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَات وَأَنْ تُبَلِّغَنِى  أَقْصَى الغَايَات مِنْ جَمِيْعِ الخَيْرَاتِ فِي الحَيَاةِ وَبَعْدَ المَمَات, وَ أَسْأَلُكَ يَا اللهُ أَنْ تُفَرِّجَ عَنِّى مَا أَنَا فِيْهِ وَأَنْ تُقَدِّرَلِى اْلخَيْرَ فِيْمَا اُرِيْدُهُ وَأَنْوِيْهِ, وَاَنْ تَعْصِمَنِى مِنَ الْفِتَنِ وَاْلمَعَاصِى وَاْلفَحْشَاءِ, وَأَنْ تَحْفَظَنِى وَأَهْلِى وَذُرِّيَّتِى وَمَنْ تَحْتَ حَوْزَتِى مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَشَرٍّ وَبَلاَءٍ, وَاَنْ تَنْصُرَنِى عَلَى جَمِيْعِ اْلحُسَّادِ وَاْلمَاكِرِيْنَ وَاْلأَعْدَاءِ يَا رَبَّ العَالَمِيْن.

Alloohumma innii as-aluka bifadhli bismillaahir-rahmaanir-rahiim, wa as-aluka bi’azhamati bis-millaahir-rahmaanir-rahiim, wa as-aluka bijalaali wa tsanaa-i  bismillaahir-rahmaanir-rahiim, wa as-aluka bihaibati bismillaahir-rahmaanir-rahiim, wa as-aluka bihurmati bismillaahir-rahmaanir-rahiim, wajabaruuti wa malakuuti wa kibriyaa-i bismillaahir-rahmaanir-rahiim, wa bi’izzati wa quwwati wa qudrati bismillaahir-rahmaanir-ra-hiim. Irfa’ qadrii bisirri bismillaahir-rahmaanir-rahiim. Alloohumma yassir amrii wajbur kasrii wa aghni faqrii wa athil ‘umrii ma’as-shihhati wal ‘aafiyati bifadhlika wa karamika wa ihsaanika. Yaa man huwa kaaf haa yaa ‘aiin shaad, haa miim ‘aiin siin qaaf, alif laam miim, alif laam miim raa, alif laam miim shaad, bisirris-millaahil a’zham.
Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuuml ‘aliyyul ‘azhiimu dzul jalaali wal ikraam. As-aluka bijalaalil haibati wa bi’izzatil ‘izzati, wa as-aluka bikibriyaa-il ‘azhamati wa bijabaruutil qudrati, an taj’alanii minalladziina laa khaufun ‘alaihim walaa hum yahzanuun. Wa as-aluka bihusnil ba-haa-i wa bi-isyraaqi wajhikal kariimi, an tudkhi-lanii birahmatika fii jannaatin-na’iim, yaa rabbal ‘aalamiin. Alloohumma as-aluka bisirri haadzaa kullihii an taqdhiya lii jamii’il haajaat, wa an tuthahhiranii min jamii’is-sayyi-aat, wa an tun-jiinii min jamii’il ahwaali wal aafaat, wa an tarfa-’anii ‘indaka a’lad-darajaat, wa an tuballighanii aqshal ghaayaati min jamii’il khairaati fil hayaati wa ba’dal mamaat. Wa as-aluka yaa Allooh, an tufarrija ‘annii maa ana fiihi, wa an tuqaddira liyal khaira fiimaa uriiduhuu wa anwiihi, wa an ta’shimanii minal fitani wal ma’aashii wal fakh-syaa-i, wa an tahfazhanii wa ahlii wa dzurriyyatii wa man tahta hauzatii min kulli suu-in wa syar-rin wa balaa-in. Wa an tanshuranii ‘alaa jamii’il hussaadi wal maakiriina wal-a’daa-i, yaa rabbal ‘aalamiin.

 Artinya : “Ya Allah! Aku memohon kepada-Mu dengan (perantaraan) keutamaan Bismillaahir-rahmaanir-rahiim; aku memohon kepada-Mu dengan (eranta-raan keagungan Bismillaahir-rahmaanir-rahiim; aku memohon kepada-Mu dengan perantaraan keagu-ngan dan keterpujian Bismillaahir-rahmaa-nir-ra-hiim; aku memohon kepada-Mu dengan perantaraan kemuliaan Bismillaahir-rahmaanir-rahiim; dengan (perantaraan) kehormatan Bismil-laahir-rahmaanir-rahiim; dengan perantaraan keperkasaan, kemuliaan dan kebesaran Bismillaa-hir-rahmaanir-rahiim; serta dengan perantaraan kekuatan dan kekuasaan Bismil-laahir-rahmaanir-rahiim; serta angkatlah derajatku dengan perantaraan rahasia  Bismillaahir-rahmaanir-rahiim. Ya Allah! Permudahlah urusanku, tam-ballah kekuranganku,  cukupilah kebutuhanku dan panjang-kanlah umurku disertai kesehatan dan kese-jahteraan, berkat karunia, kemuliaan dan kebaikan-Mu, Wahai Tuhan Yang Dia-lah Kaff Haa Yaa ‘Aiin Shaad, Haa Miim ‘Aiin Siin Qaaf, Alif Laam Miim, Alif Laam Miim Raa, Alif Laam Miim Shaad; berkat rahasia Asma’ Alah Yang teragung. 
Allah, tiada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup Kekal lagi terus menerus mengurusi makhluk-Nya, Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung, Pemilik Kea-gungan dan Kemuliaan; aku memohon kepada-Mu dengan perantaraan keagungan kehebatan /  kehor-matan-Mu dan kemuliaan kemuliaan-Mu. Aku memo-hon kepada-Mu berkat keagungan Keagungan-Mu dan keperkasaan Kekuasaan-Mu; kiranya Engkau menja-dikan aku termasuk orang-orang yang tidak ada kekhawatiran buat mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Aku memohon kepada-Mu berkat bagus-nya keindahan(Mu) dan berkat bersinarnya Wajah-Mu yang Mulia, kiranya Engkau memasukkan aku dengan rahmat-Mu kedalam surga na’im-Mu, wahai Tuhan sekalian alam. Ya Allah! Aku memohon kepada-Mu berkat rahasia ini semua, kiranya Engkau mengabul-kan seluruh hajat keperluanku; kiranya Engkau hapuskan bagiku dari semua keburukan/dosa; kiranya Engkau selamatkan aku dari semua kegentingan dan bencana kiranya Engkau angkat aku pada derajat yang tertinggi di sisi-Mu; kiranya Engkau sampaikan aku pada batas terakhir cita-citaku dari seluruh kebai-kan, baik sewaktu hidup (di dunia) maupun setelah wafat. Aku memohon kepada-Mu, Ya Alah, kiranya Engkau melapangkan dariku apa-apa (kesusahan) yang aku ada didalamnya; kiranya Engkau takdirkan kebaikan untukku pada (persoalan) apa saja yang aku kehendaki dan aku ingini; kiranya Engkau pelihara aku dari fitnah, kemaksiatan dan perbuatan keji; kiranya Engkau menjaga aku, keluargaku, anak ketu-runanku dan orang-orang yang di bawah perlin-dunganku dari semua keburukan, kejahatan dan ben-cana; dan kiranya Engkau menolongku mengatasi semua orang yang hasud, penipu dan musuh. Wahai Tuhan sekalian alam.

Penjelasan Tentang Berbagai Istighfar


Keutamaan Istighfar Dan Manfaat Dari Beberapa Istighfar.

وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An Nisaa’ (4) : 106)

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An Nisaa’ (4) : 110)

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. (QS. Al Anfaal (8) : 33)

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan. (QS. Hud (11) : 3)

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS. Nuh (71) : 10-12)

حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ { وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ } فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ سَبْعِينَ مَرَّةً قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَيُرْوَى عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَيْضًا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ وَقَدْ رُوِيَ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ وَرَوَاهُ مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

Telah menceritakan kepada kami Abdu bin Humaid telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu: “Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (Muhammad: 19) nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah dalam sehari sebanyak tujuhpuluh kali.” Abu Isa berkata: Hadits ini hasan shahih. Diriwayatkan dari Abu Hurairah juga dari nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali.” Diriwayatkan melalui sanad lain dari nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali.” Muhammad bin Amru juga meriwayatkannya dari Abu Salamah dari Abu Hurairah. (HR. At TirmidziNo.3182, Bukhori No.5832, Muslim No.4870, Ibnumajah No.3805, 3806, Abudaud No.1294, Ahmad No.7461, 8137 dan Ad Darimi No.2607)

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ بْنِ سَعِيدِ بْنِ كَثِيرِ بْنِ دِينَارٍ الْحِمْصِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عِرْقٍ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ بُسْرٍ يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Utsman bin Sa’id bin Katsir bin Dinar Al Himsha telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahman bin ‘Irq saya mendengar Abdullah bin Busr dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Beruntunglah bagi orang yang mendapatkan didalam catatan amalnya istighfar yang banyak.” (HR. Ibnumajah No.3808)

قال صلى الله عليه وسلم: الاسْتِغْفَارُ يَأكُلُ الذُّنُوبَ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الحَطَبَ اليابِسَ

Nabi Muhammad saww. bersabda : Istighfar itu dapat memakan dosa-dosa sebagaimana api memakan kayu bakar yang kering. (Kitab Lubabul Hadits)

قال صلى الله عليه وسلم: كَثْرَةُ الاسْتِغْفَارِ تَجْلُبُ الرِّزْقَ

Nabi Muhammad saww. bersabda : Memperbanyak Istighfar itu dapat mendatangkan (menarik) rizki. (Kitab Lubabul Hadits)

قال صلى الله عليه وسلم: مَا أَصَرَّ مَنِ اسْتَغْفَرَ وإنْ عَادَ في اليَوْم سَبْعِينَ مَرَّةً

Nabi Muhammad saww. bersabda : Tidak tetap berdosa orang yang beristighfar sekalipun ia kembali dalam sehari tujuh puluh kali. (Kitab Lubabul Hadits)

قال صلى الله عليه وسلم: مَنِ اسْتَغْفَرَ بَعْدَ الذُّنُوبِ غَفَرَ الله لَهُ فَهُوَ لَها كَفَّارَةٌ

Nabi Muhammad saww. bersabda : Barangsiapa beritighfar sesudah berbuat dosa, maka Allah mengampuni kepadanya, karena istighfar itu adalah merupakan pelebur dosa. (Kitab Lubabul Hadits)

قال النبي صلى الله عليه وسلم: لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ وَدَواءُ الذُّنوبِ الاسْتِغْفَارُ

Nabi Muhammad saww. bersabda : Setiap penyakit itu ada obatnya, dan obat dosa-dosa adalah istighfar (mohon ampun kepada Allah disertai bertobat). (Kitab Lubabul Hadits)

قال صلى الله عليه وسلم: لِكُلِّ شَيْءٍ حِلْيَةٌ وَحِلْيَةُ الذُّنُوبِ الاسْتِغْفَارُ

Nabi Muhammad saww. bersabda : Setiap sesuatu itu ada perhiasannya, adapun perhiasan dosa adalah istighfar. (Kitab Lubabul Hadits)

قال صلى الله عليه وسلم: مَنِ اسْتَغْفَرَ غَفَرَ الله لَهُ وإنْ كَانَ فارّا مِنَ الزَّحْفِ

Nabi Muhammad saww. bersabda : Barangsiapa memohon ampun maka Allah mengampuni kepadanya sekalipun dia lari dari barisan perang. (Kitab Lubabul Hadits)

من قال أستغفر الله في يوم سبعين مرة غفر الله له سبعمائة ذنب، وقد خاب عبد أو أمة يذنب في يوم وليلة أكثر من سبعمائة ذنب

Nabi Muhammad saww. bersabda : Barangsiapa mengucap ASTAGHFIRULLAH setiap hari tujuhpuluh kali, niscaya Allah akan menghapuskan daripadanya sebanyak tujuhratus dosa. Betapa kecewanya lelaki atau perempuan yang membuat dosa pada sehari semalam lebih banyak dari tujuhratus dosa. (Kitab An Nashaaih Ad Diniyah)

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ مُصْعَبٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ حَدَّثَهُ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ حَدَّثَهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Telah menceritakan dari Kami Hisyam bin ‘Ammar, telah menceritakan kepada Kami Al Walid bin Muslim, telah menceritakan kepada Kami Al Hakam bin Mush’ab, telah menceritakan kepada Kami Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas dari ayahnya bahwa ia bercerita kepadanya, dari Ibnu Abbas bahwa ia bercerita kepadanya, ia berkata; Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah pasti akan selalu memberikannya jalan keluar dari setiap kesempitan dan kelapangan dari segala kegundahan serta Allah akan memberikan rizki kepadanya dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (HR. Abu Daud No.1297, Ibnu Majah No.3809 dan Ahmad No.2123).

حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا رِشْدِينُ قَالَ حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ سَعِيدٍ التُّجِيبِيُّ عَمَّنْ حَدَّثَهُ عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْعَبْدُ آمِنٌ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا اسْتَغْفَرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ

Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin ‘Amru Telah menceritakan kepada kami Risydin telah menceritakan kepadaku Mu’awiyah bin Sa’id At Tujini dari orang yang bercerita kepadanya dari Fadlalah bin ‘Ubaid dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda: “Hamba akan senantiasa terhindar dari adzab Allah ‘azza wajalla selama ia beristighfar kepada Allah ‘azza wajalla.” (HR. Ahmad No.22828)

عليكم بلا اله الا الله و الاستغفار فأكثروا منهما فان ابليس قال : اهلكت الناس بالذنوب و اهلكونى بلا اله الا الله و الاستغفار فلما رايت ذلك اهلكتهم بالاهواء وهم يحسبون انهم مهتدون

Abubakar As Siddiq ra., Nabi Muhammad saww. bersabda : Pentingkanlah untuk banyak-banyak membaca LAA ILAAHA ILLALLAAH dan ISTIGHFAR, karena Iblis pernah berkata : saya merusak manusia dengan dosa-dosa, dan mereka merusak aku dengan LAA ILAAHA ILLALLAAH dan ISTIGHFAR, manakala aku melihat bacaan tersebut (dibacanya), maka saya rusak mereka dengan HAWA NAFSU sehingga mengira bahwa telah memperoleh hidayah. (HR. Ahmad dan Abu Ya’la, Didalam Kitab Nashoihul Ibad)

أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْحَقَ عَنْ ابْنِ الْمُبَارَكِ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ قَالَ قَالَ إِبْلِيسُ لِأَوْلِيَائِهِ مِنْ أَيِّ شَيْءٍ تَأْتُونَ بَنِي آدَمَ فَقَالُوا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ قَالَ فَهَلْ تَأْتُونَهُمْ مِنْ قِبَلِ الِاسْتِغْفَارِ قَالُوا هَيْهَاتَ ذَاكَ شَيْءٌ قُرِنَ بِالتَّوْحِيدِ قَالَ لَأَبُثَّنَّ فِيهِمْ شَيْئًا لَا يَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ مِنْهُ قَالَ فَبَثَّ فِيهِمْ الْأَهْوَاءَ

Telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Ishak dari Ibnu Al Mubarak dari Al ‘Auza’i ia berkata: “Iblis berkata kepada pengikutnya, Dari sisi mana saja kalian datang (menggoda) manusia?, mereka menjawab: ‘dari segala arah’, ia bertanya lagi: ‘Apakah kalian akan datang (menggoda) mereka dari arah istighfar? ‘, mereka menjawab: ‘tidak mungkin, karena hal itu sangat berkaitan dengan tauhid, ia berkata: ‘Aku akan sebarkan sesuatu diantara mereka hingga mereka tidak beristighfar kepada Allah. Dia (Al ‘Auza’i) berkata: ‘Lalu iblis menyebarkan (keinginan mengikuti) hawa nafsu kepada mereka’ “. (HR. Ad Darimi No.310)

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ { كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ } قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Ibnu ‘Ajlan dari Al Qa’qa’ bin Hakim dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu beliau bersabda: “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka di titikkan dalam hatinya sebuah titik hitam dan apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan dan apabila ia kembali maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutup hatinya, dan itulah yang diistilahkan “Ar raan” yang Allah sebutkan: kallaa bal raana ‘alaa quluubihim maa kaanuu yaksibuun.(QS. Almuthaffifin 14). Ia berkata; hadits ini adalah hadits hasan shahih. (HR. At Tirmidzi No.3257, Ibnumajah No.4234, Ahmad No.7611)

وروى معروف الكرخي عن أنس بن مالك وابن عمر: أن رجلاً أتى النبي فقال؛ دلني على عمل يدخلني الجنة؟ قال: لا تغضب، قال: فإني لا أطيق ذلك. قال: فاستغفر الله عز وجل كل يوم بعد صلاة العصر سبعين مرة يغفر الله لك ذنوب سبعين عاماً. قال: فإن لم تأت عليّ ذنوب سبعين؟ قال: يغفر لأقاربك. غفر لنا الله ولأقاربنا

Ma’ruf Al-Karkhi meriwayatkan dari Anas bin Malik ra. dan Ibnu Umar ra. bahwa ada seorang datang kepada Nabi Muhammad saww. dan berkata : Ya Rasulullah tunjukkan padaku amal perbuatan yang dapat memasukkan aku kesurga? Jawab Nabi saww. : Jangan marah. Berkata orang itu : Saya tidak dapat berbuat itu (menahan marah). Maka sabda Nabi saww. : Bacalah istighfar tiap hari sesudah (sholat) ashar tujuh puluh kali, niscaya Allah mengampunkan bagimu dosa tujuh puluh tahun. Orang itu bertanya : Jika dosaku belum mencapai tujuh puluh tahun? Jawab Nabi saww. : Allah akan mengampunkan dosa-dosa keluarga kerabatmu. Semoga Allah mengampunkan dosa-dosa kami dan kerabat kami. (Kitab Irsyadul-‘Ibad Ilasabilirrasyad)

حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ أَبِي النَّجُودِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

Telah menceritakan kepada kami Yazid, dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Ashim bin Abu An Nujud dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga, hamba itu kemudian berkata; ‘Wahai Rabb, dari mana semua ini? ‘ maka Allah berfirman; ‘Dari istighfar anakmu.'” (HR. Ahmad No.10202)

Macam-macam istigfar.

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

Allaahumma anta rabbi laa ilaaha illa anta kholaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu a’uudzu bika min syarri maa shona’tu abuu`u laka bini’matika ‘alayya wa abuu`u bidzanbii faghfirlii fa innahu laa yaghfirudz-dzunuuba illa anta.

حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ حُرَيْثٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي حَازِمٍ عَنْ كَثِيرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى سَيِّدِ الِاسْتِغْفَارِ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ وَأَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَعْتَرِفُ بِذُنُوبِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ لَا يَقُولُهَا أَحَدُكُمْ حِينَ يُمْسِي فَيَأْتِي عَلَيْهِ قَدَرٌ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ إِلَّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ وَلَا يَقُولُهَا حِينَ يُصْبِحُ فَيَأْتِي عَلَيْهِ قَدَرٌ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ إِلَّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَابْنِ عُمَرَ وَابْنِ مَسْعُودٍ وَابْنِ أَبْزَى وَبُرَيْدَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ وَعَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي حَازِمٍ هُوَ ابْنُ أَبِي حَازِمٍ الزَّاهِدُ

Telah menceritakan kepada kami Al Husain bin Huraits telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abu Hazim?? dari Katsir bin Zaid? dari Utsman bin Rabi’ah? dari Syaddad bin Aus? radliallahu ‘anhu bahwa Nabi? shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Maukah aku tunjukkan kepadamu sayyid istighfar? Yaitu ALLAAHUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA KHALAQTANII WA ANAA ‘ABDUKA WA ANAA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU, A’UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’TU WA ABUU-U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA A’TARIFU BIDZUNUUBII FAGHFIR LII DZUNUUBII, INNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA. (Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engaku, Engkau telah menciptakanku, dan aku adalah hambaMu, dan berada dalam perjanjian dan janjiMu semampuku. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan apa yang telah aku perbuat, dan aku mengakui kenikmatanMu yang Engkau berikan kepadaku dan mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah dosaku, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau). Tidak ada seorangpun diantara kalian yang mengucapkannya ketika sore hari kemudian datang kepadanya taqdir untuk meninggal sebelum datang pagi hari melainkan wajib baginya Surga, dan tidaklah ia mengucapkannya ketika pagi hari kemudian datang kepadanya taqdir untuk meninggal sebelum datang sore hari melainkan wajib baginya Surga.” Dalam bab tersebut ada yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abza serta Buraidah? radliallahu ‘anhum. Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan gharib dari sisi ini dan hadits ini telah diriwayatkan dari selain sisi ini dari Syaddad bin Aus, sedangkan Abdul Aziz bin Abu Hazim adalah Ibnu Abu Hazim Az Zahid. (HR. At-Tirmidzi No.3315, Bukhori No.5832, 5848, An Nasa’I No.5427 dan Abudaud No.4408)

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

Astaghfirullaahal ‘adziima alladzii laa ilaaha illa huwal hayyul qayyuum wa atuubu ilaihi.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ الشَّنِّيُّ حَدَّثَنِي أَبِي عُمَرُ بْنُ مُرَّةَ قَال سَمِعْتُ بِلَالَ بْنَ يَسَارِ بْنِ زَيْدٍ مَوْلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنْ الزَّحْفِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar Asy Syanni telah menceritakan kepadaku bapakku Umar bin Murrah dia berkata; saya mendengar Bilal bin Yasar bin Zaid bekas budak (yang telah dimerdekakan oleh) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menceritakan kepadaku ayahku dari kakekku, dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengucapkan; ASTAGHFIRULLAAHAL ‘ADZIIM ALLADZII LAA ILAAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUUM WA ATUUBU ILAIH (Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung, dzat yang tiada Ilah melainkan Dia, yang Maha hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya) serta aku bertaubat kepada-Nya) Maka (dosa-dosanya) akan di ampuni sekalipun ia telah lari dari peperangan.” Abu ‘Isa berkata; “Hadits ini derajatnya gharib, dan kami tidak mengetahuinya melainkan dari jalur ini.” (HR. At Tirmidzi No.3501)

حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْوَصَّافِيِّ عَنْ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ حِينَ يَأْوِي إِلَى فِرَاشِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبَهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ وَإِنْ كَانَتْ عَدَدَ وَرَقِ الشَّجَرِ وَإِنْ كَانَتْ عَدَدَ رَمْلِ عَالِجٍ وَإِنْ كَانَتْ عَدَدَ أَيَّامِ الدُّنْيَا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ مِنْ حَدِيثِ الْوَصَّافِيِّ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ الْوَلِيدِ

Telah menceritakan kepada kami Shalih bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah? dari Al Washshafi? dari ‘Athiyyah? dari Abu Sa’id? radliallahu ‘anhu dari Nabi? shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Barang siapa ketika (sebelum tidur)
menuju tempat tidurnya mengucapkan; ASTAGHFIRULLAAHAL ‘AZHIIM ALLADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUM WA ATUUBU ILAIH (Aku memohon ampunan kepada Allah yang Maha Agung, Yang tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, yang selalu hidup dan senantiasa mengurus makhukNya. Aku bertaubat kepadaNya) sebanyak tiga kali maka Allah mengampuni dosa-dosanya walaupun seperti buih lautan, walaupun sebanyak daun pohon, walaupun sebanyak kerikil, walaupun sebanyak hari-hari di dunia.” Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari sisi ini dari hadits Al Washshafi ‘Ubaidullab bin Al Walid. (HR. Ahmad No.3319)

. رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Rabbighfirlii watub ‘alayya, innaka antat tawwaabur rahiim.

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ وَالْمُحَارِبِيُّ عَنْ مَالِكِ بْنِ مِغْوَلٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُوقَةَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ يَقُولُ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ مِائَةَ مَرَّةٍ

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dan Al Muharibi dari Malik bin Mighwal dari Muhammad bin Suqah dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; “Apabila kami menghitung ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu majlis: “Rabbighfirlii watub ‘alayya innaka antat tawwabur rahiim (Ya Rabbku ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkaulah Maha penerima taubat dan maha penyayang” beliau mengucapkannya sebanyak seratus kali.” (HR. Ibnumajah No.3804 dan Abudaud No.1295)

. رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ

Rabbighfirlii watub ‘alayya innaka antat tawwaabul ghafuur.

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْكُوفِيُّ حَدَّثَنَا الْمُحَارِبِيُّ عَنْ مَالِكِ بْنِ مِغْوَلٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُوقَةَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كَانَ يُعَدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةُ مَرَّةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَقُومَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُوقَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ بِمَعْنَاهُ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ

Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Abdurrahman Al Kufi, telah menceritakan kepada kami Al Muharibi dari Malik bin Mighwal dari Muhammad bin Suqah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, ia berkata; Dalam satu majlis Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam, sebelum beliau berdiri (meninggalkan majlis), terhitung seratus kali beliau mengucapkan: “RABBIGHFIRLII WA TUB ‘ALAYYA INNAKA ANTAT TAWWAABUL GHAFUUR” (Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku, dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi taubat dan Maha Pengampu). Abu Isa berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Muhammad bin Suqah dengan sanad ini seperti itu dengan maknanya. Hadits ini adalah hadits hasan shahih gharib. (HR. At Tirmidzi No.3356 dan Ahmad No.4496)

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

Subhaanallaahi wabihamdihi astaghfirullaah wa atuubu ilaihi.

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنِي عَبْدُ الْأَعْلَى حَدَّثَنَا دَاوُدُ عَنْ عَامِرٍ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ مِنْ قَوْلِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَاكَ تُكْثِرُ مِنْ قَوْلِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فَقَالَ خَبَّرَنِي رَبِّي أَنِّي سَأَرَى عَلَامَةً فِي أُمَّتِي فَإِذَا رَأَيْتُهَا أَكْثَرْتُ مِنْ قَوْلِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فَقَدْ رَأَيْتُهَا { إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ } فَتْحُ مَكَّةَ { وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا }

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin al-Mutsanna telah menceritakan kepadaku Abdul A’la telah menceritakan kepada kami Dawud dari Amir dari Masruq dari Aisyah ra dia berkata, “Dahulu Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallammemperbanyak pertakataan, ‘SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI ASTAGHFIRULLAAH WA ATUUBU ILAIHI (Mahasuci Allah dan dengan memujiNya, saya memohon ampunan kepada Allah dan saya bertaubat kepadaNya)’.” Aisyah berkata, “Lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya melihatmu memperbanyak perkataan, ‘Mahasuci Allah dan dengan memujiNya, aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepadaNya’. Maka beliau menjawab, ‘Rabbku telah mengabarkan kepadaku bahwa aku akan melihat suatu tanda pada umatku, ketika aku melihatnya maka aku memperbanyak membaca, ‘Mahasuci Allah dan dengan memujiNya, aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya’, maka sungguh aku telah melihatnya, yaitu (ketika pertolongan Allah datang dan pembukaanNya) yaitu pembukaan (fath) Makkah, dan dan kamu telah melihat manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong, lalu bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan memohon ampunlah, sesungguhnya Dia Maha Pemberi taubat’.” (HR. Muslim No.749 dan Ahmad No.22936)

. أستغفر اللهَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ والْمُؤْمِنَاتِ

Astaghfirullaaha lilmu’miniina wal-mu’minaat. 27x.

Artinya : Saya memohon ampun kepada Allah untuk orang-orang mukmin dan mukminat.

من استغفر للمؤمنين والمؤمنات كل يوم سبعا وعشرين مرة كان من الذين يستجاب لهم ويرزق بهم أهل الأرض

Abu Darda ra., Nabi Muhammad saww. bersabda : Manistaghfara lil-mu’miniina wal-mu’minaati kulla yaumin sab’an wa ‘isyriina marrotan kaana minalladziina yustajaabu lahum wa yurzaqu bihim ahlul-ardhi.

Artinya : Barangsiapa membacakan istighfar untuk mukminin dan mukminat sebanyak 27 kali di setiap hari, maka ia termasuk golongan mereka yg terkabul do’anya dan mereka yg menjadi jaminan rizki Allah bagi para penghuni bumi.”. (HR.Ath Thabarani, Didalam Kitab Nashoihul Ibad)

من استغفر للمؤمنين والمؤمنات كتب الله له بكل مؤمن ومؤمنة حسنة

Ubadah bin Shamit ra., Nabi Muhammad saww. bersabda : Manistaghfara lil mu’miniyna wal mu’minaati, kataballaahu lahu bikulli mu’minin wa mu’minatin hasanah.

Artinya : Siapa yang memohon ampunan untuk orang-orang beriman laki-laki dan perempuan, niscaya Allah menulis untuknya dari setiap orang beriman laki-laki dan perempuan satu kebaikan (pahala). (HR. Ath Thabarani, Di dalam Kitab Nashoihul Ibad)

. اللهم انا نستغفرك ونتوب اليك من كل ذنب علمناه او لم نعلمه فى ليل او نهار

Allaahumma innaa nastghfiruka wa natuubu ilaika min kulli dzanbin ‘alimnaahu au lam na’lamhu fii lailin au nahaar(in).

Artinya : Ya Allah sesungguhnya kami memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu dari segala dosa yang kami mengetahuinya dan yang tidak kami ketahui diwaktu malam dan siang.

Barangsiapa istiqomah membaca istighfar tersebut diatas sehabis shalat subuh, niscaya Allah membukakan pintu rizki kepadanya dan menutup dari padanya satu pintu dari pintu-pintu kefakiran. (Kitab Tanqihul Qaul)
Istighfar Kabir Imam As-Sayyid Ahmad bin Idris

أَسْتَغْفِرُ الله العَظِيْم, الّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ, غَفَّارُ الذُّنُوبِ    ذُو الْجَــلاَلِ وَ الإِكْرَامِ وَ أَتُوْبُ إِلَيْهِ   مِنْ جَمِيْعِ المَعَاصِى كُلِّهَا وَ الذُّنُوبِ وَ الآثاَمِ, وَمِنْ كُلِّ ذَنْبٍ أَذْنَبْتُهُ عَمْدًا وَخَطَأً, ظاهرا وباطنا, قَوْلاً وَفِعْلاً, فِى جَمِيْعِ حَرَكاَتِى وَسَكَنَاتِى وَخَطَرَاتِى وَأَنْفَاسِيى كُلِّهَا دَاِئمًا أَبَدًا سَرْمَدًا مِنَ الذَّنْبِ الَّذِى  أَعْلَمُ,  مِنَ الذَّنْبِ الَّذِى لاَ أَعْلَم, عَدَدَ مَا أَحَاطَ بِهِ الْعِلْمُ وَأَحْصَاهُ الكِتَابُ وَخَطَّهُ الْقَلَمُ, وَعَدَدَ مَا أَوْجَدَتْهُ الُقْدرًةُ وَخَصَّصَتْهُ الإرَادَةُ, وَمِدَادَ كَلِمَاتِ اللهِ, كَمَا يَنْبَغِى  لِجَلاَلِ وَجْهِ رَبِّنَا وَجَمَالِهِ وَكَمَالِهِ, وَ كَمَا يُحِبُّ رَبّـُنَا وَيَرْضَى.
Astaghfirulloohal ‘azhiim. Alladzii laa ilaaha illaa huwalhayyul qayyuum, ghaffarudz-dzunuub, dzul jalaali wal ikraam, wa atuubu ilaihi min jamii’il ma’aashii kullihaa wadz-dzunuubi wal aatsaam, wa min kulli dzanbin adznabtuhuu ‘amdan wa khatha-an, zhaahiran wa baathinan, qaulan wa fi’lan, fii jamii’i harakaatii wa sakanaatii wa khatharaatii wa anfaasii kullihaa, daa-iman abadan sarmadan minadz-dzanbilladzii a’lamu, wa minadz-dzanbilladzii laa a’lamu, ‘adada maa ahaatha bihil-’ilmu wa ahshaahul kitaabu wa khath-thahul qalamu, wa ‘adada maa aujadat-hul qudratu wa khash-shashat-hul iraadatu, wa midaada kalimaatillaahi, kamaa yanbaghii lijalaali waj-hi rabbinaa wa jamaalihii wa kamaalihii, wa kamaa yuhibbu rabbunaa wa yardhaa.

“Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung, yang tiada tuhan selain Dia Yang Maha Hidup abadi lagi Terus menerus mengurusi makhluk-Nya, Yang Mengampuni segala dosa, Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Aku bertaubat kepada-Nya dari semua kemaksiatan seluruhnya, dosa-dosa dan kesalahan; dari semua dosa yang aku kerjakan  baik secara sengaja maupun salah, baik zhahir maupun bathin, baik berupa ucapan maupun perbuatan, dalam semua gerak-gerikku, diamku, bisikan hatiku, dan tarikan nafasku seluruhnya, selama-lamanya; dari dosa-dosa yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui, sejumlah bilangan apa yang diliputi/dijangkau Ilmu (pengetahuan) Allah dan tercatat oleh qalam (pena)-Nya; sejumlah bilangan apa yang diwujudkan/diadakan oleh Qudrat-Nya dan ditentukan oleh Iradat-Nya, serta sejumlah minyak (yang dipakai menulis) kalimat-kalimat-Nya. Sepatutnya-lah (kesemuanya itu) bagi keagungan, keelokan dan kesempurnaan Dzat Tuhan kami, dan sebagaimana yang dicintai dan disukai Tuhan kami.

Istighfar Bisyr bin Harits Al-Hafi Rahimahullah.

استغفر الله من كل سبب تبت منه تم عدت اليه واساله التوبة و استغفر الله من كل عقد عقدته على نفسي ففسخته ولم اف به

Astaghfirullaaha min kulli sababin tubtu minhu tsumma ‘udtu ilayhi wa as-aluhut-tawbata, wa astaghfirullaaha minkulli ‘aqdin ‘aqadtuhu ‘alaa nafsii fafasakhtuhu wa lam afi bihi.

Artinya: aku memohon kepada Allah dari setiap kesalahan yang aku telah bertaubat darinya kemudian aku kembali berbuat kesalahan dan aku memohon ampun kepada Allah dari setiap janji yang telah aku tetapkan atas diriku kemudian aku melanggarnya dan tidak dapat memenuhinya .

Doa/istighfar di atas diajarkan oleh Nabi Khidhir kepada Bisyr bin Harits Al-Hafi, seorang sufi besar. Bisyr Al-Hafi berkata, “Aku memiliki sebuah kamar. Aku menguncinya bila keluar. Suatu hari aku pulang, lalu membuka pintu kamar itu, kemudian masuk ke dalamnya. Ternyata ada seorang laki-laki yang sedang berdiri melaksanakan shalat. Orang itu membuatku takut. Lalu ia berkata, “Wahai Bisyr, jangan takut. Aku adalah saudaramu, Abul-Abbas Khidhir.’ Bisyr lalu berkata, ‘Ajarkanlah sesuatu kepadaku.’ Nabi Khidir mengatakan, ‘Bacalah ini (doa/istighfar di atas)’.”

Doa/istighfar tersebut dibaca sebanyak-banyaknya, minimal 3x sehabis shalat lima waktu, agar tetap mudah dimasa susah.

Istighfar Sufyan Ats Tsauri Rahimahullah.

اللهم يارب كل شيء بقدرتك على كل شيء اغفرلى كل شيء ولا تسألنى عن كل شيء ولا تحاسبنى في كل شيء واطنى كل شيء

Allaahumma Yaa Robba Kulli Syai’(in), Biqudrotika ‘Alaa Kulli Syai’(in), Ighfirlii Kulla Syai’(in), Wa Laa Tas-Alnii ‘An Kulli Syai’(in), Wa Laa Tuhaasibnii Fii Kulli Syai’(in), Wa Athinii Kulla Syai’(in).

Artinya : Ya Allah Ya Tuhan segala sesuatu, dengan kekuasaan-Mu atas segala sesuatu, ampunilah segala sesuatu dosa saya, janganlah kiranya Engkau menanyakan tentang segala sesuatu, jangnlah Engkau menghisab saya dalam segala sesuatu, dan berilah saya anugrah segala sesuatu.

وبلغنا أن الإمام أحمد بن حنبل رحمه الله رُئِي بعد موته في المنام فذكر: أن الله نفعه كثيراً بكلمات سمعها من سفيان الثوري رحمه الله، وهي هذه

Artinya : Ada sebuah berita yang sampai kepada kami, bahwa seorang shaleh telah bermimpi berjumpa dengan Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah. sesudah wafatnya, maka beliau telah berkata kepada orang shaleh itu, bahwa Allah swt. Telah memberikannya manfaat yang banyak dari beberapa kalimat (dzikir/doa) yang didengarnya dari Sufyan Ats Tsauri Rahimahullah, yaitu (doa yang diatas). (Kitab An Nashaaih Ad Diniyah dan Kitab Nashoihul Ibad)

Istighfar Al Imam Ahmad Ar Rifa’i.

استغفر الله العظيم الذي لا اله إلا هو الحي القيوم واتوب إليه من كل ذنب اذنبته عمدا او خطأ سرا او علانية من الذنب الذي اعلم او لا اعلم انه هو يعلم و انا لا اعلم و هو علام اغيوب و غفار الذنوب و ستار العيوب و كشاف الكروب و لا حول و لا قوة إلا بالله العلي العظيم

Astaghfirullaahal ‘azhiimal ladzii laa ilaha illa huwal hayyal qayyuuma wa atuubu ilaihi min kulli dzanbin adznabtuhu ‘amdan au khatha-an sirran au ‘alaaniyatan minadz dzanbil ladzii a’lamu au laa a’lamu innahu huwa ya’lamu wa anaa laa a’lamu wa huwa ‘allaamul ghuyuubi wa ghaffaarudz dzunuubi wa sattaarul ‘uyubi wa kasysyaaful kurubi wa laa hawla walaa quwwata illa billaahil-`aliyyil­`azhiam.

Aku memohon ampun kepada Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia, yang Maha hidup lagi senantiasa mengurus hamba­Nya; dan aku bertaubat kepada-Nya dari segala dosa yang aku perbuat, sengaja maupun tidak sengaja, rahasia (tidak diketahui orang) atau terang-terangan, yang aku ketahui atau yang aku tidak ketahui. Sesungguhnya Dia mengetahui dan aku tidak mengetahui, dan dia Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib, Maha Menghapuskan dosa­ dosa, Maha Menutupi aib, dan Maha Menghilangkan kesusahan. Dan tidak ada daya dan upaya melainkan dengan izin Allah, Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”

Istighfar Al Habib Hasan bin Sholeh Al Bahr.

يا غفار اغفرلي يا تواب تب علي يا رحمن ارحمني يا رءوف ارافني يا عفو اعف عني

Yaa Ghoffaaru ighfirlii, Yaa Tawwaabu tub ‘alayya, Yaa Rohmaanu irhamnii, Yaa Ro’uufu ir-afnii, Yaa ‘Afuwwu u’fu annii.

Wahai Yang Maha Pengampun, ampunilah aku, Wahai Yang Maha Menerima tobat, terimalah tobatku, Wahai Yang Maha Pengasih, kasihanilah aku, Wahai Yang Maha Penyayang, sayangilah aku, Wahai Yang Maha Pemaaf, maafkanlah aku.

استغفر الله الذي لا اله الا هو الرحمن الرحيم الحي القيوم الذي لا يموت واتوب اليه رب اغفلي

Astaghfirullaah al-ladzii laa ilaha illa huwar rahmaanur rahiimul hayyul qayyuumul ladzii laa yamuutu wa atuubu ilaihi robbighfirlii. 25x.

Artinya : Aku memohon ampun kepada Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri, yang tidak akan mati dan aku bertobat kepada-Nya. Tuhan ampunilah aku.

Barangsiapa mengucapkan do’a/istighfar diatas pada waktu sesudah shalat subuh dan ashar sebanyak 25x maka insya Allah ia tidak akan melihat sesuatu yang tidak ia sukai terjadi didalam rumahnya, terhadap keluarganya, penghuni rumahnya, warga kotanya atau penduduk negaranya. (Al-Imam Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahar)

Istighfar Al Habib Ahmad bin Muhammad Al Muhdhor Rohimahullah (Yaman).

استغفر الله العظيم حياء من الله
استغفر الله رجوعا الى الله
استغفر الله فرارا من غضب الله الى رضاء الله
استغفر الله فرارا من سخط الله الى عفو الله
استغفر الله تندما واسترجاعا
استغفر الله تلآفي قبل تلآفي
استغفر الله من الإفراط والتفريط
استغفر الله من التخبيط والتليط
استغفر الله من مفارقة الذنوب
استغفر الله من التدنس بالعيوب
استغفر الله من عدم الحضور فى الصلاة
استغفر الله من جميع التقصير فيها و فى الزكاة
استغفر الله من القنوط من رحمة الله
استغفر الله من الأمن من مكر الله
استغفر الله من عدم القيام بحق الله وخلق الله
استغفر الله من عدم التشمير لطاعة الله
استغفر الله من عقوق الأباء والأمهات
استغفر الله من الظلمات والتبعات
استغفر الله من الخطا الى الخطيئات
استغفر الله من قطيعة الأرحام
استغفر الله من اكتساب الآثام
استغفر الله من حب الجاه والمال
استغفر الله من شهوة القيل والقال
استغفر الله من رؤية النفس بعين التعظيم
استغفر الله من نهر السائل وقهر اليتيم
استغفر الله من الكذب والحسد
استغفر الله من الغيبة والنميمة
استغفر الله من الرياء والسمعة
استغفر الله من سائر الأخلآق المذمومة
استغفر الله من سائر الذنوب القلبية والقوالبية واللسانية والذوقية والسمعية والبصرية والبدنية والفرجية والصدرية واليدوية والرجلية والحسية والمعنوية
استغفر الله العظيم من اتباع الهوى وهجر التقوى والميل إلى زخارف الدنيا
استغفر الله من جميع ما يكره الله ظاهرا وباطنا
وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Astaghfirullaahal ‘azhiima hayaa-an minallaah.
Astaghfirullaah rujuu’an ilallaah.
Astaghfirullaah firoron min ghodhobillaahi ilaa ridhoo-illaah.
Astaghfirullaah firoron min sakhothillaahi ilaa ‘afwillaah.
Astaghfirullaah tanadduman wastirjaa’an.
Astaghfirullaah talaafii qobla talaafii.
Astaghfirullaah minal ifrothi wat-tafrithi.
Astaghfirullaah minat-takhbithi wat-takhlithi.
Astaghfirullaah min mufaaroqotidz-dzunuubi.
Astaghfirullaah minat-tadannusi bil ‘uyuubi.
Astaghfirullaah min ‘adamil hudhuuri fish-sholaati.
Astaghfirullaah min jamii’it-taqshiiri fiihaa wafiz-zakaati.
Astaghfirullaah minal qunuuthi min rohmatillaah.
Astaghfirullaah minal amni min makrillaah.
Astaghfirullaah min ‘adamil qiyaami bi haqqillaah wa kholqillaah.
Astaghfirullaah min ‘adamit-tasymiiri li thoo’atillaah.
Astaghfirullaah min ‘uquuqil abaa-i wal ummahaat.
Astaghfirullaah minazh-zhulumaati wat-tabi’aati.
Astaghfirullaah minal khothoo ilal khothii-ati.
Astaghfirullaah min qothii’atil arhaami.
Astaghfirullaah min iktisaabil aatsaami.
Astaghfirullaah min hubbil jaahi wal maali.
Astaghfirullaah min syahwatil qiili wal qooli.
Astaghfirullaah min ru’yatin nafsi bi ‘ainit-ta’zhiimi.
Astaghfirullaah min nahris saa-ili wa qohril yatiimi.
Astaghfirullaah minal kidzbi wal hasadi.
Astaghfirullaah minal ghiibati wan-namiimah.
Astaghfirullaah minar riyaa-i was-sum’ah.
Astaghfirullaah min saa-iril akhlaaqil madzmumah.
Astaghfirullaah min sa-iridz dzunuubil qolbiyyati wal qowaalibiyyati wal lisaaniyyati wadz-dzauqiyyati was sam’iyyati wal bashoriyyati wal badaniyyati wal farjiyyati wash shodriyyati wal yadawiyyati war-rijliyyati wal hissiyyati wal ma’nawiyyah.
Astaghfirullaahal ‘azhiima min ittibaa’il hawaa wa hajrit taqwaa wal maili ilaa zakhoorifid dun-ya.
Astaghfirullaah min jamii’i maa yakrohullohu zhoohiron wa baathinan.
Wa shollallaahu ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa sallam.

Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung, karena malu kepada Allah.
Aku memohon ampun kepada Allah agar kembali kepada Allah.
Aku memohon ampun kepada Allah seraya berlari dari murka Allah kepada ridha-Nya.
Aku memohon ampun kepada Allah seraya berlari dari kebencian Allah kepada ampunan-Nya.
Aku memohon ampun kepada Allah dengan sepenuh penyesalan dan penyerahan.
Aku memohon ampun kepada Allah dari melampaui batas dan berlebih-lebihan.
Aku memohon ampun kepada Allah dari kerasnya keinginan yang bercampur dari keinginan-keinginan yang tidak baik.
Aku memohon ampun kepada Allah dari perasaan tidak berdosa.
Aku memohon ampun kepada Allah dari kotoran-kotoran yang disebabkan oleh cela.
Aku memohon ampun kepada Allah dari tidak hadirnya hati ketika shalat.
Aku memohon ampun kepada Allah dari semua kelalaian dalam shalat dan zakat.
Aku memohon ampun kepada Allah dari mengingkari rahmat Allah.
Aku memohon ampun kepada Allah karena merasa aman dari ancaman siksa Allah.
Aku memohon ampun kepada Allah karena tidak memenuhi hak-hak Allah dan makhluk-Nya.
Aku memohon ampun kepada Allah karena tidak bersemangat dalam taat kepada-Nya.
Aku memohon ampun kepada Allah dari durhaka kepada kedua orangtua.
Aku memohon ampun kepada Allah dari perbuatan zalim dan amarah.
Aku memohon ampun kepada Allah dari berbuat salah yang terulang-ulang.
Aku memohon ampun kepada Allah dari memutus silaturrahmi.
Aku memohon ampun kepada Allah dari usaha yang mengandung dosa.
Aku memohon ampun kepada Allah dari kecintaan kepada pangkat dan harta.
Aku memohon ampun kepada Allah dari keinginan yang tidak bermanfaat.
Aku memohon ampun kepada Allah karena melihat diri sendiri dengan penuh rasa pengagungan.
Aku memohon ampun kepada Allah dari dosa menolak peminta-minta dan menghardik anak yatim.
Aku memohon ampun kepada Allah dari dosa suka berbohong dan iri hati.
Aku memohon ampun kepada Allah dari dosa suka menceritakan aib orang lain dan mengadu domba.
Aku memohon ampun kepada Allah dari sifat riya, sum’ah, ingin dipuji.
Aku memohon ampun kepada Allah dari semua akhlak tercela.
Aku memohon ampun kepada Allah dari semua dosa yang disebabkan karena penyakit hati, lidah, perasaan, pendengaran, penglihatan, badan, kemaluan, tangan, kaki, yang terlihat maupun tidak.
Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung dari mengikuti hawa nafsu.
Aku memohon ampun kepada Allah dari segala macam hal yang dibenci Allah yang terlihat maupun tidak terlihat.
Limpahkanlah shalawat serta salam kepada penghulu kami Nabi Muhammad saww. dan atas keluarganya dan sahabatnya.

اللهم اغفر لنا و لوالدين و لاولادنا و لمشايخنا فى الدين ولمعلمينا و لاخواننا و لاصحابن و احبابنا و لمن احبنا فيك و لمن احسن الين و المتصدقين و لمن دخل بيوتنا مؤمنا و لجميع المسلمين و المسلمات و المؤمنين و الؤمنات

Allaahummaghfirlanaa waliwaalidiinaa, wali-awladiinaa, walimasyaayikhinaa fid diin, walimu’allimiinaa, wali-ikhwaaninaa, wali-ashhaabinaa, wa ahbaabinaa, waliman ahabbanaa fiika, waliman ahsana ilainaa, wal-mutashaddiqiina, waliman dakhola buyuutinaa muminan, walijamii’il muslimiina wal muslimaat wal mu’miniinan wal mu’minaat.

Ya Allah, ampunilah kami, kedua orang tua kami, anak-anak kami, guru-guru kami dalam agama, pengajar kami, saudara-saudara kami, teman-teman kami, yang mencintai kami, serta orang-orang yang mencintai kami karena Engkau, orang-orang yang berbuat baik kepada kami, orang-orang yang bersedekah, orang-orang yang masuk kerumah-rumah kami dengan membawa iman, serta seluruh kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat.

Dikutip dari:
* Al Qur’an.
* Hadis 9 Imam (Kutubu Tis’ah).
* Riyadhus Shalihin =>Al Imam An-Nawawi.
* Ihya Ulumiddin => Al Imam Muhammad bin Muhammad Al Ghazali.
* Irsyadul ‘Ibad Ilasabilirrosyad => Asy Syaikh Zainuddin Al Maribariy.
* An Nashaaih Ad Diniyah wal washaaya Al Imaaniyah => Al Imam Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad.
* Risalatul Mu’awanah => Al Imam Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad.
* Tanbihul Ghafilin => Al Imam Abul Laits As Samarqandi.
* Lubabul Hadits => Al Imam Al Hafidz Jalaluddin Abdurrahman bin Abii Bakar As Suyuthi.‎
* Tanqihul Qaul => Asy Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar Al Bantani.

Fadhilah Doa Sarmadiyah Dan Doa Dzulfaqor


Semua manusia, hakikatnya berjalan menuju Allah. Namun jalan yang harus ditempuh tidaklah mudah, karena di sana terhampar ribuan hijab yang menghalangi. Untuk itu, dibutuhkan ketangguhan iman dan ilmu agar dapat memenangkan pergulatan demi pergulatan menyibak hijab, sehingga selamat sampai di Mahligai-Nya.

Banyak hal di dunia ini dapat menjadi hijab bagi seseorang dalam memandang Allah. Dalam hadis qudsi dinyatakan:

"Bahwa Allah menghijabi diri-Nya dengan 70.000 hijab."

Pengertian 70.000 hijab jangan dipahami secara lafzhiyah (tekstual), namun lebih tepat dipahami secara maknawi (subtansi). Artinya, bahwa Allah sengaja menciptakan ribuan hijab, supaya orang yang berjalan menuju kepada-Nya melakukan perjuangan menyingkap hijab. Sehingga dengan demikian, kualitas keimanan dan keyakinan seseorang teruji.

Perjuangan untuk berjumpa dengan Allah dengan segala rintangannya diibaratkan orang mencari mutiara di laut. Untuk mendapatkan mutiara berkualitas baik, seseorang harus mampu menyelam sampai ke dasar. Padahal semakin dalam menyelam, panorama laut semakin indah. Meski ikan berwarna warni dan karang yang mempesona terkadang menyimpan bahaya, namun kebanyakan orang tidak menyadarinya. Dan bagi siapapun yang tidak waspada, semua itu dapat melenakan dan membuat lupa pada tujuan utamanya (mendapatkan mutiara).

Ungkapan tersebut di atas, merupakan metafor yang menyiratkan betapa sulitnya proses menyingkap hijab dalam perjalanan menuju Sang Khaliq.Sesungguhnya bukan sesuatu yang menghijabi Allah, bukan pula sesuatu yang menjadikan Allah majhul (bodoh), melainkan pandangan seorang hamba yang terhijab.

Untuk mencapai mukasyafah atau biasa disebut kasyaf, sebagian kalangan sufi ada yang memberikan ijazah berupa amalan doa yang salah satunya adalah doa sarmadiyah. Di kutib dari kitab Jawahirul Lama’ah. Amalan doa sarmadiyah ini dikenal sebagai salah satu doa yang diajarkan oleh Sayyidi Asy-Syaikh Abu Hayyullah al-Marzuqi al-Maliki yang merupakan seorang ulama kenamaan, seorang sufi dan seorang ahli ilmu hikmah, yang hidup pada abad ke tujuh hijriyah. Dalam fiqih beliau mengikuti madzhab Maliki, yaitu madzhab fiqih yang dirintis oleh Sayyidi al-Imam Malik. Dan berikut ini doa Sarmadiyah selengkapnya:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِعَظَمَةِ الأُلُوْهِيَّةِ وَ بِأَسْرَارِ الرُّبُوْبِيَّةِ وَ بِعِزَّةِ السَّرْمَدِيَّةِ وَ بِحَقِّ ذَاتِكَ العَلِيَّةِ المُنَزَّهَةِ عَنِ الكَيْفِيَّةِ وَالشُّبْهِيَّةِ وَ بِحَقِّ مَلَائِكَتِكَ أَهْلِ الصِّفَاتِ الجَوْهَرِيَّةِ وَ بِعَرْشِكَ الَّذِي تَغْشَاهُ الأَنْوَارُ بِمَا فِيْهِ مِنَ الأَسْرَارِ إِلَّا مَا قَضَيْتَ حَاجَتِي وَ هِيَ ( ...... ) اُوْمِنُكَ يَا اللهُ ( 3 ) ، القُدُّوْسُ ( 3 ) ،اِرْفَعْ عَنِّي حِجَابَ الظُّلُمَاتِ وَ أَرِنِي بِنُوْرِكَ مَا أَظْهَرْتَهُ لِعِبَادِكَ أَهْلِ القُلُوْبِ الطَّاهِرَةِ ، يَا مَنْ كَسَا قُلُوْبَ العَارِفِيْنَ بِنُوْرِ الأُلُوْهِيَّةِ فَلَنْ تـَسْـتَطِيْعَ المَلَائِكَةُ رَفْعَ رُؤُوْسِـِهمْ مِنْ سَـْطوَةِ الجَبَرُوْتِيَّةِ يَا مَنْ قَالَ فِي مَحْكَمِ كِتَابِهِ العَزِيْزِ وَ كَلِمَاتِهِ الأَزَلِيَّةِ

 اللهُ نُوْرُ السَّمَوَاتِ وَ الأَرْضِ مَثَلُ نُوْرِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌ المِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوْقَـدُ مِنْ شَـَجرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَ لَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيْءُ وَ لَوْ لَمْ تَمْـَسـسْهُ نَارٌ نُوْرٌ عَلَى نُوْرٍ يَهْدِي اللهُ لِنُوْرِهِ مَنْ يَـَشآءُ وَ يَضْرِبُ اللهُ الأَمْثَالُ لِلنَّاسِ وَ اللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ  سُـْبحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلَامٌ عَلَى المُرْسَلِيْنَ وَ الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

Artinya:

"Ya Allah, hambaMu memohon kepadaMu dengan kebesaranMu dan rahasia-rahasia ketuhanan, dengan kemuliaan yang agung, demi kebenaran ZatMu yang tinggi, bersih dari segala bentuk dan kesamaran, dan demi kebenaran malaikatMu yang memiliki sifat-sifat cemerlang, demi ArsyMu serba rahasia. Engkau perkenankan hajatku (sebutkan hajatnya), hamba percaya kepadaMu ya Allah 3x, ya Quddus 3x, Angkatlah dinding kegelapan dan perlihatkanlah kepadaku demi nurMu, apa yang telah Engkau tampakkan terhadap hamba-hambaMu yang memiliki hati yang cerah. Ya Tuhan, yang telah memberi pakaian kepada hati orang yang arif billah dengan pakaian nur ketuhananMu sehingga malaikat tidak mampu mengangkat kepala mereka karena sifat keperkasaan, ya Allah, yang telah berfirman dalam kitabNya yang mulia dan kalimat-kalimatNya yang azali. Allah nur langit dan bumi, Nurnya laksana kaca tembus yang di dalamnya ada sebuah lampu. Lampu itu laksana kristal berkelap-kelip dinyalakan dengan sebatang kayu zaitun yang diberkati (nyalanya) tidak (bergoyang) ke barat maupun ke timur, hampir-hampir minyaknya saja sudah dapat memerangi tanpa sentuhan api, nur di atas nur, Allah memberikan petunjuk kepada nurNya siapa yang Dia kehendaki dan Allah memberikan contoh untuk manusia dan Allah Maha Tahu terhadap segala sesuatunya."

‎Sesuai dengan maksud isi doanya, Insy Allah dengan izinNya akan membukakan hijab gerbang pintu makrifat dan kasyaf (terbukanya tirai) hati anda dan anda dapat dengan mudah menyelami samudara  pengertian-pengertian  sir-sir  ilmunya Allah yang maha agung dan luas.

Cara Pengamalan:

 Sebelum mengamalkan doa di atas, sucikan diri terlebih dahulu, lahir dan batin. Baik dari najis, hadats kecil maupun hadats besar. Lebih utama apabiila diamalkan di tengah malam, setelah shalat tahajud atau setelah shalat hajat.
duduklah dengan posisi duduk sila menghadap kiblat.

Kemudian bacalah lafdzul jalalah "ALLAAH" sebanyak 3.456 kali.

Tiap memperoleh bacaan Allah sebanyak 96 kali, bacalah doa Sarmadiyah di atas. Begitu seterusnya, tiap-tiap mendapat 96 x bacaan lafdzul jalalah di selingi dengan doa sarmadiyah di atas hingga bacaan lafdzul jalalah mencapai bilangan yang dimaksud pada poin 3.

Atau bisa juga lafdzul jalalah "ALLAH" dibaca sebanyak 4.356 kali. Setiap 66x kali diselingi dengan membaca doa sarmadiyah di atas sebanyak 1 kali. Lakukan hingga bacaan lafdzul jalalahnya mencapai 4.356 kali.

Sebelum mengamalkan doa sarmadiyah dianjurkan membaca basmalah, hambdalah, shalawat, dan ditutup dengan shalawat serta hamdalah.

Lakukan secara istiqamah. Tanpa itu, rahasia dan fadhilah doa sarmadiyah akan sulit untuk didapatkan.

Doa Dzulfaqar 
Doa Dzulfaqar menurut para ulama merupakan salah satu doa yang utama untuk diamalkan sebab memiliki banyak faidah di dalam pengamalan tersebut. Diantara faidahnya, bahwa barangsiapa yang membaca doa ini walaupun hanya satu kali seumur hidup maka ketika ia telah meninggal malaikat Jibril akan menemuinya di dalam kuburnya dan berkata, "Masukalh engkau ke dalam surga dengan membaca tunggangan. Arwah para nabi bertanya, "Wahai Jibril, siapakah orang tersebut " Malaikat Jibril menjawab, "Ia adalah orang salah satu umatnya kanjeng rasul Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang ketika hidupnya pernah membaca doa dzulfaqor." Selain itu, orang yang mengamalkan doa dzulfaqor ini akan mendapatkan berbagai macam kenikmatan dari Allah ta'ala. Insya Allah. 

Berikut ini doa Dzulfaqor selengkapnya:

سبحانك انت الله لا اله الا انت الرحمن الرحيم سبحانك انت الله لا اله الا انت السلام المؤمن سبحانك انت الله لا اله الا انت المهيمن العزيز سبحانك انت الله لا اله الا انت المصور الحكيم سبحانك انت الله لا الله الا انت السميع العليم سبحانك انت الله لا اله الا انت البصير الصادق سبحانك انت الله لا اله الا انت علام الغيوب سبحانك انت الله لا اله الا انت خالق البارئ سبحانك انت الله لا اله الا انت القاهر سبحانك انت الله لا اله الا انت الرازق الرزاق سبحانك انت الله لا اله الا انت لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا احد سبحانك فاستجب لي و نجني من الكرب و الغم وكذلك ننجي المؤمنين وزكريا ويحي وعيسي اذنادي ربه رب لا تذرني فردا وانت خير الوارثين سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام علي المرسلين والحمد لله رب العالمين

Subhanaka antallaahu laa ilaaha illaa anta ar-rahmaan ar-rahiim. Subhaanaka antallaahu laa ilaaha illaa anta as-salaam al-mu'min. Subhaanaka antallaahu laa ilaaha illaa anta al-muhaimin al-aziiz. Subhaanaka antallaahu laa ilaaha illaa anta al-mushawwirul hakiim. Subhaanaka antallaahu laa ilaaha illaa anta as-samii'ul 'aliim. Subhaanaka antallaahu laa ilaaha illaa anta al-bashiurh shaadiq. Subhaanaka antallaahu laa ilaaha illaa anta 'allaamul ghuyuub. Subhaanaka antallaahu laa ilaaha illaa anta Khaaliqul Baari'. Subhaanaka antallaahu laa ilaaha illaa anta al-Qaahir. Subhaanaka antallaahu laa ilaaha illaa anta ar-Raaziqur Razzaaq. Subhaanaka antallaahu laa ilaaha illaa anta lam yalid wa lam yuulad wa lam yakun lahu kufuwan ahad. Subhaanaka fastajib lii wa najjinii minal karbi wal ghammi wa kadzaalika nunjil mu'miniina wa zakariyya wa yahyaa wa ;isaa idz naadaa rabbahuu rabbi laa tadzarni fardan wa anta khairul waaritsiin. Subhaana rabbika rabbil 'izzati 'ammaa yashifuun wa salaamun 'alal mursaliina wal hamdulillaahi rabbil 'aalamiin.

Cara Pengamalan

Diamalkan setiap kali selesai shalat fardhu sebagai bagian dari doa yang kita panjatkan kehadirat Ilahi rabbi. Insya Allah, apabila kita melengkapi doa-doa kita tersebut dengan doa agung dzulfaqar ini akan mempermudah doa kita diijabah oleh Allah, sebab di dalam doa dzulfaqar ini ada pengagungan, penyucian, dan pentauhidan kepada Allah. Selain itu, di dalam doa dzulfaqar ini juga termuat pujian-pujian kepadaNya dengan menggunakan Asmaul Husna,  yaitu nama-nama pilihan yang baik dan paling tepat untuk mensifati Allah Yang Maha Kuasa. Sungguh indah doa dzulfaqar ini, dan sungguh indah makna serta pengagungan yang terkandung di dalamnya. Demikian pula sungguh beruntung umat kanjeng Rasul yang diberikan kesempatan untuk mengamalkannya walaupun hanya sekali seumur hidupnya. Tidalah kata yang bisa kita ucapkan untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang begini besarnya. Padahal kita hanyalah tak lebih dari seonggok debu yang tidak terlihat setitik pun di dalamnya satu kemuliaan pun. Hanya Allahlah, dengan ke-Maha-Murahaannya itu yang memberikan kita setitik kemuliaan, yang denga kemuliaan itu kita dapat memahami dan menyadari keberadaanNya yang Agung. 

 

Doa Nabi Sulaiman Menundukkan Hewan dan Jin

  Nabiyullah Sulaiman  'alaihissalam  (AS) merupakan Nabi dan Rasul pilihan Allah Ta'ala yang dikaruniai kerajaan yang tidak dimilik...